Inilah 17 Film Indonesia Favorit Selama 17 Tahun Terakhir (2001 – 2017) Yang Nyaris Jadi #RekomendasiStreaming

Apakah anda mengernyitkan kening membaca kata “nyaris” di judul di atas? Jangan khawatir. Anda tidak sendiri. Kata “nyaris” di atas terpaksa saya gunakan dalam judul, karena tidak ada pilihan.

Kok bisa begitu?

Awalnya saya berniat menulis film-film Indonesia pilihan saya yang ada di aplikasi video streaming. Kalau tahun lalu saya sudah menulis tentang 17 film pendek Indonesia pilihan, maka tahun ini saya ingin menulis tentang 17 film cerita fiksi panjang Indonesia yang ada di OTT platform. Hitung-hitung sebagai #rekomendasistreaming untuk teman-teman menonton di libur panjang akhir pekan 17-an ini.

Tapi setelah melihat koleksi film Indonesia yang ada di beberapa aplikasi legal, saya mengernyitkan kening.

Ternyata cukup banyak film Indonesia, film panjang yang telah dirilis di bioskop sebelumnya, yang tidak tersedia di aplikasi-aplikasi tersebut.
Mungkin ada beberapa pertimbangan dari pemilik film untuk tidak atau belum membuat film-film mereka available di sana. Mungkin juga kontrak sudah berakhir. Mungkin juga masih disimpan untuk aplikasi yang baru nantinya. Entahlah.

Akhirnya saya berganti tujuan penulisan kali ini, dan merasa untuk lebih baik jujur ke diri sendiri: menulis tentang 17 film Indonesia yang paling saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tujuh belas tahun pertama di abad ke-21. Sengaja memang tidak mengikutsertakan film-film yang dirilis tahun 2018, karena tahun 2018 belum selesai.

Dan ini murni pilihan saya pribadi, tidak mewakili teman-teman lain di Linimasa. Pilihan yang semoga terasa jujur, sejujur saya mengakui bahwa daftar ini jauh dari sempurna (hey, what is perfect, after all?).

Ini juga termasuk jujur mengatakan, bahwa sampai sekarang susah buat saya mengakui bahwa horor adalah genre film favorit saya. Saya bisa mengapresiasi film horor yang baik, tapi ketika mengapresiasi film horor, terpaksa saya redam rasa takut saya, dan sepanjang menonton film-film horor tersebut, saya malah sibuk berpikir menganalisa aspek pembuatan film dalam film-film itu. Dengan kata lain, nontonnya pakai mikir, sehingga lupa merasakan. Tapi tak urung saya mengapresiasi film horor Indonesia yang dibuat dengan baik, seperti Pocong 2 (2006), Hantu (2007), dan Pengabdi Setan (2017).

Film-film yang saya sukai, berarti sudah ditonton lebih dari sekali. Dan kata “suka” di sini memang sangat subyektif, karena melibatkan emosi, hati dan perasaan saat menonton dan seusai menonton. Film-film ini, lagi-lagi menurut saya, are timeless. They stand against the time, dan masih meninggalkan kesan yang sama, beberapa malah lebih, saat kita tonton ulang.

Kalau mereka tersedia di aplikasi video streaming, maka saya akan informasikan nama aplikasinya. Kalau belum tersedia, maka saya berharap supaya film-film ini bisa segera tersedia buat kita tonton lagi.

Masih banyak judul lain yang belum disebutkan di sini. Di catatan saya ada sekitar 71 judul film Indonesia yang saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tapi dalam suasana kemerdekaan RI, let’s stick to our independence date.

