Teman Yang Tak Selalu Ketemuan

Seberapa sering kita perlu bertemu dan berbicara dengan teman kita?

Pertanyaan di atas cukup mengusik pikiran saya sesekali dalam beberapa minggu terakhir ini. Dan ketika sedang berpikir tentang hal itu, mau tidak mau saya “terpaksa” jujur kepada diri sendiri, bahwa sudah jarang sekali saya bertemu dengan teman-teman saya.

Kalau sudah jarang bertemu, apa masih dianggap teman?

Pembahasan tentang teman dan pertemanan ini sudah cukup sering dibahas di situs Linimasa ini, oleh sebagian besar penulisnya. Silakan cari saja tulisan-tulisan dengan kata “teman”, “friends”, “sahabat”, atau “friendship” di sini.

Yang saya ingat, Leila pernah menulis soal kemampuan kita yang semakin ahli dalam membuat kompartemen pertemanan yang berbeda-beda. Artinya, kita bisa memilah jenis teman berdasarkan kemiripan minat. Ada teman yang sama-sama suka menonton film, teman-teman untuk berolahraga bareng, teman-teman untuk urusan wisata kuliner, dan lain-lain.

Saya sependapat dengan semakin mahirnya kita melakukan hal itu, seiring dengan seringnya frekuensi kita berinteraksi dengan berbagai macam jenis orang, dan tentunya, dengan semakin bertambahnya usia.

Saya juga sependapat dengan salah satu tulisan Dragono dulu, tentang semakin sedikitnya pertemanan baru yang kita buat seiring dengan usia kita yang semakin menua. Semakin selektif pula dalam menyaring orang yang bisa masuk dalam kehidupan kita.

Friendship-Girls-uhd-wallpapers

Demikian pula dengan urusan menyaring teman-teman lama yang terbentuk dari kesamaan latar belakang pendidikan atau pekerjaan. Tak semuanya tetap menjadi teman. Kalaupun masih berinteraksi, tak lebih sekedar basa-basi semata karena terpaksa masuk WhatsApp grup, terpaksa datang reuni, hadir di buka bersama, dan sejenisnya.

Ada kalanya beberapa teman lama kita masih menjadi teman sampai sekarang. Bahkan ada sebuah ungkapan yang dulu pernah saya temukan, yang mengatakan kalau kita sudah berteman lebih dari 7 tahun, kemungkinan besar dia atau mereka ini akan menjadi teman seumur hidup.

Toh buat saya, seperti layaknya jenis hubungan yang lain, it’s not about how long. It is always about how deep.

famous-friendship

Batasan atau arti pertemanan sendiri tentu berbeda-beda. Biasanya teman adalah orang atau orang-orang yang kita prioritaskan saat kita ingin berbagi, baik dalam duka atau suka.

Dan karena itulah maka tak urung saya merasa sedih, karena sering kali belum bisa being there untuk orang-orang yang saya anggap teman saat mereka sedang dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Mungkin ini preferensi personal, hanya saja kadang diri ini merasa berkomunikasi lewat ponsel tidak cukup. Inginnya bertemu langsung, bertatap muka langsung, berbicara langsung. Tapi apa daya, we all have our lives to live.

Kalau sudah begitu, biasanya saya hanya akan menunggu. Menunggu sampai mereka mulai berbicara. Memberikan ruang dan waktu sendiri untuk teman kita juga bagian dari pertemanan.

Karena setelah melalui masa sendiri, akan lebih banyak cerita yang bisa dibagi saat ketemuan.

Advertisements

Pembuka Cerita

Apa yang membuat kita bisa jatuh cinta pada satu serial televisi? Bisa jadi para pemainnya, atau jalan ceritanya, atau kebetulan saja lagi menemukan serial tersebut saat memindai banyaknya saluran televisi di depan kita.

Tapi mari kita kesampingkan sejenak faktor-faktor tersebut.

Apa yang membuat kita bisa jatuh cinta pertama kali pada satu serial televisi?
Buat saya, opening sequence atau bagian pembuka serial tersebut.

Beberapa hari yang lalu, serial “Mad Men” mengakhiri penayangannya setelah 7 seasons atau musim penayangan. Kebetulan saya mengikuti serial ini dari awal. Tentu saja, seperti layaknya serial lain yang kita ikuti, saya pun sudah familiar dengan karakter-karakter serial tersebut. Demikian pula dengan jalan cerita masing-masing karakter. Namun ada satu hal yang saya sadar akan membuat saya merasa kehilangan, yaitu adegan pembukanya.

