Teman Yang Tak Selalu Ketemuan

Seberapa sering kita perlu bertemu dan berbicara dengan teman kita?

Pertanyaan di atas cukup mengusik pikiran saya sesekali dalam beberapa minggu terakhir ini. Dan ketika sedang berpikir tentang hal itu, mau tidak mau saya “terpaksa” jujur kepada diri sendiri, bahwa sudah jarang sekali saya bertemu dengan teman-teman saya.

Kalau sudah jarang bertemu, apa masih dianggap teman?

Pembahasan tentang teman dan pertemanan ini sudah cukup sering dibahas di situs Linimasa ini, oleh sebagian besar penulisnya. Silakan cari saja tulisan-tulisan dengan kata “teman”, “friends”, “sahabat”, atau “friendship” di sini.

Yang saya ingat, Leila pernah menulis soal kemampuan kita yang semakin ahli dalam membuat kompartemen pertemanan yang berbeda-beda. Artinya, kita bisa memilah jenis teman berdasarkan kemiripan minat. Ada teman yang sama-sama suka menonton film, teman-teman untuk berolahraga bareng, teman-teman untuk urusan wisata kuliner, dan lain-lain.

Saya sependapat dengan semakin mahirnya kita melakukan hal itu, seiring dengan seringnya frekuensi kita berinteraksi dengan berbagai macam jenis orang, dan tentunya, dengan semakin bertambahnya usia.

Saya juga sependapat dengan salah satu tulisan Dragono dulu, tentang semakin sedikitnya pertemanan baru yang kita buat seiring dengan usia kita yang semakin menua. Semakin selektif pula dalam menyaring orang yang bisa masuk dalam kehidupan kita.

Friendship-Girls-uhd-wallpapers

Demikian pula dengan urusan menyaring teman-teman lama yang terbentuk dari kesamaan latar belakang pendidikan atau pekerjaan. Tak semuanya tetap menjadi teman. Kalaupun masih berinteraksi, tak lebih sekedar basa-basi semata karena terpaksa masuk WhatsApp grup, terpaksa datang reuni, hadir di buka bersama, dan sejenisnya.

Ada kalanya beberapa teman lama kita masih menjadi teman sampai sekarang. Bahkan ada sebuah ungkapan yang dulu pernah saya temukan, yang mengatakan kalau kita sudah berteman lebih dari 7 tahun, kemungkinan besar dia atau mereka ini akan menjadi teman seumur hidup.

Toh buat saya, seperti layaknya jenis hubungan yang lain, it’s not about how long. It is always about how deep.

famous-friendship

Batasan atau arti pertemanan sendiri tentu berbeda-beda. Biasanya teman adalah orang atau orang-orang yang kita prioritaskan saat kita ingin berbagi, baik dalam duka atau suka.

Dan karena itulah maka tak urung saya merasa sedih, karena sering kali belum bisa being there untuk orang-orang yang saya anggap teman saat mereka sedang dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Mungkin ini preferensi personal, hanya saja kadang diri ini merasa berkomunikasi lewat ponsel tidak cukup. Inginnya bertemu langsung, bertatap muka langsung, berbicara langsung. Tapi apa daya, we all have our lives to live.

Kalau sudah begitu, biasanya saya hanya akan menunggu. Menunggu sampai mereka mulai berbicara. Memberikan ruang dan waktu sendiri untuk teman kita juga bagian dari pertemanan.

Karena setelah melalui masa sendiri, akan lebih banyak cerita yang bisa dibagi saat ketemuan.

Advertisements

Kalau Kita Pikir Kita Tahu Semuanya, Well …

the truth is, we hardly know anything.

Seorang penulis ternama pernah menulis di akun media sosialnya, bahwa “I believe we only show 10% of our life in social media”. Kurang lebih isinya seperti itu.

Saya mengamini pendapatnya. Bahwa tidak mungkin kita menampilkan seluruh kehidupan kita, atau seluruh aktifitas seharian kita, ke media sosial untuk dilihat dan ditelaah orang-orang asing yang tidak kita kenal. Meskipun kenyataannya sekarang, jauh lebih banyak yang berusaha mati-matian untuk melakukan hal tersebut, demi viral, eksistensi, kepopuleran dan alasan-alasan lain.

