Kebun Semangka untuk Kak Ceri

oleh: Susi S. Idris

 

Mama dan Papa bilang begini sebelum Ramadan: “Kalau tahun ini puasamu penuh, Sel, kamu boleh minta hadiah.”

“Boleh minta rumah Barbie?”

“Boleh.”

“Boleh minta piano baru?”

“Boleh.”

“Boleh minta rumah Barbie sama Mama, terus minta piano baru sama Papa?”

“Tidak boleh! Enak saja.” Kak Very melotot. “Jangan, dong, Pa. Waktu aku sama Vero masih kecil, dan puasa kami penuh, kami hanya dikasih mobil-mobilan.”

Gara-gara Kak Very didukung kembarannya, Papa memutuskan: “Satu saja, ya, Sel. Kalau puasamu sungguh-sungguh, Tuhan akan memberi banyak hadiah nanti.”

Aku tidak tahu nanti itu kapan. Kata Mama, nanti itu di Surga. Surga, kan, di telapak kaki Ibu. Berarti, mungkin, aku harus tambah rajin membantu Mama, supaya Tuhan dan Mama cepat-cepat kasih hadiahnya ke aku.

Sekarang, puasa sudah dua puluh sembilan hari, dan aku sangat yakin tahun ini puasaku penuh. Tahun lalu puasaku hanya lima belas. Ya, kan, umurku saat itu masih enam tahun. Lihat saja, tahun depan, puasaku pasti empat puluh lima hari.

Tadi siang, waktu Mama lagi bikin makanan berbuka, aku bilang begini: “Ma, aku sudah tahu mau minta apa.”

“Kamu yakin besok tidak batal?” Kak Vero berteriak dari ruang tengah.

“Kamu, kan, cengeng.” Kak Very ikut-ikutan. “Diganggu sedikit, menangis.”

Mereka pun menertawaiku habis-habisan. Aku ingin menangis tadi, untung ada Mama yang membelaku. Kak Very dan Kak Vero memang si kembar yang usil.

“Aku ingin lebaran sama Kak Ceri!” kataku keras-keras, supaya Kak Very dan Kak Vero tahu kalau aku lebih suka main sama Kak Ceri daripada mereka. “Sudah lama Kak Ceri tidak kelihatan. Apa di sekolahnya tidak ada libur? Apa Kak Ceri tidak rindu sama kita?” Aku menunggu seseorang menjawabku, bahkan tidak apa-apa kalau si kembar yang menjawab, tapi tidak ada suara. Jadi, aku bicara lagi. “Ma, kita pergi ke asramanya Kak Ceri, ya. Mungkin di sana hujan, jadi Kakak tidak bisa pulang. Nanti kita bawakan payung gede. Oh, iya, aku juga mau bawa semangka untuk Kakak.”

Mama hanya tersenyum. Tapi, senyumnya lain. Bukan senyum seperti waktu melihat raporku, juga bukan senyum seperti waktu dengar si kembar menyanyi sumbang. “Nanti lebaran, aku mau kembaran baju sama Kak Ceri.”

“Kalian sudah sering kembaran baju lebaran, kok.”

“Kapan?”

“Tahun lalu juga kembar.”

“Tahun lalu itu, sudah berapa hari, ya? Rasanya sudah lama sekali tidak ketemu Kakak.”

“Ih, nih anak!” Kak Vero muncul dengan muka jengkel. “Sudah dibilang ratusan kali kalau Kak Ceri itu—”

“Iya, Sel,” kata Mama, “besok kita ke asramanya Kak Ceri.”

“Yeah!” Aku langsung melompat girang.

  • ●●

Kak Ceri umurnya lima belas tahun, satu tahun lebih muda dari Kak Very dan Kak Vero. Umurku dan umur Kak Ceri beda delapan tahun. Aku tidak tahu kenapa bisa sejauh itu. Waktu lulus SD, tiga tahun lalu, Kak Ceri masuk pesantren. Dia tinggal di asrama. Satu kali sebulan dia pulang ke rumah.

Aku sayang banget sama Kak Ceri, karena (1) Kak Ceri sering membacakanku dongeng. Dia juga sering bilang aku cantik. (2) Kalau pulang dari asrama, Kak Ceri selalu membawakanku permen. Permennya enak-enak dan besar-besar dan warna-warni. (3) Kak Ceri bisa diajak main Barbie-Barbie, tidak seperti Kak Very dan Kak Vero yang selalu tertawa keras-keras kalau kuajak main boneka. Oh, iya, Kak Ceri juga selalu tepuk tangan kalau aku baru selesai main piano. (4) Kak Ceri tidak pernah membuatku menangis. Dia selalu membuatku tersenyum atau tertawa atau bersorak gembira.

Tapi, sekarang, Kak Ceri membuatku menangis. Aku tidak bisa membawa Kak Ceri pulang. Tidak bisa.

“Jadi, Sella,” Mama memegang bahuku, “sebelum pulang, kita singgah beli piano, ya.”

Ingusku turun. Suaraku masih suara orang menangis. “Aku tidak mau piano. Ini puasa terakhir, dan aku menangis. Itu artinya, puasaku batal.”

“Tidak batal, kok.” Kak Very di samping Papa yang mengemudi, menoleh padaku. Dia mengelus-elus tanganku. Aku menarik ingus, dan Kak Vero memberiku tisu. “Tidak batal, karena kamu menangis bukan karena cengeng, tapi karena sayang sama Kak Ceri.”

“Kalau begitu, aku masih bisa minta hadiah?”

“Bisa.” Kak Very dan Kak Vero menjawab kompak.

“Apa boleh aku minta sama Tuhan saja?”

“Minta apa, Sayang?” tanya Papa. “Tuhan pasti mengabulkan kalau kamu rajin berdoa.”

“Minta Tuhan buat kebun semangka di Surga. Kak Ceri, ‘kan, suka semangka.”

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s