Sepuluh Tayangan Televisi Yang Membuat Betah di Rumah di Tahun 2018 – #rekomendasistreaming

Sejak kembali beraktivitas mengkurasi dan memprogram festival film, terus terang waktu saya untuk menonton serial televisi makin terkikis tahun ini. Ada beberapa serial yang sampai sekarang masih belum sempat saya tonton karena tidak ada waktu luang (“Maniac”, “The Kominsky Method”), ada beberapa serial yang sudah saya lepaskan dari jadwal rutin menontonnya, dan ada juga beberapa serial yang sudah saya sempatkan cari waktu luangnya, namun malah berujung kekecewaan (“House of Cards” season 6).

Untungnya, sebagian besar tayangan televisi yang saya tonton tahun ini, for the lack of better word, sangat memuaskan. Lagi-lagi televisi dan internet masih lebih berani dan beragam dari film layar lebar untuk urusan cerita dan kekuatan karakter. Lihat saja, sebagian besar karakter perempuan yang kompleks dan kuat ada di televisi. Meskipun saya kecewa dengan “House of Cards” terakhir, mau tidak mau saya akui bahwa Claire Underwood adalah salah satu karakter perempuan paling tajam yang pernah ada di era televisi modern. Mungkin malah sepanjang masa.

Tidak ada cerita yang “itu-itu lagi” maupun orang yang “itu-itu lagi” di tayangan televisi. Apalagi kehadiran televisi sekarang sangat beragam, ditambah dengan video streaming applications yang menawarkan konten yang beraneka rupa. Saking banyaknya serial televisi, tidak mungkin kita bisa menghabiskan seluruh waktu kita untuk menonton semua serial yang ada. Konon katanya perlu 7 kehidupan manusia in their entire lifetimes untuk menghabiskan tontonan yang ada di Netflix sekarang.

Jangan khawatir. Tidak perlu menghabiskan seumur hidup sampai akhir hayat untuk menonton serial-serial pilihan saya tahun 2018 ini. Cukup beberapa hari sepanjang liburan akhir tahun, dan selesai! Ini dia:

[sepuluh] The Americans – Season 6

theamericans-season6

The Americans

Puas! Itu kesan pertama saya saat melihat episode terakhir di season terakhir serial tentang keluarga yang berprofesi sebagai mata-mata Rusia di Amerika Serikat di era 1980-an ini. That long confrontation scene in the garage! The wordless shock of the stare on the train! The final scene! Susah rasanya buat saya sekarang membayangkan Matthew Rhys dan Keri Russell sebagai karakter lain selain Philip dan Elizabeth Jennings yang mereka mainkan dengan gemilang selama 7 tahun. Kedua karakter inilah yang memang membuat Rhys dan Russell dikenal sebagai aktor handal. Perhatikan saja di setiap adegan yang tidak memerlukan banyak dialog di sepanjang serial ini. Their eyes speak volumes. And they really do elevate and grow with the series. Saya akan merindukan serial ini.

[sembilan] Wild Wild Country

Wild Wild Country Netflix documentary in six parts 2018

Wild Wild Country

Miniseri dokumenter ini memang dibuat untuk mengagetkan kita. Cukup dengan menyajikan cold hard fact and findings, ditambah dengan testimoni di wawancara para pelaku kejadian yang masih menyiratkan rasa tidak bersalah mereka, maka kita cuma bisa menggelengkan kepala sepanjang menonton miniseri ini. Susah dipercaya bahwa negara sebesar Amerika Serikat di tahun 1980-an pernah nyaris jatuh ke tangan segelintir orang yang memanipulasi agama, but hey, isn’t it still happening right now in c-e-r-t-a-i-n parts of the world? Sebuah tontonan yang membuka dan membelalakkan mata kita.

[delapan] Killing Eve – Season 1

killing-eve-poster

Tiga kata berawalan huruf S patut disematkan untuk serial ini: smart, sassy, sexy. Tidak pernah saya duga sebelumnya kalau Sandra Oh bisa tampil meyakinkan sebagai detektif cekatan, dan dengan matching rival di tangan Jodi Comer sebagai Eve, maka cat-and-mouse-game plot di serial ini menjadikannya sebuah tontonan yang cerdas, sekaligus adiktif.

[tujuh] BoJack Horseman – Season 5

bojack_horseman_ver4_xlg

BoJack Horseman

Pernah punya teman atau kenalan yang nyinyirnya luar biasa, namun semakin tua, malah jadi semakin dewasa? Belum tentu bijak ya, tapi jadi lebih mature? Demikianlah yang bisa saya deskripsikan dari favourite has-been celebrity saya yang bernama BoJack Horseman ini. Cerita komedi satir serial animasi tentang kultur selebritas yang kejam ini masih penuh sarkasme dan dialog yang menohok. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa karakter BoJack pelan-pelan sadar akan usianya yang semakin menua, dan dalam beberapa episode mulai terkesan wistful dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Hal yang malah membuat serial ini semakin mengesankan saat ditonton.

[enam] The Marvelous Mrs. Maisel – Season 2

marvelous-mrs-maisel-poster-season2-408x600

The Marvelous Mrs. Maisel

Season pertama serial ini hadir bagaikan pelangi setelah hujan panjang. It’s magical. Lalu bagaimana dengan season kedua yang baru saja hadir di awal bulan Desember? Ternyata masih penuh dengan kejutan dan, ini yang penting, masih sangat lucu. Terima saja episode season finale yang terasa terburu-buru dan terlalu menumpuk cliffhangers untuk keterlanjutan serial ini. Toh itu tidak bisa menutupi kecemerlangan beberapa episode awal, seperti adegan stand-up comedy dalam bahasa Perancis dan Inggris secara simultan yang brilian, dan setiap penampilan Mrs. Maisel di atas panggung yang kali ini terasa jauh lebih matang. This is a gem worth watching.

[lima] Bodyguard

bodyguard-poster

Bodyguard

Now this, this is sexy. Sempat saya kira serial ini adalah adaptasi dari film berjudul sama yang pernah dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston tahun 1992 dulu, namun kemiripan hanya terletak pada judul. Serial dari Inggris ini memang sedikit mengingatkan dengan cerita spionase di film-film 1990-an, lengkap dengan bumbu intrik, skandal, dan sejenisnya. Dibalut dengan latar cerita soal terorisme, serial ini sebenarnya mengungkap banyak hal tentang PTSD (post traumatic stress disorder). Namun kalau kita lebih tertarik mengikuti serial ini karena keseksiannya, ya sudah, nikmati saja.

[empat] The Looming Tower

theloomingtower

The Looming Tower

Now this, this is serious. Awalnya saya sempat “takut” mengikuti serial yang terlihat serius dari trailer dan posternya. Setelah menonton episode pertama, saya sadar bahwa serial ini memang serius. Namun saya tertarik untuk terus mengikuti, karena perlahan-lahan serial ini membawa kita memahami aneka peristiwa yang terjadi sebelum 9/11, yang mempengaruhi proses dan hasil investigasi terkait kejadian naas tersebut. Serial ini sengaja tidak memberikan konklusi yang sahih, karena masih terlalu banyak lapisan soal 9/11 yang belum tuntas di kehidupan nyata.

[tiga] Barry – Season 1

Barry season 1 poster HBO key art

Barry

Serial ini sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak dari episode pertama. What can I say, Bill Hader memang jenius. Ide cerita untuk menempatkan seorang pembunuh bayaran mengikuti kelas akting, menurut saya adalah ide gila yang kalau eksekusinya tidak meyakinkan akan gagal total. Namun serahkan saja pada Hader untuk membuat awkward comedy menjadi sebuah tontonan komedi kelas tinggi yang sangat, sangat menghibur. You won’t regret watching every single episode.

[dua] The Good Place – Season 2

thegoodplace

Terus terang saya telat menonton serial ini. Setelah berulang kali diyakinkan teman saya untuk menonton serial ini, akhirnya baru di pertengahan tahun mulai menonton musim penayangan pertamanya. Beberapa episode awal membuat saya merasa aneh, karena humornya tidak biasa. Lama kelamaan akhirnya saya mulai suka, karena sudah terbiasa dengan karakternya. (Kok seperti proses PDKT waktu mau pacaran ya?) Tapi di season kedualah yang membuat saya takjub dengan serial ini. Muatan teori filsafat, etika dan humaniora dengan mulus diselipkan dalam dialog dan alur cerita, tanpa mengesampingkan pentingnya sebuah serial komedi menjadi lucu. It’s one smart show, if not the smartest comedy show of the year.

