#AADC2: Review Komprehensif

 

 

aadc11

aadc9.jpg

aadc7

aadc

Jadi kapan kamu mau menikmati matahari terbit di Punthuk Setumbu kayak Rangga dan Cinta? Sudah direncanakan? Karena menurut survey dari PriceWaterHouseCoopers ditengarai akan terjadi lonjakan tajam kunjungan wisatawan domestik ke situs wisata tersebut di tahun ini. Semua tau penyebabnya apa.

 

 

nb: foto-foto secara sadar dicomot dari google.

 

Advertisements

Apa?

BARANGKALI, salah satu hal yang paling menyedihkan di muka bumi ini adalah hubungan yang kabur juntrungannya. Ketika tidak jelas apakah seseorang menjalankannya dengan perasaan cinta, atau gara-gara pertimbangan lainnya. Atau malah sebenarnya tidak tahu apa-apa. Pokoknya dijalani. Serba buram, namun terlampau sok percaya diri. Hanya bermodalkan asumsi, mirip bonek, lalu membuatnya bergulir begitu saja, tak tahu bakal mengarah ke mana. Terus seperti itu, sampai akhirnya menggenapi bunyi sumpah janji: “hingga maut memisahkan.” Yang secara tidak langsung menyodorkan makna alternatif: “sudah telanjur.

Jauh lebih menyedihkan ketimbang–yang dikira–cinta tak berbalas, maupun–yang dikira–cinta dipendam sendiri, atau–yang dikira–cinta terhalang latar belakang keluarga dan agama.

Terlebih bila di sisi berseberangan, sang pasangan pun salah kira. Menganggapnya “inilah cinta (?)” Ibarat dua orang buta yang saling tuntun. Sama-sama gulita, sama-sama tidak tahu sedang menghadapi apa, sama-sama mengiyakan, sama-sama menafikan. Kemudian terjadi silang pendapat, untuk yang pertama dan seterusnya. Bisa bikin menangis, bisa bikin tertawa, bisa bikin kelahi, bisa bikin merasa nyaman, bisa bikin tak mau lepas, bisa bikin sayang (lebih tepat diwakili dengan istilah éman dalam bahasa Jawa), bisa bikin sakit hati, bisa bikin mau bunuh diri, bisa bikin pengin cari pelarian, bisa bikin make-up sex, dan bisa bikin macam-macam lainnya. Rona kehidupan yang wajar, kata sebagian orang. Disebut wajar, lantaran terus menerus terjadi selama ini tanpa benar-benar bisa dipahami. Terus menjadi misteri yang kerap terasa absurd. Pengalaman absurd yang kemudian dipukul rata dengan kalimat: “begitulah nikmatnya kehidupan,” dengan arti kata “nikmat” yang ambigu, yang tak bisa dihindari, atau yang tak diketahui cara untuk menghindarinya. Sehingga mau tak mau ya dibiarkan terjadi. “Dinikmati” detik demi detiknya, kemudian menghilang sekejap mata, berganti dengan sensasi pengalaman yang lain lagi.

Atau sebenarnya, perlukah dihindari?

Bila mampu?

Tergantung kesepakatan umum?

Apakah mengantarkan pada kebahagiaan?

Mungkin.

Entahlah.

Ndak tau.

L, is for the way You look at me.

O, is for the only one I see.

V, it’s very extraordinary.

E, is even more than anyone that You adore.

~ NKC

Ah, seandainya cinta bisa sesederhana lirik lagu jadul itu. Kala terjadi, langsung mudah dikenali dengan tepat. Benar-benar sebagai sebuah rasa cinta. Bukan sesuatu yang dikira cinta pada awalnya, namun semakin lama semakin terasa tidak jelas, atau malah terasa layaknya sebuah lara.

Tahu dari mana sih kalau itu adalah cinta? Benar-benar cinta? Banyak yang bilang “I just know it” kala ditanya apakah sedang benar-benar merasakannya. Tidak jelas apa cakupan dari “just know it” tersebut. Banyak yang merasakannya hanya gara-gara pandangan mata, bunyi dan suara, kekaguman dan rasa suka, atau sekadar crush. Naksir seseorang, kemudian setelah beberapa puluh kali kencan, perasaan yang bikin naksir tadi makin kuat, atau malah tercecer entah jatuh di mana.

