Apa Jadinya Kalau Terlalu Banyak Berbagi?

Buat kita yang sudah meluangkan waktu dan uang untuk pergi ke bioskop, tantangan terbesar dalam menikmati jerih payah waktu dan uang kita adalah menghalau sinar terang dari ponsel. Sesuatu yang sebenarnya sudah kita alami sejak ponsel sudah menjadi konsumsi umum masyarakat dari akhir 90-an, namun semakin menjadi-jadi dalam beberapa bulan sampai setahun terakhir ini.

Pasalnya? Apa lagi kalau bukan munculnya aplikasi instant story. Mulai dari Periscope, Snapchat, lalu yang paling populer sekarang Instagram Stories, dan tak ketinggalan WhatsApp, Facebook, sampai cover story di Path. Semua mengajak penggunanya untuk berbagi the exact moment yang mereka alami, saat itu juga, sampai 24 jam kemudian. Toh memang nothing lasts forever.

Forget preserving the moment, let’s treasure the moment instead. Begitu kira-kira filosofinya. Termasuk dalam berbagi momen, sedang nonton film apa di bioskop.

Forget the darkness, let’s just share what we are watching right now! Toh ada sinar dari layar lebarnya. Begitu kira-kira pemikiran yang ada untuk mereka yang suka merekam dan upload potongan film ke akun media sosialnya.

Ponsel atau gawai sudah jadi bagian nyawa dari kita. Susah disuruh untuk lepas barang sesaat. Berpisah dengan ponsel untuk urusan mengurus visa di kedutaan negara asing barang satu jam saja, rasanya sudah seperti setahun. Jadi ide untuk menitipkan ponsel saat masuk ke bioskop sepertinya juga tidak mungkin. Ini juga bukan seperti menitipkan alas kaki waktu mau masuk masjid atau kuil.

Of course the problem is never about the device or the apps. It’s always about the user. It’s how we control what we have.

Bagi saya dan banyak orang, termasuk Anda, pergi ke bioskop saat ini sudah merupakan extra luxurious effort.
Ganti baju yang lebih rapian sedikit. Menghidupkan kendaraan bermotor, atau panggil ojek atau taksi. Bisa juga jalan kaki, karena kebetulan tempat saya tinggal dekat dengan salah satu bioskop. Cuma tidak semua film ditayangkan di sana, sehingga untuk film-film tertentu harus ke bioskop lain. Lalu cari parkir. Sebelumnya, kena macet.
Lalu untuk yang suka ngemil, beli popcorn. Karena tidak sempat pergi di weekdays, maka pergi menontonnya di akhir pekan, yang harga tiketnya lebih tinggi sedikit. Semua kita lakukan supaya bisa pergi keluar, menikmati hawa di luar rumah, dan bersosialisasi, karena kebanyakan dari kita pergi ke bioskop bersama teman, keluarga atau pasangan. It takes a great effort.

Maka wajar kalau semua usaha itu kita nikmati dengan santai dan tenang. Bukan cuma Anda yang layak menikmati, tapi puluhan sampai ratusan orang yang sedang duduk bersama Anda dalam satu waktu tersebut. Semua ingin menikmati, tanpa gangguan dering ponsel, tanpa gangguan sinar ponsel yang glaring, apalagi kalau sampai kamera dinyalakan.

Percayalah, tidak ada apa-apa yang bisa dihasilkan dari berbagi rekaman video potongan film di bioskop ke akun media sosial Anda.
Mau pamer atau bikin iri ke followers? That only fuels your notoriety.
Mau kesandung urusan pelanggaran hak cipta kalau sampai pemilik film tersebut melaporkan Anda? You don’t want to deal with any kind of law violation, ever.
Perlu update? Bisa selfie sebelum film dimulai atau sesudah film berakhir.

Trust me, the magic of cinema begins when we turn off our phone for a while.

Selamat Hari Film Nasional.
Semoga apa yang kita tonton saat mematikan ponsel di bioskop bisa memperkaya hidup.

Advertisements

Jatuh Cinta Pada Karakter

Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengeluh kepada seorang teman. Saya bilang, banyak film yang saya tonton sampai paruh tahun ini yang tidak meninggalkan bekas sama sekali. Menguap begitu saja selesai keluar dari bioskop.

Teman saya tertawa kecil, lalu bertanya, “Maksudnya, nggak ada film bagus, gitu?”
Saya jawab, “Definisi bagus itu kan macem-macem ya. Dan nonton film itu kan subyektif. Ini bener-bener nggak ada yang berkesan gitu.”
“Maksudnya berkesan?”
“Paling nggak, pas bangun pagi sehari setelah nonton film itu, masih keinget.”
“Busyet sampe segitunya. Emang ada film yang bisa sampai kayak gitu?”

Saya mengangguk.
Lalu saya melihat catatan film-film apa saja yang sudah ditonton selama ini. Baik itu menonton di bioskop, maupun di rumah.

Untuk tahun ini, hanya ada sedikit film yang saya tulis dengan huruf tebal. Itu tandanya, film itu memberikan kesan yang sangat dalam seusai menonton.
Dari puluhan film yang saya tonton di bioskop sampai paruh tahun ini, film terakhir yang berkesan adalah NEERJA. Film kisah nyata tentang pramugari Pan Am yang menyelamatkan penumpang dari ancaman teroris di tahun 1986. Film ini produksi India. Filmnya sendiri saya tonton di bioskop bulan Februari lalu.
Sementara puluhan film lain yang ditonton setelah Neerja di bioskop, cuma sekedar saya tulis sebagai penanda saja.

Neerja (courtesy of youtube)

Neerja (courtesy of youtube)

Lain cerita dengan di rumah.
Karena bisa mengkurasi sendiri tontonan yang saya pilih, maka banyak tontonan serial, film televisi, atau film-film lama yang sangat membekas. Terakhir saya sangat terkesan pada mini seri AMERICAN CRIME STORY: THE PEOPLE VS OJ SIMPSON, dan menonton ulang film lama, THE PRIME OF MISS JEAN BRODIE (1969).

Rasa penasaran ini membuat saya bertanya lagi kepada teman yang lain. Kebetulan dia seorang penulis. Keluhan yang sama saya sampaikan. Dia cuma menjawab singkat, “It’s because you don’t like the characters.”
“Maksudnya?”
“Ya film-film yang kau sebutkan di atas itu ‘kan semuanya character-driven. Ceritanya dibuat dengan mengedepankan karakter, sehingga karakternya benar-benar dibuat dan dibangun sedemikian rupa that you cannot help but feeling empathy. Kebetulan aku juga nonton Neerja. Ingat-ingat lagi deh. Bukan hijack teroris yang ditonjolkan di film itu, tapi karakter Neerja, dan juga ibu Neerja kan yang dikedepankan? Lalu miniseri OJ Simpson itu. Di setiap episode, kita dikenalkan dengan karakter-karakter orang-orang yang berada di sidang pengadilan OJ kan, gak melulu reka ulang adegan sidangnya? Because once you care about the characters, you will care about whatever story they are put in.

Saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu. Masuk akal.

American Crime Story: The People vs OJ Simpson (courtesy of indiewire)

American Crime Story: The People vs OJ Simpson (courtesy of indiewire)

Dalam waktu singkat, cerita, dalam bentuk apapun, harus mampu menarik minat mereka yang mengkonsumsinya. Bisa penonton, pendengar atau pembaca. Biasanya, cerita yang baik akan membawa kita langsung ke inti masalah. Ini banyak terjadi dalam format cerita yang pendek.
But then, what’s next? Kita tetap perlu tahu dan kenal siapa (saja) orang yang berada di inti cerita itu.

Tidak perlu bertele-tele menceritakan latar belakang karakter, tapi dari raut muka, gerak badan, pilihan kata dan tindakan yang diambil di dalam suatu masalah, semuanya sudah menunjukkan karakter dari tokoh yang kita lihat, baca atau dengar.

Dari situ kita sudah bisa memilih dan menilai, apakah kita bisa berempati dengan karakter tersebut. Karena hanya dengan empati maka kita bisa mengikuti cerita karakter tersebut dengan baik.

Tentu saja televisi mempunyai keunggulan tersendiri, karena dalam format panjang dan dilakukan secara rutin, maka kita bisa mengenali setiap karakter yang ada. We welcome them to our home every week or every day, sehingga mereka sudah jadi bagian dari hidup kita. Inilah kenapa banyak dari kita yang masih betah menonton serial televisi yang sudah kita ikuti selama bertahun-tahun. Because we know the characters inside and out.

Di film layar lebar pun, meskipun akhir-akhir ini kita banyak dibombardir film-film event-driven, namun tetap karakter mereka lah yang akan kita ingat. Saya masih ingat detil-detil kecil di film Neerja yang memperlihatkan vulnerability karakter utama, yang membuat kita makin trenyuh. Di film Prime of Miss Jean Brodie, dari lima menit pertama rasanya tidak mungkin kita tidak jatuh cinta pada karakter Jean Brodie yang unik, yang ia perlihatkan pada murid-muridnya. Dan tentu saja, karakter seperti Cinta dan Rangga atau Galih dan Ratna yang kita simpan dalam kenangan, meskipun plot filmnya mungkin perlahan hilang dari ingatan.

Toh dalam kehidupan nyata, kita jatuh cinta dulu pada orangnya, sebelum kita tahu perjalanan hidupnya.

Bukankah begitu?

The Prime of Miss Jean Brodie (courtesy of highdefdigest)

The Prime of Miss Jean Brodie (courtesy of highdefdigest)

Dipilih Sehingga Kita Tidak Pusing Memilih

Ada satu pertanyaan yang cukup sering saya tanyakan ke banyak orang. Memang bukan pertanyaan singkat, karena jawaban dari pertanyaannya akan memancing pertanyaan lain yang lebih “kompleks”.

Pertanyaan itu adalah, “Kamu suka nonton film di bioskop?”

Kalau jawabannya “tidak”, maka biasanya saya akan lanjut bertanya, “Oh, kalau begitu, waktu luang biasanya diisi apa?” Bagi saya, tidak perlu mencari alasan mengapa orang tidak suka melakukan suatu hal.

Kalau jawabannya “ya”, maka biasanya saya akan melanjutkan dengan beberapa pertanyaan seperti:
– “biasanya dalam sebulan berapa kali nonton?”
– “film terakhir yang ditonton apa?”
– “paling sering nonton di mana?” (sumpah, ini bukan mau stalking!)
– “kalau nonton di bioskop sukanya nonton sendiri atau sama siapa?” (ini juga bukan kepo, tapi pure curiosity!)
Lalu pertanyaan yang akhir-akhir ini makin sering saya tanyakan:
– “kenapa suka nonton di bioskop?”

analyze

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja saya tanyakan dalam kapasitas informal, alias menanyakan dalam situasi yang santai, dan tidak dalam kapasitas survey resmi. Meskipun begitu, terutama untuk pertanyaan terakhir, saya menemukan jawaban-jawaban yang menarik.

Pada dasarnya, kebanyakan dari kita tidak suka sendiri. Kegiatan menonton di bioskop adalah cara menghabiskan waktu bersama orang lain, baik itu pacar, pasangan hidup, atau beramai-ramai bersama dengan teman dan keluarga. Lalu banyak juga yang bilang, kalau bioskop mempunyai kualitas layar dan tata suara yang jauh lebih baik dari apa yang kita punya di rumah. Menonton di layar lebar jauh lebih memuaskan daripada sekedar menonton di televisi, tablet atau bahkan layar ponsel.

Selain itu, ada satu jawaban yang cukup menggelitik. Beberapa orang mengatakan, bahwa kalau di bioskop, mereka sudah tahu akan menonton film apa, karena mereka berniat menonton film tersebut, tanpa harus terganggu dengan banyak pilihan lain. Kalaupun ada pilihan lain, paling 2-3 film lain. Pilihan yang sedikit justru membuat kelompok penonton ini fokus terhadap apa yang mereka mau tonton.

Jawaban ini cukup membuat saya terkesiap. Sedikit terkejut. Tetapi lantas memahami.

jack-russell-terrier-sunglasses-glasses-drink-tube-popcorn-humor-white-background

Seorang teman pernah bilang ke saya, “Waduh, di rumah itu banyak banget film belum ditonton. Jaman streaming video belum secepat dan segampang sekarang, kan suka download tuh. Itu aja belum semua ditonton. Pulang ke rumah, malah kadang bingung nonton apa. Di harddisk masih banyak film dan serial. Langganan streaming, malah gak ditonton.”

Saya bertanya, “Tapi nonton di bioskop?”

“Iya. Kadang melipir aja sambil nunggu macet kelar. Atau emang sengaja nonton film di bioskop. Kan jelas, filmnya apa. Gue gak perlu bingung milih atau mikir mau nonton apa. Udah, tinggal beli tiket, beli popcorn, duduk. Jelas.”

Dalam pembahasan lain yang semi serius, seorang teman lain pernah berkata bahwa untuk leisure items, banyak orang cenderung akan mengkonsumsi atau memilih apa yang sudah dipilihkan untuk mereka.
“People still prefer having their goods chosen and curated for them”, katanya.

Ini sedikit mengingatkan pengalaman teman saya waktu bekerja toko buku. Kata dia waktu itu, susah sekali menjual buku fiksi dibanding buku-buku petunjuk seperti restaurant guides, travel guides, dan sejenisnya.
Lalu teman lain yang dulu bekerja di perusahaan rekaman pernah juga berujar bahwa rata-rata penjualan album kompilasi seperti All Hits Collections dan sejenisnya masih lebih baik dari album solo.

