Apa Jadinya Kalau Terlalu Banyak Berbagi?

Buat kita yang sudah meluangkan waktu dan uang untuk pergi ke bioskop, tantangan terbesar dalam menikmati jerih payah waktu dan uang kita adalah menghalau sinar terang dari ponsel. Sesuatu yang sebenarnya sudah kita alami sejak ponsel sudah menjadi konsumsi umum masyarakat dari akhir 90-an, namun semakin menjadi-jadi dalam beberapa bulan sampai setahun terakhir ini.

Pasalnya? Apa lagi kalau bukan munculnya aplikasi instant story. Mulai dari Periscope, Snapchat, lalu yang paling populer sekarang Instagram Stories, dan tak ketinggalan WhatsApp, Facebook, sampai cover story di Path. Semua mengajak penggunanya untuk berbagi the exact moment yang mereka alami, saat itu juga, sampai 24 jam kemudian. Toh memang nothing lasts forever.

Forget preserving the moment, let’s treasure the moment instead. Begitu kira-kira filosofinya. Termasuk dalam berbagi momen, sedang nonton film apa di bioskop.

Forget the darkness, let’s just share what we are watching right now! Toh ada sinar dari layar lebarnya. Begitu kira-kira pemikiran yang ada untuk mereka yang suka merekam dan upload potongan film ke akun media sosialnya.

Ponsel atau gawai sudah jadi bagian nyawa dari kita. Susah disuruh untuk lepas barang sesaat. Berpisah dengan ponsel untuk urusan mengurus visa di kedutaan negara asing barang satu jam saja, rasanya sudah seperti setahun. Jadi ide untuk menitipkan ponsel saat masuk ke bioskop sepertinya juga tidak mungkin. Ini juga bukan seperti menitipkan alas kaki waktu mau masuk masjid atau kuil.

Of course the problem is never about the device or the apps. It’s always about the user. It’s how we control what we have.

Bagi saya dan banyak orang, termasuk Anda, pergi ke bioskop saat ini sudah merupakan extra luxurious effort.
Ganti baju yang lebih rapian sedikit. Menghidupkan kendaraan bermotor, atau panggil ojek atau taksi. Bisa juga jalan kaki, karena kebetulan tempat saya tinggal dekat dengan salah satu bioskop. Cuma tidak semua film ditayangkan di sana, sehingga untuk film-film tertentu harus ke bioskop lain. Lalu cari parkir. Sebelumnya, kena macet.
Lalu untuk yang suka ngemil, beli popcorn. Karena tidak sempat pergi di weekdays, maka pergi menontonnya di akhir pekan, yang harga tiketnya lebih tinggi sedikit. Semua kita lakukan supaya bisa pergi keluar, menikmati hawa di luar rumah, dan bersosialisasi, karena kebanyakan dari kita pergi ke bioskop bersama teman, keluarga atau pasangan. It takes a great effort.

Maka wajar kalau semua usaha itu kita nikmati dengan santai dan tenang. Bukan cuma Anda yang layak menikmati, tapi puluhan sampai ratusan orang yang sedang duduk bersama Anda dalam satu waktu tersebut. Semua ingin menikmati, tanpa gangguan dering ponsel, tanpa gangguan sinar ponsel yang glaring, apalagi kalau sampai kamera dinyalakan.

Percayalah, tidak ada apa-apa yang bisa dihasilkan dari berbagi rekaman video potongan film di bioskop ke akun media sosial Anda.
Mau pamer atau bikin iri ke followers? That only fuels your notoriety.
Mau kesandung urusan pelanggaran hak cipta kalau sampai pemilik film tersebut melaporkan Anda? You don’t want to deal with any kind of law violation, ever.
Perlu update? Bisa selfie sebelum film dimulai atau sesudah film berakhir.

Trust me, the magic of cinema begins when we turn off our phone for a while.

Selamat Hari Film Nasional.
Semoga apa yang kita tonton saat mematikan ponsel di bioskop bisa memperkaya hidup.

Advertisements

Jatuh Cinta Pada Karakter

Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengeluh kepada seorang teman. Saya bilang, banyak film yang saya tonton sampai paruh tahun ini yang tidak meninggalkan bekas sama sekali. Menguap begitu saja selesai keluar dari bioskop.

Teman saya tertawa kecil, lalu bertanya, “Maksudnya, nggak ada film bagus, gitu?”
Saya jawab, “Definisi bagus itu kan macem-macem ya. Dan nonton film itu kan subyektif. Ini bener-bener nggak ada yang berkesan gitu.”
“Maksudnya berkesan?”
“Paling nggak, pas bangun pagi sehari setelah nonton film itu, masih keinget.”
“Busyet sampe segitunya. Emang ada film yang bisa sampai kayak gitu?”

Saya mengangguk.
Lalu saya melihat catatan film-film apa saja yang sudah ditonton selama ini. Baik itu menonton di bioskop, maupun di rumah.

Untuk tahun ini, hanya ada sedikit film yang saya tulis dengan huruf tebal. Itu tandanya, film itu memberikan kesan yang sangat dalam seusai menonton.
Dari puluhan film yang saya tonton di bioskop sampai paruh tahun ini, film terakhir yang berkesan adalah NEERJA. Film kisah nyata tentang pramugari Pan Am yang menyelamatkan penumpang dari ancaman teroris di tahun 1986. Film ini produksi India. Filmnya sendiri saya tonton di bioskop bulan Februari lalu.
Sementara puluhan film lain yang ditonton setelah Neerja di bioskop, cuma sekedar saya tulis sebagai penanda saja.

Neerja (courtesy of youtube)
Neerja (courtesy of youtube)

Lain cerita dengan di rumah.
Karena bisa mengkurasi sendiri tontonan yang saya pilih, maka banyak tontonan serial, film televisi, atau film-film lama yang sangat membekas. Terakhir saya sangat terkesan pada mini seri AMERICAN CRIME STORY: THE PEOPLE VS OJ SIMPSON, dan menonton ulang film lama, THE PRIME OF MISS JEAN BRODIE (1969).

Rasa penasaran ini membuat saya bertanya lagi kepada teman yang lain. Kebetulan dia seorang penulis. Keluhan yang sama saya sampaikan. Dia cuma menjawab singkat, “It’s because you don’t like the characters.”
“Maksudnya?”
“Ya film-film yang kau sebutkan di atas itu ‘kan semuanya character-driven. Ceritanya dibuat dengan mengedepankan karakter, sehingga karakternya benar-benar dibuat dan dibangun sedemikian rupa that you cannot help but feeling empathy. Kebetulan aku juga nonton Neerja. Ingat-ingat lagi deh. Bukan hijack teroris yang ditonjolkan di film itu, tapi karakter Neerja, dan juga ibu Neerja kan yang dikedepankan? Lalu miniseri OJ Simpson itu. Di setiap episode, kita dikenalkan dengan karakter-karakter orang-orang yang berada di sidang pengadilan OJ kan, gak melulu reka ulang adegan sidangnya? Because once you care about the characters, you will care about whatever story they are put in.

Saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu. Masuk akal.

American Crime Story: The People vs OJ Simpson (courtesy of indiewire)
American Crime Story: The People vs OJ Simpson (courtesy of indiewire)

Dalam waktu singkat, cerita, dalam bentuk apapun, harus mampu menarik minat mereka yang mengkonsumsinya. Bisa penonton, pendengar atau pembaca. Biasanya, cerita yang baik akan membawa kita langsung ke inti masalah. Ini banyak terjadi dalam format cerita yang pendek.
But then, what’s next? Kita tetap perlu tahu dan kenal siapa (saja) orang yang berada di inti cerita itu.

Tidak perlu bertele-tele menceritakan latar belakang karakter, tapi dari raut muka, gerak badan, pilihan kata dan tindakan yang diambil di dalam suatu masalah, semuanya sudah menunjukkan karakter dari tokoh yang kita lihat, baca atau dengar.

Dari situ kita sudah bisa memilih dan menilai, apakah kita bisa berempati dengan karakter tersebut. Karena hanya dengan empati maka kita bisa mengikuti cerita karakter tersebut dengan baik.

Tentu saja televisi mempunyai keunggulan tersendiri, karena dalam format panjang dan dilakukan secara rutin, maka kita bisa mengenali setiap karakter yang ada. We welcome them to our home every week or every day, sehingga mereka sudah jadi bagian dari hidup kita. Inilah kenapa banyak dari kita yang masih betah menonton serial televisi yang sudah kita ikuti selama bertahun-tahun. Because we know the characters inside and out.

Di film layar lebar pun, meskipun akhir-akhir ini kita banyak dibombardir film-film event-driven, namun tetap karakter mereka lah yang akan kita ingat. Saya masih ingat detil-detil kecil di film Neerja yang memperlihatkan vulnerability karakter utama, yang membuat kita makin trenyuh. Di film Prime of Miss Jean Brodie, dari lima menit pertama rasanya tidak mungkin kita tidak jatuh cinta pada karakter Jean Brodie yang unik, yang ia perlihatkan pada murid-muridnya. Dan tentu saja, karakter seperti Cinta dan Rangga atau Galih dan Ratna yang kita simpan dalam kenangan, meskipun plot filmnya mungkin perlahan hilang dari ingatan.

Toh dalam kehidupan nyata, kita jatuh cinta dulu pada orangnya, sebelum kita tahu perjalanan hidupnya.

Bukankah begitu?

The Prime of Miss Jean Brodie (courtesy of highdefdigest)
The Prime of Miss Jean Brodie (courtesy of highdefdigest)

Dipilih Sehingga Kita Tidak Pusing Memilih

Ada satu pertanyaan yang cukup sering saya tanyakan ke banyak orang. Memang bukan pertanyaan singkat, karena jawaban dari pertanyaannya akan memancing pertanyaan lain yang lebih “kompleks”.

Pertanyaan itu adalah, “Kamu suka nonton film di bioskop?”

Kalau jawabannya “tidak”, maka biasanya saya akan lanjut bertanya, “Oh, kalau begitu, waktu luang biasanya diisi apa?” Bagi saya, tidak perlu mencari alasan mengapa orang tidak suka melakukan suatu hal.

Kalau jawabannya “ya”, maka biasanya saya akan melanjutkan dengan beberapa pertanyaan seperti:
– “biasanya dalam sebulan berapa kali nonton?”
– “film terakhir yang ditonton apa?”
– “paling sering nonton di mana?” (sumpah, ini bukan mau stalking!)
– “kalau nonton di bioskop sukanya nonton sendiri atau sama siapa?” (ini juga bukan kepo, tapi pure curiosity!)
Lalu pertanyaan yang akhir-akhir ini makin sering saya tanyakan:
– “kenapa suka nonton di bioskop?”

analyze

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja saya tanyakan dalam kapasitas informal, alias menanyakan dalam situasi yang santai, dan tidak dalam kapasitas survey resmi. Meskipun begitu, terutama untuk pertanyaan terakhir, saya menemukan jawaban-jawaban yang menarik.

Pada dasarnya, kebanyakan dari kita tidak suka sendiri. Kegiatan menonton di bioskop adalah cara menghabiskan waktu bersama orang lain, baik itu pacar, pasangan hidup, atau beramai-ramai bersama dengan teman dan keluarga. Lalu banyak juga yang bilang, kalau bioskop mempunyai kualitas layar dan tata suara yang jauh lebih baik dari apa yang kita punya di rumah. Menonton di layar lebar jauh lebih memuaskan daripada sekedar menonton di televisi, tablet atau bahkan layar ponsel.

Selain itu, ada satu jawaban yang cukup menggelitik. Beberapa orang mengatakan, bahwa kalau di bioskop, mereka sudah tahu akan menonton film apa, karena mereka berniat menonton film tersebut, tanpa harus terganggu dengan banyak pilihan lain. Kalaupun ada pilihan lain, paling 2-3 film lain. Pilihan yang sedikit justru membuat kelompok penonton ini fokus terhadap apa yang mereka mau tonton.

Jawaban ini cukup membuat saya terkesiap. Sedikit terkejut. Tetapi lantas memahami.

jack-russell-terrier-sunglasses-glasses-drink-tube-popcorn-humor-white-background

Seorang teman pernah bilang ke saya, “Waduh, di rumah itu banyak banget film belum ditonton. Jaman streaming video belum secepat dan segampang sekarang, kan suka download tuh. Itu aja belum semua ditonton. Pulang ke rumah, malah kadang bingung nonton apa. Di harddisk masih banyak film dan serial. Langganan streaming, malah gak ditonton.”

Saya bertanya, “Tapi nonton di bioskop?”

“Iya. Kadang melipir aja sambil nunggu macet kelar. Atau emang sengaja nonton film di bioskop. Kan jelas, filmnya apa. Gue gak perlu bingung milih atau mikir mau nonton apa. Udah, tinggal beli tiket, beli popcorn, duduk. Jelas.”

Dalam pembahasan lain yang semi serius, seorang teman lain pernah berkata bahwa untuk leisure items, banyak orang cenderung akan mengkonsumsi atau memilih apa yang sudah dipilihkan untuk mereka.
“People still prefer having their goods chosen and curated for them”, katanya.

Ini sedikit mengingatkan pengalaman teman saya waktu bekerja toko buku. Kata dia waktu itu, susah sekali menjual buku fiksi dibanding buku-buku petunjuk seperti restaurant guides, travel guides, dan sejenisnya.
Lalu teman lain yang dulu bekerja di perusahaan rekaman pernah juga berujar bahwa rata-rata penjualan album kompilasi seperti All Hits Collections dan sejenisnya masih lebih baik dari album solo.

