Dari Kolom Komentar

SALAH satu sumber kebahagiaan kami di Linimasa adalah komentar para pembaca.

Ucapan terima kasih atau apresiasi, cerita yang turut dibagi, pernyataan tidak setuju sampai luapan emosi, atau sekadar sapaan yang kemudian berubah menjadi percakapan. Semua itu menunjukkan perhatian, kedekatan, bahkan keakraban. Batas atau label penulis dan pembaca menjadi luntur. Aku dan kami berubah menjadi kita.

Itu sebabnya, kolom “Komentar Pembaca” di sisi kanan atas laman linimasa.com selalu menjadi hal kedua yang saya cek setelah judul tulisan terbaru di sebelahnya.

Dalam tulisan pekan lalu, ada satu komentar yang menarik perhatian saya.

Am I?” Demikian saya membatin setelah membaca pertanyaan di atas.

Sayang, keduanya merupakan sikap yang cenderung negatif bagi yang bersangkutan. Sehingga apabila memang demikian, saya harus segera mengikisnya. Meskipun bakal membutuhkan waktu sangat lama untuk dapat berubah sepenuhnya.

Apakah saya seorang overthinker? Mungkin saja… dan sejujurnya, menjadi seorang overthinker atau seseorang yang selalu berpikir berlebihan itu sangat melelahkan. Namun sebagai sebuah kebiasaan, sebuah program mental yang seakan berjalan otomatis setelah sekian lama, akan sangat susah mengubahnya.

Apa tanda-tandanya? Ehm… entahlah, apakah sejumlah hal berikut ini juga terjadi pada Anda atau tidak.

    • Khawatir
      Kekhawatiran ini bukan sesuatu yang kosong, melainkan khawatir bakal menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan di masa mendatang. Sebagai respons atas kekhawatiran itu, pikiran pun mulai bekerja mempersiapkan segala skenario yang mungkin terjadi, sepaket dengan cara-cara menghadapinya. Termasuk khawatir mengulang kesalahan yang sama di masa depan, jadinya ekstra berhati-hati. Ini capek banget.
    • Ragu
      Sikap ini berkaitan erat dengan kekhawatiran. Lantaran khawatir, lalu kebanyakan mikir, akhirnya bertemu banyak alternatif, ujung-ujungnya ragu. Lantaran ragu, lalu kebanyakan mikir, akhirnya tidak melakukan apa-apa. Waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Masih mending kalau kekhawatiran dan keraguannya hanya untuk kehidupan pribadi, tetapi kalau juga terbawa dalam profesi dan pekerjaan, sudah tidak profesional namanya. Ada pihak yang dirugikan selain diri sendiri.
    • Baper (Duh!)
      Ini bahaya banget sih! Ketika semuanya dimasukkan ke dalam hati secara diam-diam oleh pikiran bawah sadar kita. Kita tidak bisa menyadari hal ini, selain dengan ditunjukkan orang lain. Itu pun kalau kita mau terima. Agak kontradiktif dengan apa yang kita percayai dan kita anggap sedang terjadi saat ini.

Komposisi ketiganya itu bikin stres dan susah tidur. Percayalah!

Mengapa saya menjadi seorang overthinker? Pasti selalu ada sebab dari sebuah akibat. Saya pun belum tahu pasti apa yang menyebabkannya.

Saya bisa hanyut dan tenggelam dalam sebuah pemikiran dengan mudahnya, terlebih untuk hal-hal yang dianggap penting dan berdampak besar dalam kehidupan saya, keluarga, maupun orang-orang tertentu. Hanyut dan tenggelam di sini berarti benar-benar terpisah dari apa pun, memikirkan semuanya dari A sampai seisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dari 1 sampai tak terhingga. Walaupun tentu saja hal yang tengah dipikirkan kala itu belum kejadian sama sekali. Hahahaha! Goblok sekali! 🤣

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat saya pegang teguh, bahwa hidup ini tidak cuma  tentang saya. Selalu ada orang lain dengan beragam kondisinya. Pemikiran ini yang seringkali berujung pada pertanyaan:

“Bagaimana jika apa yang kulakukan ini merugikan atau menyusahkan orang lain?” Ini juga termasuk kekhawatiran, lho

To be fair, siapa sih yang mau dibikin susah? Ketika saya tidak suka dibuat susah, apakah adil bagi saya untuk menyusahkan orang lain? Terutama untuk hal-hal yang sekiranya bisa saya kerjakan, tangani, atau hadapi sendiri… and to be honest, setiap orang pasti punya batas kekuatannya masing-masing. Saat beban sudah sedemikian beratnya, pada akhirnya pasti akan minta bantuan juga. Hanya saja, ada yang benar-benar kesusahan sehingga perlu bantuan, tak sedikit pula yang barangkali cuma kaget dan panik, atau malas repot saja.

