Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy vol. 3

Ternyata sudah kali ketiga saya menulis tentang prediksi peraih Emmy Awards di linimasa ini. Kalau ini serial televisi, maka tulisan ini adalah tulisan musim penayangan atau season ke-3. Sementara linimasa-nya sendiri sudah masuk ke season ke-5. Tidak terasa ya, waktu cepat berlalu.

Dan yang tidak terasa juga adalah serial-serial televisi yang absen, lalu muncul kembali, atau sudah berhenti penayangannya. Tidak terasa, karena dengan banyaknya konten tayangan di berbagai kanal dan aplikasi, kita tidak sempat lagi menangisi atau merenungi kepergian tayangan serial kesukaan kita. Kenapa? Karena dengan banyaknya pilihan yang ada, kita langsung mengalihkan pilhan kita ke acara atau serial lain. Begitu mudahnya, begitu cepatnya.

Setiap tahun ada banyak serial baru yang diproduksi dan ditayangkan. Lebih banyak serial baru yang masuk daripada serial lama yang berhenti. Kalaupun tidak berhenti, paling tertunda penayangan musim terbarunya. Dan ini membuat kita hidup di era di mana kita sudah tidak sanggup lagi untuk benar-benar bisa catch up mengikuti satu per satu episode serial yang ada. Waktu kita terbatas.

gq-bill-hader

Barry (source: GQ)

Kalau sudah begitu, maka jangan abaikan personal taste atau kesukaan diri sendiri. Tontonlah apa yang kalian rasa perlu untuk ditonton, dan yang juga penting, yang memang kita sukai. Bagi saya, kalau saya sudah terpikat dengan karakter dan dunia mereka dalam serial tersebut, maka susah buat saya untuk berpaling. Meskipun itu harus menunggu lama di antara musim penayangannya.

Demikian pula dengan serial-serial baru yang mungkin dipuji banyak kritikus luar negeri, tapi tidak terasa dekat dengan saya. Terutama setelah ditonton beberapa episode, saya belum bisa menikmatinya juga.

Maka dari itu, jujur saja, dari nominasi perhelatan 70th Primetime Emmy Awards tahun ini, saya belum bisa menikmati penuh “Atlanta” sebagai serial komedi. Demikian pula dengan “Westworld” season ke-2 yang membuat saya sibuk mengernyitkan kening di hampir semua episode, mencoba mencerna apa yang sedang saya tonton. Meskipun masih powerful, tak urung ada beberapa momen di “The Handmaid’s Tale” season ke-2 yang, mau tak mau, menimbulkan pertanyaan di benak saya.

culturewhisper-gianniamericancrime

The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story (source: Culture Whisper)

Sementara di sisi lain, saya langsung tertawa terbahak-bahak di episode pertama “Barry” dan “The Marvelous Mrs. Maisel”. Dan ternyata rasa senang itu berlanjut sampai di penghujung masing-masing serial tersebut. Meskipun tidak sebaik “The People vs OJ Simpson”, namun saya masih menikmati “American Crime Story” kali ini, yang terfokus pada cerita pembunuhan desainer Gianni Versace.

Pada akhirnya, pilihan saya di bawah ini adalah murni pilihan personal. Bukan analisa prediksi kuantitatif dan kualitatif, tapi pilihan saya yang memang menyukai apa yang saya tonton dan apa yang saya pilih.

Semoga pilihan kita berbeda, ya. Kalau sama, juga nggak masalah.

Ini dia:

• Best Comedy Series: The Marvelous Mrs. Maisel
• Best Lead Actor, Comedy Series: Bill Hader – Barry
• Best Lead Actress, Comedy Series: Tracee Ellis Ross – Black-ish
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Brian Tyree Henry – Atlanta
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Betty Gilpin – GLOW

• Best Drama Series: The Americans
• Best Lead Actor, Drama Series: Matthew Rhys – The Americans
• Best Lead Actress, Drama Series: Keri Russell – The Americans
• Best Supporting Actor, Drama Series: David Harbour – Stranger Things
• Best Supporting Actress, Drama Series: Vanessa Kirby – The Crown

• Best Limited Series: The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Darren Criss – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Laura Dern – The Tale
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Edgar Ramirez – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Judith Light – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story

Berbeda dari biasanya, Emmy Awards tahun ini akan diadakan hari Senin malam waktu Amerika Serikat, atau Selasa pagi waktu Indonesia. Belum ada informasi di mana akan ditayangkan acara ini. Toh kita masih bisa selalu memantau perkembangannya lewat Twitter.

telegraphUK_crown2

The Crown (source: The Telegraph UK)

Selamat menonton!

😉

Advertisements

Dari 30 Ribu Kaki Di Atas Permukaan Laut

Maybe love is like playlist.

Maybe falling in love is like making playlist.

You do not want to reuse songs you used before for your previous past.
You search for new melodies to capture your heart.
You constantly try think of tunes that best represent the moment and the mood.

You may find one perfect song. That soon is followed by another track. Then you find another. Then you are stuck. Your creativity runs out, it seems. You run out of songs to fill your intended playlist.

You choose to sleep on it. You hope to dream a good dream. You may do, you may not.

Then you wake up. You look at your created playlist.
Suddenly you think of a new song to add. This time you only find one song. Just one that complements the other, and completes the playlist.

And that is love.

You grow the feeling. You nurture the patience.
You don’t rush the completion.
You only know when the entire journey begins to feel like a good playlist: great to listen to with a perfect amount of time.

That’s love. That’s your playlist.

Karena Kita Tidak Bisa Mengalami Semuanya

Di suatu malam di pertengahan minggu saat kami pulang dari bekerja, mengarungi lalu lintas yang tidak macet, teman saya, yang mengantar saya pulang, bertanya:

“Jadi kalau kamu pulang ke rumah, trus ngapain?”

“Kalau udah malem banget kayak gini ya paling tinggal ganti baju, cuci muka gosok gigi, trus tidur. Kalo agak susah tidur ya paling gue Youtube-an sambil tiduran.”

“Kalo pulangnya agak sorean?”

“Kalo masih sore banget, gue olahraga dulu sekitar sejam-an lah. Abis itu pulang, beli makan, makan malam sambil Netflix-ing atau nonton apapun di koleksi film gue, atau baca buku sambil dengerin apapun di Spotify.”

“Wow. Tipikal lajang sekali ya kamyu.”

“Hahahaha. Sialan!”

“Nggak ada siapa gitu yang dateng buat masakin atau makan bareng?”

“Kalau ada, gue gak akan nebeng pulang bareng elo, bukan?”

“Ya siapa tau, sudah ada yang nungguin di rumah.”

“Bantal guling gue?”

“Hahahahaha. Lumayan masih ada yang bisa dipeluk.”

“Amin!”

1

“Emang elo setahun bisa nonton berapa film?”

For leisure apa for work, nih?”

Both.”

“Hmmm. Kalo for work kan ya elo tau sendiri lah ya kira-kira berapa. Ditambah kalo for leisure, mungkin adalah sekitar 400-an in total.”

“Busyet! Dan belum baca buku. Setahun kira-kira berapa?”

“Wah, buku ini yang terus terang susah. Bisa konsen baca buku cuma kalo pas traveling. Atau kalo maksain banget ngeluangin waktu. Let’s say gue cuma bisa nyelesaiin 2-3 buku per bulan. Jadi dalam setahun ya 24-36 buku. Put it 30 aja lah.”

Not bad, not bad. Elo masih punya waktu buat nonton, baca, dengerin musik, that’s good.”

“Namanya juga single. Hahahaha.”

“Ih kamu! Hahahaha. Ya kan bisa juga cari pasangan yang suka apa yang kamu suka lakuin.”

“Tapi kan pasti ada waktu yang terpotong juga. Lagian juga, buku, film, musik, any work of art itu kan bisa bikin kita feel less lonely.”

“Bener sih.”

Loneliness sih tetep, kadang-kadang creeps you in sampe bikin nyesek. Tapi ya udah, sadar dan acknowledge aja rasa itu, sedih sesaat, dengerin lagu, nonton film apapun yang bikin gue escape dari misery, trus jadi baik lagi.”

10

“Jadi itu yang membuat elo selalu mengisi waktu dengan nonton film, baca buku, dengerin musik dan lain-lain?”

That, and other thing.”

What other thing?”

“Gini. Gue menyadari bahwa ada hal-hal dalam hidup yang either by nature or by choice, itu tidak mungkin gue lakukan. Misalnya, by nature tentu saja gue tidak tahu bagaimana rasanya menstruasi pertama kali, gimana rasanya melahirkan lalu menyusui. By choice, mungkin gue akan melewatkan bagaimana rasanya deg-degan mau menikah, mengucap ikrar janji sehidup semati. Definitely by choice, misalnya, gue gak tau rasanya jadi bandar narkoba atau buronan yang hidup dalam pelarian terus. Gue juga gak akan tau rasanya jadi presiden atau pengemis atau pengungsi, karena saat ini, profesi gue bukan seperti itu. Dengan segala keterbatasan itulah, maka gue seek refuge and knowledge di buku, film, lagu, atau foto yang gue liat di pameran. Gue mencoba merasa menjadi mereka lewat buku yang gue baca, film yang gue tonton, lagu yang gue denger. Sesimpel sekarang. Gue single, udah lama banget gak pacaran. But at least, gue bisa mencoba merasakan apa yang dilalui pasangan yang lagi in love to each other banget, lewat novel yang memang gue pilih untuk gue baca, lewat film rom-com yang emang gue pilih untuk gue tonton, just to be able to feel.”

