Universe Bernama Jakarta

“Ngomong-ngomong, gue gak pernah papasan lho sama mantan gue yang dulu, yang putus lebih dari lima tahun lalu,” ujar saya out of the blue di suatu sore di kedai kopi saat mudik Lebaran beberapa hari lalu.

Lontaran ini saya sampaikan ke beberapa teman yang kebetulan mudik ke kota yang sama, dan kami memang sengaja bertemu, berhubung sudah “mati gaya”.

“Sumpah lo?”

“Beneran.”

“Samsek (sama sekali)?”

Well, abis putus pernah sih, papasan sesekali. Apalagi waktu itu circle pertemanan masih sama. Tapi itu kayak dua atau tiga bulan doang. Abis itu gak pernah lagi.”

“Kok bisa sih? Gak di mall mana gitu …”

“Kalau dia masih tinggal di tempat yang lama, dia lebih sering beredar di GanCit (Gandaria City) daripada gue yang lebih sering ke GI (Grand Indonesia).”

“… ya atau di halte busway …”

“Dia? Naik TransJakarta? Dulu sih enggak ya.”

“… atau di MRT sekarang …”

“Nggak pernah tuh.”

“Di airport!”

Please. It only happens in films ato novel.”

“Di gym?”

“Beda gym. Apalagi sekarang gue mainnya di studio kecil. Ya intinya, kadang gue ngerasa amazed aja, satu kota, tapi nggak pernah papasan sekali pun. What does it say actually?”

“Ya bagus, ‘kan?”

“Iya, sih. Cuma heran aja.”

Well, for a start, we’re talking about Jakarta, dude. Kota yang guede banget. Elo bisa aja kerja di Thamrin, abis itu ketemuan dan makan di Sabang, ewes bentar di Karet …”

“Woi! Kenapa harus ada ewes sih?”

“Bodo! As I was saying, ewes bentar di Karet atau Rasuna, abis itu pulang ke rumah masing-masing. Elo di Rawamangun, dia ke Kelapa Gading. Searah, tapi beda tujuan. Ketemunya ya orang-orang berbeda di tiap neighbourhood, sekalian just to make sure orang-orang rumah gak ngenalin. Ya gimana gak pernah papasan?”

Kami semua bengong sejenak, lalu spontan tertawa terbahak-bahak. Untung saja suasana kedai kopi saat itu tidak terlalu ramai.

“Kalau menurut elo?” Saya bertanya ke teman yang lain.

“Kalau menurut gue, itu berarti bukti bahwa Tuhan itu ada dan nyata.”

“Heee? Ade ape? Elo lagi persiapan hijrah?”

“Iya, sekalian, abis ketemu keluarga besar kemarin, jadi puas gue dicekokin secara langsung, teori-teori konspirasi agama yang selama ini disebarin di WhatsApp. Ya gak, gila! Maksud gue, God works in mysterious ways. Lima tahun, alias lebih dari 1.700 hari, elo gak pernah ketemu orang yang once upon a time mattered most to you. Yang elo pernah hidup bareng sehari-hari. Yang ada elo ketemu orang-orang baru, atau orang-orang lama yang ternyata emang elo perlu temui. I don’t know, tapi itu sih udah kayak miracle ya.”

Kami terdiam sejenak. Salah satu teman saya memicingkan mata.

“Hmmm. Nah, I don’t buy it.

“Ya dengan kata lain, the universe is working its mysterious ways to pull you into the direction you need. Yang tentunya beda direction ama mantan elo.”

“Nah, kalo kayak gitu, gue beli omongan elo.”

Kami kembali tertawa keras-keras. Di luar matahari masih menyengat, meskipun hembusan angin membuat suhu kota masih di bawah 20 derajat celcius.

This universe called Jakarta is nothing but amazing ya.”

Indeed!” / “Hear, hear!” / “Bener banget.” / “Setuju.”

I mean, saking banyaknya jenis orang, elo bisa ganti atau tambah circle pertemanan dengan mudahnya, provided you are willing juga ya. Elo bisa ganti tipe orang yang kencani atau pacari … “

“Hmmm …” / “Hmmm …” / “Hmmm …” / “Hmmm …”

“Hahahaha. Oke, elo punya kesempatan buat ganti, walaupun ujung-ujungnya yang elo demenin juga yang setipe. Tapi tiap elo deket ama orang, elo bisa milih buat ketemuan di tempat yang beda-beda satu sama lain.”

