Saya Tandatangani Surat Keterangan Kematianmu, Ibu…

9-amazing-drawing-old-woman-by-kinglord
Gambar pensil dari web ini.
ENGKAU tentu tak bisa memilih penyakit apa yang datang ke tubuhmu, Ibu.

Kanker darah dan gagal ginjal seperti datang bersamaan. Sebelum itu kami hanya tahu engkau sering mengeluh tentang maag pada lambungmu. Kau terlalu banyak mengggunakan obat pereda nyeri lambung. Kelebihan dosis. Dokter terakhir yang merawatmu sampai geleng-geleng kepala melihat takaran obat yang kau minum. Itu yang membuat ginjalmu harus bekerja keras dan akhirnya tak lagi berfungsi.

Dan kanker darah? Ini membuatmu harus cuci darah, tapi tak mungkin dilakukan dengan ginjal yang tak lagi sehat.  Di RS A Wahab Sjahranie, Samarinda, engkau terakhir dirawat, mungkin hanya untuk memberi waktu untuk saya datang di hari-hari terakhir hidupmu.

“Mama makin enggak karuan sakitnya,” kata abang sulung saya menelepon. Saya  lekas ambil cuti. Firasat kami sama, dan ternyata benar.

Beberapa hari di rumah sakit, sebelum saya datang, engkau mulai kehilangan kesadaran.

Satu-satunya saat kesadaranmu datang kembali adalah ketika saya datang.

Hanya beberapa detik. Kita bertatapan dan engkau tersenyum. Engkau menyebut namaku. Itu saja yang sempat saya dengar, dan itulah terakhir kalinya engkau menyebut namaku. Dan kita berpelukan.  Hari itu, ketika magrib, aku memimbingmu salat. Tak sampai selesai surah Alfatihah kesadaranmu hilang lagi.

Dalam sakitmu, engkau tidak tidur. Matamu terbuka tapi hanya menatap pada kekosongan. Nafasmu lalu terdengar makin susah. Lalu mulutmu berdarah….

*

Setiap kami mendengar kabar ayah atau ibu kawan saya meninggal di grup Whatsapp yang saya ikuti (ada grup alumni SMA, mantan penghuni asrama, grup jurusan, dll) saya cenderung diam. Ucapan turut berduka cita berseliweran. Juga doa “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”, menyadarkan segala berasal dari Allah dan segala kembali padanya.

Saya seringkali hanya diam. Tercekat. Bukan tak ingin berempati pada kawan yang berduka, tapi setiap kali mendengar kabar kematian seperti itu saya pasti ingat pada kematian ibu saya, yang tak pernah mau saya ingat kapan. Saya tak mau tahu sudah berapa tahun ibu saya meninggal. Rasanya itu selalu saja baru terjadi. Adik saya yang selalu mengingatkan, terutama ketika kami harus menggelar doa haul di kampung.

Ibuku tak bisa membaca huruf latin. Ia hanya bisa mengaji.

Tapi apapun akan ia korbankan untuk sekolah kami, anak-anaknya. Ketika kebun kelapa kami belum penuh panennya, ibu membuat kue untuk dititip jual di warung-warung. Apa saja.

Ketika dua anaknya – aku dan abangku – sudah bekerja, tinggal dua adik saya lagi yang masih kuliah, ibu saya menelepon. Dia minta izin menjual separo kebun kelapa untuk tambahan ongkos naik haji. Itulah satu-satunya cita-cita pribadi yang pernah ia punya. Sebelum itu terwujud, saya suka mendengar dia menyenandungkan lagu kasidah naik haji. Refrainnya saya ingat: ...wukuf di Jabalarafah, bertawaf keliling kabah… Saya tak tahu itu lagu siapa. Mungkin Nasyida Ria.

“Ini kan harusnya jadi warisan kalian kalau saya meninggal,” katanya.

