Curiosity (Tidak Selalu) Kills the Cat

— seperti yang pernah saya tulis di blog pribadi ratusan tahun yang lalu —

“So.”

“So.”

“How was it?”

“How was what?”

“Was it good?”

“What do you think?”

“Was I good?”

“How do you want me to answer that?”

“Can’t you think of anything?”

“After what just happened, can you?”

“It was pretty something, right?”

“I know, right?”

We laugh.

“What about you?”

“What is about me?”

“How do you feel?”

“Why don’t you tell me?”

“Are you okay?”

“Are you okay?”

“Is it okay then to say that we are okay?”

“Is there a “we” now?”

“Do you want to file a motion against that?”

“Is it something worth doing?”

“What is worth doing to you then?”

“Why don’t you find out?”

“Is that an invitation?”

“Why don’t you just accept?”

“What is the risk?”

“What is life without taking a risk of not knowing anything ahead?”

“Is that how you describe this whole thing?”

“What whole thing?”

“What do you think has happened?”

“Why the questions are getting longer and more complicated?”

“Why do you keep answering my questions with questions?”

“Why do you still continue doing that?”

“Why do you think I keep up with you?”

“Why do you think I keep up with you?”

We smile.

“How long can we do this?”

“How about one day at a time?”

We are still here.

“So.”

“So.”

(From Twitter)
Advertisements

We See Before We Feel

Ini adalah tulisan lama saya, yang pernah saya unggah di sebuah aplikasi jejaring sosial yang sudah tutup. Ada gunanya juga dulu acap kali menulis status yang panjang-panjang, karena saat tidak ada ide untuk menulis di blog, bisa mendaur ulang status-status lama.

Tentu saja tidak semua status masih layak ditampilkan kembali. Perlu sedikit polesan untuk membuatnya up-to-date. Maka berikut ini status lama tersebut yang sudah saya poles sedikit:


As I walked down on escalator, I saw two people in front of me giggling to each other. They randomly pointed at things shown in window displays of some random stores on the floor. Their body languages and facial expressions seem to suggest they’re at the beginning of a romantic relationship.

Funny. I did not smirk. Nor putting on my cynical stare. I could not help but smiling. Just a little smile. I don’t want them to see me smiling at them. I find their brief affectionate display to each other cute.

At that quick flash, I realize that we may be in dire need of love. Right now, at the current state of the world we live in, it could not be any easier to surrender to hatred, pessimism, or loathing.

Life is hard, and it is even harder right now. Especially for us who choose to live our lives freely, thus deemed to be slightly different.

Yet, I am surrounded by people in love. My friends already celebrate their 10th, 12th, 6th anniversary of their relationships. Those who are still single, they do not give up, and they are more than being fine. Those who have been involuntarily single after exiting long-term relationships, they do not give up, and they take their time to be back and up again.

Hey, that’s purely my observation. Eyes can be deceiving, or eyes can be telling the truth.

I often smile looking at and reading their posts that show their affection to one another. I often laugh reading their internal jokes, despite my lack of understanding.

Maybe that’s what we need to have a tiny assurance that life is still worth living. That love is all around.

Love, that we may not experience on our own.

But seeing others having and showing their love, that already gives us hope.

(Taken and nurtured by yours truly.)

(Amazing how not getting a ticket to watch a film can do to you. Who are these people filling up an entire cinema on Wednesday night?! Bloody hell! Your grandpa’s cinema. Bioskop e mbahmu.)

Mencegah Hampa

What is left after the party ends?

Beberapa tahun lalu, saat usai mengerjakan sebuah event internasional yang menguras banyak tenaga, salah satu anggota pengurus festival ini datang untuk memberikan ucapan selamat kepada saya. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan gambaran singkat tentang hasil acara, beliau berkata kepada saya, “Now you need to make sure how to fill the void afterwards.

Waktu itu saya hanya tersenyum, sambil setengah bingung dengan apa yang beliau maksud. Baru beberapa tahun kemudian, pelan-pelan saya mulai paham.

Belasan tahun saya berkecimpung di profesi yang mengharuskan saya dan tim bekerja keras selama berbulan-bulan untuk membuat acara dalam hitungan hari dan minggu, terus terang ada perasaan “kosong” saat acara berakhir. Mendadak ada gap atau kekosongan dalam diri yang menyeruak dan memaksa kita untuk deal with it immediately. Sebuah perasaan yang terus terang tidak enak dijalani, terlebih karena selama berminggu-minggu sebelumnya selalu berinteraksi dengan banyak orang secara intense. Ada yang bilang, namanya post-event blues. Sekarang mendadak harus sendirian lagi, kembali ke rutinitas lama lagi.