Nah, demi mengantisipasi hal-hal seperti inilah seseorang bisa menjadi begitu overthinking. Dari yang niat awalnya adalah memikirkan sesuatu secara menyeluruh supaya tidak kaget dan siap, malah berujung pada berpikir yang tidak-tidak.

Tidak ada yang mau jadi seorang overthinker secara sengaja kok, tetapi kejeblos saja. Lalu keterusan.

Sementara itu, akan sangat bodoh bagi saya yang sudah bisa mengidentifikasi dan menulis beberapa hal di atas tentang diri sendiri, namun tidak berusaha untuk menanganinya.

Ada beberapa hal yang tengah saya “latih” sampai sekarang. Misalnya belajar bersikap lebih nekat, mencoba lebih spontan, putuskan dulu pikir belakangan, dan sejenisnya. Saking bersemangatnya, hal ini yang saya tulis dalam profil singkat sebagai kontributor lepas salah satu majalah nasional beberapa waktu lalu, kendati membuat saya terlihat agak vulnerable. 😅

Belum berjalan lancar memang, karena akan selalu ada perang internal antara kubu overthinking dan kubu pemberontak dalam pikiran. Lelahnya dobel, dan makin bikin sadar bahwa ada banyak hal yang mustahil dikontrol. Bikin makin penasaran dengan orang-orang yang hidupnya terlihat effortlessly lancar jaya, dan bisa dengan mudahnya ngapain aja.

Tuh, kan… overthinking lagi. Mesti chill sedikit nih. 😂

Kepindahan ke Jakarta hampir dua tahun lalu adalah salah satunya. Sudah kepengin dari lama, dan setelah ditimbang-timbang kurang lebih selama setahun, akhirnya terjadi juga.

Apakah ada yang disesali? Untungnya TIDAK ADA! Jangan sampai ada. Ya kalaupun ada, bring it on aja, deh!

Keputusan penting ini pasti akan disusul dengan keputusan-keputusan besar lainnya. Namanya juga hidup, pasti selalu bergerak lurus ke depan. Mustahil bisa dibiarkan stagnan begitu saja.

Apakah saya seorang deep loner? Masak sih? Apa kelihatannya seperti itu?

Saat mengetik ini, ada pesan WA yang masuk dari seorang teman. Kebetulan, atau memang betulan? Lagi-lagi, entahlah.

A loner? Basically, aren’t we all? 🙂

[]

Advertisements

Jangan Paksa: Kebahagiaanmu Bukan Kebahagiaan Orang Lain

IZINKAN saya langsung menyampaikan inti gagasannya: apa yang kamu pikir bisa membuatmu bahagia, belum tentu bisa membahagiakan orang lain.

Jadi, akan lebih baik jika tidak bersikap sok iye, dan memaksakan hal-hal tersebut tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk menghargai betapa unik dan istimewanya kehidupan setiap orang.

Sebelum lanjut, saya percaya ada perbedaan yang cukup besar antara bahagia/kebahagiaan, gembira/kegembiraan, senang/kesenangan, serta ria/keriaan lantaran menyangkut suasana batin dan perasaan setiap orang yang berbeda-beda. Bisa saja yang dianggap kebahagiaan oleh seseorang, tak ubahnya hanya sebuah keriaan sesaat bagi orang lain. Jadi, silakan ganti dan sesuaikan semua kata bahagia/kebahagiaan dalam tulisan ini dengan pilihan kata lain yang cocok menurut Anda.

Unik dan istimewa, berarti tidak ada yang bisa disamaratakan, dipukul rata sepenuhnya. Termasuk untuk hal-hal yang dirasa cocok dan bisa berjalan dengan baik dalam kehidupan seseorang. Satu orang saja. Dirasa, karena pakai perasaan. Lebih abstrak dan enggak bisa diukur. Dirasa-rasa. Sebab selama ini, justru hal-hal abstrak itu yang cenderung bisa menggerakkan orang dengan daya seakan tanpa batas. Sedangkan yang konkret-konkret, yang bisa dihitung-hitung. Kalau habis ya sudah. Mentok. Berganti atau berhenti.