Sedikit banyak memang hal ini memberikan suntikan mood booster ketika saya harus mengkurasi film untuk festival. Bahwa ketika orang diberikan pilihan yang terbatas dalam waktu yang terbatas untuk mengakses pilihan tersebut, maka ada sense of urgency untuk menikmatinya, sebelum terlewat kesempatannya. Ya ini memang sekedar self assurance sih. Entah benar atau tidak, dan tergantung seberapa besar festival tersebut dikenal, tapi nyatanya memang saya melihat bahwa kegiatan festival film, festival musik dan festival-festival lain cenderung dipadati penonton. Terlebih kalau tempat pelaksanaan kegiatannya cukup nyaman, seperti bioskop.

movie-watching

Tempat yang nyaman, pilihan yang sudah tersaji, dan kita cukup menerima. What’s not to like? Mungkin ada yang protes, kenapa film tertentu tidak ditayangkan, diputar atau dirilis. Tapi jumlah yang protes biasanya tidak cukup banyak utnuk membuat orang berpaling sepenuhnya, karena bagaimanapun, frekuensi untuk menyerahkan pilihan kepada pihak lain ternyata masih cukup tinggi. Maka bioskop masih ada, walaupun streaming service makin mudah dijangkau. Maka orang masih punya paling tidak satu set televisi di rumah, walaupun akses internet nyala 24 jam. Maka restoran masih ada, meskipun jasa antar layan makanan makin banyak.

Karena kita manusia yang perlu melihat manusia lain untuk memastikan kita tidak sendiri. Meskipun kita memilih sendiri, tapi menikmati tontonan tidak dalam kesendirian akan memberikan pengalaman yang membuat kita ketagihan.
Tidak percaya?

Well, selamat menonton. 🙂

About Teddy

Melayangkan ingatan ke akhir abad ke 20 atau awal abad 21, saya kurang yakin. Dan karena saat itu belum ada social media, sepertinya sulit saya verifikasi. Suatu hari saya diminta untuk meliput satu pemutaran film oleh seorang sutradara muda. Judul filmnya Culik, dan tempatnya PPHUI. Filmnya gelap, secara harafiah maupun simbolik. Tetapi ada satu yang saya ingat jelas, walaupun ini sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu; kameranya bergerak terus. Sepanjang film. Saya juga ingat keluar dari ruangan teater merasa mabuk laut. Kemudian ada pula sesi tanya jawab dengan sang sutradara, Teddy Soeriaatmadja. Saya juga ingat kalau dari obrolan ini Teddy terkesan agak arogan, idealis dan tidak suka berkompromi. Kesimpulannya, impresi pertama saya kurang baik.

teddy-soeriaatmadja_photo
Teddy Soeriatmadja (Sumber: Jaff-Film Fest)

Maju beberapa tahun kemudian, sutradara muda berbakat ini mengeluarkan film-film seperti Banyu Biru, Ruang dan Badai Pasti Berlalu, yang dari membaca resensinya tidak membuat saya ingin menonton. Maafkan, kalau saya memang tipe penonton yang kurang nasionalis. Banyak sekali alasan saya untuk menghindari nonton film Indonesia, sementara alasan yang membuat saya jadi ingin menonton hanya sedikit sekali.

Maju lagi beberapa tahun kemudian, saya ingat tiba-tiba Ibu saya mengajak menonton film Indonesia, Lovely Man. “Kata teman Mama bagus!” Baiklah, saya akhirnya juga mengajak anak saya yang ketika itu saya pikir belum mengerti topik yang terlalu njelimet, tetapi saya agak kasihan meninggalkannya di rumah. Kami menonton dengan perjanjian, kalau menurut saya adegannya kurang sesuai, saya akan menutup mata anak saya dan dia akan menyumbat telinganya sendiri. Begitu saya paham soal tema dari film ini, saya mengharapkan melodrama mendayu-dayu tentang kaum yang dimarginalkan, apalagi kurang beruntung dari sisi materi. Ternyata saya salah. Filmnya sederhana, tak ada pretensi apapun, hanya menceritakan saja. Tidak juga ada kesan menghakimi, semuanya diserahkan ke penonton dengan kepercayaan penuh, kalau penonton cukup bijaksana dan cerdas melakukannya. Saya cukup heran ketika melirik ke penonton cilik sebelah saya yang tekun menonton sama sekali tak terlihat gelisah. Hanya sesekali menggenggam tangan saya lebih erat ketika ada adegan yang menimbulkan rasa takutnya. Kemudian terjadi adegan puncak, film berakhir, dan teater menjadi terang. Saya dan anak berpandang-pandangan. Lalu kami menangis bersama sambil berpelukan. Cukup lama, sampai ibu saya mencolek sambil menunjuk ruangan yang sudah kosong, mengajak keluar.

lovely-man
Lovely Man (Sumber: Filelengkap.com)

Saat itu saya berniat mengubah pandangan saya terhadap Teddy Soeriatmadja, karena begitu senangnya hati, melihat film Indonesia yang begitu jujur dan tidak ada embel embel moral maupun kearifan lokal. Paling tidak bukan pada bentuk yang dianggap orang kebanyakan. Tetapi Lovely Man berhasil menyentuh dan membuat saya memikirkannya hingga berhari-hari kemudian. Juga tentunya merekomendasikan ke teman-teman yang belum menonton. Yang sayangnya banyak dari mereka belum juga menonton karena waktu tayang yang blink and you missed it itu.

Lalu tiba di tahun 2013. Saya diundang menjadi salah satu juri festival film yang basisnya social media. Tentunya saya hadir dengan senang hati, apapun demi bisa menonton film yang mungkin orang lain tak bisa tonton. Salah satu yang masuk nominasi kategori naskah asli (kategori di mana saya jadi salah satu juri) adalah satu lagi dari Teddy; Something in the Way. Untuk kepentingan penjurian, diadakan screening di sebuah institut perfilman. Yang ternyata penontonnya hanya satu; saya. Di ruangan yang gelap saya kembali terbawa perasaan, lalu gemas karena tidak ada teman untuk membahas. Nafasnya masih sama dengan Lovely Man, tetapi ada sesuatu di Something in the Way yang membuat penonton lebih merasa tidak nyaman. In a good way (mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya).

reza-rahadian-dalam-film-something-in-the-way
Something in the Way (Sumber: Muvila.com)

Tahun kemarin, saya kembali menjadi juri di kompetisi yang sama. Dan diadakan pemutaran film yang masuk nominasi (walau bukan kategori saya), tetapi begitu diberitakan kalau akan ada screening film Teddy yang baru, About a Woman, tentunya saya segera tunjuk tangan. Saya kali ini bersiap mengajak teman agar ada teman membahas, but he bailed on me (melirik tajam ke seseorang). Ternyata tetap beruntung, karena saya jadi berkesempatan berkenalan dan mengobrol banyak tentang proses pembuatan film ini dengan pemeran utamanya; Ibu Tutie Kirana.

