Saya Pernah Jadi “Buddhis yang Takfiri”

WAKTU ke Asian Civilisations Museum (ACM) Singapura beberapa pekan lalu, kebetulan ada anak-anak sekolah sedang berdarmawisata.

Setelah di-briefing bu gurunya tentang kegiatan observasi dan tugas, mereka pun bebas berkeliling, mengamati, dan mencatat hal-hal menarik dari koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di sana. Sampai ada salah satu bocah yang lihat arca ini, lalu heboh sendiri dan menarik perhatian teman-temannya.

Look! They’re kissing! But why they are doing that?” Sambil terus memerhatikan artefak dari Tibet ini. Dia terlihat sangat excited.

Oh, I know! I know! The man is the god, and the woman is a human!” Dengan penuh semangat dia ngomong ke teman-temannya yang mulai berkerumun di situ. Entah dapat inspirasi dari mana sampai bisa menyimpulkan begitu, mungkin gara-gara pernah nonton film bertema mitologi Yunani Kuno yang dewanya dikisahkan punya anak hibrida.

Enggak lama, bu gurunya datang lalu terlihat lumayan kaget dengan objek yang sedang diributkan murid-muridnya.

Miss, this one is the god, and that is a human, right?” tanya si bocah.

Bu gurunya cuma bisa senyum-senyum ditahan, dan menjawab dengan aman “Right! Okay, kids, you can go and see other things. We’re just in the first hall.

Setelah bocah-bocah disingkirkan dari situ, eh bu gurunya kembali dan baca keterangan artefak di sampingnya. Sepertinya penasaran juga, atau persiapan buat lain kali. 😅

Iya, ini adalah patung logam dari tradisi salah satu mazhab besar Buddhis. Faktanya, sosok laki-laki patung tersebut memang menggambarkan seorang Buddha. Hanya saja jangan sampai keliru. Buddha di patung itu bukan tokoh sejarah yang pernah terlahir sebagai pangeran bernama Siddhattha Gotama (Sanskrit: Siddhartha Gautama) di utara India hampir 2.600 tahun lalu, yang kemudian menjadi pencetus Buddhisme.

Patung tersebut menggambarkan Buddha Vajradhara (Penguasa Halilintar) dan pasangannya, Prajñaparamita (Kebijaksanaan yang Sempurna). Penggambaran ini berasal dari tradisi mazhab Tantrayana atau Vajrayana yang dominan di Tibet, Nepal, dan Bhutan. Keberadaannya pun terbatas hanya dalam lingkup penganut atau pembelajar Buddhisme mazhab Tantrayana atau Vajrayana tersebut. Tidak di mazhab-mazhab lain.


Cerita sedikit sebelum lanjut. Ajaran agama Buddha hingga saat ini terbagi dalam tiga mazhab besar:

  • Theravada
  • Mahayana
  • Tantrayana atau Vajrayana
Para Bhikkhu Theravada dalam kegiatan Pindapatta di Samarinda.

 

Para Bhiksu Mahayana Indonesia. Foto: Tribunnews

 

Para Lama Tantrayana. Foto: YouTube.

Secara kasatmata, perbedaan antara ketiganya bisa dilihat sesederhana membedakan antara praktik agama Buddha di Thailand/Burma/Kamboja/Sri Lanka; Tiongkok/Taiwan/Jepang/Korea; dan Tibet/Nepal/Bhutan. Minimal dari desain dan warna jubah para pemuka agamanya, baik yang merupakan Bhikkhu, Bhiksu, maupun Lama. Dari jubah dan penampilan mereka saja sudah terlihat jelas.

Setiap mazhab kembali terbagi dalam beberapa sub mazhab. Terutama Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang menerima modifikasi serta perubahan. Itu sebabnya kenapa ada ajaran Zen (禪); Tendai (天台宗); Shingon (真言宗); Nichiren (日蓮) di Jepang, di Tiongkok ada biara Shaolin, di Taiwan ada perkumpulan sosial Buddha Tzu Chi (財團法人中華民國佛教慈濟慈善事業基金會) yang menyebar hingga ke Indonesia dan punya kompleks gedung gede di PIK sana; maupun aliran Maitreyanisme  (彌勒大道) yang sukses membuat banyak orang mengira Buddha adalah sosok yang bertubuh gendut dan selalu terlihat tertawa gembira, di Tibet ada aliran Nyingmapa; Gelugpa dengan topi kuning; Kagyu; dan beberapa lainnya.

Jangankan orang awam, banyak Buddhis sekalipun yang kerap alpa dengan perbedaan-perbedaan ini. Tanpa analisis dan pemahaman yang mendalam, banyak yang menjadi Buddhis karena kelahiran, alias diwariskan dari orang tuanya tanpa penjelasan yang memadai. Tidak aneh jika setelah dewasa, banyak Buddhis di dunia termasuk Indonesia yang kemudian berpindah agama.

Wajar bila muncul pertanyaan: “Kenapa bisa terpecah-pecah menjadi banyak mazhab begitu?

Jawaban singkatnya adalah: “Karena ada perbedaan dalam penafsiran dan pelaksanaan ajaran.

Perpecahan mazhab dalam agama Buddha terjadi beberapa abad sejak Buddha wafat. Secara rutin setiap beberapa ratus tahun sekali, para Bhikkhu yang sudah merealisasi kesucian batin maupun yang masih manusiawi berkumpul dalam sidang serupa konsili. Agenda utamanya adalah untuk menghimpun semua sabda dan peraturan yang dituturkan oleh Sang Buddha sendiri, sekaligus melakukan pembahasan yang dinilai perlu dalam pengawasan para sesepuh.

Mulai sidang ketiga, tujuan-tujuan yang ditambahkan adalah menjaga kemurnian ajaran dengan menertibkan para “penumpang gelap”, menertibkan para Bhikkhu yang slebor dan urakan, menertibkan praktik-praktik yang bukan berasal dari Buddha sendiri, memerhatikan hasil analisis dan komentar atau tafsir terhadap sabda dan aturan dari Buddha, serta memikirkan cara untuk menyebarkan ajaran supaya tidak hilang di tanah asalnya (India) tapi bukan bertujuan Buddhaisasi. Merupakan kondisi yang tidak terhindarkan, makin lama semakin sedikit saja ulama yang berhasil merealisasi kesucian batin. Menyisakan lebih banyak Bhikkhu yang masih manusiawi dan bisa keliru berpikir.

