Akhirnya Pulang

(malam ke-28, Ramadan 1420 H)

“Kamu belum tidur?”

Andi mengadahkan kepalanya, lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Tanggung, sekalian kelarin unpacking ini. Kopernya ‘kan mau dipakai lagi lusa.”

Ali mengangguk kecil. Dia tersenyum. Bisa dibilang ini senyuman penuh kelegaan. Setelah dua tahun, akhirnya anak bungsunya mau merayakan Idul Fitri di hari pertama bersama-sama, bukan di beberapa hari setelahnya, seperti beberapa tahun terakhir ini.

Ali membuka pintu kamar anaknya lebih lebar.

“Ayah boleh masuk?”

Andi mengangguk.

Ali duduk di kasur anaknya, sambil merapikan baju-baju dari koper Andi.

“Tumben bawaan kamu agak banyak kali ini. Biasanya satu koper kecil juga masih ada sisa. Apa ini terusan kemarin kamu pergi kerjaan itu?”

“Iya. Sekalian aja, jadi gak perlu unpack lagi, terus packing lagi. Malah lebih capek.”

“Apa kamu gak perlu pulang ke rumahmu dulu?”

Deg. Andi terdiam sejenak. Oh God, don’t go there.

“Enggak, Yah. Nanti saja.”

Ali mengangguk kecil sambil menghela nafas, dan memaksakan tersenyum. Lalu dia melihat sekeliling kamar Andi. Lebih tepatnya, yang dulu menjadi kamar Andi. Sekarang kamar ini menjadi tempat penyimpanan barang sementara, terutama barang-barang milik almarhumah istri Ali yang masih sayang untuk dibuang.

“Kamu nggak papa ‘kan, kamar kamu jadi tempat Papa taruh barang-barang Mama kamu?”

Andi tersenyum. “Ya nggak papa lah, Yah. Daripada kamar ini nggak dipakai sama sekali. Lagian barang-barang almarhumah Mama ternyata banyak juga, ya.”

Almarhumah Mama. Dua kata yang buat Ali masih belum biasa buat diterima, meskipun sudah lebih dari lima tahun. Tapi jangan permasalahkan ini sekarang, ujar Ali dalam hati.

Andi melihat sekeliling kamarnya. Lalu dia melihat ke sebuah pigura foto di meja tulis. Foto hitam putih dalam pigura kecil warna coklat. Tertulis di bawah foto itu, “Ali & Nana, Auckland, 1973.” Andi berdiri dan mengambil foto itu.

“Aku kok gak pernah lihat foto ini ya, Yah.”

Andi menyerahkan foto itu ke ayahnya. Ali melihat dan tertawa kecil. “Ini waktu liburan musim panas. Ayah baru kenal Mama kamu di sana. Biasa, kalau di luar negeri, radar kita pasti tahu kalau ada orang Indonesia lain. Apalagi waktu jaman itu ‘kan.”

“Ayah, I have to say, you two really looked cool back then.”

Ali tertawa. “Ya kalau masih muda, bolehlah keliatan cool. Kalau sudah tua, mau keliatan cool malah kayak cool-kas nanti.”

“Idih, Ayah apaan sih garingnya.”

Ali masih tertawa.

Andi ikut tertawa, sebelum sengaja batuk kecil. “Yah, umm … Can I ask you something?”

Ali berhenti tertawa. “Apa, Ndi?”

How are you?”

Ali terdiam sejenak, sebelum berkata, “Ayah baik-baik saja, Ndi.”

I mean … Do you miss her?”

Ali tersenyum. “Ayah selalu kangen, rindu sama Mama kamu, Ndi.”

Andi mengangguk, tersenyum, memikirkan apa yang harus ditanyakan, sebelum akhirnya dia bertanya, “Boleh tahu, apa yang Ayah paling kangenin dari almarhumah Mama?”

Kali ini Ali diam lebih lama. Kepalanya sedikit menengadah ke atas, melihat langit-langit kamar.

tiger-hill

“Semuanya, Ndi. Ayah kangen masakan Mama kamu, ayah rindu jadi imam buat sholat bareng sama mama kamu, ayah juga kangen jalan-jalan sama mama kamu kalau lihat album-album foto lama. Tapi dari semua itu, ayah kangen pulang ke rumah. Ayah kangen ada orang di rumah saat ayah pulang dari masjid atau dari toko. Ayah juga kangen menunggu mama kamu datang dari pasar, dari pengajian, dari arisan. Itu, Ndi.”

