Akhirnya Pulang

(malam ke-28, Ramadan 1420 H)

“Kamu belum tidur?”

Andi mengadahkan kepalanya, lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Tanggung, sekalian kelarin unpacking ini. Kopernya ‘kan mau dipakai lagi lusa.”

Ali mengangguk kecil. Dia tersenyum. Bisa dibilang ini senyuman penuh kelegaan. Setelah dua tahun, akhirnya anak bungsunya mau merayakan Idul Fitri di hari pertama bersama-sama, bukan di beberapa hari setelahnya, seperti beberapa tahun terakhir ini.

Ali membuka pintu kamar anaknya lebih lebar.

“Ayah boleh masuk?”

Andi mengangguk.

Ali duduk di kasur anaknya, sambil merapikan baju-baju dari koper Andi.

“Tumben bawaan kamu agak banyak kali ini. Biasanya satu koper kecil juga masih ada sisa. Apa ini terusan kemarin kamu pergi kerjaan itu?”

“Iya. Sekalian aja, jadi gak perlu unpack lagi, terus packing lagi. Malah lebih capek.”

“Apa kamu gak perlu pulang ke rumahmu dulu?”

Deg. Andi terdiam sejenak. Oh God, don’t go there.

“Enggak, Yah. Nanti saja.”

Ali mengangguk kecil sambil menghela nafas, dan memaksakan tersenyum. Lalu dia melihat sekeliling kamar Andi. Lebih tepatnya, yang dulu menjadi kamar Andi. Sekarang kamar ini menjadi tempat penyimpanan barang sementara, terutama barang-barang milik almarhumah istri Ali yang masih sayang untuk dibuang.

“Kamu nggak papa ‘kan, kamar kamu jadi tempat Papa taruh barang-barang Mama kamu?”

Andi tersenyum. “Ya nggak papa lah, Yah. Daripada kamar ini nggak dipakai sama sekali. Lagian barang-barang almarhumah Mama ternyata banyak juga, ya.”

Almarhumah Mama. Dua kata yang buat Ali masih belum biasa buat diterima, meskipun sudah lebih dari lima tahun. Tapi jangan permasalahkan ini sekarang, ujar Ali dalam hati.

Andi melihat sekeliling kamarnya. Lalu dia melihat ke sebuah pigura foto di meja tulis. Foto hitam putih dalam pigura kecil warna coklat. Tertulis di bawah foto itu, “Ali & Nana, Auckland, 1973.” Andi berdiri dan mengambil foto itu.

“Aku kok gak pernah lihat foto ini ya, Yah.”

Andi menyerahkan foto itu ke ayahnya. Ali melihat dan tertawa kecil. “Ini waktu liburan musim panas. Ayah baru kenal Mama kamu di sana. Biasa, kalau di luar negeri, radar kita pasti tahu kalau ada orang Indonesia lain. Apalagi waktu jaman itu ‘kan.”

“Ayah, I have to say, you two really looked cool back then.”

Ali tertawa. “Ya kalau masih muda, bolehlah keliatan cool. Kalau sudah tua, mau keliatan cool malah kayak cool-kas nanti.”

“Idih, Ayah apaan sih garingnya.”

Ali masih tertawa.

Andi ikut tertawa, sebelum sengaja batuk kecil. “Yah, umm … Can I ask you something?”

Ali berhenti tertawa. “Apa, Ndi?”

How are you?”

Ali terdiam sejenak, sebelum berkata, “Ayah baik-baik saja, Ndi.”

I mean … Do you miss her?”

Ali tersenyum. “Ayah selalu kangen, rindu sama Mama kamu, Ndi.”

Andi mengangguk, tersenyum, memikirkan apa yang harus ditanyakan, sebelum akhirnya dia bertanya, “Boleh tahu, apa yang Ayah paling kangenin dari almarhumah Mama?”

Kali ini Ali diam lebih lama. Kepalanya sedikit menengadah ke atas, melihat langit-langit kamar.

tiger-hill

“Semuanya, Ndi. Ayah kangen masakan Mama kamu, ayah rindu jadi imam buat sholat bareng sama mama kamu, ayah juga kangen jalan-jalan sama mama kamu kalau lihat album-album foto lama. Tapi dari semua itu, ayah kangen pulang ke rumah. Ayah kangen ada orang di rumah saat ayah pulang dari masjid atau dari toko. Ayah juga kangen menunggu mama kamu datang dari pasar, dari pengajian, dari arisan. Itu, Ndi.”