Oh iya, ini juga. Bila yakin itu cinta, apakah benar-benar mencintai si dia, sang objek perasaan cinta? Atau jangan-jangan, sebenarnya malah lebih mencintai diri sendiri, yang sedang merasakan cinta. Yang sedang gembira-gembiranya, dengan hati berbunga-bunga. “Cinta pada perasaan jatuh cinta itu sendiri,” kata seorang kenalan. Dan mungkin ini musababnya, putus cinta itu terasa menderita. Sengsara.

Tak sedikit pula yang merasakannya seperti ungkapan “witing trisno jalaran soko kulino,” berasa cinta karena telah bersama-sama sekian lama. Padahal ada kosakata lain untuk mewakili perasaan itu: nyaman.

Ehm, apa jangan-jangan cinta itu sederhananya memang perasaan nyaman ketika bersama seseorang? Nyaman yang bikin éman. Lalu, kalau merasa nyaman bersama beberapa orang sekaligus, bisa pula disebut cinta? Sepertinya iya. Tapi, katanya, bukan rasa cinta yang bisa/harus dibawa nikah. Begitu, bukan?

Terlepas dari itu, apabila memang merasakan–yang namanya–cinta, terus harus diapakan? Ada ketentuan harus dikejar? Harus dimenangkan (hatinya)? Harus dimiliki dengan dipacarin, dikawinin? Bagaimana kalau tidak dipacarin atau dikawinin? Bukan benar-benar cinta gitu?

Apakah juga harus bercinta? Nah! Apakah bila cinta harus bercinta? Kalau perasaan cinta harus ditandai dengan bercinta, jadi cinta yang tanpa bercinta tidak bisa disebut cinta? Ga usah bingung. Ini bukan sedang membicarakan cinta ibu pada anak, kakak pada adik, guru pada murid, cinta kepada bangsa, negara, dan agama, atau cinta kepada alam semesta. Tapi ya tetap berbicara soal cinta antara manusia. Ada loh yang saking cintanya sampai-sampai éman dibawa bercinta. Mau disebut apa? Aneh? Ganjil? Gila?

Toh kalaupun sudah berasa cinta, sudah dipacarin, sudah dikawinin, sudah bercinta penuh gelora, ada jaminan tidak bakal berubah? Cinta bisa dikalahkan dengan perubahan? Kebosanan, misalnya? Tetap bisa absurd? Beneran tai kucing terasa cokelat?

Bagaimana nih?

Jadi, sebenarnya, cinta itu sebenarnya apa sih?

[]

Empat Sekawan dan Pohon Persik

Alkisah.. adalah Dharma, seorang bhiksu muda yang baru saja menyelesaikan pertapaannya dan ingin pergi ke sebuah desa di negeri seberang. Desa ini jaraknya jauh sekali, sementara ia sudah harus sampai di sana besok lusa. Dharma punya dua pilihan: ikut jalur yang biasa, dan kemungkinan sampai beberapa jam atau bahkan sehari lebih telat. Atau, mengambil jalan pintas melewati hutan lebat.

Kalau lewat hutan, ia akan sampai lebih dulu. Tapi siapa yang tau ada apa di dalam sana? Binatang buas yang sigap mengintainya jadi mangsa kah, atau justru tanaman beracun yang sekali sentuh bikin kulit melepuh? Karena diburu waktu, Dharma akhirnya memilih pilihan kedua. Akhirnya tibalah ia di mulut hutan. Hari sudah gelap, mau tidak mau ia harus bermalam di sini sebelum melanjutkan perjalanannya esok pagi-pagi sekali.

Setelah menyusuri hutan itu beberapa lama, dilihatnya ada sebuah pohon persik yang begitu rindang. “Mungkin aku bisa bermalam di sini”, pikirnya. Dharma pun terlelap tak lama setelah menyenderkan tubuhnya di batang pohon.

Beberapa saat kemudian, ia dibangunkan oleh seekor kera yang duduk tepat di depannya.

“Siapa kamu?” Tanya Si Kera.

“Aku Dharma.”

“Ngapain kamu tidur di bawah pohon ini?”

“Maaf, aku berjalan jauh sekali dan kelelahan. Bolehkah aku bermalam di sini?”

“Tentu saja boleh.” Belum sempat dijawab Si Kera, jawaban justru datang dari seekor gajah.

“Terima kasih, Gajah. Kau kah penjaga pohon ini?”

“Bukan, bukan aku saja. Aku, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit lah yang menjaga pohon persik ini.”

Tidak lama kemudian, seekor kelinci melompat dari balik semak dan seekor burung pipit terbang dari balik dahan.

“Bermalamlah di sini.” ujar Si Kelinci.

