Kesempatan Bukan Dalam Kesempitan

Apa pelajaran berharga yang pernah diberikan Ayah kepada Anda?

Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, jawabannya tentu saja banyak dan beragam. Tapi salah satu pesan Ayah saya yang masih terngiang di kepala adalah, “bukan pekerjaan yang kamu cari. Tapi menciptakan pekerjaan buat orang lain yang kamu cari.”

Sebagai orang dewasa, seperti saya dan Anda yang sedang membaca ini, kalimat di atas mudah dipahami. Kalau dilakukan, itu urusan lain. Tapi pernahkah terbayang kalimat itu dicerna oleh anak yang belum lulus SD?

Dulu, waktu saya kecil, orang tua saya sering bepergian keluar kota. Acap kali Ayah harus dipanggil dinas mendadak di luar provinsi. Ibu adalah pedagang yang kerap mengambil barang kulakan di kota lain, yang jarak tempuhnya bisa berjam-jam. Kalau sudah begitu, mau tidak mau saya harus berdiam di rumah bersama pembantu, atau dititipkan ke anak-anak kost di rumah kami.
Meskipun begitu, orang tua saya tidak pernah lupa satu hal.
Mereka akan menitipkan uang ke saya dan kakak saya. Bukan sekedar titipan uang. Ada secarik kertas berisi alokasi penggunaan uang tersebut. Misalnya, sekian rupiah untuk diberikan ke pembantu buat belanja di pasar. Sejumlah rupiah yang diberikan ke tukang kayu saat dia datang. Lalu ada beberapa rupiah lain untuk bayar listrik. Maklum, waktu itu belum ada smartphone atau pager. Kontrol mereka hanya bisa dilakukan lewat telepon rumah. Itu pun tidak bisa dilakukan setiap saat.

Kami tidak berpikir panjang. Kami hanya melakukan apa yang diminta sesuai dengan apa yang telah dituliskan. Sesekali mereka mengingatkan, “jangan lupa, tanya ke mbok, belanjanya habis berapa. Uang kembaliannya kamu pegang.”

Dasar anak kecil, kadang saya lupa bertanya. Tapi dia yang tidak pernah lupa memberikan uang kembalian. Uang kembalian itu saya taruh dengan uang yang sudah dialokasikan sebelumnya. Kalau pun terpaksa diambil untuk keperluan lain, misalnya, membayar tagihan langganan koran yang kurang jumlahnya, nanti harus dilaporkan.

Kebiasaan ini terhenti saat saya menginjak remaja dan harus tinggal terpisah dari orang tua. Sejak saat itu pun, saya selalu tinggal sendiri. Namun di saat kami bertemu, kadang-kadang saya merasa heran, kenapa orang tua saya “nekat” memberikan tanggung jawab sedemikian besar ke anak kecil.

Jawaban Ayah saya selalu sama.

“Itu maksudnya Papa ngajarin kamu supaya manage uang dengan baik. Mencatat pengeluaran dengan baik.”

“Kalo itu sih, ngerti. Yang nggak ngerti, apa hubungannya sama bikin kerjaan buat orang lain?”

“Kalo Papa dan Mama lagi pergi, yang masakin kamu siapa? Terus dia beli bahan masakannya di mana? Itu baru makananmu. Lalu apa kamu bisa benerin lampu teras rumah yang mati dulu? Dan kamu nggak perlu jalan beli koran. Dia nganter setiap hari. Kadang-kadang kamu malah titip sekalian beliin majalah Bobo dari dia. Itu kan artinya kamu nggak bisa melakukan semuanya sendiri. Ini baru yang praktis ya. Kita itu nggak bisa hidup sendiri. Di setiap pendapatan kita, ada pendapatan buat orang lain. Tinggal kita pilih, mana yang baik, mana yang kita perlukan.”

Saya masih diam. Dalam beberapa kesempatan, selalu saya tanyakan lagi. Sampai suatu ketika, Ayah menambahkan.

