Ibrahim: Keimanan Vs Usaha Bertahun-tahun

Jika seorang anak ditinggal orang tuanya, dunia mengenal istilah “yatim” atau “piatu”. Jika seorang istri ditinggal suaminya maka dunia mengenalnya dengan “janda”. Lantas apa yang dunia kenal dengan orang tua yang ditinggal anaknya?

Dunia tak sanggup untuk menyempatkan diri termenung dan bersepakat atas situasi ini.

Karena kesedihan yang ada dan muncul adalah kesedihan yang tak terbayangkan dan tak mau dibayangkan. Dunia hanya sepakat untuk tak menyentuh wilayah kesedihan ini.

Kesedihan yang lebih hakikat dari sekadar kesakitan. Perih yang ditimbulkan lebih “ngenes”.

Maka itulah yang sepatutnya kita rasakan manakala Ibrahim diminta untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Kematian yang dilakukan oleh kedua tangannya sendiri.

Kesedihan dan kesakitan yang kalah oleh bisikan iman. Ibrahim yang bertahun-tahun kesepian tak memiliki putra harus rela membunuh anaknya sendiri atas bisikan ilahiyah.

Gila! Jika itu terjadi saat ini, Ibrahim orang gila. Ibrahim Gila. Ibrahim orang gila.

Namun tidak demikian adanya. Iman kita saat ini membenarkan tindakannya. Hikayat berkata lain. Tuhan hanya menguji seberapa cinta Ibrahim padanya. Apakah penantian bapak berpuluh-puluh tahun dan lahirnya seorang anak bernama Ismail lebih bernilai dari cintanya pada sang pencipta. Ismail tergantikan dengan hewan ternak.

Tuhan memberikan pengganti atas pengorbanannya itu. Ismail terus hidup. Iman Ibrahim makin hidup, dan lahirlah rituan berkurban dengan hewan ternak terbaik.

Ego seorang bapak saat itu telah mati. Perih dan sedih yang sirna oleh betapa cintanya pada sebuah keyakinan.

Landasan sejarah ini hilang perlahan dan digantikan dengan anjuran berqurban karena hewan tersebut yang akan menolong kita di titian jembatan menuju jannah. Motif cari selamat dengan berkorban sesaat di dunia demi akhirat. Semakin mahal nilai kurban, maka semakin moncer kendaraan menuju surga. Kambing itu avanza. Berkurban sapi seperti naik alphard. Begitu kira-kira. menuju surga dengan sopir dan penyejuk udara.

Adalah hal yang begitu istimewa jika kemuliaan untuk mempertahankan keyakinan harus dihadapkan dengan usaha kita selama ini yang harus hilang sekejap mata. Berdoa dan berusaha mendapatkan putra bertahun-tahun harus dilawan dengan keyakinan sebagai makhluk. “Korbankan Ismail adalah tanda engkau lebih mencintaiku.”

Ibrahim bukan saja mencintaiNya. Ia telah membuktikan cintanya itu. Sama sekali tak peduli akan akal sehatnya. Bukan saja ego. Ia tak perlu kewarasan dalam berpikir untuk berkorban. Jika ia gunakan akal sehat, maka bisikan menyembelih anak adalah sebuah tindakan yang begitu bodoh sekaligus kejam.

Kita tak dapat membayangkan apa yang ada dalam benaknya ketika pisau telah terhunus. Kita tak dapat membayangkan apa yang dia rasakan ketika Ismail telah merebah di atas batu dengan leher yang siap sedia. Kita tak akan pernah sanggup membayangkan di level mana keimanan Ibrahim ketika tangannya siap mengiris leher Ismail sembari menatap kedua mata Ismail.

Dan kelegaan macam apa yang didapati oleh dirinya ketika suara itu berkata lain:

“Sesembahanmu telah KuTerima dan kugantikan dengan hewan ternak. Sembelihlah itu..”

farafra5

Hebatnya, proses ini bukan dengan gerakan ringkas, lekas dan membabi buta demi sebuah keimanan. Ibrahim dikisahkan begitu linglung. Ia tetap ragu. Apakah benar apa yang disuarakan kepadanya? Apakah ini jalan seorang pencinta tuhan?

Maka jika usai sholat id besok panitia korban dengan bangga membaca jumlah sapi dan kambing yang berhasil terkumpul dari warga, jangan bayangkan itu adalah sederetan avanza dan alphard menuju surga. Anggaplah itu, kita manusia biasa yang bercita-cita memiliki iman dan rasa cinta sebesar Ibrahim kepada tuhannya.

salam anget,

roy

 

 

 

Advertisements

Yang-Tak-Berhingga

Meramal masa depan itu dilarang oleh agama. Iya. Agama saya. Tapi dianjurkan jika menggunakan awalan “ber-“. Beramal. 

Jadi lebih baik meramal masa depan atau beramal untuk masa depan?

Mungkin akan lebih baik jika penggunaan kata yang dipilih adalah mempersiapkan masa depan. Apa yang akan terjadi di lain waktu sudah kita antisipasi sebaik mungkin. 