Sedikit banyak memang hal ini memberikan suntikan mood booster ketika saya harus mengkurasi film untuk festival. Bahwa ketika orang diberikan pilihan yang terbatas dalam waktu yang terbatas untuk mengakses pilihan tersebut, maka ada sense of urgency untuk menikmatinya, sebelum terlewat kesempatannya. Ya ini memang sekedar self assurance sih. Entah benar atau tidak, dan tergantung seberapa besar festival tersebut dikenal, tapi nyatanya memang saya melihat bahwa kegiatan festival film, festival musik dan festival-festival lain cenderung dipadati penonton. Terlebih kalau tempat pelaksanaan kegiatannya cukup nyaman, seperti bioskop.

movie-watching

Tempat yang nyaman, pilihan yang sudah tersaji, dan kita cukup menerima. What’s not to like? Mungkin ada yang protes, kenapa film tertentu tidak ditayangkan, diputar atau dirilis. Tapi jumlah yang protes biasanya tidak cukup banyak utnuk membuat orang berpaling sepenuhnya, karena bagaimanapun, frekuensi untuk menyerahkan pilihan kepada pihak lain ternyata masih cukup tinggi. Maka bioskop masih ada, walaupun streaming service makin mudah dijangkau. Maka orang masih punya paling tidak satu set televisi di rumah, walaupun akses internet nyala 24 jam. Maka restoran masih ada, meskipun jasa antar layan makanan makin banyak.

Karena kita manusia yang perlu melihat manusia lain untuk memastikan kita tidak sendiri. Meskipun kita memilih sendiri, tapi menikmati tontonan tidak dalam kesendirian akan memberikan pengalaman yang membuat kita ketagihan.
Tidak percaya?

Well, selamat menonton. 🙂

10+ Film Paling Berkesan Ditonton di Bioskop Tahun 2015

Film tidak harus ditonton di bioskop. Saya setuju. Apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang ini. Banyak film dengan kualitas baik hadir lewat media streaming video service. Bisa lewat Amazon, Netflix, dan beberapa situs lainnya. Dari dalam negeri pun sudah mulai muncul beberapa situs serupa.

Namun tidak ada, atau belum ada, yang bisa mengalahkan sensasi bioskop. Sebuah ruang besar yang gelap, dengan layar lebar yang membuat kita terpaku akan kedigdayaannya. Selama 2-3 jam pandangan kita terkonsentrasi apa yang kita lihat dan dengar di layar sebesar puluhan meter di depan. Ini belum termasuk proses keluar rumah, mengantri tiket dan makanan kecil, mengajak teman atau pacar, serta semua hal yang menjadi cinemagoing experience lengkap.

Setiap menjelang akhir tahun, saya selalu membuat daftar film-film yang saya tonton di bioskop dengan sensasi menonton yang mengesankan. Bukan, ini bukan daftar film “terbaik”. Ini daftar film-film yang saya tonton tahun ini dengan pengalaman menonton yang masih saya ingat sampai sekarang. Filmnya sendiri mungkin belum tentu dianggap banyak orang sebagai yang “terbaik”. Toh pengalaman menonton film itu pasti personal. Pengalaman satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Ada beberapa film di bawah ini yang saya tonton berdua, bertiga, atau beramai-ramai, lalu di akhir film ada yang menyeletuk “Filmnya nggak bagus menurutku, ah!” Sementara saya cukup tersenyum karena mengambil kesimpulan sebaliknya. You may watch a film together, but how the film speaks to you, that’s always personal.

Biasanya saya menulis daftar ini di blog pribadi saya dalam bahasa Inggris. Untuk pertama kalinya, saya menuliskannya di Linimasa, karena saya cinta kalian semua. Aaawww.

Dan dalam urutan abjad, maka 10+ film yang paling berkesan waktu saya menontonnya di bioskop tahun ini adalah:

a. 99 HOMES
Tanggal menonton: 22 Oktober

99 Homes

99 Homes

Dari menit-menit pertama, saya sudah tercekat. Sutradara film ini, Ramin Bahrani, banyak menggunakan extreme close up untuk memperlihatkan ekspresi muka Andrew Garfield dan Michael Shannon dengan dentuman musik perkusi dari komposer Antony Partos dan Matteo Zingales yang tak kunjung berhenti. Ini film drama, tentang seorang pria yang berjuang mati-matian agar tidak kehilangan rumah tempat tinggalnya. Alhasil, menonton ini di malam hari, di layar lebar membuat saya ikut merasa tegang. Ikut merasakan penderitaan karakter fiktif yang terkesan nyata. Diam-diam saya bertepuk tangan seusai pemutaran fllm ini.

b. BAJRANGI BHAIJAAN / THE GOOD DINOSAUR
Tanggal menonton: 28 Juli / 12 Desember

Satu film drama Bollywood, satu film animasi dari Pixar. Keduanya terpaut beberapa bulan tanggal penayangannya. Namun keduanya memiliki kesamaan: menguras air mata.
Saya jarang menangis saat menonton di bioskop. Tetapi untuk kedua film ini, saya bisa mendengar isak tangis sendiri. Ya, saya sadar sekali ketika menonton keduanya, saya sedang dimanipulasi. Yang memanipulasi saya adalah cerita, musik, akting, dan semua yang membuat make-belief experience ini sangat berhasil. Resepnya sama, yaitu put an ordinary character in an extraordinary situation, especially journey, to unravel his or her true self. Di Bajrangi, karakter utama melibas nilai agama untuk menyelamatkan anak kecil. Di Good Dinosaur, karakter utama melibas ketakutan sendiri untuk menjadi dewasa. Jadilah the tearjerking moments of the year.

c. INSIDE OUT
Tanggal menonton: 22 Agustus

Banyak orang menangis nonton Inside Out ini. Tetapi saya tidak. Justru saya tercengang. Bagaimana mungkin menggambarkan perasaan dan emosi manusia dengan jelas? Sepanjang film saya bengong melongo. Film ini membuktikan sebuah pendapat yang sulit, yaitu suatu teori rumit akan berhasil apabila bisa diterangkan dengan bahasa mudah ke anak umur 6 tahun. Dan film ini sukses melakukannya, in an almost effortless manner.

d. LELAKI HARAPAN DUNIA
Tanggal menonton: 28 November

Lelaki Harapan Dunia

Lelaki Harapan Dunia

Tidak banyak film Malaysia yang saya tonton. Kalaupun sempat, biasanya film arthouse atau independen. Ketika tahu bahwa film ini diputar secara terbatas bulan lalu, saya bergegas menyempatkan. Dan sepanjang film saya tergelak terus. Cerita film mungkin akan sedikit mengingatkan kita pada bands of merry men with weird personalities seperti di film-film Wes Anderson atau Coen Brothers, namun dengan setting di sebuah desa terpencil di Malaysia, malah mengingatkan kita akan film-film Indonesia tahun 1970-an. Isu yang ditawarkan, seperti takhayul, konflik agama, dan lain-lain, terasa sangat dekat dengan kita. Salah satu film yang menyenangkan untuk ditonton ulang.

e. MAD MAX FURY ROAD
Tanggal menonton: 14 Mei

Tanggal di atas adalah tanggal pertama kali saya menonton film ini di bioskop. Setelah itu saya menyempatkan menonton lagi, dan lagi. Sensasi setiap menonton film ini setelah beberapa kali masih sama, “Whoa! What was that I just saw?” Tak cukup kata sifat yang bisa dengan pas menggambarkan keindahan film ini. It is the most exhilarating sensory visual experience in cinema this year.