Andi tercenung. Tanpa disadari tangannya mencengkeram kursi di meja tulis erat-erat. Ingatannya melayang ke beberapa hari sebelum dia melakukan work trip, di saat dia memilih pergi dari rumahnya daripada harus berkonfrontasi.

That’s nice. That’s nice, Yah. Tapi … apa Ayah pernah bosan di rumah dengan almarhumah Mama? Sorry Yah, but I mean … don’t you guys ever have a fight, or something?”

Ali tersenyum. “Ingat, Ndi, dulu kita beberapa kali pergi berdua, tanpa kakak-kakakmu, kita pergi ke taman bermain? Lalu setelah pulang, ayah selalu belikan buku baru buat kamu, supaya kamu bisa baca di mobil atau di masjid, sementara ayah pergi sebentar?”

Andi mengangguk.

“Saat kamu di mobil atau di masjid itu, ayah biasanya pergi sejenak. Makan sendiri di restoran. Duduk di taman. Ayah perlu waktu sendirian. Terutama kalau setelah ayah beradu argumen dengan mama kamu. Ayah tulis semua kekesalan ayah dengan mama kamu. Tapi ayah tetapkan waktu tidak mau berlama-lama. Ayah tahu kamu biasanya selesai membaca dalam waktu setengah jam, jadi ayah harus selesai menulis semua kekesalan ayah dalam waktu setengah jam juga. Tidak gampang, Ndi, di awalnya. Lama-lama jadi kebiasaan juga. Lama-lama juga, ayah dan mama kamu sudah bisa mengendalikan emosi. Perlu waktu, memang. Dan kamu tahu kenapa ayah cuma punya waktu setengah jam menulis semua kekesalan itu?”

Well, you needed to return me home ‘kan, yah?”

“Dan ayah perlu pulang juga. Sebesar-besarnya ayah dan mama kamu cekcok, ayah dan mama selalu pulang ke rumah. Kalau masih marah, sebisa mungkin ditahan dulu. Ayah dan mama dulu sepakat, kalau masih marah, bisa dilanjutkan besok. Malamnya harus tidur bersama, dan tidak membawa kemarahan ke atas kasur. Tidurnya nggak tenang. Baru setelah bangun esok pagi, ada energi baru. Kalau masih marah, boleh dilanjutkan, selama nggak lebih dari 3 hari. Kalau malas dilanjutkan, toh masih banyak yang harus dikerjakan.”

Andi hanya mengangguk.

“Ndi, kalau ada orang yang menunggu kita pulang ke rumah, artinya kita masih dibutuhkan dan diperlukan keberadaan kita. Kalau kita berada di rumah menunggu orang pulang, artinya kita masih punya sesuatu yang diharapkan atau dituju. Atau di istilah yang pernah ayah baca, something to look forward to each and every day. Kesempatan ini ternyata tidak selalu ada, Ndi. Kalau ada, jangan sampai disia-siakan. Kalau belum ada, kamu harus tetap percaya kalau kamu akan punya kesempatan ini, Ndi.”

Andi terdiam. Matanya mulai berat menahan luapan emosi.

Ali menghela nafas panjang. Lalu dia berdiri.

“Ayah tidur dulu ya, Ndi. Besok masih sahur.”

Andi mengangguk, menutup pintu. Dia duduk di atas kursi dekat meja tulis. Tangannya mengusap-usap bagian atas bibir, sambil berpikir.

Andi mengeluarkan ponsel yang telah selesai di-charge. Dia mulai mengetik.

I am sorry. Can I still come home to you?”

Andi menekan tombol Send. Andi menghela nafas panjang, lalu menutup muka dengan kedua tangannya.

Lima menit kemudian, ponsel bergetar. Andi melirik ke notifikasi di layar ponsel.

Andi tersenyum.

 

Returning-Home

Advertisements

Jakarta, Hari ke-49

DEAR diary, enggak terasa ya, kalau dihitung-hitung ternyata sudah sebulan lebih berada di Jakarta. Hampir dua bulan malah. Menjadi salah satu penghuninya. Dan makin ke sini, ada makin banyak hal yang akhirnya dialami, dirasakan, dan diketahui sendiri, meski masih belum ada apa-apanya. Masih banyak yang menanti untuk dieksplorasi. Baru kemarin sore, istilahnya.