“Ya karena tempat yang elo dulu pernah datengin, belum tentu ada by the time you visit again dengan yang baru, yang biasanya terjadi setiap berapa bulan sekali, sodara-sodara?”

Kami tertawa lagi.

“Atau ya paling obvious kayak yang dibilang tadi, mau selingkuh gampang banget.”

“Pengalaman nih?”

“Jangan ngeles. Hayo, masak elo semua gak pernah tempted sih? Meleng dikit pas lagi nunggu ojek, eh ada yang cakep lagi nunggu juga.”

“Sumpah gue gak abis pikir ama contoh elo.”

“Ya maksud gue, kalo elo kerja di Selatan, ngekos di Setiabudi yang notabene perbatasan Pusat ama Selatan, kalo mau selingkuh, selingkuh aja sama yang di Central Park ato Grogol sekalian. Beres ‘kan?”

“Hahahaha, ini kenapa ngomongin selingkuhan ya?”

“Kalau mau niat selingkuh sih, mau di kota kecil juga bisa. Gak usah repot-repo pindah provinsi. Bilang aja, nanti sebelum nonton di PS (Plaza Senayan), aku makan dulu di Senci (Senayan City) ya sama temen-temen aku. Kita ketemu langsung di bioskop. Boro-boro ke Senci. Elo ngumpet aja ama gebetan elo di TWG di PS!”

“Eeeh, hahahaha, sepertinya pengalaman pribadi bener!”

“Ember!”

“Dan walaupun elo udah digituin ya, tetep aja elo gampang move on. Menurut gue, lho ya. Oke, gak gampang, tapi relatif gampang. Tinggal ganti aktivitas after office hours atau weekend elo. Tinggal ganti tempat tongkrongan. Apalagi sekarang ada MRT ama LRT. Jalan sejam aja, isi dating app baru semua.”

“Soalnya selama di sini elo liatnya itu-itu aja di app.

“Iya banget! Hahahahaha!”

“Berapa kali coba gue udah bilang mau pindah dari Jakarta. Sumpek. Apalagi sekarang polusi makin gila. Cuma ya tetep, gue gak bisa dapet kesenengan berupa ketemu orang-orang ajaib ini di kota-kota lain. Meskipun kota-kota ini lebih bersih, lebih teratur, lebih livable, tapi emang kitanya juga yang demen cari resiko cepet mati, jadinya ya terus aja hidup dengan kemacetan, bising, tapi, I hate to say this, menyenangkan.”

“Makanya kan, kita kerja mati-matian, supaya bisa pergi sebentar dari Jakarta, supaya bisa kangen ama Jakarta, dan akhirnya mau balik lagi ke Jakarta.”

Speaking of kangen, elo gak nyadar dari tadi hape elo bergetar terus, ada yang ngajak video call?”

“Astaga!”

Kami tertawa.

Happy belated birthday, Jakarta!

Advertisements

Masih Adakah Orang (Yang Katanya) Romantis Di Jakarta?

“Eh, sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, apakah elo …”

Saya tersedak, literally, sambil menahan ketawa.

“Maksud lo?”
“Dengerin dulu. Sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, yang selalu come up dengan quotable quotes, tulisan blog galau dan segala macem lovey dopey notes, gue mau tanya, did you ever score anyone with those? Lebih spesifik lagi. Did you ever score anyone in town with those?

Saya menyerah, dan meletakkan minuman saya sambil tertawa keras-keras. Demikian pula dengan dua teman saya. Kebetulan kami bisa bertemu di sebuah kedai kopi di kota tempat kami semua mudik. Padahal kami tinggal di satu kota, cuma kesibukan masing-masing membuat kami jarang ketemu. Sometimes it does take an out-of-town trip to meet your friends of the same town.

“Ayo ngaku! Ketawa mlulu.”
“Iya nih. Ada yang berhasil nggak?”

Saya menyeka bekas isapan kopi di bibir. Tentu saja sambil memberi diri waktu untuk berpikir.

“Ya gue nulis kan gak nyari perhatian kayak gitu juga. I write to express, not to impress.”
“Sambit pake cobek elo ya, masih aja pake kata-kata quotable gituan.”

Kami semua tertawa.

“Jadi ada yang nyangkut nggak, nih?”
“Gak. Tuh udah gue jawab. Singkat, jelas.”
“Nah, berarti bener kan dugaan dan pendapat gue selama ini.”
“Dugaan dan pendapat apaan?”
“Menurut gue, udah gak ada lagi orang romantis di Jakarta.”
“Eh, gimana?”
“Maksud lo apa nih?”

