Membicarakan Kematian

Beberapa minggu lalu, di tengah-tengah diskusi seputar pekerjaan, seorang rekan berkata, “Sepertinya gue harus update surat wasiat gue.”

Kami yang ada di diskusi itu mendadak diam. Kami kaget, menghela nafas, lalu mulai bertanya mengenai hal tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, seorang teman bertanya ke saya, “Elo tahu pengacara atau notaris yang recommended? Gue mau mulai bikin surat wasiat. I don’t have much, tapi gue cuma pengen memastikan saja dalam bentuk tertulis, nantinya akan ke mana saja barang-barang gue ini.” Saya terdiam sejenak, sebelum menjawab kalau saya tidak tahu. Lalu kami membicarakan hal lain, yang tentunya tidak jauh seputar pandemi yang sedang menimpa kita semua ini.

Setelah finansial dan seks, ada satu hal lagi yang ternyata susah sekali untuk kita bicarakan secara terbuka, yaitu kematian. Susah, karena berat. Atau berat, karena susah? Either way, kematian bukanlah sebuah hal yang mudah untuk mulai dibicarakan. Terutama dalam lingkup keluarga, lingkup pertama kita tumbuh dan berkembang sebagai manusia.

Pembicaraan tentang kematian ini bergelanyut di benak saya akhir-akhir ini, terlebih di tengah masa pandemi sekarang. Semakin terhenyak saat saya membaca cuitan Beau Willimon, penulis dan kreator serial “House of Cards”, beberapa minggu lalu. Dia berkata, “We may experience a collective trauma unlike anything most of us have ever experienced … We must mentally and spiritually prepare for that trauma. When my father died last year, my family had weeks to prepare ourselves for the inevitable. That was crucial for us to manage healthy relationship with our grief. We must be thinking about that now – as a nation, as a global community – because all of us will be touched by tragedy in the months to come should the current estimated hold …”

Selengkapnya cuitan beliau bisa dibaca secara lengkap di thread ini.

Membaca kalimat demi kalimat di thread di atas mau tidak mau menyadarkan kita bahwa di masa pandemi ini, kematian begitu dekat. Setiap hari kita membaca dan mendengar berita tentang orang-orang yang mungkin kita idolakan, kita kenal, kita pernah kerja bersama, yang terpapar virus ini, dan tidak bisa bertahan dari serangan yang mematikan. Kita sedih, kita mendoakan mereka, dan kita semakin tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Meskipun begitu, saya teringat lagi ucapan teman saya tadi yang meminta saya mencari tahu soal info tempat pembuatan surat wasiat. Dia berkata, “Gue cuma realistis saja. Gue punya sodara, gue punya pasangan, gue punya anak. Kewajiban gue buat mempersiapkan mereka apa yang terjadi kalau gue nanti nggak ada. Kita gak tahu kapan giliran kita pulang. Kita cuma bisa mempersiapkan sebisa kita. Itu hak mereka yang jadi kewajiban gue.”

from_youth-time_dot_eu
(source: http://www.youth-time.eu/)

 

Saya teringat beberapa tahun lalu, ayah saya menyuruh saya untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan terjadi kalau beliau berpulang. Waktu itu usia saya masih belum 30. Saya berusaha menolak untuk duduk di situ, tidak mau mendengar. Saya masih egois berpikir bahwa saya masih muda, tidak ada yang namanya kepergian anggota keluarga untuk selama-lamanya. Namun ayah saya bersikeras. Dia tidak mau mendengar rengekan saya. Dia merunut apa-apa saja yang harus dilakukan kami semua sebagai anak-anaknya kalau dia tidak ada, dan semua sudah ada bukti tertulis.

Beberapa tahun kemudian, saya merasa lega karena ayah sempat “keras” soal ini. Tidak mudah membicarakan sesuatu yang akan terjadi, namun kita tidak pernah tahu kapan hal itu akan terjadi. Meskipun kita sudah menyiapkan diri, kesedihan pasti akan melanda. Itu pasti.

Toh satu hal yang kita pelajari dari situasi sekarang, yaitu it never hurts to (over) prepare. Dan ini dimulai dari kemauan untuk membicarakannya.

It is hard to talk. But someone has to start.

Advertisements

Kebergantungan Kita Terhadap “Orang-orang Biasa”

PER hari ini, lepas dua pekan kita menjalani keseharian dan gaya hidup yang jauh berbeda dibanding sebelumnya.

Perspektif kita diubah paksa oleh keadaan; melihat hal-hal yang sebelumnya terabaikan, mengalami hal-hal yang dahulunya tak begitu diacuhkan, menyadari bahwa hal-hal yang selama ini disepelekan ternyata amatlah penting. Setidaknya, penting untuk mempertahankan rasa nyaman, atau bahkan untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri.

Memberikan berkat kepada ruang … kosong.
Foto: CNN

Saat menyampaikan berkat mingguan selepas Doa Angelus, Minggu dua pekan lalu (15/3), Paus Fransiskus memberikan pujian khusus kepada “orang-orang biasa” atau orang-orang yang selama ini dianggap biasa-biasa saja, sebagai kelaziman peradaban manusia modern. Yang disebut Paus saat itu adalah para petugas toko-toko kelontong, apotek, dan polisi yang terus memberikan pelayanan-pelayanan mendasar di tengah masa krisis seperti sekarang.

Anyway, sejujurnya saya agak kesusahan menemukan kata atau istilah yang lebih tepat dibanding “biasa”. Pasalnya, saya percaya bahwa tidak ada satu pun profesi yang biasa-biasa saja. Semuanya memiliki fungsi khusus dan positifnya masing-masing, kecuali penjahat dari segala jenis. Untuk menyamakan persepsi, orang-orang biasa dalam konteks ini ialah mereka dengan profesi yang kurang bergengsi. Pekerjaan yang selama ini dinilai tak cukup kece untuk membangkitkan rasa kagum. Tidak perlente.

Saya yakin yang dimaksud Paus kala itu juga mencakup banyak profesi (biasa) lainnya, semisal sopir angkutan barang, tenaga kebersihan, pasukan pemadam kebakaran, dan sebagainya. Malahan bagi sebagian besar dari kita di Indonesia saat ini, kemudahan, kelancaran, dan kenyamanan hidup kita bergantung pada “orang-orang biasa”.

Dimulai dari tukang sayur keliling, atau tukang sayur yang menerima pesanan antar, pengemudi ojek online, para pemilik, juru masak, dan pramusaji di restoran, warung, kedai, hingga penjual makanan dengan sistem pemesanan di muka. Mereka terus beroperasi, menyesuaikan pelayanan dengan standar keselamatan (bungkus makanan disegel rapat, tidak lagi diantar langsung tetapi bisa cukup digantung di depan pagar, serta beraneka cara lainnya), dan itu semua‒sekali lagi‒membantu kita mempertahankan kenyamanan hidup.

Bantu Petani saat Corona, IPB Lakukan Program Belanja Sayur dari Rumah
Foto: Kompas
Di ILC, Driver Ojol Ini Ungkap Perasaannya Tetap Kerja Saat Corona ...

Jika kita tarik mundur lagi, di belakang “orang-orang biasa” tersebut masih ada beberapa lapis “orang-orang biasa” lainnya. Para pedagang bahan makanan di pasar-pasar tradisional yang terus berjualan, pun melayani pesanan via telepon maupun memasok stok kepada para tukang sayur keliling. Para petani dan pekebun yang ada di daerah, nun jauhnya dari kota sehingga relatif dijauhkan dari paparan wabah. Tak ketinggalan para petugas kebersihan, yang tetap bekerja termasuk membantu penyiraman disinfektan. Sedangkan bagi para orang tua, ada guru-guru sekolah negeri atau pun swasta yang berupaya tetap memberikan pengajaran walaupun secara online.

Demikianlah. Perspektif kita diubah paksa oleh keadaan; melihat hal-hal yang sebelumnya terabaikan, mengalami hal-hal yang dahulunya tak begitu diacuhkan, menyadari bahwa hal-hal yang selama ini disepelekan ternyata amatlah penting. Setidaknya, penting untuk mempertahankan rasa nyaman, atau bahkan untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri.

Bahwa sejatinya, tidak ada yang namanya “orang-orang biasa”.

Berterima kasihlah. Sepantasnya.

[]

The Juxtaposition of Faith (?)

LANGSUNG saja. Di saat-saat genting seperti sekarang, perilaku manusia dalam konteksnya sebagai makhluk religius cenderung terbagi dua: Mereka yang berpaling KEPADA agama, dan yang berpaling DARI agama. Meski saling bertolak belakang, keduanya sama-sama didorong oleh ketakutan dan kekhawatiran, serta kepasrahan atau penerimaan nan dungu yang beda tipis dengan penyangkalan atau penolakan. Objeknya saja yang berbeda.