Yang pasti, terasa menyenangkan, sampai sejauh ini. Soalnya, dimulai dengan bertemu banyak orang dan berhadapan dengan aneka ragam sudut pandang, baik yang sejalan maupun berseberangan. Semuanya benar-benar memperluas wawasan dan cara pandang.

Namanya juga di kota orang, di lingkungan yang baru dan perlu dikenali lebih jauh. Supaya bisa bertahan.

Terus, rasa-rasanya kota ini cocok bagi para penyendiri. Cocok, karena ada begitu banyak sudut dan situasi yang bisa dinikmati seorang diri. Mulai mal, pertunjukan dan galeri seni, sampai taman-taman kecil di pinggir kali. Bahkan hanya dengan jalan kaki, dari Menteng sampai Gunung Sahari.

IMG_0493

Aktivitas-aktivitas yang dianggap aneh bila dilakukan sendirian di kota kampung halaman, di Jakarta malah terasa lebih menyenangkan. Seperti nonton di bioskop, ngafe, baca buku di mana saja, datang ke pameran-pameran seni aneka media, olahraga, keliling kota, dan lainnya.

Akan tetapi, ada juga beberapa teman–orang sini–yang enggan berteman dengan sepi. “Jakarta is not suitable for the solitudes,” begitu katanya. Saya angguk-angguk saja. Lagipula keriuhan di kota ini seakan tak pernah mati. Paling-paling rehat sejenak, untuk kemudian berlanjut kembali. Tinggal perkara siapa yang menikmati, siapa yang protes dan pasang spanduk besar tinggi-tinggi, dan yang tidak acuh lantaran masih ada kesibukan lain.

IMG_0228

Salah satu keriuhannya itu seperti di jalan raya. Hampir sebagian besar pengendara di Jakarta, kayaknya, suka banget pencet klakson, entah apa pun tujuan dan maksudnya. Seolah dengan memencet klakson panjang-panjang atau pendek namun berulang-ulang, beban hidup mereka berkurang. Seneeeng banget. Padahal, dampaknya enggak signifikan juga. Arus kendaraan padat merayap, ya tetap aja padat dan merayap.

Padahal kan ya, klakson adalah perangkat penghasil bunyi-bunyian dengan desibel cukup tinggi yang berfungsi sebagai media komunikasi antarpengendara di jalan raya. “Pesan” yang disampaikan pun cenderung netral. Seperti, untuk memberi tanda keberadaan kita kepada pengemudi lain agar tidak salah bermanuver, maupun kepada pejalan kaki dan pesepeda yang terlalu dekat dengan badan jalan.

Alih-alih dijadikan media komunikasi, klakson dijadikan banyak pengemudi Jakarta sebagai perpanjangan mulut untuk meneriaki orang lain, bisa menyulut emosi dan membuat perjalanan jadi tidak terlalu menyenangkan, atau dianggap semacam alat ajaib yang mampu mempercepat perjalanan. Salah satunya, bayangin aja, lampu lalu lintas baru berubah jadi hijau, pengendara di bagian tengah dan belakang antrean membunyikan klakson panjang. Seolah-oleh pengemudi di bagian depan ketiduran, atau sedang masak Indomie goreng dengan cara digoreng kembali. Enggak sopir mobil atau pengendara motor. Sama.

Pernah iseng beberapa kali nih, diary, mengendarai motor teman mengarungi jalanan Jakarta dalam jarak belasan kilometer. Rasanya asyik-asyik aja sih. Padat ya padat, tapi enggak sampai bikin pengin nglaksonin orang-orang. Tapi enggak tahu lah ya, mungkin itu cuma perkara suasana hati.

Waktu bawa motornya teman saat itu, kita mau pergi makan. Ya namanya juga Jakarta ya, pilihan makanannya buanyaaak banget. Ada yang benar-benar enak (di lidah orang pendatang), dan ada juga yang cukup enak (meski enggak seheboh yang dikatakan). Semuanya beragam. Harga, rasa, nama, dan rupa. Mulai fine dining tiga sampai lima courses ditambah wine tasting, sampai makan pecel lele garing di pinggir jalan dengan lalapan yang bakal terasa makin enak kalau kolnya digoreng.