Wow. That is some whole other thing. But what about talking to real person?

“Ya kan terbatas. Emang gue bisa gitu langsung telpon Jokowi apa Barack Obama gitu yang, “Oom, cerita-cerita dooong”, kan ya enggak. Dengerin elo curhat aja ya paling gitu-gitu doang isinya.”

“Sialaaan! Hahahaha!”

“Ya kan? Makanya gue selalu berharap ada something I can get dari setiap buku, film, foto, musik yang gue nikmati.”

“Kalo nggak ada?”

At least gue tidak merasa sendiri saat menikmati setiap karya itu.”

Nice!”

“Eh udah nyampe. Thanks for the ride, thank you for listening whatever nonsense I just said, and safe ride home as well ya! See you!

See you!

output_6YEXiO

Inilah 17 Film Indonesia Favorit Selama 17 Tahun Terakhir (2001 – 2017) Yang Nyaris Jadi #RekomendasiStreaming

Apakah anda mengernyitkan kening membaca kata “nyaris” di judul di atas? Jangan khawatir. Anda tidak sendiri. Kata “nyaris” di atas terpaksa saya gunakan dalam judul, karena tidak ada pilihan.

Kok bisa begitu?

Awalnya saya berniat menulis film-film Indonesia pilihan saya yang ada di aplikasi video streaming. Kalau tahun lalu saya sudah menulis tentang 17 film pendek Indonesia pilihan, maka tahun ini saya ingin menulis tentang 17 film cerita fiksi panjang Indonesia yang ada di OTT platform. Hitung-hitung sebagai #rekomendasistreaming untuk teman-teman menonton di libur panjang akhir pekan 17-an ini.

Tapi setelah melihat koleksi film Indonesia yang ada di beberapa aplikasi legal, saya mengernyitkan kening.

Ternyata cukup banyak film Indonesia, film panjang yang telah dirilis di bioskop sebelumnya, yang tidak tersedia di aplikasi-aplikasi tersebut.
Mungkin ada beberapa pertimbangan dari pemilik film untuk tidak atau belum membuat film-film mereka available di sana. Mungkin juga kontrak sudah berakhir. Mungkin juga masih disimpan untuk aplikasi yang baru nantinya. Entahlah.

Akhirnya saya berganti tujuan penulisan kali ini, dan merasa untuk lebih baik jujur ke diri sendiri: menulis tentang 17 film Indonesia yang paling saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tujuh belas tahun pertama di abad ke-21. Sengaja memang tidak mengikutsertakan film-film yang dirilis tahun 2018, karena tahun 2018 belum selesai.

Dan ini murni pilihan saya pribadi, tidak mewakili teman-teman lain di Linimasa. Pilihan yang semoga terasa jujur, sejujur saya mengakui bahwa daftar ini jauh dari sempurna (hey, what is perfect, after all?).

Ini juga termasuk jujur mengatakan, bahwa sampai sekarang susah buat saya mengakui bahwa horor adalah genre film favorit saya. Saya bisa mengapresiasi film horor yang baik, tapi ketika mengapresiasi film horor, terpaksa saya redam rasa takut saya, dan sepanjang menonton film-film horor tersebut, saya malah sibuk berpikir menganalisa aspek pembuatan film dalam film-film itu. Dengan kata lain, nontonnya pakai mikir, sehingga lupa merasakan. Tapi tak urung saya mengapresiasi film horor Indonesia yang dibuat dengan baik, seperti Pocong 2 (2006), Hantu (2007), dan Pengabdi Setan (2017).

Film-film yang saya sukai, berarti sudah ditonton lebih dari sekali. Dan kata “suka” di sini memang sangat subyektif, karena melibatkan emosi, hati dan perasaan saat menonton dan seusai menonton. Film-film ini, lagi-lagi menurut saya, are timeless. They stand against the time, dan masih meninggalkan kesan yang sama, beberapa malah lebih, saat kita tonton ulang.

Kalau mereka tersedia di aplikasi video streaming, maka saya akan informasikan nama aplikasinya. Kalau belum tersedia, maka saya berharap supaya film-film ini bisa segera tersedia buat kita tonton lagi.

Masih banyak judul lain yang belum disebutkan di sini. Di catatan saya ada sekitar 71 judul film Indonesia yang saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tapi dalam suasana kemerdekaan RI, let’s stick to our independence date.

Inilah film-film tersebut (all images are from filmindonesia.or.id):

• Di urutan nomer 17 ada film The Photograph (2007) karya Nan Achnas. A very powerful and intimate film tentang kesepian dan kesendirian seorang fotografer tua yang akan membuat hati kita trenyuh. Sejauh ini, penampilan terbaik Shanty ada di film ini. (available in iflix)

poster_photograph

No pun intended, but there’s earnestness in Ernest Prakasa’s Cek Toko Sebelah (2016) yang mau tidak mau membuat kita tersenyum sepanjang film ini. A good hearted comedy is hard to find in our cinema, and this is a rarity. Inilah pilihan saya di nomer 16. (available in HOOQ)

cektokosebelah-poster

• Saya suka film-film dengan set-up cerita dan kejadian dalam satu kurun waktu dan tempat. Banyak yang bisa diungkap dari cerita yang hanya terpusat pada singular time and place. Ini juga menunjukkan kedisiplinan tinggi dalam pembuatan filmnya. Pilihan saya di nomer 15, Lovely Man (2012) menunjukkan hal ini. Ditambah dengan penampilan gemilang Donny Damara dan Raihanuun, siapa yang tidak terharu melihat perjalanan emosi mereka? (not available anywhere yet)

Poster_Lovely_Man

• Sederhana, bersahaja dan jujur. Slogan politik? Bukan. Tapi tiga kata itu yang bermain di benak saya saat menonton film panjang perdana karya Eugene Panji, Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012), di nomer 14. Ditambah pula film anak-anak ini benar-benar bercerita dari sudut pandang anak-anak, sesuatu yang masih jarang berhasil dibukukan di perfilman kita. It’s an underrated gem. (not available anywhere yet)

cita-citaku-setinggi-tanah_poster_lf-c023-12-476991_img_photo

• Sebagai generasi yang masa remajanya dihabiskan tanpa ada film Indonesia yang layak tonton di bioskop, saya senang melihat adik-adik kelas saya menyerbu bioskop saat Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dirilis. Tren sesaat? Tidak juga. Saat ditonton lebih dari satu dekade berikutnya, film AADC? masih membuat kita tersenyum. A proof that a good film lasts. Lucky number 13. (available in iTunes)

poster_AdaApaDgnCinta

• Di nomer 12 ada film badminton King (2009) yang akan terus saya ingat sebagai film yang menunjukkan bahwa almarhum Mamiek Prakoso adalah aktor hebat. Lebih dari sebagai komedian ternama, di film ini Mamiek bermain prima sebagai ayah seorang calon atlet yang perasaannya terbagi antara mendukung anaknya menjadi atlet, atau mengingatkan tentang realita hidup. Such an understated performance worth being studied. (not available anywhere yet)

poster_king

Whatever happens to us now? Kita pernah membuat film cerdas yang menggelitik seperti Arisan! (2003), pilihan nomer 11 saya, yang rasanya tidak mungkin akan dibuat di era sekarang. Let this film be a reminder then, that open minded-ness and acceptance shall prevail. (not available anywhere yet)

poster_arisan

• Betapa beruntungnya judul film di nomer 10, Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010). Mau dibuat kapan pun, judul filmnya masih applicable. Ditambah lagi dengan cerita komedi satir yang sedikit mengingatkan kita dengan cerita-cerita Charles Dickens, film ini layak saya sebut sebagai salah satu film black comedy paling sukes yang pernah dibuat dalam dua dekade terakhir. Duet sutradara dan penulis Deddy Mizwar dan Musfar Yasin yang jauh lebih baik dibanding Nagabonar Jadi 2. (not available anywhere yet)

poster_alangkah_lucu

• Tidak sekedar menghadirkan a kick-ass revenge film, namun Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) juga menghadirkan cross-genre yang relatif baru di film Indonesia, yaitu western noir. Relatif baru, karena western sebelumnya hadir lewat komedi parodi film-film Bing Slamet dan Benyamin S. di tahun 70-an. Film pilihan saya di nomer 9 ini adalah film karya Mouly Surya dengan a fearless performance oleh Marsha Timothy yang akan menjadi catatan tersendiri tidak hanya di perfilman Indonesia, tapi juga dunia. (available in HOOQ)

marlina-sipembunuhdlm4babak-poster

• Di nomer 8 ada Berbagi Suami (2006), film tentang female empowerment yang menurut saya susah dipercaya bisa berhasil. But it did, and we’re all the better of it. Film yang menempatkan semua karakter utamanya dengan empati, sehingga kita yang menontonnya pun bisa terbawa dengan jalinan emosi yang dibangun. Film yang sangat menggugah. (not available anywhere yet)

poster_berbagisuami

• Ah, Love (2008). Saya sempat terperanjat saat menyadari bahwa sudah lebih dari satu dekade, kita belum membuat lagi film antologi tentang cinta yang berhasil seperti Love. Pilihan saya di nomer 7, film Love tidak sekedar adaptasi (it is) atau reka ulang dari film-film serupa, tapi film ini seperti dibuat dengan hati, yang mau tidak mau membuat kita masih merasakan kehangatannya saat menontonnya lagi, dan lagi. (available in iflix)

