Cinta (antar) Perempuan

Di suatu siang:

Dia: Aku gay.

Aku: Lol, Aku terkejut (masih sempet becanda)

Dia: hehehe. Kamu kalau jijik sama aku gapapa kok!

Aku: Gay gimana sik, wkk gay kan cowo sama cowo, tapuk ni! (mencoba mengkonfirmasi dan menepuk-nepuk pelan wajah)

Dia: Yang versi cewek lah..

Aku: Les** maksudnya? Serius ni??? Gapapa si kalau bener

Dia: Serius…….

 

Sebelum menulis cerita ini, saya terlebih dahulu meminta izin dengan teman saya. Katanya boleh boleh aja selagi itu membawa hal yang positif dan bahkan dia mau membantu kalau suatu saat mau menulis tentang apa yang dialaminya. Sebenarnya saya ingin menulis persfektif saya pribadi mengenai LGBT sejak beberapa tahun lalu, tapi karena bahasan ini sangat sensitif, saya sangat berhati-hati menuliskannya. Sampai suatu hari, salah satu teman perempuan saya membuat sebuah pengakuan. Tidak terlalu terkejut memang karena bagi saya menjadi ‘berbeda’ itu pilihan, bukan sesuatu yang aneh.

Sudah cukup lama saya kenal dengan teman saya ini, bahkan bisa dikatakan dekat. Dia baik, hampir pada semua orang. Pribadi yang sederhana, mau berkorban untuk orang lain, legowo, dan penolong. Sampai saya pernah bertanya-tanya ‘Ni orang kok bisa baik banget ya? kalau cewe lain, mungkin akan ngedumel’. Memang beberapa kali sempat terpikir, kalau dia nggak doyan laki-laki, karena raut wajahnya lebih bahagia dibilang ganteng daripada cantik, tapi karena masalah seksualitas adalah hal pribadi, saya tidak pernah mempertanyakannya.

Setelah pengakuan itu, saya tanya ke dia, gimana perasaannya setelah membuat pengakuan. Dia bilang, “lega, ga mudah memang awalnya, tapi itu semacam penerimaan diri sendiri”. That’s acceptance all about. Jangankan untuk mencintai orang lain, menerima dan mencintai diri sendiri juga bukan sesuatu yang mudah lho!, perlu proses. Saya yakin orang-orang di luar sana, terutama mereka yang ‘berbeda’ perlu usaha ekstra untuk itu, bahkan mereka harus melalui masa-masa yang sangat sulit sebelum sampai ke tahap acceptance. Teman saya lalu melanjutkan cerita tentang kapan tepatnya ia sadar kalau dia berbeda, siapa saja yang akhirnya tahu, termasuk keluarganya. I can imagine, how hard that journey for her, and how hard the struggle was. Saya bersyukur karena dia bisa survive sampai sekarang tanpa melakukan hal-hal aneh yang bisa merugikan diri sendiri. Bahkan dia jauh lebih taat dibanding saya. Mewakili beberapa orang yang mungkin punya pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan saya, berikut sedikit lanjutan percakapannya:

Bab Percintaan:

Aku: Udah pernah dapet pacar cewe belum?

Dia: Si A sebenarnya pacarku, tapi udah putus. Tapi hubunganku sama mantan yang sebelumnya (Bukan si A) baikan. Baikan lho ya, bukan balikan.

Aku: Eh Seru ga si pacaran sama cewe? Kamu pasti cowonya ya? Lebih ngemong soalnya.

Dia: Iyaa, aku perannya yang maskulin.

Bab Mantan

Aku: Mantanmu (yang dulu banget) jangan-jangan si ini?

Dia. That’s true… she is everything.

Aku: (Mbathin) Kandyani, aku ngerti sejak melihat foto kalian berdua, aku memperhatikan caramu menatap si ini, seperti seseorang yang melihat orang yang dicintai. Tapi waktu itu nggak berani nanya karena takut salah duga.

 

Bab Cari Pacar: 

Aku: Kalau cari pacar, gimana caranya nunjukkin kalau kamu si maskulin? Ada kodenya ga sih?

Dia: Ga ada (kodenya), tapi emang hal-hal seperti itu ada circlenya. Misal aku kenal anak yang emang L, kita coba jalan, cocok, trus jadian, sesederhana itu.

Aku: Eh aku kebanyakan nanya ya? Monmaaf, dari dulu aku penasaran yang dirasain orang-orang yang berbeda. Yang sebenarnya ga beda-beda amat kalau di mataku, love is for everyone gitu.

Dia: Nggak masalah Rin kalau kamu mau tanya-tanya, mungkin aku sebagai jawaban atas rasa penasaranmu. Maunya sih lurus tapi di tengah jalan ada ajaa…

 

Bersambung...

