… Karena Seluruh Dunia Tidak Harus Selalu Tahu

Correct me if I’m wrong, please.
Tapi setahu saya, tanpa googling, belum ada film atau karya populer lain yang bercerita tentang “how to go through a breakup in social media”. Seingat saya, film-film terkait media sosial biasanya berkutat dengan isu-isu serius, seperti The Social Network atau Catfish. Untuk hal-hal ringan penuh romansa, sepertinya kita harus melayangkan ingatan lebih jauh lagi.

Tahun 1998, film You’ve Got Mail membuka mata kita bahwa cinta bisa terjadi lewat kabel modem via telepon rumah dengan bunyi “eeerrnnggg … ngiiikkk … ngoookkk …. rrrnnggg” sebelum akhirnya tersambung ke internet.
Tahun 2009, ada satu bagian di film He’s Just Not that Into You, di mana Drew Barrymore berkeluh kesah tentang susahnya menghubungi gebetan: lewat sms, email, Facebook message, dan lain-lain.
Itu pun hanya sebagian kecil dari film. Kedua film itu juga belum memberikan solusi, atau paling tidak menjadi panduan persoalan di paragraf pertama.

He's Just Not that Into You
He’s Just Not that Into You

Tentu saja yang saya maksud di atas adalah film-film layar lebar, yang sebisa mungkin dibuat oleh major studios supaya bisa ditonton banyak orang.
Mungkin Hollywood sama gagapnya dengan saya atau teman saya, Shasya. Beberapa waktu lalu, kami sempat membahas betapa susahnya melalui masa-masa sesudah putus di era media sosial. Putus saja sudah susah. Apalagi ditambah sekarang harus berhadapan dengan “publik”.

Kata publik harus saya beri tanda kutip, karena kita tidak berhadapan dengan mereka. Tapi kita berinteraksi dengan jempol mereka. Mana yang lebih bahaya, wajah atau jempol? Dua-duanya. Tapi dengan teknologi 2G sekalipun, kecepatan jempol jauh lebih melesat daripada kemampuan menginterpretasikan raut muka.

Tentu saja kemudahan having the world at your fingertips ini sangat menggoda. Apalagi kita tidak pernah bisa lepas dari ponsel. Mau tidur, pegang ponsel. Bangun tidur, ponsel dulu yang dicari.
Di saat-saat rentan setelah putus, di saat kita menangis sendiri dengan membenamkan muka di bantal, tangan kita masih memegang ponsel. Kita tidak pernah bisa sendiri lagi di era media sosial sekarang. Kita punya “teman”.

Again, with the quotation marks.
Are “friends” really your friends? Are “followers” your friends?

Sangat mungkin ada beberapa yang kita kenal dalam kehidupan nyata, tapi jauh lebih banyak yang hanya sebatas dunia maya saja. Baik itu interaksinya, maupun jenis pertemanannya.

Kalau sudah begitu, maka berikut ini ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk “how to go through a breakup in social media”:

1. Logout

Anda tidak salah baca. Anda tidak perlu harus menghapus aplikasi media sosial di ponsel. Anda cukup perlu logout. Dan itu berlaku untuk semua jenis media sosial: mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain.
Trust me: your updated status can wait. Your sanity cannot.

2. Logout

Saya punya satu kata: Timehop. Aplikasi ini bisa menampilkan apa saja yang pernah kita unggah di media sosial mulai dari setahun yang lalu, sampai beberapa tahun ke belakang. Jadi, kemarahan yang kita pasang di media sosial sekarang, hanya akan membuat kita mengernyit heran di beberapa tahun mendatang sambil bergumam, “What was I thinking? Did the world know how stupid I was?”

3. Logout

Apa yang bisa diharapkan dari stalking akun mantan kita? Berharap dia post foto-foto inspirational quotes, tapi malah menemukan foto dia dengan pacar barunya sedang liburan? Nah, ‘kan.

4. Logout

Oke, kita sudah unshare, unfollow, block pertemanan dengan mantan di semua jaringan media sosial. But what about our friends in common? Apa hak kita untuk memutus pertemanan yang sudah terjalin di antara mereka? Tidak ada. Sama seperti jargon “we can never choose who we fall in love with”, maka berlaku juga istilah sahih “we can never choose who we befriend and get comfortable with”. Ketika kita sudah memutuskan untuk tidak terkoneksi dengan mantan, namun kita masih melihat fotonya hangout bareng dengan teman-teman lain, atau melihat namanya di komen status teman, maka itu saatnya untuk …

5. Logout

Beri waktu buat diri kita sendiri. Berapa lama? Tidak ada yang tahu. Butuh pikiran tenang dan jiwa yang legowo buat bermain di sosial media. Bukan sekedar untuk membaca hujatan, kritikan atau makian politis. Tapi ketika masalah hati ikut dimainkan dan dibicarakan, maka kesabaran diri jadi faktor utama.

