Buku(-Buku) Tahun Ini

Kalau saya hanya boleh mengutip satu buku saja dari beberapa buku yang saya baca tahun ini, maka mau tidak mau saya akan hanya bisa mengutip bagian terakhir dari buku berjudul “The Humans” karya Matt Haig. Kenapa? Karena di bagian ketiga buku ini, Matt Haig membuat daftar bertajuk “Advice for a Human” sebanyak 97 poin. Saya menyebutnya sebagai manifesto kehidupan.

Kalau beberapa poin terkesan seperti ‘menggurui’, mungkin itu memang disengaja oleh penulisnya. Lagi pula, poin-poin ini masih sesuai dengan sudut pandang karakter utama yang menjadi narator novel ini, yaitu “seorang” alien yang datang ke bumi, menyamar menjadi profesor dengan jenis kelamin laki-laki. Kedatangan alien ke muka bumi untuk, seperti tipikal cerita fiksi ilmiah kebanyakan, menghancurkan kehidupan umat manusia. Namun dalam penyamarannya, alien ini malah takjub dengan flawed characteristics of human beings, dan jatuh cinta dengan cara manusia menjalani kehidupannya.

71VpFLTP-bL

Kalau terdengar klise, memang novel ini klise. Tidak ada yang baru. Tapi bukan berarti hal itu menjadikan novel ini tidak layak baca. Justru sebaliknya. Bab demi bab dihadirkan dengan mulus dalam jalan penceritaan, membuat kita susah berpaling. Seperti layaknya buku cerita yang baik, dengan mudah kita jatuh cinta pada karakter utama, dan rela mengikuti perjalanan beratus-ratus halaman, sampai di bagian akhir.

Kalau tidak percaya, baca saja beberapa poin dari bab “Advice for a Human” di buku “The Humans” ini:

[one] Shame is a shackle. Free yourself.

[two] Don’t worry about your abilities. You have the ability of love. That is enough.

[four] Technology won’t save humankind. Humans will.

[five] Laugh. It suits you.

[nine] Sometimes, to be yourself you will have to forget yourself and become something else.

[eleven] Sex can damage love but love can’t damage sex.

[fifteen] The road to snobbery is the road to misery. And vice versa.

[twenty-two] Don’t worry about being angry. Worry when being angry becomes impossible. Because then you have been consumed.

[twenty-four] New technology, on Earth, just means something you will laugh at in five years. Value the stuff you won’t laugh at in five years. Like love. Or a good poem. Or a song. Or the sky.

[thirty] Don’t aim for perfection. Evolution, and life, only happen through mistakes.

[thirty-seven] Don’t always try to be cool.The whole universe is cool. It’s the warm bits that matter.

[forty-one] Your brain is open. Never let it be closed.

[forty-four] You have the power to stop time. You do it by kissing. Or listening to music. Music, by the way, is how you see things you can’t otherwise see.

[forty-six] A paradox: The things you don’t need to live – books, art, cinema, wine and so on – are the things you need to live.

[fifty-one] Alcohol in the evening is very enjoyable. Hangovers in the morning are very unpleasant. At some point you have to choose: evenings or mornings.

[fifty-three] Don’t ever be afraid of telling someone you love them. There are things wrong with your world, but an excess of love is not one.

[fifty-eight] It is not the length of life that matters. It’s the depth.

[sixty-one] One day, if you get into a position of power, tell people this: Just because you can, it doesn’t mean you should. There is a power and a beauty in unproved conjectures, unkissed lips, and unpicked flowers.

[sixty-five] Don’t think you know. Know you think.

[seventy-three] No one will understand you. It is not, ultimately, that important. What is important is that you understand you.

[seventy-five] Politeness is often fear. Kindness is always courage. But caring is what makes you human. Care more, become more human.

[eighty-two] If you think something is ugly, look harder. Ugliness is just a failure of seeing.

[ninety-five] Be kind to your mother. And try to make her happy.

