Maya Nyata Ternyata Sama-sama Fana Karena Dia Adalah Uang

Masih saja banyak netizen maupun citizen yang menganggap sesuatu yang maya itu tak layak atau setidaknya tak sebanding dengan dunia nyata. Artis sinetron itu artis sungguhan, sedangkan seleb twitter atau instagram itu artis karbitan atau malah bukan artis dan sok iye aje. Kira-kira seperti itu. Bahwa apa yang terjadi di media sosial, apa yang disampaikan dalam vlog, blog, dan percakapan dunia maya, kadarnya tidak lebih dari percakapan di bangku taman, pojok kafe, atau arisan.

Coba deh kita pikir-pikir lagi.

Hal paling maya yang sampai saat ini menjadi hal paling penting bagi sebagian besar peradaban manusia apalagi di saat hari raya dan tanpa sadar kita mengamininya adalah “uang”.

Uang sejatinya ndak riil. Uang masa kini yang ndak jelas datangnya dari mana, kapan, kenapa bisa, dan bagaimana mendapatkannya untuk kemudian diternakkan.

Ketika kertas yang dikeluarkan bank sentral nilainya begitu luhur, sedangkan kertas bikinan pabrik kertas leces nilainya tak seberapa, menandakan bahwa tanpa sadar kita sama-sama mengamini bahwa kertas berwarna disertai angka tertentu itu bernilai. Bukan karena zat atau material yang terkandung, melainkan kesepakatan semua orang, walaupun nilai instrinsik uang kertas tak seberapa besar dibanding nilai tukarnya.

Vladimir Kush 1965 - Russian painter - The Surreal Landscapes - Tutt'Art@

Beda ketika uang masih dibuat dengan bonggolan emas, perak atau perunggu, yang bilamana diukur nilai emasnya tanpa perlu melihat angka yang tertera pada uang tersebut, memang bernilai. Jika koin pecahan emas ini bopeng dan angkanya luntur, dikumpulkan dan ditimbang pun masih laku dengan nilai yang nyaris setara dengan nilai tukar koin tersebut. Nilai intrinsik sama dengan nilai tukarnya. Klop!

Katakanlah, 1 dinar, seberat 10 gram emas, setara dengan 1 ekor kambing, maka pilihan transaksi dalam pasar adalah 1 kambing dapat dibeli dengan 1 dinar, atau 1 kambing dapat dibeli dengan 10 gram emas, atau 10 gram emas dapat dibeli dengan 1 dinar.  Kesetaraan. Bukan jender, tapi nilai uang dan barang.

Hingga awal abad 20, konsep ini masih berlaku. Setiap bank sentral suatu negara hendak mengeluarkan pecahan uang kertas maka mereka diwajibkan menyiapkan cadangan emas yang nilainya setara dengan jumlah uang yang akan dikeluarkan tersebut. Jadi uang adalah cerminan, atau fotokopian, atau salinan dari nilai emas yang ada dan tersimpan di bank sentral. Seolah-olah uang yang beredar di masyarakat adalah “surat utang” bank sentral kepada setiap pemegang uang bahwa para pemegang uang punya jatah emas yang disimpan oleh bank sentral dan sewaktu-waktu monggo aja kalau mau diambil.

Kecuali usai pertemuan Bretton Wood.

Secara historisis konteks ekonomi internasional, sebelum menggunakan sistem moneter Bretton Woods ini, basis pertukaran dunia menggunakan standar emas sebagai standar mata uangnya. Emas menjadi suatu alat tukar dalam perdagangan internasional. Negara-negara berlomba-lomba menyimpan kuantitas cadangan devisanya berupa emas di bank sentral mereka. Mata uang suatu Negara dikonversi dengan daya belinya terhadap emas. Pada masa itu perekonomian berjalan secara self-regulating dimana perekonomian secara natural bebas mengalir dalam bentuk uang dan investasi sesuai dengan azas Adam Smith laissez-faire yang menyerahkan perekonomian pada equilibrium pasar. Pada masa pre-Bretton Woods, selain emas, Negara-negara juga banyak mengkonversi mata uangnya dengan Poundsterling Inggris (yang sebenarnya adalah mata uang yang berbentuk perak) karena Inggris pada saat itu adalah Negara yang berkembang secara industrial (F, Deyanto).

Bentuk uang juga dapat berupa warkat atau sering disebut giral. Ada cek dan bilyet giro yang dapat dicairkan. Selembar kertas yang telah divalidasi dan nilainya dipersamakan dengan uang di dalam rekening seseorang. Warkat ini adalah cerminan rekening kita di bank. Jika rekening kosong, maka ada yang disebut “cek kosong”, cek dengan nilai tertentu yang tak dapat dicairkan karena rekening pemilik tak mencukupi nilai yang tertera.

Kemudian seiring perkembangan zaman, dunia maya memperkenalkan  uang digital, dengan masyarakat less-cash society, emoney maupun bitcoin.

Sejatinya ketika dunia maya memperkenalkan uang digital sejatinya uang sudah menjadi “maya-kuadrat” atau “mayaception”. Mengapa?

Uang justru kembali kepada khittahnya saat pertemuan Bretton Wood untuk menjadi maya dan tak nyata. Ia lepas dari alasan apapun untuk muncul. Saat ini bahkan fisik uang menjadi lenyap dan digantikan dengan bit-bit sinyal di atm, layar ponsel, maupun ebanking layar laptop dengan sedert angka-angka. uang tak membutuhkan fisik lagi sekarang. Cukup angka. Dan kita ternyata cukup puas dengan semua ini. Bank Sentral semakin senang. ndak perlu capek-capek cetak duit lagi.

Transfer uang bukan lagi masuk dalam amplop lalu dikirim oleh ponakan atau burung merpati yang diletakkan dalam lipatan surat cinta.

Pemalsu uang yang bingung ketika toko-toko ndak mau terima pembayaran cash melainkan via gesek atau transfer. Ada sisi positif juga sisi negatif. Seperti koin, selalu memiliki dua sisi (entahlah dengan bitcoin yang tak punya tampilan fisik). Perusahaan yang menerima pesanan cetak uang akan terancam bangkrut, karena menganggur ndak mencetak uang lagi. Atau setidaknya hanya mencetak uang ala kadarnya, misalnya untuk uang fisik baru dalam rangka hari raya untuk dijadikan angpau. Bahkan 5 tahun ke depan angpau akan lebih disukai jika berbentuk emoney atau flazz.

Sekarang mari kita ingat-ingat lagi, apakah kita benar-benar memiliki uang? Dan apakah uang itu riil?

Jika yang dimaksud adalah memiliki nilai-nilai angka rupiah tertentu? Iya. Kita dapat mengaksesnya via atm dan ponsel. Apakah kita memiliki fisik uang? Ndak mesti. Karena apa yang ada di dompet hanya ala kadarnya jika dibandingkan dalam rekening bank. Uang menjadi maya. Ia berkelindan dengan dunianya sendiri dalam alam digital. Semakin jarang ia menampakkan diri dalam bentuk lembaran uang kertas. Uang gentayangan dalam alam roh. Tanpa wujud namun selalu masuk dalam mimpi buruk dan mimpi indah setiap insan. Bahkan ada yang menjadi tujuan hidup untuk selalu bersamanya.