Kemarin saya membaca salah satu tulisan di blog konpasiana soal prinsip ilmu nabi Yusuf yang terkenal bukan saja ganteng namun ahli dalam perbekalan. Dirinya dianggap berhasil mengubah mimpi buruk kemungkinan bencana kekeringan dan kelaparan negeri Mesir menjadi sebuah kehidupan yang gemah ripah loh jinawi. 

Setidaknya ada empat prinsip pokok tentang ketahanan pangan yang digagas dan diterapkan oleh Nabi Yusuf AS yang sampai dengan saat ini bahkan pada masa-masa yang akan datangpun masih tetap relevan untuk diterapkan. 

Pertama, prinsip Optimalisasi Lahan, yaitu 

mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian yang dapat menghasilkan produk berupa bahan pangan pokok. 

Kedua, prinsip Manajemen Logistik Pangan, dimana masalah pangan sepenuhnya dikendalikan langsung oleh pemerintah yaitu dengan memperbanyak cadangan pangan pada saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan pangan masyarakat mulai berkurang. 

Ketiga, prinsip Mitigasi Bencana Kerawanan Pangan, yaitu melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana kelaparan atau kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. 
Keempat, prinsip Deteksi Dini dan Prediksi Anomali Iklim dan Cuaca, yaitu melakukan analisis terhadap kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam seperti tingkat curah hujan, kelembaban udara, arah dan kecepatan angin, evaporasi atau penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima oleh bumi. Prediksi atau prakiraan dini terhadap kemungkinan terjadinya anomali iklim dan cuaca yang dilakukan oleh Nabi Yusuf AS belakangan terbukti secara ilmiah bahwa hal itu bukan sekedar dugaan atau rekayasa belaka. Pengamatan dan Analisis yang dilakukan oleh otoritas klimatologi di hampir semua negara, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuktikan bahwa anomali atau perilaku menyimpang dari iklim dan cuaca bisa terjadi pada kurun waktu 5 sampai 10 tahun sekali.

http://m.kompasiana.com/masfathan66/konsep-ketahanan-pangan-nabi-yusuf-a-s_54f9214fa33311ac048b46ac

Demikianlah. 

Ajaran agama terutama soal sejarah (Tarikh) seharusnya disikapi secara ilmiah. Namun hal ini jarang dikupas dan menjadi fokus ibu-ibu pengajian dan khotbah jumat. 

“Agama yang kita kenal itu melulu agama yang heboh tuhannya marah-marah”, kata Gandrasta.

Iya, soal agama dan ilmu seolah-olah terdapat garis pemisah. Belajar agama berbeda dengan belajar ilmu. Padahal?

Kemarin topik ini sempat kami bahas di WA Group Penulis Linimasa. 

Gandrasta menambahkan bahwa sebetulnya dalam belajar agama terutama kisah hidup Rasul terdapat ilmu bermacam-macam. Lintas disiplin. 

Ada soal bangun pagi, oksigen, teori fusi, gravitasi, ovulasi, dan cara PDKT Nabi Muhammad SAW ke calon istrinya, cara keluarga Nabi Muhammad SAW keluar dari krisis keuangan (jaman kain impor ibu Khadijah telat kirim karena kapalnya dibajak orang).
Pertanyaannya: mengapa hal ini jarang disinggung?

Apakah karena cendekia muslim begitu lekas mati tanpa kaderisasi? Sehingga efeknya umat muslim menjadi tertinggal soal iptek akhir-akhir ini. 

Erick Chaney menulis dalam jurnal di Harvard Desember 2015 kemarin. Judulnya Religion and The Rise and Fall of Islamic Science. https://rawlacquer.files.wordpress.com/2015/12/science_12_10_2015-2.pdf

Salah satu sebab dunia Islam tak lagi menguasai iptek adalah soal keberpihakan pemimpinnya yang membiayai dan mendukung penuh lembaga maupun aktivitas ilmiah. Salah satu alasan adalah politis. Ketika muncul orang pandai, pemimpin akan kuatir dengan pengaruh “orang pandai” lain yang tumbuh dari madrasah-madrasah yang dibiayai. Juga pemimpin lebih baik memiliki banyak pendukung dengan beranak pinak sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan lebih jauh apakah keilmuan generasi penerus akan cukup bertahan bahkan melampaui generasi sebelumnya. 

Hal ini dimungkinkan mengingat kekhasan dunia islam bahwa pemimpin adalah wakil tuhan. Maka apa kata pemimpin adalah titah tuhan.

Lalu bagaimana soal meramal dan beramal ini.

Tentu saja untuk meramal (forecasting) perlu ilmu. Apalagi beramal. Selain ilmu, untuk beramal jariyah perlu juga harta benda. Maka, bagi saya meramal atau beramal, sama-sama baik. Bukan meramal nasib pribadi apa yang akan terjadi esok hari. Namun meramal apa yang perlu kita siapkan dalam menyongsong hari esok agar lebih baik, lebih tenang, lebih kaya, dan lebih bermanfaat.

Sembari itu, kita beramal. Apapun yang dapat dan boleh kita berikan. 

Islam itu hebat, karena tak ada batas penghalang dalam kita bermasyarakat. Kecuali yang dilarang. Lantas mengapa kita sibuk membatasi diri, ketakutan berlebihan terhadap yang boleh dan tak boleh?

