#RekomendasiStreaming – Memahami Emmy

Nominasi calon peraih penghargaan tertinggi di televisi di Amerika Serikat, yaitu Emmy Awards, baru saja diumumkan minggu lalu. Benar-benar persis seminggu yang lalu dari tulisan ini terbit.

Daftar lengkap seluruh unggulan dari berbagai kategori yang jumlahnya teramat sangat banyak bisa dilihat di sini.
Kalau Anda iseng menghitung-hitung siapa yang paling banyak meraih nominasi, langsung saja data-data berikut ini bisa Anda baca:

• Serial Westworld dan acara komedi “Saturday Night Live” (SNL) sama-sama memimpin perolehan nominasi sebanyak 22 nominasi. Menurut saya, terlalu banyak. Terutama untuk Anthony Hopkins sebagai unggulan Pemeran Utama Pria (Serial Drama) yang easily overshadowed oleh aktor-aktor lainnya di serial tersebut.
Lalu untuk SNL, saya mengernyitkan kening membaca nama Vanessa Bayer dan Leslie Jones di jajaran Pemeran Pendukung Wanita (Serial Komedi). Bukan apa-apa. Mereka dua orang komedian lucu. Namun peran-peran mereka di SNL musim ke-42 yang lalu nyaris tidak ada satu pun yang meninggalkan kesan.

Live from New York, it’s Saturday niiiiggghhht!

• Stasiun televisi berbayar HBO memimpin jumlah nominasi keseluruhan dengan 110 nominasi, diikuti oleh … Netflix dengan 96 nominasi! Apakah artinya trend yang sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir ini? Artinya, kalau mau konten bagus, bayar!
Tak bisa dipungkiri kalau saluran premium macam HBO dan Netflix masih menjadi acuan untuk program acara yang bagus dalam kualitas penceritaan. Dan mereka tidak tanggung-tanggung dalam mengeluarkan biaya untuk memproduksi program televisi yang berkualitas tinggi. And they change the way we watch, consume and consider “television” these days.

Data-data menarik seputar nominasi Emmy Awards tahun ini bisa Anda googling sendiri ya.

Soalnya, tulisan saya tiap minggu ketiga Kamis memang tujuannya memberikan rekomendasi tontonan apa yang bisa kita tonton di saluran streaming yang bisa Anda akses.

Jadi …

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film saja di akhir pekan ini, maka tontonlah

San Junipero

San Junipero

Di beberapa saluran media sosial akhir tahun lalu, saya pernah menulis kalau “San Junipero”, yang merupakan salah satu episode di serial “Black Mirror” season 3 adalah “the finest hour of television programming in a year”. Makanya saya jadi jingkrak-jingkrak kesenangan sendiri melihat “San Junipero” masuk nominasi sebagai Film Televisi Terbaik. A surprise nomination, indeed. Kemungkinan menangnya pun kecil. Tapi tontonlah. Di akhir tayangan, Anda mungkin akan tersenyum sambil terharu, sambil berdendang lagu “Heaven is a Place on Earth”-nya Belinda Carlisle. Benar, cerita filmnya masih berkutat seputar teknologi. Tapi aplikasi teknologi dalam cerita film ini sungguh tidak bisa ditebak alurnya.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah

“Grace and Frankie” (Season 3)

Grace & Frankie

Jujur saja, saya bukan penggemar serial komedi ini waktu baru tayang. Musim penayangan pertama, saya cuma menonton episode-episode awal, lalu ketiduran di episode-episode akhir. Musim penayangan kedua, mulai tertarik. Dan di musim penayangan ketiga, baru bisa tertawa lepas menontonnya. Premise serial ini adalah dua perempuan tua yang saling berteman, namun pertemanan mereka harus teruji saat kedua suami mereka malah saling jatuh cinta dan menikah. Di musim ketiga ini, Grace dan Frankie jungkir balik menjual vibrator (!!!) sebagai bisnis baru mereka, sekaligus membuktikan kalau mereka masih produktif di usia senja. Lily Tomlin dan Jane Fonda memang aktor kelas wahid: penyampaian dialog mereka selalu spot on dan kocak. Ini yang membuat mereka layak diganjar nominasi sebagai Pemeran Utama Wanita (Serial Komedi).

Prediksi lengkap pemenang Emmy Awards tentu saja baru saya akan post menjelang perhelatan acara tersebut di bulan September.
Lama juga ya jaraknya dari pengumuman nominasi, sekitar 2 bulan. Sempat terpikir, “lama amat sih? Oscar aja kayaknya gak sampai 2 bulan deh.”
Lalu setelah dipikir-pikir lagi, 2 bulan waktu yang cukup banget buat catch up serial-serial yang dinominasikan.