“Itu kan basic. Gimana kamu bisa nyiptain pekerjaan buat orang lain, kalau kamu nggak bisa manage duit?”

Lalu saat saya menuliskan kembali cerita ini, saya baru ngeh.

Everything begins at home, indeed.
Even creating jobs for others.

Father-Son (Courtesy of twosomeforever.blogspot.com)
Father-Son (Courtesy of twosomeforever.blogspot.com)
Advertisements

Hari Pertama

(1 Ramadhan, 04:05 pagi)

I am so not looking forward to this”, gumamnya sambil beranjak dari tempat tidur dengan berat hati.

Hari puasa pertama. Hari yang berat buat yang berpuasa. Jam tidur terganggu. Tubuh kita kaget dengan perubahan jadwal makan.

But every Ramadhan feels anew.

Hari ini hari pertama Andi puasa sendiri lagi. Well, technically, tidak sendiri. Ada Kevin Spacey, Robin Wright, dan sejumlah bintang serial televisi lain yang menemaninya saat sahur. Tapi di kehidupan nyata, Ramadhan ini adalah Ramadhan yang menurut Andi akan terasa sepi.

Sekitar empat tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, siapakah yang akan menemaninya berpuasa di rumah kecil yang baru dia lunasi.

Sekitar tiga tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, apakah perlu membuat meja makan yang cukup untuk dua orang, padahal dia tinggal sendiri.

Sekitar dua tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, apakah pantas membangunkan seseorang di waktu sahur, meskipun orang itu sebenarnya memang selalu mengharapkan sapaan Andi di awal hari.

Sekitar setahun yang lalu, dia sempat bertanya-tanya, bagaimanakah rasa makanan yang buru-buru dia siapkan untuk sahur berdua, meskipun senyuman manis dari seseorang di meja makan sudah menghapus kekhawatirannya.

Sekitar sebelas jam yang lalu, dia masih bertanya-tanya, kapankah pekerjaan membungkus kardus dan boks yang berisi sejumlah pakaian ini selesai. Ini baru pakaian. Belum lagi barang-barang pemberian lain yang Andi ingin segera kembalikan ke pemberinya.

Andi menghela nafas panjang. Diaduknya bubur ayam instan yang masih panas. Layar televisi mulai memainkan lagu tema House of Cards. Andi tak bergeming. Matanya masih menatap ke arah pojokan kamar. Setumpuk kotak-kotak coklat bertuliskan nama dan alamat pengiriman telah Andi susun dengan rapi.

It’s gonna be fuckingAstaghfirullah. Udah puasa, ya. Shit. Astaghfirullah lagi. Goodness! It’s gonna be freaking hard!”, gumam Andi.

Mangkuk bubur sudah cukup hangat untuk bisa dimakan. Tapi Andi masih terus mengaduk. Nafsu makannya lenyap begitu saja. Dia letakkan mangkuk di meja makan, dan mengambil cangkir kosong di lemari.

Damn it. Aduh, ya Allah, sorry, I mean, sialan! Ini kenapa belum masuk kardus sih?”

Dada Andi tiba-tiba terasa sesak. Cangkir itu masih dipegang dengan erat. Teringat lagi saat mereka membeli perabotan bersama, sampai ke ujung timur Singapura. Semakin erat pula genggaman tangan Andi di cangkir itu.

Lalu terdengar suara SMS masuk di ponsel. Terkesiap, Andi meletakkan cangkir itu di meja.

Nama ayah Andi terpampang di layar. Andi melihat sepintas isi SMS yang terpotong. Slide to view.

Andi menggigit bibir membaca pesan panjang itu.
Dia tersenyum menahan haru.

Dia balas, “insya Allah, Pa.”

IMG_8456

(1 Ramadhan, 03:15 pagi)

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Ali menolehkan kepalanya ke kanan, mengakhiri sholat tahajud. Dia duduk, terpekur sesaat, sebelum melihat jam dinding. Pukul 03:15 pagi. Oh, masih jam tiga, pikirnya. Dia lanjutkan berdoa.

