Hope for the Best, Prepare for the Worst

Kata-kata yang menjadi judul di atas saya temukan pertama kali di sebuah buku tulis yang saya beli waktu duduk di bangku sekolah. Saya terkesan sekali dengan kata-kata tersebut, sampai sering sekali saya gunakan di berbagai kesempatan.

Waktu “digojlok” menjadi siswa baru, saya selalu menulis kata-kata tersebut di tulisan yang harus kami buat setiap harinya untuk diserahkan ke kakak-kakak kelas yang “menggojlok” kami. Waktu dicurhati teman, entah berapa kali saya menggunakan kata-kata ini sebagai salah satu tanggapan saat ditanya, “What do you think I should do?”

Demikian pula di kehidupan nyata. Acap kali saya sering menemui kejadian, di mana saya sudah berharap akan mendapat sesuatu, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Waktu sedang menulis tulisan yang sedang anda baca ini, misalnya. Saya memilih kedai kopi ini dengan harapan bisa mendapat tempat duduk yang dekat colokan listrik, eh ternyata tempat itu sedang ramai dengan keluarga yang sedang berlibur. Alhasil, saya duduk di tempat lain, sambil berharap rombongan keluarga ini segera menyelesaikan kegiatan mereka di meja tersebut.

Tentu saja saat saya sedang menulis ini, pikiran saya melayang ke ibu kota Indonesia yang sedang dirundung kemalangan. Musibah banjir ini bisa dibilang yang terberat yang pernah dialami, karena hanya dalam hitungan jam, hujan deras mampu meluluh lantakkan pergerakan seluruh kota, dan mengakibatkan beberapa korban jiwa.

Saat ini saya berada di luar Jakarta. Tapi pikiran saya tidak lepas ke teman-teman, lingkungan sekitar dan rekan-rekan lain yang sedang bertahan hidup. Termasuk pula beberapa orang yang baru saja kembali dari liburan akhir tahun. Siapa yang menyangka, saat pulang dari liburan, harus menghadapi kenyataan yang mengenaskan? Siapa yang menyangka juga, liburan harus berakhir dengan genangan?

Tidak ada yang menyangka kapan musibah datang menimpa kita, meskipun kita sudah menyiapkan diri sebaik mungkin. Dan atas pemikiran inilah, saya meyakini bahwa saat kita hope for the best, sebenarnya secara otomatis kita sedang prepare for the worst. Dalam diam kita, kita berdoa dan berharap, sambil otak terus berpikir untuk mempersiapkan diri. We hope by preparing. Mempersiapkan mental, mempersiapkan perasaan, mempersiapkan fisik, mempersiapkan materi, dan segala jenis persiapan lain.

Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan duka cita buat semua korban peristiwa banjir awal tahun 2020 ini. Untuk mereka yang harus berpisah dengan orang-orang tercinta, saya ikut berdoa, semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Untuk mereka yang terpaksa merelakan harta yang telah dimiliki dengan jerih payah sekian lama, saya ikut berdoa, semoga akan ada pengganti yang lebih baik. Untuk yang masih bertahan, semoga kita semua bisa terus bertahan, membantu sama, dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan apa pun.

We never know what the future brings. We can only hope for the best, and prepare for the worst.

Advertisements