Uang bernilai karena sama-sama kita akui ia bernilai. Saat barang produksi langka bahkan tidak ada, termasuk makanan, minuman, dan kebutuhan pokok lainnya hilang dari pasaran, yang tersisa dari hidup kita adalah angka-angka dalam layar kaca ponsel kita, tanpa kita tahu bisa bermanfaat untuk apa. Uang kehilangan kesaktiannya. Ia tak mampu memiliki daya upaya membeli sesuatu. Nilainya menjadi anjlok dan semakin tak bernilai.

Contoh ekstrim lainnya, jika kita terdampar di pulau kecil sendirian, sinyal kencang dan bisa ebanking, tapi jauh dari mana-mana dan kita lapar. Go-food tak ada, nelayan yang mampir tak ada, maka kita hanya dapat menatap nanar layar ponsel kita. Angka-angka yang  tak bisa dimakan dan dijadikan tumpuan bertahan hidup. Kita mati kelaparan.

Uang tak dapat hidup sendirian. Ia harus berdampingan dengan “sesuatu lainnya” agar bernilai. Uang mustahil untuk hidup sendirian. Uang hanya terus menjadi bayang-bayang. Namun anehnya, kita sebagian menjadikannya sesembahan. Dan celakalah yang ternyata menuhankan uang. Karena tuhannya begitu getas, rapuh, dan tanpa ada daya upaya.

Jadi.. masih cinta mati sama Dia?

Salam anget,

LoiCayul

 

 

 

catatan:

Namun, tetap patut diakui, bahwa dunia fana sekaligus maya kekinian masih menomorsatukan uang dan terus berjaya. Karena semua orang masih sepakat sama-sama menjadi hal paling favorit setiap hari. Bisa nambah amalan atau nambah dosa. Bikin hepi atau bikin iri. Padahal ya gitu deh. Ndak nyata. Getas, Rapuh, seperti perasaan jomblo.

 

Advertisements

Tuan Uang, Bukan? Tunggu Sebentar, Saya Sedang ke ATM. *)

Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.

Carl Sagan

Jika rentang waktu jangka pendek yang dikejar, maka NASA, sebuah lembaga riset antariksa milik Amerika adalah lembaga yang sangat boros dan patut dipersalahkan sebagai salah satu sumber defisit anggaran negara tersebut.  Apakah ini semata-mata soal uang? Soal perhitungan untung rugi?

Dan prasangka ini justru dialami oleh IPTN / Dirgantara Indonesia. Sebuah industri pesawat terbang dari negara berkembang yang akhirnya layu sebelum berlayar menjelajah angkasa raya. Dianggap sebagai proyek menara gading bagi sebagian pengambil putusan negeri ini pasca Krismon 1997.

Tapi langkah kecil mereka akan dilihat di kemudian hari.

Manusia dan pemikiran  semacam ini masih banyak. Manusia yang berdiri di ruang sempit. Dalam hening. Berkutat dengan gelas kimia. Berkutat di depan layar komputer. Sebagian dengan mesin tik. Sebagian di tengah hutan. Sebagian menyelam ke dasar samudra.

Apa yang diperoleh sains dengan teori dan eksperimennya, adalah himpunan dari pengetahuan tentang hal-hal yang relatif benar, yang ditapis dan dipisahkan dari pengetahuan tentang yang mutlak salah. Itu sebabnya Stephen Hawking misalnya menganjurkan agar seluruh ilmuwan mengumumkan seluruh kesalahan yang mereka tangani, bukan hanya kebenaran yang mereka temui. Kesalahan yang diumumkan membantu ilmuwan lain bertanya jawab secara lebih efisien dan lebih cerdas dengan kenyataan semesta—kenyataan besar yang jawabannya mungkin tak mudah dibuka dan tampak tak peduli pada kesulitan manusia, namun sungguh tak pernah berdusta.

Bisa jadi dalam hidupnya mereka tak menemukan sesuatu. Mereka mencoba banyak cara untuk satu hal. Mencipta. Melakukan cara baru. Mencari jalan paling mutakhir agar kualitas hidup menjadi lebih baik. Pun jika dalam hidupnya selalu gagal, tapi bisa jadi kegagalannya adalah jalan bagi peneliti dan generasi penerus berikutnya menjadi lebih mudah untuk membuat lompatan ilmu. (Nirwan A. Arsuka).

Ini juga yang dinarasikan dengan baik oleh Peter Thiel, salah satu mafia PayPal, investor pertama facebook dan pendiri Palantir, sebuah perusahaan periset big data yang mendapat gelontoran dana Amerika dan disinyalir membantu pemerintah AS untuk mencari  Osama Bin Laden. Peter Thiel menceritakan soal pentingnya lompatan bagi para Penemu lewat bukunya “Zero to One”.

Walau pada akhirnya langkah dari “tiada-menjadi-ada” ini yang diistilahkan “dari-nol-menjadi-satu” olehnya dikawinkan demi kepentingan ekonomi, yaitu teori kompetisi baik pasar sempurna atau monopoli, namun yang menarik dari uraian dalam bukunya adalah soal daya upaya untuk mencipta.

Peter Thiel tidak bicara rentang waktu, bagaimana ilmu dapat diketemukan secara beramai-ramai walau beda waktu. Saling menyumbangkan teori dan praktek secara turun-temurun. Melampaui jurang zaman. Dan pada akhirnya mendekatkan diri manusia kepada alam semesta.  Peter lebih menekankan nilai sebuah “temuan baru-menjauhkan-dari-kompetisi-lalu-bisa-monopoli”.

Namun pada pokoknya, ada sifat ilahiah yang ditiru anak manusia. Mencipta sesuatu. Apakah akan menjadi ilmu. Apakah dalam konsep Islam ini yang dinamakan kebaikan Jariyah?

Pelan-pelan saya belajar. Di dalam tubuh saya, di antara sel-selnya yang renik terdapat materi yang sama dengan yang terdapat di ruang-ruang senyap antar bintang. Saya adalah alam. Tubuh saya patuh kepada hukum gravitasi sama seperti benda-benda langit. Tubuh saya akan hancur terurai menjadi tanah dan debu. Suatu hari tubuh saya akan kembali ke alam. Namun, saya juga belajar mengatasi hukum-hukum alam yang deterministik sekaligus memanfaatkannya, dimulai dengan belajar berenang lalu naik pesawat terbang. (“Kebudayaan dan Kegagapan Kita” – Karlina Supelli, Pidato Kebudayaan tahun 2013).

Apakah soal mencipta adalah melulu dilakukan oleh para ilmuwan. Pelaku dunia sains? Seharusnya sih ndak mesti.

