Karena Semua Ada Asal-Muasalnya

Kemarin siang, di Pengadilan Negeri Surabaya, salah satu pengacara lokal, Sudiman Sidabukke, bertanya apakah ada bedanya antara “perbuatan melawan hukum” dengan “perbuatan melanggar hukum“.

Ahli, yang saya lupa namanya, menjawab pertanyaan itu dengan sigap.

“Sepanjang yang Bapak maksud adalah Onrechtmatige daad, maka keduanya sama.” Kemudian ia menjelaskan lebih lanjut,

“Bedanya kalau Bapak baca terjemahan Wiryono  (Wiryono Prodjodikoro) maka akan menggunakan istilah “melanggar”, sedangkan Subekti akan dimaknai sebagai “melawan hukum”.

Jawaban yang sederhana. Ahli yang mengembalikan perbedaan tafsir kepada kata asal. Soal hukum Indonesia adalah soal warisan Belanda. Maka ketika ada beda makna, ia mengembalikannya pada sang muasal: Bahasa Belanda. It’s so simple.

Jika saja kita membiasakan diri kepada yang asal, maka percabangan makna – bahkan awam menganggapnya sebuah pertentangan- dapat dihindari.

Sama halnya dengan feeling, perasaan senang. Kita menyebutnya bahagia. Apakah bahagia juga sejatinya adalah hal sederhana jika kita mengetahui asal-muasal darimana bahagia dalam diri itu muncul.

Ada yang bilang bahagia itu setelah kita banyak duit. Mau beli apa-apa mudah. Hidup mudah, ndak susah. Ada yang bilang materi ndak penting, tapi soal menyusukuri nikmat. Ada yang beranggapan selama sehat, fisik prima, rohani dan mental baja, maka hidup akan baik-baik saja dan gemah ripah loh jinawi.

Ketika itu ditanyakan dalam Quora, seseorang menjawab dengan mengembalikan asal muasalnya.

I am rich, fit, and I have mastered almost everything I wanted to master. Why am I still not happy and still not satisfied?

Seorang pengguna Quora, Karim Elsheikh, menjawab demikian:

Human happiness (as we know it) is caused by 4 basic chemicals:

  • Dopamine
  • Endorphins
  • Serotonin
  • Oxytocin

On your journey to become fit, your body released endorphins to cope with the pain of physical exercise.

You probably began to enjoy exercise as you got more into it, and the endorphins made you happy – temporarily.

On your journey to become rich, you probably completed many tasks and goals.

You probably bought all the things you’ve ever wanted. Nice cars, beautiful clothes, and a perfect home.

This released dopamine in your brain when you achieved your goals and bought these things, which once again contributed to your happiness – temporarily.

So what about the other two chemicals?

It turns out that human happiness is incomplete without all 4 chemicals constantly being released in the brain.

So now you need to work on releasing serotonin and oxytocin.

How do I do that, Karim?”

Serotonin is released when we act in a way that benefits others. When we give to causes beyond ourselves and our own benefit. When we connect with people on a deep, human level.

Writing this Quora answer is releasing serotonin in my brain right now because I’m using my precious time on the weekend to give back to others for free.

Hopefully I’m providing useful information that can help other people, like yourself.

That’s why you often see billionaires turning to charity when they have already bought everything they wanted to, and experienced everything they wanted to in life.

They’ve had enough dopamine from material pleasures, now they need the serotonin.

Oxytocin, on the other hand, is released when we become close to another human being.

When we hug a friend, make love to our partner, or shake someone’s hand, oxytocin is released in varying amounts.

Oxytocin is easy to release. It’s all about becoming more social!

Share your wealth with your friends and family to create amazing experiences.

Laugh, love, cooperate, and play with others.

That’s it my friend!

I think it all comes down to the likelihood that you are missing two things: contribution and social connection.

Itulah bahagia secara ilmiah. Mengembalikan asal muasal kesenangan secara kimiawi dari dalam tubuh kita. Hal yang patut diperhatikan adalah jawaban Karim dengan mengulang satu kata: “Temporarily“.

Dari penjelasan dia, saya menyadari bahwa “perasaan anget” dalam dada, bukanlah soal “hati”, tapi reaksi kimiawi otak yang mengakibatkan reaksi tubuh menghangat sekitar dada. Perubahan detak jantung, keluarnya zat tertentu dalam otak, laju darah yang berubah, menimbulkan sebuah efek yang “menyenangkan”.

Karena memang rasa senang, atau orang menyebutnya bahagia, tidak akan langgeng. Dan jika kita menyadarinya mengapa, maka kita akan memakluminya.

Jadi,.. jika ada yang bertanya apa bedanya senang dan bahagia dan mengapa bisa mengalami perasaan itu, maka jawabannya adalah soal “reaksi dalam otak”. Ahahaha.

salam anget,

Roy

(Capres RI 2024-2029)

 

Advertisements

Jika Pablo Cikaso Bermain Musik

 

Scrap-Paper-Dinosaur-Collage-Art.png

Ketika sifat Jamaliyah menetes dalam nurani kita, maka turunannya yang timbul adalah seni. Batu cadas yang dipahat bisa menjadi “sebuah bentuk”. Deretan tinta menjadi kaligrafi. Potongan kertas yang ditempel bisa menjadi “sesuatu”.

Juga sisi kelembutan bunyi. Secarik suara, sepenggal denting, alunan yang disusun dengan selera, bisa membuat mimpi basah yang berawal dari gendang telinga.

Suara di tangan Pablo Cikaso, sebut saja begitu, menjadi sebuah scrapbook berisi remah-remah warna yang disusun secara abstrak, namun ternyata fraktal. Bagai secarik kertas ditempeli potongan berita koran, juga ditempel wajah SBY, lalu di sebelahnya ada potongan obituari, dan di atasnya sebuah tanda rambu lalu lintas tertera.

Pernahkah kamu bayangkan sebuah poster grup musik Tame Impala, ditimpa wajah Raam Punjabi, dan cuplikan foto trailer sinetron Tuyul dan Mbak Yul? Pernah? Sanggup? Oleh Pablo Cikaso bayangan yang baru saja saya sebutkan ini diwujudkan dalam bentuk sebingkis lagu. Pablo menyebutnya “If Kevin was Punjabi”.

 

Bagaimana? Keren bukan?

Itulah asiknya Raka Suryakusumah, nama asli Pablo Cikaso. Olah tempel suara yang dihasilkan sedikit mencengangkan. Sedikit nakal tapi banyak binal. Suara TOA yang biasanya diperdengarkan dari atas masjid dan membahana, tak luput dari keisengannya.

Terkadang Raka memilih jalur karir Barista sekaligus Bartender. Meramu tequila dengan dua gelas kecil espresso. Kok bisa? Kenapa ndak. Lagu Sepohon Kayu yang bernuansa relijius dikocok olehnya dengan semangat Daft Punk. Maka jadilah lagu “If Daft Punk think about the purpose of life”.

“Kenapa Pablo Cikaso?” Suatu ketika saya bertanya padanya.

“Pablo? Saya menyukai pelukis abstrak itu. Terkadang dia ekspresionis, juga surealis namun kita lebih mengenalnya dengan aliran kubisme. Cikaso? Karena saya dulu ngekos disana. Hahaha.”

Beberapa lagu Indonesia lawas juga ia garap. Dengan sentuhan Lo-Fi. Semacam trend bermusik dimana frekuensi lagu sedemikian rendah seolah-olah pita kaset sedang diperdendangkan. Bahkan terkesan mendem, yang pada gilirannya membuat hati tentram, jiwa tenang. Cocok dengan saya, anggota barisan Om-Om Tenang. Lagu “Andaikan kau datang kembali midnight talks remix”, misalnya.

 

“Oh, iya. Pertanyaan penting nih. Kamu anak twitter atau anak IG, Blo?”

“Wah pertanyaan yang susah dijawab. Saya dulu anak basket. Tapi sejak SMP sudah main twitter. Lagu saya juga diunggah ke youtube. Jika banyak kanal bisa disambangi, kenapa harus membatasi diri?” (catatan: akun twitter Raka adalah @_raksur dan channel youtube Pablo Cikaso )

“Oh ya? Sejak SMP?”

“Iya, jaman saya masih seneng nonton Crayon Sinchan.” 

“Oh filem kartun yang mengocok perut itu kan?”

Nope!”, dia menggeleng. “Filem Sinchan itu semacam musik Isao Tomita.”

“Maksudnya?”, tanya saya penasaran.

“Bagi saya, Crayon Sinchan film yang begitu tenang dan menenangkan”

Gimana-gimana?“, saya makin penasaran kenapa filem kartun yang terkadang kurang ajar itu malah tenang.

Biar ndak bingung, mas cekidot aja lagu saya ini. Nanti juga paham.”, ujarnya sembari menyalakan sebatang kemenyan rokok.

 

salam anget,

Roy

+ bonus lagu Crayon Sinchan versi mp3 ala Raka Suryakusumah. (supaya bisa didengar lewat hape walau aplikasi lain dibuka)

Yang Kita Jalani Adalah Cita-cita

“Apa yang kita ketahui itu terbatas, sedangkan yang tidak kita ketahui itu tak berhingga; secara intelektual kita berdiri di satu pulau kecil di tengah-tengah lautan ketidaktahuan tak terbatas. tugas kita di setiap generasi adalah mereklamasi untuk memperluas daratan.”

T.H. Huxley, 1887 – diambil dari Bab I Tepi Lautan Kosmik, Buku Cosmos karya Carl Sagan

Suatu malam ketika di sebuah Starbucks di bilangan Melawai yang di atas mejanya ada dua potong cheese cake, dua kaleng beer Sapporo, tiga kaleng Beer Bintang, beberapa botol air mineral dan beberapa cangkir kopi bikinan tuan rumah, menjadi saksi sekumpulan beberapa manusia absurd yang memperbincangkan hal absurd. Bagaimana tidak. Mereka baru saja pindah dari Daitokyo Sakaba yang jaraknya beberapa meter dari tempat mereka saat ini. Mampir sejenak ke Papaya, minimarket yang menjual cheese cake dan beberapa kaleng beer, lalu mereka mengobrol dengan diawali rasa kecewa karena Daitokyo Sakaba, sushi yang menjual sate-satean, sushi-sushian mengandung daging babi ini, ternyata tidak menjual beer di bulan Ramadan. Semua aktivitas barusan adalah aktivitas dengan judul: Buka Puasa Linimasa Jilid Dua. Kurang absurd?