  • Buddha wafat pada tahun 400 SM. Sidang pertama dilangsungkan tidak lama setelah itu.
  • Bibit-bibit perbedaan dan kontroversi mulai muncul dan dibahas dalam sidang kedua pada tahun 443 SM. Kelompok yang ingin melakukan perubahan aturan menyebut diri sebagai Mahasanghika, sedangkan yang memegang teguh ajaran adalah Sthaviravada. Keinginan Mahasanghika tidak dikabulkan. Mahasanghika merupakan cikal bakal mazhab Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana. Sthaviravada adalah cikal bakal Theravada.
  • Dalam sidang ketiga pada tahun 313 SM (atau hampir 2,5 abad setelah sidang pertama), pengulangan sabda dan aturan dari Buddha berlangsung sembilan bulan lamanya. Akibat penertiban ajaran yang dilakukan, kelompok yang terimbas pun mengungsi ke utara India. Boleh dibilang ini adalah sidang terakhir yang diikuti kedua kelompok bersama-sama.
  • Perselisihan antarkelompok makin tajam. Setiap kelompok menyelenggarakan sidangnya masing-masing.
    Sidang keempat kelompok Sthaviravada berlangsung sekira tahun 83 SM di negara yang kini menjadi Sri Lanka. Sabda dan aturan Buddha dicatat untuk pertama kalinya di atas daun lontar menjadi tumpukan Tipitaka, yang apabila dikumpulkan bisa menjadi berjilid-jilid tebal dan memenuhi satu lemari.
    Kelompok lainnya, Sarvastivada menyelenggarakan sidang keempat di Kasmir sekitar tahun 78 M atas dukungan kerajaan di Afghanistan. Catatan hasil sidang ini hanya disimpan oleh kelompok Sarvastivada, dan terus diwariskan hingga ke kelompok Mahayana. Dari hasil sidang ini pula, ada bagian-bagian kitab suci yang ditambahkan. Menyebabkan Tipitaka milik Theravada berbeda dengan Tripitaka miliki Mahayana. Bukan typo atau salah ketik. Memang Tipitaka dengan bahasa Pali yang dipercaya merupakan bahasa tutur Buddha semasa hidup, lalu dijadikan rujukan mazhab Theravada tanpa pengubahan (penambahan/pengurangan) apa pun. Tripitaka berbahasa Sanskerta dengan sejumlah alasan, yang sejauh ini belum saya pahami sepenuhnya. Mungkin lantaran alasan akademik, mengingat para filsuf dan para scholars Mahayana di masa itu banyak bertutur dan menulis dalam bahasa Sanskerta. Kedudukan Sanskrit sama seperti bahasa Latin.
  • Kelompok Theravada melanjutkan sidang kelima (tahun 1871) dan keenam (1954). Sidang keenam menjadi fenomenal karena bukan hanya dilangsungkan di era modern, namun sekaligus memperingati 2.500 tahun wafatnya Buddha historis.
  • Baru pada tahun 1966, dibentuk organisasi bersama. Tujuannya adalah melakukan rekonsiliasi. Mustahil untuk menyatukan semua mazhab yang sudah ada hampir seribu tahun, melainkan membahas dan menyepakati inti-inti ajaran sebagai syarat untuk tetap bisa dianggap sebagai agama Buddha.
    Secara formal, ada sembilan poin yang disepakati. Karena panjang-panjang, silakan baca sendiri di tautan Wikipedia berikut ini: Basic points unifying Theravada and Mahayana.
    Btw, banyak yang menganggap Buddhisme adalah ajaran penyembahan berhala, padahal hal itu bertentangan dengan poin nomor 3.

Perbedaan antara mazhab-mazhab agama Buddha agak mirip seperti yang terjadi dalam Islam. Antara Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syiah, lalu kelompok Ahmadiyyah dan Khawarij pun dianggap bukan Islam. Sementara perbedaan antara sub mazhab dalam Buddhisme lebih mirip seperti denominasi-denominasi gereja dalam Kristen.

Setali tiga uang dengan yang terjadi dalam Islam dan Kristen, tentu ada mazhab agama Buddha yang seakan mendapat privilese mengklaim sebagai ajaran paling benar, tidak tercemar dengan paham-paham lain, dan paling dekat dengan praktik yang dijalankan oleh Buddha Gotama sendiri semasa hidupnya. Dalam hal ini, tentu saja mazhab Theravada.

Dari paparan singkat di atas, kelompok Theravada berpegang teguh pada ajaran yang murni, dan berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan semua pokok-pokoknya tetap sama seperti yang pernah diajarkan Buddha sendiri. Sebaliknya dengan kelompok Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang melakukan sejumlah modifikasi.

Tanpa kedewasaan spiritual, persepsi “Theravada murni, non-Theravada cemar” sangat berpotensi menumbuhkan sikap fanatisme. Memunculkan orang-orang yang merasa berhak dan pantas menghakimi orang lain.

Sebagai seorang pembelajar Theravada, saya pernah bersikap seperti ini terutama kepada penganut mazhab lain. Apabila boleh meminjam istilah dari studi keislaman, saya pernah menjadi seorang takfiri, yang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, menghardik mereka murtad dan sesat dengan penuh kebanggaan yang salah.

Sekali lagi, mengapa saya bisa begitu? Lantaran berpandangan “Theravada murni, non-Theravada cemar!”

Lambat laun saya mulai berpikir, bertindak sekeras dan sepongah itu sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kemajuan batin sebagai seorang pembelajar Buddhisme, membuat saya makin sombong dan jauh dari sikap loving-kindness, memperbesar ilusi ego merasa sebagai seseorang yang benar dan terkemuka. Amat bangga dengan kebuddhaan (baca: ketheravadaan) saya, tapi justru menjauhkan saya dari praktik kebuddhaan itu sendiri. Bertolak belakang banget!

Sampai akhirnya saya tiba di satu titik, menyadari bahwa perbedaan pemahaman dan kepercayaan memang tidak bisa dihindari, namun bersikap bijak dan manusiawi bisa dilakukan siapa saja. Di sisi lain, siapakah saya? Kok yakin sekali menentukan benar/kelirunya seseorang dalam mengerti Buddhisme? Toh saya sendiri juga belum mencapai kesucian, malah baru mendalami ajaran ini saat kelas 2 SMP.

Apa yang berhasil saya realisasi sejauh ini bila dibandingkan dengan… Dalai Lama? Jelas-jelas merupakan pemimpin tertinggi mazhab Tantrayana/Vajrayana, yang selama ini selalu saya lekatkan dengan label sesat!

Tradisi mematungkan Buddha saja berasal dari berabad-abad setelah kematiannya, apa terus saya harus mengambil martil dan memecahkan semua patung Buddha yang ditemui? Sama sekali tidak mencerahkan.

Hingga detik ini, saya masih seorang pembelajar Theravada. Saya tetap kurang cocok terhadap banyak hal dari mazhab-mazhab yang lain. Beberapa di antaranya:

  • Doktrin Adhi Buddha yang dulu pernah disebut sebagai tuhannya agama Buddha di Indonesia
  • Doktrin tubuh-tubuh metafisika Buddha sebagai objek permohonan
  • Harus bervegetarian supaya bisa mencapai pencerahan
  • Figur Amitabha dan Surga Sukacita yang abadi
Gambaran populer tentang takhta Buddha Amitabha dan surga Sukhavati dalam versi Tionghoa. Foto: ywsjt.blog.163.com
  • Figur Maitreya dalam versi yang beredar saat ini, dan institusi sub mazhabnya
  • Praktik berdoa dan memohon kepada para makhluk-makhluk suci
  • Praktik membaca mantra atau sutra berulang-ulang untuk mengikis karma buruk
  • Pengadopsian figur-figur dari kepercayaan Tionghoa termasuk Dewi Guanyin sebagai bagian dari kosmologi Buddhisme
  • Pengkultusan artefak sebagai benda-benda supersuci
  • Klaim Lu Shengyen sebagai Buddha hidup
  • …dan beberapa lainnya

Bigotry is everywhere. Ketidaksukaan dan kebencian terhadap perbedaan akan selalu ada di mana-mana, bahkan kepada sesama. Sebagai “takfiri” Buddhis, saya telah menjadi bigot kepada Buddhis yang lain. Begitu pula pada rekan-rekan muslim, umat Kristen dengan bermacam denominasi gereja, dan sebagainya. Keberadaan bigotry seakan alamiah, sebagai salah satu fase sebelum kedewasaan spiritual.