Tiba-tiba dia tersadar.

Masya Allah, jam 3 pagi!”

Buru-buru dia berdiri dan merapikan sajadah. Setengah berlari dia pergi ke dapur. Sampai di sana, satu panci dan satu wajan sama-sama mengeluarkan asap. Ali heran, siapa yang masak?

Nuwun sewu, pak. Sahurnya sebentar lagi siap.”

Mbok Parmi, masih mengenakan mukena, mematikan kompor. Ali hanya mengangguk dan mengucapkan “terima kasih” dengan lirih.

Di meja makan, supirnya, Darmo, sudah menyiapkan piring dan gelas. Masing-masing hanya ada satu piring, satu sendok, satu garpu dan satu gelas. Kursi makan yang lain pun sudah disingkirkan Darmo, hanya menyisakan satu kursi untuk majikannya.

“Monggo, pak. Saya makan di dapur nanti sama Parmi.”

Ali menarik kursi. Ada yang terasa janggal buat Ali. Padahal sudah lebih dari enam puluh Ramadhan dia lalui.
Dia nyalakan televisi, tapi dia matikan lagi.
Dia bangkit menuju musholla mengambil Al Qur’an.
Namun langkahnya terhenti di ruang tamu.

Di situ terpampang foto keluarga Ali. Foto yang diambil waktu Lebaran lima tahun lalu. Saat itu anak perempuannya sedang hamil besar, anak laki-laki tertuanya akan pindah ke luar negeri, dan anak laki-laki paling kecil hampir selesai mencicil rumah.

Di foto itu ada seorang perempuan lain yang menggamit lengan Ali. Perempuan itu tersenyum lebar. Senyum yang tak pernah berubah dari saat mereka bersanding di pelaminan.

Senyuman yang sekarang hanya bisa Ali lihat dari foto itu, dan foto-foto lainnya. Senyuman yang membuat benda mati seperti foto lama masih terasa hidup.

Paling tidak itu yang Ali katakan untuk menghibur dirinya.

“Mah …”, tutur Ali, nyaris tak terdengar.

Panggilan sayang Ali untuk perempuan itu selama lebih dari tiga puluh enam tahun.
Panggilan sayang Ali untuk perempuan yang tak pernah alpa menyiapkan sahur untuk Ali, meskipun tak pernah ada kewajiban baginya untuk mengikuti dan menjalani apa yang Ali tekuni.
Panggilan sayang Ali untuk perempuan yang dia ucapkan saat Ali menciumnya delapan bulan yang lalu, yang merupakan ciuman terakhir di antara mereka.

Ali menghela nafas panjang. Dia merebahkan badan di kursi ruang tamu. Dia tengadahkan kepalanya, menerawang ke langit-langit rumah. Dia ingat-ingat lagi, semua makanan yang pernah Ali santap selama sahur hampir empat dekade ini. Semua yang istrinya siapkan semalam sebelumnya. Semua yang selalu tersaji hangat. Kini hanya mata Ali yang terasa hangat, karena ada yang jatuh menetes di pipi.

“Pak, sahurnya sudah siap.”

Ali menyeka matanya. Dia berdiri menuju meja makan. Saat dia duduk dan mulai membuka piring, ponselnya mengeluarkan bunyi pertanda pesan masuk. Rupanya anak-anak Ali sudah meninggalkan pesan selama dia sholat tadi.

Dibacanya satu per satu. Ada yang aneh. Tidak ada pesan masuk dari anaknya yang paling kecil, Andi.

Tapi Ali paham. Di antara ketiga anaknya, Andi yang paling jarang berkomunikasi. Seminggu sekali sudah cukup. Itu pun kalau mereka sama-sama ingat. Seakan ada bagian dari hidup Andi yang tidak ingin dia sampaikan ke ayahnya, meskipun Ali mengetahui segalanya.