poster_LOVE

• Sebagai pecinta film, menonton Janji Joni (2005) mau tidak mau membuat kita tersenyum. Seolah-olah film ini memberikan validasi atas kecintaan kita terhadap film dan bioskop. Meskipun jalan ceritanya bukan tentang itu, dan dengan jalan penceritaan yang belum sempurna, menonton film pilihan saya di nomer 6 ini seperti mengafirmasi bahwa “hey, it’s okay to spend your life liking films and stuff’. Saya ingat betul, menonton film ini pertama kali dan kedua kali menimbulkan efek “wow! That was cool!” Terima kasih sudah membuat film ini, Joko Anwar. Film ini masih menjadi karya Joko Anwar yang paling saya suka. (not available anywhere yet)

poster_janjijoni1

• Sampai di sini, anda pasti sudah bisa menebak kalau saya sangat menyukai film romansa. Benar: I’m a sucker for good romance. Dan film Ruang (2006), film nomer 5 di daftar ini, adalah film yang saya sebut sebagai salah satu film romansa terbaik yang pernah ada di sinema kita. It never wastes any minute to go straight to drama and romance, membuat sebagian besar adegan di film ini indah dan dapat diikuti dengan baik. Film yang menghadirkan rasa “klangenan” di hati. (not available anywhere yet)

poster_ruang

• Dan inilah film yang seusai menonton pertama kali di bioskop membuat saya terperangah, “What was that I just watched?!” Begitu menontonnya lagi, saya masih terkesima. Posesif (2017), film nomer 4, adalah film yang simply knocked it out of the park. Dan saya percaya bahwa the less you know in advance about the film, the better. What a powerful film that leaves you stunned. (available in iflix)

posesif-poster2

• Apa yang anda ingat saat pertama kali menonton The Raid (2011), film nomer 3, di bioskop? Kalau anda menontonnya di penutupan INAFFF 2011 bersama saya, tentunya anda masih ingat riuh rendah penonton bertepuk tangan dan berteriak. It’s brutal, violent and it spares no nonsense. Film yang harus kita akui telah menempatkan nama Indonesia di peta perfilman dunia, in a very awesome way. (not available anywhere yet)

TheRaid-Poster

• Tidak hanya sepanjang 17 tahun terakhir, namun film Sang Penari (2011), film nomer 2 di daftar ini, adalah salah satu film terbaik Indonesia yang pernah dibuat. Period. Tidak setiap tahun film Indonesia dengan craftsmanship tingkat tinggi seperti ini bisa hadir. Dan adegan terakhir film ini, seperti sudah pernah saya bahas sebelumnya, adalah salah satu final scene paling indah yang pernah dibuat. (available in iflix)

poster-sangpenari

• Dan inilah film Indonesia yang paling saya sukai selama ini. Eliana, Eliana (2003), karya Riri Riza. Lima belas tahun sejak film ini dirilis, dan ternyata kisah perjalanan satu malam ibu dan anak perempuannya menyusuri Jakarta masih menggetarkan hati. Setiap bagian film bertutur dengan efektif. Setiap ekspresi dari raut muka Jajang C. Noer dan Rachel Maryam menyiratkan emosi yang tidak harus diucapkan dengan kata-kata, namun kita bisa merasakan secara mendalam. Watching this film is such a rewarding experience one may struggle with words to express it. A beautiful film. (available in iflix)

poster_eliana

Apa film Indonesia favorit anda selama ini?

Ternyata Kita Tidak Perlu (Terlalu) Banyak

Saat tulisan yang sedang Anda baca ini dibuat, saya berada di salah satu sudut di pulau Bali.
Demikian pula saat gempa bumi berskala 7.0 skala Richter terjadi di pulau Lombok pada hari Minggu, tanggal 5 Agustus lalu, saya sudah berada di pulau Bali. Lebih tepatnya, saya baru saja keluar dari kamar mandi di kamar hotel setelah buang air kecil. Baru selesai cuci tangan di wastafel, tiba-tiba saya terhuyung-huyung seperti kehilangan keseimbangan. Saya merasakan getaran di lantai. Sontak saya berpikir, “Gempa!”

Tanpa berpikir panjang lagi, saya berjalan ke meja tulis di belakang sofa di kamar hotel. Saya ambil telpon genggam dan kunci kamar, mengenakan sandal, dan berjalan keluar. Sempat terbersit niat untuk melindungi diri dengan meringkuk di bawah meja. Namun dari sekelebatan mata, ruang di bawah meja terlalu kecil. Tidak ada pilihan lain, cuma ambil ponsel dan kunci, lalu keluar ke arah lobi hotel.

Sampai di lobi, saya melihat sudah banyak orang berkumpul. Tidak banyak raut muka yang menunjukkan kepanikan. Mungkin karena staf hotel sudah sangat sigap mengarahkan sekaligus menenangkan tamu-tamu. Mungkin juga karena sebagian besar tamu, seperti saya, masih belum reda merasakan ketegangan, sekaligus juga excitement merasakan gempa di Bali. Ini yang pertama kali buat saya. Atau mungkin juga tamu-tamu ini malah penasaran mencari rute ke JFC terdekat berkat kunjungan pasangan John Legend dan Chrissy Teigen di warung ayam goreng ini di malam sebelumnya.

earthquake-clipart-earthquake-clip-art

Di lobi saya bertemu beberapa teman yang memang sedang menginap di hotel yang sama untuk urusan pekerjaan kali ini. Kami saling bertukar cerita tentang apa yang sedang kami lakukan saat gempa terjadi beberapa menit sebelumnya, dan bagaimana reaksi kami.

Salah satu dari teman saya berkata, “Masih mending kamu sempat ambil kunci kamar hotel. Lha ini aku tadi buru-buru keluar, kunci kamar ketinggalan di dalam!”

Kami pun tertawa, sambil bertukar cerita soal gempa barusan, dan beberapa kejadian serupa sebelumnya selama ini. Lalu setelah dirasa aman, tidak ada tanda-tanda gempa susulan malam itu, kami pun kembali ke kamar masing-masing.

Waktu kembali ke kamar, saya sempat berpikir, kenapa insting mengatakan untuk mengambil ponsel dan kunci kamar ya? Kenapa tidak mengambil tas punggung yang sedang tergeletak di meja depan televisi, atau mengambil power bank di meja? Dompet juga kenapa tidak diambil?

Pemikiran saya simpel saja: ponsel saya perlukan untuk menghubungi orang-orang terdekat, memastikan dan mengabarkan keadaan saya. Di saku celana masih ada uang, dan saya sempat ingat juga bahwa ada aplikasi di ponsel yang memungkinkan saya mengambil uang di ATM.
Kunci kamar saya ambil karena, apapun yang terjadi dengan kamar saya pasca gempa, saya ingin memastikan bahwa saya bisa masuk mengambil barang-barang saya yang lain saat keadaan sudah memungkinkan. Semua identitas diri, seperti KTP, paspor dan kartu keluarga, sudah saya scan, disimpan dalam bentuk foto, dan upload di cloud service. Sempat terpikir bagaimana nanti kalau batere ponsel habis. Tapi saya meyakinkan diri kalau sebelum batere ponsel habis, sudah menghubungi orang-orang yang memang paling penting untuk dihubungi terlebih dahulu.

Dan di saat itulah saya berpikir bahwa sebenarnya kita tidak butuh terlalu banyak barang untuk hidup. Atau untuk terus melanjutkan hidup.

Image-vignette-Post-Taiwan-Epicenter-EN-300x300

Sering kita mendapat pertanyaan, atau bermain kuis yang mengajak kita memilih, “kalau kamu cuma bisa membawa 5 barang untuk hidup di pulau terpencil, apa yang kamu pilih?” Atau seperti “sebutkan 5 barang berharga yang kamu bawa selama traveling!”
Terus terang saya suka malas menjawab kuis-kuis seperti itu, karena biasanya tidak berhadiah apa-apa, dan perlu waktu untuk berpikir cukup lama. Ternyata, saat dihadapkan pada situasi yang menuntut kita untuk langsung bertindak serupa, kita benar-benar mengandalkan intuisi kita. Intuisi yang dibentuk dari cara kita untuk menentukan prioritas dalam hidup.

Saya teringat film Swedia berjudul Force Majeure (2014) karya Ruben Östlund. Konflik cerita yang sudah tersaji dari awal film bermula dari tokoh ayah yang terkesima saat melihat badai salju, lalu buru-buru menyelamatkan dirinya, sebelum menyelamatkan anak-anaknya, yang telah diselamatkan sang istri terlebih dahulu.
Perseteruan antara suami dan istri, berikut anak-anak mereka, dari kejadian itu, yang akhirnya mengungkap perbedaan cara pandang karakter suami dan istri dalam memilih prioritas hidup, membuat film ini sangat menarik untuk disimak dari awal sampai akhir. Bahwa sebuah kejadian besar yang mengharuskan kita untuk bertindak at the spur of the moment bisa mengungkapkan karakter kita yang sesungguhnya, yang mungkin tidak pernah diketahui oleh orang yang paling dekat dengan kita sekalipun.

damage-earthquake-clipart-explore1

Pada akhirnya memang kita tidak perlu banyak dalam hidup, untuk hidup, dan supaya bisa tetap hidup. Dan biarkan pengalaman hidup yang akhirnya menentukan prioritas kita, apa saya yang kita paling perlukan supaya hidup kita bisa “hidup”.

Yang Dulu Pernah Berarti Buat Kita, Apa Sekarang Masih Punya Arti?

Lagi-lagi soal migrasi.