Jangan pula terlalu gampang menjustifikasi, atau mencari pembenaran atas tindakan pemaksaan tersebut dengan prefiks: “kan ini untuk kebaikanmu juga.” Entah, “-mu” di sini sebenarnya ditujukan kepada siapa. Juga tidak ada siapa pun yang bisa menjamin, apakah kebaikan yang disebut-sebut tadi berlaku sama pada setiap orang?

Bukan mustahil, pemaksaan itu ternyata bertujuan untuk memuaskan diri sendiri, menyenangkan candu ego, merengkuh “kebahagiaan” pribadi. Makanya bisa sampai sebegitu mati-matian dilakukan. Akan lebih parah, apabila pemaksaan ini berarti meniadakan kebahagiaan orang lain. Dan menjadi sebuah kejahatan, apabila malah menikmati ketika orang lain kehilangan kebahagiaannya.

Termasuk pembenaran dengan aneka rupa alasan lain. Seperti yang sempat disinggung sebelumnya: batasan dan ikatan struktural. Baik itu ikatan darah, hubungan keluarga, senioritas usia, kekerabatan, ketokohan, bahkan etiket maupun tata susila lengkap dengan salah satu pernyataan paling menjengkelkan dalam peradaban manusia: “kamu tahu apa? Belum bisa membedakan mana yang benar dan yang salah kok.

Pemaksaan kebahagiaan ini yang barangkali dibawa ke Irian Jaya (kini Papua) lewat Operasi Koteka, pada masa Orde Baru dulu.

Dengan dalih kasihan dan iba atas kehidupan warga asli Papua yang dirasa primitif berkoteka serta telanjang dada, pemerintah menjatuhkan banyak sekali pakaian penutup tubuh standar. Mereka, para warga asli Papua pun diharuskan mengenakan pakaian-pakaian tersebut, tak peduli betapa mengganggunya kain-kain tersebut dalam keseharian mereka. Parahnya lagi, ada peraturan yang melarang mereka masuk wilayah kota apabila masih berkoteka. Dengan begini, sebenarnya siapa sih yang bahagia? Apakah orang-orang asli Papua yang mendapatkan budaya baru berupa kain penutup tubuh, atau orang-orang yang merasa beradab karena sudah lahir dan tumbuh berkembang dengan ketakutan pada ketelanjangan?

Serupa dialami orang-orang Dayak di pedalaman Kalimantan. Pemerintah beberapa dekade lalu juga mengidentikkan penghuni hutan Borneo ini sebagai suku terasing, primitif, dan wajib menjadi sasaran program-program “pemanusiaan”.

Soal ini, salah satu Bu Guru cantik waktu saya masih SD–entah namanya Ibu Dwi, atau Ibu Sri–pernah cerita, ia dan rekan-rekannya pertama kali dikirim dari pulau Jawa ke Kaltim bukan untuk langsung menjadi guru. Ia harus ke pedalaman, bertemu dengan suku Dayak yang masih tinggal berpindah-pindah, membagikan pakaian dan mengajari mereka cara hidup layak serta menetap. Seolah-olah, semua itu bisa meningkatkan derajat kebahagiaan para objek sasarannya.

Bayangkan saja, peladang gunung dipaksa harus memancing.


(Video ini NSFW. Aslinya berupa film bisu. Musik petikan Sampeq ditambahkan kemudian.)

Mengutip Appell (1985).

Pada masa-masa awal dibukanya daerah relokasi, kami diberi tahu bahwa semua laki-laki (Dayak) disuruh berbaris oleh orang-orang Jawa petugas relokasi. Cawat-cawat mereka dilepas, dilemparkan ke dalam sebuah tong, dan mereka diberi celana pendek. Seseorang yang ngotot ingin tetap mengenakan baju aslinya disuruh berjemur di bawah matahari seharian penuh.

Masih mending jalan ceritanya begini, seseorang tadi mematuhi perintah berjemur di bawah matahari. Ia seakan mengalah, mengerti bahasa, salah satu ciri manusia beradab. Bisa dibayangkan, apabila ia menolak dan kemudian malah menghabisi si petugas dengan Mandau-nya, apakah itu termasuk perlawanan atau bentuk dari keprimitifan? Toh intinya adalah cawat versus celana pendek, kan? Kenapa harus disamaratakan?