Sekarang giliran teman kami yang dengan sengaja minum kopinya pelan-pelan.

“Woi, mikrolet kelamaan ngetem, woi!”
“Sabar, bencong. Ya menurut gue, orang-orang yang so-called romantic ini, yang jago merangkai kata-kata indah, mengungkapkan lewat tulisan-tulisan yang mem-ba-ha-na dan meng-ge-lo-ra ya, pada akhirnya ya mentok aja gitu di tulisan dan kata-kata yang tadi dia bilang to express and not to impress. Sementara hidup di Jakarta kan keras. Mau nafas di KRL aja susah. Mau jalan kaki di trotoar aja pake diteriakin ojek gila. Mau ngantri busway aja sibuk megangin kantong dan tas biar gak kecopetan hp dan dompet. Boro-boro dikasih kata-kata romantis, udah gak kepikir kalo di jalan. Kalau dulu pas kita masih di sini kita suka mikir hujan itu romantis, hujan itu bikin kangen, sekarang ngeliat mendung dikit dari jendela kantor gue di Gatsu? Gue langsung mikir, anjir! Susah nih dapet ojek.”

Kami spontan tertawa kencang, tidak memedulikan lagi keberadaan pengunjung lain.

“Jadi menurut elo nih, Mr. Cynical …”
“Eits, bukan sinis. Tapi realistis.”
“Oke. Jadi menurut Bapak Realistis, orang Jakarta nggak perlu orang yang romantis, tapi perlu orang yang, seperti nama elo, realistis …”
“… dan pragmatis …”
“… drama-free alias praktis …”
“… tidak mistis …”
“… bolehlah manis …”
“Tahu petis?”
“Tahu petis. Oh itu pesenan saya ya, mbak? Makasih.”

Kami terkekeh. Lalu mencocol tahu goreng yang masih panas ke saus petis yang hitam mengkilap. Cocok menemani udara sore hari yang basah karena hujan, di saat Jakarta sedang panas terik berdasarkan keluhan cukup banyak orang di Twitter.

“Kalau memang tidak perlu ada orang romantis di Jakarta karena orang Jakarta tidak perlu buaian kata-kata, terus apa dong yang masih … No, I mean, yang bisa laku?”
“Laku, lho, pilihan katanya! Orientasinya jelas ya.”
“Kayak yang tadi kita bahas. Pragmatis dan praktis. Be practical. If you like someone, just tell. Show the affection, give attention. Kalau gak lanjut, next.
“Ngomong gampang, oncom.”
“Emang. And that’s the truth. Don’t waste time, honey. Cukuplah waktu elo habis di jalan kena aturan ganjil-genap plus konstruksi MRT, jangan dihabisin lagi buat ngarep ke orang yang belum tentu suka ama elo, dan ngeladenin orang yang gak jelas juga.”

Kali ini kami semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Mungkin sama-sama berpikir, is Jakarta that tough?
Seperti menebak isi pikiran saya, teman saya berkata:

“Jakarta emang sih keras. Tapi kerasnya Jakarta somehow bikin kita, well, at least gue, kuat. Kalaupun dibayar dengan tidak adanya keromantisan yang elo bilang tadi, ya itu juga karena gue emang gak romantis juga pada dasarnya.”
“Ya elo kan paling lempeng dari dulu.”
“Lempeng. Lemes tapi ganteng.”
“Apaan sih?”
“Ya maksud gue, akhirnya balik lagi ke orangnya kayak gimana juga. It doesn’t hurt juga kalo elo being the lovey dopey romantic. Akhirnya kan itu ngebentuk karakter elo. It defines who you are. Dan elo bisa jadi orang yang berbeda dari orang kebanyakan. Kalo semua orang harus jadi orang yang praktis dan pragmatis, where’s the fun? Jakarta jadi tempat yang ngebosenin kalo orangnya sama semua. Sementara yang bikin kita betah di Jakarta, no matter how crazy the city is, kan orang-orangnya. So just be who you are deh.”

Kami mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman kami tadi. Sambil menatap jendela di luar kedai yang masih basah dengan tetesan air hujan, kami hanya mengetukkan jari kami mengikuti irama musik yang sedang diputar di ruangan ini.

Teman saya melanjutkan teorinya.

