Bola Mati Meninggalkan Tanya

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Lalu, jika media mati, dia akan meninggalkan apa?

Perkenalan saya dengan Marco Van Basten, Salvatore Schillaci, Lothar Matthaus hingga terbawa mimpi bukan diawali dengan bersalaman dengan mereka, atau menunggu mereka latihan lalu mengejar dan meminta tanda tangan di tepi lapangan hijau. Perkenalan saya dengan mereka adalah karena tulisan Rayana Jakasurya di tabloid Bola. Saat perhelatan Piala Dunia saya mengumpulkan seluruh data pemain berdasarkan buku koleksi sticker panini. Hanya saja sticker Panini cuma menampilkan wajah para pemain dan tim yang dibelanya. Tak ada kisah di balik layar. Tidak ada cerita soal bagaimana AC Milan termehek-mehek dengan trio Belanda dan tim rival sekotanya, Inter Milan, memilih trio Jerman. Saat itulah Bola hadir bercerita dengan giat kisah pemain, sejarah stadion, ruap semangat sepakbola dengan para suporternya.

Anehnya, dari tabloid bola juga saya menjadi tertarik dengan dunia kartun. Saat itu karikatur media dikuasasi grup Kokkang. Namun bola punya maskot tersendiri dengan “sepakbola Ria” dari Nunk. Bentuk wajah lonjong bagai ikan louhan. Tapi dari wajahnya yang unik dan kocak ini sungguh menampilkan karakter “orang Indonesia”.

Masa keemasan itu rupanya hanya sesaat. masa keemasan dalam ingatan. Ketika media televisi mulai rutin menayangkan Liga negara-negara eropa, tabloid Bola bisa jadi semakin berjaya. Masyarakat butuh literasi mumpuni. Siapa sih pemain jagoan yang piawai menggiring bola semalam? Mereka mencari profilnya dari tabloid bola. Untungnya bola begitu responsif. Pemain bola favorit dikupas tuntas. Walau masih muda, jika sedang naik daun, wartawan bola akan selalu menurunkan berita tentangnya. David Platt, David Beckham, Ryan Giggs, Bebeto, Steve McMannaman, Eric Cantona, David Ginola sering menjadi cover depan majalan Bola. Tentu saja salah satu alasannya karena aksi mereka di atas rumput membuat fans bola berdecak kagum.

Dahulu belum ada youtube, sehingga satu-satunya cara menyaksikan aksi mereka adalah pasrah. Menunggu siaran berita bola di sepertiga penghujung Dunia Dalam Berita. Juga menunggu dengan sabar liputan Max Sopacua dalam Arena dan Juara. Di era tivi swasta Bola makin terbantu dengan berita dalam siaran fitur Planet Football. Media saat itu saling bahu-membahu. Sebuah hubungan simbiosis mutualisme.

Lalu entah kenapa, di era digital hubungan manis antar media tak lagi terjadi. Darah media, termasuk media cetak, yaitu pemasukan dari iklan semakin menurun. Mana mungkin mencari untung dari penjualan koran semata. Apalagi sifat dari tabloid olahraga yang harus rajin beranjang sana meliput pertandingan, dihiasi foto yang apik dan tulisan dengan analisis tajam, sungguh menguras kocek.

Tabloid olahraga memang berbeda dengan media cetak yang bicara soal politik. beberapa media cetak politik juga banyak yang pernah wafat. Bedanya, sebagian dari mereka wafat karena dibredel. Sebuah wafat wajib hukumnya dikarenakan berseberangan dengan “pencabut nyawa”. Justru lebih menyakitkan jika wafatnya Bola dikarenakan kondisi ekonomi. Sebuah pilihan yang harus diambil sendiri dengan -tentu saja- berpikir masak-masak, termasuk di dalamnya sumbangsih dalam sejarah perkembangan olahraga nusantara.

Maka akhirnya sudah dapat diduga. Bola menyusul banyaknya media cetak lain yang terpaksa gulung tikar. Sebelumnya “Hai” versi cetak melakukan hal yang serupa. Bagaimanapun juga, media cetak, terutama milik gramedia, begitu sensitif soal ada tidaknya laba. Sesuatu yang lumrah. Mereka sedang tidak kerja bakti menyebar selebaran propaganda. Mereka sedang ingin membentuk kelompok patembayan, bukan paguyuban.

Jika manusia mati mengharap alam nirwana, maka kemanakah media cetak mati akan berlabuh?

Advertisements

Netflix, Quincy, dan Perbedaan Hikmah dalam Kehidupan

p15807992_v_v8_aa

Siapa sangka, cara menonton film pada akhirnya adalah berlangganan via internet. Bahkan sekelas bioskop yang menjadi tumpuan utama laris-tidaknya sebuah film dirilis harus mempercantik toilet dengan lampu sorot yang membuat kita para lelaki merasa 50% pipis dan setengahnya lagi merasa sedang konser tunggal. Juga mau ndak mau pengelola bioskop berjualan penganan ringan, kudapan dan pernak-perik film demi menambah pemasukan. Sebelum film dimulai, iklan juga bertaburan di layar perak. Sehingga bioskop bukan saja sebagai tempat pemutaran film, namun juga semi restoran, tempat hiburan, dan media iklan. Dulu, saat saya masih berseragam merah putih, nonton filem juga dapat dilakukan melalui pemutar vidio dalam ukuran betamax. Kemudian ada versi VHS. Saat saya bertandang ke rumah Pakdhe di Jakarta saya disuguhi film dalam format Laser Disk. Ini menarik karena jaman itu kalimat semacam “laser disk ndak bisa disensor“, adalah kalimat indah bagi telinga bocah lelaki nanggung yang sepadan dengan para pekerja yang mendengar kalimat “duit gajiannya uda masuk“.   Bagi saya yang menyukai penyewaan kaset vidio karena disana ada pahlawan jagoan seperti Gaban, Sarivan, dan Lion Man serta dimana sendal bertebaran di dekat keset welcome menandakan ada pemutaran film paling anyar di dalam rumah, maka munculnya netflix di era kekinian adalah suatu anugrah. Kita disuguhi semua film, termasuk kategori yang telah rapi ditata. Nonton sebentar, bosan, boleh pilih film lain. Bedakan dengan nonton bioskop. Bosan sedikit mau kemana? Juga bedakan dengan sewa kaset betamax. Bosan, harus tukar dan itu perlu jarak dan waktu tempuh. Zaman betamax, kalau kasetnya sudah dipinjam orang lain, kita kudu antre. Bedakan dengan era streaming. Mau yang nonton jutaan orang secara bersamaan, tak ada masalah. Selain kemudahan menonton dan kurasi film yang cukup mumpuni, Netflix juga menyajikan film dokumenter yang menakjubkan. Mana mungkin kita menonton film dokumenter di bioskop, kecuali film G30SPKI atau pada saat digelarnya festival film. Beberapa sajian film dalam layar internet juga diberikan oleh Viu dan beberapa situs indi yang memanjakan para penggemar drama korea, termasuk istri saya. namun tak ada film dokumenter disana. Bisa jadi ada, tapi jarang. Saya sungguh menikmati film dokumenter. Apalagi film dokumenter yang bercerita soal kehidupan pesohor namun dari kacamata lain. Kisah Nina Simone dalam film “What Happened, Miss Simone?” dari kacamata respon atas tindakan opresi negara atas perbedaan warna kulit di masanya. Hal ini sama-sekali tidak ditemui dalam kisah Quincy Jones dalam film “Quincy“. Nina Simone merasa hitam dan sadar atas kehitamannya dia banyak menderita dan menerima pil pahit. Hal ini berbeda dengan Quincy. Ia justru menaklukan perbedaan warna kulit. Ketiga istrinya adalah “white”. Satu perempuan Swedia dan dua lainnya warga Amerika. Rupanya bagi sesama kulit hitam pun perbedaan isu warna kulit tidak sama rata dirasa. Bahkan Quincy memimpin orkestra bagi Sinatra. Siapa sih kulit hitam yang senang orkestra? Mungkin banyak. Tapi siapa yang berhasil memimpin orkestra, dan menaklukan dunia musik Amerika? Inilah sejatinya persoalan hidup. Satu peristiwa besar sekalipun belum tentu dirasakan hal yang sama oleh setiap manusia. Gempa Bali, bagi yang tidur di hotel bintang lima di Surabaya, maka gempa itu adalah sekadar goyangan belaka. Gempa ini bisa jadi bahan perbincangan baginya saat kembali bekerja di Jakarta. Sedangkan bagi seorang pria yang tewas di Madura karena tertimpa rumahnya yang roboh, gempa Bali bukan hanya goyangan, tapi berhasil mencabut nyawanya. satu peritiwa, gempa, namun berbeda rasa. Banyak perspektif dalam setiap peristiwa. Inilah sejatinya kehidupan paralel yang sesungguhnya. Banyak kotak hikmah. Tinggal pilih mau pilih kotak yang mana. Bagi Rothschild, waktu krisis ekonomi adalah waktunya panen raya, karena pada saat itulah dirinya yang memiliki simpanan uang dan emas bisa dengan leluasa membeli properti dengan harga murah. Tapi bagi orang lain, krisis adalah hilangnya pekerjaan dan perubahan nasib ke arah yang lebih buruk. Sama halnya seperti macetnya kota Bandung. Bagi warga lokal, ada yang menganggapnya sebagai fenomena buruk dari serbuan warga Jakarta yang cari hiburan di Bandung. Bagi sebagian lain, macetnya Bandung yang diserbu warga Jakarta adalah kesempatan ekonomi untuk menawarkan sesuatu. Penginapan, makanan atau hal lain yang bernilai ekonomis. Tuhan itu satu, agama saja yang membuatnya berbeda. Sama halnya dengan peristiwa. Dia pun hanya satu, namun tinggal bagimana kita meresponnya. Kesempatan pun bisa jadi tidak akan datang dua kali, karena mungkin setiap hari datang. Namun, kitanya saja yang tak menyadari.

