Semata

Hai.”

Hai.”

POV – 1

Of all the coffee shops in town, why here?
Wait.
Of all the towns and cities in the country and the world, why here?

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Awkward silence. Something we, no, I used to avoid. It always signals something wrong. But it was then. This is now. Quick, brain! Think of something!

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

That brief pause when you don’t know what to address me? Really? I thought we’re past this.

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Somehow I have a feeling I will regret asking that question.

“Enggak, sih. Erm, berdua. Dia juga Lebaran di sini.”

There you go.

“Oh, oke.”

Wait, what? Why am I just okay? Where’s the flaming rage? Where’s the emotional outburst? I’m supposed to break all the tables in this cafe into pieces, but why do I remain calm? What is happening? Who takes over my body?

“Jadi ya nyusul. Mumpung masih ada liburan.”

Alright, say no more, maybe?

Enjoy the holiday kalo gitu.”

Thanks.”

“Kayaknya gue duluan ya.”

“Buru-buru banget.”

Wait, what is that supposed to mean?

“Ini juga duduk cuma buat nungguin makanan dibungkus, sekalian beli beans buat persediaan di rumah.”

“Oh, oke.”

“Duluan ya. Salam buat …”

Dang! The name! The name! What’s the name? Stupid brain, what’s the name?

“Hehehe, oke, nanti disalamin.”

Major crisis averted! Phew!

“Hehehe. Sorry. Oke, thanks ya. Duluan. Bye! Nice to see you again.”

Why am I being miss, I mean, mister congeniality here?

Bye. Nice to see you juga.”

I feel nothing. At last.

POV – 2

Uh oh. This is what I dreaded the most. This is what I’m so very afraid of.
Now it’s happening.
S**t.

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Okay. This is awkward. The other party stays silent. What should I do?

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

Finally.

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

No, no. Don’t start asking these questions.

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

You have anticipated and prepared this kind of questions, dear self. Time to open the file. Come on, say the lies, I mean, the prepared answers.

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

Nice. Very smooth. Good start.

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Yeah, you’re not a good liar. You don’t prepare this far. You dumb self!

“Enggak, sih. Erm, berdua. Dia juga Lebaran di sini.”

“Oh, oke.”

Wait, what? Did I hear that right? “Oh, okay”? “Oh, okay”? Seriously? How can you be this cordial and fine? You’re supposed to break all the tables in this cafe into pieces, but why do you remain calm? What is happening? Who are you, really? Are you over me already?

“Jadi ya nyusul. Mumpung masih ada liburan.”

See how your calm response making me saying stupid things like that.

Enjoy the holiday kalo gitu.”

Thanks.”

“Kayaknya gue duluan ya.”

“Buru-buru banget.”

No, no, no. I did not just blurt that out. No, no, no. Where did that come from?

“Ini juga duduk cuma buat nungguin makanan dibungkus, sekalian beli beans buat persediaan di rumah.”

Thank you for your smile that saved the awkwardness. Thank you. I’m sorry I can’t say it out loud.

“Oh, oke.”

“Duluan ya. Salam buat …”

Uh oh. Now you’re being awkward. Ha! Gotcha!

“Hehehe, oke, nanti disalamin.”

“Hehehe. Sorry. Oke, thanks ya. Duluan. Bye! Nice to see you again.”

Bye. Nice to see you juga.”

I will remember this. Of all the places in the world, I’m glad to see you here.

Advertisements

Dimulai Dari Berani

(Hari ini, saya absen bercerita dulu. Tulisan di bawah ini adalah cerita dan pengalaman dari teman-teman saya, dan orang-orang lain yang saya kenal. Kali ini, saya hanya menjadi tukang ketik yang menuliskan dan mengunggah cerita ke halaman ini. Selamat membaca.)

