Jejak Yang Kita Tinggal

Paruh kedua tahun ini dibuka dengan beberapa berita duka yang mengena buat saya. Ada beberapa orang yang pergi meninggalkan dunia dengan cepat, terasa tiba-tiba tanpa ada pertanda sebelumnya. Hampir semuanya meninggalkan impresi yang mendalam, yang juga berarti meninggalkan rasa sedih karena kehilangan.

Semakin sedih saat ada seorang teman yang mengatakan bahwa di paruh pertama tahun ini, ada beberapa teman atau kenalan in common kami yang juga telah berpulang. Setiap berita duka datang menghampiri, kadang tanpa sadar kita menghitung atau mengingat-ingat lagi, siapa saja orang-orang terdekat kita yang sudah tiada dan masih ada.

Yang juga kita sering lakukan tanpa kita sadari adalah memikirkan bagaimana orang memandang kita setelah kita tiada.

Beberapa hari lalu, tepat sehari setelah kepergian seorang rekan kami, saya bertemu untuk meeting proyek pekerjaan. Di sela-sela meeting, kami berbagi kenangan terhadap almarhum. Mulai dari kenangan mengerjakan proyek bersama, makan bersama, sampai “kongkalikong” dalam menyusun aturan.

Kami juga sama-sama membaca ucapan berita duka di media sosial, di mana cukup banyak teman-teman kami yang lain berbagi kenangan bersama almarhum yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Kami tertawa, lalu sama-sama mengucap “aaawww …”, lalu tersenyum, berusaha menutup kesedihan yang melanda.

Rekan kami memang dikenal sebagai sosok yang bisa merangkul banyak orang, dan dekat dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Tak heran kalau kenangan yang muncul pun yang baik-baik.

 

Footprints1

Namun tak urung seorang rekan bertanya di meeting kami, “Kalau misalnya ada orang jahat yang meninggal, yang semasa hidupnya banyak berbuat salah sama orang lain, I wonder apakah orang tersebut akan sama diomongin seperti kita sekarang ngomongin mas X dengan segala kebaikannya ya?”

Kami terdiam. Seorang teman lain menjawab, “Mungkin. Tapi kayaknya gak langsung diomongin di saat hari wafatnya dia. Energi buat berduka sudah cukup berat, nggak sempet mikirin yang lain-lain.”

Teman lain menimpali, “Dan bisa jadi orang itu gak berbuat baik ke orang lain, tapi he’s an angel to some others. Entah ke keluarganya, ke beberapa temannya, we’ll never know.”

Kami menggangguk dan terdiam lagi. Lalu ada yang bertanya, “Penasaran aja. Have you been wondering, what legacy will we leave behind when we depart?”

Kembali kami terdiam. Setelah lama, saya berkata, “If you ask me, jawabannya nggak tahu, dan terus terang, nggak mau tahu. Karena ya by then, gue udah mati, gue gak bisa lihat ama denger apa yang orang katakan tentang gue. Cuma yang gue tahu, pas masih hidup gini, sebisa mungkin gue gak bikin sakit hati orang. Itu aja, sih. Gak mungkin nyenengin semua orang, emang, but at least, gak bikin orang sepet sama gue. I guess that’s all?

Saya melihat teman-teman saya mengangguk. Teman saya lantas berkata, “Ya living the life lah. We honour orang-orang yang udah ninggalin kita ya dengan hidup. We work, we live, we love, we do what we are best at doing. Life goes on.

Dan dengan pernyataan itu, kami melanjutkan sisa aktivitas masing-masing, karena matahari baru saja terbenam. Sambil masing-masing mungkin berpikir, bahwa legacy kita dimulai dari saat kita menyadari bahwa kita punya kehidupan yang harus kita jalani.

Advertisements