Islam yang ramah. Memberikan apapun yang terbaik bagi seluruh semesta raya. Menyumbangkan dan berperan aktif untuk Sesama manusia, alam, masa lalu dan masa depan agar lebih baik.

Kita tak perlu najis untuk membaca segala. Bacalah. Bukan berarti apa yang kita baca akan mengubah diri kita persis dengan apa yang ada dalam kata-kata bacaan itu. Membaca segala, menambah cakrawala, hingga tak berhingga. 

Karena pada akhirnya kita semua ingin menuju Yang-Tak-Berhingga.

Selamat menjalankan tahun kabisat.

Salam hangat dari saya.

Roy

[JAWABAN] Main Tebak-Tebakan

Tengah Desember lalu saya iseng menulis Tentang Jilbab. Sampai sekarang tulisan itu masih sering dibaca, komentarnya pun beragam. Ada yang setuju, ada yang ndak, ada juga yang ndak urus. Bebas.

Minggu lalu saya mengajak kalian, teman-teman Linimasa, main tebak-tebakan. Iseng-iseng tak berhadiah, lah. Ada total 12 foto perempuan dengan tutup kepala yang berasal dari sekte/agama yang berbeda. Pertanyaanya gampang: Bisa kah kalian membedakan mana yang islam dan mana yang Yahudi? Mana yang Coptic dan mana yang Syiah?

Dari sekian banyak pertanyaan yang dituliskan di kolom komentar, ada satu yang menarik perhatian saya. Jawaban dari @moelmoelmoel. Berbeda dari yang lain, Moel justru tidak memberikan jawaban A, B, C, atau D. “Semua jawaban ada pada pertanyaanya.” Katanya. Hahaha.. saya setuju.

Jadi ingat. Dulu, saya pernah mengambil mata kuliah Women Studies. Ndak, isinya ndak ada perempuan dengan bulu kaki lebat dan ketiak yang tidak dicukur seperti yang sering diasosiasikan dengan feminis-feminis garis keras. Kelas ini juga gak cuma  untuk perempuan saja. Semua ras, semua gender, semua agama ikut.

Suatu hari, ketika ada sesi tanya jawab setelah kuliah, ada satu perempuan asal Jordania yang bertanya begini: “Kenapa ketika seorang perempuan Muslim berjilbab itu dikategorikan sebagai opression, sementara pada biarawati Katolik, penutup kepala adalah simbol kepatuhan dan keimanan?” Hari itu ndak ada yang bisa jawab, tapi kami sepakat kalau seharusnya ndak ada masalah. Mau pake jilbab atau ndak, mau percaya tuhan atau nyembah gentong, suka-suka aja. Manusia kadang terlalu fokus sama perbedaan.

Sebelum tulisan ini jadi kepanjangan dan bahasannya jadi kelebaran, ini jawaban dari Main Tebak-Tebakan minggu lalu:

1. Perempuan-perempuan ini beragama Kristen. Sebagian dari Coptic Orthodox, lanjutan dari Church of Alexandria. Mereka mukim di wilayah Ethiopia, Eritrea dan Nubia (sekarang Sudan).

2. Muslim:

3. Yahudi: Banyak yang gak tau kalau perempuan Yahudi Orthodox juga memakai niqab.  Sungguh syariah, kan? gak cuma perempuan-perempuannya aja. Para laki-laki juga mengenakan penutup kepala bernama kippeh (kopiah – sepertinya akar katanya sama), memanjangkan janggut dan jambang, dan.. bercelana cingkrang!

4. Sabian: Mirip dengan Zoroastrian di Iran, tapi yang ini berpusat di Baghdad, Irak. Al Shabiin atau Sabians ini pernah begitu ramai dianut semasa Muhammad (pbuh) hidup. Dalam kepercayaan mereka juga ada ritual seperti wudhu, menyucikan diri di tepi sungai Eufrat sebelum beribadah.  Sekarang populasi Sabians semakin menurun. Dan kabarnya, mereka adalah target ISIS yang utama.

Jadi…. salah berapa? :p

Tentang Jilbab

Henrietta Edwards' 165th Birthday

Tadi pagi saya kaget melihat Google Doodle ini. Rupanya hari ini Henrietta Edwards berulang tahun yang ke-165. Beliau ini salah satu tokoh utama perjuangan hak-hak perempuan di Amerika Utara, khususnya Canada.


Ngomong-ngomong soal perempuan, saya jadi ingat, beberapa hari lalu saya menonton film asing yang premisnya begitu menarik dan menggelitik. Judulnya The Source (La Source Des Femmes).
Mengambil tempat di wilayah utara Afrika, ada sebuah desa kecil yang daerahnya begitu tandus dan berbatu-batu. Karena mereka masih hidup dalam budaya Muslim yang begitu kental, maka para perempuan di desa ini diwajibkan untuk mengurus rumah. Mulai dari memasak, mengurus anak, sampai ke mengambil air bersih yang jaraknya berkilo-kilo meter dari desa.

La-source-des-femmes-poster
Karena jalannya begitu terjal dan menanjak, tak jarang para perempuan ini jatuh hingga menyebabkan keguguran. Ke mana para pria desa ini? Ada, tapi setiap hari mereka hanya sibuk minum teh dan ngobrol-ngobrol. Dan akhirnya, karena muak melihat para pria yang begitu malas dan mengatasnamakan agama, para perempuan di desa ini pun punya ide brilian. Mereka sepakat untuk melakukan mogok massal. Mogok untuk bersetubuh dengan para suami, sampai mereka mau membantu para istri membangun saluran air ke desanya.