Pada akhirnya, kedewasaan spiritual itu bukanlah anugerah atau pemberian. Takarannya terlampau cair untuk dijadikan patokan bagi semua orang. Kesadaran dan penyadaran pun merupakan pengalaman personal, dengan tulisan-tulisan di buku maupun kitab suci sebagai pembentuk bingkainya. Setelah bingkai itu terbentuk, barulah bisa digunakan. Dipasangi sesuatu.

Dulu, saya pasti langsung gerah dan terganggu dengan patung Vajradhara dan Prajñaparamita. Menyebutnya sebagai simbol kesesatan dan penyebab kesalahpahaman.

Sekarang, saya lebih kepengin berkomentar: “keren!”

Selamat menjelang libur (yang bisa dibikin) panjang.

[]

Advertisements

Antara Biksu, Bhikkhu, dan yang Palsu

BIKSU. Kata ini tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menjadi sebutan baku dan populer untuk para pendeta atau petapa (Buddha) pria yang memiliki sejumlah ciri khas. Karena itu, cenderung sangat mudah untuk mengira seseorang yang berkepala plontos, dan mengenakan pakaian berkibar seperti jubah berwarna abu-abu/kuning/cokelat/merah maroon sebagai biksu. Padahal, belum tentu.

Sampai saat ini, Buddhisme terbagi dalam tiga mazhab utama. Dengan perspektif ortodoksi, urutannya adalah Theravada, Mahayana, dan Tantrayana dengan area persebaran berbeda. Theravada lebih banyak ditemui di negara-negara Indochina, dan Sri Lanka; Mahayana mendominasi Asia Timur; sedangkan Tantrayana berpusat di Tibet.

Diserap dari bahasa Sanskerta (bhikṣu), sebutan biksu lebih banyak digunakan dalam lingkungan Mahayana. Sementara penganut Theravada menggunakan sebutan Bhikkhu dari bahasa Pali, bahasa tutur yang digunakan Buddha saat berkomunikasi dengan umat, murid, dan orang awam dari berbagai macam golongan. Sederhananya, apabila Sanskerta adalah bahasa khusus kasta-kasta tinggi, maka Pali digunakan oleh rakyat jelata dan kaum paria yang berada di luar kasta. Tidak punya bentuk tulisannya sendiri.

Bhikkhu dan biksu pada dasarnya sama-sama menjalani kehidupan petapa, bukan profesi atau sekadar gelar. Lelaku. Ada seperangkat aturan kedisiplinan dan kepatutan yang tidak boleh dilanggar sepanjang hidupnya, dengan sanksi paling berat berupa pelepasan jubah dan dikembalikan menjadi umat perumah tangga.

Setiap mazhab memiliki standar etikanya masing-masing. Bhikkhu Theravada tunduk pada 227 aturan baku, tetapi berbeda dengan biksu Mahayana. Jumlah aturan yang dijalankan di Mahayana Tiongkok berbeda dengan di Jepang dan Korea, begitu pula dengan di Tibet. Terlepas dari itu, tetap ada sejumlah perbedaan mencolok antara aturan yang berlaku dalam tradisi Theravada dan Mahayana.

Perihal diet dan makanan, Bhikkhu Theravada masih diperkenankan menyantap daging (selama memenuhi kondisi-kondisi tertentu), namun harus menjalankan puasa makanan sejak tengah hari sampai fajar. Namun biksu Mahayana harus menjadi vegetarian, dengan frekuensi yang lebih banyak. Biksu Mahayana juga ada yang boleh bercocok tanam, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Bhikkhu dan biksu sejatinya adalah orang-orang miskin, tidak memiliki harta atau kekayaan materi, dan lazimnya hidup dengan sokongan dari para umat perumah tangga. Termasuk saat bepergian, atau memenuhi undangan. Selalu didampingi umat biasa. Menerima pemberian untuk memenuhi kebutuhan pokok, tapi tidak boleh meminta apalagi meminta-minta. Kondisi yang seperti ini pernah menyebabkan para Bhikkhu di India terdesak pada beberapa abad lalu. Banyak di antaranya terpaksa kembali menjadi umat biasa, ada pula yang eksodus ke Sri Lanka.

Jangankan memiliki harta atau kekayaan materi, para Bhikkhu bahkan tidak diperkenankan menyimpan atau memegang uang, emas, logam-logam mulia, permata, dan sejenisnya. Dari ketentuan ini saja, bisa tampak jelas mana yang merupakan Bhikkhu sungguhan, dan yang gadungan. Terlebih di Indonesia, hanya ada sedikit Bhikkhu dan biksu. Jauh berbeda dengan, katakan saja, Thailand. Ketika kita bisa melihat beragam kelakuan aneh orang-orang yang berjubah Bhikkhu di sana. Termasuk yang menggunakan penampilannya sebagai kamuflase atas tindakan kejahatan.

img_1466
Memasang iklan di Facebook, “Bhikkhu” ini menampilkan foto-foto ritualnya memberkati mobil baru. Lah! Ngawur!

Sayangnya, jangankan orang-orang yang non-Buddhis, banyak juga umat Buddhis awam yang masih terlampau asing dengan figur para pemimpin agamanya sendiri. Sehingga gampang ditipu Bhikkhu atau biksu abal-abal, terutama dari Tiongkok. Biasanya sih, para biksu palsu tersebut datang dengan membawa gelang atau aksesori sejenis, menawarkannya dengan bahasa Tionghoa yang agak kurang jelas, kadang-kadang malah cuma bicara “Amituofo… Amituofo…” Di Samarinda, saya bahkan pernah ketemu biksu palsu yang ngomong “Gongxi facai! Gongxi facai” Lah, dia pikir lagi Imlekan apa ya?! Begitu saya jawab pakai bahasa Tionghoa, dia terkejut. Tampang saya mungkin enggak ada Cina-cinanya sama sekali. HAHAHA!

Di Indonesia, cukup imigrasi saja yang bertindak. Kebetulan para biksu palsu tersebut adalah warga negara asing. Tidak perlu seperti di Malaysia, yang sudah memiliki Sangha Sanctity Protection Centre (SSPC), semacam Satgas untuk menyisir dan menindak biksu gadungan.