Selamat menonton!

Tambahan:
Setiap musim penghargaan televisi dan film, dua media industri hiburan terbesar di Amerika, yaitu Variety dan The Hollywood Reporter, sama-sama bersaing membuat acara yang sama, yaitu para aktor dan aktris saling bertemu untuk membicarakan karya mereka.
Kalau Variety formatnya adalah dua orang aktor bertatap muka untuk berdiskusi. Kalau The Hollywood Reporter memilih format meja bundar, di mana sekitar 6 sampai 7 orang aktor atau aktris mendiskusikan karya mereka di serial televisi atau film yang mereka bintangi. Meskipun belum tentu kita melihat serial atau filmnya, tapi pembicaraan mereka masih menarik buat kita ikuti.
Lihat saja contohnya saat aktris-aktris di serial komedi bertemu dan berbicara riuh rendah satu sama lain. Tidak ada persaingan, tidak ada yang disembunyikan. Seru!

Advertisements

Kita Yang (Mungkin) Sedang Ada di Pinggiran

Beberapa hari yang lalu, saya menonton film dokumenter berjudul Casting By. Film ini disutradarai Tom Donahue dan didistribusikan oleh saluran HBO. Sudah lama saya penasaran sama film ini. Dan rasa penasaran itu benar-benar terpuaskan seusai menonton film ini.

Seperti judulnya, film ini memfokuskan diri pada casting, atau pemilihan pemain film untuk memerankan karakter tertentu. Sering kita lihat ‘kan di awal film, setelah judul film ditayangkan, lalu ada tulisan “casting by” di layar?

Casting By
Casting By

Film ini bercerita tentang pentingnya peran seorang casting director, atau ahli casting, untuk melihat potensi aktor mana yang bisa memerankan peran yang akan dibuat. Lebih fokus lagi, film ini memberikan spotlight besar pada Marion Doughtery, pionir casting film di Amerika Serikat, yang membuka mata pelaku industri film Hollywood tentang pentingnya peran casting ini di setiap awal proyek film akan dimulai.

Menariknya, posisi casting ini adalah satu-satunya posisi utama di kredit film yang tidak ada kategorinya di Academy Awards, atau Oscar. Lainnya? Sinematografer, ada kategori sendiri. Editor juga. Tata artistik ada. Tata busana pun ada. Tata musik pula. Apalagi sutradara, aktor, dan penulis.

Namun sepanjang film, ketika Marion dan beberapa casting directors lain yang 80% adalah perempuan ini diwawancarai, tidak ada satu pun tersirat ekspresi kecewa. Mereka hanya tertawa pahit untuk mengakui fakta bahwa mereka tidak diberikan penghargaan khusus setara di ajang tertinggi perfilman Hollywood. Seolah-olah raut mereka berkata, “Ah, sudah biasa kami dikesampingkan.”

Padahal ketika mereka bercerita proses casting film tertentu, raut mereka sontak berubah. Mereka terlihat sumringah, benar-benar menyukai pekerjaan mereka.
Mendengar mereka bercerita mengenai proses pencarian aktor, mulai datang ke pertunjukan teater paling kecil, lalu melihat iklan-iklan, seakan-akan mengajak kita ikut serta dalam proses tersebut. Mencari Dustin Hoffman ke Broadway sebelum dia diajak audisi film The Graduate. Menemukan Meryl Streep. Menemukan banyak aktor-aktor ternama sebelum mereka bukan siapa-siapa.

Casting By
Casting By

Mungkin ini terdengar klise, tapi melihat mereka berbicara, you can feel their undying passion and love towards the profession.

Lalu beberapa hari kemudian, tak sengaja saya menemukan film Meet the Parents di saluran televisi yang sama. Ada adegan di mana Ben Stiller, yang berprofesi sebagai perawat (male nurse), harus menyebutkan profesinya ke paman, bibi, dan keponakan calon istrinya.
Pertama dia sebut, dia bekerja di “medical profession”. Lalu mereka, yang semua karakternya adalah dokter spesialis, menanyakan spesialisasi karakter Ben Stiller. Dia menjawab bahwa dia adalah perawat. Semua bengong. Mereka menanyakan kenapa “hanya” bekerja menjadi perawat, sambil setengah mengejek. Dia bilang, kalau dia lebih cocok dan lebih memilih menjadi perawat ketimbang menjadi dokter, karena dia bisa benar-benar merawat dan berinteraksi langsung dengan pasien secara intens.

