Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

Advertisements

Sedikit tentang Perempuan

Perlu waktu sembilan tahun, sampai Church of England bersedia memperkenankan perempuan untuk jadi uskup.

Dimulai pada 2005. Kritik atas terbatasnya gerak kaum perempuan dalam tubuh gereja Anglikan khas Inggris itu dikemukakan. Muaranya, voting sinode menyetujui amendemen peraturan tersebut Senin kemarin, beberapa jam sebelum pengumuman kenaikan harga BBM di sini.

Gebrakan besar–cuma bagi warga Inggris–ini belum menjamin akan ada uskup perempuan dalam waktu dekat. Bukan mustahil, gelombang penolakan terus mengalir, syarat prosedural tambahan dapat diberlakukan. Membebani langkah para perempuan yang terpanggil untuk menjadi uskup, dalam organisasi gereja yang dianggap bidah oleh gereja Katolik Roma itu.

***

Amina Wadud dan makmumnya.

Dukungan maupun hujat tak putus-putusnya dilontarkan kepada Amina Wadud.

Perempuan 62 tahun itu menimbulkan kontroversi global, setelah bertindak sebagai imam Salat Jumat di Manhattan, juga pada 2005. Salat Jumat yang diikuti seratus orang (60 perempuan, 40 laki-laki) tersebut tanpa pemisahan saf, muazinnya juga seorang perempuan.

Salat dilangsungkan di Synod House, sebuah bagian dari katedral. Pasalnya, tiga masjid setempat menolak Amina Wadud dan makmumnya. Lalu, satu tempat netral yang sejatinya adalah pusat aktivitas religius-pluralistis India mendapat ancaman bom gara-gara bersedia menerima Amina Wadud. Synod House dipilih, karena Amina Wadud ingin menunaikan salatnya di tempat yang tersucikan secara spiritual.

***

Ndak perlu nunggu 21 April, Mother’s Day, atau peringatan-peringatan sejenis untuk nulis soal perempuan, atau membicarakan topik yang pakai embel-embel kata “emansipasi” di depannya. Toh, meskipun diskursus atau pembicaraan mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan selalu digencarkan pada momen-momen tertentu setiap tahun, tetap belum bisa mengubah realitas di beberapa bidang yang terjadi hingga saat ini.

Dua contoh di atas, misalnya. Sebagai peristiwa yang tergolong terlalu sensitif untuk dibicarakan di warung kopi sambil mengudap pisang goreng, tapi terlalu penting untuk dilewatkan sebagai momen pergolakan keperempuanan, urusan uskup gereja Anglikan maupun Amina Wadud tentu tidak bakal dicueki dan menguap begitu saja. Hanya saja sedinamis apapun pembahasannya, pasti buntu begitu berhantaman dengan pernyataan: “Mau punya uskup perempuan? Sudah sesat makin sesat!”, atau “Sampai kapan pun, perempuan tidak boleh jadi imam. Melanggar fikih!” Menegaskan bahwa kitab suci–agama-agama Samawi, khususnya–sudah mencantumkan ketentuan baku bagi posisi perempuan dalam urusan agama. Saklek. Ada perempuan yang menerima kenyataan ini dengan pasrah, tapi tak sedikit pula yang merasakan protes dalam hati.

Agak berbeda dengan pandangan agama-agama non-Samawi. Perdebatan tentang keperempuanan dan institusi agama bisa terkesan tarik ulur. Salah satunya, upaya membangkitkan kembali tradisi Bhikkhuni Buddhisme Theravada, yang telah punah sejak beberapa abad lalu dan dinilai mustahil untuk diselenggarakan lagi sampai saat ini. Mustahil, bukan lantaran tidak boleh, melainkan perangkatnya sudah tidak ada. Itu sebabnya, perempuan Buddhis Theravada zaman sekarang paling mentok hanya bisa ditahbiskan menjadi Atthasilani (seperti yang bisa ditemukan di STAB-STAB). Atthasilani kurang lebih sejajar dengan Samanera, calon Bhikkhu, plus beberapa aturan tambahan demi muruah kaum hawa. Sementara dalam Buddhisme Mahayana, keberadaan Biksuni masih ada, termasuk di Indonesia.

