Akan Selalu Ada “Nabi-nabi” Baru

TULISAN kali ini sengaja telat naik, karena topiknya enggak penting-penting amat… ditambah lagi karena sayanya memang kurang fokus dan terlalu gampang terdistraksi. Maklum, gampang hanyut. Belum lagi buntu otak menulis tentang apa, perlu banyak-banyak masukan. Bicara soal distraksi, selain playlist random film-film berbahasa Tionghoa di kanal Tian Ying Pindao, serta meninggalnya David Bowie dan komedian… Read More

Kangen Twitter yang Dulu

KATANYA, sekarang makin banyak orang yang malas nge-tweet. Mereka kembali asyik dengan Facebook yang penuh tautan artikel entah dari media apa, sibuk jadi fotografer atau model musiman untuk Instagram, Pamer Anak, Tempat, dan Hidangan menggunakan Path, atau rajin membagi cuplikan gambar dan video singkat yang bisa kedaluwarsa pakai Snapchat. Sudah ada banyak survei untuk membaca… Read More

Terserah Saja

“KAMU orang Buddha, kan?” … Tebal muka dan telinga. Sepertinya kemampuan itu benar-benar diperlukan kaum Buddhis di Indonesia (atau dunia) saat ini. Ketika semua orang, more likely the narrow-minded ones, selalu bertanya tentang Ashin Wirathu dan status kebhikkhuannya secara berulang-ulang. Pertanyaan itu–beserta banyak turunannya–disampaikan dengan penuh semangat, seakan Ashin Wirathu adalah seorang bhikkhu yang bisa… Read More

Masih Hal yang Sama

Kita baru Kartini-an lagi kemarin. Momen yang–bagi sebagian orang–dirasa tepat untuk kembali berbicara tentang perempuan dan keperempuanannya di Indonesia, baik yang setuju maupun menolak apa pun itu lewat beragam alasannya. Bukan cuma pembahasan antara laki-laki dan perempuan, bahkan juga antara sesama laki-laki, maupun sesama perempuan. Sebab ada anggapan, hanya aktivis saja yang saban hari konsisten… Read More

Empat Sekawan dan Pohon Persik

Alkisah.. adalah Dharma, seorang bhiksu muda yang baru saja menyelesaikan pertapaannya dan ingin pergi ke sebuah desa di negeri seberang. Desa ini jaraknya jauh sekali, sementara ia sudah harus sampai di sana besok lusa. Dharma punya dua pilihan: ikut jalur yang biasa, dan kemungkinan sampai beberapa jam atau bahkan sehari lebih telat. Atau, mengambil jalan… Read More

Blup… Blup… Blup…

“Mau tau caranya?” “Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.” “Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.” *** Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit… Read More

Kalimantan Punya

Senin pagi, dua hari lalu. Masih gegoleran waktu Presiden Jokowi sedang melantik para menteri baru. Lagipula, ndak ada yang menarik kok, jadi nontonnya sambil lewat begitu saja. Hingga kemudian, ada pemandangan berbeda di sesi kedua, saat pelantikan wakil menteri. Ya, ada yang mengenakan batik dengan pola tak biasa; motif Dayak. Entah menampilkan gambar hewan atau… Read More

Dari Shalimar Sampai Kim Il Sung

Berhubung si Nauval jaringan internetnya lagi bermasalah, (saat ini yang bersangkutan lagi marah-marah sama mas-mas customer service salah satu provider Internet) hari ini saya yang ambil alih jadwal piket. Tulisan Nauval akan diunggah esok pagi. Mari kita rehat sejenak dari kegilaan dan rasa kesal atas putusan sidang DPR semalam. Siang itu, 12 April 1967, seorang… Read More

404 Error: Democracy Not Found

Serahterima jabatan presiden masih bulan depan, tapi SBY dan Demokrat-nya sudah cuci tangan. UU Pilkada diloloskan dan kitapun kecolongan.Ibarat pertandingan, Jokowi sudah kalah satu set padahal belum masuk lapangan. Kelimpungan. Karena UU 32/2004 belum memberi dampak yang signifikan, revisi ‘pilkada secara langsung’ memang sudah lama jadi wacana Kementrian Dalam Negeri. Salah satu alasannya, ya, lihat… Read More

Senyap yang Gaduh

Malam itu di Toronto. Ruangan terisi penuh. Film sudah diputar separuh jalan. Ada mereka yang berdecak geram kemudian mengumpat, ada pula mereka yang menyembunyikan wajah di balik jari-jari karena ngeri, juga mereka yang diam-diam mengusap airmata. Lelaki itu duduk di baris paling tengah, menyaksikan dengan saksama adegan demi adegan yang ditayangkan. Ia menyilangkan kedua lengannya.… Read More