“Kata-kata yang elo tulis paling nggak memberikan warna di tengah monotonnya rutinitas hidup.”
“Setuju.”
Thank you, guys.
“Ada kan paling nggak yang pernah bilang gitu selain gue?”

Saya mengangguk, dan menambahkan.

But words are words. You can always fabricate them anyway. You can fabricate romance. But sincerity? Gak bisa. And that’s what the city is lacking. Ya nggak?”

Kedua teman saya mengangguk.

“Tapi meskipun begitu ya, you’re doing them, people who read your words, a great service, anyway. Lagian juga, jangan didengerin bapak realistis yang sinis dan gak manis ini …”
“Eh, mulut comberan!”
” … dia juga suka sepik-sepik di DM kok.”
It’s supposed to be rahasia, bencong laknat!”

Kami tertawa.

“Jadi kalo elo suka ngegombalin orang lewat DM …”
“Yaolo …”
“… berarti elo jago ngegombal dong?”
“Gombalnya dia mah, paling juga “kamu suka pizza juga ya? Cobain deh pizza ABCDEF. Mau aku kirim pake ojek? Alamat kamu dong.” Ngaku!”
“Hahahaha. Amit-amit!”
“Katanya praktis dan realistis to the point.”
“Bodo! Kagak temenan lagi ama kalian, dah! Dari Cengkareng ntar gak usah nebeng gue!”

Kami semakin tertawa kencang.

Happy belated birthday, Jakarta.

(source: ardaruspianof.blogspot.com)

Jakarta, Hari ke-49

DEAR diary, enggak terasa ya, kalau dihitung-hitung ternyata sudah sebulan lebih berada di Jakarta. Hampir dua bulan malah. Menjadi salah satu penghuninya. Dan makin ke sini, ada makin banyak hal yang akhirnya dialami, dirasakan, dan diketahui sendiri, meski masih belum ada apa-apanya. Masih banyak yang menanti untuk dieksplorasi. Baru kemarin sore, istilahnya.

Yang pasti, terasa menyenangkan, sampai sejauh ini. Soalnya, dimulai dengan bertemu banyak orang dan berhadapan dengan aneka ragam sudut pandang, baik yang sejalan maupun berseberangan. Semuanya benar-benar memperluas wawasan dan cara pandang.

Namanya juga di kota orang, di lingkungan yang baru dan perlu dikenali lebih jauh. Supaya bisa bertahan.

Terus, rasa-rasanya kota ini cocok bagi para penyendiri. Cocok, karena ada begitu banyak sudut dan situasi yang bisa dinikmati seorang diri. Mulai mal, pertunjukan dan galeri seni, sampai taman-taman kecil di pinggir kali. Bahkan hanya dengan jalan kaki, dari Menteng sampai Gunung Sahari.

IMG_0493

Aktivitas-aktivitas yang dianggap aneh bila dilakukan sendirian di kota kampung halaman, di Jakarta malah terasa lebih menyenangkan. Seperti nonton di bioskop, ngafe, baca buku di mana saja, datang ke pameran-pameran seni aneka media, olahraga, keliling kota, dan lainnya.

Akan tetapi, ada juga beberapa teman–orang sini–yang enggan berteman dengan sepi. “Jakarta is not suitable for the solitudes,” begitu katanya. Saya angguk-angguk saja. Lagipula keriuhan di kota ini seakan tak pernah mati. Paling-paling rehat sejenak, untuk kemudian berlanjut kembali. Tinggal perkara siapa yang menikmati, siapa yang protes dan pasang spanduk besar tinggi-tinggi, dan yang tidak acuh lantaran masih ada kesibukan lain.

IMG_0228

Salah satu keriuhannya itu seperti di jalan raya. Hampir sebagian besar pengendara di Jakarta, kayaknya, suka banget pencet klakson, entah apa pun tujuan dan maksudnya. Seolah dengan memencet klakson panjang-panjang atau pendek namun berulang-ulang, beban hidup mereka berkurang. Seneeeng banget. Padahal, dampaknya enggak signifikan juga. Arus kendaraan padat merayap, ya tetap aja padat dan merayap.

Padahal kan ya, klakson adalah perangkat penghasil bunyi-bunyian dengan desibel cukup tinggi yang berfungsi sebagai media komunikasi antarpengendara di jalan raya. “Pesan” yang disampaikan pun cenderung netral. Seperti, untuk memberi tanda keberadaan kita kepada pengemudi lain agar tidak salah bermanuver, maupun kepada pejalan kaki dan pesepeda yang terlalu dekat dengan badan jalan.