Jangankan untuk media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita patut bertanya, yakinkah kalau kita tahu persis kehidupan orang yang dekat dengan kita?

Saat kita berpisah dengan pasangan kita setiap hari untuk saling berangkat kerja, tahukah kita apa yang pasangan kita lihat, rasakan dan lakukan sepanjang menuju tempat kerja, di tempat kerja, dan waktu mau pulang ke rumah? Saat anak selesai mencium tangan orang tuanya dan pamit berangkat sekolah, yakinkah orang tua benar-benar tahu kegiatan anaknya, dan anak benar-benar tahu rutinitas orang tuanya?

cache_6699210

Climber watching sunrise

Ada banyak sisi dalam diri kita yang mungkin sebagian dari kita sudah tahu apa saja sisi tersebut, dan mungkin ada yang belum secara penuh mengenali isi dalam diri. Adalah hak kita untuk mengungkap sisi mana yang mau kita bagi. Dan juga hak kita untuk membagi sebagian diri kita dengan orang-orang tertentu, agar ada kelompok-kelompok individu lain yang melihat sisi kita yang lain pula.

Sampai di sini apakah Anda masih bingung?

Saya mau bercerita sedikit.

Beberapa tahun lalu, salah satu teman terdekat saya akan menikah. Tentu saja saya dan beberapa teman lain ikut semangat menyiapkan diri untuk menghadiri pernikahan tersebut.

Namun beberapa hari menjelang acara besar, saya dilanda keresahan yang luar biasa. Sumber kegelisahan saya datang dari setitik keraguan mengenai hidup baru yang akan ditempuh teman saya. Dari mana keraguan itu muncul? Datangnya dari ketidaktahuan saya terhadap calon pasangan hidup teman saya tersebut.

Bukan sepenuhnya tidak tahu, hanya tidak dekat. Atau lebih tepatnya, tidak sedekat pertemanan kami.
Saya ungkapkan keraguan tersebut kepada beberapa teman lain. Semuanya memberikan tanggapan yang kurang lebih senada, yaitu agar saya wish them well saja. Tentu saja tidak meredam kegelisahan saya.

Sampailah di hari perhelatan acara.

Rangkaian prosesi pernikahan, mulai dari menyerahkan seserahan, duduk di belakang calon pengantin, semua kami ikuti sesuai aturan. Kami duduk mendengarkan petuah dari para pemuka agama, dan juga sambutan dari masing-masing orang tua. Tentu saja saya mendengarkan semuanya sambil membiarkan pikiran ini menari-nari sendiri dengan berbagai macam lamunan dan pemikiran tentang keraguan saya.

Sampai pundak saya ditepuk salah satu panitia.

“Mas, bawa kan flash disk yang dititipkan minggu lalu?”

“Oh iya. Hampir lupa. Sebentar ya.”

Saya bergegas ke mobil yang mengantar kami. Saya hampir lupa, kalau seminggu sebelumnya, ada seorang video editor yang menitipkan sebuah flash disk. Katanya itu berisi video dan foto calon pengantin. Sempat saya tanya, “Pre-wedding video?” Lalu editor itu menggeleng dan tersenyum. Katanya, “Nanti lihat saja sendiri.”

Of course saya belum sempat melihatnya dari saat menerima flash disk tersebut sampai hari pernikahan tersebut. Lalu saya serahkan flash disk tersebut ke panitia, dan kembali ke tempat duduk mengikuti rangkaian resepsi.

Sampai pada akhirnya MC memimpin pembacaan doa, lalu acara inti pernikahan selesai. Teman saya telah sah menikah, baik di mata agama maupun hukum. Para tamu mulai kasak-kusuk berdiri untuk antri foto bersama pengantin baru. Kami masih duduk-duduk santai sambil mengecek ponsel masing-masing.

thinking-about-life

Lalu MC berkata, “Sambil menikmati hidangan yang ada, kami akan memutar cuplikan video dan foto pasangan baru kita hari ini.”