Andi tercenung. Tanpa disadari tangannya mencengkeram kursi di meja tulis erat-erat. Ingatannya melayang ke beberapa hari sebelum dia melakukan work trip, di saat dia memilih pergi dari rumahnya daripada harus berkonfrontasi.

That’s nice. That’s nice, Yah. Tapi … apa Ayah pernah bosan di rumah dengan almarhumah Mama? Sorry Yah, but I mean … don’t you guys ever have a fight, or something?”

Ali tersenyum. “Ingat, Ndi, dulu kita beberapa kali pergi berdua, tanpa kakak-kakakmu, kita pergi ke taman bermain? Lalu setelah pulang, ayah selalu belikan buku baru buat kamu, supaya kamu bisa baca di mobil atau di masjid, sementara ayah pergi sebentar?”

Andi mengangguk.

“Saat kamu di mobil atau di masjid itu, ayah biasanya pergi sejenak. Makan sendiri di restoran. Duduk di taman. Ayah perlu waktu sendirian. Terutama kalau setelah ayah beradu argumen dengan mama kamu. Ayah tulis semua kekesalan ayah dengan mama kamu. Tapi ayah tetapkan waktu tidak mau berlama-lama. Ayah tahu kamu biasanya selesai membaca dalam waktu setengah jam, jadi ayah harus selesai menulis semua kekesalan ayah dalam waktu setengah jam juga. Tidak gampang, Ndi, di awalnya. Lama-lama jadi kebiasaan juga. Lama-lama juga, ayah dan mama kamu sudah bisa mengendalikan emosi. Perlu waktu, memang. Dan kamu tahu kenapa ayah cuma punya waktu setengah jam menulis semua kekesalan itu?”

Well, you needed to return me home ‘kan, yah?”

“Dan ayah perlu pulang juga. Sebesar-besarnya ayah dan mama kamu cekcok, ayah dan mama selalu pulang ke rumah. Kalau masih marah, sebisa mungkin ditahan dulu. Ayah dan mama dulu sepakat, kalau masih marah, bisa dilanjutkan besok. Malamnya harus tidur bersama, dan tidak membawa kemarahan ke atas kasur. Tidurnya nggak tenang. Baru setelah bangun esok pagi, ada energi baru. Kalau masih marah, boleh dilanjutkan, selama nggak lebih dari 3 hari. Kalau malas dilanjutkan, toh masih banyak yang harus dikerjakan.”

Andi hanya mengangguk.

“Ndi, kalau ada orang yang menunggu kita pulang ke rumah, artinya kita masih dibutuhkan dan diperlukan keberadaan kita. Kalau kita berada di rumah menunggu orang pulang, artinya kita masih punya sesuatu yang diharapkan atau dituju. Atau di istilah yang pernah ayah baca, something to look forward to each and every day. Kesempatan ini ternyata tidak selalu ada, Ndi. Kalau ada, jangan sampai disia-siakan. Kalau belum ada, kamu harus tetap percaya kalau kamu akan punya kesempatan ini, Ndi.”

Andi terdiam. Matanya mulai berat menahan luapan emosi.

Ali menghela nafas panjang. Lalu dia berdiri.

“Ayah tidur dulu ya, Ndi. Besok masih sahur.”

Andi mengangguk, menutup pintu. Dia duduk di atas kursi dekat meja tulis. Tangannya mengusap-usap bagian atas bibir, sambil berpikir.

Andi mengeluarkan ponsel yang telah selesai di-charge. Dia mulai mengetik.

I am sorry. Can I still come home to you?”

Andi menekan tombol Send. Andi menghela nafas panjang, lalu menutup muka dengan kedua tangannya.

Lima menit kemudian, ponsel bergetar. Andi melirik ke notifikasi di layar ponsel.

Andi tersenyum.

 

Returning-Home

Advertisements

Karena Kita Perlu Rumah

Kalau memang kita menganggap pasangan kita sebagai rumah, a home, maka:

• kita perlu waktu untuk mencari tempat calon rumah tersebut. Tidak bisa memilih sembarang lokasi. Demikian pula dengan calon pasangan sebagai rumah kita. Kadang ada yang bisa mendapatkannya secara cepat dalam sekejap, didorong oleh intuisi, kadang ada yang perlu waktu lama. Dan yang penting: saling cocok. Sama-sama available, and willing.

