Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

Advertisements

Santai Saja

Pertamax, Gan!

Bukan untuk membantu pemerintah mempromosikan bahan bakar nonsubsidi, ungkapan itu populer di semesta maya Nusantara sejak beberapa tahun terakhir sebagai ekspresi kebanggaan. Bangga, lantaran “berhasil” menjadi pemberi komentar pertama pada sebuah topik, mendahului ratusan atau ribuan respons lain. Walaupun sejatinya, “komentar” yang ditulis itu tidak menyampaikan apa-apa.

Memang, manusia adalah makhluk yang kompetitif. Punya kecenderungan untuk ingin selalu menjadi yang pertama. Sifat tersebut bahkan ditunjukkan secara alamiah sebelum terjadinya pembuahan, saat jutaan sel sperma mesti bersaing dulu-duluan berkontak dengan satu sel ovum. Sampai akhirnya menjadi bakal si jabang bayi.

Masih tentang keterciptaan serta keberlangsungan spesies kita, dan objek di selangkangan. Ada dugaan ilmiah bahwa manusia memiliki pelir berbentuk unik juga gara-gara alasan serupa. Jangan dikira adanya celah sambungan antara kepala dan batang cuma untuk mempermudah genggaman. Terdapat fungsi kompetitif dan praktis di balik kehadirannya. Agar menjadi pejantan pertama, yang jutaan sel spermanya bisa benar-benar bergerak efektif menuju calon pasangan.

Ketiga contoh di atas menggambarkan betapa pentingnya pencapaian manusia sebagai “yang pertama” terhadap keberadaan fisik, dan keberadaan sosialnya.

Faktanya, banyak orang di sekitar kita, karena gengsi dan didorong oleh ilusi harga diri, berusaha setengah mati untuk jadi “yang pertama” demi eksistensi. Kelihatannya sih gembira, entah apa yang mereka rasakan sebenarnya.

Misalnya, ada yang mbelani terbang ke luar negeri, untuk beli dan jadi pemilik iPhone 6 pertama di kotanya. Barangkali dia memang fanboy sejati, sehingga sudah tak sabar ingin menikmati semua fitur terbaru dari telepon genggam superpintar seharga satu unit motor bebek itu. Lain ceritanya kalau dia hanya pengin pamer kemampuan membeli, tapi ndak paham cara pakainya. Kasihan.

Ada yang girang luar biasa, jadi orang pertama yang berhasil membeli koleksi terbaru kaftan mahalan (apalah namanya itu) setelah fotonya diunggah ke Instagram. Barangkali dia memang perempuan dengan selera berbusana yang mumpuni, sehingga giat berburu kaftan berkualitas tinggi. Lain ceritanya kalau dia hanya ingin ikut-ikutan tren, supaya ikut terlihat happening saat sedang arisan bersama teman-teman. Norak.

Ada yang berusaha tetap bersikap rendah hati, setelah namanya dicatat besar-besar sebagai donatur pertama dalam acara malam amal prestisius di grand ballroom hotel berbintang. Sebuah acara mewah berkelas yang dihadiri para konglomerat, selebritis, dan pejabat tinggi. Barangkali dia memang orang kaya yang punya jiwa sosial tinggi, ingin membagi sedikit hartanya untuk membantu panti asuhan, dan sebagainya. Lain ceritanya kalau ternyata dia hanya berharap mendulang reputasi, pengakuan, dan predikat terpuji di mata orang lain. Pencitraan.

Pernah berhubungan dengan orang-orang seperti itu? Apakah Anda terusik? Apabila iya, mungkin Anda iri. Kalau tidak iri, barangkali Anda cuma kurang kerjaan, sampai bisa memerhatikan orang lain dengan porsi yang agak berlebihan. Soalnya, bagaimanapun juga, semua tindakan mereka itu tidak ada sangkut pautnya dengan Anda. Mereka berangkat ke luar negeri, membeli barang-barang supermahal, dan berdonasi dengan uang, tenaga, dan waktu mereka sendiri. Dan Anda bisa dengan mudahnya mlengos begitu saja sambil berseru “bodo amat, bukan urusan gue inih!

Toh kalaupun mereka melakukan semua itu untuk tujuan yang kurang tepat, ada risiko dan konsekuensi yang bakal mereka hadapi sendiri. Jangan lupa, semua orang dibekali kemampuan untuk belajar dari pengalaman.