Inilah film-film tersebut (all images are from filmindonesia.or.id):

• Di urutan nomer 17 ada film The Photograph (2007) karya Nan Achnas. A very powerful and intimate film tentang kesepian dan kesendirian seorang fotografer tua yang akan membuat hati kita trenyuh. Sejauh ini, penampilan terbaik Shanty ada di film ini. (available in iflix)

poster_photograph

No pun intended, but there’s earnestness in Ernest Prakasa’s Cek Toko Sebelah (2016) yang mau tidak mau membuat kita tersenyum sepanjang film ini. A good hearted comedy is hard to find in our cinema, and this is a rarity. Inilah pilihan saya di nomer 16. (available in HOOQ)

cektokosebelah-poster

• Saya suka film-film dengan set-up cerita dan kejadian dalam satu kurun waktu dan tempat. Banyak yang bisa diungkap dari cerita yang hanya terpusat pada singular time and place. Ini juga menunjukkan kedisiplinan tinggi dalam pembuatan filmnya. Pilihan saya di nomer 15, Lovely Man (2012) menunjukkan hal ini. Ditambah dengan penampilan gemilang Donny Damara dan Raihanuun, siapa yang tidak terharu melihat perjalanan emosi mereka? (not available anywhere yet)

Poster_Lovely_Man

• Sederhana, bersahaja dan jujur. Slogan politik? Bukan. Tapi tiga kata itu yang bermain di benak saya saat menonton film panjang perdana karya Eugene Panji, Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012), di nomer 14. Ditambah pula film anak-anak ini benar-benar bercerita dari sudut pandang anak-anak, sesuatu yang masih jarang berhasil dibukukan di perfilman kita. It’s an underrated gem. (not available anywhere yet)

cita-citaku-setinggi-tanah_poster_lf-c023-12-476991_img_photo

• Sebagai generasi yang masa remajanya dihabiskan tanpa ada film Indonesia yang layak tonton di bioskop, saya senang melihat adik-adik kelas saya menyerbu bioskop saat Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dirilis. Tren sesaat? Tidak juga. Saat ditonton lebih dari satu dekade berikutnya, film AADC? masih membuat kita tersenyum. A proof that a good film lasts. Lucky number 13. (available in iTunes)

poster_AdaApaDgnCinta

• Di nomer 12 ada film badminton King (2009) yang akan terus saya ingat sebagai film yang menunjukkan bahwa almarhum Mamiek Prakoso adalah aktor hebat. Lebih dari sebagai komedian ternama, di film ini Mamiek bermain prima sebagai ayah seorang calon atlet yang perasaannya terbagi antara mendukung anaknya menjadi atlet, atau mengingatkan tentang realita hidup. Such an understated performance worth being studied. (not available anywhere yet)

poster_king

Whatever happens to us now? Kita pernah membuat film cerdas yang menggelitik seperti Arisan! (2003), pilihan nomer 11 saya, yang rasanya tidak mungkin akan dibuat di era sekarang. Let this film be a reminder then, that open minded-ness and acceptance shall prevail. (not available anywhere yet)

poster_arisan

• Betapa beruntungnya judul film di nomer 10, Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010). Mau dibuat kapan pun, judul filmnya masih applicable. Ditambah lagi dengan cerita komedi satir yang sedikit mengingatkan kita dengan cerita-cerita Charles Dickens, film ini layak saya sebut sebagai salah satu film black comedy paling sukes yang pernah dibuat dalam dua dekade terakhir. Duet sutradara dan penulis Deddy Mizwar dan Musfar Yasin yang jauh lebih baik dibanding Nagabonar Jadi 2. (not available anywhere yet)

poster_alangkah_lucu

• Tidak sekedar menghadirkan a kick-ass revenge film, namun Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) juga menghadirkan cross-genre yang relatif baru di film Indonesia, yaitu western noir. Relatif baru, karena western sebelumnya hadir lewat komedi parodi film-film Bing Slamet dan Benyamin S. di tahun 70-an. Film pilihan saya di nomer 9 ini adalah film karya Mouly Surya dengan a fearless performance oleh Marsha Timothy yang akan menjadi catatan tersendiri tidak hanya di perfilman Indonesia, tapi juga dunia. (available in HOOQ)

marlina-sipembunuhdlm4babak-poster

• Di nomer 8 ada Berbagi Suami (2006), film tentang female empowerment yang menurut saya susah dipercaya bisa berhasil. But it did, and we’re all the better of it. Film yang menempatkan semua karakter utamanya dengan empati, sehingga kita yang menontonnya pun bisa terbawa dengan jalinan emosi yang dibangun. Film yang sangat menggugah. (not available anywhere yet)

