A Hug a Day Keeps the Doctor Away

Ndak mungkin kalau saya bilang bahwa ngewek sebaiknya jadi corporate culture perusahaan di Indonesia. Paling pol ya saya akan berujar bahwa pelukan adalah sesuatu yang baik, dan seharusnya menjadi budaya kerja perusahaan. “Kenapa ndak dijadikan kultur keluarga saja?” Otentuiya! Ciri khas Teletubbies berkomunikasi adalah cara terbaik keluarga dalam berinteraksi. Itu mah wajib atuh.

Beberapa minggu yang lalu saya menyempatkan diri makan siang bersama OB kantor. Benar-benar makan siang bersama. Mengajak sejak jam 11.45 wib hingga kembali ke kantor satu jam berikutnya. Bukan sekadar kebetulan bertemu di warung makan yang sama. Namun pertemuan di meja makan yang direncanakan. Sebetulnya bukan hanya OB karena OB perempuan turut serta. Makan siangnya pun biasa saja: soto padang dan semesta printilannya.

Dalam perjamuan makan siang tersebut, saya berusaha mengenal setiap rekan makan saya. Salah satunya, OB perempuan yang paling muda. Sebut saja namanya Siti. Dia kelahiran tahun 1994.  Sudah punya anak satu. Usianya setahun. Menjadi OB perempuan karena terpaksa. Lulus SMA dia lanjutkan kuliah. Bukannya tugas kampus yang menjadi fokusnya, Siti lebih menyukai berpacaran. Saking getolnya pacaran, akhirnya berbuah manis. Dia terlambat datang bulan untuk kesekian bulan.

Si Pria, bukan teman kuliahnya. Namun rekan sejawat sesama alumni SMA. Seumuran dan saat itu si Pria telah bekerja di konter hape. Hidup masih ikut orang tua.  Maka, ketika kabar manis itu datang bahwa dirinya super-duper keren bisa menghasilkan buah hati, si Pria merinding disko. Singkat cerita si Pria Kabur. Menghilang entah kemana. Bisa jadi numpang sana-sini ke rumah kenalan dan sanak Saudara.

Orang tua Siti murka mengetahui anaknya berbadan dua. Maka, mereka segera mendatangi rumah si Pria. Memaksa orang tua si Pria untuk menjadi besan mereka. Karena si Pria nyata-nyata bukan percetakan. Hanya perusahaan percetakan saja yang bisa dengan leluasa bilang pada khalayak: “Isi di luar tanggung jawab kami”.

Lantas dengan segera dan syukuran secukupnya, mereka dinikahkan. Si Pria dipaksa pulang saat dirinya entah ada dimana, yang penting pulang dan bertanggung jawab.

Selanjutnya mereka hidup bersama di rumah orang tua Siti. Si Pria kembali bekerja di konter hape. Namun berbeda toko semula. Semua kebutuhan keluarga sejatinya masih disokong orang tua Siti. Gaji bulanan si Pria, habis untuk ongkos dan rokok. Siti cuti kuliah, untuk sementara.

Beberapa bulan kemudian, ketika bayi itu lahir, si Pria riang gembira. Apalagi Siti. Bagaimanapun juga dia bahagia menjadi seorang Ibu. Namun, kebahagiaan itu hanya sementara waktu. Si Pria merasa tugasnya telah paripurna. Maka, tanpa pamit, dirinya kembali pergi. Entah apakah untuk kembali atau tidak.

Orang tua saya butuh dia untuk akta kelahiran anak saya, Pak“, Siti menjawab atas pertanyaan saya kenapa jika memang tak ikhlas menikahi kamu, harus dipaksa.

Dia sebetulnya pernah cerita pacarnya ada lima“, Siti menjawab atas pertanyaan saya kenapa jika sama-sama cinta kok ndak bersama. Atas jawaban itu, saya berpikir dan mulai tergoda untuk alih profesi menjadi penjaga konter hape. JIka ada mbak lucu dan minta diserpis (hapenya), saya bisa lihat nomer hapenya dan lanjut “usaha”.

Dari kecil saya ndak pernah dipeluk. Nyaman rasanya ada teman lelaki yang minta sesuatu dari saya. Apalagi saat memeluk“, Siti menjawab pertanyaan saya mengapa bukannya kuliah malah lebih banyak pacaran.

Jawaban yang di luar dugaan. Peluk. Pelukan. Dipeluk. Memeluk. Berpelukan. Dekap erat yang merangsang hormon dan menenangkan pikiran. Apalagi perasaan. Pelukan secara alamiah dan ilmiah terbukti menularkan getar rasa. Nyaman. Mencegah kesepian. Tekanan darah lancar. Hilangkan rasa takut dan mencegah stres.

Atas jawaban Siti terakhir, saya jadi langsung mengingat kejadian tadi pagi. Apakah saya sudah memeluk kedua putri saya?

Saya sungguh cemas. Alasannya jelas: ndak mau banget jika saya punya menantu penjaga konter hape.

Advertisements

Jadi Diri Sendiri?

Dalam pidatonya di depan lulusan Barnard University, Meryl Streep menyampaikan bagaimana dia mempelajari mengenai acting dari kehidupan. Dimulai saat dia masih kecil, saat Ibunya beracting mendampinginya yang sedang berkhayal menjadi Putri Bangsawan. Atau saat Ibunya sedang bersedih tapi harus acting bergembira di depannya agar dia tak ikut bersedih. Ibunya sedang memainkan perannya sebagai Ibu.