maxresdefault1
About a Woman

Tiba waktunya menonton filmnya. And Teddy did it again. Baru kali ini saya melihat film Indonesia yang menceritakan isu begitu delicate dengan cara yang begitu sensitif, tak setitik pun ada judgement, rasa lebih tinggi dari penontonnya maupun dikte muatan tertentu. Begitu jujur, bahkan kamera terasa jujur, begitu diam dan hanya mengamati. Tetapi juga begitu relatable, sehingga di klimaks film, hati seperti tercabik cabik tak menentu (drama) tanpa harus melodramatis, dan tanpa menggunakan lagu score yang mendayu-dayu. Yang agak menyebalkan buat saya, penonton yang cenderung tertawa di bagian-bagian film yang uncomfortable. Heran, kenapa knee-jerk reaction mereka jadi tertawa. Tetapi dalam hati saya berkesimpulan kalau, mungkin itu cara mereka menghadapi ketidaknyamanan. Intinya, setelah menonton, saya merasa tenggorokan saya tersumbat hingga berjam-jam. Ketika berjumpa lagi dengan Ibu Tutie, saya memeluknya sambil mengucapkan terimakasih, because she’s so beautiful and wonderful in the movie (sama sekali bukan ‘res). Kalau Teddy hadir, mungkin saya juga akan peluk (#eh #memanggatelaja).

Setelah melihat ketiga film ini, saya dengan yakin memasukkan nama Teddy Soeriaatmadja sebagai salah satu sutradara yang filmnya tak akan saya lewatkan. Sebaiknya Anda juga jangan melewatkan. Walau film ini tidak akan tayang reguler di bioskop kesayangan Anda, monggo, dicari di bioskop-bioskop kecil independent, atau festival lokal, atau malah buat festival sendiri dan memasukkan ketiga film ini jadi agenda. I believe more people should watch them.

Ekspresi

Selama 7 hari penuh minggu lalu, rasanya susah buat saya untuk rehat sejenak, dan bernapas. Maklum, pada minggu itu, rangkaian acara 21 Short Film Festival digelar. Kebetulan saya terlibat di penyelenggaraan acaranya. Bak angin tornado yang datang tak diundang, tiba-tiba kami semua sudah berada tepat di tanggal-tanggal penyelenggaraan, dan bukan masih dalam rencana berminggu-minggu, atau berbulan-bulan sebelumnya.

Buat yang terbiasa terlibat mengerjakan acara atau event, pasti bisa merasakan keletihan luar biasa ketika berada tepat di tengah-tengah penyelenggaraan acara.

Demikian pula di hari Sabtu minggu lalu. Hari itu adalah hari yang paling padat di festival kami: 7 pemutaran dalam sehari. Ini yang di bioskop saja. Lalu ada 4 workshops di sebelah studio. Jadwal sudah diatur sedemikian rupa, agar bisa dimulai dari pagi, dan selesai tidak terlalu malam.

Tapi manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan.
Mendadak saja pagi kami diawali dengan kejutan dari ruang teknis. Ada masalah dengan projector. Tidak bisa lama-lama menunggu, akhirnya diputuskan bahwa pemutaran pertama mundur. Padahal antrian penonton sudah mengular. Alhasil, jadwal seluruh screenings hari itu mundur 20 menit. Sesi tanya jawab di pemutaran-pemutaran awal kami potong durasinya. Test film sebelum pemutaran dipercepat.
Akibatnya, seharian itu kegiatan saya adalah menunggu penonton keluar di satu pemutaran, test film untuk pemutaran berikutnya, memasukkan penonton untuk pemutaran berikutnya. Dan berulang terus enam kali dari pagi sampai malam. Repeat.

Rasanya ingin menggantungkan kedua kaki saat pulang.

Keesokan harinya, saya bangun dengan perasaan berat. Maklum, hari terakhir. Ada malam penghargaan. Sepertinya masih harus menyisakan energi yang sebenarnya sudah tak bersisa ini.
Lalu seperti biasa, bangun tidur bukannya kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi, tapi malah check ponsel. Mata yang masih belum terbuka lebar ini melihat deretan notifikasi chats dan email masuk.

Ada email dari Vitri, fotografer event.
Setiap pagi, dia akan mengirim foto-foto dari semua kegiatan dan apa saja hal unik yang terjadi di festival kami pada sehari sebelumnya. Saya buka satu per satu foto. Nyaris tanpa ekspresi saya melihatnya.

Tiba-tiba saya berhenti di foto ini.

XXI Short Film Fest., Sabtu, 21 Maret. (Photo by Vitri Yuliany)
XXI Short Film Fest., Sabtu, 21 Maret. (Photo by Vitri Yuliany)

Saya tertegun. Lama saya memandang foto ini. Saya terkesiap.

Saya tidak tahu kapan persisnya foto ini diambil. Yang jelas, saya cuma bisa menebak, bahwa foto ini diambil dari deretan kursi paling depan. Berarti foto ini diambil waktu pemutaran film paling penuh. Foto ini diambil diam-diam dari bawah kursi. Sekali lagi, ini hanya tebakan.

Dan tentu saja tidak ada dari kami satu pun yang mengenal orang-orang yang terekam dalam foto ini. Mungkin mereka juga tidak mengenal satu sama lain. Tapi yang jelas, mereka menjalani kegiatan yang sama: melihat apa yang kami hadirkan di layar lebar.

Sejenak rasa letih yang terbangun dari semalam hilang begitu saja saat melihat foto ini. Tak jemu-jemu memandangnya.

Terbersit rasa senang yang tak bisa dijabarkan kata-kata. Foto seperti ini seakan mengingatkan kita kembali, kenapa kita menyenangi apa yang kita kerjakan.
Apresiasi. Apresiasi membuat kita mencintai pekerjaan kita.

Buat saya, itu sesederhana melihat kursi bioskop terisi. Lalu penonton berhenti melakukan aktifitasnya, dan terpaku di layar. Satu studio bioskop gelap, hanya ada layar yang ditembakkan dari belakang kursi teratas. Puluhan atau ratusan orang seakan pasrah terhadap apa yang akan mereka lihat. Suara mulai terdengar, entah dari musik atau dialog pemain film.
Dan beberapa menit kemudian, terdengar tawa. Atau mungkin isak tangis. Mungkin ada yang tidur dan mendengkur.
Terakhir ada tepuk tangan. Dan kata “tepuk tangan” bisa diganti dengan cemoohan, karena saya pun pernah merasakannya.

Pujian atau cacian adalah bentuk apresiasi. Foto ini menangkap momen sebelum keduanya terjadi. Yang terjadi sesungguhnya di setiap pemutaran kami kemarin, untungnya, adalah tepuk tangan yang mengiringi sesi tanya-jawab dengan para sutradara. Melihat foto ini tanpa tahu kejadian sesungguhnya akan membuat kita menebak-nebak apa yang akan terjadi setelahnya.