Alih-alih dijadikan media komunikasi, klakson dijadikan banyak pengemudi Jakarta sebagai perpanjangan mulut untuk meneriaki orang lain, bisa menyulut emosi dan membuat perjalanan jadi tidak terlalu menyenangkan, atau dianggap semacam alat ajaib yang mampu mempercepat perjalanan. Salah satunya, bayangin aja, lampu lalu lintas baru berubah jadi hijau, pengendara di bagian tengah dan belakang antrean membunyikan klakson panjang. Seolah-oleh pengemudi di bagian depan ketiduran, atau sedang masak Indomie goreng dengan cara digoreng kembali. Enggak sopir mobil atau pengendara motor. Sama.

Pernah iseng beberapa kali nih, diary, mengendarai motor teman mengarungi jalanan Jakarta dalam jarak belasan kilometer. Rasanya asyik-asyik aja sih. Padat ya padat, tapi enggak sampai bikin pengin nglaksonin orang-orang. Tapi enggak tahu lah ya, mungkin itu cuma perkara suasana hati.

Waktu bawa motornya teman saat itu, kita mau pergi makan. Ya namanya juga Jakarta ya, pilihan makanannya buanyaaak banget. Ada yang benar-benar enak (di lidah orang pendatang), dan ada juga yang cukup enak (meski enggak seheboh yang dikatakan). Semuanya beragam. Harga, rasa, nama, dan rupa. Mulai fine dining tiga sampai lima courses ditambah wine tasting, sampai makan pecel lele garing di pinggir jalan dengan lalapan yang bakal terasa makin enak kalau kolnya digoreng.

Yang pasti, meski tidak masak sendiri, masih bisa kok pasang bujet Rp 50 ribu untuk makan sehari. Tiga kali, malah. Apalagi di hari kerja. Kalau sudah akhir pekan, baru deh tuh bisa bablas-bablas dikit. Tetap disesuaikan kemampuan dan kapasitas perut juga lah. Mau makan sebanyak apa sih memangnya?

Tahu gak sih, diary, dari semua ini, ada satu hal yang penting dan pasti. Ternyata, dengan hampir dua bulan di sini, bikin merasa lebih bersyukur. Setelah sadar betapa beruntungnya orang-orang yang punya kelegaan dan keleluasaan, sehingga masih bisa memilih, hampir apa saja. Termasuk yang dilakukan pengamen, dengan memilih untuk mengembalikan duit cepek kepada pemberinya. Ndaktau ya, apakah dia tersinggung diberi segitu, atau memang duit cepek enggak ada artinya di Jakarta. Hahahaha!

Ya… mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari segala bentuk keterbatasan. Syukur-syukur kalau bisa membantu yang lain bebas dar keterbatasannya sendiri.

Itu dulu aja deh ya, diary.

Sampai kapan-kapan lagi.

[]

Sangat wajar bila tulisan ini dianggap terlalu prematur, agak terburu-buru, sotoy, hanya didasarkan pada temuan-temuan yang situasional, pretensius, terkesan berlebihan alias lebay, socioeconomically incorrect, dan sebagainya. Subjektif, sebabnya.

Kota dan Kualitas Hidup Kita

IMG_0040

Beberapa hari yang lalu saya sempat bertanya melalui akun twitter, apa kira-kira yang dapat dilakukan warga kota dalam rangka mewujudkan kehidupan kualitas kota yang lebih baik.

Beberapa orang menjawab. Agar kota dan kita bisa hidup mesra hingga akhir hayat bisa dilakukan dengan mendorong kesadaran kesukarelawanan. Melakukan sesuatu karena ‘ingin’ dan mendapatkan bahagia sebagai manfaatnya. Membiasakan menggunakan moda transportasi umum, menjaga kebersihan, dan menjadi pendengar yang baik bagi teman yang membutuhkan.

Pertanyaan wajar bagi saya yang merindukan kota kita tinggal adalah kota yang hidup dan menghidupi warganya. Hidupnya kota karena warganya. Hidupnya warga karena kotanya. Ukuran hidup disini adalah kualitas hidup yang membuat warga kota menjadi lebih baik, lebih bermartabat, jauh lebih beradab dan bisa jadi ini agak berlebihan: lebih berbahagia.

