Ribut-Ribut Reboot Karena Remah-Remah Remake

Semalam saya menonton film The Lion King versi terbaru tahun 2019. Kekhawatiran saya setelah melihat trailernya beberapa bulan silam, ternyata terbukti. Terus terang, saya tidak terlalu menyukai versi baru film ini. Menurut saya, tidak menawarkan sesuatu yang baru. Bahkan setelah 30 menit pertama, dan setelah menyadari bahwa versi terbaru ini hampir shot-by-shot remake dari versi animasi tahun 1994, saya langsung berpikir, “Kenapa harus di-remake sih, kalau nggak ada sesuatu yang baru? Why can’t they just leave the animated version alone?”

Saking nggak konsennya menonton film itu, saya lantas berpikir dan menghitung. Tahun 1994 itu terjadi 25 tahun lalu. Orang-orang seusia saya yang pernah menonton versi animasi film ini di bioskop pada saat itu, yang notabene berada di usia sekolah, kebanyakan sekarang sudah berkeluarga. Kebanyakan mempunyai anak atau keponakan yang sekarang sedang berada di formative years, atau usia perkembangan. Setelah menyadari hal itu, maka lantas saya berpikir, mungkinkah sebuah karya seni dibuat ulang setelah melampaui batas waktu tertentu, dalam hal ini dua dekade?

Biasanya kita asumsikan satu dekade sama dengan satu generasi. Dua dekade berarti dua generasi. Dalam kurun waktu ini, seseorang sudah bisa tumbuh dari duduk di bangku sekolah, lalu bekerja, dan berkeluarga, lantas mempunyai keturunan. Mungkin saja dia punya keinginan untuk membagi apa yang dia pernah nikmati waktu kecil, lalu meneruskan ke keturunannya, dalam hal ini anak, atau keponakan, atau murid, atau siapapun yang berada di dua generasi di bawahnya.

077524500_1542947121-simba_1
The Lion King (2019) (sumber: liputan6.com)

 

Hal ini benar-benar ditangkap Disney, yang belakangan sibuk melihat katalog film animasi dari beberapa dekade lampau untuk dibuat ulang dalam bentuk live action film. Tahun ini sendiri saja ada Aladdin selain The Lion King. Dua tahun lalu ada Beauty and the Beast. Tahun depan ada Mulan. Tahun depan juga ada The Little Mermaid.

Sah-sah saja. Apalagi memang tidak ada lagi orisinalitas di dunia ini. Sebuah cerita atau karya seni hanya bisa bertahan hidup dari generasi ke generasi apabila ia direka ulang dalam bentuk yang berbeda. Cerita Aladdin adalah bagian dari hikayat 1.001 cerita malam. Cerita The Lion King terinspirasi dari “Hamlet” karya William Shakespeare. Demikian pula dengan berbagai katalog film Disney lainnya, yang bersumber dari dongeng-dongeng dunia yang sudah dipermak dan diubah sedemikian rupa agar bisa dinikmati anak-anak. Mau tidak mau juga, reka ulang sebuah karya seni juga mengikuti perkembangan jaman. Makanya, ada lagu “Speechless” di Aladdin, atau porsi peran karakter Nala diperbesar di versi The Lion King terbaru kali ini.

Hanya saja, mungkin yang masih perlu diikutkan dalam setiap reka ulang karya seni adalah emosi dan jiwa yang menghidupkan sebuah karya. Persoalan yang tidak mudah, sangat tricky, mengingat penilaian hal ini sangat subyektif. Apalagi beda generasi, tentu saja beda jenis persepsi, karena waktu dan lingkungan yang mempengaruhi persepsi ini sudah berubah dan berkembang.

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa berharap, semoga generasi baru yang menikmati tontonan reka ulang dan reka buat ini, memang benar-benar menikmati film-film tersebut. Dan bisa menginspirasi mereka untuk membuat apresiasi, lewat vlog atau lewat karya lain, yang sama baiknya, atau malah lebih baik.

Dan kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?

Advertisements

Meneruskan Cerita

Ini aneh: mendadak saya iri dengan teman-teman seumuran yang sudah mempunyai anak.

Padahal biasanya saya tidak pernah punya perasaan ini. Biological clock untuk memiliki keturunan langsung pun sudah berhenti sejak beberapa tahun lalu. Paling tidak berhenti untuk sementara. Belum ada lagi keinginan yang menggebu-gebu seperti waktu dulu. Jadi sekarang merasa biasa saja kalau harus berinteraksi dengan teman-teman dan anak-anak mereka.

Namun yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini sungguh berbeda. Tiba-tiba saja saya tersenyum kecut sendirian.

Apa penyebabnya?

Tak lain dan tak bukan adalah lagu tema “Beauty and the Beast”.