Terlepas dari itu, perempuan tetap memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam hal prestasi spiritual. Perempuan juga bisa mencapai kebuddhaan sebagai Arahat, sebagai orang yang diajari. Sedangkan perempuan Buddhis yang umat awam dapat dilatih dan diangkat menjadi Pandita; berhak berceramah, berhak memimpin Puja Bhakti, berhak mengesahkan pernikahan, berhak menjadi kepala vihara.

Obrolan di atas baru pada ranah agama. Lumayan susah diotak-atik. Belum lagi pada ranah-ranah yang lain.

***

Sampai saat ini, sebagian besar manusia dengan selangkangan berbatang, masih kerap memperlakukan perempuan dengan tindakan dan perspektif yang tidak patut. Tak jarang berlaku secara komunal, menjadi budaya dalam lingkup bermasyarakat. Walaupun belum tak semuanya dikategorikan sebagai kejahatan.

Buktinya, seperti tulisan Gandrasta dua pekan lalu. Ketika perempuan seakan-akan boleh distempel dengan label “Penjahat Sosial”, jika masih lajang di usia 30 tahun ke atas. Dengan label tersebut, mereka digunjingkan, dicibir, diejek, didesak, orangtua mereka juga ikut-ikutan dibuat gusar, dan dikelilingi dengan ketidaknyamanan. Pertanyaannya, siapa yang memperbolehkan tindakan cap-mengecap itu? Sudah idealkah kehidupan rumah tangga si pengecap? Sebegitu kurang kerjaankah si pengecap, sampai ngepoin kehidupan pribadi orang lain?

Isu lainnya, terkait keharusan bagi para calon Polwan untuk menjalani pemeriksaan keperawanan, sebagai bagian dari tes kesehatan. Oke, pemeriksaan keperawanan memang disebut bukan sebagai penentu kelulusan, tapi kita tetap berhak mempertanyakan alasannya. Sebegitu pentingkah motifnya? Apakah tindakan ini masih didasarkan pada pandangan konservatif yang menganggap bahwa selaput dara adalah bukti kesucian? Sehingga tidak utuhnya selaput dara menandakan bahwa si empunya adalah perempuan hina? Terus, kalau dianggap hina, boleh makin dihina-hina harga dirinya, begitu? Kalau iya, duh, masih punya empati enggak ya?

Kemudian, masih ihwal selaput dara juga, para laki-laki kerap merendahkan perempuan. Memang terdengar remeh, dan seringkali dianggap sebagai kelakar ringan, bikin ketawa. Namun ungkapan “buka segel” saat malam pertama seolah menempatkan seorang perempuan, sang istri, laiknya barang yang baru dibeli di swalayan. Lembar etiketnya mencantumkan amaran: “jangan diterima apabila segel rusak/terbuka.” Kalau begini, apa bedanya antara pernikahan dan jual beli, dengan maskawin sebagai banderolnya? Sayang, belum ditemukan metode untuk mengenali titit perjaka dan titit berpengalaman, yang pemiliknya seringkali dijadikan mentor rekan-rekannya.

Sama halnya dengan kekeliruan sosial yang terus dipertahankan sampai sekarang. Yaitu anggapan yang mengatakan “cowok nggodain cewek = wajar, cewek nggodain cowok = genit,” atau “cowok nembak cewek = wajar, cewek nembak cowok = agresif.” Bagaimanapun, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki hati, pikiran, dan mulut. Kalaupun ada perempuan yang malu-malu, ada pula laki-laki yang terlalu dungu menangkap kode-kode umpan lambung di udara. Artinya, sama-sama memerlukan komunikasi, bukan gengsi. Kalau belum yakin cinta/ndak cinta, ya jangan seperti Rangga yang nggantungin Cinta sampai 12 tahun lamanya. Bikin puisi jago, giliran harus ngomong malah plonga-plongo. Untung masih ketolong cakep (#eh).

