Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)
The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP
First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB
The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest
Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB
Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP
A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP
Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP
Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert
Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance
A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist
Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire
Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety
One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm
Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert
Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety
Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas
The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Advertisements

Sepuluh Serial (Televisi) Yang Paling Membuat Betah Ditonton di Tahun 2016

Tulisan “televisi” di judul memang sengaja saya taruh dalam tanda kurung. Kenapa? Karena batasan televisi saat ini sudah bukan berarti tayangan broadcast yang kita terima di kotak, atau sekarang layar tipis, yang biasanya diletakkan di ruang tamu. Kita menonton serial televisi bisa dari gawai: ponsel, tablet, laptop.

Sebelum tidur biasanya saya menonton sebentar di ponsel, lalu pause, dan aplikasi akan mengingat posisi terakhir tontonan tersebut saat saya mengaksesnya melalui televisi lewat alat bantu streaming box. Kita yang menentukan sendiri apa yang mau kita tonton, dan kapan kita mau menonton.

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Westworld.
Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Westworld.

Lalu perhatikan lagi judul tulisan yang Anda baca sekarang ini.

Sengaja saya gunakan kata “yang paling membuat betah ditonton” untuk ‘sekedar’ mengganti kata-kata ‘top 10’ atau ’10 yang terbaik’. Sebenarnya ini sempat membuat saya kepikiran. Terutama dalam menyusun daftar yang segera Anda baca.

Apa yang membuat saya memilih serial A dibanding serial B? Padahal keduanya sama-sama ditonton. Lalu kenapa serial A posisinya lebih tinggi? Lebih prestisius?

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Masters of Sex
Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Masters of Sex

Tidak gampang memang menyusun daftar seperti ini. Saat mulai menyusunnya pun, saya jadi sadar, bahwa saya menghabiskan banyak waktu untuk menonton tayangan televisi. Terlalu banyak? Bisa jadi. Apakah saya menyesal? Tidak sama sekali.

Dan di saat saya sadar bahwa saya tidak menyesali waktu yang dihabiskan untuk menonton serial-serial inilah, saya tahu bahwa serial-serial ini mempunyai kekuatan storytelling, atau bertutur cerita, yang membuat kita betah untuk mengikutinya.

Mengikuti serial televisi seperti mengundang orang masuk ke ranah pribadi kita. Ke ruang tamu kita. Ke tempat tidur kita. Kita jadi familiar dengan karakter-karakter rekaan tersebut.

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Mom.
Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Mom.

Jadi pada akhirnya, daftar ini hanya memuat sepuluh serial yang membuat saya senang mengikutinya. Setia menunggu setiap minggu untuk melihat kelanjutannya. Setia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton semua episodenya. Dan semuanya diakhiri dengan senang karena telah menghabiskan waktu bersama mereka.

Silakan dibaca, dan ditonton:

10. Black Mirror – Season 3

Black Mirror
Black Mirror

I don’t know how Netflix does it, or what Netflix executives influence the series’ showrunners. Tapi musim penayangan terakhir serial “Black Mirror” tahun ini mempunyai pace yang berbeda dari dua musim sebelumnya. Masih relevan dengan situasi sekarang. Masih sesuai dengan keadaan kita sekarang yang terobsesi dengan dunia digital. Tetapi setiap episode di season 3 ini mempunyai keunikan sendiri. Dan rasanya tidak berlebihan kalau episode ke-4, “San Junipero”, is the finest hour of television this year. Siap-siap selalu bernyanyi “Heaven is a Place on Earth” sesudahnya.

 

9. Timeless – Season 1

Timeless
Timeless

Serial “Timeless” ini seperti antitesis dari kebanyakan serial serius lainnya: it is fun, fun and fun. Memang genre-nya drama. Fokusnya ke petualangan menjelajah waktu. Dan disitulah kenikmatannya: ini jenis serial old school adventure, di mana kita bisa menikmati tanpa berpikir terlalu banyak, sambil tetap mendapatkan trivial knowledge tentang sejarah dunia. Mulai dari petualangan Perang Dunia ke-2, sampai nyaris gagalnya pendaratan manusia pertama di bulan di tahun 1969. Selalu seru ditunggu setiap minggu. (Terlalu memaksakan untuk berima? Begitulah.)

