Akan Selalu Ada “Nabi-nabi” Baru

TULISAN kali ini sengaja telat naik, karena topiknya enggak penting-penting amat… ditambah lagi karena sayanya memang kurang fokus dan terlalu gampang terdistraksi. Maklum, gampang hanyut. Belum lagi buntu otak menulis tentang apa, perlu banyak-banyak masukan.

Bicara soal distraksi, selain playlist random film-film berbahasa Tionghoa di kanal Tian Ying Pindao, serta meninggalnya David Bowie dan komedian Budi Anduk pada awal pekan ini, salah satu topik yang lumayan bikin penasaran adalah soal Gafatar atau NKSA atau apa lah namanya. Ketiga hal ini benar-benar menjadi distraksi, sebab mampu membuat saya menghabiskan berpuluh-puluh menit demi menyimaknya.

Soal film, ternyata ada banyak judul yang menarik untuk dipantengin. Hanya sedikit dari film-film tersebut yang pernah tayang di bioskop, sehingga benar-benar menjadi kesan pertama. Seperti yang barusan banget ditonton sebelum menulis ini, dan akhirnya memperpanjang durasi makan siang sampai 90 menit: “無人區” (No Man’s Land). Selain itu, dengan film-film yang tidak disulihsuarakan ke dalam dialek Mandarin, bisa juga tipis-tipis mengetahui kosakata dalam dialek Kwongtung (film-film Hong Kong) dan dialek Hokkian (film-film Singapura/Malaysia/Taiwan).

Soal meninggalnya David Bowie, baru tahu kalau ada beberapa lagu yang menunjukkan ketertarikan khusus pada Indonesia. Bahkan salah satunya memuat lirik dalam bahasa Indonesia, dan berjudul “Jangan Susahkan Hatiku”. Ya lumayan, ada beberapa waktu ketika bekerja sambil memutar lagu-lagunya di YouTube.

Begitu juga soal Gafatar atau NKSA, dan konon dikabarkan merupakan sempalan dari ajaran Millah Abraham, yang bergerak dengan sistem gerilya dan klandestin setelah induk organisasinya dibubarkan lantaran pokok-pokok ajaran yang menyimpang dari agama resmi. Lengkap dengan alamat yang tidak jelas, dan nama yang berubah-ubah.

Berawal dari serangkaian pemberitaan tentang hilangnya seorang dokter muda bersama anaknya yang masih balita, yang tahu-tahu ditemukan di Kalimantan Tengah. Dari beberapa artikel, baru tahu kalau organisasi ini seakan ingin membangun komunitasnya sendiri di Kalimantan Barat, ditandai dengan kawasan pemukiman sampai pembangunan areal pemakaman khusus. Hanya saja, mekanisme perekrutannya memberi kesan misterius dan menyeramkan, sampai-sampai seolah membuat pengikutnya melepaskan akal sehat dalam bertindak. Saya membayangkan, apabila kawasan pemukiman ekslusif ini terbentuk dan mampu menghidupi diri sendiri, apakah kira-kira bakal seperti kelompok Amish di Amerika Serikat, atau seperti lingkungan-lingkungan Mormon konvensional. Entahlah.

Singkat cerita, setelah klik tautan ini dan itu, baru tahu kalau gerakan Millah Abraham tidak jauh berbeda dengan pandangan-pandangan serupa yang terjadi hampir di semua ajaran agama formal. Yakni ketika ada celah penafsiran praktis mengenai–sebut saja–nubuat, ramalan, atau janji ilahiah, yang kemudian dimaktubkan dalam kitab suci masing-masing, sehingga disakralkan. Mengapa hanya di ajaran agama formal? Karena hanya ajaran agama formal yang menegaskan semacam “susunan organisasi”, struktur kewenangan. Mulai dari sang Causa Prima, para pembawa pesan, para kerabat dan tokoh-tokoh penting, sampai umat biasa.

Konon, hingga saat ini umat Yahudi masih menanti kedatangan Messiah-nya. Itu merupakan salah satu sebab politis utama terjadi penyaliban Yesus. Pendiri Millah Abraham, yang disebut menyampuradukkan pokok-pokok ajaran tiga agama Timur Tengah, menyatakan diri sebagai Messiah yang dinantikan itu.

Umat Kristen secara umum, boleh dibilang siap dan menantikan berlangsungnya isi dan penjabaran dalam Kitab Wahyu, salah satu bagian dari Perjanjian Baru yang ditulis dengan begitu deskriptif. Lengkap dengan hewan mengerikan, simbol angka 666, keempat penunggang kuda, dan sebagainya.

Sedangkan para Muslim pun tengah bersiap dengan kehadiran Dajjal, beserta bangkitnya Ya’juj dan Ma’juj (dalam Alkitab disebut sebagai Gog dan Magog), yang nantinya bakal ditumpas oleh Imam Mahdi, dan seterusnya hingga kiamat dunia terjadi. Selebihnya, sebuah ketentuan yang tak terbantahkan bagi para Muslim bahwa Nabi Muhammad adalah rasul terakhir. Itu sebabnya, Mirza Ghulam Ahmad dengan Ahmadiyah-nya, maupun Syiah dengan kultus para imamnya, dan beragam ajaran-ajaran lainnya disebut sebagai deviasi dari keislaman. Konsekuensinya pun ada dua: ditobatkan, atau berdiri sendiri dengan tidak membawa nama Islam.

Dalam Hinduisme, masih ada satu figur Avatara yang akan muncul. Dari sepuluh sosok, sembilan di antaranya sudah muncul dalam berbagai era. Termasuk salah satunya yang–entah hanya bernama sama atau gimana-gimana–disebut Buddha Avatara. Figur terakhir adalah Kalki, yang bakal muncul pada periode Kaliyuga, era kehancuran dan kegelapan. Kalki digambarkan sebagai kesatria berpedang di atas kuda putih.

Selalu ada celah untuk merasa terpanggil, dan muncul sebagai orang-orang “penting”.

Sebagai ajaran yang berinstitusi, Buddhisme pun tak lepas dari hal-hal seperti ini. Masih berlangsung sampai sekarang.

Merupakan pencapaian, disebut bahwa kebuddhaan bisa dicapai siapa saja (yang belum mencapai kebuddhaan). Kemunculan Buddha pun bersifat siklus dan hanya terjadi dengan faktor-faktor pendukung. Sehingga secara sederhana, bisa dibilang Buddha akan muncul terus menerus dalam batasan ruang dan waktu tertentu (bumi, tata surya, galaksi, kumpulan galaksi-galaksi). Kapan muncul kembali? Mbuh. Namun salah satu syarat munculnya seorang Buddha yang mencapai kebuddhaan atas usahanya sendiri dan mampu mengajarkannya kepada orang lain, sampai yang bersangkutan merealisasi kebuddhaan yang serupa, adalah ketika sedikit pun Buddhisme tak lagi tersisa.

Buddha historis yang dikenal dalam peradaban manusia belakangan ini (baca: 5 milenium terakhir) adalah Siddhattha Gotama, juga kerap dikenal sebagai Sakyamuni. Dalam salah satu sesi ceramahnya, yang kemudian dicatat berjudul Cakkavatti-Sihanada Sutta dan termasuk dalam bagian Tipitaka, disebutkan bahwa Buddha masa depan setelahnya bernama Metteya atau Maitreya dalam bahasa Sanskrit. Maitreya menjadi salah satu figur penting dalam ajaran mazhab Mahayana (ya, non Aswaja gitu deh). Makanya terkenal di Tiongkok, Jepang, Korea, Vietnam.

(Lalu, bagaimana dengan Amitabha, dan nama-nama Buddha lainnya yang ada dalam penjelasan tentang Borobudur? Nah, itu lain cerita.)

Masih berupa ramalan, namun bisa ditebak sudah terjadi sejumlah kasus ketika ada beberapa orang mengaku sebagai Maitreya. Mulai yang berasal dari lingkungan penganut Buddhisme (klaim paling awal tercatat pada tahun 613), sampai yang bukan.

Tidak hanya itu. Kultus terhadap Maitreya bahkan sudah berinstitusi juga. Berawal dari Tiongkok, berkembang ke seluruh dunia, memiliki “tanah suci” di Taiwan, dan bahkan memiliki majelis pemuka agamanya sendiri di Indonesia. Terus hadir sampai sekarang. Selain itu, ada pula yang menggelari atau digelari sebagai Buddha hidup, pun memiliki cukup banyak penganut dan salah satunya menjadi sub sekte tersendiri. Berikut beberapa di antaranya.