Mata saya lalu beranjak ke dua layar televisi berukuran cukup besar yang sudah dipasang. Live feed sudah diganti dengan montage foto-foto teman saya dan, waktu itu, pacarnya. Saya tersenyum. Lalu cuplikan foto-foto berganti dengan video yang dibuka dengan tulisan “Sehari Bersama Mereka”.

Saya tertawa kecil sendiri, melihat teman saya memakai kaos yang pernah saya berikan sebagai hadiah ulang tahun. It looks familiar. Namun perasaan familiar tersebut hanya berhenti sampai di situ.

Saya tertegun melihat video itu. Di situ saya melihat sosok teman saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Yang sangat attentive dalam mendampingi pasangannya. Yang berbicara dalam nada suara yang berbeda, dan terlihat sungguh-sungguh, seakan tidak ada kamera yang mengikutinya. Yang memandang dan berbicara kepada pasangannya dengan tatapan seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar mereka.

Yang berbeda dengan cara interaksi terhadap saya dan teman-teman kami lainnya selama lebih dari satu dekade kami berteman.

Di momen itu saya sadar bahwa seberapa lama pun kita mengenal orang lain, selalu ada bagian lain dari orang itu yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. We never fully know a person. We can only know a glimpse of a person, and sometimes, that’s all we need to know.

Terus terang saya terharu saat video itu selesai, dan kembali memutar cuplikan foto-foto. Tidak ada yang tepuk tangan. Namun ada perasaan lega dalam hati seusai melihat video tersebut. Tiba-tiba keraguan saya hilang begitu saja. Yang ada adalah keyakinan, even just a hunch, bahwa teman saya telah memilih keputusan yang tepat. Dan akhirnya saya bisa memeluk mereka berdua di pelaminan saat sebelum kami foto bersama dan mengatakan dengan penuh keyakinan tanpa ragu, “Congratulations!

how-do-i-truly-know-if-god-is-calling-me

Seperti layaknya kita tidak pernah mengetahui secara penuh jati diri orang lain, kita pun tidak bisa mengharapkan orang lain tahu keseluruhan diri kita. Tetapi kita bisa selalu memilih, apa yang kita perlu tahu dari orang lain, dan apa yang orang lain perlu tahu dari kita.

And that is enough.

How Do You Keep The Music Playing, and How Do You Carry On Living?

Salah satu adegan awal film yang menarik buat saya ada di film musikal Evita. Film ini dibuka dengan suasana di dalam bioskop di sebuah kota di Argentina tahun 1952. Tiba-tiba film dihentikan. Ramai orang gaduh.

Lalu pemilik bioskop berdiri di tengah layar untuk memberitahukan bahwa ibu negara mereka, Evita Peron, baru saja meninggal dunia pada pukul 8:25 malam. Sontak penonton di bioskop itu menangis. Film tidak dilanjutkan.

Di adegan berikutnya, kita melihat sekumpulan pasangan berdansa sambil menangis. Mereka berusaha melupakan kesedihan mereka dengan memeluk satu sama lain, dan mengikuti alunan nada yang mereka dengar.

Konon sejarah menyebutkan, kematian Evita Peron membuat kota Buenos Aires nyaris lumpuh. Masyarakat berduka selama berhari-hari. Beberapa orang tewas saat banyak yang berkerumun untuk ikut mengantarkan jasad Evita ke liang lahat. Ada yang menari tango selama berjam-jam, untuk sekedar melupakan lara.

Evita

Evita

Saya teringat kembali oleh film tersebut sejak beberapa hari yang lalu. Pemicunya adalah sebuah kabar yang menyatakan bahwa seorang teman lama saya meninggal dunia di akhir pekan kemarin. Kabar yang membuat saya sangat kaget. Kepergiannya terasa mendadak, karena saya tidak pernah mendengar dia sakit atau dalam perawatan apapun. Sudah lama kami tidak bersua, atau sekedar ngobrol lewat aplikasi manapun.

Namun yang membuat saya heran dengan diri sendiri, sepanjang malam sampai pagi keesokan harinya, saya tidak berhenti menangis. Semakin sedih karena di saat menangis itu saya sadar akan ungkapan ini:

“We never really know how much a person means to us until the person has left us for good”

Sadar bahwa kesedihan ini tidak boleh berlarut-larut, saya memutuskan untuk bertemu dengan teman lain, agar tidak menghabiskan malam hari sendiri lagi.
Saya katakan terus terang, bahwa saya ingin mengajaknya bertemu, karena saya tidak mau sendiri saat berduka seperti ini.