[satu] QUEER EYE – Season 1 & 2

queereye

How many shows can make us laugh, cry and feel good at the same time? Rasanya tidak banyak. Dari yang tidak banyak itu, hanya satu yang paling spesial dan sangat membekas di hati saya, yaitu serial “Queer Eye”. Belasan tahun yang lalu, saya mengikuti serial asli “Queer Eye for the Straight Guy” yang menjadi basis serial reality show yang sekarang menjadi program andalan Netflix ini. Alih-alih sekedar mengulang serial aslinya, serial baru justru lebih dari sekedar make-over show. Kelima pria yang menjadi tulang punggung acara ini jelas-jelas membuat dunia lebih baik lewat misi mereka untuk mengubah hidup satu orang.
Menonton “Queer Eye” tidak hanya membuat kita kagum dengan perubahan yang dialami setiap satu orang di satu episode. Namun perubahan yang kita lihat mau tidak mau membuat kita mengakui bahwa setiap orang berhak untuk hidup lebih baik. Dan kesadaran ini, harus diakui, eventually makes us a better person.
And we become a better person, indeed, after watching the show, and accepting the show.
Pantaslah kalau serial ini menjadi pilihan saya sebagai serial favorit saya tahun ini.

Apa tontonan favorit Anda tahun ini?

Advertisements
Mannequin

Bertukar untuk Kebutuhan dan/atau Keinginan

SENDIRIAN di salah satu meja Starbucks depan halte Harmoni, pandangannya menerawang. Jelas, ia tak sedang menatap etalase gelas dan botol-botol minum yang terpajang di samping pintu, sebab pikiran dan kesadarannya sedang tak berada di situ.

Sama sekali tak terusik dengan orang yang berlalu lalang di depannya; yang menggeser-geser meja dan kursi di sebelahnya; yang naik dan turun tangga di sudut ruangan. Ia sepenuhnya tercerap dalam benaknya sendiri.

Enaknya menulis tentang apa?” Ia membatin. Jelas tak mengharapkan munculnya jawaban seketika.

Lagu-lagu berbahasa Inggris soal Natal diputar sebagai latar. Maklum, sudah bulan Desember. Itu sebabnya pula, koleksi gelas dan botol-botol minum yang dijual di sana berhias ornamen setema. Sesekali menarik perhatian pengunjung, membuat mereka berdiri dan mengamati untuk beberapa lama. Ada beberapa di antaranya yang langsung membeli, ada juga yang harus pakai acara berdiskusi.

Kamu ngapain beli? Buat apa?
Ya buat dipakai. Buat minum.
Kan tumbler-mu sudah banyak di rumah, masih bagus-bagus. Ngapain beli lagi?
Ini kan lucu. Edisi Christmas 2018.
Terus kenapa? Kenapa mesti beli?
“Pengen punya.

Mendengar potongan percakapan itu, dia berpikir bahwa adalah hak setiap orang untuk membeli apa pun yang ia inginkan. Asalkan punya uang yang cukup, dan barang tersebut memang tersedia dan memang dijual. Tak ada yang aneh dari realitas tersebut.

Namun, bagaimana dengan kegunaannya? Kadar manfaat dan pemanfaatannya, apa pun benda yang dibeli. Bagaimana dengan perihal kesia-siaan, kemubaziran, dan kekurang-bergunaan yang biasanya baru disadari belakangan? Bagaimana bila justru saking tidak bergunanya barang yang dibeli tadi, ujung-ujungnya malah menjadi sampah, rongsokan, yang bukan hanya membuang-buang uang, tetapi juga menyita tempat penyimpanannya, dan bahkan berpotensi menjadi limbah yang meracuni air, merusak lingkungan, sukar terurai.

Apakah seseorang bisa lepas dari tanggung jawab tersebut? Tanggung jawab atas apa yang ia beli, apa yang ia pergunakan, apa yang tak ia pergunakan, termasuk apa yang ia buang.

Apakah juga merupakan hak setiap orang untuk lalai dalam pengeluaran dan pengaturan keuangan? Jika demikian, seseorang semestinya juga hanya berhak untuk menyesali dan menyalahkan dirinya sendiri ketika tengah mengalami kekeringan finansial atau kurang uang.

Ia teringat akan ungkapan:

Membeli karena butuh, bukan sekadar ingin.

Ada guna, berguna, dan kegunaan di dalamnya.

Antara kebutuhan dan keinginan. Mustahil untuk dapat membahasnya dalam poin-poin kesimpulan yang sumir. Setiap orang memiliki segudang pertimbangan berbeda dalam mengkategorisasi hal-hal yang ia butuhkan, dan yang dia inginkan. Kendati di sisi lain, tak menutup kemungkinan ada orang-orang yang malah belum tahu atau belum mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Wajar saja, tak semua orang memiliki pemahaman, latar belakang sosial ekonomi, serta perilaku ekonomi yang sama. Apa yang dinilai penting bagi seseorang, belum tentu sepenting itu pula bagi seseorang lainnya. Hal ini memberi dampak pada pengalaman kehidupannya masing-masing. Kenyamanan dan keleluasaan, kesusahan dan kesempitan tentu dialami secara perorangan. Ada banyak faktor yang memengaruhinya pula.

Terlepas dari semua itu, terdapat beberapa hal yang disepakati bersama. Kita perlu uang untuk membeli sebagian besar barang keseharian; kita memperoleh uang lewat berbagai cara, termasuk bekerja maupun mendapatkan pemberian; dengan memiliki simpanan, kita cenderung leluasa untuk melakukan pembelian. Maka, saat kita membeli apa pun, itu artinya kita mempergunakan uang yang barangkali telah didapatkan dan kumpulkan lewat usaha.Tak elok bersikap kikir dan melekat, akan tetapi boleh-boleh saja untuk bersikap cermat. Orang Jawa menyebutnya dengan sikap éman-éman~ sayang. Seyogianya dipergunakan sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, ada ungkapan berbeda yang terlintas:

We’re creating the demand. We make people buy things they don’t need.

Keberhasilan eksistensial sebuah perusahaan tergambarkan lewat omzet, aset, capaian, dan raihan. Semua diukur secara progresif, artinya selalu meningkat dari waktu ke waktu. Terus memberikan angka yang positif dan surplus, menghindari angka yang negatif dan minus. Lihat saja, angka target pasti selalu bertambah, setidaknya berupa persentase.

Begitupun dengan para pekerjanya. Seorang pemasar, atau tim pemasar yang baik, adalah yang mampu mendorong terjadinya peningkatan penghasilan. Tentu saja lewat peningkatan penjualan. Menggunakan berbagai cara, sudut pandang, dan pendekatan, mereka membuat orang menjadi ingin; mereka mengubah keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan; mereka mendorong terjadinya penjualan. Itulah gambaran dasar dari sebuah kesuksesan profesional. Silakan refleksikan pada pekerjaan Anda saat ini.

Semua pekerjaan sejatinya adalah jual beli. Tak hanya barang serta benda-benda fisik, tenaga, suara, komunikasi, pemikiran, sampai identitas, dan jati diri. Selalu ada yang dipertukarkan. Seorang abdi menjual kepatuhan dan dedikasinya kepada sang tuan. Sang tuan membelinya dengan kepercayaan dan sejumlah imbalan.

Sama halnya dengan Anda dan perusahaan tempat Anda bekerja. Anda memang menjual produk dan jasa kepada orang lain, tetapi Anda pun sebenarnya menjual komitmen dan kemampuan kepada perusahaan, demi karier dan penghasilan rutin. Lihatlah secara netral dan apa adanya; apakah itu yang Anda butuhkan, atau inginkan?

Jangan sampai terjebak dilema,” ia bicara dalam hati. Kemudian bersiap pergi. Dia lapar.

Selamat berbelanja.

