Enam Pecel Enak di Malang (Yang Bukan Pecel Kawi)

Nasi pecel itu enaknya luar biasa. Setuju ‘kan?
Apalagi dimakan dengan nasi putih yang hangat, sebagai sarapan di pagi hari. Ditemani secangkir teh panas. Sedapnya tak terkira.

Makanya, selama dua minggu lalu, hampir setiap hari saya bangun pagi-pagi sekali, untuk bisa lari pagi keliling kota Malang.
Apa hubungannya dengan nasi pecel?
Gampang saja: motivasi untuk lari pagi setiap hari adalah supaya bisa makan nasi pecel sesudahnya! Simpel ‘kan?

Dan karena makan pecel dilakukan setelah lari pagi, saya punya excuse untuk mencoba nasi pecel di tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Atau yang sudah lama tidak saya kunjungi. Toh modalnya cuma kaki yang sehat, dan keringat. Plus uang seadanya untuk beli pecel yang tidak mahal, lalu ongkos mikrolet kalau sudah terlalu lelah atau kenyang.

Alhasil, saya bisa mewujudkan misi mulia yang belum pernah terjadi selama ini: makan nasi pecel tiap hari, tiap pagi, sampai wajah mirip pecel.

Tentu saja tidak ada riset khusus tentang pilihan nasi pecel ini. Semuanya murni dari ingatan saya selama ini setiap ke kota Malang. Ditambah sedikit pencarian di Google Maps. Beberapa malah meleset dari rencana: karena datangnya terlalu pagi, tempat jualan pecelnya belum buka. Jadilah saya cari tempat nasi pecel yang lain, yang masih dekat dengan tempat tujuan asal.

Semoga daftar ini bisa menambah alternatif kalau Anda googling “rekomendasi nasi pecel di Malang”, yang setelah saya cari sendiri, kebanyakan rekomendasinya berada di dekat lokasi para penulisnya. Wajar sih. Kota Malang memang luas banget, apalagi kalau dijelajah dengan lari dan jalan kaki. Terasa pegelnya.

Tapi yang jelas, daftar ini tidak memuat Pecel Kawi yang overprice dan overrated itu. Mungkin Pecel Kawi memang cocok buat first timer tourist or visitor. Cuma kalau bisa, jangan deh. Gak worth having sampai segitunya. Beneran. Suwer!

Jadi, selamat menikmati daftar acak rekomendasi pecel di kota Malang berikut ini (sambil klik di namanya untuk mengetahui lokasinya ya):

Nasi Pecel di Warung AE, Jalan Gede, Malang, Jawa Timur 65115

Pecel Warung AE

Pro: Porsinya sangat ramah untuk kuli dan pelajar. Alias banyak dan besar. Bumbu kacangnya meresap dengan baik ke nasi dan sayuran. Pilihan jenis lauk sampingan cukup beragam, karena bukan fokus jadi warung pecel.
Con: Buat saya nyaris tidak ada.
Harga: Sepiring nasi pecel dengan tambahan dua bakwan jagung, tempe, minumnya teh tawar hangat, seharga 11 ribu rupiah.

Nasi Pecel Candi Rejo, Jalan Candi Mendut, Malang, Jawa Timur 65142

Pecel Candi Rejo

Pro: Saya temukan warung ini tidak sengaja. Maunya pergi ke Pecel dan Rawon Glintung yang lebih terkenal, eh masih tutup di pagi hari. Alhasil, ke tempat ini. Warung kecil ini terletak di gang besar yang ramai dengan anak sekolah. Penjualnya tanggap ketika saya minta porsi nasi dikurangi setengah. “Nasinya sedikit, sayurnya banyak ya!” Senang dengan penjual seperti ini.
Con: Saya mengernyitkan kening melihat pecel yang disajikan dengan potongan semur tempe! Agak aneh di lidah. Tapi kalau Anda memang fanatik tempe, silakan dicoba. Pilihan lauk pendamping tidak banyak. Mungkin karena masih di pagi hari.
Harga: Sepiring nasi pecel dengan tambahan tempe goreng ini, tanpa minum karena ada air putih gratis, seharga 9 ribu rupiah.

