Apa Hati Kita Perlu Ikut Berperang Saat Menonton Film Perang?

Dear Mr. Nolan,
I’m sorry.
It’s not you.
It’s me.

Setengah mati (maaf, bukan bermaksud sengaja) saya berusaha mencintai film Dunkirk. Sampai tiga kali saya mencoba mencintainya.
Namun apa daya, perasaan penuh kasih itu tidak kunjung datang jua.

Ya, sampai tiga kali.

Yang pertama, terjadi akhir pekan lalu.
Menuju bioskop dengan perasaan berdebar. Penantian hampir setahun akhirnya datang juga.

Namun apa yang terjadi?
Dari momen-momen awal film, saya terkejut. Tiba-tiba saja banyak pertanyaan berkecamuk di dalam dada dan kepala. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Ini siapa? Kenapa mereka bertingkah laku seperti itu? Kenapa saya malah sibuk memperhatikan tata musik dengan irama dan tabuhan yang menggelora dan membahana … Wait a minute. Ini pasti Hans Zimmer! Lalu sinematografinya kok mirip kayak yang di Interstellar ya di beberapa adegan, terutama tone warnanya … Wait a minute. Ini pasti si Hoytema – Hoytema itu. Aduh, kenapa jadi nggak konsen gini sih?”

Keluar dari bioskop, saya merasa underwhelmed. Terlalu sibuk terkesima dengan elemen-elemen teknis, saya gagal menyatukan kesemuanya dalam mata saya sebagai satu kesatuan gambar yang utuh. Or did I really fail?

Salah satu film bertema perang favorit: Twelve O’Clock High, produksi tahun 1949. (source: channelawesome.com)

Lalu langkah kaki ini memutuskan untuk menenangkan diri sambil makan di kedai terdekat. Paling tidak ada jeda waktu, sebelum masuk ke dalam bioskop menonton War for the Planet of the Apes. Tidak seperti film sebelumnya, saya malah tersenyum sepanjang film ini. Padahal sudah lewat tengah malam. Namun mata nyaris tak mau berkedip, berpaling dari layar, meskipun banyak adegan keras.

Saya pulang dengan rasa senang atas film yang baru saja ditonton, tapi masih penasaran dengan film yang sebelumnya. Akhirnya saya putuskan, mungkin ada yang salah dengan saya, yang tidak menyukai film Nolan kali ini. Saya protes ke diri sendiri, “Nggak mungkin! Wong dulu keluar dari nonton Inception langsung sumringah kayak fanboy lagi kelojotan, kok!”

Masuk tontonan yang kedua di hari berikutnya. Kali ini di layar lebar yang lebih besar. Mulai memalingkan sisi teknis. Berusaha konsentrasi ke cerita. Mulai “ngeh” struktur cerita yang ada. “Oh, begini, tho. Gaya penceritaannya tidak linear, atau tidak lurus. Oke. Fine. Tapi dari tadi kenapa nggak ada karakter yang nyantol di kepala ya?”

Alih-alih konsentrasi ke film, yang ada malah benak saya berputar-putar mengingat-ingat beberapa film perang yang pernah ditonton selama ini. Malah sempat saya berpikir, “Apa karena kebanyakan nonton film selama ini, jadi gak bisa menikmati film ini ya?”

Salah satu film perang paling puitis, meditatif, tapi langsung “kena”: The Thin Red Line, rilis tahun 1998. (source: sinematorler.blogspot.com)

Selesai film, masih merasa aneh sendiri. Lalu baru ngeh, “Padahal semua film Christopher Nolan pasti ditonton lebih dari sekali di bioskop. Dan itu juga karena semuanya gue suka, termasuk Insomnia sama The Prestige yang sebenarnya just okay lah. Tapi kok yang ini …”

Dengan memegang pedoman “the third time’s the charm”, maka keesokan harinya, bergegas saya menonton Dunkirk untuk ketiga kalinya dalam tiga hari di layar yang masih lebar.
Hasilnya? Jidat saya makin lebar, karena masih kebanyakan berpikir. Masih belum puas. Malah sempat protes, “Kenapa adegan one-take, single-tracking yang panjang selama 5 menit di film Atonement bisa efektif mengungkap suasana horor di Dunkirk?”