Tentu saja jalan untuk meyakinkan para suami ini tidak mudah. Ada satu adegan yang dialognya sangat membekas di kepala. Waktu itu ada seorang anak laki-laki yang begitu soleh, beliau memengaruhi pria-pria lain di desa itu agar semua perempuan mengenakan jilbab. Sang ibu yang sudah paruh baya pun sontak marah dan berkata kalau pada awalnya anjuran berjilbab itu untuk membedakan perempuan terhormat dan perempuan budak, tapi karena saat ini sudah tidak ada perbudakan, ya ngapain pake jilbab?

Argumen sang ibu ini benar. Mungkin ada yang belum tau, tapi budaya berjilbab untuk perempuan memang bukan budaya bawaan Islam.


Dulu, sekitar abad 13 BC, jilbab hanya boleh digunakan para perempuan ningrat di Assyiria. Perempuan kebanyakan dan para pekerja seks dilarang mengenakan jilbab. Begitu juga halnya di masa Mesopotamia, Iberian Peninsula, juga Yunani dan Romawi Kuno. Para perempuan di jaman itu digambarkan mengenakan pakaian serupa jilbab yang menutupi bagian kepala dan wajah. Pada waktu itu jilbab menunjukkan status dan strata sosial, gak semua orang bisa punya privilege untuk menutupi wajah dan kepalanya.

Digambar oleh: Malcolm Evans

Digambar oleh: Malcolm Evans

Menurut Leila Ahmed, seorang pakar Islam kontemporer dari Mesir, anjuran untuk berjilbab bagi perempuan Muslim justru datangnya bukan dari Muhammad SAW. Pada masa itu, jilbab sudah banyak digunakan oleh perempuan Palestina dan Syria. Kemudian karena mereka hidup berpindah-pindah dan berdagang, maka budaya mengenakan jilbab inipun semakin meluas.

Dan anjuran untuk mengenakan Jilbab untuk istri-istri Muhammad SAW (QS 33:33) pun jadi kewajiban moral karena kedudukan sosial mereka yang berbeda dari perempuan lainnya di masa itu. Para ahli sejarah berpendapat kalau, di era Muhammad, jilbab digunakan untuk membedakan perempuan Muslim dari perempuan Pagan dan budak.

Perlukah berjilbab? Jilbab yang benar itu bagaimana? Kenapa jilbab jadi sebuah keharusan padahal jaman perbudakan sudah gak ada lagi? Kalau urusannya sudah menyangkut fiqh dan yurisprudensi Islam, saya nyerah. Gak berani jawab. Saya cuma berani menjawab dari pendekatan sejarah dan budaya saja. Tapi, ada tulisan menarik tentang ini. Ditulis oleh KH. Husein Muhammad, seorang ulama yang juga feminis.

Tentu saja, kalau soal jilbab, jawaban setiap orang pasti berbeda.
Ada yang memutuskan untuk langsung berjilbab karena kewajiban, ada yang bilang mau menjilbabkan hatinya dulu. Ada yang hanya menutup kepala dan membiarkan leher terbuka (seperti yang dilakukan nenek saya dan nenek-nenek lainnya), ada jilboobs, ada juga yang berjilbab syar’i. Bebas. Pilihan masing-masing.
Tapi yang jadi masalah adalah ketika sekelompok perempuan yang sudah mengenakan jilbab sesuai syariat yang mereka percayai, malah merendahkan perempuan lain yang tidak seperti mereka. Atau sebaliknya. Ya ndak?

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 4

“Katakan, Sayangku, siapakah lelaki yang paling berkuasa di negeri ini? Adakah yang lebih kuat dan hebat dariku?”

“Ada. Bukan kau.” jawab sang kekasih dengan tenang.

Ia pun terperanjat. Kaget. Ia tak mungkin tertandingi. “katakan, siapakah dia?”

“Aku.”

“Kamu..? Tapi… Bagaimana mungkin kamu bisa lebih berkuasa dariku?”

“Aku tidak mengerti..”

“Iya. Kamu memang penguasa terhebat negeri ini, tak ada raja yang lebih berani darimu. Tapi, kamu dikuasai hatimu, Sayangku. Dan aku, akulah penguasa hatimu.”


Ilustrasi Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz. Digambar oleh Ryan Grant Long

Ilustrasi Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz. Digambar oleh Ryan Grant Long

Abad 8 masehi. Islam sedang jaya-jayanya. Abbasiyyah berhasil merebut hampir semua wilayah jajahan Umayyah. Hanya menyisakan Al Andalus. Mereka lalu membuat pasukan elit dan merekrut para budak keturunan Turki. Mamluk. Terkenal paling piawai di medan perang, tidak pernah tidak menang.

Wilayah kekuasaan Abbasiyyah pun semakin meluas. Dan, konsekuensinya, Islam pun semakin menyebar. Dan pada abad ke-10 akhirnya bisa memasuki wilayah India. Si Mahmud yang keturunan Mamluk akhirnya berhasil menaklukkan Ghazni. Jadilah ia ‘Sultan’ pertama dalam sejarah Islam.

