Nyaman Untuk Dilihat

Sekitar dua bulan lalu, saya duduk bersama beberapa orang yang menjadi juri di festival film yang kami selenggarakan. Salah satu juri tersebut penulis linimasa juga, yaitu Lei.
Bersama beberapa orang lainnya, kami ngobrol-ngobrol santai sembari makan siang seusai tugas penjurian selesai. Dari sekian banyak obrolan ngalor-ngidul, kami sepakat untuk membuka “rahasia” masing-masing.

“Rahasia” ini adalah film favorit kami, atau film yang paling sering ditonton berulang kali.
Kenapa “rahasia”? Karena kalau berbicara film yang paling sering ditonton di rumah, tentu saja jawabannya bukan film-film yang mengernyitkan kening yang dilihat. Justru film-film yang terkesan ‘remeh temeh’ yang mencuat di pembicaraan.

Saya memulai, “Sudah beberapa kali lho, kalau pulang ke rumah capek, bingung nonton apa, gue langsung aja tuh nonton lagi Bridget Jones’s Diary, sampai hafal lho dialog-dialognya!”
Yang lain menimpali, “Sambil nyanyi “All By Myself” depan TV?”

Bridget Jones's Diary (Courtesy of marieclaire.co.uk)
Bridget Jones’s Diary (Courtesy of marieclaire.co.uk)

Kami tertawa. Lalu kami sepakat bahwa film-film macam Notting Hill, Love Actually, When Harry Met Sally …, Sleepless in Seattle dan sejenisnya adalah semacam comfort film yang menyenangkan untuk ditonton berulang kali. Ini berlaku juga untuk film petualangan atau aksi macam Back to the Future atau Die Hard. Beda genre, tapi sense of familiarity masih sama.
Sama seperti makanan yang termasuk comfort food, maka rasa comfort film sudah kita ketahui dari awal sebelum kita mengkonsumsi. Berhubung kita tidak ingin berpikir dan spekulasi terlalu banyak terhadap sesuatu yang baru, maka kita pun acap kali mengkonsumsi comforting stuff ini.

Lalu ke mana film-film yang banyak disebut sebagai fllm-film terbaik sepanjang masa, seperti Citizen Kane, The Godfather Trilogy, The Seventh Seal atau Rashomon?
Tentu saja mereka masih ditonton dan diapresiasi. Bentuk apresiasinya secara khusus, tidak dengan memakai kaos oblong dan celana pendek di depan sofa sambil memeluk bantal di depan televisi. Atau bisa juga melakukan hal itu, namun perlu konsentrasi dan atensi yang lebih tinggi dibanding menonton film-film ringan lainnnya. Konsentrasi dan perhatian yang lebih tinggi ini memerlukan energi yang lebih banyak tentunya, sehingga sikap kita terhadap film-film ini tidak bisa se’santai’ saat menonton film-film ringan lainnya. Sikap kita yang lebih serius, perhatian kita yang lebih tinggi, mau tidak mau membuat kita harus menyiapkan waktu tersendiri untuk menonton film yang membutuhkan atensi lebih tinggi. Kalau tidak, bisa tidur di tengah-tengah.

Notting Hill (courtesy of ovationtv.com)
Notting Hill (courtesy of ovationtv.com)

Apakah kualitas film-film ringan tersebut lebih rendah dari film-film serius lainnya? Bisa panjang kalau diuraikan di sini. Secara singkat saja, saya akan menjawab kalau film-film ringan itu punya kualitas yang setara atau lebih tinggi dari film-film serius lainnya.
Kalau saya tidak salah kutip, aktor Charles Laughton pernah berkata,

“dying is easy. Comedy is hard.”