Ali membalas pesan-pesan dari kedua anaknya, yang dia yakin masih belum bangun, karena perbedaan waktu.
Tapi Andi?

Ali terdiam sejenak.
Lalu dia tulis:

Assalamualaikum, Ndi. Jangan lupa sahur. Papa juga mulai puasa hari ini.”

Ali terdiam lagi. Jarinya sudah siap memencet send. Namun dia lanjutkan menulis pesan:

“Ini puasa pertama Papa tanpa Mama kamu. Tapi insya Allah Papa siap. Puasa itu yang tahu cuma kamu sama Allah. Papa ndak tau kamu sebenarnya puasa apa ndak, kamu juga ndak tau puasa Papa gimana. Meskipun selama ini kita puasa didampingi orang yang kita cintai atau sayangi, tapi kalau kita memang niat puasa karena ibadah, meskipun orang yang kita cintai sudah pergi, pasti ibadah akan tetap dilancarkan. Jangan lupa minum madu supaya sehat ya, Ndi. Wassalamualaikum.”

Send.

Beberapa detik kemudian, Ali melihat tulisan Read di layar ponsel.

Ali tersenyum.

Alhamdulillah.”

Lovely Man Is Lovely

Cahaya nekat pergi ke Jakarta naik kereta. Ia ingin mencari ayahnya dengan hanya berbekal alamat di secarik kertas lecek. Betapa kagetnya Cahaya ketika menemukan Saiful, ayah yang sudah 15 tahun tak jumpa, telah berubah menjadi “Ipuy”, seorang waria.

Premisnya yang menarik dan ide cerita yang tidak biasa untuk feature film Indonesia berhasil bikin saya mikir “ke mane aje lo?” sepanjang film. Iya, saya menyesal sudah terlambat beberapa tahun menonton film cantik yang dibesut Teddy Soeriaatmadja ini. Lovely Man begitu cantik. Secantik akting Donny Damara yang memerankan Ipuy. Caranya duduk menumpangkan kaki, gaya bicaranya, kerlingannya seperti sudah dipikirkan matang-matang. Padahal katanya film ini sangat low budget.

lm1

Dandanan Ipuy yang menor, baju ketat merah mengkilat, gayanya yang centil menggoda para lelaki di daerah Taman Lawang, jelas membuat Cahaya (Raihaanun) yang lulusan pesantren itu kaget. Film ini menampilkan banyak sekali pertentangan. Penampilan Cahaya yang berjilbab begitu kontras dengan dandanan Ipuy yang over the top. Cahaya begitu santun, sementara Ipuy sangat emosional dan meledak-ledak. Oh, dan ada juga Syaiful yang ternyata masih “hidup” di balik gincu merah Ipuy, diam-diam khawatir akan kabar sang anak. Semua pertentangan tadi mendadak pudar ketika Cahaya tau Ipuy lah yang membiayai pendidikannya selama ini.

lm2

Saya jadi ingat, kawan saya Chika Noya, yang sering membantu teman-teman transgender, pernah cerita tentang bagaimana getirnya kehidupan kupu-kupu Taman Lawang ini. Mereka diperlakukan seperti binatang, dirazia (dan tak jarang diperkosa), bahkan mereka harus mengumpulkan sumbangan agar salah satu kawan waria yang ditemukan terbunuh bisa dikuburkan secara layak. Sedih memang.

Lovely Man menampilkan sisi ke-manusia-an dari seorang waria dengan sangat apik. Film ini bukan tentang hitam atau putih. Tidak menghakimi kehidupan mereka, tidak juga ngoyo ingin jadi film yang bijaksana nan moralizing wasaising. Pesan-pesannya tersaji seperti makanan yang diletakkan di atas meja rumah makan Padang. Terserah kita mau menyantap yang mana, ambil suka-suka tanpa ada paksaan. Terserah kita mau menyimpulkan seperti apa.

lm3

Menonton Lovely Man rasanya sama seperti menguping pembicaraan khas ayah dan anak yang sudah lama tidak ketemu. Ada rindu, kesal, bingung, juga cinta yang tetap sama walau sudah bertahun-tahun ditinggalkan; semua jadi satu. Malam semakin larut dan mereka pun hanyut dalam obrolan yang semakin dalam. Ternyata ada hal lain yang ingin disampaikan Cahaya selain kerinduan. Saya dibuat penasaran. Rasanya ingin terus menguping dan membuntuti Cahaya dan Ipuy, berharap malam jangan lekas-lekas berakhir.