Satu lagi topik pembahasan yang tak kunjung kelar sampai sekarang. Jangankan perempuan, semua orang sepatutnya berbusana dengan sopan. Akan tetapi, apabila ada perempuan yang merasa nyaman dengan mengenakan rok mini atau pakaian seksi tanpa motif macam-macam (masih debatable), tidak serta merta bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan perkosaan, bukan? Memang ada istilah “namanya kucing disodori ikan”. Masalahnya, apakah kecerdasan semua laki-laki di Indonesia ini setara dengan kucing tadi? Ndak punya kekuatan untuk mengendalikan diri dari gejala fisiknya sendiri? Lucu, alih-alih menyalahkan pemerkosa, eh malah sang korban yang digelari gatel. Mau bagaimanapun, dalam sebuah aktivitas seksual yang dipaksa, perempuan lah korbannya. Perempuan yang diperkosa lalu kesenengan itu cuma ada dalam skenario film bokep. Dusta semua.

Menelus ke bidang lainnya, sampai kapan kecantikan dan lekuk tubuh perempuan dijadikan alat utama untuk mempromosikan dagangan? Jangankan yang jualan bra dan celana dalam berenda, lah wong iklan permainan online juga menampilkan perempuan dengan eksploitasi berlebihan di area belahan payudara. Ya bedanya samar sih, antara orang yang niatnya cari penghasilan, dengan pablik fijyer yang haus pujian dielu-elukan berbodi seksi.

Foto: Pinterest
Foto: Pinterest

Pun para bos. Memang berhak mengatur urusan personalia di perusahaannya dengan sesuka hati. Tapi, bakal ketahuan jelas bos itu adalah orang macam apa, bilamana lebih memilih pelamar yang modalnya hanya tubuh semlohai menggemaskan, ketimbang yang benar-benar kompeten dan sesuai kebutuhan perusahaan. Tindakan itu namanya apa, kalau bukan mengkondisikan perendahan perempuan? Bisa jadi para perempuan pun berlomba-lomba menampilkan keseksian, yang seringkali artifisial, dipaksakan, buatan, menghilangkan kecantikan alamiahnya.


Masih banyak sih, tapi mari kita akhiri saja sampai di sini.

Perempuan dengan segala kompleksitas, misteri, dan keindahannya. Bahan perbincangan dan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya. Makhluk yang kerap mendapat perlakuan merendahkan, karena saking tinggi kedudukan asalinya.

[]

Maaf

Di suatu sore, ayah saya pernah mengirimkan pesan singkat. Kata beliau, “Sebisa mungkin, lupakan kebaikan yang pernah kamu buat ke orang lain. Tapi jangan pernah lupakan kesalahan yang pernah kamu buat ke orang lain. Bukan cuma meminta maaf. Tapi maafkan.”
Perlu waktu bertahun-tahun untuk memahami itu. Sampai sekarang.

Beberapa hari yang lalu, film dokumenter The Look of Silence (yang diberi judul bahasa Indonesia Senyap) diputar pertama kali untuk umum di Jakarta. Film karya Joshua Oppenheimer ini merupakan sambungan dari film dokumenter The Act of Killing (Jagal). Kedua film masih bercerita tentang tragedi pembunuhan massal tahun 1965. Bedanya, tuturan bercerita Jagal membuat kita terbelalak dalam kemarahan. Sedangkan Senyap membuat kita terkesiap dalam kesunyian.

Seperti Fa pernah tulis tentang Senyap, film ini membuat kita menunduk. Seakan kita tiada artinya dibanding Adi, tokoh utama di film. Ia berani menemui langsung orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Selama itu pula terpendam rasa amarah, benci, yang semuanya terpampang nyata di layar. Dan semua perasaan itu tersirat dari setiap perubahan mimik muka, yang semakin membuat kita heran, bagaimana Adi bisa hidup selama ini? Bagaimana Adi bisa memaafkan?