Baik kelompok yang berpaling kepada agama maupun yang berpaling dari agama sama-sama takut akan kematian. Bedanya, kelompok pertama memang takut mati, tetapi lebih takut lagi jika matinya tidak masuk surga. Dan dengan mengupayakan hal-hal lain di luar keyakinan kepada entitas sentral dalam agamanya masing-masing‒tuhan‒itu dianggap sebagai salah satu bentuk keragu-raguan‒meragukan tuhan, sang pencipta segalanya. Sikap ragu-ragu itulah yang dipercaya bisa mengurangi bobot kredit seseorang dalam penilaian kepantasan untuk bisa masuk surga.

Mendingan aku buruan mati saja, daripada enggak bisa masuk surga.

Sedangkan bagi kelompok kedua, rasa takut dan khawatir akan kematian seringkali diawali dengan peristiwa terkait. Apakah ada kerabat atau keluarga yang terdampak dan meninggal, atau justru dirinya sendiri yang terkena. Mereka pun berpaling dari agama karena keyakinan kuat yang dipegang selama ini nyatanya tidak menghindarkan mereka (dan orang-orang terdekat) dari musibah. Ada nuansa kekecewaan di situ, yang bahkan bisa memunculkan amarah lantaran doa dan permohonan yang dipanjatkan seakan-akan tak berguna. Apalagi dalam konsep penciptaan, virus atau apa pun objek bencana juga muncul/hanya bisa dimunculkan olehnya. Sehingga, manakala sesuatu yang buruk terjadi, bisa karena memang dibuat sedemikian rupa, atau justru terjadi begitu saja secara alamiah … bukan diciptakan olehnya‒dia tidak ada.

Ah, ternyata semuanya bohong!

Berikutnya, sebagai kelompok yang berpaling kepada agama, segala-galanya digantungkan pada keyakinan atau kepercayaan. Apa pun yang terjadi/akan terjadi telah disuratkan sebelumnya; menjadi kehendak mutlak sang pemilik semesta; dan pada akhirnya akan tetap berbuah manis sebagai ganjaran bagi orang-orang yang percaya. Di sisi lain, ada juga anggapan bahwa tak peduli sebagai keras, tekun, mutakhir sebuah usaha, tidak akan memberikan hasil apa-apa bila tanpa seizinnya. Tak perlulah melawan. Terima saja. Oleh sebab itu, menurut logika mereka, akan lebih baik untuk pasrah dan menerima saja. Sikap tersebut akan membuahkan ketenteraman, membantu melewati dunia yang penuh dengan penderitaan dan cobaan, menuju kehidupan bahagia yang kekal di ujung sana.

Saya percaya, ada sesuatu yang indah sebagai akhirnya.

Lalu, mengapa kepasrahan atau penerimaan membuta seperti di atas disebut beda tipis dengan penyangkapan atau penolakan?

Karena dengan meyakini sesuatu, otomatis harus tidak meyakini lawannya. Dengan meyakini bahwa agama (A)‒beserta seluruh batang tubuh ajaran, termasuk entitasnya‒ialah jalan keluar tunggal yang telah ditentukan oleh tuhan, maka janganlah meyakini hal-hal lain di luar agama (non A). Menerima yang satu, dan menolak yang lain. Memasrahkan diri kepada yang satu, dan menyangkal fungsi dan manfaat yang lain. Mau itu sains dan ilmu pengetahuan, perhitungan yang konkret dan realistis, selama bukan merupakan bagian dari ajaran agama, lupakan saja.

“Pokoknya, ini yang bener…”

Setiap orang pada dasarnya berhak menjadi bagian dari kelompok pertama, kedua, atau bahkan bukan keduanya. Masalahnya, di saat-saat genting seperti sekarang, egoisme dan preferensi pribadi seseorang dapat membahayakan keselamatan orang lain dalam jumlah besar. Bukan sekadar kalkulasi ilusi (misalnya: Satu orang berbuat salah, seluruh desa kena tulah), melainkan perhitungan yang konkret. Ada satu saja orang yang jorok, menyebabkan beberapa orang lainnya berpotensi tertular dan terjangkit penyakit serupa. Sesederhana prinsip perkalian.

Sayangnya, demikian pula dengan keyakinan. Ada satu saja yang pandai berbicara dan memikat hati, ada sekelompok orang yang ikut dan mungkin mengekor tanpa pengetahuan untuk bersikap kritis.

Ya begitulah.

[]

Kita Memang Hobi Ribut-ribut

SAMPAI saat ini, saya selalu “terkagum-kagum” melihat begitu melimpahnya tenaga, stamina, perhatian, dan waktu banyak orang–dan terkadang diri kita sendiri–untuk ribut-ribut. Baik yang kita mulai sendiri, atau yang bisa bikin kita ikutan.

Banyak hal, atau bahkan hampir segalanya diributkan. Bukan lagi “mangan ora mangan ngumpul“, tetapi jadinya “ngumpul ora ngumpul ribut”. Dan boleh dibilang, ini menunjukkan prioritas atau hal yang didahulukan dalam kehidupan kita masing-masing. Tanpa ada ribut-ribut barang sehari saja, rasanya seperti ada yang kurang. Entah kurang seru; kurang bersemangat; kurang bergairah; atau kurang rame macam pasar malam di kampung gang sebelah.

Sejujurnya, saya pernah begini. Hobi banget ribut-ribut, meributkan banyak hal yang saya anggap telah saya pahami dan kuasai dengan segala rupa alasannya. Apakah itu ingin mengkoreksi atau membenarkan orang lain; yang secara tidak langsung juga bertujuan untuk ingin menunjukkan superioritas kita dibanding orang lain; maupun sekadar ingin mencari keributan lantaran memang tidak bisa diam. Namun, seiring bertambahnya usia (sekaligus pengalaman hidup, kesadaran, dan mudah-mudahan kebijaksanaan), saya kian menyadari betapa sia-sianya berkubang dalam keributan. Ketika menit demi menit dalam setiap harinya sudah dipenuhi dengan kesibukan pekerjaan, tenggat, pemikiran dan pertimbangan, serta lain sebagainya, berasa banget betapa berharganya waktu dalam satu hari ketimbang dicurahkan untuk ribut; memulai atau pun terlibat dalam keributan.

Disclaimer: Kendati telah berusaha menyadari hal di atas, akan tetap ada momen-momen saat saya turut terjun dalam keributan. Jadi, harap dimaklumi saja.

Kembali ke hal-hal yang kerap diributkan, dapat kita amati bahwa ribut-ribut terjadi merata pada segala topik dan bahasan. Mulai dari yang paling sensitif–gara-gara kerap tak terjangkau oleh banyak orang–semisal Suku, Agama, Ras, Antargolongan (SARA), termasuk anatomi dan fisik, politik dan ekonomi, hukum dan kriminal, sosial budaya, filsafat, teknologi, seksualitas, hingga kelakar dan kegoblokan macam urusan hamil gara-gara berenang tempo hari.

Jika diperhatikan lebih dalam, bukan topik atau bahasannya yang salah, dan perlu dihindari, melainkan aktivitas dan vibe ribut-ributnya yang bikin malesin. Pada dasarnya, kita bisa membicarakan atau mendiskusikan hampir apa saja secara konstruktif dan membangun, asal tidak pakai ribut-ribut yang justru malah membuat suasana kian kisruh.

Dengan bicara baik-baik (dan pintar), urusan kursi partai PAN tidak bakal pakai acara lempar-lemparan kursi secara harfiah; urusan anatomi dan fisik akan berkembang sesuai Zeitgeist-nya atau kesadaran sejalan waktu, contohnya, ada masa ketika kondisi tubuh seseorang dijadikan lelucon habis-habisan dalam sederetan film Warkop DKI (gigi tonggos) sampai episode-episode Ketoprak Humor (mata juling, pincang) tanpa memicu ketersinggungan yang riuh, kemudian berkembang menjadi kesadaran bahwa kondisi fisik sama sekali bukanlah objek lucu-lucuan yang patut; atau seberani Mbak Margaretha Diana dengan tulisan berjudul “Enaknya Orang Kristen, Begitu Mualaf Langsung Jadi Ustaz Seribu Umat” di Mojok.co manakala membahas tentang ilusi superioritas agama berbalut alibi khayal (… tetap berasa, sih, slightly mangkel dalam poin-poin argumentasinya. Hahaha! I feel you, Mbak).

Kalau begini, bagaimana caranya supaya tidak perlu ribut-ribut?

Oke, kembali lagi ke satu landasan di atas, bukan topiknya yang salah, melainkan ribut-ribut (dan segala pemicunya) yang sebaiknya disadari untuk dipupuskan. Kita hidup di iklim yang bebas. Bebas berpikir dan mempertanyakan, bebas berbicara dan menyampaikan pendapat, serta bebas untuk menerima atau menolak, bebas untuk bertahan dengan pandangan awal atau berubah tanpa diintimidasi atas perubahan pemikiran tersebut.