Kucingnya orang.
Kucingnya orang.

Jika mereka terkesan berupaya setengah mati untuk menjadi “yang pertama”, biarlah itu menjadi urusan mereka saja. Kita tidak perlu ikut-ikutan ribet sok menasihati, sok cemburu, atau sok benar menyikapi tindakan mereka. Cukuplah bersikap cuek, dan kembali fokus pada apa yang sedang/harus kita lakukan. Masih banyak yang lebih penting untuk diselesaikan, ketimbang mengurusi orang lain.

Hal yang lebih penting tadi, termasuk menjaga diri kita agar jangan sampai–secara sadar atau tidak–ikut setengah mati ingin jadi “yang pertama” hanya gara-gara gengsi dan latah budaya.

Memutuskan nonton film tertentu biar terkesan update, padahal waktu nonton bosannya ndak karu-karuan. Tapi kemudian sok yakin menjelaskan nilai moral, sinematografi, serta interpretasi pribadi. Nekat pesan espresso saat mengunjungi kafe baru, lalu menyumpah dalam hati “sudah isinya sedikit, mahal, pahit lagi!” Tapi kemudian memproklamasikan diri sebagai pecinta kopi asli, bukan produk pasaran. Minta diundang ke pagelaran busana haute couture. Padahal boro-boro jadi buyer, isi kepala saja blank sepanjang acara. Datang ke pameran seni, hanya untuk foto selfie di depan karya-karya yang ada, meski ndak paham dengan apa yang dipamerkan. Tapi kemudian mengaku hipster, sebagai generasi dengan hobi baru yang belum lazim selama ini. Serta masih banyak bentuk-bentuk kelatahan yang melelahkan lainnya.

Lagipula, nyari apa sih dengan menjadi “yang pertama”? Kenapa ndak sekalian aja ngejar jadi “yang pertama” menghadap ke yang mahakuasa? Biar snobbish-nya lebih istimewa.

[]

650 Kata

Kapan terakhir kali Anda langsung tertidur pulas, kala tubuh sudah menempel di atas kasur?

Kapan terakhir kali Anda bangun dengan nyaman, tanpa langsung deg-degan dengan setumpuk kegiatan yang harus dilakukan?

Kapan terakhir kali Anda tersenyum pada diri sendiri, di hadapan cermin?

Kapan terakhir kali Anda tanpa sengaja merasakan lembutnya embusan napas, yang menyentuh ujung lubang hidung?

Kapan terakhir kali Anda hidup, untuk hidup?

***

Teringat salah satu poin dalam tulisan Ko Glenn; “Enough is Enough”. Saat generasi pekerja masa kini, merasa tenggelam dalam keletihan dengan mudahnya. Berbanding terbalik dengan perjuangan keras orangtua mereka dan orangtuanya orangtua mereka, yang bisa jadi jauh lebih memprihatinkan ketimbang saat ini gara-gara politik sanering, dipaksa eksodus besar-besaran karena keadaan, dan berbagai keterbatasan lainnya. Naga-naganya, saya adalah salah satu dari kelas pekerja yang mudah berkeluh kesah itu. Digenjot sedikit, sudah angkat tangan. Tapi enggan kalau belum mapan.

***

Hidup?

Melelahkan memang, hidup di masa yang serba materialistis seperti saat ini. Ketika kontradiksi tersaji setiap hari. Pertentangan terus terjadi antara keinginan dan beban. Antara harapan dan kenyataan.

Ajaran-ajaran moralitas mendorong semua pengikutnya untuk selalu bersyukur, berterima kasih atas segala berkah dan anugerah hidup, memetik hikmah dan nilai moral dari setiap peristiwa, benar-benar menikmati proses yang terjadi, serta selalu berpikir dan bersikap tenang dalam segala situasi. Sementara tuntutan hidup modern mendorong semua orang untuk tidak mudah merasa puas, tak pernah bercokol dalam zona nyaman, mengejar eksistensi diri setinggi-tingginya, fokus pada hasil, mesti selalu tertantang untuk melakoni moto “hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini, dan seterusnya”, menetapkan target-target pembuktian kesuksesan hidup berdasarkan anggapan umum, serta berambisi untuk mencapainya.