Lalu ingatan saya kembali melayang ke beberapa film di masa lampau yang bercerita tentang kata “maaf”. Sebuah gambaran emosi yang sungguh susah digambarkan dalam bahasa visual. Tidak seperti jatuh cinta, kemarahan, kesedihan, rasa legowo untuk memaafkan kadang tak lebih dari sekedar kata-kata yang kita tonton.

Namun karya seni yang tak terlupakan adalah karya yang melampaui kesukaran. Tak banyak kata terucap dalam The Hours, namun kita tahu bahwa Ed Harris, Nicole Kidman, dan Julianne Moore akhirnya memaafkan orang lain dan diri mereka sendiri dengan cara yang tak lazim. Atas nama kebahagiaan, mereka melawan.
Demikian pula dengan seluruh film tentang almarhum Nelson Mandela, mulai Goodbye Bafana sampai Invictus sampai Mandela: Long Walk to Freedom.

The Hours. (Courtesy of: movpins.com)
The Hours. (Courtesy of: movpins.com)

Kita bisa berandai-andai bahwa ekspresi datar Anne Hathaway di telepon saat menceritakan kematian suaminya di Brokeback Mountain pada Heath Ledger adalah caranya memaafkan almarhum.
Senyum terkembang di bibir Rachel Maryam dan pandangan menerawang Jajang C. Noer di Eliana, Eliana adalah pertanda bahwa mereka telah berdamai dengan diri sendiri. Mereka sudah memaafkan satu sama lain dalam anggukan dan senyuman.
Kekerasan raut muka Tom Cruise melihat ayahnya yang terbaring tak berdaya di Magnolia membuat kita berpikir lagi tentang makna memaafkan.

Bukan perkara gampang untuk meminta maaf. Apalagi memaafkan. We’d rather swallow our pride than to be sorry and to forgive. Harga diri yang kadang-kadang suka berubah jadi ilusi, atau imajinasi. Seperti yang diuraikan dengan gemilang oleh Ian McEwan di novel “Atonement”, sebelum akhirnya dimainkan dengan sempurna di versi filmnya. Karakter Briony hidup dengan rasa salah tanpa bisa memaafkan seiring dengan berjalannya waktu. Masing-masing dari Saoirse Ronan, Romola Garai sampai Vanessa Redgrave membawa karakter Briony hidup dalam nelangsa tanpa bisa mengucap kata “maaf” atas khayalan mereka.

Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)
Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)

Kalau ada ungkapan bilang “time will heal”, mungkin tak akan ada lagi dokter dan psikolog di dunia ini. Time only makes us used to living with scars, but they will always remain. Waktu hanya akan membuat kita terbiasa, tanpa bisa menyembuhkan.

Sebelum kebablasan, akhirnya kita hanya bisa meresapi kembali apa yang almarhumah Yasmin Ahmad sampaikan di film terbaiknya, Muallaf.

Di salah satu adegan, saat sang adik hendak beranjak tidur, sang kakak bertanya, “Have you forgiven the people who have hurt you today?”

Santai Saja

Pertamax, Gan!

Bukan untuk membantu pemerintah mempromosikan bahan bakar nonsubsidi, ungkapan itu populer di semesta maya Nusantara sejak beberapa tahun terakhir sebagai ekspresi kebanggaan. Bangga, lantaran “berhasil” menjadi pemberi komentar pertama pada sebuah topik, mendahului ratusan atau ribuan respons lain. Walaupun sejatinya, “komentar” yang ditulis itu tidak menyampaikan apa-apa.

Memang, manusia adalah makhluk yang kompetitif. Punya kecenderungan untuk ingin selalu menjadi yang pertama. Sifat tersebut bahkan ditunjukkan secara alamiah sebelum terjadinya pembuahan, saat jutaan sel sperma mesti bersaing dulu-duluan berkontak dengan satu sel ovum. Sampai akhirnya menjadi bakal si jabang bayi.