salam anget,

QuincyRoy

Telpon Ibuku

20180919192251.159-2127057299

Beberapa hari yang lalu ibuku menelpon. Tentu saja lewat audio call milik Whatsapp. Intinya ibuku cerita jika ayahku penglihatannya mulai berkurang. Setelah diperiksa ke dokter mata ayahku harus lakukan operasi katarak. Itulah sebabnya ibuku menelpon. “Ayahmu takut. Katanya ada beberapa temannya  yang lensanya ndak pas sehingga usai operasi untuk melihat pun rasanya masih berkabut“. Aku baru tahu kalau setelah operasi mata ayah harus dipasangi lensa. “Kalau BPJS lensanya mungkin kurang bagus, jadi teman-teman ayah seperti itu“, lanjut ibuku. Sembari mendengarkan cerita ibu, aku berusaha mengingat-ingat berapa saldo tabunganku . Harusnya aku bertanya pada istriku, karena dia pasti hapal sisa tabungan kami. Karena aku ragu, maka aku mengurungkan niat untuk menawarkan ayah untuk operasi di Jakarta saja. Ini bukan soal lensa, atau BPJS, aku percaya ini soal keterampilan dokternya. Sayangnya untuk saat ini untuk ongkos ke jakarta, biaya dokter dan berobat jalannya aku ndak punya. Mungkin bukan tak punya. Ini soal ndak pasti saja. “Mas, masih dengerin Ibu ndak? Halo? Halo?“. “Iya bu“. Walau sebetulnya aku ndak tahu bicara apa pada beberapa kalimat terakhir yang Ibu ucapkan. “Nah, sekarang ibu mau cerita soal ibu sendiri. Akhir-akhir ini di bagian belakang betis ibu suka nyeri kenapa ya. Nyut-nyut-nyut begitu Mas. Ibu bingung mau ke dokter mana untuk periksa. Mau tanya pamanmu, dia dokter THT. Akhirnya Ibu datang ke Mbak Lely, itu lho anak Bu Edah, yang rumahnya dekat sekolahan kamu dulu.”. Kali ini aku berusaha konsentrasi dan ndak memikirkan soal berapa tabunganku. Ini soal Ibu, tanpa tabungan pun aku harus menanggapinya serius dan segera. “Nah waktu diperiksa, betis Ibu seperti kulit jeruk. Jendol di sana dan disini. Kata Mbak Lely ini lemak. Wah Ibu ndak percaya, kok lemak di betis. Bukan di pinggul, perut, atau bagian mana begitu yang biasanya jadi gudang lemak. Ibu kalau mau segera hilang nyerinya ditawari sedot lemak, Mas. Liposaksyen.“. Aku masih mendengarkan sembari mengingat-ingat bagaimana bentuk betis ibuku. Pasti ndak seindah Ken Dedes, Drupadi atau Heidi Klum. Tapi kenapa harus sedot lemak? “Mas, tapi Ibu ndak mau. Kata teman-teman pengajian Ibu juga sedot lemak itu bagian dari operasi plastik. Itu dosa. Ibu tahu. Makanya Ibu sekarang  sering minum lemon hangat“. “Buat apa Bu?”, tanyaku. “Lemon itu asam. Lemak nanti kan ikut larut.“, jawab ibuku penuh optimis. Saat hendak mengomentari soal kisah lemak, sedot lemak dan dosa ini, ibu kembali bicara. “Oh iya, bagaimana kabar anak-anakmu Mas? Ibu kangen. Kalau sudah selesai ujian, nanti kirim saja ke sini. Naik kereta saja. Sampai di Stasiun Cirebon, Ibu akan suruh Masmu untuk jemput. Gimana?”. Aku selalu berpikir apakah ini efek dari ndak bayar pulsa, sehingga ndak perlu menunggu waktu siaran Dunia Dalam Berita atau setelah subuh untuk menelpon anak-anaknya. Dan semua hal akan sempat dibicarakan tanpa resah dengan tagihan pulsa. “Bu, soal betis Ibu yang terasa sakit. Ibu rutinkan saja lagi berenangnya. Kan kemarin sudah dibelikan baju renang muslim. Dan bukannya di Ciperna setiap Selasa Jumat dibuka khusus untuk ibu-ibu saja? Nah mungkin dengan berenang betis Ibu membaik.” Ibuku agak hening sebentar. Apakah karena sebenarnya Ibuku ingin liposuction? Apakah ini kode keras supaya aku membayarinya biaya sedot lemak? Aku bingung dengan apa yang sebetulnya menjadi kemauan ibuku. “Ini sebetulnya mudah juga sih Mas. Kemarin Budhe Ita kirim serabi. Juga kemarinnya lagi kirim emping melinjo. Juga bawa bolu. Pokoknya kalau lagi ada pesanan apa, Ibu juga dikirimi. Ini mungkin yang bikin Ibu mudah gemuk.  Bikin lemak menumpuk. Nanti Ibu larang saja Mbakmu itu untuk kirim-kirim makanan. Ibu tahu katering buatannya enak. Tapi kalau dikirim terus, betis ibu jadi sakit. Ya sudah. Ibu mau sholat ashar dulu. Salam buat anak-anak dan Kiky. Oh ya, kamu laki-laki Mas. Sholatnya di masjid. Jangan lupa!