GD – pegawai di insitusi pemerintah

“Gue lupa harinya. Kalo nggak salah, Jumat malem. Waktu itu abis nonton konser, tapi lupa konser apa. Kelar konser, mampir ke tempat itu. Nggak buat ngopi, tapi nongkrong aja. Trus pas baru masuk, ternyata ada temennya temen gue. Mereka ngobrol. Selesai ngobrol, terus gue tanya, “Eh itu siapa?” Lalu, dengan mata berbinar-binar, temen gue bukannya jawab pertanyaan, tapi malah bilang, “Ya ampun, kok gue nggak ngeh ya. Dia kan tipe elo banget!” Ngomongnya kenceng banget. Untung duduknya udah jauhan. Hahaha. Malu gue. Terus dikasih nomernya. Gue SMS dia besoknya. Waktu itu masih jaman SMS. Terus weekend itu isinya telponan dan SMS-an. Abis itu janjian ketemu minggu depannya. And you know lah what’s next.”

IMG_1140 1

DH – pemilik perusahaan jasa reklame

Believe it or not, pertama kali kenalan itu lewat blog. Jadul ya? Hahaha. Gue suka ninggalin komen di blognya dia, dan dia kadang-kadang juga ninggalin komen di blog dia. Tiap pagi, begitu nyampe meja kantor, pasti blog-walking. Dari situ jadi kenal ama temen-temen sesama blogger. Salah satunya dia. Tapi entah kenapa, gak pernah ketemu dia kalo lagi kopdar (kopi darat) atau ketemuan ama blogger-blogger lain. Sampai suatu saat, dia ngajak ketemuan, sore-sore pulang kerja. Akhirnya janjian ketemu, sekalian ngopi. Abis say “hi” gitu, ya ngobrol aja. Gak awkward. Tau-tau ngobrol lama, berjam-jam sampe malem.”

IMG_4290

MR – pekerja iklan

“Waktu itu jamannya gue lagi hectic ama tesis. Elo tau kan? (catatan penulis: Iya, tahu.) Daripada kena macet pulang kantor, kadang-kadang gue emang ke tempat itu buat ngerjain tesis. Sekalian ngopi lah. Terus, gue masih inget banget, hari itu, gue lagi buru-buru cabut dari kantor. Pas nyampe, gue buka laptop, baterenya udah mau mati, dan charger laptop ketinggalan! Panik dong gue. Sementara gue harus ngetik berjuta-juta halaman. Saking kepepetnya … Hahaha … Gue suka malu kalo nyeritain ini. Saking kepepetnya, gue pinjem charger dong ama orang di meja sebelah. Untung laptopnya sama, dia pake Macbook juga. Gue nekat banget. Gue bilang kalo gue perlu nge-charge batere laptop, sambil kerja. Thank God dia mau minjemin, lho! Gue udah bilang kalo gantian aja make charger-nya. Kalo batere gue udah 50%, gue balikin. Dia ngangguk aja. Eh terus gue kebablasan aja dong. Sampe baterenya udah ijo, gue masih pake charger pinjeman. Gue sibuk ngetik, sampe lupa. Asli, bener-bener lupa. Dan ternyata dia nungguin! Dia udah nutup laptopnya, dan baca majalah-majalah yang ada di situ. Asli, gue malu banget. Gue nyadar pas dia tiba-tiba bilang, “Permisi, maaf, charger-nya masih dipake? Saya mau pulang soalnya. Kalo masih dipake, dibawa aja dulu.” Gue gelagepan! Buru-buru gue copot dari laptop, trus balikin ke dia sambil minta maaf dan say thanks. Sumpah, aneh banget kalo diinget-inget. Tapi ya dari situ … Well, you know.