Mas X,  pria dengan dua tato  di lengan kanannya. Matanya sipit. Bicaranya lantang. Pemikirannya terbuka. Lalu hadir juga Lady X, dengan kipas-kipas asmaranya. Sepanjang waktu mempermasalahkan kenapa pria usia diatas 30 tahun tak pernah mampu orgasme dua kali dalam sehari. Juga Lady Y , perempuan paling cantik kedua setelah Gandrasta yang mengaku baru sebulan berhenti merokok dan mengaku sering Runi saat melakukan kencan buta. “Apa itu Runi?” Sahut kami. Rubah Niat!, jawabnya dengan nada bangga karena istilah ini tak diketahui rekan-rekannya yang lain. Juga hadir Mas Y, walau hadir terakhir dan melewatkan kesempatan menikmati Daitokyo, namun dengan fasih bercerita bahwa betapa Rimming memiliki arti penting dalam menjalani aktivitas memadu kasih. Juga hadir saya, yang masih saja kebingungan ketika Mas X, meneruskan pertanyaan VeHandoyo mengapa Linimasa tetap ada, gitu-gitu aja dan ndak ngapa-ngapain. Marah ndak, lucu ndak, abis-abisin kuota iya!

Salah satu impian saya saat masih mahasiswa adalah menulis catatan harian apa adanya. Tanpa sensor demi sebuah kelegaan hati. Isinya bisa curhat soal kejadian yang telah dilalui, atau impian yang akan dijelang, juga suasana perasaan pada saat itu. Namanya anak muda, maka isinya adalah soal cinta, kecewa dan cita-cita. Tapi terkadang catatan harian saya berisi soal dunia luar. Soal remeh temeh keduniawian, maupun hal-hal agung soal ketuhanan.

Ternyata kebiasaan membuat catatan harian itu keterusan hingga sekarang. Bahkan salah satu ide bikin linimasa ini adalah juga soal meneruskan membuat catatan harian secara digital dan sekaligus berbagi dengan “pembaca yang lain”.

Pengertian yang lain di sini bukan saja orang lain, melainkan pemikiran beda. Karena saya sadar sesadar-sadarnya bahwa pandangan orang pun patut dihargai. Langkah pertama untuk saling menghargai adalah secara jujur mengungkapkan isi pikiran dan perasaan kita terlebih dahulu. Jika pun ternyata terdapat perbedaan, maka yang beda atau yang lain itu justru memperkaya. Saling tahu, lalu saling mengerti.

Cita-cita linimasa adalah menjadi “sesuatu” dan dianggap penting secara intelektual, kultural dan emosional. Kenapa emosional tetap diikutsertakan? Karena itulah menurut saya sebuah nilai luhur manusiawi secara individu. Menyertakan “hati” dalam setiap kesempatan. Bisa jadi tepat bisa jadi tak perlu. Tak tak mungkin sepenuhnya dihilangkan.

Sudah selayaknya kita terbiasa untuk berdemokrasi sejak dalam pikiran. Memberikan kesempatan kepada setiap “suara”. Membaca segala. Bisa jadi sesuai, bisa jadi bertolak belakang dengan apa yang kita yakini dan kita percaya. Setidaknya “suara lain” ini adalah pundi-pundi kekayaan yang kita pungut gratis yang selama ini dirawat dan dipelihara oleh individu lain. Kita, atau setidaknya saya, begitu merindukan masyarakat yang mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Apapun keputusannya. Juga menghormati keputusan orang lain. Masyarakat terpelajar yang bukan karena melulu dilahirkan oleh bangku sekolahan. Tapi atas keterbukaan. Memberi kesempatan kepada yang “beda”.

Membuat catatan harian saat mahasiswa adalah soal hobi. Membuat linimasa adalah salah satu cara kenegarawanan saya pribadi. Lewat tulisan dan saling berbagi.

Ketika masih kecil, sering saya dengar bahwa gantungkan dan kejarlah cita-citamu setinggi langit. Saya percaya itu. Tapi agak berubah dari apa yang saya percayai dulu, ternyata saya lebih menyukai “kerjakanlah cita-citamu yang dulu dan tekuni.”

Bisa jadi cita-cita bukan berarti profesi. Cita-cita bukan sebuah kondisi ajeg, permanen dan statis. Cita-cita adalah sebuah proses kerja. Sebuah kegiatan yang dari dulu diidam-idamkan dan memerlukan dedikasi.

Cita-cita saya adalah memaknai hidup ini dengan penuh martabat. Kehidupan sehari-hari yang perlu menjaga integritas. Bukan untuk siapa-siapa, namun setidaknya untuk saya sendiri. Linimasa adalah salah satu cara saya “memaknai hidup”. Mengkomunikasikan ide dan pikiran serta emosi. Dilemparkan ke pasar pembaca. Bisa jadi tak ada respon bahkan tak terbaca. namun setidaknya ada upaya menawarkan atau proaktiv untuk mencoba menyampaikannya kepada orang lain. Sebuah cara menguji jalan pikiran dan ide. Oleh karenanya, topik linimasa adalah topik sesuka hati. Apapun topiknya boleh kita tampilkan tanpa ada garis sekat apa yang boleh dan tidak boleh diperbincangkan.


Oleh karena itu, betapa beruntungnya saya ketika beberapa teman saya yang saya ceritakan di atas juga memiliki kemauan untuk “berbagi”. Memaknai hidupnya dengan sedikit cerita dan disampaikan lewat blog ini. Ketika suatu hari rekan-rekan saya sedang tak bergairah untuk berbagi dan lebih berkonsentrasi kepada kegiatan lain, misalnya apa yang sedang dijalani Glenn Marsalim saat ini, maka itu adalah bagian dari apa yang juga saya cita-citakan. Bergaul dan berkawan secara paguyuban. Atas dasar kesukarelaan. Bukan sekadar kepentingan patembayan dengan keterikatan karena motif ekonomi dan motif lain yang sifatnya subordinasi. Atas bawah. Bos jongos.

Ada satu lagi yang masih belum terpenuhi secara manis. Masih ada jurang pembaca dan penulis. Impian saya adalah kita sama-sama berbagi. Lewat komentar atau menceritakannya kembali kepada orang-orang tersayang. Karena internet butuh lebih banyak hati.

Terima kasih.

Salam anget,

Roy

 

SaveSave

Anak Kecil Wajib Punya Ayah

Ketika saya masih kecil, yang penting itu saat saya merengek minta jajan, ayah saya sanggup membelikannya. Ndak penting ayah punya uang atau ndak. Saya ndak peduli ayah kerjanya jadi karyawan swasta, dokter, atau berjualan kupat tahu depan rumah. Saya ndak peduli. Apa yang saya butuhkan cuma satu: ayah saya menyanggupi kebutuhan keinginan saya. Mau ayah saya bolos bekerja. Mau ayah saya kerjanya siang malam, dari pagi hingga larut malam, atau kaki jadi kepala dan kepala jadi entah apa.

Children-Come-First-56a25fc65f9b58b7d0c9724d

Anggap saja profesi ayah saya adalah “Agama”. Maka saat itu saya ndak peduli Ayah beragama apa. Mau dalam beragama Ayah saya sering bolos, atau siang malam jalankan ritual ibadah, saya ndak tau menahu. Tetap yang jadi nomor satu adalah: saat mau beli mainan, saya dibelikan. Titik.

Anggap saja saya adalah “Orang sekitar”. Maka bagi orang sekitar, jalankan agama atau tidak itu ndak penting. Selama orang sekitar terpenuhi kebutuhannya. Merasa senang, sudah cukup. Orang sekitar ndak peduli apakah agama itu dianut benar-benar atau sekadar simbol saja.

Anggap saja kebutuhan keinginan saya adalah “Kehidupan bermasyarakat”. Maka Orang sekitar itu ndak peduli soal agama. Hal terpenting adalah saat menjalani kehidupan bermasyarakat dapat merasa senang dan bahagia. Sudah. Itu saja cukup.

Maka sejatinya orang sekitar kita itu ndak peduli sejatinya agama saya dijalankan dengan baik atau tidak, selama saya dapat menjalankan kehidupan bermasyarakat sesuai keinginan orang sekitar, maka tugas agama selesai.

Seorang anak kecil ndak mungkin nuntut ayahnya harus jadi dokter. Atau merengek minta ayahnya berganti profesi sebagai nelayan yang rajin tangkap ikan pakai jala dan sekaligus dilarang pakai kail. Sesuatu yang berlebihan. Biarkan seorang ayah memilih sendiri profesi apa dan bagaimana menjalani profesinya.

Dalam bernegara itu ndak penting anda sholat atau tidak. Ndak penting anda itu rajin ke mesjid atau ndak. Yang penting adalah hasilnya. Bentuk turunan lanjutan dari beragama yaitu perilaku. Orang sekitar lebih memilih dan menyukai agama yang menelorkan kehidupan masyarakat yang kalau naik motor pakai helm. Orang sekitar lebih mengharapkan pengendara mobil itu saat ada lampu merah ndak dilanggar. Orang sekitar berharap saat mengantre tidak diserobot. Berharap toilet duduk itu ndak kotor karena dijongkokin pemakai sebelumnya.

Menjadi berlebihan, ketika seorang anak kecil bukannya sibuk belajar, tapi malah sibuk mengurusi profesi ayahnya. Ayah kudu rajin kerja. Tugas kantor ayah sudah dikerjakan belom. Anak kecil yang baik itu lebih baik merengek saja. Menjadi anak kecil yang sejati. Ndak mikir apa-apa kecuali dibelikan mainan dan berpuas diri.

Demikian juga dalam masyarakat madani. Masyarakat ndak membutuhkan hal primer berupa agama dalam bentuknya yang masih RAW. Bukan agama mentah yang  memamerkan wujud ibadahnya kepada Tuhan. Justru yang dibutuhkan adalah hasil olahan dalam beragama. Produk jadi yang siap dipasarkan dan dinikmati publik. Yaitu akhlak dan perilaku yang sesuai dengan kehidupan bermasyarakat.