 

8. Gilmore Girls: A Year in the Life

Gilmore Girls: A Year in the Life
Gilmore Girls: A Year in the Life

Enam belas tahun setelah serial “Gilmore Girls” mulai, dan sembilan tahun setelah episode terakhirnya ditayangkan, saya sangat menunggu serial cerdas ini. Karakter-karakter utamanya dibuat sangat percaya diri. Omongan mereka selalu berisi. Dan yang lebih penting, storytelling. Selalu ada cerita dari setiap karakter, terutama empat karakter utama. Menemukan mereka lagi setelah hampir satu dekade seperti menjumpai teman lama, atau saudara jauh. Mind you, saya termasuk yang tidak suka dengan ending mini seri empat episode kali ini. Namun seperti layaknya teman lama atau saudara jauh, nobody’s perfect. Nothing is. Toh itu tidak membuat kita berhenti mencintainya dan mencintai mereka. Once you love Star Hollow and its residents, you will love the city and its people forever.

 

7. Narcos – Season 2

Narcos
Narcos

Lebih brutal, lebih keras, dan lebih engaging. Setelah kita diperkenalkan dengan karakter-karakter utama di season 1 “Narcos”, maka musim penayangan kali ini lebih fokus ke usaha menangkap Pablo Escobar. Banyak adegan action yang justru memperlihatkan betapa seriusnya serial ini digarap, dan diriset dengan baik. Entah kenapa serial ini diperpanjang sampai dua musim penayangan lagi, karena kita tahu pada akhirnya bagaimana cerita ini berakhir. But hey, any surprises are always welcome.

 

6. This is Us – Season 1

This is Us
This is Us

Premis awal serial “This is Us”, yang sengaja dibuat menyesatkan kita, memang menarik. Cerita tentang enam orang yang lahir pada tanggal yang sama. Namun setelah twist cerita dibeberkan di penghujung episode pertama, pertanyaan berikutnya adalah “what’s next?”. Dan kita semakin kaget dengan twist cerita di episode-episode selanjutnya. Anehnya, semuanya dikemas dalam feel-good drama, beberapa memang sengaja dibuat untuk membuat kita merasa terharu. Toh di tengah carut marutnya dunia, serial ini berusaha untuk menjadi positif apa adanya. And yes, every hour of each week spent watching this series is a time well spent.

 

5. Veep – Season 5

Veep
Veep

Mungkin serial ini yang bikin bukan manusia. Entah bagaimana, kok ya bisa serial “Veep” ini bertambah lucu di setiap musim penayangannya. Padahal showrunner atau produser kreatif musim ini berganti orang. Dan ceritanya masih berkutat di hal yang sama. Tapi itu tidak mengurangi kelucuannya sama sekali. Malah jauh lebih gila. Julia Louis-Dreyfus memang layak diganjar Emmy Awards lima tahun berturut-turut. Tak pernah sedikit pun kita bosan melihatnya, atau melihat karakter-karakter lain yang memang kocak. Salah satu komedi terbaik yang pernah ada di televisi.

 

4. Fresh Off the Boat – Season 2 & 3

Fresh Off The Boat
Fresh Off The Boat

Finally. Akhirnya setelah mengikuti selama ini, serial “Fresh Off the Boat” baru masuk ke daftar ini sekarang. Kenapa? Karena cerita keluarga imigran asal Taiwan ini sudah menemukan akarnya, justru di Amerika. Lepas dari segala kecanggungan adaptasi budaya, keluarga Huang sekarang berusaha untuk embrace their home di Orlando. Dan masih tetap lucu. Penampilan Constance Wu tetap menjadi daya tarik utama, meskipun anak-anak yang beranjak remaja sekarang akan mulai mencuri perhatian.