“Kamu lapar? Biar kami ambilkan buah, ya?” Tanya Si Burung Pipit.

Si Kera kemudian menaiki punggung Si Gajah, ia kemudian mengangkat Si Kelinci dengan belalainya dan mendudukkannya di punggung Si Kera. Si Burung Pipit terbang ke atas kepala Si Kelinci, menggapai ranting terdekat dan memetik buah persik untuk Dharma. Buah-buah ini kemudian ditangkap oleh Si Kera.

Dharma kagum, sambil memakan buah pemberian empat sekawan ini ia pun penasaran dan akhirnya bertanya.

“Jadi, sebetulnya, siapa di antara kalian yang jadi pemimpin?”

Si Gajah, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit terkejut mendengar pertanyaan Dharma. Mereka tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Mereka bersahabat lama sekali dan menjaga pohon persik bersama-sama.

“Jelas aku, dong. Akulah yang paling cerdik di antara kami semua.” Jawab Si Kera.

Mendengar jawaban Si Kera, Si Gajah pun protes.

“Mana mungkin kau pemimpinnya, sudah tentu aku yang pemimpin. Aku kan yang paling kuat di sini.”

“Tunggu dulu.” Ujar Si Kelinci. “Gajah, kamu mungkin yang paling kuat. Dan, Kera, kamu memang yang paling cerdik. Tapi aku yang lebih dulu di sini. Kan aku menggemburkan tanah sehingga pohon ini bisa tumbuh.”

“Kamu lupa, Kelinci?” Tanya Si Burung Pipit. “Aku kan yang membawa biji itu ke sini setelah buahnya kumakan. Jadi, harusnya aku yang jadi pemimpin. Karena kalau bijinya gak kubawa dari bukit sebelah, pohon ini gak mungkin ada di sini sekarang.”

Mereka kemudian beradu argumen, terus berdebat dan saling ngotot. Semua tidak mau kalah. Semua menganggap jadi yang paling benar.

Dharma pun berusaha melerai. “Sudah, sudah, jangan bertengkar. Maafkan aku yang sudah bertanya hal yang aneh, ya.”

“Tidak bisa.” jawab Kera. Kami harus tau siapa pemimpinnya ini sekarang juga.

“Menurutmu, siapa yang benar?” tanya Gajah.

“Menurutku? Hmm..” Dharma bingung.

“Siapa dari kalian yang paling lama di sini?”

“Akuuu!” jawab mereka serentak.

“Duh. Kalau begitu, siapa yang paling banyak kerjanya biar pohon ini tumbuh?”

“Akuuuuu!” semua masih menjawab berbarengan.

“Aku yang menanam bijinya.” kata Si Burung Pipit.

“Tapi aku yang menggemburkan tanahnya.” Kelinci tak mau kalah.

“Kalau tak kusirami, pohon ini tak mungkin tumbuh.” ujar Kera.

“Dan kalau tak kujaga, pohon dan buahnya pasti sudah habis dicuri binatang-binatang lain.” Gajah menimpali.

“Nah, kalau begitu kalian menjaga bersama-sama kan?”

“Iya.” jawab mereka.

“Kalau tidak ada salah satu dari kalian, pohon ini tidak akan tumbuh jadi sebesar ini.”

“Benar juga, ya..” Burung Pipit setuju.

“Kalau pohon ini rusak atau mati, bagaimana perasaan kalian?”

“Sudah pasti akan sedih sekali.” jawab Gajah.

“Ya, betul. Pohon ini hidup kami.” Kelinci mengiyakan.

“Dan kalau tidak ada pohon ini, aku tidak akan bertemu Burung Pipit, Gajah, juga Kelinci. Mereka keluargaku sekarang.”

“Kalau begitu, menurutku, tidak perlu kalian terus berdebat tentang siapa yang paling benar, atau siapa yang paling kuat. Karena yang paling penting adalah pohon ini bisa terus tumbuh, kan?”

“Iya.” empat sekawan itu setuju.

“Ya sudah, sekarang, kalian fokus saja merawat pohon ini biar tetap sehat dan meneduhkan orang yang lewat di bawahnya. Biar kita bisa makan buahnya bersama-sama.”

Keempat sekawan itupun sepakat dengan Dharma, mereka menghabiskan malam bersama di bawah pohon persik, saling bercanda dan bercerita.


Cerita di atas aku adaptasi dari folktale Buddhism.