Yang pasti, meski tidak masak sendiri, masih bisa kok pasang bujet Rp 50 ribu untuk makan sehari. Tiga kali, malah. Apalagi di hari kerja. Kalau sudah akhir pekan, baru deh tuh bisa bablas-bablas dikit. Tetap disesuaikan kemampuan dan kapasitas perut juga lah. Mau makan sebanyak apa sih memangnya?

Tahu gak sih, diary, dari semua ini, ada satu hal yang penting dan pasti. Ternyata, dengan hampir dua bulan di sini, bikin merasa lebih bersyukur. Setelah sadar betapa beruntungnya orang-orang yang punya kelegaan dan keleluasaan, sehingga masih bisa memilih, hampir apa saja. Termasuk yang dilakukan pengamen, dengan memilih untuk mengembalikan duit cepek kepada pemberinya. Ndaktau ya, apakah dia tersinggung diberi segitu, atau memang duit cepek enggak ada artinya di Jakarta. Hahahaha!

Ya… mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari segala bentuk keterbatasan. Syukur-syukur kalau bisa membantu yang lain bebas dar keterbatasannya sendiri.

Itu dulu aja deh ya, diary.

Sampai kapan-kapan lagi.

[]

Sangat wajar bila tulisan ini dianggap terlalu prematur, agak terburu-buru, sotoy, hanya didasarkan pada temuan-temuan yang situasional, pretensius, terkesan berlebihan alias lebay, socioeconomically incorrect, dan sebagainya. Subjektif, sebabnya.

No. 52

Beberapa minggu yang lalu, saya membaca buku “Every Day” karya David Levithan. Buku ini cukup menarik. Karakternya tak bernama, sampai-sampai si karakter harus menamai dirinya dengan huruf A saja. Kenapa dia tak bernama? Karena dia hidup sebagai orang yang berbeda-beda setiap harinya. Saat bangun tidur di pagi hari, dia mendapati dirinya hidup di tubuh orang lain. Dia akan menjalani sehari penuh sebagai diri orang lain itu, sebelum kemudian dia tidur dan menjalani hidup sebagai orang yang lain lagi. Mau pria, perempuan, tua, muda, gay, straight, kurus, gemuk, menikah, lajang, setiap hari A selalu bangun tidur untuk mencari tahu siapa dirinya di hari itu. Anehnya, jiwanya selalu sama. Dan jiwa yang sama ini yang membuat kita terus membaca buku ini sampai tuntas. Meskipun ending yang dipilih penulis tidak terlalu istimewa, paling tidak rasa penasaran kita terus terjaga.

Every Day by David Levithan
Every Day by David Levithan

Kalau Anda pernah menonton serial “Quantum Leap” di SCTV pada pertengahan 1990-an, maka Anda pasti tahu bahwa ada kemiripan antara serial televisi dan buku ini. Memang, keduanya nyaris serupa. Bedanya tipis sekali. Kalau “Quantum” sering kali meloncat ke historical events dalam dekade yang berbeda-beda, maka lompatan “Every Day” cukup terjadi dalam runtutan waktu sesuai kalender, dan dalam jarak lokasi yang kerap kali berdekatan. Tapi yang jelas, keduanya mempunyai kesamaan. Karakter utama di masing-masing cerita, baik “A” di “Every Day” atau Dr. Sam Beckett di “Quantum Leap”, harus menjalani hari sebagai orang lain setiap harinya. Hari mereka tidak akan selesai sebelum mereka bangun keesokan harinya (untuk “A”), atau setelah misi mereka selesai (untuk Dr. Sam Beckett).

Serial "Quantum Leap"
Serial “Quantum Leap”

Baik “Every Day” atau “Quantum Leap” memang cerita fantasi. Dan mungkin, demikian pula dengan Linimasa ini.

Saya tidak tahu apakah Roy Sayur pernah membaca buku atau menonton serial yang saya sebutkan di atas. Sepertinya belum. Entahlah. Sampai saat ini saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Entah apa pula yang membuat dia nekat mengajak saya bergabung di Linimasa ini 53 minggu yang lalu.

Tapi yang saya lihat, ada sedikit persamaan antara (tampilan) Linimasa ini dengan kedua cerita di atas. Setiap hari, kita melihat dan membaca satu tulisan di halaman muka Linimasa. Baik dari ponsel, tablet, atau laptop, ketika kita buka Linimasa.com, hanya ada satu tulisan di satu hari yang ditampilkan. Suka tidak suka, mau tidak mau, itulah cerita yang kita baca untuk mengawali hari.
Demikian pula dengan tulisan ini. Inilah tulisan yang akan mengawali hari kita semua di hari Kamis tanggal 27 Agustus ini. Tentu saja Anda bisa membaca tulisan lain, mulai dari kolom komentar di bawah sampai di bagian arsip, tapi itu bisa dilakukan setelah Anda terpapar dengan satu tulisan di muka. Bukan tulisan yang lain.

Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)
Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)

Sometimes we cannot choose what to begin our day with. Most of the times, we just fall for it. But how we deal with it, that’s another matter.

Kadang kita bangun dengan kesal karena mimpi buruk, kadang kita bangun dengan senyum karena mimpi bagus. Kadang kita sarapan dengan roti gosong, kadang kita sarapan dengan air putih saja sambil terburu-buru.

Kadang tulisan kami bisa membuat Anda tersenyum, sering kali membuat Anda berpikir, “apa siiih?” Kadang tulisan kami bisa membuat Anda terharu, tapi lebih sering membuat Anda manggut-manggut tanpa ekspresi.

Toh perbedaan itu yang membuat kita menjalani hidup. Tidak ada hari yang sama. Rutinitas boleh sama, tapi tidak ada hari yang sama persis seperti hari sebelumnya.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.
Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Saya tidak bisa berkata atas nama penulis yang lain. Tapi setiap hari, Anda pasti merasakan perbedaan dari kami. Glenn mengamati keadaan sekitar dengan cermat. Gandrasta selalu bisa menampilkan sensasi yang masih ada isi. Agun meneliti budaya pop dengan baik. Dragono menulis pemikiran mendalam tentang kemanusiaan yang hampir selalu bersifat Zen. Saya suka mengawang-awang. (Dulu) Farah menampilkan jelajah pikiran anak muda yang banyak maunya. Sekarang Leila menampilkan tulisan khas tentang hidup yang praktis dan taktis. Roy senang bermimpi. Dan Anda masih membaca sampai sekarang.

Minggu lalu adalah tulisan saya yang ke-52, yang artinya sudah 52 minggu (sekarang 53) saya menulis setiap Kamis tanpa jeda. Sudah setahun penuh.
Hari Minggu kemarin, empat dari kami bertemu untuk makan siang. Tidak semuanya bisa ikut, memang, karena kesibukan dan keperluan masing-masing. Tapi itulah namanya kehidupan, tidak bisa dipaksakan meski telah direncanakan. Dan kami hanya bercerita sambil bercanda. Toh tidak ada yang perlu dirayakan terlalu berlebihan. Apalagi tepat di hari ulang tahun Linimasa kemarin, mata uang kita terpuruk, sementara tak kurang dari tiga stasiun televisi nasional juga berbarengan merayakan hari jadinya masing-masing.

It cannot be more random than that. But that’s life.

Half-full glass

Tulisan di Linimasa.com tidak ada yang sempurna. Ada pengulangan, dan kadang ada kontradiksi antara satu sama lain. Tapi yang jelas, semuanya berwarna.
Dan ketika Anda memilih untuk mengawali hari dengan membaca tulisan kami, maka kami merasa tugas kami telah selesai di satu hari. Untuk itu kami ucapkan:

Terima kasih.

Sampai jumpa lagi besok.

Pokhara, Nepal
Pokhara, Nepal

Skeptis Manis

Pernah makan buah lai? Kalau pernah, berarti Anda sudah tahu rupa, aroma, rasa, dan tekstur daging buahnya. Tapi kalau belum, ehm, saya coba jelasin ya.

Buah lai terlihat sama seperti durian pada umumnya. Bayangkan buah durian, kulit luarnya berduri cukup tajam. Untuk membukanya, kita memerlukan parang kecil atau pisau daging dengan lempengan besi yang cukup tebal. Dibelah dari pangkal buah, bekas tempat menempel pada ranting. Kecuali kalau Anda sudah lihai, atau punya bekal ilmu kebal, atau punya kulit telapak tangan yang jauh lebih tebal dibandingkan orang kebanyakan, silakan langsung buka kulitnya pakai tangan kosong. Biar lebih gereget. Setelah lai terbuka, Anda bisa menemukan daging buah lai, tertata rapi di penampangnya. Siap dicomot, dan siap mbok emplok.

Berbeda dengan durian, lai memiliki warna kulit luar yang lebih oranye. Rona serupa juga terlihat pada daging buahnya, jauh lebih cerah ceria ketimbang daging buah durian yang umumnya kuning pucat.