Sedikit banyaknya, mungkin bisa mengacu kepada beberapa aspek berikut.

  1. Penting/Tidak Penting
  2. Bermanfaat/Tidak Bermanfaat
  3. Merugikan/Tidak Merugikan

Ketiga aspek tersebut kembali dibagi dalam tiga dimensi:

  1. Bagi diri sendiri
  2. Bagi orang lain yang berhubungan dengan kita
  3. Bagi orang lain yang tidak berhubungan dengan kita/umum

A. “Apakah sesuatu itu penting untuk diributkan, atau tidak?”
Bila diarahkan bagi diri kita sendiri, setiap orang tentu memiliki pertimbangan penting/tidak penting yang berbeda. Hanya saja, harap diingat bahwa penting bagi kita, belum tentu penting bagi orang lain. Apalagi bagi orang banyak.

B. “Apakah sesuatu itu bermanfaat jika diributkan, atau tidak?”
Kembali lagi, akan ada perbedaan tentang manfaat yang dapat kita peroleh (jenis dan bentuknya) bagi diri sendiri, maupun yang diperoleh orang lain, termasuk bagi masyarakat umum.

Jika sesuatu memberikan manfaat hanya bagi diri kita sendiri, tetapi tidak bagi orang lain yang kita kenal dan orang banyak, bukankah itu berarti kita egois dan mementingkan diri sendiri? Apabila memang demikian, keributan yang kita lakukan semata-mata demi keuntungan kita sendiri. Bukan untuk kemaslahatan orang banyak.

C. “Apakah keributan itu akan menimbulkan kerugian, atau tidak?”
Terdapat perbedaan yang cukup nyata antara sesuatu yang memberikan manfaat atau keuntungan, dengan sesuatu yang tidak memberikan kerugian.

Manfaat atau keuntungan dilakukan secara aktif, melibatkan aktivitas pencarian dan pengusahaan. Tujuannya tentu saja adalah memperoleh manfaat atau keuntungan. Sementara tidak adanya kerugian ialah situasi yang pasif dan netral.

Tatkala ada sesuatu yang tidak menimbulkan kerugian jika dilakukan, dan tidak menyebabkan apa pun (kerugian maupun keuntungan) jika tidak dilakukan, maka nuansanya akan jauh lebih rileks. Kita tidak merasa harus melakukannya sesegera mungkin, tetapi di sisi lain pun tak akan menimbulkan penyesalan atau rasa bersalah jika tidak dilakukan.

Nah… saat kita berhadapan dengan sesuatu yang penting bagi diri kita dan orang lain, bisa memberikan manfaat bagi diri kita dan orang lain, serta tidak menimbulkan kerugian bagi diri kita dan orang lain, sesuatu itu cukup patut diributkan ke tingkat lanjut.

Mengapa? Sebab semua aspeknya terpenuhi. Dengan kata lain, apabila tidak diributkan, akan menyebabkan kegentingan bagi kita dan orang lain, menghilangkan manfaat bagi kita dan orang lain, serta justru merugikan kita dan orang lain.

Begitu, kira-kira.

Sebagai penutup tulisan tentang ribut-ribut ini, saya ingin berbagi vibe positif, berani, penuh rasa percaya diri, dan empatik dari twit foto yang dibagikan Mbak Tara Basro beberapa waktu lalu.

Kenapa empatik? Ya bayangin aja, giliran banyak cewek (dan cowok) yang merasa insecure dengan bentuk tubuhnya sendiri, Mbak Tara Basro menghadirkan foto ini dengan caption demikian. Kendati sayangnya, mesti Mbak Tara Basro yang bersuara barulah kita cenderung memerhatikannya (kalau bukan Tara Basro: “Siapa elu?”).

Beginilah manusia-manusia rata-rata, haus dan dikendalikan oleh validasi. Validasi sosial dari lingkungan, yang lambat laun menjadi validasi dari dalam diri sendiri.

Praise!

… dan tak perlulah terpancing dengan beberapa komentar yang disampaikan segelintir netizen, peribut-ribut yang bisa jadi enggak ada seapa-apanya terhadap keributan mereka sendiri.

Ya, entahlah.

[]

Bahagia itu (Masih) Sederhana, Katanya…

SUDAH enam tahun sejak tulisan pertama tentang ini ada di Linimasa, waktu saya masih di Samarinda; si anak daerah. Kemudian, hadir kembali dua tahun selepasnya, sebagai warga pendatang di Jakarta. Kota dengan kehidupan yang sempat bikin kaget, bahkan sampai sekarang. Ya … lantaran orang-orangnya, keseharian yang dihadapi, serta mengamati cara diri ini menanggapinya.

Kini, rasanya kepingin melanjutkannya lagi.

Setidaknya ada satu hal yang saya sadari. Buah-buah kebahagiaan setiap orang terus berubah; seiring berjalannya waktu; seiring bergulirnya kehidupan; seiring tubuh yang mengusang; seiring berkembangnya kebijaksanaan dan kedewasaan.

Namun, apa pun perubahannya, bagi banyak orang kebahagiaan tetap identik dengan terpenuhinya keinginan-keinginan. Rasa bahagianya terkesan tetap sama, bentuk-bentuk keinginannya yang berbeda.

Premisnya masih serupa, bahwa setiap orang punya daftar kebahagiaannya masing-masing. Objek kebahagiaan seseorang, belum tentu memberikan kebahagiaan yang sama bagi orang lain. Perlukah kita berpayah-payah memperjuangkan agar orang lain sadar bahwa mereka sesungguhnya mengalami kondisi-kondisi ketidakbahagiaan selama ini (menurut sudut pandang kita)? Debatnya akan menjadi luar biasa panjang. Bisa bikin orang lupa masak, makan, istirahat, bekerja, kencing dan buang air-air lainnya … menjalani kehidupan yang ada di depan mata.

Dan tetap saja, serendah-rendahnya rasa “bahagia” ialah yang didapatkan dari ketidakbahagiaan atau penderitaan pihak lain. Buruk memang, tetapi alamiah, dan oleh sebabnya, tetap akan terjadi. Terkadang, malah pada/oleh diri kita sendiri.

Kebahagiaan tercapai karena mendapatkan/memperoleh/meraih. Masalahnya, makin sederhana sebuah kebahagiaan, terasa makin sukar dicapainya. Apa yang dahulu terkesan sepele–dan karenanya kerap diabaikan–kini terasa begitu jauh, begitu dirindukan.

Banyak yang beranggapan bahwa ini hanyalah persoalan beda masa hidup dan angka usia. Apa yang telah dialami dan dirasakan oleh yang “tua” maupun tua, jauh lebih hakiki dibandingkan yang dialami dan dirasakan oleh yang masih muda. Berangkat dari sini, banyak yang keliru dengan terlampau menyederhanakannya menjadi “yang muda harus belajar menjadi bijaksana lewat pengalaman dan perjalanan hidup yang tua-tua.” Padahal, belum tentu, dan itu pun terkesan dipaksakan.

Mau bagaimanapun juga, semua orang memiliki kehidupan yang berbeda. Apa yang mereka hadapi, cara mereka menghadapi, pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan keniscayaan. Tak bisa dipaksakan sekalipun.

Kebahagiaan tak bisa dipaksakan.

Kalaupun seseorang mengabaikan sesuatu yang semestinya bakal jadi kebahagiaan signifikan bagi dirinya sendiri, serta memilih sesuatu yang lain dan lebih dangkal, ya … biarkan saja. Itulah proses belajar yang ia jalani sendiri. Sebab penyadaran dan dorongan motivasi paling kuat yang bisa menggerakkan seseorang ialah yang muncul dari dalam dirinya.

Manakala seseorang sama sekali tak ingin melakukan sesuatu, walaupun dipaksa sedemikian rupa tetap tidak akan ia kerjakan sepenuh hati. Sebaliknya, begitu sebuah keinginan tumbuh dan mengakar kuat di dalam hati, ia akan mengusahakannya sekuat tenaga, bisa berubah menjadi tekad, bahkan ambisi maupun obsesi. Tak peduli halangan dan rintangan yang bisa muncul, ia akan terus menerjang. Baru berhenti setelah kepayahan.

Sudah terbayang ujungnya. Tatkala berhasil mendapatkan yang diinginkan (dan diupayakan lewat berbagai cara), ia pun merasa bahagia, beserta perasaan-perasaan ikutan lainnya (kepuasan, kelegaan, ketenangan).

Iya. Demikianlah. Bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mendapatkan yang diinginkan. Kendati untuk bisa mendapatkan yang diinginkan, pastinya tak sesederhana yang sekadar dibayangkan.

