Sepuluh (dan Sembilan) Film Favorit Tahun 2019

Jujur saya akui, sekitar 20% atau hanya seperlima dari total film yang saya lihat di tabun 2019 ini saya tonton di bioskop komersial di Indonesia, di penayangan reguler. Unexpectedly, frekuensi menonton film untuk urusan pekerjaan melonjak cukup tajam tahun ini.

Oleh karena itu, sebelumnya saya mohon maaf kalau ada judul-judul yang belum familiar. Saya sangat berharap dengan menempatkan judul-judul yang saya tonton baik di festival film internasional maupun dari private screening links yang diberikan untuk kepentingan profesi, teman-teman bisa mencari atau mulai menandai film-film tersebut. Kalau ada yang kebetulan sedang diputar, usahakan untuk datang menonton. Kalau sudah tersedia di jalur tontonan legal, baik itu streaming platform atau toko semacam iTunes Store, go and find them.

Yang pasti film-film ini dekat dengan saya. Mereka memberikan perasaan yang membuncah seusai menontonnya, yang tak lekas hilang saat selesai menontonnya.

Dan inilah dia.

Sembilan film yang juga meninggalkan kesan yang mendalam, dalam urutan acak:

Rocketman

The Farewell

Gully Boy

Between Two Ferns

Uncle

Towards the Battle

Flesh Out

For Sama

Late Night

 

Dan sepuluh film favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

10. Homeward

homeward-imdb
Homeward (source: IMDB)

Cerita tentang perjalanan ayah dan anak melintasi kawasan yang berbahaya sudah banyak diangkat ke layar lebar. Namun yang terasa istimewa dari debut penyutradaraan Nariman Aliev ini adalah perjalanan emosi dua karakter ayah dan anak sepanjang film yang membuat kita enggan berpaling sedetik pun. Selayaknya film bertema road trip, perjalanan yang dilakukan ayah dan anak ini mengubah cara mereka melihat satu sama lain, dan pada akhirnya mengubah hidup mereka. But not in the way we expect it to change. Film dari Ukraina ini terasa menusuk hati sampai pelan-pelan saat end credits mulai terbaca. It is powerful.

 

9. Stars by the Pound

stars-by-the-pound_unifrance
Stars by the Pound (source: Unifrance)

Tahun ini saya melihat cukup banyak coming of age films. Namun entah mengapa film Stars by the Pound yang terus membekas di ingatan saya. Film dari Perancis ini bercerita tentang Lois, seorang anak obesitas yang bercita-cita ingin menjadi astronot. Segala cara dia tempuh untuk menampilkan karya ilmiahnya sebagai jalan pintas untuk mengikuti program menjadi astronot, termasuk berkomplot dengan gadis-gadis remaja yang dianggap sebagai outcasts untuk memuluskan jalannya. Film low profile ini nyaris lewat dari radar saya, sampai saya menontonnya dan menitikkan air mata sembari tersenyum lebar di akhir film. Sensasi ajaib yang jarang saya rasakan di antara film-film lain selama bertahun-tahun.

 

8. Dolemite is My Name

dolemite-npr
Dolemite is My Name (source: NPR)

Ada ungkapan kalau sebuah karya dibuat dari hati, maka kita yang menikmati karya tersebut juga bisa merasakan isi hati para pembuatnya. I’m not among those who believe that, actually. Tapi kalau anggapan itu benar, maka film Dolemite is My Name bisa jadi contoh nyata. I don’t know about having a good heart, tetapi melihat film ini somehow kita bisa merasakan bahwa semua pemain dan pembuat filmnya benar-benar having fun saat membuat filmnya. Eddie Murphy tidak pernah terlihat se-relaxed dan sepercaya diri ini di film. Dia tahu betul apa yang harus dia tampilkan untuk menghormati legenda karakter Dolemite ini. Dan totalitas Eddie Murphy di sini membuat kita langsung menyelami dunia hiburan “blackploitation” tahun 1970-an tanpa kita perlu merasa familiar dengan dunia tersebut. Itu karena semua pembuat film yang terlibat di sini, they look like having a blast making this film. And it shows.