Lalu teman saya bertanya:

“Apa yang membuat elo sedih? Apa karena kalian tidak pernah menjadi lebih dari sekedar teman?”

Dengan cepat saya menjawab:

“Nggak. Kayaknya memang we were good as we were, being good friends. Toh gue dan dia masih sering kerja bareng, diskusi bareng, ngobrol lama, yang mungkin kalau we ended up being more than just friends, malah gak akan terjadi hal-hal seperti itu.”

“Oke. Trus, kalau gue boleh tau, apa yang membuat elo sedih banget malam ini?”

Saya terdiam cukup lama, sambil memandangi dan memainkan jari di atas cangkir teh yang mulai dingin.

Dengan helaan nafas cukup dalam, akhirnya saya berkata:

“Sedih, karena berkurang lagi seseorang yang bisa saya ucapkan “happy birthday!”, atau “selamat Lebaran” setiap tahunnya. Sedih, karena berkurang lagi seseorang yang mengucapkan hal yang sama ke saya. Sedih, karena kehilangan teman dekat di usia di mana mencari, atau menjalin pertemanan itu, sudah tidak semudah dulu. Sedih, karena berkurang lagi seseorang yang saya bisa share small, silly moments, light, unimportant jokes with. Sedih, karena semua hal itu.”

Teman saya mengangguk pelan. Sesaat kami terdiam.
Dalam diam itu, ingatan saya melayang sejenak ke adegan di film The Normal Heart. Sebuah adegan tanpa kata, di mana Jim Parsons cuma bisa diam dan merobek sebuah kartu nama di daftar telepon, pertanda bahwa another friend has gone for good.

The Normal Heart

The Normal Heart

Perlahan kesedihan saya mulai berkurang saat bercerita, sebelum akhirnya kami berpisah karena hari sudah semakin malam.
Di rumah, saya melihat lagi episode lama serial “Glee”, saat tokoh-tokoh di serial itu sedang dirundung duka atas kematian Finn.

Ada satu dialog dari karakter Carole, ibu Finn, yang membuat saya tersadar:

“How do parents go on when they lose a child? You know, when I would see that stuff on the news, I’d shut it off because it was just too horrible to think, but I would always think, ‘How do they wake up every day?’ I mean, how do they breathe, honey? But you do wake up, and for just a second, you forget. And then, oh, you remember. And it’s like getting that call again and again, every time. You don’t get to stop waking up. You have to keep on being a parent even though you don’t get to have a child anymore.”

Parents. Friends. Status-status yang kita pilih atas kesadaran kita. Kita bisa berhenti dan melepas status itu atas kesadaran kita. Kita bisa memilih untuk melanjutkan status itu atas kesadaran kita juga.

So I guess once you befriend someone for good, you will always be one.

And that’s how we keep on living.

Kangen Twitter yang Dulu

KATANYA, sekarang makin banyak orang yang malas nge-tweet. Mereka kembali asyik dengan Facebook yang penuh tautan artikel entah dari media apa, sibuk jadi fotografer atau model musiman untuk Instagram, Pamer Anak, Tempat, dan Hidangan menggunakan Path, atau rajin membagi cuplikan gambar dan video singkat yang bisa kedaluwarsa pakai Snapchat.

Sudah ada banyak survei untuk membaca dan memetakan alasan orang-orang jadi malas nge-tweet. Tanpa membaca itu semua, sebenarnya bisa ditebak penyebab utamanya adalah kebosanan, baru kemudian disusul dengan alasan-alasan teknis lain. Seperti aktivitas (ro)bot yang merajalela dan nge-SPAM, dijadikan marketing tool secara berlebihan serta untuk mendulang popularitas semu, sikap caper yang norak bahkan brutal, dan sebagainya.