Nasi Pecel Mustika, Jalan Rajekwesi No. 10, Malang, Jawa Timur 65115

Pecel Mustika

Pro: Cukup terkenal. Kalau misalnya Pecel Kawi adalah Taylor Swift, maka Nasi Pecel Mustika ini adalah Rida Sita Dewi. Oh, beda generasi, ya? Anyway, bumbu pecel di sini berbeda dengan yang lain: biji kedelai masih terasa. Menambah cita rasa gurih. Sayurnya banyak. Jenis rasa bumbunya terasa berbeda jelas antara yang pedas, yang ‘cukupan’, dan yang tidak pedas sama sekali. Lauk pendamping cukup variatif, dan ada srundeng.
Con: Saya bukan penggemar acar, jadi kenapa juga nasi pecel dikasih acar dan timun? Dan warung ini ramai sekali, jadi pastikan Anda datang di pagi hari, sebelum jam 7 pagi. Peracik nasi pecel hanya bisa dikerjakan oleh satu orang, yaitu ibu tua pemilik warung ini, jadi memang nasi pecel akan lama hadirnya di hadapan kita.
Harga: Sepiring nasi pecel dengan satu potong tempe dan minum teh tawar hangat seharga 12 ribu rupiah.

Warung Pecel Bu Susi Pojok Sempu, Jl. Sempu, Kasin, Malang, Jawa Timur 65117

Pecel Pojok Bu Susi

Pro: Lagi-lagi warung pecel “kecelakaan”, karena ditemukan tidak sengaja. Maunya pergi ke Warung Pecel Mbok Djo, eh kok masih tutup. Akhirnya ke tempat sini saja. Letaknya di pinggir sungai kecil, jadi kita makannya menghadap ke sungai yang bersih. Lumayan, sambil menghirup udara pagi. Ada pilihan antara peyek teri atau peyek kacang, so this is a win! Pilihan lauk pendamping cukup beragam.
Con: Sangat ramai, jadi memang harus sampai sini sebelum jam 6:30 pagi. Pilihan minum tidak banyak.
Harga: Sepiring nasi pecel dengan satu potong empal, satu potong bakwan jagung dan satu potong tempe dan segelas air mineral seharga 17 ribu rupiah. Saya memang rakus kalau sarapan.

Pecel Winongo, Jl. Panderman no. 11, Malang, Jawa Timur 65115

Pecel Winongo

Pro: Lebih populer dikenal dengan nama Pecel Panderman. Dekat dengan Pecel Kawi, kalau jalan kaki cuma 5 menit. Jadi kalau memang mau wisata kuliner pecel, bisa mencoba keduanya dalam satu kesempatan. Bumbunya gurih. Lokasi yang juga dekat dengan jantung kota Malang, yaitu Jalan Ijen, membuatnya sangat pas untuk jadi pilihan sarapan setelah berolahraga. Porsinya pas buat quick bite, jadi tidak terlalu mengenyangkan.
Con: Buat saya, pasangan abadi nasi pecel adalah peyek. Maka ketika ada krupuk putih, yang ada di pikiran saya, “What the heck is it doing here?!” Siap-siap juga untuk kehabisan tempat duduk, karena mereka tidak memiliki tempat sendiri.
Harga: Sepincuk nasi pecel dengan sepotong tempe kecil ini seharga 9 ribu rupiah.

Pecel Di Depan Mall Olympic Garden (MOG), Jalan Kawi 24 Malang, Jawa Timur, 65116

Pecel di depan Mall Olympic Garden (MOG)

Pro: Satu-satunya tempat nasi pecel yang saya kunjungi dua kali selama lari pagi dua minggu di Malang yang lalu. Kenapa? Karena enak! Saya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan rasa pecel ini. Bumbunya yang kental, namun tidak “mahteh” dan tidak bikin eneg. Sayurnya segar, sehingga tidak merusak rasa pecel secara keseluruhan. Tempe digoreng dengan pas, tidak terlalu kering. Cuma bermodal gerobak dan kursi plastik, nyatanya nasi pecel ini laris, meski tanpa ada bangunan permanen yang nyaman. Ketika jam 6 pagi saya sampai sana, hanya dalam waktu 5 menit kemudian antrian sudah memanjang. This is the best so far, by far.
Con: Nyaris tidak ada. Oh, tunggu. Cuma ada minum air mineral gelas plastik kecil. But it’s more than fine.
Harga: Sepincuk nasi pecel dengan tempe dan air mineral kecil seharga 11 ribu rupiah.