Foto: Liputan6.com
Foto: Liputan6.com

Buddhis Indonesia pasti gedeg juga sih dengan keberadaan biksu-biksu palsu, maupun mereka yang memanfaatkan ketidaktahuan umat awam untuk mencari keuntungan. Tapi bagaimanapun juga, penting untuk selalu kritis dan berusaha terus mengenali.

[]

Segalanya Berubah, Termasuk Agama

KONDISI dunia berubah signifikan sejak hampir sepekan lalu, ketika kekuatan demokrasi memaksa Inggris Raya untuk bercerai dari Uni Eropa–organisasi mentereng yang isinya eksklusif, hanya negara-negara dari Eropa Barat serta beberapa sekitarnya.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Mau apa pun bentuknya, dan bagaimanapun bentuk hasil akhirnya, tidak ada yang bisa luput dari perubahan. Besar maupun kecil. Seperti itulah yang dihadapi dan dialami para rakyat Inggris, pemerintahnya, dan para petinggi Uni Eropa.

Tentu ada berderet-deret dampak dan implikasi yang dihasilkan. Beberapa di antaranya barangkali sudah mulai terjadi, dan tetap menyisakan banyak hasil analisis dan prakiraan. Mudah-mudahan saja para rakyat Inggris tidak jatuh dalam posisi yang patut dikasihani di kemudian hari.

Kebetulan masih bicara soal Inggris, bisa jadi perpisahannya dengan Uni Eropa lewat pemungutan suara Jumat lalu bakal memberi pengaruh sama luar biasanya dengan peristiwa munculnya Anglikanisme, atau sebut saja kekristenan ala Inggris Raya yang memisahkan diri. Konon gara-gara urusan kawin-mawin sang Raja Henry VIII, dan ditolak pihak gereja Katolik konservatif. Akhirnya dibentuklah struktur religius baru, menghasilkan perubahan secara menyeluruh dan sistematis.

Ada satu tuh gereja sekaligus sekolahnya di Jakarta, enggak jauh dari Tugu Tani.

Nah, kalau aturan-aturan baku agama saja bisa diubah perspektif atau cara pandangnya, apalagi urusan birokrasi dan kerja sama antarnegara yang saling bertetangga macam Uni Eropa? Namun tenang saja, pada kenyataannya perubahan-perubahan mendasar seperti ini terjadi hampir di semua agama. Mulai dari yang bentuknya paling fleksibel macam agama-agama tradisional, sampai yang upaya penyebarannya paling kencang sekalipun. Jangan harap skema institusi agama-agama modern saat ini masih berbentuk sama ketika pertama kali didirikan oleh para pembawanya masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan mulai mengalami modifikasi dan perubahan oleh para pemimpin umat beberapa puluh tahun setelah wafatnya sang aksis.

Kembali mengambil contoh kehidupan religius Inggris. Sebelum Anglikanisme muncul dan memisahkan diri dari Katolik, sudah terjadi persinggungan besar dengan Protestanisme. Ratusan tahun sebelum perpisahan besar itu terjadi, pun telah diselenggarakan sejumlah konsili atau sidang raya, semacam majelis pembahasan dan penyusunan sistematika Kristiani yang dianggap sahih (dan berfaedah secara realistis, tentunya).

Dari sejumlah konsili tersebut, ada banyak poin yang menghadirkan perubahan besar dalam tubuh Ecclesiae, atau jemaat gereja. Kekristenan yang dijalani secara popular hingga saat ini saja–dengan prinsip Trinitas, dogma-dogma baku, cara pandang gereja pada banyak hal, sistem tata kelola gereja, Takhta Suci serta kedudukan Paus, dan lain sebagainya–merupakan hasil kesepakatan konsili-konsili. Dari konsili tersebut, ada banyak hal yang ditolak, dianggap bidah Kristiani, dianggap ketidaksesuaian tafsir, dan sebagainya.

Apakah semua penolakan itu diterima begitu saja? Tentu saja tidak. Buktinya, ada dua Paus di dunia. Satu yang berkedudukan di Vatikan, kini adalah Paus Fransiskus; dan Paus umat Gereja Ortodoks Koptik di Mesir dengan sistem administrasi berbeda, yang hampir semua ritus maupun sakramennya menggunakan Bahasa Arab dan setiap doanya patut disambut dengan “amin”, bukan “amen”.

Ada pula Gereja Ortodoks Rusia dengan pimpinan tertinggi pada Patriarch Kirill, yang baru ditemui Paus Fransiskus pertengahan Februari lalu setelah dua lembaga tersebut saling terpisah 1.000 tahun lamanya. Itu pun pertemuannya berlangsung di Kuba. Keren ya!

Pertemuan dan perbincangan “sang penerus Rasul Markus dan Rasul Petrus”: Paus Theodoros/Tawadros II dari Aleksandria dan Paus Fransiskus. Foto: catholicworldreport.com

Hal serupa juga terjadi dalam Protestanisme. Sebagai ilustrasi, baru di Jakarta saja saya bisa menemukan satu ruas jalan yang tidak besar-besar amat, namun ada empat gereja berdiri di sepanjang ruasnya. Empat gereja, sama-sama Kristen, akan tetapi berbeda denominasi: artinya bisa berbeda cara pandang terhadap pola hidup Kristiani, berbeda penafsiran atas Firman, berbeda metode khotbah dan pendekatan rohaniah pada umat, bahkan salah satu dari gereja tersebut dianggap memberikan ajaran bidah oleh ketiga lainnya.

Dalam Islam, sudah akrab bagi ruang pikir kita istilah Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), dan Syiah. Dua aliran besar yang memiliki banyak perbedaan mendasar. Saking mendasarnya, sampai-sampai dengan mudahnya bisa bikin sebagian orang menyebut aliran lain sebagai bidah. Kemunculan dua aliran besar tersebut jelas merupakan buah dari perubahan atas penyikapan, perlakuan, pemikiran, maupun penafsiran.

Belum berhenti sampai di situ saja. Aswaja dan Syiah kembali terbagi dalam beberapa mazhab. Lebih kepada perbedaan dalil fikih berdasarkan ulama-ulama besar tertentu, maupun aspek-aspek lain terhadap praktik kehidupan beragama. Dalam Aswaja ada empat mazhab besar: Hanafi, Maliki, Hambali, dan Syafii yang dianut secara mayoritas di Indonesia. Begitu juga Syiah dengan sepuluh mazhabnya.

Beralih ke Asia, jangan dikira agama-agama non-Samawi adem ayem tanpa perubahan besar dalam tubuhnya. Dalam Hinduisme modern, ketiga dewa Trimurti (Brahma, Vishnu, Siva) sama-sama memiliki kelompok pemujanya masing-masing. Ada pula yang lebih menjunjung aspek feminin dari dewata tersebut, yakni pemuja dewi-dewi pendamping/istri (Shakti). Ditambah lagi kelompok pemuja dewa-dewa lokal yang dipercaya sebagai pelindung suku, dan memiliki kedekatan sosiokultural terhadap etnik tertentu. Banyak!