Foto akan selalu menjadi bagian kenangan tak terlupakan dari sebuah peristiwa yang sudah lewat.
Namun tidak semua foto bisa menjadi penyemangat untuk terus melakukan apa yang memang kita bisa lakukan. It’s magical how a picture can bring out the best in what we excel at.

Foto yang penuh ekspresi adalah foto yang ‘hidup’.

Untuk semua yang ada di foto ini, terima kasih.

Have Yourself A Merry Little Christmas?

Melalui Linimasa, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi semua yang merayakan, baik dalam rangka ritual keagamaan, maupun dalam spirit atau semangat.

Melalui Linimasa pula, saya ingin bilang kalau lagu bertema Natal yang paling sering saya dengarkan dan alunkan adalah lagu “Have Yourself a Merry Little Christmas”.

Rasa-rasanya, selain lagu “Yesterday” milik The Beatles, lagu ini termasuk lagu yang banyak banget versinya. Mulai dari Judy Garland yang menyanyikan pertama kali di film Meet Me in St. Louis, lalu versi Frank Sinatra yang sering diputar, sampai terakhir si raja galau 2014 dari Inggris, Sam Smith, tak ketinggalan membuat lagu ini makin terasa menyayat hati.

Meskipun begitu, tak ada satu pun dari versi-versi tersebut yang dituangkan dalam bahasa visual yang sangat emosional, seperti yang terlihat di video klip versi Kenny G.

Lihat saja di sini:

Manipulatif? Memang. Menguras air mata? Itu tujuannya.
Toh memang itulah jualan komoditas Natal (dan Tahun Baru): sensasi sentimental nan melankolis.

Berhubung untuk keperluan promosi lagu, maka digaraplah pemaparan visual lagu itu dengan baik.
Potongan klip film It’s a Wonderful Life, Miracle on 34th Street, Little Women dipilih dengan pas, sesuai dengan mood dan tone lagu. Diselingi pula dengan adegan-adegan dari film A Christmas Carol, dan juga The Bells of St. Mary’s, lengkingan saxophone Kenny G terasa tidak mengganggu seperti biasanya.

Apalagi cerita di video ini menghadirkan aktor Burgess Meredith, pemeran Penguin di serial televisi “Batman” tahun 1960-an. Dia berperan sebagai seorang penjaga bioskop yang kesepian. Dia mengira akan menghabiskan Natal sendirian. Yang menemani malam Natalnya adalah foto anak dan cucu, sambil sesekali melihat ke layar lebar, di mana potongan film dimainkan. Entah kenangan apa yang ada di benaknya saat melihat adegan-adegan itu. Lalu, tiba-tiba saja, keajaiban itu pun hadir. Pelukan dari sang anak dan cucu menghampiri. Warna kelabu berubah menjadi kuning kehangatan.

Happy ending. The way any feel-good Christmas stories are meant to end.

Namun ending untuk Burgess Meredith berbeda. Dia meninggal tak lama setelah video klip ini dibuat, pada usia 90 tahun, akibat penyakit Alzheimer. Natal terakhir aktor kawakan ini pun terpatri selamanya di ingatan jutaan orang yang telah melihat video klip ini.

Tanggal 25 Desember tak hanya notabene milik mereka yang merayakan Hari Natal. Tepat di hari ini, usia satu tahun tinggal 6 hari lagi, sebelum tahun yang lebih baru, lebih gres, hadir.
Beberapa hari sebelum tanggal 25 Desember, mood kerja sudah turun drastis. Males-malesan ke kantor. Sepertinya mengirim email reminder ke calon klien akan sia-sia, karena baru dibaca hari Senin pertama di bulan Januari.
Seakan-akan hitungan satu tahun sudah berakhir saat bulan Desember memasuki angka 20-an.

Semua film yang ditonton, musik yang didengar dan buku yang dibaca di sisa penghujung tahun, seakan tak berarti lagi. Rangkaian daftar “Top 10 of Something Something This Year” atau “Best of This Year” serta “Worst of This Year” sudah kenyang kita santap, bahkan sejak awal Desember.
Kita didikte untuk menghabiskan bulan Desember untuk leyeh-leyeh nrimo.

Padahal, masih ada 6 hari lagi untuk menciptakan keajaiban.

Tukang sapu penjaga bioskop di video klip di atas masih berpegang teguh pada keyakinan kalau dia tidak akan menghabiskan malam Natal sendirian. Setidaknya, foto-foto dalam dompet yang membuatnya bisa melalui kesendirian sementara, kalau saja ending video harus berakhir tidak sentimental.

Kalau ada yang memulai tahun ini dengan kehilangan kekasih, mungkin ada janji makan siang dalam 5 hari ke depan yang bisa membuat hidup anda berubah. Oke, tidak langsung berubah. Paling tidak, membuat kita mengakhiri tahun dengan senyuman. Sudah beda 180 derajat saat mengawali tahun dengan tangisan, ‘kan?

Kehilangan uang di awal tahun juga membuat kita murung. Lalu tanpa kita sadari, kita mati-matian bekerja sepanjang tahun, membuktikan ke dunia kalau uang memang bisa dicari. Akhirnya, setelah celengan dibuka, ada tabungan tersisa. Lumayan, bisa bertahan hidup sampai awal tahun, sebelum masuk kantor lagi.

Bahasa kita kaya dengan jargon atau pepatah. Salah satunya “hujan sehari bisa menghapus panas setahun”. Pertemuan dan kesempatan yang ada selama 6 hari ke depan, bisa mengubah pandangan kita terhadap setahun yang telah berjalan, dan akan berakhir sebentar lagi.

Kalaupun ada isak tangis tanggal 31 Desember nanti, biarlah itu pertanda ungkapan kebahagiaan.
Bahwa ada momen sekecil apapun dalam hari-hari ke depan yang membuat kita yakin kalau tahun depan lebih baik dari tahun ini.

If you’re not happy this Christmas, make it a happy one. There’s “merry” in Merry Christmas.

Tonton film yang ringan. Tertawa melihat gambar-gambar meme yang “garing”. Bernyanyi bersama sepanjang Christmas carols dinyanyikan. Membaca cerita humor. Menyalakan televisi saat film Home Alone diputar untuk kesekian kalinya.

Then the answer to the question “Have Yourself a Merry Little Christmas?” is … Yes.

It's A Wonderful Life (Courtesy of Tvtropes.org)
It’s A Wonderful Life (Courtesy of Tvtropes.org)

Yang Pergi

Tahun 2014 sudah tinggal sebulan lagi. Sebulan lebih sedikit. Inilah saatnya para media massa sedang sibuk mengulik dua hal: kejadian-kejadian sepanjang tahun untuk dijadikan bahan tulisan kaleidoskop, dan ramalan-ramalan mulai dari ahli nujum sampai analis untuk materi prediksi tahun depan.