[ninety-seven] I love you. Remember that.

Wow. There you go.

Bahkan saya sempat gemetaran sendiri saat menulis ulang poin-poin di atas. Padahal buku ini selesai saya baca di bulan Juni, namun efeknya masih terasa sampai sekarang.

Demikian juga dengan buku-buku lain yang membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya, yaitu “Less” karya Andrew Sean Greer dan “Spoiler Alert: The Hero Dies” karya Michael Ausiello. Bahkan judul kedua membuat saya diam-diam menitikkan air mata, walaupun sambil tersenyum.
Kok bisa?

Baca saja sendiri, ya. Mumpung cukup banyak waktu luang di akhir tahun.

Selamat membaca!

1_C76PXdoMXtysxqiwkS5iow

PS: Apa buku kesukaan Anda tahun ini?

Advertisements

Sepuluh Buku, Sepuluh Kutipan, Berpuluh-puluh Kali Lipat Kenangan

Book is timeless. Buat saya, ini artinya tidak perlu harus mengejar membaca buku baru yang dirilis di tahun yang sama. Masih dalam pemikiran saya juga, buku yang baik adalah buku yang menarik untuk dibaca kapan saja. Kalau perlu, lintas abad.

Buku-buku Balai Pustaka mulai saya baca waktu saya duduk di sekolah menengah. Artinya lebih dari tiga perempat abad setelah buku-buku itu diterbitkan pertama kali. Toh semuanya masih memikat untuk diikuti. Baik itu kisah pergolakan batin kakak beradik Tuti dan Maria, ataupun kisah Midun yang terus ditimpa kemalangan.

Begitu pula dengan tahun ini. Saat mulai menulis tulisan hari ini, dan melihat daftar buku yang saya baca sepanjang tahun, mendadak tersadar kalau sebagian besar buku-buku tersebut tidak dirilis tahun ini. Paling lama dirilis di awal tahun 1970. Hanya sebagian kecil yang dirilis tahun ini.

Toh 99% buku ini masih menyenangkan untuk dibaca. Baik tahun ini, tahun lalu, atau dibaca ulang di tahun-tahun yang akan datang. Book is always timeless. Rangkaian kata-kata yang diolah dan diramu menjadi cerita yang menemani kita dalam situasi apa pun, kapan pun.

Kalau tahun lalu saya merilis lima kutipan dari lima buku, maka tahun ini, dari 53 buku yang saya baca dari awal tahun sampai minggu ini, ada 10 buku yang meninggalkan kesan paling dalam. Tentu saja beserta kutipan yang membuat saya terus mengingat buku-buku tersebut. Ini dia:

The Orphan Master’s Son (penulis: Adam Johnson)

The Orphan Master’s Son (source: Goodreads)

Novel yang penceritaannya sangat epik. Begitu pula humor-humor keringnya. Kita dibawa ke dalam cerita a la petualangan James Bond, sekaligus kisah romansa a la film-film Hollywood klasik, yang semuanya berlatar belakang kehidupan di Korea Utara. It’s an eye opener of what living in North Korea is like. Dan tidak ada cara yang lebih efektif dalam menceritakannya selain dengan candaan yang miris, dan mengena.

Kutipan favorit:

“A name isn’t a person,’ Ga said. ‘Don’t ever remember someone by their name. To keep someone alive, you put them inside you, you put their face on your heart. Then, no matter where you are, they’re always with you because they’re a part of you.”

So You’ve Been Publicly Shamed (penulis: Jon Ronson)

So You’ve Been Publicly Shamed (source: Slate.com)

Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, buku ini membuat saya berpikir berkali-kali lagi sebelum menulis apapun di media sosial. Kasus-kasus pelecehan di media sosial yang diangkat di buku ini semuanya true stories. Tanpa harus menjadi paranoid, buku ini mendorong kita untuk berhati-hati. Meskipun resiko tertinggi dari kehati-hatian yang berlebih adalah, like it or not, we start losing ourselves.