f. PIKU
Tanggal menonton: 12 Mei

Piku

Piku

Tidak banyak film yang akan bertahan dalam ingatan kita. Dari yang sedikit itu, film Piku masih membekas di ingatan saya sampai sekarang. Saya masih tersenyum saat mengingat film ini. Cerita seorang anak perempuan yang sendirian merawat ayahnya yang unik, sementara sang anak juga pekerja kantoran, terasa nyata. Bahkan sampai ketika cerita harus bergulir menjadi cerita perjalanan dari Delhi ke Calcutta, drama yang tersaji masih terasa grounded on earth. Tidak dibuat-buat. Hampir setengah jam pertama film hanya memperlihatkan rumah dua karakter utama ini. Namun mata kita tidak dibuat bosan melihatnya. Saat saya menceritakan ini kepada seorang produser film, dia berkata, “Berarti sutradara film ini hebat. Dia tahu bagaimana menempatkan kamera dengan baik. Dia tidak sibuk dengan tata kamera yang berlebihan. Dia tahu kekuatan cerita ada di mana, dan bisa melihat tanpa harus mengintrusi.”
Banyak cerita yang bisa diambil dari film ini. Momen-momen kecil yang tersebar dari ujung sampai akhir film akan membuat kita tersenyum. Kalau boleh saya memilih satu saja film favorit sepanjang tahun 2015, mungkin film inilah yang menjadi pilihan saya.

g. SPY
Tanggal menonton: 16 Mei

Film tentang mata-mata yang paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini justru film parodi dari genre tersebut. Melissa McCarthy is all game di film yang mengeksploitasi tidak hanya fisik, namun comic timing yang sempurna. Meskipun begitu, kejutan justru datang dari Jason Statham. Siapa sangka action star ini bisa melucu dengan tanpa beban? Saya tertawa terbahak-bahak menonton film ini, sampai harus meluangkan waktu untuk nonton lagi. The funniest film of the year by far.

h. STAR WARS: THE FORCE AWAKENS
Tanggal menonton: 19 Desember

Tentu saja tidak lengkap daftar ini tanpa mengikutsertakan film yang paling ditunggu-tunggu di paruh kedua dekade ini. Saya tidak perlu menerangkan lebih lanjut lagi. The hype is justified. The wait is over. The film is worth all praises. Mata saya terbelalak dan bibir langsung tersenyum begitu mendengar alunan musik John Williams menggelegar saat tulisan khas Star Wars terlihat naik dari bawah ke atas di layar lebar. Momen-momen seperti kembalinya Han Solo dan Chewbacca, helm yang dikenakan Rey pertama kali di padang pasir, sampai munculnya R2D2 kembali, membangkitkan sensasi nostalgia buat para penonton film-film Star Wars. Maybe the nostalgic feeling clouded our perception towards the film, but then, that’s part of the experience.

i. THE WALK
Tanggal menonton: 8 Oktober

The Walk

The Walk

Saya takut ketinggian. Saat menonton trailer film ini, langsung terbayang rasa mual. Waktu itu sempat berjanji, “Nggak akan nonton film ini di IMAX. Pasti muntah!” Tentu saja saya melanggar janji sendiri. Menyaksikan film ini di IMAX, tepat di tengah-tengah, membuat lutut saya bergetar keras selama 40 menit terakhir. Saat Joseph Gordon-Levitt mulai meniti tali yang menghubungkan kedua menara World Trade Centre, jantung ini terasa lemas sekali. Saya cuma bisa menghempaskan badan ke kursi. Kepala menunduk, sambil mata masih pelan-pelan mencuri pandang apa yang ada di layar. Bukan film horror, tapi ini film yang membuat seluruh badan lemah tak berdaya. Ditambah dengan ending film yang mengharukan, saat kita menyadari makna kata “forever”, lengkaplah The Walk menjadi salah satu film yang paling mendebarkan sepanjang tahun 2015.

j. WHIPLASH
Tanggal menonton: 14 Februari

Beruntunglah mereka yang menunggu film ini sampai hadir di bioskop. Dentuman drum dan band ensemble yang mengusung musik jazz sayang kalau hanya didengar di laptop atau layar televisi. Tentu saja akting JK Simmons juga terlihat lebih menacing di layar lebar, tetapi tata suara, editing dan musik film inilah yang membuat Whiplash menjadi the most musical experience in film of the year.

Inilah 10+ film dengan pengalaman yang berkesan waktu ditonton di bioskop sepanjang tahun 2015. Daftar ini, tentu saja, tidak mewakili daftar serupa yang mungkin saja dibuat oleh teman-teman penulis Linimasa lain. Jadi, kalau mau tahu apa film-film pilihan dari teman-teman penulis Linimasa lainnya, silakan tanya sendiri ya.

😉

Habis Gelap Terbitlah Terang

Apa yang biasa Anda lakukan setelah menonton film?

Sudah pasti jawabannya beragam. Yang jelas kita akan bernafas sejenak karena filmnya sudah selesai, lalu mengeluarkan telepon selular untuk melihat pesan-pesan masuk, dan beranjak dari tempat duduk. Setelah itu, ada yang ke toilet, ada yang langsung menuju tempat parkir, ada juga yang langsung memberitahukan pacarnya via telepon, “Kamu di mana? Aku sudah selesai nontonnya.”

Kalau saya, makan steak.

Tentu saja tidak setiap saat. Tapi inilah yang terjadi hari Sabtu lalu, ketika saya dan teman saya, Winny, selesai menonton film berjudul Steak (R)evolution, salah satu film yang diputar dalam rangkaian festival film Eropa tahunan, yaitu Europe on Screen. Dari judulnya saja sudah ketahuan jenis film ini.
Ya, film dokumenter ini berkisah tentang perjalanan steak connoisseurs Franck Ribiere dan Yves-Marie Le Bourdonnec pergi keliling dunia mencari “the best steak in the world”. Namanya juga film dokumenter. Yang membuat dan menggagas filmnya sendiri adalah pakar kuliner. Tentunya film ini dibuat pakai hati.
Secara acak kita diperlihatkan 10 restoran yang menyajikan steak dalam berbagai variasi penyajian, lengkap dengan proses pengolahan daging, mulai dari cara mereka mengembangbiakkan sapi olahan, sampai ke cara memasak. Bayangkan saja, selama dua jam, kita disuguhi pemandangan aneka steak dengan banyak extreme close-up shots seperti di foto di bawah ini.

Bukan sekedar steak, tapi ini benar-benar adegan film "Steak (R)evolution"! (Courtesy of Hawaii International Film Fest.)

Bukan sekedar steak, tapi ini benar-benar adegan film “Steak (R)evolution”! (Courtesy of Hawaii International Film Fest.)

