Oscar Yang Ketebak

Terima kasih, kang Agun, yang sudah memulai prediksi Oscar tahun ini, sehingga saya tinggal melanjutkan saja dengan sisa kategori yang lain. Eh, apakah itu berarti prediksi saya di kategori-kategori ‘utama’ sama seperti Agun? Belum tentu …

Yang jelas, saya merasakan sentimen banyak orang terhadap perhelatan Academy Awards tahun ini yang terasa meredup selama awards season kali ini. Salah satu faktornya adalah begitu banyak kasus dan pergerakan yang muncul dari kasus-kasus tersebut di Hollywood selama 6 bulan terakhir. Tumbangnya Harvey Weinstein yang menyeret banyak pesohor lain membangkitkan aksi #TimeIsUp dan #MeToo, yang menyeret ke beberapa perhelatan penghargaan film di Amerika Serikat beberapa bulan terakhir.

Di Golden Globes, para selebritis membawa aktivis perempuan sebagai plus one mereka di acara tersebut. Di SAG Awards, seluruh presenter pembaca penghargaan adalah selebritis perempuan. Di Critics’ Choice Awards, nominator-nominator yang terseret kasus pelecehan seksual tidak diberi tepuk tangan. Di BAFTA, sutradara Martin McDonagh saat mendapat penghargaan untuk film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, harus mengaitkan isi film dengan isu kebangkitan peranan perempuan di bisnis dan produksi film yang sedang marak dibicarakan.

Tentu saja kebangkitan pergerakan ini muncul sejalan dengan apa yang tidak pernah dilewatkan saat setiap musim penghargaan film: black campaign. Apalah artinya Academy Awards tanpa kampanye negatif yang bersifat saling menjatuhkan.

Korbannya sudah ada satu, yaitu James Franco yang bermain cemerlang di The Disaster Artist, namun tahun ini harus menonton siaran langsung Oscar di rumah saja. (Saya juga, mas.)
Sementara The Shape of Water mendadak dituduh sebagai karya plagiarisme tepat di pekan saat anggota AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Science) memberikan suaranya di setiap nominasi Oscar. Belum lagi Three Billboards yang dituduh rasis, Call Me By Your Name yang dituduh mengagungkan pedofilia, sampai Darkest Hour yang dianggap membosankan. Oh kalau ini bukan tuduhan, tapi kenyataan.

Mendapatkan nominasi Oscar bukan perkara mudah. Apalagi sampai menang. Banyak jalan berliku yang harus dilalui. Beberapa pelaku film mengibaratkan berkampanye untuk Oscar seperti mencalonkan diri menjadi presiden. Atau mengikuti lomba lari marathon. Perlu kesiapan fisik dan mental, dengan menjalani kampanye beberapa bulan, membicarakan hal yang sama berulang-ulang, dan mengeluarkan reaksi yang politically correct setiap ada isu negatif seputar film yang dikampanyekan. It has nothing to do with artistic achievement. It is always about a popularity contest.

Oleh karena itu, sebagai sebuah kontes populer, maka tidak ada yang lebih menyenangkan buat kita, penonton yang jauh di belahan dunia lain, untuk menebak-nebak siapa yang akan membawa Oscar. Belum menonton semua filmnya? Jangan khawatir. Internet kaya dengan informasi tebak-tebakan serupa, atau berita soal film mana yang mendapat penghargaan dari asosiasi pekerja sesuai dengan kategori masing-masing.

Kecuali kategori-kategori paling sulit, yaitu ketiga kategori ini:

Best Live Action Short – The Silent Child

Best Animated Short Film – Revolting Rhymes

Best Documentary Short Subject – Heaven is a Traffic Jam on the 405

The Silent Child (source: Indiewire)

Lalu dua kategori lain yang seleksinya luar biasa unpredictable, dan bikin gemes karena beberapa film favorit tidak jadi dinominasikan:

Best Foreign Language Film – A Fantastic Woman (Chile)

Best Documentary Feature – Faces Places

Revolting Rhymes (source: Daily Maverick)

Nah sekarang mari kita masuk ke dua kategori yang setiap tahun saya lupa pembedanya apa. Saking tipisnya perbedaan kedua kategori ini, saya ibaratkan seperti ketupat dan lontong:

Best Sound Editing – Dunkirk

Best Sound Mixing – Baby Driver

Heaven is a Traffic Jam on the 405 (source: Full Frame Fest)

Dan sekarang mari kita teruskan ke kategori teknis lainnya:

Best Visual Effects – War for the Planet of the Apes

Best Film Editing – I, Tonya

Best Costume Design – Phantom Thread

Best Makeup and Hairstyling – Darkest Hour

Best Production Design – Blade Runner 2049

A Fantastic Woman (source: BAM)

Best Cinematography – Blade Runner 2049 by Roger Deakins (after 14 nominations and zero win, IT’S ABOUT TIME!)

Best Original Score – Phantom Thread by Jonny Greenwood

Best Original Song – “Remember Me” from Coco

Best Animated Feature – Coco

Faces Places (source: THR)

Oke, sekarang masuk 8 kategori utama. Kategori-kategori yang membuat saya menaruh judul di atas untuk tulisan hari ini:

Best Adapted Screenplay – Call Me By Your Name by James Ivory

Best Original Screenplay – Get Out by Jordan Peele

Best Supporting Actress – Allison Janney in I, Tonya

Best Supporting Actor – Sam Rockwell in Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

Best Actress – Frances McDormand in Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

Best Actor – Gary Oldman in Darkest Hour

Best Director – Guillermo del Toro in The Shape of Water

Best Picture – La La Land, I mean, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

Oh sama ya kayak punya Agun kemarin?

Ya namanya juga tebak-tebakan yang ketebak.

Selamat menonton!

Advertisements

#RekomendasiStreaming – Manusia Selalu Punya Cerita Buat Kita

Bulan ini, sengaja tulisan soal rekomendasi tontonan di aplikasi atau situs video streaming saya tunda kemunculannya. Soalnya baru dua minggu lalu saya sadar kalau besok, tanggal 1 Desember, adalah hari libur. Makanya, tulisan soal rekomendasi tontonan lebih baik saya tunda dulu diunggahnya, supaya bisa pas ditonton saat liburan long weekend.

Kali ini ada dua film panjang dan satu serial yang saya rekomendasikan. Kesamaan dari mereka cuma satu: humanis.

Sama-sama bercerita dari sudut pandang, paling tidak, satu manusia. Sama-sama bercerita tentang kemanusiaan, or the lack of it, dari spektrum masa dan tempat yang berbeda. Sama-sama berusaha berempati, meskipun tidak selalu berhasil, terhadap manusia. Sama-sama berusaha memahami manusia, dengan caranya masing-masing.

Dua film yang saya rekomendasikan kali ini, kebetulan sama-sama dikirim negara tempat pembuatannya menjadi wakil di kategori Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards tahun depan. Kategori di ajang Oscar yang, menurut saya, selama ini memang menyimpan film-film unik yang kadang malah terasa lebih dekat dengan rasa kita, dibanding pemenang atau nominator di kategori-kategori lainnya.

Jadi, jika punya waktu untuk menonton dua film panjang akhir pekan ini, maka tontonlah …

First They Killed My Father (Netflix)

Bisa dibilang, ini adalah film terbaik karya Angelina Jolie so far. Tema perang memang selalu menjadi pilihan cerita yang disutradarainya. Namun film ini terasa berbeda dari film-film yang dibuat Angelina Jolie sebelumnya. Penggarapan secara teknis jauh lebih rapi. Pendekatan ceritanya sangat intim, membuat kita benar-benar merasakan penderitaan bocah perempuan yang bertahan hidup saat Khmer Merah mulai berkuasa di Kamboja tahun 1975. Mengarahkan anak kecil untuk berakting dengan tingkat kompleksitas emosi yang tinggi, mungkin hanya bisa dilakukan oleh sutradara yang berpengalaman. Di sini, Angelina Jolie does it brilliantly.