Gak puas hanya jadi raja kecil di Ghazni, Mahmud pun terus berambisi menaklukkan daerah-daerah lain. Akhirnya wilayah Iran, Turkmenistan, Uzbekiztan, Kyrgyzstan, Pakistan, dan juga wilayah utara India semua masuk jadi wilayah kekuasaanya. Siapa yang tak kenal mahmud. Bagi rakyatnya, ia dianggap seorang patron sastra dan seni. Mahmud dipuja puji. Punya sembilan istri. Lusinan selir.

Tapi ke-sembilan istri dan lusinan selir tadi tidak ada yang bisa mengambil tempat paling spesial di hati Mahmud, padahal, hasil perkenthuannya sudah menghasilkan lebih dari lima puluh anak. Cintanya hanya untuk Ayaz.

Ayaz tidak rupawan. Wajahnya biasa saja. Kulitnya gelap. Seperti buah zaitun, katanya. Apalagi ia hanya seorang budak hasil rampasan. Tapi cinta Mahmud begitu tulus. Bahkan, di dalam cerita para sufi, kisah cinta antara Mahmud dan Ayaz ini dijadikan contoh ‘Ishq. Sebuah perasaan kasih yang begitu dalam, sampai-sampai bisa mengalahkan ego. Pengejawantahan cinta yang paling sempurna.

Rakyat bingung. Seorang sultan yang paling hebat justru melupakan para istri dan selirnya dan lebih memilih Ayaz. Udahlah mukanya biasa aja, cowok pula. Ada satu pujangga terkenal yang menulis tentang mereka. Kalau diterjemahkan seperti ini: “Bagaimana mungkin seorang burung bulbul (nightingale) lebih memilih mawar yang sudah tidak berbau, tidak juga memiliki warna yang indah?”

Namanya juga cinta. Susah dimengerti. Malik Ayaz jadi orang kepercayaan si sultan. Gak cuma soal hati, tapi juga soal pemerintahan. karirnya semakin lama semakin menanjak. Mulai dari prajurit, diangkat jadi panglima, dan akhirnya ia dihadiahi wilayahnya sendiri. Lahore. Di bawah pemerintahan Ayaz, Lahore yang tadinya porak-poranda karena perang menjadi begitu maju.

Dan pada suatu hari, ketika Mahmud sedang berdua-duaan dengan kekasihnya, Ayaz, ia bertanya:

“Katakan, Sayangku, siapakah lelaki yang paling berkuasa di negeri ini? Adakah yang lebih kuat dan hebat dariku?”

Puisi tentang Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz

(bersambung)

(Baca cerita sebelumnya di sini.)

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 3

(sambungan dari Part 1 & Part 2)

Ruangan besar itu begitu lengang. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan sebuah meja. Lelaki itu bernama Amir. Di depannya duduk seorang panglima Taliban. Berjubah putih, sorban yang sewarna, dan janggut yang panjang melewati dagu. Mereka tidak saling berbicara. Di dekat pintu ada seorang penjaga yang berdiri tegap dengan senapan di punggungnya.

Tak berapa lama pintu pun dibuka. Suara musik serta-merta menghambur ruangan. Disusul derap-derap langkah. Seorang lelaki yang juga berjanggut, bersorban, dan bersenapan berjalan masuk. Ia menjinjing radio player usang. Di belakangnya terlihat seorang anak kecil. Sohrab namanya. Gemerincing gelang-gelang di kakinya melengkapi musik yang mengalun.

Sohrab memasuki ruangan sambil menari. Berjinjit lalu berputar. Begitu gemulai. Badannya berbalut kain sutera warna biru tua. Wajahnya yang halus dan matanya yang lebar dibingkai maskara dan celak warna hitam. Rautnya murung. Dua orang penjaga bersenapan tadi terus bertepuk tangan, seolah memaksa Sohrab untuk terus menari.

Amir mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahan. Anak lelaki yang dipaksa menari ini keponakannya.

***

Cerita di atas adalah sepenggal adegan dari film The Kite Runner. Film adaptasi dari buku berjudul sama karangan Khaled Hosseini.


Bacha Bazi di awal tahun 1900an

Bacha Bazi di awal tahun 1900an

Bacha Bazi berasal dari bahasa Persia, Baacheh Baazi. Simpelnya, mereka adalah anak laki-laki penghibur. Ini merupakan tradisi Afghanistan yang sudah berumur ratusan tahun. Katanya, sih, adaptasi dari kebudayaan Persia Kuno dan Romawi.

Para lelaki Taliban mengambil anak-anak lelaki yatim piatu atau mereka yang dari keluarga tak mampu untuk didandani seperti perempuan. Mereka dijual bak budak. Dipaksa menari dan benyanyi di depan puluhan lelaki dengan iring-iringan musik. Untuk menghibur hati dan juga pemuas hasrat seksual.

Bacha merupakan symbol kekayaan dan kekuasaan laki-laki Taliban. Semakin manis rupa, semakin halus kulit, semakin lentik jemari ketika menari, maka semakin tinggi pula status sosial sang tuan.