  • Yi Guan Dao (一貫道)

Sekarang, tidak susah bagi Anda untuk membaca lebih jauh tentang Yi Guan Dao tanpa harus terlibat di dalam lingkupnya yang ekslusif, dan melibatkan inisiasi dan kerahasiaan khusus. Dalam Wikipedia misalnya, Yi Guan Dao masuk kategori Chinese Folk Religion. Namun Maitreya dihadirkan sebagai salah satu figur utama ajaran, ada kaitannya dengan posisi sebagai Buddha masa depan. Hanya saja, penggunaan tampilan Buddha Maitreya ala Tiongkok, atau yang lebih populer disebut The Laughing Buddha, agak tidak segencar aliran berikutnya;

Ruang utama lantai dasar Vihara Eka Dharma Manggala Samarinda, jadi lokasi hunting foto Instagram. Foto: YouTube.com

  • Jalan Besar Maitreya (彌勒大道)

Di Indonesia, ajaran Maitreya menjadi sub sekte yang diakui resmi oleh pemerintah melalui Walubi dan mempunyai majelis pemuka agamanya sendiri. Banyak yang beranggapan bahwa ajaran Maitreya merupakan bentuk yang lebih modern dan moderat daripada Yi Guan Dao. Itu sebabnya vihara mereka dan fokus kegiatan relatif berbeda. Tetap mempertahankan sejumlah pakem esoteris seperti serupa “pembaptisan”, saat ini mereka lebih intens mempromosikan gaya hidup vegan/vegetarian, dengan tagline “seluruh dunia satu keluarga”. Dari sisi kaum muda, ciri khas mereka adalah sajian tarian yang energik, beraura positif dan optimistis. Berbagai desain grafis pun menampilkan sosok Maitreya yang dibuat kartun.

Patung Maitreya raksasa di Taiwan. Foto: yungchu.com.tw

  • Falun Dafa (法輪大法)

Kelompok ini didirikan oleh Li Hongzhi, namun sebenarnya tidak jelas apakah Li pernah mendeklarasikan dirinya sebagai Buddha atau tidak, atau hanya bentuk kultus berlebihan dari para pengikutnya sehingga menyebabkan salah persepsi di dunia modern saat ini. Untuk hal ini, lebih baik praktisi meditasi Falun Gong saja yang meresponsnya.

Formasi manusia membentuk Li Hongzhi di Taiwan. Foto: telegraph.co.uk

  • True Buddha School (真佛宗)

Kelompok ajaran ini diinisasi oleh Lu Shengyen, seorang kelahiran Taiwan yang saat ini tinggal di Seattle, Amerika Serikat dan masih aktif berkeliling dunia untuk mengisi ceramah dan upacara akbar. Secara teknis, True Buddha School memiliki karakteristik mazhab Tantrayana/Vajrayana yang ada di Tibet, Bhutan, dan sebagian Nepal. Hanya saja ajaran True Buddha School juga semarak dengan Taoisme. Selain itu, secara terbuka Grand Master Lu menerima penyebutan dirinya sebagai Buddha hidup dari para muridnya, berdasarkan sistematika guru-murid Tulku Buddhisme Tibet. Ia digelari Buddha Hidup Lian Sheng/Padmakumara/Putra Teratai (蓮生活佛). Dan karena itu, setiap murid yang “dibaptis” dalam True Buddha School memiliki nama Tionghoa baru. Terdiri atas empat huruf, dan dua huruf pertama adalah 蓮生. Berbeda dengan “nama baptis” dalam Yi Guan Dao maupun Maitreya, yang hanya berupa nama Tionghoa baru tanpa ketentuan aksara khusus.

Menag SDA dengan Lu Shengyen, terkait… ah klik aja fotonya buat baca keterangannya…

Dari empat di atas, tiga di antaranya punya komunitas dan vihara masing-masing. Dalam kegiatan bernuansa keagamaan dan diselenggarakan Kemenag, juga selalu hadir. Vihara Yi Guan Dao punya ciri khas bernama “Eka Dharma” dan gaya arsitektur identik, sedangkan ajaran Maitreya punya beberapa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat).

Ya, sejauh ini, keberadaan ketiganya masih menjadi penambah keragaman karakteristik orang-orang dalam lingkup Buddhisme. Asal orangnya bisa bersikap baik, ndak songong, ya babahno…

Ndak penting, kan? 😀

[]

Advertisements

Kangen Twitter yang Dulu

KATANYA, sekarang makin banyak orang yang malas nge-tweet. Mereka kembali asyik dengan Facebook yang penuh tautan artikel entah dari media apa, sibuk jadi fotografer atau model musiman untuk Instagram, Pamer Anak, Tempat, dan Hidangan menggunakan Path, atau rajin membagi cuplikan gambar dan video singkat yang bisa kedaluwarsa pakai Snapchat.

Sudah ada banyak survei untuk membaca dan memetakan alasan orang-orang jadi malas nge-tweet. Tanpa membaca itu semua, sebenarnya bisa ditebak penyebab utamanya adalah kebosanan, baru kemudian disusul dengan alasan-alasan teknis lain. Seperti aktivitas (ro)bot yang merajalela dan nge-SPAM, dijadikan marketing tool secara berlebihan serta untuk mendulang popularitas semu, sikap caper yang norak bahkan brutal, dan sebagainya.

Memang bagaimanapun juga, tidak ada satu hal pun yang luput dari perubahan. Tapi yang jelas, Twitter lima tahunan lalu itu ngangenin. Banget. Anak-anak lama Twitter pasti masih ingat rasanya. Malah boleh dibilang, blog gotong royong ini salah satu hasilnya. 🙂

Pada 2009 (mohon koreksi bila keliru), mulai bermunculan early adopters alias pengguna-pengguna awal Twitter di kota-kota besar pulau Jawa. Apalagi yang kuliah atau kerja di luar negeri, bisa jadi sudah punya akun Twitter jauh lebih lama. Saat itu, Facebook masih lumayan baru, menggantikan Friendster yang halaman profilnya bisa dipasangi lagu.

Sempat enggan beberapa kali ketika ditawari untuk signup, saya sendiri baru punya akun Twitter pada November 2009. Sejak Twitter-an, saya baru sadar jika media sosial ini ternyata bukan sekadar mainan.

Makasih banyak untuk Acil Farah Dompas yang sudah mengenalkan jagat Twitter saat itu. 😀 Kalau tidak Twitter-an, pasti enggak bakal kenal sampai bisa bertukar pikiran dengan banyak orang. Termasuk para penulis Linimasa–minus Mas RoySayur. Kalau tidak Twitter-an, enggak bakal merasakan deg-degan saat akan bertemu dengan orang baru, di lingkungan yang baru pula. Kalau tidak Twitter-an, tak ada dorongan untuk belajar menyampaikan pesan dengan kalimat singkat, yakni hanya dalam 140 karakter. Kalau tidak Twitter-an, cenderung susah untuk dibikin melongo saat mengetahui perspektif baru yang benar-benar memperkaya wawasan. Sebab, beda banget antara membaca dan mendengar langsung dari penuturnya.

Pernah pakai Orangatame? 🙂

Meski sudah punya akun Twitter sejak November 2009, namun saya baru benar-benar aktif Twitter-an sejak awal 2010. Nge-tweet jauh lebih asyik ketimbang Facebook-an, sebab ditunjang jenis gadget dan aplikasi yang tersedia. Pas banget, saat itu baru dapat BlackBerry hadiah undian. Kemudian iseng cari-cari, ketemu beberapa Twitter Client atau program khusus buat Twitter-an yang diburu OTA-nya. Ada TwitterBerry, BBTweet, dan BlackBird. Masing-masing punya user experience yang unik. Setelah ketemu Seesmic dan UberTwitter, aktivitas nge-tweet bertambah intens dan kian menyenangkan–terus dicemburuin mantan. Sampai SocialScope booming dengan eksklusivitasnya kala itu, dan hasil pertemanan via Twitter berubah jadi tweet-up, pertemuan. Menariknya, minim kecanggungan saat pertama kali bertemu. Kecuali kalau orangnya cantik/cakep gak ketulungan, bisa bengong. Keakraban di Twitter juga langsung terjadi ketika “kopi darat”, atau memang sayanya saja yang petakilan.

Saya ingat banget, tweet-up perdana justru terjadi di Samarinda dan Balikpapan. Ketika dua teman Twitter memberanikan diri datang ke Kalimantan untuk pertama kalinya, dan ditemani orang asing: saya.

Masa itu, Twitter-an bukanlah perkara angka followers belaka, melainkan jalur komunikasi yang sungguhan. Barangkali naif, tapi saya justru merasa Twitter-an pada waktu itu berlangsung sangat sincere, di era ketika Social Media Strategist dan Social Media Manager, juga Professional Buzzer belum dikenal sebagai sebuah profesi. Semua orang yang Twitter-an, benar-benar merupakan dirinya sendiri, dan saling menjangkau satu sama lain. Di satu sisi, wajar bila banyak orang ingin merasa lebih terhubung dengan idolanya. Di sisi lain, banyak pula pesohor yang ingin santai sejenak sambil Twitter-an menggunakan nama samaran, atau menyuarakan pendapat tanpa perlu khawatir tweet-nya dikutip dan dijadikan konten artikel berita.