Semoga kita semua selalu mampu merasa tenteram.

[]

Satu Persen

Beberapa belas tahun yang lalu, saat mengambil mata kuliah manajemen seni pertunjukan, dosen saya berkata, “Kalian tentu tahu Andrew Lloyd Webber, komposer, penulis drama dan musikal dari Inggris yang terkenal itu. Kalau saya menyebut nama Andrew Lloyd Webber, kalian pasti langsung mengasosiasikan namanya dengan “Evita”, “Cats”, “The Phantom of the Opera”. Tapi kalau saya sebut “Jeeves”, atau “The Likes of Us”, kalian pasti tidak tahu kalau dua karya yang saya sebut barusan adalah karya Andrew Lloyd Webber. Seseorang sekaliber Andrew Lloyd Webber pun pernah membuat karya yang tidak sukses. Tidak ditonton orang, tidak menghasilkan keuntungan. Namun dia terus membuat karya-karya baru, sampai pada akhirnya orang hanya akan mengasosiasikan namanya pada karya-karyanya yang sukses dan laris. But these works, they are just the tip of the iceberg. Karya yang sukses lahir dari serangkaian karya sebelumnya yang gagal. Don’t give up.”

Kalimat-kalimat tersebut memang diucapkan beliau di sesi terakhir perkuliahan kami, sekitar seminggu sebelum minggu tenang menjelang final exam. Maka tidak heran kalau banyak petuah yang dia sampaikan, karena kebetulan juga saat itu adalah semester terakhir kami sebagai mahasiswa. Hanya saja, entah kenapa, dari sekian banyak hal yang beliau sampaikan ke kami, cuma bagian itu saja yang masih saya ingat sampai sekarang.

Mungkin karena di lingkungan saya bekerja, saya sering melihat banyak kasus seperti di atas. Mereka yang akhirnya melahirkan karya yang dinikmati banyak orang, setelah bertahun-tahun membuat karya yang tidak mendapat apresiasi yang layak. Mereka yang akhirnya dikenal banyak orang, setelah bertahun-tahun berkarya belum dianggap juga. Mereka yang terus berkarya tanpa henti, meski sudah merasakan sukses dan mendapat apresiasi.

Toh praktek “mengerjakan secara konsisten dan gagal terus sampai berhasil” ini tidak terbatas pada pembuatan karya besar. Ibu saya pernah cerita, meskipun punya buku resep kue turun-temurun dari keluarga, dia perlu praktek berulang kali sampai dia bisa membuat kue dan mengajak kami untuk membuat bersama-sama. Itu pun kadang-kadang tak luput juga dari human error, sehingga beberapa kali kue yang kami buat jadinya gosong.

Seorang fotografer yang saya kenal pernah cerita, dia menghabiskan jutaan rupiah untuk mencetak foto-foto di awal karyanya, hanya untuk ditolak berbagai penerbitan,sampai akhirnya dia menggunakan foto-foto yang gagal tersebut sebagai bahan belajar ulang.

Dan tentu saja kita tahu cerita bahwa Vincent Van Gogh tidak pernah berhasil menjual satu lukisannya sampai dia meninggal, ‘kan?

1_ruhxDa-2gBGN-ysfsBYSYw
(source: medium.com)

 

Tapi ada satu kejadian serupa yang ternyata cukup “menohok” buat saya. Seorang teman sering mengingatkan saya untuk berolahraga, terutama mengangkat beban. Jenis physical exercise yang harus saya akui, paling malas mengerjakannya. Teman saya ini pernah berkata, “Jangan males! Elo tahu gak, tiap kali elo latihan abdomen 10 set, tiap set 10 kali, paling yang jadi otot di elo cuma 1.”

“Ha? Dari 100 yang jadi cuma 1? Satu persen doang? Sisanya?”

“Ya sisanya buat membiasakan badan elo bergerak. Nanti pas lama-lama elo udah biasa, yang jadi otot juga makin nambah. Dengan catatan, elo harus rutin ya. Makanya jangan males!”

Saya nyengir. Ternyata semua hal yang kita lakukan memang sama prinsipnya seperti kita berolahraga: 99% effort and perspiration makes 1% result. If we are lucky.

Semoga kita selalu beruntung.

Bergaul dengan yang Patut

DI SUNDAY service (kebaktian mingguan) Hillsong Melbourne Minggu kemarin, isi khotbahnya boleh dibilang membahas tentang … uang. Bukan seperti yang dibahas para kapitalis kikir, atau pun para oportunis tamak, David “Dave” Ramsey–pengkhotbah–menyampaikan tentang uang sebagai sumber daya. Makanya, perlu dikelola. Baik pengelolaan terhadap uang itu sendiri, serta pengelolaan terhadap sikap dan mindset si pemilik/penggunanya.

Lantaran berupa khotbah di gereja, Dave mengawalinya dengan disclaimer bahwa uang tidak akan/belum tentu memberikan kebahagiaan; uang pun tidak akan/belum tentu menyembuhkan permasalahan-permasalahan hidup. Melainkan tuhan. Tentu saja. Selebihnya, isi khotbah bisa disusun dalam lima poin berikut (narasi penjelasan setiap poin merupakan interpretasi pribadi, bukan bagian dari khotbah tersebut. Untuk rekaman utuhnya, nyoooh…).

  1. Anggarkan keuangan

Berdasarkan apa yang diperoleh, rencanakan pengeluaran secermat mungkin. Akan lebih tenang rasanya, saat kita tahu benar ke mana uang kita dibelanjakan. Sehingga tidak mendadak panik, ketika uang kita mendadak (seolah-olah) menghilang entah ke mana.

  1. Hindari berutang

Dalam konteks ini, lebih kepada utang yang konsumtif, pengeluaran yang tidak akan kembali, dan habis begitu saja setelah dikonsumsi. Sebab, mau dinamakan dengan apa pun juga, berutang pada hakikatnya berarti kita tidak punya uang. Padahal sejak kecil kita sudah diajari bahwa “kalau mau beli, harus punya uang dulu.

Namun, bagaimana apabila ada pengeluaran besar yang mendesak? Kembali ke poin nomor 1, sebisa mungkin merencanakan yang bisa direncanakan, seleluasa yang mampu dilakukan. Toh, namanya juga kebutuhan yang mendesak, semestinya punya kadar penting yang lebih tinggi dibanding belanja biasa.

  1. Cermat bergaul

Lingkungan pergaulan memengaruhi gaya hidup. Setiap orang pun memiliki standar batas belanja yang berbeda-beda; tergantung tingkat penghasilan, latar belakang, serta beberapa aspek lainnya. Poin ini bukan dalam konteks memilih untuk lebih dekat dan/atau menjauhi sekelompok orang, melainkan bersikap lebih cermat. Kembali lagi ke poin pertama, penganggaran yang tepat memampukan kita untuk punya ruang finansial lebih luang sampai ambang tertentu.

Meminjam istilah lain, pansos sesuai kemampuan.

  1. Simpan dan kembangkan

Badai bisa saja datang sewaktu-waktu. Bikin kacau dan menambah beban. Dengan berusaha menyimpan sedikit demi sedikit secara berkala, akan ada sumber daya tambahan yang bisa dipergunakan. Syukur-syukur jika uang yang disimpan juga dapat dikembangkan, baik dalam bentuk investasi maupun usaha yang menghasilkan. Sumber daya yang terlipatgandakan.

Lagi-lagi, penganggaran adalah kunci dasarnya.

  1. Murah hati

Hmm… sebagai seseorang yang tidak religius-religius amat, agak susah untuk tidak mengaitkan poin ini dengan konsep memberi sebagai sebuah perbuatan baik. Sebut saja sedekah, derma, donasi, pokoknya sesuatu yang diberikan kepada orang lain untuk membantunya, meringankan bebannya, menjadi orang baik, atau sekadar menjalankan perintah agama. Berhubung disampaikan di gereja, konteksnya bisa juga mengacu pada perpuluhan dan persembahan kasih; dapat dianggarkan sedari awal.

Di sisi lain, praktik memberi bisa juga menjadi semacam tindakan atau sikap yang menunjukkan bahwa kita memiliki keleluasaan, atau lebih beruntung dibanding orang lain (yang dalam buku “The God Delusion”, Richard Dawkins sebut juga sebagai tanda superioritas), maupun ekspresi rasa syukur atas apa yang dimiliki. Dalam istilah lain … merasa lebih kaya.

Kendati terdengar dan terkesan sangat sederhana, kelima poin di atas (disebut) termaktub dalam Alkitab. Menjadi semacam kiat-kiat dasar pengelolaan keuangan, yang mungkin saja telah bertahan dan terus diturunkan jauh sebelum Alkitab disusun (langsung teringat sebuah buku berjudul: “The Richest Man in Babylon”).