Memang bagaimanapun juga, tidak ada satu hal pun yang luput dari perubahan. Tapi yang jelas, Twitter lima tahunan lalu itu ngangenin. Banget. Anak-anak lama Twitter pasti masih ingat rasanya. Malah boleh dibilang, blog gotong royong ini salah satu hasilnya. 🙂

Pada 2009 (mohon koreksi bila keliru), mulai bermunculan early adopters alias pengguna-pengguna awal Twitter di kota-kota besar pulau Jawa. Apalagi yang kuliah atau kerja di luar negeri, bisa jadi sudah punya akun Twitter jauh lebih lama. Saat itu, Facebook masih lumayan baru, menggantikan Friendster yang halaman profilnya bisa dipasangi lagu.

Sempat enggan beberapa kali ketika ditawari untuk signup, saya sendiri baru punya akun Twitter pada November 2009. Sejak Twitter-an, saya baru sadar jika media sosial ini ternyata bukan sekadar mainan.

Makasih banyak untuk Acil Farah Dompas yang sudah mengenalkan jagat Twitter saat itu. 😀 Kalau tidak Twitter-an, pasti enggak bakal kenal sampai bisa bertukar pikiran dengan banyak orang. Termasuk para penulis Linimasa–minus Mas RoySayur. Kalau tidak Twitter-an, enggak bakal merasakan deg-degan saat akan bertemu dengan orang baru, di lingkungan yang baru pula. Kalau tidak Twitter-an, tak ada dorongan untuk belajar menyampaikan pesan dengan kalimat singkat, yakni hanya dalam 140 karakter. Kalau tidak Twitter-an, cenderung susah untuk dibikin melongo saat mengetahui perspektif baru yang benar-benar memperkaya wawasan. Sebab, beda banget antara membaca dan mendengar langsung dari penuturnya.

Pernah pakai Orangatame? 🙂

Meski sudah punya akun Twitter sejak November 2009, namun saya baru benar-benar aktif Twitter-an sejak awal 2010. Nge-tweet jauh lebih asyik ketimbang Facebook-an, sebab ditunjang jenis gadget dan aplikasi yang tersedia. Pas banget, saat itu baru dapat BlackBerry hadiah undian. Kemudian iseng cari-cari, ketemu beberapa Twitter Client atau program khusus buat Twitter-an yang diburu OTA-nya. Ada TwitterBerry, BBTweet, dan BlackBird. Masing-masing punya user experience yang unik. Setelah ketemu Seesmic dan UberTwitter, aktivitas nge-tweet bertambah intens dan kian menyenangkan–terus dicemburuin mantan. Sampai SocialScope booming dengan eksklusivitasnya kala itu, dan hasil pertemanan via Twitter berubah jadi tweet-up, pertemuan. Menariknya, minim kecanggungan saat pertama kali bertemu. Kecuali kalau orangnya cantik/cakep gak ketulungan, bisa bengong. Keakraban di Twitter juga langsung terjadi ketika “kopi darat”, atau memang sayanya saja yang petakilan.

Saya ingat banget, tweet-up perdana justru terjadi di Samarinda dan Balikpapan. Ketika dua teman Twitter memberanikan diri datang ke Kalimantan untuk pertama kalinya, dan ditemani orang asing: saya.

Masa itu, Twitter-an bukanlah perkara angka followers belaka, melainkan jalur komunikasi yang sungguhan. Barangkali naif, tapi saya justru merasa Twitter-an pada waktu itu berlangsung sangat sincere, di era ketika Social Media Strategist dan Social Media Manager, juga Professional Buzzer belum dikenal sebagai sebuah profesi. Semua orang yang Twitter-an, benar-benar merupakan dirinya sendiri, dan saling menjangkau satu sama lain. Di satu sisi, wajar bila banyak orang ingin merasa lebih terhubung dengan idolanya. Di sisi lain, banyak pula pesohor yang ingin santai sejenak sambil Twitter-an menggunakan nama samaran, atau menyuarakan pendapat tanpa perlu khawatir tweet-nya dikutip dan dijadikan konten artikel berita.

Apakah saya pernah cari/dapat duit lewat Twitter? Baru sekali, itu pun di tahun ini. Enggak banyak, tapi lumayan. Hitung-hitung nyicip sekali-kali. Hahaha.