Newton (Amazon Video)

Mungkin banyak dari kita yang belum sadar bahwa India adalah negara demokrasi terbesar di dunia. Setiap pemilihan umum berlangsung, ada hampir 1 milyar pemilih yang suaranya harus dihitung, dengan jutaan bilik pemungutan suara yang harus dipasang. Film ini bercerita tentang seorang anggota pengawas pemilu bernama Newton, yang baru pertama kali bertugas, dan langsung ditempatkan di kawasan konflik di tengah hutan. Dengan gaya komedi satir, film ini memperlihatkan situasi India yang tidak pernah kita jumpai di film-film Bollywood lain: hutan kering tanpa air, penduduk yang acuh terhadap politisi dan partai politik, tentara yang pragmatis, susahnya mendirikan tempat pemungutan suara di tengah hutan, dan masih banyak kejadian lain yang membuat kita berpikir, “Why didn’t I think of that before?
Salah satu film paling humanis yang saya tonton tahun ini.

Sementara itu, jika punya waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Mindhunter (Netflix)

Kalau mendengar tentang pembunuhan, maka pikiran kita biasanya tidak langsung menghubungkannya dengan kemanusiaan. But then, there’s a human being present first in every murderer. Serial yang digagas sutradara visioner David Fincher ini diangkat dari buku bernama sama, yang mengulas tentang awal mula profiling pembunuh atau pelaku kejahatan di FBI yang baru diinisiasi pada pertengahan 1970-an. Maka jangan harap ada banyak adegan pembunuhan, kejar-kejaran antara polisi dan penjahat, dan tembak-tembakan. Serial ini benar-benar mengulas sisi psikologinya: apa yang mendorong seseorang untuk menjadi pelaku tindak kejahatan. Apa yang memotivasi mereka. Apa yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu. Tak heran kalau sepanjang 10 episode, kita justru disuguhi adegan wawancara dalam ruangan, investigasi, analisa dan riset yang mendalam. Herannya, semuanya justru membuat kita semakin ketagihan, dan tak berhenti menontonnya.
Humanity is a complex and mysterious thing after all. Seolah-olah demikian apa yang mau dikatakan serial ini.

Selamat berlibur, dan selamat menonton!

(Oh iya, bulan depan #rekomendasistreaming akan memuat “Best Of” tahun 2017. Ada masukan? Silakan tinggalkan di bagian komentar di bawah ya!)

Tebak-Tebak Oscar Si Buah Manggis, Eh Halo Manis …

So what’s the first Oscar in, ugh, President Trump’s time gonna be? Escapism wins!

Sebagian besar film yang dinominasikan adalah film-film yang mengajak kita lari dari dunia nyata sekarang. Seakan-akan semuanya ingin membawa kita pergi dari carut-marut suasana yang terjadi sejak dunia dipimpin orang yang tidak kompeten.

Lihat saja dari jajaran nominasi film terbaik: film musikal, film tentang usaha menerima jati diri lewat tampilan gambar yang cantik, tiga film dengan setting masa lalu (Perang Dunia II, Amerika di tahun 50-an, Amerika di tahun 60-an), komunikasi dengan alien, film tentang anak yang terpisah dari keluarga.
Dua film lain juga berkisah tentang glorifying the past: pencurian bank, dan pria yang terjebak di kehidupan masa lalu. Semuanya bernada escapism, baik itu yang ceria maupun yang suram.

So what does this tell us?

Sejarah mencatat bahwa pada jaman The Great Depression di akhir tahun 1920-an sampai awal tahun 1930-an, film-film musikal buatan dan keluaran MGM berjaya di pasaran. Tapi itu dulu, saat belum ada televisi atau media hiburan moving visual lainnya.

Sekarang? Bisa jadi sejarah terulang. Kabarnya genre musikal mulai merebak lagi, dengan rencana produksi beberapa film dalam 2-3 tahun ke depan. Sementara itu, film-film yang diangkat dari komik DC dan Marvel masih akan terus ada sampai 12 tahun ke depan.

Jackie (from theplaylist.net)

Jackie (from theplaylist.net)

Yang jelas, mau tidak mau, konten cerita akan semakin dikaitkan atau terkait dengan kondisi sosial politik dunia. Sepertinya tidak akan bisa terelakkan.

Paling tidak, dalam ajang Academy Awards dan penghargaan-penghargaan lain, acceptance speech dari peraih penghargaan akan bermuatan politis. Kalau bisa berisi protes.
Ini sudah terlihat dari Golden Globes, lalu Grammy Awards, dan ajang-ajang serupa berikutnya. Semoga para “seniman” ini tidak bosan untuk terus beropini.