Setiap kita memiliki peran yang harus kita mainkan. Sebagai anak, ayah, ibu tunggal, duda, teman, nenek, kakek dan beragam peran lainnya yang sebagian besar bukan karena pilihan. Tapi takdir. Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita tapi kita bisa memilih siapa teman kita. Itu pun tak selamanya benar. Banyak kejadian kita pun tak bisa memilih siapa teman kita.

Ada teman yang kita jaga karena berhubungan dengan kepentingan keluarga misalnya. Atau bisnis yang sedang kita jalankan. Atau semata karena teman itu adalah TTM paling yahud bahkan lebih yahud dari pacar sendiri. Teman pun ada kategori dan klasifikasinya sendiri-sendiri.

Saat di rumah, ayah berperan sebagai pimpinan rumah tangga. Yang diharapkan bisa memberikan arahan kepada seluruh anggota keluarga. Di kantor, ayah berperan sebagai karyawan, diharapkan bisa menjalankan perannya sebagai pelaksana dan memberi masukan kepada majikannya. Sesampainya di gym sore hari, ayah berperan sebagai hamba Tuhan yang diwajibkan untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Di ranjang? Ayah diharapkan berperan sebagai Julian Rios.

Apapun peran yang sedang dimainkan, semuanya tertulis pada naskah yang tak pernah kita ketahui ujung ceritanya. Kita hanya memainkan naskah yang baru ditulis di detik tersebut oleh Sang Sutradara. Tak peduli apakah kita sedang mood, letih, atau tak sesuai dengan perkiraan dan harapan kita. Pokoknya, lakonkan sebaik-baiknya. Semua mengarah pada satu keyakinan, cerita akan bergulir dan berujung pada kebaikan.

Seorang teman sutradara pernah berkata, aktor yang baik adalah aktor yang pasrah pada dua hal: naskah dan sutradara. Apa pun naskah yang tertulis harus tersampaikan sepenuh jiwa raga. Penonton harus percaya melalui setiap gerak tubuh dan tutur. Dan sutradara, adalah dalang utama yang memiliki kuasa penuh. Ini yang konon menjadi alasan mengapa Dian Sastro kurang tampil gemilang di film Pasir Berbisik. Konon, Dian mulai punya kehendak dan tak lagi pasrah pada kehendak sutradara. Beda saat dia memerankan Cinta.

Kata seorang teman Muslim, Islam itu sebenarnya berarti pasrah. Menyerahkan diri seutuhnya pada kekuasaan terbesar dari manusia dan alam semesta. Kepasrahan yang didasari pada keyakinan bahwa Yang Maha Tahu dan Penentu adalah yang paling memahami apa yang terbaik.

Ribuan manusia memenuhi mall di malam Minggu. Semua sedang memainkan lakonnya masing-masing. Ada yang sedang memainkan peran dengan baik tapi banyak juga yang kurang penjiwaan. Sehingga tampak tidak beliveable di mata penonton. Misalnya, sepasang kekasih yang satu tampak sedang memikirkan hal lain. Atau sekeluarga yang seperti sedang dipaksa bersama. Atau jomblo yang sebenarnya sedang mencari pasangan namun hendak memberikan kesan “i am happy with myself”.

Mengamati manusia yang berseliweran di depan mata, bisa lebih seru dan menantang ketimbang nonton film. Karena penonton diberikan kebebasan sepenuhnya untuk berimajinasi dan menentukan sendiri alur ceritanya. Interpretasi bebas. Tak ada sinopsis yang bisa dibaca sebelumnya. Apalagi review oleh kritikus film. Karena pada film kehidupan, kita semua boleh menjadi kritikus.

Kritikus film kehidupan, tidak akan pernah dicemooh “ah belum pernah bikin film aja, sok ngritik!” Tidak ada satu pun manusia yang pernah bikin film kehidupan. Kritikus yang terlalu pedas, sering disebut nyinyir bahkan sinis. Seolah tak pernah bahagia. Kritikus yang santun, akan disebut “politically correct”. Kritikus yang pikirannya bisa mewakili dan membuka pemikiran sebagian besar pembacanya sering disebut bijak. Kritikus yang tak pernah mengkritik, tak memiliki pembaca.

Musik dan sound effect memainkan peran penting pada sebuah film. Demikian pula pada film kehidupan. Siapa pernah lupa teriakan seorang ibu di infotainment “kamu anak durhakaaa!” Diringi isak tangis dramatis dan menyayat hati. Atau “yang saya inginkan itu… Indonesia Raya” yang diucapkan sambil tersedak penuh penghayatan. Atau suara pletak pletok yang keluar kencang menusuk kalbu saat perumahan di kawasan Tanah Abang terbakar. Dan yang terkini tentunya “es temong pakai roti, kalau ngomong hati-hati”.

Sehabis menonton film yang berkesan, perasaan kita akan terbawa beberapa saat bahkan hari setelah keluar dari bioskop. Demikian pula saat kita sedang menyaksikan film kehidupan. Banyak adegan yang kita lakoni atau dimainkan orang lain, tetap tinggal di pikiran dan hati. Ada yang menjadi kenangan buruk ada pula menjadi kenangan berkesan yang menjadi pegangan sepanjang hidup.

Adegan-adegan terus datang dan pergi. Adalah tugas kita sebagai pelakon untuk menonton. Bagaimana mungkin kita bisa berlakon dengan baik kalau tidak pernah menonton lakonan yang baik. Bintang film sekaliber Meryl Streep pun belajar acting dari film kehidupan.