Semua tuntutan itu menempatkan kemiskinan dan kebodohan sebagai salah satu momok menakutkan. Hantu Blawu yang meninggalkan coreng-moreng memalukan. Benar aja sih. Siapa yang mau miskin harta dan kecerdasan? Termasuk orang-orang kelompok pertama sekalipun. Yang selama ini selalu dibiasakan untuk tetap mampu menjalani hidup, apa pun keadaannya, dengan prinsip: “ndakpapa miskin atau bego, yang penting bahagia, cukup, mau usaha, ndak ngemis, ndak maling.” Sebuah sikap batin yang sejatinya kaya.

Ditimbang-timbang, sebenarnya tak ada yang salah dari cara pandang keduanya. Sama-sama berfaedah bagi kesejahteraan batin maupun jasmani. Kesalahan hanya terjadi apabila anggota kelompok pertama malas berusaha, berpangku tangan pada keadaan, menjadikan nasib sebagai alibi. Kemudian, kesalahan dilakukan orang-orang kelompok kedua bila menggunakan segala cara untuk melancarkan tujuannya. Mencederai kepatutan, tidak memberikan ruang hati untuk simpati sama sekali. Terkenal dengan celetukannya: “di dunia ini cuma ada dua keadaan: mengalahkan atau dikalahkan!”

Terserah Anda, ingin menjadi bagian dari kelompok pertama yang relatif tampak lebih adem ayem, atau menjadi bagian dari orang-orang yang cenderung gelisah mengejar keberhasilan. Barangkali ada yang tertantang berpindah, dari kelompok pertama menjadi kelompok kedua. Karena bekerja terlalu gontai. Ataupun ada yang tersadarkan untuk menjalani hidup yang lebih tenteram. Karena selalu tegang. Kendati pada kenyataannya, ada banyak orang yang hidupnya memang terkesan seimbang. Berkecukupan, namun tetap mampu selow berkehidupan. Apa rahasianya? Entahlah. Langsung tanya mereka saja.

Lalu, apa tujuan dari tulisan ini? Sejujurnya, saya ndak tahu pasti. Setiap orang punya kehidupannya masing-masing. Lengkap dengan daftar tanggung jawab dan hak yang semestinya tidak boleh diintervensi, apalagi dihakimi. Sebab semuanya dibarengi dengan konsekuensi.

Yang pasti, tulisan ini tidak dibuat seolah untuk menjadi pelepas dahaga di tengah gurun kekeringan, penyegar iman di tengah badai keraguan, penguat keyakinan di tengah kabut ketidakpastian. Ini hadir sebagai jeda dari hiruk pikuk hari Rabu Anda pekan ini, mengisi waktu saat berada di dalam kendaraan umum, pengalih pandangan dan perhatian dari segudang agenda kerja, estafet rapat dengan orang-orang asing, maupun setumpuk dokumen yang perlu Anda input dalam kolom-kolom Excel. Toh, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, kan? Jadi agak kurang elok rasanya, bila tulisan ini dibuat untuk sok menasihati. Anda–yang baca, saya yakin juga sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir sendiri. Dan itu adalah satu-satunya fakta yang kerap Anda lupakan, dan dimanfaatkan para motivator. Hehehe…

***

Ke dermaga mencari peti,

Peti dibuka, isinya kedondong.

Jangan drama jalani hari,

Biar enak, senyum dulu dong.

[]

Kalimantan Punya

Senin pagi, dua hari lalu.

Masih gegoleran waktu Presiden Jokowi sedang melantik para menteri baru. Lagipula, ndak ada yang menarik kok, jadi nontonnya sambil lewat begitu saja. Hingga kemudian, ada pemandangan berbeda di sesi kedua, saat pelantikan wakil menteri.

Batiknya beda kan?

Ya, ada yang mengenakan batik dengan pola tak biasa; motif Dayak.

Entah menampilkan gambar hewan atau tumbuhan, seingat saya motif Dayak di kemeja wakil menteri tersebut cukup jamak terlihat di sini, di Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur (Kaltim). Guratannya luwes, motifnya berulang namun tidak padat, dan warna utamanya tunggal, yaitu merah serupa getah pohon.