Anak kecil ndak butuh seorang ayah yang dokter dan mengenakan stetoskop kemana-mana, atau sibuk mendiagnosis pasien, atau suntik sana suntik sini. Njus. Njus. Njus. Anak kecil lebih butuh duit jajan dan bayaran uang sekolah yang memadai. Oleh karenanya orang sekitar kita pun demikian. Ndak peduli kita pakai kopiah atau selalu mengucapkan salam, tapi kita tetap malas diajak kerja bakti, korupsi duit negara, atau dengan sengaja dan tanpa perasaan bersalah duduk di korsi ibu hamil di sebuah moda transportasi yang kebetulan sesak.

Sudah saatnya simbol agama dan religius bukan lagi dianggap menjadi sebuah kemuliaan paling hakiki. Melainkan dicerminkan oleh hasil olahan dalam beragama itu. Menjadi warga yang santun, baik budi pekerti dan tepa salira.

Orang sekitar ndak peduli kamu itu sholat apa ndak. Ngapain anak kecil tau bapaknya dokter yang super sibuk tapi uang sekolah ndak pernah dibayarkan. Minta duit jajan ndak pernah diberikan. Orang sekitar lebih butuh kehidupan bermasyarakat yang nyaman.

Bahkan bisa jadi Ayah ndak perlu bekerja. Uang jajan bisa saja ada tersedia tanpa bekerja. Uang warisan, utang mertua, atau punya usaha dimana mana dan lancar dividennya. Anak kecil ndak perlu pusing darimana duit ayah berasal. Tapi untungnya masih ada Ketuhanan yang Maha Esa. Artinya:

Anak kecil harus punya Ayah. Menjadi warga negara wajib beragama.

Ayah boleh bekerja atau tidak, asal punya uang untuk anaknya. Agama silakan dijalankan secara religius atau tidak, ndak jadi soal. Yang penting, kehidupan bermasyarakat yang gemah ripah loh jinawi bagi orang sekitar.

Sudah itu saja.

 

 

 

 

Satpam

Aku berjanji takkan pernah lagi pulang pagi

Seminggu bapak slalu tunggu kami sampai pagi
Ku…berjanji

Padamu…selalu

Tak akan…terulang

Kembali…janjiku

Lain hari…
Bapak yang baik hati jangan pergi malam ini

Siapa lagi yang slalu tunggu kami sampai pagi
Bukan maksud hati kami yang ingin pulang pagi

Maafkan kami karna cuma bisa bikin janji

– Klarinet

 

Salah satu sumbangan yang cukup berharga dari bank yang ada di negeri ini adalah bukan saja soal sumbangsihnya mengongkosi banyak pelaku usaha, kredit rumah, atau pinjeman konsumtip lainnya, melainkan melahirkan profesi lama yang menjadi baru. Apakah itu?

Satpam.

Lewat Bank, Satpam dijinakkan menjadi garda terdepan pelayanan bagi bank. Coba saja kamu perhatikan. Saat memasuki ruangan yang namanya bank, maka pria atau perempuan berseragam yang identik disebut satpam, menyambut kita dengan sumringah. Kita akan diberikan arahan untuk ambil tiket sesuai keperluan. Kita diberi tahu dimana kita antre. Kemana kita harus menuju. Formulir mana yang perlu kita isi. Satpam atau Satuan Pengamanan berubah fungsi menjadi Satuan Pelayanan.

Kudunya Asosiasi satpam protes. Gajinya minta dobel. Selain mengendus dan membaca karakter setiap pengunjung, ia juga kudu jaga senyum untuk melayani.

Lewat Bank, profesi ini menjalar kemana-mana.

Sekarang di setiap fasilitas publik ada satpamnya. Perumahan elit sampai perumahan biasa. Dulunya hansip dengan seragam ijo, sekarang? Hitam putih. Apartemen elit ndak mesti ada resepsionis. Tapi mesti ada satpamnya. Di Mal, semua tas yang diperiksa pakai satpam. Bahkan sekolahan anak SD, apalagi jika mau dinobatkan sebagai sekolah bergengsi, maka Pakebon, Tukang kebun berganti menjadi Satpam.

Negeri kita selain negeri maritim ternyata menjelma juga menjadi Negeri Satpam.

Menjadi satpam ndak lagi musti pakai kumis tebal. Pasang wajah menakutkan. Pentungan besar. Cara bertanya pun bukan bentuk pertanyaan yang mencurigakan. Bentuk komunikasinya menjadi melayani. Ndak perlu bawa brik-brikan. Satpam bisa dikoordinasikan via whatsapp grup. Satpam sekarang betah cukup dekat colokan. Jika lagi sepi dia rajin unggah video di tik-tok, atau main mobile legend.

Perubahan yang tanpa disadari ini membuat saya bertanya-tanya apakah ada sekolahnya, ketika semua sudut kota, segala pojok fasilitas publik banyak berjejer satpam?

Ternyata profesi Satpam belum ada sekolahnya. SMK Kejuruan Satpam belum pernah ada yang buka. Sekolah Tinggi Ilmu Satpam juga belum pernah saya dengar.

Menjadi satpam adalah profesi otodidak. Heterogen sekali sekolahannya. Asal berbadan sehat, kelakuan baik, komunikasi lumayan, kuat bawa pentungan, punya otot betis lumayan, dan sanggup berdiri terus menerus, maka kamu layak menjadi satpam. Apalagi jika punya nilai plus: Ganteng atau cakep. Lolos!

Satpam juga dianggap sebagai sebuah peluang yang menggiurkan bagi pelaku usaha. Dalam peta dunia kerja, satpam boleh pakai alih daya atau outsource karena dianggap bukan jabatan utama yang kudu diangkat sebagai pegawe tetep. Maka ongkos biaya satpam relatif murah. Apalagi jika satpam itu bisa juga ngerangkep jadi juru parkir, resepsionis dan angkut-angkut barang. Komplit!

Makanya di bulan puasa, Satpam di apartemen atau komplek perumahan bakalan gembira. Ada saja kiriman tajil buat berbuka, atau salam tempel sekadar beli pulsa dari penghuni. Syukur-syukur dapat bingkisan berupa sarung, uang THR, dan kue lebaran bertoples-toples.

Satpam terkadang lebih paham isu yang terjadi di dunia pergunjingan. Korek saja. Kilikitik dikit, semuanya tumpah ruah. “Bapak ini pelit. Nah, kalau Om ini royal nih Pak. Sekali bantuin markirin mobilnya, ane dikasih ceban!”. “Tante ini suka gonta ganti gandengan, Pak!” Oleh karenanya, perlakukanlah satpam sebaik-baiknya. Pencitraan kita terkadang terletak di balik pentungannya.

Buktikan saja sendiri. kalau sudah CS sama mas Satpam, tamu-tamu di komplek rumah kita terkadang ndak perlu nitip KTP. “Oh tamunya Bapak Roy. Silakan Pak.” Bahkan kita bisa menjadikan dia seperti locker sementara. Ada barang titipan belanjaan onlen atau go-send, bisa diterima olehnya. Asal ya itu tadi. Biaya pertemanan harus dijaga baik. Uang kopi beres. Uang pulsa ada.

Saya ndak yakin dinas tenaga kerja punya data seberapa banyak profesi satpam. Sama halnya saya ndak yakin apakah dinas tenaga kerja punya data seberapa banyak profesi sopir pribadi di negeri ini. Atau pekerja rumah tangga.

Putaran nafkah di sekitar mereka cukup lumayan. Banyak perut yang bertumpu padanya. Sayang-seribu sayang, keterwakilan satpam belum ada di Senayan sana. Saya pastikan, mantan satpam belum ada yang naik ikut pilkada maupun pemilu untuk jadi wakil rakyat. Jika saja mereka kompak, hal ini ndak mustahil bisa kesampaian.

Padahal kita butuh pola pikir mereka untuk menjadi wakil rakyat. Murah senyum, melayani, rendah hati dan yang paling utama: Ndak bakalan tidur saat bekerja.

Wahai Satpam-Satpam Indonesia, Bersatulah!

 

Salam anget,

RoySatpam

Nafsu

Salah satu tujuan kemoterapi pada para survivor leukemia adalah menghambat dan menghilangkan sel kanker yang berada di dalam tubuh. Salah satu efek samping yang sering diderita adalah nihilnya jumlah leukosit dalam darah sehingga jumlahnya yang tadinya meningkat drastis menjadi tiada. Hal ini tentunya berakibat menurunnya kekebalan tubuh dan mempermudah infeksi karena tak ada autoimun yang melindungi tubuh dari serangan kuman, virus, bakteri sebangsanya. Juga jumlah trombosit yang berangsur turun sehingga pengentalan darah sulit dikendalikan dan pada gilirannya tubuh mudah pendarahan.

Sebut saja namanya Dee. Rekan kerja saya ini beberapa bulan yang lalu didiagnosis memiliki gejala leukemia dalam jaringan tubuhnya. Hingga minggu kemarin, Dee telah menjalani dua kali kemoterapi. Rambutnya rontok. Bobot tubuhnya turun drastis. Dari 60 kg, saat ini bobotnya 39kg. Untungnya Dee orang yang ceria. Penuh semangat dan pandai menghibur diri.

Ketika bicara soal leukosit atau sel darah putih, entah kenapa saya justru teringat dengan bulan suci Ramadan. Saya beranggapan bahwa leukosit ini serupa hawa nafsu dalam diri setiap manusia. Selalu ada, dan perlu. Kehadiranya wajib. Tak mungkin dihilangkan karena justru akan membahayakan. Namun jika sulit dikendalikan, juga akan menenggelamkan manusia dari kesehatan jiwa.

Puasa bukanlah cara untuk menghilangkan nafsu. Melainkan belajar untuk mengendalikannya. Puasa menjadi semacam kemoterapi bagi jiwa-jiwa manusia untuk menekannya menjadi seminimal mungkin, pada waktu tertentu saja.

