One of Us: Filem Dokumenter Tentang Yahudi Ultra Ortodoks

Fanatisme ada dalam setiap hal. Bisa soal tim spekabola kesayangan, grup musik idola, dan paling sering dibicarakan saat ini adalah fanatisme dalam beragama. Filem One of Us, sebuah filem dokumenter, menggambarkan hal itu. Kali ini yang menjadi fokus adalah kaum Yahudi dengan salah satu aliran ultra ortodoknya yang dikenal dengan Hasidisme. Umatnya dinamakan dengan kaum Hasidic.

Lelakinya diwajibkan memelihara jambang hingga panjang mengular. Perempuan Hasidim yang telah menikah selalu mengenakan wig untuk menutupi rambut asli mereka. Hukumnya wajib. Sebagian masyarakat New York mengenalnya juga dengan sebutan Hasidim.

Apa yang disajikan dalam filem cukup menarik. Hasidim yang bermukim bukan di Tel Aviv, yerusalem atau Hebron. Justru Hasidim banyak yang bermukin di Amerika Serikat, tepatnya di kota New York bagian Brooklyn.

Pendahulu mereka awalnya berada di sekitar Azerbaijan, Ukraina, Lithuania dan Negeri Eropa Timur lainnya. Mereka merupakan korban yang selamat dari peristiwa Holocaust. Walaupun mereka lama menetap di Amerika, mereka mayoritas masih menggunakan Bahasa Yiddish.

Dalam cerita itu, salah satu tokoh yang diceritakan adalah dokumentasi kisah pilu hidup perempuan Yahudi Hasidim bernama Etty.

Etty, sejak usia 19 tahun telah dijodohkan untuk menikah dengan  cara kawin paksa dengan pria berusia 18 tahun. Etty bercerita sebelum menikah ia hanya bertemu dua kali dan dalam pertemuan yang masing-masing paling lama 30 menit, mereka hanya berdiam diri. Sebelum menikah, sehari sebelumnya dia memotong habis rambutnya yang hitam ikal lebat. Lalu dia dibelikan ibunya beberapa wig, yang warnanya serupa (hitam) dengan model yang juga sama.

Perempuan Hasidim sama halnya dengan kaum lelakinya memperoleh edukasi dari sekolah komunitas. Namun khusus perempuan, mereka tak perlu sekolah tinggi. Bekal terpenting adalah belajar menjadi Ibu yang baik. Memasak, mendidik anak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Di Brooklyn, Kaum Hasidim mudah ditemui. Menjelang subuh mereka biasanya membaca kitab di tepian East River hingga terbit matahari. Penduduk Hasidim di Brooklyn menurut sensus tahun 2016 lebih dari 600 ribu jiwa. Mereka bermukim di daerah Borough Park, Williamsburg,  Flatbush, yang penuh dengan Yeshiva, Sinagoga dan restoran Kosher. Mereka juga mendominasi daerah Kensington, Midwood, Canarsie, Sea Gate, and Crown Heights.

Etty, adalah penduduk daerah Kensington. Filem dibuka dengan adegan dimana Etty menelpon 911 karena pintu rumahnya digedor oleh suaminya. Polisi akhirnya mengusir suaminya. Kemudian terdengar gedoran lagi, kali ini dari keluarga suaminya. Etty meminta ketujuh anaknya diam di kamar mandi, karena hanya ruangan itulah yang tak berjendela. Etty takut. Etty kebingungan.

Etty merupakan salah satu perempuan Yahudi Hasidim yang memberanikan diri menggugat cerai suaminya. Proses masih berjalan. Intimidasi terus berhamburan mengarah padanya.

Keberanian untuk mengajukan cerai ini diawali dari derita yang dialaminya. Cercaan, pukulan, dan tekanan lainnya yang dia terima dari sang suami silih berganti setiap harinya. Di Usia 32 tahun Etty telah memiliki 7 anak. Jumlah yang lumrah di kalangan Hasidim.

Sebetulnya Etty tak sendiri. Ada dalam filem tersebut dua Yahudi lainnya (Ari dan Luzer) yang juga keluar dari kelompok Hasidim. Ari adalah anak muda yang berani mencukur habis jambangnya. Dia pernah dimasukkan ke pusat rehabilitasi obat-obatan terlarang karena depresi menjadi korban sodomi guru musim panasnya. Luzer, duda yang yang bercita-cita menjadi artis Holywood, dan sudah 7 tahun tak pernah berbicara dengan keluarganya karena dia menggugat cerai istrinya.

Etty, Ari dan Luzer adalah Yahudi murtad. Yahudi Infidel. Namun di kalangan mereka sering disebut kaum Footsteps, diambil dari organisasi kemanusiaan yang membantu kaum Hasidim yang tak bahagia menjalani kehidupan Hasidisme.

Dalam filem itu juga Etty dibantu oleh Footsteps. Semacam pertemuan berkala yang menjadi wadah untuk meneguhkan hati bahwa keluar dari Hasidisme bukan berarti meninggalkan Tuhan, melainkan memilih untuk beragama secara “wajar”.

Kaum Yahudi Hasidim memiliki musuh besar bernama internet. Semua anak mudanya dilarang membuka internet, apalagi berjam-jam membuka google atau wikipedia.  Ulama mereka melarang keras akses internet. Mereka memusuhi wifi. Mereka membenci. Begitu membenci sekularisme.

Ikatan kaum Hasidim begitu kuat. Kunci utamanya adalah hidup berserah diri dan beribadah. Kemudian mengulanginya setiap hari. Rutinitas dan repetisi adalah utama. Kaum Hasidim begitu fobia pada kehidupan “luar”. Beban emosi dan psikologis sebagai korban holocaust menjadikan mereka demikian. Dan emosi ini ditularkan kepada anak cucu mereka.

Etty dalam proses perceraian berjuang untuk hak asuh anaknya. Namun keluarga suaminya berjuang keras di muka pengadilan untuk menjadikan anak-anak mereka jatuh dalam pengasuhan suami. Komunitas Hasidim bahu membahu. Mereka saling menyumbangkan dana untuk membayar Pengacara mahal yang intinya dapat meyakinkan hakim bahwa Etty adalah Ibu gagal yang berbahaya bagi perkembangan jiwa anak-anaknya.

Etty disudutkan karena sering membawa anaknya ke pertemuan Footsteps tanpa mengenakan stocking panjang dan wig. Etty membawa pengaruh sangat buruk bagi kehidupan relijius anak-anaknya.

Di akhir cerita, Etty harus berhadapan dengan realita. Apa itu? Silakan tonton sendiri.

SaveSave

SaveSaveSaveSave

SaveSaveSaveSave

SaveSave

Advertisements