“Menjadu diri sendiri” di film kehidupan bisa menjadi moto yang egois dan mustahil. Karena setiap lakon baru akan hidup karena ada lakon yang lain. Dan setiap lakon berkewajiban menghidupkan lakon yang lain.
Setiap adegan ada adalah hasil dan akibat adegan sebelum dan sesudahnya. Saat kita ditakdirkan untuk menjadi pelakon, menjadi diri sendiri adalah menjadi pelakon. Kalau Ibunya Meryl Streep menjadi dirinya sendiri, bisa jadi dunia tak akan memiliki bintang sekaliber Meryl Streep.

Lagian, untuk apa jadi diri sendiri kalau bisa menjadi George Clooney atau Beyonce? Sia-sia waktu menjadi diri sendiri kalau bisa menjadi Bill Gates atau Kim Kadarshian. Jangan mau jadi diri sendiri kalau bisa jadi Mr. Grey atau Reza Rahardian.

Dalam film kehidupan, haram hukumnya menjadi diri sendiri. Jadilah bintang bersinar yang melakonkan peran yang sudah diberikan. Walau tak pakai tanda tangan kontrak atau kesempatan untuk membaca naskah sebelumnya. Pasrah dan yakinlah pada Sang Sutradara yang terus membimbing dan mendampingi. Dan semua pelakon akan nonton bareng Sang Sutradara untuk memberikan standing ovation pas bagian credit title sebelum tamat.

20

Dear younger self,

Inilah dirimu di usia 30-an. Sudah bukan di awal, tapi belum di akhir.

Sejauh ini perjalanan hidup ternyata sangat menyenangkan. Di antara kita tidak pernah menyangka bahwa thirtysomething merupakan masa-masa keemasan.
Kita sudah tahu apa yang kita mau. Kita sudah tahu apa yang kita tidak mau. Kalaupun kita masih belum tahu, ternyata orang masih bisa maklum, karena kata orang-orang, “You’re still young!” Padahal rasio orang yang memanggil “pak” sudah jauh lebih banyak dibanding yang memanggil “mas”.

Tapi surat ini tidak mau mempermasalahkan hal itu. Surat ini ditulis karena aku ingin berterima kasih kepadamu, my younger self, atas segala hal yang sudah kau lakukan di usia 20-an yang lalu, yang ternyata membuat hidup lebih mudah (dan terasa lebih muda!) di dekade berikutnya.

Beneran lho! Ini buktinya:

1. Terima kasih telah menghabiskan usia 20-an menonton film-film klasik yang serius dari tahun 1920-an sampai tahun 1960-an. Sungguh, semakin berumur semakin susah rasanya berkonsentrasi menonton film-film ringan buatan Alfred Hitchcock yang hitam putih sekalipun. Apalagi di saat menonton harus teringat deadline presentasi ke klien besok pagi.

2. Terima kasih atas semua kaset, CD, dan mp files dari beragam jenis musik populer. Mulai Britney Spears sampai Billie Holiday ke Billie Joe Armstrong, semua kita lahap begitu saja, sampai iPod penuh. Maklum, semakin bertambah usia, semakin keukeuh sumekeh kita bertahan di musik yang kita dengarkan di usia remaja dan 20-an.

3. Terima kasih buat semua buku yang kita baca. Kamu mungkin kecewa kalau aku bilang bahwa aku ragu bisa menghabiskan “Sophie’s World” atau buku Haruki Murakami hanya dalam waktu lima hari sekarang-sekarang ini. Tapi itulah kenyataannya.

4. Terima kasih sudah makan semua makanan. Literally everything! Tenang saja. Pantangan makanan karena alergi, asam urat, darah tinggi dan kolesterol baru muncul saat umur 32.

5. Terima kasih karena sudah lulus kuliah. Chances are, the older we get, the harder it is to finish or complete anything.

6. Terima kasih sempat menjadi gembel dalam perjalanan backpacking. Semakin berusia, semakin penting faktor “yang penting nyaman”, dan bukan asal murah.

7. Terima kasih bisa bertahan melek tengah malam untuk clubbing, tanpa harus menyobek bungkusan sachet Tolak Angin dan tidur dari sore sebelumnya. Staminamu di usia 20-an untuk apapun memang tak pernah tergantikan.

(Courtesy of Google)
(Courtesy of Google)

8. Terima kasih mau keluar dari rumah dan hidup sendiri, meski dalam kamar kost dan asrama yang kecil. Ternyata ini latihan buat rumah tanggamu kelak.

9. Terima kasih buat semua “coba-coba” yang tidak pernah menjadi kecanduan. Candu itu mahal harganya.

10. Terima kasih tidak pernah menghamili anak orang di luar nikah, apalagi di luar pagar.

11. Terima kasih karena telah malas berolahraga (awal 20), mulai olahraga lagi (paruh 20), malas lagi (menjelang akhir 20), dan akhirnya rajin lagi karena kesadaran diri, bukan karena trend (akhir 20).

12. Terima kasih sudah mencoba bisnis dan gagal. Investasi networking yang kau bangun nilainya jauh lebih banyak dari kerugian materimu. Lebih baik sering gagal waktu muda daripada merana saat menua.

13. Terima kasih buat semua gonta-ganti pekerjaan dari satu profesi ke profesi lain yang terlihat tidak berkaitan. Terima kasih pernah jadi pelayan restoran, badut dan tukang terima telpon. Semua itu makin memperkaya pengalaman dan pengetahuan kita.

(Courtesy of Google)
(Courtesy of Google)

14. Terima kasih pernah turun ke jalan buat ikutan demonstrasi. Kalau sekarang disuruh ikut, komentar pertama pasti: “Ngapain? Panas, cyin!”