Sekarang, yuk kita bayangkan kalau pohon persik tadi adalah Indonesia. Sementara kita semua adalah Si Kera, Si Gajah, Si Burung Pipit, dan Si Kelinci. Beragam; berbagai suku, kelas sosial, karakter, juga kultur. Semuanya berbeda. Pohon persik itu, sama seperti kehidupan kita, bisa langgeng kalau semuanya selaras.

Natal baru saja lewat sehari. Tapi aku sudah mendengar perdebatan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat kepada kawan-kawan beragama Kristen dari berbulan-bulan lalu. Dan mungkin, beberapa bulan lagi kita akan kembali mendengar perdebatan yang sama. Basi. Begitu terus setiap tahun.

Gak cuma ngucapin selamat aja yang dibikin susah, sampai sekarang teman-teman GKI Yasmin mau ibadah dan merayakan Natal pun gak bisa. Padahal kepala daerahnya udah diganti.

Menurutku, perdebatan soal “Ucapan Natal” ini seperti borok yang terus-terusan dikopeki padahal belum kering. Akhirnya ya gak sembuh-sembuh. Kalau Gus Dur masih hidup, mungkin dia akan komen “Gitu aja kok repot?”.

Gitu aja kok repot?

Kalau tidak mau memberi selamat, ya sudah. Ndak perlu kan pengumuman? Toh ndak ada yang salah dengan beropini. Tapi, ada opini yang lebih baik disimpan saja di dalam hati karena kalau diucapkan malah menyebarkan sentimen negatif atau bikin orang salah paham. Malah nambah masalah. Kalau ndak salah, Ali Bin Abi Thalib pernah bilang begini “Ucapkanlah hal-hal yang baik saja, atau mendingan diam sama sekali.” Jadi, kalo ucapan dan pikiran kita akan menyakiti orang lain, mendingan ya mingkem ae.

Kalau mau ikut memberi selamat? ya bagus. Tapi ya ndak perlu juga merasa jadi yang paling benar dan berakal. Merasa jadi paling toleran. Karena, sebenernya ya, toleransi beragama itu ndak cuma sama teman-teman agama lain. Tapi juga sama teman-teman seagama yang mungkin pendapatnya berbeda. Ndak perlu saling paksa pendapat, ya ndak?

Udah, ah.

Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan. Selamat liburan untuk semua. Semoga kita bisa semakin bijak dalam berpikir, berbuat, dan berucap. Dan semoga semua mahluk berbahagia. *kecup*

religious-tolerance

Laksmi

Ia memasuki rumahnya. Dilihatnya secarik undangan yang disisipkan di bawah pintu. Kaget. Entah dari mana si pengirim tau alamat ini. Ia lalu menutup pintu. Diputarnya anak kunci dua kali ke arah kanan. Ditariknya gagang pintu, lalu ditekan. Dua kali, biar pasti terkunci.

Dilemparkannya tasnya ke atas sofa. Ia Berjalan ke arah meja makan sambil kedua tangannya membuka kaitan beha di punggungnya. Hanya perempuan sejati yang bisa melepas beha tanpa perlu menanggalkan baju terlebih dahulu. Dan ia salah satunya. Disampirkannya behanya di atas kursi kayu berwarna putih. Diletakannya undangan merah jambu dengan kembang-kembang itu di atas meja. Dilihatnya lagi. Ia lalu menyalakan CD player yang umurnya lebih dari sepuluh tahun itu. Ah, Joni Mitchell. Diambilnya handuk di pojok kamar, ditanggalkannya bajunya.

Kaca-kaca kamar mandi kemudian diselimuti uap air panas. Dan mungkin juga resah.


“Bows and flows of angel hair and ice cream castles in the air
and feather canyons everywhere, I’ve looked at clouds that way.
But now they only block the sun, they rain and snow on everyone.
So many things I would have done but clouds got in my way.”


Namanya Laksmi. Tanpa huruf H di antara S dan M. Setidaknya begitu katanya. Tidak ada yang tau nama belakangnya. Umurnya mungkin 55, atau mungkin 52. Tidak pasti. Ia jarang ngobrol dengan tetangga. Paling hanya sekali-sekali kalau ada yang meninggal atau menikah. Itupun hanya basa-basi kanan-kiri.

Laksmi artinya cantik. Dan memang, masih terlihat jelas jejak-jejak kecantikannya ketika muda. Kulitnya yang coklat itupun masih begitu terawat. Orang tuanya dari Sulawesi, katanya. Itu saja. Ia tidak pernah mau bercerita lebih jauh. Tapi keriput-keriput di wajahnya seolah bisa mewakili. Garis-garis halus di sudut matanya itu bisa saja saksi ketika ia terpuruk. Dan mungkin sepasang garis di antara bibir dan hidungnya adalah tanda kalau ia pernah bisa bebas tertawa sampai terpingkal-pingkal. Juga uban yang ia biarkan tumbuh menghiasi rambutnya; mungkin setiap helainya menyimpan cerita.