Masih tentang keterciptaan serta keberlangsungan spesies kita, dan objek di selangkangan. Ada dugaan ilmiah bahwa manusia memiliki pelir berbentuk unik juga gara-gara alasan serupa. Jangan dikira adanya celah sambungan antara kepala dan batang cuma untuk mempermudah genggaman. Terdapat fungsi kompetitif dan praktis di balik kehadirannya. Agar menjadi pejantan pertama, yang jutaan sel spermanya bisa benar-benar bergerak efektif menuju calon pasangan.

Ketiga contoh di atas menggambarkan betapa pentingnya pencapaian manusia sebagai “yang pertama” terhadap keberadaan fisik, dan keberadaan sosialnya.

Faktanya, banyak orang di sekitar kita, karena gengsi dan didorong oleh ilusi harga diri, berusaha setengah mati untuk jadi “yang pertama” demi eksistensi. Kelihatannya sih gembira, entah apa yang mereka rasakan sebenarnya.

Misalnya, ada yang mbelani terbang ke luar negeri, untuk beli dan jadi pemilik iPhone 6 pertama di kotanya. Barangkali dia memang fanboy sejati, sehingga sudah tak sabar ingin menikmati semua fitur terbaru dari telepon genggam superpintar seharga satu unit motor bebek itu. Lain ceritanya kalau dia hanya pengin pamer kemampuan membeli, tapi ndak paham cara pakainya. Kasihan.

Ada yang girang luar biasa, jadi orang pertama yang berhasil membeli koleksi terbaru kaftan mahalan (apalah namanya itu) setelah fotonya diunggah ke Instagram. Barangkali dia memang perempuan dengan selera berbusana yang mumpuni, sehingga giat berburu kaftan berkualitas tinggi. Lain ceritanya kalau dia hanya ingin ikut-ikutan tren, supaya ikut terlihat happening saat sedang arisan bersama teman-teman. Norak.

Ada yang berusaha tetap bersikap rendah hati, setelah namanya dicatat besar-besar sebagai donatur pertama dalam acara malam amal prestisius di grand ballroom hotel berbintang. Sebuah acara mewah berkelas yang dihadiri para konglomerat, selebritis, dan pejabat tinggi. Barangkali dia memang orang kaya yang punya jiwa sosial tinggi, ingin membagi sedikit hartanya untuk membantu panti asuhan, dan sebagainya. Lain ceritanya kalau ternyata dia hanya berharap mendulang reputasi, pengakuan, dan predikat terpuji di mata orang lain. Pencitraan.

Pernah berhubungan dengan orang-orang seperti itu? Apakah Anda terusik? Apabila iya, mungkin Anda iri. Kalau tidak iri, barangkali Anda cuma kurang kerjaan, sampai bisa memerhatikan orang lain dengan porsi yang agak berlebihan. Soalnya, bagaimanapun juga, semua tindakan mereka itu tidak ada sangkut pautnya dengan Anda. Mereka berangkat ke luar negeri, membeli barang-barang supermahal, dan berdonasi dengan uang, tenaga, dan waktu mereka sendiri. Dan Anda bisa dengan mudahnya mlengos begitu saja sambil berseru “bodo amat, bukan urusan gue inih!

Toh kalaupun mereka melakukan semua itu untuk tujuan yang kurang tepat, ada risiko dan konsekuensi yang bakal mereka hadapi sendiri. Jangan lupa, semua orang dibekali kemampuan untuk belajar dari pengalaman.

Kucingnya orang.
Kucingnya orang.

Jika mereka terkesan berupaya setengah mati untuk menjadi “yang pertama”, biarlah itu menjadi urusan mereka saja. Kita tidak perlu ikut-ikutan ribet sok menasihati, sok cemburu, atau sok benar menyikapi tindakan mereka. Cukuplah bersikap cuek, dan kembali fokus pada apa yang sedang/harus kita lakukan. Masih banyak yang lebih penting untuk diselesaikan, ketimbang mengurusi orang lain.