Apa gak jadi laper ngeliatnya? Apalagi hampir seratus penonton yang hadir di pertunjukan saat itu. Fokus kami semua benar-benar tertuju pada tontonan di layar lebar, di mana sekeliling kami gelap, hanya ada suara dan gambar dari layar, sehingga terdengar komentar-komentar dari penonton seperti “wooow!”, atau “gila, gede banget (dagingnya, maksudnya)”, atau “sialan, enak banget kayanya!”

Dan akhirnya di hari Sabtu sore yang cerah tersebut, tanpa hujan dan tanpa macet, saya dan Winny pergi ke restoran steak terdekat seusai film berakhir. Kami memesan sepiring tenderloin berukuran cukup besar untuk berdua. Dengan berbekal “ilmu” yang barusan didapat dari film, yang mungkin membuat pelayan restoran cuma bisa membatin “ih, ini pasti customer sok tahu!”, kami memesan daging impor dari Amerika Serikat, bukan dari Australia atau Selandia Baru, karena dua negara terakhir ini bahkan tidak disebut sama sekali di film itu.

Pesanan makanan datang, dan rasanya sesuai apa yang kami perkirakan. Meskipun tanpa potongan gambar, musik latar pengiring film, kami cukup menikmati steak tersebut sambil sesekali ngobrol tentang film yang barusan kami tonton. Selebihnya kami membicarakan hal-hal lain, sebelum akhirnya berpisah dan menghabiskan malam Minggu sendiri-sendiri.

Beberapa hari berikutnya, masih di festival film yang sama, saya menonton film dari Belgia berjudul The Broken Circle Breakdown bersama teman saya yang lain, Kenny. Film ini dramatis sekali, karena bercerita tentang jatuh bangun dua orang musisi dalam mempertahankan cinta mereka, terlebih setelah anak mereka sakit keras. Berhubung dua orang tokoh utamanya adalah penyanyi dan pemain banjo yang tergabung di grup musik beraliran bluegrass, maka sepanjang film kita menyaksikan dan mendengarkan lagu-lagu melankolis dengan genre bluegrass dan country yang memperkuat film. Terlihat sekali bahwa para pembuat film sangat mencintai aliran musik ini. Lagu-lagunya menopang jalan cerita. Bagaimana cara mereka menyanyikan setiap lagu disesuaikan dengan adegan yang dimainkan.

The Broken Circle Breakdown (Courtesy of thescienceandentertainmentlab.com)

The Broken Circle Breakdown (Courtesy of thescienceandentertainmentlab.com)

Kenny bilang sih kalau dia merasa “biasa aja” dengan film ini. Tapi sepanjang film, saya bilang dalam hati, “wah, harus punya album ini. Harus dengerin lagi lagu-lagu di film ini.” Dan itulah yang saya lakukan sepulang dari menonton film: membeli dan download album soundtrack film The Broken Circle Breakdown, lalu mendengarkan malam-malam sebelum tidur. Untung saja, malam itu saya tidak mimpi adegan apapun dari film itu.

Bahkan ketika saya mendengarkan lagi beberapa lagu di album ini, tidak ada lagi perasaan menyayat hati yang muncul ketika mendengarkan lagu pada saat menonton filmnya. Sekarang lagu itu berdiri sendiri. Nantinya ketika saya mungkin lupa sama sekali urutan adegan di film itu, lagu-lagunya pun masih bisa dinikmati dengan sempurna.

Tidak semua film bisa membuat kita melakukan hal yang berhubungan dengan film tersebut seusai menonton filmnya. Count ourselves lucky if we can find such film. Jarang buat saya bisa melakukan hal semacam itu. Yang bisa saya ingat adalah sebelas tahun lalu, seusai menonton film Before Sunset di bioskop, saya dan seorang teman, Agatha, melakukan “walk-the-talk” dengan berjalan kaki dari Somerset ke Holland Village, kurang lebih dengan durasi sepertiga film. Rasanya seperti baru kemarin.
Beberapa tahun lalu, menonton film Amour di hari yang sama ketika mendengar kabar bahwa orang tua saya mengalami hal yang sama yang dialami tokoh utama di film tersebut, membuat saya tidak menonton film itu dengan baik, karena pandangan terhalang oleh air mata yang terus menetes dan menggenangi pelupuk.

Dan saat tulisan para pemain dan kru film muncul di layar, lalu lampu bioskop kembali dinyalakan, buru-buru saya menyeka air mata, dan keluar dari bioskop sambil menghela nafas panjang.

Selama dua jam, bisa kurang atau lebih, kita berada di dunia lain ketika kita menonton film. Fokus kita hanya tertuju apa yang di depan kita.
Sekeliling kita gelap. Kita berada di dunia lain, meskipun dunia lain itu bisa saja dekat dengan kita. Kita melihat karakter dan cerita yang, meskipun mirip dengan cerita kita, masih merupakan cerita lain di luar kehidupan nyata. It’s reel life, not real life. Kehidupan nyata terjadi saat lampu kembali dinyalakan. Habis gelap, terbitlah terang.

Dan di saat terang inilah kita baru akan merasa apakah yang ditonton dalam gelap tadi masih patut dirasakan sampai ke kehidupan nyata, atau we just go on, move on, and watch another film in another time.

Jadi, apa yang biasa Anda lakukan setelah menonton film?

Ekspresi

Selama 7 hari penuh minggu lalu, rasanya susah buat saya untuk rehat sejenak, dan bernapas. Maklum, pada minggu itu, rangkaian acara 21 Short Film Festival digelar. Kebetulan saya terlibat di penyelenggaraan acaranya. Bak angin tornado yang datang tak diundang, tiba-tiba kami semua sudah berada tepat di tanggal-tanggal penyelenggaraan, dan bukan masih dalam rencana berminggu-minggu, atau berbulan-bulan sebelumnya.

Buat yang terbiasa terlibat mengerjakan acara atau event, pasti bisa merasakan keletihan luar biasa ketika berada tepat di tengah-tengah penyelenggaraan acara.

Demikian pula di hari Sabtu minggu lalu. Hari itu adalah hari yang paling padat di festival kami: 7 pemutaran dalam sehari. Ini yang di bioskop saja. Lalu ada 4 workshops di sebelah studio. Jadwal sudah diatur sedemikian rupa, agar bisa dimulai dari pagi, dan selesai tidak terlalu malam.

Tapi manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan.
Mendadak saja pagi kami diawali dengan kejutan dari ruang teknis. Ada masalah dengan projector. Tidak bisa lama-lama menunggu, akhirnya diputuskan bahwa pemutaran pertama mundur. Padahal antrian penonton sudah mengular. Alhasil, jadwal seluruh screenings hari itu mundur 20 menit. Sesi tanya jawab di pemutaran-pemutaran awal kami potong durasinya. Test film sebelum pemutaran dipercepat.
Akibatnya, seharian itu kegiatan saya adalah menunggu penonton keluar di satu pemutaran, test film untuk pemutaran berikutnya, memasukkan penonton untuk pemutaran berikutnya. Dan berulang terus enam kali dari pagi sampai malam. Repeat.

