Tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya

KITA awali saja dengan serangkaian peristiwa yang diperingati hari ini.

1. Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi peristiwa mikraj dalam kitab Siyer-i-Nebi dari masa Utsmaniyah abad ke-15. Gambar: publicdomainreview.org

Ialah Isra dan Mikraj. Yaitu diberangkatkan dalam sebuah perjalanan, lalu dibawa naik atau dinaikkan.

Perjalanan (Isra) berlangsung dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dalam semalam. Tetap dengan menunggangi burak, Rasulullah dibawa naik untuk kemudian melintasi berlapis-lapis langit serta bertemu pada nabi pendahulu. Berturut-turut dimulai dari Nabi Adam, Nabi Isa (Yesus) dan Nabi Yahya (Yohanes), Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim (Abraham). Di langit tingkat tertinggi barulah Rasulullah menerima perintah beribadah wajib. Dijadikan lima kali dalam sehari, sejak subuh sampai isya.

Gambar terkait
Ilustrasi burak yang populer selama ini, dan kerap menghiasi dinding ruang tamu sebagai ornamen utama. Gambar: publicdomainreview.org

2. Yesus Kristus

Setelah penyaliban (Jumat Agung), kebangkitan dalam kubur batu terjadi di hari ketiga (Minggu Paskah). Lalu, tubuh itu pun terangkat dari Bukit Zaitun ke surga lepas 40 hari sesudahnya, ketika Yesus kembali berhimpun dan berkumpul dengan sejumlah murid.

“… et eritis mihi testes in Jerusalem, et in omni Judæa, et Samaria, et usque ad ultimum terræ.

“… kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Kisah Para Rasul 1:8

Kini, mereka, golongan orang-orang yang percaya, tengah menanti janji nubuat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Salah satu penanda akhir zaman.

Gambar terkait
“Christi Himmelfahrt” atau “Naiknya Kristus” karya Gebhard Fugel tahun 1893. Gambar: Wikipedia

3. Yudistira

Perang kolosal Mahabharata telah lama usai. Dimenangkan oleh kubu Pandawa, Yudistira kembali memimpin kerajaan Hastinapura selama 36 tahun, sebelum akhirnya menarik diri bersama istri dan para saudaranya. Mereka bertujuh: Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa), istri mereka Drupadi, dan seekor anjing melakukan perjalanan spiritual menuju surgaloka di Himalaya.

Satu demi satu anggota rombongan meninggal di sepanjang perjalanan akibat buah karma mereka. Dimulai dari Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima. Tersisa Yudistira dan anjingnya yang terus berjalan hingga mencapai kaki Gunung Meru menuju kayangan.

Di tengah-tengah perjalanan yang sepi itu, muncul Dewa Indra dengan keretanya. Dewa Indra menawarkan tumpangan kepada Yudistira ke surga, tetapi ditolak. Yudistira tidak mau ke surga tanpa istri dan saudara-saudaranya. Dewa Indra terus membujuk, menyebut Drupadi dan adik-adiknya telah mencapai surga setelah kematian mereka. Menurut Dewa Indra, Yudistira bisa naik ke surga dalam tubuh manusianya—tanpa melalui kematian—karena moralitasnya yang tanpa cela.

Belum selesai di situ, Yudistira kembali urung bergabung dengan Dewa Indra lantaran dilarang membawa anjingnya serta. Yudistira telah menganggap anjing tersebut sebagai teman seperjalanan, dan merasa sangat berdosa apabila meninggalkannya demi kebahagiaan sendiri.

Di tengah proses bujuk rayu Dewa Indra kepada Yudistira, anjing itu menunjukkan bentuk aslinya: Dewa Yama. Ia memuji kesetiakawanan Yudistira, dan membuatnya pantas memasuki surga dalam raga duniawinya.

Gambar terkait
Ketika Dewa Indra membujuk Yudistira menaiki keretanya ke kayangan tanpa membawa anjingnya. Gambar: Wikipedia

4. Buddha Gotama

Ratu Maya meninggal saat tujuh hari setelah melahirkan Pangeran Siddhattha.