Perasaan ini dirasakan juga bagi mereka yang mempersiapkan pernikahan, acara kumpul keluarga besar, reuni akbar, atau jenis acara lain yang memerlukan persiapan dalam waktu lama bersama banyak orang. Setelah acara usai, semacam ada kehampaan, sekaligus rindu yang mendadak akan rutinitas dalam kebersamaan.

Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Well, ini adalah versi saya selama ini.

Tidur. That’s the first thing to do right after the big event ends. Berhubung saya tidak terlalu suka suasana pesta, kalau memang terpaksa harus datang ke post-event party, maka datang seperlunya saja, yaitu meluangkan waktu sebentar untuk “setor muka”.

Setelah itu, kembali lagi ke tujuan utama, yaitu tidur. Apabila perlu, check-in ke hotel dekat tempat acara. Jangan di tempat acara, karena pasti tidak tahan untuk mengurus hal-hal kecil terkait acara kita di sana.

Lalu batasi komunikasi dalam 24 jam ke depan. Pasti gampang sekali tergoda untuk berbagi candaan, foto-foto di grup WhatsApp atau aplikasi obrolan lainnya bersama teman-teman kerja. Sebaiknya cukup chat seperlunya saja, seperti “Thank you all!“, atau “See you pas pembubaran panitia, ya!” Berhubung kita tidak mungkin mematikan ponsel (karena kita perlu pesan makanan dan bayar lewat aplikasi, bukan?!), maka gunakan ponsel secukupnya saja.

Ini termasuk tidak membuka email kerjaan untuk sementara waktu. Silakan atur waktunya sendiri, bisa 12 jam setelah kita bangun tidur, atau mau 24 jam setelahnya juga tidak apa-apa, selama kita bisa mengatur ritme kerja kita. Work can wait, proper rest cannot.

Yang belum saya bisa lakukan adalah log out sementara dari media sosial. Seharusnya ini pun bisa dilakukan, karena godaan untuk selalu update masih ada di lain waktu.

Yang bisa saya lakukan untuk mengistirahatkan pikiran setelah tidur cukup adalah membaca buku yang tidak terkait pekerjaan saya, menonton serial yang tertunda, mendengarkan musik dan menghabiskan waktu untuk benar-benar tidak memikirkan urusan lain yang belum beres.

Dan 24 jam kemudian, baru kita mulai membereskan dan merapikan lagi apa yang tersisa, sambil pelan-pelan back to reality dan bekerja lagi.

We all need rest in order to work.

Selamat bekerja!

For 40

People say, “age is nothing but a number”. I say, that’s a bull.

Hari ini, umur saya genap mencapai 40. Jujur, perasaan yang berkecamuk di diri saya menjelang tibanya hari ini adalah I am scared.

Apalagi saya ingat betul, apa dan bagaimana ayah saya saat beliau berusia 40 tahun. Selain dia sudah punya anak lebih dari satu saat itu, lalu sudah menikah dengan ibu saya, yang mana kedua hal ini memang menjadi pilihan hidup yang tidak akan saya tempuh, tapi ada hal-hal lain yang rasanya belum bisa saya capai, sementara beliau (seperti) sudah mencapainya.

Kedewasaan, kematangan, ketenangan dan kesejahteraan saat umur sudah mencapai titik tertentu, rasanya masih jauh dari genggaman.

Of course we cannot stop comparing and looking up to our parents, can we?

Di sisi lain, saya sadar, kami hidup di dekade yang berbeda. Apa yang saya telah jalani selama ini, belum tentu beliau jalani. Dan itu mempengaruhi jenis pencapaian yang saya rasa sudah, belum, akan dan tidak akan saya capai. Yang juga terpengaruh adalah cara pikir dan cara memandang hidup.

Dan dari sudut pandang kedua hal itulah, maka saya mau berbagi 40 hal yang saya percayai, jalani, kadang-kadang saya hindari, sesekali saya curi dari sumber lain, dan beberapa yang saya tunggu, buat Anda:

 

1. It’s not about how much we make. It’s always about how much we save.

2. Write down your thoughts. They may be silly, they may be simple, but your memory and brain will thank you for doing that.

3. Physical exercise saves our life. This is coming from a guy who hates sports for 25 years of his life.

4. Listen to all kinds of music in formative years. You will reminisce each one of them later on with fond memory.

5. Try your hand at doing service jobs. Being a shop attendant, being a waiter or waitress, being a customer service, do it when you can. You will appreciate other people better.