Seperti yang telah disinggung beberapa kali di atas, kelima poin pengelolaan keuangan tadi terpusat pada penganggaran. Namun, nilai pengeluaran cenderung bersifat tetap, sedangkan penghasilan bisa fluktuatif. Dalam celetukan pasarnya: “Apa yang mau dianggarkan, kalau duitnya enggak ada?” Oleh karena itu, makin banyak penghasilan yang diperoleh, makin leluasa seseorang mengatur keuangannya. Serendah-rendahnya pengeluaran bagi seseorang, adalah pengeluaran untuk kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Namun, bukan bagian itu yang ingin saya obrolkan kali ini. Setelah menyimak khotbah Dave yang lebih berupa gospel kemakmuran, saya langsung teringat Dighajanu Sutta, yang pada intinya adalah wejangan Buddha tentang upaya memperoleh dan mempertahankan kesejahteraan–kekayaan, kemakmuran–bagi perumah tangga.

Anyway, mengapa hanya berupa wejangan, ya, karena Buddha sendiri adalah seorang petapa; bisa mencapai kebuddhaan dengan menjalani hidup terlepas dari keduniawian. Termasuk melepaskan diri dari harta benda serta kepemilikan. (Makanya, agak aneh, menurut saya, kalau ada pasangan suami istri baru atau lama, datang kepada bhikkhu atau biksu meminta nasihat kelanggengan pernikahan. Lah wong dia selibat, kok.)

Oke, balik lagi ke Dighajanu Sutta (khotbah kepada Dighajanu). Ringkasnya begini, Buddha menyampaikan ada empat hal yang dapat membawa kekayaan dan kebahagiaan bagi para perumah tangga, yakni:

  1. Memiliki ketekunan (versi terjemahan lain: Kesempurnaan Inisiatif),
  2. Memiliki keseksamaan (versi terjemahan lain: Kesempurnaan Perlindungan/Penjagaan),
  3. Pertemanan yang baik, dan
  4. Kehidupan yang seimbang.

Berikut kutipan langsung penjelasan Buddha atas masing-masing poin dalam sutta tersebut.

(1) Apakah yang dimaksud dengan memiliki ketekunan (utthana-sampada)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja (alias Dighajanu), apa pun yang dilakukan oleh gharavasa (perumah tangga) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sebagai petani, pedagang, peternak, pemanah, pejabat pemerintahan atau dengan keahlian lainnya, dia harus ahli dan tidak malas. Dia memiliki keterampilan tentang cara yang benar; dia mampu melakukan dan memberikan tugas. Inilah yang dimaksud dengan memiliki ketekunan.”

(2) Apakah yang dimaksudkan dengan memiliki keseksamaan (arakkha-sampada)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, kekayaan apa pun yang dimiliki gharavasa, yang dimiliki berkat kerja keras, dengan jerih payah sendiri, dengan cucuran keringat, yang diperoleh dengan cara yang sesuai Dhamma, ia berhemat dengan melindungi dan menjaga kekayaannya sehingga raja tidak menyitanya, pencuri tidak mencurinya , tidak terbakar dan tidak hanyut oleh air atau tidak juga diambil oleh pewaris-pewaris yang bersikap tidak baik. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki keseksamaan.”

(3) Apakah yang dimaksud dengan pertemanan yang baik (kalyana-mittata)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, di desa atau di kota mana pun gharavasa tinggal dia bergaul, berbicara, berbincang-bincang dengan gharavasa atau anak dari gharavasa, baik yang muda dan sangat terpelajar maupun yang tua dan sangat terpelajar; memiliki keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), kedermawanan (caga) dan kebijaksanaan (pañña).

Dia berbuat sesuai dengan keyakinan orang yang memiliki keyakinan, sesuai dengan kesusilaan orang yang memiliki kesusilaan, sesuai dengan kedermawanan orang yang memiliki kedermawanan, sesuai dengan kebijaksanaan orang yang memiliki kebijaksanaan. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki pertemanan yang baik.”

(4) Apakah yang dimaksud dengan kehidupan yang seimbang (samma-jivikata)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, seorang gharavasa yang mengetahui penghasilan dan pengeluarannya akan mengatur hidupnya seimbang, tidak boros maupun tidak pelit. Dengan pengetahuan itu, ia akan membuat pemasukannya menjadi lebih besar dari pengeluarannya, bukannya pengeluarannya lebih besar dari pemasukkannya.

Seumpama pedagang emas atau muridnya mengetahui cara mempergunakan timbangan emas, dengan naiknya lengan timbangan sekian akan turun lengan lainnya sekian. Demikianlah gharavasa yang mengetahui pemasukan dan pengeluarannya akan hidup seimbang, tidak boros dan juga tidak pelit. Dengan pengetahuannya itu, ia akan membuat penghasilannya menjadi lebih banyak dari pengeluarannya, bukan pengeluarannya lebih banyak dari penghasilannya.”

Setelah bagian ini, Buddha melanjutkan dengan gambaran kondisi seseorang yang berpenghasilan kecil tetapi boros, dan sebaliknya, seseorang yang berpenghasilan besar tetapi menjalani hidup susah sekali (karena pelit). Kemudian menyampaikan empat hal yang bisa melenyapkan penghasilan yang telah dikumpulkan.

  1. Pesta pora yang berlebihan,
  2. Mabuk-mabukan,
  3. Perjudian, dan
  4. Persahabatan atau pergaulan dengan orang yang jahat.

(Isi Dighajanu Sutta masih berlanjut dari sini. Berikut teks lengkapnya dalam bahasa Inggris dari versi terjemahan Bhikkhu Thanissaro)

Silakan dicermati. Menariknya, dari ketiga bagian besar di atas, ada satu benang merah yang ditegaskan secara universal, bukan bertemanlah dengan orang kaya, melainkan:

JANGAN SAMPAI MISKIN GARA-GARA PERGAULAN.

[]

N.b.: Saking universalnya, bahkan mungkin tidak perlu menjadi seorang Kristen atau Buddhis, untuk sepakat bahwa menjaga pergaulan menjaga kekayaan. Ya, enggak?

Oscar Yang Sangat Cepat

Judul di atas diambil dari kenyataan, bahwa penyelenggaraan Academy Awards tahun ini memang lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ajang penghargaan ini diselenggarakan di awal Maret, atau di akhir Februari. Lalu tiba-tiba di pertengahan tahun 2019, pihak penyelenggara, yaitu AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) mengumumkan bahwa penyelenggaraan Academy Awards ke-92 maju beberapa minggu sampai minggu pertama Februari 2020.

Alhasil, acara-acara penghargaan lain yang diberikan sebelum Academy Awards dimulai lebih cepat. Kampanye semua film yang digadang-gadang untuk awards season juga dimulai jauh lebih awal. Bulan September sudah ramai masa kampanye film untuk musim penghargaan ini. Biasanya bulan Oktober baru mulai ramai.

honeyland_source_balkaninsight
Honeyland (source: balkaninsight.com)

 

Sebagai pemerhati jarak jauh, terus terang saya kaget sekaligus excited sebenarnya melihat perubahan ini. Mau tidak mau, intensitas kampanye menjadi berlipat-lipat kali lebih menguras tenaga. Ajang penghargaan lain, baik yang diberikan kelompok jurnalis, kritikus, maupun asosiasi pekerja film, berlangsung setiap minggu nyaris tanpa henti. Ini membuat orang-orang, baik sutradara, aktor, pekerja film yang namanya masuk beberapa nominasi dan meraih penghargaan, harus pintar-pintar membagi waktu dan energi selama beberapa bulan terakhir.

Lihat saja Renee Zellweger yang nyaris sapu bersih semua penghargaan kategori aktris pemeran utama terbaik di berbagai penghargaan. Dandanan rambutnya hampir terlihat selalu simpel di semua acara penghargaan beberapa minggu terakhir, mungkin karena dia harus rushed dari satu acara ke acara lain.

 

hair-love-source-slashfilm
Hair Love (source: slashfilm.com)

 

Yang mendapat applause personal dari saya tentu saja Bong Joon-ho, sutradara dari Korea Selatan yang menjadi pusat perhatian dunia berkat Parasite. Saya tidak habis pikir, sudah berapa bulan dia berada di Amerika Serikat, untuk berkampanye tentang filmnya, menghadiri berbagai acara penghargaan, diskusi, seminar, wawancara, dan selalu terlihat sumringah. Membayangkannya saja sudah melelahkan. Apalagi menjalaninya. Maka kalau boleh saya sematkan gelar “Most Valuable Player” (MVP) di awards season kali ini, gelar itu paling layak diberikan ke Bong Joon-ho. Energi yang dia berikan di setiap acara selalu terlihat sama, konstan, dan menginspirasi. Salut untuk tim Bong Joon-ho.