[]

Buku(-Buku) Tahun Ini

Kalau saya hanya boleh mengutip satu buku saja dari beberapa buku yang saya baca tahun ini, maka mau tidak mau saya akan hanya bisa mengutip bagian terakhir dari buku berjudul “The Humans” karya Matt Haig. Kenapa? Karena di bagian ketiga buku ini, Matt Haig membuat daftar bertajuk “Advice for a Human” sebanyak 97 poin. Saya menyebutnya sebagai manifesto kehidupan.

Kalau beberapa poin terkesan seperti ‘menggurui’, mungkin itu memang disengaja oleh penulisnya. Lagi pula, poin-poin ini masih sesuai dengan sudut pandang karakter utama yang menjadi narator novel ini, yaitu “seorang” alien yang datang ke bumi, menyamar menjadi profesor dengan jenis kelamin laki-laki. Kedatangan alien ke muka bumi untuk, seperti tipikal cerita fiksi ilmiah kebanyakan, menghancurkan kehidupan umat manusia. Namun dalam penyamarannya, alien ini malah takjub dengan flawed characteristics of human beings, dan jatuh cinta dengan cara manusia menjalani kehidupannya.

71VpFLTP-bL

Kalau terdengar klise, memang novel ini klise. Tidak ada yang baru. Tapi bukan berarti hal itu menjadikan novel ini tidak layak baca. Justru sebaliknya. Bab demi bab dihadirkan dengan mulus dalam jalan penceritaan, membuat kita susah berpaling. Seperti layaknya buku cerita yang baik, dengan mudah kita jatuh cinta pada karakter utama, dan rela mengikuti perjalanan beratus-ratus halaman, sampai di bagian akhir.

Kalau tidak percaya, baca saja beberapa poin dari bab “Advice for a Human” di buku “The Humans” ini:

[one] Shame is a shackle. Free yourself.

[two] Don’t worry about your abilities. You have the ability of love. That is enough.

[four] Technology won’t save humankind. Humans will.

[five] Laugh. It suits you.

[nine] Sometimes, to be yourself you will have to forget yourself and become something else.

[eleven] Sex can damage love but love can’t damage sex.

[fifteen] The road to snobbery is the road to misery. And vice versa.

[twenty-two] Don’t worry about being angry. Worry when being angry becomes impossible. Because then you have been consumed.

[twenty-four] New technology, on Earth, just means something you will laugh at in five years. Value the stuff you won’t laugh at in five years. Like love. Or a good poem. Or a song. Or the sky.

[thirty] Don’t aim for perfection. Evolution, and life, only happen through mistakes.

[thirty-seven] Don’t always try to be cool.The whole universe is cool. It’s the warm bits that matter.

[forty-one] Your brain is open. Never let it be closed.

[forty-four] You have the power to stop time. You do it by kissing. Or listening to music. Music, by the way, is how you see things you can’t otherwise see.

[forty-six] A paradox: The things you don’t need to live – books, art, cinema, wine and so on – are the things you need to live.

[fifty-one] Alcohol in the evening is very enjoyable. Hangovers in the morning are very unpleasant. At some point you have to choose: evenings or mornings.

[fifty-three] Don’t ever be afraid of telling someone you love them. There are things wrong with your world, but an excess of love is not one.

[fifty-eight] It is not the length of life that matters. It’s the depth.

[sixty-one] One day, if you get into a position of power, tell people this: Just because you can, it doesn’t mean you should. There is a power and a beauty in unproved conjectures, unkissed lips, and unpicked flowers.

[sixty-five] Don’t think you know. Know you think.

[seventy-three] No one will understand you. It is not, ultimately, that important. What is important is that you understand you.

[seventy-five] Politeness is often fear. Kindness is always courage. But caring is what makes you human. Care more, become more human.

[eighty-two] If you think something is ugly, look harder. Ugliness is just a failure of seeing.

[ninety-five] Be kind to your mother. And try to make her happy.

[ninety-seven] I love you. Remember that.

Wow. There you go.

Bahkan saya sempat gemetaran sendiri saat menulis ulang poin-poin di atas. Padahal buku ini selesai saya baca di bulan Juni, namun efeknya masih terasa sampai sekarang.

Demikian juga dengan buku-buku lain yang membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya, yaitu “Less” karya Andrew Sean Greer dan “Spoiler Alert: The Hero Dies” karya Michael Ausiello. Bahkan judul kedua membuat saya diam-diam menitikkan air mata, walaupun sambil tersenyum.
Kok bisa?

Baca saja sendiri, ya. Mumpung cukup banyak waktu luang di akhir tahun.

Selamat membaca!

1_C76PXdoMXtysxqiwkS5iow

PS: Apa buku kesukaan Anda tahun ini?

Spark firework

Ribet Tak Usah Dicari

TAK kenal maka tak sayang, setelah kenal kok malah jadi bajingan?

Banyak dari kita yang pernah, atau tengah merasakan situasi ini. Sebab manusia dengan segala dimensi perasaannya, pasti cenderung tidak netral saat menghadapi sesuatu dalam kehidupannya.

Ada sesuatu yang diharapkan dari seseorang, atau suatu keadaan. “Mudah-mudahan nanti begini“; “semoga nanti begitu“; dan sebagainya. Di sisi lain, ada keraguan dan kekhawatiran baik kepada seseorang yang sama maupun berbeda. “Kenapa begitu, sih? Jangan-jangan…“; “khawatirnya, dia nanti begini…

Tanpa banyak disadari, dua aspek yang saling sebelah-menyebelah ini merupakan sumber kekecewaan. Dari kekecewaan berkembang menjadi kesedihan, ketidaknyamanan, ketidakterimaan atau penolakan, ratapan, penyesalan, atau penderitaan secara umum.

Sekarang, ingin melakukan pendekatan model apa? Yang lebih berorientasi pada diri sendiri, atau justru terfokus pada yang lain?

Pada Diri Sendiri

Kita, diri sendiri ini, adalah subjek sekaligus objek harapan, kekhawatiran, dan kekecewaan. Kita yang menjalani dan terlibat dalam segala prosesnya, kita jugalah yang mengalami hasilnya. Hal-hal yang berada di luar sana merupakan pengkondisi, komponen-komponen yang memberikan stimulus, dan memengaruhi ke mana arah penerimaan kita. Hingga akhirnya, kita sendirilah yang “memutuskan” (secara sadar atau tidak) ingin menerima dan menyikapinya seperti apa.

Pada saat kita memilih untuk berorientasi pada diri sendiri demi menghindari segala hal-hal di atas, maka secara garis besar kita tidak membiarkan diri ini digoyang ke sana kemari oleh perasaan sendiri.

Mustahil memang, untuk sepenuhnya kebal atau tidak takluk terhadap perasaan. Namanya saja sudah “rasa”, sedikit banyak pasti meninggalkan kesan bagi kita selaku penderita. Namun, jangan lupa, “rasa” dan penerimaan kita terhadap “rasa” juga dipengaruhi oleh lingkungan, serta pembiasaan.

Contohnya, kita cenderung terbiasa meratap saat kehilangan. Tak hanya kehilangan sesuatu yang kita usahakan atau hasilkan sendiri, melainkan juga kehilangan sesuatu yang sebenarnya kita peroleh sebagai pemberian. Bukan benar-benar milik kita, tidak sepenuhnya dimiliki oleh kita.

Pada yang Lain

Dari judulnya saja, jelas perspektif ini berorientasi pada segala sesuatu yang berada di luar diri kita. Alih-alih menata respons batin dan pikiran, kita berusaha agar semua hal bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan–meskipun tidak ada jaminan bahwa keinginan kita pasti berujung baik. Harapannya, apabila berjalan sesuai gambaran atau kehendak, setidaknya bisa merasa tenteram, tanpa perlu khawatir lagi. Padahal, hidup terus bergulir. Satu urusan kelar, pasti akan muncul urusan berikutnya.