Walaupun Carl Sagan menulis novel tentang dunia astronomi yang digelutinya, namun dari novelnya kita bisa memahami, walau sebuah tulisan bisa jadi justru mengilhami ilmuwan untuk mencipta dan menekuni tentang suatu hal. Pemikiran futuristik yang dituangkan dalam tulisan bisa jadi mempengaruhi percepatan kemajuan ilmu dan teknologi. Memberikan inspirasi. Hal ini dapat kita temui dari banyak karangan fiksi ilmiah Jules Verne. Kisah-kisah petualangan dengan banyak piranti dan perabot yang melampaui zamannya.

This slideshow requires JavaScript.

Di luar itu penulis sendiri sebetulnya memiliki tugas yang sama dengan para saintis. Penulis sama dengan para pelaku kebudayaan lainnya.

Keselarasan ilmu. Seiring sejalan. Beriringan menuju altar kemajuan peradaban umat manusia.

Dalam Pidato kebudayaan Karlina mengingatkan perlunya keseimbangan dunia sains dan humaniora.

Dari salah satu sisi jurang itulah terdengar sindiran penyair William Blake kepada Newton sang begawan fisika jauh di seberang,

“May God us keep/From Single vision and Newton’s sleep!”

Blake menganggap Newton telah memicu cara pandang materialistik yang menciutkan dunia ke visi tunggal. Sungguh berbahaya jurang itu, kata Snow di bagian akhir kuliahnya. Ilmu dan teknologi akan melesat tanpa dibarengi dengan perkembangan kebudayaan dan moral yang memadai, padahal keduanya merupakan landasan material bagi hidup kita. Snow menutup kuliahnya dengan sebuah himbauan,

“Demi kehidupan intelektual … demi masyarakat Barat yang hidup kaya raya namun rapuh di tengah-tengah kemiskinan dunia, demi kaum miskin yang tidak perlu hidup miskin seandainya dunia cukup cerdas … Menjembatani dua budaya itu adalah sebuah keharusan, baik dalam arti intelektual maupun praktis. Ketika keduanya terpisah, masyarakat tidak lagi dapat berpikir dengan bijak.”

Dari sinilah amanat lain itu harus dipikul. Moral dan budaya yang dibangun dari sebuah keadaan tak kasat mata. Tidak berbau. Tidak berwarna. Dilakukan oleh budayawan. Dilakukan oleh Penyanyi. Dilakukan oleh Penari. Dilakukan oleh Artis jalanan. Dilakukan juga secara intelek oleh sastrawan. Misalnya bagi penulis, maka tugas kepengarangan itu muncul.

Namun bukan berarti mengarang pun harus dengan tujuan utama yaitu menjaga moral masyarakat dimana dirinya hinggap. Bukan.  Buatlah sebebas mungkin. Bahkan setelah teks lahir pun bukan lagi milik pengarangnya. Dia lepas. Seperti anak yang telah dilahirkan. Pemahaman konteks atas teks bahkan bukan monopoli penulisnya. Dia bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Teks yang bermolek-molek di pikiran pembaca.

Apalagi soal moral. Pengarang tidak pernah mendapat disposisi dari siapapun juga untuk menitip pesan kebaikan moral dalam tulisannya.

Dan bahkan jikapun ada hal-hal berbau “chicken soup“, atau moralizing-wasaizing, tetap bukan semata-mata tugas pengarang untuk menjaga sesuatu hal luhur dipertahankan dalam masyarakat. Karena mengarang sebatas menyajikan. Tak ada paksaan untuk menyantapnya. Keinginan untuk membaca, keinginan untuk santap siang lahir dari masing-masing calon pembaca (atau calon bukan pembaca).

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan” – (Bumi Manusia, Pram)

Berterima kasih kepada Minke dan Bumi Manusia atau berterima kasih pada Pramoedya Ananta Toer?  Berterima kasih kepada penambang tembaga, pencipta dioda, transistor, kepada Alexander Graham Bell, atau pendiri Nokia?

Berterima kasihlah kepada diri sendiri. Karena dengan terus berkehendak hidup maju dan mulia, adalah langkah awal kita menikmati hidup dan saling tolong-menolong sesama manusia. Lalu kita dapat melakukan banyak hal dengan ketulusan niat dan senyum hingga akhir hayat.

Lalu  “keberadaan” kita akan melampaui tahun, abad dan zaman.

 

Akhir kata, selamat hari Sabtu. Selamat menikmati tanggal muda.

Roy.

 

 

 

 

*) dari puisi Sapardi Djoko Damono. teks aslinya:

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

[JAWABAN] Main Tebak-Tebakan

Tengah Desember lalu saya iseng menulis Tentang Jilbab. Sampai sekarang tulisan itu masih sering dibaca, komentarnya pun beragam. Ada yang setuju, ada yang ndak, ada juga yang ndak urus. Bebas.

Minggu lalu saya mengajak kalian, teman-teman Linimasa, main tebak-tebakan. Iseng-iseng tak berhadiah, lah. Ada total 12 foto perempuan dengan tutup kepala yang berasal dari sekte/agama yang berbeda. Pertanyaanya gampang: Bisa kah kalian membedakan mana yang islam dan mana yang Yahudi? Mana yang Coptic dan mana yang Syiah?

Dari sekian banyak pertanyaan yang dituliskan di kolom komentar, ada satu yang menarik perhatian saya. Jawaban dari @moelmoelmoel. Berbeda dari yang lain, Moel justru tidak memberikan jawaban A, B, C, atau D. “Semua jawaban ada pada pertanyaanya.” Katanya. Hahaha.. saya setuju.

Jadi ingat. Dulu, saya pernah mengambil mata kuliah Women Studies. Ndak, isinya ndak ada perempuan dengan bulu kaki lebat dan ketiak yang tidak dicukur seperti yang sering diasosiasikan dengan feminis-feminis garis keras. Kelas ini juga gak cuma  untuk perempuan saja. Semua ras, semua gender, semua agama ikut.

Suatu hari, ketika ada sesi tanya jawab setelah kuliah, ada satu perempuan asal Jordania yang bertanya begini: “Kenapa ketika seorang perempuan Muslim berjilbab itu dikategorikan sebagai opression, sementara pada biarawati Katolik, penutup kepala adalah simbol kepatuhan dan keimanan?” Hari itu ndak ada yang bisa jawab, tapi kami sepakat kalau seharusnya ndak ada masalah. Mau pake jilbab atau ndak, mau percaya tuhan atau nyembah gentong, suka-suka aja. Manusia kadang terlalu fokus sama perbedaan.

Sebelum tulisan ini jadi kepanjangan dan bahasannya jadi kelebaran, ini jawaban dari Main Tebak-Tebakan minggu lalu:

1. Perempuan-perempuan ini beragama Kristen. Sebagian dari Coptic Orthodox, lanjutan dari Church of Alexandria. Mereka mukim di wilayah Ethiopia, Eritrea dan Nubia (sekarang Sudan).

2. Muslim:

3. Yahudi: Banyak yang gak tau kalau perempuan Yahudi Orthodox juga memakai niqab.  Sungguh syariah, kan? gak cuma perempuan-perempuannya aja. Para laki-laki juga mengenakan penutup kepala bernama kippeh (kopiah – sepertinya akar katanya sama), memanjangkan janggut dan jambang, dan.. bercelana cingkrang!