6. Religion is a very personal and private matter. Don’t shout, yell, or show off your private conversation with your god.

7. Education, education, education. You can tell a lot about a person’s education from the way they write email and converse with you, or how they behave.

 

IMG_3606

 

8. Own a house before vehicle.

9. Start a day with water, end a day with water.

10. Spare time to read a well-written novel. Our brain always needs stimulation to fantasize.

11. Everybody loves movies. That’s why there’s always endless possibilities with, “What’s your favourite movie?”

12. Everybody has many favourite movies. Never judge them. Find out why they are appealing to them.

13. You may flaunt, but leave a lot to imagination. It will make people wonder more.

14. Forgiveness, asking for or accepting, is hard. One day at a time.

15. Lust does not last. Love does.

 

IMG_0785

 

16. When you fall in love hard, you will fall out love equally hard. You may not be prepared for the latter, but always realize this.

17. Keep a hobby that makes your mind occupied, and beams your face with smile.

18. Cashless may be convenient, but always keep spare cash at home. Piggy bank with coins always comes to rescue you at many unexpected times.

19. Eat to live, not the other way around.

20. Friends do come and go. Memories of all kinds with them will stay.

21. Renovate your house every 5 years. It will do wonder to your life.

22. Never make a life-changing decision when you are angry or happy.

 

IMG_3092 copy

 

23. Poker face is the go-to expression in any circumstances.

24. Treasure each moment when you lose your sleep over someone, when you cannot stop thinking of someone. Those moments never come back.

25. Send someone a hand written letter. You will make them smile.

26. Your friends, parents, loved ones will forget your birthdays, anniversaries, skip your big moments. Never make a big deal about it.

27. Virtual followers will come and go. Don’t hold on to them too dearly.

28. To write is to preserve our mind and memory. Keep doing it regularly.

 

IMG_0363 1

 

29. Hate is a very strong word. Use it when we already run out of other words.

30. Listen to music. It says words we cannot say.

31. You may not be wealthy. But you know how and where to earn money.

32. We don’t need much to live.

33. If you cannot find happiness, try sleeping at night for 8 hours. Do it at least for 3 days.

34. People share their stories to us not to seek any solutions. They just want to be heard. We just want to be heard. So we listen.

IMG_3097

 

35. Allergies, never-before-contacted diseases, they start knocking on our door in our 30s. Welcome them. Embrace them.

36. Once we do a good deed, immediately forget about it.

37. These following words matter the most: “Thank you”, “I’m sorry”.

38. There is a thin line between being kind and being firm. You don’t have to explain to others every time.

39. Our parents have only one chance to raise and love us the best ways they know how.

40. We do not know anything at all. We never will. We can only keep figuring out. That’s why we live.

IMG_1301

 

Selamat menjalani hari.

 

Pas Kita Dirampas, Jangan Sampai Kehilangan Napas

Berhubung sudah lewat lebih dari sebulan, maka sebaiknya saya cerita saja di sini.

Pada bulan Februari lalu, saat work trip ke Berlin, saya dicopet.

Kejadian ini berlangsung di suatu sore hari yang cerah, meskipun cuaca sedang cukup dingin. Saya memutuskan untuk mengambil waktu rehat sejenak dari serangkaian meetings dan screenings. Saya pergi ke seberang tempat pemutaran film untuk mendatangi beberapa toko. Siapa tahu ada barang yang menarik untuk dibeli.

Lalu saya memutuskan pergi ke toko buku. Di depan toko buku, dua pria dengan fitur muka khas orang Timur Tengah mendekati saya.

“China? Japan? Thailand? Vietnam? Malaysia?”

Saya menggeleng sambil tersenyum dan mengatakan, “Indonesia”.

Mereka berkata, “Ah, Indonesia.”

Lalu mereka menanyakan apakah saya turis di sini, dan beberapa pertanyaan lain yang terus terang agak malas buat saya untuk menanggapinya.
Mereka mendekati saya untuk berbicara lebih dekat. Nothing to lose, pikir saya. Toh saya tidak ada rencana lain.

Setelah ngobrol sebentar, mereka beranjak pergi. Saya masuk ke dalam toko buku. Belum ada semenit saya mendorong pintu masuk, tangan saya menepuk kedua saku celana di depan, memastikan ada kunci di kantong kiri, dan ponsel di kantong kanan. Ini kebiasaan yang saya lakukan setelah turun dari kendaraan, baru beranjak dari tempat duduk, atau masuk ke tempat baru.