Saya menangis di ujung di telepon. Saya waktu itu ingin sekali bantu menambah cukup ongkos naik hajinya. Tapi waktu itu saya benar-benar tak bisa membantu. Pada saat seperti itu ibu saya justru meminta izin untuk menjual kebunnya, kebun yang bersama bapak, mereka tebang sendiri hutannya, yang ia tanami sendiri pohon-pohon kelapanya. Saya benar-benar hanya menangis bisu. Di ujung telepon lain, ibu pasti tahu bahwa saya menangis….

*

Saya mendorong kereta jenazahmu ke ruang jenazah. Saya menyaksikan dokter lain yang berbeda dengan dokter di ruang perawatan yang tadi menyatakan kematianmu. Dokter di ruang jenazah itu sekali lagi memeriksa, lalu mengisikan keterangan pemeriksaan dan pernyataan kematian pada selembar formulir. Di luar sebuah mobil jenazah menunggu.

“Anaknya ya? Tanda tangan di sini,” kata dokter itu. “Ini surat biasanya untuk urus asuransi.”

Surat itu saya tanda tangani. Lalu dimasukkan ke amplop. Tak ada asuransi.

Surat itu sampai hari ini masih saya simpan. Sesekali saya lihat lagi dengan perasaan yang sama: ini surat keterangan kematian, saya menerimanya dengan menekenkan tanda tangan di situ, kematian orang yang melahirkan saya.***

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Masakan Ibu

Apa masakan buatan Ibu yang paling Anda sukai?
Kalau pertanyaan ini ditujukan balik ke saya, jawabnya sudah pasti adalah kacang pedas.
Kacang pedas ini bisa ditemukan di mana saja. Pada dasarnya ini adalah kacang tanah yang dijemur, lalu digoreng bersama kulitnya sampai kecoklatan, dan dilumuri adonan bumbu pedas berikut potongan cabe. Tentu saja lebih sedap disajikan ketika panas. Apalagi bersama nasi putih. Meskipun begitu, disantap waktu sudah dingin pun terbukti masih enak. Waktu itu pernah ibu saya membawakan kacang pedas ini ketika mengunjungi saya di luar negeri. Kacangnya tentu saja dibungkus plastik. Ketika saya melihat bungkusan plastik di meja kamar hotel, langsung saya makan sambil mengobrol. Berbungkus-bungkus plastik itu langsung habis dalam waktu singkat. Saking enaknya, saya sampai ketiduran setelah selesai makan. Ibu saya membangunkan beberapa jam kemudian. Saya menyesal karena janji mengajak jalan-jalan terpaksa batal, karena sudah larut malam. Ibu saya tidak keberatan. Dia bilang lebih senang melihat anaknya makan lahap di depan orang tua.

mom-cooking

Kacang pedas ini sudah jarang ibu buat lagi. Alasan ibu, capek mengulek sambelnya. Alasan lain, karena faktor kesehatan saya, yang harus mengurangi makanan berprotein tinggi seperti kacang. Tapi dia tetap memasak makanan lain ketika saya pulang ke rumah. Dan selayaknya ibu-ibu lain, tetap sebal kalau melihat anaknya suka jajan di luar. “Udah capek-capek dimasakin, masak gak dimakan?” Sepertinya ini senjata pamungkas setiap ibu supaya kita makan di rumah, ya? Akhirnya jalan tengah kami ambil: kalau mau makan di luar, harus kasih tahu di pagi hari. Ibu juga maklum, ketika anaknya pulang, pasti ada keinginan untuk mencicipi makanan-makanan di luar. Apalagi kalau ada restoran atau tempat makan baru yang belum pernah dicoba. Tapi toh, hasilnya tetap saja. Ketika bangun tidur, dan mau pergi tidur, yang dituju adalah kulkas atau meja makan di rumah. Tentu saja sambil bertanya dengan mata berat, “Ada makanan apa?”

family-stove-clip-art-15

Saya jadi ingat sebuah iklan penyedap makanan yang menampilkan kisah anak perempuan yang rindu masakan ibunya. Masakan-masakan yang ditampilkan kebanyakan “biasa saja”, tipikal makanan rumah. Semua punya pesan yang sama, yaitu ketika mencicipi makanan tertentu (yang sudah dibumbui penyedap rasa itu tentunya), maka mereka akan teringat ibu dan rumah mereka.
Iklan ini, meskipun terasa panjang, cukup berhasil. Meskipun begitu, menurut saya, ada pesan lain yang tak tersampaikan di situ.