Pemandangan itu cukup aneh. Mengingat tidak ada satu pun orang Kaltim yang dipercaya menjadi pengisi Kabinet Kerja. Bahkan gara-gara realitas ini, banyak tokoh penting setempat yang kasak-kusuk. Mereka menuntut perhatian khusus pemerintah pusat, sampai peninjauan ulang kebijakan dana bagi hasil eksploitasi kekayaan alam untuk negara.

Setelah Googling, ternyata Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir ini memang punya darah Kalimantan. Cuman, lahir sebagai orang Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), akan lebih pas bila mengenakan Sasirangan. Kain khas sana. Meskipun karakteristik motifnya jauh lebih abstrak dibanding batik motif Dayak.


Saya lebih suka menggunakan sebutan “batik motif Dayak” atau “Batik Kalimantan” sekalian, ketimbang “Batik Dayak” yang kesannya dipaksakan. Bagaimana tidak, batik sendiri bermakna kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Sedangkan warisan budaya sandang suku Dayak kebanyakan adalah pakaian dari olahan kulit tanaman tertentu. Ada pula kain mirip sarung dengan hiasan manik-manik berbentuk motif naga, burung enggang, maupun manusia. Serta Ulap Doyo, tenunan dari serat daun doyo. Selebihnya, bersama dua varian yang muncul belakangan, yakni Badong Tencip dan Sulam Tumpar (namanya kurang eksotis apa coba?), aneka kerajinan tersebut merupakan milik subsuku-subsuku besar Dayak, tersebar di seantero pulau Kalimantan.

Sebagai pembanding. Waktu masih SD pertengahan era 90-an lalu, salah satu ibu guru pernah menuturkan pengalamannya di pedalaman hutan. Di sana, kala itu, ia tak hanya bertugas mengajari baca tulis. Melainkan juga membudayakan pakaian “layak”, yang didominasi atasan. Baru beberapa tahun terakhir saya tahu, itu adalah program “memanusiakan manusia Indonesia” gaya Orde Baru. Termasuk dengan membusanakan orang-orang yang telanjang dada. Istilah “Batik Dayak” pun makin mendekati oksimoron.

Ndak tahu siapa yang pertama kali mencetuskan sebutan Batik Dayak, entah sebagai inovasi atau Jawaisasi. Kemungkinan besar, si polan itu pula yang berpikir kreatif untuk memindahkan media motif Dayak. Dari gambar bagian tameng perang, pahatan topeng Hudoq, maupun ukiran dinding utama Lamin atau rumah tradisional suku Dayak ke atas kain. Hingga akhirnya melekat di tubuh banyak orang. Mulai dari seragam sekolah dan baju KORPRI se-Kalimantan, wakil menteri tadi, sampai almarhum Madiba.

Pola dan ulirnya khas.

Terlepas dari penjelasan di atas, saya baru melihat perajin batik motif Dayak yang menggunakan malam kira-kira empat tahun lalu. Itu pun di mal, eksibisi pembuatan batik motif Dayak dalam rangka hari jadi Kota Samarinda. Rasanya, ndak ada proses produksi beginian di Samarinda. Hmm… Barangkali memang sayanya yang kurang wawasan. Tapi rupanya benar saja, lah wong kapanan sempat baca artikel ada batik motif Dayak yang dibuat di Pekalongan. Kata si bosnya (sanes tiyang Kalimantan), alat dan pembatiknya terbatas di Kalimantan. Jenis air lokal juga berbeda, memengaruhi pewarnaan. Kalau begini, berarti batiknya ala Jawa, motifnya doang yang Kalimantan.

Di mal, 2010 lalu.
Di mal, 2010 lalu.

Walaupun dijuluki batik dari Kalimantan, perbedaan fondasi budaya tetap tidak bisa memperlakukannya sama dengan batik Jawa Tengah-Yogyakarta (Parang Rusak, Udan Liris, Sogan, Truntum, Garuda, dan sebagainya). Motif Batik Kalimantan cenderung dimaknai secara denotatif, apa adanya. Mirip dengan pemaknaan pada batik pesisir Jawa.

Contoh busana Belian.
Contoh busana Belian.

Motif naga serta burung enggang dengan kesan visual primeval melambangkan keanggunan dan kecantikan pemakainya yang wanita. Motif tanaman, terutama pakis, adalah pola umum sebagai ulir ciri khas Dayak. Untuk motif tameng perang Dayak, menghasilkan wajah seram simetris. Itu saja. Berbeda dengan sarung mistis Belian, shaman atau juru sembuh suku Dayak. Seringkali hanya berupa kain merah, atau dengan anyaman manik batu di bagian bawahnya. Begitupun Ulap Doyo, dengan hanya satu deret objek tunggal serupa ukiran patung manusia ala Dayak, yang disusun vertikal repetitif.