Lalu saya menepuk kantong belakang, tempat dompet saya. Kantongnya kempes. Tak pikir panjang, saya keluar dari toko buku, berjalan dengan cepat. Saya lihat dua orang tadi masih berada di depan toko buku, memegang dompet saya dan membukanya.

Secara refleks tanpa memikirkan apa pun sama sekali, saya menghampiri mereka. Saya bilang dengan suara yang tinggi, tapi tidak teriak, “Hey, you’ve got my wallet there!
Saya dekati, saya ambil dompet itu, lalu saya masuk lagi ke toko buku.

Semuanya terjadi secara cepat, hanya dalam hitungan detik. Saking cepatnya, setelah masuk ke toko buku, saya berdiri, terdiam, mengambil nafas panjang sambil membatin, “What the hell just happened there? What did I just do?

Sembari menenangkan diri, saya melihat-lihat deretan buku tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya sedang saya lihat. Suasana toko buku tidak terlalu ramai, tapi ada cukup banyak orang, sehingga saya sempat berpikir, kalau dua orang pencopet tadi masuk, tinggal make a scene di toko buku ini.

Saya membuka dompet. Tidak ada kartu ATM atau identitas diri yang diambil. Sepertinya ada lembaran uang yang diambil, tapi saya tidak terlalu memerdulikan ini. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa buku, hitung-hitung sebagai buang sial.

And guess what? I just smiled and even laughed after the robbery.

talent-thieves

Mungkin lega karena dompet bisa diambil dalam keadaan (nyaris) utuh. Atau saya sedang menertawakan nasib, karena tragedi ini terjadi sekitar sebulan setelah ponsel saya dijambret di depan apartemen, yang menyebabkan saya terjatuh saat mengejar penjambret di bulan Januari. Atau saya sedang ingin tertawa saja.

Entahlah. Yang pasti saya pun kaget, karena tiba-tiba saja saya jadi berani untuk mengambil apa yang memang jadi hak milik saya, yang terampas begitu saja di depan mata.

I guess it’s true what people say, that you don’t know your real power, or bravery, until you are put in an unlikely situation.

Teman saya berkomentar, “Elo ternyata punya kecenderungan untuk mengkonfrontasi langsung ya.”

Saya tertawa, sebelum menjawab, “Nggak tahu juga ya. I only need to do what I have to do, to take what’s rightfully mine.

Intuition never fails, baby.

Sepandai-pandainya Kita Berencana, Kalau Ada Bencana, Semua Jadi Wacana

Saya mau tanya ke kalian, pernahkah berada di situasi seperti ini:

“Merasa sudah familiar dengan pekerjaan yang dihadapi, apalagi ini bukan kali pertama mengerjakannya, X sudah mempersiapkan diri dan merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Sampai ke rencana untuk mengantisipasi seandainya ada error atau kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaannya. Lalu saat mulai melaksanakan pekerjaannya, tiba-tiba ada jenis kesalahan atau kecelakaan yang belum pernah diantisipasi sebelumnya. Padahal X sudah merasa telah mengantisipasi semuanya, going through every possible worst case scenario berdasarkan pengalaman yang sudah dihadapi bertahun-tahun, bukan sekadar teori atau pengamatan saja.”

Pernah? Tidak harus persis sama sih kejadian yang dialami, tapi pernah mengalami kejadian seperti di atas?

Kalau belum pernah, bersyukurlah, karena hidup anda aman, mungkin sejahtera dan sentosa.
Kalau pernah, welcome to the club. Soalnya saya sedang berada dalam posisi itu.

Proyek yang saya lakukan sekarang bukanlah jenis proyek yang asing. Sepanjang saya bekerja, jenis work project seperti ini yang paling sering saya kerjakan.
Namun ternyata, segala macam bentuk antisipasi yang sudah saya siapkan, mendadak terasa basi saat berbagai kejadian kurang enak terjadi. Dan bukan hanya satu, namun datang bertubi-tubi, hampir setiap hari tanpa henti.

Terus terang, saya sempat merasa kewalahan dan keteteran. (Eh, ini sama saja, bukan?)

It seems that when a thing goes wrong, everything eventually goes wrong.

Ditambah lagi, saat kita sedang dilanda masalah dan tidak tahu cara penyelesaiannya, kita cenderung mudah panik, dan pikiran menjadi kalut. Kita tidak bisa berpikir jernih. Karena pikiran tidak jernih, maka emosi kita mudah naik dalam melihat hal-hal lain, yang sebenarnya tidak terkait dengan masalah yang kita hadapi.