Eh end kok…Selanjutnya hanya bab-bab receh untuk konsumsi pribadi.

 

Saya tahu percakapan di atas bisa saja kontroversi. Pun halnya dengan LGBT itu sendiri, akan pro dan kontra. Bahkan ada juga yang membenci, menganggapnya sebagai hal yang memalukan. But let me tell my perspective, sebagai manusia- ga peduli gendernya apa-, kita melewati banyak hal, banyak rintangan hidup,  c’mon life is not easy sometimes, dude. Dan apa yang bisa menyelamatkan manusia? Love and support. Entah itu cinta kepada Tuhan, keluarga, teman, kepada sesama manusia bahkan sesama jenis (well mereka dari jenis yang sama kok, sama-sama manusia). Perasaan dicintai itu magic, kadang memberikan kekuatan tersendiri. Percuma kan kaya raya kalau hati kita kosong? Nggak ada yang diperjuangin. Dan gimana kalau ternyata yang membuat hati kita terisi itu seseorang yang ‘sama’ dengan kita? 

 

Menjadi LGBT kadang bukan pilihan, sebagian orang tumbuh dengan hasrat berbeda, kadang mereka pun tidak tahu kenapa. Dan menurut saya, memilih untuk terus menjadi ‘berbeda’ itu adalah hak dan pilihan hidup. Perkara salah, benar dan dosa, itu bersifat pribadi, urusan mereka dan Tuhan, sebagai manusia, kita cuma bisa mengingatkan. Dan bukan wewenang kita untuk memberi cap pada orang lain, bukan? Who knows we are not even better than them. Menjadi berbeda itu memang harus diterima, selagi tidak membuat saling terluka, benci dan prasangka.

Perbedaan itu sebenarnya biasa saja.

So, keep support each other, especially in their hard times, that’s called humanity!

Advertisements

Atas Nama Cinta (Pada Ego)

Turut berbela sungkawa atas sekaratnya jiwa

Para berkerumun tertawa-tawa di sempitnya ruang bahagia yang seharusnya luas tak terbatas

dan turut berduka cita

atas tak berartinya bunga

terganti umpat, benci, caci, maki, bunuh dan lukai benci dan lukai

(FSTVLST, Orang-Orang di Kerumunan)

Kasus pengeroyokan suporter Persija hari ini mengisi headline berita di berbagai surat kabar, baik offline maupun online. Jika ada celetukan ‘Netizen Maha Benar’, maka kali ini ‘Suporter Maha Benar’. Adalah Haringga Sirila yang kali ini menjadi korban pengeroyokan hingga tewas oleh pendukung Persib Bandung, atau yang lebih dikenal dengan Bobotoh. Bukti bahwa perbedaan belum benar-benar diterima secara merata oleh kita, masyarakat Indonesia. Dan memberi makan ego lebih mudah dari pada memberi makan mereka yang benar-benar terlantar dan membutuhkan. Jika semua dilakukan atas nama cinta, kepada siapakah? Pada cinta yang mana? Pada klub bola, atau ego di dalam diri yang merasa sebagai penguasa?

Miris dan sedih adalah reaksi yang melimpah ruah di berbagai media. Ucapan kemarahanpun ditemukan di berbagai komen postingan berita, hingga di akun pribadi sosial media.

Tapi, tahukah kamu apa yang membuat hati lebih miris? Berdasar video yang tersebar, ada puluhan (atau bahkan ratusan, cmmiw) orang di sana, tapi beberapa di antaranya sibuk merekam aksi tidak manusiawi tersebut dengan smartphone ketimbang berusaha beramai-ramai menghentikan. Apakah tak ada lagi rasa iba di hati kita? Bukankah kita masih sama-sama manusia? Kita itu siapa, sampai merasa berhak mengambil hak seseorang untuk hidup? Kita itu siapa, sampai merasa berhak tertawa-tawa dan diam saja melihat kebencian dipertuhankan?

Kita tentu tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya di sana, tapi apapun alasannya, pengeroyokan bukanlah merupakan kebebasan yang boleh dilakukan oleh siapapun. Kita perlu ingat, ada keluarga yang menangis kehilangan. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran untuk siapa saja, bahwa tidak perlu berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling berkuasa. Bahwa kita tidak perlu berlomba-lomba siapa yang lebih dulu mengupload di sosial media dan membiarkan kekejaman merajalela di depan mata. Ini nyawa, bukan bahan untuk bercanda.

Semoga peristiwa ini membuat kita sadar dan mulai peka, bukan buta pada sekitar.