Biasanya para “tuan” ini memiliki lebih dari satu Bacha dengan rentang umur yang bervariasi. Rata-rata usia 8-17 tahun. Dan sudah “aturan main”-nya ketika para Bacha ini beranjak dewasa, biasanya mereka juga membeli anak-anak lelaki untuk dijadikan Baacha Bazi. Begitu seterusnya. Kalau mereka coba kabur, anak-anak ini akan dipukuli bahkan tak jarang dibunuh.

Sangat ironis. Untuk negara yang sudah jelas-jelas menyandang cap ‘homophobic’ dan dengan tegas menjalankan memaksakan hukum Shariah, Bacha Bazi yang merupakan konsep jaman batu ini justru tumbuh begitu subur. Memang, pada praktiknya hal ini illegal. Tapi karena para tuan ini adalah orang-orang yang berkuasa, jadi kebiasaan ini tetap dijalankan.

Satu pasal di undang-undang Taliban bahkan menyatakan “Mujahiddin dilarang membawa anak laki-laki tanpa ‘facial hair’ ikut masuk ke dalam kamar-kamar pribadi mereka.”
Ironis, kan? Kelompok fundamentalis Islam garis keras bahkan merasa perlu secara spesifik mencantumkan ini ke dalam undang-undang mereka.

Sepertinya memang praktik ini sudah jadi rahasia umum dan diterima secara diam-diam, sekeras apaapun hukum syariah yang dijalankan. Sampai-sampai ada perumpamaan seperti ini: “Ketika seekor burung terbang melintasi Kandahar, ia hanya mengepakkan satu sayap. Satu untuk terbang, sedang yang satu lagi untuk menutupi bokongnya.”

(bersambung)

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 2

(lanjutan dari bagian pertama)

Konya, 1248. Awal Desember. Malam itu, di luar, udara sedang dingin-dinginnya. Di dalam kamar, cengkerama sepasang kekasih sedang hangat-hangatnya. Bagi mereka ini ritual. Kebiasaan yang sudah dilakukan selama empat tahun. Menemukan Sang Empunya Semesta di antara percakapan. Hal yang sulit dimengerti orang-orang sekitar. Tapi siapa yang peduli, bagi mereka ini cinta. Cinta — lebih sakral dari apapun dan kegilaannya tidak selalu harus dimengerti.

Tak berapa lama sang kekasih mendengar pintu belakang diketuk. “Tunggulah sebentar, ada tamu. Aku bukakan pintu dulu.”, katanya.

Ia mengiyakan; tetap tinggal di dalam kamar. Menunggu. Di luar, udara semakin dingin. Tidak terdengar suara-suara. Malam sudah habis dan kekasih tak kunjung datang. Ia patah hati. Ini yang kedua kali. Namun entah kenapa ia yakin kali ini sang kekasih tidak akan kembali. Padahal, baginya, kekasihnya itu adalah Sang Mentari. Sesuai dengan namanya: Syam.


 

Balkh, 1207. Akhir September. Kota kecil ini masuk di dalam wilayah kekuasaan Persia (Balkh saat ini merupakan wilayah Utara Afghanistan). Bahauddin yang ahli agama itu baru punya anak laki-laki. Jalaluddin namanya. Jalal ad-Din; kemenangan atas iman. Bahaudin memang pengin anak laki-lakinya ini kelak bisa jadi penerus.


 

Anatolia, 1215. Persia diinvasi kerajaan Mongol, Balkh akhirnya diduduki. Bahauddin dan keluarganya terpaksa hijrah ke tempat baru ini. Anatolia letaknya di bibir laut Mediterranean. Wilayah ini dulunya kekuasaaan Byzantium, Romawi.

Sudah jadi kebiasaan orang-orang Timur Tengah, nama tempat tinggal dijadikan nama belakang. Tanda pengenal, katanya. Begitu juga dengan Jalaluddin. Ia menanggalkan nama Balkhi, dan menggantinya jadi Rumi. Asalnya dari kata Roman/Romawi. Jalaluddin Rumi kalau diterjemahkan bisa jadi begini : Si Jalaluddin anak Rum.

Enam belas tahun berselang dan Bahauddin sang ayah pun meninggal. Jalaluddin berniat meneruskan jejak sang ayah. Tak lama kemudian ia dan istrinya, Gowhar Khatun, pindah ke Syria untuk belajar.


 

Jalaluddin yang dicegat Syam

Konya, 1244. Tengah November. Jalaluddin, 37 tahun, lagi mateng-matengnya. Punya madrasah, ahli ilmu syariah. Ndak ada yang ndak kenal.

Siang hari itu, seusai mengajar, ia menuju rumah menunggangi keledainya. Ketika melewati pasar, tiba-tiba ia dicegat seorang lelaki paruh baya. Laki-laki ini mengenakan jubah hitam yang begitu lusuh, janggut dan rambutnya panjang tak terurus, badannya dekil. Orang-orang bilang dia gila. Syamsuddin Tabrizi. Syam si laki-laki gila dari Tabriz (sekarang wilayah Azerbaijan, Iran).

Syam terus saja meracau dan menghalangi jalan Jalaluddin. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh yang begitu absurd. Jalaluddin pun tidak tahan untuk tidak meladeni, mereka akhirnya terlibat percakapan yang begitu seru. Syam kemudian memutuskan kalau Jalaluddin lah orang yang selama ini ia cari. Orang yang bisa membantu ia menemukan Tuhannya.

