Saya Pernah Jadi “Buddhis yang Takfiri”

WAKTU ke Asian Civilisations Museum (ACM) Singapura beberapa pekan lalu, kebetulan ada anak-anak sekolah sedang berdarmawisata. Setelah di-briefing bu gurunya tentang kegiatan observasi dan tugas, mereka pun bebas berkeliling, mengamati, dan mencatat hal-hal menarik dari koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di sana. Sampai ada salah satu bocah yang lihat arca ini, lalu heboh sendiri dan… Read More

Saatnya yang Berkhotbah Dikhotbahi

SELAIN algojo, bisa jadi pengkhotbah atau pemuka agama–sebenarnya–merupakan salah satu profesi yang paling dilematis di dunia. Sebagai profesi loh ya, aktivitas yang bisa memberikan penghasilan. Ketika seseorang dipanggil untuk memberikan petuah-petuah bernuansa religius dan umumnya ditutup dengan rangkaian doa-doa tertentu, kemudian panitia memberikan amplop tanda terima kasih sebelum yang bersangkutan diantar pulang. Berbeda dengan sebutan… Read More

Spesial, Pakai Hati

Ndak. Saya ndak pengin menulis tentang Buddhisme pekan ini. Seperti kata Mas Terong dalam artikel narsisistik berjemaahnya, Sabtu lalu. Emang sih, setelah lihat foto Path-nya Ko Glenn kemarin-kemarin, saya sempat tergoda untuk menulis tentang fenomena vegetarianisme (吃素). Terutama mengenai “kreativitas” para penggiatnya yang dituduh mengelabui diri sendiri; menggunakan gluten untuk memasak sate, rendang, rawon, soto,… Read More