Bagaimana jika sel darah putih tak ada? Infeksi menjadi jadi. Tubuh menjadi rentan terhadap serangan. Sama halnya dengan nafsu. Jika tak ada nafsu, hidup pun tak bergairah. Nafsu makan. Nafsu syahwat. Nafsu melanggengkan kelangsungan hidup manusia. Ia menjadi bergairah. Memiliki gairah untuk melakukan sesuatu dan menjalani hidup dengan dinamis.

Memang sepertinya ada yang janggal dari fenomena darah ini. Juga janggal dengan fenomena nafsu ini. Manusia dilahirkan dengan membawa fitrah memiliki ini tanpa kecuali. Adanya nafsu seolah-olah bukan berarti hal buruk. Nafsu itu perlu. Kita hanya dapat mencintai apa yang sudah diakaruniakan olehNya. Belum tentu yang buruk adalah buruk dan yang terlihat baik adalah baik. Bahkan ketika hal itu dianggap sebagai celaka. Sebagai adzab dalam pengertian tasawuf.

Haidar Bagir, saat menerangkan tafsir Muhamad Asad menulis demikian:

Alasannya mudah diduga. Dalam surah yang sama, Allah menyebut bentuk-bentuk siksa neraka tertentu sebagai âlâ’ berarti karunia (QS Al-Rahmân [55]: 36-37). Bagaimana mungkin ‘adzâb diidentikkan dengan nikmat? Dalam hal ini, sifat eksklusif rasional tafsir Asad rupanya telah menghalanginya untuk melihat kemungkinan makna lain. Dalam hal ini menurut kacamata metode takwil tasawuf. Ya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, persisnya dari sudut pandang “takwil kasih sayang” (hermeneutics of mercy) ala Ibn ‘Arabi, tak sulit untuk melihat sisi lain ‘adzâb sebagai nikmat yang lahir dari kasih sayang Allah. Bagaimana bisa?

Sebelum yang lain-lain, kata ‘adzâb berasal dari kata ‘a-dz-b, yang bisa membentuk kata ‘adzib, berarti “rasa manis yang menyegarkan”. Demikian pula kata nâr (neraka) memiliki akar kata yang sama dengan nûr (cahaya). Bedanya, nâr memiliki sifat panas-membakar. Tapi, sifat-dasarnya menerangi dan menunjukkan jalan yang benar.

Dengan kata lain, meski panas-membakar, siksa berfungsi untuk memberi petunjuk kepada orang-orang berdosa, untuk menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempersiapkan mereka kembali kepada-Nya, masuk surga-Nya. Itu sebabnya, siksaan—sebagaimana diungkap dalam ayat-ayat Surah Al-Rahmân yang dikutip sebelumnya—layak disebut sebagai nikmat.

Di bulan suci yang penuh kasih sayang ini, adalah kesempatan kita untuk belajar menahan. Bukan belajar untuk menghilangkan.

Sama seperti yang rekan saya yakini. Dee menganggap leukemia yang ada dalam tubuhnya adalah cobaan semata. Menjadikan dirinya lebih mawas diri. Menjadikan dirinya lebih mendekatkan diri pada yang Maha Suci.

“Karena luka adalah tempat di mana Cahaya memasukimu”

     -Rumi-

Selamat menunaikan ibadah pengendalian hawa nafsu. Menundukkan diri kepada kepatuhan semata karena dan kepada-Nya.

salam anget,

roy

Kulkas

Sewaktu Alya Rohali dikirim menjadi peserta pengamat dalam ajang kontes kecantikan pada tahun 1996, seorang Bu Mentri yang ngurusi urusan peranan perempuan bernama Mien Sugandi, protes. Perempuan Indonesia ndak patut untuk berlenggak lenggok dengan pakaian serba minim dan memamerkan lekuk tubuhnya. Apalagi diperlombakan. Kira-kira begitu alasannya. Kala itu Ibu Mooryati Sudibyo selaku penyelenggara Putri Indonesia dan sekaligus ketua Yayasannya, mengutus Alya untuk menjadi Participating Observer. Ternyata Alya pun sempat mengenakan baju renang walau tak sempat berenang di kolam. Cekrek-cekrek! Bu Menteri makin berang.

Ajang kontes kecantikan bernama Miss Universe itu sejatinya adalah ajang dimana semua putri dari negara peserta dinilai tidak hanya kecantikan, namun juga keenceran otaknya dan perilakunya selama masa karantina.

Jadi jika menang pun, sang Juara bukan dinobatkan sebagai putri tercantik seluruh semesta alam, melainkan dianggap oleh para dewan juri sebagai putri yang kenes, ayu, berperilaku bae-bae, dan encer otaknya. Pun juaranya ndak dapet sertifikasi sebagai manusia cantik. Hanya sekadar juara. Itu tok.

Maria usianya 16 tahun. Perempuan mungil, lincah dan berkulit sawo matang ini suaranya melengking. Nada-nada yang dialunkannya senantiasa bikin takjub pendengar. Doremifasolasido yang dinyanyikan olehnya sangat mirip, bahkan lebih bagus dari penyanyi aselinya. Oleh karenanya, semua orang suka Maria. Dia juara Idola Indonesia 2018. Lagu yang pernah dinyanyikan Beyonce dia libas dengan mudah. Apalagi menyanyikan lagu Kecewa milik BCL. Jauh lebih bagus dari mbak Unge, nama sapaan BCL. Pokoknya boleh dikata, dibalik tubuhnya yang legam, ada kemuliaan suaranya. Maria, si Legam Mulia.

Walaupun dia juara, panitia Indonesian Idol ndak pernah menganggapnya sebagai sang pemilik suara paling hebat atau mengeluarkan sertifikat yang bilang Maria itu suaranya emas. Maria sang juara. Sudah begitu saja. Karena jika diukur murni suaranya Maria mungkin masih kalah dengan suara Abdul yang sungguh British atau sungguh Adam Levine. Atau suara Mas Kevin dari Jogja yang ngebas empuk. Namun ini adalah kontes idola. Ndak cuma suara, tapi juga cara menyanyikannya, bagaimana lagu dimaknai oleh penyanyi dan terpenting disukai penonton yang berhak mendukung penyanyi siapapun juga. Dari seluruh aspek itulah Maria dinobatkan sebagai idola terbaik.

Dalam dunia otomotif, pemegang rekor mobil tercepat telah bergeser dari Bugatti Veyron Super Sport kepada Hennessey Venom GT. Mobil besutan dari Amerika ini bisa mencapai kecepatan 454 km/jam. Nguuuueng. Kalau ada netizen mau pamer selfie saat mobil ini melaju, belum sempat ngeklik tombol kamera, mobilnya sudah lari duluan. Kecuali netizen bersabar hingga mobilnya parkir dan dengan leluasa netizen bisa foto-foto. Mumpung mobilnya lagi bobo.

Ini pun sama, penobatan sebagai mobil tercepat walau ukurannya jelas ndak ada sertifikasinya yang bilang mobil ini adalah mobil cepat. Dia hanya pemegang rekor. Sudah, itu saja.

Tapi namanya juga negara kita adalah negara keren. Negara maritim yang semua penduduknya berpendidikan tinggi. Semuanya pandai baca dan punya minat tinggi terhadap bacaan. Daya belinya juga oke punya. Masyarakatnya rukun damai tanpa pernah ribut. Apalagi bacok-bacokan. Semua diselesaikan dengan cara yang beradab, adiluhung dan mengutamakan musyawarah kekeluargaan. Polisinya jujur semua. Tentaranya abdi negara, bukan abdi pengusaha.

Maka kita ndak kaget jika ada lembaga yang punya wewenang mulia memberikan stempel sesuatu itu baik atau buruk, ganteng atau cantik, bahkan halal atau haram. Semua boleh diaku olehnya mengenai seluruh hal.

Hanya di Indonesia, negeri tercintah, yang bisa dan mau untuk susah payah mencari dalil dan ayat-ayat yang menegaskan bahwa makanan kucing itu halal. Apalagi sekadar kerudung. Sepanjang dipakai menurup aurat, dan memiliki sesuatu “hal yang spesifik”, maka ada kerudung yang juga halal. Ndak tanggung-tanggung, halalnya ndak cuma secara lisan. Namun dibuat sertifikatnya. Ini sah. Ini resmi. Makanan kucing halal dan kerudung halal.

Mas, sampeyan sudah tau,.. ndak cuma kerudung saja yang halal?“, tanya saya kepada teman ngerokok saya di suatu tempat dan waktu yang dirahasiakan.

“Iya saya paham Mas.”

Sampeyan juga tahu ada makanan kucing halal?

Iya saya juga tahu Mas“.

Nah kalau kulkas halal, sampeyan sudah paham?”

Waduh, saya kok senang dengarnya! Bagaimana itu Mas, saya mau beli segera.

Teman saya rupanya mulai tergoda dan ingin segera memilikinya.

Lho Sampeyan kok ndak tau, ini keluaran terbaru Mas. Apa ndak aneh, kok kulkas pakai acara dihalalin segala“, seru saya dengan nada bangga karena berhasil lebih tahu duluan daripada teman saya ini.

“Ya ndak papa. Itu wajar Mas.”

Kok wajar? Yang ndak wajar itu yang bagaimana?“, tanya saya penasaran.

Mulai ndak wajar jika ada lembaga sertifikasi keislaman.

Maksud sampeyan?“, saya makin penasaran. Sungguh-sungguh penasaran.

Iya, saya akan kaget pingsan jika ada Kulkas bersertifikasi Islam.”

Bedanya apa itu Mas?“, saya bertanya dengan ndak sabar.

Teman saya menjawab dengan santai,

Kulkas Islam itu bukan kulkas dengan dua pintu, tapi kulkas dengan dua kalimat syahadat..“, sembari mematikan puntung rokok dan membuangnya ke pot bunga.

Pablo dan Diego

mandegar-313

“Ketika aku harus mengajak kamu pergi jauh dari kota ini, apakah kamu mau ikut?”

“Kemana?”

“Menghilang.”

“Menghilang dari siapa?”

“Orang-orang yang mengenal kita. Kita pergi ke tempat dimana kita menjadi asing.”

“Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Bagaimana dengan pekerjaan aku?”

“Aku bisa menyetir. Aku juga bisa memangkas rambut. Di tempat asing aku ingin menjadi sopir. Atau pemotong rambut?”