• Begitu dapat lokasi, maka kita perlu waktu lagi untuk membangun fisik bangunan rumah tersebut. Ada yang berbentuk rumah sederhana, rumah mewah, apartemen tipe studio, dan beragam jenis bangunan lainnya. Demikian pula dengan hubungan inter personal kita. Saat memutuskan untuk menjalin hubungan, maka di situlah pondasi awal mulai dibangun. Kalau masih terasa kosong, mari kita isi dengan usaha mengenali satu sama lain. Kalau masih terbuai di awang-awang, ibarat sejuta rencana dan ide tentang rumah yang belum jadi, maka kita mau tak mau terjungkal ke tanah saat melihat budget dan progress pengerjaan rumah.

keyhole-tomas-castelazo

• Sambil menunggu bangunan rumah selesai, kita masih mencicil pembayaran, dan mengurus semua keperluan administrasi rumah. Proses yang sepertinya tak pernah berhenti, dan mungkin tak akan pernah terhenti. Demikian juga mengenali keluarganya, teman-teman dekatnya, yang selalu berubah dan berevolusi, baik dari tingkah laku, pemikiran, dan untuk urusan teman, mungkin juga pergantian teman, seiring dengan berjalannya waktu.

• Saat rumah selesai, maka kini perlu mengisinya. Tak perlu buru-buru, yang penting sudah direncanakan dengan matang. Tak perlu buru-buru membombardir isi hati dan pikirannya dengan hal-hal yang kita sukai dan kita benci. Pelan-pelan saja. Let the other party start picking up. Lalu menemukan hal-hal lain yang disuka dan dibenci bersama.

• Saat rumah sudah terisi, kita tetap harus merawatnya dengan baik. Membersihkan secara rutin, merenovasi secara berkala. Merawat diri dan pikiran kita agar kita betah sama diri kita dulu sebelum pasangan kita juga betah. Mengganti barang yang sudah usang. Mengganti hobi dan kesukaan yang sudah lama tidak dilakukan, sambil mencari hal baru yang bisa dilakukan bersama.

• Kadang kita bosan dengan rumah kita sendiri. Saatnya pergi sejenak. Kadang kita perlu waktu sendiri, agar saat kita kembali, kita bisa lebih menghargai kebersamaan yang ada. Maka kita pun pergi untuk kembali.

• Mungkin kita perlu waktu lebih lama untuk kembali. Bisa jadi sangat lama. Mungkin rumah sudah terlalu rusak untuk diperbaiki. Biayanya sudah tidak masuk akal lagi. Sometimes the cost of fixing a relationship is too great to bear.

• Ada kalanya rumah kita jauh lebih baik saat ditempati dan dirawat oleh orang lain. Maka pelan-pelan kita belajar untuk melepaskannya.

• Kita pun mencari rumah baru, yang berbeda dengan rumah yang lama. Tak perlu disamakan, dan tak perlu berharap akan menjalani kehidupan yang sama. Toh umur kita sudah tidak sama lagi. Kalau kita tidak bisa menjadi lebih dewasa, paling tidak pengalaman hidup kita sudah bertambah, sehingga bisa jadi pegangan.

Sometimes, it takes a lifetime to build a home.

10-18-2-19-0-36-25m
(Source: artpal.com)

Katanya “I Travel Because I Have to, I Come Back Because I Love You”

Judul tulisan di atas adalah judul film dari Brazil produksi tahun 2009 karya Marcelo Gomes dan Karim Ainouz. Menurut saya, ini salah satu judul paling romantis yang pernah dibuat untuk sebuah produksi film.

Apakah filmnya romantis? Well, kalau Anda tidak terbiasa menonton film-film arthouse yang serius, pasti penasaran ingin menekan tombol fast forward di sebagian besar adegan.
Namun paling tidak, judul filmnya sendiri sudah mengundang rasa penasaran kita.
Terutama bagi mereka yang sering bepergian.