Lantaran berorientasi pada hal-hal lain di luar diri sendiri, pendekatan ini tentu lebih melelahkan fisik dan batin. Setiap dari kita yang mengusahakannya, harus mengalokasikan tenaga, perhatian, sumber daya, dan ketabahan dalam menjalaninya. Lagi-lagi, kita mengerahkan segenap hal, mengupayakan agar semua yang berhubungan dengan kita dapat sesuai harapan. Tatkala gagal dan berjalan di luar rencana, kita kembali harus mengalokasikan tambahan tenaga, perhatian, sumber daya, dan keteguhan baru dalam menghadapinya. Intinya, lebih melelahkan. Walaupun kebanyakan orang malah lebih memilih yang ini, dibanding pendekatan satunya.

Ya sudah. Apa yang terjadi pada mereka dan objek-objek lain di luar kita, terjadilah. Tak perlu ngoyo. Ibarat memencet klakson sekeras dan selama mungkin saat gerbong kereta sedang melintas. Sampai jari pegal atau klakson meledak sekalipun, Anda tidak akan bisa bergerak. Justru dilihat aneh dan mengganggu orang lain, dan andaikan Anda tetap memaksa lewat, selamat bertaruh pakai nyawa. Silakan. Suka-suka Anda sajalah. Kurang lebih seperti itu.

Meminjam perspektif Schopenhauer–filsuf pesimisme–kita, manusia, mustahil bisa terpuaskan. Terhadap keinginan-keinginan yang selalu memenuhi ruang batin kita, akan muncul polemik. Ketika kita mencapainya, kita bisa merasa bosan dan excitement atau kesenangannya dapat menurun; tetapi ketika kita gagal mencapainya, kita dilanda kekecewaan. Manusia, menurut filsuf yang lebih sayang anjing pudelnya ketimbang manusia-manusia lain itu, akan selalu berayun antara penderitaan (akibat tidak mendapatkan yang diinginkan) dan kebosanan atau kejenuhan. Di sisi lain, kita pun cenderung selalu dibuat resah oleh diri sendiri. Resah karena akan selalu muncul keinginan-keinginan baru, bahkan saat keinginan-keinginan sebelumnya masih menggantung.

Dipenuhi tumpukan keinginan yang entah bagaimana atau kapan bisa tercapai, silakan dibayangkan seperti apa rasanya menjalani kehidupan yang begitu? Maka, kita memerlukan keterampilan menyikapi dan menjalani hidup. Banyak pilihannya, mau menggunakan sudut pandang agama, kepatutan sosial, etika dan moralitas, dan sebagainya. Dua pendekatan di atas, hanya sekelumit dari beragam pilihan yang tersedia.

Tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal pun tidak mesti harus sayang.

Setelah kenal kok malah jadi bajingan? Bajingan terhadap siapa? Apakah dia menjadi bajingan bagi dirinya sendiri; bagi orang lain; atau bagi dirimu? Lalu, apakah dia menyadari dan memandang dirinya sendiri sebagai bajingan? Apakah orang lain juga merasa dan memandangnya sebagai bajingan? Apakah kamu merasa dan menganggapnya sebagai bajingan? Kalau iya, mengapa kamu memberikan kesempatan padanya untuk bisa menjadi bajingan? Kesempatan, bisa berupa penerimaanmu sendiri terhadapnya, atau keteledoranmu untuk jatuh dalam kebajinganannya.

[]

Skim and Scan, karena Cepat Harus Tepat

Pekerjaan saya sekarang menuntut saya untuk menonton banyak film dalam waktu singkat. Sekilas terdengar menyenangkan, ya? Memang menyenangkan … untuk sesaat.

Setelah sadar akan jumlah film yang terus bertambah dalam waktu yang tidak bisa bertambah, maka mau tidak mau ada beberapa film, untuk tidak menyebutnya “banyak” juga, yang tidak selesai ditonton. Apakah saya akan menontonnya lagi? Sebagian besar tidak. Dari yang tidak selesai saya tonton itu, sebagian besar bisa disimpulkan bahwa film-film tersebut tidak akan saya proses lebih lanjut di lini pekerjaan saya. Atau bisa juga film-film tersebut malah akan saya proses lebih lanjut lagi, karena dari beberapa menit yang saya lihat, saya bisa menyimpulkan bahwa film tersebut sesuai dengan apa yang saya perlukan di lini pekerjaan sekarang.

Apakah ini yang dinamakan quick analysis? Entahlah. Saya lebih suka menyebutnya sebagai skim-and-scan.

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya secara singkat di tulisan ini, saat kita dihadapkan dengan tugas membaca buku yang banyak saat di sekolah atau kuliah untuk kepentingan pembuatan makalah, skripsi atau jenis tugas lain, kita tidak perlu membaca satu buku penuh di setiap daftar pustaka yang kita ambil sebagai referensi. Cukup mengaju pada bab atau halaman tertentu, mengutip apa yang kita perlu kutip, dan menelaah sesuai dengan kemampuan pemikiran kita.

Lain cerita kalau kita membaca untuk leisure activity. Sayang rasanya kalau kita tidak menyelesaikan buku yang kita baca. Demikian juga saat menonton film tanpa perlu berpikir, apakah film ini sesuai dengan pekerjaan saya atau tidak. Saat masuk ke bioskop dan menyelundupkan makanan ringan (jangan bilang siapa-siapa, ya!), atau saat tiduran di sofa sambil menonton layar televisi (dan memegang ponsel), maka saya akan switch off the analytical mind untuk berusaha menikmati apa yang sedang tersaji.

8-reason-why-reading-is-important

Tentu saja mengambil keputusan yang cepat dan tepat dengan cara skim-and-scan quickly ini perlu waktu. Perlu rutinitas yang terus menerus dilakukan. Rutin membaca dan mungkin memberikan highlight di bagian-bagian yang menarik untuk kita telusuri lagi. Rutin menonton film dan sedikit menganalisa film yang barusan kita tonton. Rutin mengobservasi sekitar kita, sehingga apa yang barusan kita baca dan tonton mungkin bisa kita kaitkan dengan keadaan kita, menambah pengalaman membaca dan menontonnya menjadi lebih memuaskan.

8iAEzXk8T

Nyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan skim-and-scan ini.
Saat ingin teh hijau manis dalam botol namun kita masih dalam program diet, buru-buru kita lihat kadar gula di label botol, dan mencari merek mana yang kadar gulanya paling rendah.
Saat kita mengantri makanan di warteg, kita mengantri sambil melihat sekilas apa saja yang masih ada di sana, dan membuat mental note mau pesan apa.
Saat kita duduk di kencan pertama berhadapan dengan orang yang baru kita kenal, setelah 5 menit pembicaraan kita tahu, apakah kita akan melanjutkan hubungan dengan orang tersebut atau tidak.

Intuisi tidak bisa hadir begitu saja. Intuisi bisa kita tumbuhkan dan kita latih, to make our life slightly better.

Silent

Mendingan diam, deh…

MARI bersepakat terlebih dahulu, bahwa kebaikan dan kebijaksanaan berada pada tataran yang berbeda.

Secara mendasar, kebaikan–perbuatan baik dan berbudi–diarahkan untuk “kebaikan”, kesejahteraan, ketenteraman, dan perasaan suka cita orang lain, yang kemudian baru turut berdampak bagi diri kita sendiri. Karena itu, sebutan “orang baik” disematkan kepada seseorang yang telah memberikan atau melakukan sesuatu bagi kepentingan penerimanya.

Sedangkan kebijaksanaan diposisikan lebih mendalam, yaitu pemahaman yang utuh dan benderang terhadap sesuatu sebelum diperbuat. Menghasilkan kearifan dan kecermatan bertindak, demi kebaikan yang terbaik, dan relatif tidak bercela.

Dengan batasan tersebut, so-called “berbuat baik” belum tentu terhitung bijaksana. Hal yang menyenangkan di awal, mungkin saja memiliki potensi efek balik yang negatif. Sebaliknya, kebijaksanaan pasti membawa dampak baik, bahkan berlaku secara menyeluruh dan berorientasi jangka panjang. Meskipun bisa terasa tidak menyenangkan pada mulanya.

Yang baik belum tentu bijak.
Yang bijak pasti baik.

Kebaikan dan kebijaksanaan menyoroti aspek-aspek berbeda, pun menggunakan sudut pandang yang tak sama. Salah satunya, kebaikan cenderung bersifat monokromatis, hanya terdiri dari dua sisi absolut. “Memberi itu baik, memberi itu benar; tak memberi itu tidak baik, tak memberi itu salah.