Rasanya ingin menggantungkan kedua kaki saat pulang.

Keesokan harinya, saya bangun dengan perasaan berat. Maklum, hari terakhir. Ada malam penghargaan. Sepertinya masih harus menyisakan energi yang sebenarnya sudah tak bersisa ini.
Lalu seperti biasa, bangun tidur bukannya kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi, tapi malah check ponsel. Mata yang masih belum terbuka lebar ini melihat deretan notifikasi chats dan email masuk.

Ada email dari Vitri, fotografer event.
Setiap pagi, dia akan mengirim foto-foto dari semua kegiatan dan apa saja hal unik yang terjadi di festival kami pada sehari sebelumnya. Saya buka satu per satu foto. Nyaris tanpa ekspresi saya melihatnya.

Tiba-tiba saya berhenti di foto ini.

XXI Short Film Fest., Sabtu, 21 Maret. (Photo by Vitri Yuliany)

XXI Short Film Fest., Sabtu, 21 Maret. (Photo by Vitri Yuliany)

Saya tertegun. Lama saya memandang foto ini. Saya terkesiap.

Saya tidak tahu kapan persisnya foto ini diambil. Yang jelas, saya cuma bisa menebak, bahwa foto ini diambil dari deretan kursi paling depan. Berarti foto ini diambil waktu pemutaran film paling penuh. Foto ini diambil diam-diam dari bawah kursi. Sekali lagi, ini hanya tebakan.

Dan tentu saja tidak ada dari kami satu pun yang mengenal orang-orang yang terekam dalam foto ini. Mungkin mereka juga tidak mengenal satu sama lain. Tapi yang jelas, mereka menjalani kegiatan yang sama: melihat apa yang kami hadirkan di layar lebar.

Sejenak rasa letih yang terbangun dari semalam hilang begitu saja saat melihat foto ini. Tak jemu-jemu memandangnya.

Terbersit rasa senang yang tak bisa dijabarkan kata-kata. Foto seperti ini seakan mengingatkan kita kembali, kenapa kita menyenangi apa yang kita kerjakan.
Apresiasi. Apresiasi membuat kita mencintai pekerjaan kita.

Buat saya, itu sesederhana melihat kursi bioskop terisi. Lalu penonton berhenti melakukan aktifitasnya, dan terpaku di layar. Satu studio bioskop gelap, hanya ada layar yang ditembakkan dari belakang kursi teratas. Puluhan atau ratusan orang seakan pasrah terhadap apa yang akan mereka lihat. Suara mulai terdengar, entah dari musik atau dialog pemain film.
Dan beberapa menit kemudian, terdengar tawa. Atau mungkin isak tangis. Mungkin ada yang tidur dan mendengkur.
Terakhir ada tepuk tangan. Dan kata “tepuk tangan” bisa diganti dengan cemoohan, karena saya pun pernah merasakannya.

Pujian atau cacian adalah bentuk apresiasi. Foto ini menangkap momen sebelum keduanya terjadi. Yang terjadi sesungguhnya di setiap pemutaran kami kemarin, untungnya, adalah tepuk tangan yang mengiringi sesi tanya-jawab dengan para sutradara. Melihat foto ini tanpa tahu kejadian sesungguhnya akan membuat kita menebak-nebak apa yang akan terjadi setelahnya.

Foto akan selalu menjadi bagian kenangan tak terlupakan dari sebuah peristiwa yang sudah lewat.
Namun tidak semua foto bisa menjadi penyemangat untuk terus melakukan apa yang memang kita bisa lakukan. It’s magical how a picture can bring out the best in what we excel at.

Foto yang penuh ekspresi adalah foto yang ‘hidup’.

Untuk semua yang ada di foto ini, terima kasih.

Have Yourself A Merry Little Christmas?

Melalui Linimasa, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi semua yang merayakan, baik dalam rangka ritual keagamaan, maupun dalam spirit atau semangat.

Melalui Linimasa pula, saya ingin bilang kalau lagu bertema Natal yang paling sering saya dengarkan dan alunkan adalah lagu “Have Yourself a Merry Little Christmas”.

Rasa-rasanya, selain lagu “Yesterday” milik The Beatles, lagu ini termasuk lagu yang banyak banget versinya. Mulai dari Judy Garland yang menyanyikan pertama kali di film Meet Me in St. Louis, lalu versi Frank Sinatra yang sering diputar, sampai terakhir si raja galau 2014 dari Inggris, Sam Smith, tak ketinggalan membuat lagu ini makin terasa menyayat hati.

Meskipun begitu, tak ada satu pun dari versi-versi tersebut yang dituangkan dalam bahasa visual yang sangat emosional, seperti yang terlihat di video klip versi Kenny G.

Lihat saja di sini:

Manipulatif? Memang. Menguras air mata? Itu tujuannya.
Toh memang itulah jualan komoditas Natal (dan Tahun Baru): sensasi sentimental nan melankolis.

Berhubung untuk keperluan promosi lagu, maka digaraplah pemaparan visual lagu itu dengan baik.
Potongan klip film It’s a Wonderful Life, Miracle on 34th Street, Little Women dipilih dengan pas, sesuai dengan mood dan tone lagu. Diselingi pula dengan adegan-adegan dari film A Christmas Carol, dan juga The Bells of St. Mary’s, lengkingan saxophone Kenny G terasa tidak mengganggu seperti biasanya.

Apalagi cerita di video ini menghadirkan aktor Burgess Meredith, pemeran Penguin di serial televisi “Batman” tahun 1960-an. Dia berperan sebagai seorang penjaga bioskop yang kesepian. Dia mengira akan menghabiskan Natal sendirian. Yang menemani malam Natalnya adalah foto anak dan cucu, sambil sesekali melihat ke layar lebar, di mana potongan film dimainkan. Entah kenangan apa yang ada di benaknya saat melihat adegan-adegan itu. Lalu, tiba-tiba saja, keajaiban itu pun hadir. Pelukan dari sang anak dan cucu menghampiri. Warna kelabu berubah menjadi kuning kehangatan.

Happy ending. The way any feel-good Christmas stories are meant to end.

Namun ending untuk Burgess Meredith berbeda. Dia meninggal tak lama setelah video klip ini dibuat, pada usia 90 tahun, akibat penyakit Alzheimer. Natal terakhir aktor kawakan ini pun terpatri selamanya di ingatan jutaan orang yang telah melihat video klip ini.

Tanggal 25 Desember tak hanya notabene milik mereka yang merayakan Hari Natal. Tepat di hari ini, usia satu tahun tinggal 6 hari lagi, sebelum tahun yang lebih baru, lebih gres, hadir.
Beberapa hari sebelum tanggal 25 Desember, mood kerja sudah turun drastis. Males-malesan ke kantor. Sepertinya mengirim email reminder ke calon klien akan sia-sia, karena baru dibaca hari Senin pertama di bulan Januari.
Seakan-akan hitungan satu tahun sudah berakhir saat bulan Desember memasuki angka 20-an.