Berbicara tentang opini, tentu saja prediksi ini adalah opini pribadi saya. Bagi kami yang terlalu suka mengamati film, terutama musim penghargaan film atau awards season yang selalu dimulai dari awal November sampai akhir Februari setiap tahunnya, tahun ini sepertinya less challenging. Kenapa? Karena banyak calon pemenang sepertinya sudah given, sudah written on the paper.

Tapi kata kuncinya tetap “sepertinya”.
Kami bukan members of Academy yang punya kekuasaan untuk vote the recipients.
Meskipun ikut miris juga dengan pergerakan militan dari fans salah satu film nominasi Best Picture yang ngotot calonnya menang (oh yes, awards campaign is as nasty as any political elections!), kita cuma bisa nyengir aja.

In the end, we can only hope the good ones win.

Dan inilah harapan saya:

Best PictureLa La Land

Best Director – Damien Chazelle (La La Land)

Best Lead Actor – Casey Affleck (Manchester by the Sea)

Best Lead Actress – Emma Stone (La La Land)

Best Supporting Actor – yang mengejutkan buat saya, seluruh nominator di kategori ini tidak ada yang benar-benar “nyantol” penampilannya di hati. Seperti ada yang kurang sedikit. Kalau ada sedikit yang cemerlang di atas rata-rata, justru Jeff Bridges dalam Hell or High Water. Tapi karena beliau sudah pernah mendapat Oscar, dan di musim kali ini tidak terlalu put that much effort to campaign, maka pilihan saya kembali ke yang paling obvious to win dari segi yang paling ‘ngotot’ kampanyenya: Mahershala Ali (Moonlight)

Best Supporting Actress – meskipun sebenarnya dia adalah pemeran utama, tapi baiklah, dia salah satu aktris terbaik masa kini. Viola Davis (Fences)

Best Adapted Screenplay – kategori paling berat buat saya, karena semua, SEMUA, unggulan naskahnya bekerja dengan sangat baik di masing-masing film. But in the end, only one can win. Barry Jenkins (Moonlight)

Best Original Screenplay – Kenneth Lonergan (Manchester by the Sea)

Best Editing – Joe Walker (Arrival)

Arrival (from orangemagazine.ph)

Arrival (from orangemagazine.ph)

Best Cinematography – Greig Fraser (Lion)

Best Costume Design – Madeline Fontaine (Jackie)

Best Production DesignLa La Land

Best Make Up and Hair StylingStar Trek Beyond

Best Visual EffectsThe Jungle Book

Best Original Score – Justin Hurwitz (La La Land)

Best Original Song – “City of Stars” (La La Land)

Best Sound EditingHacksaw Ridge

Best Sound MixingLa La Land

Best Foreign Language Film – kalau memang film yang saya jagokan ini menang, saya akan sangat bahagia. Bukan karena alasan politis. Tapi saat menonton, saya sampai ketakutan, karena tidak menyangka cerita filmnya akan sedemikian powerful, dengan gaya penceritaan bak film thriller. Film-film sebelumnya termasuk film terbaik yang pernah dibuat di abad ini. Saya pikir dia tidak mungkin mengulangi kesuksesannya. Namun dia membuktikan bahwa dia adalah salah satu master storytellers jenius yang pernah ada. Dia adalah Asghar Farhadi, dan filmnya adalah The Salesman (Iran).

The Salesman (from awardscircuit.com)

The Salesman (from awardscircuit.com)

Best Documentary Feature13th

Best Animated FeatureZootopia

Nah, kalau mau ikut taruhan Oscar, sebenarnya kuncinya ada di tiga kategori film pendek. Kenapa? Karena paling susah ditebak, soalnya jarang yang nonton! Jadi pertaruhan terbesar kita ada di tiga kategori berikut:

Best Live Action ShortThe Lady on the Train (La femme et le TGV)

Best Animated ShortPiper

Best Documentary Short – nah, kebetulan saya sudah menonton nominasi di kategori ini. Jadi, semoga Academy voters setuju juga dengan pilihan saya atas film yang paling susah dibuatnya, dari segi logistik dan keamanan, sekaligus yang paling punya the most magical moment of humankind yang terekam dengan baik di film: The White Helmets.