Sementara kebijaksanaan meliputi spektrum yang lebih luas. Setiap tindakan diambil berdasarkan latar belakang, alasan, serta sejumlah pertimbangan. Dampaknya bukan sebatas yang terjadi saat ini saja, tetapi juga dipersiapkan untuk mengantisipasi segala hal yang bisa terjadi nanti. “Pemberian itu tepat, pemberian itu tidak tepat; tak memberi itu tepat, tak memberi itu tidak tepat.

Berikut adalah beberapa contohnya dalam bentuk ucapan, yang kerap kita temui dan rasakan sendiri, atau justru kita yang menyampaikannya kepada orang lain.

“Sekadar mengingatkan…”

Merasa telah melakukan sebuah kebaikan kepada orang lain, padahal lebih sarat kesan narsistiknya. Menganggap diri sudah lebih baik, lebih unggul, lebih signifikan, dan lebih sadar (dibanding orang lain), dan terjebak ilusi tanggung jawab moral untuk menjadi pengingat dan penyelamat kehidupan.

Entah disadari si pengucapnya atau tidak, ungkapan ini bisa terdengar sebagai sebuah ancaman alih-alih menasihati atau memberitahu.

“Ya kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”

Masih banyak yang lebih berhak atau berwenang. Orang tua, saudara, keluarga sendiri, seseorang yang dipercaya, dokter, psikiater, psikolog, guru, pemuka agama, dan sebagainya.

Terlepas dari urusan identitas, kita masih sama-sama manusia biasa.

“Tujuannya, kan, baik…”

Baik menurut siapa? Sesuatu yang kamu anggap baik belum tentu benar-benar baik. Semua orang memiliki pandangan, latar belakang, pendekatan, dan penilaian masing-masing. Maka, seyogianya, jangan paksakan ukuran kebaikan menurutmu kepada orang lain.

Tidak menutup kemungkinan pula, ungkapan ini diutarakan menyusul pernyataan yang manipulatif. Sebuah apologia untuk sesuatu yang belum tentu benar. Pasalnya, kekeliruan tetaplah merupakan kekeliruan. Biarpun dimanfaatkan dan dieksploitasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu, tetap saja bukan sesuatu yang patut dilakukan.

“Tuh, benar, kan yang aku bilang…”

Iya, benar, kok. Terima kasih sudah mengingatkan dan memberitahu, karena benar-benar terjadi seperti yang sudah disampaikan. Namun, kalau ternyata tidak benar dan tidak sesuai dengan yang kamu sampaikan sebelumnya, bakal bagaimana?


Ungkapan di atas terkesan baik-baik saja, sih? Hanya saja, apakah bijak ketika kita lontarkan? Apalagi tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain.

Bagaimana pula jika kita yang mendapatkannya? Bisakah kita terima?

Apabila polemik ini semata-mata karena masalah komunikasi dan penyampaian, maka, mulailah belajar memperbaiki lisan.

[]

Mengukur Dengan Kecewa

Disclaimer: tulisan ini akan sangat-sangat berkesan saya-sentris. Tujuan awal menulis ini adalah untuk membantu saya memberi konteks dan pemahaman untuk membantu saya mencerna dan menanggapi perasaan saya dengan sebagaimana mestinya. Kalau mau cari nasehat bijak atau tips menghadapi hidup, silakan lanjut browsing lagi.

“Kamu pernah ngga, kecewa sama aku?”

Ditanya seperti itu, pikiran saya langsung menjalar kemana-mana. Bukan hanya terfokus mengenai interaksi saya dengan si penanya, tetapi juga interaksi-interaksi saya dengan orang lain sejauh ini. Setelah lama berpikir, saya menyadari bahwa saya cukup sering dikecewakan oleh orang lain. Tentu saja yang mengecewakan adalah orang-orang terdekat.

Kedekatan dalam hubungan merupakan faktor yang sangat penting apakah saya akan merasa kecewa terhadap orang ini atau tidak. Misalnya, beda kecewanya kalau abang tukang bakso random ternyata sudah habis dan lagi jalan pulang waktu saya panggil, dengan tukang bakso langganan yang selalu saya beli untuk makan siang kehabisan karena ada yang ngeborong untuk arisan.

Beda juga kekecewaannya kalau saya sudah janjian dengan sahabat dekat untuk ketemuan tetapi dia ngaret dan akhirnya waktu ngobrol jadi lebih pendek, atau ketika saya diajak ngopi oleh seorang asing tetapi yang ngajak telat. Karena saya hobi ngobrol dan biasanya sahabat-sahabat saya adalah orang-orang yang ngobrolnya cocok sama saya, pasti kecewa karena waktu ngobrol berkurang. Ketika orang asing yang ngajak ngopi duluan terlambat, saya akan cenderung tidak peduli. Toh tidak dekat. Tidak ada ikatan emosi di situ. Makanya, tidak kecewa dan lebih sebodo lah.

Jangankan sama orang lain, saya juga sering  kok kecewa dengan diri sendiri. Dengan standar dan target yang saya tujukan untuk diri sendiri, seringkali saya tidak sanggup atau gagal mencapainya. Untungnya, standar dan target tersebut tidak saya koar-koarkan di sosial media bak resolusi awal taun (“SAYA MAU KURUS!” tetapi apa daya timbangan berkata lain, misalnya), jadi yang malu dan kecewa dengan kegagalan saya lebih banyak ya saya sendiri.

Dalam diskusi lainnya bersama salah satu sahabat, saya juga diperhadapkan dengan kenyataan bahwa ekspektasi adalah akar dari segala kekecewaan. Kalau kita menurunkan standar ekspektasi kita, tidak berharap terlalu tinggi, apapun hasil akhirnya kita tidak akan kecewa-kecewa amat.

Kalau kita tidak berharap perasaan berbalas oleh cemceman atau gebetan, ya tidak akan kecewa waktu ternyata yang ditaksir…. naksir sahabat kita sendiri, misalnya #SERINGTERJADI
dan bonus banget kalau ternyata doi naksir kita juga! Kan senangnya jadi berkali-kali lipat! (ini sih proyeksi saja. Gak pernah kejadian di saya.)

Managing expectation.

Ini juga merupakan sebuah teknik yang tidak saya kuasai. Mungkin karena itulah saya masih sering kecewa, dikecewakan (kalau mengecewakan, ya itu salahnya ekspektasi orang lain deh :p) Saya perlu mengubah mekanisme pikiran saya untuk memproses kekecewaan itu baru kemudian saya bisa belajar menakar ekspektasi saya. Cuma, ya itu, susah.

Saya sejujurnya bingung.

Kalau secara kausalitas, cara berpikir saya bisa diurut begini:

Memilki hubungan interaksi yang baik → berharap atau memiliki ekspektasi dalam hubungan tersebut agar menjadi lebih baik buat saya →ekspektasi dan harapan tidak dipenuhi → kecewa.

Alasan terkuat mengapa saya tidak menguasai teknik untuk mengatur kadar ekspektasi agar tidak kecewa adalah pikiran saya yang berkonsep all or nothing. Kalau peduli ya peduli, kalau tidak ya tidak sekalian. Tidak bisa di tengah-tengah. Kalau hubungan itu adalah sesuatu yang saya suka dan inginkan, saya akan berharap bisa menjaga atau bahkan menambah kualitas hubungan ini. Benar-benar tidak bisa tidak berharap, kecuali sekalian tidak peduli sama sekali.

Kecewa itu melelahkan, saya akui. Saya juga tersakiti tiap kali saya kecewa.

Tetapi seperti anak kecil yang belajar jalan, saya tidak kepengin berhenti untuk membangun hubungan dengan orang lain. When it works, human relationship is a very powerful thing. Saya sendiri juga sudah merasakan signifikansinya dalam hidup saya sendiri.

Paling, saya jadi lebih malas bertemu dan memulai hubungan yang baru dengan orang lain…. Malas untuk memulai lagi dari awal, mengenal dan berusaha mendekat. Melelahkan. Belum lagi kalau kemudian dikecewakan. Makin melelahkan.

Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, melalui tulisan ini saya sendiri sedang berusaha mencari perspektif lain yang bisa saya terapkan untuk memproses kekecewaan yang sering saya alami. Mencari hikmah. Kali aja bisa.