Apakah saya pernah cari/dapat duit lewat Twitter? Baru sekali, itu pun di tahun ini. Enggak banyak, tapi lumayan. Hitung-hitung nyicip sekali-kali. Hahaha.

Akan tetapi, lagi-lagi perubahan tak bisa dihindari. Saat jumlah pengguna Twitter terus bertambah, angka followers pun mulai jadi ilusi popularitas. Sampai-sampai ditandai dengan beberapa kejadian lucu. Sebutan selebtweet dimunculkan, berbarengan dengan seruan “foll-back dong!” yang kalau tidak dipenuhi bisa bikin drama hubungan sosial. Seolah hubungan sosial di kehidupan nyata sesempit interaksi maya di Twitter.

Pengguna Twitter digelari Twitterist atau Twitterian. Tata krama nge-tweet pun dinamakan Tweetiquette, yang salah satu poinnya kurang lebih ialah: “dengan di-follow seseorang, berarti orang tersebut sudi dan bersedia untuk menyimak isi timeline kita. Mereka harus dihargai.” Tak heran bila apresiasi ini ditunjukkan dengan #FollowFriday yang sudah hilang lebih dari setahun terakhir. Bukan hanya asal promosi akun Twitter, karena dibarengi dengan alasan.

Tak ketinggalan, banyak kasus seseorang yang terkesan sangat supel, berwawasan luas, dan riuh di Twitter, ternyata sangat pendiam, kurang luwes bergaul, bahkan tidak berani hadir secara fisik di kehidupan nyata. Jauh berbeda dengan apa yang ditunjukkan di layar gadget. Pun begitu perihal foto avatar, dibuat agar terlihat secaem mungkin.

Di samping itu, konon kabarnya, tak sedikit pula yang memanfaatkan Twitter untuk mencari dan bertemu dengan teman bobo-bobo lucu (cuma konon, soalnya saya enggak pernah) 😛 Entah, apakah masih marak sampai sekarang atau kembali ke metode konvensional, sejak semesta Twitter makin penuh dengan alter ego dan akun bisyar. Enggak lucu kalau habis “malam keakraban” ternyata malah disodori tagihan.

Saya masih ingat ketika dulu bertanya tentang fungsi tanda pagar kepada mba beliaw. Perlu sekitar 20 menit untuk ngeh bahwa hashtag adalah tanda pagar, dan fungsinya untuk memudahkan pencarian serta penyusunan trending topic. Akan tetapi sejak tiga tahun terakhir, kemunculan hashtag pasti dibarengi kecurigaan: “ini mau launching/jualan/promosi/activation apa lagi ya?” Ada prasangka. Itu sebabnya, salut untuk para pemilik akun yang superkreatif bikin mainan dan lucu-lucuan pakai hashtag, karena enggak gampang.

Ya begitulah kiranya, suasana Twitter-an yang dirindukan dari sekira lima tahunan lalu. Ada yang masih bertahan, ada pula yang sudah deaktivasi. Pastinya, Twitter-an saat ini tentu masih bisa dinikmati, kendati tak sama seperti dulu lagi. Dan saya, sekarang, masih kepengen bertemu serta ngobrol langsung dengan beberapa kenalan Twitter yang belum pernah bersua. Sejauh ini, selalu menyenangkan rasanya. 🙂

[]

Terserah Saja

KAMU orang Buddha, kan?

Tebal muka dan telinga. Sepertinya kemampuan itu benar-benar diperlukan kaum Buddhis di Indonesia (atau dunia) saat ini. Ketika semua orang, more likely the narrow-minded ones, selalu bertanya tentang Ashin Wirathu dan status kebhikkhuannya secara berulang-ulang. Pertanyaan itu–beserta banyak turunannya–disampaikan dengan penuh semangat, seakan Ashin Wirathu adalah seorang bhikkhu yang bisa langsung ditemui di vihara terdekat.

Bicara punya bicara, sebelum terus membaca, perlu saya sampaikan bahwa piket Linimasa hari ini bukan merupakan sebuah apologia saya, yang kebetulan seorang Buddhis, dan kalau tidak salah juga kebetulan menjalankan mazhab Buddhisme yang sama dengan Ashin Wirathu.

Dari Google.

Dimunculkan pertama kali di sampul muka majalah Time edisi Juli 2013, wajah Ashin Wirathu dipasangkan dengan tajuk “The Face of Buddhist Terror”. Ia dituding sebagai promotor gagasan tertentu, yang kemudian berujung menjadi kebencian dan konflik Rohingya. Banyak orang di Indonesia yang lebih demen menyebutnya sebagai konflik antara kaum Buddha Myanmar dan warga Muslim Rohingya.

Dalam beberapa pekan terakhir, atau hampir dua tahun setelah pemberitaan Time, mendadak sampul depan majalah itu kembali seliweran di ranah maya. Utamanya di Facebook serta portal berita, dan dilekatkan pada sejumlah artikel tentang kekacauan di Myanmar, yang mengutip ulang pernyataan Ashin Wirathu dari pemberitaan resmi sebelumnya. Pada konteks ini, yang dimaksud pemberitaan resmi adalah ketika seorang jurnalis bertanya maupun melakukan konfirmasi langsung kepada Ashin Wirathu, bukan dengan metode lain.

Selebihnya, artikel-artikel tersebut juga tertaut dengan pemberitaan soal gelombang pengungsi (atau human trafficking?) asal Rohingya dan Bangladesh yang terombang-ambing di laut, dan ditolak sejumlah negara di Asia Tenggara, hingga akhirnya diterima dan ditampung warga Aceh. Tindakan baik dan mulia, yang seyogianya nanti tetap ditindaklanjuti secara bijaksana.

Dengan demikian, klop sudah penempatan plotnya.

  1. Banyak orang Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar, karena menghindari situasi buruk.
  2. Situasi buruk tersebut disebabkan oleh propaganda seorang bhikkhu bernama Ashin Wirathu.
  3. Orang Rohingya adalah muslim, sedangkan bhikkhu Ashin Wirathu adalah Buddhis.

Kesimpulan dapat ditarik dengan mudah, cukup lewat tiga poin di atas. Tak perlu berpayah-payah mengklarifikasinya lagi. Lalu, kesimpulan itu berkembang sedemikian rupa hingga menghasilkan ungkapan “kekejaman umat Buddha”, “orang Buddha teroris sebenarnya”, “teroris berkepala botak”, “pembantai berjubah cokelat”, dan seterusnya. Sampai-sampai melegitimasi sekelompok orang melakukan sejumlah tindakan di dalam negeri.

Okay, I won’t talk about this part any further.

Di kantor, para kolega mulai menyelipkan kata “Buddha” dalam pertanyaan-pertanyaannya kepada saya sejak beberapa pekan terakhir. Pertanyaan-pertanyaan itu saya jawab dengan sebagaimana mestinya, lantaran sudah kenal dengan mereka. Walaupun ujung-ujungnya, respons terakhir yang saya dengar adalah: “tapi bener loh, ngeri betul di sana.

Bagaimanapun juga, saya kok punya firasat kalau pertanyaan-pertanyaan sejenis, bahkan yang disampaikan dengan lebih kasar dan cenderung bukan bertujuan untuk mencari tahu, dialami para Buddhis lain. Lebih dari itu, tidak sedikit pula umat Buddhis yang ikut bingung.

Cuplikan

Ketika ditanya.

Terhadap ini semua, meskipun secara politis saya tidak sehaluan dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), the only government-affiliated-but-religiously-questionable Buddhist organization in Indonesia, namun saya tetap mengapresiasi pernyataan sikapnya secara institusional demi meredam potensi gejolak lebih lanjut.

“Seorang yang berpenampilan bhikkhu (Ashin Wirathu), penampilannya memang kepalanya tidak berambut dan berjubah. Tapi bukan jaminan representasi dari Buddhis. Jadi bukan konflik Buddha dengan Islam,” kata Wakil Ketua Walubi Suhadi Sendjaja kepada VIVA.co.id, Jumat (22/5).

Kendati masih ada beberapa bagian pesan yang berpotensi menyebabkan salah kaprah.

“Kita perlu katakan bahwa Buddha kami dengan Myanmar berbeda,” ujar Ketua Walubi, Arief Harsono di gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/5). Dikutip dari detikNews.

Pertanyaan saya, Buddhanya model apa? Kok beda?

Selain itu, padahal Konferensi Agung Saṅgha* Indonesia (KASI)** juga telah menegaskan sikap institusional atas konflik kemanusiaan di Myanmar, 2013 lalu. Namun barangkali gara-gara KASI bukan merupakan bagian dari Walubi, dan tidak terlalu dikenal pemerintah, jadi pernyataan sikap tersebut relatif kurang digubris publik. Menguap begitu saja.