Selain Hinduisme, India juga menjadi kampung halaman sejumlah ajaran. Ada Buddhisme, ada Jainisme, ada Sikhisme, ada Ahmadiyah, dan banyak lagi lainnya.

Buddhisme berasal dan pernah populer di sana, kemudian mengalami tekanan juga perubahan hingga nyaris punah menyisakan para umat di luar India. Selain itu, mazhab-mazhab Buddhisme terbentuk dalam konsili yang dilakukan ratusan tahun pascawafatnya Buddha. Dua kelompok mula-mula adalah Sthaviravada dan Mahasanghika, yang awalnya berselisih tentang aturan dan norma. Keduanya terus mengalami perubahan (modifikasi, pertambahan, pengurangan, pembaruan) selama ribuan tahun hingga akhirnya menyisakan tiga mazhab besar modern: Theravada yang ortodoks (yang saking ortodoksnya, sampai-sampai bisa bikin penganutnya seperti takfiri), Mahayana yang sinkretis, dan Tantrayana/Vajrayana yang esoteris. Makanya, ada mazhab yang mengharuskan bervegetarian tapi tidak perlu berpuasa, ada pula yang tetap boleh makan daging dengan beberapa kondisi tertentu tapi harus puasa, setiap hari.

Konsili seperti ini terus dijalankan untuk memastikan keaslian ajaran dan peraturan. Penyelenggaraan terakhir berlangsung 1954 silam di Myanmar oleh sekitar 2.500 Bhikkhu mazhab Theravada, dan memakan waktu dua tahun untuk pengulangan kembali serta penyelarasan seluruh ajaran Buddha.

Konsili Agung ke-6 Sangha (Theravada) dunia, 1954 silam di Burma/Myanmar. Foto: aimwell.org

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu tidak. Beraneka sub mazhab bermunculan di Asia Timur. Implikasi politik terjadi dalam tubuh Sangha (komunitas para Bhikkhu/Bhiksu). Diangkatnya Sangharaja atau pemimpin tertinggi Sangha yang berafiliasi dengan dinasti yang berkuasa di negara-negara Buddhis Indochina. Dampaknya, meskipun tak seekstrem apa yang dilakukan Raja Henry VIII, tapi tetap ada kemungkinan batas toleransi dibengkokkan, bahkan menjadi tradisi yang bisa ditiru.

Di Thailand saja, contohnya. Setidaknya ada tiga kelompok Sangha berdasarkan tradisi dan afiliasi politik. Secara kronologi, yaitu: Maha Nikaya (kelompok umum, di luar lingkar kerajaan, heterogen), Dhammayuttika (berasal dari gerakan pemurnian penerapan aturan, lebih ketat, dipimpin Sangharaja, disokong kerajaan), dan Dhamma Nikaya (kelompok baru yang fenomenal, tapi ada beberapa aspek pengajaran dianggap bidah Theravada). Hal ini juga berpengaruh di Indonesia, dengan nuansa Dhammayuttika yang kental. Terlepas dari tepat tidak tepat ritus tradisi yang “diimpor”. Belum lagi masalah mana Bhikkhu benaran dan yang asal-asalan.

Untuk Tiongkok, kumpulan konsep yang diasumsikan sebagai agama asli bangsa itu adalah paganisme Tionghoa. Dari kepercayaan purba yang mengerucut menjadi Taoisme; kemunculan Konfusianisme; dan masuknya Buddhisme Mahayana pun diterima dalam bentuk sinkretisme. Penyatuan. Perubahan yang menghadirkan kepercayaan tradisional khas budaya Tionghoa berusia lebih dari 3 ribu tahun, dan terus dilakoni sampai sekarang.

Kebanyakan contoh ya.

Kembali ke Inggris lagi deh. Entah itu urusan agama sebagai sebuah institusi maupun politik, sama-sama encer. Terlalu encer malah. Saking encernya, sampai-sampai perubahan sekecil apa pun bisa memberi dampak yang terlampau besar. Tetapi malah diperlakukan seperti batu kali: keras. Saking kerasnya bisa bikin kepala seseorang bocor, bahkan pecah.

[]

“Masa Lalu” yang Bikin Kepo

Masa lalu memang salah satu biangnya rasa penasaran, jagonya bikin kepo.

Dari yang sepele, kayak kehidupan asmara sang pacar bersama mantan-mantannya. Kalau enggak diceritain, ngambek. Diceritain sedikit, marah. Diceritain detail, cemburu. Para ibu yang mengorek dan mengumpulkan informasi tentang latar belakang keluarga pacar anaknya. Sampai rasa penasaran yang bisa bikin merenungi keberadaan diri, memunculkan pertanyaan: “aku ini siapa sih?

Setelah membaca tulisan Ko Glenn pada edisi hari Minggu lalu, misalnya. Saya penasaran, pengin juga menjalani tes DNA untuk menelusuri siapa para nenek moyang yang sebenarnya. Soalnya, saya termasuk “Hitachi” alias “Hitam-hitam tapi China” lantaran kulit agak gelap dan karakteristik wajah yang enggak koko-koko banget. Malah lebih sering dipanggil “mas” oleh sesama Tionghoa Indonesia, apalagi kalau ke negara tetangga.

Seru sih ya. Tetapi kalau dipikir-pikir, apa sih tujuannya menelusuri jejak DNA sendiri bagi individu? Biar sekadar tahu, barangkali DNA kita terhubung dengan sosok/komunitas penting zaman dulu? Memberi ilusi signifikansi bahwa kita terhubung dengan sesuatu yang pernah sangat penting di dunia ini. Ataukah informasi tersebut bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih praktis?

Faktanya, studi Genografi kini sudah jadi komoditas laris milik NatGeo bareng IBM. Tinggal beli perangkatnya (dalam USD), tunggu dikirim ke Indonesia, lalu dipakai deh.

Berbeda dengan tujuan yang ingin dicapai Lembaga Eijkman sebagai kelompok peneliti. Hasil riset akan diperlakukan sebagai komponen dari gambaran besar peta persebaran manusia sejak awal mula. Yang dalam pemanfaatannya, berhasil mematahkan mitos sosiologi soal pribumi dan non pribumi.

Tidak hanya soal nenek moyang dan para pendahulu, kekepoan seperti ini juga terjadi perihal past life atau kehidupan lampau. Baik dengan pendekatan mitologi Tionghoa, prinsip rebirth atau Tumimbal Lahir dalam Buddhisme, maupun konsep reinkarnasi dalam Hinduisme. Ketiganya bekerja dengan mekanisme yang berbeda, bahkan saling bertolak belakang.

Tanpa peduli apa pun paham yang dianut, godaan pikiran untuk mau tahu tentang “siapa kita di kehidupan sebelumnya” pasti pernah muncul. Ada yang langsung menepisnya, menganggapnya omong kosong, tapi ada juga yang terus kebawa-bawa dalam pikiran.

Sayangnya, belum ada satu pun metode yang valid secara komunal untuk bisa memuaskan dahaga keingintahuan ini, sehingga ujung-ujungnya kembali jadi urusan supernatural dan klenik.