“Bagaimana dengan aku?”

“Kamu, bisa melatih kebugaran di gym.”

“Apakah kita pindah ke kota yang ada gym-nya?”

“Bisa kita cari.”

“Apakah kita perlu berganti nama?”

“Untuk apa?”

“Sekalian aja. Aku ndak suka namaku ini.”

“Nanti aku carikan nama yang pantas untuk kamu.”

“Ndak perlu. Aku mau mengarang sendiri.”

“Ya sudah.”

“Fahri.”

“Ha? Siapa?”

“Ya, aku mau berganti nama menjadi Fahri.”

“Hmmm..”

“Eh, Diego saja. Aku menyukai nama Diego.”

“Hmmm..”

“Bagaimana, bagus bukan?”

“Entahlah. Aku ga akan keberatan sepanjang kamu nyaman dipanggil Diego.”

“Pablo!”

“Ha?”

“Iya, kamu aku ganti namamu menjadi Pablo.”

“Kenapa Pablo?”

“Macho. Aku suka nama yang menggambarkan kelaki-lakian yang tegas.”

“Diego… Hmmm. Pablo… Hmmm.”

“Bagaimana jika nama itu membuat kita malah terlalu mudah untuk dikenali. Nama itu terlalu asing menurutku. Bahkan di negeri asing.”


Pablo dan Diego. Sebut saja begitu. Dua remaja yang saling berkenalan dari twitter. Mereka saling mengenal dari perbincangan tak teratur. Awalnya saling sahut. Lalu saling retweet. Lalu mereka saling follow.

“Hai..”

“Hai..”

“Jalan?”

Dari pertemuan usai jam kerja menjadi pertemuan yang terus disengaja. Mereka saling memahami. Mereka saling mengerti. Tak pernah bilang saling suka, tapi suatu ketika mereka berpelukan manja.

“Bagaimana kalau kita melanglang buana?”

“Aku mau.”

“Kamu carikan tiket, aku urus hotelnya.”

Mereka saling angguk. Tersenyum. Lalu raba yang menjelma rasa saling mengisi.

Malaysia. Bali. Bangkok. Maladewa. Singgapur. Manila. Mereka keliling mencari sesuatu yang mereka inginkan. Mereka ingin berdua. Mereka ingin bebas untuk menampakkan keakraban tanpa rasa was-was.

“Kamu mau pindah saja tinggal denganku?”

Anggukan tanda setuju. Mereka bekerja sama. Bolak-balik angkut kasur, galon kosong, dua tas besar berisi baju, setumpuk buku dari kos menuju apartemen. Mereka bahagia.

Mereka bergantian memasak. Sekali waktu mereka mencuci baju bersama. Jika malas, mereka berdua menghantarkan setumpuk baju ke binatu di lantai satu.

“Aku mau memelihara kucing.”

“Jangan. manajemen sini galak. Jika kita ketahuan, kita bisa diusir.”

“Sebegitunya? Biarin aja. Aku mau kucing.”

“Kenapa harus kucing?”

“Maksud kamu?”

“Bagaimana kalau ikan?”

“Kenapa ikan?”

“Lebih aman.”

“Ikan apa?”

“Hmmmm..”

“Ikan apa?”

“Cupang?”

“Hahahahahahaha..”

” Hahahahaha..”

Lalu tanpa perlu ke pasar ikan mereka saling menitipkan cupang. Leher. Dada. Paha. Punggung. Tengkuk.

Suatu sore yang tak begitu manja. Dilihatnya sang kekasih dengan  paras yang sedih tanpa keceriaan yang bergelora.

“Kenapa?”

“Ayahku bertanya.”

“Apa jawab kamu?”

Sebuah anggukan.

“Dia tahu Kita?”

Sebuah anggukan lagi.

“Lalu?”

“Aku diminta pulang sekarang juga.”

“Bilang saja nanti lebaran sekalian.”

“Jika besok aku tak ada di depan pintu, dia yang akan kesini. Bersama Abang. Juga Paman.”

“Dia tahu alamat kita.”

Sebuah anggukan lagi.

“Kok bisa?”

“Aku pernah beritahu Abang”.

“Apa rencana kamu? Pulang. Menyerah?”

Sebuah gelengan. “Entahlah. Aku capek.”

“Ketika aku harus mengajak kamu pergi jauh dari kota ini, apakah kamu mau ikut?”

“Kemana?”

“Menghilang.”

“Menghilang dari siapa?”

“Orang-orang yang mengenal kita. Kita pergi ke tempat dimana kita menjadi asing.”

“Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Bagaimana dengan pekerjaan aku?”

“Aku bisa menyetir. Aku juga bisa memangkas rambut. Di tempat asing aku ingin menjadi sopir. Atau pemotong rambut?”

“Bagaimana dengan aku?”

“Kamu, bisa melatih kebugaran di gym.”

“Apakah kita pindah ke kota yang ada gym-nya?”

“Bisa kita cari.”

“Apakah kita perlu berganti nama?”

“Untuk apa?”

“Sekalian aja. Aku ndak suka namaku ini.”

“Nanti aku carikan nama yang pantas untuk kamu.”

“Ndak perlu. Aku mau mengarang sendiri.”

“Ya sudah.”

“Fahri.”

“Ha? Siapa?”

“Ya, aku mau berganti nama menjadi Fahri.”

“Hmmm..”

“Eh, Diego saja. Aku menyukai nama Diego.”

“Hmmm..”

“Bagaimana, bagus bukan?”

“Entahlah. Aku ga akan keberatan sepanjang kamu nyaman dipanggil Diego.”

“Pablo!”

“Ha?”

“Iya, kamu aku ganti namamu menjadi Pablo.”

“Kenapa Pablo?”

“Macho. Aku suka nama yang menggambarkan kelaki-lakian yang tegas.”

“Diego… Hmmm. Pablo… Hmmm.”

“Bagaimana jika nama itu membuat kita malah terlalu mudah untuk dikenali. Nama itu terlalu asing menurutku. Bahkan di negeri asing.”

“Soal nama, biar nanti kita pikirkan lagi. Bagaimana dengan uang tabungan kita?”

“Aku habis. Kemarin sudah buat angsuran terakhir.”

“Mobil?”

Sebuah anggukan dilayangkan. “Kalau kamu?”

“Sama. Kita apes. Selamanya kita akan berada disini. Atau malah kita harus akhiri. Uang sewa apartemen sudah terlanjur aku bayarkan hingga Oktober”

“Kamu mau begitu?”

“Kalau kamu?”

Sebuah gelengan dilayangkan.

“Sama, aku pun tak mau.”

“Lalu?”

“Biar kutelpon kakakku.”

“Untuk apa?”

“Aku mau jual mobil kamu. Uangnya buat kita pergi jauh.”

“Bukannya kakak kamu pun tahu tentang kita?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Yakin..?”

“IYA!”

“Tapi bukannya dia rajin shol.. ah, sudahlah. Terserah kamu aja deh.”

“Biar aku coba”. Lalu ditekannya layar dengan gambar angka-angka. “Assalamualaikum..” Ditunggunya respon dari suara di sebrang sana.

..

“Iya kak. Baik kak. Jadi begitu kak. Nanti detilnya aku we-a kak.”

“Bagaimana? Kakakmu apa responnya?”

“Positif. Mobil dia ga butuh. Katanya dia akan pinjamkan uang untuk kita.”

“Serius?”

“Iya.”

“Kok bisa?”

“Entahlah, aku pun tak tahu alasannya. Hanya saja katanya aku diminta memberikan detil dana yang diminta.”

“Ya sudah, ayo kita kirimkan saja rincian uang untuk tiket dan keperluan untuk sebulan ke depan.”

Lalu mereka sibuk berhitung. Sibuk juga berpikir seberapa banyak uang yang mereka perlukan. Seberapa besar mereka akan bertahan hidup sebelum memperoleh pekerjaan yang bisa memberi mereka “makan”.

Belum sempat mereka selesai, sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar gawai. sebuah pesan dari layanan mobile banking. Sederetan angka tertera. Lalu pesan muncul di notifikasi WA.

Ini dari kaka, buat kamu dan dia. Pergilah. Cari kota yang lebih bisa bikin kamu merasa bahagia. Jika perlu  berkelana hingga seberang sana. Kaka alhamdulillah baru saja menjual salah satu rumah di Bandung. Itu buat kamu semua. Semoga bahagia.

Mereka tertegun.

Hanya satu kalimat yang mereka sanggup tulis.

“Kenapa Kaka baik banget?”

Tak ada jawaban. Hanya read doang. Mereka bingung. Tak disangka, dari akan melepas kendaraan hingga mendapatkan dana yang lebih dari cukup untuk pergi jauh. Juga cukup untuk berganti nama. Hingga berpuluh-puluh kali berganti. Pablo. Diego. Javier. Fahri. Junaedi. Emha. Haidar. Ainun. Fikar. Atau sebut nama siapapun. Mereka sedang bahagia.

Bantuan ini sangat mereka harapkan. Namun tak menyangka sedemikian mudah. Tanpa nyana. Pagi-pagi sekali mereka berkemas. Tak banyak yang dibawa. Hanya sepenggal harapan dan sedikit kenangan.

Ketika akan menuju bandara, sebuah notifikasi di we-a muncul. Kaka rupanya.

“Bagaimana?”

“Bentar, aku buka..”

Lalu mereka membaca bersama:

“Mencintai Tuhan yang sempurna, suci, dan agung itu mudah. Yang paling sulit adalah mencintai manusia yang serba kekurangan. Ingatlah, orang tidak akan mengerti selain apa yang dia cintai. Selama kita tidak pernah belajar mencintai ciptaan Allah, maka kita tidak akan pernah benar-benar mencintai apa pun dan tak akan pernah mengenal Allah…”

(Syamsi Tabrizi)

Mereka berdua saling berpandangan. Mereka yakin, Pablo dan Diego adalah nama yang bagus kelak.

-TAMAT-

salam anget,

roy

Perjalanan Itu Masih Panjang

Ketika kita mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, maka yang menemani kita adalah perbuatan kita sendiri.

