Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)
The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP
First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB
The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest
Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB
Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP
A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP
Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP
Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert
Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance
A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist
Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire
Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety
One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm
Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert
Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety
Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas
The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Lima Adegan dan Lima Penampilan Mengesankan di 2018

Sedikit break away dari tradisi menampilkan 10 film favorit setiap tahunnya, tahun ini saya melihat banyak sekali momen-momen dan penampilan di film yang patut kita apresiasi.

Sering kali kita malah mengingat sebuah adegan tertentu dari suatu film. Belum tentu film tersebut berhasil memukau kita secara keseluruhan, namun ada beberapa momen dalam film tersebut yang membekas dalam ingatan kita. Jangan heran juga, even good small moments can be found in not so good films.

Some scenes do excellent work on their own.

Oleh karena itu, inilah lima momen dalam film yang dirilis sepanjang tahun 2018, yang sangat mengesankan buat saya:

Crazy Rich Asian – adegan mahjong

crazyrichasians-mahjong-AngryAsianMan_dot_com
Crazy Rich Asian (source: Angry Asian Man)

Kalau sekedar mau memperlihatkan teknis permainan mahjong lengkap dengan psychological undertone, maka anda bisa melihat cuplikan adegan mahjong di fim Lust, Caution karya Ang Lee. Sementara di film Crazy Rich Asian, adegan mahjong ditampilkan apa adanya. Lengkap pula dengan makna permainan yang disampaikan Rachel (Constance Wu) kepada Eleanor (Michelle Yeoh). Namun yang membuat keseluruhan adegan mahjong ini sangat membekas di ingatan justru terletak di akhir permainan, saat ibu Rachel (Tan Kheng Hua) berdiri, menjemput Rachel, dan menatap Eleanor dari kejauhan tanpa kata-kata. That scene, that particular scene between two single mothers. Dua orang tua tunggal, dua ibu, dua orang yang seharusnya menjadi rival satu sama lain, namun akhirnya sama-sama mengerti keputusan yang diambil untuk melindungi anak masing-masing, dilakukan tanpa dialog sama sekali. Acknowledging two single mothers in an Asian (themed) movie? Brilliant.

Museo – adegan perampokan museum

Museo-THR
Museo (source: The Hollywood Reporter)

Film Museo menceritakan kisah nyata perampokan museum antropologi di Mexico City oleh pelaku amatir yang menggegerkan kota tersebut di tahun 1985. Dibintangi Gael Garcia Bernal yang bermain cemerlang, film ini sebenarnya lebih fokus kepada konflik keluarga antara karakter Bernal dengan orang tuanya. Namun adegan perampokan yang dihadirkan pada babak pertama film justru mencuri perhatian dan membuat kita teringat terus sepanjang film. Selama 15 menit, adegan perampokan dihadirkan tanpa kata-kata, minim musik, dan membuat adegan serupa lain di film Ocean’s 8 yang juga dirilis tahun ini tidak ada apa-apanya.

** SPOILER ALERT BEGINS **

Andhadhun – adegan pemindahan jasad

andhadhun-ZeeNews
Andhadhun (source: Zee News)

Bisa jadi film Andhadhun adalah the sleekest thriller from Hindi cinema this year. Mungkin tidak hanya dari India saja, ya. Film ini sangat mengesankan, karena dari awal, ide cerita untuk menempatkan seorang pianis menjadi pura-pura buta dibuat untuk kesan playful. Namun seiring dengan cerita berjalan, sang pianis terpaksa harus menjadi saksi pembunuhan di depan mata, or the lack of them for the sake of pretending. Adegan pelaku pembunuhan yang harus memindahkan jasad yang mereka bunuh di depan pianis yang berpura-pura tidak mengetahui seluruh kejadian tersebut, sungguh sangat menakjubkan.

*** SPOILER ALERT ENDS ***

Roma – adegan penyelamatan di pantai

Roma-DenOfGeek
Roma (source: Den of Geek)

Sungguh susah memilih hanya satu momen yang paling berkesan di film Roma, karya terbaik Alfonso Cuaron ini. Setiap adegan dibuat dengan teliti, membuat kita seolah-olah melihat karya seni yang dibuat dengan pendalaman yang luar biasa. Kalau boleh memilih satu, maka adegan penyelamatan anak-anak di pantai yang membuat saya terkesan. Tingkat kesulitan pengambilan gambarnya sangat tinggi. Namun Cuaron tidak melupakan emosi di setiap karakter yang membuat kita mengambil nafas panjang saat melihat adegan ini, dan menghela nafas panjang penuh kelegaan di akhir adegan.