Mad Men

Mad Men

Setiap episode serial “Mad Men” dibuka dengan siluet seorang pria melayang dari ketinggian gedung, jatuh menyusuri rangkaian billboard iklan yang dipasang, seiring dengan munculnya nama-nama pemain, sampai akhirnya pria tersebut duduk membelakangi kita dengan sebatang rokok di tangan. Indah, berkelas, dan mempunyai lagu tema instrumental yang khas. Lagu ini berjudul “A Beautiful Mine” karya RJD2. Saking nempelnya lagu ini dengan adegan ini, sampai-sampai pembuat serial “Mad Men”, Matthew Weiner, pernah berujar di panggung Emmy Awards saat karyanya mendapatkan Emmy pertama sebagai Serial Drama Terbaik tahun 2008, “We can never get rid of our opening song. We just love it!”

Sangat jarang sebuah opening sequence dari serial televisi disebutkan saat serial tersebut memenangkan penghargaan tertinggi pertelevisian Amerika. Padahal adegan pembuka ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari serial televisi. Tentu saja, seperti layaknya sampul buku atau cover majalah, adegan pembuka serial televisi adalah impresi awal buat kita, para penonton televisi, untuk bisa tertarik terhadap apa yang kita tonton.

Bahkan adegan pembuka bisa jadi tontonan tersendiri, lepas dari apapun episode yang akan ditayangkan, di musim penayangan kapanpun. Contoh jelasnya “The Simpsons”. Urutan adegan pembuka selalu sama selama 26 tahun terakhir. Yang berbeda di setiap episode adalah tulisan yang Bart Simpson tulis di papan sebagai hukuman, dan bagaimana satu keluarga The Simpsons akan duduk di depan televisi. Seniman sekaliber Banksy pun pernah membuat adegan pembuka serial ini.

Tidak semua serial bertahan lama sepanjang “The Simpsons”. Tapi itu tidak menghalangi beberapa serial untuk melakukan update saat memasuki musim penayangan baru, meskipun deretan pemain, judul serial, dan tentunya lagu yang digunakan pun, masih sama.
Tapi selalu ada celah untuk menyegarkan rutinitas.

Contohnya serial “Friends” dengan lagu “I’ll Be There For You”, yang sama-sama sudah menjadi bagian tak terpisahkan antara keduanya.
Meskipun kita sudah sangat familiar, bahkan sampai ke ketukan nada dan urutan nama pemain yang muncul, namun pembuat serial ini masih bisa bermain-main dengan nama para pemainnya saat Courteney Cox baru menikah dengan David Arquette beberapa tahun lalu. Caranya? Tambahkan saja nama Arquette di belakang nama semua pemain dan kru!

Ada kenangan yang terpisahkan antara lagu dan serial, seperti halnya lagu karya grup The Rembrandts dan juga enam teman yang sering nongkrong di kafe Central Perk di atas. Demikian pula dengan lagu “I Don’t Want to Wait” milik Paula Cole, yang selamanya akan selalu saya asosiasikan dengan serial “Dawson’s Creek”.

Meskipun tanpa lagu, adegan pembuka dengan komposisi musik tertentu bisa membuat kenangan tersendiri buat kita, penontonnya.

Paling tidak, tema musik pembuka serial televisi bisa membuat saya panik setengah mati karena masih belum menyelesaikan urusan di kamar mandi, sementara lagu tema serial “Knight Rider” sudah mulai berkumandang dari ruang keluarga.
Itu hari Rabu malam.
Kalau hari Jumat malam, saya bisa buru-buru menyelesaikan makan malam saat lagu tema “MacGyver” mulai terdengar, lalu berlari untuk duduk di depan televisi. Sementara beberapa jam sebelumnya, tepatnya di Jumat sore, kadang saya harus menahan kesal, karena saat itu adalah waktunya mengikuti les tambahan, sementara dari televisi mulai terdengar suara instrumental pembuka serial “Beverly Hills 90210”.

