Media Sosial itu Ibarat Hidangan Nasi Padang

‘Hi guys, aku lagi di Maldives, tau ga di sini tuuh,..

Eh tau ga aku ketemu siapa? .. bla bla..

Aku tu pokoknya positive thinking aja atas semua yang terjadi di aku’

 

Tarik nafas, hembuskan! sudah-sudah, ini bukan sindiran kok. Ini hanya beberapa contoh stories di instagram.

Media sosial adalah tempat dimana semua orang bisa menjadi bintang tanpa harus menjadi pemain film, sinetron, ataupun bintang iklan, Asal bahagia, bebas!

Tapi pernah tidak terbersit di pikiran, ‘kenapa sih beberapa orang terobsesi buat dinilai sebagai orang yang bahagia dan punya good vibes. Sementara di dunia bukan maya, kita tahu mereka tidak seperti itu. Bukankah kita tidak perlu meyakinkan siapa-siapa bahwa kita bahagia? Bukankah tidak apa-apa sesekali bersedih? Tapi tak mengapa, asal bahagia, bebas!

Beberapa waktu lalu pernah saya mendengar celotehan ini dari teman ‘Sepertinya hidupnya enak banget ya, positive thinking dan seneng terus’. Tapi ternyata beberapa hari kemudian, pernyataan itu berubah, setelah secara tidak sengaja, teman saya mengetahui cerita aslinya.

Sini duduk yuk, saya mau kasih tahu, dan tempe goreng kalau mau. Apa yang ada di media sosial, termasuk berita di media massa, semua ibarat hidangan nasi padang, sepertinya semua enak, ingin dilahap, tapi kamu tidak mungkin makan semuanya kan? Dan memang tidak perlu makan semuanya, harus dipilih mana yang baik untuk kesehatan jiwa dan raga.

Untuk yang sering merasa sedikit rendah diri, berhenti membandingkan hidup kita dan orang lain hanya dari apa yang kita lihat di media sosial. There’s always two sides of every story!

Dan bagi yang merasa punya tuntutan untuk dinilai bahagia, kamu tidak perlu meyakinkan siapapun, sungguh! Karena hidup orang lain bukan tentang kamu.  Asal kamu bahagia, itu cukup, pengakuan orang lain, ndak penting-penting amat.

Salam damai ya guys. Mari berbagi yang memberi manfaat, setidaknya manfaat untuk diri sendiri dulu jika belum bisa berbagi manfaat untuk orang lain.

Advertisements

Reality is an illusion

Beberapa hari yang lalu jagad raya media sosial ramai dengan decakan kagum koleksi Fall/Winter brand Gucci, maha karya siapa lagi kalau bukan Alessandro Michele. Sebagai anak kost yang hanya bisa menikmati lewat layar laptop, selalu ada yang menarik dari setiap karya Alessandro Michele, it’s fantasic, magic, unexpected! 

Tidak perlu menjadi anak fesyen untuk dapat menyukai karya-karyanya, kalau tidak bisa beli bajunya, setidaknya kita bisa menikmati megahnya mimpi seorang Alessandro Michele yang menjadi kenyataan. Penasaran dengan perjalanan Alessandro, saya pun mencari di internet, mulai dari perjalanan karirnya, kantornya, dan wawancara-wawancaranya dengan berbagai media.

Ada beberapa kalimat menarik yang dia sampaikan, bahwa membuat sesuatu adalah tentang bagaimana menambah hal baru dengan tetap mempertahankan yang lama. Dan satu kalimat yang sepertinya menjadi value di balik karya-karyanya, ‘With a delution in fashion, you can make anything.’

Peragaan busana Gucci kemarin berhasil menarik saya dari kenyataan, masuk ke ilusi-ilusi Alessandro, bahwa fesyen adalah tentang menembus batas antara kenyataan dan ilusi. Lepaskan realita, bebaskan imajinasi dalam berkarya dan menikmati karya. Anggaplah kenyataan itu tidak ada, melainkan ilusi-ilusi, kamu hanya perlu masuk  dengan suka rela melihat jalan pikiran si pembuat karya.

Alessandro mungkin bisa dijadikan salah satu contoh bahwa jika kamu punya mimpi besar, lakukan! karena dari sanalah kebebasanmu berasal, to do what you love, is a freedom, you’ll feel liberated! Begitu kata si om Ale. 🙂