Makanan apapun yang dibuat oleh ibu kita, pasti terasa enak.

Saya percaya, ada banyak sense of determination dari ibu yang memasakkan makanan untuk anaknya, sesimpel apapun itu.
Saya percaya, ada rasa menghormati ibu ketika kita mulai menikmati masakan ibu, terlebih di depannya.
Saya percaya, tidak ada ibu yang tidak bisa memasak. Sense of urgency often beats the most impossible thing.
Terlebih lagi, apapun yang disajikan dengan hati, meskipun sesederhana mungkin, rasanya pasti akan terserap dengan baik.

cooking-clipart-black-and-white-cg_cooking

Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa. Tapi dia punya beberapa kesibukan untuk menopang ekonomi keluarga. Selain punya kos-kosan, dia juga berdagang batik. Kadang ibu saya harus menempuh perjalanan jauh berjam-jam untuk kulakan batik. Kadang harus menginap di rumah saudara kalau sudah terlalu malam. Seringkali ibu meninggalkan saya di rumah dengan makanan a la kadarnya. Selama nasi putih cukup untuk dua hari, lauknya bisa cukup abon, atau telur dadar yang dibuat sendiri. Kacang pedas itu pun dibuat tanpa sengaja di kala senggang. Namun entah mengapa itu menjadi makanan kesukaan saya. Meskipun begitu, kalau beliau lebih sering memasakkan saya nasi goreng, pasti saya akan bilang kalau makanan favorit saya adalah nasi goreng buatan ibu.

Saya tidak bisa recreate semua masakan ibu saya. Kebetulan tangan ini bukan tangan yang cekatan untuk urusan dapur. Jadi saya belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, apa masakan favorit ibu saya.

Kalau Anda?

Ibu

Mother, how are you today?

Pertanyaan di atas merupakan penggalan lirik lagu yang pernah populer di era 1980-an. Aslinya, lagu ini dinyanyikan grup dari Belanda bernama Maywood. Namun lagu ini ngetop lagi di Indonesia saat didendangkan ulang oleh Nani Sugianto di drama seri “Pondokan” di TVRI.
Drama seri ini sempat menjadi acara tontonan wajib kami di rumah. Seminggu sekali, kami semua berkumpul di depan televisi cembung 21 inch merk Grundig. Serial yang berkutat seputar kehidupan anak-anak perantaun di indekos dimainkan oleh Nani, Yayuk Suseno, Tetty Liz Indriati, Alan Nuari dan masih banyak lagi. Yang tidak berubah adalah ibu kost, yang dimainkan oleh Nani Wijaya.

Kebetulan juga, suasana rumah kami saat itu sama seperti yang kami tonton di layar kaca.
Ibu saya menjadi ibu semang bagi sejumlah anak kost perempuan yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Rumah kami dekat dengan dua kampus besar. Sesekali ada juga karyawati yang ngekos, karena dekat kampus, ada dua kantor besar milik negara. Yang jelas, sehari-hari rumah tidak pernah sepi, kecuali saat liburan kampus. Sampai sekarang pun, rumah utama kami masih menerima kost.

Berbagai karakter manusia sudah ditemui ibu selama lebih dari 33 tahun menjadi ibu kos.

Telat bayar, sudah biasa. Pulang malam tidak bawa kunci, wajar saja. Ada yang memalsukan surat nikah, pernah juga. Bakar surat cinta dan barang-barang mantan pacar sampai asapnya masuk ke dalam rumah, pernah kejadian.

Ibu selalu santai saja menanggapi semua itu.

Keras dan tegas, iya. Mengusir, tidak pernah. Biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan masalah. Toh sudah bukan perempuan usia 16 tahun lagi.
Dan yang paling penting, mereka ini bukan saya beserta kakak dan adik saya yang jadi anak kandungnya.