Umat-umat yang kalap pun mengerubungi para pemuka agama seolah mereka adalah cenayang. Berulang kali menanyakan pertanyaan yang sama dalam sesi-sesi diskusi agama, tak peduli melenceng dari tema.

Dalam lingkungan Buddhis Indonesia dan Asia Tenggara, para Bhikkhu (Theravada)/Bhiksu (Mahayana) jadi sasaran pertanyaan. Apabila si penanya adalah orang kaya, maka pertemuan berlangsung secara terpisah di luar waktu acara. Padahal aturannya, seorang Bhikkhu dilarang keras bertindak seperti penerawang, apalagi untuk mencari imbalan maupun popularitas. Jika sang Bhikkhu menasihati umat agar tidak terlalu memusingkan hal-hal begini, eh malah dibilang kurang sakti.

Capture
Kutipan pesan di Facebook kenalan. Seorang Samanera (calon Bhikkhu). 🙂

Sedangkan dalam lingkungan warga Tionghoa penganut kepercayaan tradisional, yang dicari adalah Suhu/Shifu maupun para medium yang mengaku bisa dirasuki sejumlah entitas dewa mulai Nacha si bocah teratai sampai Dewi Guanyin dengan mudahnya. Bagi orang-orang yang licik, ini tentu jadi peluang bisnis. Ironisnya, banyak yang bersedia jadi korban, dibodohi, dan diminta membayar dalam bentuk sedekah.

Terlepas dari masalah di atas, pada kenyataannya perkara kelahiran kembali ini selalu menarik perhatian banyak pihak di luar lingkup Tionghoa/Buddhis/Hindu, dan diteliti secara serius. Beberapa pemicu sekaligus objek penelitiannya:

  • Tradisi penentuan Dalai Lama
    Sebelum meninggal, seorang Dalai Lama senior bisa saja akan memberitahukan detail keluarga tempatnya akan dilahirkan kembali. Setelah mangkat, satu tim Lama (Bhiksu aliran Topi Kuning Tibet) akan melakukan verifikasi dengan mendatangi rumah keluarga tersebut serta melakukan sejumlah tes. Bila hasilnya tepat, maka mereka akan menyatakan bahwa anak tersebut memang merupakan kelahiran kembali dari Dalai Lama.
    Selain untuk Dalai Lama, tradisi penentuan lokasi kelahiran berikutnya juga jamak terjadi pada figur-figur penting dalam Buddhisme Tibet.
    Dalai Lama saat ini, Tenzin Gyatso menyatakan ada kemungkinan bahwa ia adalah Dalai Lama terakhir. Tersirat, ia memutuskan untuk tidak ingin terlahir kembali. Keputusan ini diprotes pemerintah Tiongkok dan sebagian warga Tibet.
Lhamo Dhondub kecil, teridentifikasi sebagai Dalai Lama XIV di usia 3 tahun. Foto: NBCnews.com
  • Ösel
    Pada masa-masa awal saya sebagai seorang Buddhis, buku dengan sampul depan berwarna merah marun bergambar wajah seorang balita bule berjudul “Reincarnation” sedang terkenal-terkenalnya. Tentang seorang balita yang ternyata adalah kelahiran kembali dari seorang pemuka agama. Setelah “Reincarnation”, bermunculan buku-buku lain dengan tema serupa namun umum, alias tidak melulu terkait dengan Buddhisme.
Buku tentang Ösel, dengan versi sampul edisi kesekian. Foto: bukubukubekas.wordpress.com

Kini, katanya, Ösel sudah jadi agnostik, dan ingin fokus membuat film dokumenter.

Ösel bersama pembimbing spiritual yang mendampinginya sejak kecil. Foto: fpmt.org
  • Kampman Investigation of Parapsychology (1978)
  • Past Life Regression
    Salah satu teknik hipnosis yang menarik mundur memori alam bawah sadar seseorang.
    Pada penanganan trauma alam bawah sadar, umumnya pasien hipnosis “dibawa” ke ingatan masa lalunya secara kronologis untuk melihat pemicu trauma dan memulihkannya. Namun apa yang terjadi bila ingatan ditarik mundur melewati tanggal kelahiran yang bersangkutan? Dalam beberapa kasus pengujian, seseorang dihipnosis dan menceritakan berbagai hal, termasuk siapa ia sebelumnya, di mana ia tinggal, dan sebagainya. Setelah ditelusuri, ternyata di alamat tertentu pernah tinggal seseorang bernama Si Anu, sudah meninggal, dan seterusnya.

Apakah semua cerita dan penggambaran yang disampaikan dalam kondisi terhipnosis regresi itu adalah memori nyata, atau imajinasi? Entahlah. Yang jelas, saya sudah mengikuti sesi regresi sebanyak dua kali.

Sesi pertama dilakukan oleh terapis tersertifikasi untuk mengetahui dan mengatasi masalah saya yang benci bangun pagi alias terlalu doyan tidur mbangkong. Sesi ini mengembalikan ingatan saya ke sebuah pagi saat masih SD, dan ternyata ada peranan mama di sana. Hahaha… Seiring berjalannya waktu sampai dewasa, pikiran alam bawah sadar saya melakukan mekanisme pertahanan untuk menghindari pagi. Ada alasannya.

Untuk sesi regresi kedua, saya sendiri pun masih skeptis sampai sekarang. Bayangan kenangan yang muncul saya anggap terlalu vivid untuk jadi gambaran masa lalu. Yang saya lihat adalah PoV diri saya sendiri (kepala menunduk melihat dada sampai kaki) yang mengenakan… jubah pastor Katolik berwarna hitam tanpa lis putih, dan berjalan masuk ke sebuah ruangan gelap berdinding batu di sebuah sore.

Yang jelas, saya bangun dari kedua sesi tersebut dengan pucuk mata yang penuh belekan kering, seperti bangun pagi, tidur dengan durasi lama.

Masih kepengen lagi? Masih sih. 😀

Selanjutnya, muncul pertanyaan: “Karena tidak bisa dibuktikan, apakah kelahiran kembali tidak pernah terjadi?

Jawabannya: “Mungkin.”

Bagi selain penganut Buddhisme dan Hinduisme, jelas tidak ada kelahiran kembali, apa pun mekanismenya. Setiap orang meninggal satu kali, untuk kemudian dibangkitkan satu kali dan menjalani aneka rupa proses evaluasi dan penghakiman. Hasil akhirnya berlangsung dalam keabadian. Seperti itu, bukan?

Sebagai Buddhis, diarahkan untuk selalu skeptis aktif; belum percaya sampai membuktikan sendiri.

Secara teori, satu-satunya cara untuk bisa mengakses kemampuan ini adalah lewat meditasi. Paradoksnya, makin dicari malah makin susah ditemukan. Hehehehe… Ketika ada seorang meditator yang memiliki kemampuan ini, ia cuma diam.

Bagi yang belum bisa merealisasi kemampuan tersebut, kekepoan terhadap kehidupan lampau bukan sekadar percaya atau tidak, melainkan kembali ke pertimbangan bermanfaat untuk kehidupan saat ini atau tidak. Bukan meninjau ke belakang, yang sudah terjadi, melainkan menyadari yang sedang terjadi saat ini. Kehidupan yang cuma satu ini.