Majalah monocle edisi Juli/Agustus 2015 menurunkan hasil surveynya dari seluruh penjuru dunia soal ini. Judul besarnya adalah “Quality of Life 2015”

Ada banyak tambahan kriteria dalam menentukan mana kota yang dianggap begitu merawat dan memanjakan warganya.  Misalnya, berapa harga sewa rumah dan biaya hidup dilihat dari harga rumah dengan tiga kamar tidur sampai dengan segelas kopi di kedai kopi lokal, segelas anggur, dan makan siang memadai. Selain itu survey memperhitungkan lanskap kota. Berapa jarak kota ke laut, pegunungan, juga mempertimbangkan kemungkinan berenang di kolam renang umum saat makan siang, bukan saja sebagai kemungkinan melainkan sebagai aktivitas yang senantiasa dilakukan warga.

Ada juga kriteria apakah ada Perda soal kewajiban menggunakan helm bagi pengguna sepeda, polisi yang melakukan patroli dengan jalan kaki di pusat keramaian.

Tokyo
Tokyo
Paris
Paris

Hasilnya adalah kota Tokyo sebagai juaranya. Kemudian disusul  Kota Wina, Berlin, Melbourne, Sydney, Stockholm, Vancouver, Helsinki, Munich dan ke-10 adalah Zurich. Bagaimana dengan kota Paris? Kota ini berada di urutan 15.

Kota Tokyo dihuni oleh 9,1 juta jiwa. Angka ini belum termasuk kota satelit di sekitarnya. Tingkat pengangguran kota ini 5,2 % untuk usia muda dan secara rata-rata hanya 3,8% pengangguran. Bandaranya melayani 123 rute internasional, pengguna sepeda sebagai bagian dari transportasi pribadi sebanyak 19,5% warga dewasa. Untuk makan siang yang enak di Tokyo menghabiskan 7,5 euro. Bagaimana dengan jumlah perpustakaan yang dapat diakses warga? Ada 225 perpustakaan yang tersebar di seluruh penjuru kota.

Berapa harga sewa bulanan satu apartemen ukuran studio di Tokyo? 720 euro. Bagaimana dengan dunia media? Tokyo memiliki 6 koran lokal harian. Memiliki 131 museum, 335 layar bioskop, 587 galeri seni. Toko buku indie tersebar sebanyak 1383. Jumlah restoran yang masih bertahan bahkan makin laris manis sebanyak 4617 restoran. Bagaimana dengan kehidupan malam? Bar tutup tepat pukul dua pagi di hari Sabtu. Tokyo dan pantai berjarak 12 km, namun untuk pantai yang keren membutuhkan perjalanan 60 km menuju Pantai di Hayama.

Segelas kopi di kedai lokal sebesar 3 euro, segelas wine 4,9 euro. Bagaimana dengan daur ulang limbang sampah? Rata-rata kota ini mampu mendaur ulang hingga 23% sahmpah warganya.

Apa hal menarik lainnya dari Tokyo? Konsep arsitektur kotanya yang selalu dengan semangat gratis untuk semua. Warga kotanya menyukai sepeda dan menikmati udara segar di taman.

Tokyo tidak hanya ganteng. Kota ini juga terkenal bersih, toleran, sopan, mempersilakan orang asing untuk tetap anonim. Warga asing boleh ikut tradisi mandi  di pemandian umum.

Bagaimana dengan kota dimana kita tinggal. Apakah beberapa ukuran penilaian sebagaimana yang dipergunakan monocle dapat juga diterapkan bagi kita dalam menilai kota tempat tinggal? Tentu saja.

Namun, setelah pagi ini berita soal ‘Paris Attack’ bermunculan, jari saya limbung. Hati saya langsung pingsan.  Ternyata,  ada hal lain yang tak terukur dan sulit dibaca oleh alat ukur apapun. Walaupun soal toleransi muncul sebagai bagian dari perhitungan namun ada soal lain. Sepertinya faktor “hal lain” ini justru menjadi semakin signifikan.

Paris dan Eiffel. Jakarta dan Monas. Paris dengan Imigran. Jakarta dengan kaum urban. Walikota Paris seorang perempuan bernama Anne Hidalgo. Pemimpin Jakarta seorang Tionghoa bernama Basuki Purnama.

Dengan masalah yang hampir serupa. Jurang antara si kaya dan si miskin. Soal pandangan agama dan radikalisme. Soal selera politik, soal latar belakang pendidikan dan keseuaian dengan pekerjaan. Soal asal-usul daerah dimana warga masing-masing dilahirkan.