Bagaimana kalau kekecewaan itu saya jadikan tolok ukur? Karena saya tidak bisa melepas ekspektasi dan harapan, mungkin kekecewaan itu bisa dijadikan suatu penanda situasi dan realita saat itu. Seperti sebuah checkpoint, begitu. Jadi saya bisa mengukur, apakah ekspektasi dan harapan saya tidak masuk akal? Dan kenapa saya bisa berharap seperti itu? Adakah tujuan yang ingin saya capai? Kenapa bisa tidak tercapai?

Agar tidak berlarut-larut, saya  biasanya berusaha fokus pada apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan. Dengan mengetahui persis jarak antara realita yang dihadapi dengan harapan yang saya miliki, semoga saya bisa menemukan cara untuk tidak kecewa terlalu lama, atau lebih parahnya, semoga tidak putus harapan sekalian.

Kalau ekspektasi saya tidak realistis, saya harus mengajarkan diri sendiri bahwa ada keterbatasan dan mengubah sudut pandang saya. Tidak mungkin juga semuanya harus seperti yang saya inginkan, tetapi saya yakin juga dengan memiliki keinginan itu, paling tidak saya bisa mengarahkan daya dan usaha untuk mencapai keinginan tersebut.

Ada saran lain untuk menghadapi kekecewaan selain dengan cara-cara yang sudah saya sebut, barangkali?

Menikmati Hidup Selow

Tahun dua ribu delapan belas segera berakhir. Apa kabar resolusi yang dibuat di awal tahun? Sudah lupa atau menguap begitu saja? Dan kalau boleh nanya, apa pencapaianmu tahun ini yang bisa dibanggakan? Jangan bilang gak ada ya.

Andai apa yang kamu lakukan untuk mencapai impian masih gagal, ini adalah sebuah pengalaman berharga. Tak perlu bersedih dan membandingkan diri dengan orang lain.

Hidup bukan hanya tentang apa yang kita capai. Namun apa yang sudah kita berikan untuk sesama dari pencapain kita itu. Migunani tumraping liyan.

Ngiri sama achievement orang lain tak akan membuat hidup menjadi lebih baik. Selow aja. Semua punya jalan masing-masing. Sudahlah, jangan takut sama omongan netizen saudara, teman dan tetangga yang ngremehin hanya karna pencapaian kita biasa saja. Kita makan nggak minta mereka, biaya hidup gak nebeng mereka; abaikan saja. Percayalah, bagaimana pun kondisi kita saat ini, hidup kita tetaplah berharga.

Lulus S1 di usia 29 bukanlah aib. Ini adalah prestasi. Umur 30 belum punya pasangan, namun bisa gembira, tetaplah indah. Atau menikah di usia 37, belum terlambat kok. Punya rumah di usia 40, tetaplah hebat. Jangan biarkan orang lain membuat kita terburu-buru. Kita tak sedang berlomba cepet-cepetan punya mobil, cepet-cepatan punya anak atau cepet-cepetan jadi eselon tiga. Mereka punya waktu sendiri, kita juga.

Lagian achievement tiap orang kan beda. Ini personal banget. Nggak perlu memaksakan definisi achievement?

Bisa jadi buat si Iwan, achievement adalah kuliah S2. Bagi Agus, achievement adalah menikah di usia muda. Bagi Felika, achievement adalah kerja di perusahaan multinasinonal dengan gaji USD. Bagi Hanum, achievement adalah punya rumah mewah dan jalan-jalan ke Eropa. Bagi Kiwil, achievement adalah punya istri dua. Tetap hidup meski ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, ini juga achievement yang keren. Selama nggak saling ganggu, biarkan saja tiap orang dengan definisinya masing-masing.

Kita gak pernah tahu kehidupan orang lain yang sebenarnya.

Ada yang lulus sarjana usia 21 namun sampai umur 28 belum punya kerja. Ada yang telat lulus, tapi langsung kerja. Ada yang begitu lulus kuliah langsung bekerja, namun membenci pekerjaan mereka. Bahkan ada yang tak pernah mengenyam bangku kampus, namun telah menemukan passion dan tujuan hidupnya di umur 18.

Ada yang sudah menikah lebih dari 10 tahun namun belum dikarunia anak. Ada yang punya anak, tapi tak punya pasangan. Tak sedikit orang yang terikat sebuah hubungan, tapi ternyata mencintai orang lain. Sementara itu ada pula yang saling mencintai namun tak bisa bersama. #eaa

Lantas, masih pantaskah kita merisaukan hidup ini? Nikmati saja. Mungkin kita perlu mencoba menjalani slow life. Bukan untuk melambat, tapi untuk mengatur ritme, menyeimbang hidup agar tak berlebihan. Ada saatnya harus selow, ada kalanya harus gercep.

Selama kita terus berjuang menciptakan kehidupan yang bermakna dengan cara yang terhormat, sejatinya kita telah menempuh jalan kebahagiaan. Dan kesuksesan pasti tiba. Pencapaian hidup yang diraih dengan cara culas justru akan melahirkan kebahagiaan semu.

Ini hanya soal waktu. Waktu dari-Nya nggak pernah terlambat, nggak juga kecepetan. Bersabarlah. Tuhan pasti punya rencana.

****

“Sometimes what you want isn’t always what you get, but in the end what you get is so much better than what you wanted.”

Apakah menyedihkan hidup sendiri?

Nobody wants to live alone.

Mungkin ada yang setuju dengan pernyataan tersebut, tapi ada juga yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

But, i do. Tidak ada orang yang mau hidup sendiri, benar-benar sendiri.

Di media sosial orang-orang menganggap saya sebagai pribadi kuat yang bisa pergi kemanapun sendirian dan bahagia. Iya, bagi mereka saya ini pribadi mandiri yang bahagia. Tapi yang tak mereka tahu, saya tak bahagia. Saya sedang sakit.

Saya bukanlah pribadi mandiri. Jauh dalam lubuk hati saya, saya butuh pendengar, saya butuh pemeluk dan pemegang tangan yang mampu menenangkan perasaan saya.

Saya tahu, bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Rasa panik datang tiba-tiba, tangan berkeringat dingin, bahkan bukan hanya tangan, sekujur badan keringatan hingga gemetaran tak henti, degup jantung berdegup kencang, rasa takut dan khawatir menemani rasa panik yang makin membuat diri sendiri takut bermimpi tentang masa depan. Dan semua berakhir dengan tangisan yang pastinya belum tentu menyembuhkan rasa sakit dan khawatir serta teman-temannya.

Saya tahu, saya tak sendiri. Ada jutaan orang di kota ini yang mengalaminya. Ada yang berani untuk mendatangi psikiater atau support discussion group untuk memulihkan rasa sakit yang mereka rasakan, ada pula yang hanya menyimpannya seorang diri dan menyangkalnya. Saya termasuk yang mana? Saya tak tahu.

Saya tahu saya sakit, saya pernah mengikuti support discussion group, berbicara dengan teman-teman terdekat bahkan tak jarang saya bercerita kepada Tuhan walau saya belum pernah berbicara dengan Psikiater, bahkan saya selalu berkata pada diri sendiri, “Ini hanya pikiran negatif, tenang aja.” Tapi tak juga menyembuhkan saya.

Saya tinggal dengan orang tua, saya punya banyak teman, tapi saya selalu merasa sendiri. Kadang saya merasa bersyukur karena saya tak perlu terjebak dengan komitmen menyebalkan yang kita sebut pernikahan, tapi seringnya saya merasa sepi, sangat.

Di tengah konser musik yang saya datangi, saya selalu merasa sendiri.

Di tengah perjalanan solo travelling saya, dari satu kota ke kota lain, saya selalu merasa sendiri.

Di kota yang sangat ramai ini, saya selalu merasa sendiri.

Lalu, pertanyaan itu muncul lagi ; Apakah menyedihkan hidup sendiri?

Tentu saya akan menjawab ; iya, itu sangat menyedihkan.