Selain itu, beda bagian Kalimantannya, beda pula motif batiknya. Di Kaltim dan provinsi termuda, Kalimantan Utara (Kaltara), lekukan motifnya lebih halus. Sementara batik motif Kalimantan Tengah (Kalteng) maupun Kalimantan Barat (Kalbar) secara umum menggunakan pola yang pixelated, seolah berpatokan pada strimin.


Masih berusia relatif muda, tampaknya memang tidak mustahil untuk menyusun penelitian komprehensif mengenai batik motif Dayak ini sejak awal mula. Kebayang prosesnya rada susah, lantaran berlingkup sepulau Kalimantan. Termasuk Negara Bagian Sabah dan Serawak, serta Brunei Darussalam. Capek di jalan.

Jujur, hanya sekitar sembilan helai kemeja batik motif Dayak yang pernah/sedang saya miliki. Empat di antaranya adalah seragam khusus Kamis dan Jumat waktu TK sampai SMA. Satu helai malah dibuat untuk hajatan paguyuban warga Tionghoa. Satu helai lainnya untuk tampil jadi tim paduan suara lomba FSBKST di Jakarta beberapa tahun lalu. Dua lainnya bisa dikenakan untuk urusan kantor. Sisanya, dipakai khusus kondangan umum.

Boleh dibilang, sekarang, mau suku apa saja, kalau sudah jadi warga Samarinda, atau Kaltim, atau pulau Kalimantan, pasti bangga dengan batik motif Dayak. Termasuk Pak Wamen tadi.

[]

Hening yang Liar

Duduk bersila di atas lantai karpet beledu tebal, dalam kamar berpencahayaan temaram. Suhu ruangan diatur seideal mungkin agar tidak kegerahan, atau harus selimutan. Punggung tegak sewajarnya, kedua telapak tangan diletakkan di atas titik persinggungan betis kiri dan kanan. Mata terpejam, dan wangi dari pembakaran lilin aromaterapi bau lavendel (iya lavendel, bukan lavender) berseliweran.

Tarik napas… Embuskan…

Kalimat itu dirapalnya berulang kali dalam hati. Disesuaikan dengan irama napas yang alami terjadi. Terus ia lakukan hingga sempat hilang konsentrasi, ketika isi kepalanya liar ke sana kemari. Teringat soal pekerjaan di kantor, teringat pengalaman nonton film “Annabelle” beberapa hari sebelumnya, teringat pedasnya sambal yang dimakan tadi siang, teringat rencananya ingin menulis posting-an blog tentang sinkretisme Shiva hingga ke tanah Batak dan Bugis, teringat cewek semlohai dengan dandanan menor, teringat artikel “My Family Tree” dan lagu “Eternal Sunshine”-nya Jhené Aiko, teringat tragisnya kondisi terakhir orang yang bunuh diri di Menara BCA kemarin, teringat ini dan itu. Banyak. Semuanya terjadi dalam kondisi kelopak mata yang tertutup rapat.

Kemudian ia tersadar, dan berusaha menyelaraskan konsentrasinya kembali.

Hari ini masih Rabu, masih jauh dari Sabtu, dan Minggu. Namun tenaga dan pikirannya serasa sudah diperas habis tak bersisa. Ia memilih untuk tidak lembur malam ini, namun tidak pula dilewatkan dengan nongkrong dan ngebir. Tubuhnya juga terlalu lelah untuk bisa langsung dibawa tidur. Iseng, ia malah bermeditasi, menjalani kegiatan yang baru dikenalnya beberapa bulan terakhir ini.


Seolah menjadi tren, aktivitas meditasi kian diminati. Terutama oleh kaum urban, mereka yang tinggal di kota besar dan menghabiskan hari-harinya dalam pekerjaan maupun pencitraan. Mereka yang duduk bersekat-sekat, hanya berpindah ruangan ketika rapat, dan terlampau sering penat. Ramai-ramai mereka mendaftar dan mengikuti kelas-kelas meditasi yang ditawarkan. Membayar tarif yang telah ditentukan, lengkap dengan memborong perlengkapan yang disediakan. Termasuk kostum dan alas lantai. Harganya? Biasanya sih cukup untuk beli dua lembar kemeja muscle fit dengan merk berlogo T|X.