Sudah lebih dari 20 tahun Laksmi hidup sendiri. Tak ingat pastinya kapan. Dulu ia sempat menikah dan berumah tangga. Biasalah orang kampung, dijodohkan dengan sepupu tiga kali dari pihak ayahnya. Tapi pernikahannya tak bertahan lama. Hanya sempat punya satu anak. Setelah itu ia tak sanggup. Kalau dasarnya sudah ndak cinta, mau bagaimana lagi. Daripada dipaksa jadi orang yang bukan dirinya dan dicintai orang yang salah, Laksmi memilih pergi. Tekadnya sudah mantap. Ia harus mengejar kebahagiaan dan cinta apapun resikonya. Termasuk meninggalkan keluarganya dalam kesedihan dan patah hati.


“Moons and Junes and ferris wheels, the dizzy dancing way that you feel
as every fairy tale comes real; I’ve looked at love that way.
But now it’s just another show. You leave ’em laughing when you go
and if you care, don’t let them know, don’t give yourself away”


Ia berjingkat keluar kamar mandi, berjalan ke arah lemari baju. Rambutnya yang basah dililit handuk. Titik-titik air dari tubuhnya jatuh meninggalkan jejak di lantai. Diambilnya sepotong daster abu abu yang bagian kantongnya sudah sobek, juga celana dalam yang lebar hampir menutup pusar. Ini rumahnya. Di sini ia jadi perempuan merdeka, bebas tanpa tekanan kutang berkawat dan himpitan g-string renda-renda.

Dikeringkannya rambutnya dengan handuk. Matanya kembali tertuju pada undangan di atas meja. Ia lalu duduk. Diambilnya lagi undangan tadi. Dipandanginya, juga sepasang nama yang tertera di atasnya. Diletakkannya lagi. Pandangannya masih juga tidak lepas. Laksmi lalu menyulut rokoknya. Diambilnya alas dari cangkir kopinya tadi pagi untuk menampung abu. Matanya memejam, dihisapnya rokoknya dalam-dalam. Seolah segala persoalan ikut terhirup dan terembuskan kembali bersama asap, lalu akhirnya sirna.


“Tears and fears and feeling proud, to say “I love you” right out loud,
dreams and schemes and circus crowds, I’ve looked at life that way.
But now old friends are acting strange, they shake their heads, they say
I’ve changed.
Something’s lost but something’s gained in living every day.”


Siang itu terik sekali. Jalan tampak lengang. Taksi membawanya menuju pusat kota. Laksmi sudah berdandan pol-polan. Kebaya Melayu dan songket warna marun berpadu emas. Persis ibu pejabat.
Ia melangkah keluar taksi. Jantungnya hari ini bergedup ekstra cepat. Lebih cepat dari langkahnya yang pelan-pelan menuju pintu masuk sebuah masjid. Masih dua puluh meter lagi. Ia berhenti sesaat. Takut. Mungkin juga ragu. Ternyata ia tak cukup berani, nyalinya tak sebesar perkiraannya. Laksmi gagal untuk tidak memikirkan apa kata orang-orang di dalam nanti.

Tapi janji adalah janji, harus ditepati tak peduli sudah berapa lama. Ia pun berjalan masuk. Tebakannya tak salah. Semua pandangan langsung tertuju padanya. Untung saja ijab qabul belum dimulai. Ada wajah-wajah yang dikenal, ada yang tersenyum, tapi ada juga berbisik-bisik. Keringat dingin jatuh di keningnya. Lima menit lagi begini, ia bisa pingsan. Terjun bebas menghantam lantai.

Laksmi lalu menghentikan langkahnya. Dilihatnya sang pengantin pria tengah berbincang-bincang dengan penghulu. Lelaki itu pun menoleh ke arahnya. Senyumnya seketika merekah. Ada embun yang mengembang di sudut mata. Ia lalu menghambur lari menghampiri Laksmi. Diciuminya tangannya berkali-kali, dipeluknya erat-erat, tidak mau lepas. Bahu Laksmi basah.

 

“Ayah.. terima kasih.”

 

cigs****

Di Tiap Pintu Yang Karib dan Misteri Yang Bersemayam Di Dalamnya

UT

CORE PURPOSE: To transform lives for benefit of society.