Hal yang lebih penting tadi, termasuk menjaga diri kita agar jangan sampai–secara sadar atau tidak–ikut setengah mati ingin jadi “yang pertama” hanya gara-gara gengsi dan latah budaya.

Memutuskan nonton film tertentu biar terkesan update, padahal waktu nonton bosannya ndak karu-karuan. Tapi kemudian sok yakin menjelaskan nilai moral, sinematografi, serta interpretasi pribadi. Nekat pesan espresso saat mengunjungi kafe baru, lalu menyumpah dalam hati “sudah isinya sedikit, mahal, pahit lagi!” Tapi kemudian memproklamasikan diri sebagai pecinta kopi asli, bukan produk pasaran. Minta diundang ke pagelaran busana haute couture. Padahal boro-boro jadi buyer, isi kepala saja blank sepanjang acara. Datang ke pameran seni, hanya untuk foto selfie di depan karya-karya yang ada, meski ndak paham dengan apa yang dipamerkan. Tapi kemudian mengaku hipster, sebagai generasi dengan hobi baru yang belum lazim selama ini. Serta masih banyak bentuk-bentuk kelatahan yang melelahkan lainnya.

Lagipula, nyari apa sih dengan menjadi “yang pertama”? Kenapa ndak sekalian aja ngejar jadi “yang pertama” menghadap ke yang mahakuasa? Biar snobbish-nya lebih istimewa.

[]

Berani?

Apa artinya bertindak baik kepada diri sendiri, tanpa bertindak baik kepada orang lain. Lalu, akan sangat naif dan bodoh bila bertindak baik kepada orang lain, tetapi tidak diimbangi dengan bertindak baik kepada diri sendiri.

Mau yang mana? Kalau kata guru BP dan PPKn sih harus dijalankan dua-duanya.

Bisa? Barangkali. Entahlah.


Apakah saya orang baik? Mungkin, bagi beberapa orang. Tidak sedikit pula yang beranggapan sebaliknya.

Penilaian kedua dihasilkan dari beragam penyebab dan alasan. Toh, saya memang bukan manusia bebas cela. Sebab bahkan pada kenyataannya, saya masih bisa menyakiti hati orang yang mencintai saya. Telanjur menyakiti, walaupun niatnya bukan menjahati.

Sejauh ini, saya merasa wajar-wajar saja ketika dicap sebagai orang yang tidak baik. Soalnya, saya belum tidak mampu sesuci Gandhi, nabi, atau siapapun figur yang dikultuskan hingga kini. Sebuah realitas, tidak ada orang yang tingkah lakunya sempurna. Bukan lantaran pikiran, perbuatan, dan ucapan yang jahat, melainkan karena pandangan dan penerimaan yang tak sepakat.

Selajur dengan itu, monggo dilihat latar belakangnya. Apakah tindakan yang dilakukan memang bertujuan untuk membuat orang lain sakit hati, ataukah hanya kepengin jujur dan enggak sudi membohongi diri sendiri?

Tidak berbohong. Itu perbuatan baik. Bersikap jujur. Itu juga perbuatan baik. Tapi keduanya kerap bermuara pada ujung yang terpisah jauh.

Kejujuran sejatinya sering terasa pahit dan menyakitkan. Memerlukan kesiapan dan keberanian untuk disampaikan. Namun bagaimanapun juga, kejujuran adalah kejujuran; menyingkap kebenaran. Sehingga, silakan dipilih. Mau bertindak baik dengan jujur, atau bersikap baik dengan menghindarkan orang lain dari perasaan sakit hati.