15. Terima kasih untuk pelan-pelan mulai menerima jati diri bahwa kamu berbeda dengan orang kebanyakan.

16. Terima kasih pernah jadi minoritas di kalangan mayoritas. Empati hanya bisa datang dari pengalaman pernah tertindas.

17. Terima kasih mau berganti pertemanan. Itu tandanya kita telah semakin tumbuh dewasa. Pertemanan mengikuti evolusi pikiran kita. Teman lama cukup hadir di Facebook saja.

18. Terima kasih atas kebiasaan untuk berbagi, baik dalam perkataan, sumbangan harta atau tulisan.

19. Terima kasih pernah jatuh cinta dan patah hati berkali-kali.

20. Terima kasih, bahwa dalam semua kesusahan, kamu memilih untuk terus hidup.

Love,

xoxo.

(Courtesy of Google)
(Courtesy of Google)

Masih Januari

Terlalu lekas waktu berdampak.

Baru pekan keempat 2015, sejibun peristiwa sudah terjadi. Tak perlulah saya sebut soal hiruk pikuk yang terjadi di negara kita, apalagi di belahan lain dunia. Terlalu jauh, bahkan boleh dibilang terlalu tidak signifikan dengan kehidupan kita masing-masing. Bukan menganjurkan untuk bersikap apatis nan individualistis, melainkan kembali mengingatkan bahwa standar “penting/tidak penting” setiap orang punya ukuran berbeda.

Ketika semua orang memang berhak berkomentar, namun senyaring atau sehebat apapun komentar itu, ya sekadar komentar. Paling jauh hanya bisa dijadikan penanda keberadaan, eksistensi, itu pun di akun media sosial masing-masing, atau isi blog yang bisa dibaca umum, lalu kembali ditanggapi. Komentar untuk komentar. Toh, pada kenyataannya, justru komentar yang sayup-sayup disampaikan dalam ketertutupan jauh lebih didengarkan si empunya kepentingan. Itu artinya, kemungkinan besar bukan komentar Anda, apalagi saya. Jadi, tak perlulah buang tenaga percuma.

Kembali soal pekan keempat 2015. Momen-momen penting bisa saja berupa peristiwa sepele, bagi sebagian orang. Kesempatan memenangkan arisan bulanan perdana misalnya. Sambil menunggu payroll dikucurkan dari atas, isi dompet mengalami kelegaan. Dengan kelegaan itu juga, akhirnya bisa menunaikan janji ingin membawa kerabat memeriksakan kesehatan paru-parunya. Maklum, sedang musim penghujan. Yang bersangkutan selalu terbangun dengan keadaan sesak napas saban ba’da subuh.

Ada yang harus mempertanyakan kesiapan diri menjalani komitmen, dan ketegaran menghadapi perubahan dalam hubungan. Saat sang kekasih memutuskan untuk meneruskan studinya di Amerika Serikat. Enggan memberikan kepastian kapan pulang. Ikatan emosional terancam di ujung tanduk. Adu argumentasi pasti terjadi, siapa saja menjelaskan apa saja. Menjadi titik untuk mempersiapkan diri menghadapi semua yang mungkin terjadi.

Berbanding terbalik dengan kisah sebelumnya, ada yang tengah bersiap-siap kembali ke Tanah Air. Mencoba untuk hidup di lingkungan yang masih masuk “daerah kekuasaan”: banyak rekan dan handai tolan. Kembali menjejakkan kaki di tanah yang dihuni orang-orang dengan perangai beragam. Orang-orang yang sayangnya–mengutip isi pidato kebudayaan yang disitat Mas Roy Sayur dalam tulisan Sabtu lalu, memiliki lima ciri khas buruk dan satu ciri khas baik. Tapi tenang saja, sikap kritis nan rebel justru tumbuh subur dalam suasana yang tidak stabil polaritasnya. Sepulangnya ke kampung halaman, besar kemungkinan keberadaan si polan bakal lebih mengemuka. Lebih sukses pun. Amin!

Ada yang sedang tersenyum kecut, lantaran aplikasinya ke luar negeri ndak tembus. Akhirnya mencoba menghibur diri dengan beralibi bahwa cuma orang pinter nan hebat saja yang bisa menembusnya, dan masih ada kesempatan-kesempatan berikutnya. Baiklah. Barangkali sehabis ini, ada segudang peluang yang siap dijalankan. Siapa tahu.

Masih soal fase hidup sepasang manusia, ada yang melangsungkan pernikahan tahun ini. Ibarat seremoni gunting pita meresmikan ruko baru, pernikahan menjadi penanda diawalinya sebuah perjuangan baru. Pernikahan dengan segala macam alasan yang mendominasinya. Sedangkan di bawah instalasi-instalasi atap seng lainnya, ada pasangan yang baru berbaikan kembali. Akhirnya bisa saling mengecap kehangatan dan manisnya status nikah muda. Sebaliknya, ada yang baru pertama kali geger besar. Sebuah pengalaman anyar yang berujung pada tiga kemungkinan: menguatkan, mematahkan hati, atau malah cukup sekadar tahu.

Ada yang mendadak mengalami perombakan struktur kerja di kantor masing-masing. Mendadak, lantaran keputusan tersebut diambil dengan kesan gali lubang ketika sudah kebelet buang air besar. Tanpa persiapan dan proyeksi kerja yang jelas. Sehingga formasi yang dimodifikasi, masih kabur apa implikasinya. Siapapun yang mengalami ini, tentu boleh dibilang telah mencicipi perubahan ala tahun baru.

Ada yang tiba-tiba gemar merenung. Kejenuhan membuatnya bertanya: “mau ngapain?” Pertanyaan yang mestinya terlintas dalam pikiran semua manusia, setidaknya beberapa belas menit setelah belakang kepala menyentuh bantal. Berusaha tertidur, memisahkan diri sejenak dari ingar-bingar kehidupan.