Tahun 2010, saya membaca kalimat itu pada sebuah dinding di salah satu universitas di kota Austin, Texas. Saya foto dan saya abadikan dalam hati. Kalimat yang begitu islami. Bermanfaat bagi seluruh alam semesta. Dalam hal ini, pahatan dalam dinding membatasi dirinya untuk kebermanfaatan masyarakat. Batasan yang sebetulnya melampaui ruang dan waktu.

Masyarakat yang selalu dan akan selalu perlu sesuatu yang dianggap baik sebagai nilai bersama. Moral yang dijaga dan dijungjung tinggi. Dalam sebuah masyarakat, tidak hanya pemimpin, namun juga warga yang menghayati nilai-nilai moral.

Salah satu kriteria syarat untuk menjadi warga yang baik adalah integritas. Diharapkan dari semangat integritas, selain kompetensi, jalani hidup dan lahir karya yang bermanfaat bagi dirinya, orang di sekitarnya dan masyarakat yang menaungi hidupnya dan hidup setelahnya. Integritas secara sederhana semacam berpikir, berucap, bertindak dengan baik dan benar. Bagi pekerja dan para profesional dapat diartikan dengan memegang teguh kode etik dan bertanggung jawab atas hasil kerja.

Dari filem AADC, saya menarik benang merah soal integritas dan anak muda.

 

 

Kemarin, sebagian besar penghuni media sosial bicara lanjutan filem Ada Apa Dengan Cinta.

Betapa sedihnya Mark Zuckerberg yang telah susah payah menciptakan akun facebook sejak tahun 2002 dengan pengguna 1,32 milyar namun minus pengguna bernama: Rangga dan Cinta. Apakah Rangga dan juga Cinta gagap teknologi sehingga tak pernah sempat untuk memanfaatkan media facebook untuk mencari belahan hati? Hingga akhirnya bertemu saat fitur aplikasi line menawarkan solusi pencarian alumna berdasarkan nama sekolah. Juga setelah Rangga dan Cinta sama-sama mulai meninggalkan aplikasi whatsapp karena kehadiran “dua centang biru” tanda keterbacaan.

12 Tahun adalah waktu yang relatif. Seperti dua anak TK yang terpisah dan kembali bertemu ketika waktu ospek mahasiswa baru tiba. Seperti SBY yang baru saja mendirikan Demokrat bersama Vence Rumangkang hingga tergantikannya dia oleh sosok Jokowi sebagia Presiden. Seperti murid-murid Yesus yang melakukan arisan tahunan bareng dengan hadiah naik haji, dari Yudas menjadi pemenang pertama hingga tiba giliran menang kembali di putaran selanjutnya.

Banyak guyonan yang bisa dilakukan dengan kehadiran mini sekuel filem ini.

 

Secara pribadi, saya begitu merasa hutang budi dengan keberadaan AADC. Filem yang menjembatani antara dunia sastra yang cenderung serius, kernyit dahi dan “dalem”, dengan dunia anak muda dan problematika pemikirannya yang cenderung santai bersenang-senang, tawa berderai dan dangkal. Naskah filem yang ditulis secara gotong royong oleh Jujur Prananto, Prisma Rudi dengan ornamen puisi dari Rako Prijanto, lalu dikemas oleh visi Rudy Soedjarwo dengan dukungan genap dan penuh Mira Lesmana dan Riri Riza.

Apakah benar anak muda adalah sosok yang dangkal pemikirannya?

IMG_5537

Bisa ya namun bisa juga tidak. Salah satu ikon dalam filem itu adalah buku karya Sjuman Djaya (mantan mertua Titi Radjo Bintang), yang pada usia 23 tahun, naskahnya difilemkan ke dalam layar lebar dengan judul Saodah. Buku yang ditulis Sjuman berkisah tentang Chairil Anwar, penulis segala zaman yang tutup usia di tahun ke-27. Rako Prijanto, penulis puisi dalam filem AADC baru menginjak usia 29 tahun saat menulis untuk filem itu. Yang muda yang berkarya.

Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur dan emosi.

(Rako Prijanto -AADC)

Persoalan anak muda didominasi oleh kisah cinta dan semesta perasaan yang melingkupinya. Masa dimana bergerak maju untuk mengarungi dunia orang dewasa. Menuju dunia penuh intrik, kecewa, dan saling memanfaatkan.