Elang-Elang yang Mengangkasa di Langit Nusantara

p161258_v_v8_ab

Dalam pesawat perjalanan Jakarta-Surabaya, saya membaca koran hari Rabu pagi yang disediakan mbak-mbak pramugari. Jika ndak salah berita di koran itu soal pelantikan dan penempatan Jaksa baru di lingkungan Kejaksaan RI. Kalau ndak salah lagi jumlah Jaksa yang baru dilantik itu ada 49 orang. Lalu saya menghitung dalam hati jumlah propinsi, membayangkan satu propinsi dapat jatah satu. Lalu ada yang kebagian dua. Kemudian saya bertanya lagi. Jika mereka masih baru, apakah iya akan dapat mewarnai lingkungan Kejaksaan. Bukannya justru mereka yang akan banyak memperoleh cobaan dengan “warna dan budaya” Kejaksaan yang saya sendiri ndak begitu paham apa saja rinciannya. Satu orang hadir, menetas dalam kandang dengan ayam jago dewasa dan induk ayam yang sudah malang melintang dalam dunia perayaman. Apakah pitik ayam dapat mengalahkan kokok jago dan cericuit cerewet induk ayam dalam sekawanan tersebut? Akankah pitik ayam akan menjadi korban persekusi, atau setidaknya akan tidak banyak pilihan untuk menjalani kehidupan sesuai apa yang dijalani para senior ayam. Dalam pesawat saya terhenyak. Merenung. Diselingi nonton film lawas Little Miss Sunshine. Kemudian saya mendapat jawabannya, tepat ketika adegan jenazah sang kakek dibalik selimut putih dibawa kabur dari rumah sakit. Saya berpikir sebagai berikut. Apa yang menetas seharusnya bukan pitik ayam. Haram hukumnya jika yang lahir adalah anak ayam. Seharusnya ia adalah tetas telor yang ketika keluar sebagai anak elang. Biarkan selama masih piyik ia dididik oleh induk ayam namun masih memiliki genetik dan memelihara sifat ksatria elang yang terus mengalir dalam dada. Anak elang adalah jaksa-jaksa muda yang berbeda dengan generasi pendahulunya. Menegakkan sistem peradilan hukum pidana dengan penuh digdaya. Perlahan tapi pasti. Lahir tidak langsung membusungkan dada karena dada anak elang tak sekokoh sabetan kuku ayam jago dewasa. Sudah seharusnya semua jaksa yang masih belia dan baru saja dilantik, dengan diawali diambil sumpahnya dan kemudian ditempatkan di seluruh belahan nusantara bertekad  berlaku ideal. Karena Jaksa adalah chef sajian kulinari pidana. Ia mengumpulkan bahan yang telah disodorkan Penyidik sebelumnya untuk kemudian dimasak untuk disajikan di hadapan yang Mulia Majelis Hakim. Soal ini menjadi penting. Ketika sistem politik dapat diputar dalam hitungan lima tahun sekali lewat proses yang disebut demokrasi, maka birokrasi agak jauh berbeda. Hampir mayoritas seluruh pekerja kementerian dan lembaga negara adalah orang karir. Sejak dini menetas, diasuh dan berkembang dewasa dalam lingkungan birokrasi. Perjalanan birokrasi adalah cetak saring sablonan kaos. Jika tidak kreatif maka pada akhirnya hasil cetakannya akan itu-itu saja dari jaman Kakeknya Nick Young datang ke Singapore sampai Bernard Tai insyaf. Peter Thiel bilang soal rekrutmen adalah soal kunci. Sesuatu yang seharusnya tidak diberikan tanggung jawabnya kepada orang lain. Harus dilakukan sendiri oleh para pimpinan pada suatu perusahaan atau kelompok usaha. Perusahaan tidak berisi budaya perusahaan. karena perusahaan itu sendirilah sebuah budaya. Peter mengingatkan bahwa semenjak Paypal dibeli oleh Ebay, justru menjadi titik awal semua punggawa mafia Paypal menjelma menjadi para pionir teknologi. Kuncinya adalah bahwa “bakat dan kepintaran saja tidak cukup, melainkan kepastian bahwa mereka yang tergabung dalam satu gagasan dan usaha bersama senang melakukannya secara bersama-sama, baik di luar maupun di luar urusan kantor.” Peter pernah mengalami dan menyaksikan sendiri saat sama-sama mengurus urusan perusahaannnya bagaimana kehidupan para pekerja firma hukum yang hanya berinteraksi di dalam kantor dan kemudia jarang sekali bersentuhan di luar jam kerja selain bicara urusan kerjaan. Ini sesuatu yang meruntuhkan, merugikan bahkan tidak rasional. Buang-buang waktu. Alasan bahwa kehidupan profesional harus menyisihkan urusan perasaan dan keriaan sementara maka itu semua omong kosong. Ketika Thiel merekrut pegawai baru, yang ia tawarkan adalah sebuah gagasan bersama yang akan dilakukan perusahaan sebagai sesuatu yang unik. Singkatnya calon pekerja akan ditawari pekerjaan yang tidak akan dilakukan di perusahaan lain karena memang perusahaan tempat nantinya ia bekerja kelak adalah satu-satunya yang akan melakukan “suatu hal” tersebut. Dan syarat yang diminta oleh Peter adalah calon pekerja menyukai bekerja bersama. Titik. Proses kimiawi yang seharusnya sudah kelihatan cocok-tidaknya dalam lingkungan bersama.  Ini sejatinya sesuatu yang menarik dan bisa dilekatkan dalam isu yang dikemukakan di awal. Jaksa. Sebuah pekerjaan khusus yang tidak mungkin dilakukan oleh pihak lain di negeri ini. Apakah ada profesi lain yang melakukan tuntutan dan membacakan dakwaan kepada terdakwa di pengadilan selain Jaksa?  Maka sebuah kelangkaan profesi yang bahkan dijamin undang-undang inilah yang seharusnya menjadi modal dasar dan pusat kesadaran para Jaksa baru untuk memelihara sikap ksatria. Kemudian bahu-membahu melaksanakan kewajibannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Ya, dengan satu syarat, bahwa pimpinan tertinggi anak elang ini adalah elang juga. Sepanjang dia masih ayam sayur, maka sudah sepatutnya jadi anak buah RoySayur saja.

Salam elang!

inTelek 💩

Seharusnya ada istilah bagi seseorang yang mengidap atau setidaknya kecanduan untuk dibilang intelek. Bahkan dibilang terpelajar atau cendekia pun terasa kurang. Harus intelek. Cukup. Jangan lebih, tapi juga tidak boleh kurang. Jika ada istilah itu mungkin orang pertama yang perlu disematkan adalah cermin di hadapan saya sekarang. Orang yang ada di cermin ini suka sekali tanpa pikir panjang untuk membeli buku dengan topik beragam, juga membuka jurnal di berbagai situs akademis dan mengunduhnya sebisa dan sebanyak mungkin, walau akhirnya tersimpan rapi dalam berkas penyimpanan komputer dan tak sempat dibaca. Seringkali mengikuti banyak perbincangan menarik dan berkelas dalam debat di media sosial, kemudian diam-diam menindaklanjutinya dengan mencari istilah-istilah asing yang baru didengar untuk dicari tahu apa artinya, dan kapan kata tersebut tepat digunakan. Bisa saja, pada waktunya argumen dalam perdebatan akan lincah, bernas juga mengagumkan ketika didengar dan disimak orang lain. Kalimat keren atau pilihan kata yang lugas juga perlu dikeluarkan kembali dari persembunyiannya ketika menulis sesuatu dalam media tertentu sehingga, yang terpenting, memberi kesan intelek dengan banyak menyimpan pengetahuan dengan baik dan mempergunakannya secara tepat. Hebatnya lagi bagi para pengidap “maunya dibilang intelek” itu merasa bahwa intelek jauh lebih ganteng daripada wajah tampan, lebih berharga dari sekadar dompet tebal dan lebih disukai Tuhan daripada lantunan ayat suci. Ciri lain dari orang yang kecanduan untuk dianggap sebagai sosok intelek adalah pendiriannya yang kokoh untuk tidak follow akun siapapun di twitter. “Intelek sejati tak pernah mengikuti dan arusnya ia yang diikuti”. Jika ada perdebatan sengit yang ia saksikan maka ia akan mengumpat dalam hati: “sebetulnya dua orang yang berbantah-bantahan ini sama-sama bodoh”. Jika ada obrolan di salah satu program acara stasiun televisi, maka ia akan berpikir bahwa seharusnya dialah yang ada di dalam acara tersebut. Bukan pria yang botak dan jika bicara terlalu lama, atau seorang dosen yang terus-menerus bermain kata-kata, bahkan ia merasa melihat sebetulnya begitu banyak hal yang dapat dilakukan oleh pria pembawa acara bersuara serak daripada sekadar memotong perseteruan sengit, menghafal kata-kata mutiara, dan mengundang orang-orang yang doyan adu mulut. Intelek sejati tidak mengumbar kata-kata. Intelek sejati, menurutnya, adalah yang pada setiap kata-katanya tersimpan puncak kegemilangan umat manusia. Kata-katanya adalah mantra, penuh gatra. Saat akan berpergian, sosok intelek akan membawa buku barang satu atau dua biji. Soal nanti dibuka atau tidak, dibaca atau tidak, itu bukan persoalan. Menjadi soal yang pokok jika bahan bacaan tak ada dalam tas atau kantong yang ia bawa. Tokok idola kaum intelek bukan selebritas penuh glamor tapi otaknya kosong. Voltaire atau Noah Harari lebih disukai. Toko buku adalah persinggahan. Bioskop adalah hiburan. Buku adalah perhiasan. Penampilan bukan kisah utama. Perbincangan dan pemikiran adalah tolok ukur. Kemampuan bahasa asing itu utama. Wawasan tentang seniman kiwari adalah pelumas pergaulan. Demikian. Sampai saat ini walau belum berhasil mengetahui apa istilah bagi seseorang yang sebegitunya kebelet mau dibilang intelek, setidaknya sudah dapat dirunut gejala-gejalanya.

Qodar

Jika hari ini pun aku ndak nulis lagi buat linimasa, maka praktis hanya dua orang aja yang nulis bergantian tanpa jeda, Nopal dan Naga. Nah, karena itulah di pagi hari ini sembari menunggu si kecil berangkat sekolah dan sebelum kerja aku menyisihkan waktu lain untuk linimasa.

Kemarin, Nopal cerita soal bahwa “mengalami” tidak mungkin dirasakan semua dalam sekali hidup. Tapi bisa dirasakan lewat apa yang dikisahkan orang lain lewat berbagai media:bisa filem, novel, podcast, atau radio.

Aku coba memahami apa yang disampaikan atas apa yang dialami Nopal. Karena hidup memang pilihan untuk menempuh panggung mana yang kita pilih. Semacam karnaval, arena permainan mana yang akan kita ambil antrean dan naiki. Atau festival musik dengan banyak panggung, artis mana yang akan kita nantikan aksi panggungnya. Ndak semuanya kudu dan bisa kita saksikan.