Anda pernah nonton film Up In the Air?
Film ini menceritakan pengalaman George Clooney sebagai seorang eksekutif profesional yang bertugas menyampaikan langsung penghentian kerja kepada karyawan yang terkena PHK tersebut. Pekerjaannya membuat tokoh ini harus bepergian lebih dari 300 hari dalam setahun. Hampir tidak pernah ada di rumah, bahkan mulai mengaburkan konsep rumah sebagai tempat tinggal.

Toh dia lebih sering menghabiskan waktu di pesawat dan di hotel. Di beberapa adegan kita melihat apartemennya nyaris kosong, hanya ada beberapa perabotan seadanya. Makanya tokoh ini tidak pernah betah saat dia lagi “off days”. Ada rasa kecanduan tertentu yang dia dapatkan saat bepergian.

tumblr_nuc4frLsPx1ubc3b0o4_500

Saya yakin Anda kenal atau punya beberapa teman atau saudara dengan aktivitas bepergian seperti ini. Atau mungkin Anda sendiri yang menjalaninya?

Kebetulan beberapa teman dekat saya menjalani kehidupan seperti ini. Demi urusan pekerjaan, bukan sekedar update akun media sosial, mereka sering bepergian, baik ke luar kota, luar pulau, atau luar negara.

Ada yang lajang, ada yang sudah berpasangan, ada yang menikah. Tentu saja perspektif mereka tentang “pulang” berbeda satu sama lain.

Teman saya yang lajang bilang, “Kayak semacam ada hollow gap yang gak bisa gue jelaskan tiap kali gue pulang bepergian. Mungkin karena gue pulang ke apartemen gue yang kosong karena tinggal sendiri. Udahlah tinggal sendiri, pulang pasti apartemen jadi pengap karena berhari-hari ketutup dan listrik dimatiin ‘kan. Jadi kayak makin males untuk pulang.”

Sementara teman-teman yang berpasangan atau menikah kurang lebih memiliki pandangan yang sama.

“Pulang, karena ada yang nungguin. Ada yang nanyain kapan pulang.”

“Ada yang ngangenin.”

“Bener. Ada yang gak bisa tidur, sampe harus naruh kaos gue di bawah bantal.”

“Persis kayak anak gue. Tiap hari harus nonton video gue ama dia supaya dia bisa tidur.”

“Ya kayak gitu yang akhirnya bikin kita harus pulang. Rutinitas kecil yang gak bisa gue tinggal.”

“Bisa sih elo tinggal, tapi apa elo mau? Itu kan masalahnya?”

“He eh. I mean, it’s nice to have a break, traveling to other places, dikelilingi suasana baru, pengalaman baru …”

” … Selingan baru, bro?”

“Heh! Hahahaha. Well, anyway …”

” … Hahaha …”

“Pada akhirnya ada semacam kekuatan yang menarik diri elo untuk gak berlama-lama pergi. Call it attachment or whatever ya, saat elo sudah memutuskan untuk commit to a life with the one or the ones you love, tanpa ada paksaan elo akan kembali. Pada akhirnya, elo kangen rutinitas hidup elo yang elo biasa jalani, yang elo tahu, yang elo hapal di luar kepala.”

Teman saya yang lain mengangguk.

IMG_20180710_104418_1

Rutinitas. Ternyata ini juga yang diamini teman saya yang lajang. Tentu saja rutinitas yang berbeda.

“Gue kan cenderung jadi light traveler minimalis borderline pemalas ya kalo bepergian. Hahahaha. Jadi ya gak gue bawa lah segala macem sepatu lari dan peralatan olahraga lainnya. Makanya gue selalu look forward to doing my usual activities lagi kalo pulang dari bepergian. Lari pagi keliling kompleks dua hari sekali. Kelas-kelas di gym every other day juga. Yoga pas weekend sebelum ketemu ponakan-ponakan gue. I always miss those routines. Ternyata kita orangnya gak bisa lepas dari rutinitas ya? I mean, no matter how far and free we go, we miss that orderly life. Oh, satu lagi ding. Makanan Indonesia, maaan! Segala macem ghoulash atau steak paling enak, gak ada yang ngalahin nasi Padang bungkusan! Beneran. I love it! I can marry nasi Padang so I can always come back to the one I love. Hahahaha!”

Saya ikut tertawa.
Sambil diam-diam berpikir, apa yang sudah kita cintai sampai membuat kita selalu ingin kembali?