Beverly Hills 90210

Beverly Hills 90210

Kalau Anda mulai bertanya-tanya kenapa semua serial di atas hadir sebelum abad 21, itu karena tak banyak serial saat ini yang menaruh perhatian khusus pada adegan pembuka, sebelum kita digiring masuk ke cerita episode yang sedang berjalan.
Hampir semua serial buatan Shonda Rhimes (“Grey’s Anatomy”, “Scandal”, “How to Get Away With Murder”) tidak terlalu menaruh perhatian pada opening titles ini. Judul serial dimunculkan sekilas saja. Nama-nama pemain muncul sejalan dengan adegan yang sedang berlangsung. Metode ini banyak digunakan di serial-serial sekarang, dengan pertimbangan bahwa perhatian orang semakin pendek karena terbagi dengan smartphone, interaksi di media sosial, sehingga takut kalau mereka tidak terpikat langsung dengan jalan cerita serial televisi, maka mereka tidak akan menonton serial tersebut sama sekali.

Kalaupun ada perkecualian, mungkin hanya beberapa saja, seperti “Game of Thrones” atau “Unbreakable Kimmy Schmidt” yang digarap dengan serius. Lalu ada juga “House of Cards” dan “Daredevil”, semuanya dari Netflix, yang cukup sukses mewakilkan mood dan tone serial lewat scoring yang sangat berat dan serius di opening title.

Daredevil

Daredevil

Dan mau serius, atau jenaka seperti lagu pembuka serial “Si Doel Anak Sekolahan”, yang jelas serial televisi tak akan lengkap tanpa musik pembukanya. Opening theme of a TV series gives us what we already know, what we can expect, and at the same time, ensures us of that we’re home with the people we know the most.

And that is the magic of television.

PS: oh iya, cuma mau kasih tahu kalau dari semua serial televisi yang ada di atas, opening title favorit saya bukan salah satu dari mereka. Favorit saya?
Ini dia: the most glorious TV series opening of all time!

Separuh

Minggu ini, Linimasa genap berusia 6 bulan. Tepatnya hari Selasa kemarin, tanggal 24 Februari 2015. Tergantung dari perspektif, bisa saja Anda bilang “baru 6 bulan”, atau “sudah 6 bulan”.

“Baru 6 bulan” karena biasanya yang namanya ulang tahun diukur dari genapnya hitungan satu tahun yang ditandai dengan tanggal dan bulan yang sama tapi tahun yang berbeda, sedangkan ucapan “sudah 6 bulan” bisa jadi diucapkan karena, well, di jaman sekarang, apapun dalam bentuk digital yang bisa bertahan lebih dari 3 bulan bisa dibilang cukup bagus. Selain persaingan yang semakin hari semakin kompetitif, mempertahankan perhatian pembaca juga bukan sesuatu yang gampang.

Sudah lebih dari 180 hari kami hadir setiap hari menemani Anda … hampir setiap hari, ding. Akhirnya kami sempat absen selama dua Jumat yang lalu. Farah Dompas, yang sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah cukup lama nggak ada yang memangku, mengalami jet-lag dan transisi adaptasi ke kehidupan baru yang membuat dia sempat jatuh sakit. Dari menggigil kedinginan di bawah nol derajat sehari-hari, laltu tiba-tiba harus lembur setiap hari dan membajak sawah di akhir pekan, membuat beliau ambruk.
Tapi jangan khawatir. Setelah masa istirahatnya dihabiskan dengan menonton film-film di Netflix, rasanya Farah sudah cukup segar lagi untuk kembali menulis secara rutin.

Dan rutinitas menjadi sesuatu yang sempat terhenti di Linimasa akhir-akhir ini, ketika popularitas cerita Ustadz Wadud karya Gandrasta melejit. Berhubung Fa berhalangan, maka cerita-cerita tersebut digilir secara berurutan, menggeser jadwal Glenn dan Roy. Ditambah dengan Dragono yang beberapa kali mengisi kekosongan Fa, maka saya sendiri sempat bingung, dan harus menanyakan ke grup kami, “Hari ini giliran siapa ya yang piket?”

Tapi saya pribadi melihat kejadian di atas sebagai jeda yang memang kami perlukan. Sesekali bolehlah rutinitas sedikit diacak. Toh di antara kami tidak ada yang benar-benar OCD memandang tulisan harus rapi setiap hari sesuai absen, seperti susunan buku dalam rak. Paling tidak, itu menurut saya, lho. Tidak dijamin juga kalau 6 penulis lain ternyata malah bertolak belakang dari apa yang saya perkirakan.

Maklum saja, kami tidak pernah bertemu beramai-ramai di dunia nyata.