Performa daily driver smartphone atau ponsel utama yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari saya, semakin menurun. Usianya memang cukup tua untuk ukuran ponsel jaman sekarang, yaitu sudah lebih dari 3 tahun. Sebelum panik karena ponsel wafat total, beberapa hari terakhir saya luangkan waktu untuk memindahkan berbagai jenis files ke akun penyimpanan data. Termasuk data berupa catatan-catatan seputar buku apa yang sudah selesai dibaca, film dan serial televisi apa yang saya pernah tonton, berikut nonton di mana, tanggal berapa dan sama siapa.

Buat yang sudah mengikuti tulisan-tulisan kami di Linimasa sejak 2014 (ssst, sebentar lagi situs ini ulang tahun!), pasti sudah tidak asing lagi dengan kebiasaan saya di atas. Buat yang belum, saya memang punya kebiasaan untuk merekam jejak dengan menuliskan film apa yang sudah saya tonton, tanggal berapa menontonnya, di mana, dan sama siapa, kalau memang menontonnya tidak sendirian. Maklum, saya takut pikun. Kebiasaan ini sudah saya lakukan dari masa SMA, lalu terhenti beberapa tahun, dan kembali rutin selama beberapa tahun terakhir sejak pakai smartphone.

837407d9cbf2fb7baa3f18801e5ee724-d52qo6z

Kalau untuk kepentingan kurasi, pasti ada ulasan singkat dari saya di setiap judul film di catatan tersebut. Kalau menontonnya untuk urusan personal, cukup data-data singkat yang penting. Hanya saja, kalau filmnya sangat berkesan buat saya, maka judul filmnya saya tulis dengan huruf tebal. Kalau filmnya benar-benar membuat saya terkesima, maka judul filmnya saya beri garis bawah setelah menulisnya dengan huruf tebal.

Sialnya, format penulisan ini tidak termigrasi dengan baik saat backup. Agar cepat menulis, saya menggunakan aplikasi Notes di iPhone. Saat saya pindah ke sistem Android, yang paling mudah saya transfer ke Google Keep, yang tidak mengenal format penulisan apapun, karena aplikasi ini benar-benar berfungsi seperti sticky note biasa. Kalau mau diberi format khusus, harus dipindah ke Google Docs. Karena dari Notes di iPhone tidak bisa langsung pindah ke Google Docs, jadinya dari Notes di iPhone dipindah ke Google Keep, lalu dikopi ke Google Docs. Agak manual juga ya jadinya.

Dan saat mengutak-atik file di Google Docs untuk memberi highlight film-film atau buku yang berkesan dari data-data beberapa tahun silam, bolak-balik saya mengernyitkan kening. Judul-judul film dan buku yang dulu saya sukai, yang dulu membuat saya terkesan, setelah dipikir-pikir lagi sekarang, saya jadi heran sendiri. Kok dulu bisa suka ya? Padahal saat berusaha mengingat-ingat lagi, tidak ada hal yang bisa mengingatkan saya tentang perasaan senang saat itu.

Alhasil, ada beberapa judul yang tetap saya beri huruf tebal lagi, meskipun dengan setengah hati, dan ada juga judul-judul yang saya biarkan begitu saja. Ternyata perasaan senang itu tidak pernah abadi, ya?

silhouette_woman_light_black_profile-39671

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, cukup banyak kritikus film yang mencela Superman Returns (2006) saat Man of Steel (2013) baru diluncurkan. Padahal saat Returns baru dirilis, banyak yang memuji film tersebut. Sampai tulisan ini dibuat, rating di Rotten Tomatoes pun masih “fresh” sebesar 75%.

So what made the change? Time? Us?

The answer is: both.

Because life happens.

Meskipun kita dalam keadaan statis, kehidupan terus bergerak dan berputar, yang mau tidak mau mengubah cara kita memandang hidup dan hal-hal seputar kehidupan.
Atau paling gampangnya, mau kita diam pun, waktu terus berjalan, umur kita terus bertambah. Kapasitas dan kualitas pemikiran dan otak kita berubah. Prioritas hidup berubah. Informasi yang kita serap terus bertambah secara kuantitas dan semakin bervariasi secara kualitas, mengubah cara pandang kita, cara pikir kita. Sehingga kita pun memandang masa lalu dan segala sesuatu yang kita lakukan di masa lalu dengan cara pandang yang berbeda.

Apa yang dulu penting, sekarang bisa jadi tidak terlalu penting lagi.

Pernah tak bisa tidur karena terus memikirkan seseorang sambil menunggu pesan singkat dari dia, lalu setelah enam bulan atau malah kurang dari itu, he or she no longer matters.

Pernah mengidam-idamkan smartphone dengan segala fitur yang (sempat) dibilang canggih, nyatanya dalam tiga bulan ada merek lain yang melibas segala fitur itu.

Selalu ada hal baru lain yang membuat kita memikirkan ulang apa yang sempat berarti. Dan akhirnya yang bisa bertahan adalah yang memang teruji, yang bisa bertahan di atas perjalanan waktu. Bisa jadi karena kita memupuk perasaan suka, atau memang kualitas yang kita sukai memang tak gampang tergerus masa.

ben-sweet-456320-unsplash

Kita masih suka orang yang sama, meskipun dalam intensitas yang berbeda.

Kita masih menggunakan smartphone yang sama yang pernah kita idamkan, karena akhirnya kita bisa merasa cukup dengan apa yang kita sudah punya. Bukan baru merasa cukup kalau kita sudah punya.

Kita masih menikmati film yang memang kita suka, karena once in a while, a good work of art can last a lifetime.

Kita sendiri yang akhirnya memilih dan mempertahankan apa yang berarti buat kita.

That’s life.

Karena Kita Perlu Rumah

Kalau memang kita menganggap pasangan kita sebagai rumah, a home, maka:

• kita perlu waktu untuk mencari tempat calon rumah tersebut. Tidak bisa memilih sembarang lokasi. Demikian pula dengan calon pasangan sebagai rumah kita. Kadang ada yang bisa mendapatkannya secara cepat dalam sekejap, didorong oleh intuisi, kadang ada yang perlu waktu lama. Dan yang penting: saling cocok. Sama-sama available, and willing.

• Begitu dapat lokasi, maka kita perlu waktu lagi untuk membangun fisik bangunan rumah tersebut. Ada yang berbentuk rumah sederhana, rumah mewah, apartemen tipe studio, dan beragam jenis bangunan lainnya. Demikian pula dengan hubungan inter personal kita. Saat memutuskan untuk menjalin hubungan, maka di situlah pondasi awal mulai dibangun. Kalau masih terasa kosong, mari kita isi dengan usaha mengenali satu sama lain. Kalau masih terbuai di awang-awang, ibarat sejuta rencana dan ide tentang rumah yang belum jadi, maka kita mau tak mau terjungkal ke tanah saat melihat budget dan progress pengerjaan rumah.

keyhole-tomas-castelazo

• Sambil menunggu bangunan rumah selesai, kita masih mencicil pembayaran, dan mengurus semua keperluan administrasi rumah. Proses yang sepertinya tak pernah berhenti, dan mungkin tak akan pernah terhenti. Demikian juga mengenali keluarganya, teman-teman dekatnya, yang selalu berubah dan berevolusi, baik dari tingkah laku, pemikiran, dan untuk urusan teman, mungkin juga pergantian teman, seiring dengan berjalannya waktu.

• Saat rumah selesai, maka kini perlu mengisinya. Tak perlu buru-buru, yang penting sudah direncanakan dengan matang. Tak perlu buru-buru membombardir isi hati dan pikirannya dengan hal-hal yang kita sukai dan kita benci. Pelan-pelan saja. Let the other party start picking up. Lalu menemukan hal-hal lain yang disuka dan dibenci bersama.

• Saat rumah sudah terisi, kita tetap harus merawatnya dengan baik. Membersihkan secara rutin, merenovasi secara berkala. Merawat diri dan pikiran kita agar kita betah sama diri kita dulu sebelum pasangan kita juga betah. Mengganti barang yang sudah usang. Mengganti hobi dan kesukaan yang sudah lama tidak dilakukan, sambil mencari hal baru yang bisa dilakukan bersama.

• Kadang kita bosan dengan rumah kita sendiri. Saatnya pergi sejenak. Kadang kita perlu waktu sendiri, agar saat kita kembali, kita bisa lebih menghargai kebersamaan yang ada. Maka kita pun pergi untuk kembali.

• Mungkin kita perlu waktu lebih lama untuk kembali. Bisa jadi sangat lama. Mungkin rumah sudah terlalu rusak untuk diperbaiki. Biayanya sudah tidak masuk akal lagi. Sometimes the cost of fixing a relationship is too great to bear.

• Ada kalanya rumah kita jauh lebih baik saat ditempati dan dirawat oleh orang lain. Maka pelan-pelan kita belajar untuk melepaskannya.

• Kita pun mencari rumah baru, yang berbeda dengan rumah yang lama. Tak perlu disamakan, dan tak perlu berharap akan menjalani kehidupan yang sama. Toh umur kita sudah tidak sama lagi. Kalau kita tidak bisa menjadi lebih dewasa, paling tidak pengalaman hidup kita sudah bertambah, sehingga bisa jadi pegangan.

Sometimes, it takes a lifetime to build a home.

10-18-2-19-0-36-25m

(Source: artpal.com)

Kalau Kita Pikir Kita Tahu Semuanya, Well …

the truth is, we hardly know anything.

Seorang penulis ternama pernah menulis di akun media sosialnya, bahwa “I believe we only show 10% of our life in social media”. Kurang lebih isinya seperti itu.