Paris di bulan Januari lalu dikejutkan dengan penyerangan akibat guyon satir Charlie Hebdo dan kemudian pembunuhan warga di pusat perbelanjaan komunitas yahudi di Paris. Kota ini mirip Jakarta, dimana warga kota yang benar-benar tinggal di pusat kota hanya 2,3 juta jiwa. Sisanya sebanyak 11,9 juta bermukim di area metropolitan kota sekitar. Siang riuh, Malam tak begitu.

Jadi, pertanyaan saya akan kembali seperti apa yang saya sampaikan di awal.

Apa arti kota dimana kita tinggal?  Bagaimana caranya kita mewujudkan kota yang ideal bagi warganya?

Jika punya tambahan kisah atau ide, silakan sampaikan dalam kolom komentar.

Buka, Sentuh, Tunggu, Bayar

Gampang ya?
Eits, belum tentu!
Semuanya tergantung pada kekuatan masing-masing.
Kalo punya situ ndak kuat ya ndak bisa buka. Apalagi sampai bisa nyentuh dan bayar.

Kita lagi ngomongin apa sih ini?
Nggak tahu kalau Anda lagi memikirkan apa, tapi yang jelas, saya lagi mau ngomongin online booking untuk ojek.

(Courtesy of ojekbalitours.com)
(Courtesy of ojekbalitours.com)

Kalau Anda sedang berada atau memang warga Jabodetabek, tentu sudah tidak asing lagi dengan kehadiran jasa ojek ini. Kita bisa memesan dengan mengunduh aplikasi pemesanan ojek lewat telepon selular kita.
Setahu saya, yang pertama hadir dan langsung populer adalah GoJek. Awalnya hanya untuk jasa kurir barang atau dokumen. Lalu berkembang menjadi jasa antar, dan pemesanan makanan.

Setelah beberapa lama, perusahaan GrabTaxi meluncurkan “second line” bernama GrabBike. Saat ini, armada sepeda motor GrabBike masih fokus pada jasa pengantaran penumpang saja. Tapi dengan demand terhadap jasa layanan angkutan motor yang terus berkembang, bukan tidak mungkin GrabBike pun akan menambah layanan seperti GoJek.

Kebetulan saja kedua brands ojek ini mempunyai warna yang sama, yaitu hijau. Maka kita pun sudah tak asing lagi melihat pengendara motor menggunakan jaket warna hijau, dan helm warna hijau di jalanan-jalanan ibukota dan sekitarnya. Kita pun sudah familiar di tempat-tempat makan populer melihat supir GoJek mengantri makanan pesanan yang segera diantarkan ke pelanggan. Itu kalau pelanggan berhasil booking jasa layanan GoJek lho ya.

Maklum. Mungkin saking populernya aplikasi ini, dalam beberapa minggu terakhir sering terdengar keluhan, termasuk dari saya sendiri, kalau susah sekali menemukan supir GoJek yang mau mengambil pesanan. Sementara itu, beberapa supir GoJek ada yang mengaku kalau pesanan tidak sampai ke gawai mereka. Baik GoJek maupun GrabBike sering overload kalau di waktu peak hours. Jadi buat mereka yang memesan jasa ojek kedua brands ini sering harus menunggu lebih lama lagi.

Nah, di sini menariknya.
Ada perubahan sikap dari konsumer pengguna transportasi umum yang tidak massal. Selama ini, kita terbiasa menghela taksi dengan melambaikan tangan ke taksi yang lewat. Kita langsung menghampiri tukang ojek di pangkalan, atau dihampiri. Jadi sebisa mungkin, prosesnya berlangsung cepat. In an instant, we get what we want.

(Courtesy of hp-yitno.blogspot.com)
(Courtesy of hp-yitno.blogspot.com)

Kalau pakai aplikasi?
Kita harus buka aplikasi. Loading. Menunggu sampai terhubung ke akun. Lalu kita arahkan peta sampai ke titik paling dekat dengan kaki kita. Kalau gak ketemu? Harus diketik. Lalu menentukan tujuan. Click. Masukkan kode promo, alias faktor utama kita rela melakukan proses-proses ini. Lalu click lagi. Kita menunggu sampai ada yang mau mengambil request kita. Harap-harap cemas kalau gak dapet. Begitu ada yang mengambil, apa kita lega? Belum. Kita hapalkan nomor polisi. Lalu kita tunggu, sampai akhirnya taksi atau ojek yang kita pesan benar-benar datang.

