Agama dan Budaya: Kesalehan dan Keindahan

MARAH dan tersinggung. Inilah yang—lazimnya—terjadi pada seseorang waktu merasa agamanya dijadikan bahan kelakar. Baik oleh umat seagama, apalagi oleh orang-orang dengan keyakinan berbeda.

Demikianlah yang dirasakan Piers Morgan, seorang jurnalis kesohor Inggris, dan sebagian jemaat Katolik di seluruh dunia terhadap penyelenggaraan Met Gala 2018, 7 Mei lalu. Pasalnya, mengangkat tajuk “Heavenly Bodies: Fashion and the Catholic Imagination”, acara fesyen yang dianggap setara dengan Oscars atau Super Bowl-nya dunia mode kali ini terpusat pada simbol-simbol Katolik.

Dalam artikel protesnya yang penuh sinisme, Morgan kurang lebih bilang begini: “Tema Met Gala tahun depan adalah Islam. Para tamu bisa mengenakan busana pendek dan menggoda sebagai ‘penghormatan’ kepada Nabi Muhammad, cara berpakaian muslim termasuk hijab dan burka, serta kepada Alquran. Sedangkan Met Gala 2020 akan bertema Yahudi. Para selebritas dan model akan berpose dengan mengenakan baju serta pernik Yahudi, termasuk berpakaian seperti rabi, juga memakai kipah.

Jewish man wearing kippah.

Foto: YouTube

Morgan tidak terima ikon-ikon Katolik yang selama ini identik dengan kekudusan, ekspresi kesalehan, altar dan liturgi, diremehkan sedemikian rupa menjadi sekadar aksesori maupun penghias busana para bintang tamu—yang belum tentu saleh, dan seringkali digambarkan sebagai bintang hidup keduniawian. Intinya, mereka dianggap jauh dari kepantasan untuk mengenakan benda-benda tersebut. Terlebih beberapa di antaranya dibuat menyerupai barang aslinya, seperti mitre atau tiara paus.

Rihanna in Met Gala 2018.

Foto: New York Times

Yang membuat hal ini tidak sesederhana kelihatannya, ialah pemilihan simbolisme Katolik sebagai tema Met Gala 2018 bukan sekadar iseng atau sengaja cari masalah. Berawal dari pertemuan Andrew Bolton, kurator di Costume Institute at the Metropolitan Museum of Art (Met), dengan Uskup Georg Gänswein, kepala urusan rumah tangga kepausan, Mei tahun lalu. Mereka membincangkan gereja sebagai inspirasi keindahan bagi para perancang busana selama berabad-abad. Hasil akhirnya, tak hanya mendapat izin, Vatikan malah bersedia meminjamkan sejumlah artefak untuk dipamerkan.

Some of Vatican's artifacts in Met Gala 2018.

Foto: Daily Mail

Informasi lebih lanjut tentang Met, tujuan Met Gala, serta hal-hal terkait lainnya, termasuk mengapa dukungan dari Vatikan dalam penyelenggaraannya tahun ini begitu penting, silakan Google sendiri. Sebab bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan Linimasa hari ini, melainkan melihat bagaimana kebanyakan orang, terutama yang beragama dan mengaku saleh, menyikapi “kolaborasi langit dan bumi” semacam ini.

Bagi Morgan dan sebagian umat Katolik dunia lainnya, hal ini tentu tidak dapat diterima. Hanya saja, tidak sedikit pula yang tergerak, terkagum-kagum, dan dibuat takjub dengan hasilnya. Termasuk dari masyarakat umum.

Agama, budaya, dan keindahan.
Bagaimana menempatkan ketiganya?
Tak bisakah ketiganya dipadukan?

Dalam kasus Met Gala 2018, para penentang beranggapan bahwa agama (Katolik) semestinya tidak dicampurkan dengan ragam budaya hasil buah pikir manusia (mode busana), terlepas dari keindahan (visual) yang dihasilkannya. Proses pencampuran dan hasil-hasilnya akan dianggap sebagai penghinaan atas keagungan agama, serta bertentangan dengan cultural appropriation atau kepatutan budaya. Kendati sejatinya, institusi dan segala tata kelola agama yang ada hingga saat ini, terbentuk lewat pemikiran dan tenaga manusia pula. Dimulai dari konsep struktur agama, sampai susunan dan kumpulan kitab suci, disinggahkan dalam benak manusia.

“The church and the Catholic imagination—the theme of this exhibit—are all about three things: truth, goodness and beauty. That’s why we’re into things such as art, culture, music, literature, and, yes, even fashion.”

Cardinal Timothy Dolan, pemimpin Keuskupan Agung New York di Met Gala 2018.

Anggapan seperti ini bisa terjadi dalam ajaran agama apa pun. Bukan hanya Katolik, para muslim, orang Kristen, Buddhis, umat Hindu, Khonghucu, serta agama-agama besar dunia lainnya akan punya kecenderungan menolak akulturasi agama dan budaya. Padahal bagaimanapun juga, setiap ajaran agama tak akan lepas dari keindahan, dan keindahan justru merupakan salah satu bentuk kekaguman dan kecintaan terhadap tuhan yang mahakarya.

Singkat kata, segala sesuatu yang indah berasal dari tuhan, mampu menimbulkan perasaan menyenangkan bagi manusia, dan oleh sebab itu juga pantas didedikasikan kembali. Khususnya di bidang-bidang yang tangible atau konkret. Misalnya seni pahat, seni lukis atau kaligrafi, arsitektur, musik dan tari, seni busana, serta lain sebagainya. Entah itu patung “Pieta” karya Michelangelo, ketika batu yang padat keras bisa dibuat terlihat seperti daging dan kulit sungguhan, desain Candi Borobudur maupun Angkor Wat yang sedemikian megah, sampai karangan dan gubahan manakib yang dinyanyikan secara massal dalam setiap gelaran haul mendiang ulama bersangkutan. Tidak ada satu pun dari buah karya orang-orang hebat tersebut yang tidak indah.

Borobudur.

Foto: Kata.co.id

Di sisi lain, sebagai hasil dari buah pikir manusia, tidak tertutup kemungkinan ada pula budaya-budaya yang bersifat negatif dan merusak, tetapi kemudian disangkutpautkan dengan label agama demi penerapan yang lebih luas. Karakteristiknya saja sudah bersifat merusak atau destruktif, lalu di mana letak keindahannya? Apanya yang menenteramkan hati, dan bisa dijadikan pendorong untuk memanjatkan puji syukur kepada tuhan?

Salah satu contohnya, seperti yang terjadi Minggu dan Senin kemarin. Pantaskah “budaya” penghancur seperti itu dikait-kaitkan dengan pemujaan kepada tuhan?

Tuhan pun ogah kali.

[]

Advertisements