Saya mengamini pendapatnya. Bahwa tidak mungkin kita menampilkan seluruh kehidupan kita, atau seluruh aktifitas seharian kita, ke media sosial untuk dilihat dan ditelaah orang-orang asing yang tidak kita kenal. Meskipun kenyataannya sekarang, jauh lebih banyak yang berusaha mati-matian untuk melakukan hal tersebut, demi viral, eksistensi, kepopuleran dan alasan-alasan lain.

Jangankan untuk media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita patut bertanya, yakinkah kalau kita tahu persis kehidupan orang yang dekat dengan kita?

Saat kita berpisah dengan pasangan kita setiap hari untuk saling berangkat kerja, tahukah kita apa yang pasangan kita lihat, rasakan dan lakukan sepanjang menuju tempat kerja, di tempat kerja, dan waktu mau pulang ke rumah? Saat anak selesai mencium tangan orang tuanya dan pamit berangkat sekolah, yakinkah orang tua benar-benar tahu kegiatan anaknya, dan anak benar-benar tahu rutinitas orang tuanya?

cache_6699210

Climber watching sunrise

Ada banyak sisi dalam diri kita yang mungkin sebagian dari kita sudah tahu apa saja sisi tersebut, dan mungkin ada yang belum secara penuh mengenali isi dalam diri. Adalah hak kita untuk mengungkap sisi mana yang mau kita bagi. Dan juga hak kita untuk membagi sebagian diri kita dengan orang-orang tertentu, agar ada kelompok-kelompok individu lain yang melihat sisi kita yang lain pula.

Sampai di sini apakah Anda masih bingung?

Saya mau bercerita sedikit.

Beberapa tahun lalu, salah satu teman terdekat saya akan menikah. Tentu saja saya dan beberapa teman lain ikut semangat menyiapkan diri untuk menghadiri pernikahan tersebut.

Namun beberapa hari menjelang acara besar, saya dilanda keresahan yang luar biasa. Sumber kegelisahan saya datang dari setitik keraguan mengenai hidup baru yang akan ditempuh teman saya. Dari mana keraguan itu muncul? Datangnya dari ketidaktahuan saya terhadap calon pasangan hidup teman saya tersebut.

Bukan sepenuhnya tidak tahu, hanya tidak dekat. Atau lebih tepatnya, tidak sedekat pertemanan kami.
Saya ungkapkan keraguan tersebut kepada beberapa teman lain. Semuanya memberikan tanggapan yang kurang lebih senada, yaitu agar saya wish them well saja. Tentu saja tidak meredam kegelisahan saya.

Sampailah di hari perhelatan acara.

Rangkaian prosesi pernikahan, mulai dari menyerahkan seserahan, duduk di belakang calon pengantin, semua kami ikuti sesuai aturan. Kami duduk mendengarkan petuah dari para pemuka agama, dan juga sambutan dari masing-masing orang tua. Tentu saja saya mendengarkan semuanya sambil membiarkan pikiran ini menari-nari sendiri dengan berbagai macam lamunan dan pemikiran tentang keraguan saya.

Sampai pundak saya ditepuk salah satu panitia.

“Mas, bawa kan flash disk yang dititipkan minggu lalu?”

“Oh iya. Hampir lupa. Sebentar ya.”

Saya bergegas ke mobil yang mengantar kami. Saya hampir lupa, kalau seminggu sebelumnya, ada seorang video editor yang menitipkan sebuah flash disk. Katanya itu berisi video dan foto calon pengantin. Sempat saya tanya, “Pre-wedding video?” Lalu editor itu menggeleng dan tersenyum. Katanya, “Nanti lihat saja sendiri.”

Of course saya belum sempat melihatnya dari saat menerima flash disk tersebut sampai hari pernikahan tersebut. Lalu saya serahkan flash disk tersebut ke panitia, dan kembali ke tempat duduk mengikuti rangkaian resepsi.

Sampai pada akhirnya MC memimpin pembacaan doa, lalu acara inti pernikahan selesai. Teman saya telah sah menikah, baik di mata agama maupun hukum. Para tamu mulai kasak-kusuk berdiri untuk antri foto bersama pengantin baru. Kami masih duduk-duduk santai sambil mengecek ponsel masing-masing.

thinking-about-life

Lalu MC berkata, “Sambil menikmati hidangan yang ada, kami akan memutar cuplikan video dan foto pasangan baru kita hari ini.”

Mata saya lalu beranjak ke dua layar televisi berukuran cukup besar yang sudah dipasang. Live feed sudah diganti dengan montage foto-foto teman saya dan, waktu itu, pacarnya. Saya tersenyum. Lalu cuplikan foto-foto berganti dengan video yang dibuka dengan tulisan “Sehari Bersama Mereka”.

Saya tertawa kecil sendiri, melihat teman saya memakai kaos yang pernah saya berikan sebagai hadiah ulang tahun. It looks familiar. Namun perasaan familiar tersebut hanya berhenti sampai di situ.

Saya tertegun melihat video itu. Di situ saya melihat sosok teman saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Yang sangat attentive dalam mendampingi pasangannya. Yang berbicara dalam nada suara yang berbeda, dan terlihat sungguh-sungguh, seakan tidak ada kamera yang mengikutinya. Yang memandang dan berbicara kepada pasangannya dengan tatapan seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar mereka.

Yang berbeda dengan cara interaksi terhadap saya dan teman-teman kami lainnya selama lebih dari satu dekade kami berteman.

Di momen itu saya sadar bahwa seberapa lama pun kita mengenal orang lain, selalu ada bagian lain dari orang itu yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. We never fully know a person. We can only know a glimpse of a person, and sometimes, that’s all we need to know.

Terus terang saya terharu saat video itu selesai, dan kembali memutar cuplikan foto-foto. Tidak ada yang tepuk tangan. Namun ada perasaan lega dalam hati seusai melihat video tersebut. Tiba-tiba keraguan saya hilang begitu saja. Yang ada adalah keyakinan, even just a hunch, bahwa teman saya telah memilih keputusan yang tepat. Dan akhirnya saya bisa memeluk mereka berdua di pelaminan saat sebelum kami foto bersama dan mengatakan dengan penuh keyakinan tanpa ragu, “Congratulations!

how-do-i-truly-know-if-god-is-calling-me

Seperti layaknya kita tidak pernah mengetahui secara penuh jati diri orang lain, kita pun tidak bisa mengharapkan orang lain tahu keseluruhan diri kita. Tetapi kita bisa selalu memilih, apa yang kita perlu tahu dari orang lain, dan apa yang orang lain perlu tahu dari kita.

And that is enough.

Katanya “I Travel Because I Have to, I Come Back Because I Love You”

Judul tulisan di atas adalah judul film dari Brazil produksi tahun 2009 karya Marcelo Gomes dan Karim Ainouz. Menurut saya, ini salah satu judul paling romantis yang pernah dibuat untuk sebuah produksi film.

Apakah filmnya romantis? Well, kalau Anda tidak terbiasa menonton film-film arthouse yang serius, pasti penasaran ingin menekan tombol fast forward di sebagian besar adegan.
Namun paling tidak, judul filmnya sendiri sudah mengundang rasa penasaran kita.
Terutama bagi mereka yang sering bepergian.

Anda pernah nonton film Up In the Air?
Film ini menceritakan pengalaman George Clooney sebagai seorang eksekutif profesional yang bertugas menyampaikan langsung penghentian kerja kepada karyawan yang terkena PHK tersebut. Pekerjaannya membuat tokoh ini harus bepergian lebih dari 300 hari dalam setahun. Hampir tidak pernah ada di rumah, bahkan mulai mengaburkan konsep rumah sebagai tempat tinggal.

Toh dia lebih sering menghabiskan waktu di pesawat dan di hotel. Di beberapa adegan kita melihat apartemennya nyaris kosong, hanya ada beberapa perabotan seadanya. Makanya tokoh ini tidak pernah betah saat dia lagi “off days”. Ada rasa kecanduan tertentu yang dia dapatkan saat bepergian.

tumblr_nuc4frLsPx1ubc3b0o4_500

Saya yakin Anda kenal atau punya beberapa teman atau saudara dengan aktivitas bepergian seperti ini. Atau mungkin Anda sendiri yang menjalaninya?

Kebetulan beberapa teman dekat saya menjalani kehidupan seperti ini. Demi urusan pekerjaan, bukan sekedar update akun media sosial, mereka sering bepergian, baik ke luar kota, luar pulau, atau luar negara.

Ada yang lajang, ada yang sudah berpasangan, ada yang menikah. Tentu saja perspektif mereka tentang “pulang” berbeda satu sama lain.

Teman saya yang lajang bilang, “Kayak semacam ada hollow gap yang gak bisa gue jelaskan tiap kali gue pulang bepergian. Mungkin karena gue pulang ke apartemen gue yang kosong karena tinggal sendiri. Udahlah tinggal sendiri, pulang pasti apartemen jadi pengap karena berhari-hari ketutup dan listrik dimatiin ‘kan. Jadi kayak makin males untuk pulang.”

Sementara teman-teman yang berpasangan atau menikah kurang lebih memiliki pandangan yang sama.

“Pulang, karena ada yang nungguin. Ada yang nanyain kapan pulang.”

“Ada yang ngangenin.”

“Bener. Ada yang gak bisa tidur, sampe harus naruh kaos gue di bawah bantal.”

“Persis kayak anak gue. Tiap hari harus nonton video gue ama dia supaya dia bisa tidur.”

“Ya kayak gitu yang akhirnya bikin kita harus pulang. Rutinitas kecil yang gak bisa gue tinggal.”

“Bisa sih elo tinggal, tapi apa elo mau? Itu kan masalahnya?”