First Man – adegan pendaratan di bulan

first_man-Polygon_com
First Man (source: Polygon)

Film Alien sudah berikrar di tagline poster mereka, bahwa “in space, no one can hear you scream”. Tidak cuma menjerit, namun mungkin berkata-kata. Itulah mengapa adegan pendaratan di bulan di film First Man sangatlah bermakna. Bahwa saat pertama kali menginjakkan kaki dan melihat bagian dari alam semesta di luar bumi, tidak ada ekspresi atau kata yang bisa mewakili perasaan diri. It’s just silence, and nothing but silence. Maka keheningan di film ini menjadi suatu kemegahan tersendiri yang layak kita alami di layar lebar.

Adegan-adegan lain di film-film yang saya tonton sepanjang tahun 2018 yang juga membuat saya terkesan adalah bagian konser Live Aid di film Bohemian Rhapsody dan dialog panjang di dalam mobil di film Lemonade.

Sementara itu, inilah lima aktor dengan penampilan akting yang paling mengesankan di tahun 2018:

• Gading Marten (Love for Sale)

gading-love-for-sale-(duniakudotnet)
Gading Marten – Love for Sale (source: Duniaku.net)

Less is more. Saya selalu percaya bahwa (hampir) setiap aktor yang terbiasa melawak, bermain di film atau serial komedi, tahu pentingnya timing saat mereka berakting. Gading Marten membuktikan hal itu dalam film Love for Sale. Tanpa perlu terjebak menjadi terlalu dramatis, karakter Richard dihadirkan secara natural, yang membuat karakter ini semakin nyata dan dekat dengan kita. Penampilan terbaik Gading Marten sejauh ini.

• Eva Melander (Border)

eva-border-(bfi_dot_org_dot_uk)
Eva Melander – Border (source: BFI)

Dengan muka semi-monster yang membuat kita bergidik saat melihat karakter Tina pertama kali di film Border, kita malah diajak semakin berempati dengan karakter ini seiring cerita bergulir. Inilah kehebatan Eva Melander yang memerankan karakter ini. Dia memberikan sentuhan humanis di setiap tatapan Tina yang menyiratkan hasrat untuk diterima, dan dalam konteks film ini, dicintai orang lain. Penampilan yang tidak mungkin kita lupakan.

• Jakob Cedergren (The Guilty)

jakob-the-guilty-Vulture_dot_com
Jakob Cedergren – The Guilty (source: Vulture)

Apakah film Buried bisa berhasil tanpa penampilan Ryan Reynolds? Apakah film Locke bisa berhasil tanpa penampilan Tom Hardy? Pertanyaan yang sama patut kita sampaikan untuk film The Guilty ini. Sepanjang film, hanya ada satu aktor, yaitu Jakob Cedergren, yang memandu kita menyusuri kisah tegang di satu lokasi, dengan bermodalkan voice over lewat telepon, dan penampilan Jakob Cedergren seorang diri. Raut muka, suara dan gerak tubuhnya selalu mengindikasikan perubahan yang terjadi di cerita, dan membuat kita tidak beranjak dari kursi. Such a brilliant actor in an equally brilliant film.

• Zain Al Rafeea (Capernaum)

zain-capharnaum03-AsiaPacificScreenAwards
Zain Al Rafeea – Capernaum (source: Asia Pacific Screen Awards)

Anak kecil yang tumbuh di jalanan mempunyai ekspresi berbeda dengan anak kecil kebanyakan. Air muka yang keras di wajah yang muda adalah kombinasi yang sulit ditemukan di film. Namun sutradara Nadine Labaki lewat film Capernaum berhasil menemukannya lewat penampilan gemilang aktor cilik Zain Al Rafeea. Mulai dari adegan pertama saat dia menuntut orang tuanya di pengadilan karena melahirkan dirinya, kita dibuat ternganga oleh penampilannya yang menjadi the main anchor film ini. Rasanya susah untuk percaya bahwa inilah penampilan pertama kali Zain Al Rafeea di film. A remarkable debut.

• Rami Malek (Bohemian Rhapsody)

rami-bohemian-NME_dot_com
Rami Malek – Bohemian Rhapsody (source: NME

Tidak perlu dijelaskan lebih panjang lagi: Rami Malek is Freddie Mercury. Komitmen luar biasa Malek untuk menjadi Mercury tak perlu kita telaah dan telusuri lagi. It’s all there on the screen. Memang banyak yang menyebutkan bahwa kesuksesan fenomenal film Bohemian Rhapsody sebagian besar terletak pada katalog lagu-lagu Queen yang dihadirkan dalam porsi pas di film ini. Namun apakah mereka bisa menjadi efektif tanpa penampilan Malek? He is, indeed, the champion.

Penampilan lain yang juga berkesan buat saya adalah performa dari these leading ladies: Charlize Theron (Tully), Rani Mukerji (Hichki), dan Toni Collette (Hereditary).

Coming up next: film-film yang paling berkesan di tahun 2018!

Apa adegan dan penampilan di film yang membuat anda terkesima tahun ini?