Tadinya saya berpikir bahwa menciptakan produk adalah salah satu cara mengekalkan aktivitas yang pernah dilakukan oleh kita. Produk itu atau sesuatu itu akan menjadi abadi. Atau setidaknya kita berupaya menjadi abadi.

Namun ternyata.

Bukan saja menciptakan sesuatu atau berkarya menjadikan sesuatu bentuk hadir dalam tampilan fisik yang dapat menjadi kekal. Ada hal lain yang lebih tahan lama. Ketika apa yang kita lakukan adalah menciptakan kesan dalam ingatan. Bisa siapa saja ingatan itu tertancap. Kita sendiri atau orang lain.

Ternyata.

Beraktivitas bersama manusia lainnya jauh lebih abadi. Karena tidak hanya ingatan pernah bersama menghabiskan waktu, tapi akibat dari kebersamaan itu akan terus mengikuti.

Saat berinteraksi dengan orang lain, ingatan kita ternyata juga menggunakan indera penciuman. Kita ingat aroma tubuh kawan bicara. Atau bau mulutnya. Saat bertatap muka, kita juga mendengar suaranya. Tidak hanya melihat dengan mata namun juga mendengar dengan telinga. Aalagi bersentuhan kulit. Ada sensasi yang luar biasa. Bisa dimulai dari bersalaman. Atau berpelukan. Atau hal lainnya yang bisa mulai Anda bayangkan sendiri.

Akan tetapi.

Interaksi antara kita dengan orang lain ternyata tidak sekekal pertemanan kita dengan konsekuensi apa yang kita lakukan. Tidak melulu ketika kita berinteraksi dengan orang lain, atau sendiri, atau beramai-ramai. Yang kekal adalah akibatnya.

Apa maksudnya?

Ketika kita saling mencaci. Yang teringat adalah sakitnya. Lebih kekal daripada rasa lapar yang segera hilang usai sarapan. Ketika kita mengetik pesan via whatsapp, atau pesan pendek SMS, atau mention di twitter. Lalu kita ketik send. Maka yang menemani kita dalam penantian tak berujung apa respon yang akan dijawab oleh kawan bicara di seberang sana adalah reaksi rasa cemas, rasa takut, rasa senang, atau rasa sedih. Padahal kawan bicara kita sendiri belum merespon apapun. Atau bahkan tanpa adanya respon itu adalah sebuah respon itu sendiri. Berganti situasi. Kita ditemani pikiran macam-macam. Apakah dirinya marah? Apakah Bapak itu kecewa saya mengajukan cuti mendadak?

Tanpa disadari sahabat sejati kita adalah situasi ketika kita usai melakukan sesuatu.

Seberapa banyak dialog yang kita lakukan kepada diri sendiri. Lewat jalan pikiran dan suara-suara hati yang terus menerus hadir.

Jika demikian adanya maka kita sebetulnya berteman dengan logika, akal sehat, mood, perasaan, ketakutan, ego, nafsu, dan semua hal yang menjadi teman diskusi dalam hati sebelum mengambil keputusan.

KnowledgeandExperience

Adapun kita berteman dengan si Susi, karena perasaan kita menyukai Susi. Mengapa kita menyukai Budi, ternyata karena ego kita menyukai Budi yang selalu memuji kita apapun yang sedang kita lakukan. Mengapa kita menyukai Muthia. Ternyata karena ketika kita berada di dekatnya bawaannya nafsu melulu.

Semua individu di luar kita bisa berteman dengan kita jika “teman sejati kita” yakni hasil diskusi antara logika dan perasaan dengan banyak jenisnya  itu telah merestui pertemanan kita dengan orang lain.

Namun rupanya.

Ternyata.

Oalah.

Teman yang katanya sejati tersebut begitu rentan. Mungkin ini yang disebut mudahnya membolak-balikan kalbu. Mood kita berubah. Emosi kita berbenah atau makin kacau. Logika kita bisa digunakan, bisa juga bahkan tak diajak bicara. Nafsu kita kadang mendominasi atau malah melemah raib entah kemana.

Hal ini terkadang berubah ketika diri kita menemui sebuah situasi dimana kita terlibat didalamnya. Terkadang akibat perbuatan kita yang telah dilakukan tidak siap diterima oleh seluruh teman “sejati” kita tadi. Tinggal “aku” dan “situasi”. Mau dibawa hubungan aku dan situasi ini?

Terkadang saat kita ketahuan mencontek, semua akal dan mood kita tak terkendali dan tak mau menemani. Yang setia adalah situasi dimana Pengawas ujian memarahi kita, mengambil lembar jawaban kita, dan menyuruh kita keluar ruangan.

Maka kita lebih sejati, lebih memiliki nilai kemurnian yang lebih tinggi antara “aku” dan “akibat dari kelakuan si aku”.  Sebuah pertemanan sebab-akibat.

Oleh karena itu. Jika saja kita sadar sesadar-sadarnya, maka dalam setiap kesempatan kita akan berkenalan dengan sahabat baru yang bernama “situasi” baru. Semakin kita memberanikan diri berbuat sesuatu maka kita memiliki probabilitas lebih tinggi untuk berkenalan dengan “akibat” baru, yang menjadi teman kita, dan syukur-syukur kita ingat, sehingga ketika kita menemui situasi yang hampir serupa, kita lebih mudah mencerna situasinya dan meresponnya secara lebih bijaksana.

Berlibur di negeri orang. Pulang kampung. Pindah tempat kerja. Menjajaki perkenalan dengan lawan jenis. Adalah bagian dari memperbanyak “teman”.

Mungkin inilah sejatinya makna dari “guru terbaik adalah pengalaman“.

Bersyukurlah. Semoga perjalanan kita masih panjang. Kita diberi kesempatan untuk mengenal “guru” kita lebih lama dan lebih banyak.

Reguklah.

salam anget,

Roy

Bayangkan Saja Tahun Depan di Halaman Pertama Koran Kompas Terpampang Tommy Soeharto Tersenyum dan Tertulis: “INDONESIA, MOHON DOA RESTU. Mari Kita Berkarya.” SATU HALAMAN PENUH.

(Contoh 1)

Misalnya:

Saya di internet punya banyak pengikut. Lalu teman saya datang menghampiri dan meminta bantuan saya menjadi buzzer untuk kepentingan usahanya: jual obat penggugur kandungan. “Ini aselik Roy. Namanya Cytotec. Ampuh. Kamu cukup ngetwit: “Cytotec, solusi kita semua.” Lalu kamu kasih link situs aku. Satu tweet aku kasih satu juta. Seminggu saja kamu tweet-kan, sehari dua kali. Lumayan, saya bayar 10juta. Boleh kok dikasih hestek #ad atau #sponsor.”.

Dan misalnya saya adalah pun orang yang ndak terlalu peduli soal aborsi. Lalu saya menyanggupi penawaran teman saya itu dan tweetkan sesuai apa yang ia minta seminggu penuh.

Pertanyaan:

Apakah ini adalah bagian dari keberpihakan saya terhadap kaum “the freedom of choice” dan pro aborsi, atau orang selayaknya memisahkan antara pendapat pribadi dan keputusan saya memuat iklan tersebut.

Dengan keputusan saya memuat iklan tersebut saya menganggap saat itu adalah fungsi akun saya sebagai akun inklusif yang free market. Tidak berpihak dan berjalan selayaknya orang bisnis. Jika ada yang perlu, harga cocok, saya jalankan.

(Contoh 2)

Jika pun ekstrimnya ada seorang guru ngaji yang akan membayar saya dengan harga yang sama, seminggu kemudian agar saya ngetweet ayat-ayat suci dari kitab yang menjelaskan bahwa perbuatan aborsi itu dosa besar, dengan bayaran yang sama persis, saya pun akan menyanggupinya.

(Contoh 3)

Atau karena iklan rokok semakin sulit tayang di acara televisi maupun internet. Saya diminta untuk menulis artikel di blog ini yang intinya bahwa saya bikin cerpen dengan tokoh pria idaman lebih keren dari Dilan dan kerjaannya merokok melulu tapi produktif dan berprestasi. Intinya cerita dibangun untuk menunjukkan kesan pria keren itu merokok. Atas cerpen saya saya akan dibayar 5juta rupiah. Boleh saja dalam keterangan di bawah cerpen, saya menulis bahwa cerpen ini adalah cerpen bayaran dengan sponsor PT. Djarum Pentoel.

Perusahan rokok yang bayar saya itu paham bahwa pembaca blog saya adalah anak usia 15 tahun hingga 28 tahun, misalnya. Saya sendiri pun paham bahwa perusahaan rokok tersebut paham atas audiens pembaca blog ini.

Lantas apa yang sebaiknya saya lakukan?

Apakah saya berhak menolak pengajuan iklan terselubung tersebut? Ataukah saya wajib menerima iklan apapun yang memberikan kompensasi berupa uang tunai kepada saya, dengan dasar bahwa saya adalah pihak yang seharusnya tidak menolah tawaran apapun sebagai sebuah bukti saya independen tidak berpihak kepada siapapun, walaupun faktanya saya memuat suatu pesan komersil berdasarkan bayaran.

Contoh ekstrim lagi:

(Contoh 3)

Ada tukang becak, namanya Naga. Dia biasa kasih tarif 10 ribu dari ujung jalan Malioboro dekat pintu kereta stasiun Tugu hingga depan penjual batik Hamzah yang dulu bernama Mirota. Sayangnya Naga itu orangnya rasis. Setiap ada orang Jawa mau naik Becak, dia menolak. Dia ndak suka jok becaknya dinodai keringat orang Jawa. Walau manis tapi hitam, pikirnya. Dia hanya mau menerima penumpang yang beretnis Arab atau Cina. Prinsip dia bahwa pribumi banyak yang sudah bela. Gilirannya untuk membela etnis Priangkasa (kebalikan pribumi).

Dapat dibenarkankah soal ini?

Yang sering kita baca tanpa sengaja adalah papan pengumuman:

(Contoh 4)

“Terima Kos Karyawati Muslim”


 

Agak sulit memang untuk memisahkan antara keberpihakan individu dan aktivitas bisnis dengan “nilai moral maupun susila”.