 

3. The Crown

The Crown
The Crown

Serial paling indah tahun ini. Apa ya terjemahan yang paling pas untuk kata majestic? Yang jelas, kata itulah yang paling pas menggambarkan serial “The Crown” ini. Indah, dan humanis. Episode favorit saya adalah saat Ratu Elizabeth II mengakui ke tutornya bahwa dia tidak pernah mendapat formal, dan selalu merasa tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Who knew?

 

2. American Crime Story: The People VS OJ Simpson

American Crime Story: The People vs OJ Simpson
American Crime Story: The People vs OJ Simpson

Meskipun tayang di awal tahun 2016, namun miniseri ini masih menyisakan kesan mendalam. “The People vs OJ Simpson” masih berkutat di teori bahwa there is always so much to tell beneath a story we already know, namun itu masih membuat kita membelalakkan mata. Ternyata banyak cerita yang belum kita tahu dari berita yang sudah kita tahu. Selain itu, rasanya tidak ada miniseri lain tahun ini dengan performa dari setiap aktor yang nyaris sempurna semuanya. The best miniseries of the year, by far.

 

1. Stranger Things

Stranger Things
Stranger Things

Saya tidak pernah menonton keseluruhan serial satu season dalam sekali tonton seharian … sampai serial ini hadir. The child in us jumps out in joy watching it. Mengambil bagian-bagian terbaik dari cerita-cerita Stephen King, film-film buatan Steven Spielberg di awal 1980-an, dan menggabungkannya menjadi satu film panjang seperti “Stranger Things” ini is nothing but genius. Kalau Anda belum menonton, then you know what to do in this holiday month.

10+ Film Paling Berkesan Ditonton di Bioskop Tahun 2015

Film tidak harus ditonton di bioskop. Saya setuju. Apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang ini. Banyak film dengan kualitas baik hadir lewat media streaming video service. Bisa lewat Amazon, Netflix, dan beberapa situs lainnya. Dari dalam negeri pun sudah mulai muncul beberapa situs serupa.

Namun tidak ada, atau belum ada, yang bisa mengalahkan sensasi bioskop. Sebuah ruang besar yang gelap, dengan layar lebar yang membuat kita terpaku akan kedigdayaannya. Selama 2-3 jam pandangan kita terkonsentrasi apa yang kita lihat dan dengar di layar sebesar puluhan meter di depan. Ini belum termasuk proses keluar rumah, mengantri tiket dan makanan kecil, mengajak teman atau pacar, serta semua hal yang menjadi cinemagoing experience lengkap.

Setiap menjelang akhir tahun, saya selalu membuat daftar film-film yang saya tonton di bioskop dengan sensasi menonton yang mengesankan. Bukan, ini bukan daftar film “terbaik”. Ini daftar film-film yang saya tonton tahun ini dengan pengalaman menonton yang masih saya ingat sampai sekarang. Filmnya sendiri mungkin belum tentu dianggap banyak orang sebagai yang “terbaik”. Toh pengalaman menonton film itu pasti personal. Pengalaman satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Ada beberapa film di bawah ini yang saya tonton berdua, bertiga, atau beramai-ramai, lalu di akhir film ada yang menyeletuk “Filmnya nggak bagus menurutku, ah!” Sementara saya cukup tersenyum karena mengambil kesimpulan sebaliknya. You may watch a film together, but how the film speaks to you, that’s always personal.

Biasanya saya menulis daftar ini di blog pribadi saya dalam bahasa Inggris. Untuk pertama kalinya, saya menuliskannya di Linimasa, karena saya cinta kalian semua. Aaawww.