Semua film yang ditonton, musik yang didengar dan buku yang dibaca di sisa penghujung tahun, seakan tak berarti lagi. Rangkaian daftar “Top 10 of Something Something This Year” atau “Best of This Year” serta “Worst of This Year” sudah kenyang kita santap, bahkan sejak awal Desember.
Kita didikte untuk menghabiskan bulan Desember untuk leyeh-leyeh nrimo.

Padahal, masih ada 6 hari lagi untuk menciptakan keajaiban.

Tukang sapu penjaga bioskop di video klip di atas masih berpegang teguh pada keyakinan kalau dia tidak akan menghabiskan malam Natal sendirian. Setidaknya, foto-foto dalam dompet yang membuatnya bisa melalui kesendirian sementara, kalau saja ending video harus berakhir tidak sentimental.

Kalau ada yang memulai tahun ini dengan kehilangan kekasih, mungkin ada janji makan siang dalam 5 hari ke depan yang bisa membuat hidup anda berubah. Oke, tidak langsung berubah. Paling tidak, membuat kita mengakhiri tahun dengan senyuman. Sudah beda 180 derajat saat mengawali tahun dengan tangisan, ‘kan?

Kehilangan uang di awal tahun juga membuat kita murung. Lalu tanpa kita sadari, kita mati-matian bekerja sepanjang tahun, membuktikan ke dunia kalau uang memang bisa dicari. Akhirnya, setelah celengan dibuka, ada tabungan tersisa. Lumayan, bisa bertahan hidup sampai awal tahun, sebelum masuk kantor lagi.

Bahasa kita kaya dengan jargon atau pepatah. Salah satunya “hujan sehari bisa menghapus panas setahun”. Pertemuan dan kesempatan yang ada selama 6 hari ke depan, bisa mengubah pandangan kita terhadap setahun yang telah berjalan, dan akan berakhir sebentar lagi.

Kalaupun ada isak tangis tanggal 31 Desember nanti, biarlah itu pertanda ungkapan kebahagiaan.
Bahwa ada momen sekecil apapun dalam hari-hari ke depan yang membuat kita yakin kalau tahun depan lebih baik dari tahun ini.

If you’re not happy this Christmas, make it a happy one. There’s “merry” in Merry Christmas.

Tonton film yang ringan. Tertawa melihat gambar-gambar meme yang “garing”. Bernyanyi bersama sepanjang Christmas carols dinyanyikan. Membaca cerita humor. Menyalakan televisi saat film Home Alone diputar untuk kesekian kalinya.

Then the answer to the question “Have Yourself a Merry Little Christmas?” is … Yes.

It's A Wonderful Life (Courtesy of Tvtropes.org)

It’s A Wonderful Life (Courtesy of Tvtropes.org)

Old & New

Mulai pertengahan tahun 1980-an sampai awal 1990-an, ada satu pilihan cara untuk merayakan malam tahun baru. Pilihan itu adalah menonton film di bioskop. Bukan hanya satu film, tapi ada dua film. Nama programnya “Old & New”.

Ada dua film yang diputar mulai tanggal 31 Desember, biasanya mulai sekitar jam 10 malam, dan berakhir pada tanggal 1 Januari keesokan harinya, biasanya pada sekitar jam 2 atau 3 pagi.
Tentu saja, hitung mundur atau countdown dilakukan menjelang jam 12 malam, atau setelah film pertama berakhir. Kalau film pertama belum berakhir, dihentikan dulu sejenak, agar proses pergantian tahun tidak terlewatkan.
Alternatifnya, acara nonton film dimulai dari jam 12 malam, atau setelah countdown selesai, dan berakhir menjelang Subuh.

Terasa panjang?
Itu karena ada break di tengah-tengah pergantian dua film. Masa rehat ini digunakan untuk mengadakan kuis biasanya. Maklum, kita membayar lebih untuk menonton film-film di program “Old & New” ini.

Scan iklan koran program Old & New tahun 1988. (Terima kasih untuk teman-teman di http://dunianostalgia80-an.blogspot.com/2008/06/iklan-bioskop-old-new-88.html yang menyediakan image ini.)

Scan iklan koran program Old & New tahun 1988. (Terima kasih untuk teman-teman di http://dunianostalgia80-an.blogspot.com/2008/06/iklan-bioskop-old-new-88.html yang menyediakan image ini.)

Hitungannya tidak hanya harga dua kali menonton film di pemutaran reguler, tapi sedikit lebih banyak dari itu. Selain dapat snack dan minuman ringan, kita akan mendapat kesempatan memenangkan door prize.
Makanya, promosi program ini dilakukan jauh-jauh hari. Iklan acara, pilihan kombinasi film, berikut hadiah-hadiah yang dijanjikan.

Bioskop kelas A dengan harga tiket yang lebih mahal kadang-kadang berani menjanjikan hadiah kendaraan bermotor, atau tiket pesawat.
Bioskop lain bisa hadir dengan hadiah yang lebih beragam, mulai dari Tabanas (tabungan nasional), payung, kalender atau langganan majalah selama beberapa bulan.

Lumayan, buat modal menyambut tahun yang baru. Paling tidak, “modal” yang didapatkan tidak hanya sekedar menonton 2 film gres, yang biasanya baru akan dirilis di bioskop beberapa bulan kemudian, atau hampir setahun kemudian.

Berangkat ke bioskop dengan kenangan tahun lama, pulang dari bioskop membawa harapan di tahun yang menjelang.

Mengawali tahun baru bersama puluhan dan ratusan orang lain dalam communal experience, dan bersama-sama menikmati tontonan seru itulah yang membuat program ini sangat populer di masanya. Stasiun televisi bisa dihitung dengan jari sebelah. Internet belum ada, dan distraksi lain tidak terdengar.

Lambat laun, seiring dengan beragamnya stasiun televisi baru, berkurangnya daya tarik bioskop waktu film Indonesia “mati suri”, pelan-pelan program ini hilang. Kalaupun ada program khusus di luar penayangan reguler, biasanya lebih kepada format festival film, atau film marathon, meskipun yang terakhir ini lebih sering diadakan di luar negeri.
Marathon “The Dark Knight Trilogy” karya sutradara Christopher Nolan, atau marathon film “The Lord of the Rings Trilogy”, dan lain-lain. Tapi tidak satu pun yang dilakukan pada saat pergantian tahun.

Tahun baru dilakukan dengan cara masing-masing. Mau tidur, turun ke jalan, yang jelas jangan lupa untuk update di akun media sosial masing-masing.
January, please be nice.
May this year be better than last year.
#NewYearWishes dan #NewYearResolution dipastikan akan menghiasi timeline media sosial di mana saja.

* ** *** **** ***** ****** *******

Meninggalkan yang lama, menyongsong yang baru.
Melihat ke belakang sesekali saat merencanakan masa depan.
Making memories with some things old, while embracing some things new.

Itulah semangat acara dan kegiatan apapun yang dilakukan pada malam Tahun Baru.
Sendiri, maupun beramai-ramai, ada harapan yang terbersit sekecil apapun dalam hati saat melihat tahun berganti.