Sebagai seorang piatu, sang pangeran tumbuh besar di bawah asuhan Pajapati, tantenya, dan tentu tidak berkesempatan untuk berbagi kebahagiaan atau pun berbakti kepada ibu kandungnya. Ketika ia berhasil memenangkan sayembara dan menikahi Yasodhara; ketika putranya lahir, Rahula; ketika ia kembali mengunjungi kerajaan kampung halamannya sebagai seorang Buddha.

Pada tahun ketujuh kebuddhaannya, Buddha Gotama melihat dan mempelajari kebiasaan para Buddha di masa lalu. Salah satunya ialah pergi dan mengajarkan Abhidhamma kepada murid dan makhluk-makhluk lain yang mampu memahaminya kala itu–kendati pada akhirnya tercatat dan berhasil dibukukan beberapa abad setelah wafatnya. Abhidhamma sendiri merupakan kumpulan ajaran mendalam yang disepakati berasal dari Sang Buddha langsung secara historis, dan kemudian jadi bagian dari Tipitaka hingga sekarang.

Mendiang Ratu Maya melanjutkan siklus kehidupannya terlahir di surga tingkat empat, Tusita, yaitu seorang dewa bernama Santusita. Maka pada saat Buddha Gotama mengunjungi surga tingkat dua, Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ribuan dewa penghuninya, Santusita turut diundang hadir.

Pengajian Abhidhamma di Tavatimsa berlangsung selama tiga bulan (ukuran waktu bumi). Selama itu pula, para umat awam menunggu kepulangan Sang Buddha sambil berkemah dan mendengarkan ajaran dari beberapa murid utama. Titik konsentrasi umat ada di Samkassa (kota kuno yang saat ini bekas-bekasnya dipercaya berada di antara kota Farrukhabad dan Mainpuri, Provinsi Uttar Pradesh) sehingga Sang Buddha memutuskan “turun” di sana.

Mengetahui rencana kepulangan Sang Buddha ke bumi, Dewa Sakka—pemimpin surga Tavatimsa—menciptakan tiga jalur “tangga” dari “puncak Gunung Sineru” dan berujung ke pintu kota Samkassa. Jalur-jalur tangga tersebut terbagi menjadi tangga perak di kiri bagi para Mahabrahma, dan tangga emas di kanan bagi para dewa mengapit tangga permata untuk Sang Buddha.

Gambar terkait
Sang Buddha turun dari Tavatimsa didampingi para dewa hingga Mahabrahma dengan tangga permata. Gambar: journal.phong.com

Kisah-kisah di atas berasal dari hampir semua agama resmi yang diakui negara ini. Hanya saja, saya belum pernah membaca/tidak pernah menemukan catatan peristiwa serupa dalam ajaran Konghucu. Sementara ajaran Tao yang memiliki segudang cerita sejenis (Delapan Dewa, Lv Shang alias Jiang Ziya, atau bahkan sosok Laozi sendiri) masih dianggap bagian dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang rancunya, terkadang dilekatkan pada Buddhisme Mahayana. Maka dapat dikesampingkan untuk sementara waktu.

Dari keempat kisah di atas, saya hanya berhak mengomentari cerita tentang Sang Buddha “turun” dari Surga Tavatimsa.

Sebagai seorang Buddhis, saya tidak berkewajiban membuta untuk mempercayai kisah tersebut bulat-bulat. Toh, saya tidak ada di sana dan menyaksikannya waktu itu. Apalagi tidak tertutup kemungkinan, terbatasnya wawasan dan ilmu pengetahuan manusia di era tersebut dapat menyebabkan kekeliruan serta mispersepsi. Misalnya mengenai ruang: “naik”, “ke atas”, “turun”, “tangga”, dan sebagainya. Membuat kisah pembabaran Abhidhamma di surga itu terdengar mirip dongeng.

Apakah benar Sang Buddha naik untuk ke Surga Tavatimsa?
Apakah benar Sang Buddha turun ke bumi menggunakan tangga ciptaan Dewa Sakka?

Namun, satu hal yang nyata, kumpulan kitab Abhidhamma memang ada dan sebagiannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bukan untuk sekadar dianggap sakral atau keramat, tetapi agar mudah dibaca, dipahami, dipraktikkan, dan dialami sendiri. Sebab hakikatnya, menjalankan dhamma—ajaran—jauh lebih penting dibanding urusan “tangga-tangga gaib” yang ribuan kilometer panjangnya.