Dan dalam urutan abjad, maka 10+ film yang paling berkesan waktu saya menontonnya di bioskop tahun ini adalah:

a. 99 HOMES
Tanggal menonton: 22 Oktober

99 Homes
99 Homes

Dari menit-menit pertama, saya sudah tercekat. Sutradara film ini, Ramin Bahrani, banyak menggunakan extreme close up untuk memperlihatkan ekspresi muka Andrew Garfield dan Michael Shannon dengan dentuman musik perkusi dari komposer Antony Partos dan Matteo Zingales yang tak kunjung berhenti. Ini film drama, tentang seorang pria yang berjuang mati-matian agar tidak kehilangan rumah tempat tinggalnya. Alhasil, menonton ini di malam hari, di layar lebar membuat saya ikut merasa tegang. Ikut merasakan penderitaan karakter fiktif yang terkesan nyata. Diam-diam saya bertepuk tangan seusai pemutaran fllm ini.

b. BAJRANGI BHAIJAAN / THE GOOD DINOSAUR
Tanggal menonton: 28 Juli / 12 Desember

Satu film drama Bollywood, satu film animasi dari Pixar. Keduanya terpaut beberapa bulan tanggal penayangannya. Namun keduanya memiliki kesamaan: menguras air mata.
Saya jarang menangis saat menonton di bioskop. Tetapi untuk kedua film ini, saya bisa mendengar isak tangis sendiri. Ya, saya sadar sekali ketika menonton keduanya, saya sedang dimanipulasi. Yang memanipulasi saya adalah cerita, musik, akting, dan semua yang membuat make-belief experience ini sangat berhasil. Resepnya sama, yaitu put an ordinary character in an extraordinary situation, especially journey, to unravel his or her true self. Di Bajrangi, karakter utama melibas nilai agama untuk menyelamatkan anak kecil. Di Good Dinosaur, karakter utama melibas ketakutan sendiri untuk menjadi dewasa. Jadilah the tearjerking moments of the year.

c. INSIDE OUT
Tanggal menonton: 22 Agustus

Banyak orang menangis nonton Inside Out ini. Tetapi saya tidak. Justru saya tercengang. Bagaimana mungkin menggambarkan perasaan dan emosi manusia dengan jelas? Sepanjang film saya bengong melongo. Film ini membuktikan sebuah pendapat yang sulit, yaitu suatu teori rumit akan berhasil apabila bisa diterangkan dengan bahasa mudah ke anak umur 6 tahun. Dan film ini sukses melakukannya, in an almost effortless manner.

d. LELAKI HARAPAN DUNIA
Tanggal menonton: 28 November

Lelaki Harapan Dunia
Lelaki Harapan Dunia

Tidak banyak film Malaysia yang saya tonton. Kalaupun sempat, biasanya film arthouse atau independen. Ketika tahu bahwa film ini diputar secara terbatas bulan lalu, saya bergegas menyempatkan. Dan sepanjang film saya tergelak terus. Cerita film mungkin akan sedikit mengingatkan kita pada bands of merry men with weird personalities seperti di film-film Wes Anderson atau Coen Brothers, namun dengan setting di sebuah desa terpencil di Malaysia, malah mengingatkan kita akan film-film Indonesia tahun 1970-an. Isu yang ditawarkan, seperti takhayul, konflik agama, dan lain-lain, terasa sangat dekat dengan kita. Salah satu film yang menyenangkan untuk ditonton ulang.

e. MAD MAX FURY ROAD
Tanggal menonton: 14 Mei

Tanggal di atas adalah tanggal pertama kali saya menonton film ini di bioskop. Setelah itu saya menyempatkan menonton lagi, dan lagi. Sensasi setiap menonton film ini setelah beberapa kali masih sama, “Whoa! What was that I just saw?” Tak cukup kata sifat yang bisa dengan pas menggambarkan keindahan film ini. It is the most exhilarating sensory visual experience in cinema this year.