4. Sabian: Mirip dengan Zoroastrian di Iran, tapi yang ini berpusat di Baghdad, Irak. Al Shabiin atau Sabians ini pernah begitu ramai dianut semasa Muhammad (pbuh) hidup. Dalam kepercayaan mereka juga ada ritual seperti wudhu, menyucikan diri di tepi sungai Eufrat sebelum beribadah.  Sekarang populasi Sabians semakin menurun. Dan kabarnya, mereka adalah target ISIS yang utama.

Jadi…. salah berapa? :p

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 4

“Katakan, Sayangku, siapakah lelaki yang paling berkuasa di negeri ini? Adakah yang lebih kuat dan hebat dariku?”

“Ada. Bukan kau.” jawab sang kekasih dengan tenang.

Ia pun terperanjat. Kaget. Ia tak mungkin tertandingi. “katakan, siapakah dia?”

“Aku.”

“Kamu..? Tapi… Bagaimana mungkin kamu bisa lebih berkuasa dariku?”

“Aku tidak mengerti..”

“Iya. Kamu memang penguasa terhebat negeri ini, tak ada raja yang lebih berani darimu. Tapi, kamu dikuasai hatimu, Sayangku. Dan aku, akulah penguasa hatimu.”


Ilustrasi Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz. Digambar oleh Ryan Grant Long
Ilustrasi Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz. Digambar oleh Ryan Grant Long

Abad 8 masehi. Islam sedang jaya-jayanya. Abbasiyyah berhasil merebut hampir semua wilayah jajahan Umayyah. Hanya menyisakan Al Andalus. Mereka lalu membuat pasukan elit dan merekrut para budak keturunan Turki. Mamluk. Terkenal paling piawai di medan perang, tidak pernah tidak menang.

Wilayah kekuasaan Abbasiyyah pun semakin meluas. Dan, konsekuensinya, Islam pun semakin menyebar. Dan pada abad ke-10 akhirnya bisa memasuki wilayah India. Si Mahmud yang keturunan Mamluk akhirnya berhasil menaklukkan Ghazni. Jadilah ia ‘Sultan’ pertama dalam sejarah Islam.

Gak puas hanya jadi raja kecil di Ghazni, Mahmud pun terus berambisi menaklukkan daerah-daerah lain. Akhirnya wilayah Iran, Turkmenistan, Uzbekiztan, Kyrgyzstan, Pakistan, dan juga wilayah utara India semua masuk jadi wilayah kekuasaanya. Siapa yang tak kenal mahmud. Bagi rakyatnya, ia dianggap seorang patron sastra dan seni. Mahmud dipuja puji. Punya sembilan istri. Lusinan selir.

Tapi ke-sembilan istri dan lusinan selir tadi tidak ada yang bisa mengambil tempat paling spesial di hati Mahmud, padahal, hasil perkenthuannya sudah menghasilkan lebih dari lima puluh anak. Cintanya hanya untuk Ayaz.

Ayaz tidak rupawan. Wajahnya biasa saja. Kulitnya gelap. Seperti buah zaitun, katanya. Apalagi ia hanya seorang budak hasil rampasan. Tapi cinta Mahmud begitu tulus. Bahkan, di dalam cerita para sufi, kisah cinta antara Mahmud dan Ayaz ini dijadikan contoh ‘Ishq. Sebuah perasaan kasih yang begitu dalam, sampai-sampai bisa mengalahkan ego. Pengejawantahan cinta yang paling sempurna.

Rakyat bingung. Seorang sultan yang paling hebat justru melupakan para istri dan selirnya dan lebih memilih Ayaz. Udahlah mukanya biasa aja, cowok pula. Ada satu pujangga terkenal yang menulis tentang mereka. Kalau diterjemahkan seperti ini: “Bagaimana mungkin seorang burung bulbul (nightingale) lebih memilih mawar yang sudah tidak berbau, tidak juga memiliki warna yang indah?”

Namanya juga cinta. Susah dimengerti. Malik Ayaz jadi orang kepercayaan si sultan. Gak cuma soal hati, tapi juga soal pemerintahan. karirnya semakin lama semakin menanjak. Mulai dari prajurit, diangkat jadi panglima, dan akhirnya ia dihadiahi wilayahnya sendiri. Lahore. Di bawah pemerintahan Ayaz, Lahore yang tadinya porak-poranda karena perang menjadi begitu maju.

Dan pada suatu hari, ketika Mahmud sedang berdua-duaan dengan kekasihnya, Ayaz, ia bertanya:

“Katakan, Sayangku, siapakah lelaki yang paling berkuasa di negeri ini? Adakah yang lebih kuat dan hebat dariku?”

Puisi tentang Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz

(bersambung)

(Baca cerita sebelumnya di sini.)

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 3

(sambungan dari Part 1 & Part 2)

Ruangan besar itu begitu lengang. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan sebuah meja. Lelaki itu bernama Amir. Di depannya duduk seorang panglima Taliban. Berjubah putih, sorban yang sewarna, dan janggut yang panjang melewati dagu. Mereka tidak saling berbicara. Di dekat pintu ada seorang penjaga yang berdiri tegap dengan senapan di punggungnya.

Tak berapa lama pintu pun dibuka. Suara musik serta-merta menghambur ruangan. Disusul derap-derap langkah. Seorang lelaki yang juga berjanggut, bersorban, dan bersenapan berjalan masuk. Ia menjinjing radio player usang. Di belakangnya terlihat seorang anak kecil. Sohrab namanya. Gemerincing gelang-gelang di kakinya melengkapi musik yang mengalun.

Sohrab memasuki ruangan sambil menari. Berjinjit lalu berputar. Begitu gemulai. Badannya berbalut kain sutera warna biru tua. Wajahnya yang halus dan matanya yang lebar dibingkai maskara dan celak warna hitam. Rautnya murung. Dua orang penjaga bersenapan tadi terus bertepuk tangan, seolah memaksa Sohrab untuk terus menari.

Amir mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahan. Anak lelaki yang dipaksa menari ini keponakannya.

***

Cerita di atas adalah sepenggal adegan dari film The Kite Runner. Film adaptasi dari buku berjudul sama karangan Khaled Hosseini.


Bacha Bazi di awal tahun 1900an
Bacha Bazi di awal tahun 1900an

Bacha Bazi berasal dari bahasa Persia, Baacheh Baazi. Simpelnya, mereka adalah anak laki-laki penghibur. Ini merupakan tradisi Afghanistan yang sudah berumur ratusan tahun. Katanya, sih, adaptasi dari kebudayaan Persia Kuno dan Romawi.

Para lelaki Taliban mengambil anak-anak lelaki yatim piatu atau mereka yang dari keluarga tak mampu untuk didandani seperti perempuan. Mereka dijual bak budak. Dipaksa menari dan benyanyi di depan puluhan lelaki dengan iring-iringan musik. Untuk menghibur hati dan juga pemuas hasrat seksual.

Bacha merupakan symbol kekayaan dan kekuasaan laki-laki Taliban. Semakin manis rupa, semakin halus kulit, semakin lentik jemari ketika menari, maka semakin tinggi pula status sosial sang tuan.