Selain itu, Anda juga bisa menemukan perbedaan mendasar antara lai dan durian dari aroma, rasa, dan tekstur daging buahnya. Para pelahap durian pasti sudah akrab dengan aromanya yang kuat. Sama akrabnya dengan orang-orang yang gampang mabuk durian, secara harfiah. Yakni mereka yang pusing dan mual setiap kali mencium baunya. Aroma buah lai lebih unik, dan cenderung lebih bersahabat dengan hidung khalayak banyak. Terbukti–setidaknya dalam kasus yang saya temui selama ini, mereka yang tak sanggup menghirup udara dengan bau durian di dalamnya, ternyata oke-oke saja dengan bau lai. Sekilas namun tetap kuat, aroma lai lebih mirip bau mangga. Wangi sekali.

Bukan aromanya saja yang mirip mangga. Bagi saya, daging buah lai memiliki rasa yang khas. Gabungan antara manisnya irisan Mangga Arumanis, dan rasa daging buah durian yang matangnya pas-pasan. Karakteristik ini pula yang membuat daging buah lai bisa diterima lebih banyak orang, ketimbang rasa daging buah durian.

Perbedaan terakhir ada pada tekstur daging buahnya. Sejauh ini, salah satu masalah yang lumayan mengganggu ketika menyantap durian adalah daging buah yang terkesan benyai alias benyek, terlalu lembek, basah, bisa lumer menempel di jari, dan serat daging buah selalu melekat pada biji. Itu sebabnya, salah satu cara paling efektif dan efisien untuk menghabiskan sepotong daging durian adalah memasukkannya bulat-bulat ke mulut. Setelah itu, bergantung pada keahlian si empunya mulut memberdayakan gigi dan lidah layaknya sebuah tim; bekerja sama menggaruk daging buahnya, menyisakan biji durian yang licin mengilap. Sampai-sampai ada yang bilang, orang yang doyan durian punya lidah yang cukup terlatih.

Nah, daging buah lai memiliki tekstur yang jauh lebih kering, agak liat, dan kalis. Bahkan terhadap bijinya sekalipun. Menyantap buah lai jauh lebih mudah, way less messier, kering, dan bisa hanya dengan digigit saja.

Lalu, bisa muncul pertanyaan: “kalau lai begitu, kenapa kok tidak sepopuler durian? Saya saja belum pernah lihat.” Jawabannya, karena lai adalah buah endemis khas Kalimantan, terutama di Kaltim bagian tengah, juga di Kaltara. Musimnya pun hanya sekali dalam setahun, kalau ndak salah. Boro-boro diboyong ke pulau Jawa dalam jumlah cukup banyak, lah untuk konsumsi lokal saja seringkali pas-pasan. Saya bisa habis sebutir lai, sendirian. Ehehehehe

Sekian, tentang buah lai.

Oh, bukan. Piket hari ini bukan untuk mempromosikan buah lai.

Saya memang sudah menulis berparagraf-paragraf penjelasan dan deskripsi mengenai lai, lengkap dengan fakta pembandingnya terhadap durian. Tujuannya agar Anda, para pembaca yang dermawan (karena telah bersedia menyisihkan waktu dan perhatian), lebih mudah membayangkan beberapa aspeknya.

Efeknya, ada dari Anda yang langsung percaya tentang buah lai. Memunculkan rasa penasaran atau keinginan mencicipi buah yang pohonnya bisa setinggi 20-an meter itu. Tidak mustahil ada yang kepengin banget, saking kuatnya membayangkan aroma, rasa, dan tekstur buahnya. Meskipun barangkali hanya sedikit sekali.

Bagaimanapun juga, Anda yang belum pernah melihat dan merasakan buah lai jangan sampai lupa, bahwa Anda baru sekadar “mendengar” saya berkoar. Realitasnya, sebelum Anda melihat fisik buah lai secara langsung, tetap ada kemungkinan saya melebih-lebihkan cerita, atau bahkan berdusta, kalau jahat. Ndak ada yang tahu isi hati orang, kan?

Menambah bumbu cerita, biar lebih heboh dan laris jualannya, juga supaya terkenal. Manuver komunikasi dan kontak sosial yang lumrah dilakukan beberapa abad belakangan ini.