”Kamu masih ingat, kan, dulu kamu suka sekali main hujan-hujanan? Kira-kira hidup seperti itu, Cahaya. Kamu tidak perlu takut dan bersembunyi untuk berteduh…”

Momen

Beberapa hari lalu, saya membeli buku karya David Thomson, penulis spesialis film asal Inggris. Judul bukunya “Moments that Made the Movies”. Ini sedikit cukilannya:

“Do you remember the movies you saw, like whole vessels serene on the seas of time? Or do you just retain moments from them …? Most people, I find, remember moments from films they saw as children or adolescents (so true film buffs like to extend those stages of life). Yet often the moment has overwhelmed the film itself.”

Kalau Anda sekarang berusia akhir 20-an, dan mulai rajin nonton film waktu umur 10 tahun, paling tidak pergi ke bioskop 2 minggu sekali, paling tidak sudah lebih dari 350 film yang Anda tonton sampai sekarang. Apakah Anda bisa mengingat satu per satu jalan cerita dari ratusan film itu? Atau hanya sebagian kecil dari adegan film yang bisa diingat, yang kemudian mewakili seluruh kenangan dan ingatan tentang film yang telah ditonton? Yakin masih bisa cerita dari awal sampai akhir film E.T., dan gak cuma ingat adegan sepeda melayang di depan bulan?

Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)
Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)

Tentu saja kata film di sini juga bisa diganti dengan kata benda lain.
Buku, lagu, atau tahun.

Mari kita bayangkan diri kita tidak jauh-jauh dari sekarang. Misalnya, 3 minggu dari sekarang. Saat itu sudah masuk minggu pertama bulan Januari.
Apakah kita masih bisa mengingat apa yang persis terjadi sepanjang tahun 2014 kemarin? Tentu saja kalau semua hal ditulis di jurnal harian, maka kita masih bisa mengingatnya. Itu pun tidak setiap saat saat kita rekam dalam
tulisan. Atau hanya sebagian kecil moment saja yang bisa kita ingat?

Moments that define us are often moments that just pass us by.

Momen yang membentuk diri kita terkadang hanya sekedar momen yang berlalu begitu saja.

Dan dalam setahun, ada begitu banyak penanda waktu yang kadang terlewat begitu saja, di tengah kesibukan kita. Namun terkadang, momen itu begitu kuat, sehingga kita masih akan teringat terus, seperti layaknya twists dalam cerita film yang kadang kemunculannya tidak akan pernah kita sangka.

Mungkin itulah yang dirasakan Fradita Wanda Sari, saat menulis “These Movies Define Me” di blognya. Pilihan filmnya, Like Father Like Son, terasa begitu kuat di kami di Linimasa yang membacanya. Terlebih saat Dita bercerita bagaimana film ini seperti mencerminkan hubungan Dita dengan ayahnya yang sedang diuji tahun ini. Membaca tulisan Dita jadi seperti membayangkan film tentang ayah dan anak dalam kehidupan nyata.

Momen yang terasa dekat dengan kami juga saat membaca tulisan “Sometimes The Wrong Train Will Get You To The Right Direction” di blog milik Bang Bernard. Ada satu kejujuran yang menggelitik, yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Bernard menulis: “kalo nonton film di pesawat, buat gue kekuatan cerita itu nomor satu. Special effect sih gak ngaruh, orang nontonnya pake headphone.” Senang rasanya membaca cerita dari orang yang percaya pada kekuatan cerita di atas segalanya.