Tulisan hari ini bukan akan mengulas dua hal tersebut, meskipun akarnya dari hal yang pertama. Ketika kami, yang masih muda, segar bugar dan sehat ceria ini sepakat akan menurunkan tulisan-tulisan seputar “2014 menurut saya” mulai bulan depan, mulailah kami berpikir dan mencari apa yang mengena di hati kami masing-masing. Dari pencarian itu, ada beberapa orang yang kepergiannya tahun ini terasa menusuk pikiran saya.

Orang-orang ini tidak saya kenal secara pribadi. Namun saya dan mungkin Anda tumbuh bersama mereka. Saya bisa makan di depan mereka tanpa mereka merasa terganggu. Kalau saya ketiduran di depan mereka pun, mereka tidak tahu. Ada layar lebar dan layar kaca yang memisahkan kami.

Meskipun terpisah, namun hubungan antara pengagum dan yang dikagumi itu terasa dekat. Terlebih yang dikagumi adalah orang yang memang mumpuni. Artis, seniman, thespian, jenius di bidangnya.

Makanya, kepergian komedian Jojon di bulan Maret lalu terasa menyedihkan. Masih ingat ayah dan ibu suka membangunkan saya malam-malam. “Tuh, ada Jayakarta Group di TV.” Itulah saat Jojon dengan kumis a la Chaplin atau Hitler dan celana bretel yang kedodoran dan ngatung, hadir bersama Uuk, Esther dan Cahyono. Berempat mereka menghibur kita semua dengan bercandaan yang, meski kadang slapstick, tapi tidak pernah sekalipun merendahkan penontonnya. Tentu saja, dengan tampilan khas kostum yang terlihat aneh, Jojon sering kali menjadi obyek bercandaan, selain Esther dengan dasternya juga. Lihatlah klip di bawah ini. Masih terasa fresh ditonton sekarang pun.

Saat usia beranjak dan lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-teman, pergi ke bioskop sering jadi pilihan utama. Kami terbahak-bahak bersama melihat Mrs. Doubtfire. Sebelum itu, saya tercengang saat nonton Aladdin. Yang mencuri perhatian tentu saja adalah karakter Genie. Pergantian suara, karakter, perubahan kostum, ekspresi, yang bisa belasan kali dalam waktu semenit, membuat saya heran. Siapa orang ini dengan energi yang berlebih? The man with the unstoppable energy.
Or so it seems.
Karena pada akhirnya energi itu berhenti, atau dihentikan sendiri oleh pemiliknya, Robin Williams, bulan Agustus lalu. Sampai saat ini, saya belum berani nonton film-filmnya lagi. Patch Adams, Flubber, Good Morning, Vietnam, dan tentu saja, Dead Poets Society serta Good Will Hunting.
Robin Williams, manusia penghibur, yang menjadi bagian dari kenangan kita.

Ada satu film Robin Williams yang terasa berbeda dari film lain. The Birdcage. Menjadi pasangan gay yang harus berpura-pura menjadi pasangan heterosexual demi pernikahan anaknya, tampilan Robin Williams terasa humanis, meskipun masih melucu.
Saat menonton film ini pertama kali adalah saat-saat saya mulai mempunyai ketertarikan lebih pada film. Barulah tahu bahwa film ini disutradarai oleh seseorang bernama Mike Nichols.

Lalu mulailah saya mencari film-film lama karya Mike Nichols. Tak ada satu pun yang tidak sukses membuat saya terhenyak. Who’s Afraid of Virginia Woolf? mencengangkan dengan dialog-dialog yang brutal. The Graduate adalah film wajib tonton buat pria-pria yang tidak tahu harus berbuat apa dalam hidup, sambil mendengarkan lagu “The Sound of Silence”-nya Simon & Garfunkel yang menjadi soundtrack film. Carnal Knowledge membuat saya harus jujur kepada pasangan dalam hal seks. Heartburn menyadarkan lagi bahwa hubungan dengan orang ber-ego tinggi itu tidak mudah. Dan tentu saja Working Girl membuat orang jadi feminis, siapapun itu. Tentu saja, nama Mike Nichols pun menjadi jaminan saya di kemudian hari bahwa semua film yang dia buat di kemudian hari menjadi jaminan tersendiri. Dan terbukti benar. Angels in America. Closer. Wit.

Dalam bahasa Jawa, ungkapan yang pas untuk karya-karya Mike Nichols adalah “nguwongke wong”. Memanusiakan manusia. Hampir semua karakter utama di film-film Mike Nichols terasa berjejak pada tanah dan kenyataan sehari-hari, sehingga mereka terasa humanis. The fictional characters feel human. Itulah mengapa menonton film-film Mike Nichols memberikan ingatan yang kuat di memori.

Dan itulah mengapa saya sempat tidak percaya bahwa Mike Nichols telah pergi pada pertengahan November lalu. Inilah pertama kali saya bisa menulis sedikit tentang kepergian beliau.

Beberapa tahun lalu, di segmen In Memoriam di perhelatan Academy Awards, Queen Latifah membuka segmen ini dengan berucap:

“… we spend a moment remembering people we have lost. To those of you watching around the world, they were images of inspiration … These artists give us afternoons, weekends, years, lifetimes of enjoyment. They’re not really gone. They’re all around us, everywhere we look.”

Selamat jalan.
Terima kasih.

Mari Berpesta di Festival!

Menjelang akhir tahun, di beberapa kota besar sontak dihujani banyak perhelatan. Di Samarinda barusan digelar Festival Mahakam. Di Yogyakarta tak kurang berturut-turut ada 3 festival film digelar dari akhir November sampai pertengahan Desember. Di Jakarta? Jangan tanya lagi. Di kota-kota lain di dunia? Apalagi.

Mendengar kata “festival”, yang memang berasal dari kata festive atau perayaan, biasanya kita langsung terbayang suasana seperti antrian, keramaian, dan acara yang tak henti-henti. Tak salah memang. Di fashion festival kita berlari dari satu fashion show ke fashion show lain. Di music festival kita bersorak dari satu gig ke gig lain. Di film festival kita duduk menonton dari satu film ke film lain dalam sehari, lalu berhari-hari.

Java Jazz. Photo taken by Nauval Yazid.
Java Jazz. Photo taken by Nauval Yazid.

Selama beberapa periode tertentu, entah itu satu akhir pekan atau satu minggu, daya serap perhatian kita sebagai pengunjung dan penonton seperti tercurah dan terkonsentrasi pada satu titik. Lalu dari masing-masing fokus per orang ini terciptalah collective energy yang menghembuskan jiwa dan memberikan nafas di setiap festival, sehingga ia terasa hidup. Iya, energi.

Energi setiap festival inilah yang jadi denyut nadinya. Dia tercipta dari apresiasi penonton terhadap karya yang mereka saksikan. Energi ini bisa terlihat saat tepuk tangan yang membahana saat perancang busana maju dan berjalan bersama para peragawati. Riuh rendah penonton yang berteriak “we want more!” saat penyanyi pura-pura mundur ke belakang panggung. Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung henti saat sutradara dan pemain film melakukan kegiatan tanya-jawab di akhir pemutaran.