IMG_20180707_103029

Masakan Ibu

Apa masakan buatan Ibu yang paling Anda sukai?
Kalau pertanyaan ini ditujukan balik ke saya, jawabnya sudah pasti adalah kacang pedas.
Kacang pedas ini bisa ditemukan di mana saja. Pada dasarnya ini adalah kacang tanah yang dijemur, lalu digoreng bersama kulitnya sampai kecoklatan, dan dilumuri adonan bumbu pedas berikut potongan cabe. Tentu saja lebih sedap disajikan ketika panas. Apalagi bersama nasi putih. Meskipun begitu, disantap waktu sudah dingin pun terbukti masih enak. Waktu itu pernah ibu saya membawakan kacang pedas ini ketika mengunjungi saya di luar negeri. Kacangnya tentu saja dibungkus plastik. Ketika saya melihat bungkusan plastik di meja kamar hotel, langsung saya makan sambil mengobrol. Berbungkus-bungkus plastik itu langsung habis dalam waktu singkat. Saking enaknya, saya sampai ketiduran setelah selesai makan. Ibu saya membangunkan beberapa jam kemudian. Saya menyesal karena janji mengajak jalan-jalan terpaksa batal, karena sudah larut malam. Ibu saya tidak keberatan. Dia bilang lebih senang melihat anaknya makan lahap di depan orang tua.

mom-cooking

Kacang pedas ini sudah jarang ibu buat lagi. Alasan ibu, capek mengulek sambelnya. Alasan lain, karena faktor kesehatan saya, yang harus mengurangi makanan berprotein tinggi seperti kacang. Tapi dia tetap memasak makanan lain ketika saya pulang ke rumah. Dan selayaknya ibu-ibu lain, tetap sebal kalau melihat anaknya suka jajan di luar. “Udah capek-capek dimasakin, masak gak dimakan?” Sepertinya ini senjata pamungkas setiap ibu supaya kita makan di rumah, ya? Akhirnya jalan tengah kami ambil: kalau mau makan di luar, harus kasih tahu di pagi hari. Ibu juga maklum, ketika anaknya pulang, pasti ada keinginan untuk mencicipi makanan-makanan di luar. Apalagi kalau ada restoran atau tempat makan baru yang belum pernah dicoba. Tapi toh, hasilnya tetap saja. Ketika bangun tidur, dan mau pergi tidur, yang dituju adalah kulkas atau meja makan di rumah. Tentu saja sambil bertanya dengan mata berat, “Ada makanan apa?”

family-stove-clip-art-15

Saya jadi ingat sebuah iklan penyedap makanan yang menampilkan kisah anak perempuan yang rindu masakan ibunya. Masakan-masakan yang ditampilkan kebanyakan “biasa saja”, tipikal makanan rumah. Semua punya pesan yang sama, yaitu ketika mencicipi makanan tertentu (yang sudah dibumbui penyedap rasa itu tentunya), maka mereka akan teringat ibu dan rumah mereka.
Iklan ini, meskipun terasa panjang, cukup berhasil. Meskipun begitu, menurut saya, ada pesan lain yang tak tersampaikan di situ.

Makanan apapun yang dibuat oleh ibu kita, pasti terasa enak.

Saya percaya, ada banyak sense of determination dari ibu yang memasakkan makanan untuk anaknya, sesimpel apapun itu.
Saya percaya, ada rasa menghormati ibu ketika kita mulai menikmati masakan ibu, terlebih di depannya.
Saya percaya, tidak ada ibu yang tidak bisa memasak. Sense of urgency often beats the most impossible thing.
Terlebih lagi, apapun yang disajikan dengan hati, meskipun sesederhana mungkin, rasanya pasti akan terserap dengan baik.

cooking-clipart-black-and-white-cg_cooking

Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa. Tapi dia punya beberapa kesibukan untuk menopang ekonomi keluarga. Selain punya kos-kosan, dia juga berdagang batik. Kadang ibu saya harus menempuh perjalanan jauh berjam-jam untuk kulakan batik. Kadang harus menginap di rumah saudara kalau sudah terlalu malam. Seringkali ibu meninggalkan saya di rumah dengan makanan a la kadarnya. Selama nasi putih cukup untuk dua hari, lauknya bisa cukup abon, atau telur dadar yang dibuat sendiri. Kacang pedas itu pun dibuat tanpa sengaja di kala senggang. Namun entah mengapa itu menjadi makanan kesukaan saya. Meskipun begitu, kalau beliau lebih sering memasakkan saya nasi goreng, pasti saya akan bilang kalau makanan favorit saya adalah nasi goreng buatan ibu.