Dan sepertinya, sampai nonton film terbaru Nolan ini beberapa kali pun dalam waktu dekat, paling tidak sampai 2 minggu ke depan, hasilnya masih akan tetap sama: this time, I’m falling out love.

I’m sorry, Mr. Nolan.
It’s not you.
It’s me.

Keputusan saya akhirnya menganggap Dunkirk tak ubahnya sebagai karya seni yang bisa saya kagumi, tapi tidak bisa saya sukai, apalagi dicintai.

Genre film perang memang bukan genre film yang lantas muncul paling atas kalau ditanya “jenis film favoritmu apa?” ke saya.
Tapi dari sedikit film perang yang saya tonton selama ini, paling tidak ada satu hal di semua film-film itu yang membuat saya betah menontonnya.

Manusia dalam cerita film, atau karakter.

Terus terang, saya tidak bisa berempati pada karakter-karakter di Dunkirk, despite their based-on-real-life. Terasa dingin, sedingin tatapan Nolan dan beberapa appraisal terhadap karakter-karakter di film-film Nolan yang katanya dingin.

Taruhlah memang karakter di Dunkirk memang ‘dibuat’ dingin dan berjarak, berhubung sutradaranya ‘dingin dan berjarak’. Dengan pendapat ini, maka saya tak berhenti berpikir: bukankah almarhum Stanley Kubrick juga tidak kalah dingin, namun dia bisa membuat film anti-war humanis dalam Paths of Glory (1957)?

Paths of Glory (source: IMDB.com)

Mungkin tidak adil membandingkannya, apalagi dengan ada biased opinion bahwa film Paths of Glory memang salah satu film favorit saya sepanjang masa. Toh memang sejatinya a film shall stand on its own, incomparable to others. Tapi sebagai penonton, mau tak mau ada subyektifitas perbandingan saat menonton dua atau lebih karya visual dengan tema atau setting cerita yang sama.

Sepulang menonton Dunkirk, saya menonton ulang beberapa film perang. Saya ingin memastikan, apakah sensasinya sama seperti film Nolan ini.

Yang pertama, The Bridge on the River Kwai (1957). Mungkin lebih dari 17 tahun sudah tidak menonton film ini. Tapi dengan alur yang lambat untuk tontonan masa sekarang, saya masih betah mengikuti ceritanya. Masih kagum dengan bahasa tubuh Alec Guinness sebagai komandan yang terlucuti. Masih gregetan dengan karakter-karakter di film ini.

Jauh sebelum jadi Jedi, Alec Guinnes gave his finest hour in The Bridge on the River Kwai. (source: sky.com)

Lalu saya menonton Das Boot (1981), film Jerman karya Wolfgang Petersen yang mengisahkan tentang usaha kru kapal selam Jerman (U-boat) di Perang Dunia ke-2 untuk menyelesaikan misi mereka, dan bertahan hidup. Terus terang dulu saya pernah menonton film ini waktu kecil, dan tidak selesai. Waktu akhirnya puluhan tahun kemudian saya menonton film ini sampai selesai, tak sadar saya tepuk tangan, meskipun nonton di ruang tamu sendirian.

Das Boot (source: blog.ricecracker.net)

Film berikutnya yang saya tonton ulang adalah Letters from Iwo Jima (2006) karya sutradara Clint Eastwood. Sepuluh tahun yang lalu, saya menonton dengan terburu-buru. Banyak detil adegan yang tak tertangkap. Sepuluh tahun kemudian, saya melihat lagi film ini, dan menerimanya sebagai studi karakter yang sangat multi-dimensional.