Ke Pasar, Di Pasar

Salah satu kenangan masa kecil yang masih terpatri di ingatan saya adalah pergi ke pasar tradisional. Bersama ibu, saya pergi ke pasar tradisional di pagi hari untuk menemaninya berbelanja. Biasanya aktivitas ini kami lakukan di hari Minggu pagi atau hari libur, karena dari Senin sampai Sabtu saya pergi ke sekolah.

Tidak banyak yang saya lakukan, kecuali membawakan barang belanjaannya. Itu pun tidak terlalu banyak, karena waktu itu saya masih kecil. Padahal untuk ukuran anak di bawah 10 tahun, waktu itu berat badan saya di atas rata-rata. Toh tetap saja, karena masih dianggap anak kecil, jadi barang bawaannya tidak terlalu banyak.

Paling saya hanya mengamati ibu saya melakukan proses tawar menawar saat membeli bahan-bahan makanan atau kebutuhan pokok lainnya. Menawar tidak melulu membuat harga lebih murah. Bisa juga menawar artinya membayar dengan harga yang sama, lalu menambahkan kuantitas atau jenis bahan lain sebagai bonus.

Misalnya, ibu membeli bahan-bahan membuat sup ayam seharga lima ribu rupiah, lalu oleh penjual diberi tambahan kacang kedelai seperempat kilo. Meskipun kacang kedelai tersebut tidak masuk ke dalam bahan sup ayam, toh bisa digunakan untuk jenis makanan lainnya.
Demikian pula saat ibu memutuskan untuk membeli tahu dengan uang yang sama, bisa jadi irisan yang diberikan penjual lebih tebal dari biasanya. Tentu saja ini terjadi setelah proses tawar menawar.

IMG_0176

Sebagai imbalan atas menemani beliau, biasanya sebelum kami mengakhiri semua proses berbelanja ini, ibu akan mengajak saya ke toko kue di dalam pasar. Itu pun setelah diwanti-wanti oleh beliau, “Jangan ke toko yang di sebelah situ. Yang di sini saja. Rasanya sama saja, tapi harganya lebih murah. Yang di sana menang merek.”
Atau bisa juga setelah itu dia menyuruh saya membeli beberapa bungkus nasi pecel untuk dimakan bersama-sama di rumah. Meskipun beberapa kali saya memilih makan di tempat, karena sudah terlalu lapar.

Selain ke pasar yang menjual bahan masakan dan makanan, ibu saya juga pernah berdagang batik. Yang selalu saya ingat adalah betapa giatnya ibu saya menembus berbagai lorong Pasar Klewer di Solo yang gelap dan membingungkan, untuk sekedar mencari batik dengan kualitas terbaik dan harga yang murah. Kalau sudah begitu, ibu tidak mau ditemani. Baginya malah semakin repot mengurusi anak kecil yang mudah lapar karena kepanasan di dalam pasar.

Solusinya? Saya “dititipkan” di pedagang di pasar tersebut. Waktu itu ada salah satu tempat penjual majalah bekas di sebuah sudut di pasar ini. Letaknya di depan toko emas. Majalah yang dijual sangat banyak. Setiap ibu akan mulai menjalani aktifitasnya mencari batik, ibu selalu berkata, “Kamu di sini saja ya. Nanti dijemput satu jam lagi. Paling lama 1,5 jam.” Saya mengangguk. Waktu itu belum ada ponsel atau pager, sehingga kami saling percaya saja terhadap satu sama lain.

Lalu saya mulai membaca majalah-majalah yang ada. Kalau bosan, saya mengobrol dengan penjualnya. Kadang ikut merapikan dagangannya. Kalau dia perlu ke kamar kecil, saya ikut menjaga tempat jualan majalah itu. Setelah satu atau 1,5 jam, ibu akan menghampiri saya, lalu membayar majalah-majalah yang mau saya beli. Biasanya bapak penjual akan memberi bonus satu majalah tambahan.

IMG_8239

Pasar Klewer sudah berubah saat saya berkunjung ke sana tahun lalu. Tidak ada lagi tempat penjual majalah bekas. Demikian pula pasar tradisional di kota kelahiran saya. Bentuknya sudah lebih modern. Ibu masih pergi ke pasar, sementara saya hanya mengunjungi pasar tradisional kalau pergi ke luar kota yang, menurut saya, pasar tradisionalnya masih menarik untuk dikunjungi.

Yang membuat saya selalu kangen dan ingin pergi ke pasar adalah proses interaksi langsung antara sesama manusia. Secara langsung, ibu saya mengajari the art of persuasion saat melakukan tawar menawar. Mulai pura-pura pergi menjauh saat harga yang kita ajukan ditolak dulu, lalu mendekat lagi saat penjual setuju dengan harga yang kita mau, sampai mendapatkan lebih dari apa yang kita perlu. Pergi ke pasar juga melatih kita menganalisa manusia. Mana penjual yang jujur, mana penjual yang suka menipu. Mana pembeli yang mau membeli, mana pembeli yang sekedar melihat-lihat saja.

IMG_0174

Tentu saja sekarang kita sangat dimudahkan dengan bertransaksi tanpa harus bertemu muka. Lebih cepat, lebih praktis, lebih efisien. Hanya saja kita perlu ingat, bahwa selalu ada manusia lain di balik akun penjual di mana kita melakukan transaksi. Thus, we shall never forget that we need to communicate with them just like how we talk to fellow people.

Dan kalau di sekitar Anda ada pasar, pergilah ke sana. Mungkin kita sedang tidak perlu banyak barang saat pergi ke sana. Tapi, siapa bilang kalau pergi ke pasar hanya membeli barang saja?

Go, and experience the wonders.

Apakah Saya Melakukan Mansplaining?

SEJUJURNYA, saya masih awam dengan bahasan mengenai interaksi antargender dalam kehidupan sosial secara umum. Termasuk isu yang satu ini; Mansplaining. Yaitu cara pandang dan tindakan pria terhadap wanita beserta segenap aspeknya.

Mansplaining bersifat negatif. Sebab dari sedikit yang saya pahami, Mansplaining pada dasarnya adalah sikap sok tahu yang disampaikan pria untuk/dengan merendahkan wanita. Sebagai prasyarat terjadinya Mansplaining, penyampaian kesoktahuan tersebut sarat arogansi dan dominasi. Mengesankan bahwa pria selalu benar dan wanita tak lebih pintar, sehingga mereka harus didengarkan.

Saya memberanikan diri menulis soal ini lantaran judul di atas. Setidaknya agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apakah saya telah melakukan Mansplaining?
  2. Jika iya, apakah saya sengaja melakukannya?
  3. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa yang menyebabkannya menjadi sebuah Mansplaining?
  4. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa dampak dari tindakan Mansplaining tersebut?
  5. Apa saja hal-hal lain yang perlu saya ketahui agar tidak melakukan Mansplaining lagi?
  6. Apa yang harus segera saya lakukan setelah tidak sengaja melancarkan Mansplaining?
  7. Apa saja yang harus diperhatikan saat menyampaikan sesuatu agar tidak mejadi Mansplaining?

Berorientasi pada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan di atas dikemukakan demi menghindari Mansplaining di kemudian hari. Pasalnya, tidak semua orang, baik pria atau wanita, terlepas dari tidak tahu atau tidak mau tahu, memiliki pemahaman dan aspirasi yang sama terhadap hal ini. Tak bisa dimungkiri, Mansplaining juga merupakan produk budaya. Terlebih di Indonesia, ketika pria dikondisikan untuk selalu memiliki relasi kuasa tertentu dibanding wanita sedari kecil.

Berawal dari twit saya tempo hari.

Mendapatkan tanggapan sebagai berikut.

Screen shot of Twitter

Alih-alih tersinggung, saya tertarik untuk menelisik lebih jauh. Dimulai dengan membaca twit saya kembali, lalu beralih ke tanggapan yang diberikan supaya ketemu selisihnya. Khawatir, saya telah berlaku: “Komentar/twit dahulu, berpikir belakangan.” 😅

Saya #penasaran, which part did I define? Lebih berupa ungkapan menghargai kualitas tertentu pada wanita, dibanding sebuah upaya menjelaskan suatu kondisi yang tidak saya miliki. Mudah-mudahan saya tidak keliru menyampaikannya.

