Kaulah Khalifahku

oleh: Muhamad Hamdan Ramdani

Bulan ini begitu terasa berat, selain naiknya bahan pokok karena bulan puasa, pembayaran kontrakan rumah pun harus dibayar 2 kali, bulan lalu kami tak sanggup tuk membayar karena suamiku terkena PHK massal, tapi alhamdulilah bulan ini suamiku telah bekerja kembali sebagai office boy sehingga insya Allah kami dapat melunasinya.


“Abi udah pulang terawehan ya? Mau dibikinin kopi ngga? ” tanyaku pada suami yang baru duduk dikursi.

“Boleh mi” jawabnya singkat sembari membuka peci.

“oh iya bi, tadi si ibu yang punya kontrakan udah ngingetin lagi lho, katanya besok jangan sampai telat bayarnya, kalau ngga bisa bayar lagi kita disuruh pindah, soalnya udah banyak yang mau sama rumah ini”

Insya Allah besok abi bisa ngelunasin kontrakan, kan besok gajian, jadi tenang aja mi” balas suamiku sambil tersenyum santai.


Besoknya, kutunggu suamiku pulang kerja di meja makan yang telah kusiapkan dengan lauk berbuka puasa seadanya. Lama menunggu dengan cemas karena tak ada kabar, telepon tak diangkat, SMS pun tak dibalas juga olehnya. Akhirnya setelah 3 jam lamanya, suamiku datang, raut wajahnya agak letih tapi tetap menggariskan seuntai senyum.

“Abi, kok baru datang jam segini? Tadi kemana dulu? Kok ga bawa motor?” Tanyaku dengan cemas.

“Tadi abi ke bengkel dulu, ban motor abi pecah, kata orang bengkel motor abi besok baru bisa diambil” jawab nya.

“Tapi untuk bayar kontrakan ada kan bi?”

“Emm.. Umi sayang, abi minta maaf, abi baru bisa besok, kata orang kantor gajiannya telat bulan ini”

“Kemaren katanya sekarang gajiannya, pokoknya umi ngga mau tahu! Umi malu tau sama ibu kontrakan, kan kalau telat terus kita bisa diusir” jawabku sambil menangis.


Keesokan paginya ketika mau mencuci pakaian suamiku, ku periksa dulu saku baju maupun celananya, takut ada uang yang tercuci. ketika kuraih saku celananya, ada kertas tipis bukti transfer dari ATM dan yang membuatku sangat kaget, bukti transfer nya tertanggal kemarin ke seorang wanita dengan jumlah yang cukup banyak!

Rasa marah dan kecewa pada suamiku yang kuanggap orang yang baik dan taat beragama, tapi dibelakang itu dia berdusta apalagi dia membiarkanku malu pada si ibu kontrakan yang terus menagih pembayaran. Berapa hancurnya hatiku ini mengapa kau tega membohongiku! Mengapa kau melakukan ini padaku!


Kutunggu kepulangan suamiku dengan rasa kesal dan marah menyelubungi dadaku, dan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang.

“Mengapa abi begitu tega mengkhianati umi! Setelah 3 tahun kita menikah, abi selalu berkata manis didepan umi tapi dibelakang, abi menjalin cinta dengan wanita lain! Abi jahat!! ” amarahku tak bisa dibendung lagi.

“Umi ngomong apa sih, abi ngga paham maksud umi? Jangan keras-keras ngomongnya, ngga enak kalau didengar sama tetangga” jawabnya heran.

“Nih” sambil kuberikan bukti transfer itu, “mau mengelak apalagi, ini bukti kalau abi berselingkuh dibelakang umi! dan abi memberikan gaji abi ke wanita ini daripada harus membayar kontrakan rumah!” Tangisku meledak tak tertahan lagi.

“Umi sayang, sekarang abi mau jujur tentang semua ini” dengan memegang tanganku yang basah karena usapan air mata “sebelumnya abi mau meminta maaf sama umi karena abi ngga terus terang, sebenarnya kemarin ketika abi membeli makanan untuk karyawan, motor abi menabrak mobil didepan abi, bagian belakang mobilnya rusak, karena kecelakaan itu murni kesalahan dan kelalaian abi, jadi abi ganti rugi dan yang mempunyai mobil itu wanita yang ada di struk bukti transfer yang dipegang sama umi, dan motor abi sekarang ada di bengkel” terangnya.

“Abi tidak bilang sama umi, karena abi khawatir umi akan marah, gaji untuk bulan ini abi bayarkan untuk ganti rugi mobil sama perbaikan motor abi. Alhamdulilah, untuk pelunasan kontrakan tadi abi pinjam uang ke teman abi” tambah suamiku.

“Kok bisa nabrak sih? Biasanya kan abi suka hati-hati kalau bawa motor” tanyaku.

“Sebenarnya abi lagi mikirin umi, abi sudah lama ngga beliin umi mukena, kemarin ketika bawa motor abi ingin sekali beliin umi mukena untuk sholat ied, terakhir abi beliin waktu awal kita menikah” jawabnya.

Kupeluk suamiku dengan erat dan tangis pun tak bisa ditolak “abi, maafin umi, umi telah berprasangka buruk sama abi, ternyata abi adalah abi yang umi kenal, abi yang selalu membuat umi bangga” dan kecupan indah mendarat didahiku “ngga apa-apa umi, karena yang paling penting kita selalu bersama dan umi akan selalu menjadi bidadari terbaik untuk abi”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s