Dari sudut pandang yang lain, konsep rebirth ini menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri tanpa batas latar belakang. Mirip hukum tabur-tuai tapi secara absolut. Bergulir dengan sendirinya sesuai semua faktor yang ada dengan kamma/karma sebagai bahan bakarnya, tanpa campur tangan pengubah drastis. Apa yang didapat saat ini, itulah akibat dari yang sudah diberikan sebelumnya.

Paduan konsep rebirth dan kamma saling menghubungkan semua makhluk (bukan hanya manusia) secara berkesinambungan. Besar kemungkinan, orang-orang yang ada dalam kehidupan kita saat ini, positif maupun negatif, sudah terhubung dalam kehidupan sebelumnya. Enggak tahu sebagai apa. Itu sebabnya, kadang kita langsung bisa merasa sebal atau benci dengan seseorang sejak bertemu pertama kali, belum juga kenal. Begitupun sebaliknya.

Kebayang ya, kepo yang satu ini begitu sulit dan melelahkan.

Intinya, jadi orang baik aja deh. Setidaknya itu sudah cukup kok, untuk saat ini.

[]

Akan Selalu Ada “Nabi-nabi” Baru

TULISAN kali ini sengaja telat naik, karena topiknya enggak penting-penting amat… ditambah lagi karena sayanya memang kurang fokus dan terlalu gampang terdistraksi. Maklum, gampang hanyut. Belum lagi buntu otak menulis tentang apa, perlu banyak-banyak masukan.

Bicara soal distraksi, selain playlist random film-film berbahasa Tionghoa di kanal Tian Ying Pindao, serta meninggalnya David Bowie dan komedian Budi Anduk pada awal pekan ini, salah satu topik yang lumayan bikin penasaran adalah soal Gafatar atau NKSA atau apa lah namanya. Ketiga hal ini benar-benar menjadi distraksi, sebab mampu membuat saya menghabiskan berpuluh-puluh menit demi menyimaknya.

Soal film, ternyata ada banyak judul yang menarik untuk dipantengin. Hanya sedikit dari film-film tersebut yang pernah tayang di bioskop, sehingga benar-benar menjadi kesan pertama. Seperti yang barusan banget ditonton sebelum menulis ini, dan akhirnya memperpanjang durasi makan siang sampai 90 menit: “無人區” (No Man’s Land). Selain itu, dengan film-film yang tidak disulihsuarakan ke dalam dialek Mandarin, bisa juga tipis-tipis mengetahui kosakata dalam dialek Kwongtung (film-film Hong Kong) dan dialek Hokkian (film-film Singapura/Malaysia/Taiwan).

Soal meninggalnya David Bowie, baru tahu kalau ada beberapa lagu yang menunjukkan ketertarikan khusus pada Indonesia. Bahkan salah satunya memuat lirik dalam bahasa Indonesia, dan berjudul “Jangan Susahkan Hatiku”. Ya lumayan, ada beberapa waktu ketika bekerja sambil memutar lagu-lagunya di YouTube.

Begitu juga soal Gafatar atau NKSA, dan konon dikabarkan merupakan sempalan dari ajaran Millah Abraham, yang bergerak dengan sistem gerilya dan klandestin setelah induk organisasinya dibubarkan lantaran pokok-pokok ajaran yang menyimpang dari agama resmi. Lengkap dengan alamat yang tidak jelas, dan nama yang berubah-ubah.

Berawal dari serangkaian pemberitaan tentang hilangnya seorang dokter muda bersama anaknya yang masih balita, yang tahu-tahu ditemukan di Kalimantan Tengah. Dari beberapa artikel, baru tahu kalau organisasi ini seakan ingin membangun komunitasnya sendiri di Kalimantan Barat, ditandai dengan kawasan pemukiman sampai pembangunan areal pemakaman khusus. Hanya saja, mekanisme perekrutannya memberi kesan misterius dan menyeramkan, sampai-sampai seolah membuat pengikutnya melepaskan akal sehat dalam bertindak. Saya membayangkan, apabila kawasan pemukiman ekslusif ini terbentuk dan mampu menghidupi diri sendiri, apakah kira-kira bakal seperti kelompok Amish di Amerika Serikat, atau seperti lingkungan-lingkungan Mormon konvensional. Entahlah.

Singkat cerita, setelah klik tautan ini dan itu, baru tahu kalau gerakan Millah Abraham tidak jauh berbeda dengan pandangan-pandangan serupa yang terjadi hampir di semua ajaran agama formal. Yakni ketika ada celah penafsiran praktis mengenai–sebut saja–nubuat, ramalan, atau janji ilahiah, yang kemudian dimaktubkan dalam kitab suci masing-masing, sehingga disakralkan. Mengapa hanya di ajaran agama formal? Karena hanya ajaran agama formal yang menegaskan semacam “susunan organisasi”, struktur kewenangan. Mulai dari sang Causa Prima, para pembawa pesan, para kerabat dan tokoh-tokoh penting, sampai umat biasa.

Konon, hingga saat ini umat Yahudi masih menanti kedatangan Messiah-nya. Itu merupakan salah satu sebab politis utama terjadi penyaliban Yesus. Pendiri Millah Abraham, yang disebut menyampuradukkan pokok-pokok ajaran tiga agama Timur Tengah, menyatakan diri sebagai Messiah yang dinantikan itu.

Umat Kristen secara umum, boleh dibilang siap dan menantikan berlangsungnya isi dan penjabaran dalam Kitab Wahyu, salah satu bagian dari Perjanjian Baru yang ditulis dengan begitu deskriptif. Lengkap dengan hewan mengerikan, simbol angka 666, keempat penunggang kuda, dan sebagainya.

Sedangkan para Muslim pun tengah bersiap dengan kehadiran Dajjal, beserta bangkitnya Ya’juj dan Ma’juj (dalam Alkitab disebut sebagai Gog dan Magog), yang nantinya bakal ditumpas oleh Imam Mahdi, dan seterusnya hingga kiamat dunia terjadi. Selebihnya, sebuah ketentuan yang tak terbantahkan bagi para Muslim bahwa Nabi Muhammad adalah rasul terakhir. Itu sebabnya, Mirza Ghulam Ahmad dengan Ahmadiyah-nya, maupun Syiah dengan kultus para imamnya, dan beragam ajaran-ajaran lainnya disebut sebagai deviasi dari keislaman. Konsekuensinya pun ada dua: ditobatkan, atau berdiri sendiri dengan tidak membawa nama Islam.

Dalam Hinduisme, masih ada satu figur Avatara yang akan muncul. Dari sepuluh sosok, sembilan di antaranya sudah muncul dalam berbagai era. Termasuk salah satunya yang–entah hanya bernama sama atau gimana-gimana–disebut Buddha Avatara. Figur terakhir adalah Kalki, yang bakal muncul pada periode Kaliyuga, era kehancuran dan kegelapan. Kalki digambarkan sebagai kesatria berpedang di atas kuda putih.