Akan tetapi, lagi-lagi perubahan tak bisa dihindari. Saat jumlah pengguna Twitter terus bertambah, angka followers pun mulai jadi ilusi popularitas. Sampai-sampai ditandai dengan beberapa kejadian lucu. Sebutan selebtweet dimunculkan, berbarengan dengan seruan “foll-back dong!” yang kalau tidak dipenuhi bisa bikin drama hubungan sosial. Seolah hubungan sosial di kehidupan nyata sesempit interaksi maya di Twitter.

Pengguna Twitter digelari Twitterist atau Twitterian. Tata krama nge-tweet pun dinamakan Tweetiquette, yang salah satu poinnya kurang lebih ialah: “dengan di-follow seseorang, berarti orang tersebut sudi dan bersedia untuk menyimak isi timeline kita. Mereka harus dihargai.” Tak heran bila apresiasi ini ditunjukkan dengan #FollowFriday yang sudah hilang lebih dari setahun terakhir. Bukan hanya asal promosi akun Twitter, karena dibarengi dengan alasan.

Tak ketinggalan, banyak kasus seseorang yang terkesan sangat supel, berwawasan luas, dan riuh di Twitter, ternyata sangat pendiam, kurang luwes bergaul, bahkan tidak berani hadir secara fisik di kehidupan nyata. Jauh berbeda dengan apa yang ditunjukkan di layar gadget. Pun begitu perihal foto avatar, dibuat agar terlihat secaem mungkin.

Di samping itu, konon kabarnya, tak sedikit pula yang memanfaatkan Twitter untuk mencari dan bertemu dengan teman bobo-bobo lucu (cuma konon, soalnya saya enggak pernah) 😛 Entah, apakah masih marak sampai sekarang atau kembali ke metode konvensional, sejak semesta Twitter makin penuh dengan alter ego dan akun bisyar. Enggak lucu kalau habis “malam keakraban” ternyata malah disodori tagihan.

Saya masih ingat ketika dulu bertanya tentang fungsi tanda pagar kepada mba beliaw. Perlu sekitar 20 menit untuk ngeh bahwa hashtag adalah tanda pagar, dan fungsinya untuk memudahkan pencarian serta penyusunan trending topic. Akan tetapi sejak tiga tahun terakhir, kemunculan hashtag pasti dibarengi kecurigaan: “ini mau launching/jualan/promosi/activation apa lagi ya?” Ada prasangka. Itu sebabnya, salut untuk para pemilik akun yang superkreatif bikin mainan dan lucu-lucuan pakai hashtag, karena enggak gampang.

Ya begitulah kiranya, suasana Twitter-an yang dirindukan dari sekira lima tahunan lalu. Ada yang masih bertahan, ada pula yang sudah deaktivasi. Pastinya, Twitter-an saat ini tentu masih bisa dinikmati, kendati tak sama seperti dulu lagi. Dan saya, sekarang, masih kepengen bertemu serta ngobrol langsung dengan beberapa kenalan Twitter yang belum pernah bersua. Sejauh ini, selalu menyenangkan rasanya. 🙂

[]

Teman Mantan Itu Bukan Mantan Teman

Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa seorang teman lama di sebuah acara. Saking kagetnya karena sudah sekian lama tidak bertemu, kami langsung mojok. Tidak lagi mengindahkan acara yang kami hadiri, kami memilih untuk mengobrol dan tertawa hampir sepanjang malam.
Di sela-sela obrolan, saya berkata, “Eh, bentar. Apa kabar temenmu, UN? Udah lama gak lihat kalian jalan bareng. At least gak di-tag di Instagram atau Path.”
Jawaban teman saya, “Ya ampun, gue pun udah lama gak ketemu dia. ‘Kan gue temenan sama YK. Jadi ya pas UN putus sama YK, whichever version you believe ya, bok, siapa yang mutusin siapa, ya at the end of the day, gue temennya YK duluan. Hashtag #TeamYK gitu.”
Kami tertawa. Meskipun tak lama setelah kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, saya tidak habis pikir.

Ketika dua orang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dan berpisah, apakah hanya dua orang itu yang berpisah? Apakah ada orang-orang lain?