Tetapi jangan khawatir. Perubahan tetap terjadi kok. Sudah banyak orang Papua dan Dayak yang modern, bahkan menjadi figur unggulan di bidangnya masing-masing. Ada yang tetap berkoteka, tapi ada pula yang lebih suka pakai kemeja. Di beberapa pemukiman baru, ada beberapa keluarga Dayak yang tak betah dan kembali ke hutan serta hidup berpindah-pindah sesuai kebutuhan, namun ada pula yang bertahan dan akhirnya menjadi juragan. Kalau sudah begini, urusannya bukan lagi benar dan salah. Semuanya kabur baur, sebab semuanya bersifat kasuistis. Setiap manusia dan kehidupannya itu unik dan istimewa.

Mengambil contoh lain yang lebih gampang deh. Anak seorang dokter, yang dipaksa harus berkuliah di jurusan kedokteran, bahkan sudah diskenariokan untuk mengambil studi lanjutan spesialisasi yang bergengsi. Padahal si anak enggak suka, namun akhirnya terpaksa menjalani perintah itu. Sinetron banget memang. Tapi, bila dipindahkan ke kehidupan nyata, orang tua selalu benar dan anak harus selalu diarahkan? Atau tidak? Silakan jawab masing-masing.

Saat kamu merasa sudah punya pikiran yang pasti tepat diterapkan untuk kebahagiaan semua orang, jangan lupa bahwa alam pikiran itu tak lain hanyalah resonansi dan gema pemikiran-pemikiran pada pendahulu. Ada yang cocok, bisa jadi. Ada juga yang sudah usang. Obsolete.

Lalu, di manakah posisi etika dan moralitas? Tergantung. Pembahasannya pakai sudut pandang apa.

Mau percaya atau tidak, semuanya lumat dalam perubahan.

Perubahan itu berlangsung organis dan fleksibel, memunculkan ruang-ruang baru yang tak terduga sebelumnya, dan sanggup untuk mengisi ruang-ruang baru tersebut dengan substansi yang tak kalah asingnya.

Sebagai homo cogitans, makhluk yang mampu berpikir, perlu penyesuaian untuk menghadapi perubahan. Penyesuaian itu seringkali melelahkan. Ya konsekuensi sih, namanya juga hidup.

12241195_10208123581355424_2674146848798290986_n

Happy Hump-day!

[]

Damn, what’s wrong with me and my head anyway?
Minggu depan mau ngomongin yang jelas-jelas aja ah.