Biasanya para “tuan” ini memiliki lebih dari satu Bacha dengan rentang umur yang bervariasi. Rata-rata usia 8-17 tahun. Dan sudah “aturan main”-nya ketika para Bacha ini beranjak dewasa, biasanya mereka juga membeli anak-anak lelaki untuk dijadikan Baacha Bazi. Begitu seterusnya. Kalau mereka coba kabur, anak-anak ini akan dipukuli bahkan tak jarang dibunuh.


Sangat ironis. Untuk negara yang sudah jelas-jelas menyandang cap ‘homophobic’ dan dengan tegas menjalankan memaksakan hukum Shariah, Bacha Bazi yang merupakan konsep jaman batu ini justru tumbuh begitu subur. Memang, pada praktiknya hal ini illegal. Tapi karena para tuan ini adalah orang-orang yang berkuasa, jadi kebiasaan ini tetap dijalankan.

Satu pasal di undang-undang Taliban bahkan menyatakan “Mujahiddin dilarang membawa anak laki-laki tanpa ‘facial hair’ ikut masuk ke dalam kamar-kamar pribadi mereka.”
Ironis, kan? Kelompok fundamentalis Islam garis keras bahkan merasa perlu secara spesifik mencantumkan ini ke dalam undang-undang mereka.

Sepertinya memang praktik ini sudah jadi rahasia umum dan diterima secara diam-diam, sekeras apaapun hukum syariah yang dijalankan. Sampai-sampai ada perumpamaan seperti ini: “Ketika seekor burung terbang melintasi Kandahar, ia hanya mengepakkan satu sayap. Satu untuk terbang, sedang yang satu lagi untuk menutupi bokongnya.”

(bersambung)

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 2

(lanjutan dari bagian pertama)

Konya, 1248. Awal Desember. Malam itu, di luar, udara sedang dingin-dinginnya. Di dalam kamar, cengkerama sepasang kekasih sedang hangat-hangatnya. Bagi mereka ini ritual. Kebiasaan yang sudah dilakukan selama empat tahun. Menemukan Sang Empunya Semesta di antara percakapan. Hal yang sulit dimengerti orang-orang sekitar. Tapi siapa yang peduli, bagi mereka ini cinta. Cinta — lebih sakral dari apapun dan kegilaannya tidak selalu harus dimengerti.

Tak berapa lama sang kekasih mendengar pintu belakang diketuk. “Tunggulah sebentar, ada tamu. Aku bukakan pintu dulu.”, katanya.

Ia mengiyakan; tetap tinggal di dalam kamar. Menunggu. Di luar, udara semakin dingin. Tidak terdengar suara-suara. Malam sudah habis dan kekasih tak kunjung datang. Ia patah hati. Ini yang kedua kali. Namun entah kenapa ia yakin kali ini sang kekasih tidak akan kembali. Padahal, baginya, kekasihnya itu adalah Sang Mentari. Sesuai dengan namanya: Syam.


 

Balkh, 1207. Akhir September. Kota kecil ini masuk di dalam wilayah kekuasaan Persia (Balkh saat ini merupakan wilayah Utara Afghanistan). Bahauddin yang ahli agama itu baru punya anak laki-laki. Jalaluddin namanya. Jalal ad-Din; kemenangan atas iman. Bahaudin memang pengin anak laki-lakinya ini kelak bisa jadi penerus.


 

Anatolia, 1215. Persia diinvasi kerajaan Mongol, Balkh akhirnya diduduki. Bahauddin dan keluarganya terpaksa hijrah ke tempat baru ini. Anatolia letaknya di bibir laut Mediterranean. Wilayah ini dulunya kekuasaaan Byzantium, Romawi.

Sudah jadi kebiasaan orang-orang Timur Tengah, nama tempat tinggal dijadikan nama belakang. Tanda pengenal, katanya. Begitu juga dengan Jalaluddin. Ia menanggalkan nama Balkhi, dan menggantinya jadi Rumi. Asalnya dari kata Roman/Romawi. Jalaluddin Rumi kalau diterjemahkan bisa jadi begini : Si Jalaluddin anak Rum.

Enam belas tahun berselang dan Bahauddin sang ayah pun meninggal. Jalaluddin berniat meneruskan jejak sang ayah. Tak lama kemudian ia dan istrinya, Gowhar Khatun, pindah ke Syria untuk belajar.


 

Jalaluddin yang dicegat Syam

Konya, 1244. Tengah November. Jalaluddin, 37 tahun, lagi mateng-matengnya. Punya madrasah, ahli ilmu syariah. Ndak ada yang ndak kenal.

Siang hari itu, seusai mengajar, ia menuju rumah menunggangi keledainya. Ketika melewati pasar, tiba-tiba ia dicegat seorang lelaki paruh baya. Laki-laki ini mengenakan jubah hitam yang begitu lusuh, janggut dan rambutnya panjang tak terurus, badannya dekil. Orang-orang bilang dia gila. Syamsuddin Tabrizi. Syam si laki-laki gila dari Tabriz (sekarang wilayah Azerbaijan, Iran).

Syam terus saja meracau dan menghalangi jalan Jalaluddin. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh yang begitu absurd. Jalaluddin pun tidak tahan untuk tidak meladeni, mereka akhirnya terlibat percakapan yang begitu seru. Syam kemudian memutuskan kalau Jalaluddin lah orang yang selama ini ia cari. Orang yang bisa membantu ia menemukan Tuhannya.

Sejak saat itu Jalaluddin dan si gila Syam tidak bisa dipisahkan. Mereka mengasingkan diri berdua. Berbulan-bulan. Bagi mereka ini ritual. Menemukan Sang Empunya Cinta di antara tatapan dan percakapan sunyi. Berdiskusi tanpa kata-kata.

Dua tahun sudah lewat. Jalaluddin tidak peduli lagi dengan apapun, toh ia sudah menemukan Sang Mentari. Murid-muridnya yang lain habis dibakar cemburu, mereka pun akhirnya mengusir Syam. Keesokannya Syam menghilang tak berjejak. Jalaluddin berduka, mengunci diri. Banyak yang percaya di sinilah titik awal Jalaluddin mendalami mistisisme Islam.


Damaskus, 1247. Di pusat kota. Syam berdebat dengan seorang pendeta dari barat. Francis Assisi namanya (kemudian jadi Santo). Ini Pelik. Soal kalah-menang. Bukan. Bukan soal agama mana yang paling benar. Bukan soal Muhammad atau Yesus. Ini soal judi kartu. Menurut Syam, Francis curang. Maunya cuma uang. Akhirnya Francis pun mengaku, tapi Syam malah merelakan uangnya. “Bawalah untuk kawan-kawan di Barat sana. Bagikan untuk mereka.”, katanya. Francis pun pamit undur diri.

Ada seorang pemuda yang daritadi mengamati mereka dari kejauhan. Sultan Walad. Anak teruta Jalaluddin, ia datang menyampaikan surat cinta untuk kekasih sang ayah. Jalaluddin kangen, katanya. “Kembalilah, Syam, aku rindu.”, mungkin begitu isi suratnya.