What to do then? Ask for help.

employee-suffering-work-related-stress

Bukan perkara mudah buat saya untuk meminta bantuan, karena saya lebih terbiasa bekerja sendiri. Namun saat hati dan pikiran sudah “mentok”, maka mau tidak mau, kita meminta bantuan. Terlebih lagi kalau pekerjaan yang dilakukan adalah proyek yang melibatkan orang lain, maka kita memang sudah sepatutnya meminta bantuan orang lain di proyek tersebut. Apalagi kalau proyek tersebut punya tujuan menghasilkan sesuatu yang memang akhirnya akan dinikmati bersama.

You cannot put up a building by yourself. It takes a village, an army of people to do so. Let each one of them do their part, jangan kemaruk diborong semua.

Dulu, waktu saya kecil, saya sering menemani ayah saya pergi ke dokter. Kalau dokter cerita bahwa dia kesulitan mendiagnosa pasien, karena jenis penyakitnya tidak dia ketahui atau tidak bisa dia temukan di diktat panduan, ayah saya suka tertawa sambil berkata ke dokter tersebut, “Itung-itung biar tambah pinter lagi, dok. Kan jadi belajar hal baru. Ya naik kelas, lah.”
Dokter biasanya ikut tertawa.

Dan memang setiap kesulitan yang kita hadapi, memang sebaiknya dihadapi dengan senyum atau bahkan tawa saat kita bisa menyelesaikannya. Consider ourselves upgraded.

Petuah Yang Selalu Kita Usahakan

Salah satu nasihat yang pernah diberikan ayah saya kurang lebih begini:

“Jangan kamu ingat semua kebaikan yang pernah kamu lakukan ke orang lain. Tapi selalu ingat semua kesalahan yang pernah kamu lakukan ke orang lain.”

Berat? Tentu saja. Namanya juga petuah. Kalau tidak berat, itu namanya basa-basi. Atau konten meme.

Apalagi ini pedoman hidup yang disampaikan ke orang tua pada anaknya, dengan harapan agar anak bisa mengamalkan atau menjalankan itu dalam hidup.

Tentu saja pertanyaan yang muncul setelah itu, naturally, adalah: apakah saya sudah menjalankan pesan ayah saya ini?

Dengan menghela nafas yang dalam dan panjang, saya menjawab dengan mantap dan tegas, “Belum.”

Kenapa belum? Karena ini berat sekali dilakukan.

Terlebih di saat kita lagi dilanda gejolak emosi yang berlebih, apalagi belakangan ini. Ditambah lagi, katanya sekarang bumi sedang mengalami fenomena Mercury Retrogade. (Walaupun kalau dipikir-pikir, asyik juga menyalahkan fenomena alam terhadap perasaan kita yang sedang carut marut tak karuan.)

Saat kita sedang emosi, sedang merasa kesal terhadap orang lain, sangat mudah kita untuk berkacak pinggang sambil bilang, “Dasar elo ya! Gak tahu terima kasih, gue udah kerjain semua saat elo gak ada, sekarang elo semua yang take the credit and praise!” Kalau perlu sambil melotot seperti Leily Sagita di sinetron … Ah, Google saja kalau tidak familiar dengan nama ini.

Saat kita sedang emosi, sangat mudah buat kita mengasihani diri sendiri, menempatkan diri kita sebagai korban. Kita sibuk mendramatisir berbagai kejadian di benak kita, membayangkan kita seolah-olah bak anak sebatang kara yang disia-siakan orang tuanya sehingga harus menyambung hidup di jalanan ibu kota yang bengis, seperti Faradila Sandy di film … Ah, Google saja kalau tidak tahu referensi ini.

Trust me, I know this, I can write this, because I have been experiencing this. Shamefully, sometimes I still do that.

aid319399-v4-728px-Ask-a-Friend-to-Forgive-You-Step-1

Sangat berat bagi kita untuk mendinginkan kepala saat hati masih berapi-api. Sangat berat bagi kita untuk bisa tenang, saat kesempatan untuk marah-marah lebih terbuka lebar. Biasanya kemarahan kita jadi tidak fokus, tidak terpusat pada hal yang memicu konflik, malah merembet ke hal-hal lain di masa lalu yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali dengan masalah at the present time.