Beberapa saat setelah saya menulis tentang Ayah, ada teman bertanya, “Kapan menulis tentang sosok ibu?”
Saya sempat terdiam. Jawaban saya waktu itu, “TIdak tahu.”

Sampai sekarang saya tidak tahu harus menulis apa tentang sosok ibu.
Sempat bertanya-tanya dalam hati, apa karena saya laki-laki, sehingga saya tidak akan pernah bisa mengerti apa rasanya menjadi seorang ibu? Kalau ayah, mungkin bisa memproyeksikan bagaimana nanti. Kalau ibu? ‘Kan saya tidak akan pernah bisa melahirkan anak?

Lain waktu sempat terlintas di pikiran juga, apa karena sosok ibu sudah kita sakralkan sedemikian rupa?
Mau tidak mau, jargon-jargon seperti “surga di bawah telapak kaki ibu” atau “kasih ibu tak terhingga sepanjang masa” membuat kita semakin melihat sosok ibu dari level sudut pandang katak: semakin ke atas, meninggi dan menjauh. Sosok ibu menjadi sosok suci yang rasanya tak akan pernah terjangkau.

Atau bisa juga karena saya mengikuti film-film Disney dan Pixar dari awal, makanya kaget ketika sadar bahwa tidak ada satu pun karakter utama seorang ibu di film-film mereka, sampai adanya Helen di film The Incredibles.

Bertahun-tahun sudah saya tidak tinggal bersama ibu lagi saat pertama kali menonton The Incredibles 10 tahun yang lalu. Namun melihat sosok Helen bergulat dengan waktu setiap hari menyiapkan sarapan dan makan siang suami dan anak-anak, membesarkan anak nyaris seorang sendiri karena suami pergi, seperti melihat sosok ibu yang, tanpa kekuatan fisik apapun, sudah menjadi seorang superhero.

Helen, from The Incredibles. (Courtesy of pixar.wikia.com)
Helen, from The Incredibles. (Courtesy of pixar.wikia.com)

Saat saya masih bisa pulang sekolah jam 11 siang setiap hari, ibu sudah menyiapkan makan. Bisa bubur kacang ijo, atau kue kacang sambil menunggu makan siang. Sambil disantap, saya menonton rekaman kaset video tayangan “Charlie’s Angels” atau lawakan Jayakarta Grup di acara “Kamera Ria” dari semalam sebelumnya. Maklum, saat “Dunia dalam Berita” ditayangkan, kami harus tidur.
Ibu juga yang mengenalkan saya ke film-film Indonesia tahun 1970-an. Saat akhir pekan, biasanya kami berkunjung ke video rental terdekat. Ibu pun memilih film-film karya Wim Umboh, Syuman Djaya, sehingga di usia dini, saya sudah tahu siapa Paula Rumokoy, Ruth Pelupessy,atau Aedy Moward, serta tentu saja favorit beliau adalah Tanti Josepha, Widyawati dan Sophan Sophiaan.
Inilah waktu senggang ibu, her me-time, yang lebih dia pilih untuk membagi ke anak-anaknya apa yang menjadi kesenangannya waktu dia berusia muda dahulu. Di sela-sela mengurus rumah, kost-kostan, dan kulakan batik serta merawat almarhumah nenek, ibu tidak punya banyak waktu luang. Waktunya terus terbagi. Ketika yang balita beranjak remaja, ibu pun tidak pernah berhenti.

Ibu tidak pernah berpikir. Ibu terus melakukan. She just keeps on doing.
Waktu ayah jatuh sakit, ibu tidak pernah menangis. Dia tahu bahwa malam itu dia harus membagi tugas ke kami mencarikan rumah sakit, mengurus administrasi, sambil harus mengantar adik kerja esok paginya, karena dia sedang hamil besar dan tidak bisa membawa kendaraan sendiri.

For mothers, being strong is not an option. It’s a necessity.

Mungkin, karena terlalu sibuk berlindung, saya belum bisa menggambarkan dengan baik seorang sosok ibu.

Saya hanya bisa mencintainya, selamanya.