Kutipan favorit:

“We’re creating a culture where people feel constantly surveilled, where people are afraid to be themselves.”

Half Broke Horses (penulis: Jeannette Walls)

Half Broke Horses (source: Amazon)

Tidak ada rencana membaca buku ini. Namun baru di halaman-halaman pertama, saya langsung terpaku. Ini adalah fictionalized true story tentang bagaimana seorang ibu membesarkan anak putrinya di tengah Great Depression di Amerika di awal tahun 1930-an, dan kecintaannya terhadap alam terbuka. Lebih menarik dari buku sebelumnya, “The Glass Castle”, yang jauh lebih populer.

Kutipan favorit:

“If you want to be reminded of the love of the Lord, just watch the sunrise.”

The Vegetarian (penulis: Han Kang)

The Vegetarian (source: tribes.org)

Seperti menonton film Korea dengan genre drama eksperimental: absurd, nyeleneh, unik dan mencekam. Penggambaran metafora tentang alam dan manusia dijabarkan dalam kalimat-kalimat singkat yang tegas. Kita seperti ikut ditelanjangi saat membacanya.

Kutipan favorit:

“Time was a wave, almost cruel in its relentlessness”

The Lost Art of Reading: Why Books Matter in a Distracted Time (penulis: David L. Ulin)

The Lost Art of Reading (source: Amazon)

Saya beli buku ini karena judulnya. Dan akhirnya memang mendapatkan apa yang dimaksud judul bukunya: opini dan analisa tentang indahnya menghabiskan waktu membaca buku. That’s it? That’s it! Bukunya kecil, tidak terlalu tipis, tapi sangat berguna sebagai a gentle reminder saat kita sudah mulai kehilangan waktu untuk membaca buku.

Kutipan favorit:

“Reading is an act of contemplation, perhaps the only act in which we allow ourselves to merge with the consciousness of another human being. We possess the books we read, animating the waiting stillness of their language, but they possess us also, filling us with thoughts and observations, asking us to make them part of ourselves.”

The Nix (penulis: Nathan Hill)

The Nix (source: Goodreads)

Tak pelak lagi, inilah buku favorit saya tahun ini. Karakter-karakter yang cerdas, tangkas, full of wit, dan sangat hidup, mengisi halaman demi halaman buku ini dengan penuh percaya diri. Meskipun mereka harus bolak-balik tersandung masalah hidup, yang membuat ceritanya terus bergulir. Ada satu halaman di buku ini yang membuat saya tertawa kencang, karena membayangkan adegan a la lawakan Srimulat kalau adegan dalam buku tersebut diterjemahkan menjadi sebuah pertunjukan. A total riot, and this book is totally hilarious!

Kutipan favorit:

“Sometimes we’re so wrapped up in our own story that we don’t see how we’re supporting characters in someone else’s.”

Ways of Seeing (penulis: John Berger)

Ways of Seeing (source: Amazon)

Buku ini pernah menjadi acuan dalam analisa seni kontemporer, terutama dalam seni rupa, baik itu lukisan, fotografi, sampai ke obyek sehari-hari. Buku ini merupakan adaptasi dari serial dokumenter di BBC pada awal tahun 1972. Melihat isinya pun, buku ini masih relevan untuk dijadikan sebagai reference guide dalam mengeksplor ideologi-ideologi yang mungkin tersimpan secara tersembunyi dalam bentuk seni yang kita lihat.

Kutipan favorit:

“To be naked is to be oneself.
To be nude is to be seen naked by others and yet not recognised for oneself.”

• The Ocean at the End of the Lane (penulis: Neil Gaiman)

The Ocean at the End of the Lane (source: Amazon)

Maaf, Neil Gaiman. You are a productive writer, but I’m not a productive reader of yours. Akhirnya ini menjadikan kesempatan untuk membaca novel Neil Gaiman sebagai sebuah event, karena belum tentu setahun sekali terjadi, dan saat selesai, ada rasa puas yang tercurah dalam hati. Demikian pula dengan novel ini. Cerita fantasi dari memori seorang pria tentang masa kecilnya menjadi bacaan yang membuat hati kita mencelos di akhir cerita.