Demikianlah sebagian cerita tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya.

… dan, barangkali, bukan itu intinya.

[]

Advertisements

Selamat Libur Pilkada Serentak se-Indonesia!

AKU tidak percaya! Aku menolak untuk percaya!

Sun Wukong berteriak marah kepada Rulai. Ia tidak terima dianggap kalah mandraguna, dan disebut hanya terbang berputar-putar di telapak tangan Sang Buddha, yang dikiranya adalah ujung dunia. Sayang, ia tak sempat kembali melesat ke angkasa. Rulai membalikkan telapak tangannya, mengimpit si raja kera, kemudian mengubah beban itu jadi sebuah bukit yang menjulang tinggi.

Di dasar bukit tersebut, Sun Wukong harus terpenjara 500 tahun lamanya.

Berubah, belum tentu berarti kalah.

Dalam beberapa kasus, kompromi dan perubahan yang diizinkan terjadi justru menghindarkan sesuatu dari keusangan maupun kejenuhan, sekaligus bersifat fungsional. Sehingga membuatnya kembali mudah diterima, menjadi sesuatu yang baru dan segar, ataupun memperkaya yang sudah ada.

Akan tetapi, hal ini tidak berlaku untuk ajaran agama dan ragam pelaksanaannya. Terlebih pada agama-agama samawi atau agama langit, yang terdiri dari sekumpulan tradisi ilahiah dari atas, dan karenanya tidak boleh diganggu gugat oleh manusia dengan segala kelemahannya sebagai hamba.

Dengan batasan-batasan yang kaku, sakral, serta dianggap bisa berdampak supernatural dan supranatural, perubahan serta perbedaan sekecil apa pun dalam ajaran agama bisa dianggap pelecehan, penghinaan, juga penyesatan. Pilihannya hanya dua: munculnya perselisihan, atau keluar dari sistem yang ada dengan nama baru.

Lain cerita dengan agama-agama non-samawi, yang oleh sebagian orang dianggap beda kelasnya. Termasuk yang nuansanya kental terasa dalam cuplikan cerita di atas.

Bisa dibayangkan. Apabila Buddhisme serta pernak-perniknya tidak “diimpor” dan dikenal bangsa Tionghoa, barangkali Wu Chengen, pujangga ternama di era Dinasti Ming, tidak terpikir untuk menulis epos fantasi seseru “Kisah Perjalanan ke Barat”. Cerita mitologi sarat pesan moral yang berulang kali difilmkan sampai sekarang.

Selain itu, entah, apakah Wu pernah menyangka bila salah satu dampak dari epos tersebut adalah pengkultusan tokoh-tokoh ciptaannya. Terlebih Sun Wukong, yang dipuja bahkan didewakan, lengkap dengan perayaan hari lahir, serta kelenteng yang didedikasikan khusus di sejumlah kota di Tiongkok, Hong Kong, dan lainnya.

“Kisah Perjalanan ke Barat” dan pendewaan Sun Wukong ialah salah satu contoh “keunikan” kehidupan religius bangsa Tionghoa, yang telah terbentuk, dianut, dan berlangsung selama lebih dari 2 ribu tahun terakhir. Unik dengan tanda petik lantaran terlalu luwes, menghasilkan paduan yang sedemikian rupa.

Lazimnya menurut perspektif monoteisme yang samawi, tentu akan terjadi silang pendapat, perdebatan, dan klaim sebagai ajaran paling benar bila dua paham dipertemukan. Namun di dataran Tiongkok, baik Buddhisme mazhab Mahayana dan ajaran Tao yang esoteris saling berpilin, saling mencocokkan/dicocok-cocokkan, akhirnya membentuk kepercayaan pagan seperti yang dikenal hingga sekarang. Menghasilkan tiga besar kelompok religius: penganut Buddhisme, pembelajar Tao, dan umat kepercayaan tradisional (gabungan Buddhisme dan Tao) dengan jumlah yang lebih banyak.

200782521161768338_vjchpt7IVAgz
Kahyangan ala Tionghoa, tempat para dewa Tao dan figur Buddhisme Mahayana ngumpul. Sila dihitung, berapa kisah mitologi yang ada di dalamnya.