Saya tersenyum saat melihat adegan singkat itu. Meskipun sebentar, tapi rasanya mengena sekali.

Meet the Parents
Meet the Parents

Acap kali saya berada di dalam situasi di mana kita dituntut untuk membuat sesuatu. Atatu menjadi pembuat sesuatu. You’ve gotta create or make something.

But what if we don’t? What if we are not able to create of make?

Beberapa tahun yang lalu, teman seprofesi saya melangsungkan pernikahan. Kami diundang hadir ke pesta pernikahannya. Tentu saja, selayaknya banyak pesta pernikahan di sini, acara ini lebih sebagai ajang acara bikinan keluarga kedua mempelai. Pestanya sendiri cukup besar, dilangsungkan di gedung di sebuah kota di Jawa Tengah. Kami beramai-ramai ke sana.
Lalu ada pengumuman, “kepada teman-teman mempelai perempuan dari dunia film agar bersiap diri berfoto bersama kedua mempelai.” Pengumuman ini diulang sampai dua kali sambil menyebutkan nomer meja kami.
Mendadak ratusan pasang mata mengarah ke meja kami. Namun pandangan ini tidak berlangsung lama. Kami pun beranjak untuk foto bersama.
Setelah selesai, kedua mempelai, yang sama-sama kami kenal, tertawa dan bilang ke kami semua, “Mungkin keluarga kami pada ngira kalau teman-teman di dunia film itu berarti artis ya. Padahal ya boro-boro, bok!” Kami sempat tertawa kencang-kencang di pelaminan.

Sering saya ditanya, baik dari keluarga atau teman, apakah saya tidak berminat menjadi sutradara atau produser atau pembuat film. Dengan baik-baik saya bilang, saya belum mampu sekarang. Pernah mencoba, namun hasilnya tidak maksimal. Ada kesadaran dalam diri terhadap kemampuan yang dimiliki, serta apa yang tidak bisa dilakukan.
Namun apakah saya merasa left out karena “tidak menghasilkan sesuatu”? Jawabannya: tidak.
Dalam kapasitas yang terbatas, saya berusaha semampu saya untuk bekerja membantu mereka yang berkarya. Membantu dalam memberikan ruang untuk karya mereka diapresiasi, membantu membuat karya mereka dikenal lebih luas, dan banyak hal lain.

Dan di bidang pekerjaan yang lain, tentu saja banyak sekali support system yang membutuhkan tenaga kerja.
You are still entitled to call yourself working in medical profession, even if you’re not a doctor. A nurse, for example.
Bekerja di bidang penerbitan buku tidak eksklusif milik mereka yang berprofesi sebagai penulis atau editor. Desainer grafis, proof reader, sampai mereka yang bekerja mencetak buku pun, mereka semua adalah bagian besar dari sebuah buku sampai ke tangan kita semua.

It takes a village to make a maker, to create a creator.

Dan ketika kita bekerja dalam lingkaran besar, meskipun bukan di poros tengah, trust me, you still matter the most.
Because we are still needed.

Internet Killed The Video Star

hoc5

Beberapa hari yang lalu. House of Cards Season 3 baru saja rilis melalui Netflix. Bukan HBO atau TV lainnya. Tanggapannya positif dari musim pertama hingga ketiga. Tiga belas nominasi Emmy Awards di musim pertama. Terakhir Kevin Spacey mendapatkan Golden Globe pertamanya melalui perannya sebagai Frank Underwood di serial tersebut. Memang sudah waktunya dia mendapatkan piala itu. Breaking Bad sudah tamat. Frank Underwood, sang politisi dengan gaya ruthless pragmatism-nya sekarang menggantikan tempat Walter White, guru kimia di SMA yang over-qualified dan menjelma menjadi Heisenberg, produsen sekaligus penjual meth.

Media Right Capital membeli copyright ini dari BBC dan membuatnya menjadi versi Amerika. Fokus dari serial ini ada pada Frank Underwood, seorang congressman dari Partai Demokrat (kalo di sini anggota DPR mungkin ya), yang berhasil meloloskan jagoannya menjadi Menlu AS. Selanjutnya, siapa yang menghalangi jalannya akan dia libas. Siapapun dia.