Sumber: devianart

Keriuhan dalam hidup seringkali memaksa kita semakin menjauh dari impian, aspirasi, tujuan utama, cita-cita, harapan. Seolah membuat kita menjalani hidup dalam labirin, yang ironisnya kita bangun sendiri. Makin kompleks kehidupan kita, makin rumit pula percabangan alur labirinnya. Temboknya pun makin kokoh, setiap kali kita merasa ketambahan beban. Bisa bikin terjebak seumur hidup.

Apapun yang tengah terjadi, baik atau buruk, itulah komponen pengisi hidup kita saat ini. Dan apapun yang tengah terjadi saat ini, baik atau buruk, jelas berpengaruh pada apa yang akan terjadi nanti. Dengan demikian, apapun alasannya, tidak ada yang perlu disesali. Toh, sang waktu tetap terus berlari.

Ada sebuah kelakar yang cukup populer di kalangan Buddhis hingga saat ini: “Saat diterpa keburukan, bergembiralah. Saat mendapat keberuntungan, bersedihlah.” Bergembira dalam kemalangan. Itu artinya cadangan buah karma perbuatan buruk berkurang. Sebaliknya, meratapi keberuntungan. Itu artinya cadangan buah karma perbuatan baik juga berkurang. Dengan catatan tetap bijaksana. Tidak mencari-cari kemalangan atau mendekati penyebab musibah, dan tidak menolak kebaikan atau menepis keberhasilan.

Namanya juga kelakar, besar kemungkinan keliru. Entahlah. Tergantung bagaimana Anda mencernanya. Namun dari kelakar ini, tersirat petuah bahwa janganlah terlalu lama digoncang kesedihan maupun dibuai kebahagiaan. Ketika mengalami kemalangan, petiklah pelajaran dan berhati-hatilah di masa depan. “Jangan menyemai bibit karma buruk lagi.” Sedangkan ketika menikmati keberhasilan, jangan lupa daratan dan terus lakukan yang terbaik di masa depan. “Semai bibit-bibit karma baik baru.

Perpetual causality, life it is.

Bersyukurlah Anda, yang saat ini sedang merasa berbahagia. Sedangkan bagi Anda yang tengah merasa berbeban berat, bermuram durja, penuh keluh dan penolakan, semoga lekas diringankan. Minimal, mampu menjalaninya tanpa menambah beban pada diri sendiri. Jangan lupa, ini baru Januari. Masih ada sebelas bulan lainnya yang siap dijalani, dengan misterinya sendiri-sendiri.

[]

Momen

Beberapa hari lalu, saya membeli buku karya David Thomson, penulis spesialis film asal Inggris. Judul bukunya “Moments that Made the Movies”. Ini sedikit cukilannya:

“Do you remember the movies you saw, like whole vessels serene on the seas of time? Or do you just retain moments from them …? Most people, I find, remember moments from films they saw as children or adolescents (so true film buffs like to extend those stages of life). Yet often the moment has overwhelmed the film itself.”

Kalau Anda sekarang berusia akhir 20-an, dan mulai rajin nonton film waktu umur 10 tahun, paling tidak pergi ke bioskop 2 minggu sekali, paling tidak sudah lebih dari 350 film yang Anda tonton sampai sekarang. Apakah Anda bisa mengingat satu per satu jalan cerita dari ratusan film itu? Atau hanya sebagian kecil dari adegan film yang bisa diingat, yang kemudian mewakili seluruh kenangan dan ingatan tentang film yang telah ditonton? Yakin masih bisa cerita dari awal sampai akhir film E.T., dan gak cuma ingat adegan sepeda melayang di depan bulan?

Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)
Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)

Tentu saja kata film di sini juga bisa diganti dengan kata benda lain.
Buku, lagu, atau tahun.

Mari kita bayangkan diri kita tidak jauh-jauh dari sekarang. Misalnya, 3 minggu dari sekarang. Saat itu sudah masuk minggu pertama bulan Januari.
Apakah kita masih bisa mengingat apa yang persis terjadi sepanjang tahun 2014 kemarin? Tentu saja kalau semua hal ditulis di jurnal harian, maka kita masih bisa mengingatnya. Itu pun tidak setiap saat saat kita rekam dalam
tulisan. Atau hanya sebagian kecil moment saja yang bisa kita ingat?

Moments that define us are often moments that just pass us by.

Momen yang membentuk diri kita terkadang hanya sekedar momen yang berlalu begitu saja.

Dan dalam setahun, ada begitu banyak penanda waktu yang kadang terlewat begitu saja, di tengah kesibukan kita. Namun terkadang, momen itu begitu kuat, sehingga kita masih akan teringat terus, seperti layaknya twists dalam cerita film yang kadang kemunculannya tidak akan pernah kita sangka.

Mungkin itulah yang dirasakan Fradita Wanda Sari, saat menulis “These Movies Define Me” di blognya. Pilihan filmnya, Like Father Like Son, terasa begitu kuat di kami di Linimasa yang membacanya. Terlebih saat Dita bercerita bagaimana film ini seperti mencerminkan hubungan Dita dengan ayahnya yang sedang diuji tahun ini. Membaca tulisan Dita jadi seperti membayangkan film tentang ayah dan anak dalam kehidupan nyata.