Cuplikan

Ketika para bhikkhu dan bhiksu Indonesia, menyampaikan imbauan kepada “koleganya”.

Terlepas dari hal-hal di atas, saya juga pengin menyampaikan pandangan sebagai seorang Buddhis mazhab Theravada. Lebih semacam sikap pribadi sih, soalnya ndaktau apakah umat Buddhis Indonesia lainnya setuju atau tidak.

  1. “Apakah Ashin Wirathu benar-benar dalang dari kekacauan di Myanmar? Penyebab terjadinya kerusuhan, pembunuhan, perusakan dan pembakaran, serta pengusiran warga Rohingya?”

Sejauh ini baru ada satu fakta yang tak terbantahkan mengenai kondisi tersebut; saya, Anda, kami (sesama Buddhis), kita (sesama warga Indonesia) tidak sedang berada di Myanmar sebelum dan saat pertikaian terjadi. Setelah itu, barulah melangkah pada ihwal pemberitaan majalah Time. Apakah sudah dibaca? Atau hanya berpatokan pada foto? Foto-foto resmi, atau foto-foto yang dicuplik kembali? Foto-foto dengan caption asli dari sang fotografer, atau telah disunting?

  1. “Katakanlah Ashin Wirathu benar-benar penebar kebencian dan pemicu permusuhan secara gamblang, lalu bagaimana kamu memandangnya?”

Bila memang demikian adanya, maka dewan Saṅgha Myanmar harus bertindak mencopot status Ashin Wirathu dari kebhikkhuannya. Menjadikannya umat biasa. Karena tindakan penyebaran kebencian termasuk pelanggaran dalam tata tertib dan aturan kebhikkhuan, termasuk mencederai tujuan hidup pertapaannya. Setelah berstatus umat biasa, giliran pemerintah Myanmar menjalankan hukum positif yang berlaku. Hanya saja, ketegasan pemerintah setempat bisa diragukan. Sebab ada spekulasi yang menyebut pemerintah mendukung gagasan dan propaganda Ashin Wirathu.

Di sisi lain, Buddhisme tidak mendorong terjadinya pengkultusan kepada siapa pun dan apa pun. Kesalahan adalah kesalahan, baik dilakukan oleh orang biasa, orang penting, pemuka agama, maupun pelacur sekalipun. Umat Buddha juga diharuskan bersikap kritis. Sehingga jika Ashin Wirathu benar-benar bersalah, bukan malah dilindungi oleh para umat dan simpatisannya.

Ndak ada umat Buddha di Indonesia yang kenal, atau mungkin berguru pada Ashin Wirathu.

  1. “Kemudian, apa hubungan antara ajaran Buddhisme dengan kekacauan Rohingya?”

Apakah ada ajaran agama yang menganjurkan pembunuhan, atau penindasan terhadap orang lain? Kendatipun jawabannya sudah cukup gamblang, mengutip seorang teman; “Bigots will be bigots, Gon.” Tak mustahil para bigots berjumlah banyak. Tapi kebangetan kalau ada agama, yang umatnya bigots semua.

  1. “Terus, bagaimana sikap umat Buddha Indonesia? Apa yang harus dilakukan?”

Nah, ndak tahu. Setiap orang bisa mikir, maka itu berhak memiliki pemikiran masing-masing terlepas dari apa pun agamanya. Terserah saja. Ada yang menyebut umat Buddha adalah pecinta damai palsu, ada juga yang menyebut pelaku kekacauan di Myanmar tidak mewakili ajaran Buddhisme, ada pula yang bisa membedakan antara urusan politik dan ajaran agama.

Namun yang jauh lebih penting ketimbang pertanyaan di atas adalah penanganan para pengungsi. Mereka mau diperlakukan sebagai apa? Korban konflik agama atau konflik sosial-politik? Sentimennya berbeda, kan?

Apa pun tetek bengeknya, mereka adalah manusia yang tengah kesusahan dan perlu dibantu. Cuma agak konyol, saat sebagian warga Indonesia melancarkan kecaman terhadap sesamanya yang kebetulan beragama Buddha dan ikut-ikutan marah soal pengungsi Rohingya tanpa berbuat apa-apa, sementara pemerintah Myanmar masa bodoh. Dan apa saran terbaik Anda untuk pemerintah Indonesia?

  1. “Lalu menurutmu, apa yang sedang terjadi di Indonesia mengenai hal ini?”

Enggak tahu. Barangkali memang banyak orang doyan bikin dan terlibat dalam drama doang. Atau mungkin memang doyan memandang rendah orang lain yang berbeda latar belakangnya.

  1. (Mau nambah pertanyaan, silakan)

Kamu orang Buddha, kan?

Bukan. Aku orang gila, nyembah galon akwa.

[]

*) Saṅgha: sebutan untuk komunitas bhikkhu, bhiksu/bhiksuni, dan Lama Tibet secara global.

**) KASI: organisasi resmi para bhikkhu, bhiksu/bhiksuni tiga mazhab utama agama Buddha di Indonesia. Tidak berafiliasi dengan Walubi, dan tidak menjangkau ranah politik.

Masih Hal yang Sama

Kita baru Kartini-an lagi kemarin. Momen yang–bagi sebagian orang–dirasa tepat untuk kembali berbicara tentang perempuan dan keperempuanannya di Indonesia, baik yang setuju maupun menolak apa pun itu lewat beragam alasannya. Bukan cuma pembahasan antara laki-laki dan perempuan, bahkan juga antara sesama laki-laki, maupun sesama perempuan. Sebab ada anggapan, hanya aktivis saja yang saban hari konsisten berbicara tentang topik ini; memang kerjaannya. Terserah mazhab pikirnya.

Jikalau saya boleh menarik kesimpulan secara diskursif, topik bahasan yang barangkali sudah mencuat sejak pertama kali manusia mengenali perbedaan visual antara penis dan vagina ini, pada dasarnya hanya beranjak dari satu hal: laki-laki dan perempuan tidak sama. Itu saja bukan? Dari situ, seiring perkembangan peradaban manusia di seluruh penjuru dunia, bahasan ini ketambahan perspektif aneka bidang, dibikin rumit dan seringkali tak terjangkau, mbulet ra karu-karuan. Ketidaksamaan antara laki-laki dan perempuan tak lagi sekadar urusan hayati, melainkan dibakukan dalam konsensus sosial kemasyarakatan, kaidah religius, ekonomi dan ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, hiburan, seni, serta masih banyak lagi. Namun sayangnya, semua pembahasan itu kerap menempatkan perempuan dalam posisi yang pantas didiskreditkan. Meskipun tak sedikit perempuan yang akhirnya mampu memanfaatkan diskredit tersebut, untuk tampil lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih digdaya ketimbang banyak laki-laki.

Sampai sejauh ini, saya masih yakin bahwa tidak ada yang lebih unggul (superior) maupun lebih rendah (inferior) dalam bahasan soal perbedaan fisiologis antara laki-laki dan perempuan. Kedua jenis manusia ini setara dalam segala perbedaannya. Itu saja. Akan tetapi, mungkin sejak Hawa terkena bujukan setan dan mengajak Adam melanggar perintah Tuhan bersama-sama sampai diusir jadi penghuni bumi, atau ketika Pandora membuka kotak derita yang melepaskan segala bentuk duka ke dunia, seolah-olah dimunculkan kesan bahwa perempuan adalah pembawa malapetaka. Semenjak saat itu, perbedaan antara laki-laki dan perempuan terus berubah. Dari dua dataran yang terpisah jurang, menjadi dua permukaan yang terpisah tebing. Hasilnya: “perempuan tidak boleh begini!”, “perempuan enggak perlu begitu!”, “buat apa perempuan begitu?”, “dasar perempuan!”, dan sebagainya tanpa melewati proses yang adil terlebih dahulu. Pengebirian kehendak dan pengerdilan. Lagi-lagi disayangkan, banyak perempuan yang kadung tumbuh berkembang dengan pola pikir seperti itu, baik yang diajarkan ayah maupun ibu, sehingga menjadikannya makhluk yang “kalah sebelum berperang” melawan keadaan. Berikut beberapa di antaranya.

  • Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena nanti bakal jadi istri juga, seorang ibu rumah tangga yang tugasnya cenderung domestik.
  • Perempuan harus bersikap nrimo, pasrah terhadap apa yang ditentukan.
  • Perempuan tidak boleh mengejar, tapi harus jadi yang dikejar. Kenapa ada istilah “diperistri” namun tak ada “dipersuami”? Tidak, ini tidak berbicara soal siapa yang membayar maskawin, uang susu, dan objek transaksi kepada siapa.
  • Perempuan tidak boleh bertato.
  • Perempuan harus jadi ibu rumah tangga, biar urusan pendapatan menjadi tanggung jawab suami.
  • Perempuan harus menikah, melahirkan, dan dihinakan bila tidak memberi ASI.
  • Perempuan harus melayani suami, termasuk secara seksual. Sementara para laki-laki belum tentu mampu, atau mau peduli dengan kepuasan sang istri.
  • Dalam banyak kasus, ada perempuan terang-terangan mendapati suaminya berselingkuh. Namun lebih memilih tetap bertahan sambil sakit hati ketimbang berani memutuskan berpisah dan berdiri di atas kaki sendiri.
  • Perempuan dianggap sebagai sumber godaan, menjadi penyebab atas pelecehan yang dialaminya sendiri (what a nonsense!).
  • Perempuan yang bukan perawan dianggap tidak suci lagi. Padahal ada laki-laki yang “sukses” memperdaya, dan dianggap berhasil membuktikan kelelakiannya.
  • Ada bidadari di surga, lalu mana bidadara-nya? Lagian, terasa agak dangkal kalau merendahkan kebahagiaan surgawi ke tingkat paling primordial, berupa kenikmatan yang diperoleh tak jauh-jauh dari lubang.
  • (silakan tambah sendiri…)

Lalu, apa tujuan dari tulisan Linimasa hari ini? Bukan. Bukan untuk menumbukkan antara Feminisme dan Machoisme–yang cenderung lebih berbentuk klub untuk suka ria bersama, bukan juga untuk mengobarkan pertikaian pikiran antara siapa pun. Begitu juga dengan tulisan-tulisan bertopik sama sebelumnya, yang bisa Anda baca kembali di daftar arsip.

Anda perempuan atau laki-laki, saya (atau kami) tidak ngurusi. Anda setuju atau menentang konsepsi soal emansipasi melampaui jenis kelamin dalam arti luas, saya (atau kami) tak terlampau peduli. Yang jelas, perbedaan antara perempuan dan laki-laki itu beranjak dari urusan fisiologis. Perbedaan yang tidak membuat salah satu berkedudukan lebih tinggi ketimbang lainnya. Perbedaan yang tidak menghilangkan kewajiban untuk saling menghormati dan menghargai. Perbedaan yang tidak memangkas kebebasan pribadi untuk memilih dan menentukan sikap dalam hidup selama tidak melanggar kepatutan universal. Perbedaan yang tetap melandasi empati. Perbedaan yang tetap memanusiakan manusia lainnya.

Mengutip kata-kata seorang kawan:

Untuk wanita Indonesia…

Ingat bahwa tidak ada hak masyarakat memaksamu, menyuruhmu, menilaimu atau mengarahkanmu ke suatu standar tertentu. Bukan karena masyarakat tidak baik. Tapi karena mereka tidak pernah serius menilai dan menghakimi para laki-laki.

Dan itu tidak adil.

Tambahan dari saya, omongan masyarakat, cibiran orang lain tidak bakal bermanfaat apa-apa dalam hidup Anda. Cuma bikin lelah, dan sedikit memberikan bumbu drama bagi Anda yang memerlukannya. Tapi ya gitu, kalau dicibir orang rasanya enggak enak, cengli dong kalau tidak mencibir orang lain juga. 🙂

Ya, walaupun pada akhirnya, suka-suka Anda mau setuju dengan isi paragraf sebelum ini atau tidak.

[]

Empat Sekawan dan Pohon Persik

Alkisah.. adalah Dharma, seorang bhiksu muda yang baru saja menyelesaikan pertapaannya dan ingin pergi ke sebuah desa di negeri seberang. Desa ini jaraknya jauh sekali, sementara ia sudah harus sampai di sana besok lusa. Dharma punya dua pilihan: ikut jalur yang biasa, dan kemungkinan sampai beberapa jam atau bahkan sehari lebih telat. Atau, mengambil jalan pintas melewati hutan lebat.

Kalau lewat hutan, ia akan sampai lebih dulu. Tapi siapa yang tau ada apa di dalam sana? Binatang buas yang sigap mengintainya jadi mangsa kah, atau justru tanaman beracun yang sekali sentuh bikin kulit melepuh? Karena diburu waktu, Dharma akhirnya memilih pilihan kedua. Akhirnya tibalah ia di mulut hutan. Hari sudah gelap, mau tidak mau ia harus bermalam di sini sebelum melanjutkan perjalanannya esok pagi-pagi sekali.

Setelah menyusuri hutan itu beberapa lama, dilihatnya ada sebuah pohon persik yang begitu rindang. “Mungkin aku bisa bermalam di sini”, pikirnya. Dharma pun terlelap tak lama setelah menyenderkan tubuhnya di batang pohon.

Beberapa saat kemudian, ia dibangunkan oleh seekor kera yang duduk tepat di depannya.

“Siapa kamu?” Tanya Si Kera.

“Aku Dharma.”

“Ngapain kamu tidur di bawah pohon ini?”

“Maaf, aku berjalan jauh sekali dan kelelahan. Bolehkah aku bermalam di sini?”

“Tentu saja boleh.” Belum sempat dijawab Si Kera, jawaban justru datang dari seekor gajah.

“Terima kasih, Gajah. Kau kah penjaga pohon ini?”

“Bukan, bukan aku saja. Aku, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit lah yang menjaga pohon persik ini.”

Tidak lama kemudian, seekor kelinci melompat dari balik semak dan seekor burung pipit terbang dari balik dahan.

“Bermalamlah di sini.” ujar Si Kelinci.

“Kamu lapar? Biar kami ambilkan buah, ya?” Tanya Si Burung Pipit.

Si Kera kemudian menaiki punggung Si Gajah, ia kemudian mengangkat Si Kelinci dengan belalainya dan mendudukkannya di punggung Si Kera. Si Burung Pipit terbang ke atas kepala Si Kelinci, menggapai ranting terdekat dan memetik buah persik untuk Dharma. Buah-buah ini kemudian ditangkap oleh Si Kera.

Dharma kagum, sambil memakan buah pemberian empat sekawan ini ia pun penasaran dan akhirnya bertanya.

“Jadi, sebetulnya, siapa di antara kalian yang jadi pemimpin?”

Si Gajah, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit terkejut mendengar pertanyaan Dharma. Mereka tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Mereka bersahabat lama sekali dan menjaga pohon persik bersama-sama.

“Jelas aku, dong. Akulah yang paling cerdik di antara kami semua.” Jawab Si Kera.

Mendengar jawaban Si Kera, Si Gajah pun protes.

“Mana mungkin kau pemimpinnya, sudah tentu aku yang pemimpin. Aku kan yang paling kuat di sini.”

“Tunggu dulu.” Ujar Si Kelinci. “Gajah, kamu mungkin yang paling kuat. Dan, Kera, kamu memang yang paling cerdik. Tapi aku yang lebih dulu di sini. Kan aku menggemburkan tanah sehingga pohon ini bisa tumbuh.”

“Kamu lupa, Kelinci?” Tanya Si Burung Pipit. “Aku kan yang membawa biji itu ke sini setelah buahnya kumakan. Jadi, harusnya aku yang jadi pemimpin. Karena kalau bijinya gak kubawa dari bukit sebelah, pohon ini gak mungkin ada di sini sekarang.”

Mereka kemudian beradu argumen, terus berdebat dan saling ngotot. Semua tidak mau kalah. Semua menganggap jadi yang paling benar.

Dharma pun berusaha melerai. “Sudah, sudah, jangan bertengkar. Maafkan aku yang sudah bertanya hal yang aneh, ya.”

“Tidak bisa.” jawab Kera. Kami harus tau siapa pemimpinnya ini sekarang juga.

“Menurutmu, siapa yang benar?” tanya Gajah.

“Menurutku? Hmm..” Dharma bingung.

“Siapa dari kalian yang paling lama di sini?”

“Akuuu!” jawab mereka serentak.

“Duh. Kalau begitu, siapa yang paling banyak kerjanya biar pohon ini tumbuh?”

“Akuuuuu!” semua masih menjawab berbarengan.

“Aku yang menanam bijinya.” kata Si Burung Pipit.

“Tapi aku yang menggemburkan tanahnya.” Kelinci tak mau kalah.

“Kalau tak kusirami, pohon ini tak mungkin tumbuh.” ujar Kera.

“Dan kalau tak kujaga, pohon dan buahnya pasti sudah habis dicuri binatang-binatang lain.” Gajah menimpali.

“Nah, kalau begitu kalian menjaga bersama-sama kan?”

“Iya.” jawab mereka.

“Kalau tidak ada salah satu dari kalian, pohon ini tidak akan tumbuh jadi sebesar ini.”

“Benar juga, ya..” Burung Pipit setuju.