Jika mengambil pilihan kedua atas nama kehidupan sosial, rasa sungkan dan kasih sayang, memang tidak perlu melakukan tindakan buruk dengan berdusta. Cukup bungkam saja. Menjawab pertanyaan dengan diam, ataupun dengan senyuman. Meskipun demikian, tetap ada risikonya. Mulut yang terkatup rapat malah menimbulkan prasangka dan salah paham. Lebih runyam dampaknya apabila dibiarkan. Lagi-lagi, pada akhirnya masalah membutuhkan penjelasan.

Mungkin Anda pernah mengalami kondisi serupa, tapi dengan hasil akhir yang tak sama. Wajar saja, setiap orang yang menghadapinya berhak mengambil keputusan lewat pertimbangan berbeda-beda. Dalam perkara ini, orang lain hanya muncul dan memberikan suara. Itu saja peran mereka. Karena selain tuhan, setiap orang adalah pemilik, penanggung jawab, dan penentu arah kehidupannya masing-masing.


Jadi, setelah siap menerima kejujuran orang lain, sudah berani jujur pada diri sendiri?

[]

“Ini Bukan Ngomongin TV yang Sembiring Lho …”

… tapi tulisan ini ngomongin TV yang merupakan singkatan dari “televisi”.
Gak punya TV? Tapi punya komputer atau laptop ‘kan?

Soalnya jaman sekarang, kita yang bisa baca blog ini gak perlu TV beneran buat nonton acara TV. Kehadiran layar TV bisa diganti dengan laptop.
Yang penting adalah ada koneksi internet untuk mengunggah atau download serial TV, dan harddisk untuk menyimpan file hasil download serial TV itu.

Gak percaya?

Gak perlu jauh-jauh kalo masih in denial.
Buka Twitter atau Path atau socmed yang Anda buka setiap 2 jam sekali.
Pasti komentar-komentar seperti ini sering kita jumpai:

“Perhatian! “Game of Thrones” episode 2 season 4 sudah tersedia di lapak terdekat.” (Lapak artinya situs buat download torrent episode yang dimaksud. Apa itu torrent? Tanya ke yang bikin status itu aja.)

“Payah nih. “Suits” kok cepet banget sih abisnya season ini? Gak ada tujuan hidup lagi sekarang.” (Gak usah keburu bersimpati. Udah move on kok 6 jam kemudian karena dapet serial lain.)

“Aduh, mas Harry! Mas Harry! Bikin menggelepar ini. Pengen lari-lari ke pantai ama mas Harry!” (Sempet kepikir, perempuan-perempuan ini kok ya segitu ngefans ama Harry tetangga saya. Kenal juga enggak. Ternyata ini nama karakter di serial “Mistresses” yang hobinya gak pake baju.)

Berbagai celetukan di atas ini semakin memperkuat banyak pendapat analis, kritikus sampai pelaku bisnis TV di luar Indonesia tentang masa keemasan program televisi yang kita alami saat ini.
Rata-rata memuji tentang kekayaan cerita dan karakter di serial-serial TV yang njelimet, gak plek-plek baik terus, bisa berbuat jahat untuk kebaikan (anti-hero complex), dan yang jelas, bikin kita betah dan penasaran untuk mengikuti setiap episode.
Malah ada tulisan James Wolcott dua tahun lalu di Vanity Fair yang terang-terangan bilang kalo “TV is Better Than Movies”.

Oh, really?

Mari kita kesampingkan sejenak perdebatan tak kunjung habis itu.

Mari kita ketemu Wawa, teman nonton di bioskop dulu, jaman masih agak mudaan.

Setiap kali ketemu yang cuma setahun sekali, kita sering ngobrol ngalor-ngidul, dan salah satunya saling update tentang film terakhir yang ditonton.
Kebetulan karena tempat tinggal saya dekat dengan bioskop. Tinggal jalan kaki 10 menit, maka saya masih bisa menyempatkan diri untuk nonton film-film terbaru.

“Kalo elo, Wa?”

“Udah gak inget, Val. Udah lama banget.”

“Oh, gitu. Kalo TV series, Wa?”