Momen yang terasa dekat dengan kami juga saat membaca tulisan “Sometimes The Wrong Train Will Get You To The Right Direction” di blog milik Bang Bernard. Ada satu kejujuran yang menggelitik, yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Bernard menulis: “kalo nonton film di pesawat, buat gue kekuatan cerita itu nomor satu. Special effect sih gak ngaruh, orang nontonnya pake headphone.” Senang rasanya membaca cerita dari orang yang percaya pada kekuatan cerita di atas segalanya.

Dan lewat medium apapun, cerita bisa membawa perubahan. Kami pilih film, karena film terasa lengkap menggambarkan bahasa visual yang bisa mewakili apa yang ingin kita proyeksikan di kehidupan sehari-hari. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Inilah yang Agnes Gultom tulis di “Old & New – 2 Mujur (Sangkar)”. Menonton film di layar notebook yang kecil, yang ternyata buat Agnes, seperti dikutip dari blognya: “Bukan hanya membekas, tapi meresap serta mengubah.” Siapa sangka keputusan hidupnya menjadi berubah setelah menonton film?

Perubahan hidup tidak harus besar. Terkadang kesan atau impresi yang kuat pun bisa membekas begitu lama, sehingga bisa mengubah persepsi kita terhadap sesuatu. Sepertinya itu yang dirasakan Nadya Laras saat menulis “1st post: Jawab Pertanyaan Linimasa” di blog yang baru saja dia buat khusus untuk ini. Kekuatan film yang bisa mengubah persepsi kita terhadap aktor atau aktris yang selama ini kita kenal, bisa membuat orang akhirnya tergerak untuk melakukan hal yang simple, yang bisa jadi tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dan yang tidak terpikirkan oleh Dhoni Fadliansyah saat menonton X-Men: Days of Future Past dan The Raid 2 tahun ini adalah bahwa sebentar lagi, dia akan belajar bela diri, dan saling menghargai orang lain. Itu yang dia tulis di blognya, “Film Yang Berkesan”. Perubahan dimulai dari hal yang kecil dan simple, toh?
After all, the timing is right: talk about New Year’s Resolutions!

Lima momen yang sudah dishare inilah yang membuat kami memutuskan untuk memberikan hadiah di Kuis Linimasa Volume 1 kepada mereka.

Selamat!

Terima kasih sudah berbagi momen-momen spesial di tahun 2014 ini. Oh ya, tolong kirim email berisi nama lengkap, alamat pengiriman dan nomer telpon yang bisa dihubungi ya.

Isn’t it great to be able to share special moments?

Bahagia itu Sederhana, Katanya…

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana semangkuk mi ayam favorit dengan isi yang banyak, hangat dan gurih, saat hujan. Apalagi kalau ditraktir.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana melihat senyummu, mendengar tawamu, hanyut dalam keteduhan tatap matamu.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tempat tidur dengan seprai dan sarung bantal guling yang baru. Masih mulus, adem, lagi wangi. Apalagi kalau ada konconya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana pelukan. Ada yang demen meluk dari belakang, mendarat di punggung.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil meniru resep masakan, membuat menu baru sendiri dengan rasa yang lumayan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil dapat nilai A dalam ujian. Lulus UN. Tanpa nyontek. Berhasil menjadi sarjana, atau meraih Master, Doktor, dan sejenisnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendapat pujian dari bos di kantor setelah berhasil menang pitching; dianggap punya ide brilian; dinilai berkepribadian baik; maupun bisa diandalkan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil mengalami dan memberikan orgasme kepada pasangan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil membeli tanah, rumah, atau kendaraan idaman dengan kemampuan sendiri. Konstan menabung setiap bulan selama beberapa tahun untuk mengumpulkan uang muka, lalu siap nyicil sisanya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menemukan toilet yang sangat bersih dan nyaman saat kebelet-kebeletnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri, mengalahkan ribuan kandidat lainnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa mewujudkan impian orangtua. Menikah, memberikan cucu, memberangkatkan haji, mengajak mereka jalan-jalan ke luar negeri, memberikan kehidupan yang berkecukupan, membuat mereka selalu tertawa gembira.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bertemu dengan orang yang bisa berbicara “bungul ikam tu!” atau “nggolek badokan yok, wis luwe arep semaput iki” setelah sepuluh tahun tinggal di Eropa.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menemukan paman penjual Putu Labu yang dermawan memberi isi gula merah, dan menyajikan kelapa parut yang segar.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa peluk cium dengan pasangan di mana saja dan kapan saja, tanpa harus takut-takut. Bukan peluk cium pamer atau syahwat yang tak terbendung, melainkan peluk cium sebagai ekspresi rasa sayang yang tak berkesudahan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menonton konser band favorit di luar negeri tepat saat isi tabungan mencukupi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana segelas air putih dingin saat sedang haus-hausnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana sukses menghasilkan karya beraneka media. Bisa jadi buku, gubahan musik, lukisan, komik dan karya animasi, film, instalasi seni, desain busana, tata interior, rancangan arsitektur. Karya yang dihasilkan lewat idealisme dan bebas intervensi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa sahur dan berbuka puasa dengan orang-orang tercinta. Apapun menunya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana masuk ke sebuah restoran ternama dengan predikat Michelin, memesan menu lengkap untuk lima jenis masakan ala fancy dining.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bertemu pacar/suami/istri setelah terpisah sekian lama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendengar anak kita yang masih bayi, tertawa untuk pertama kalinya. Atau saat ia mengucapkan kata utuh pertamanya: “ma-ma”.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketemu barang incaran yang sedang didiskon 70 persen.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berasa jadi salah satu orang paling hipster. Selalu tahu dan mengalami hal baru lebih dahulu. Sudah mengenakan potongan busana jauh sebelum menjadi tren, sudah menjadi langganan kafe atau tempat nongkrong baru sebelum populer, sudah nonton film keluaran terbaru sejak penayangan perdana, sudah menggengam gadget keluaran termutakhir ketika harganya masih didongkrak habis-habisan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana diterima setelah nembak.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil menyelenggarakan event yang “berbudaya”, dan mendapat respons luar biasa. Menuntaskan ide dan cita-cita. Menjadi buah bibir setelahnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana memberi nasi bungkus kepada pengemis renta yang ditemui di pinggir jalan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana membantu orang lain mewujudkan ide dan gagasannya. Menghasilkan sesuatu yang positif, signifikan, dan bermanfaat bagi sesama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana kentut tanpa malu-malu, dan tanpa malu-maluin.