Soal aborsi, soal merokok, soal warna kulit dan soal agama adalah sebagian kecil persoalan yang muncul atas perbedaan. Sangat berbeda dari apa yang saya contohkan.

Soal penolakan aktivitas bisnis karena agama dan soal warna kulit bukan bicara moral. Tidak ada hubungannya sama sekali.

Sedangkan pilihan hidup misalnya pro aborsi atau tidak dan atau soal pro perokok atau bukan, ini adalah pilihan yang sifatnya subyektif dan rentan diperdebatkan bahkan timbul kericuhan.

Lantas menjadi pertanyaan apakah dengan memuat iklan terkait salah satu pihak yang bicara soal ini kita berhak diadili bahwa kita memiliki keberpihakan atas salah satu pandangan?


 

Justru lebih mudah dengan apa yang dilakukan oleh Red Welby atas permintaan Midred untuk memasang iklan yang mengusung peran moral, sebagaimana diceritakan filem “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”.

Apakah bisnis perlu diperlakukan layaknya lembaga akademik yang netral dan menjungjung tinggi nilai-nilai kebebasan sehingga sepatutnya siapapun yang dalam forum akademik, berdiri di atas mimbar, dainggap sebagai sebuah bektuk kebebasan berpendapat dan hanya menjadi konsumsi pendidikan.

Maka bisnis adalah bisnis. Siapapun yang meminta dimuat iklannya maka kita wajib membolehkannya, sepanjang secara terang-benderang tidak terjadi gerakan tipu-tipu dengan seolah-olah itu adalah konten padahal iklan. Berbeda dengan isi berita (jika itu media) atau isi tweet (jika saya seorang buzzer).

Hal ini adalah soal klasik. Saat ini saja Twitter masih memutuskan untuk tidak memuat iklan soal bitcoin. Atau Facebook yang menolak iklan tentang postingan yang berbau HOAX. Atau Bu Ajijah yang menolak gadis Toraja Nasrani untuk menyewa kamar indekosnya yang diperuntukkan khusus bagi Muslimah.

Pertanyaan terakhir:

Misalnya:

Menjelang hari pencoblosan dalam pemilu 2019 kelak, Partai Berkarya memasang iklan dengan gambar wajah Tommy Soeharto tersenyum dan  dengan tulisan: “INDONESIA, Mohon Doa Restunya.” di halaman pertama harian KOMPAS, dan memasang iklan di seluruh kanal media, baik televisi, youtube, twitter, hingga radio. Iklan ini tidak pada hari yang sama namun berturutan.

Tommy-Soeharto

Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Atas nama bisnis, bolehkah Kompas menerima pemasangan iklan sehalaman penuh terhadap sosok anak penguasa Orba? Atas nama keberpihakan politik, bolehkah Kompas menolak pemasangan iklan tersebut?

Silakan yang mau berkomentar bisa menulis di kolom komentar atau mensyen saya di twitter Roysayur  

Salam anget,

Roy Soeharto

 

 

 

foto: detik.com

 

 

 

 

Jaringan Kecil Saat Ngeblog

Pendiri wordpress, Matt Wullenweg, menautkan tulisan Tom Critchlow yang berjudul “small b blogging” pada awal bulan ini.  Apa yang menarik dari tulisan ringan Tom, seorang konsultan pemasaran digital dalam blognya tersebut, sehingga seorang pendiri aplikasi blogging yang menjelma platform yang mendominasi media digital dunia ini menyadur secara khusus tulisan Tom?

Tom menawarkan gagasan baru. Alih-alih ngeblog untuk mendapat pembaca yang banyak dan tersebar, Ia menawarkan ide dan telah dibuktikan sendiri bahwa ngeblog saat ini diawali dengan niat dibaca oleh audiens kecil dan fokus kepada memperkuat ide untuk dapat didiskusikan lebih dalam.

Blog sebaiknya dikembalikan menjadi sebuah percikan atau pancingan bagi sekelompok peminat untuk kemudian berlanjut menjadi pertemuan kecil sembari ngopi. Atau berbalas email untuk ditindaklanjuti dalam media lain misalnya menjadi podcast atau vlog.

Blog  menjadi lebih personal, atau setidaknya menjadi sebuah gagasan sebuah lingkaran pertemanan. Bisa jadi dari lingkaran diskusi tersebut menjelma ulasan mendalam dan dimuat di media masa yang lebih utama oleh salah satu pembaca.

Blog adalah think tank. Blog menjadi inti sebuah pergumulan ide dan gagasan yang membawa daya tarik untuk selanjutnya menjelma apa saja.

Tawaran blogging dengan b kecil dan  bukan Blogging dengan B besar.  Blog tidak harus ditujukan sebagai media massa atau sebagai alternatifnya. Gagasan menulis blog tidak ditujukan lagi untuk mencapai pageview yang berlimpah ruah. Atau menjalar ke semua kalangan. Blogger lama menyebutnya begitu niche.

Tom mencontohkan bahwa tulisannya dalam sebuah artikel yang ditulisnya “hanya” dibaca oleh 2000 orang. Tidak banyak bagi sebuah blog. Namun, efek dari tulisannya berlanjut menjadi sebuah diskusi hangat, dikupas dalam siaran tertentu dan menjadi sumber inspirasi dalam beberapa kesempatan acara bisnis. Dampaknya lebih kelihatan dan material.

Blog icons design

Secara pribadi, saya pun begitu tertarik dengan ide ini. Ide blog dengan b kecil. Ngeblog yang tidak tancap gas agar menjadi trending topic hari itu. Namun menarik minat dan bahkan mengikat komunitas tertentu untuk mengajak diskusi lebih lanjut.

Misalnya ketika Gandrasta menulis tentang My Family Tree yang kemudian entah bagaimana kisahnya dirinya diundang oleh sebuah salah satu sekolah untuk menyampaikan pengalamannya parenting. Atau ketika Glenn Marsalim menulis soal Sok Tau, sebuah tulisan berseri yang membahas analisis Glenn menerka tren yang akan hadir di tahun depan. Semacam prakiraan. Ndak tanggung-tanggung, yang mengundang adalah himpunan mahasiswa ITB entah dari fakultas apa yang mengajaknya memberikan kuliah umum dan diskusi dengan pendekatan yang sungguh akademik dan filosofis.

Kira-kira semacam itulah. Blog menjadi embrio dari banyak kesempatan bentuk lanjutan. Bisa diskusi kecil. Bisa menginspirasi sebuah filem pendek. Atau sebuah lagu. Blog tidak berakhir menjadi sebuah tulisan magna-opus yang dibaca jutaan kali dan menyebar diberbagai medsos, namun seminggu kemudian terhapus dalam memori warganet, ditimpa oleh tulisan lainnya yang lebih kekinian.

Blog lebih baik menjadi pijakan kecil atau pondasi yang tak kasat mata, namun nantinya menjadi sebuah bangunan utuh yang kaya akan pendapat dan merangsang bangunan tersebut untuk terus tumbuh dan berfungsi secara nyata.

Era tulisan dalam satu artikel menjadi bombastis, dibaca banyak orang, bersinar dan selesai adalah era yang akan mudah lapuk. Blog atau tulisan dalam media alternatif tidak perlu terus menerus bicara skala. Judul tulisan yang merangsang orang untuk mengklik memang menggiurkan dan menghasilkan optimalisasi tayangan iklan sebagai salah satu sumber penghasilan media digital. Mungkin ini masih berlaku bagi media yang memang ditujukan bukan menjadi apa-apa kecuali menghasilkan pemasukan uang dari iklan.

Namun, jika ingin lebih langgeng dan memberikan nilai tambah bukan saja pada citra blog, juga menjadikan penulis blog semakin mumpuni pada bidang tertentu dan gilirannya akan berimbas pada banyak hal yang tak berbatas. Diskusi yang membentuk jaringan pertemanan (dan atau bisnis). Lalu dibentuk pondasi perkumpulan. Atau ajakan diskusi. Atau menjadi sekumpulan buku yang inspiratif.

Tulisan yang lebih substansial dan relevan, akan menarik minat pembaca yang berkualitas. Akan tiba gilirannya tulisan tersebut dibahas oleh orang-orang ternama atau yang kita sendiri kagumi. Blog kita menjadi blog yang secukupnya.

Blog yang saat merangkai kata pertama sudah terbayang siapa audiensnya. Bagaimana kira-kira wajah pembacanya. Apa yang akan dilakukan pembaca setelah membaca blognya. Atau apa yang akan dibelanjakan setelah ulasannya tentang produk tertentu begitu dalam dan sampai kepada intinya.

Tentu saja ini tidak berlaku hanya untuk sebuah blog. Strategi untuk memperkuat niat bahwa karya yang dihasilkan memang bukan untuk semua orang. Proyek bikin vlog, atau proyek mading sekolah, atau proyek mural, akan lebih tepat sasaran jika diawali dengan kesadaran ini. Bukan mengutamakan membludaknya kuantitas ukuran pembaca atau berbagi. Melainkan memperkuat kualitas topik dan ide yang ditawarkan untuk sekelompok peminat. Dihangatkan dengan diskusi. Dan akan bergema sendiri jika memang hal itu menarik perhatian publik dengan skala yang lebih besar. Bedanya, kali ini besar dengan dasar gagasan yang telah dipahami secara mendalam namun tetap terasa personal.

Dari gagasan ini, saya mengucap syukur. Linimasa masih berada dalam lintasan yang benar. Dia tidak tergesa-gesa untuk menjadi tenar.  Lebih baik untuk terus hadir dengan porsi yang wajar. Dan dapat terus memantik hasrat masing-masing pembaca untuk berbuat hal lain usai menuntaskan membaca satu postingan.

Jaringan kecil. Audiens terbatas. Gagasan sederhana. Namun hidup.

Selamat merayakan.

 

salam anget,

Roy Sayur.

 

Antara Edmond Kirsch, Stephen Hawking dan Atheis

Secara pribadi saya beranggapan Stephen Hawking ndak bakal setuju dibilang bahwa ia Meninggal. Bagi fisikawan sejati semacam dirinya, dia hanya sudah kehabisan energi yang berpindah dan menguap ke jagad raya.