Jujur, saya punya anger management problem. Terlebih saat sendiri, dan merasa sendiri menghadapi masalah dengan orang lain. Sangat susah untuk mengakui kesalahan, dan berbesar hati mau bicara terbuka dengan orang atau kelompok yang mempunyai masalah dengan saya, untuk mencari jalan keluar.
Sometimes we think our way is the best way, until we talk it out loud, and we realize it’s not.

Kalau sudah dalam posisi ini, sebelum “meledak” lebih jauh, maka saya akan retreat. Mundur sejenak, kalau perlu diam lebih lama lagi. Dan tidur. Saya percaya bahwa sleep on it kadang menyelesaikan masalah.

Dan meskipun saya tidak relijius, saya percaya bahwa waktu 3 hari atau 72 jam itu waktu yang cukup untuk marah kepada seseorang, terlebih dalam konteks marah terhadap rekan kerja, teman sekolah, atau sejawat lainnya. Setelah waktu tersebut selesai, mungkin marah kita belum reda, tapi paling tidak kita sudah punya perspektif lain terhadap masalah yang kita hadapi, karena kita kepikiran terus selama waktu itu ‘kan? At least this is what I believe.

And I still believe in the power of forgiveness. Mau kita yang meminta maaf, mau kita yang memaafkan, yang jelas forgiveness gives closure.

Dan bukankah kita hidup selalu mencari closure ini?

So, Dad, if you’re reading this, and I know you sometimes are, I am still working on your advise, all the time.

father-and-son1

Ringkasan Hidup Kita

Awal bulan Februari lalu, saya beradda di Berlin selama 2 minggu. Keberadaan saya di sana untuk urusan pekerjaan. Untungnya, kota ini terasa cukup familiar, karena ini bukan kunjungan pertama dalam waktu yang singkat. Proses adaptasi, jet lag, dan sejenisnya cukup mudah dilakukan. Apalagi begitu sampai, cuma punya waktu sebentar untuk beres-beres di kamar hotel, sebelum pergi ke tempat kerja.

Toh a sense of familiarity yang saya temui ternyata masih menyimpan elemen kejutan yang menyenangkan.

Jadi saya bertanya ke rekan kerja saya yang sudah lebih dulu sampai tentang aktivitas yang dia lakukan sebelum saya datang.

“Gue ketemuan dan makan malam sama ABC. Dia ‘kan udah kawin dan menetap di sini. Gue juga bilang ke dia kalau elo akan dateng. Jadi kita akan dinner lagi ama dia.”

“Oke. Eh bentar. Ini ABC yang mana sih?”

“ABC DEF.”

“Haaah? ABC DEF?!”

“Iya!”

“Astaga! Gue pikir ABC yang mana. Dia masih ada?”

“Hahahaha, ya masih lah!”

No, I mean … Oh My God, elo tau gak sih kalau there was a period in my life, a significant period and a significant amount of time, si ABC DEF ini tinggal ama gue, terus kita sering jalan bareng dan practically dia yang menyuruh gue to live the way I live now?”

“Makanya, dia juga kaget pas gue menyebutkan nama elo juga. “Nauval? Nauval Yazid? Ya ampun!” Gitu katanya!”

“Ah gila, gue udah lama banget gak mendengar nama ABC DEF ini. How long has it been … 14 … 15 years? Ya Tuhan, selama itu!”

Lalu kami pun sepakat untuk mengosongkan jadwal malam hari di Valentine’s Day dari semua pekerjaan. Kami akan makan malam bersama.

Begitu sampai di hari yang tentukan, dan setelah mengikuti Google Map sampai tersesat, akhirnya kami sampai di tempat makan. Saya dan ABC DEF spontan berpelukan cukup lama. Kami tidak kaget melihat perubahan fisik masing-masing. Malah sepertinya kami begitu cepat saling mengenali, karena ada sense of familiarity yang tak bisa dipungkiri.

Pasangan teman lama saya ini pun cukup tahu diri, karena dia bolak-balik taking a smoke break meskipun bukan perokok berat, untuk memberikan waktu dan teman saya saling catch up.

Dan di sinilah kejutan terjadi.

Setelah duduk dan memesan minum, kami memulai percakapan.

“Ya ampun, elo ABC! Gila, gue sampe takjub sendiri akhirnya mendengar nama elo lagi. Gue sama sekali gak mendengar nama elo lho bertahun-tahun ini.”

Dia tertawa. “I take it as a compliment, lho.”

How are you?

I’m fine. Super fine. How are you?

I’m good. Gue masih gak percaya lho ini ketemu elo lagi.”