hmm…

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana… (silakan isi sendiri)

Setiap orang punya kebahagiaan versi masing-masing. Kita pun bisa duduk seharian, ngobrolin daftar ini tanpa ada habis-habisnya, lalu ketawa-ketiwi atau merasa senang karenanya. Meskipun begitu, waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir. Kebahagiaan yang kita rasakan, menerakan pengalaman menyenangkan, segudang kenangan.

Begitupun tulisan ini, akan menyisakan bayangan-bayangan penuh kegembiraan, bila diakhiri di paragraf ini.


Berpisah dengan yang dicintai.

Berkumpul dengan yang dibenci.

Mendapat yang tidak diinginkan.

Luput dari yang diharapkan.


Waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir. Perubahan tak dapat dihindari. Mereka yang optimistis, selalu yakin bahwa setelah satu kebahagiaan berlalu, akan ada kebahagiaan lain yang menyusul. Sedangkan mereka yang pesimistis, selalu murung karena menganggap bahwa hanya ada kesedihan tak berkesudahan. Sementara mereka yang realistis, siap menggapai kebahagiaan dan sanggup diterpa kesedihan.

Maafkan saya, jika harus menggugah Anda dari daydreaming yang menyenangkan. Hanya saja kita–manusia–tidak hanya tercipta untuk siap bahagia saja, namun beredar dalam kehidupan yang serba lengkap. Kendatipun lumrahnya, semua orang mengidamkan kebahagiaan, dan sebisa mungkin menghindari kesedihan.

Dari sederetan contoh “Bahagia itu Sederhana” sebelumnya, kita dihadapkan pada happy ending–akhir yang menyenangkan, ketika mampu menyisakan senyum terkembang. Jangan lupa kalimat saktinya: “waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir.” Ada peristiwa, setelah sebuah peristiwa. Tergantung kita, sudah siap menghadapinya, atau masih belum move on dari sisa-sisa efek kejadian sebelumnya.

Berpisah dengan yang dicintai

Perpisahan mengikuti pertemuan layaknya bayangan. Tak perlu jauh-jauh berbicara tentang maut yang memisahkan sepasang kekasih, ketika sehabis kencan mingguan saja, dua sejoli terus bermesra-mesraan lewat udara. Plus kalimat andalan: “kangen banget nih…”

Berkumpul dengan yang dibenci

Wajar kiranya, apabila manusia selalu gandrung dengan hal-hal menyenangkan, dan anti terhadap semua yang bertolak belakang. Di kantor misalnya, akan terasa layaknya ruang penyiksaan ketika kita harus berurusan dengan musuh bebuyutan. Ingin cepat-cepat pulang kantor saja rasanya, nongkrong dengan teman-teman, walaupun pada kenyataannya harus kembali turun kerja keesokan harinya. Siklus.

Mendapat yang tidak diinginkan

Ekspektasi adalah muara dari semua yang kita kerjakan. Selalu ada harapan, target, capaian minimal dari daya upaya yang kita kerahkan. Maunya sih selalu berhasil dan berbuah kegembiraan, namun tak mustahil menuai kekecewaan. Hanya ada “ucapan terima kasih atas partisipasinya.”

Luput dari yang diharapkan

Lebih parah dari poin sebelumnya, luput berarti tidak mendapatkan apa-apa sama sekali. Boro-boro sesuatu yang diinginkan, ini malah tangan yang hampa. Benar-benar kehilangan. Bagaimanapun bentuknya, saya yakin Anda pasti pernah mencelus di dalam hati, ketika merasakan yang seperti ini.

Maafkan saya, jika piket Linimasa hari ini begitu muram. Kampret-nya lagi, aura muram yang demikian ini mesti diawali dengan buaian bayangan-bayangan menyenangkan tentang kebahagiaan. Akan tetapi, sebelum meneruskan umpatan dalam pikiran handai tolan sekalian, izinkan saya menuntaskannya.

Kebahagiaan dan kesedihan, berikut perolehan dan kehilangan. Sepasang realitas yang tidak terelakan. Kondisi yang tidak akan dapat kita hindari, selama masih berkutat dalam “keterkondisian” serta ketidakpastian. Malangnya, seumur hidup ini, kita dibiasakan untuk selalu rapat melekat dengan hal-hal yang membahagiakan, dan berlari sejauh mungkin dari hal-hal yang menyedihkan. Menjadi ilusi, bahwa kebahagiaan itu seperti permen bulat isi cokelat. Berlimpah jumlahnya dan menyenangkan. Menyisakan kesedihan yang dianggap laiknya bulatan-bulatan hitam dengan rasa pahit memuakkan.

Gandrung pada permen bulat isi cokelat. Kita lumat dengan mantap, untuk kemudian kita pegang sisanya erat-erat. Bahagia memang, pada awalnya. Hingga kemudian muncul kekhawatiran; “sisa berapa ya?”, “kalau nanti diambil sama dia, gimana ya?”, “cari di mana lagi ya?”. Kebahagiaan berangsur hilang.