“Kalau pohon ini rusak atau mati, bagaimana perasaan kalian?”

“Sudah pasti akan sedih sekali.” jawab Gajah.

“Ya, betul. Pohon ini hidup kami.” Kelinci mengiyakan.

“Dan kalau tidak ada pohon ini, aku tidak akan bertemu Burung Pipit, Gajah, juga Kelinci. Mereka keluargaku sekarang.”

“Kalau begitu, menurutku, tidak perlu kalian terus berdebat tentang siapa yang paling benar, atau siapa yang paling kuat. Karena yang paling penting adalah pohon ini bisa terus tumbuh, kan?”

“Iya.” empat sekawan itu setuju.

“Ya sudah, sekarang, kalian fokus saja merawat pohon ini biar tetap sehat dan meneduhkan orang yang lewat di bawahnya. Biar kita bisa makan buahnya bersama-sama.”

Keempat sekawan itupun sepakat dengan Dharma, mereka menghabiskan malam bersama di bawah pohon persik, saling bercanda dan bercerita.


Cerita di atas aku adaptasi dari folktale Buddhism.

Sekarang, yuk kita bayangkan kalau pohon persik tadi adalah Indonesia. Sementara kita semua adalah Si Kera, Si Gajah, Si Burung Pipit, dan Si Kelinci. Beragam; berbagai suku, kelas sosial, karakter, juga kultur. Semuanya berbeda. Pohon persik itu, sama seperti kehidupan kita, bisa langgeng kalau semuanya selaras.

Natal baru saja lewat sehari. Tapi aku sudah mendengar perdebatan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat kepada kawan-kawan beragama Kristen dari berbulan-bulan lalu. Dan mungkin, beberapa bulan lagi kita akan kembali mendengar perdebatan yang sama. Basi. Begitu terus setiap tahun.

Gak cuma ngucapin selamat aja yang dibikin susah, sampai sekarang teman-teman GKI Yasmin mau ibadah dan merayakan Natal pun gak bisa. Padahal kepala daerahnya udah diganti.

Menurutku, perdebatan soal “Ucapan Natal” ini seperti borok yang terus-terusan dikopeki padahal belum kering. Akhirnya ya gak sembuh-sembuh. Kalau Gus Dur masih hidup, mungkin dia akan komen “Gitu aja kok repot?”.

Gitu aja kok repot?

Kalau tidak mau memberi selamat, ya sudah. Ndak perlu kan pengumuman? Toh ndak ada yang salah dengan beropini. Tapi, ada opini yang lebih baik disimpan saja di dalam hati karena kalau diucapkan malah menyebarkan sentimen negatif atau bikin orang salah paham. Malah nambah masalah. Kalau ndak salah, Ali Bin Abi Thalib pernah bilang begini “Ucapkanlah hal-hal yang baik saja, atau mendingan diam sama sekali.” Jadi, kalo ucapan dan pikiran kita akan menyakiti orang lain, mendingan ya mingkem ae.

Kalau mau ikut memberi selamat? ya bagus. Tapi ya ndak perlu juga merasa jadi yang paling benar dan berakal. Merasa jadi paling toleran. Karena, sebenernya ya, toleransi beragama itu ndak cuma sama teman-teman agama lain. Tapi juga sama teman-teman seagama yang mungkin pendapatnya berbeda. Ndak perlu saling paksa pendapat, ya ndak?

Udah, ah.

Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan. Selamat liburan untuk semua. Semoga kita bisa semakin bijak dalam berpikir, berbuat, dan berucap. Dan semoga semua mahluk berbahagia. *kecup*

religious-tolerance

Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

Kalimantan Punya

Senin pagi, dua hari lalu.

Masih gegoleran waktu Presiden Jokowi sedang melantik para menteri baru. Lagipula, ndak ada yang menarik kok, jadi nontonnya sambil lewat begitu saja. Hingga kemudian, ada pemandangan berbeda di sesi kedua, saat pelantikan wakil menteri.

Batiknya beda kan?

Ya, ada yang mengenakan batik dengan pola tak biasa; motif Dayak.

Entah menampilkan gambar hewan atau tumbuhan, seingat saya motif Dayak di kemeja wakil menteri tersebut cukup jamak terlihat di sini, di Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur (Kaltim). Guratannya luwes, motifnya berulang namun tidak padat, dan warna utamanya tunggal, yaitu merah serupa getah pohon.

Pemandangan itu cukup aneh. Mengingat tidak ada satu pun orang Kaltim yang dipercaya menjadi pengisi Kabinet Kerja. Bahkan gara-gara realitas ini, banyak tokoh penting setempat yang kasak-kusuk. Mereka menuntut perhatian khusus pemerintah pusat, sampai peninjauan ulang kebijakan dana bagi hasil eksploitasi kekayaan alam untuk negara.

Setelah Googling, ternyata Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir ini memang punya darah Kalimantan. Cuman, lahir sebagai orang Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), akan lebih pas bila mengenakan Sasirangan. Kain khas sana. Meskipun karakteristik motifnya jauh lebih abstrak dibanding batik motif Dayak.


Saya lebih suka menggunakan sebutan “batik motif Dayak” atau “Batik Kalimantan” sekalian, ketimbang “Batik Dayak” yang kesannya dipaksakan. Bagaimana tidak, batik sendiri bermakna kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Sedangkan warisan budaya sandang suku Dayak kebanyakan adalah pakaian dari olahan kulit tanaman tertentu. Ada pula kain mirip sarung dengan hiasan manik-manik berbentuk motif naga, burung enggang, maupun manusia. Serta Ulap Doyo, tenunan dari serat daun doyo. Selebihnya, bersama dua varian yang muncul belakangan, yakni Badong Tencip dan Sulam Tumpar (namanya kurang eksotis apa coba?), aneka kerajinan tersebut merupakan milik subsuku-subsuku besar Dayak, tersebar di seantero pulau Kalimantan.

Sebagai pembanding. Waktu masih SD pertengahan era 90-an lalu, salah satu ibu guru pernah menuturkan pengalamannya di pedalaman hutan. Di sana, kala itu, ia tak hanya bertugas mengajari baca tulis. Melainkan juga membudayakan pakaian “layak”, yang didominasi atasan. Baru beberapa tahun terakhir saya tahu, itu adalah program “memanusiakan manusia Indonesia” gaya Orde Baru. Termasuk dengan membusanakan orang-orang yang telanjang dada. Istilah “Batik Dayak” pun makin mendekati oksimoron.

Ndak tahu siapa yang pertama kali mencetuskan sebutan Batik Dayak, entah sebagai inovasi atau Jawaisasi. Kemungkinan besar, si polan itu pula yang berpikir kreatif untuk memindahkan media motif Dayak. Dari gambar bagian tameng perang, pahatan topeng Hudoq, maupun ukiran dinding utama Lamin atau rumah tradisional suku Dayak ke atas kain. Hingga akhirnya melekat di tubuh banyak orang. Mulai dari seragam sekolah dan baju KORPRI se-Kalimantan, wakil menteri tadi, sampai almarhum Madiba.

Pola dan ulirnya khas.

Terlepas dari penjelasan di atas, saya baru melihat perajin batik motif Dayak yang menggunakan malam kira-kira empat tahun lalu. Itu pun di mal, eksibisi pembuatan batik motif Dayak dalam rangka hari jadi Kota Samarinda. Rasanya, ndak ada proses produksi beginian di Samarinda. Hmm… Barangkali memang sayanya yang kurang wawasan. Tapi rupanya benar saja, lah wong kapanan sempat baca artikel ada batik motif Dayak yang dibuat di Pekalongan. Kata si bosnya (sanes tiyang Kalimantan), alat dan pembatiknya terbatas di Kalimantan. Jenis air lokal juga berbeda, memengaruhi pewarnaan. Kalau begini, berarti batiknya ala Jawa, motifnya doang yang Kalimantan.

Di mal, 2010 lalu.

Di mal, 2010 lalu.

Walaupun dijuluki batik dari Kalimantan, perbedaan fondasi budaya tetap tidak bisa memperlakukannya sama dengan batik Jawa Tengah-Yogyakarta (Parang Rusak, Udan Liris, Sogan, Truntum, Garuda, dan sebagainya). Motif Batik Kalimantan cenderung dimaknai secara denotatif, apa adanya. Mirip dengan pemaknaan pada batik pesisir Jawa.

Contoh busana Belian.

Contoh busana Belian.

Motif naga serta burung enggang dengan kesan visual primeval melambangkan keanggunan dan kecantikan pemakainya yang wanita. Motif tanaman, terutama pakis, adalah pola umum sebagai ulir ciri khas Dayak. Untuk motif tameng perang Dayak, menghasilkan wajah seram simetris. Itu saja. Berbeda dengan sarung mistis Belian, shaman atau juru sembuh suku Dayak. Seringkali hanya berupa kain merah, atau dengan anyaman manik batu di bagian bawahnya. Begitupun Ulap Doyo, dengan hanya satu deret objek tunggal serupa ukiran patung manusia ala Dayak, yang disusun vertikal repetitif.