Ini sebuah mantra yang masih berlaku sampai saat ini. Membuat adegan sedih itu gampang. Tinggal teteskan air ke mata aktor, jadilah adegan sedih. Adegan lucu? Sometimes jokes do not translate easily. Oleh karena itu, penulisan komedi, atau komedi romantis, membutuhkan keahlian tersendiri. It takes a village to tell a joke.
Dan terbukti bahwa film-film ringan yang menjadi comfort film bisa ditonton kapan saja. Comfort films stand the test of time.

Love Actually (Courtesy of littlestuffedbull.com)
Love Actually (Courtesy of littlestuffedbull.com)

Apapun yang teruji ketangguhannya oleh waktu, anything that is timeless, they’re work of art.

Inilah 10 comfort film versi saya, secara acak:
• Bridget Jones’s Diary
• When Harry Met Sally …
• Sleepless in Seattle
• Working Girl
Same Time, Next Year
• Back to the Future
• Notting Hill
• Love, Actually
Roman Holiday
• ….. (isi sendiri. This is yours.)

Advertisements

My Best Friend’s Wedding

Judul tulisan ini memang mirip dengan film komedi romantis yang dibintangi Julia Roberts dan Cameron Diaz di tahun 1997. Judul yang generik sebenarnya, karena kalimat itu bisa saja mengacu pada keadaan yang sebenarnya, yaitu pernikahan sahabat kita. Dan memang hal itulah yang berkecamuk di pikiran saya dalam beberapa hari ini, yang sempat membuyarkan segala konsentrasi dalam pekerjaan, maupun keharusan menulis di linimasa ini.

Teman saya, Agee, akan menikah besok.
Tidak ada kata “akhirnya” di kalimat itu, meskipun keputusan menikah dicapai setelah mereka pacaran selama 9,5 tahun.
Sembilan setengah tahun. Angka yang saya ucapkan berulang-ulang dalam hati with a great disbelief. Apalagi karena saya harus membuat pidato singkat kepada mereka di acara sakral tersebut.

Mungkin berita ini terkesan sepele. Pernikahan, batal menikah, perceraian, batal bercerai, semuanya menjadi santapan kita sehari-hari. Saya pun sebenarnya ingin memilih sikap tak acuh seperti itu, kalau saja tidak ingat bahwa selama hampir satu dekade itu, saya selalu berada di sisi calon mempelai perempuan ini dengan segala “drama” yang ada.

Misalnya, melihat dia menangis nonton Star Wars Episode III di bioskop, sementara penonton lain tegang melihat Ewan McGregor dan Hayden Christensen adu pedang, karena dia beradu mulut dengan pacarnya sebelum film mulai di lobi bioskop.
Terisak-isak di tengah Shrek 3 karena terima SMS “it’s over!”, tapi jauh sebelum sekuel film itu dibuat, eh sudah jadian lagi.

Sempat saya bilang, “Kalau saja kamu dan pacarmu adalah film, ini mungkin lebih buruk dari film A Lot Like Love itu.”
Dia hanya terkekeh, dan bilang, “It’s different, babe. My life, this real life, is very much boring. I stick to one man for the past decade, because I want to spend my life with him. That’s all I know. I don’t quit. I make it work.

Mungkin dalam konteks film komedi romantis, karakter ini bisa kita temui di karakter Jules dalam My Best Friend’s Wedding, atau seperti peran Jennifer Aniston dalam The Object of My Affection (dan sebenarnya, hampir semua peran Jennifer Aniston di film-film lainnya).
Bedanya, karakter di film, apalagi rom-com, hanya mengalami temporary blindness alias “keblaen” dengan karakter lain hanya selama 2 jam, tapi dalam kehidupan nyata, perseverance and persistence can last a lifetime.

Dan dua sifat itulah yang akhirnya membedakan apa yang kita lihat di layar, dan apa yang kita jalani sehari-hari.
Sementara saya menjadi penonton pasif setia film-film di atas yang dengan niat mengumpulkan alamat tautan, kutipan dialog dan lagu soundtrack satu per satu untuk tulisan ini dan playlist di iPod, Agee dan orang-orang lain memilih menjadi sutradara untuk kehidupan mereka. Paling tidak, menulis skenario yang menjadi panduan sampai ke ending.