Kalau para saintis bilang, dari 30 trilyun microba yang dikenali, masih trilyunan lainnya yang belum dikenali dan masih “asing”. Mereka menganggapnya sebagai “Dark Matter”. Sesuatu yang ada tapi sungguh Big Unknown. Lantas bagaimana mengenalinya? Beberapa peneliti melakukan berbagai percobaan termasuk membangun fasilitas laboratorium fisik khusus di bawah gunung. Kenapa? Untuk mengurangi distraksi atau gangguang ion kosmis. Mereka menyebutnya sebagai “Cosmic Silence”. Mereka (para sainstis) menganggap apa yang kita ketahui dan kita “yakini” tentang dunia ini dan seisinya hanya sebagian kecil dari apa “yang ada dan hadir” sesungguhnya.

Demikian juga apa yang kita jalani sehari-hari. Apa yang kita miliki tak ada artinya bagi ukuran skala ekonomi makro. Apa yang kita tempuh setiap hari, bisa jadi ndak spesial dan banyak orang lain melakukannya. Apa yang kita pilih sebagai pasangan hidup, bisa jadi tidak terlalu istimewa jika dibandingkan individu lain. Anak kita, bisa jadi bukan yang paling unggul dibanding kawan sepermainannya dalam hal akademis.

Tapi ketika bahasa yang digunakan adalah: Menjalani apa yang sudah hadir dan berupaya menjadikannya yang terbaik, maka serba kekurangan dan ketidaksempurnaan hidup kita menjadi sedikit memiliki makna.

Dengan segala keterbatasan waktu tersisa, kita merayakan setiap momen dengan diawali serba tanda tanya, walau dengan rencana, dan dilalui segera. Bisa jadi menjadi suka. Atau duka. Judul besarnya adalah merayakan hidup.

Tapi banyak hal-hal di luar kekuasaan kita yang menjadikan kita mengalami banyak hal di dunia ini. Bagi yang relijius, “Dark Matter” ini adalah kuasa tangan Sang Pencipta. Kehadiran Tuhan.  Bagi para ekonom, semacam the Invisible hand. Bagi kaum rasionalis, banyak variabel, faktor lain, baik yang dapat dikendalikan oleh kita sendiri maupun faktor eksternal yang menjadikan sesuatu tak dapat dihalang-halangi.


 

Lantas apa yang dapat diperbuat oleh kita dalam menikmati hidup? Boro-boro menikmati, Om. Ini masih berjuang hidup. Ciyan deh lu.

Running_KineticEnergy-58ac6fa53df78c345b601ef2

Ah. Coba sekali lagi, kamu audit diri sendiri beserta seluruh dan segala apa yang melekat dalam diri, hidup ini dan apa yang sudah dialami dan saat ini lalui.

Jangan-jangan kita akan malu sendiri jika yang selalu kita pikirkan adalah selalu serba kekurangan. Kurang follower, kurang penghasilan, kurang kurus, kurang mulus, kurang tokcer karirnya. Bisa jadi jika didalami, hal paling istimewa dari serba kekurangan adalah nilai sikap kita yang terus menerus berupaya menjadikan semuanya menjadi lebih baik. Ada sebuah nilai mulia dari “sikap nrimo” dengan ikhlas, dengan lapang dada, dengan penuh kesadaran bahwa kita menjadi manusia istimewa dengan terlebih dahulu kita sepakat adalah hanya manusia biasa yang tidak istimewa dan sama seperti lainnya. Yang membedakan adalah soal bagaimana kita menyikapi segala situasi yang ada secara bijaksana.  Menjadi istimewa ketika kita secara fair dan konsekuen menerima nasib yang ditakdirkan dengan suka cita dan tanpa patah semangat terus menjadikannya lebih baik.

Hari ini linimasa genap 4 tahun. Dia bukan bayi. Dia juga bukan benda mati. Meminjam jargon dalam lagu tema Asian Games di Jakarta kali ini, maka linimasa adalah semacam energi: sebut saja “Energy of Manusia”. Hanya sebagian kecil dari energi semesta jagad raya. Ndak terlalu istimewa. Tapi setidaknya, kita menyadari akan adanya energi itu, dan berupaya menyalurkan energi tersebut untuk hal-hal yang lucu, gemesin, dan enak-enak.

Hahaha!

Selamat ulang tahun linimasa. Semoga selalu hangat.

Roy

 

 

Thiel, Helena dan Filosofi Sudah Mati?

“Apa hakikat kenyataan? Dari mana segalanya berasal? Apakah alam semesta memerlukan pencipta? 

Kebanyakan kita tak menghabiskan waktu merenungkan segala pertanyaan itu, namun nyaris semua di antara kita pernah merenungkannya sekali-sekali.

Secara tradisional, semua yang tadi adalah pertanyaan filosofi, tapi filosofi sudah mati. Filosofi sudah tidak mengimbangi kemajuan terkini dalam sains terutama fisika.

– Grand Design – Stephen Hawking

Bagi Stephen (Hawking), para ilmuwan telah menjadi pemegang obor penemuan dalam perjalanan pencarian pengetahuan.

488710135_1280x720

Bagi saya pendapat Stephen tak mudah untuk didebat. Pada kenyataannya hingga saat ini makin banyak sosok Tony Stark dalam wujud nyata. Dalam upaya penyelamatan pesepakbola cilik di gua-gua pedalaman Thailand beberapa bulan lalu, kita diperlihatkan kembali sosok Elon Musk yang bahu membahu dengan para ahli susur gua terbaik dunia. Sebelumnya, konon katanya Osama Bin Laden pun persembunyiannya di sebuah kota di Afganistan diketemukan secara akurat oleh sekelompok anak “Palantir” asuhan Peter Thiel.

Anak muda dengan tingkat pencapaian inovasi dan kebetulan ternyata sungguh dapat dikomersilkan, menjadikannya sosok Tony Stark. Jenius dan kaya raya. Perpaduan lengkap semacam Nasionalis-Relijius ala #Join.

Lihat saja anak sekolahan semacam Larry Page dan Sergey Brin yang menciptakan Google. Atau kisah klasik Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya. Kemudian Evan Spiegel dengan Snapchat-nya, atau bintang idola yang makin bersinar dan terus diperbincangkan: Vitalik Buterin, dengan proyek Ethereum-nya.

Bicara soal anak-anak muda “jelmaan Tony Stark”-ini, sejatinya tidak hanya didukung dengan intelejensi yang keren, joss, dan mumpuni, melainkan juga adanya keberuntungan pertemuan dengan sosok tertentu yang menjadikannya meroket.

Masih ingat bagaimana Zuckerberg dibimbing oleh Sean Parker, pendiri Napster? Atau bahkan pertemuan antara Larry dan Sergey yang membentuk Google. Jangan ditanya dengan pertemuan Elon Musk dan Peter Thiel, karena mereka sama-sama jebolan Paypal.

Yang menjadikan ekosistem keilmuwan tumbuh subur adalah minat anak muda dunia barat semakin kentara untuk mencintai bidang ilmu yang digelutinya. Dahulu para intelektual bidang sains cukup dengan menjual paten atau malah sibuk di ruang laboratorium. Sekarang, ilmuwan sains juga merangkap sebagai pengusaha. Mereka tak segan untuk mengkomersilkan karyanya kepada khalayak dan sekaligus mendirikan bidang usaha untuk nantinya dikembangkan terus-menerus.

Selain itu, konsep guru dan murid. Mentoring dan lain sebagainya terus berlangsung dengan terukur dan menimbulkan daya rangsang bagi generasi muda. Peter Thiel menyisihkan dananya untuk mendirikan The Thiel Foundation dan kemudian memberikan dana bantuan bagi anak muda di bawah usia 20 tahun yang memiliki minat dan bakat dalam bidang ilmu pasti, teknologi dan hal lain yang sekiranya merupakan lompatan baru bagi peradaban, bahkan untuk kemajuan jangka panjang masa depan. Bantuannya jelas: Selama dua tahun akan diberikan dana bagi anak yang “kebetulan” memang drop-out dari sekolah, untuk terus berkarya dan menyumbangkan pemikiran maupun karyanya yang berguna bagi (sekali lagi) peradaban.

Dalam 2 (dua) tahun lembaga ini akan  mendanai satu orang pilihannya (yang usianya di bawah 20 tahun atau lebih sedikit), drop-out dari sekolahnya, dengan dana sebesar 100.000 USD atau setara dengan kurang lebih 1,4 milyar rupiah.

Sebuah ekosistem yang cantik bukan?

Vitalik Buterin adalah contoh jebolan The Thiel Foundation. Dari wikipedia bisa diketahui beberapa penerima bantuan dari Thiel ini.