Tiba-tiba mukanya cerah ceria, sumringah luar biasa.

“Iya, Val! Gue ngikutin “Breaking Bad” kemarin. Wah, edan! Seru banget. Trus “24” yang baru juga seru. Kadang nemenin Nisa (istrinya) nonton drama-drama kayak “Downton Abbey” gitu, eh malah gue ketagihan juga nontonnya. Hahaha.”

“Hah? Busyet. Elo jadi suka nonton serial gitu, Wa?”

“Soalnya anak gue ‘kan masih kecil. Di rumah gak ada pembantu, jadi abis kerja ya langsung pulang ke rumah bantuin istri. Makin males pergi-pergi ke luar. Apalagi kalo hujan, macet. Dan mahal.”

Deg.
Kalau sudah menyangkut masalah uang dan waktu, pemikirannya jadi lain nih.
Lalu saya iseng berhitung a la kadarnya.
Lokasi bioskop kebanyakan ada di dalam mal atau pusat perbelanjaan. Masuk ke mal, perlu parkir. Perlu waktu untuk cari spot dan keluar dari parkiran pas pulang lalu perlu uang untuk bayar parkir.
Mumpung di mal, sekalian belanja yang perlu dibeli, kalau emang perlu dan belum ngomongin belanjaan lain hasil kalap mata, atau sekedar hangout.
Harga tiket film di bioskop 50 ribu buat satu orang. Satu keluarga 200 ribu. Parkir bisa 20 ribu, belanja dan lain-lain bisa 1 juta.
Waktu nonton satu film 2-3 jam, ditambah cari parkir dan keluar dari tempat parkir 30 menit, lalu waktu untuk belanja ditambah 2-3 jam lagi. Itu belum kalo kena macet.

Sementara televisi?
Anda mau mandi atau gak mandi, bebas.
Tinggal pake kaos longgar, celana pendek, cemilan satu keranjang, colokin external harddisk ke TV, beres. Kapan aja mau marathon serial, bebas.
Dan bisa nyalain smartphone secara bebas, buat update reaksi per episode, atau sekedar pamer.
“Aduh, besok pagi-pagi meeting, tapi gimana ini, tanggung banget “House of Cards” gak bisa berhenti!”
Lumayan, dapet icon ketawa dan lope-lope dari temen-temen di Path.

Tapi lebih dari sekedar update status di jaringan media sosial, ketergantungan kita dengan smartphone dilirik dengan cantik oleh Hollywood. Lihat saja akun twitter @ScandalABC atau @AskScandal.
Setiap episode serial “Scandal” ini ditayangkan pertama kali di Amerika Serikat, maka seluruh aktor dan aktris yang terlibat di episode itu akan berinteraksi langsung dengan pengguna Twitter.
Apa yang dibahas? Setiap dialog di setiap adegan. Kedua akun itu pun menyebutkan merek baju dan aksesoris yang dipakai. Spoiler pun dibahas terang-terangan.
Gak mau dengerin spoiler? Mereka pun kasih peringatan. “Stay off Twitter now!”
Tapi ya namanya juga manusia, makin dilarang, makin penasaran. Tetep aja serial ini jadi salah satu serial paling banyak ditonton dan direkam di Amerika Serikat tahun lalu.

Sementara itu, di perhelatan Emmy Awards minggu lalu, saya tergelitik dengan monolog pembawa acaranya, Seth Meyers. Ini katanya:

“That’s what I love about television. She doesn’t play hard to get. She doesn’t demand your full attention. Television has always been the booty-call friend of entertainment. You don’t have to ask TV ‘you up?’ TV is always up. She’ll happily entertain you while you cook dinner or wrap your Christmas presents. She’s not like that high-maintenance diva movies who expects you to put on pants and drive all the way over to her house and buy $40 worth of soda. So thanks anyways, movies, but I’m sticking with TV.”

 

Dear Seth, can we stick to both?

Because we actually can.