Dan lewat medium apapun, cerita bisa membawa perubahan. Kami pilih film, karena film terasa lengkap menggambarkan bahasa visual yang bisa mewakili apa yang ingin kita proyeksikan di kehidupan sehari-hari. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Inilah yang Agnes Gultom tulis di “Old & New – 2 Mujur (Sangkar)”. Menonton film di layar notebook yang kecil, yang ternyata buat Agnes, seperti dikutip dari blognya: “Bukan hanya membekas, tapi meresap serta mengubah.” Siapa sangka keputusan hidupnya menjadi berubah setelah menonton film?

Perubahan hidup tidak harus besar. Terkadang kesan atau impresi yang kuat pun bisa membekas begitu lama, sehingga bisa mengubah persepsi kita terhadap sesuatu. Sepertinya itu yang dirasakan Nadya Laras saat menulis “1st post: Jawab Pertanyaan Linimasa” di blog yang baru saja dia buat khusus untuk ini. Kekuatan film yang bisa mengubah persepsi kita terhadap aktor atau aktris yang selama ini kita kenal, bisa membuat orang akhirnya tergerak untuk melakukan hal yang simple, yang bisa jadi tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dan yang tidak terpikirkan oleh Dhoni Fadliansyah saat menonton X-Men: Days of Future Past dan The Raid 2 tahun ini adalah bahwa sebentar lagi, dia akan belajar bela diri, dan saling menghargai orang lain. Itu yang dia tulis di blognya, “Film Yang Berkesan”. Perubahan dimulai dari hal yang kecil dan simple, toh?
After all, the timing is right: talk about New Year’s Resolutions!

Lima momen yang sudah dishare inilah yang membuat kami memutuskan untuk memberikan hadiah di Kuis Linimasa Volume 1 kepada mereka.

Selamat!

Terima kasih sudah berbagi momen-momen spesial di tahun 2014 ini. Oh ya, tolong kirim email berisi nama lengkap, alamat pengiriman dan nomer telpon yang bisa dihubungi ya.

Isn’t it great to be able to share special moments?

AYAH? AH, YA..

Kemarin, seusai baca “Ayah” yang ditulis Nauval, ulu hati rasanya seperti ditonjok. Jari-jari mendingin. Saya ndak suka topik yang dia bahas. Bahasan soal ayah itu seperti kryptonite. Harus selalu dihindari kalau tak mau berakhir dengan mata berair dan dada sesak. Tak berapa lama, ada satu pesan muncul di layar ponsel. “Aku mewek”. Rupanya sang kawan juga merasakan hal yang sama. Hampir seharian saya habiskan membaca komentar teman-teman yang ikut bernostalgia tentang ayah mereka.

Dan hari ini, entah kenapa, saya merasa harus menambahkan satu bab lagi soal ayah di Linimasa.

Bicara tentang ayah itu bicara tentang sesuatu yang sangat kompleks. Dan, rasanya, membicarakan hubungan anak dan ayah itu jauh lebih kompleks. Njlimet. Ribet. Bukan. Bukan mengecilkan peran ibu. Tapi kita masih hidup di lingkungan di mana ibu diharapkan dan sudah sewajarnya jadi sosok welas asih. Jadi kalau ada apa-apa, lebih gampang untuk memaafkan ibu. Sementara ayah? selalu banyak drama.

Saya ingat, ada seorang kawan yang mengaku kalau salah satu pemicu ia jadi homoseksual adalah konfliknya dengan sang ayah yang berakar dari ia kecil. Selalu dijadikan sasaran kekesalan ayahnya yang kalah judi. Entah itu ditampar, atau dipecut dengan ikat pinggang, atau dipukul dengan pemukul kasur dari rotan. Lalu ada juga kawan yang tahun lalu baru jadi bapak. Ia sempat berkelakar “Bangsat bangsat gini, gue pengen jadi bapak yang baik. Anak gue harus jadi anak soleh, lah.” Kemudian seorang kawan lain yang begitu terkesan dengan sosok sang ayah. Sampai-sampai, tujuan hidupnya, ya, menemukan lelaki yang punya sifat dan karakter mirip ayahnya.