poster_berbagisuami

• Ah, Love (2008). Saya sempat terperanjat saat menyadari bahwa sudah lebih dari satu dekade, kita belum membuat lagi film antologi tentang cinta yang berhasil seperti Love. Pilihan saya di nomer 7, film Love tidak sekedar adaptasi (it is) atau reka ulang dari film-film serupa, tapi film ini seperti dibuat dengan hati, yang mau tidak mau membuat kita masih merasakan kehangatannya saat menontonnya lagi, dan lagi. (available in iflix)

poster_LOVE

• Sebagai pecinta film, menonton Janji Joni (2005) mau tidak mau membuat kita tersenyum. Seolah-olah film ini memberikan validasi atas kecintaan kita terhadap film dan bioskop. Meskipun jalan ceritanya bukan tentang itu, dan dengan jalan penceritaan yang belum sempurna, menonton film pilihan saya di nomer 6 ini seperti mengafirmasi bahwa “hey, it’s okay to spend your life liking films and stuff’. Saya ingat betul, menonton film ini pertama kali dan kedua kali menimbulkan efek “wow! That was cool!” Terima kasih sudah membuat film ini, Joko Anwar. Film ini masih menjadi karya Joko Anwar yang paling saya suka. (not available anywhere yet)

poster_janjijoni1

• Sampai di sini, anda pasti sudah bisa menebak kalau saya sangat menyukai film romansa. Benar: I’m a sucker for good romance. Dan film Ruang (2006), film nomer 5 di daftar ini, adalah film yang saya sebut sebagai salah satu film romansa terbaik yang pernah ada di sinema kita. It never wastes any minute to go straight to drama and romance, membuat sebagian besar adegan di film ini indah dan dapat diikuti dengan baik. Film yang menghadirkan rasa “klangenan” di hati. (not available anywhere yet)

poster_ruang

• Dan inilah film yang seusai menonton pertama kali di bioskop membuat saya terperangah, “What was that I just watched?!” Begitu menontonnya lagi, saya masih terkesima. Posesif (2017), film nomer 4, adalah film yang simply knocked it out of the park. Dan saya percaya bahwa the less you know in advance about the film, the better. What a powerful film that leaves you stunned. (available in iflix)

posesif-poster2

• Apa yang anda ingat saat pertama kali menonton The Raid (2011), film nomer 3, di bioskop? Kalau anda menontonnya di penutupan INAFFF 2011 bersama saya, tentunya anda masih ingat riuh rendah penonton bertepuk tangan dan berteriak. It’s brutal, violent and it spares no nonsense. Film yang harus kita akui telah menempatkan nama Indonesia di peta perfilman dunia, in a very awesome way. (not available anywhere yet)

TheRaid-Poster

• Tidak hanya sepanjang 17 tahun terakhir, namun film Sang Penari (2011), film nomer 2 di daftar ini, adalah salah satu film terbaik Indonesia yang pernah dibuat. Period. Tidak setiap tahun film Indonesia dengan craftsmanship tingkat tinggi seperti ini bisa hadir. Dan adegan terakhir film ini, seperti sudah pernah saya bahas sebelumnya, adalah salah satu final scene paling indah yang pernah dibuat. (available in iflix)

poster-sangpenari

• Dan inilah film Indonesia yang paling saya sukai selama ini. Eliana, Eliana (2003), karya Riri Riza. Lima belas tahun sejak film ini dirilis, dan ternyata kisah perjalanan satu malam ibu dan anak perempuannya menyusuri Jakarta masih menggetarkan hati. Setiap bagian film bertutur dengan efektif. Setiap ekspresi dari raut muka Jajang C. Noer dan Rachel Maryam menyiratkan emosi yang tidak harus diucapkan dengan kata-kata, namun kita bisa merasakan secara mendalam. Watching this film is such a rewarding experience one may struggle with words to express it. A beautiful film. (available in iflix)

poster_eliana

Apa film Indonesia favorit anda selama ini?