“Hahahaha. Nah sekarang udah percaya kan? So now tell me, what happened to you, the last 14-15 years?

games-to-play-around-the-dinner-table-1260-853

Lalu saya mulai bercerita dari periode terakhir bertemu dia. Tentang semua jenis pekerjaan yang saya lakoni selama ini. Tentang beberapa tempat tinggal yang saya jadikan rumah selama ini. Tentang heartbreakers and getting the heart broken repeatedly over the years.
Dan semua ini saya ceritakan dalam 10 menit.

Di akhir cerita saya terdiam sejenak. Lalu saya berkata ke teman saya:

Wow. Did I just tell you the story of my life in the past 15 years in only 10 minutes?

Teman saya tertawa sambil mengangguk. Saya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala:

Wow. If only I knew back then that my life story in one and half decade can be summarized in only 10 minutes. I mean … Bok, segala macam drama gak penting itu, ternyata kalau dilihat lagi, gak berarti apa-apa ya? Cuma 10 menit ini gue cerita ke elo, sementara dulu pas putus nangis dan marahnya berhari-hari. Eh sekarang pas dilihat lagi, ternyata gak ada apa-apanya!”

Kami tertawa. Demikian pula dengan teman saya yang juga memberikan ringkasan singkat kisah hidupnya selama bertahun-tahun terakhir.

Sepanjang makan malam itu saya tak habis pikir, ternyata tak semua kejadian dalam hidup kita akan terus kita bawa. Jangankan selamanya, bahkan lebih dari satu dekade pun belum tentu. Hanya momen-momen tertentu yang akan selalu terpatri dalam ingatan. Dan jenis momen yang akan lekat dalam ingatan pun, kita tidak akan pernah menduga apa yang akan kita ingat.

Saya pikir semua luapan dan tindak-tanduk emosional yang pernah saya keluarkan akan terus saya ingat. Ternyata tidak.
Saya pikir semua hal-hal baik yang saya lakukan karena saya ingin mendekati seseorang akan terus saya ingat. Ternyata tidak.

Turns out, we can never tell what sort of memories will stay with us forever.

Tapi yang kita percayai adalah bahwa memori tidak pernah tercipta karena kita berdiam diri. Memori tercipta karena kita melakukan sesuatu, berulang kali, dan beribu kali. Let our brain and mind choose the best summary of our life.

For now, we just live.

eece9185246a088c42c8bd98d4d5a25a

Oscar Yang Terlalu Ribut

Tadinya, saya mau menulis sedikit tentang beberapa hal unik yang terjadi waktu saya ke Berlin selama dua minggu terakhir. Tetapi saat membuka Twitter, tiba-tiba teringat bahwa hari Senin pagi waktu Indonesia ada perayaan Academy Awards ke-91. Lantas saya memutuskan untuk menulis tentang prediksi peraih Oscar tahun ini. Cerita tentang Berlin bisa diendapkan dulu. Mungkin memang harus disimpan beberapa saat dulu, supaya bisa menulisnya dengan lebih jernih dan obyektif. Well, we’ll see.

Kok bisa, “tiba-tiba teringat” tentang Oscar? Padahal biasanya sangat tuned in terhadap film-film dan orang-orang pekerja film yang dinominasikan?

Jujur saja, saya mulai merasa lelah mengikuti pemberitaan seputar Oscar dengan aneka politik yang cenderung negatif.

Kekhawatiran saya mulai timbul saat film Roma mencuat. Memang, saya beruntung bisa menyaksikan di layar lebar, dan memang film itu indah sekali ditonton dengan intensitas tinggi di layar lebar. Namun itu tidak mengurangi kekaguman saya, bahwa film dengan intensitas tinggi seperti ini, bisa kita tonton berulang kali, bisa kita pause di momen-momen tertentu agar kita bisa mencerna luapan emosi yang kita rasakan, atau bisa kita hentikan untuk mengamati dengan lebih detil lagi adegan-adegan yang dibuat dan dikerjakan Alfonso Cuaron dengan kecermatan luar biasa.

Saya tidak anti Netflix, atau anti OTT platform atau video streaming app apapun, yang memungkinkan pembuat film membuat karya yang tidak mungkin didanai produser konvensional manapun. Sebagai penonton, saya gembira menyambut tontonan berkualitas di ruang tamu atau tempat tidur saya, yang tidak bisa didapat di bioskop. Toh saya masih pergi ke bioskop untuk menonton dengan tujuan bersosialisasi, baik itu sekedar menonton sendiri, atau bersama pasangan (yang belum ada juga sampai tulisan ini dibuat).