Saya tidak bisa recreate semua masakan ibu saya. Kebetulan tangan ini bukan tangan yang cekatan untuk urusan dapur. Jadi saya belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, apa masakan favorit ibu saya.

Kalau Anda?

Home, Not a House. Rumah, Bukan Tempat Tinggal.

Sebagian dari pembaca hari ini pasti pernah menonton serial “Sex and the City”. Serial ini banyak menampilkan quote-worthy dialogue yang diucapkan salah satu dari empat pemain utamanya. Dari sekian banyak dialog, ada satu yang paling saya ingat sampai sekarang.

Di episode ini, Miranda (Cynthia Nixon) sedang berdiri di atas kapal ferry yang mengantarnya pulang ke Manhattan dari Staten Island. Sambil bersandar di pegangan kapal, dia berkata sambil menerawang,

“Who woulda thought that an island that tiny, would be big enough to hold all our boyfriends?”

Dialog ini masih membuat saya tersenyum sampai sekarang. Padahal episode ini ditayangkan pertama kali sekitar tahun 2001-2002. Relevansinya masih terasa sampai sekarang.

Kadang-kadang, saya harus mencari email lama di mailbox yang saya lupa subject atau bahkan pengirimnya siapa. Saat saya cari dengan kata kunci yang sederhana, misalnya, “rekomendasi galeri di Singapura”, eh muncul juga email-email dengan mantan tentang hal ini saat mau pergi bersama. Munculnya bersamaan dengan email-email lainnya yang justru lebih dicari. Di situ suka merasa takjub, bagaimana mungkin satu alamat surat bisa menyimpan begitu banyak informasi dan memori?

Demikian pula dengan saat reuni sekolah, atau kampus, atau institusi lain yang pernah kita tempati selama beberapa waktu. Ketika kita sudah lama meninggalkan tempat-tempat tersebut, kita hanya bisa mengenang dengan penuh keheranan bahwa, “how can one place hold so much memory?

Jawabannya, tentu saja, adalah … It’s not where you live. It’s how and what you do about it.

(Taken by yours truly)
(Taken by yours truly)

Kalau kita datang ke perkumpulan teman-teman atau kolega-kolega lama, tentu saja kita tidak akan membicarakan saat-saat melakukan upacara bendera, ulangan umum, atau belajar bersama. Yang kita bicarakan adalah hal ringan seperti waktu siapa lagi jatuh cinta sama siapa, pergi naik gunung bersama, atau menempuh perjalanan jauh demi ikut lomba matematika tingkat propinsi. Bisa saja ‘kan? Hal-hal rutin yang membuat kita menjalani hari akan hilang dari ingatan. Tapi hal-hal luar biasa yang membuat hari-hari kita istimewa akan selalu lekat di ingatan.

Tulisan hari ini mungkin lebih singkat dari tulisan biasanya. Tapi berbicara tentang tempat yang pernah kita singgahi, mau tidak mau saya terpapar juga dengan fakta bahwa sebentar lagi, negara Indonesia akan merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-70.
Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah jadi rumah buat kita? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Apalagi dengan serentetan krisis belakangan ini. Dan setiap orang punya jawaban berbeda. Ada yang menjadikannya rumah lebih dari 70 tahun, ada juga yang menolak menjadikan Indonesia sebagai rumah.

Buat saya, Indonesia belum jadi rumah. Perjalanan saya di sini mengukir kenangan dan pencapaian belum selesai. A house may be completed, but a home is always a work in progress. Banyak hal-hal di Indonesia yang membuat saya belum “sreg”, tapi ketidaksempurnaannya membuat saya memilih untuk menetap di sini, dan meninggalkan rumah yang lama for good.

(Still taken by yours truly)
(Still taken by yours truly)

Jadi, ketika kita melihat dari atas langit saat pesawat kita akan turun di landasan, di manapun itu, mungkin kita bisa bertanya dalam hati, “is this a home for me?

Because everything begins at home.