Ken Watanabe di Letters from Iwo Jima (source: minnyapple.com)

Terakhir saya menemukan film lama yang belum pernah saya tonton di rak film: In Which We Serve (1942). Film ini tanpa tedeng aling-aling menegaskan diri sebagai film perang propaganda, yang memang dibuat untuk membangkitkan moral tentara Inggris waktu itu. Berbicara tentang propaganda, bukankah Dunkirk juga demikian adanya? Dengan fokus kepada pasukan Inggris di Perang Dunia II, film In Which We Serve secara berani menampilkan efek menakutkan sebuah perang besar dalam kehidupan sehari-hari, meskipun payung besar ceritanya adalah perjalanan kapal perang Inggris.

Ada beberapa bagian dalam film In Which yang mau tidak mau mengingatkan saya pada beberapa bagian di film Dunkirk. Adegan para tentara terombang-ambing di laut, misalnya. Dan tentu saja bagian cerita dari In Which juga berkisar seputar penyelamatan tentara di Dunkirk.

In Which We Serve (source: movie-mine.com)

Kalau boleh jujur, ini mungkin pertama kalinya saya bisa nonton satu film selama tiga kali berturut-turut bukan karena suka sama filmnya. Justru sebaliknya. Dan rasa ketidaksukaan itu membuat saya semakin penasaran, sampai mencari film-film pembanding lain sebagai visual analysis companion.

Toh tidak suka bukan berarti benci. Hate is too strong of a word when it comes to work of art. In fact, most of the times, I hate the word ‘hate’. Buat saya, Dunkirk adalah, lagi-lagi, karya seni yang dibuat dengan perhitungan cermat dan matang oleh pembuatnya. Setiap elemen teknisnya sempurna on their own. Tapi yang saya rasakan adalah the great emotional distance, yang tidak saya rasakan saat menonton film-film macam Saving Private Ryan, atau The Thin Red Line.

In fact, dua film itu, bersama film-film lain yang disebut di atas dan yang tidak disebut, terus menari-nari sepanjang nonton Dunkirk. Seakan-akan saya mencoba mencari paralel potongan adegan tertentu di film-film bertema perang yang pernah saya tonton. Mendengarkannya saja sudah capek, bukan?

Sementara kebalikannya, saya tidak berpikir apa-apa saat menonton War for the Planet of the Apes. Sangat menikmati setiap curves and turns di penceritaannya, meskipun sudah tahu arah ceritanya. Tetapi begitu googling informasi filmnya, saya terkejut membaca bahwa sutradara dan penulis naskahnya, Matt Reeves dan Mark Bomback, menghabiskan banyak waktu menonton film-film lama, di luar trilogi Apes yang asli, untuk mendapatkan inspirasi cerita.

War for the Planet of the Apes (source: empireonline.com)

Lalu saya mengingat-ingat lagi, dan sadar bahwa memang ada bagian-bagian cerita di War for the Planet of the Apes ini yang diambil dari film-film John Wayne. Toh yang kita lihat di layar lebar adalah film yang utuh, baik visualisasi maupun penceritaan, yang mampu meramu semua elemen-elemen teknis melebur menjadi satu kesatuan yang cadas dan cerdas.

Christopher Nolan memang mengambil resiko artistik yang besar di setiap filmnya. Mungkin Dunkirk yang paling besar. Mungkin juga yang paling personal, walaupun ini hanya asumsi belaka. Dan setiap seniman yang mampu mengambil resiko artistik yang rapuh dan rentan perlu kita apresiasi. Meskipun apresiasi itu datangnya tidak sepenuh hati.

So, dear Mr. Nolan,
It’s not me.
It’s you.
It’s always you we respect the most.
And sometimes, respect comes from a distance.

Dunkirk (source: Youtube)
Advertisements

Maaf

Di suatu sore, ayah saya pernah mengirimkan pesan singkat. Kata beliau, “Sebisa mungkin, lupakan kebaikan yang pernah kamu buat ke orang lain. Tapi jangan pernah lupakan kesalahan yang pernah kamu buat ke orang lain. Bukan cuma meminta maaf. Tapi maafkan.”
Perlu waktu bertahun-tahun untuk memahami itu. Sampai sekarang.