Advertisements

#RekomendasiStreaming – 17 Film Pendek Indonesia Untuk Tontonan 17-an

Ini murni kebetulan.
Hari Kamis minggu ketiga, jadwal tetap saya untuk menulis #rekomendasistreaming, untuk bulan Agustus ini bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Tadinya, tulisan ini mau sedikit ‘ambisius’. Ambisinya adalah mengumpulkan 17 film pendek Indonesia terpilih dari 17 tahun terakhir, yaitu tahun 2000 sampai 2017. Pas ‘kan ya? Sudah 17 tahun lho, kita menjalani milenium baru.

Tapi nyatanya, banyak sekali film pendek Indonesia (yang mau saya masukkan ke daftar ini) yang tidak tersedia untuk ditonton di video streaming platform yang ada. Sangat banyak malah.
Mungkin atas pertimbangan para pemiliknya, beberapa film pendek tersebut memang tidak diunggah ke public platform karena terikat perjanjian kerjasama dengan beberapa pihak pendistribusian film. Hal ini lumrah terjadi.
Selain itu, film-film pendek Indonesia yang dibuat sebelum ada Youtube, berarti produksi sebelum tahun 2004, sangat jarang ditemukan.

Film “Penderes dan Pengidep”

Alhasil, karena saya ingin mengajak kita semua menontonnya bersama-sama, maka daftar 17 film pilihan ini akhirnya mengerucut pada film-film pendek yang memang tersedia di platform video streaming yang mudah diakses di mana saja. Lewat perangkat apa saja. Namanya juga #rekomendasistreaming 🙂

Pilihannya acak. Tidak ada yang terbaik, tidak ada yang terburuk. Semuanya murni pilihan saya sebagai fellow audience, yang membuat saya belajar banyak dari film-film ini. Yang bisa mengangkat sisi Indonesia yang berbeda, beragam, dan berani.
Dan yang pasti, film-filmnya stand against the test of time, atau masih layak ditonton kapan saja. Tidak pudar oleh waktu.

Pilihan yang tidak mudah, mengingat ada ribuan, bahkan bisa jadi puluhan ribu, film pendek Indonesia yang sudah dibuat sampai sekarang.

Film “Vampire”

Dan kenapa film pendek? Seperti yang pernah dikatakan oleh Adrian J. Pasaribu, kritikus film Indonesia: “Wajah Indonesia sesungguhnya ada di film pendek”. Kutipan yang juga pernah saya tulis ulang di situs ini. Kutipan yang saya amini immediately, karena format film pendek memungkinkan siapa pun bisa membuatnya tanpa terbebani rating, jumlah penonton bioskop, atau pertimbangan komersial lainnya. Yang penting, ceritanya dituturkan dengan baik dalam waktu singkat, dan bisa mengena.

Maka berikut ini kita bisa saksikan 17 Film Pendek Indonesia Pilihan Untuk 17-an:

Harap Tenang Ada Ujian (2006)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Film yang secara tidak langsung menegangkan, tapi secara langsung juga menyentuh. Selalu ada sisi humanis di setiap kejadian bencana alam yang luput dari pemberitaan. Film ini mengangkat bagian tak terungkap itu dengan manis, dan tak terduga.

Sandekala (2015)
Sutradara: Amriy Ramadhan

Indonesia kaya akan cerita urban legend yang seolah tak ada habisnya. Termasuk mitos pulang saat Maghrib. Dan cerita seperti ini mendapat treatment yang pas di film pendek: tanpa ba-bi-bu, langsung ke bagian mengejutkan. Hasilnya? A very effective horror.

Irama Hari (2008)
Sutradara: Steve Pillar Setiabudi

Film ini menangkap apa yang luput dari keseharian kita: suara orang-orang menawarkan jualan makanan yang lalu lalang sepanjang hari. Tanpa kita sadari, suara-suara itu membentuk sebuah ensemble yang harmonis.

Cinta (2008)
Sutradara: Steven Facius Winata

Satu lagi kisah klasik khas Indonesia yang tidak pernah ada habisnya: percintaan antar dua manusia yang berbeda suku, kelas, keyakinan dan kepercayaan. Kisah yang sudah dituangkan jutaan kali dalam berbagai karya seni di Indonesia, dan salah satu dari sedikit yang bertutur dengan baik, adalah film pendek ini.