Di pojok-pojok laci yang tak tersentuh, bulatan-bulatan hitam dengan rasa pahit didiamkan. Dijauhkan dari jangkauan anak-anak; mereka yang gandrung pada permen bulat isi cokelat. Hingga suatu saat, sang bocah menceret, diare, salah makan. Anda pun tahu bagaimana kelanjutannya. Setelah sang bocah pulih dari diarenya, baru terdengar celetukan: “syukur masih nyimpan.

Situasi terbalik. Permen bulat isi cokelat tak lagi menyenangkan. Bulatan hitam yang rasanya pahit, tak lagi menakutkan.

Ketidakpastian membuat hidup kita penuh misteri. Apa yang akan terjadi semenit ke depan pun masih merupakan tanda tanya besar. Lantaran itu, kebahagiaan tak melulu berbuntut bahagia; kesedihan pun tak melulu berujung petaka. Larut dalam kebahagiaan, membuat kita terlena dari kenyataan. Sadar dalam kesedihan, membuat kita waskita akan kehidupan. Saya terdengar sok bijaksana? Memang. Sengaja.


Ya, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mampu bersyukur. Terhadap apa saja, itu pun kalau Anda bisa dan bersedia.

Dan sebagai manusia, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mampu merasakan berjuta pengalaman, kebahagiaan dan kesedihan, perolehan dan kehilangan, segalanya.

[]

Satu Tambah Satu Belum Tentu Dua

Selain hati, ternyata ada barang lain yang paling ditakutkan kalau dicuri orang.
Apakah itu?

iPod.

Courtesy of techspot.com
Courtesy of techspot.com

Kenapa?

Dulu, pernah iPod saya gak sengaja kebawa sama (mantan) pacar. Begitu tahu kebawa, saya langsung panik. Blingsatan. Buru-buru minta iPod dibalikin. Bukannya takut iPod hilang atau dijual lagi.
Yang saya takutkan adalah, dia akan tahu semua playlists di iPod itu.

Iya. iPod saya isinya penuh dengan playlists.

Mulai dari playlists buat teman berlari, playlists sambil bersepeda, playlists lagi traveling.
Tapi selain itu, ada playlists lain, yaitu playlists saat jatuh cinta.
Dan udah umur segini, jatuh cinta ya masak cuma sekali?
Alhasil, di sana ada sejumlah playlists pas naksir, playlists pas jadian, dan tentunya, playlists pas patah hati.

Tanpa terkecuali, playlists itu semua dibuat dengan sangat hati-hati. Apalagi buat saya dan mungkin Anda sebagai generasi mixtape.
Silakan tersenyum mengingat-ingat beli kaset kosong, yang lalu diiisi rekaman lagu-lagu hasil request di radio. Tentu saja cover kaset dibuat dengan tulisan tangan, atau paling nggak, pakai rugos.

Demikian pula dengan CD lagu-lagu hasil download untuk bakal calon gebetan (ribet ya?). Atau mungkin sekarang, kasih aja flash disk. Saking banyaknya kapasitas space, selain lagu bisa diisi juga dengan rekaman video testimoni. Kalo nanti proposal cinta ditolak, yang terima tinggal hapus semua lagu. Masih dapet flash disk gratis pula!

__________

Padahal yang membuat kompilasi itu mungkin saja gak tidur semalam suntuk, atau lebih. Demikian pula para pembuat kompilasi macam “NOW!” series, atau “Sad Songs” atau “Forever Love 2014”. Dua judul terakhir malah masih bercokol di deretan album terlaris iTunes. Meski sudah terlalu sering kita melihat album-album kompilasi ini, toh mereka masih laris manis.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang profesinya memang membuat album-album kompilasi seperti ini. Katanya, “Enak ngerjainnya. Dengerin musik, dibayar pula.”

Trus gimana milih lagunya? Jawabannya simpel, “Pake hati.”

Nah lho. Emang cuma nge-blog doang yang pake hati?

Menyusun rangkaian lagu yang belum tentu nyambung dari satu sisi adalah seni tersendiri. Perlu keahlian khusus.
Irama boleh beda, asal lirik masih seputar “beginilah rasanya ditinggal kekasih”, bolehlah dipertimbangkan dulu, sambil cari lagu lain.

Itu kalau sekedar album kompilasi.
Membuat soundtrack film? Apalagi.
Selain dituntut mencari lagu sesuai adegan yang perlu diisi, belum tentu juga pembuat lagu mau mengijinkan lagunya digunakan di film itu. Namun karena kita berkhayal dalam tulisan ini, maka kita pun bebas dari memikirkan kompleksitas legal issue ini.
Terlebih urusannya pake hati. Hasil yang tercipta dari hati, biasanya akan meniupkan jiwa di karya yang bisa dinikmati.

Satu tambah satu, lagu demi lagu, harus menjadi satu kesatuan gambar gerak dan suara.

Waiting to Exhale.
The Boat that Rocked.
Forrest Gump.
Good Night, and Good Luck..
Grace of My Heart.

Itulah beberapa album soundtrack dengan pilihan lagu yang terasa menyatu dengan film. Sekaligus, mungkin saja album-album itu akan dibawa saat terdampar di pulau asing.

Eh, tapi itu jawaban pertanyaan jaman dulu, ding.

Kalau sekarang?

Tinggal bawa iPod dan kabel charger.
Toh isinya semua adalah the soundtrack of our life.

Lagi pula, apalah artinya hidup tanpa penanda lagu?

PS: si iPod sudah kembali dan masih berfungsi.