Syam akhirnya manut, ikut kembali ke Konya dan kembali ke pelukan Jalaluddin. Mereka tidak bisa dipisahkan.


Konya, 1248. Awal Desember. Pagi itu, di luar, udara sedang dingin dinginnya. Di dalam, hati sedang panas-panasnya. Mata sedang basah-basahnya. Kekasihnya tak kunjung pulang. Padahal Cuma Syam yang bisa membantunya menemukan Sang Empunya Rasa. Walau dalam diam sekalipun.

Berbulan-bulan ia meratap. Puluhan sajak ia tulis untuk Syam. Ia pun akhirnya pergi ke Damaskus, siapa tau Syam di situ lagi. Padahal tidak ada yang berani bilang kalau Syam dibunuh dan jasadnya dibuang, tidak bisa ditemukan.

“Why should I seek? I am the same as he.

His essence speaks through me.

I have been looking for myself.”

Setelah lama dirundung sendu, Jalaluddin pun tercerahkan. Sang Mentari tak perlu dicari. Ada di dalam dirinya sendiri.

Jalaluddin pun akhirnya bisa jatuh cinta lagi. Kali ini kepada seorang tukang emas bernama Saladdin Zarkub. Dan, bukan. Ia bukan yang terakhir. Sepeninggal Saladdin, Jalaluddin kembali jatuh cinta pada seorang pemuda berdama Husam Chelebi.

Sajak-sajak Jalaluddin tentang Syam pun dikumpulkan dan diberi judul “The Great Works of Sham of Tabriz”. Namun buku ini dan sajak-sajaknya yang lain, oleh pemerintah Turki, sempat dilarang beredar dan diterjemahkan karena kontennya yang begitu “nggilani”. Barulah akhirnya pada tahun 2006 kumpulan sajak ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Homo kah seorang Jalaluddin Rumi? Apapun hubungan yang ia miliki dengan Syam Tabrizi, rasanya kurang pas jika harus dikotak-kotakkan ke dalam label homoseksual, homoerotis, homophile, homosocial, dan homo-homo lainnya.

Saya, sih, melihat ini sebagai same-sex love. Tidak harus selalu dimengerti. Tapi, cinta dan kasih seharusnya juga tidak perlu ditempeli embel-embel gender. Seperti yang pernah ditulis Gandrasta, Jalaluddin pun punya konsep yang sama tentang cinta dan ketuhanan.

“I profess the religion of love.

Love is my religion and my faith.

My mother is love, my father is love, my prophet is love.

My god is love I am a child of love.

I have only come only to speak of love.”

 

(bersambung)

(p.s: kalau teman-teman tertarik membaca kumpulan sajak Rumi untuk Syam Tabrizi, silakan tinggalkan email di kolom komentar. Nanti saya kirim versi pdf-nya. 🙂 )
(p.s.s: bisa juga klik di sini divaneshams)

HOMOSEXUALIS[LA]M

Spanyol, 1485. Christopher Columbus belum punya niat untuk mencari “Dunia Baru” apalagi menginjakkan kaki di Amerika. Ia berhenti sejenak di tengah pelayarannya dan singgah di Granada. Kedatangannya disambut meriah ratu Isabella dan raja Ferdinand. Rupanya mereka sedang merayakan sebuah kemenangan. Kerajaan Katolik akhirnya bisa mengalahkan Moors, umat Islam dari Kekalifahan Umayyah, dan menguasai Spanyol.

Sejarah memang selalu dituliskan pemenang. Saat itu, bagi yang kalah, inilah akhir dari sebuah masa. Peradaban yang usianya lebih dari 700 tahun. Segala jejak tentang Islam dan Kekhalifahan Umayyah dihapus. Moors tak lebih dari bangsa barbar yang kasar dan tak beradab. Pembantaian di sana-sini. Lebih dari sejuta buku berbahasa Arab dibakar, tidak boleh ada sisa.

Namun, ada satu istana yang dibiarkan utuh. Letaknya di atas bukit yang tanahnya berwarna merah kehitaman. Ia dikelilingi pepohonan rindang. Kain-kain sutera aneka warna menyelimuti seluruh sisi istana. Melambai-lambai dengan lembut ketika ditiup angin sepoi. Dan, ketika ditingkahi matahari, bangunan ini berubah warna menjadi keemasan. Masyarakat sekitar menyebutnya “Yang Berwarna Merah” . Al Hambra.


Al Hakam II

Cordoba, 961. Al Hambra tak lebih dari sekadar benteng kecil. Tapi kota ini sudah dijejali perpustakaan. Jumlahnya 70. Semua orang kala itu lagi gandrung dengan ilmu pengetahuan yang dibawa Islam. Astronomi. Ekonomi. Kedokteran. Lupakan Alexandria, apalagi kerajaan-kerajaan lain di Eropa. Al-Andalus lah denyut dunia. Metropolitan.

Sang raja kala itu, Al Hakam II, punya lebih dari 400.000 koleksi buku dan dianggap sebagai pemimpin yang sangat cerdas. Tapi, raja terhebat sekalipun jadi tidak berguna kalau tidak bisa punya anak.

Satu istana bingung. Bagaimana caranya, supaya, Hakam yang sudah berumur 46 tahun ini punya keturunan. Perempuan-perempuan dari segala daerah pun didatangkan. Tidak ada satupun yang dilirik. Sia-sia. Hakam seorang homoseks.

Entah siapa yang punya ide jenius ini. Seorang budak Kristen dari Basque (sekarang wilayah Perancis) diangkat sebagai selir. Sobeyah namanya. Rambut Sobeyah dipotong pendek. Ia lalu didandani seperti anak laki-laki. Sobeyah sekarang bernama Jafar. Jafar “dicomblangin” sama Hakam.

Hasilnya?

Tidak lama kemudian lahirlah seorang anak laki-laki yang akan jadi penerus kekhalifahan Umayyah. Hisham namanya. Senanglah hati Hakam. Tapi, Hakam bukan satu-satunya homoseks Umayyah. Abdul Rahman III, sang ayah, juga senang punya selir laki-laki.


Cordoba, 926. Anak lelaki itu bernama Pelagius. Umurnya tidak lebih dari 14 tahun. Kulitnya putih dan garis-garis wajahnya begitu halus. Ia dikhianati pamannya, Hermoygius, yang maunya cari selamat sendiri. Pelagius dijadikan sandera dan budak sementara sang paman melarikan diri. Pada suatu hari, Pelagius diberi dua pilihan: masuk Islam atau mati. Daripada masuk Islam Pelagius lebih baik mati. Akhirnya ia pun dieksekusi.

Dan sekarang, setiap 26 Juni, selalu diperingati sebagai harinya Santo Pelagius. Ada beberapa literatur sejarah yang mengatakan hal ini adalah propaganda Katolik untuk menyebarkan kebencian terhadap Islam. Merujuk versi Katolik, Abdul Rahman III adalah seorang homoseks yang ingin menjadikan Pelagius sebagai “harem”. Dan memang, waktu itu, homoseksualitas jadi senjata ampuh agar orang bisa membenci Islam. Terutama setelah direbutnya Al-Andalus.