Cheng Cheng Po (2007)
Sutradara: BW Purbanegara

Bisa dibilang BW Purbanegara adalah satu dari sedikit sekali sutradara film Indonesia yang humanis. He understands human beings, and he makes human human in his films. Bahasa Jawa-nya “nguwongke wong”. Ini terlihat dari karya-karyanya, yang selalu bicara tentang manusia dalam level yang terlihat simpel di permukaan, namun terasa mengena di hati. Film Cheng Cheng Po ini merupakan awal dari filmography-nya yang beragam, dan lebih polished di bidang produksi. Namun film ini masih terasa relevan untuk kita lihat sampai sekarang.

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)
Sutradara: Edwin

Edwin is one of a kind. Seorang pembuat film yang karya-karyanya tidak cukup mengundang satu interpretasi yang “ajeg”. Bahkan ketika ditonton lagi pun, interpretasi kita sendiri pun bisa berbeda jauh dari apa yang kita lihat pertama kali. Seperti film Kara Anak Sebatang Pohon ini. Sebagai film pendek Indonesia pertama yang lolos seleksi Cannes Film Festival di kategori Director’s Fortnight, tentu saja film ini sempat ramai dibicarakan. Namun yang lebih penting, film ini menandai kehadiran seorang Edwin yang selalu memberi nafas segar di antara monotonnya cerita dan gaya penceritaan film Indonesia.

CONGQ (2016)- Episode 7
Sutradara: Lucky Kuswandi

CONGQ adalah sebuah web-series yang sempat populer, dan memang pantas untuk banyak mendapat perhatian. Gaya penceritaan yang ringan namun mengena, permainan para aktor yang sangat relaxed but very game on, membuat kita tersenyum setiap selesai menonton satu episode. Tapi kalau saya boleh memilih the unexpected highlight serial ini ada di episode 7. Kenapa? Tonton saja.

https://www.viddsee.com/player/a67uv

Lawuh Boled (2013)
Sutradara: Misyatun

Sudah 15 tahun terakhir, kota Purbalingga secara konsisten menelurkan film-film pendek berkualitas. Ceritanya selalu berkisar seputar kehidupan sehari-hari di kota itu, orang-orangnya, dan seolah tidak mempedulikan dunia yang lebih besar. Namun dari pengamatan mikro itulah film-film dari kota Purbalingga ini justru terasa nilai universalnya, yang membuat kita semua akhirnya bisa relate to them. Seperti film ini. Lihat saja permainan ciamik ensemble-nya yang hampir semuanya bukan aktor. Detil-detil kecil yang membuat film ini terasa nyata. Masih banyak lagi film-film Purbalingga yang menawan. But this one is pretty special.

Friend (2014)
Sutradara: Yandy Laurens

Baik di film panjang maupun sinetron, sudah sangat jarang kita melihat senior citizens atau lansia menjadi subyek cerita. Biasanya mereka menjadi latar belakang cerita dengan fokus penceritaan di karakter-karakter yang jauh lebih muda. Namun beberapa film pendek Indonesia terakhir menempatkan orang tua sebagai subyek cerita yang manis. Gula-Gula Usia, Wan-An (yang masih menjadi karya terbaik Yandy Laurens), dan film ini. Bercerita tentang kesendirian di usia lanjut, sesuatu yang rasanya menakutkan untuk dibayangkan, berat untuk dijalani, tapi ternyata menyenangkan untuk dibagi. Malah bisa jadi lucu dan kocak untuk dinikmati. It’s the kind of film that lingers on.

https://www.viddsee.com/player/2k3ba

Lewat Sepertiga Malam (2014)
Sutradara: Orizon Astonia

Tema cerita dan style pembuatan film ini seperti menjadi ciri khas Orizon Astonia, dan membuat filmography-nya menjadi menonjol di antara rekan sebayanya. Ada yang kaget, ada yang menganggap tabu, ada yang lega karena akhirnya ada yang menceritakan ke bentuk visual. Menurut Anda? Silakan tonton dulu.

https://www.viddsee.com/player/trkry

Payung Merah (2010)
Sutradara: Andri Cung, Edward Gunawan

Awal dekade ini dimulai dengan cukup banyaknya stylish horror di film pendek Indonesia. Salah satu yang paling berkesan adalah film ini. Tentu saja akting dari pemain profesional sangat membantu kita sebagai penonton dengan cepat masuk ke dalam cerita yang singkat, dan padat. It is stylish, it is short, and it is well told.