Saya belum pernah ketemu langsung dengan Roy Sayur, Agun Wiriadisasra dan Farah Dompas. Ketemu Dragono Halim terakhir beberapa bulan lalu waktu ada kerjaan di Samarinda. Itu pertemuan kami ketiga, kalau tidak salah. Sudah lupa kapan terakihr ketemu Glenn Marsalim dan Gandrasta Bangko, meskipun kenal mereka sudah lama sekali, dan pernah ada masanya kami cukup sering bersua.

Linimasa diinisiasi Roy hanya bermodalkan perkenalan di dunia maya. Lantas obrolan kami bertujuh pun, berikut keputusan-keputusan mengenai pembagian hari, jadwal tulisan, serta rencana-rencana ke depan, cukup kami perbincangkan di grup WhatsApp. Kalau ramai, pernah terlewat sekitar 600-an pesan. Kalau sepi, bisa berhari-hari tak ada kicauan sama sekali. Apa yang kami perbincangkan? Apalagi kalau bulan tentang harta, wanita, tahta dan Anda. Namanya juga ngerumpi, yang diobrolin ya anything under the sun dong.

Kadang saya penasaran juga, kalau sudah ketemu di dunia nyata, apa bisa kami ngobrol seseru kalau ngobrol di dunia maya? Apa jangan-jangan malah jaim, karena malu-malu kucing? Padahal kucing di Lapangan Banteng dan Sarinah gak ada yang malu, karena kalau malu gak akan laku.
Tapi rasa penasaran itu tidak pernah sampai membuat saya memikirkan terlalu lama, karena rutinitas sehari-hari sudah menyibukkan kami. Apalagi dalam enam bulan terakhir, banyak perubahan yang sudah terjadi dari diri kami.

Gandrasta masih mengisi rumah sambil membagi waktu untuk bisa terus bercinta. Agun mengasuh keponakan sambil terus menjadi pengamat aktif musik dan film. Farah memonitor pergerakan media bagi beberapa korporasi. Glenn berkelana menjadi aktifis dan memberikan penyuluhan kepada berbagai lembaga masyarakat, sambil terus memasak. Dragono punya rencana besar dalam karir dan pendidikan yang sudah dia rintis, dan masih menjadi wartawan. Roy jatuh cinta dengan sepeda barunya yang dia naiki setiap hari, sebagai modal supaya kalau pensiun nanti tidak sering sakit. Saya sendiri, yang kebetulan the true underachiever di grup ini, kebetulan sedang menikmati kembali menghabiskan hari membaca buku-buku teori film seperti waktu kuliah lagi.

Baru semalam saya menonton episode terakhir serial “Parks and Recreation” yang akhirnya berhenti tayang setelah 7 seasons atau musim penayangan. Menonton series finale serial ini rasanya sama seperti menonton episode akhir dari serial-serial komedi Amerika lainnya yang sudah kita ikuti sekian lama. Ada bagian yang hilang, karena kita sudah menginvestasikan waktu kita untuk tumbuh bersama karakter-karakter yang sudah terlanjur kita cintai. Meskipun tidak setiap episode serial “Friends” atau “How I Met Your Mother?” kita sukai, atau bahkan ada satu atau dua musim penayangan serial itu yang bahkan tidak kita sukai, namun menghabiskan waktu bersama mereka sekian lama mau tidak mau membuat mereka secara tidak sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kita familiar dengan ciri khas karakter-karakter buatan itu. Kita tahu bagaimana cara Joey merayu, dan kita tahu apa ucapan khas Barney Stinson.

Friends

Friends

Terlalu awal dan mungkin muluk-muluk rasanya membandingkan Linimasa dengan scenario di atas. Tapi tidak berlebihan kalau kami ingin kehadiran kami bisa selalu mengisi waktu sarapan, makan siang dan ngopi sore Anda dengan manis. Anggap saja kami sedang berada di dekat Anda lewat tulisan, lalu kita sama-sama menghabiskan waktu bercanda dan bercerita.

Dan ketika sampai di ujung satu tulisan, akan selalu ada arsip tulisan lain yang menjadi teman Anda.

Enam bulan lagi Linimasa genap berusia setahun. Entah perayaan apa yang akan kami gelar. Kami hanya menunggu tren apa yang akan terjadi saat itu.

Yang jelas, kami hanya ingin menghabiskan waktu dalam cerita bersama Anda semua.

We love you all.