Kutipan favorit:

“I lived in books more than I lived anywhere else.”

Fifth Avenue, 5 A.M. (penulis: Sam Wasson)

Fifth Avenue 5 A.M. (source: Amazon)

Buku ini mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi di balik layar pembuatan film Breakfast at Tiffany’s. Mulai dari mengira-ngira mood Truman Capote saat novella karyanya dibeli hak cipta adaptasi filmnya oleh Hollywood, lalu mengira-ngira perasaan hati Audrey Hepburn saat menjalani syuting film tersebut, sampai mengira-ngira efek film ini yang memang masih terasa sampai sekarang. Semuanya memang dikira-kira oleh penulis buku ini, dan hasilnya mengejutkan: each story feels so real. Salah satu surprise discoveries in literature yang pernah saya alami.

Kutipan favorit:

“We don’t want to make a movie about a hooker,” he assured her, “we want to make a movie about a dreamer of dreams.”

The Sympathizer (penulis: Viet Thanh Nguyen)

The Sympathizer (source: Goodreads)

Kalau dilihat sekilas dari tema cerita, tentang seorang penyusup di perang Vietnam yang menjadi imigran di Amerika Serikat sebelum kembali ke Vietnam untuk melawan komunis, terlihat kompleks. Padahal it’s a page-turner. Kejadian demi kejadian yang terkesan absurd malah terlihat believable, berkat kecerdikan penulis dalam memanipulasi pikiran kita: is the narrator antagonist, or protagonist, or both? Novel yang mengajak kita terus penasaran, sampai di akhir halaman.

Kutipan favorit:

“We don’t succeed or fail because of fortune or luck. We succeed because we understand the way the world works and what we have to do. We fail because others understand this better than we do.”

Happy reading!

Lima Kutipan

Hari ini, “tulisan” yang dihadirkan buat Anda sederhana saja. Kata “tulisan” tentu saja harus saya tempatkan dalam tanda kutip, karena yang disajikan di sini bukan buatan saya, tetapi karya orang lain.

By sheer of fate, saya menemukan mereka di tahun ini. Tidak semua dari mereka lahir atau terbit tahun ini. Namun semuanya baru saja saya temukan selama 12 bulan terakhir.

Mereka ini adalah sekedar kutipan dari buku-buku yang saya baca sepanjang tahun 2016 yang berat ini. Tidak banyak buku yang sempat saya baca dan selesaikan. Sampai sekarang saya merasa masih harus benar-benar meninggalkan zona nyaman untuk sekedar membaca buku dan menyelesaikannya. Tanpa gangguan ponsel, film, serial televisi, dan pekerjaan.

Thank you, Google Image.

Thank you, Google Image.

Maka di sela-sela jadwal bepergian, yang tidak terlalu banyak tahun ini, dan di antara aroma kopi panas yang baru mengepul di pagi hari saat sarapan, inilah kutipan-kutipan yang mengena di benak sampai sekarang. Mungkin mereka bukan buku yang terbaik. Apalagi sempurna. Tapi bukankah selalu ada a beauty in every flaw? Paling tidak sesuatu yang indah itu ada dalam bentuk kalimat yang layak kutip.

Dan saya ingin membaginya, khusus buat Anda:

(“A Little Life” – Hanya Yanagihara)

“Wasn’t friendship its own miracle, the finding of another person who made the entire lonely world seem somehow less lonely?”

(“The Storied Life of A.J. Fikry – Gabrielle Zevin)

“You know everything you need to know about a person from the answer to the question, What is your favorite book?”

“It is the secret fear that we are unlovable that isolates us,” the passage goes, “but it is only because we are isolated that we think we are unlovable. Someday, you do not know when, you will be driving down a road. And someday, you do not know when, he, or indeed she, will be there. You will be loved because for the first time in your life, you will truly not be alone. You will have chosen to not be alone.”