 

7. Extra Ordinary

extra-ordinary-Collider
Extra Ordinary (source: Collider)

Another film that came out of nowhere, and then … Boom! Film ini luar biasa jahilnya. Seorang guru sekolah mengemudi, Rose, mempunyai bakat bisa melihat dan berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah meninggal, dan kemampuannya ini acapkali mengganggu hidupnya. Sampai akhirnya ada dua orang yang membuat Rose mau tidak mau menggunakan seluruh kemampuannya lagi: muridnya di sekolah mengemudi, dan seorang rockstar yang mencari darah perawan untuk bisa membuat album baru. Sebuah cerita yang bisa membuat kita mengernyitkan kening. Namun saat saya menontonnya, saya benar-benar tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Dan in a very rare chance, justru Will Forte, komedian alumnus Saturday Night Live, yang ‘disalip’ comic timing-nya oleh aktor-aktor Irlandia yang semuanya bermain cemerlang. Kalau ada penghargaan film tergokil tahun ini, inilah pemenangnya. It’s bloody hilarious!

 

6. Marianne and Leonard: Words of Love

leonard-marianne-TheTimesUK
Marianne and Leonard: Words of Love (source: The Times)

Leonard Cohen memang mempunyai kharisma luar biasa. Persona yang ditampilkan lewat musik dan gaya panggungnya bisa membuat jutaan orang “klepek-klepek”. Film dokumenter ini mengesahkan imaji tersebut, dan mengeruknya lebih dalam lagi lewat kisah Leonard Cohen dengan Marianne Ihlen, yang menginspirasi banyak karya populer Leonard selama bertahun-tahun, sampai akhir hayat mereka. It’s common to portray love in feature film, but how do you capture that in documentary that also makes us feel the love? Kisah cinta yang nyata tidak mudah diterjemahkan dalam genre dokumenter yang sangat tergantung pada fakta. Namun film dokumenter ini berhasil menerobos kesulitan tersebut. Just like when we can only feel the depth of Leonard Cohen’s songs. Rasa yang ditimbulkan film ini persis seperti itu.

Dan inilah lima film favorit saya tahun ini.

5. American Factory

american-factory-Bloomberf
American Factory (source: Bloomberg)

Tidak mudah membuat cerita yang ‘netral’ dalam dokumenter. Kala ada dua sisi cerita yang berlawanan dan harus saling ditampilkan, pasti ada satu sisi yang menjadi titik berat penyampai cerita atau pembuat film. Ada satu yang lebih ditonjolkan. Namun hal ini tidak kita lihat dalam film dokumenter American Factory, yang dengan cermat menampilkan masing-masing sisi baik dan buruk dari kultur bekerja di pabrik di Amerika Serikat dan Tiongkok. Membuat cerita yang berimbang tidaklah mudah, malah nyaris mustahil. Namun saat itu terjadi, kita akan dibuat takjub sepanjang ceritanya.

 

4. Marriage Story

Marriage-Story-3-SparkChronicles
Marriage Story (source: Spark Chronicles)

Another film about a married couple going through bitter divorce process? Yes.

Two likeable actors playing the leads? Yes.

Dialogue bantering with lines that sting? Yes.

A child in between? Yes.

Emotional? Yes.

Make us chuckle at times? Yes.

Make us want to repeat watching the film? Yes.

I rest my case.

 

3. Joker

Joker-LineToday
Joker (source: Line Today)

Di saat ramai terjadi kasus kekerasan bersenjata pada saat pemutaran film, nyatanya tidak ada kasus serupa saat pemutaran film Joker ini. Bisa jadi karena film ini begitu nyata menampilkan secara visual pergulatan batin atas kekerasan fisik dan psikis yang terjadi di sekitar kita, yang tidak hanya bisa mempengaruhi tapi bisa mengubah jalan hidup kita. Terkesan bombastis? Maybe. Tapi itulah yang saya perhatikan dan rasakan dari film ini. How does one inhabit violent acts and thoughts? Because of the world one lives in. Menampilkannya dalam bahasa visual yang menggugah banyak orang, that’s the crowning achievement of the film.