Selamat menebak, tapi yang paling penting, selamat menonton!

A good film a day keeps your heart intact.

[Revisi hari Minggu, 26 Februari 2017 – perubahan prediksi Best Original Screenplay dan Best Live Action Short]

Ramalan Oscar Egois

Another year, another Oscar. Karena sudah seperti tradisi tahunan, entah mengapa kok sepertinya kurang sreg kalau saya tidak menulis soal prediksi pemenang Oscar, terutama pada kategori-kategori utama. Seperti juga yang pernah saya lakukan, saya memberikan pilihan yang paling obvious sebagai pemenang, kemudian yang bisa menang (jika para dewan juri merasa lebih adventurous) dan yang saya merasa harusnya menang dalam penilaian (peringatan: sangat subjektif).

Tahun ini terasa sedikit istimewa, hanya karena Mad Max: Fury Road dinominasikan tidak hanya pada kategori teknis, tetapi juga kategori utama seperti The Best Picture, Directing dan delapan nominasi lainnya. Kenapa istimewa? Untuk film dengan genre action/ adventure/ scifi memang seperti anak tiri untuk masuk nominasi Oscar, terutama film-film scifi. Cukup sering terlihat semenjak nominasi The Best Picture menjadi 10 film; lalu District 9, Avatar, dan Inception masuk dalam daftar. Kebetulan saya suka sekali dengan film ini dan berharap George Miller dan tim akan membawa banyak piala.

Kategori: The Best Picture
Kemungkinan besar menang: Revenant
Bisa menang: Spotlight
Yang saya jagokan: Mad Max: Fury Road

guitarguy

Doof Warrior: the coolest character

Seperti tahun tahun lalu, genre di daftar ini dipenuhi dengan drama. Biopik tidak banjir seperti tahun lalu, tetapi film adaptasi novel malah yang lebih banyak. Pilihan aman memang Revenant, tetapi masa sih, juri membiarkan Iňárritu kembali naik ke panggung dan pidato latino rules lagi? (Maaf bukan rasis, hanya bukan fan si Mas Alejandro). Alangkah menyegarkannya kalau sebuah film fiksi ilmiah dan distopia yang hebat bisa menang. Ya nggak, sih?

Kategori: Actor in a Leading Role
Kemungkinan besar menang: Leonardo DiCaprio, Revenant
Bisa menang: Bryan Cranston, Trumbo
Yang saya jagokan: Michael Keaton, Spotlight

2015-07-30-09_46_02-spotlight-trailer-1-2015-mark-ruffalo-michael-keaton-movie-hd-youtube

Michael Keaton di Spotlight

Maaf kalau yang saya jagokan dinominasikan saja tidak. Menurut saya Keaton got snubbed, big time. Tetapi kalau Leo yang dimenangkan, rela juga sih. Memang sudah waktunya. Dan kalau para juri mau jahat dan tetapi tidak memenangkan Leo, menurut saya akting kuat berikutnya adalah Bryan Cranston. Saya menikmati sekali peran dia di Trumbo.

Kategori: Actress in a Leading Role

Kemungkinan besar menang: Cate Blanchett, Carol
Bisa menang: Brie Larson, Room
Yang saya jagokan: Brie Larson, Room

room

Brie Larson di Room

Sebelumnya terkenal dari film-film teen dan independent, sungguh menyenangkan melihat Brie Larson menunjukkan begitu banyak dimensi di Room. Juga, nanti rak Cate Blanchett jangan-jangan sudah penuh dengan dua Oscar yang dimenangkan sebelumnya.

Kategori: Actor in a Supporting Role
Kemungkinan besar menang: Sylvester Stallone, Creed
Bisa menang: Mark Ruffalo, Spotlight
Yang saya jagokan: Tom Hardy, Revenant

tom_hardy_91447

Tom Hardy di Revenant. Atau John Fitzgerald?