Contohnya, kembali ke tokoh Sun Wukong. Lahir secara magis (Tao), belajar dan mendapat kesaktian secara Tao, serta mengacaukan surga dan dewata Tao, kemudian dihukum oleh Buddha Rulai, menjadi murid dan pengawal Biksu Tang Sanzang, dibantu oleh Dewi Guanyin atau Bodhisatva Avalokitesvara, hingga akhirnya mendapat anugerah kedewaan dari Buddha sesampainya di Tanah Barat. Dan kini, disembahyangi ala Tionghoa di kelenteng-kelenteng. Campur baur.

Toh dikisahkan, para dewata Tao beserta seisi Istana Langit tidak sanggup menaklukkan si raja kera. Sampai-sampai Buddha Rulai ikut turun tangan, menyiratkan keunggulan. Seolah-olah surgaloka Tao dan Buddhisme sebelah-menyebelah, bertetangga. Tinggal ketok, minta tolong. Dalam bagian ini, Wu kayak menunjukkan bahwa Buddha jauh lebih sakti dibanding Kaisar Langit sekalipun. Seperti untuk menarik perhatian anak-anak. Padahal, Buddha Rulai yang disebut bukanlah figur historis Siddhattha Gotama (Sanskrit: Siddhartha Gautama), melainkan konsep kontemplatif yang dianut mazhab Mahayana.

Ini tidak hanya terjadi pada Sun Wukong, atau tokoh-tokoh mitologis saja kok. Budaya religius bangsa Tionghoa juga tidak sungkan-sungkan mengkultuskan dan mendewakan sosok historis setelah kematiannya (misalnya Jenderal Guan Yu alias Dewa Guan Gong alias Bodhisatva Sangharama), serta menyadur figur-figur ajaran lain untuk didewakan secara langsung (misalnya Bodhisatva Avalokitesvara yang seorang pria, mengalami perubahan menjadi Dewi Guan Yin). Bahkan hikayat panteon atau dewa-dewa populer Tionghoa bisa dibaca dalam berbab-bab kisah “Penganugerahan Para Dewa” (Mandarin: “Fengshen Yanyi”, Jepang: “Hoshin Engi”). Lengkap dengan dramatisasi kisahnya masing-masing.

Lebih dari itu, budaya religius ala Tionghoa yang sangat akulturatif juga terjadi di Indonesia. Buktinya, di Gunung Kawi, Malang; di Sungai Kerbau, Samarinda; ada Sanggar Agung di Kenjeran, Surabaya; di Kelenteng Sam Po Kong, Semarang; dan masih banyak lainnya.

Apabila di Indonesia bernuansa Kejawen, di Malaysia dan Singapura justru dengan atmosfer Hindu. Mau bukti? Di Kuil Sri Mahamariamman, Batu Caves, Malaysia, ada saja warga Tionghoa yang sembahyang menggunakan hio. Begitu pula di depan salah satu kuil Hindu di kawasan Chinatown Singapura, sengaja disediakan satu hiolo atau bokor tempat menancapkan hio. Dan, ada warga Tionghoa yang menyembahyanginya.

Dalam beberapa paragraf di atas, disebutkan bahwa hanya ada dua pilihan: munculnya perselisihan, atau keluar dari sistem yang ada dengan nama baru. Mungkin budaya religius Tionghoa ini adalah anomali. Sebab tidak ada budaya religius lain, yang mengalir begini.

DSC02591
See? Warga Tionghoa, menyembahyangi dewa-dewa Hindu, dengan metode Tionghoa pula. (Foto diambil tahun 2008)

Lalu, apakah dengan mencampur-campurkan ajaran tersebut membuat kepercayaan tradisional Tionghoa pantas dianggap konyol dan keliru?

Kalau Anda adalah seorang penyebar agama, bisa jadi jawabannya iya. Jadi penganutnya harus disadarkan, istilahnya.

Tapi apabila Anda adalah seorang ahli ilmu sosial dan psikologi sosial, keunikan ini tentu sangat menarik perhatian. Sebuah keragaman yang bikin betah untuk ditelaah.

Beda sudut pandang.

[]

Oya, selamat berhari libur Pilkada buat kamu yang ada di 269 daerah se-Indonesia.

Hari libur gini, ke mana? 😀