Berat juga jadi ayah. Seumur hidup dibebankan dengan pertanyaan apakah ia akan jadi pahlawan bagi anak laki-lakinya. Dan apa ia akan bahagia kalau anak gadisnya menikahi pria seperti dirinya. Ayah merupakan sosok asing pertama yang kita biarkan untuk kenal dan cintai. Namun sayangnya, cinta kerap bersisian dengan sakit hati. Di sinilah drama dimulai. Saya yakin, kalau bahasannya sudah ‘ayah’, tak diminta pun teman-teman pasti cerita sendiri.

Ada satu film bertema ayah yang begitu kuat diingatan saya. La Vita è Bella (Life is Beautiful). Roberto Benigni memerankan serang pria bernama Guido Orefice. Seorang yahudi pemilik toko buku di salah satu kota di Italia. Waktu itu Perang Dunia II sedang panas-panasnya dan Nazi Jerman akhirnya menduduki Italia. Guido dan sang anak yang baru berumur lima tahun, Giosué, akhirnya harus “dipindahkan” ke kamp konsentrasi di luar kota. Untuk mengapus rasa takut Giosué, Guido berbohong dan berpura-pura kalau kejadian yang mereka alami ini adalah sebuah perlombaan. Orang pertama mengumpulkan 1000 poin akan dihadiahi sebuah tank baja. Tujuan utamanya, ya, tentu saja untuk melindungi Giosué sementara ia menunggu saat yang tepat untuk membebaskan keluarganya dari kamp konsentrasi. Ini salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.

Guido dan seorang tentara Nazi. Salah satu scene di “La Vita e Bella”

Ada satu hal yang saya lihat dari Guido, ayah saya, dan mungkin ayah kalian. Mereka kadang terlalu hanyut di balik peran sebagai seorang ayah. Dan akhirnya kitapun kadang ikut alpa kalau mereka juga manusia. Dan ketika film berakhir, saya masih ingin mengenal lebih lanjut sosok Guido. Saya ingin mengenal ayah. Bukan sebagai ayah, tapi sebagai manusia. Saya ingin mengenal ayah seperti layaknya dua orang manusia yang mengenal satu sama lain, tanpa ada label anak-bapak. Apa yang ia pikirkan kalau ia tak harus memikirkan istri dan anak-anaknya? Apa sebenarnya yang ia inginkan? Atau, sesederhana, bahagiakah ayah selama ini?

Jujur saja, ketika dihadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya tidak tau harus jawab apa. Saya merasa sama sekali tidak mengenal ayah. Sedikit sekali hal yang saya tau tentang beliau. Bagaimana kita bisa begitu asing akan seseorang yang sudah dari lahir kita kenal? Bukan, ini bukan upaya justifikasi dari segala hal-hal buruk yang mungkin pernah dilakukan ayah-ayah kita. Tapi, kalau kita mau mengenal lebih sosok ayah, mungkin kita jadi lebih mengerti keputusan-keputusan yang mereka ambil. Baik atau buruk sekalipun. Mengerti, bukan memaklumi.
Dan akhirnya, sebelum ini jadi curhat colongan yang kepanjangan, saya harus berhenti di sini.

Ayah

And When Did You Last See Your Father?

Kalimat di atas bukan ditulis dengan maksud bertanya langsung kepada Anda. Pertanyaan itu sebenarnya judul film Inggris tahun 2007 yang, sayangnya, tidak banyak ditonton orang.
Padahal ini salah satu film yang sangat baik dalam mengungkapkan rumitnya hubungan ayah dan anak, yang dimainkan dengan gemilang oleh Jim Broadbent dan Colin Firth.