Tom Hardy begitu mencuri perhatian di Revenant, bisa jadi dia adalah alasan (kalau) Leo tidak menang. Mungkin dia memang bukan aktor yang sangat simpatik (kabarnya), tetapi seperti satu lagi aktor yang memiliki reputasi sama, Russel Crowe, dia bisa menghilang di satu peran, sehingga saya lupa, where Hardy ends and Fitzgerald begins. But my suspicion is, out of R.E.S.P.E.C.T and fellow white old man empathy, the jury will pick Sylvester Stallone. Yang sebenarnya sama sekali bukan pilihan yang buruk juga.

Kategori: Actress in a Supporting Role
Kemungkinan besar menang: Kate Winslet, Steve Jobs
Bisa menang: Jennifer Jason Leigh, The Hateful Eight
Yang saya jagokan: ermmm siapa ya?

article20lead20-20wide1002418115gktaz8image-related-articleleadwide-729x410-gktarn-png1446905993042-620x349

I want to be Daisy Domergue if it means I could stand between Kurt Russel and Tim Roth!

Terus terang saya tidak punya rasa keterikatan yang lebih besar terhadap salah satu maupun dua dari yang dinominasikan di kategori ini. Semua orang seperti terkagum-kagum oleh Jennifer Jason Leigh, tetapi menurut saya, sulit untuk tidak menjadi gila dalam memerankan seorang Daisy Domergue di sebuah film yang disutradarai oleh Quentin Tarantino. Siapapun aktris yang dipasang di situ akan berbuat kurang lebih sama. Karena karakternya memang sudah pada posisi yang dramatis. Sama seperti pikiran saya terhadap karakter Lupita Nyong’o di 12 Years A Slave. You can’t downplay a female slave being tortured relentlessly unless you’re a really really bad actor. Kate Winslet, on the other hand, menurut saya yang membawa Steve Jobs menjadi film yang (agak) istimewa.

Kategori: Directing
Kemungkinan besar menang: Revenant
Bisa menang: Mad Max: Fury Road
Yang saya jagokan: MAD MAX: FURY ROAD TENTU SAJA

madmax

There’s always room for another Hardy in my post <3

Kalau saya tidak salah tengarai, kategori ini biasanya dimenangkan oleh film yang banyak memberi tantangan kepada sutradaranya dalam hal mengarahkan. Jika Anda sudah menonton Revenant dan Mad Max, tentu bisa membayangkan betapa stresnya menyutradarai kedua film ini. Tetapi, seperti Birdman, saya sering curiga kalau stres yang dialami Iňárritu kebanyakan adalah self-inflicted karena dia begitu sok keren. “Gue mau bikin film yang seolah tak ada cut ah, satu continuous shot gitu” maka jadilah Birdman. “Gue mau bikin film yang hanya pakai natural light ah, nggak ada deh lampu lampu nggak alami gitu” maka jadilah Revenant. Jadi, semoga para juri ngeh betapa tidak kerennya sok keren itu dan memberikan piala ke George Miller. Karena tantangan yang lebih besar dari menyutradarai Mad Max: Fury Road adalah harus membuat Happy Feet dan Happy Feet 2 sebelumnya! Just kidding. Feel free to disagree with me on the comment below. Have a great Friday!

If It Bleeds, It Leads. (The Oscar Prediction)

Berdasarkan Kisah Nyata (Trilogi Oscar Jilid Dua)

Film biografi atau biasa disebut biopic yang merupakan kependekan dari biographical motion picture adalah film yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Biasanya diambil dari kisah seleb atau tokoh yang terkenal. Atau bisa juga dari orang yang biasa saja tapi mempunyai cerita yang menakjubkan. Di tahun 2014-2015 ini atau setidaknya pada award season ini disengaja atau tidak ternyata banyak sekali biopik yang dibuat, dan semuanya berkualitas bagus. Berikut film-filmnya tidak menurut abjad:

Chris Kyle

The most lethal sniper in U.S. military history. Ini adalah julukan dari Chris Kyle. Konon dia sudah menembak kurang lebih 160 orang (tidak ada data yang akurat). Clint Eastwood sebagai sutradara film ini dengan judul American Sniper dengan Bradley Cooper berperan sebagai Chris Kyle. Film yang mengundang kontroversi di Amerika karena dianggap sebagai film yang pro-perang dan menuai polemik apakah Chris Kyle itu pahlawan atau penjahat perang. Tapi yang jelas film ini adalah film perang terlaris sepanjang sejarah Hollywood. Enam nominasi Oscar sudah didapat. Bradley Cooper meraih nominasi Oscar ketiganya di tiga ajang Oscar terakhir. Sebelumnya di film American Hustle dan Silver Lining Playbook dia pun mendapat nominasi. Tapi tetap dia tidak akan naik ke podium dan meraih Oscar tahun ini. Saingannya berat.