Cerita real life ini akan jauh berbeda dari reel life yang kita lihat di layar besar atau kecil.
Tidak ada musik latar yang mengiringi mereka ciuman sambil terburu-buru menghabiskan sarapan di pagi hari. Tidak ada editor yang tiba-tiba memotong adegan pertengkaran di malam hari. Tidak ada penata rias yang membuat orang tetap terlihat cantik dan ganteng tanpa bekas iler saat bangun tidur.

Tetapi bagi Agee, dan siapapun yang akan bersumpah untuk saling setia sehidup semati di hari ini, akhir pekan ini dan waktu-waktu yang akan datang, who cares?

After all, a lifetime begins when two people say “I do”.

A template for romantic comedy poster.
A template for romantic comedy poster.

“Ini Bukan Ngomongin TV yang Sembiring Lho …”

… tapi tulisan ini ngomongin TV yang merupakan singkatan dari “televisi”.
Gak punya TV? Tapi punya komputer atau laptop ‘kan?

Soalnya jaman sekarang, kita yang bisa baca blog ini gak perlu TV beneran buat nonton acara TV. Kehadiran layar TV bisa diganti dengan laptop.
Yang penting adalah ada koneksi internet untuk mengunggah atau download serial TV, dan harddisk untuk menyimpan file hasil download serial TV itu.

Gak percaya?

Gak perlu jauh-jauh kalo masih in denial.
Buka Twitter atau Path atau socmed yang Anda buka setiap 2 jam sekali.
Pasti komentar-komentar seperti ini sering kita jumpai:

“Perhatian! “Game of Thrones” episode 2 season 4 sudah tersedia di lapak terdekat.” (Lapak artinya situs buat download torrent episode yang dimaksud. Apa itu torrent? Tanya ke yang bikin status itu aja.)

“Payah nih. “Suits” kok cepet banget sih abisnya season ini? Gak ada tujuan hidup lagi sekarang.” (Gak usah keburu bersimpati. Udah move on kok 6 jam kemudian karena dapet serial lain.)

“Aduh, mas Harry! Mas Harry! Bikin menggelepar ini. Pengen lari-lari ke pantai ama mas Harry!” (Sempet kepikir, perempuan-perempuan ini kok ya segitu ngefans ama Harry tetangga saya. Kenal juga enggak. Ternyata ini nama karakter di serial “Mistresses” yang hobinya gak pake baju.)

Berbagai celetukan di atas ini semakin memperkuat banyak pendapat analis, kritikus sampai pelaku bisnis TV di luar Indonesia tentang masa keemasan program televisi yang kita alami saat ini.
Rata-rata memuji tentang kekayaan cerita dan karakter di serial-serial TV yang njelimet, gak plek-plek baik terus, bisa berbuat jahat untuk kebaikan (anti-hero complex), dan yang jelas, bikin kita betah dan penasaran untuk mengikuti setiap episode.
Malah ada tulisan James Wolcott dua tahun lalu di Vanity Fair yang terang-terangan bilang kalo “TV is Better Than Movies”.

Oh, really?

Mari kita kesampingkan sejenak perdebatan tak kunjung habis itu.

Mari kita ketemu Wawa, teman nonton di bioskop dulu, jaman masih agak mudaan.

Setiap kali ketemu yang cuma setahun sekali, kita sering ngobrol ngalor-ngidul, dan salah satunya saling update tentang film terakhir yang ditonton.
Kebetulan karena tempat tinggal saya dekat dengan bioskop. Tinggal jalan kaki 10 menit, maka saya masih bisa menyempatkan diri untuk nonton film-film terbaru.

“Kalo elo, Wa?”

“Udah gak inget, Val. Udah lama banget.”

“Oh, gitu. Kalo TV series, Wa?”