Semoga kita tidak buta pada apa yang kita bela, karena

Bagaimana jika satu yang terbela selalu, ternyata bukan satu yang ternyata juga belamu? (FSTVLST- Satu Terbela Selalu)

Lebih baik kita beramai-ramai dalam damai, daripada beramai-ramai dalam benci. Lebih baik kita melerai, daripada bersorak-sorai. Damailah dalam beda, Indonesiaku!

Media Sosial itu Ibarat Hidangan Nasi Padang

‘Hi guys, aku lagi di Maldives, tau ga di sini tuuh,..

Eh tau ga aku ketemu siapa? .. bla bla..

Aku tu pokoknya positive thinking aja atas semua yang terjadi di aku’

 

Tarik nafas, hembuskan! sudah-sudah, ini bukan sindiran kok. Ini hanya beberapa contoh stories di instagram.

Media sosial adalah tempat dimana semua orang bisa menjadi bintang tanpa harus menjadi pemain film, sinetron, ataupun bintang iklan, Asal bahagia, bebas!

Tapi pernah tidak terbersit di pikiran, ‘kenapa sih beberapa orang terobsesi buat dinilai sebagai orang yang bahagia dan punya good vibes. Sementara di dunia bukan maya, kita tahu mereka tidak seperti itu. Bukankah kita tidak perlu meyakinkan siapa-siapa bahwa kita bahagia? Bukankah tidak apa-apa sesekali bersedih? Tapi tak mengapa, asal bahagia, bebas!

Beberapa waktu lalu pernah saya mendengar celotehan ini dari teman ‘Sepertinya hidupnya enak banget ya, positive thinking dan seneng terus’. Tapi ternyata beberapa hari kemudian, pernyataan itu berubah, setelah secara tidak sengaja, teman saya mengetahui cerita aslinya.

Sini duduk yuk, saya mau kasih tahu, dan tempe goreng kalau mau. Apa yang ada di media sosial, termasuk berita di media massa, semua ibarat hidangan nasi padang, sepertinya semua enak, ingin dilahap, tapi kamu tidak mungkin makan semuanya kan? Dan memang tidak perlu makan semuanya, harus dipilih mana yang baik untuk kesehatan jiwa dan raga.

Untuk yang sering merasa sedikit rendah diri, berhenti membandingkan hidup kita dan orang lain hanya dari apa yang kita lihat di media sosial. There’s always two sides of every story!

Dan bagi yang merasa punya tuntutan untuk dinilai bahagia, kamu tidak perlu meyakinkan siapapun, sungguh! Karena hidup orang lain bukan tentang kamu.  Asal kamu bahagia, itu cukup, pengakuan orang lain, ndak penting-penting amat.

Salam damai ya guys. Mari berbagi yang memberi manfaat, setidaknya manfaat untuk diri sendiri dulu jika belum bisa berbagi manfaat untuk orang lain.

Reality is an illusion

Beberapa hari yang lalu jagad raya media sosial ramai dengan decakan kagum koleksi Fall/Winter brand Gucci, maha karya siapa lagi kalau bukan Alessandro Michele. Sebagai anak kost yang hanya bisa menikmati lewat layar laptop, selalu ada yang menarik dari setiap karya Alessandro Michele, it’s fantasic, magic, unexpected! 

Tidak perlu menjadi anak fesyen untuk dapat menyukai karya-karyanya, kalau tidak bisa beli bajunya, setidaknya kita bisa menikmati megahnya mimpi seorang Alessandro Michele yang menjadi kenyataan. Penasaran dengan perjalanan Alessandro, saya pun mencari di internet, mulai dari perjalanan karirnya, kantornya, dan wawancara-wawancaranya dengan berbagai media.

Ada beberapa kalimat menarik yang dia sampaikan, bahwa membuat sesuatu adalah tentang bagaimana menambah hal baru dengan tetap mempertahankan yang lama. Dan satu kalimat yang sepertinya menjadi value di balik karya-karyanya, ‘With a delution in fashion, you can make anything.’

Peragaan busana Gucci kemarin berhasil menarik saya dari kenyataan, masuk ke ilusi-ilusi Alessandro, bahwa fesyen adalah tentang menembus batas antara kenyataan dan ilusi. Lepaskan realita, bebaskan imajinasi dalam berkarya dan menikmati karya. Anggaplah kenyataan itu tidak ada, melainkan ilusi-ilusi, kamu hanya perlu masuk  dengan suka rela melihat jalan pikiran si pembuat karya.

Alessandro mungkin bisa dijadikan salah satu contoh bahwa jika kamu punya mimpi besar, lakukan! karena dari sanalah kebebasanmu berasal, to do what you love, is a freedom, you’ll feel liberated! Begitu kata si om Ale. 🙂