Bahagia itu Sederhana, Katanya…

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana semangkuk mi ayam favorit dengan isi yang banyak, hangat dan gurih, saat hujan. Apalagi kalau ditraktir.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana melihat senyummu, mendengar tawamu, hanyut dalam keteduhan tatap matamu.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tempat tidur dengan seprai dan sarung bantal guling yang baru. Masih mulus, adem, lagi wangi. Apalagi kalau ada konconya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana pelukan. Ada yang demen meluk dari belakang, mendarat di punggung.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil meniru resep masakan, membuat menu baru sendiri dengan rasa yang lumayan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil dapat nilai A dalam ujian. Lulus UN. Tanpa nyontek. Berhasil menjadi sarjana, atau meraih Master, Doktor, dan sejenisnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendapat pujian dari bos di kantor setelah berhasil menang pitching; dianggap punya ide brilian; dinilai berkepribadian baik; maupun bisa diandalkan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil mengalami dan memberikan orgasme kepada pasangan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil membeli tanah, rumah, atau kendaraan idaman dengan kemampuan sendiri. Konstan menabung setiap bulan selama beberapa tahun untuk mengumpulkan uang muka, lalu siap nyicil sisanya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menemukan toilet yang sangat bersih dan nyaman saat kebelet-kebeletnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri, mengalahkan ribuan kandidat lainnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa mewujudkan impian orangtua. Menikah, memberikan cucu, memberangkatkan haji, mengajak mereka jalan-jalan ke luar negeri, memberikan kehidupan yang berkecukupan, membuat mereka selalu tertawa gembira.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bertemu dengan orang yang bisa berbicara “bungul ikam tu!” atau “nggolek badokan yok, wis luwe arep semaput iki” setelah sepuluh tahun tinggal di Eropa.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menemukan paman penjual Putu Labu yang dermawan memberi isi gula merah, dan menyajikan kelapa parut yang segar.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa peluk cium dengan pasangan di mana saja dan kapan saja, tanpa harus takut-takut. Bukan peluk cium pamer atau syahwat yang tak terbendung, melainkan peluk cium sebagai ekspresi rasa sayang yang tak berkesudahan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menonton konser band favorit di luar negeri tepat saat isi tabungan mencukupi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana segelas air putih dingin saat sedang haus-hausnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana sukses menghasilkan karya beraneka media. Bisa jadi buku, gubahan musik, lukisan, komik dan karya animasi, film, instalasi seni, desain busana, tata interior, rancangan arsitektur. Karya yang dihasilkan lewat idealisme dan bebas intervensi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa sahur dan berbuka puasa dengan orang-orang tercinta. Apapun menunya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana masuk ke sebuah restoran ternama dengan predikat Michelin, memesan menu lengkap untuk lima jenis masakan ala fancy dining.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bertemu pacar/suami/istri setelah terpisah sekian lama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendengar anak kita yang masih bayi, tertawa untuk pertama kalinya. Atau saat ia mengucapkan kata utuh pertamanya: “ma-ma”.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketemu barang incaran yang sedang didiskon 70 persen.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berasa jadi salah satu orang paling hipster. Selalu tahu dan mengalami hal baru lebih dahulu. Sudah mengenakan potongan busana jauh sebelum menjadi tren, sudah menjadi langganan kafe atau tempat nongkrong baru sebelum populer, sudah nonton film keluaran terbaru sejak penayangan perdana, sudah menggengam gadget keluaran termutakhir ketika harganya masih didongkrak habis-habisan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana diterima setelah nembak.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil menyelenggarakan event yang “berbudaya”, dan mendapat respons luar biasa. Menuntaskan ide dan cita-cita. Menjadi buah bibir setelahnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana memberi nasi bungkus kepada pengemis renta yang ditemui di pinggir jalan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana membantu orang lain mewujudkan ide dan gagasannya. Menghasilkan sesuatu yang positif, signifikan, dan bermanfaat bagi sesama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana kentut tanpa malu-malu, dan tanpa malu-maluin.

hmm…

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana… (silakan isi sendiri)

Setiap orang punya kebahagiaan versi masing-masing. Kita pun bisa duduk seharian, ngobrolin daftar ini tanpa ada habis-habisnya, lalu ketawa-ketiwi atau merasa senang karenanya. Meskipun begitu, waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir. Kebahagiaan yang kita rasakan, menerakan pengalaman menyenangkan, segudang kenangan.

Begitupun tulisan ini, akan menyisakan bayangan-bayangan penuh kegembiraan, bila diakhiri di paragraf ini.


Berpisah dengan yang dicintai.

Berkumpul dengan yang dibenci.

Mendapat yang tidak diinginkan.

Luput dari yang diharapkan.


Waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir. Perubahan tak dapat dihindari. Mereka yang optimistis, selalu yakin bahwa setelah satu kebahagiaan berlalu, akan ada kebahagiaan lain yang menyusul. Sedangkan mereka yang pesimistis, selalu murung karena menganggap bahwa hanya ada kesedihan tak berkesudahan. Sementara mereka yang realistis, siap menggapai kebahagiaan dan sanggup diterpa kesedihan.

Maafkan saya, jika harus menggugah Anda dari daydreaming yang menyenangkan. Hanya saja kita–manusia–tidak hanya tercipta untuk siap bahagia saja, namun beredar dalam kehidupan yang serba lengkap. Kendatipun lumrahnya, semua orang mengidamkan kebahagiaan, dan sebisa mungkin menghindari kesedihan.

Dari sederetan contoh “Bahagia itu Sederhana” sebelumnya, kita dihadapkan pada happy ending–akhir yang menyenangkan, ketika mampu menyisakan senyum terkembang. Jangan lupa kalimat saktinya: “waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir.” Ada peristiwa, setelah sebuah peristiwa. Tergantung kita, sudah siap menghadapinya, atau masih belum move on dari sisa-sisa efek kejadian sebelumnya.