You've Got Mail
You’ve Got Mail

Ketika Anda membaca ini, mungkin bisa jadi Anda berpikir bahwa it’s easier said than done. Betul. Saya setuju. Makanya, saya tidak mungkin bisa menuliskan semua hal di atas sebelum saya mengalaminya sendiri. I was there. We’ve all been there.

Because when you’re angry, take a step back.

Advertisements

Jangan Lupakan

Sebelum mulai menulis di linimasa.com ini, selalu ada “ritual” yang saya lakukan. Lebih tepatnya, kebiasaan. Maklum, tidak terlalu istimewa kegiatannya.

Saya akan menonton film. Film apapun. Bisa dari televisi, DVD, blu-ray, koleksi di harddisk. Film apa saja. Random choice. Siapa tahu dari pilihan film itu datang inspirasi tulisan. Maklum lagi, kami di sini menulis berdasarkan apa kata hati saat tenggat waktu datang.

Semalam di HBO ada film The Mexican. Ada Brad Pitt, Julia Roberts, dan almarhum James Gandolfini. Pikir-pikir, sudah lama tidak menonton film ini. Ponsel ditaruh jauh-jauh, supaya tidak terganggu pesan-pesan yang masuk.

Sudah 30 menit film berjalan. Saya masih menikmati jalinan cerita film. Setelah cerita mulai bergeser fokus ke Julia Roberts dan James Gandolfini, tiba-tiba entah dari mana, pikiran saya bergeser ke hal lain. Ujug-ujug, saya ingat, pertama kali menonton film ini bersama teman lama, Bang Reza, di Cineleisure Orchard, Singapore. Kayanya hari Minggu siang tahun 2001. “Kalo nggak salah”, pikir saya.

Cek laptop, cari file lama. Ubek-ubek, akhirnya saya tersenyum. Betul. Hari Minggu, 29 April 2001, kami menonton film ini di bioskop itu bersama dua teman lain.

Jauh sebelum IMDB lahir dan bisa beli laptop sendiri, saya punya kebiasaan menulis nonton film apa, tanggal berapa, sama siapa (sendirian atau nggak), dan di mana. Jaman dulu, pakai bolpen dan buku tulis. Sampai 2 tahun lalu, tulis di Excel. Baru tahun lalu, tulis di Notes di ponsel.

Kalau ada pepatah yang bilang “old habit dies hard”, dalam konteks ini saya membenarkan. Kebiasaan mencatat ini terbawa sampai sekarang. Sudah belasan tahun lamanya. Tidak ada yang berubah, kecuali judul film, tahun, dan teman menonton. Nothing changes except the change itself.

Also, there is nothing special about this habit. Hanya saja, buat saya rasanya menyenangkan ketika kepingan memori bisa hadir tanpa perlu diminta. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Makanya, saya senyum saja, tanpa bereaksi atau berpartisipasi, saat melihat gambar-gambar meme film Finding Neverland. Ini film pertama yang saya tonton berdua dengan salah satu mantan pacar.

Alih-alih merasa seru nonton Pearl Harbor. Kalau ada film ini di TV, saya ketawa, ingat dulu nonton film ini rame-rame ber-10 dengan bawa roti, keju, dan sate. Nonton Mamma Mia! sambil nyanyi-nyanyi satu bioskop, dan melongok keheranan, “Bok, ini cowok-cowok pada bisa sing along lagu-lagunya ABBA semua!”

Demikian pula saat mengejar film Mystic River ke Malaysia karena main duluan, atau nonton He’s Just Not That Into You di bioskop berdua, beberapa hari sebelum putus.

Pas ‘kan? Pas bener.

Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com
Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com

Judul-judul film di atas tidak ada satu pun yang saya nilai 10 dari 10, 100 dari 100, 5 bintang dari 5 bintang. Tidak merasa perlu juga mengkoleksi film itu di rak, seperti juga film-film lain yang cukup ditonton sekali atau dua kali.

But sometimes, it’s not about the film itself. It’s how you watch the film.

Dalam kesendirian, saya menikmati sensasi menonton The End of the Affair yang dilanjutkan dengan berjalan di bawah hujan, persis seperti filmnya. Lega rasanya ketika bisa legal dan sah nonton film 21 tahun ke atas di bioskop seorang diri nonton Ralph Fiennes telanjang bulat di Sunshine. Mual-mual melihat kekerasan di film The Piano Teacher tanpa ada orang di sebelah yang bisa dipukuli. Dan merasa dewasa sekaligus jumawa sebagai anak SD ketika bisa sendirian saja membeli tiket nonton Dead Poets Society.

Film yang kita tonton, konser yang kita datangi, buku yang kita baca, tempat liburan yang kita kunjungi, beberapa hal yang membuat waktu kita terasa lebih hidup, memang selayaknya patut dikenang. Mungkin kalau kita rajin merekam, kita tidak perlu lagi minum ginkgo biloba atau obat-obat perangsang memori lainnya.

Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com
Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com

Apakah itu tujuan saya membuat catatan itu? Nggak juga. Seneng aja. Movies keep me alive, kok.

Dan mungkin, orang-orang ini sempat merasakannya.