Penderes dan Pengidep (2014)
Sutradara: Achmad Ulfi

Satu lagi dari Purbalingga. Film dokumenter yang menceritakan kehidupan sepasang suami istri yang berada di garis kemiskinan, tanpa harus mengeksploitasi kemiskinan mereka. Istri bekerja menjadi pembuat bulu mata palsu, suami bekerja menjadi pembuat gula aren, di mana dia harus naik pohon kelapa berpuluh-puluh meter setiap harinya. Film yang memaparkan keadaan kehidupan as is, tanpa basa-basi. Seperti film-film dari Purbalingga lainnya, pembuatnya masih duduk di bangku sekolah. Semakin meneguhkan pandangan polos dan non judgmental terhadap cerita, yang memang sangat dibutuhkan di sini.

5 Menit Lagi Ah Ah Ah (2010)
Sutradara: Sammaria Simanjuntak & Sally Anom Sari

Sering kali ada ‘putus hubungan’ yang besar antara televisi dan karya audio visual lainnya seperti film panjang, film pendek, sampai video instalasi. Namun lewat film ini, kita diingatkan lagi betapa (masih) kuatnya pengaruh televisi di masyarakat kita. Betapa televisi masih menjadi candu yang tak bisa dilepaskan dari keseharian. Termasuk reality show contest and its aftermath, sesuatu yang sering kita lihat dan dengar, namun jarang yang benar-benar kita perhatikan dengan seksama. Film ini secara akurat memaparkan realita pahit dari pemenang sebuah reality show contest, yang tidak dibuat pahit. Just like life, it continues to struggle. Film yang membuat kita akan ‘manggut-manggut’ berusaha untuk memahami hidup yang keras.

Embed https://www.viddsee.com/player/djq8l

Titik Nol (2009)
Sutradara: Nicholas Yudifar

Dari daftar film pendek di sini, mungkin film ini yang membuat saya langsung teringat dengan idiom “seeing is believing”. Bisa ditambah, “seeing, and hearing, is believing”. Penggunaan puisi sebagai narasi memang tricky dalam film. Makanya jarang digunakan. Sekali digunakan, hasilnya akan menyentuh. Seperti yang ada di film ini. Setelah ditonton ulang beberapa tahun kemudian, masih menggetarkan hati. It’s a rarity.

Balik Jakarta (2016)
Sutradara: Jason Iskandar

Jason Iskandar, yang sudah membuat film pendek sejak SMA, bisa jadi merupakan sutradara muda yang paling berbakat. Selain berbakat, dia konsisten membuat film pendek dengan fokus penceritaan yang cukup tajam. Karya-karyanya selalu bermuara pada persoalan personal, yang mempengaruhi gaya visualnya. Namun di film ini, pendekatannya terasa berbeda. Dengan konsep road trip, Jason menjelajah sebagian isi ibu kota dari sisi yang, sekali lagi, terasa humanis. Definitely worth watching.

Kapur Ade (2014)
Sutradara: Firman Widyasmara

Berbeda dengan film non-animasi, film pendek animasi di Indonesia secara jumlah masih sedikit. Di luar karya iklan atau kepentingan komersil lainnya, setiap tahun hanya ada puluhan, tidak sampai 50, film pendek animasi di Indonesia dibuat. Dari yang sedikit itu, film ini termasuk yang mengesankan. Lagi-lagi soal cerita permasalahan kota besar. Namun fokus cerita yang berpaku pada mata yang masih lugu dan polos membuat kita terbawa sepanjang film ini.

Vampire (2014)
Sutradara: Fitro Dizianto

Sebagai penutup, rasanya saya hanya bisa menggambarkan film ini dengan menggunakan kata berikut dari bahasa slang Jawa Timuran: “ngguatheli pooolll”! Film yang akan membuat Anda … ah, tonton sendiri saja! 😉

Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, selamat berlibur, dan selamat menonton!