Notable recipients include:[9]

  • Adam Munich, an experimental physicist currently working to mobilize radiography.[10]
  • Boyan Slat, founder and CEO of The Ocean Cleanup[11].
  • Ben Yu, founder of Sprayable[12] and creator of Sprayable Energy[13] and Sprayable Sleep.[14]
  • Dale J. Stephens, founder of UnCollege, a social movement that aims to change the notion that going to college is the only path to success.[15]
  • Eden Full, founder of Roseicollis Technologies, and inventor of a solar panel tracking system called SunSaluter. After the completion of her two-year fellowship period, Full decided to return to Princeton University (where she had secured admission prior to becoming a Thiel Fellow) to pursue mechanical engineering.[16]
  • James Proud, founder of Hello and creator of Hello Sense, a personal sleep tracker.[17]
  • Ritesh Agarwal, founder and CEO of OYO Rooms, which raised $250 million in 2017.[18]
  • Taylor Wilson, the youngest person to produce nuclear fusion.[19]
  • Vitalik Buterin, co-creator of Ethereum.[20]
  • Austin Russell, founder of Luminar, a company that develops high performance LIDAR systems.
  • Thomas Sohmers, founder of REX Computing, a company which develops high performance, energy efficient computer processors.

 

Nah, hal yang lebih menarik lagi saat menyimak deretan nama saintis muda di atas, adalah saat saya iseng mengetahui lebih jauh mengenai masing-masing pencapaian mereka.

Taylor_Wilson_-_02 (1)

Taylor Wilson

Taylor Wilson, bukan kecil-kecil cabe rawit, melainkan kecil-kecil mainannya nuklir.  Lebih menarik lagi ketika saya dapati ia juga merupakan anggota dari Helena Group, sebuah kelompok non pemerintah yang kira-kira siapa dan ngapainnya sebagai berikut:

Helena, Helena GroupThe Helena Group, or The Helena Group Foundation is a global non-governmental organization and think-tank composed of prominent leaders from multiple generations of society.[1][2] Its membership includes senior military and political figuresFortune 500 executivesNobel Laureatesentertainment figures, leading scientiststechnology leaders and philanthropists.[3][4] Helena is structurally designed to produce initiatives that address global issues, which are devised and executed during frequent meetings between its members.[5][6][7]

Helena’s current members include Nicolas BerggruenBrian GrazerRt Hon. David MilibandBeth ComstockEvan SpiegelZoe SaldanaGen. Norton A. SchwartzMax TegmarkBassem YoussefTaylor WilsonChloe Grace MoretzSylvia EarleDynamoMyron ScholesAlaa MurabitGen. Stanley McChrystalSabrina Gonzalez PasterskiDeepak Chopra, and Yeonmi Park.[8][4]

 

Ternyata perkumpulan orang pintar semakin majemuk dan mulai keluar dari zona nyaman untuk lintas disiplin ilmu membicarakan isu-isu global.

Jika pada akhirnya kita mau mengakui bahwa apa yang sudah kita pikirkan, kita perbuat, adalah masih jauh dari nilai kebermanfaatan, maka kita mau ndak mau berani untuk menengok apa yang “mereka” kerjakan.

Bagi saya Indonesia itu ndak kalah pinter. Namun bagaikan pemain alat musik, masing masing asyik ngulik alatnya masing masing. Si A, yang jago gitar ya main gitar aja sendirian sampai maghrib. Si B yang piawai main piano terus aja sampai nangis berdarah-darah menyanyikan lagu sendu. Tapi tidak muncul keberanian untuk saling berkomunikasi dan menekan ego diri. Menunjuk salah satunya menjadi konduktor, dan sepakat emmainkan lagu dengan cara orkestra. Manajemen ilmu yang belum terlatih di negeri tercinta ini.

Para orang kaya membangun yayasan. Kemudian menjadi “patron” bagi para ilmuwan. Orang pandai saling berkomunikasi untuk membahas isu terkini. Para individu tetap mengemban misi dan ambis masing-masing menciptakan sesuatu yang bermakna bagi peradaban. syukur-syukur produknya laku dan menjadikannya kaya raya. Lalu ia akan memposisikan diri sebagai orang kaya yang filantropis. Begitu terus.

Sebuah majelis Ilmu sejati.

 

salam anget,

Roy

 

Suasana

Pernahkah suatu suasana begitu menyenangkan dan kamu ingin memakannya agar terasa semakin dalam dan tahan lama?

Suasananya yang ngepas dengan mood, sampai bau udaranya, sentuhan sinar mataharinya, tatapan orang-orang di sekitarmu, dan bebunyian sekitar yang tak mau dihilangkan dari ingatan.

Bisa saja kamera hape mengabadikan secara visual, tapi alat apa yang bisa mengabadikan keseluruhan ini?

Bahkan earphone pun sama sekali tak dikenakan demi meraup seluruh suara yang ada. Menghirup udara dalam-dalam hingga dada membusung. Mata menatap dengan sempurna atas warna-warna dengan spektrum cahaya yang diterimanya.

Demikian juga dengan kulit tubuh kita yang merasakan hembusan angin, terpaan sinar, dan apapun yang beri teraksi dengannya.

Bisa jadi ini adalah reaksi sementara dan awal dari sebuah hal baru yang menghinggapi tubuh. Namun kebanyakan pengalaman membuktikan, ini bukan soal respon fisik, namun lebih masuk daripada itu. Ini soal pengalaman psikologis dan alam batin.

Panca indera hanya pintu depan. Setelah kuncinya terbuka, maka selanjutnya ruang hati, meja kalbu, dapur batin, dan loteng psikologis kita ikut diselami.

Inilah yang bagi Mulla Sadra, dianggap sebagai pengetahuan juga. Pengetahuan yang bukan saja alam fisik, rasional, namun juga batin dan pikiran. Bagi seorang Dora, ini adalah petualangan yang membuatnya semakin dewasa. Bagi Nobita, ini adalah episode lanjutan yang bisa jadi merupakan usahanya lepas dari ketergantungan pada Doraemon.

Jika kemudian sesuatu yang baru ini terulang beberapa kali, dan menjadi rutinitas, apakah fenomena ketakjuban tubuh, hati dan pikiran akan tetap terjadi?

Bisa ya, bisa tidak.

Seorang Albert Einstein yang saat itu bekerja pada pemeriksa pengajuan hak paten bertubi-tubi setiap hari harus memeriksa pengajuan model arloji. Setiap hari ia melihat stasiun kereta. Setiap hari ia, dari ruang kerjanya diterpa cahaya matahari. Komorebi. Lambat laun, lamunannya berbuah teori yang mengikutsertakan cahaya, waktu dan ruang. Teori Relativitas lahir dari sebuah rutinitas yang dimaknai.

Dan jika setiap orang memiliki keunggulan dan minat tertentu pada hal tertentu. Punya alasan tertentu atas aktivitas yang dilakukannya, maka di lingkaran itulah ia akan beranjak bangun, beraktivitas, dan kembali ke peraduan. Begitu privat dan intim. Kita, individu lain, tidak memiliki otoritas atas apa yang hendak dipilih dan apalagi dipikirkan orang lain.

Karena setiap orang ingin merasakaan apa yang ada di paragraf pertama.

Sesering mungkin.

Salam anget,

Roy

Rutinitas Itu Membunuh Makna

Secara total saya membantahnya! Iya, pakai tanda seru. Satu hal yang membunuh makna adalah “ketidaksadaran”.

Kalimat rutinitas membunuh makna, adalah kalimat yang manja. Keluar dari pengalihan dari ketidakberdayaan untuk selalu sadar atas apa yang dilakukan. Lebih fatal lagi karena makna justru sejatinya bukan “hasil” tapi ia adalah “sebuah usaha”.

Setiap hal dapat dimaknai. Rutinitas pun dapat dimaknai. Ketika rutinitas dilakukan dengan kesungguhan hati, dengan prinsip “mengerjakan lebih baik” dari sebelumnya, maka makna tak akan hilang barang sedikitpun. Bahkan rutinitas yang secara sadar dilakukan menambah jam terbang dan pada gilirannya apa yang dilakukan membuahkan hasil melebihi apa yang diduga.

David Beckham lebih sering melakukan latihan tendangan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dalam karir sepakbolanya. Stephen Curry berlatih setiap hari soal men-dribble bola, menembaknya ke ring, melatih kelincahan kedua tangannya jauh lebih banyak dari pemain basket lainnya.

Beberapa orang tak setuju dengan tulisan Malcolm Gladwell dalam Outliers tentang the beatles yang telah lebih dari 10.000 jam manggung untuk menghantarkannya terkenal dan mempertajam ide lagu.