Reel Asian 2013. Photo taken by Nauval Yazid.
Reel Asian 2013. Photo taken by Nauval Yazid.

Gegap gempita. Itulah kata yang paling pas menggambarkan suasana festival. Perhatian kita yang terfokus pada satu masa kegiatan. Konsentrasi pembuat karya yang tertuju pada satu masa kegiatan yang sama. Keduanya bersinergi menciptakan one big common bubble, dan kita sama-sama bersuka ria di dalamnya.

Ada energi tersendiri dalam festival. Our appreciation level heightens and increases. Boleh saja musisi yang tampil di festival sudah termasuk kategori “has-been”. Tapi toh nyatanya ketika dia tampil, kita masih tertegun dan bertepuk tangan. Bisa jadi film yang kita tonton di festival, ternyata melempem ketika rilis di pasaran. Itu karena gemuruh tepuk tangan saat tanya jawab dengan sutradara, hanya terjadi di festival.

XXI Short Film Festival 2014. Photo taken by Nauval Yazid.
XXI Short Film Festival 2014. Photo taken by Nauval Yazid.

Jadi, mari kita sudahi tulisan ini. Pasti ada undangan acara yang anda acuhkan di inbox. Coba lihat lagi. Siapa tahu acaranya seru.

Lupakan realita sesaat. Mari berpesta!

Jangan Lupakan

Sebelum mulai menulis di linimasa.com ini, selalu ada “ritual” yang saya lakukan. Lebih tepatnya, kebiasaan. Maklum, tidak terlalu istimewa kegiatannya.

Saya akan menonton film. Film apapun. Bisa dari televisi, DVD, blu-ray, koleksi di harddisk. Film apa saja. Random choice. Siapa tahu dari pilihan film itu datang inspirasi tulisan. Maklum lagi, kami di sini menulis berdasarkan apa kata hati saat tenggat waktu datang.

Semalam di HBO ada film The Mexican. Ada Brad Pitt, Julia Roberts, dan almarhum James Gandolfini. Pikir-pikir, sudah lama tidak menonton film ini. Ponsel ditaruh jauh-jauh, supaya tidak terganggu pesan-pesan yang masuk.

Sudah 30 menit film berjalan. Saya masih menikmati jalinan cerita film. Setelah cerita mulai bergeser fokus ke Julia Roberts dan James Gandolfini, tiba-tiba entah dari mana, pikiran saya bergeser ke hal lain. Ujug-ujug, saya ingat, pertama kali menonton film ini bersama teman lama, Bang Reza, di Cineleisure Orchard, Singapore. Kayanya hari Minggu siang tahun 2001. “Kalo nggak salah”, pikir saya.

Cek laptop, cari file lama. Ubek-ubek, akhirnya saya tersenyum. Betul. Hari Minggu, 29 April 2001, kami menonton film ini di bioskop itu bersama dua teman lain.

Jauh sebelum IMDB lahir dan bisa beli laptop sendiri, saya punya kebiasaan menulis nonton film apa, tanggal berapa, sama siapa (sendirian atau nggak), dan di mana. Jaman dulu, pakai bolpen dan buku tulis. Sampai 2 tahun lalu, tulis di Excel. Baru tahun lalu, tulis di Notes di ponsel.

Kalau ada pepatah yang bilang “old habit dies hard”, dalam konteks ini saya membenarkan. Kebiasaan mencatat ini terbawa sampai sekarang. Sudah belasan tahun lamanya. Tidak ada yang berubah, kecuali judul film, tahun, dan teman menonton. Nothing changes except the change itself.

Also, there is nothing special about this habit. Hanya saja, buat saya rasanya menyenangkan ketika kepingan memori bisa hadir tanpa perlu diminta. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Makanya, saya senyum saja, tanpa bereaksi atau berpartisipasi, saat melihat gambar-gambar meme film Finding Neverland. Ini film pertama yang saya tonton berdua dengan salah satu mantan pacar.

Alih-alih merasa seru nonton Pearl Harbor. Kalau ada film ini di TV, saya ketawa, ingat dulu nonton film ini rame-rame ber-10 dengan bawa roti, keju, dan sate. Nonton Mamma Mia! sambil nyanyi-nyanyi satu bioskop, dan melongok keheranan, “Bok, ini cowok-cowok pada bisa sing along lagu-lagunya ABBA semua!”

Demikian pula saat mengejar film Mystic River ke Malaysia karena main duluan, atau nonton He’s Just Not That Into You di bioskop berdua, beberapa hari sebelum putus.

Pas ‘kan? Pas bener.

Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com
Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com

Judul-judul film di atas tidak ada satu pun yang saya nilai 10 dari 10, 100 dari 100, 5 bintang dari 5 bintang. Tidak merasa perlu juga mengkoleksi film itu di rak, seperti juga film-film lain yang cukup ditonton sekali atau dua kali.

But sometimes, it’s not about the film itself. It’s how you watch the film.

Dalam kesendirian, saya menikmati sensasi menonton The End of the Affair yang dilanjutkan dengan berjalan di bawah hujan, persis seperti filmnya. Lega rasanya ketika bisa legal dan sah nonton film 21 tahun ke atas di bioskop seorang diri nonton Ralph Fiennes telanjang bulat di Sunshine. Mual-mual melihat kekerasan di film The Piano Teacher tanpa ada orang di sebelah yang bisa dipukuli. Dan merasa dewasa sekaligus jumawa sebagai anak SD ketika bisa sendirian saja membeli tiket nonton Dead Poets Society.

Film yang kita tonton, konser yang kita datangi, buku yang kita baca, tempat liburan yang kita kunjungi, beberapa hal yang membuat waktu kita terasa lebih hidup, memang selayaknya patut dikenang. Mungkin kalau kita rajin merekam, kita tidak perlu lagi minum ginkgo biloba atau obat-obat perangsang memori lainnya.

Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com
Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com

Apakah itu tujuan saya membuat catatan itu? Nggak juga. Seneng aja. Movies keep me alive, kok.

Dan mungkin, orang-orang ini sempat merasakannya.

Nonton Bioskop

“Mau liat bekas bioskop pertama di Sulawesi Tengah?”

“Mau! Emang dulu di sini ada bioskop?”

“Iya. Jadi bioskop pertama di Sulawesi Tengah itu ada di Donggala. Dulu orang rame-rame ke mari naik angkutan sapi. Jauh-jauh dari kabupaten lain, dari Palu juga, semua pada ke Donggala untuk nonton bioskop.”

“Terus, sekarang jadi apa gedungnya?”

“Tempat penyimpanan kopra.”

“Emang udah lama ga ada bioskop?”

“Kalo di Palu, mulai 2006 ga ada bioskop. Kalo di Donggala ini, sudah dari awal 2000-an.”

Mobil jalan pelan-pelan menyusuri jalan-jalan kecil yang banyak warung.