James Brown

Film Get On Up yang diproduseri oleh Mick Jagger dari The Rolling Stones ini sebetulnya bagus. Setidaknya akting Chadwick Boseman sebagai James Brown layak mendapatkan nominasi di kategori Aktor Terbaik. Mengingatkan pada Jamie Foxx yang berperan sebagai Ray Charles di film Ray. Mungkin kurang di promosi dan marketing sehingga film ini tidak mendapatkan lirikan dari berbagai ajang penghargaan.

Alan Turing

Satu dari dua lulusan Cambridge yang difilmkan tahun ini. Ilmuwan serba bisa dari Inggris ini pengaruhnya sangat terasa sampai hari ini. Beliau adalah dianggap sebagai pionir dalam menciptakan konsep pemrograman komputer di era Perang Dunia II. Mesin Turing adalah cikal bakal komputer yang kita pakai hari ini. Benedict Cumberbatch sebagai Alan Turing pun bermain apik sehingga dia mendapatkan nominasi pertamanya di ajang Oscar ini di kategori Aktor Terbaik. The Imitation Game sudah tayang di bioskop di Indonesia. Ayo kalo mau liat akting komputer segede alaihim gambreng dan meweknya Benadryl Camouflage inilah saatnya nonton ke bioskop.

Martin Luther King, Jr.

Silakan klik di Trilogi Oscar Jilid Pertama

Stephen Hawking

Eddie Redmayne is the man. Satu-satunya pengganjal Michael Keaton mendapatkan Oscar di kategori Aktor Terbaik tahun ini adalah dia. Eddie memainkan peran sebagai Stephen Hawking yang juga sekolah di Cambridge ini dengan baik sekali. Kalo sudah menonton film My Left Foot yang dibintangi Daniel Day-Lewis atau Russell Crowe yang bermain sebagai John Nash di film A Beautiful Mind, Eddie sudah berada di level mereka. Filmnya pun layak tonton. James Marsh sebagai sutradara film dari The Theory of Everything ini selain menceritakan bagaimana Stephen Hawking muda yang jenius sebagai cosmologist tetapi juga sengaja banyak menyisipkan kisah cinta dari Stephen Hawking yang janggal. Half science, half love stories.

Margaret Keane

Film Tim Burton yang kesekian tanpa kehadiran Johnny Depp dan Helena Bonham Carter. Big Eyes menceritakan awal kehidupan seorang pelukis wanita bernama Margaret Keane yang diperankan oleh Amy Adams hingga dia bertemu dengan suaminya Walter Keane yang diperankan oleh Christoph Waltz. Film yang bergenre comedy drama ini sudah menghasilkan Amy Adams satu Golden Globe, dan beberapa nominasi lainnya di ajang penghargaan film. Tapi tidak di Oscar. Tim Burton tidak butuh Oscar.

du Pont

John Eleuthère du Pont merupakan keturunan dari keluarga kaya raya Dinasti du Pont. Keturunan Perancis yang bermigrasi ke Amerika Serikat. John pun pengusaha yang bergerak di berbagai bidang. Dia adalah penggemar olah raga. Terutama gulat. Saking antusiasnya dia membuat sasana gulat untuk mereka yang membutuhkan. Sasana tersebut bernama Foxcatcher, sama dengan nama judul film ini. Steve Carrell, sebagai John du Pont di film ini mendapatkan dua adik kakak pegulat profesional bernama Mark Scultz (Channing Tatum) dan Dave Schultz (Mark Rufallo), juara gulat di Olimpiade 1984 untuk dilatih menuju turnamen gulat kelas dunia berikutnya. Film ini menghasilkan nominasi Oscar untuk Mark Rufallo sebagai Aktor Pendukung Terbaik dan Steve Carrell di Aktor Terbaik, dan Sutradara Terbaik untuk Bennett Miller. Oya film ini juga akan tayang di bioskop akhir bulan ini.

