Kado

Semalam, saya mampir ke toko buku dalam perjalanan pulang. Tidak ada rencana sebelumnya untuk mengunjungi toko ini, meskipun sudah lama saya tidak pergi ke sana. Tidak ada niat pula untuk membeli buku baru, karena masih ada beberapa buku yang belum sempat dibaca.

Makanya saya melangkahkan kaki ke bagian perlengkapan alat tulis, alat-alat elektronik dan pernak-pernik lainnya. Melihat rangkaian barang yang dipajang, mulai dari pulpen sampai jam tangan, mulai dari buku catatan sampai tas sekolah, sontak saya tersenyum sendiri.

Tiba-tiba saja pikiran saya teringat kembali saat masih di bangku sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu. Seorang sahabat saya waktu itu selalu mengajak saya untuk mencari kado buat pacarnya. Mereka memang sudah pacaran beberapa bulan saat kami baru masuk sekolah itu. Sampai kami lulus pun, mereka masih pacaran. Jadi bisa dibayangkan, setidaknya ada tiga kali ulang tahun di mana saya harus menemani sahabat saya mencari kado yang “sempurna” untuk pacarnya. Belum lagi anniversary, atau momen-momen lain di mana secara mendadak teman saya memutuskan untuk memberikan sesuatu barang buat pacarnya.

Sampai-sampai saya sendiri yang kadang harus mengingatkan untuk mencari kado.

“Sudah bulan November, nih!” (Ini berarti ulang tahun pacarnya.)

“Sudah mau bulan Agustus ini!” (Ini berarti ulang tahun pacaran mereka.)

Berhubung saat itu saya tinggal di kota yang tidak sebesar tempat tinggal sekarang, maka pilihan pencarian kado kami cukup terbatas. Tak jarang kami menghabiskan waktu hampir seharian, mulai dari jam 10 pagi saat toko-toko baru buka, sampai jam 7 malam, saat kami kelaparan karena skip makan siang. Tak jarang pula pada akhirnya kami malah kembali ke toko yang pertama kali kami tuju, karena setelah pergi ke toko-toko lain, tidak ada barang yang sesuai. Harap diingat juga, isi kantong pelajar tidak bisa memberikan kami banyak pilihan juga.

Kadang-kadang, meskipun bercanda, saya sempat kesal juga, dan berkata ke teman saya, “Tiap tahun kita selalu kayak gini, ya? Gak capek apa? Lagian dia pasti terima apapun kado dari kamu. ‘Kan dari pacarnya. Kamu kasih sendal jepit beli di warung terus kamu ukir nama dia pakai silet, juga pasti diterima!”

crop380w_istock_000016975754xsmall

 

Teman saya tertawa, dan saya pun tertawa. Meskipun kami tidak pernah melakukan hal itu, kami sadar bahwa sebenarnya yang menyenangkan adalah proses mencari barang tersebut. Itu satu hal. Looking back, ternyata proses mencari kado ini semacam road trip murah buat dua pelajar dengan kantong pas-pasan saat itu.

Hal lain yang menyenangkan, tentu saja melihat reaksi orang yang menerima kado pemberian dari orang yang disayang.

Tentu saja saya tidak pernah tahu reaksi pacar teman saya saat menerima kado-kado tersebut. Ya masak saya ikut? Tentu saja saya juga tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah kami cari selama tiga tahun di bangku sekolah tersebut. Saya pun tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah saya berikan kepada dan terima dari mantan-mantan pacar.

Yang akhirnya saya ingat cuma rasa. Rasa senang saat berusaha mencari tahu, barang apa yang kira-kira pas untuk orang lain. Rasa kesal saat terus mencari tanpa henti. Rasa senang saat akhirnya kita tahu apa yang kita mau, dan bisa mendapatkan barang tersebut. Rasa deg-degan saat membungkus kado, dengan banyak harapan dan rasa deg-degan membayangkan reaksi apa kira-kira yang didapatkan nantinya. Rasa lega saat reaksi tersebut sesuai dengan yang kita bayangkan.

Dan itu sudah cukup menjadi kado buat diri kita sendiri.

c7d021_c428781b9407436c986c4ad9ed24debf_mv2

Advertisements