Berpisah dengan yang dicintai

Perpisahan mengikuti pertemuan layaknya bayangan. Tak perlu jauh-jauh berbicara tentang maut yang memisahkan sepasang kekasih, ketika sehabis kencan mingguan saja, dua sejoli terus bermesra-mesraan lewat udara. Plus kalimat andalan: “kangen banget nih…”

Berkumpul dengan yang dibenci

Wajar kiranya, apabila manusia selalu gandrung dengan hal-hal menyenangkan, dan anti terhadap semua yang bertolak belakang. Di kantor misalnya, akan terasa layaknya ruang penyiksaan ketika kita harus berurusan dengan musuh bebuyutan. Ingin cepat-cepat pulang kantor saja rasanya, nongkrong dengan teman-teman, walaupun pada kenyataannya harus kembali turun kerja keesokan harinya. Siklus.

Mendapat yang tidak diinginkan

Ekspektasi adalah muara dari semua yang kita kerjakan. Selalu ada harapan, target, capaian minimal dari daya upaya yang kita kerahkan. Maunya sih selalu berhasil dan berbuah kegembiraan, namun tak mustahil menuai kekecewaan. Hanya ada “ucapan terima kasih atas partisipasinya.”

Luput dari yang diharapkan

Lebih parah dari poin sebelumnya, luput berarti tidak mendapatkan apa-apa sama sekali. Boro-boro sesuatu yang diinginkan, ini malah tangan yang hampa. Benar-benar kehilangan. Bagaimanapun bentuknya, saya yakin Anda pasti pernah mencelus di dalam hati, ketika merasakan yang seperti ini.

Maafkan saya, jika piket Linimasa hari ini begitu muram. Kampret-nya lagi, aura muram yang demikian ini mesti diawali dengan buaian bayangan-bayangan menyenangkan tentang kebahagiaan. Akan tetapi, sebelum meneruskan umpatan dalam pikiran handai tolan sekalian, izinkan saya menuntaskannya.

Kebahagiaan dan kesedihan, berikut perolehan dan kehilangan. Sepasang realitas yang tidak terelakan. Kondisi yang tidak akan dapat kita hindari, selama masih berkutat dalam “keterkondisian” serta ketidakpastian. Malangnya, seumur hidup ini, kita dibiasakan untuk selalu rapat melekat dengan hal-hal yang membahagiakan, dan berlari sejauh mungkin dari hal-hal yang menyedihkan. Menjadi ilusi, bahwa kebahagiaan itu seperti permen bulat isi cokelat. Berlimpah jumlahnya dan menyenangkan. Menyisakan kesedihan yang dianggap laiknya bulatan-bulatan hitam dengan rasa pahit memuakkan.

Gandrung pada permen bulat isi cokelat. Kita lumat dengan mantap, untuk kemudian kita pegang sisanya erat-erat. Bahagia memang, pada awalnya. Hingga kemudian muncul kekhawatiran; “sisa berapa ya?”, “kalau nanti diambil sama dia, gimana ya?”, “cari di mana lagi ya?”. Kebahagiaan berangsur hilang.

Di pojok-pojok laci yang tak tersentuh, bulatan-bulatan hitam dengan rasa pahit didiamkan. Dijauhkan dari jangkauan anak-anak; mereka yang gandrung pada permen bulat isi cokelat. Hingga suatu saat, sang bocah menceret, diare, salah makan. Anda pun tahu bagaimana kelanjutannya. Setelah sang bocah pulih dari diarenya, baru terdengar celetukan: “syukur masih nyimpan.

Situasi terbalik. Permen bulat isi cokelat tak lagi menyenangkan. Bulatan hitam yang rasanya pahit, tak lagi menakutkan.

Ketidakpastian membuat hidup kita penuh misteri. Apa yang akan terjadi semenit ke depan pun masih merupakan tanda tanya besar. Lantaran itu, kebahagiaan tak melulu berbuntut bahagia; kesedihan pun tak melulu berujung petaka. Larut dalam kebahagiaan, membuat kita terlena dari kenyataan. Sadar dalam kesedihan, membuat kita waskita akan kehidupan. Saya terdengar sok bijaksana? Memang. Sengaja.


Ya, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mampu bersyukur. Terhadap apa saja, itu pun kalau Anda bisa dan bersedia.

Dan sebagai manusia, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mampu merasakan berjuta pengalaman, kebahagiaan dan kesedihan, perolehan dan kehilangan, segalanya.

[]