“Kriminalisasi” Terhadap Orang-orang Gemuk

HIDUP dalam dan menjadi bagian dari masyarakat yang sangat terobsesi pada ukuran serta tampilan fisik, tanpa sadar membuat kita sudah bersikap diskriminatif selama ini. Termasuk terhadap orang-orang yang bertubuh gemuk.

Bukan berbentuk perundungan atau bullying, diskriminasi yang kerap kita lakukan justru sangat halus, tidak kasar, tidak menyakiti, apalagi blak-blakan menyerang. Saking halusnya nyaris tak membuat si penerima merasa terganggu, tak sampai memunculkan penolakan dan kebencian. Lantaran kebanyakan berupa saran dan masukan.

Kamu kayaknya perlu olahraga, deh. Perutmu sudah gendutan, tuh. Sudah waktunya jaga kesehatan. Misalnya.

person measuring someone waist line
Photo by rawpixel on Unsplash

Sekilas tidak ada yang salah dari ucapan itu. Terkesan akrab, memiliki kedekatan personal, dan menunjukkan adanya perhatian dari si pengucap kepada lawan bicaranya. Namun, ada asumsi yang mengaitkan ukuran lingkar perut seseorang dengan kondisi kesehatan dan kemampuannya merawat diri. Padahal kondisi gemuk/kurusnya seseorang dipengaruhi berbagai faktor. Baik yang bisa diubah (gaya hidup, pola makan, pola aktivitas, kecepatan metabolisme tubuh, pikiran, tingkat stres sehari-hari, dan banyak lagi), maupun bawaan genetik yang mustahil bisa dimodifikasi. Itu sebabnya tak semua orang bisa ditangani dengan cara dan pendekatan yang sama. Seperti yang pernah ditulis Ko Glenn dan Mbak Leila beberapa tahun lalu, sebuah metode diet yang berhasil pada seseorang belum tentu memberikan dampak positif serupa bagi seseorang lainnya.

Ini bukan perkara preferensi pribadi, melainkan anggapan-anggapan yang muncul, tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam masyarakat, hingga menjadi kesepakatan umum mengenai orang-orang bertubuh gemuk. Tatarannya pun berbeda. Dimulai dari yang hanya patut disimpan dalam hati, sampai yang bisa terang-terangan dirayakan.

Iya, dirayakan. Kompetisi berhadiah.

Beberapa anggapan sosial tentang orang bertubuh gemuk, di antaranya…

  • Orang gemuk tidak mampu mengendalikan diri/nafsu makannya.
  • Orang gemuk hobi makan, bahkan rakus.
  • Orang gemuk hanya memikirkan soal makanan.
  • Orang gemuk tidak gesit saat bergerak atau bekerja.
  • Orang gemuk tidak suka berolahraga.
  • Orang gemuk tidak bisa menjaga dietnya.
  • Orang gemuk pemalas (lantaran susah bergerak).
  • Orang gemuk lamban.
  • Orang gemuk berwajah cakep: “Sayang, badannya kegedean.
  • Orang gemuk berwajah kurang cakep: “Sudah gemuk, jelek pula.” Apalagi jika ditambah parameter-parameter negatif lain.
  • Orang gemuk gampang terserang penyakit degeneratif.
  • Orang gemuk sulit mendapatkan pasangan.
  • Orang gemuk gampang berkeringat.
  • Orang gemuk bikin gerah.
  • Orang gemuk menyusahkan sekelilingnya, bikin sempit.

… dan masih banyak lainnya.

Terdengar kejam dan merendahkan, kalimat-kalimat di atas memang tak sepatutnya diutarakan secara terbuka. Berbeda jika dalam konteks teman akrab, celetukan di atas bisa dianggap biasa-biasa saja. Jangan lupa, body shaming masih dianggap topik kelakar yang biasa-biasa saja.

Di tingkat berikutnya, kita menempatkan keadaan “gemuk” sebagai sebuah tantangan, kemudian mengaitkannya dengan kualitas perorangan. Sebut saja kegigihan dan konsistensi, motivasi dan semangat.

Awalnya mereka menjadi (baca: dibuat) merasa tidak nyaman, dan memunculkan keinginan agar bisa kurus. Entah disengaja atau tidak, ada beragam alasannya. Mulai dari masalah tampang dan penampilan, hingga paranoia tentang kesehatan. Kemudian, upaya-upaya penurunan berat badan digambarkan layaknya serangkaian perjuangan berat.

Jika tidak diejek gorila, bisa jadi jalan ceritanya berbeda. Setelah berhasil menurunkan berat badan, sebutan “jejaka tampan” mulai muncul dan dilekatkan.

Namanya juga perjuangan, tentu saja tidak mudah. Sehingga tujuan yang ingin dicapai pun lekat dengan kesan positif; sesuatu yang harus berhasil karena telah dijalani dengan susah payah. Bisa ditebak, keberhasilan itu pun dirayakan, disambut pujian dan apresiasi. Kadangkala bisa memabukkan.

Di satu sisi, itu adalah pencapaian, memang sepantasnya diperlakukan begitu, akan tetapi juga melanggengkan pandangan bahwa …

GEMUK = TIDAK BAIK

Ada ucapan bijak: “Mau gemuk atau kurus, terserah. Yang penting sehat.” Pasalnya, gemuk belum tentu sehat, kurus pun belum tentu bebas dari potensi penyakit. Cukup sampai di situ saja.

Sayangnya apabila rumus gemuk = tidak baik tertancap kuat dalam benak banyak orang, gelombang kekhawatiran berlebih dan insecurity pun bisa meluas. Dampak buruknya…

  • Cara instan menurunkan berat badan makin laku meskipun berbahaya,
  • Kehidupan sosial terganggu karena banyak yang sensitif dan gampang tersinggung,
  • Selalu terfokus pada diri sendiri (self-conscious), dan
  • Potensi gangguan psikologis termasuk kecenderungan anoreksia,
  • Pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang rapuh.

Jadi, pilih mana? Gemuk dan bahagia, bisa menerima diri apa adanya; atau tidak gemuk tetapi enggak bisa santai?

Pokoknya, jangan berlebihan. Jangan serbasalah, dan pastikan dapat masukan yang profesional dari dokter. Cuma mereka yang punya kapasitas profesional untuk didengarkan untuk urusan berat badan dan kesehatan.

Idealnya, sih, begitu, dan mesti didukung oleh lingkungan. Jika tidak, diskriminasi itu bakal mustahil dihindari.

[]