 

2. God Exists, Her Name is Petrunya

Petrunya-IndependentMagazine
God Exists, Her Name is Petrunya (source: Independent Magazine)

Begitu keluar dari gedung bioskop yang memutar film ini di Berlinale bulan Februari lalu, saya buru-buru mencari tempat untuk menyendiri dan menghela nafas panjang. “What was that I just watched?” Hanya dalam 100 menit, film dari Macedonia ini berhasil membuat kita tercengang dan sepanjang film cuma bisa berpikir, “This is us! This could happen here! This is what the world is right now!” Film ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang putus asa mencari pekerjaan, namun secara tak sengaja dia malah ikut sebuah kompetisi ritual religius yang sebenarnya hanya diperuntukkan untuk kaum pria, dan menang. Lalu bergulir cerita tentang patriaki, sosial ekonomi, dan the world order yang sangat relevan untuk diikuti. And at times, this film can be funny, too. Saya sangat menyarankan apabila ada penayangan film ini, tontonlah. Prepare to be mesmerized. One of the most unforgettable films in decades.

 

1. Parasite

Parasite-PasteMagazine
Parasite (source: Paste Magazine)

Saya sengaja melewatkan penayangan Parasite di Cannes, karena berpikir, toh filmnya akan diputar di sini. Namun ada yang aneh. Setelah beberapa kali penayangan film tersebut di sana, setiap saya meeting, semua orang memuji film tersebut. Saya tidak mendengar satu pun yang berkomentar negatif tentang film ini. Ini jarang terjadi, karena hampir semua film kompetisi di Cannes pasti mengundang reaksi yang bertentangan. But impossibly, everybody loves Parasite in unison. Setelah menonton di bioskop, baru sadar kenapa film ini begitu istimewa. Kemampuan film ini membelokkan genre sambil masih menjaga logika bercerita, that’s what only an excellent master like Bong Joon-ho can do. Cerita tentang class division and social gap yang selalu relevan, ditampilkan dengan gamblang apa adanya, sambil tetap menjaga estetika produksi yang membuat kita betah menontonnya. Now here’s the thing about Parasite: it is a very mainstream movie. Tonton lagi, dan amati sudut pandang pengambilan gambarnya. Komposisi gambarnya. Penampilan tokoh-tokohnya. We’ve seen all before, and it looks familiar to us. Pendekatan populis yang diambil film ini berhasil membuat kita masuk ke universe yang diciptakan Bong Joon-ho, membuat film ini kuat dalam penceritaan, dan saya yakin, banyak teman-teman yang juga memilih film ini sebagai film favorit atau bahkan film terbaik tahun ini.

Tapi selain film Parasite dan film-film lain di atas, apa film favorit teman-teman tahun 2019 ini?

Advertisements

Akhirnya, 10 Film Paling Memorable Yang Ditonton Di Bioskop di Tahun 2016

Sudah Kamis ke-4 di bulan Desember. Meskipun masih ada 10 hari lagi sampai di penghujung tahun, yang berarti masih ada film-film baru yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, tetapi daftar tahunan ini memang lebih baik dirilis sekarang. Kalaupun ada perubahan, nanti kita akan melihat sendiri perubahannya saat Anda menerima notifikasi bahwa tulisan ini telah diperbarui.

Yang jelas, postingan ini meneruskan tradisi saya merekap “top 10 the most enjoyable cinema going experience” dalam satu tahun. Biasanya saya menulis di blog pribadi, tetapi setelah bergabung dengan Linimasa, maka saya akan meneruskan kebiasaan itu di sini.

Aturannya sederhana saja: filmnya saya tonton di bioskop. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dari minggu terakhir Desember di tahun sebelumnya sampai seminggu sebelum minggu terakhir Desember tahun ini.