Selalu ada celah untuk merasa terpanggil, dan muncul sebagai orang-orang “penting”.

Sebagai ajaran yang berinstitusi, Buddhisme pun tak lepas dari hal-hal seperti ini. Masih berlangsung sampai sekarang.

Merupakan pencapaian, disebut bahwa kebuddhaan bisa dicapai siapa saja (yang belum mencapai kebuddhaan). Kemunculan Buddha pun bersifat siklus dan hanya terjadi dengan faktor-faktor pendukung. Sehingga secara sederhana, bisa dibilang Buddha akan muncul terus menerus dalam batasan ruang dan waktu tertentu (bumi, tata surya, galaksi, kumpulan galaksi-galaksi). Kapan muncul kembali? Mbuh. Namun salah satu syarat munculnya seorang Buddha yang mencapai kebuddhaan atas usahanya sendiri dan mampu mengajarkannya kepada orang lain, sampai yang bersangkutan merealisasi kebuddhaan yang serupa, adalah ketika sedikit pun Buddhisme tak lagi tersisa.

Buddha historis yang dikenal dalam peradaban manusia belakangan ini (baca: 5 milenium terakhir) adalah Siddhattha Gotama, juga kerap dikenal sebagai Sakyamuni. Dalam salah satu sesi ceramahnya, yang kemudian dicatat berjudul Cakkavatti-Sihanada Sutta dan termasuk dalam bagian Tipitaka, disebutkan bahwa Buddha masa depan setelahnya bernama Metteya atau Maitreya dalam bahasa Sanskrit. Maitreya menjadi salah satu figur penting dalam ajaran mazhab Mahayana (ya, non Aswaja gitu deh). Makanya terkenal di Tiongkok, Jepang, Korea, Vietnam.

(Lalu, bagaimana dengan Amitabha, dan nama-nama Buddha lainnya yang ada dalam penjelasan tentang Borobudur? Nah, itu lain cerita.)

Masih berupa ramalan, namun bisa ditebak sudah terjadi sejumlah kasus ketika ada beberapa orang mengaku sebagai Maitreya. Mulai yang berasal dari lingkungan penganut Buddhisme (klaim paling awal tercatat pada tahun 613), sampai yang bukan.

Tidak hanya itu. Kultus terhadap Maitreya bahkan sudah berinstitusi juga. Berawal dari Tiongkok, berkembang ke seluruh dunia, memiliki “tanah suci” di Taiwan, dan bahkan memiliki majelis pemuka agamanya sendiri di Indonesia. Terus hadir sampai sekarang. Selain itu, ada pula yang menggelari atau digelari sebagai Buddha hidup, pun memiliki cukup banyak penganut dan salah satunya menjadi sub sekte tersendiri. Berikut beberapa di antaranya.

  • Yi Guan Dao (一貫道)

Sekarang, tidak susah bagi Anda untuk membaca lebih jauh tentang Yi Guan Dao tanpa harus terlibat di dalam lingkupnya yang ekslusif, dan melibatkan inisiasi dan kerahasiaan khusus. Dalam Wikipedia misalnya, Yi Guan Dao masuk kategori Chinese Folk Religion. Namun Maitreya dihadirkan sebagai salah satu figur utama ajaran, ada kaitannya dengan posisi sebagai Buddha masa depan. Hanya saja, penggunaan tampilan Buddha Maitreya ala Tiongkok, atau yang lebih populer disebut The Laughing Buddha, agak tidak segencar aliran berikutnya;

Ruang utama lantai dasar Vihara Eka Dharma Manggala Samarinda, jadi lokasi hunting foto Instagram. Foto: YouTube.com
  • Jalan Besar Maitreya (彌勒大道)

Di Indonesia, ajaran Maitreya menjadi sub sekte yang diakui resmi oleh pemerintah melalui Walubi dan mempunyai majelis pemuka agamanya sendiri. Banyak yang beranggapan bahwa ajaran Maitreya merupakan bentuk yang lebih modern dan moderat daripada Yi Guan Dao. Itu sebabnya vihara mereka dan fokus kegiatan relatif berbeda. Tetap mempertahankan sejumlah pakem esoteris seperti serupa “pembaptisan”, saat ini mereka lebih intens mempromosikan gaya hidup vegan/vegetarian, dengan tagline “seluruh dunia satu keluarga”. Dari sisi kaum muda, ciri khas mereka adalah sajian tarian yang energik, beraura positif dan optimistis. Berbagai desain grafis pun menampilkan sosok Maitreya yang dibuat kartun.

Patung Maitreya raksasa di Taiwan. Foto: yungchu.com.tw
  • Falun Dafa (法輪大法)

Kelompok ini didirikan oleh Li Hongzhi, namun sebenarnya tidak jelas apakah Li pernah mendeklarasikan dirinya sebagai Buddha atau tidak, atau hanya bentuk kultus berlebihan dari para pengikutnya sehingga menyebabkan salah persepsi di dunia modern saat ini. Untuk hal ini, lebih baik praktisi meditasi Falun Gong saja yang meresponsnya.

Formasi manusia membentuk Li Hongzhi di Taiwan. Foto: telegraph.co.uk
  • True Buddha School (真佛宗)

Kelompok ajaran ini diinisasi oleh Lu Shengyen, seorang kelahiran Taiwan yang saat ini tinggal di Seattle, Amerika Serikat dan masih aktif berkeliling dunia untuk mengisi ceramah dan upacara akbar. Secara teknis, True Buddha School memiliki karakteristik mazhab Tantrayana/Vajrayana yang ada di Tibet, Bhutan, dan sebagian Nepal. Hanya saja ajaran True Buddha School juga semarak dengan Taoisme. Selain itu, secara terbuka Grand Master Lu menerima penyebutan dirinya sebagai Buddha hidup dari para muridnya, berdasarkan sistematika guru-murid Tulku Buddhisme Tibet. Ia digelari Buddha Hidup Lian Sheng/Padmakumara/Putra Teratai (蓮生活佛). Dan karena itu, setiap murid yang “dibaptis” dalam True Buddha School memiliki nama Tionghoa baru. Terdiri atas empat huruf, dan dua huruf pertama adalah 蓮生. Berbeda dengan “nama baptis” dalam Yi Guan Dao maupun Maitreya, yang hanya berupa nama Tionghoa baru tanpa ketentuan aksara khusus.

Menag SDA dengan Lu Shengyen, terkait… ah klik aja fotonya buat baca keterangannya…

Dari empat di atas, tiga di antaranya punya komunitas dan vihara masing-masing. Dalam kegiatan bernuansa keagamaan dan diselenggarakan Kemenag, juga selalu hadir. Vihara Yi Guan Dao punya ciri khas bernama “Eka Dharma” dan gaya arsitektur identik, sedangkan ajaran Maitreya punya beberapa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat).

Ya, sejauh ini, keberadaan ketiganya masih menjadi penambah keragaman karakteristik orang-orang dalam lingkup Buddhisme. Asal orangnya bisa bersikap baik, ndak songong, ya babahno…

Ndak penting, kan? 😀

[]