300 can you remain friends with your ex

Dalam kasus perceraian, atau hubungan apa pun yang mengikat secara hukum, persoalan ini kadang menjadi pelik. Apalagi kalau ada keturunan biologis. Tak jarang prosesnya berlarut-larut.

Namun dalam jenis hubungan lain yang kasat hukum, dan banyak kita alami sendiri, persoalan ini tak kalah ribet ujung-ujungnya.

Saya jadi ingat film Husbands and Wives karya Woody Allen. Film tahun 1992 ini saya tonton beberapa tahun sesudahnya, waktu sudah kuliah dan sudah mulai sedikit paham tentang jalan ceritanya. Maklum, film ini memulai ceritanya dari sepasang orang yang akan bercerai setelah lama menikah. Keputusan mereka ini mereka sampaikan ke teman-teman mereka. Alih-alih berempati, teman-teman mereka malah sibuk menganalisa pernikahan dan hubungan mereka masing-masing. Mereka pun dikacaukan sendiri dengan kebingungan mereka, harus berpihak kepada siapa. Kepada istri? Kepada suami? Tapi kalau saya berpihak ke suami, nanti dianggap tidak fair?

Husbands and Wives by Woody Allen.

Husbands and Wives by Woody Allen.

Aha! That’s the word. Fair. Atau padanan kata lainnya, “netral”. Yakin warna abu-abu itu bisa persis 50% hitam dan 50% putih? Kalau komposisinya 49% dan 51%?

Beberapa tahun lalu, I had a big breakup. Hubungan kami berjalan cukup lama. Cukup lama untuk mempunyai teman-teman yang dekat dengan saya dan mantan as a couple, not just individuals. Ketika kami berpisah, meskipun tidak ada kesepakatan, kami memutuskan untuk mengatakan langsung ke beberapa orang teman. Reaksinya, tentu saja, ada yang sedih, lalu menanyakan bagaimana keadaan sekarang, dan sejenisnya. Ada juga yang tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Aduh, terus sekarang gue gimana? I mean, I befriend you both. Aduh, kalian kan temen gue semua. Aduh …”
Jujur saja, waktu itu saya langsung ketawa di depan dia dan berkata, “Gue yang putus, kenapa malah elo yang heboh ya?”

Tapi perlu waktu ternyata untuk memahami kegelisahannya. Semakin kita beranjak tua (come on, we all are), semakin selektif kita dalam berteman. Memutuskan hubungan pertemanan tidak pernah mudah. Ada faktor kenyamanan berbeda yang hanya bisa kita dapatkan pada teman. Makanya, the older we are, the lesser friends we have, but they are only the few good ones.

Seorang teman dekat pernah mengatakan ini dengan tegas.
“Pada akhirnya, gue gak bisa netral. Never. Lebih baik gue jujur bahwa gue lebih deket ke siapa, karena pertemanan itu tergantung siapa yang bisa membuat gue nyaman. Gue lebih nyaman ngobrol ke siapa, gue lebih enak cerita atau curhat ke siapa. Itu sih. Kenal baik, of course masih kenal baik. Gue lebih senang jadi teman yang jujur, daripada harus pura-pura baik.”

article-1333112818891-1266B3EE000005DC-530160_636x312

Kalau diurai lagi the comforting factor ini, cabangnya bisa banyak. Misalnya, kesamaan dalam selera makan. Atau kesamaan hobi. Kalau dulu ketika kita masih dalam hubungan meyakini bahwa opposite attracts (yang satu suka posting foto selfie, yang satu suka posting foto pemandangan), maka ketika putus, yang terjadi ya yang seharusnya: opposite divides. Lalu teman-teman di luar hubungan yang selama ini mengamati perbedaan, pada akhirnya memilih, mana di antara kedua orang ini yang mempunyai banyak kesamaan dengan mereka, sehingga mereka merasa nyaman.
As simple as that.

Toh, pertemanan yang jujur adalah pertemanan yang bukan sekedar basa-basi.

Pertemanan

Sudah pernah menonton film berjudul Stand By Me (1986)?
Bukan, ini bukan film mengenai kucing ajaib dari Jepang, meskipun berjudul sama. Film ini diangkat dari novelet karya Stephen King, “The Body”, yang berkisah tentang empat orang anak berusia 12-13 tahun di tahun 1959.