Nilai-nilai kebaikan yang ada dalam dunia anak muda seharusnya tetap dipertahankan saat menua. Tetap mencintai, tetap berperasaan, tetap bersemangat, tetap bermimpi saat mengarungi realitas dunia. Ibarat novel, anak muda seperti yang disampaikan oleh George Orwell dan dinukil Aan Mansyur:

Sebab, yang berharga dari novel itu bukan prestasi sastranya, melainkan keseriusannya berurusan dengan dunia nyata.

Bukan karena hiruk pikuk dunia cintanya yang diharapkan dari kehidupan anak muda, namun bagaimana membumikan rasa cintanya untuk mempertahankan diri dalam dunia nyata. Cinta yang bermanfaat bagi seluruh hidupnya.

Rangga yang menghadapi kesendirian. Berharap Cinta. Menjalani hidup melanglang buana. Berjanji untuk satu purnama dan hidup mandiri. Lupa Cinta namun mencintai hal lain yang memang harus dicintainya: obsesi, kemandirian dan kepatuhan dalam berkarya. Begitu mudah, memang, hidup terganggu oleh hal lain yang mengalihkan tujuan utama.

Dari sekuel AADC, bisa saja Rangga minta tambahan waktu. Tidak untuk dua hari. Namun dua minggu. Bisa asyik-masyuk bertemu Cinta sepuasnya. Namun tidak. Rangga memiliki integritas. Dua hari adalah dua hari. Rangga yang mengidolakan pasangan Jokowi. Rangga yang JEKA. Jujurlah Engkau Kepada Atasan. Rangga harus kembali ke New York.

Perempuan datang atas nama cinta //

Bunda pergi karena cinta / Digenangi air racun jingga adalah wajahmu / Seperti bulan lelap tidur dihatimu / Yang berdinding kelam dan kedinginan /Ada apa dengannya / Meninggalkan hati untuk dicaci / Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa / Ada apa dengan cinta / Tapi aku pasti akan kembali / Dalam satu purnama / Untuk mempertanyakan kembali cintanya / Bukan untuknya /Bukan untuk siapa / Tapi untukku /Karena aku ingin kamu / Itu saja //

(Rako Prijanto- AADC)


Maka ketika Rangga coba menghubungi Cinta, sejatinya Cinta bagaikan pintu tertutup namun karib. Sesuatu yang misterius namun dikenal baik. Rangga harap-harap cemas akankah mengetuk pintu itu. Pintu yang lama tertutup namun ingin dibuka kembali. Pintu hati serta misteri-misteri yang bersemayam di dalamnya.  Sejatinya pintu itu hanyalah sekat komunikasi yang bisa dibuka dan ditutup. Mereka tetap berdampingan, namun berbeda ruang.

Penyair Abdul Hadi WM menggambarkan situasi ini dalam satu bait puisi indah.

“Kau di sampingku / Aku di sampingmu / Kata-kata adalah jembatan /Waktu adalah jembatan /Tapi yang mempertemukan / Adalah kalbu yang saling memandang.” 

Lalu pertemuan itu hadir. Rangga dan Cinta. Bertemu dalam satu ruang dan waktu. Pada sebuah bandar udara. Tempat berpisah sekaligus bertemu. “Setiap perjumpaan adalah potensi”, kata Puthut EA.

Detik tidak pernah melangkah mundur, tapi kertas putih itu selalu ada. Waktu tidak pernah berjalan mundur dan hari tidak pernah terulang, tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru, untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab.

Untungnya dalam sekuel tersebut Cinta tak bertanya pada Rangga: “Kenapa kamu tak pernah menghubungiku selama ini? SIAPA DIA?? AYOOOO JAWAAAAB!!!”

Rangga, sebagai laki-laki berintegritas, akan menjawab jujur:

” Aku tetap bersamamu, Cinta. Namun rasa cinta yang berbeda. Cintaku di New York. Cinta Laura.”

 

 

AYAH? AH, YA..

Kemarin, seusai baca “Ayah” yang ditulis Nauval, ulu hati rasanya seperti ditonjok. Jari-jari mendingin. Saya ndak suka topik yang dia bahas. Bahasan soal ayah itu seperti kryptonite. Harus selalu dihindari kalau tak mau berakhir dengan mata berair dan dada sesak. Tak berapa lama, ada satu pesan muncul di layar ponsel. “Aku mewek”. Rupanya sang kawan juga merasakan hal yang sama. Hampir seharian saya habiskan membaca komentar teman-teman yang ikut bernostalgia tentang ayah mereka.

Dan hari ini, entah kenapa, saya merasa harus menambahkan satu bab lagi soal ayah di Linimasa.