Meditasi, yang dulu selalu diidentikkan sebagai kegiatan sehari-harinya para petapa, mistikus India dan sekitarnya, kini telah menjadi gaya hidup alternatif. Istilah meditasi pun sudah mengalami perluasan makna, tak lagi didominasi sebagai praktik religius Hindu, Jain, Sikh, Buddhisme (dengan 40 pilihan objek meditasi) termasuk Zen maupun Tantra, Tao, Shinto, Kejawen, dan sebagainya. Tak juga melulu dianggap semedi yang klenik, mistis, dan berbau supranatural.

Tujuan pelaksanannya telah jauh bervariasi. Di samping sebagai bagian dari tapa brata atau laku keagamaan, sekarang lebih banyak dijalankan sebagai kebiasaan untuk menunjang kesehatan dan kebugaran, meningkatkan performa dan elastisitas badan di ranjang, sampai memperluas pergaulan. Bentuknya juga kian beragam. Salah satu yang paling populer belakangan ini adalah yoga, karena efeknya jelas terlihat pada bodi dan pose asana untuk di-upload ke Instagram.

Pikiran itu sungguh tidak tetap dan berubah-ubah, sukar dikendalikan dan sulit dijaga. Orang bijaksana meluruskannya, seperti pembuat panah meluruskan sebatang anak panah.

Sebagai aktivitas agama ataupun bukan, meditasi relatif tepat disebut sebagai bentuk olahraga, tapi untuk pikiran. Melatihnya untuk lebih mudah tenang dan damai, jauh dari kerisauan, serta kegelisahan. Lebih-lebih bagi mereka yang mendadak muak dengan ritme kehidupan (sejauh ini sih biasanya mereka adalah orang-orang yang tidak perlu lagi pusing mikir soal penghasilan), dan berusaha mencari penjelasan kontemplatif. Pikiran yang tenang, diharapkan bisa mempercepat proses realisasi dogma-dogma keagamaan.

Memang tetap ada sejumlah agama yang mengkategorikan meditasi sebagai ibadah atau wujud bakti (devotion), seperti Tapa Brata Penyepian, Sādhanā Tantrayana, dan sebagainya. Ada pula yang menempatkannya sebagai latihan yang bisa diikuti siapa saja, tanpa harus terikat ajaran agama tertentu. Misalnya dalam retret Meditasi Vipassanā dengan beragam metode, aspek olah fisik dari yoga, serta lain-lainnya. Hanya saja banyak yang terjebak dalam pengistilahan, dan tidak sadar bahwa pada dasarnya meditasi adalah kegiatan untuk memusatkan pikiran pada objek tertentu. Itu sebabnya salat, zikir, wirid, tafakur bahkan kelompok Selawatan, serta penari Sufi yang kopiahnya tinggi dan berputar-putar saya anggap melakukan kegiatan meditatifnya masing-masing.

Sumber: google lah, dari mana lagi coba?

Lebih membumi lagi, banyak aktivitas meditatif yang bisa kita lakukan sendiri. Termasuk, duduk di pojok ruangan sambil menyesap wiski sambil mendengarkan musik atau menyatu dengan keheningan, berkonsentrasi penuh ketika berolahraga angkat beban di gym, mencermati rasa demi rasa masakan yang muncul ketika sedang makan, menyimak isi buku dengan tekun, menyapu, menulis kaligrafi, berbaring di atap rumah memandang langit malam, menonton bioskop sendirian, saat berjalan kaki atau berlari, maupun hal-hal sederhana lainnya. Kita terpisah dari sekeliling, menjadi satu dengan objek yang kita hadapi, terserap dalam pusaran bernama “saat ini” dan tidak lagi terpengaruh detik waktu. Seperti ungkapan Zen populer: “makanlah ketika kau sedang makan, tidurlah ketika kau sedang tidur.” Kurang lebih, demikianlah meditasi. Meskipun pada akhirnya, hasil final dari kegiatan-kegiatan meditatif tersebut berbeda-beda. Ada yang membuat kita lebih bijaksana pada beragam level, tapi ada pula yang sekadar membuat kita lebih tenang dan rileks sehingga bisa tidur lebih pulas. Selebihnya tergantung Anda, ingin menjalaninya sendiri atau dengan bimbingan seseorang. Namun memang lebih baik bila kita–yang masih awam–dituntun figur berpengalaman, asal tarifnya tidak kemahalan.