Berbicara tentang hubungan sesama jenis dari sudut pandang agama memang susah. Yahudi, Kristen, dan Islam semua sepakat kalau hubungan sesama jenis itu dilarang. Selalu merujuk kepada satu cerita: Kaum-kaum Nabi Luth (Sodom & Gomorah). Padahal adegan pembabtisan Yesus yang digambarkan dengan detil pun tak luput dari homoerotika.

Saya masih tetap dengan pendapat kalau “homoseksualitas” memang sebenarnya adalah temuan baru. Pada saat itu, tidak ada beda antara mereka yang straight atau yang cong.

Dan, kalau berbicara fiqh Islam, tidak ada garis jelas yang membahas soal homoseksualitas. Tidak ada yang bisa dengan pasti menjawab sejauh apa hubungan yang dilarang, atau apa hukuman yang akan diberikan.

Dari 114 surat di dalam Al Quran, hanya satu yang rasanya pas dijadikan landasan hukum tentang hubungan sesama jenis. Ironisnya, aturan tentang hubungan beda jenis justru lebih tegas dan banyak!

 “Jika dua orang melakukan perbuatan yang salah di antara kalian maka hukumlah mereka. Tapi, jika mereka mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah maha menerima taubat dan maha penyayang.” (Al Quran 4:16)

Kalau begitu, bisakah dibilang kalau umat Islam sekarang berhutang budi pada para homoseks jaman Umayyah?

(bersambung)

Dari Shalimar Sampai Kim Il Sung

Berhubung si Nauval jaringan internetnya lagi bermasalah, (saat ini yang bersangkutan lagi marah-marah sama mas-mas customer service salah satu provider Internet) hari ini saya yang ambil alih jadwal piket. Tulisan Nauval akan diunggah esok pagi.

Mari kita rehat sejenak dari kegilaan dan rasa kesal atas putusan sidang DPR semalam.

Siang itu, 12 April 1967, seorang pria peranakan bernama Oei Hong Kian kedatangan tamu. Namanya Djamin. Ia membawa pesan juga bingkisan dari sang atasan. Dibukalah bingkisan itu. Ada satu set pena Mont Blanc, sehelai dasi sutera dengan inisial ‘S’, sehelai foto yang bertuliskan “Untuk dr. Oei Hong Kian” dibubuhi tanda tangan sang empunya foto, juga tak ketinggalan sebotol besar parfum Shalimar.

Iya, si pengirim adalah Soekarno. Dan Oei Hong Kian adalah dokter gigi yang kemudian menjadi salah satu sahabat terdekatnya ketika statusnya berubah dari presiden RI jadi ‘tahanan rumah’. Dan Shalimar (bukan Jane, red.) adalah parfum yang paling sering ia pakai. Siapa yang sangka kalau Shalimar adalah parfum favorit Soekarno? Di kepala saya, Soekarno itu bersinonim wewangian yang beraroma tembakau, kulit, dan bahkan Oud (kayu gaharu). Keras. Tegas. Manis. Seperti Tom Ford ‘Tobacco Oud’, bukannya Shalimar.

Soekarno bersama Jackie O, Liz taylor, dan Marilyn Monroe. (nyomot dari Agan Harahap)
Soekarno bersama Jackie O, Liz taylor, dan Marilyn Monroe. (gambar bole nyomot dari Agan Harahap)

Shalimar keluaran Guerlain ini ibarat dewi dari seluruh parfum bergenre oriental. Hangat karena rempah dan manis wangi vanilla. Ia diciptakan tahun 1921. Kemudian dirilis kembali tahun 1925 di sebuah eksibisi seni sebagai penghiburan untuk rakyat di kala ‘The Great Depression’. Waktu itu Jacques Guerlain lagi gandrung-gandrungnya dengan Methoxy-3-Hydroxy-Benzaldehyde, hasil sintetis dari pengkristalan sari vanilla. Vanilin; sebuah aphrodisiac baru. Aha!Aphrodisiac. Seketika semuanya jadi lebih masuk akal. Jaman itu, perempuan mana, sih, yang tidak tergila-gila. Pada keduanya, Soekarno & Shalimar. Soekarno memang pecinta segala yang indah dan wangi; perempuan, parfum, bahkan bunga.

Syahdan, salah satu teori tentang G30S/PKI yang terjadi tahun 1965 disebabkan oleh ketakutan Amerika Serikat dan para sekutu atas kedekatan politik Soekarno dengan lawan mereka; Rusia dan Cina. Tapi ternyata tak hanya itu, Soekarno, pada saat itu juga membina hubungan yang sangat baik dengan Korea Utara dan presidennya kala itu, Kim Il Sung. Bahkan ketika ia mengunjungi Pyongyang, Kim Il Sung menginstruksikan agar Soekarno diberi sambutan yang luar biasa. Hasilnya? Ada pawai juga konfigurasi dari ratusan orang yang membentuk tulisan “Hidup Presiden Soekarno!”.

Sambutan meriah atas Soekarno di Pyongyang
Sambutan meriah atas Soekarno di Pyongyang

Di lain kesempatan, pada 13 April 1965, Soekarno juga menyambut baik kunjungan diplomatik Kim Il Sung ke Indonesia. Ketika itu Kim Il Sung sedang berulang tahun, dan sebagai hadiah, diajaklah beliau mengunjungi Kebun Raya Bogor. Ketika mereka melintasi taman anggrek, Kim Il Sung terpesona pada satu anggrek hibrida yang berwarna ungu asal Sulawesi Selatan. Mengetahui sang tamu begitu menyukai bunga itu, Soekarno langsung memberikan sekuntum anggrek sebagai hadiah ulang tahun sekaligus sebagai tanda persahabatan. Pada awalnya Kim Il Sung menolak, tapi Soekarno bersikeras, dan tak hanya itu, ia juga menamakan anggrek itu ‘Kimilsungia’. Akronim dari “Kim Il Sung dan Indonesia”. Dan sejak saat itulah, Kimilsungia menjadi salah satu simbol Negara Korea Utara yang selalu diasosiasikan dengan Kim Il Sung.

Hingga saat ini, setiap bulan April di Korea Utara selalu digelar Festival Bunga Kimilsungia. Tapi kita tentu tidak perlu jauh-jauh ke Pyongyang untuk bisa melihat Kimilsungia. Cukup pergi ke Kebun Raya Bogor. Lumayan, lah, bisa lihat yang cantik-cantik daripada kelamaan mantengin tv nonton sidang DPR. Mungkin ini bisa jadi penghiburan saat situasi politik yang makin ndak nggenah ini. (Eh..Apa perlu dibikin tamasya bersama LINIMASMAS? Yuk! :p)

Senyap yang Gaduh

Malam itu di Toronto. Ruangan terisi penuh. Film sudah diputar separuh jalan. Ada mereka yang berdecak geram kemudian mengumpat, ada pula mereka yang menyembunyikan wajah di balik jari-jari karena ngeri, juga mereka yang diam-diam mengusap airmata. Lelaki itu duduk di baris paling tengah, menyaksikan dengan saksama adegan demi adegan yang ditayangkan. Ia menyilangkan kedua lengannya. Badannya sedikit maju, hampir menyentuh barisan kursi di hadapan. Sesekali ia terlihat menutup mata agak lama dan menarik napas panjang. Terdengar berat.