Iya. Lagu tema film Beauty and the Beast, yang dimulai dengan lirik “tale as old as time …” itu.
Yang dulu dinyanyikan dengan indah oleh Celine Dion dan Peabo Bryson, dan sekarang dinyanyikan ulang dengan versi “yaelah, gitu doang” oleh Ariana Grande dan John Legend.

Saya tidak berhenti mendengarkan dua lagu tersebut sepanjang akhir pekan kemarin. Termasuk juga beberapa tracks lainnya di album soundtrack film tersebut, baik versi dulu maupun sekarang.

Ingatan saya jadi melayang ke dua puluh enam tahun silam. Masih duduk di bangku sekolah. Namun pemberitaan cukup gencar soal film animasi Beauty and the Beast membuat saya penasaran. Saya pun nonton di bioskop terdekat. Saya hanya bisa berdecak kagum.

Kemudian hadir teknologi VCD hanya selang beberapa tahun kemudian. Saya sudah menginjak usia remaja tanggung. Saya menonton lagi film ini dari jasa persewaan video terdekat. Entah kenapa, saya menitikkan air mata saat menonton untuk kesekian kalinya. Masih terasa indah, masih terasa magical. Dan jadilah Beauty and the Beast satu-satunya film animasi Disney yang sampai membuat saya menangis, sampai sekarang.

(from youtube.com)

Fast forward to last year, saat promosi film versi anyar sudah dimulai, dan teaser berikut trailer sudah dirilis. Saya terkesiap. Tidak menyangka bahwa film versi baru ini adalah adaptasi murni film animasi ke dalam bentuk live action. Saya memang tidak banyak membaca tentang berita pembuatan film versi baru ini, karena saya pikir adaptasi murni dari cerita asli atau novelnya. Ternyata saya salah.

Jadi saya kaget, melihat cuplikan film sepanjang lebih kurang 2 menit, di mana tampilan adegannya persis sama dengan film animasi yang saya tonton dulu. Apa yang ditampilkan dengan gambar animasi, sekarang menjadi terlihat seperti nyata.

Seketika memori masa kecil melihat keajaiban di layar lebar datang lagi. Dan memori itu makin menjadi akhir pekan kemarin, saat mendengarkan lagu-lagunya kembali.

(from comingsoon.net)

Di situlah sedikit rasa iri muncul.

Saya hanya bisa membayangkan, teman-teman saya yang dulu menonton film animasi di layar lebar, sekarang bisa membawa anak-anak mereka menonton cerita apa yang dulu mereka juga tonton, dan menceritakan kembali pengalaman mereka. Setelah itu, mereka bisa berbagi pengalaman terbaru mereka seusai menonton versi yang baru ini.
Thus, an inexplicable joy of sharing something in common between parents and children finally happens. And you cannot ask for more than this.

Bukan, saya bukan sedang mempunyai rencana untuk punya anak. Paling tidak, tidak dalam waktu dekat. Saya sudah sangat bahagia menjadi paman untuk keponakan, baik keponakan biologis, maupun keponakan dari anak-anak beberapa teman. Sangat menikmati peran sebagai paman yang anak-anak ini bisa lari sejenak dari rutinitas keseharian bersama orang tua mereka.

Hanya saja, I just cannot help it. Ada rasa iri yang terbersit sedikit, ketika sadar ada kesempatan besar bagi beberapa orang, untuk bisa meneruskan memori menakjubkan mereka tentang the magic of cinema ke anak-anak mereka, lewat cerita yang sama, di saat yang sama.
Kesempatan yang langka.

(from postercollector.co.uk)

Tentu saja saya bisa menunggu saat film baru ini hadir dalam format digital atau Blu-ray beberapa bulan lagi, lalu saya ajak keponakan saya untuk menonton, kalau bisa back-to-back atau berturut-turut dengan versi animasinya. Tentu saja, sensasinya akan berbeda dengan menonton di bioskop. Tapi masih lebih baik daripada tidak melakukannya, bukan?

Saat tulisan ini dibuat dan dinaikkan, saya belum menonton film Beauty and the Beast versi tahun 2017. Rencananya saya akan menonton di hari pertama tayang di bioskop bersama beberapa teman. Ada yang sudah berkeluarga, ada yang belum. Deg-degannya sudah mulai dari sekarang. Tapi saya yakin, bagaimanapun hasilnya, saya tetap menganggap Beauty and the Beast keluaran tahun 1991 adalah film animasi Disney terbaik.

(from filmquadposters.co.uk)

Buat teman-teman yang akan mengajak anak-anak menonton, selamat menonton.

Just enjoy the magic. Let the kids see the film with their big eyes in amazement. Pesan saya, jangan lupa buat berdiskusi setelah film dengan mereka.
Kenapa?
Karena saya yakin, both you and your kids will have plenty to discuss.

Oh, yes.

😉