Bicara tentang ayah itu bicara tentang sesuatu yang sangat kompleks. Dan, rasanya, membicarakan hubungan anak dan ayah itu jauh lebih kompleks. Njlimet. Ribet. Bukan. Bukan mengecilkan peran ibu. Tapi kita masih hidup di lingkungan di mana ibu diharapkan dan sudah sewajarnya jadi sosok welas asih. Jadi kalau ada apa-apa, lebih gampang untuk memaafkan ibu. Sementara ayah? selalu banyak drama.

Saya ingat, ada seorang kawan yang mengaku kalau salah satu pemicu ia jadi homoseksual adalah konfliknya dengan sang ayah yang berakar dari ia kecil. Selalu dijadikan sasaran kekesalan ayahnya yang kalah judi. Entah itu ditampar, atau dipecut dengan ikat pinggang, atau dipukul dengan pemukul kasur dari rotan. Lalu ada juga kawan yang tahun lalu baru jadi bapak. Ia sempat berkelakar “Bangsat bangsat gini, gue pengen jadi bapak yang baik. Anak gue harus jadi anak soleh, lah.” Kemudian seorang kawan lain yang begitu terkesan dengan sosok sang ayah. Sampai-sampai, tujuan hidupnya, ya, menemukan lelaki yang punya sifat dan karakter mirip ayahnya.

Berat juga jadi ayah. Seumur hidup dibebankan dengan pertanyaan apakah ia akan jadi pahlawan bagi anak laki-lakinya. Dan apa ia akan bahagia kalau anak gadisnya menikahi pria seperti dirinya. Ayah merupakan sosok asing pertama yang kita biarkan untuk kenal dan cintai. Namun sayangnya, cinta kerap bersisian dengan sakit hati. Di sinilah drama dimulai. Saya yakin, kalau bahasannya sudah ‘ayah’, tak diminta pun teman-teman pasti cerita sendiri.

Ada satu film bertema ayah yang begitu kuat diingatan saya. La Vita è Bella (Life is Beautiful). Roberto Benigni memerankan serang pria bernama Guido Orefice. Seorang yahudi pemilik toko buku di salah satu kota di Italia. Waktu itu Perang Dunia II sedang panas-panasnya dan Nazi Jerman akhirnya menduduki Italia. Guido dan sang anak yang baru berumur lima tahun, Giosué, akhirnya harus “dipindahkan” ke kamp konsentrasi di luar kota. Untuk mengapus rasa takut Giosué, Guido berbohong dan berpura-pura kalau kejadian yang mereka alami ini adalah sebuah perlombaan. Orang pertama mengumpulkan 1000 poin akan dihadiahi sebuah tank baja. Tujuan utamanya, ya, tentu saja untuk melindungi Giosué sementara ia menunggu saat yang tepat untuk membebaskan keluarganya dari kamp konsentrasi. Ini salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.

Guido dan seorang tentara Nazi. Salah satu scene di “La Vita e Bella”

Ada satu hal yang saya lihat dari Guido, ayah saya, dan mungkin ayah kalian. Mereka kadang terlalu hanyut di balik peran sebagai seorang ayah. Dan akhirnya kitapun kadang ikut alpa kalau mereka juga manusia. Dan ketika film berakhir, saya masih ingin mengenal lebih lanjut sosok Guido. Saya ingin mengenal ayah. Bukan sebagai ayah, tapi sebagai manusia. Saya ingin mengenal ayah seperti layaknya dua orang manusia yang mengenal satu sama lain, tanpa ada label anak-bapak. Apa yang ia pikirkan kalau ia tak harus memikirkan istri dan anak-anaknya? Apa sebenarnya yang ia inginkan? Atau, sesederhana, bahagiakah ayah selama ini?

Jujur saja, ketika dihadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya tidak tau harus jawab apa. Saya merasa sama sekali tidak mengenal ayah. Sedikit sekali hal yang saya tau tentang beliau. Bagaimana kita bisa begitu asing akan seseorang yang sudah dari lahir kita kenal? Bukan, ini bukan upaya justifikasi dari segala hal-hal buruk yang mungkin pernah dilakukan ayah-ayah kita. Tapi, kalau kita mau mengenal lebih sosok ayah, mungkin kita jadi lebih mengerti keputusan-keputusan yang mereka ambil. Baik atau buruk sekalipun. Mengerti, bukan memaklumi.
Dan akhirnya, sebelum ini jadi curhat colongan yang kepanjangan, saya harus berhenti di sini.