Ternyata Kita Tidak Perlu (Terlalu) Banyak

Saat tulisan yang sedang Anda baca ini dibuat, saya berada di salah satu sudut di pulau Bali.
Demikian pula saat gempa bumi berskala 7.0 skala Richter terjadi di pulau Lombok pada hari Minggu, tanggal 5 Agustus lalu, saya sudah berada di pulau Bali. Lebih tepatnya, saya baru saja keluar dari kamar mandi di kamar hotel setelah buang air kecil. Baru selesai cuci tangan di wastafel, tiba-tiba saya terhuyung-huyung seperti kehilangan keseimbangan. Saya merasakan getaran di lantai. Sontak saya berpikir, “Gempa!”

Tanpa berpikir panjang lagi, saya berjalan ke meja tulis di belakang sofa di kamar hotel. Saya ambil telpon genggam dan kunci kamar, mengenakan sandal, dan berjalan keluar. Sempat terbersit niat untuk melindungi diri dengan meringkuk di bawah meja. Namun dari sekelebatan mata, ruang di bawah meja terlalu kecil. Tidak ada pilihan lain, cuma ambil ponsel dan kunci, lalu keluar ke arah lobi hotel.

Sampai di lobi, saya melihat sudah banyak orang berkumpul. Tidak banyak raut muka yang menunjukkan kepanikan. Mungkin karena staf hotel sudah sangat sigap mengarahkan sekaligus menenangkan tamu-tamu. Mungkin juga karena sebagian besar tamu, seperti saya, masih belum reda merasakan ketegangan, sekaligus juga excitement merasakan gempa di Bali. Ini yang pertama kali buat saya. Atau mungkin juga tamu-tamu ini malah penasaran mencari rute ke JFC terdekat berkat kunjungan pasangan John Legend dan Chrissy Teigen di warung ayam goreng ini di malam sebelumnya.

earthquake-clipart-earthquake-clip-art

Di lobi saya bertemu beberapa teman yang memang sedang menginap di hotel yang sama untuk urusan pekerjaan kali ini. Kami saling bertukar cerita tentang apa yang sedang kami lakukan saat gempa terjadi beberapa menit sebelumnya, dan bagaimana reaksi kami.

Salah satu dari teman saya berkata, “Masih mending kamu sempat ambil kunci kamar hotel. Lha ini aku tadi buru-buru keluar, kunci kamar ketinggalan di dalam!”

Kami pun tertawa, sambil bertukar cerita soal gempa barusan, dan beberapa kejadian serupa sebelumnya selama ini. Lalu setelah dirasa aman, tidak ada tanda-tanda gempa susulan malam itu, kami pun kembali ke kamar masing-masing.

Waktu kembali ke kamar, saya sempat berpikir, kenapa insting mengatakan untuk mengambil ponsel dan kunci kamar ya? Kenapa tidak mengambil tas punggung yang sedang tergeletak di meja depan televisi, atau mengambil power bank di meja? Dompet juga kenapa tidak diambil?

Pemikiran saya simpel saja: ponsel saya perlukan untuk menghubungi orang-orang terdekat, memastikan dan mengabarkan keadaan saya. Di saku celana masih ada uang, dan saya sempat ingat juga bahwa ada aplikasi di ponsel yang memungkinkan saya mengambil uang di ATM.
Kunci kamar saya ambil karena, apapun yang terjadi dengan kamar saya pasca gempa, saya ingin memastikan bahwa saya bisa masuk mengambil barang-barang saya yang lain saat keadaan sudah memungkinkan. Semua identitas diri, seperti KTP, paspor dan kartu keluarga, sudah saya scan, disimpan dalam bentuk foto, dan upload di cloud service. Sempat terpikir bagaimana nanti kalau batere ponsel habis. Tapi saya meyakinkan diri kalau sebelum batere ponsel habis, sudah menghubungi orang-orang yang memang paling penting untuk dihubungi terlebih dahulu.

Dan di saat itulah saya berpikir bahwa sebenarnya kita tidak butuh terlalu banyak barang untuk hidup. Atau untuk terus melanjutkan hidup.

Image-vignette-Post-Taiwan-Epicenter-EN-300x300

Sering kita mendapat pertanyaan, atau bermain kuis yang mengajak kita memilih, “kalau kamu cuma bisa membawa 5 barang untuk hidup di pulau terpencil, apa yang kamu pilih?” Atau seperti “sebutkan 5 barang berharga yang kamu bawa selama traveling!”
Terus terang saya suka malas menjawab kuis-kuis seperti itu, karena biasanya tidak berhadiah apa-apa, dan perlu waktu untuk berpikir cukup lama. Ternyata, saat dihadapkan pada situasi yang menuntut kita untuk langsung bertindak serupa, kita benar-benar mengandalkan intuisi kita. Intuisi yang dibentuk dari cara kita untuk menentukan prioritas dalam hidup.

Saya teringat film Swedia berjudul Force Majeure (2014) karya Ruben Östlund. Konflik cerita yang sudah tersaji dari awal film bermula dari tokoh ayah yang terkesima saat melihat badai salju, lalu buru-buru menyelamatkan dirinya, sebelum menyelamatkan anak-anaknya, yang telah diselamatkan sang istri terlebih dahulu.
Perseteruan antara suami dan istri, berikut anak-anak mereka, dari kejadian itu, yang akhirnya mengungkap perbedaan cara pandang karakter suami dan istri dalam memilih prioritas hidup, membuat film ini sangat menarik untuk disimak dari awal sampai akhir. Bahwa sebuah kejadian besar yang mengharuskan kita untuk bertindak at the spur of the moment bisa mengungkapkan karakter kita yang sesungguhnya, yang mungkin tidak pernah diketahui oleh orang yang paling dekat dengan kita sekalipun.

damage-earthquake-clipart-explore1

Pada akhirnya memang kita tidak perlu banyak dalam hidup, untuk hidup, dan supaya bisa tetap hidup. Dan biarkan pengalaman hidup yang akhirnya menentukan prioritas kita, apa saya yang kita paling perlukan supaya hidup kita bisa “hidup”.

Advertisements