Sementara itu, silakan diamati. Apa yang terjadi di sekitar kita kini malah lebih parah. Yakni ketika sang penutur, atau mungkin “penjual” terselubung, tidak cuma berusaha membuat sebanyak-banyaknya orang percaya kepadanya demi kepentingan pribadi. Melainkan juga memaksa orang lain untuk turut percaya. Memaksa, berarti menggunakan ancaman, menakut-nakuti, mengintimidasi, meneror, termasuk lewat kekerasan. Padahal, kalaupun sang penutur ingin mati-matian memaksakan ceritanya tentang buah lai, orang lain tetap berhak menolak percaya lantaran memang belum pernah mencicipinya sendiri. Wajar kan.

Okelah si penutur mengaku pernah mengecap rasa buah lai dengan lidahnya sendiri, tapi tetap ndak mungkin dong dilakukan “transfer rasa dan pengalaman” untuk membuat orang lain percaya. Memangnya pakai French Kiss? Apabila ada yang percaya, kemudian terlibat saling silat lidah demi pembuktian rasa, boleh disebut dungu, kan? Sama dungunya dengan percaya modus operandi gombalan para cowok: “Kamu cinta sama aku enggak, Beyb? Kalau cinta, ‘buktiin’ dong.” Hati-hati mulut lelaki.

Lanjut…

Bentuk keparahan yang lain adalah saat si penutur menghimpun pengikut; sekelompok orang yang dengan sukarela menghina serta mengacaukan orang lain, bila mereka tak percaya pada hal sama. Berdebat tentang topik yang tidak penting, setidak penting soal cowok yang mencukur gundul bulu ketek, misalnya. Pertentangan antara kenyamanan berketiak mulus dan simbol maskulinitas.

Akhirnya, mempercayai sesuatu atau tidak, kembali pada pilihan sendiri-sendiri. Akan tetapi, kita adalah manusia dengan akal budi. Diberi kemampuan berpikir, energi untuk melakukan pembuktian, serta intuisi untuk memutuskan sesuatu dengan sebenar-benarnya. Lengkap dengan konsekuensi masing-masing. Toh, tak selamanya kita menjadi seorang anak kecil, yang baru bisa tertidur setelah dibacakan dongeng-dongeng fantastis, atau kelelahan setelah ditakut-takuti soal momok yang bisa muncul dari kolong ranjang. Semenyengankan atau semenakutkan apapun kesan yang ditinggalkan, kebohongan ya tetap saja kebohongan.

Manusia berhak bersikap skeptis, dan itu lebih baik ketimbang kadung heboh, panik, ngamuk, emosional, dan sejenisnya, untuk sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Dibikin kecele. Merugikan orang lain, dan diri sendiri.

Jangan sudi dimanfaatkan orang lain, yang ngakunya ndak bohong.

[]

Anyway, saya ndak bohong kok soal lai. Ini fotonya. 😛

Oh ya, jangan lupa, Linimasa ingin menutup 2014 dengan berbagi inspirasi. Ada beberapa paket DVD, original, dengan judul-judul istimewa yang bisa Anda menangkan lewat cara sederhana: menulis dan membagi cerita.

Caranya, bisa dilihat pada posting-an ini.

650 Kata

Kapan terakhir kali Anda langsung tertidur pulas, kala tubuh sudah menempel di atas kasur?

Kapan terakhir kali Anda bangun dengan nyaman, tanpa langsung deg-degan dengan setumpuk kegiatan yang harus dilakukan?

Kapan terakhir kali Anda tersenyum pada diri sendiri, di hadapan cermin?

Kapan terakhir kali Anda tanpa sengaja merasakan lembutnya embusan napas, yang menyentuh ujung lubang hidung?

Kapan terakhir kali Anda hidup, untuk hidup?

***

Teringat salah satu poin dalam tulisan Ko Glenn; “Enough is Enough”. Saat generasi pekerja masa kini, merasa tenggelam dalam keletihan dengan mudahnya. Berbanding terbalik dengan perjuangan keras orangtua mereka dan orangtuanya orangtua mereka, yang bisa jadi jauh lebih memprihatinkan ketimbang saat ini gara-gara politik sanering, dipaksa eksodus besar-besaran karena keadaan, dan berbagai keterbatasan lainnya. Naga-naganya, saya adalah salah satu dari kelas pekerja yang mudah berkeluh kesah itu. Digenjot sedikit, sudah angkat tangan. Tapi enggan kalau belum mapan.