Lebih lama dari sekedar memanggil langsung di pinggir jalan, ya?

Makanya, saya sering tersenyum sendiri melihat orang-orang di pinggir jalan, terutama yang dekat pusat pertokoan, kantor, atau tempat umum lainnya, semua sibuk memegang ponsel masing-masing.
Ekspresinya sama, yaitu melihat ke gawai, melongok sesekali, berharap taksi atau ojek yang dipesan datang. Untuk pertama kali, kita dengan cermat melihat nomor polisi taksi, mobil dan sepeda motor dengan cermat. Kalau perlu sambil komat-kamit.

Ternyata yang namanya generasi millenials seperti kata Gandrasta, atau generasi yuccies kata Dragono, rela lho melakukan proses yang lebih lama ini. Siapa bilang mereka gak sabaran? Ini buktinya, pesan ojek sampai datang mungkin lebih lama dari actual traveling time. Yang penting kan digital, bro!

Tentu saja yang namanya human error akan sering terjadi. Apalagi tidak ada yang pernah pasti di jalanan ibu kota Indonesia ini. Ditambah pula miscommunication antara pengemudi dan penumpang sudah pasti terjadi.
Dan semua bentuk miskomunikasi ini, walaupun waktu terjadi tentunya sangat menyebalkan, kadang suka bikin kita ketawa sendiri.

Contohnya:
1. (dari teman perempuan)
“Keluar dari Lotte Avenue, gue berdiri nih Val, nunggu pesenan GrabBike. Terus dia sms, katanya “saya di seberang bu, di Ambas.” Ya udah, gue jalan ke sana. Pas sampe sana, tiba-tiba ada yang nyuitin gue! Berkali-kali! Kenceng banget! Pas gue noleh ke arah suara itu, dia dadah-dadah ke gue. Trus kok ya gue bales dadah balik ke dia ya? Asli, bodoh banget!”

2. (kejadian kemarin, ketika saya mengarahkan lokasi ke supir taksi via telepon)
“Pak, saya di lobby samping. Bukan yang di lobby depan. Bapak tinggal jalan lurus sedikit dari …”
(tiba-tiba saya gak konsen karena di depan ada ibu-ibu dengan volume suara 7 kali lipat dari saya, berteriak di teleponnya)
“Hey! Kau ini di mana? Aku sudah berdiri lama sekali ini kau tak muncul-muncul! Kau ini supir ojek tak tahu jalan, tak bisa baca peta ya? Yang ke Tanah Abang! Tanah Abaaang! Dengar tak kau?”
(saya bengong sebentar, lalu melanjutkan pembicaraan ke supir yang juga belum datang)
“Pak, tadi dengar juga kan?”

3. (pesan makanan)
Saya ketik di kolom tambahan pemesanan makanan “sate satu porsi, nasi setengah” untuk memastikan pesanan.
Ketika pesanan datang dan saya buka, yang terjadi sebaliknya. Nasi satu porsi, sate setengah porsi.

Dan selebihnya, silakan lihat foto-foto di bawah, semuanya dari pengalaman saya sendiri.

Positive thinking saja. Mungkin semua tanda baca berupa tanda tanya dan titik di ponselnya sudah berubah menjadi tanda seru. Bisa aja 'kan? Iyain aja.
Positive thinking saja. Mungkin semua tanda baca berupa tanda tanya dan titik di ponselnya sudah berubah menjadi tanda seru. Bisa aja ‘kan? Iyain aja.

 

Mungkin ini EYD baru dari terjemahan bahasa Indonesia atas kata "lobby".
Mungkin ini EYD baru dari terjemahan bahasa Indonesia atas kata “lobby”.

 

Aku harus jawab apa, mas?
Aku harus jawab apa, mas?

 

#OjekRomantis
#OjekRomantis

 

Dapat dari akun Path teman. Selain penasaran siapa copywriternya, siapa ya modelnya?
Dapat dari akun Path teman. Selain penasaran siapa copywriternya, siapa ya modelnya?

Mungkin mau menambahkan? Atau sekalian mungkin GoJek dan GrabBike mau bikin kontes video pendek cerita pengalaman penumpang*?

Silakan. Dan silakan berbagi cerita pengalaman Anda di kolom komentar ya.

*Yes! Ajak Linimasa kalau nanti ada lomba ini beneran! You heard the idea here first.