“He eh. I mean, it’s nice to have a break, traveling to other places, dikelilingi suasana baru, pengalaman baru …”

” … Selingan baru, bro?”

“Heh! Hahahaha. Well, anyway …”

” … Hahaha …”

“Pada akhirnya ada semacam kekuatan yang menarik diri elo untuk gak berlama-lama pergi. Call it attachment or whatever ya, saat elo sudah memutuskan untuk commit to a life with the one or the ones you love, tanpa ada paksaan elo akan kembali. Pada akhirnya, elo kangen rutinitas hidup elo yang elo biasa jalani, yang elo tahu, yang elo hapal di luar kepala.”

Teman saya yang lain mengangguk.

IMG_20180710_104418_1

Rutinitas. Ternyata ini juga yang diamini teman saya yang lajang. Tentu saja rutinitas yang berbeda.

“Gue kan cenderung jadi light traveler minimalis borderline pemalas ya kalo bepergian. Hahahaha. Jadi ya gak gue bawa lah segala macem sepatu lari dan peralatan olahraga lainnya. Makanya gue selalu look forward to doing my usual activities lagi kalo pulang dari bepergian. Lari pagi keliling kompleks dua hari sekali. Kelas-kelas di gym every other day juga. Yoga pas weekend sebelum ketemu ponakan-ponakan gue. I always miss those routines. Ternyata kita orangnya gak bisa lepas dari rutinitas ya? I mean, no matter how far and free we go, we miss that orderly life. Oh, satu lagi ding. Makanan Indonesia, maaan! Segala macem ghoulash atau steak paling enak, gak ada yang ngalahin nasi Padang bungkusan! Beneran. I love it! I can marry nasi Padang so I can always come back to the one I love. Hahahaha!”

Saya ikut tertawa.
Sambil diam-diam berpikir, apa yang sudah kita cintai sampai membuat kita selalu ingin kembali?

IMG_20180707_103029

Tiga Penutup Yang Membuat Pikiran Kita Tak Tertutup

Kita punya kecenderungan untuk mengingat hal-hal yang paling terakhir kita lihat. Termasuk, tentu saja, dalam urusan menonton film.

Salah satu pertanyaan paling lumrah yang sering kita terima saat kita bercerita kalau kita selesai menonton film adalah, “terakhirnya gimana?” Atau “ending-nya gimana?” Saya pribadi cenderung menjawab pertanyaan seperti ini dengan “nonton sendiri aja”, karena ingin si penanya juga merasakan sensasi yang sama seperti yang saya rasakan. Atau cukup dengan “ya gitu deh” untuk mengindikasikan bahwa film tersebut tidak saya rekomendasikan.

Namun ada kalanya akhir sebuah film membuat saya terkesima. Tertegun sampai terdiam. Lalu ada delayed reaction yang membuat saya, sering kali, tepuk tangan saking terpesonanya.
Ending atau adegan akhir seperti ini tidak sering muncul di film. Kalaupun ada, kemunculannya belum tentu setahun sekali. Saking jarangnya, bisa dibilang ending istimewa seperti ini adalah jenis movie magic yang langka.

Setelah menonton ratusan film produksi abad ke-21 sejauh ini, ada tiga film dengan adegan terakhir yang sangat berkesan buat saya. Kebetulan tiga-tiganya film dari benua Asia. Namun kesamaan ketiga film ini hanya berakhir sampai di situ.

Apakah bisa dibilang ketiganya mempunyai akhir yang bahagia, atau happy ending? Jawabannya ya dan tidak.
Apakah ketiga film ini mempunyai akhir yang tidak bahagia, atau sad ending?
Jawabannya ya dan tidak.
Apakah ketiga film ini diakhiri dengan adegan yang membuat kita berpikir, lalu tersenyum karena pada akhirnya happy ending atau sad ending itu tergantung pada bagaimana kita menginterpretasikan adegan-adegan tersebut?
Jawabannya sudah pasti “ya”.

Ketiga endings ini sangat saya sukai, karena mereka tidak menawarkan jawaban pasti. Oke, ada satu yang mengarah kepada sebuah kepastian, meskipun tidak definite. Namun semuanya membuat kita tersenyum bahagia, karena kita baru saja meyaksikan sebuah masterpiece yang layak ditonton.

Inilah ketiga film tersebut:

Mother (2009)
Sutradara: Bong Joon-ho

Di kalangan penggemar film dengan tingkat kegemaran yang serius, atau biasa disebut cinephile, nama sutradara asal Korea ini sudah tidak asing lagi. Namun entah kenapa, film ini jarang disebut sebagai “top 3 of his works”. Semuanya pasti ramai menyebut Oldboy atau Sympathy for a Vengeance. Padahal film Mother ini tidak kalah “keras” dengan kedua film tersebut. Malah cenderung sangat bad ass, karena kita tidak menyangka bahwa cinta seorang ibu yang melindungi anaknya bisa membuat kita sebagai penonton terhenyak dan terbelalak. Selama 129 menit kita disuguhi adegan dan gambar yang membuat kita tidak percaya bahwa seorang ibu bisa melakukan hal-hal yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh ibu rumah tangga biasa.
Makanya, melihat adegan terakhir di mana sang ibu menggerakkan badannya mengikuti alunan melodi musik di saat matahari baru mulai terbenam bisa membuat penonton jatuh hati, bernafas lega, meskipun tak perlu tahu nasib apa yang menanti sang ibu di kemudian hari.

Piku (2015)
Sutradara: Shoojit Sircar

Film ini sudah beberapa kali saya bahas di Linimasa maupun blog pribadi. Ya, film yang terkesan “bawel dan cerewet” ini mempunyai kebesaran hati yang luar biasa dalam menampilkan karakter-karakter utamanya yang terkesan sangat hidup. Deepika Padukone tak perlu mengubah penampilan fisiknya demi menjadi seorang perempuan pekerja kantoran kelas menengah yang hidup hanya untuk melayani ayahnya. Demikian pula dengan Irrfan Khan dan Amitabh Bachchan yang bermain “all out”.
Agak susah menerangkan kenapa adegan paling akhir dari film ini bisa sangat memorable tanpa tidak memberikan spoiler. Anda harus menonton film ini dari awal, karena adegan paling akhir, saat Deepika Padukone dan Irrfan Khan bermain badminton di halaman rumah, lalu pembantu rumah meminta ijin untuk masuk, menjadi pembungkus keseluruhan film yang, mau tidak mau, membuat kita tersenyum lebar dan lega. Salah satu a genuinely sweet ending yang sangat langka ada di film Hindi atau film-film berbahasa lain dari India.

Sang Penari (2011)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Tanpa tedeng aling-aling, menurut saya inilah salah satu film Indonesia terbaik yang pernah diproduksi di negeri ini. Adegan demi adegan mengalir lancar. Kualitas produksi patut diacungi jempol. Penampilan hampir semua pemainnya, mulai dari para pemain utama sampai figuran, hadir dengan efektif. Lalu ditambah dengan adegan penutup yang sangat menggugah hati. Betapa tidak. Kelamnya masa-masa pasca 1965 yang membuat banyak orang tak bersalah menjadi tersiksa dan terlantar, malah dibuat menjadi hopeful saat Srintil menari di tengah sawah. Saat sempur selendang Srintil berwarna merah menghiasi layar kita, dengan senyuman khas seorang ronggeng yang tetap optimis meski termakan usia, kita pun ikut tersenyum dalam haru. You could not ask for a more perfect ending than this.

Ada ending film yang paling Anda sukai?

Masih Adakah Orang (Yang Katanya) Romantis Di Jakarta?

“Eh, sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, apakah elo …”

Saya tersedak, literally, sambil menahan ketawa.

“Maksud lo?”
“Dengerin dulu. Sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, yang selalu come up dengan quotable quotes, tulisan blog galau dan segala macem lovey dopey notes, gue mau tanya, did you ever score anyone with those? Lebih spesifik lagi. Did you ever score anyone in town with those?

Saya menyerah, dan meletakkan minuman saya sambil tertawa keras-keras. Demikian pula dengan dua teman saya. Kebetulan kami bisa bertemu di sebuah kedai kopi di kota tempat kami semua mudik. Padahal kami tinggal di satu kota, cuma kesibukan masing-masing membuat kami jarang ketemu. Sometimes it does take an out-of-town trip to meet your friends of the same town.

“Ayo ngaku! Ketawa mlulu.”
“Iya nih. Ada yang berhasil nggak?”

Saya menyeka bekas isapan kopi di bibir. Tentu saja sambil memberi diri waktu untuk berpikir.

“Ya gue nulis kan gak nyari perhatian kayak gitu juga. I write to express, not to impress.”
“Sambit pake cobek elo ya, masih aja pake kata-kata quotable gituan.”

Kami semua tertawa.

“Jadi ada yang nyangkut nggak, nih?”
“Gak. Tuh udah gue jawab. Singkat, jelas.”
“Nah, berarti bener kan dugaan dan pendapat gue selama ini.”
“Dugaan dan pendapat apaan?”
“Menurut gue, udah gak ada lagi orang romantis di Jakarta.”
“Eh, gimana?”
“Maksud lo apa nih?”

Sekarang giliran teman kami yang dengan sengaja minum kopinya pelan-pelan.