Apa sih yang spesial dari serial yang diadaptasi dari judul yang sama buatan BBC ini? Terus terang saya tidak pernah mengantisipasi sebuah serial televisi seantusias ini. House of Cards di mata saya sudah berada di kelas The Wire, Breaking Bad, The Sopranos, Friends atau mungkin X-Files (pencinta Glee dan The Big Bang Theory melipir dulu ya). Saya sengaja menghabiskan akhir pekan kemaren melahap semua episode House of Cards musim ketiga ini yang tentunya akan ada lanjutannya.

Seluruh episode? Koq bisa? Kan baru rilis? Ya bisa. Karena Netflix, penyedia layanan media streaming (maaf saya belum menemukan padanan kata streaming dalam Bahasa Indonesia) dan pemilik hak siar dari serial ini memutuskan untuk merilisnya sekaligus. Semua episod bisa dilihat. Kapan saja. Di mana saja. Selama koneksi internet anda ngaceng. Dua puluh empat jam sehari. Tujuh hari seminggu. Tidak seperti serial dari TV Kabel konvensional seperti Indovision, First Media, Big TV atau Orange, Aora, atau yang lainnya yang hanya menayangkan per episod setiap minggunya.


Di tengah kesibukan merampungkan The Curious Case of Benjamin Button, David Fincher mendapat tawaran dari agennya untuk menggarap House of Cards. Ide ini diterima dengan suka cita oleh David Fincher. Dia memang sudah lama menginginkan membuat karakter dalam format yang panjang seperti televisi. Tidak seperti film.

hoc10

Ketika dia membaca naskah tersebut hanya ada satu orang yang ada di benak David Fincher untuk memerankan Frank Underwood. Dia adalah Kevin Spacey (masih ingat film Se7en?). Akhirnya mereka berdua berkolaborasi sebagai produser pelaksana. Tapi Fincher membutuhkan orang yang berpengalaman di bidang politik. Orang dalam yang mengetahui seluk beluk Gedung Putih dan Capitol Hill.

Orang itu adalah Beau Willimon, seorang penulis naskah lulusan Julliard yang telah menelorkan The Ides Of March, yang diganjar nominasi Best Adapted Screenplay oleh Academy Awards. Beau juga pernah menjadi sukarelawan Hillary Clinton untuk menjadi Senat, dan juga membantu kampanye Howard Dean dan Bill Bradley untuk menjadi Presiden dari Partai Demokrat. Pas.

Ted Sarandos, Chief Content Officer dari Netflix, mencium adanya potensi kesuksesan di House of Cards. Maka Netflix membeli hak siar dari serial itu sebelum diambil HBO, AMC, atau Showtime. Netflix juga membutuhkan serial produksi sendiri, eksklusif. Tidak hanya sekedar “menyediakan film dan serial yang sudah ada”.  Ted juga melihat statistik dan kebiasaan dari pelanggan Netflix bahwa ada penonton yang yang cukup signifikan jumlahnya yang menyukai film yang dibintangi Kevin Spacey, film yang disutradarai David Fincher, dan film dengan genre political thriller.  Restoran pun membutuhkan makanan khas, enak dan tidak dipunyai restoran lain kan? Kalo sudah punya keunikan. Makanan yang lain pasti dicicip. Yakan? Yasih.

Lalu hasilnya apa? Dengan masuknya House of Cards sebagai serial unggulan dari Netlix yang menghabiskan $100 juta dollar per musim ini? Pelanggan berbayar Netflix melonjak drastis. Dari 24 juta pelanggan sekarang menjadi 50an juta pelanggan, dan terus bertambah. Setengahnya adalah dari Amerika Utara. Harga sahamnya pun terus naik.

Jika HBO dulu mempunyai serial unggulan The Sopranos dan Sex And The City. Maka Netflix mempunyai House of Cards dan Orange Is The New Black. Netflix adalah HBO-nya internet. HBO versi streaming. Ala carte. 

“This is the future, streaming is the future. TV will not be TV in five years from now…everyone will be streaming.” 


 

Lalu, kalo begitu internet kencang buat apa? Coba tolong tanya Pak Rudiantara yang sempat bercokol di Telkom, Indosat, PLN dan juga XL yang entah sedang apa, di mana dan bersama siapa dia sekarang.

Udah ah jangan ngomongin politik aja. Mending denger lagu ini. Lebih suka versi Buggles sih Tapi pake yang ini aja. Biar tematik gituu. Kan yang bawain The President Of The United States America.

Gimana kalo judul lagunya diganti aja jadi Internet Killed The Video Star? Hmm?