Beberapa hari yang lalu, film dokumenter The Look of Silence (yang diberi judul bahasa Indonesia Senyap) diputar pertama kali untuk umum di Jakarta. Film karya Joshua Oppenheimer ini merupakan sambungan dari film dokumenter The Act of Killing (Jagal). Kedua film masih bercerita tentang tragedi pembunuhan massal tahun 1965. Bedanya, tuturan bercerita Jagal membuat kita terbelalak dalam kemarahan. Sedangkan Senyap membuat kita terkesiap dalam kesunyian.

Seperti Fa pernah tulis tentang Senyap, film ini membuat kita menunduk. Seakan kita tiada artinya dibanding Adi, tokoh utama di film. Ia berani menemui langsung orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Selama itu pula terpendam rasa amarah, benci, yang semuanya terpampang nyata di layar. Dan semua perasaan itu tersirat dari setiap perubahan mimik muka, yang semakin membuat kita heran, bagaimana Adi bisa hidup selama ini? Bagaimana Adi bisa memaafkan?

Lalu ingatan saya kembali melayang ke beberapa film di masa lampau yang bercerita tentang kata “maaf”. Sebuah gambaran emosi yang sungguh susah digambarkan dalam bahasa visual. Tidak seperti jatuh cinta, kemarahan, kesedihan, rasa legowo untuk memaafkan kadang tak lebih dari sekedar kata-kata yang kita tonton.

Namun karya seni yang tak terlupakan adalah karya yang melampaui kesukaran. Tak banyak kata terucap dalam The Hours, namun kita tahu bahwa Ed Harris, Nicole Kidman, dan Julianne Moore akhirnya memaafkan orang lain dan diri mereka sendiri dengan cara yang tak lazim. Atas nama kebahagiaan, mereka melawan.
Demikian pula dengan seluruh film tentang almarhum Nelson Mandela, mulai Goodbye Bafana sampai Invictus sampai Mandela: Long Walk to Freedom.

The Hours. (Courtesy of: movpins.com)
The Hours. (Courtesy of: movpins.com)

Kita bisa berandai-andai bahwa ekspresi datar Anne Hathaway di telepon saat menceritakan kematian suaminya di Brokeback Mountain pada Heath Ledger adalah caranya memaafkan almarhum.
Senyum terkembang di bibir Rachel Maryam dan pandangan menerawang Jajang C. Noer di Eliana, Eliana adalah pertanda bahwa mereka telah berdamai dengan diri sendiri. Mereka sudah memaafkan satu sama lain dalam anggukan dan senyuman.
Kekerasan raut muka Tom Cruise melihat ayahnya yang terbaring tak berdaya di Magnolia membuat kita berpikir lagi tentang makna memaafkan.

Bukan perkara gampang untuk meminta maaf. Apalagi memaafkan. We’d rather swallow our pride than to be sorry and to forgive. Harga diri yang kadang-kadang suka berubah jadi ilusi, atau imajinasi. Seperti yang diuraikan dengan gemilang oleh Ian McEwan di novel “Atonement”, sebelum akhirnya dimainkan dengan sempurna di versi filmnya. Karakter Briony hidup dengan rasa salah tanpa bisa memaafkan seiring dengan berjalannya waktu. Masing-masing dari Saoirse Ronan, Romola Garai sampai Vanessa Redgrave membawa karakter Briony hidup dalam nelangsa tanpa bisa mengucap kata “maaf” atas khayalan mereka.

Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)
Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)

Kalau ada ungkapan bilang “time will heal”, mungkin tak akan ada lagi dokter dan psikolog di dunia ini. Time only makes us used to living with scars, but they will always remain. Waktu hanya akan membuat kita terbiasa, tanpa bisa menyembuhkan.

Sebelum kebablasan, akhirnya kita hanya bisa meresapi kembali apa yang almarhumah Yasmin Ahmad sampaikan di film terbaiknya, Muallaf.

Di salah satu adegan, saat sang adik hendak beranjak tidur, sang kakak bertanya, “Have you forgiven the people who have hurt you today?”