“Woi, mikrolet kelamaan ngetem, woi!”
“Sabar, bencong. Ya menurut gue, orang-orang yang so-called romantic ini, yang jago merangkai kata-kata indah, mengungkapkan lewat tulisan-tulisan yang mem-ba-ha-na dan meng-ge-lo-ra ya, pada akhirnya ya mentok aja gitu di tulisan dan kata-kata yang tadi dia bilang to express and not to impress. Sementara hidup di Jakarta kan keras. Mau nafas di KRL aja susah. Mau jalan kaki di trotoar aja pake diteriakin ojek gila. Mau ngantri busway aja sibuk megangin kantong dan tas biar gak kecopetan hp dan dompet. Boro-boro dikasih kata-kata romantis, udah gak kepikir kalo di jalan. Kalau dulu pas kita masih di sini kita suka mikir hujan itu romantis, hujan itu bikin kangen, sekarang ngeliat mendung dikit dari jendela kantor gue di Gatsu? Gue langsung mikir, anjir! Susah nih dapet ojek.”

Kami spontan tertawa kencang, tidak memedulikan lagi keberadaan pengunjung lain.

“Jadi menurut elo nih, Mr. Cynical …”
“Eits, bukan sinis. Tapi realistis.”
“Oke. Jadi menurut Bapak Realistis, orang Jakarta nggak perlu orang yang romantis, tapi perlu orang yang, seperti nama elo, realistis …”
“… dan pragmatis …”
“… drama-free alias praktis …”
“… tidak mistis …”
“… bolehlah manis …”
“Tahu petis?”
“Tahu petis. Oh itu pesenan saya ya, mbak? Makasih.”

Kami terkekeh. Lalu mencocol tahu goreng yang masih panas ke saus petis yang hitam mengkilap. Cocok menemani udara sore hari yang basah karena hujan, di saat Jakarta sedang panas terik berdasarkan keluhan cukup banyak orang di Twitter.

“Kalau memang tidak perlu ada orang romantis di Jakarta karena orang Jakarta tidak perlu buaian kata-kata, terus apa dong yang masih … No, I mean, yang bisa laku?”
“Laku, lho, pilihan katanya! Orientasinya jelas ya.”
“Kayak yang tadi kita bahas. Pragmatis dan praktis. Be practical. If you like someone, just tell. Show the affection, give attention. Kalau gak lanjut, next.
“Ngomong gampang, oncom.”
“Emang. And that’s the truth. Don’t waste time, honey. Cukuplah waktu elo habis di jalan kena aturan ganjil-genap plus konstruksi MRT, jangan dihabisin lagi buat ngarep ke orang yang belum tentu suka ama elo, dan ngeladenin orang yang gak jelas juga.”

Kali ini kami semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Mungkin sama-sama berpikir, is Jakarta that tough?
Seperti menebak isi pikiran saya, teman saya berkata:

“Jakarta emang sih keras. Tapi kerasnya Jakarta somehow bikin kita, well, at least gue, kuat. Kalaupun dibayar dengan tidak adanya keromantisan yang elo bilang tadi, ya itu juga karena gue emang gak romantis juga pada dasarnya.”
“Ya elo kan paling lempeng dari dulu.”
“Lempeng. Lemes tapi ganteng.”
“Apaan sih?”
“Ya maksud gue, akhirnya balik lagi ke orangnya kayak gimana juga. It doesn’t hurt juga kalo elo being the lovey dopey romantic. Akhirnya kan itu ngebentuk karakter elo. It defines who you are. Dan elo bisa jadi orang yang berbeda dari orang kebanyakan. Kalo semua orang harus jadi orang yang praktis dan pragmatis, where’s the fun? Jakarta jadi tempat yang ngebosenin kalo orangnya sama semua. Sementara yang bikin kita betah di Jakarta, no matter how crazy the city is, kan orang-orangnya. So just be who you are deh.”

Kami mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman kami tadi. Sambil menatap jendela di luar kedai yang masih basah dengan tetesan air hujan, kami hanya mengetukkan jari kami mengikuti irama musik yang sedang diputar di ruangan ini.

Teman saya melanjutkan teorinya.

“Kata-kata yang elo tulis paling nggak memberikan warna di tengah monotonnya rutinitas hidup.”
“Setuju.”
Thank you, guys.
“Ada kan paling nggak yang pernah bilang gitu selain gue?”

Saya mengangguk, dan menambahkan.

But words are words. You can always fabricate them anyway. You can fabricate romance. But sincerity? Gak bisa. And that’s what the city is lacking. Ya nggak?”

Kedua teman saya mengangguk.

“Tapi meskipun begitu ya, you’re doing them, people who read your words, a great service, anyway. Lagian juga, jangan didengerin bapak realistis yang sinis dan gak manis ini …”
“Eh, mulut comberan!”
” … dia juga suka sepik-sepik di DM kok.”
It’s supposed to be rahasia, bencong laknat!”

Kami tertawa.

“Jadi kalo elo suka ngegombalin orang lewat DM …”
“Yaolo …”
“… berarti elo jago ngegombal dong?”
“Gombalnya dia mah, paling juga “kamu suka pizza juga ya? Cobain deh pizza ABCDEF. Mau aku kirim pake ojek? Alamat kamu dong.” Ngaku!”
“Hahahaha. Amit-amit!”
“Katanya praktis dan realistis to the point.”
“Bodo! Kagak temenan lagi ama kalian, dah! Dari Cengkareng ntar gak usah nebeng gue!”

Kami semakin tertawa kencang.

Happy belated birthday, Jakarta.

(source: ardaruspianof.blogspot.com)

Orang Tua Kita Akan Jadi Orang Yang Tua

Seorang teman lama pernah berkata di salah satu akun media sosialnya, “You are not a grown up until you have to bathe your parents.”

Waktu membaca tulisan itu pertama kali, belum pernah terbayang di kepala saya bahwa pada satu titik dalam hidup, kita akan mengalami hal itu. Atau akan melakukan hal yang serupa. Dan di saat kita berada tepat dalam keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain selain melakukan apa yang selayaknya dilakukan. You man up. Suddenly, you grow up.

Di sela-sela kisah mudik Lebaran dari teman-teman terdekat yang diisi dengan keceriaan bercengkerama lagi dengan sanak saudara, atau saling berbagi pengalaman menghindar dari pertanyaan-pertanyaan “kepo” yang menusuk ranah pribadi tanpa tedeng aling-aling, tak urung muncul juga beberapa kisah yang sedikit menyesakkan.

Salah satu teman saya bercerita, “Libur Lebaran kali ini membuka mata gue bahwa orang tua gue, well, semakin menua. Nyokap, yang selama ini keukeuh masak berbagai macam makanan buat Lebaran, tiba-tiba kemarin gak mau masak. Setelah gue ama kakak-kakak gue cari tahu penyebabnya, kita baru tahu kalau selama ini nyokap udah gak pernah masak sendiri. Selalu dibantu sama pembantu. Nah, kebetulan kemarin pembantu pulang lebih cepet karena ada saudaranya yang meninggal. Begitu gue sampe rumah, H minus 3, masih belum ada apa-apa dong. Sama sekali. Gue panik. Gue tanya, perlu dibantu nggak. Nyokap malah jadi kayak tersinggung gitu. Ya udah, gue tanya resepnya apa. Dia nggak ngasih tahu. Untung nyokap selama ini simpan semua resep dari jaman dulu. Gue baca lagi resepnya, terus bagi tugas sama kakak dan ipar, mulai dari belanja bahan sampai di dapur. Nah, nyokap kadang ngawasin. Tapi tiap gue tanya ini masaknya udah bener apa belum, dia malah nanya balik, “Ini kita lagi masak apa ya?” Aduh, kalo nggak karena ada deadline harus jadi semua makanan sebelum Lebaran, gue udah ngembeng. Asli. Ya udah, akhirnya gue suruh nyokap duduk aja di sofa, sambil nonton TV. Gue, yang elo tahu sendiri selalu pesen GoFood tiap hari, akhirnya bisa lho masak 6 jenis makanan Lebaran khas keluarga besar gue. Sholat Ied bablas sih, abis harus ngaduk terus supaya sayurnya gak basi. Cuma ya itu, di situ gue sadar kalo nyokap udah makin tua. Dan seriously, I’m afraid to think that time is soon to be no longer on my side, man.”

Mendengar cerita teman saya, terus terang saya tercenung. Pertama, karena sebelum bertemu dengan teman ini, saya bertemu dengan teman lain, yang menceritakan bahwa dia menghabiskan malam takbiran kelliling apotik di kota kecil tempat dia mudik, untuk mencari obat buat orang tuanya yang mendadak sakit. Kedua, cerita tersebut mau tidak mau menjadi pengingat buat saya.

Kesehatan ayah saya bisa dibilang fluktuatif selama beberapa tahun terakhir. Meskipun secara umum dia masih terlihat bugar, namun ada beberapa episode di mana level kesehatannya menurun. Pertama kali terjadi serangan terhadap daya tubuhnya, kami sekeluarga panik. Termasuk saya, karena waktu itu pertama kali saya harus memegang tubuh ayah saya yang tidak berdaya di rumah sakit, termasuk mengganti pakaian dan merawatnya. Saat itu terjadi, saya tidak berpikir apa-apa lagi, hanya bersyukur karena masih bisa berada di situ untuk menangani langsung.
Setelah kejadian tersebut, ada beberapa kejadian serupa lagi dengan frekuensi waktu yang cukup jarang, sehingga saya dan anggota keluarga lain lebih siap untuk bereaksi dan bertindak.
Namun tak urung juga ada beberapa saat di mana saya bertanya, “Am I ready for what’s to come?

Saat ini saya bukan orang tua yang mempunyai anak. Namun dari semua cerita teman-teman yang menjadi orang tua, hampir semuanya berkata sama, “You are never ready to be parents until you hold your baby on your hands. That’s when the real scary s**t starts!
Demikian pula dengan mereka yang harus ditinggalkan orang tuanya. Semuanya pasti berkata. “You are never ready, until you are there, often unwillingly.