Dari ratusan film yang saya tonton dalam satu tahun, terus terang saya bingung kalau ditanya filmnya bagus apa enggak. Kalau ditanya apakah saya menikmati atau tidak, maka jawabannya akan jauh lebih mudah.

Dan 10 film (plus) di sini adalah rangkuman dari sensasi itu. Ketika berada di dalam bioskop, pandangan saya hanya tertuju apa yang ada di layar. Ikut berpikir, tertawa, takut, senyum, sedih atas apa yang sedang ditonton. Ketika selesai menonton, masih memikirkan filmnya. Kadang masih berdecak kagum.

Every filmgoing experience is a very personal, subjective experience. Saya masih sangat percaya akan hal ini.
Artinya sederhana saja. Apa yang kita suka, belum tentu orang lain suka. Yang kita nikmati, belum tentu bisa dinikmati orang lain, bahkan orang yang paling dekat dengan kita.

Jadi, selamat membaca daftar di bawah.

Oh, satu lagi catatan khusus tentang tahun ini.

Ada jarak waktu yang cukup lama, selama lebih dari 6 bulan, di saat saya tidak menemukan pengalaman nonton yang menyenangkan di bioskop. Waktu itu, terakhir merasa puas menonton film di bioskop bulan Februari. Lalu kepuasan itu baru muncul lagi di bulan Agustus. Dalam jeda waktu 6 bulan antara Februari sampai Agustus itu rasanya seperti sleepwalking keluar masuk bioskop.

Film-film apa itu?

Silakan.

10. The Shallows

The Shallows
The Shallows

Inilah film yang memecah kebuntuan absennya pengalaman menonton yang menyenangkan buat saya di bioskop tahun ini. Jaraknya lebih dari 6 bulan dari film nomer satu. Indeed, it’s a pure pleasure. Sensasinya sama persis waktu menonton film Buried, yang dibintangi suami Blake Lively sendiri, yaitu Ryan Reynolds. Formula “one-person-alone-against-the-inexplicable-horror” masih bekerja dengan baik di film ini. An unexpected victory.

 

9. Room

Room
Room

By any accounts, it is a harrowing film. Namun pendekatan cerita yang tidak sensasional menjadikan film ini tidak membuat kita merasa claustrophobic. It has a very grounded storytelling, ditambah dengan penampilan gemilang ibu dan anak (Brie Larson dan Jacob Tremblay) yang membuat kita susah melupakan film ini begitu keluar dari bioskop, dan merasa lega.

 

8. The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years
The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

Tidak banyak yang perlu saya jelaskan tentang film ini, yang tidak hanya sebuah dokumenter, tapi sebuah surat cinta terhadap The Beatles. Sudah cukup jelas penjelasan singkat di tulisan sebelumnya tentang momen musik di film sepanjang tahun ini. Lagi pula, if you can relive singing along The Beatles and watching them on big screen, then it’s already a winning experience.

 

7. Train to Busan

Train to Busan
Train to Busan

Saya jatuh cinta dengan premise film ini yang bisa dijabarkan dengan sangat mudah: kejar-kejaran zombie di dalam kereta. Sudah cukup untuk membuat penasaran. Dan hasilnya pun membuat saya seru sendirian di dalam bioskop. When put in good use, Korean dramatic storytelling clearly shows its strength. This film proves it.

 

6. Kubo and the Two Strings

Kubo and The Two Strings
Kubo and The Two Strings

Sampai pertengahan tahun ini, film animasi cantik ini masih menjadi favorit saya. Di saat langkanya cerita asli di film animasi, film ini hadir dengan cerita yang penuh percaya diri tentang anak kecil yang berjuang menyelamatkan ibunya. Sebuah petualangan seru yang ketika ditonton, it immediately puts a smile on a kid in us.