(“A Strangeness In My Mind” – Orhan Pamuk)

“In a city, you can be alone in a crowd, and in fact what makes the city a city is that it lets you hide the strangeness in your mind inside its teeming multitudes.”

(“Tidak Ada New York Hari Ini” – Aan Mansyur)

“Ada saat kau menemukan cinta
adalah umbi-umbian di lemari pendingin.
Mereka tiba-tiba bertunas meskipun sudah
lama lupa rupa dan aroma tanah.”

(“Falling” – Julia Cohen)

“This is what love feels like.
It’s a burning in your chest. A free fall through whooshing air. It’s an itch in your skin which can only be soothed by touching. It’s how you store up every little word and expression and hoard for it later, when you can go through it in your head and look for coded messages. It makes you greedy and jealous and resentful and sad. It makes you hate the person you were born as – a jigsaw with a piece out of place where your heart should be.

Can you even love that way, in the real world? When you’re itching and burning and hurting? When all you want to do is scream and kick things and rail against the fact that Avril was born without that thing that I have that makes me love her?
This is what love feels like. It feels hopeless and helpless, like holding on to a slippery rock in a churning sea. And I wouldn’t give it up for anything.
I wouldn’t.”

Semoga apa yang kita pilih untuk kita baca bisa membuat hidup kita lebih baik, meskipun hanya sejenak.

Thank you, Google Image.

Thank you, Google Image.

In the Future, the Past will be Present

Semalam saya menonton ulang film Still Alice. Film yang diangkat dari novel berjudul sama ini berkisah tentang Alice, seorang profesor linguistik yang terserang penyakit Alzheimer. Padahal usianya belum lanjut. Padahal sebagai ahli bahasa, dia terkenal dengan artikulasi tutur bahasa yang baik, dan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Mendadak, semua hal yang sudah dipelajari selama hidupnya, yang membuat dia dikenal banyak orang, hilang begitu saja. Dia bilang, “It’s like the words are hanging in front of me, but I can’t reach them.

Beberapa bulan yang lalu saya menonton film ini dengan harapan Julianne Moore, yang memerankan Alice, akan mendapatkan Oscar sebagai Aktris Terbaik atas penampilannya yang luar biasa. Beberapa bulan setelah Julianne Moore akhirnya mendapatkan Oscar tersebut, saya masih terkesima melihat penampilannya yang, saking luar biasanya, membuat saya terpekur lagi setelah film berakhir.

Still Alice

Still Alice

Dari awal film, kita diperlihatkan kebiasaan Alice bermain “Words with Friends” (semacam “Scrabble”) bersama anak tertuanya. Permainan yang membuat saya tersenyum, karena sampai sekarang, saya masih suka bermain “Scrabble” pula di iPad. Lalu dalam hitungan sekitar 90 menit, kita melihat cepatnya penyakit Alzheimer menggerogoti jiwa Alice, sehingga dia tidak lagi mengenali anaknya sendiri, dan tidak mampu menyampaikan apa yang ingin dia ucapkan. Semua terasa begitu nyata, meskipun cerita ini hanya rekaan di layar saja.

Kebetulan sebelum menonton film ini untuk kedua kalinya, sekitar dua minggu lalu saya membaca buku Then Again, karya Diane Keaton. Ini memang Diane Keaton, aktris pemenang Oscar di film Annie Hall, dan istri Sonny Corleone di The Godfather Trilogy itu. Ternyata dia seorang penulis yang cukup mumpuni.