Selain anak, faktor keberadaan dan keadaan orang tua sering kali menentukan rencana hidup kita. Seorang teman terpaksa menunda rencananya untuk pindah ke luar kota dan mengembangkan usahanya, karena “nyokap sudah sering sakit-sakitan. Kalau gue pindah, siapa yang bisa ditelpon dan langsung datang saat itu juga?” Sementara teman lain juga memilih untuk pindah kembali ke rumah orang tuanya, dengan alasan yang sama.

Menerima kenyataan bahwa orang tua kita pada akhirnya menjadi orang yang tua dan perlu perhatian khusus sering kali tidak mudah. Mungkin tidak akan pernah mudah. Semua rencana yang sudah kita atur, sering kali harus berganti total saat kita akhirnya harus menjaga orang tua kita.

Saya ingat cerita “Sabtu Bersama Bapak” karya Aditya Mulya, yang juga diamini oleh orang tua saya, bahwa orang tua yang baik tidak pernah ingin merepotkan anak-anaknya. Saat orang tua mengajari anak-anaknya untuk jadi mandiri, tanpa sering disadari orang tua juga sedang mengajari diri mereka untuk jadi mandiri juga, siap untuk melepas anak-anaknya menjalani kehidupan sendiri.
But then blood runs thicker than water. Apalagi darah kekeluargaan. Tak urung kita sebagai anak yang akhirnya melakukan pilihan untuk bersama orang tua selama masih bisa.

Sebelum akhirnya orang tua menjadi memori, sebisa mungkin mereka bisa kita temani. Baik dalam pertemuan langsung, atau lewat rutinitas menelpon mereka secara berkala.

Dan kalaupun sudah menjadi memori, mereka tak pernah pergi dalam doa kita.

And that’s when we finally grow up.

#RekomendasiStreaming – Tontonan Libur Lebaran 2018 Yang Mencerahkan

Libur Lebaran tahun 2018 ini terasa sekali panjangnya ya?

Sepertinya baru kali ini ada gerakan libur bersama secara nasional yang cukup lama, dimulai hampir seminggu sebelum Lebaran, dan akan berakhir sekitar seminggu setelahnya. Bahkan beberapa instansi, baik kantor maupun sekolah, baru akan mulai beraktivitas lagi bulan depan.

Beberapa teman yang sudah berkeluarga mengaku cukup kelimpungan untuk mencari kegiatan pengisi waktu liburan bagi anak-anak mereka. Sementara saya yang memang tidak berkeluarga, paling cukup kelabakan kalau ditanya, “enaknya nonton apa ya? Film di bioskop sudah ditonton semua.”

Memang perbandingan jumlah film (baru) di bioskop dengan jumlah hari libur tidak berbanding lurus. Oleh karena itu, setelah menonton film-film Lebaran di bioskop, mungkin tidak ada salahnya kita kembali menundukkan kepala untuk melihat konten-konten yang ada di aplikasi video streaming yang kita punya. Tentu saja penundukan kepala ini terjadi kalau Anda menonton serial dan film pilihan saya ini di perjalanan mudik, atau perjalanan balik ke kota tempat beraktifitas. Kalau misalnya sedang dalam keadaan santai, ada baiknya #rekomendasistreaming saya kali ini ditonton beramai-ramai di televisi.
Hitung-hitung sambil memperkenalkan konsep video streaming ke sanak saudara yang mungkin belum familiar.

Jadi, buat yang siap menghabiskan waktu panjang untuk menghabiskan serial televisi, maka tontonlah …

Brooklyn Nine-Nine

Brooklyn Nine Nine

Mungkin ini adalah salah satu serial paling lucu saat ini. Dan yang saya maksud paling lucu adalah, it is genuinely funny. Berlokasi di markas polisi fiktif bernama distrik 99 di Brooklyn, New York, serial ini bercerita tentang keunikan masing-masing karakter penghuni distrik tersebut. Ada detektif Jake Peralta (Andy Samberg) yang selalu menggunakan insting yang salah. Lalu bosnya, komandan Ray Holt (Andre Braugher), yang selalu terjebak dalam image dirinya yang serius. Ditambah dengan rekan-rekan kerja mereka yang lebih suka bertingkah laku konyol dibanding memecahkan kasus kejahatan, serial ini tidak berpura-pura dalam menghadirkan kekocakannya. Sudah ada lima musim penayangan, masing-masing episode berdurasi sekitar 22 menit. Time flies when you’re having fun, and time files when you’re having fun watching something fun.

Mom

Mom

Saat ini sudah jarang sekali serial komedi situasi (sitcom) yang diproduksi dengan menggunakan teknik multiple camera. Apa itu teknik multiple camera? Mungkin dari segi teknis kita tidak bisa membedakan. Tapi ada satu elemen dari sitcom multiple camera ini yang jelas terlihat: ada suara orang tertawa di setiap joke yang dilontarkan. Bahasa kerennya, pakai laughing track.
Nah, dari sedikit serial dengan laughing track yang masih bertahan sampai sekarang, salah satunya adalah serial “Mom” ini. Kenapa saya rekomendasikan?
Karena fokus ceritanya yang tidak biasa. “Mom” berpusat pada hubungan ibu (Alison Janney) dan anak (Anna Faris), yang sama-sama bekas pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Mereka benci satu sama lain, namun mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Setiap episode berpusat pada mereka, lalu pertemuan Alcoholic Anonymous dan makan seusai pertemuan tersebut bersama teman-teman mereka sesama mantan pecandu. Menemukan humor di sisi kehidupan yang terlihat kelam memang tidak mudah, namun serial ini melakukannya dengan sukses. Kita dibuat selalu tertawa, sambil tidak sadar bahwa kita sedang menertawakan getirnya kehidupan yang keras dan susah yang harus dilalui para mantan pecandu ini. Ada 5 musim penayangan, dengan durasi masing-masing episode sekitar 22 menit. Dan kita akan semakin jatuh cinta dengan ibu dan anak di setiap akhir episodenya.

Queer Eye

Queer Eye

Tanpa tedeng aling-aling, saya cuma mau bilang begini: I LOVE THIS SHOW!
Ini adalah reboot dari reality show yang cukup populer sekitar 15 tahun lalu, bertajuk “Queer Eye for the Straight Guy”. Konsep acaranya masih sama, yaitu 5 pria ahli kuliner, interior desain, etiket, busana, dan rambut secara kompak mendandani ulang, atau make over, pria-pria yang sebagian besar adalah heteroseksual. Secara langsung, saat 5 pria yang dikenal sebagai The Fab 5 ini melakukan make over, maka kehidupan pria lain yang mereka make over ini juga akan berubah drastis.
Yang saya suka dari reboot ini adalah penempatan logika yang pas di setiap episodenya. Tidak lagi berbicara soal perbedaan gay dan straight, yang juga masih penting ditempatkan di beberapa bagian cerita. Namun lebih dari itu, banyak pemikiran yang muncul saat mereka melakukan make over yang, terus terang, cukup menggugah saya.
Di salah satu episode, saat mereka mendandani seorang pria yang tidak punya waktu mengurus dirinya karena kesibukannya, salah satu anggota the Fab 5 cuma mengatakan, “It’s important for you to take care of yourself, because you’re not doing it to yourself, but also to your wife and your family. It’s important that you need to be the best version of yourself, because you cannot take them for granted. You want them to love you, so work on it.”
Mungkin kalimatnya tidak persis sama, tapi intinya adalah bahwa menjaga diri bukanlah sebuah kemewahan atau luxury, tapi sebuah keperluan, atau necessity, untuk menjaga sebuah hubungan.
Terus terang saya tidak terlalu suka menonton reality show. Tapi kalau ada reality show yang bisa membuat kita tertawa, tersenyum, dan akhirnya belajar menerima perubahan dalam hidup, I can’t recommend this enough.

Jika perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial-serial di atas, maka dua film ini bisa dipilih:

Bad Genius

Bad Genius

Ini bukan thriller biasa. Bagaimana sekelompok anak bisa mengelabui sistem ujian nasional di Thailand dan memperoleh keuntungan finansial dari situ, merupakan ide cerita gila yang mungkin jarang sekali bisa ditemukan di film-film dari negara-negara lain. Penggarapan filmnya pun sangat serius. Gaya film ini dibuat seperti film thriller papan atas, yang membuat kita semakin gregetan saat menontonnya. Meskipun tidak masuk dalam top 10 film tahun 2017, namun film ini termasuk sebagai salah satu film yang sangat menyenangkan untuk ditonton.

Hindi Medium

Hindi Medium

Masih berkutat soal pendidikan, namun dari sudut pandang lain. Film ini mengajak kita melihat bagaimana ketatnya persaingan untuk memasukkan anak ke sekolah bergengsi demi mendapatkan pendidikan terbaik. Termasuk pura-pura menjadi orang miskin, demi mendapatkan jatah penempatan murid dari kalangan underprivileged. Ide cerita yang sangat menarik, dan dikemas dengan penceritaan yang straight forward, dan menyentuh. Sebagai orang tua murid yang rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, Irrfan Khan bermain sangat cemerlang. Salah satu film Hindi terbaik tahun lalu.

Semoga lima pilihan saya untuk tontonan Lebaran tahun ini bisa membuat pemikiran kita semakin terbuka dan tercerahkan.
Ada tontonan lain yang Anda ikuti selama libur Lebaran kali ini?
Share di komentar di bawah ya!