Selanjutnya, kalau “it is up to me and my kind of peep …” apakah berarti pria—saya—sebaiknya tidak mengutarakan pendapat tentang wanita? Ataukah baru berbicara setelah diizinkan, maupun saat ditanya? Apabila demikian, ya, tidak apa-apa juga, sih. Menjadi pelajaran bagi saya untuk diam saja, dan ini tentu berada di luar batasan benar versus salah. Diwangsulké mawon.

Screen shot of Twitter

Di sisi lain, apakah ini bisa dimasukkan ke kategori masalah komunikasi? Pesan disampaikan secara tertulis, justru menimbulkan polemik dalam pembacaan/penerimaan maksudnya. Apabila demikian, kesalahannya tentu pada pengutaraan saya.

Mohon maaf.

Maka, dalam situasi berbeda dan lebih terbatas, saya barangkali baru ingin mengutarakannya kepada mama, saudara wanita, pacar, teman dekat wanita, rekan kerja wanita saat bertatap muka. Bukan lewat media sosial, kepada khalayak anonim.


Terpisah, saya menemukan penjelasan ringkas dan aplikatif terkait Mansplaining dari Kim Goodwin lewat diagram berikut.

Diagram on mansplaining.

Ilustrasi: bbc.com

Saya mungkin bisa meraba-raba jawaban menggunakan diagram di atas.

[]

Anakku Mendadak Sudah Besar

Suatu malam Minggu di jalur WhatsApp:

“Neng, how are you?”

Pesan itu lalu dibalas dengan gambar ini.

Jadi anak perempuan pertama kalinya pergi bersama teman-teman nonton pensi. Ibu disco nap di rumah tanpa rencana disko nanti malam.

Jadi ingat beberapa kali ketika di bayi sering digotong ke perhelatan musik indie di Bandung. Begitu juga ketika sedang hamil besar, bukannya anteng di rumah, malah ke beberapa acara musik (yang di Bandung memang sering terjadi sih, ketika zaman itu).

Sorean sedikit dia kembali mengirim pesan menawar jam pulang. Dia ingin menonton sampai selesai, yaitu jam 11 katanya. Tapi tentu saya tak bolehkan. Akhirnya negosiasi sampai jam yang disetujui bersama.

Ingat juga kalau dulu Papa saya mewajibkan semua anaknya di rumah sebelum matahari terbenam. Sampai kami kuliah pun. Walhasil saya sering pergi sembunyi sembunyi. Sebagai orangtua, cita cita saya ingin anak bisa jujur sampai kapan pun dan saya juga bisa menerima kejujurannya dengan legowo. Jadi mungkin lebih permisif dari Papa dulu enggak apa apa ya? Atau jangan jangan salah?

Bismilah saja, lah.

Men on motorcycle staring at women in hijab.

Jilbabphilia?

FEITICO. Sebuah kata yang kurang lebih bisa diartikan “pesona; pukau; pikat; atau daya tarik” dalam bahasa Portugis. Dari istilah ini sebutan fetish berasal, merujuk dan menggambarkan ketertarikan seksual-obsesif seseorang pada berbagai hal.

Seksual, lantaran bisa mengantarkan seseorang mencapai sensasi kenikmatan atau kepuasan seksualnya. Baik yang dilakukan dengan partner, atau hanya oleh diri sendiri.

Obsesif, lantaran membuat seseorang tersebut gandrung, memberikan dorongan yang tak terbendung secara psikis, sehingga cenderung selalu dikejar.

Tak mesti genitalia atau aktivitas seksual penetratif itu sendiri, objek fetish meliputi banyak hal yang bersifat unik dan personal. Termasuk bagian tubuh tertentu, benda-benda tertentu, tindakan atau aktivitas tertentu, maupun sensasi jasmani tertentu. Saking unik dan personalnya, terhitung ada lebih dari 549 fetish yang teridentifikasi—dinamai pakai istilah Latin—dan berpotensi terus bertambah.

Sebagai sesuatu yang atipikal, atau tidak sebagaimana biasanya, tanggapan terhadap ratusan fetish itu mengalami perubahan seiring waktu dan lingkungan sosial manusia. Ada yang dahulu dianggap aneh, kini dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Namun, sebagian besar fetish masih/tetap dianggap ganjil, menabrak norma-norma sosial setempat, membuat tidak nyaman, bahkan membahayakan. Barangkali karena itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut fetish dengan parafilia, yang langsung diterjemahkan: Ketertarikan seksual pada hal-hal yang tidak biasa atau tabu.

Padahal menurut Justin Lehmiller, Ph.D, seorang psikolog-ilmuwan Harvard, hampir semua hal berkemungkinan memiliki asosiasi hasrat seksual bagi seseorang.

“Pretty much anything you can think of, someone out there probably has sexual associations attached to it.”

… dan bisa saja, inilah yang terjadi dengan fenomena Akhwat Hunter.

Dari sejumlah pernyataan dalam utas twit di atas, izinkan saya mengistilahkannya “Jilbabphilia”. Sebab—ini baru asumsi, dan harap koreksi saya bila keliru—entah mereka sadari atau tidak, fenomena Akhwat Hunter menyinggung fetishism. Mengacu pada dua komponen yang selalu hadir:

  1. Para wanita berjilbab sebagai objek yang dinikmati.
  2. Adanya ekspresi seksual dari para penikmat, baik secara perorangan maupun berkelompok.

Menyimak isi cuplikan percakapan tadi, para Akhwat Hunter itu—kelihatannya—belum menikah. Sejauh ini hanya bisa bermasturbasi sambil melihat foto-foto wanita berjilbab, dan belum diketahui apakah setelah menikah nanti mereka lebih suka pasangannya tetap berpenutup kepala saat senggama, atau telanjang sepenuhnya.

Seseorang dengan fetish tertentu, sejatinya tidak bisa mencapai klimaks seksual tanpa kehadiran objek fetish terkait. Bukan sekadar fantasi, atau bumbu keintiman (kinky). Dalam kasus Akhwat Hunter, tak menutup kemungkinan mereka mesum doang. Sampai akhirnya biar mereka sendiri yang membuktikan.

Di sisi lain, dikenal pula istilah garment fetishism. Yaitu hasrat seksual yang dipicu oleh jenis atau bagian pakaian tertentu. Misalnya, seragam, rok mini, lingerie, dan sebagainya, baik dikenakan salah satu atau kedua pihak terlibat.

Kembali lagi, fetish berada dalam spektrum yang unik dan personal. Bersifat pribadi, kecuali ketahuan atau sengaja diumbar-umbar kepada orang lain. Tatkala objek fetish berupa foto-foto wanita berjilbab sengaja diekspose dan ditunjukkan ke publik oleh akun-akun anonim, bahkan lengkap dengan ekspresi seksualnya, itu sudah merupakan pelecehan. Tak ada consent di situ, persetujuan dan kesepakatan kedua belah pihak.

Parahnya lagi, perbuatan tersebut mereka kait-kaitkan dengan narasi agama. Mengingat kerudung jilbab, beragam model hijab, sampai cadar nikab identik sebagai busana keagamaan dengan seperangkat argumentasinya. Dengan demikian, tak peduli seberapa tertutupnya pakaian para wanita tersebut, mereka akan selalu diseksualisasi—dieksploitasi seksual—oleh pria-pria Jilbabphilia. Baca saja alasan-alasan mereka yang begitu didramatisasi.

Atas narasi agama tersebut, alih-alih mengendalikan diri, para Akhwat Hunter itu lebih suka melempar kesalahan pada orang lain, mempertahankan posisi sebagai yang paling benar, dan seolah-olah berhak menghakimi. Seperti tulisan pertama saya di Linimasa, soal Jilboobs. Pasalnya, bagaimanapun juga, kita adalah tuan dari tubuh dan kehendak kita, bukan sebaliknya. Pengendalian diri bisa dilatih. Jangan manja.

Terlepas dari itu semua, mungkin saja para Akhwat Hunter atau pria-pria Jilbabphilia tadi hanya sekelompok orang ngacengan, punya latar belakang dan kebiasaan yang tak lazim mengenai jilbab, serta sok religius.

[]

Bisa dibaca juga:

https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/fetishistic-disorder
https://bigthink.com/philip-perry/are-sexual-fetishes-psychologically-healthy