***

Hidup?

Melelahkan memang, hidup di masa yang serba materialistis seperti saat ini. Ketika kontradiksi tersaji setiap hari. Pertentangan terus terjadi antara keinginan dan beban. Antara harapan dan kenyataan.

Ajaran-ajaran moralitas mendorong semua pengikutnya untuk selalu bersyukur, berterima kasih atas segala berkah dan anugerah hidup, memetik hikmah dan nilai moral dari setiap peristiwa, benar-benar menikmati proses yang terjadi, serta selalu berpikir dan bersikap tenang dalam segala situasi. Sementara tuntutan hidup modern mendorong semua orang untuk tidak mudah merasa puas, tak pernah bercokol dalam zona nyaman, mengejar eksistensi diri setinggi-tingginya, fokus pada hasil, mesti selalu tertantang untuk melakoni moto “hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini, dan seterusnya”, menetapkan target-target pembuktian kesuksesan hidup berdasarkan anggapan umum, serta berambisi untuk mencapainya.

Semua tuntutan itu menempatkan kemiskinan dan kebodohan sebagai salah satu momok menakutkan. Hantu Blawu yang meninggalkan coreng-moreng memalukan. Benar aja sih. Siapa yang mau miskin harta dan kecerdasan? Termasuk orang-orang kelompok pertama sekalipun. Yang selama ini selalu dibiasakan untuk tetap mampu menjalani hidup, apa pun keadaannya, dengan prinsip: “ndakpapa miskin atau bego, yang penting bahagia, cukup, mau usaha, ndak ngemis, ndak maling.” Sebuah sikap batin yang sejatinya kaya.

Ditimbang-timbang, sebenarnya tak ada yang salah dari cara pandang keduanya. Sama-sama berfaedah bagi kesejahteraan batin maupun jasmani. Kesalahan hanya terjadi apabila anggota kelompok pertama malas berusaha, berpangku tangan pada keadaan, menjadikan nasib sebagai alibi. Kemudian, kesalahan dilakukan orang-orang kelompok kedua bila menggunakan segala cara untuk melancarkan tujuannya. Mencederai kepatutan, tidak memberikan ruang hati untuk simpati sama sekali. Terkenal dengan celetukannya: “di dunia ini cuma ada dua keadaan: mengalahkan atau dikalahkan!”

Terserah Anda, ingin menjadi bagian dari kelompok pertama yang relatif tampak lebih adem ayem, atau menjadi bagian dari orang-orang yang cenderung gelisah mengejar keberhasilan. Barangkali ada yang tertantang berpindah, dari kelompok pertama menjadi kelompok kedua. Karena bekerja terlalu gontai. Ataupun ada yang tersadarkan untuk menjalani hidup yang lebih tenteram. Karena selalu tegang. Kendati pada kenyataannya, ada banyak orang yang hidupnya memang terkesan seimbang. Berkecukupan, namun tetap mampu selow berkehidupan. Apa rahasianya? Entahlah. Langsung tanya mereka saja.

Lalu, apa tujuan dari tulisan ini? Sejujurnya, saya ndak tahu pasti. Setiap orang punya kehidupannya masing-masing. Lengkap dengan daftar tanggung jawab dan hak yang semestinya tidak boleh diintervensi, apalagi dihakimi. Sebab semuanya dibarengi dengan konsekuensi.

Yang pasti, tulisan ini tidak dibuat seolah untuk menjadi pelepas dahaga di tengah gurun kekeringan, penyegar iman di tengah badai keraguan, penguat keyakinan di tengah kabut ketidakpastian. Ini hadir sebagai jeda dari hiruk pikuk hari Rabu Anda pekan ini, mengisi waktu saat berada di dalam kendaraan umum, pengalih pandangan dan perhatian dari segudang agenda kerja, estafet rapat dengan orang-orang asing, maupun setumpuk dokumen yang perlu Anda input dalam kolom-kolom Excel. Toh, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, kan? Jadi agak kurang elok rasanya, bila tulisan ini dibuat untuk sok menasihati. Anda–yang baca, saya yakin juga sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir sendiri. Dan itu adalah satu-satunya fakta yang kerap Anda lupakan, dan dimanfaatkan para motivator. Hehehe…

***

Ke dermaga mencari peti,

Peti dibuka, isinya kedondong.

Jangan drama jalani hari,

Biar enak, senyum dulu dong.

[]

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg
Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”