Selain itu, beda bagian Kalimantannya, beda pula motif batiknya. Di Kaltim dan provinsi termuda, Kalimantan Utara (Kaltara), lekukan motifnya lebih halus. Sementara batik motif Kalimantan Tengah (Kalteng) maupun Kalimantan Barat (Kalbar) secara umum menggunakan pola yang pixelated, seolah berpatokan pada strimin.


Masih berusia relatif muda, tampaknya memang tidak mustahil untuk menyusun penelitian komprehensif mengenai batik motif Dayak ini sejak awal mula. Kebayang prosesnya rada susah, lantaran berlingkup sepulau Kalimantan. Termasuk Negara Bagian Sabah dan Serawak, serta Brunei Darussalam. Capek di jalan.

Jujur, hanya sekitar sembilan helai kemeja batik motif Dayak yang pernah/sedang saya miliki. Empat di antaranya adalah seragam khusus Kamis dan Jumat waktu TK sampai SMA. Satu helai malah dibuat untuk hajatan paguyuban warga Tionghoa. Satu helai lainnya untuk tampil jadi tim paduan suara lomba FSBKST di Jakarta beberapa tahun lalu. Dua lainnya bisa dikenakan untuk urusan kantor. Sisanya, dipakai khusus kondangan umum.

Boleh dibilang, sekarang, mau suku apa saja, kalau sudah jadi warga Samarinda, atau Kaltim, atau pulau Kalimantan, pasti bangga dengan batik motif Dayak. Termasuk Pak Wamen tadi.

[]

Dari Shalimar Sampai Kim Il Sung

Berhubung si Nauval jaringan internetnya lagi bermasalah, (saat ini yang bersangkutan lagi marah-marah sama mas-mas customer service salah satu provider Internet) hari ini saya yang ambil alih jadwal piket. Tulisan Nauval akan diunggah esok pagi.

Mari kita rehat sejenak dari kegilaan dan rasa kesal atas putusan sidang DPR semalam.

Siang itu, 12 April 1967, seorang pria peranakan bernama Oei Hong Kian kedatangan tamu. Namanya Djamin. Ia membawa pesan juga bingkisan dari sang atasan. Dibukalah bingkisan itu. Ada satu set pena Mont Blanc, sehelai dasi sutera dengan inisial ‘S’, sehelai foto yang bertuliskan “Untuk dr. Oei Hong Kian” dibubuhi tanda tangan sang empunya foto, juga tak ketinggalan sebotol besar parfum Shalimar.

Iya, si pengirim adalah Soekarno. Dan Oei Hong Kian adalah dokter gigi yang kemudian menjadi salah satu sahabat terdekatnya ketika statusnya berubah dari presiden RI jadi ‘tahanan rumah’. Dan Shalimar (bukan Jane, red.) adalah parfum yang paling sering ia pakai. Siapa yang sangka kalau Shalimar adalah parfum favorit Soekarno? Di kepala saya, Soekarno itu bersinonim wewangian yang beraroma tembakau, kulit, dan bahkan Oud (kayu gaharu). Keras. Tegas. Manis. Seperti Tom Ford ‘Tobacco Oud’, bukannya Shalimar.

Soekarno bersama Jackie O, Liz taylor, dan Marilyn Monroe. (nyomot dari Agan Harahap)

Soekarno bersama Jackie O, Liz taylor, dan Marilyn Monroe. (gambar bole nyomot dari Agan Harahap)

Shalimar keluaran Guerlain ini ibarat dewi dari seluruh parfum bergenre oriental. Hangat karena rempah dan manis wangi vanilla. Ia diciptakan tahun 1921. Kemudian dirilis kembali tahun 1925 di sebuah eksibisi seni sebagai penghiburan untuk rakyat di kala ‘The Great Depression’. Waktu itu Jacques Guerlain lagi gandrung-gandrungnya dengan Methoxy-3-Hydroxy-Benzaldehyde, hasil sintetis dari pengkristalan sari vanilla. Vanilin; sebuah aphrodisiac baru. Aha!Aphrodisiac. Seketika semuanya jadi lebih masuk akal. Jaman itu, perempuan mana, sih, yang tidak tergila-gila. Pada keduanya, Soekarno & Shalimar. Soekarno memang pecinta segala yang indah dan wangi; perempuan, parfum, bahkan bunga.

Syahdan, salah satu teori tentang G30S/PKI yang terjadi tahun 1965 disebabkan oleh ketakutan Amerika Serikat dan para sekutu atas kedekatan politik Soekarno dengan lawan mereka; Rusia dan Cina. Tapi ternyata tak hanya itu, Soekarno, pada saat itu juga membina hubungan yang sangat baik dengan Korea Utara dan presidennya kala itu, Kim Il Sung. Bahkan ketika ia mengunjungi Pyongyang, Kim Il Sung menginstruksikan agar Soekarno diberi sambutan yang luar biasa. Hasilnya? Ada pawai juga konfigurasi dari ratusan orang yang membentuk tulisan “Hidup Presiden Soekarno!”.

Sambutan meriah atas Soekarno di Pyongyang

Sambutan meriah atas Soekarno di Pyongyang

Di lain kesempatan, pada 13 April 1965, Soekarno juga menyambut baik kunjungan diplomatik Kim Il Sung ke Indonesia. Ketika itu Kim Il Sung sedang berulang tahun, dan sebagai hadiah, diajaklah beliau mengunjungi Kebun Raya Bogor. Ketika mereka melintasi taman anggrek, Kim Il Sung terpesona pada satu anggrek hibrida yang berwarna ungu asal Sulawesi Selatan. Mengetahui sang tamu begitu menyukai bunga itu, Soekarno langsung memberikan sekuntum anggrek sebagai hadiah ulang tahun sekaligus sebagai tanda persahabatan. Pada awalnya Kim Il Sung menolak, tapi Soekarno bersikeras, dan tak hanya itu, ia juga menamakan anggrek itu ‘Kimilsungia’. Akronim dari “Kim Il Sung dan Indonesia”. Dan sejak saat itulah, Kimilsungia menjadi salah satu simbol Negara Korea Utara yang selalu diasosiasikan dengan Kim Il Sung.

Hingga saat ini, setiap bulan April di Korea Utara selalu digelar Festival Bunga Kimilsungia. Tapi kita tentu tidak perlu jauh-jauh ke Pyongyang untuk bisa melihat Kimilsungia. Cukup pergi ke Kebun Raya Bogor. Lumayan, lah, bisa lihat yang cantik-cantik daripada kelamaan mantengin tv nonton sidang DPR. Mungkin ini bisa jadi penghiburan saat situasi politik yang makin ndak nggenah ini. (Eh..Apa perlu dibikin tamasya bersama LINIMASMAS? Yuk! :p)

404 Error: Democracy Not Found

democrap

Serahterima jabatan presiden masih bulan depan, tapi SBY dan Demokrat-nya sudah cuci tangan. UU Pilkada diloloskan dan kitapun kecolongan.Ibarat pertandingan, Jokowi sudah kalah satu set padahal belum masuk lapangan. Kelimpungan.

Karena UU 32/2004 belum memberi dampak yang signifikan, revisi ‘pilkada secara langsung’ memang sudah lama jadi wacana Kementrian Dalam Negeri. Salah satu alasannya, ya, lihat saja banyaknya pimpinan daerah yang tertangkap korupsi. Pemilihan langsung yang sudah dicoba tiga kali ini juga jadi soal, dibilang buang-buang duit. Dana yang digelontorkan terlalu besar, katanya.

Banyak yang berpendapat kalau hari ini hari “kematian demokrasi Indonesia”. Tapi, kalau dipikir-pikir, dari awal kita memang tidak punya hak untuk memilih. Lihat saja sila ke-4 Pancasila. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Salah satu butirnya adalah: “mengutamakan musyawarah dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama”. Jadi, bisakah demokrasi dibilang mati kalau memang dari awal kita tidak punya hak untuk berdemokrasi? dari awal kita sudah setuju untuk diwakilkan. Ada satu kawan yang bilang kalau demokratis itu tidak berarti “one man one vote”.

Mungkin banyak yang belum paham seberapa besar “bahaya” UU Pilkada ini. Kalau berhasil disahkan dan lolos jadi undang-undang, maka lebih dari 500 pemilihan langsung kepala daerah akan dihapuskan. Termasuk di dalamnya pemilihan gubernur di 34 propinsi di Indonesia. Hak untuk memilih kita “wakilkan” kepada DPRD. Setelah 16 tahun, akhirnya kita kembali lagi terjun bebas ke era Orde Baru.