Bisa dibilang kebetulan. Sekarang saya sedang membaca “Origin“, novel Dan Brown. Eh dapat kabar Stephen Hawking menutup usia. Kenapa kebetulan? Karena dalam novel Origin, tokoh utama selain Robert Langdon adalah Edmond Kirsch, ilmuwan nyentrik yang kaya raya, humoris, juga atheis. Sosok ilmuwan yang begitu menghayati keilmuwannya.

Sebuah kebetulan yang menarik. Origin ini bicara soal dunia sains sekaligus kisah Katolik. Bicara dua pertanyaan besar manusia:

“dari mana kita berasal?”

“kemana kita hendak pergi”.

Bagi ilmuwan, semacam Stephen, bukan mati namanya. Dia sudah habis saja energinya. Lalu tubuhnya akan membusuk dan sisa energi yang ada beralih kepada jasad renik lain yang menggerogoti tubuhnya. Atau jika ia dibakar maka energinya menjadi kalor dan menyeruak ke udara luas.

Sepanjang hayatnya ia bagai lubang hitam jagad raya. Menarik perhatian dunia. Tidak hanya di kalangan akademisi namun juga awam. Menulis banyak soal “dari mana jagad raya berasal”.

Sama halnya dengan Stephen, seorang Edmond Kirsch, ilmuwan komputer yang flamboyan juga meneliti soal ini. Dan Brown berhasil menciptakan sosok campuran antara Steve Jobs, Sergey Brin, Elon Musk, dan Mark Zuckerberg dijadikan menjadi satu tokoh.

Salah satu hal yang asing tapi takut diselami oleh kita adalah soal ketidakpercayaan seseorang kepada sang Pencipta. Secara mudah kita menyebutnya kaum Atheis. Namun, ada yang berbeda dari kaum atheis yang dipedomani kaum ilmuwan dibandingkan dengan atheis lainnya:

“Mereka bukan benci tuhan, hanya saja belum dapat membuktikan kehadiran Tuhan dari perhitungan teoritis yang mereka lakukan dan fakta empirik yang mereka temui. Sehingga sikap skeptis  bawaan khas ilmuwan menjadikannya “menunda” kehadiran Tuhan dan terbukti telah ikut campur tangan dalam hidup mereka. Hal ini berbeda dengan atheis yang diperoleh dari kekecewaan pada agama-agama yang ada. Atheis karena kecewa. Sedangkan ilmuwan adalah atheis yang skeptis. Akan percaya jika sudah dapat membuktikannya.

Dalam buku Dan Brown, Edmond Kirsch adalah sosok ilmuwan muda yang belum meyakini benar adanya Tuhan. Justru “kebelumpercayaannya” itulah yang menjadikan ia gigih untuk terus mencari jawaban atas dua pertanyaan diatas.

dari mana kita berasal?”

“kemana kita hendak pergi”.

Pendekatan yang ia lakukan adalah sesuai keahliannya di bidang komputasi. Secara mandiri ia membangun teknologi baru dan canggih (dalam bukunya disebutkan sebagai teknologi yang lebih canggih dari teknologi NASA dan google) sekadar untuk memastikan masyarakat dunia paham dan yakin bahwa manusia dapat melakukan terobosan yang belum terjawab hingga saat ini. Edmond berhasil menggetarkan dunia. Tiga pemimpin agama besar di dunia menjadi ketakutan atas hasil temuannya.

Edmond Kirsch sejatinya adalah anak muda yang mengagumi sang tokoh utama, Robert Langdon, pakar simbol dan kode. Salah satu fundamental pikiran yang dipercaya oleh Edmond adalah kuliah Robert soal “ketidaktahuan manusia atas sesuatu dan ketidakyakinan atas sesuatu yang mendorong manusia “menciptakan sesuatu” yang lebih luhur untuk mengganjal ketidaktahuannya.” Cara mengganjalnya pun bermacam-macam. Dewa dewi diciptakan. Diyakini. Lalu Tuhan diciptakan untuk menjawab atas fenomena hidup mereka. Agama semacam sesuatu yang menjadi pengisi ruang tanda tanya pikiran manusia.

Dewa laut diciptakan. Ketika manusia telah menaklukkan laut, Dewa laut mulai tak menjadi idola lagi. Satu demi satu dewa-dewi yang dulu sedemikian ditakuti menjadi tak memiliki daya magis. Masyarakat mulai meninggalkan. Lalu muncul agama. Dipercayai dan dilakoni. Kemudian muncul pengetahuan ilmiah yang lebih rigid dan mumpuni. Bumi itu bulat. Matahari adalah pusat dan bumi mengitarinya. Martir banyak yang “terlenjur” berguguran ketika teori baru yang lebih ilmiah ditentang oleh keyakinan “lama”.

Pertanyaan sekaligus pernyataan berani yang diajukan dalam novel Dan Brown kali ini adalah bahwasanya manusia yang sejatinya menciptakan Tuhan. Sesuatu yang diciptakan menjadi agung, yang dijadikan yang paling sempurna, dan menjawab pertanyaan atas segala sesuatu yang belum diketahui manusia. Oleh karenanya beranikan diri untuk menerima fakta baru yang terbukti ilmiah dan mulailah meninggalkan atas sesuatu yang diyakini namun tidak dapat dibuktikan.

Namun dengan bijak, pada akhirnya Dan Brown menyajikan penutup yang manis. Bahwa bukan sekadar soal logika otak yang indah dalam menjalani hidup. Juga bukan soal ketenangan batin untuk menyerahkan segalanya kepada yang luhur yang disebut manusia sebagai “Pencipta”. Bukan hanya logika atau iman yang menjadikan kehidupan di dunia dijalani penuh dinamika. Namun ada soal lain.

Soal hati. Soal cinta. Soal pengorbanan. Soal menyukai sesuatu dan mempertaruhkan segalanya. Origin beralih dari soal ketuhanan, menjadi soal kemanusiaan. Novel humanis yang diakhiri secara manis.

“the dark religions are departed and sweet science reigns”

Akhir kata, selamat menikmati Sabtu.

salam anget selalu.

Roy Langdon

Pelajaran Berharga

Pelajaran berharga itu pelajaran yang diperoleh dengan harga yang sangat mahal. Boleh dikatakan, malah tak terhingga. Misalnya, seorang pejabat negara yang rela mengundurkan diri karena malu telah melakukan skandal. Banyak contoh lainnya. Ibu muda yang rela meninggalkan keluarganya, termasuk anaknya demi kehidupan yang lebih baik dengan bekerja di negeri seberang. Atau perceraian dari sebuah hubungan yang tak lagi sehat.

Hidup memang demikian adanya. Manusia diberi kesempatan untuk memilih. Pergunakan kesempatan dalam memilih sebaik-baiknya. Apapun pilihan Anda, tentunya akan diikuti dengan konsekuensi.

Menangis dengan penuh sesal adalah sebuah respon atas konsekuensi yang ditanggung. Bisa jadi tangisan tersebut adalah sebuah doa apabila waktu bisa diulang akan memilih hal lain sehingga tak perlu menangis saat ini. Tapi apa boleh bikin. Terkadang pilihan tidak dijalankan pada saat hati jernih dan pikiran sehat. Emosi dan harga diri lebih sering menjadi sandaran. Bahkan belum tentu itu soal harga diri, namun hanya ego diri.

Pilihan tepat akan menjadikan kita hidup nikmat. Tapi ternyata itu pun bukan jaminan. Tepat bagi kita bisa jadi faktanya hanyalah sementara. Rupanya di waktu kemudian pilihan itu menjadi sebuah malapetaka dalam bentuk lain yang tak terduga, atau sudah diduga namun tak disangka akan sedemikian beratnya dipikul dan kita ndak siap menerima kejadian yang menimpa.

Namun ternyata semua itu menjadi mudah jika kita sadar bahwa apapun yang kita pilih adalah sebuah jalan yang sudah ditentukan sebelumnya oleh yang Maha Kuasa. Atau bagi yang tak relijius, anggap saja sebagai cobaan dari alam semesta.

Permasalahan manusia dari dulu sumbernya sama: jalinan hubungan dengan manusia lainnya. Itu saja.

Ketakutan adalah salah satu sumbernya. Takut tak disayang lagi. Takut tak naik pangkat. Takut ndak ditemani lagi.

Atau pongah angkuh bin paling mulia isdebes. Ketika kita merasa “lebih” dibanding yang lain, maka kita akan bersikap tak sewajarnya dan mudah menimbulkan persoalan dalam sebuah hubungan.

Ndak perlu jauh-jauh. Hubungan sodara kandung bisa renggang hanya masalah ketersinggungan postingan dalam WhatsApp, argumen berlebihan saat mendukung salah satu Cagub, atau pilihan pasangan hidup.

Di kantor hubungan bisa renggang hanya karena salah ucap, kurang sopan, atau lupa menghadiri resepsi pernikahan rekan kerja.

Hubungan dengan pasangan hidup lebih rumit sekaligus lebih sederhana. Masalahnya hanya sepele namun jika ndak ditangani dengan bijak, bisa menjadi super ruwet njelimet bikin mumet.

Tapi kita sama-sama tahu sebetulnya apa yang diinginkan oleh rekan kita, sodara kita atau pasangan kita. Bisa jadi ini hanya soal ringan untuk jangan lupa tegur sapa, saling menghargai privasi atau sudah lama ndak bilang “aku sayang kamu”.

Harga yang harus dibayar atas kesalahan kita biasanya sulit diprediksi. Harga sebuah kepercayaan, harga dari sebuah persahabatan, harga dari sebuah kasih sayang, yang hingga saat ini tak ada mata uang maupun cryptocurrency yang dapat menakarnya.

Perbincangan kecil dari hati ke hati, sapaan pagi di awal hari, atau kalimat penutup di sebuah surel bukan jaminan kita akan baik-baik saja dalam berhubungan dengan manusia lainnya.

Namun setidaknya, kita sudah mulai mencoba saling menitipkan rasa bahagia di lubuk hati lawan bicara kita.

Karena pelajaran paling berharga yang paling mudah didapat namun paling sulit dilakukan adalah bahwa kehadiran kita membuat orang yang berinteraksi dengan kita merasa nyaman, dekat dan gembira.

Selamat hari jumat.