Dan tentu saja, salut untuk film Parasite. Dari sekian ajang Academy Awards yang saya ikuti dari remaja, rasanya baru kali ini saya sangat bersemangat mengikuti setiap perjalanannya. Tentu saja dengan harapan bahwa film Parasite bisa mendapat banyak penghargaan. Film yang mungkin tidak akan hadir setiap satu, lima atau mungkin sepuluh tahun sekali, karena diperlukan kemampuan luar biasa dalam mengolah cerita dan mengeksekusinya dengan mulus, nyaris tanpa cela. Dan membawa interpretasi baru setiap kali kita menonton ulang.

 

Learning-to-Skateboard-in-a-Warzone-if-youre-a-girl_source_heyuguys
Learning to Skateboard in a War Zone (If You’re a Girl) (source: heyuguys.com)

 

Saya memang #TimParasite untuk Oscar tahun ini. Dan inilah semua pilihan saya, harapan saya, akan apa dan siapa saja yang layak membawa pulang Oscar tahun ini:

Best Picture of the Year: Parasite

Best Director: Sam Mendes (1917)

Best Actor: Joaquin Phoenix (Joker)

Best Actress: Renee Zellweger (Judy)

Best Supporting Actor: Brad Pitt (Once Upon a Time in Hollywood)

Best Supporting Actress: Laura Dern (Marriage Story)

Parasite-PasteMagazine
Parasite (source: Paste Magazine)

 

Best Adapted Screenplay: Jojo Rabbit

Best Original Screenplay: Parasite

Best Animated Feature: Klaus

Best Animated Short: Hair Love

Best Documentary Feature: Honeyland

Best Documentary Short: Learning to Skateboard in a Warzone (If You’re a Girl)

Marriage-Story-3-SparkChronicles
Marriage Story (source: Spark Chronicles)

 

Best International Film: Parasite

Best Live Action Short: Nefta Football Club

Best Cinematography: 1917

Best Costume Design: Little Women

Best Film Editing: Ford v Ferrari

Best Makeup and Hair Styling: Bombshell

Joker-LineToday
Joker (source: Line Today)

 

Best Production Design: 1917

Best Visual Effects: Avengers: Endgame

Best Original Score: Joker

Best Original Song: “(I’m Gonna) Love Me Again,” Rocketman

Best Sound Mixing: Ad Astra

Best Sound Editing: Ford v Ferrari

 

Kalau teman-teman sendiri, pilih apa?

Menghayati Makanan

PAṬI’SANGKHA yoniso bhojanang paṭi’sewami,

Newa dawaya na madaya na maṇḍanaya na wibhusanaya,

Yawadewa imassa kayassa ṭhitiya yapanaya wihingsuparatiya brahma-cariyanuggahaya,

Iti puraṇanca wedanang paṭihangkhami nawanca wedanang na uppadessami,

Yatra ca me bhawissati a’nawajjata ca phasu-wiharo cati.

Yang baru saja kamu baca tadi, populer dianggap sebagai “doa sebelum makan” dalam tradisi Buddhisme–khususnya mazhab Theravada–dengan sedikit penyesuaian penulisan agar lebih gampang dibaca.

Tenang aja… kamu enggak otomatis convert menjadi seorang Buddhis setelah membacanya, kok. Sebab, meskipun tercantum dalam salah satu bagian kitab suci Tipitaka (MN 39), makna syair demi syairnya tidak eksklusif menggambarkan atau mengacu pada ajaran Buddha saja.

Itu juga alasannya mengapa saya sebut “doa sebelum makan”; pakai tanda petik. Karena alih-alih berisi pujian atau ucapan terima kasih, “doa sebelum makan” ala Buddhisme ini lebih berupa perenungan, dan tidak ada peraturan yang mengharuskannya dibaca setiap kali sebelum menyantap makanan.

Supaya makin jelas, kurang lebih berikut artinya.

Secara cermat dan berhati-hati, saya menggunakan makanan ini,

Bukan untuk kesenangan; bukan untuk merasakan mabuk; bukan untuk menggemukkan badan; bukan pula untuk keindahan,

Tetapi hanya untuk mempertahankan kelangsungan (kerja) tubuh ini, menghentikan rasa tidak nyaman (akibat lapar), dan mendukung kehidupan luhur (yang tengah dijalani),

Demikianlah saya akan menghilangkan perasaan yang lama (lapar), dan tidak menimbulkan perasaan yang baru (dari makan yang berlebihan),

Dengan ini saya akan mempertahankan diri ini, menjauhi kesalahan-kesalahan, dan berdiam (hidup) dalam ketenteraman.

Poin-poin inilah yang–seyogianya–dihayati setiap kali ada hidangan tersaji di hadapan kami–umat Buddhis. Melihat makanan secara hakiki dan apa adanya; berupaya melepaskan diri dari kemelekatan terhadap rupa, aroma, dan rasa; serta tetap mampu berterima kasih atas bahan penunjang kehidupan yang diberikan/dibuatkan/dibeli, sehingga bisa dikonsumsi sebaik-baiknya dan tidak menyebabkan kemubaziran.

Pada dasarnya, perenungan ini dilakoni oleh para bhikkhu maupun samanera (calon bhikkhu) dalam keseharian. Alasannya, sebagai petapa selibat mereka telah melepaskan diri dari kehidupan duniawi, termasuk keleluasaan memilih/memasak/membeli makanan sendiri. Mereka hanya makan sekali atau dua kali setiap hari (konsepnya mirip intermittent fasting) dan merupakan donasi dari umat penyokong. Diberi, bukan meminta. Seperti yang kerap terlihat di negara-negara Indocina, ketika setiap pagi sebarisan bhikkhu membawa mangkuk masing-masing, menerima persembahan makanan dari umat.

Begitu pun bagi umat biasa, perenungan ini juga bertujuan untuk menyadarkan diri akan hakikat makanan. Selama makanan tersebut layak, dibuat secara baik, serta tetap mengandung nutrisi, makanan itu tetap bisa berfungsi sebagai pemberi asupan bagi tubuh dan menunjang proses berpikir. Tak ada sedikit pun ruang batin yang pantas diberikan untuk sifat kemaruk, rakus, tamak, banyak mau, susah dilayani, tidak perhitungan, dikendalikan oleh emosi yang mudah berantakan hanya gara-gara hal sepele, angkuh, dan sebagainya.

Saat kepingin makan sesuatu, mood tidak uring-uringan begitu mendapati restorannya tahu-tahu tutup. Tidak melekat; hanya mau makan makanan mahal dan mewah. Tidak gegabah; mengambil atau menumpuk makanan kesukaan sebanyak-banyaknya untuk kemudian tidak dihabiskan, atau malah menjadi begah.

Di sisi lain, sebagai umat biasa kita memang relatif sukar menghindari niatan makan untuk mendapatkan keindahan fisik. Bagi yang ingin bulking dan membangun massa otot, makan dalam jumlah banyak dan lebih sering dari biasanya. Sementara yang ingin langsing mengurangi porsi dan intensitas makan, menolak bahan-bahan makanan tertentu, atau justru disulitkan/menyulitkan oleh orang lain perihal makanan.

Image result for food for bulking"
Foto: YouTube

Keadaan-keadaan itu mustahil dihilangkan sepenuhnya, tetapi tetap bisa dibarengi dengan perenungan tentang makanan. Sekali lagi, setidaknya kita bisa berusaha agar tidak melekat. Melatih diri menghindari sikap yang bisa membuat kita marah-marah kepada orang lain hanya karena makanan, atau membuat hidup kita sepanjang hari terasa kacau berantakan hanya karena makanan.

Demikianlah. Dibawa santai saja.

Menghayati makanan sebagaimana adanya.

[]

Perenungan terhadap makanan di atas tertulis sesuai pelafalan penutur bahasa Indonesia. Dalam bentuk transliterasi latin aslinya, tertulis seperti berikut:
Paṭisaṅkhā yoniso bhojanaṃ paṭisevāmi,
Neva davāya na madāya na maṇḍanāya na vibhūsanāya,
Yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya vihiṃsuparatiyā brahma-cariyānuggahāya,
Iti purāṇañca vedanaṃ paṭihaṅkhāmi navañca vedanaṃ na uppādessāmi,
Yātrā ca me bhavissati anavajjatā ca phāsu-vihāro cāti.

Small Drops

Baru beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan serial “Grace and Frankieseason terbaru. Ada yang juga mengikuti serial ini?

Salah satu momen paling berkesan untuk saya di season terbaru ini justru ada di adegan kecil di episode-episode terakhir. Di episode ini (maaf saya lupa episode nomer berapa), diceritakan Robert Hanson (Martin Sheen) memberikan pidato singkat di pemakaman teman lamanya saat mengikuti pendidikan militer. Di tengah-tengah pidato, saat beberapa orang mengomentari pidato, partner Robert, Sol (Sam Waterston), sadar bahwa orang-orang mengira yang sedang berpidato adalah Robert Hansen, bukan Robert Hanson.