Akan tetapi belum ada yang membantah prinsip Kaizen Jepang yang memaknainya sebagai tak ada yang terbaik melainkan hanya ada “menjadi dan melakukan lebih baik”. Inilah yang diyakini Jiro, pembuat sushi paling hakiki di Jepang dengan “3 bintang michelin” yang setiap hari meracik dan menyajikan sendiri sushi terbaik buatannya di restoran miliknya yang terletak di bawah stasiun Tokyo. Untuk 20 buah sushi beragam jenis, minimal ia menghargainya dengan bandrol paket seharga Rp4,2juta.

Rutinitas yang membunuh makna bisa saja diklaim, tapi sebatas hanya dan jika dilekatkan para seniman. Karena para seniman yang merasa dan bisa jadi betulan kreatif itu sebagian besar beranggapan dan meyakini kreatifitas bukan dipertajam dari latihan, melainkan jiwa, bakat, inspirasi dan ide yang muncul tanpa diduga.

Oleh karenanya seniman lebih banyak akhirnya membuat tubuhnya jadi benda sendiri itu sendiri. Tato disana-sini, penampilan harus beda, anting di semua pinggiran telinga, atau gaya bicara yang sulit dimengerti orang awam.

Satu hal lagi yang terlupa.

Makna adalah sebuah azasi setiap insan yang sungguh privat. Memaknai adalah sebuah kegiatan yang begitu subyektif dan tak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Sehingga dengan tuduhan bahwa rutinitas membunuh makna, adalah sebuah klaim yang sungguh subyektif karena dirinya yang meyakini itu mengidap hal demikian. Rutinitasnya membuat dirinya kehilangan makna. Tapi bagi orang lain yang melakukan hal yang sama, belum tentu.

Rutinitas khusus yang diklaim oleh orang tertentu adalah perkara rutinitas menulis. Baginya menulis adalah sebuah kreativitas. Sebuah penilaian sekaligus penghargaan yang patut diapresiasi. Tapi bagi sebagian yang lain menulis bisa jadi adalah sebuah terapi. Sebagian lain adalah sebuah proses berbagi. Sebagian lain menulis adalah sebuah kewajiban kerja. Sebuah etos kerja.

Menulis akan indah jika disertai renjana. Saya sepakat. Menulis dengan penuh hasrat menjadikannya tulisan lebih hidup. Perasaan dan pemikirannya menjelma deretan huruf. Lalu menjadi rangkaian kata-kata yang menggugah selera.

Tapi adakalanya menulis bukanlah sebuah kegiatan menjahit adibusana. Menulis bisa jadi adalah proses membuat seragam sekolah. Membuat baju kerja. Menjahit kerudung. Merangkai kain perca menjadi keset. Menjahit emblem seragam pramuka.

Lalu apakah rutinitas selalu identik dengan kerja teratur ciri khas industri, yang menjadikannya rangkaian kalimat hasil pabrikan? Sebuah dugaan yang tipis dan begitu ringkih. Apakah ketikannya menjadi semacam mesin pemintal? Tentu saja tidak.

Saya tidak yakin benar GM akan rela dirinya yang setiap minggu menyisihkan waktu menulis catatan pinggir adalah bagian dari industri. Saya tak yakin benar apakah kolumnis surat kabar yang rutin menulis adalah bagian dari kerja pabrik.

Makna justru dikerjakan dalam proses kreatif menulis itu sendiri. Bukan memaknai kegiatan menulisnya. Namun memaknai apa yang dipikirkannya. Apa yang dialaminya. Atau bahkan memaknai apapun yang sama sekali sedang tidak dikerjakannya.

Rutinitas dapat membunuh makna?

Masih bisa dibantah.

Namun, rutinitas tidak melakukan sesuatu apakah dapat dikatakan sudah pasti tak memberi makna apa-apa merupakan sesuatu yang dapat disanggah?

Selamat pagi, Glenn. Apa kabarmu hari ini?

salam anget,

roy

Karena Semua Ada Asal-Muasalnya

Kemarin siang, di Pengadilan Negeri Surabaya, salah satu pengacara lokal, Sudiman Sidabukke, bertanya apakah ada bedanya antara “perbuatan melawan hukum” dengan “perbuatan melanggar hukum“.

Ahli, yang saya lupa namanya, menjawab pertanyaan itu dengan sigap.

“Sepanjang yang Bapak maksud adalah Onrechtmatige daad, maka keduanya sama.” Kemudian ia menjelaskan lebih lanjut,

“Bedanya kalau Bapak baca terjemahan Wiryono  (Wiryono Prodjodikoro) maka akan menggunakan istilah “melanggar”, sedangkan Subekti akan dimaknai sebagai “melawan hukum”.

Jawaban yang sederhana. Ahli yang mengembalikan perbedaan tafsir kepada kata asal. Soal hukum Indonesia adalah soal warisan Belanda. Maka ketika ada beda makna, ia mengembalikannya pada sang muasal: Bahasa Belanda. It’s so simple.

Jika saja kita membiasakan diri kepada yang asal, maka percabangan makna – bahkan awam menganggapnya sebuah pertentangan- dapat dihindari.

Sama halnya dengan feeling, perasaan senang. Kita menyebutnya bahagia. Apakah bahagia juga sejatinya adalah hal sederhana jika kita mengetahui asal-muasal darimana bahagia dalam diri itu muncul.

Ada yang bilang bahagia itu setelah kita banyak duit. Mau beli apa-apa mudah. Hidup mudah, ndak susah. Ada yang bilang materi ndak penting, tapi soal menyusukuri nikmat. Ada yang beranggapan selama sehat, fisik prima, rohani dan mental baja, maka hidup akan baik-baik saja dan gemah ripah loh jinawi.

Ketika itu ditanyakan dalam Quora, seseorang menjawab dengan mengembalikan asal muasalnya.

I am rich, fit, and I have mastered almost everything I wanted to master. Why am I still not happy and still not satisfied?

Seorang pengguna Quora, Karim Elsheikh, menjawab demikian:

Human happiness (as we know it) is caused by 4 basic chemicals:

  • Dopamine
  • Endorphins
  • Serotonin
  • Oxytocin

On your journey to become fit, your body released endorphins to cope with the pain of physical exercise.

You probably began to enjoy exercise as you got more into it, and the endorphins made you happy – temporarily.

On your journey to become rich, you probably completed many tasks and goals.

You probably bought all the things you’ve ever wanted. Nice cars, beautiful clothes, and a perfect home.

This released dopamine in your brain when you achieved your goals and bought these things, which once again contributed to your happiness – temporarily.

So what about the other two chemicals?

It turns out that human happiness is incomplete without all 4 chemicals constantly being released in the brain.

So now you need to work on releasing serotonin and oxytocin.

How do I do that, Karim?”

Serotonin is released when we act in a way that benefits others. When we give to causes beyond ourselves and our own benefit. When we connect with people on a deep, human level.

Writing this Quora answer is releasing serotonin in my brain right now because I’m using my precious time on the weekend to give back to others for free.

Hopefully I’m providing useful information that can help other people, like yourself.

That’s why you often see billionaires turning to charity when they have already bought everything they wanted to, and experienced everything they wanted to in life.

They’ve had enough dopamine from material pleasures, now they need the serotonin.

Oxytocin, on the other hand, is released when we become close to another human being.

When we hug a friend, make love to our partner, or shake someone’s hand, oxytocin is released in varying amounts.

Oxytocin is easy to release. It’s all about becoming more social!

Share your wealth with your friends and family to create amazing experiences.

Laugh, love, cooperate, and play with others.

That’s it my friend!

I think it all comes down to the likelihood that you are missing two things: contribution and social connection.

Itulah bahagia secara ilmiah. Mengembalikan asal muasal kesenangan secara kimiawi dari dalam tubuh kita. Hal yang patut diperhatikan adalah jawaban Karim dengan mengulang satu kata: “Temporarily“.

Dari penjelasan dia, saya menyadari bahwa “perasaan anget” dalam dada, bukanlah soal “hati”, tapi reaksi kimiawi otak yang mengakibatkan reaksi tubuh menghangat sekitar dada. Perubahan detak jantung, keluarnya zat tertentu dalam otak, laju darah yang berubah, menimbulkan sebuah efek yang “menyenangkan”.

Karena memang rasa senang, atau orang menyebutnya bahagia, tidak akan langgeng. Dan jika kita menyadarinya mengapa, maka kita akan memakluminya.

Jadi,.. jika ada yang bertanya apa bedanya senang dan bahagia dan mengapa bisa mengalami perasaan itu, maka jawabannya adalah soal “reaksi dalam otak”. Ahahaha.

salam anget,

Roy

(Capres RI 2024-2029)

 

Jika Pablo Cikaso Bermain Musik

 

Scrap-Paper-Dinosaur-Collage-Art.png

Ketika sifat Jamaliyah menetes dalam nurani kita, maka turunannya yang timbul adalah seni. Batu cadas yang dipahat bisa menjadi “sebuah bentuk”. Deretan tinta menjadi kaligrafi. Potongan kertas yang ditempel bisa menjadi “sesuatu”.