Selamat menonton.

 

nb: teaser jilid tiga: boyhood as a nightcrawler in budapest and a birdman in a whiplash. 

Dibuang Sayang Dan Yang Terlupakan (Trilogi Oscar Jilid Pertama)

Amerika Dan Laki-Laki Berkulit Putih.

Mungkin penghargaan Oscar tahun 2015 paling tidak disukai oleh mereka yang menjuluki dirinya sebagai modern feminis dan pejuang anti seksisme. Kemarahan membuncah di internet khususnya di media sosial ketika seluruh nominasi Oscar ini diumumkan. Lihat gambar di bawah. Adakah yang berkulit hitam? Klik di sini untuk melihat semua nominasi Oscar ke-87 yang akan digelar pada tanggal 22 Februari 2015 di Dolby Theatre, Los Angeles, California. Penghuni Oscar adalah 94% berkulit putih dan 77% adalah laki-laki. Dengan rata-rata usia di 60an. 2% berkulit hitam. Latin lebih sedikit lagi persentasenya.

oscar87

Bagaimana mungkin Oscar mengabaikan begitu saja film LEGO yang begitu bagus dari segi cerita, pengisi suara ataupun segi lainnya. Film yang sukses secara komersial ini juga sudah mendapatkan banyak nominasi dan penghargaan di hampir semua ajang penghargaan film. Kecuali Oscar. Kenapa? Apa karena pembuatnya bukan Pixar? Atau karena secara tidak langsung sudah mempromosikan produk LEGO yang notabene bukan dari Amerika Serikat? Mungkin itu penyebabnya. Di Golden Globes pun film LEGO kalah oleh How To Train Your Dragon 2. Dilaporkan produk LEGO laku keras setelah penayangan film ini di bioskop. Beberapa outlet Lego di berbagai negara kehabisan stok. Migawd.

oscar87-1

Gone Girl dan Unbroken adalah dua film yang lahir dari rahim dua ibu yang ditelantarkan oleh Oscar tahun ini. Gone Girl yang diadaptasi dari buku Gillian Flynn (seorang ibu), dengan judul sama hanya menyisakan satu nominasi aktris terbaik, Rosamund Pike. Tidak yakin juga dia akan menang di sana. Ada dua wanita bernama Julianne Moore dan Marion Cotillard yang siap menghadang. Sedangkan Unbroken adalah film mengenai perempuan yang disutradarai oleh perempuan. Sutradara film tersebut adalah istri dari Brad Pitt. Tidak ada nominasi buat Ava maupun Jolie.

Black Live Matters?

Selma adalah nama kota bersejarah di Alabama yang menghasilkan Voting Rights Acts of 1965 yang ditandatangani oleh Presiden Lyndon B. Johnson. Undang-undang itu lahir melalui jalan yang panjang dan berdarah. Puncaknya ketika 600an orang yang sedang berunjuk rasa dengan berjalan kaki dari Selma ke Montgomery diserang oleh polisi. Unjuk rasa tanpa kekerasan ini dipimpin oleh King, Bevel, SCLS. Malcolm X juga ada di sana. Banyak korban berjatuhan sehingga kejadian ini dijuluki Bloody Sunday. Yak betul. Kejadian ini menginspirasi U2 membuat lagu Sunday Bloody Sunday. Sutradara Selma adalah seorang perempuan berkulit hitam bernama Ava DuVernay. Produsernya pun seorang perempuan berkulit hitam bernama Oprah Winfrey. Film Selma hanya mendapatkan dua nominasi. Film Terbaik dan Lagu Terbaik. David Oloyewo sebagai King tidak mendapat restu dari Oscar di kategori Aktor Terbaik.

oscar87-5

Oya. Happy Martin Luther King, Jr. Day!




teaser bagian 2: Alan Turing, Stephen Hawking, James Brown, Margaret Keane, du Pont, Martin Luther King Jr. dan Chris Kyle.