Sol memberitahukan hal ini kepada Robert. Robert pun bingung. Lalu istri mendiang almarhum menghampiri mereka. Dia mengklarifikasi kalau memang ada Robert Hansen, tapi Robert yang satu ini, meskipun lebih sering menghabiskan waktu bersama almarhum, justru lebih merepotkan. Sementara sang istri memang berniat mengundang Robert Hanson, yang sedang berdiri di depannya.

Robert bingung, kenapa dia yang diundang. Sementara dia sudah lama tidak pernah berjumpa lagi dengan almarhum.

Istri mendiang tersenyum. Dia menjelaskan, kalau pernah pada suatu masa, saat mereka menjalani pendidikan militer, almarhum nyaris tidak mendapatkan libur di suatu akhir pekan. Dia bisa mendapatkan libur akhir pekan kalau dia bisa melapor ke atasan dengan sepatu yang bersih. Sementara dia baru saja menjalani pelatihan.

Namun ternyata ada seseorang yang sudah mengetahui tradisi seperti ini. Dia pun buru-buru membersihkan sepatu rekannya, sehingga dia bisa mengambil libur di akhir pekan tersebut. Orang yang membersihkan sepatu itu adalah Robert Hanson. Robert menyadari dan mengingat lagi hal ini, setelah lupa sekian puluh tahun.

Robert masih bingung, kenapa hal itu menjadi penting. Istri almarhum mengatakan, bahwa di akhir pekan itu adalah saat pertama kali almarhum bertemu dengan sang istri, dan mereka telah menikah selama 50 tahun lamanya. Istrinya menambahkan, bahwa dia selalu menceritakan hal ini ke semua orang, karena dia percaya bahwa tanpa bantuan dari Robert, mereka tidak akan bertemu.

Terus terang adegan ini membuat saya mendadak terharu. Padahal serial ini jarang sekali menghadirkan momen mengharukan. Yang membuat saya terharu adalah, tentu saja, kenyataan bahwa kita tidak pernah tahu, sekecil apapun hal yang kita lakukan kepada orang lain, akan membawa dampak atau pengaruh yang akan melekat seumur hidup.

kindness-ggsc

 

Ayah saya pernah berkata dalam nasihatnya ke saya, agar kita tidak pernah mengingat hal-hal baik yang kita lakukan ke orang lain, dan selalu ingat kesalahan yang pernah kita lakukan ke orang lain, meskipun kita sudah maaf. Tentu saja agar kita tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut.

Namun ternyata hal ini berat sekali dilakukan. Apalagi kalau kita sedang marah, kita cenderung mengungkit hal-hal yang membuat kita seolah-olah berada di atas angin. Seolah-olah derajat kita lebih tinggi, lebih mulia dari orang yang sedang kita hadapi.

But will it do any good? There is no good in doing that, after all.

Saya tidak tahu apakah saya akan mengalami hal yang sama dengan yang Robert Hanson alami, meskipun dia karakter fiktif, lima puluh tahun lagi. Saya juga tidak tahu apakah saya pernah dan sudah melakukan hal baik ke orang lain selama ini. Yang bisa saya sadari untuk lakukan adalah berusaha sebisa mungkin, pelan-pelan, tidak menyakiti orang lain dengan sengaja. Dan memaafkan orang lain truthfully, wholeheartedly.

They are small steps, one day at a time.

There is No Magic Pill

images

Bukannya sombong, bukannya congkak, tetapi sepertinya pola makan dan kebiasaan olahraga saya lebih sehat dari kebanyakan orang ya. Hal ini juga cukup sering menjadi bahan pembicaraan dan pertanyaan, untuk yang seolah tertarik untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih baik demi masa depan yang sehat dan (Insya Cosmos) bebas dari sakit berat.

Tetapi setiap kali saya berusaha menjawab dan menceritakan bagaimana memulai dan apa kebiasaan, walaupun saya sudah meyakinkan dan bertanya ulang apakah orang tersebut sungguh ingin mendengarkan hal yang menurut saya cukup membosankan dan tidak terlalu menarik untuk orang kebanyakan, dalam beberapa menit wajah yang terlihat mendengarkan secara saksama akan berubah menjadi mata yang menerawang dan pikiran yang terbang entah ke mana.

“Foto dong, apa yang kamu makan setiap hari!” sebagian besar begitu melihat makanan yang isinya hanya sayur mayur dan sedikit saja daging, langsung tidak pernah tanya lagi.

“Apa sih rahasianya supaya rajin bangun pagi untuk olahraga?” Ketika saya cerita awalnya berat banget, kemudian cukup memaksakan diri untuk berangkat tanpa berpikir panjang, ditambah dengan energi yang harus disalurkan setelah tubuh diberi asupan yang benar, banyak yang kehilangan minat untuk menyelidiki lebih lanjut.

Jika melihat tren pesan-pesan yang diteruskan sampai ribuan kali di Whatsapp grup, sepertinya semua orang merindukan satu superfood atau pil ajaib, yang ketika kita konsumsi akan menyelesaikan masalah kesehatan. Makan pisang, dan Anda pasti akan terbangun jam 5 pagi dan ingin berolahraga setiap hari! Minum suplemen jinten hitam, dijamin apa pun yang Anda makan tidak akan jadi lemak! Makan paria setiap hari, pasti akan terbebas dari penyakit kardiovaskuler! Sekali usap saja, salep ini akan menghilangkan selulit selamanya! Minum protein powder ini dan olahraga apa pun akan dijalani dengan mudah!

Kenyataannya, walaupun berat mengakui, sebenarnya kita semua sudah tau, enggak ada itu satu hal ajaib yang bisa mengubah semuanya jadi lebih baik. Bahkan jika olahraga saja tetapi makan tetap banyak processed food risiko mati muda penyakit tetap akan tinggi. Begitu juga jika kita makan sehat tanpa berolahraga, tidak menjadikan kita otomatis fit dan memiliki otot keren (walau kemungkinan jadi lebih tinggi kita akan jadi jauh lebih sehat). Jangan percaya dengan satu hal yang disebutkan di pesan terusan di group chat dan diklaim bisa mencegah penyakit ini itu.

Banyak makanan sehat dan sebisa mungkin kita harus makan semua itu dalam jumah secukupnya untuk kesehatan optimal. Begitu juga dengan olahraga. Jika ingin semua fungsi tubuh lengkap bisa dilakukan sampai tua, ternyata kurang kalau kita hanya memilih satu olahraga saja. Penginnya kan bisa dengan mudah jongkok, lompat, jalan jauh, lari, sampai berdansa sampai tua ya! Saya kira latihan beban dan HIIT saja cukup, ternyata otot saya jadi kaku seperti meja belajar. Karena itu mulai melengkapi dengan kardio juga, lalu latihan peregangan dan fleksibilitas seperti yoga dan pilates.

Sehat itu ribet ya? Iya! Tetapi kalau kita memperlakukan tubuh dengan penuh cinta, dia akan mencintaimu 1000 kali. Bentuknya seperti apa? Musim flu Anda tak terkena, jalan seharian tak masalah, dansa sampai pagi enggak boyok, bahkan saya pernah lo, terkena virus DB (tertular dari seisi rumah yang sakit) tetapi tidak termanifestasi gejalanya. Baru ketahuan ketika beberapa tahun kemudian saya tumbang betulan, ternyata sebelumnya saya sudah pernah terinfeksi virus, tetapi belum terkena panyakitnya.

download

Kado

Semalam, saya mampir ke toko buku dalam perjalanan pulang. Tidak ada rencana sebelumnya untuk mengunjungi toko ini, meskipun sudah lama saya tidak pergi ke sana. Tidak ada niat pula untuk membeli buku baru, karena masih ada beberapa buku yang belum sempat dibaca.

Makanya saya melangkahkan kaki ke bagian perlengkapan alat tulis, alat-alat elektronik dan pernak-pernik lainnya. Melihat rangkaian barang yang dipajang, mulai dari pulpen sampai jam tangan, mulai dari buku catatan sampai tas sekolah, sontak saya tersenyum sendiri.

Tiba-tiba saja pikiran saya teringat kembali saat masih di bangku sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu. Seorang sahabat saya waktu itu selalu mengajak saya untuk mencari kado buat pacarnya. Mereka memang sudah pacaran beberapa bulan saat kami baru masuk sekolah itu. Sampai kami lulus pun, mereka masih pacaran. Jadi bisa dibayangkan, setidaknya ada tiga kali ulang tahun di mana saya harus menemani sahabat saya mencari kado yang “sempurna” untuk pacarnya. Belum lagi anniversary, atau momen-momen lain di mana secara mendadak teman saya memutuskan untuk memberikan sesuatu barang buat pacarnya.