Juga sisi kelembutan bunyi. Secarik suara, sepenggal denting, alunan yang disusun dengan selera, bisa membuat mimpi basah yang berawal dari gendang telinga.

Suara di tangan Pablo Cikaso, sebut saja begitu, menjadi sebuah scrapbook berisi remah-remah warna yang disusun secara abstrak, namun ternyata fraktal. Bagai secarik kertas ditempeli potongan berita koran, juga ditempel wajah SBY, lalu di sebelahnya ada potongan obituari, dan di atasnya sebuah tanda rambu lalu lintas tertera.

Pernahkah kamu bayangkan sebuah poster grup musik Tame Impala, ditimpa wajah Raam Punjabi, dan cuplikan foto trailer sinetron Tuyul dan Mbak Yul? Pernah? Sanggup? Oleh Pablo Cikaso bayangan yang baru saja saya sebutkan ini diwujudkan dalam bentuk sebingkis lagu. Pablo menyebutnya “If Kevin was Punjabi”.

 

Bagaimana? Keren bukan?

Itulah asiknya Raka Suryakusumah, nama asli Pablo Cikaso. Olah tempel suara yang dihasilkan sedikit mencengangkan. Sedikit nakal tapi banyak binal. Suara TOA yang biasanya diperdengarkan dari atas masjid dan membahana, tak luput dari keisengannya.

Terkadang Raka memilih jalur karir Barista sekaligus Bartender. Meramu tequila dengan dua gelas kecil espresso. Kok bisa? Kenapa ndak. Lagu Sepohon Kayu yang bernuansa relijius dikocok olehnya dengan semangat Daft Punk. Maka jadilah lagu “If Daft Punk think about the purpose of life”.

“Kenapa Pablo Cikaso?” Suatu ketika saya bertanya padanya.

“Pablo? Saya menyukai pelukis abstrak itu. Terkadang dia ekspresionis, juga surealis namun kita lebih mengenalnya dengan aliran kubisme. Cikaso? Karena saya dulu ngekos disana. Hahaha.”

Beberapa lagu Indonesia lawas juga ia garap. Dengan sentuhan Lo-Fi. Semacam trend bermusik dimana frekuensi lagu sedemikian rendah seolah-olah pita kaset sedang diperdendangkan. Bahkan terkesan mendem, yang pada gilirannya membuat hati tentram, jiwa tenang. Cocok dengan saya, anggota barisan Om-Om Tenang. Lagu “Andaikan kau datang kembali midnight talks remix”, misalnya.

 

“Oh, iya. Pertanyaan penting nih. Kamu anak twitter atau anak IG, Blo?”

“Wah pertanyaan yang susah dijawab. Saya dulu anak basket. Tapi sejak SMP sudah main twitter. Lagu saya juga diunggah ke youtube. Jika banyak kanal bisa disambangi, kenapa harus membatasi diri?” (catatan: akun twitter Raka adalah @_raksur dan channel youtube Pablo Cikaso )

“Oh ya? Sejak SMP?”

“Iya, jaman saya masih seneng nonton Crayon Sinchan.” 

“Oh filem kartun yang mengocok perut itu kan?”

Nope!”, dia menggeleng. “Filem Sinchan itu semacam musik Isao Tomita.”

“Maksudnya?”, tanya saya penasaran.

“Bagi saya, Crayon Sinchan film yang begitu tenang dan menenangkan”

Gimana-gimana?“, saya makin penasaran kenapa filem kartun yang terkadang kurang ajar itu malah tenang.

Biar ndak bingung, mas cekidot aja lagu saya ini. Nanti juga paham.”, ujarnya sembari menyalakan sebatang kemenyan rokok.

 

salam anget,

Roy

+ bonus lagu Crayon Sinchan versi mp3 ala Raka Suryakusumah. (supaya bisa didengar lewat hape walau aplikasi lain dibuka)

Yang Kita Jalani Adalah Cita-cita

“Apa yang kita ketahui itu terbatas, sedangkan yang tidak kita ketahui itu tak berhingga; secara intelektual kita berdiri di satu pulau kecil di tengah-tengah lautan ketidaktahuan tak terbatas. tugas kita di setiap generasi adalah mereklamasi untuk memperluas daratan.”

T.H. Huxley, 1887 – diambil dari Bab I Tepi Lautan Kosmik, Buku Cosmos karya Carl Sagan

Suatu malam ketika di sebuah Starbucks di bilangan Melawai yang di atas mejanya ada dua potong cheese cake, dua kaleng beer Sapporo, tiga kaleng Beer Bintang, beberapa botol air mineral dan beberapa cangkir kopi bikinan tuan rumah, menjadi saksi sekumpulan beberapa manusia absurd yang memperbincangkan hal absurd. Bagaimana tidak. Mereka baru saja pindah dari Daitokyo Sakaba yang jaraknya beberapa meter dari tempat mereka saat ini. Mampir sejenak ke Papaya, minimarket yang menjual cheese cake dan beberapa kaleng beer, lalu mereka mengobrol dengan diawali rasa kecewa karena Daitokyo Sakaba, sushi yang menjual sate-satean, sushi-sushian mengandung daging babi ini, ternyata tidak menjual beer di bulan Ramadan. Semua aktivitas barusan adalah aktivitas dengan judul: Buka Puasa Linimasa Jilid Dua. Kurang absurd?

Mas X,  pria dengan dua tato  di lengan kanannya. Matanya sipit. Bicaranya lantang. Pemikirannya terbuka. Lalu hadir juga Lady X, dengan kipas-kipas asmaranya. Sepanjang waktu mempermasalahkan kenapa pria usia diatas 30 tahun tak pernah mampu orgasme dua kali dalam sehari. Juga Lady Y , perempuan paling cantik kedua setelah Gandrasta yang mengaku baru sebulan berhenti merokok dan mengaku sering Runi saat melakukan kencan buta. “Apa itu Runi?” Sahut kami. Rubah Niat!, jawabnya dengan nada bangga karena istilah ini tak diketahui rekan-rekannya yang lain. Juga hadir Mas Y, walau hadir terakhir dan melewatkan kesempatan menikmati Daitokyo, namun dengan fasih bercerita bahwa betapa Rimming memiliki arti penting dalam menjalani aktivitas memadu kasih. Juga hadir saya, yang masih saja kebingungan ketika Mas X, meneruskan pertanyaan VeHandoyo mengapa Linimasa tetap ada, gitu-gitu aja dan ndak ngapa-ngapain. Marah ndak, lucu ndak, abis-abisin kuota iya!

Salah satu impian saya saat masih mahasiswa adalah menulis catatan harian apa adanya. Tanpa sensor demi sebuah kelegaan hati. Isinya bisa curhat soal kejadian yang telah dilalui, atau impian yang akan dijelang, juga suasana perasaan pada saat itu. Namanya anak muda, maka isinya adalah soal cinta, kecewa dan cita-cita. Tapi terkadang catatan harian saya berisi soal dunia luar. Soal remeh temeh keduniawian, maupun hal-hal agung soal ketuhanan.

Ternyata kebiasaan membuat catatan harian itu keterusan hingga sekarang. Bahkan salah satu ide bikin linimasa ini adalah juga soal meneruskan membuat catatan harian secara digital dan sekaligus berbagi dengan “pembaca yang lain”.

Pengertian yang lain di sini bukan saja orang lain, melainkan pemikiran beda. Karena saya sadar sesadar-sadarnya bahwa pandangan orang pun patut dihargai. Langkah pertama untuk saling menghargai adalah secara jujur mengungkapkan isi pikiran dan perasaan kita terlebih dahulu. Jika pun ternyata terdapat perbedaan, maka yang beda atau yang lain itu justru memperkaya. Saling tahu, lalu saling mengerti.

Cita-cita linimasa adalah menjadi “sesuatu” dan dianggap penting secara intelektual, kultural dan emosional. Kenapa emosional tetap diikutsertakan? Karena itulah menurut saya sebuah nilai luhur manusiawi secara individu. Menyertakan “hati” dalam setiap kesempatan. Bisa jadi tepat bisa jadi tak perlu. Tak tak mungkin sepenuhnya dihilangkan.

Sudah selayaknya kita terbiasa untuk berdemokrasi sejak dalam pikiran. Memberikan kesempatan kepada setiap “suara”. Membaca segala. Bisa jadi sesuai, bisa jadi bertolak belakang dengan apa yang kita yakini dan kita percaya. Setidaknya “suara lain” ini adalah pundi-pundi kekayaan yang kita pungut gratis yang selama ini dirawat dan dipelihara oleh individu lain. Kita, atau setidaknya saya, begitu merindukan masyarakat yang mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Apapun keputusannya. Juga menghormati keputusan orang lain. Masyarakat terpelajar yang bukan karena melulu dilahirkan oleh bangku sekolahan. Tapi atas keterbukaan. Memberi kesempatan kepada yang “beda”.