Namanya Adi. Adi Rukun, katanya. Empat puluh enam umurnya. Sudah lebih dari delapan kali ia menyaksikan film ini, tapi setiap kali rasanya selalu sama. Selalu ada luapan emosi yang sulit terbendung. Bagaimana tidak, ialah sang tokoh utama. Film ini berporos padanya, pada keluarganya, juga pada jutaan orang lain yang kehilangan anggota keluarga karena pembantaian 1965.

Di saat-saat awal proses shooting film Jagal (The Act of Killing), Joshua Oppenheimer tahu kalau dia akan membuat satu film lain yang tak kalah penting. Dan, di tahun 2012, setelah Jagal selesai disunting namun belum dirilis, mulailah Senyap (The Look of Silence) difilmkan. Keputusan ini diambil Joshua karena ia merasa keselamatannya di Indonesia tidak lagi terjamin setelah rilisnya Jagal.

The Look of Silence (Senyap)
Senyap (The Look of Silence)

Senyap membawa kita kembali ke tahun 1965 di Pelintahan, Sumatera Utara. Mengisahkan tentang nasib nahas Ramli. Ketua Buruh Tani Indonesia (BTI), yang tewas dibantai oleh Komando Aksi. Berbeda dengan pembantaian-pembantaian lain di era itu, cerita getir tentang Ramli, yang kala itu berusia 23 tahun, memiliki saksi-saksi dan bukti. Ada saksi yang melihat bagaimana sadisnya ia disiksa, ada pelaku yang sukarela membukukan bagaimana ia membunuh Ramli dan orang-orang lain di desa itu.

Sepeninggalnya, keluarga Ramli dipaksa hidup di bawah ketakutan dan trauma. Mereka harus terus menanggung cap buruk sebagai ‘keluarga PKI’. Bahkan anak perempuannya dijadikan bahan olok-olok di sekolah, yang ironisnya, oleh guru-gurunya sendiri. Sementara itu para pelaku bebas berkeliaran dan justru dielu-elukan sebagai pahlawan. Pelaku-pelaku ini dengan begitu bangga menceritakan dengan detil bagaimana sadisnya mereka membunuh Ramli.

Adi adalah sang adik. Lahir tiga tahun setelah meninggalnya Ramli. Menurut Rohani, ibunya, Adi jawaban Tuhan atas doa-doanya yang meminta mendiang Ramli bisa kembali. Ada keingin tahuan untuk mencari sumber rasa takut. Juga ada keberanian yang begitu besar di dalam diri Adi untuk membantu keluarganya pulih dari trauma. Meretas senyap. Maka dimulailah perjalanan Adi, yang memiliki usaha optik keliling, mewawancarai mereka yang terlibat dalam pembantaian Ramli.

Ada metafora yang begitu cantik di sini. Pekerjaan Adi sebagai optician dan pelaku yang ingin dibuatkan kacamata. Seolah menunjukkan bagaimana rasanya melihat kehidupan dari sisi korban dan mencari jawaban langsung dari mata sang pembunuh. Senyap tak ubahnya sebuah sajak, begitu getir tapi juga mengalir dengan indah. Berbeda dengan Jagal, yang ketika selesai ditonton membuat marah dan geram, Senyap dengan ending yang sengaja dibiarkan terbuka justru mengajak kita untuk merenung. Tentang merelakan, tentang memaafkan, tentang melawan rasa takut.

Senyap juga mengajak kita melihat bagaimana sedihnya mereka yang kehilangan. Ibu Rohani yang menyumpahi anak-cucu para pelaku, agar mereka hidup menderita, menyadarkan kita kalau beliau juga manusia. Beliau hanya seorang ibu yang terus berduka karena sang anak dibantai dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Mengharapkan agar keluarga korban bisa memaafkan pelaku lalu mereka hidup berdampingan rasanya hanya ada di cerita dongeng. Dan sejujurnya, suatu hal yang sangat egois. Semena-mena.

Film telah usai dan lampu pun pelan-pelan dinyalakan. Satu-persatu penonton berdiri sambil menyeka air di sudut mata mereka. Riuh tepuk tangan mengiringi Adi yang berjalan ke atas panggung. Tiga kali standing ovation diberikan penonton sebagai penghormatan untuk Adi dan Joshua. Saya pun bisa merasakan ikatan emosional yang begitu kuat ketika Joshua mendekap erat Adi. Mata mereka berembun. Bagaimana tidak, selama proses pembuatan film ini, Adi selalu dilibatkan. Dan baginya juga keluarga, kedatangan Joshua bagai hujan panjang yang menghapus kemarau, orang yang telah lama ditunggu-tunggu. Membantu menyuarakan isi hati mereka ketika mereka sama sekali tidak bisa bersuara dihimpit rasa takut.

Mereka yang menonton Senyap malam itu mengantri untuk bisa menyalami Adi. Menyampaikan satu-dua kata bagaimana beraninya ia, juga turut mendoakan keselamatan keluarganya. Adi haru. Ia merasa keluarganya begitu dihargai sebagai manusia, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ironis memang, di Indonesia sendiri rasanya masih banyak yang tidak peduli akan nasib para korban pembantaian ini. Seolah semua sepakat bilang “Masa lalu, ya, masalah lo!” PKI masih jadi topik yang enggan untuk dibicarakan. Bahkan, kita masih terus saja memusingkan apakah Jagal dan Senyap ini “Film Indonesia” atau “Film tentang Indonesia”. Sepertinya kebutaan dan kebodohan massal yang sukarela.

Saya harus mengutip William Faulkner, “The past is never dead, it’s not even past.” Kenyataan bahwa Adi dan keluarganya harus pindah ribuan kilometer, bahwa seluruh kru Indonesia yang terlibat proses produksi harus berlindung di balik anonimitas, bahwa Joshua merasa ia tidak lagi aman kalau kembali ke Indonesia, merupakan bukti kalau pembantaian 1965 belumlah bisa dibilang “masa lalu”. Kita masih di masa lalu. Mereka yang tersakiti harus bungkam karena tak bisa bersuara. Dan mereka yang bisa bersuara lebih memilih untuk jadi bisu. Maka senyaplah semua.

Mas Adi, Josh, Signe.
Mas Adi, Josh, Signe.
Saya, Mas Adi, dan Josh.
Saya, Mas Adi, dan Josh.
:: A Homage for Joshua Oppenheimer ::
Ditulis untuk Josh, Signe, Anonymous, & Mas Adi. Terima kasih. Terima kasih. Segala doa-doa baik untuk kalian. Parting is such a sweet sorrow, kata Shakespeare. Semoga nanti saya punya kesempatan untuk bertemu dengan kalian lagi.
Love, F.