 

5. The Wailing

The Wailing
The Wailing

Pengalaman yang kontras dengan “Train to Busan”. Durasi panjang film ini (lebih dari 2,5 jam) alih-alih membosankan. Saya tegang ketakutan sepanjang film. Padahal cerita klenik dengan intrusi makhluk supernatural yang mengganggu ketenangan satu kampung adalah cerita yang sering kita dengar sehari-hari. Namun di tangan sutradara mumpuni macam Na Hong-Jin, teror ini terlihat nyata. Salah satu film terbaik tahun 2016.

 

4. Neerja

Neerja
Neerja

Meskipun cukup banyak menonton film Hindi sepanjang tahun, namun hanya ada satu tempat di daftar saya kali ini. Dan pilihannya lagi-lagu jatuh ke film yang dengan mudah kita jelaskan secara singkat: kisah nyata pramugari Pan Am asal Mumbai yang tewas saat menyelamatkan seluruh penumpang dari pembajakan pesawat. Kekhawatiran akan kemungkinan treatment cerita menjadi lebay khas Bollywood pupus saat menonton film ini. Adegan pembajakan digarap selayaknya a proper thriller. Penampilan Sonam Kapoor sebagai Neerja membuatnya naik kelas sebagai aktris. Tapi yang mencuri perhatian adalah Shabana Azmi sebagai ibu Neerja yang harus menghadapi kesedihan. Dua penampilan berkesan tahun ini yang sangat, sangat membekas di hati.

 

3. A Monster Calls

A Monster Calls
A Monster Calls

Betapa susahnya mendeskripsikan kehilangan kepada anak laki-laki yang memasuki masa pubertas. In fact, betapa susahnya mendeskripsikan emosi kepada semua anak di masa usia tanggung. Kita semua mengalami hal ini. Maka dari itu, menonton film ini tanpa terasa akan menguras air mata. Entah itu lega atau sedih, yang jelas cerita fantasi ini bisa menjadi tontonan yang mewakili saat kata-kata tidak mampu mendeskripsikan perasaan kita terhadap kehilangan. And of course, the feeling of letting go. Film yang layak, sangat layak, untuk ditonton berulang-ulang, to understand our own emotions.

 

2. Your Name

Your Name
Your Name

Jujur, pada awalnya saya skeptis dengan film ini. Apa lagi yang mau ditawarkan oleh anime Jepang dengan tema percintaan remaja? Apalagi ditambah dengan cerita tentang time traveling.
Namun keraguan saya buyar bahkan di menit-menit pertama. Saya tidak ingat lagi kapan terakhir menonton film yang membuat saya tersenyum sepanjang film. Tanpa adegan yang dibuat mengharukan, the film actually brings hope and joy. It will make you believe in falling in love all over again.

 

1. Spotlight

Spotlight
Spotlight

Begitu selesai menonton, saya perlu “melipir” untuk menenangkan diri. Sempat ada rasa marah dan muak. Apalagi ini kisah nyata. Akhirnya mau tidak mau memang kita harus menerima kenyataan bahwa “organized religion can commit organized crime”. Apapun agamanya, apapun kejahatannya. Saya menonton film ini di awal tahun 2016. Ternyata isi ceritanya relevan sepanjang tahun, bahkan mungkin sepanjang masa. Membuat miris memang. Toh film ini memang mengandalkan kekuatan cerita yang sangat, bahkan mungkin terlalu powerful. Makanya, saya lompat kegirangan di depan televisi saat film ini diganjar Oscar sebagai Film Terbaik. In a rarity, the best film is indeed an important film to tell.

Sebagai bonus, ada 5 film yang saya tonton di bioskop tahun ini yang juga berkesan, yaitu: A Copy of My Mind, Don’t Breathe, Hacksaw Ridge, Pink, dan Sully.

Lalu 5 film kontemporer lain yang tidak saya tonton di bioskop, namun tidak kalah berkesan: Born to be Blue, Creed, Grandma, Hell or High Water, dan Sing Street.

(All posters, except Your Name and Neerja, are taken from IMP Awards. Neerja poster comes from filmywave. Your Name poster comes from Quora.)