Lantas bagaimana solusinya? apa yang bisa kita lakukan?

Walaupun hampir mustahil, tapi UU ini masih bisa ditangguhkan kalau DPR menolak mensahkannya di sidang paripurna. Persetujuan presiden (mau itu SBY atau JKW) tidak penting, presiden tidak punya hak veto. Dengan atau tanpa adanya tanda tangan presiden, UU ini akan lolos di Senayan. Dan kalau UU sudah diterbitkan, kita masih bisa melawan via Judicial Review karena MK-lah yang punya kewenangan.

Selain itu kita juga masih punya kesempatan di Prolegnas (Program Legislasi Nasional) 2014-2019. Kalau Jokowi berani dan bernyali, dia bisa mengusulkan revisi UU ini di Prolegnas depan. Walaupun ini juga tidak bisa dijadikan jaminan mengingat banyak UU yang lolos dan tidak sempat di-Prolegnas-kan. Cara lainnya adalah dengan bersama-sama “menghukum” partai-partai Koalisi Merah Putih: jangan dipilih lagi.

Sekarang, mari kita tetap tenang dan berdoa supaya MK menggagalkan UU ini. Dan kalau masih lolos juga, kita masih punya satu senjata yang tidak akan pernah bisa diambil bandit-bandit Senayan itu: turun ke jalan. Lawan!

(Disclaimer: Tulisan ini murni opini saya sendiri. Bukan representasi sikap politik Linimasa dan tidak mewakili opini rekan penulis Linimasa lainnya.)

Senyap yang Gaduh

Malam itu di Toronto. Ruangan terisi penuh. Film sudah diputar separuh jalan. Ada mereka yang berdecak geram kemudian mengumpat, ada pula mereka yang menyembunyikan wajah di balik jari-jari karena ngeri, juga mereka yang diam-diam mengusap airmata. Lelaki itu duduk di baris paling tengah, menyaksikan dengan saksama adegan demi adegan yang ditayangkan. Ia menyilangkan kedua lengannya. Badannya sedikit maju, hampir menyentuh barisan kursi di hadapan. Sesekali ia terlihat menutup mata agak lama dan menarik napas panjang. Terdengar berat.

Namanya Adi. Adi Rukun, katanya. Empat puluh enam umurnya. Sudah lebih dari delapan kali ia menyaksikan film ini, tapi setiap kali rasanya selalu sama. Selalu ada luapan emosi yang sulit terbendung. Bagaimana tidak, ialah sang tokoh utama. Film ini berporos padanya, pada keluarganya, juga pada jutaan orang lain yang kehilangan anggota keluarga karena pembantaian 1965.

Di saat-saat awal proses shooting film Jagal (The Act of Killing), Joshua Oppenheimer tahu kalau dia akan membuat satu film lain yang tak kalah penting. Dan, di tahun 2012, setelah Jagal selesai disunting namun belum dirilis, mulailah Senyap (The Look of Silence) difilmkan. Keputusan ini diambil Joshua karena ia merasa keselamatannya di Indonesia tidak lagi terjamin setelah rilisnya Jagal.

The Look of Silence (Senyap)

Senyap (The Look of Silence)

Senyap membawa kita kembali ke tahun 1965 di Pelintahan, Sumatera Utara. Mengisahkan tentang nasib nahas Ramli. Ketua Buruh Tani Indonesia (BTI), yang tewas dibantai oleh Komando Aksi. Berbeda dengan pembantaian-pembantaian lain di era itu, cerita getir tentang Ramli, yang kala itu berusia 23 tahun, memiliki saksi-saksi dan bukti. Ada saksi yang melihat bagaimana sadisnya ia disiksa, ada pelaku yang sukarela membukukan bagaimana ia membunuh Ramli dan orang-orang lain di desa itu.

Sepeninggalnya, keluarga Ramli dipaksa hidup di bawah ketakutan dan trauma. Mereka harus terus menanggung cap buruk sebagai ‘keluarga PKI’. Bahkan anak perempuannya dijadikan bahan olok-olok di sekolah, yang ironisnya, oleh guru-gurunya sendiri. Sementara itu para pelaku bebas berkeliaran dan justru dielu-elukan sebagai pahlawan. Pelaku-pelaku ini dengan begitu bangga menceritakan dengan detil bagaimana sadisnya mereka membunuh Ramli.

Adi adalah sang adik. Lahir tiga tahun setelah meninggalnya Ramli. Menurut Rohani, ibunya, Adi jawaban Tuhan atas doa-doanya yang meminta mendiang Ramli bisa kembali. Ada keingin tahuan untuk mencari sumber rasa takut. Juga ada keberanian yang begitu besar di dalam diri Adi untuk membantu keluarganya pulih dari trauma. Meretas senyap. Maka dimulailah perjalanan Adi, yang memiliki usaha optik keliling, mewawancarai mereka yang terlibat dalam pembantaian Ramli.

Ada metafora yang begitu cantik di sini. Pekerjaan Adi sebagai optician dan pelaku yang ingin dibuatkan kacamata. Seolah menunjukkan bagaimana rasanya melihat kehidupan dari sisi korban dan mencari jawaban langsung dari mata sang pembunuh. Senyap tak ubahnya sebuah sajak, begitu getir tapi juga mengalir dengan indah. Berbeda dengan Jagal, yang ketika selesai ditonton membuat marah dan geram, Senyap dengan ending yang sengaja dibiarkan terbuka justru mengajak kita untuk merenung. Tentang merelakan, tentang memaafkan, tentang melawan rasa takut.

Senyap juga mengajak kita melihat bagaimana sedihnya mereka yang kehilangan. Ibu Rohani yang menyumpahi anak-cucu para pelaku, agar mereka hidup menderita, menyadarkan kita kalau beliau juga manusia. Beliau hanya seorang ibu yang terus berduka karena sang anak dibantai dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Mengharapkan agar keluarga korban bisa memaafkan pelaku lalu mereka hidup berdampingan rasanya hanya ada di cerita dongeng. Dan sejujurnya, suatu hal yang sangat egois. Semena-mena.

Film telah usai dan lampu pun pelan-pelan dinyalakan. Satu-persatu penonton berdiri sambil menyeka air di sudut mata mereka. Riuh tepuk tangan mengiringi Adi yang berjalan ke atas panggung. Tiga kali standing ovation diberikan penonton sebagai penghormatan untuk Adi dan Joshua. Saya pun bisa merasakan ikatan emosional yang begitu kuat ketika Joshua mendekap erat Adi. Mata mereka berembun. Bagaimana tidak, selama proses pembuatan film ini, Adi selalu dilibatkan. Dan baginya juga keluarga, kedatangan Joshua bagai hujan panjang yang menghapus kemarau, orang yang telah lama ditunggu-tunggu. Membantu menyuarakan isi hati mereka ketika mereka sama sekali tidak bisa bersuara dihimpit rasa takut.

Mereka yang menonton Senyap malam itu mengantri untuk bisa menyalami Adi. Menyampaikan satu-dua kata bagaimana beraninya ia, juga turut mendoakan keselamatan keluarganya. Adi haru. Ia merasa keluarganya begitu dihargai sebagai manusia, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ironis memang, di Indonesia sendiri rasanya masih banyak yang tidak peduli akan nasib para korban pembantaian ini. Seolah semua sepakat bilang “Masa lalu, ya, masalah lo!” PKI masih jadi topik yang enggan untuk dibicarakan. Bahkan, kita masih terus saja memusingkan apakah Jagal dan Senyap ini “Film Indonesia” atau “Film tentang Indonesia”. Sepertinya kebutaan dan kebodohan massal yang sukarela.

Saya harus mengutip William Faulkner, “The past is never dead, it’s not even past.” Kenyataan bahwa Adi dan keluarganya harus pindah ribuan kilometer, bahwa seluruh kru Indonesia yang terlibat proses produksi harus berlindung di balik anonimitas, bahwa Joshua merasa ia tidak lagi aman kalau kembali ke Indonesia, merupakan bukti kalau pembantaian 1965 belumlah bisa dibilang “masa lalu”. Kita masih di masa lalu. Mereka yang tersakiti harus bungkam karena tak bisa bersuara. Dan mereka yang bisa bersuara lebih memilih untuk jadi bisu. Maka senyaplah semua.

Mas Adi, Josh, Signe.

Mas Adi, Josh, Signe.

Saya, Mas Adi, dan Josh.

Saya, Mas Adi, dan Josh.

:: A Homage for Joshua Oppenheimer ::
Ditulis untuk Josh, Signe, Anonymous, & Mas Adi. Terima kasih. Terima kasih. Segala doa-doa baik untuk kalian. Parting is such a sweet sorrow, kata Shakespeare. Semoga nanti saya punya kesempatan untuk bertemu dengan kalian lagi.
Love, F.