IMG_4611

SU – pemimpin redaksi

“Waktu itu, gue masih kerja di gedung deket apartemen yang lama. Inget kan? (catatan penulis: Iya, inget.) Pas lagi mau makan siang, gue turun ke tempat parkir. Di dalem lift, masuklah orang ini. Pake baju ungu, sepatu item. Gue inget banget detil baju dan sepatunya. Dia menuju ke lantai yang sama ama gue. Tapi anehnya, gue mengarah ke kiri ke parkiran mobil, dia mengarah ke sisi sebelah kanan. Penasaran, gue ikuti. Ternyata ada musholla di sana. Gue nggak tahu kalau ada musholla di situ. Akhirnya, sejak hari itu, gue make sure bisa cabut makan siang di jam yang sama, karena dia pasti sholat Dhuhur di musholla. Dan bener. Hampir tiap hari, kecuali hari Jumat, dia ada di sana. Alesan gue buat ngeliatin dia? Pura-pura aja beli kopi di tempat yang sejalan ama musholla itu. Hahaha.”

IMG_5529

BK – wiraswasta

“Kami belum tinggal satu kota waktu itu. Lalu suatu saat, dia bilang, kalo dia mau ke tempat gue. Ada kerjaan, katanya. Sekalian juga kami ketemu. Itu pertama kalinya kami akan bener-bener ketemu satu sama lain. Sebelumnya kami cuma ngobrol lewat telepon, webcam, dan email. Standar online dating. Hahaha. Kami janjian di tempat kopi yang biasa gue datengin. Dia setuju. Gue deg-degan. Sepanjang di bis gue udah gelisah. Begitu turun, gue nelpon dia. Terus, entah dari mana, gue nekat bilang ke dia, “I’m coming to your seat now. But don’t hang up. Pretend this is the scene from My Best Friend’s Wedding. Remember the film? The last scene where Rupert Everett walks to Julia Roberts in the wedding party? So let’s do that scene now. Alright, I see you now.” Beneran. Asli. Gue gak pernah seberani itu sebelumnya. Gak tau kenapa tiba-tiba bisa senekat itu. Terus gue tutup telpon, dan gue bilang, “Hai”.”

(Coba baca lagi cerita-cerita di atas sambil mendengarkan lagu ini.)

Hai

(28 Mei 2015)

Sudah lima menit saya berdiri di kedai kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya, ada Kindle hadiah ulang tahun kemarin dalam genggaman. Saya meneruskan lagi membaca buku To Kill a Mockingbird, sebelum sekuelnya diriilis bulan Juli nanti.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca argumentasi Atticus Finch di buku ini. Saya menghela nafas. Antrian masih belum bergerak banyak.
Saya mendongakkan kepala.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Punggung itu terbalut dalam atasan biru tua sementara bawahannya warna abu-abu. Paduan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Saya ragu, apa benar ini … dia?
Semakin ragu-ragu, ketika saya berusaha keras mengingat raut mukanya dulu. Dan ini aneh. Saya tidak bisa mengingat sama sekali. Kok bisa sih?
Saya coba ingat-ingat lagi acara ulang tahun saya beberapa tahun yang lampau. Waktu itu, pernah trip ke Taipei. Tapi itu sendiri. Sebelumnya pernah dibuatkan surprise party di Surabaya. Nah, yang bikin surprise party itu siapa? Mustinya dia sih. Tapi kenapa kok gak inget sama sekali ya?
Saya menundukkan kepala sebentar, agar kepala ini bisa mengarahkan pikiran untuk mendengarkan suaranya.
Latte, to go, extra shot, non-fat milk.
Saya mengangkat kepala sambil tersenyum.
Tidak salah lagi.
Terkesiap, saya kaget karena sadar saya bisa tersenyum saat ini.
Lebih kaget lagi, karena sekarang dia melihat saya tersenyum sambil berdiri memegang kopinya.
Lalu dia berkata, sambil tersenyum balik, “Hai.”
Saya jawab dengan senyuman lebar, sambil tersenyum, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)

(28 Mei 2012)

Sudah lima menit saya berdiri di kedai kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya, Blackberry saya sudah dalam keadaan fully charged. Saya membuka beberapa pesan yang tidak sempat terbaca waktu naik ojek tadi. Saya benci kalau sampai harus mati gaya ketika terjebak dalam antrian panjang dan, terus terang, tidak penting seperti ini.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca messages teman-teman, apalagi yang ramai berceloteh di groups. Astaga, orang-orang ini. Do they have a life?
Saya menghela nafas.
Antrian masih belum bergerak banyak.
Saya mendongakkan kepala.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, …
Ah, kenapa harus bertemu dia sekarang sih? Mana lagi acak-acakan begini pakaian saya.
Dan mengapa dia harus memakai atasan putih seperti itu sih?!
Wait a minute.
That looks familiar.
My goodness.