Selama kamu bernapas, selama itu pula kamu bisa bermeditasi,” kata seorang teman, yang aktif bermeditasi selama ini.

[]

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg
Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”

Berlari Sendiri Mengusir Sunyi

Sore itu, Randy sedang pemanasan bersiap untuk berlari di GBK. Mengenakan kaos oblong, celana pendek dan sepatu olahraga Randy tak peduli dengan sekitarnya. Randy pun berlari diantara ratusan warga Jakarta yang melewati sore itu dengan berbagai aktivitas. Diantara para pedagang gorengan, bakso, soto sampai pedagang balon tumpah ruwah. Berlari merupakan olahraga “rakyat”. Hanya lampu petromax pedagang jalanan yang menyoroti. Apalagi sejak tragedi 98, GBK nyaris gulita. Tapi itu dulu.

Dulu sebelum berlari menjadi bagian dari gaya hidup warga Jakarta dari berbagai kalangan. Mulai dari para hipster sampai CEO perusahaan terkenal bahkan konglomerat pun beberapa tahun belakangan ini ikut berlari. Kaos oblong Randy pun mendadak tak lagi memadai. Harus diganti dengan kaos khusus berlari yang bisa menyerap keringat lebih banyak dan ergonomis. Sepatu basket Randy yang tadinya cukup memuaskannya pun harus diganti. Yang sesuai dengan bentuk kaki dan gerakan saat menapak.

Selain penampilan, berlari yang tadinya adalah olahraga individual kini menjadi simbol pemersatu. Terbentuklah beragam club berlari dari beragam latar belakang. Tak kurang dari 50 runners club ada di Jakarta. Sebut saja Jakarta runners Club, Berlari untuk Berbagi, ONP, Cani Runners, Bintaro Runners, bahkan Chubby Runners. Dari yang terbuka untuk semua pelari, sampai yang menentukan prestasi pelari terlebih dahulu sebelum jadi anggota. Kegiatan mereka beragam. Mulai dari rutin berlari di track baru sampai bersama mengikuti race-race yang ada. Bisa dengan mudah terlihat dari disain kaos berlari mereka yang berbeda sendiri.

Lampu sorot kini mengikuti ke mana pun pelari berlari. Semua terpacu untuk berlari lebih cepat dan lebih jauh. Lebih jauh bahkan sampai ke luar negeri. Tercatat New York Marathon, Berlin Marathon, Tokyo Marathon sudah banyak diikuti oleh pelari dari Indonesia. Semua tentu dari sponsor pribadi. Di dalam negeri pun tak kalah hebohnya. Jakarta Marathon, Bromo Marathon, Bali Maraton sampai Rinjani Ultra Marathon. Kalau ingin ikut berlari tapi malas berkeringat banyak dan lebih menganggapnya sebagai kegiatan sosialisasi, tak perlu khawatir. Belakangan mulai banyak “fun run” diselenggarakan. Sebut saja Color Run, Electro Run, dan yang belakangan terdengar adalah The Music Run. Seperti apa lari berekreasi ini, bisa dicari dengan mudah infonya di internet. Keseruan lewat gambar-gambar yang ada bisa jadi membuat semua ingin ikutan.

Kalau lampu sorot dinilai kurang sering, tenang, masih ada beragam media sosial yang bisa membagi pace dan jarak berlari secara otomatis ke semua pengikut. Decakan kagum dan pujian digital pun menjadi bentuk lampu sorot yang bisa didapatkan sehari-hari. Pelaku media sosial pasti banyak yang mengalami kebanjiran postingan rekam jejak lari dari aplikasi macam Nike+, Endomondo, Samsung S Health dan lainnya. Jarak lari, waktu tempuh, pace, sampai foto saat berlari pun bisa dibagi ke semua.Tak berhenti di situ, race digital pun ada. Setiap pelari saling bersaing untuk jarak tempuh yang lebih jauh atau pace lebih cepat dari pelari lainnya yang mungkin tidak dikenalnya dari belahan dunia lain.