Hal itu sudah terbukti di bagian awal buku “Then Again” ini. Tanpa menunggu sampai bagian tengah buku, dia bercerita bahwa sebagian besar buku ini terinspirasi dari sang ibu, Dorothy Hall, yang selalu menulis jurnal setiap hari selama hidupnya. Jurnal ini dimulai dengan catatan yang deskriptif tentang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Namun seiring perjalanan usia, entries jurnal ini menjadi semakin pendek. Saat sang ibu mulai didiagnosa penyakit Alzheimer, seperti Alice di atas, catatan di jurnal pun menjadi satu kata saja. “Think. Again. Doors.” Dan kata-kata yang seolah tak berhubungan, namun sebenarnya mengungkapkan perasaan yang tak bisa lagi tersampaikan dengan jelas.

Then Again

Then Again

Baik Alice maupun Dorothy tak akan pernah menyangka bahwa mereka akan menghabiskan hari tua mereka tanpa masa lalu. Siapa yang akan pernah mengira kalau suatu hari kita akan kehilangan ingatan? Tidak ada yang pernah menginginkan hal itu terjadi.
Dan kita tidak pernah mengira, bahwa ternyata kenangan masa lalu yang akan membuat kita hidup di masa depan. Bahwa ternyata kehidupan di masa depan akan ditentukan oleh apa yang bisa kita kenang dari masa lalu. Masa kini akan menjadi masa lalu di masa depan.

Delapan bulan yang lalu (ternyata Linimasa sudah lama juga ya berkiprah), saya pernah menulis tentang kebiasaan. Apa yang biasa kita lakukan sekarang akan menjadi bagian dari masa lalu di masa depan. Dan hasil dari kebiasaan ini akan menjadi bagian yang bisa kita kenang. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Kebiasaan menulis setiap film yang selesai ditonton di bioskop, ditambah serial atau film televisi, masih berjalan sampai sekarang. Yang baru saja dilakukan dari awal tahun kemarin adalah mulai mencatat buku apa saja yang sudah selesai dibaca. Yang belum dilakukan adalah menulis jurnal atau catatan harian pribadi. Entah kenapa, menulis catatan pribadi untuk berlaku jujur pada diri sendiri masih terasa berat dilakukan. Semoga suatu hari keengganan ini bisa berubah.

Sepatutnya memang kita sibuk mempersiapkan diri untuk masa depan saat ini. Tetapi pastikan bahwa nantinya ada sesuatu dari masa sekarang yang bisa kita ingat dengan manis sebagai bagian dari masa lalu di masa depan. Apalah artinya hidup di hari tua tanpa kenangan yang berbuah senyuman.

It’s good to remember. It always is.

Buku

Sekitar empat sampai lima tahun terakhir, saya hanya bisa membaca buku pada saat bepergian, atau traveling. Anda juga?

Rasanya hanya pada saat bepergian, apalagi dengan jarak tempuh yang jauh ke luar kota atau ke luar negeri, kita bisa menghabiskan waktu dan berkonsentrasi penuh dengan apa yang kita baca. Terlebih saat akses terhadap perangkat komunikasi yang kita miliki saat proses bepergian, bukan saat sudah sampai di tempat tujuan, sangat terbatas.

Kalau terbang dengan pesawat, sudah jadi kewajiban kita untuk tidak mengaktifkan telepon genggam saat pesawat take off dan landing. Sepanjang perjalanan pun, susah konsentrasi terhadap film yang tersedia di layanan in-flight entertainment dengan layar yang kecil dan sound system a la kadarnya. Mengeluarkan laptop atau tablet, sayang batere, walaupun ada port untuk bisa terus menerus mengisi daya batere perangkat-perangkat tersebut.

Pernah saya menghabiskan novel “The Road” karya Cormac McCarthy sekali jalan di pesawat dengan jarak tempuh empat belas jam. Sepanjang malam saya susah tidur, karena takut kalau-kalau di luar jendela pesawat tiba-tiba muncul si bapak dan si anak dari novel itu!

The Road by Cormac McCarthy

The Road by Cormac McCarthy

Lalu saking tegangnya baca novel “Gone Girl” karya Gillian Flynn dua tahun lalu, perjalanan Jakarta-Medan-Jakarta dalam sehari pun tidak terasa sama sekali.