“Mana gedungnya?”

“Itu di depan!”

“Yang mana?”

“Itu! Lihat jendela kecil itu? Dulunya itu loket tempat orang beli karcis bioskop.”

Saya terdiam.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.
Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Adegan di atas, sayangnya, bukan usaha untuk meniru film Cinema Paradiso, karena tidak ada alunan musik Ennio Morricone yang tiba-tiba terdengar saat kami mengambil foto di atas. Atau bukan juga adegan dari film-film lain yang mengusung romantisme bioskop tua, seperti layaknya Jim Carrey di The Majestic atau film klasik The Last Picture Show.

Adegan di atas adalah kisah nyata yang terjadi saat saya datang ke Donggala tahun lalu. Kami hadir untuk memberikan workshop film pendek ke komunitas penonton dan pembuat film di Palu, salah satu kota di Indonesia yang aktif mengadakan kegiatan pemutaran dan diskusi film, meskipun kota ini tidak punya bioskop.

Saya harus mengulang-ulang lima kata terakhir di atas. “Kota ini tidak punya bioskop”. Buat kita yang terbiasa dengan ajakan “eh, nonton yuk?”, apakah akan ada ajakan serupa kalau tidak ada bioskop? Mungkin tidak, tapi bisa tergantikan dengan yang lain.

Sementara buat saya dan beberapa orang, bioskop menawarkan pengalaman lain selain menonton film.

Bioskop menjadi tempat adu keberanian: dalam kegelapan, berani gak pegang tangan orang yang baru diajak kencan?
Di bioskop, bisa jadi kita papasan dengan mantan pacar yang sudah jadian lagi, sementara kita masih sendirian.
Bioskop menjadi pilihan untuk terhindar dari kejamnya macet sore hari.
Bioskop selalu menjadi tempat yang tidak bikin kita mati gaya di akhir pekan.
Seorang ayah bisa berjanji untuk mengajak anaknya nonton film superhero di bioskop setelah terima rapor.
Bioskop jadi tempat kopi darat yang aman dan netral buat pelaku online dating ketemuan pertama kali.
Bioskop bisa jadi tempat buat sebagian orang sekedar menaruh pantat dan tidur sejenak di sela-sela kerjaan yang menumpuk.

Bioskop jadi alasan buat saya untuk sekedar keluar dari rumah.

Bioskop memang sedang di ujung tombak kematian. Gempuran berbagai macam jenis hiburan di layar yang semakin mengecil, terutama dalam genggaman tangan kita, semakin membuat kita dimanjakan dengan kemudahan. Soon, cinema will be an extinct word that belongs to the past.

Romantisme bioskop mungkin akan jadi kenangan. Apalagi buat saya dan beberapa dari Anda yang senang menghabiskan waktu di bioskop, kelak kita hanya bisa cerita tentang bioskop dari replika foto masa lalu.

Dan di saat itulah, seperti juga yang terlihat di foto di atas, akhirnya kita takluk pada satu istilah salah kaprah yang sudah mengakar selama ini: “nonton bioskop”.

My Best Friend’s Wedding

Judul tulisan ini memang mirip dengan film komedi romantis yang dibintangi Julia Roberts dan Cameron Diaz di tahun 1997. Judul yang generik sebenarnya, karena kalimat itu bisa saja mengacu pada keadaan yang sebenarnya, yaitu pernikahan sahabat kita. Dan memang hal itulah yang berkecamuk di pikiran saya dalam beberapa hari ini, yang sempat membuyarkan segala konsentrasi dalam pekerjaan, maupun keharusan menulis di linimasa ini.

Teman saya, Agee, akan menikah besok.
Tidak ada kata “akhirnya” di kalimat itu, meskipun keputusan menikah dicapai setelah mereka pacaran selama 9,5 tahun.
Sembilan setengah tahun. Angka yang saya ucapkan berulang-ulang dalam hati with a great disbelief. Apalagi karena saya harus membuat pidato singkat kepada mereka di acara sakral tersebut.

Mungkin berita ini terkesan sepele. Pernikahan, batal menikah, perceraian, batal bercerai, semuanya menjadi santapan kita sehari-hari. Saya pun sebenarnya ingin memilih sikap tak acuh seperti itu, kalau saja tidak ingat bahwa selama hampir satu dekade itu, saya selalu berada di sisi calon mempelai perempuan ini dengan segala “drama” yang ada.

Misalnya, melihat dia menangis nonton Star Wars Episode III di bioskop, sementara penonton lain tegang melihat Ewan McGregor dan Hayden Christensen adu pedang, karena dia beradu mulut dengan pacarnya sebelum film mulai di lobi bioskop.
Terisak-isak di tengah Shrek 3 karena terima SMS “it’s over!”, tapi jauh sebelum sekuel film itu dibuat, eh sudah jadian lagi.

Sempat saya bilang, “Kalau saja kamu dan pacarmu adalah film, ini mungkin lebih buruk dari film A Lot Like Love itu.”
Dia hanya terkekeh, dan bilang, “It’s different, babe. My life, this real life, is very much boring. I stick to one man for the past decade, because I want to spend my life with him. That’s all I know. I don’t quit. I make it work.

Mungkin dalam konteks film komedi romantis, karakter ini bisa kita temui di karakter Jules dalam My Best Friend’s Wedding, atau seperti peran Jennifer Aniston dalam The Object of My Affection (dan sebenarnya, hampir semua peran Jennifer Aniston di film-film lainnya).
Bedanya, karakter di film, apalagi rom-com, hanya mengalami temporary blindness alias “keblaen” dengan karakter lain hanya selama 2 jam, tapi dalam kehidupan nyata, perseverance and persistence can last a lifetime.

Dan dua sifat itulah yang akhirnya membedakan apa yang kita lihat di layar, dan apa yang kita jalani sehari-hari.
Sementara saya menjadi penonton pasif setia film-film di atas yang dengan niat mengumpulkan alamat tautan, kutipan dialog dan lagu soundtrack satu per satu untuk tulisan ini dan playlist di iPod, Agee dan orang-orang lain memilih menjadi sutradara untuk kehidupan mereka. Paling tidak, menulis skenario yang menjadi panduan sampai ke ending.

Cerita real life ini akan jauh berbeda dari reel life yang kita lihat di layar besar atau kecil.
Tidak ada musik latar yang mengiringi mereka ciuman sambil terburu-buru menghabiskan sarapan di pagi hari. Tidak ada editor yang tiba-tiba memotong adegan pertengkaran di malam hari. Tidak ada penata rias yang membuat orang tetap terlihat cantik dan ganteng tanpa bekas iler saat bangun tidur.

Tetapi bagi Agee, dan siapapun yang akan bersumpah untuk saling setia sehidup semati di hari ini, akhir pekan ini dan waktu-waktu yang akan datang, who cares?

After all, a lifetime begins when two people say “I do”.

A template for romantic comedy poster.
A template for romantic comedy poster.

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg
Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”