Jadi kalau mau jalan-jalan ke Malang, selamat makan nasi pecel sampai keblinger!

Advertisements

Mengelilingi Sekeliling

Salah satu kebiasaan yang saya lakukan ketika bepergian, baik untuk liburan atau pekerjaan, dan harus menginap di hotel atau tempat penginapan sejenis adalah meluangkan waktu di pagi hari untuk berkeliling di sekitar area hotel tersebut. Biasanya kegiatan ini saya lakukan di pagi hari, sehari sesudah check-in.

Di desa Bantul, hari terakhir 2014. (Photo by Nauval Yazid)

Di desa Bantul, hari terakhir 2014. (Photo by Nauval Yazid)

Jadi, kalau misalnya hari Kamis ini saya masuk hotel, berarti besok pagi, di hari Jumat, setelah bangun pagi dan sebelum sarapan, saya akan berjalan kaki keluar dari kamar dan dari hotel untuk berkeliling melihat apa saja yang ada di sekitarnya

Kebetulan saya juga bukan pengejar momen matahari terbit atau sunrise, kecuali kalau memang tempatnya memungkinkan, seperti pergi ke Gunung Bromo atau Tiger Hill di kota Darjeeling, India. Apalagi kalau di menginap di tengah kota besar dengan gedung bertingkat, mana kelihatan?
Maka tujuan berkeliling di sekitar area hotel adalah untuk melihat suasana pagi hari, sebelum toko-toko buka, ketika petugas pengangkut sampah mulai parkir dan melakukan tugasnya, saat orang-orang yang mungkin tinggal di area perumahan sekitar hotel bergegas menuju tempat kerja, dan tentu saja tempat-tempat sarapan yang pelan-pelan ramai dipadati pengunjung.

Kafe hipster di depan hotel di Budapest. (Photo by Nauval Yazid)

Kafe hipster di depan hotel di Budapest. (Photo by Nauval Yazid)

Biasanya saya habiskan waktu sekitar 15 sampai 20 menit untuk berkeliling mengelilingi area tempat penginapan ini. Saat pagi hari buat saya adalah waktu yang tepat, karena cahaya matahari pagi bagus buat hasil potret di kamera (tujuan traveling adalah supaya bisa menghasilkan foto banyak, bukan? Oh bukan ya?), dan toko-toko belum buka, sehingga saya bisa puas melakukan window shopping tanpa harus berebutan dengan banyak orang.

Minggu pagi di Praha. (Photo by Nauval Yazid)

Minggu pagi di Praha. (Photo by Nauval Yazid)

Membebaskan pikiran dari kungkungan kamar hotel, seluas apapun, itu perlu. Kamar hotel atau tempat penginapan adalah rumah kita sementara saat bepergian. Tapi kadang kita terlalu bertumpu pada rumah sementara ini, sampai kita melupakan pekarangan yang mengelilinginya.

Temuan-temuan di sekeliling ini kadang membuat perjalanan jadi mengesankan.
Ketika saya memesan kamar di sebuah hotel di Budapest, saya hanya mencari yang di tengah kota, tanpa tahu bahwa ternyata hotel tersebut berada di tengah perkampungan kaum Yahudi yang hipster, dan ada synagogue (tempat ibadah orang Yahudi) persis di depan hotel.
Lalu tanpa saya sadari, sebuah hotel kecil di Yogya yang pernah saya inapi tahun lalu ternyata letaknya persis di seberang sebuah toko kacamata yang memakai nama saya sebagai nama tokonya. Kapan saya pernah bikin toko kacamata ya?
Dan tentu saja ketika harus mendaki lebih dari 500 anak tangga untuk mencapai kamar hotel di Pokhara, Nepal, maka rasa letih itu menjadi bagian dari pengalaman yang tak terlupakan, terlebih saat menyadari pemandangan yang ditawarkan.

Di atas kaki bukit di Pokhara, Nepal. (Photo by Nauval Yazid)

Di atas kaki bukit di Pokhara, Nepal. (Photo by Nauval Yazid)

When we travel, we just need to look around.