Lucky Number 13

Ini tulisan ke-13 saya di sini. Tidak terasa. Sudah tiga bulan saya dan teman-teman bergantian menulis untuk Linimasa.
Sudah serupa warteg. Tulisan-tulisan yang disuguhkan rasanya berbeda-beda. Beda orang beda karakter, katanya.

Tulisan Nauval seringnya melankolis, kerap menyentil pojok hati yang kadang sudah berdebu karena ditinggalkan—atau malah sengaja dilupakan. Setiap membaca tulisan-tulisannya ulu hati selalu hangat. Kadang mata pun berembun.

Long-long paling piawai mengajak merenung lewat kata-kata. Rasanya adem. Sementara tulisan-tulisan Masagun selalu penuh analisa dan matang. Yang paling lembut di antara kami bertujuh justru Gandrasta. Orang ini penuh rasa cinta.

Aku suka sekali gaya tutur Papah Glenn yang apa adanya. Suka atau ndak suka, semua dijembrengin. Sementara Masungu itu Linimasmas yang paling puitis. Kaya diksi. Romantis. Lihat saja betapa indahnya resensi yang dia buat setiap pagi. Kalau tulisan-tulisan kami ini film, maka Masungu adalah Roger Ebert-nya.


 

Selain mereka berenam, ada beberapa orang lain yang “rumah”nya sering saya kunjungi. Hari ini saya ingin mengenalkan mereka kepada kalian:

1. SASTRI

sastri

Sama seperti namanya. Blog ini milik Sastri, seorang travel journalist. Tulisan-tulisan Sastri begitu “bersih”. Deskriptif sekali. Mengalir. Sekilas mengingatkan saya dengan tulisan Ahmad Yunus.

Gak cuma pintar bertutur, Sastri juga pintar motret. Tulisan-tulisan dia yang cantik itu ditunjang dengan foto yang gak kalah bagusnya. Keliatan jelas kalau setiap perjalanan dia selalu pakai hati.

2. CHIPPING IN

eva

Sama seperti Long-long, tulisan-tulisan mbak Eva Muchtar selalu bikin adem. Di saat yang sama tulisannya begitu… dalem. Mengajak kita untuk mendengar. Satu hal yang sering banget terlupakan.

3. TERSENGAT KALIMAT

teguh

Teguh Afandi mahir sekali menulis cerpen. Gayanya antara surealis dan realis, tapi ndak “ketinggian”. Saya paling suka kalau dia sudah bahas soal kultur atau kebiasaan masyarakat tertentu. Semoga suatu saat tulisan dia ini bisa dibukukan.

 

Apa blog favoritmu? bolehkah dibagi di kolom komentar? 🙂

Advertisements

Satu Tambah Satu Belum Tentu Dua

Selain hati, ternyata ada barang lain yang paling ditakutkan kalau dicuri orang.
Apakah itu?

iPod.

Courtesy of techspot.com
Courtesy of techspot.com

Kenapa?

Dulu, pernah iPod saya gak sengaja kebawa sama (mantan) pacar. Begitu tahu kebawa, saya langsung panik. Blingsatan. Buru-buru minta iPod dibalikin. Bukannya takut iPod hilang atau dijual lagi.
Yang saya takutkan adalah, dia akan tahu semua playlists di iPod itu.

Iya. iPod saya isinya penuh dengan playlists.

Mulai dari playlists buat teman berlari, playlists sambil bersepeda, playlists lagi traveling.
Tapi selain itu, ada playlists lain, yaitu playlists saat jatuh cinta.
Dan udah umur segini, jatuh cinta ya masak cuma sekali?
Alhasil, di sana ada sejumlah playlists pas naksir, playlists pas jadian, dan tentunya, playlists pas patah hati.

Tanpa terkecuali, playlists itu semua dibuat dengan sangat hati-hati. Apalagi buat saya dan mungkin Anda sebagai generasi mixtape.
Silakan tersenyum mengingat-ingat beli kaset kosong, yang lalu diiisi rekaman lagu-lagu hasil request di radio. Tentu saja cover kaset dibuat dengan tulisan tangan, atau paling nggak, pakai rugos.

Demikian pula dengan CD lagu-lagu hasil download untuk bakal calon gebetan (ribet ya?). Atau mungkin sekarang, kasih aja flash disk. Saking banyaknya kapasitas space, selain lagu bisa diisi juga dengan rekaman video testimoni. Kalo nanti proposal cinta ditolak, yang terima tinggal hapus semua lagu. Masih dapet flash disk gratis pula!

__________

Padahal yang membuat kompilasi itu mungkin saja gak tidur semalam suntuk, atau lebih. Demikian pula para pembuat kompilasi macam “NOW!” series, atau “Sad Songs” atau “Forever Love 2014”. Dua judul terakhir malah masih bercokol di deretan album terlaris iTunes. Meski sudah terlalu sering kita melihat album-album kompilasi ini, toh mereka masih laris manis.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang profesinya memang membuat album-album kompilasi seperti ini. Katanya, “Enak ngerjainnya. Dengerin musik, dibayar pula.”

Trus gimana milih lagunya? Jawabannya simpel, “Pake hati.”

Nah lho. Emang cuma nge-blog doang yang pake hati?

Menyusun rangkaian lagu yang belum tentu nyambung dari satu sisi adalah seni tersendiri. Perlu keahlian khusus.
Irama boleh beda, asal lirik masih seputar “beginilah rasanya ditinggal kekasih”, bolehlah dipertimbangkan dulu, sambil cari lagu lain.

Itu kalau sekedar album kompilasi.
Membuat soundtrack film? Apalagi.
Selain dituntut mencari lagu sesuai adegan yang perlu diisi, belum tentu juga pembuat lagu mau mengijinkan lagunya digunakan di film itu. Namun karena kita berkhayal dalam tulisan ini, maka kita pun bebas dari memikirkan kompleksitas legal issue ini.
Terlebih urusannya pake hati. Hasil yang tercipta dari hati, biasanya akan meniupkan jiwa di karya yang bisa dinikmati.

Satu tambah satu, lagu demi lagu, harus menjadi satu kesatuan gambar gerak dan suara.

Waiting to Exhale.
The Boat that Rocked.
Forrest Gump.
Good Night, and Good Luck..
Grace of My Heart.

Itulah beberapa album soundtrack dengan pilihan lagu yang terasa menyatu dengan film. Sekaligus, mungkin saja album-album itu akan dibawa saat terdampar di pulau asing.

Eh, tapi itu jawaban pertanyaan jaman dulu, ding.

Kalau sekarang?

Tinggal bawa iPod dan kabel charger.
Toh isinya semua adalah the soundtrack of our life.

Lagi pula, apalah artinya hidup tanpa penanda lagu?

PS: si iPod sudah kembali dan masih berfungsi.