Itu kan baju pemberian saya dulu!
Kenapa dia tidak mengembalikan atasan putih itu? I mean, since I’ve returned every-single-thing that had been given to me … Good God. Some people have no bloody manner, indeed!
Tidak salah lagi. Ini pasti dia.
Saya menundukkan kepala sebentar, agar kepala ini bisa mengarahkan pikiran untuk mendengarkan suaranya. Lagi pula, terlalu pusing kepala ini memikirkan banyak hal.
Americano, mas. Take away.
Saya terperangah. Pandangan saya menerawang.
Ya Tuhan. Of all the times in the world, why now? Why bloody now?
Dan sekarang, dalam ketidaksiapan, tak sengaja mata kami bertemu.
Saya tidak tahu, harus tersenyum, atau harus berkata apa.
Buru-buru saya memalingkan muka.
Dia masih terpaku sesaat.
Tapi tak lama kemudian, dia pun memalingkan muka, meski terlihat aneh saat dia melakukannya.
Toh saya merasa lega, bahwa dia tidak mendengar saya berucap dalam bisikan lirih, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)

(28 Mei 2010)

Sudah lima menit saya berdiri di kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya sudah ada koran The Jakarta Post hari ini di sebelah tempat antrian. Tumben. Biasanya koran ini baru akan ada siang nanti.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca berita yang tersaji. Bahkan membaca tulisan sendiri di halaman 28 pun, yang keluar di depan mata hanya rangkaian benda-benda tak berbentuk.
Atau mungkin bukan sentuhan kopi yang saya cari? Mungkin bukan.
Dan membayangkan teori itu sendiri pun sudah membuat saya senyum sendiri. Tapi buru-buru saya mengeluarkan suara batuk kecil, supaya tidak dicurigai sebagai orang gila oleh orang-orang di dekat saya sekarang.
Lalu saya mengangkat kepala, melihat sekeliling kedai ini.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang belum pernah saya lihat sebelumnya, tapi intuisi mengatakan bahwa punggung ini adalah milik seseorang yang selama ini hanya saya lihat di foto yang dikirim lewat email.
Dia berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Apa benar ini dia?
Kaos kuning, celana jins biru tua. Persis seperti foto profile akun Twitternya. Dan bukankah ini juga persis seperti foto yang dia kirim semalam?
Hang on.
Saya keluarkan ponsel Nokia, lalu buru-buru saya ketik:
“Hey, sudah sampai? Kalo sudah, boleh minta tolong pesenin dulu, if you don’t mind? Cappuccino satu, minta susunya yang non-fat ya. Hehe. Thanks!”
Sent.
Kurang dari semenit kemudian, dia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Pemakai Nokia juga ternyata. Entah apa yang dia baca, tapi dia tersenyum.
Lantas dia memasukkan lagi ponsel itu.
Saya diam melihatnya.
Lalu saya teruskan membaca koran yang masih saya pegang. Saya menghela nafas.
Samar-samar terdengar suara, “Mas, cappuccino dua, satu pake susu non-fat, satunya lagi yang biasa. For here.”
Saya tidak bisa lagi menahan senyuman saya.
Buru-buru saya keluar dari antrian. Sekarang saya berdiri di belakangnya. Saya tepuk punggungnya di sebelah kanan pelan-pelan. Dia menoleh.
Dia tersenyum.
Saya tersenyum.
Seperti berebutan, kami saling menyapa, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)