Mereka mengawali liburan musim panas sebelum masuk SMP dengan mencari mayat teman mereka yang diberitakan hilang. Penasaran dengan berita di radio dan hasil dari mencuri dengar omongan orang-orang yang lebih tua di sekitar rumah, mereka pun bergegas menelusuri jejak perjalanan orang hilang ini.

Film pun bergerak menjadi film road trip. Mereka berjalan kaki sepanjang hari dalam masa satu akhir pekan, mendirikan tenda untuk tidur, terkena lintah di sekujur badan, dan saling menangis saat bercerita tentang kerasnya tempaan orang tua masing-masing.

Semua itu dihadirkan secara singkat, hanya dalam waktu 88 menit. Namun hampir 30 tahun kemudian, menonton film ini masih meninggalkan rasa haru. Entah sudah berapa kali saya menonton film ini. Mungkin sekitar 5 kali dalam 10 tahun terakhir. Dan setiap menonton selalu tersenyum.

Stand By Me

Stand By Me

Ini adalah satu dari sedikit film dari dekade 1980-an yang penuturan berceritanya sempurna, yang sering dijadikan contoh acuan film dengan penulisan naskah yang baik dan efektif. Film Stand By Me juga sering direferensikan sebagai film yang mengangkat tema coming-of-age atau akil baligh remaja pria, dan tentunya persahabatan.
Jarang sekali memang sebuah film dapat memperlihatkan persahabatan secara nyata dengan sempurna. The Sisterhood of Traveling Pants lebih berkutat dengan kisah masing-masing karakter. Now and Then terasa terlalu ideal, karena pertemanan yang terjadi di masa kecil terasa dipaksakan harus terjadi lagi saat mereka dewasa. Bukannya tidak mungkin. Namun, kenyataannya, sebagian besar pertemanan yang terjadi di masa kecil jarang sekali yang masih terus bertahan sampai di usia dewasa.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan meme di media sosial yang kurang lebih bertuliskan: “if you still befriend your childhood friend, you have not grown up.” Kalau masih berteman dengan teman yang sama, berarti kita tidak berkembang.

Saya sempat protes dalam hati. Tapi tidak lama kemudian, saya malah tersenyum dan membenarkan kalimat itu. Kenapa? Karena kalau ditanya siapa teman TK dan SD saya, jawabnya pun kelabakan. Sudah tidak ingat nama, apalagi wajah. Sempat pindah sekolah, lalu pindah kota. Dan pertemanan pun tidak bisa dipaksakan, apalagi mati-matian dipertahankan.

Stand By Me

Stand By Me

Mungkin ada yang dulu selalu bersama-sama jalan ke mall, dan berfoto di photo box yang mengeluarkan foto sticker, tapi sekarang terpisahkan oleh tugas rumah tangga sebagai ibu, ada juga yang bekerja di luar negeri, atau ada yang jadi anggota ormas agama garis keras. Ada juga yang dulu teman main basket, sekarang terpisah karena satu lebih nyaman di lingkungan teman-teman dengan orientasi seksual yang sama, sementara yang lain mati-matian meniti karir menjadi politisi. Teman yang dikenalkan pacar pun bisa menjadi teman kita meskipun pacaran sudah berakhir, atau teman kita bisa jadi teman mantan pacar. Terdengar ribet? Nggak kok. Kalau dijalani begitu saja, tidak akan pernah terasa.

Tidak ada yang tahu kapan pertemanan berakhir menjadi “sekedar kenalan”, atau pernah kenal. Dan tidak ada yang tahu juga kalau bisa saja yang terjadi malah sebaliknya.

Pertemanan tak lebih dari menghargai momen yang sedang berjalan. Kita tidak pernah akan mengingat berapa lama kita berteman dengan si A atau si B. Yang akan kita selalu ingat adalah apa saja yang pernah kita jalani dengan mereka, dan apa yang kita rasakan saat itu.

Mengutip kalimat terakhir di film Stand By Me:

I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve. Jesus, does anyone?