Sampai-sampai saya sendiri yang kadang harus mengingatkan untuk mencari kado.

“Sudah bulan November, nih!” (Ini berarti ulang tahun pacarnya.)

“Sudah mau bulan Agustus ini!” (Ini berarti ulang tahun pacaran mereka.)

Berhubung saat itu saya tinggal di kota yang tidak sebesar tempat tinggal sekarang, maka pilihan pencarian kado kami cukup terbatas. Tak jarang kami menghabiskan waktu hampir seharian, mulai dari jam 10 pagi saat toko-toko baru buka, sampai jam 7 malam, saat kami kelaparan karena skip makan siang. Tak jarang pula pada akhirnya kami malah kembali ke toko yang pertama kali kami tuju, karena setelah pergi ke toko-toko lain, tidak ada barang yang sesuai. Harap diingat juga, isi kantong pelajar tidak bisa memberikan kami banyak pilihan juga.

Kadang-kadang, meskipun bercanda, saya sempat kesal juga, dan berkata ke teman saya, “Tiap tahun kita selalu kayak gini, ya? Gak capek apa? Lagian dia pasti terima apapun kado dari kamu. ‘Kan dari pacarnya. Kamu kasih sendal jepit beli di warung terus kamu ukir nama dia pakai silet, juga pasti diterima!”

crop380w_istock_000016975754xsmall

 

Teman saya tertawa, dan saya pun tertawa. Meskipun kami tidak pernah melakukan hal itu, kami sadar bahwa sebenarnya yang menyenangkan adalah proses mencari barang tersebut. Itu satu hal. Looking back, ternyata proses mencari kado ini semacam road trip murah buat dua pelajar dengan kantong pas-pasan saat itu.

Hal lain yang menyenangkan, tentu saja melihat reaksi orang yang menerima kado pemberian dari orang yang disayang.

Tentu saja saya tidak pernah tahu reaksi pacar teman saya saat menerima kado-kado tersebut. Ya masak saya ikut? Tentu saja saya juga tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah kami cari selama tiga tahun di bangku sekolah tersebut. Saya pun tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah saya berikan kepada dan terima dari mantan-mantan pacar.

Yang akhirnya saya ingat cuma rasa. Rasa senang saat berusaha mencari tahu, barang apa yang kira-kira pas untuk orang lain. Rasa kesal saat terus mencari tanpa henti. Rasa senang saat akhirnya kita tahu apa yang kita mau, dan bisa mendapatkan barang tersebut. Rasa deg-degan saat membungkus kado, dengan banyak harapan dan rasa deg-degan membayangkan reaksi apa kira-kira yang didapatkan nantinya. Rasa lega saat reaksi tersebut sesuai dengan yang kita bayangkan.

Dan itu sudah cukup menjadi kado buat diri kita sendiri.

c7d021_c428781b9407436c986c4ad9ed24debf_mv2

Keberuntungan Itu Bernama “Rasa Cukup”

KEBERUNTUNGAN. Keberhasilan. Umur panjang. Orang Tionghoa pada umumnya mengenal tiga serangkai ini sebagai “fu, lu, shou” (福祿壽); keadaan yang selalu didambakan–dan dikejar–dalam hidup.

Simbol “fu”, “lu”, “shou”.
Gambar: ucxinwen.com
Image result for fu lu shou
Foto: Wikimedia

Simbol dan ornamennya tersebar di mana-mana. Mulai tulisan/aksara Tionghoa dengan berbagai gaya, hingga lukisan maupun patung tiga sosok dewa yang dianggap identik dengan ketiganya. Termasuk yang jadi logo Amer Cap Orang Tua, dan yang juga ada di kotak bungkus misoa, makanan khas di setiap perayaan ulang tahun ala Tionghoa.

Related image
Gambar: stickpng.blogspot.com

“Fu” selalu disebut di urutan pertama, lantaran dianggap paling penting dibanding dua yang lainnya. Itu ibarat kata, jika seseorang harus memilih hanya satu dari ketiganya.

Mengapa? Sebab keberuntungan akan selalu memberikan kebahagiaan yang paling signifikan. Terjadi di saat yang tepat, dengan dampak yang tepat, serta tidak menyisakan potensi masalah baru kemudian. Karena itu pula, keberuntungan menjadi hal yang paling sulit ditemukan, diraih, dan dipertahankan. Keberuntungan itu misterius, muncul dan hilang tanpa bisa ditahan atau dikendalikan.

Berikut perbandingannya lebih lanjut.

“Lu” diartikan sebagai keberhasilan dalam konteks pencapaian sosial dan ekonomi. Berhasil mencapai sesuatu, seperti status; kedudukan bisnis; jenjang karier yang terus meningkat; termasuk kenaikan gaji serta keuntungan finansial yang mengiringinya. Demi mencapai “lu”, seseorang mesti berusaha keras, dan cerdas. Akan lebih baik lagi apabila didukung dengan adanya bakat serta keahlian. Namun, semua itu baru akan menjadi kombinasi yang pas dan meluncur tanpa halangan dalam situasi atau momen yang tepat. Di situlah muncul “fu”, keberuntungan.

Sesuai artinya, “shou” menunjukkan kehidupan yang lestari. Seseorang bisa hidup lebih lama, dan dijauhkan dari kematian yang menakutkan. Namun, usia yang panjang justru bisa menjadi siksaan apabila dipenuhi kekurangan dan kemalangan.

Berusia panjang, tetapi selalu sakit-sakitan, misalnya. Kehidupan pun menjadi terganggu, dan merasa merepotkan atau membebani orang lain. Membuat berpikir bahwa kematian mungkin bisa menjadi solusi terbaik atas keadaan ini.

Berusia panjang, tetapi selalu kekurangan. Selalu merasakan hidup yang sengsara, jarang bahagia.

Termasuk yang satu ini, berusia panjang, tetapi ditinggalkan dan kesepian. Hidup dengan penuh siksaan batin.

Lagi-lagi dengan keberuntungan, usia panjang menjadi berkah yang membahagiakan. Bisa menjalani sisa usia dengan kesehatan dan kebugaran; berada dalam kondisi berkecukupan; maupun merasa terkasihi atau dicintai banyak orang. Sampai pada akhirnya bisa berpisah dengan kehidupan secara baik-baik; mengalami kematian yang tidak menyakitkan atau pun merepotkan.

Demikianlah keberuntungan.

Lalu, bagaimanakah caranya mengejar keberuntungan?

Ada yang berpandangan bahwa keberuntungan bisa dikondisikan lewat kemakmuran. Selama masih memiliki harta, maka masih berkesempatan untuk mengupayakan hal-hal baik yang mendukung keberhasilan maupun umur panjang.

Terhadap “lu”, harta dapat digunakan untuk melanggengkan keberhasilan; mempertahankan dan makin meningkatkan pencapaian. Harta juga bisa digunakan untuk menjaga kedudukan dan status sosial ekonomi di mata masyarakat. Jaminan supaya tetap menjadi orang terpandang.

Mengenai “shou”, harta dapat dimanfaatkan untuk menjaga dan menyembuhkan dari gangguan kesehatan. Kendati masih berupa upaya; entah berhasil atau tidak.

Harta juga dapat menghidupkan suasana, membuat situasi yang sepi menjadi ramai, menghimpun banyak orang. Entah apakah mereka benar-benar peduli dengan si pemilik harta, atau sekadar aji mumpung menjadi benalu.

Pandangan tentang kemakmuran tadi mendorong banyak orang bersusah payah, pontang-panting mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Beberapa di antaranya malah tidak lagi peduli dengan sekitar dan menghalalkan segala cara. Pada akhirnya, apa yang mereka anggap mampu membuat bahagia, justru menyeret mereka ke realitas sebaliknya. Sisa hidup pun dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan berlebihan, ketidakwarasan, penyakit, serta ketidakberdayaan menghadapi kenyataan.

Dari sudut pandang “fu”, tidak ada yang salah dengan dorongan untuk mencari dan mengumpulkan harta. Hanya saja, titik akhirnya tidak terletak pada keberlimpahan, melainkan ketercukupan. Prinsip ini pun menjalar ke pertanyaan berikutnya, “Seberapa cukup?

Semua orang tentu punya jawabannya masing-masing, dan secara pribadi, saya yakin bahwa (1) rasa cukup bisa membahagiakan, dan (2) kebahagiaan itu bisa mencukupi.

Sungguhlah beruntung bila mampu merasa sungguh-sungguh cukup.

Saya ingin tutup tulisan hari ini dengan satu pertanyaan perbandingan. Mana yang lebih memberikan rasa bahagia; meminum segelas air putih saat sedang haus-hausnya di siang hari yang panas, atau meminum segelas air putih untuk membantu menelan makanan?

[]