Naik kereta berbelas-belas jam pun lebih nikmat sambil melihat pemandangan. Memang sebagian besar akan diisi hamparan hijau sawah sampai eneg. Dan kalau sudah bosan, lebih enak menghabiskan sisa waktu sambil membaca.

Berhubung tempat saya tinggal dan tempat keluarga berada terpisahkan jarak sekitar 10 jam dengan kereta, kadang saya membuat alasan untuk pulang, atau ke kota-kota lain di dekatnya, hanya untuk bisa rehat dari kerjaan dan sekedar membaca. Novel “Twivortiare”-nya Ika Natassa pun saya habiskan kurang dari sepertiga perjalanan Jakarta-Blitar dengan kereta.

Demikian pula dengan bis, yang biasanya memakan jarak waktu tempuh lebih lama dari kereta. Lelah melihat tulisan di buku, tinggal tidur saja, sampai tiba di tempat peristirahatan berikutnya untuk makan, buang air dan meregangkan otot sejenak.

Di tengah-tengah perjalanan bis dari Oslo ke Haugesund, novel “Revolutionary Road” karya Richard Yates terasa lebih mencekam, meskipun bukan cerita horror.

Tentu saja buku yang dimaksud di sini adalah printed book, atau buku dengan tulisan yang tercetak di atas kertas dan terjilid dengan baik. Atau kalau kata IKEA, perangkat ini disebut sebagai “Bookbook” sekarang.

Membawa buku saat traveling merupakan kenikmatan tersendiri yang buat saya pribadi susah digantikan dengan yang lain. Saat kegiatan bepergian di masa sekarang berarti harus kompromi membawa berbagai jenis gulungan kabel charger yang berbeda-beda untuk berbagai jenis alat elektronik, keberadaan buku membuat isi tas menjadi terasa lebih seimbang. Buku tidak ribet, tidak demanding, dan tidak memerlukan perlakuan khusus untuk menyimpannya.

Menambah beban berat bawaan? Tumpukan baju kita bisa jadi lebih berat. Apalagi buku dengan kertas tipis. Setebal 450 halaman pun masih lebih ringan dari gumpalan pakaian dalam kita.

Dan kalau sudah selesai dibaca, saya lebih senang untuk tidak membawa buku tersebut pulang lagi. Ditinggal saja di bangku pesawat, atau di tempat penginapan saat menghabiskan buku itu.
Terinspirasi cerita di film Serendipity, saya cukup membubuhkan tanda tangan di halaman akhir buku yang dibaca, sambil menuliskan bulan dan tahun saat selesai membaca. Tidak ada nama.

Memang sampai saat ini belum pernah ada kejadian seseorang hadir di depan saya membawa buku dengan catatan tanda tangan saya. Hampir 15 tahun saya melakukan hal ini, masih belum ada juga. Atau ada orang niat mencari-cari buku dengan penanda khusus seperti itu, selayaknya Ryan Reynolds yang melakukannya untuk Isla Fisher di film Definitely Maybe.

Paling tidak, belum ada yang niat mencari novel “Q&A” karya Vikas Swarup yang saya tinggal di suatu hostel di Berlin beberapa tahun lalu, atau kumpulan cerita pendek “Nocturnes” karya Kazuo Ishiguro yang terpaksa saya tinggal di pesawat yang pernah saya naiki dengan mantan kekasih, karena isi salah satu cerita terlalu persis dengan permasalahan yang kami hadapi saat itu.

Nocturnes by Kazuo Ishiguro.

Nocturnes by Kazuo Ishiguro.

But, that’s okay. Cukup mengetahui bahwa di belahan dunia manapun ada orang yang mungkin mengambil dan membaca buku yang pernah saya baca, pegang, dan miliki sesaat, that’s already comforting.

Somehow it feels good to know that you have left your trace in the world, albeit an invisible one.

Jadi, apa yang sedang Anda baca sekarang?