Sejak saat itu Jalaluddin dan si gila Syam tidak bisa dipisahkan. Mereka mengasingkan diri berdua. Berbulan-bulan. Bagi mereka ini ritual. Menemukan Sang Empunya Cinta di antara tatapan dan percakapan sunyi. Berdiskusi tanpa kata-kata.

Dua tahun sudah lewat. Jalaluddin tidak peduli lagi dengan apapun, toh ia sudah menemukan Sang Mentari. Murid-muridnya yang lain habis dibakar cemburu, mereka pun akhirnya mengusir Syam. Keesokannya Syam menghilang tak berjejak. Jalaluddin berduka, mengunci diri. Banyak yang percaya di sinilah titik awal Jalaluddin mendalami mistisisme Islam.


Damaskus, 1247. Di pusat kota. Syam berdebat dengan seorang pendeta dari barat. Francis Assisi namanya (kemudian jadi Santo). Ini Pelik. Soal kalah-menang. Bukan. Bukan soal agama mana yang paling benar. Bukan soal Muhammad atau Yesus. Ini soal judi kartu. Menurut Syam, Francis curang. Maunya cuma uang. Akhirnya Francis pun mengaku, tapi Syam malah merelakan uangnya. “Bawalah untuk kawan-kawan di Barat sana. Bagikan untuk mereka.”, katanya. Francis pun pamit undur diri.

Ada seorang pemuda yang daritadi mengamati mereka dari kejauhan. Sultan Walad. Anak teruta Jalaluddin, ia datang menyampaikan surat cinta untuk kekasih sang ayah. Jalaluddin kangen, katanya. “Kembalilah, Syam, aku rindu.”, mungkin begitu isi suratnya.

Syam akhirnya manut, ikut kembali ke Konya dan kembali ke pelukan Jalaluddin. Mereka tidak bisa dipisahkan.


Konya, 1248. Awal Desember. Pagi itu, di luar, udara sedang dingin dinginnya. Di dalam, hati sedang panas-panasnya. Mata sedang basah-basahnya. Kekasihnya tak kunjung pulang. Padahal Cuma Syam yang bisa membantunya menemukan Sang Empunya Rasa. Walau dalam diam sekalipun.

Berbulan-bulan ia meratap. Puluhan sajak ia tulis untuk Syam. Ia pun akhirnya pergi ke Damaskus, siapa tau Syam di situ lagi. Padahal tidak ada yang berani bilang kalau Syam dibunuh dan jasadnya dibuang, tidak bisa ditemukan.

“Why should I seek? I am the same as he.

His essence speaks through me.

I have been looking for myself.”

Setelah lama dirundung sendu, Jalaluddin pun tercerahkan. Sang Mentari tak perlu dicari. Ada di dalam dirinya sendiri.

Jalaluddin pun akhirnya bisa jatuh cinta lagi. Kali ini kepada seorang tukang emas bernama Saladdin Zarkub. Dan, bukan. Ia bukan yang terakhir. Sepeninggal Saladdin, Jalaluddin kembali jatuh cinta pada seorang pemuda berdama Husam Chelebi.

Sajak-sajak Jalaluddin tentang Syam pun dikumpulkan dan diberi judul “The Great Works of Sham of Tabriz”. Namun buku ini dan sajak-sajaknya yang lain, oleh pemerintah Turki, sempat dilarang beredar dan diterjemahkan karena kontennya yang begitu “nggilani”. Barulah akhirnya pada tahun 2006 kumpulan sajak ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Homo kah seorang Jalaluddin Rumi? Apapun hubungan yang ia miliki dengan Syam Tabrizi, rasanya kurang pas jika harus dikotak-kotakkan ke dalam label homoseksual, homoerotis, homophile, homosocial, dan homo-homo lainnya.

Saya, sih, melihat ini sebagai same-sex love. Tidak harus selalu dimengerti. Tapi, cinta dan kasih seharusnya juga tidak perlu ditempeli embel-embel gender. Seperti yang pernah ditulis Gandrasta, Jalaluddin pun punya konsep yang sama tentang cinta dan ketuhanan.

“I profess the religion of love.

Love is my religion and my faith.

My mother is love, my father is love, my prophet is love.

My god is love I am a child of love.

I have only come only to speak of love.”

 

(bersambung)

(p.s: kalau teman-teman tertarik membaca kumpulan sajak Rumi untuk Syam Tabrizi, silakan tinggalkan email di kolom komentar. Nanti saya kirim versi pdf-nya. 🙂 )
(p.s.s: bisa juga klik di sini divaneshams)

HOMOSEXUALIS[LA]M

Spanyol, 1485. Christopher Columbus belum punya niat untuk mencari “Dunia Baru” apalagi menginjakkan kaki di Amerika. Ia berhenti sejenak di tengah pelayarannya dan singgah di Granada. Kedatangannya disambut meriah ratu Isabella dan raja Ferdinand. Rupanya mereka sedang merayakan sebuah kemenangan. Kerajaan Katolik akhirnya bisa mengalahkan Moors, umat Islam dari Kekalifahan Umayyah, dan menguasai Spanyol.