Dan film ini adalah salah satu dari beberapa film di IMDB yang saya beri rating 10 dari 10. Daftar film dengan rating sempurna ini ternyata sebagian besar diisi oleh film-film tentang hubungan ayah dan anak. Itu yang sempurna. Yang nyaris sempurna dengan nilai 9 pun, ternyata jauh lebih banyak lagi.

Ketika menulis ini, ingatan pun melayang saat pertama kali melihat Catch Me If You Can di bioskop 11 tahun silam. Yang menggetarkan hati saat itu bukan Leonardo DiCaprio, tapi justru Christopher Walken yang berusaha meluruskan jalan anaknya, yang diperankan Leonardo, saat mereka bertemu di bar dan memeluknya erat-erat.

Lalu tanpa ada rasa paksaan, air mata tiba-tiba menetes waktu melihat Donny Damara dengan kostum waria di Lovely Man berusaha berdialog dengan anak perempuannya di jalanan Jakarta di malam hari.

Waktu nonton The Namesake di bioskop di suatu Selasa sore di luar negeri, ada rasa sesak di dada yang ingin membuat buru-buru pulang ke rumah dan memeluk ayah, meskipun dia tidak menamai saya dari pengarang favoritnya.

The Namesake
The Namesake

Kalau kita masih bisa membaca tulisan ini tanpa perlu bantuan Google Translate, berarti kita tahu, kalau sebagian besar dari kita lahir dan tumbuh di lingkungan yang kebanyakan tak bebas untuk mengungkapkan ekpresi cinta dan kasih sayang. Terutama di luar konteks romansa. Terlebih untuk hubungan orang tua dan anak. Apalagi seorang ayah, pria dengan status sebagai kepala keluarga.

Kita mencari pelarian ke bentuk lain yang kita bisa lihat. Lewat suara, tulisan, dan gambar, kita mendapatkan apa yang kita ingin sampaikan. Maklum, di film, semuanya jadi lebih ekspresif. What we cannot express in real life, books, movies and music will do the service.
Dalam kehidupan nyata, mungkin tidak ada ayah yang mengepalkan jari menahan tangis dengan raut muka penuh ekspresi seperti Dustin Hoffman dalam Kramer vs Kramer, atau menceritakan masa lalunya dengan kehadiran visual fantasi seperti Albert Finney ke Billy Crudup di Big Fish.
Toh kita masih bisa menempatkan diri kita berempati ke cerita dan karakter di film-film itu, yang akhirnya berujung dengan ucapan ke diri sendiri, “That is so … me.”

Kramer vs Kramer
Kramer vs Kramer

Ayah yang hadir di layar lebar, yang kita lihat dalam kegelapan selama sekitar 2 jam, sebenarnya adalah proyeksi dari keinginan kita terhadap ayah kita sendiri. Atau mungkin, sosok ideal seorang ayah yang kita harapkan.
Siapa yang tidak mau punya ayah seperti Liam Neeson yang menonton “Titanic” dengan anaknya yang lagi jatuh cinta di Love, Actually? Atau ayah seperti Tom Hanks yang tampil bak cerita detektif yang kita baca waktu kecil di Road to Perdition?

Tentu saja kita mau kalau fantasi itu jadi nyata … meskipun kenyataannya, kita akhirnya jatuh hati dengan penggambaran sosok yang paling mirip di kehidupan nyata.

Saya tertegun melihat almarhum komedian Mamiek Prakoso di film King. Karakter ayah yang diperankannya begitu dekat dengan sebagian besar sosok ayah yang membesarkan kita: keras, cenderung “ngeyel”, susah menerima perubahan, namun dalam diamnya, dia bangga dengan pencapaian anaknya.
Tanpa kata yang berlebih, dia berusaha menerima apa yang anaknya mau tuju dalam bermain bulu tangkis, meskipun berbeda dengan apa yang dia rencanakan ke depan. Tatapannya datar. Sepanjang film, karakternya nyaris tidak berubah. Kekerasan hati masih tersirat di mukanya, dari awal sampai akhir.

Bukankah ayah kita begitu?