Sebagai Teman Yang Menemani Hari-Hari

Hari ini saya ingin berbagi. Memang, setiap minggu Anda sudah melihat kami bergiliran berbagi cerita setiap hari. Setiap Kamis, giliran saya.
Yang saya bagi hari ini adalah beberapa lagu. Memang, selama beberapa kali, kami suka mengunduh lagu ke beberapa postingan Linimasa. Bahkan portal Linimusik pun masih ada sampai sekarang.
Namun lagu-lagu yang saya bagi ini terasa istimewa buat saya pribadi.

Lagu-lagu ini adalah beberapa dari sedikit lagu yang selamat dari sebuah bencana. Bencana itu bernama kematian iPod Classic saya, yang sudah setia menemani saya setiap hari tanpa terkecuali selama 8 tahun terakhir.
Bencana ini terjadi baru saja, tepatnya 3 hari lalu. Semua data di iPod itu hilang, tanpa terkecuali, dan tidak bisa ditemukan lagi. Sama sekali.

Nina Simone
Nina Simone

Sedih? Tentu saja.
Apalagi di iPod tersebut, ada banyak playlists yang menandai momen-momen spesial dalam hidup. Ada playlist untuk pernikahan teman dan saudara, ada playlist untuk lari selama 6 tahun terakhir yang dibuat setiap tahun, dan tentu ada playlist setiap saya patah hati dan jatuh cinta.

Tapi, entah kenapa, rasanya kesedihan ini tidak berlangsung lama.
Atau mungkin saya tidak ingin ini berlangsung terlalu lama.
Tentu saja saya menangis. Yang saya tangisi bukan hilangnya data lagu, tapi semua rekam jejak kenangan selama 8 tahun terakhir yang menguap begitu saja. Saking sedihnya hari itu, sampai ingin diri ini tidak berfungsi dan tidak produktif sama sekali. Dan jadinya malah nge-blog di blog pribadi tentang kehilangan ini.
Saya juga tidak mengharapkan orang lain mengerti kesedihan ini, karena masing-masing dari kita punya sense of attachment yang berbeda satu sama lain terhadap barang atau orang atau apapun yang mengikat.

Dianne Reeves
Dianne Reeves

Cuma saya percaya bahwa mungkin ini pertanda bahwa kita harus membuat kenangan yang baru. Kalau mau dihubung-hubungkan, kejadiannya kok ya pas banget di awal tahun. Membuka lembaran baru di tahun baru? Bisa jadi.

Saya benar-benar tidak menduga, bahwa saya mengawali tahun dengan sebuah kehilangan.
Tapi mari kita percaya saja pada petuah, yang mengatakan bahwa di setiap kehilangan ada temuan baru yang tidak diduga.

India.Arie
India.Arie

Jadi inilah beberapa lagu yang selamat.
Setelah saya ingat-ingat lagi, lagu-lagu ini hampir selalu masuk dalam sebagian besar playlists yang saya buat. Mungkin karena nada lagunya positif? Bisa jadi.

Semoga mereka bisa menjadi teman Anda, paling tidak di minggu pertama di tahun yang baru.

Selamat menjalani hari!

Mary J. Blige
Mary J. Blige
Advertisements

Satu Tambah Satu Belum Tentu Dua

Selain hati, ternyata ada barang lain yang paling ditakutkan kalau dicuri orang.
Apakah itu?

iPod.

Courtesy of techspot.com
Courtesy of techspot.com

Kenapa?

Dulu, pernah iPod saya gak sengaja kebawa sama (mantan) pacar. Begitu tahu kebawa, saya langsung panik. Blingsatan. Buru-buru minta iPod dibalikin. Bukannya takut iPod hilang atau dijual lagi.
Yang saya takutkan adalah, dia akan tahu semua playlists di iPod itu.

Iya. iPod saya isinya penuh dengan playlists.

Mulai dari playlists buat teman berlari, playlists sambil bersepeda, playlists lagi traveling.
Tapi selain itu, ada playlists lain, yaitu playlists saat jatuh cinta.
Dan udah umur segini, jatuh cinta ya masak cuma sekali?
Alhasil, di sana ada sejumlah playlists pas naksir, playlists pas jadian, dan tentunya, playlists pas patah hati.

Tanpa terkecuali, playlists itu semua dibuat dengan sangat hati-hati. Apalagi buat saya dan mungkin Anda sebagai generasi mixtape.
Silakan tersenyum mengingat-ingat beli kaset kosong, yang lalu diiisi rekaman lagu-lagu hasil request di radio. Tentu saja cover kaset dibuat dengan tulisan tangan, atau paling nggak, pakai rugos.

Demikian pula dengan CD lagu-lagu hasil download untuk bakal calon gebetan (ribet ya?). Atau mungkin sekarang, kasih aja flash disk. Saking banyaknya kapasitas space, selain lagu bisa diisi juga dengan rekaman video testimoni. Kalo nanti proposal cinta ditolak, yang terima tinggal hapus semua lagu. Masih dapet flash disk gratis pula!

__________

Padahal yang membuat kompilasi itu mungkin saja gak tidur semalam suntuk, atau lebih. Demikian pula para pembuat kompilasi macam “NOW!” series, atau “Sad Songs” atau “Forever Love 2014”. Dua judul terakhir malah masih bercokol di deretan album terlaris iTunes. Meski sudah terlalu sering kita melihat album-album kompilasi ini, toh mereka masih laris manis.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang profesinya memang membuat album-album kompilasi seperti ini. Katanya, “Enak ngerjainnya. Dengerin musik, dibayar pula.”

Trus gimana milih lagunya? Jawabannya simpel, “Pake hati.”

Nah lho. Emang cuma nge-blog doang yang pake hati?

Menyusun rangkaian lagu yang belum tentu nyambung dari satu sisi adalah seni tersendiri. Perlu keahlian khusus.
Irama boleh beda, asal lirik masih seputar “beginilah rasanya ditinggal kekasih”, bolehlah dipertimbangkan dulu, sambil cari lagu lain.

Itu kalau sekedar album kompilasi.
Membuat soundtrack film? Apalagi.
Selain dituntut mencari lagu sesuai adegan yang perlu diisi, belum tentu juga pembuat lagu mau mengijinkan lagunya digunakan di film itu. Namun karena kita berkhayal dalam tulisan ini, maka kita pun bebas dari memikirkan kompleksitas legal issue ini.
Terlebih urusannya pake hati. Hasil yang tercipta dari hati, biasanya akan meniupkan jiwa di karya yang bisa dinikmati.

Satu tambah satu, lagu demi lagu, harus menjadi satu kesatuan gambar gerak dan suara.

Waiting to Exhale.
The Boat that Rocked.
Forrest Gump.
Good Night, and Good Luck..
Grace of My Heart.

Itulah beberapa album soundtrack dengan pilihan lagu yang terasa menyatu dengan film. Sekaligus, mungkin saja album-album itu akan dibawa saat terdampar di pulau asing.

Eh, tapi itu jawaban pertanyaan jaman dulu, ding.

Kalau sekarang?

Tinggal bawa iPod dan kabel charger.
Toh isinya semua adalah the soundtrack of our life.

Lagi pula, apalah artinya hidup tanpa penanda lagu?

PS: si iPod sudah kembali dan masih berfungsi.