Sejarah memang selalu dituliskan pemenang. Saat itu, bagi yang kalah, inilah akhir dari sebuah masa. Peradaban yang usianya lebih dari 700 tahun. Segala jejak tentang Islam dan Kekhalifahan Umayyah dihapus. Moors tak lebih dari bangsa barbar yang kasar dan tak beradab. Pembantaian di sana-sini. Lebih dari sejuta buku berbahasa Arab dibakar, tidak boleh ada sisa.

Namun, ada satu istana yang dibiarkan utuh. Letaknya di atas bukit yang tanahnya berwarna merah kehitaman. Ia dikelilingi pepohonan rindang. Kain-kain sutera aneka warna menyelimuti seluruh sisi istana. Melambai-lambai dengan lembut ketika ditiup angin sepoi. Dan, ketika ditingkahi matahari, bangunan ini berubah warna menjadi keemasan. Masyarakat sekitar menyebutnya “Yang Berwarna Merah” . Al Hambra.


Al Hakam II

Cordoba, 961. Al Hambra tak lebih dari sekadar benteng kecil. Tapi kota ini sudah dijejali perpustakaan. Jumlahnya 70. Semua orang kala itu lagi gandrung dengan ilmu pengetahuan yang dibawa Islam. Astronomi. Ekonomi. Kedokteran. Lupakan Alexandria, apalagi kerajaan-kerajaan lain di Eropa. Al-Andalus lah denyut dunia. Metropolitan.

Sang raja kala itu, Al Hakam II, punya lebih dari 400.000 koleksi buku dan dianggap sebagai pemimpin yang sangat cerdas. Tapi, raja terhebat sekalipun jadi tidak berguna kalau tidak bisa punya anak.

Satu istana bingung. Bagaimana caranya, supaya, Hakam yang sudah berumur 46 tahun ini punya keturunan. Perempuan-perempuan dari segala daerah pun didatangkan. Tidak ada satupun yang dilirik. Sia-sia. Hakam seorang homoseks.

Entah siapa yang punya ide jenius ini. Seorang budak Kristen dari Basque (sekarang wilayah Perancis) diangkat sebagai selir. Sobeyah namanya. Rambut Sobeyah dipotong pendek. Ia lalu didandani seperti anak laki-laki. Sobeyah sekarang bernama Jafar. Jafar “dicomblangin” sama Hakam.

Hasilnya?

Tidak lama kemudian lahirlah seorang anak laki-laki yang akan jadi penerus kekhalifahan Umayyah. Hisham namanya. Senanglah hati Hakam. Tapi, Hakam bukan satu-satunya homoseks Umayyah. Abdul Rahman III, sang ayah, juga senang punya selir laki-laki.


Cordoba, 926. Anak lelaki itu bernama Pelagius. Umurnya tidak lebih dari 14 tahun. Kulitnya putih dan garis-garis wajahnya begitu halus. Ia dikhianati pamannya, Hermoygius, yang maunya cari selamat sendiri. Pelagius dijadikan sandera dan budak sementara sang paman melarikan diri. Pada suatu hari, Pelagius diberi dua pilihan: masuk Islam atau mati. Daripada masuk Islam Pelagius lebih baik mati. Akhirnya ia pun dieksekusi.

Dan sekarang, setiap 26 Juni, selalu diperingati sebagai harinya Santo Pelagius. Ada beberapa literatur sejarah yang mengatakan hal ini adalah propaganda Katolik untuk menyebarkan kebencian terhadap Islam. Merujuk versi Katolik, Abdul Rahman III adalah seorang homoseks yang ingin menjadikan Pelagius sebagai “harem”. Dan memang, waktu itu, homoseksualitas jadi senjata ampuh agar orang bisa membenci Islam. Terutama setelah direbutnya Al-Andalus.


Berbicara tentang hubungan sesama jenis dari sudut pandang agama memang susah. Yahudi, Kristen, dan Islam semua sepakat kalau hubungan sesama jenis itu dilarang. Selalu merujuk kepada satu cerita: Kaum-kaum Nabi Luth (Sodom & Gomorah). Padahal adegan pembabtisan Yesus yang digambarkan dengan detil pun tak luput dari homoerotika.

Saya masih tetap dengan pendapat kalau “homoseksualitas” memang sebenarnya adalah temuan baru. Pada saat itu, tidak ada beda antara mereka yang straight atau yang cong.

Dan, kalau berbicara fiqh Islam, tidak ada garis jelas yang membahas soal homoseksualitas. Tidak ada yang bisa dengan pasti menjawab sejauh apa hubungan yang dilarang, atau apa hukuman yang akan diberikan.

Dari 114 surat di dalam Al Quran, hanya satu yang rasanya pas dijadikan landasan hukum tentang hubungan sesama jenis. Ironisnya, aturan tentang hubungan beda jenis justru lebih tegas dan banyak!

 “Jika dua orang melakukan perbuatan yang salah di antara kalian maka hukumlah mereka. Tapi, jika mereka mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah maha menerima taubat dan maha penyayang.” (Al Quran 4:16)

Kalau begitu, bisakah dibilang kalau umat Islam sekarang berhutang budi pada para homoseks jaman Umayyah?

(bersambung)