Masih ada hitungan banyak tanggal lagi sebelum kita semua di Linimasa, kami dan Anda, menyaksikan pergantian tahun.
Namun, yang namanya perayaan tak mengenal waktu.

Oleh karena itu, ijinkan kami berbagi.

* ** *** **** ***** ****** *******

Beberapa hari lalu, kami bertujuh berdiskusi, “enaknya ngapain ya Linimasa di bulan Desember ini?”

Lalu kami pun melihat apa yang ada di sekitar. Kebetulan hobi saya mengoleksi film dalam bentuk DVD dan blu-ray tidak berbanding lurus dengan luas rumah.

Akhirnya, beberapa DVD film, yang sebagian besar sudah berubah format ke blu-ray dan yang semuanya sudah ditonton, harus mencari rumah baru.

Rasa posesif saya terhadap DVD-DVD ini cukup tinggi. Bukan berarti ingin terus memiliki. Dalam arti lain, ingin rasanya melihat DVD-DVD ini ditonton dan disimpan dengan baik oleh orang yang peduli. Setelah dilihat, dipinjamkan ke orang lain, atau dihibahkan ke perpustakaan, tentu saja itu hak penuh pemilik baru. Yang penting, peduli. ☺

Makanya, di Kuis Linimasa Tahun Baru Volume 1 ini masih tak jauh-jauh dari urusan Linimasa, yaitu menulis.

Dan pertanyaan kuisnya adalah …

Dua film apakah yang sudah ditonton tahun ini dan paling membekas dalam benak Anda sampai sekarang?
Mau ditonton di bioskop, di pesawat, terserah. Mau film dari Indonesia atau Nigeria atau Australia, bebas. Mau film tahun 2014 atau 1914, silakan.

Ceritakan pengalaman Anda ini di blog masing-masing, atau di Facebook Notes yang bisa kami baca.

Cantumkan alamat blog, atau link tulisan di Facebook itu di kolom komentar di bawah artikel ini.

Jawaban ditunggu sampai 14 Desember 2014.

Pengumuman pemenang akan kami umumkan dua minggu lagi pada tanggal 18 Desember 2014 di artikel khusus tentang tulisan-tulisan anda ini di Linimasa.

Oh ya, ada 5 tulisan pemenang atau artikel pemenang yang akan kami pilih. Setiap pemenang akan mendapatkan hadiah berupa paket DVD original yang berisi:

a. Paket A
– BATMAN (Region 3)
– BATMAN RETURNS (Region 3)

b. Paket B
– BRIEF ENCOUNTER (Region 2)
– ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND (Region 2)

c. Paket C
– DREAMGIRLS (Region 1)
– SOME LIKE IT HOT (Region 3)

d. Paket D
– 2001: A SPACE ODYSSEY (Region 3)
– DOG DAY AFTERNOON (Region 1)

e. Paket E
– L.A. CONFIDENTIAL (Region 3)
– ATONEMENT (Region 3)

Paket DVD ini akan kami kirim ke alamat masing-masing pemenang via jasa kurir.

Jangan khawatir. Gambar-gambar DVD di sini sudah dicari yang paling persis dengan gambar DVD asli yang diberikan.

Jadi, apa jawaban dari Kuis Linimasa kali ini?

Nonton Bioskop

“Mau liat bekas bioskop pertama di Sulawesi Tengah?”

“Mau! Emang dulu di sini ada bioskop?”

“Iya. Jadi bioskop pertama di Sulawesi Tengah itu ada di Donggala. Dulu orang rame-rame ke mari naik angkutan sapi. Jauh-jauh dari kabupaten lain, dari Palu juga, semua pada ke Donggala untuk nonton bioskop.”

“Terus, sekarang jadi apa gedungnya?”

“Tempat penyimpanan kopra.”

“Emang udah lama ga ada bioskop?”

“Kalo di Palu, mulai 2006 ga ada bioskop. Kalo di Donggala ini, sudah dari awal 2000-an.”

Mobil jalan pelan-pelan menyusuri jalan-jalan kecil yang banyak warung.

“Mana gedungnya?”

“Itu di depan!”

“Yang mana?”

“Itu! Lihat jendela kecil itu? Dulunya itu loket tempat orang beli karcis bioskop.”

Saya terdiam.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Adegan di atas, sayangnya, bukan usaha untuk meniru film Cinema Paradiso, karena tidak ada alunan musik Ennio Morricone yang tiba-tiba terdengar saat kami mengambil foto di atas. Atau bukan juga adegan dari film-film lain yang mengusung romantisme bioskop tua, seperti layaknya Jim Carrey di The Majestic atau film klasik The Last Picture Show.

Adegan di atas adalah kisah nyata yang terjadi saat saya datang ke Donggala tahun lalu. Kami hadir untuk memberikan workshop film pendek ke komunitas penonton dan pembuat film di Palu, salah satu kota di Indonesia yang aktif mengadakan kegiatan pemutaran dan diskusi film, meskipun kota ini tidak punya bioskop.

Saya harus mengulang-ulang lima kata terakhir di atas. “Kota ini tidak punya bioskop”. Buat kita yang terbiasa dengan ajakan “eh, nonton yuk?”, apakah akan ada ajakan serupa kalau tidak ada bioskop? Mungkin tidak, tapi bisa tergantikan dengan yang lain.

Sementara buat saya dan beberapa orang, bioskop menawarkan pengalaman lain selain menonton film.

Bioskop menjadi tempat adu keberanian: dalam kegelapan, berani gak pegang tangan orang yang baru diajak kencan?
Di bioskop, bisa jadi kita papasan dengan mantan pacar yang sudah jadian lagi, sementara kita masih sendirian.
Bioskop menjadi pilihan untuk terhindar dari kejamnya macet sore hari.
Bioskop selalu menjadi tempat yang tidak bikin kita mati gaya di akhir pekan.
Seorang ayah bisa berjanji untuk mengajak anaknya nonton film superhero di bioskop setelah terima rapor.
Bioskop jadi tempat kopi darat yang aman dan netral buat pelaku online dating ketemuan pertama kali.
Bioskop bisa jadi tempat buat sebagian orang sekedar menaruh pantat dan tidur sejenak di sela-sela kerjaan yang menumpuk.

Bioskop jadi alasan buat saya untuk sekedar keluar dari rumah.

Bioskop memang sedang di ujung tombak kematian. Gempuran berbagai macam jenis hiburan di layar yang semakin mengecil, terutama dalam genggaman tangan kita, semakin membuat kita dimanjakan dengan kemudahan. Soon, cinema will be an extinct word that belongs to the past.

Romantisme bioskop mungkin akan jadi kenangan. Apalagi buat saya dan beberapa dari Anda yang senang menghabiskan waktu di bioskop, kelak kita hanya bisa cerita tentang bioskop dari replika foto masa lalu.

Dan di saat itulah, seperti juga yang terlihat di foto di atas, akhirnya kita takluk pada satu istilah salah kaprah yang sudah mengakar selama ini: “nonton bioskop”.

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”