f. PIKU
Tanggal menonton: 12 Mei

Piku
Piku

Tidak banyak film yang akan bertahan dalam ingatan kita. Dari yang sedikit itu, film Piku masih membekas di ingatan saya sampai sekarang. Saya masih tersenyum saat mengingat film ini. Cerita seorang anak perempuan yang sendirian merawat ayahnya yang unik, sementara sang anak juga pekerja kantoran, terasa nyata. Bahkan sampai ketika cerita harus bergulir menjadi cerita perjalanan dari Delhi ke Calcutta, drama yang tersaji masih terasa grounded on earth. Tidak dibuat-buat. Hampir setengah jam pertama film hanya memperlihatkan rumah dua karakter utama ini. Namun mata kita tidak dibuat bosan melihatnya. Saat saya menceritakan ini kepada seorang produser film, dia berkata, “Berarti sutradara film ini hebat. Dia tahu bagaimana menempatkan kamera dengan baik. Dia tidak sibuk dengan tata kamera yang berlebihan. Dia tahu kekuatan cerita ada di mana, dan bisa melihat tanpa harus mengintrusi.”
Banyak cerita yang bisa diambil dari film ini. Momen-momen kecil yang tersebar dari ujung sampai akhir film akan membuat kita tersenyum. Kalau boleh saya memilih satu saja film favorit sepanjang tahun 2015, mungkin film inilah yang menjadi pilihan saya.

g. SPY
Tanggal menonton: 16 Mei

Film tentang mata-mata yang paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini justru film parodi dari genre tersebut. Melissa McCarthy is all game di film yang mengeksploitasi tidak hanya fisik, namun comic timing yang sempurna. Meskipun begitu, kejutan justru datang dari Jason Statham. Siapa sangka action star ini bisa melucu dengan tanpa beban? Saya tertawa terbahak-bahak menonton film ini, sampai harus meluangkan waktu untuk nonton lagi. The funniest film of the year by far.

h. STAR WARS: THE FORCE AWAKENS
Tanggal menonton: 19 Desember

Tentu saja tidak lengkap daftar ini tanpa mengikutsertakan film yang paling ditunggu-tunggu di paruh kedua dekade ini. Saya tidak perlu menerangkan lebih lanjut lagi. The hype is justified. The wait is over. The film is worth all praises. Mata saya terbelalak dan bibir langsung tersenyum begitu mendengar alunan musik John Williams menggelegar saat tulisan khas Star Wars terlihat naik dari bawah ke atas di layar lebar. Momen-momen seperti kembalinya Han Solo dan Chewbacca, helm yang dikenakan Rey pertama kali di padang pasir, sampai munculnya R2D2 kembali, membangkitkan sensasi nostalgia buat para penonton film-film Star Wars. Maybe the nostalgic feeling clouded our perception towards the film, but then, that’s part of the experience.

i. THE WALK
Tanggal menonton: 8 Oktober

The Walk
The Walk

Saya takut ketinggian. Saat menonton trailer film ini, langsung terbayang rasa mual. Waktu itu sempat berjanji, “Nggak akan nonton film ini di IMAX. Pasti muntah!” Tentu saja saya melanggar janji sendiri. Menyaksikan film ini di IMAX, tepat di tengah-tengah, membuat lutut saya bergetar keras selama 40 menit terakhir. Saat Joseph Gordon-Levitt mulai meniti tali yang menghubungkan kedua menara World Trade Centre, jantung ini terasa lemas sekali. Saya cuma bisa menghempaskan badan ke kursi. Kepala menunduk, sambil mata masih pelan-pelan mencuri pandang apa yang ada di layar. Bukan film horror, tapi ini film yang membuat seluruh badan lemah tak berdaya. Ditambah dengan ending film yang mengharukan, saat kita menyadari makna kata “forever”, lengkaplah The Walk menjadi salah satu film yang paling mendebarkan sepanjang tahun 2015.

j. WHIPLASH
Tanggal menonton: 14 Februari

Beruntunglah mereka yang menunggu film ini sampai hadir di bioskop. Dentuman drum dan band ensemble yang mengusung musik jazz sayang kalau hanya didengar di laptop atau layar televisi. Tentu saja akting JK Simmons juga terlihat lebih menacing di layar lebar, tetapi tata suara, editing dan musik film inilah yang membuat Whiplash menjadi the most musical experience in film of the year.

Inilah 10+ film dengan pengalaman yang berkesan waktu ditonton di bioskop sepanjang tahun 2015. Daftar ini, tentu saja, tidak mewakili daftar serupa yang mungkin saja dibuat oleh teman-teman penulis Linimasa lain. Jadi, kalau mau tahu apa film-film pilihan dari teman-teman penulis Linimasa lainnya, silakan tanya sendiri ya.

😉