Membuat catatan harian saat mahasiswa adalah soal hobi. Membuat linimasa adalah salah satu cara kenegarawanan saya pribadi. Lewat tulisan dan saling berbagi.

Ketika masih kecil, sering saya dengar bahwa gantungkan dan kejarlah cita-citamu setinggi langit. Saya percaya itu. Tapi agak berubah dari apa yang saya percayai dulu, ternyata saya lebih menyukai “kerjakanlah cita-citamu yang dulu dan tekuni.”

Bisa jadi cita-cita bukan berarti profesi. Cita-cita bukan sebuah kondisi ajeg, permanen dan statis. Cita-cita adalah sebuah proses kerja. Sebuah kegiatan yang dari dulu diidam-idamkan dan memerlukan dedikasi.

Cita-cita saya adalah memaknai hidup ini dengan penuh martabat. Kehidupan sehari-hari yang perlu menjaga integritas. Bukan untuk siapa-siapa, namun setidaknya untuk saya sendiri. Linimasa adalah salah satu cara saya “memaknai hidup”. Mengkomunikasikan ide dan pikiran serta emosi. Dilemparkan ke pasar pembaca. Bisa jadi tak ada respon bahkan tak terbaca. namun setidaknya ada upaya menawarkan atau proaktiv untuk mencoba menyampaikannya kepada orang lain. Sebuah cara menguji jalan pikiran dan ide. Oleh karenanya, topik linimasa adalah topik sesuka hati. Apapun topiknya boleh kita tampilkan tanpa ada garis sekat apa yang boleh dan tidak boleh diperbincangkan.


Oleh karena itu, betapa beruntungnya saya ketika beberapa teman saya yang saya ceritakan di atas juga memiliki kemauan untuk “berbagi”. Memaknai hidupnya dengan sedikit cerita dan disampaikan lewat blog ini. Ketika suatu hari rekan-rekan saya sedang tak bergairah untuk berbagi dan lebih berkonsentrasi kepada kegiatan lain, misalnya apa yang sedang dijalani Glenn Marsalim saat ini, maka itu adalah bagian dari apa yang juga saya cita-citakan. Bergaul dan berkawan secara paguyuban. Atas dasar kesukarelaan. Bukan sekadar kepentingan patembayan dengan keterikatan karena motif ekonomi dan motif lain yang sifatnya subordinasi. Atas bawah. Bos jongos.

Ada satu lagi yang masih belum terpenuhi secara manis. Masih ada jurang pembaca dan penulis. Impian saya adalah kita sama-sama berbagi. Lewat komentar atau menceritakannya kembali kepada orang-orang tersayang. Karena internet butuh lebih banyak hati.

Terima kasih.

Salam anget,

Roy

 

SaveSave

Anak Kecil Wajib Punya Ayah

Ketika saya masih kecil, yang penting itu saat saya merengek minta jajan, ayah saya sanggup membelikannya. Ndak penting ayah punya uang atau ndak. Saya ndak peduli ayah kerjanya jadi karyawan swasta, dokter, atau berjualan kupat tahu depan rumah. Saya ndak peduli. Apa yang saya butuhkan cuma satu: ayah saya menyanggupi kebutuhan keinginan saya. Mau ayah saya bolos bekerja. Mau ayah saya kerjanya siang malam, dari pagi hingga larut malam, atau kaki jadi kepala dan kepala jadi entah apa.

Children-Come-First-56a25fc65f9b58b7d0c9724d

Anggap saja profesi ayah saya adalah “Agama”. Maka saat itu saya ndak peduli Ayah beragama apa. Mau dalam beragama Ayah saya sering bolos, atau siang malam jalankan ritual ibadah, saya ndak tau menahu. Tetap yang jadi nomor satu adalah: saat mau beli mainan, saya dibelikan. Titik.

Anggap saja saya adalah “Orang sekitar”. Maka bagi orang sekitar, jalankan agama atau tidak itu ndak penting. Selama orang sekitar terpenuhi kebutuhannya. Merasa senang, sudah cukup. Orang sekitar ndak peduli apakah agama itu dianut benar-benar atau sekadar simbol saja.

Anggap saja kebutuhan keinginan saya adalah “Kehidupan bermasyarakat”. Maka Orang sekitar itu ndak peduli soal agama. Hal terpenting adalah saat menjalani kehidupan bermasyarakat dapat merasa senang dan bahagia. Sudah. Itu saja cukup.

Maka sejatinya orang sekitar kita itu ndak peduli sejatinya agama saya dijalankan dengan baik atau tidak, selama saya dapat menjalankan kehidupan bermasyarakat sesuai keinginan orang sekitar, maka tugas agama selesai.

Seorang anak kecil ndak mungkin nuntut ayahnya harus jadi dokter. Atau merengek minta ayahnya berganti profesi sebagai nelayan yang rajin tangkap ikan pakai jala dan sekaligus dilarang pakai kail. Sesuatu yang berlebihan. Biarkan seorang ayah memilih sendiri profesi apa dan bagaimana menjalani profesinya.

Dalam bernegara itu ndak penting anda sholat atau tidak. Ndak penting anda itu rajin ke mesjid atau ndak. Yang penting adalah hasilnya. Bentuk turunan lanjutan dari beragama yaitu perilaku. Orang sekitar lebih memilih dan menyukai agama yang menelorkan kehidupan masyarakat yang kalau naik motor pakai helm. Orang sekitar lebih mengharapkan pengendara mobil itu saat ada lampu merah ndak dilanggar. Orang sekitar berharap saat mengantre tidak diserobot. Berharap toilet duduk itu ndak kotor karena dijongkokin pemakai sebelumnya.

Menjadi berlebihan, ketika seorang anak kecil bukannya sibuk belajar, tapi malah sibuk mengurusi profesi ayahnya. Ayah kudu rajin kerja. Tugas kantor ayah sudah dikerjakan belom. Anak kecil yang baik itu lebih baik merengek saja. Menjadi anak kecil yang sejati. Ndak mikir apa-apa kecuali dibelikan mainan dan berpuas diri.

Demikian juga dalam masyarakat madani. Masyarakat ndak membutuhkan hal primer berupa agama dalam bentuknya yang masih RAW. Bukan agama mentah yang  memamerkan wujud ibadahnya kepada Tuhan. Justru yang dibutuhkan adalah hasil olahan dalam beragama. Produk jadi yang siap dipasarkan dan dinikmati publik. Yaitu akhlak dan perilaku yang sesuai dengan kehidupan bermasyarakat.

Anak kecil ndak butuh seorang ayah yang dokter dan mengenakan stetoskop kemana-mana, atau sibuk mendiagnosis pasien, atau suntik sana suntik sini. Njus. Njus. Njus. Anak kecil lebih butuh duit jajan dan bayaran uang sekolah yang memadai. Oleh karenanya orang sekitar kita pun demikian. Ndak peduli kita pakai kopiah atau selalu mengucapkan salam, tapi kita tetap malas diajak kerja bakti, korupsi duit negara, atau dengan sengaja dan tanpa perasaan bersalah duduk di korsi ibu hamil di sebuah moda transportasi yang kebetulan sesak.

Sudah saatnya simbol agama dan religius bukan lagi dianggap menjadi sebuah kemuliaan paling hakiki. Melainkan dicerminkan oleh hasil olahan dalam beragama itu. Menjadi warga yang santun, baik budi pekerti dan tepa salira.

Orang sekitar ndak peduli kamu itu sholat apa ndak. Ngapain anak kecil tau bapaknya dokter yang super sibuk tapi uang sekolah ndak pernah dibayarkan. Minta duit jajan ndak pernah diberikan. Orang sekitar lebih butuh kehidupan bermasyarakat yang nyaman.

Bahkan bisa jadi Ayah ndak perlu bekerja. Uang jajan bisa saja ada tersedia tanpa bekerja. Uang warisan, utang mertua, atau punya usaha dimana mana dan lancar dividennya. Anak kecil ndak perlu pusing darimana duit ayah berasal. Tapi untungnya masih ada Ketuhanan yang Maha Esa. Artinya:

Anak kecil harus punya Ayah. Menjadi warga negara wajib beragama.

Ayah boleh bekerja atau tidak, asal punya uang untuk anaknya. Agama silakan dijalankan secara religius atau tidak, ndak jadi soal. Yang penting, kehidupan bermasyarakat yang gemah ripah loh jinawi bagi orang sekitar.

Sudah itu saja.