Tiba-tiba mukanya cerah ceria, sumringah luar biasa.

“Iya, Val! Gue ngikutin “Breaking Bad” kemarin. Wah, edan! Seru banget. Trus “24” yang baru juga seru. Kadang nemenin Nisa (istrinya) nonton drama-drama kayak “Downton Abbey” gitu, eh malah gue ketagihan juga nontonnya. Hahaha.”

“Hah? Busyet. Elo jadi suka nonton serial gitu, Wa?”

“Soalnya anak gue ‘kan masih kecil. Di rumah gak ada pembantu, jadi abis kerja ya langsung pulang ke rumah bantuin istri. Makin males pergi-pergi ke luar. Apalagi kalo hujan, macet. Dan mahal.”

Deg.
Kalau sudah menyangkut masalah uang dan waktu, pemikirannya jadi lain nih.
Lalu saya iseng berhitung a la kadarnya.
Lokasi bioskop kebanyakan ada di dalam mal atau pusat perbelanjaan. Masuk ke mal, perlu parkir. Perlu waktu untuk cari spot dan keluar dari parkiran pas pulang lalu perlu uang untuk bayar parkir.
Mumpung di mal, sekalian belanja yang perlu dibeli, kalau emang perlu dan belum ngomongin belanjaan lain hasil kalap mata, atau sekedar hangout.
Harga tiket film di bioskop 50 ribu buat satu orang. Satu keluarga 200 ribu. Parkir bisa 20 ribu, belanja dan lain-lain bisa 1 juta.
Waktu nonton satu film 2-3 jam, ditambah cari parkir dan keluar dari tempat parkir 30 menit, lalu waktu untuk belanja ditambah 2-3 jam lagi. Itu belum kalo kena macet.

Sementara televisi?
Anda mau mandi atau gak mandi, bebas.
Tinggal pake kaos longgar, celana pendek, cemilan satu keranjang, colokin external harddisk ke TV, beres. Kapan aja mau marathon serial, bebas.
Dan bisa nyalain smartphone secara bebas, buat update reaksi per episode, atau sekedar pamer.
“Aduh, besok pagi-pagi meeting, tapi gimana ini, tanggung banget “House of Cards” gak bisa berhenti!”
Lumayan, dapet icon ketawa dan lope-lope dari temen-temen di Path.

Tapi lebih dari sekedar update status di jaringan media sosial, ketergantungan kita dengan smartphone dilirik dengan cantik oleh Hollywood. Lihat saja akun twitter @ScandalABC atau @AskScandal.
Setiap episode serial “Scandal” ini ditayangkan pertama kali di Amerika Serikat, maka seluruh aktor dan aktris yang terlibat di episode itu akan berinteraksi langsung dengan pengguna Twitter.
Apa yang dibahas? Setiap dialog di setiap adegan. Kedua akun itu pun menyebutkan merek baju dan aksesoris yang dipakai. Spoiler pun dibahas terang-terangan.
Gak mau dengerin spoiler? Mereka pun kasih peringatan. “Stay off Twitter now!”
Tapi ya namanya juga manusia, makin dilarang, makin penasaran. Tetep aja serial ini jadi salah satu serial paling banyak ditonton dan direkam di Amerika Serikat tahun lalu.

Sementara itu, di perhelatan Emmy Awards minggu lalu, saya tergelitik dengan monolog pembawa acaranya, Seth Meyers. Ini katanya:

“That’s what I love about television. She doesn’t play hard to get. She doesn’t demand your full attention. Television has always been the booty-call friend of entertainment. You don’t have to ask TV ‘you up?’ TV is always up. She’ll happily entertain you while you cook dinner or wrap your Christmas presents. She’s not like that high-maintenance diva movies who expects you to put on pants and drive all the way over to her house and buy $40 worth of soda. So thanks anyways, movies, but I’m sticking with TV.”

 

Dear Seth, can we stick to both?

Because we actually can.