Berlari tak lagi sendiri. Tak lagi sunyi. Meriah. Benarkah?

Sejatinya, berlari adalah tetap olahraga individual. Ketika berlari, hanya kaki dan tangan sendiri yang bergerak. Mulut paling terbuka untuk bernapas. Mata melihat ke kanan dan ke kiri dan tak jarang yang menunduk. Walau lari berkelompok, tapi lari tetap sendiri-sendiri. Setiap pelari berhak memikirkan apa pun saat berlari. Masalah pribadi, rumah tangga, pekerjaan dan pemecahannya tak jarang terjadi saat berlari. Bagaimana tidak? Melakukan gerakan yang sama terus menerus dalam waktu yang cukup lama, adalah salah satu bentuk terapi yang menenangkan. Apalagi kalau tanpa bersuara. Ingatkah saat bayi, untuk menidurkan banyak yang ditepuk-tepuk pantatnya cukup lama sampai pulas. Atau mendengarkan suara gemericik air hujan dalam waktu lama. Atau corat coret dengan motif repetitif saat meeting. Atau sekedar berjalan menyusuri tepi pantai yang jauh sambil berdiam diri? Situs http://www.betterhealth.vic.gov.au menyarankan berlari sebagai salah satu terapi untuk OCD, Obsessive Compulsive Disorder.

Terapi yang diberikan saat berlari bisa jadi memang yang amat dibutuhkan oleh warga Jakarta (yang nulis orang Jakarta jadi taunya cuma Jakarta). Tekanan hidup yang katanya semakin meningkat tak lagi bisa diringankan dengan pijatan di Spa. Clubbing pun di satu titik dirasa mulai menjemukandan mainstream. Terbukti tak lagi banyak tempat clubbing yang hits di Ibukota dibanding tahun 90-an sampai awal 2000. Stadium? Kan udah ditutup sama Ahok.

Tapi ada satu terapi lagi yang masih tersisa: berbelanja. Dipadukan dengan berlari, cocok! Karena kini tersedia beragam perlengkapan berlari yang canggih dengan harga yang tak bisa dibilang murah. Kalau gak percaya, silakan mampir ke Car Free Day hari Minggu ini. Jangan kaget kalau di pagi hari menemukan pelari menggunakan flashlight melekat di kepalanya. Ini kisah nyata. Bukan mengada-ada. Perlengkapan berlari ini pun dapat dibeli dengan mudah. Bisa beli online bahkan sampai ke toko online luar negeri. Dengar-dengar, penjualan sepatu Nike di Indonesia adalah tertinggi di dunia. Dan Nike tipe Fly Knit yang dijual mendekati dua juta, selalu ludes saat dilansir. “Ah ini kan belanja buat hobby dan menguntungkan buat kesehatan. Investasi dong!” Ya ya ya…

Alasan orang berlari memang bisa macam-macam. Menurunkan berat badan, kesehatan, sosialisasi, rekreasi, prestasi tapi bukan tidak mungkin juga sebagai sarana peredam tekanan hidup. Hormon Adrenalin yang terpacu saat berlari dan rasa bahagia saat usai memang bisa bikin kecanduan. Apalagi kalau berlari bersama, maka kebahagiaan pun ikut bertambah. Diakhiri dengan pijat urut sesudah berlari, rasanya pasti surga dunia.

Padahal, kalau kesehatan menjadi alasan berlari, maka cukup 5 menit setiap harinya. Kalau untuk mengurangi berat badan, tak bisa hanya berlari. Harus diimbangi dengan diet yang baik. Kalau untuk memenangkan race, sampai saat ini masih didominasi oleh orang Kenya. I wish you luck! Ambisi pribadi, mungkin ini yang bisa membuat orang kecanduan berlari berlama-lama.

Menjadikan berlari sebagai bagian dari gaya hidup adalah baik. Tapi akan lebih baik lagi kalau menemukan alasannya. Tak perlu dijawab sekarang. Sambil berlari berikutnya, saat mulut terdiam, coba cari tau alasannya. Bahkan tak perlu membagi alasan berlari di media sosial. Atau bisa ditulis sebagai catatan di aplikasi berlari. Bisa jadi berlari adalah bentuk pelarian. Tapi bukan jawaban. Apalagi memecahkan masalah.