Memang kehadiran video streaming platform yang demikian agresif sempat menyulitkan pekerjaan saya. Toh film tidak hanya satu. Masih ada film-film lain yang perlu ajang untuk ditayangkan.

Berbicara mengenai ajang atau wadah, Oscar memang selalu menjadi sasaran empuk untuk melancarkan aksi kampanye yang penuh muatan politis. Apa tidak bisa mengkritik Green Book dari sisi lain? Apa iya Black Panther sebagus itu? Apa tidak capek menggonggongi Bohemian Rhapsody melulu?

Yang jelas, kalau ada yang masih menganggap Academy Awards adalah penghargaan untuk film-film dan para pembuat film “terbaik”, oh boy. Seperti yang selalu saya katakan berulang-ulang, paling tidak setahun sekali, Oscar recipients are those who campaign the hardest, the loudest, and the most consistent ones. Karya boleh “biasa-biasa saja”, tapi selama kampanye berjalan efektif (dan mahal), para Oscar voters pun pasti akan menengok.

Berhubung saya bukan anggota Academy, jadi pilihan saya kali ini pun bukan alat prediksi yang mumpuni. Saya memilih berdasarkan apa yang saya mau lihat maju ke podium untuk menerima Oscar. Bahkan saya rasa pilihan kali ini akan banyak melesetnya.

Tapi kalau sampai bagian ini Anda masih membaca dan penasaran apa yang menurut saya layak mendapat Oscar tahun ini, here we go:

rbg-movie
RBG (source: Salon.com)

Best Picture: Roma

Best Director: Alfonso Cuaron – Roma

Best Lead Actor: Rami Malek – Bohemian Rhapsody

Best Lead Actress: Olivia Colman – The Favourite

Best Supporting Actor: Sam Elliott – A Star is Born

Best Supporting Actress: Regina King – If Beale Street Could Talk

Best Original Screenplay: The Favourite (Deborah Davis, Tony McNamara)

Best Adapted Screenplay: BlacKkKlansman (Charlie Wachtel, David Rabinowitz, Kevin Willmott, Spike Lee)

Best Animated Feature Film: Spider-Man: Into the Spider-Verse

Best Foreign Language Film: Roma

Best Documentary Feature: RBG

Best Documentary Short Subject: End Game

Best Live Action Short Film: Marguerite

Best Animated Short Film: Bao

Best Original Score: Black Panther (Ludwig Göransson)

Best Original Song: “Shallow” – A Star is Born

Best Sound Editing: First Man

Best Sound Mixing: Bohemian Rhapsody

Best Production Design: The Favourite

Best Cinematography: Roma

Best Makeup and Hairstyling: Border

Best Costume Design: The Favourite

Best Editing: Vice

Best Visual Effects: Ready Player One

Selamat menonton!

Apa Kabar, New Year’s Resolution?

Tulisan ini saya buat dan diunggah pada hari terakhir bulan Januari. Tepat sebulan setelah malam perayaan tahun baru, jadi rasanya pantas kalau bertanya, “Apa kabar dengan new year’s resolutions kita?”

Saya sendiri bukan termasuk orang yang rajin membuat new year’s resolutions dan semacamnya. Rencana kerja dan rencana lain, memang saya buat, tapi bukan termasuk dalam kerangka new year’s resolutions dengan janji bahwa pada tahun ini, saya akan dan harus melakukan A, B, C dan sebagainya. Entah kenapa, konsep new year’s resolutions tidak pernah mengusik rasa penasaran saya untuk membuatnya.

Di sisi lain, saya melihat ada beberapa teman yang benar-benar menaruh perhatian besar pada new year’s resolutions ini. Mereka seperti pledge themselves atau berjanji pada diri mereka sendiri untuk benar-benar melakukan apa yang mereka sudah rencanakan. Kalau sudah begitu, maka new year’s resolutions bisa menjadi penyemangat tersendiri, memberikan motivasi, karena sense of completion terhadap apa yang sudah kita rencanakan itu sungguh sangat memuaskan rasanya.

Nah, kembali ke pertanyaan saya di atas, bagaimana new year’s resolutions kita di akhir bulan pertama di tahun yang baru?

Kalau masih on track, bagus. Semoga bisa terus dilanjutkan sampai akhir tahun. Masih ada 11 bulan lagi ke depan. Semoga stamina untuk melakukan apa yang direncanakan, bisa jadi kenyataan.

Kalau sudah berubah, bagus. And that is okay. Super okay. Apapun dan bagaimanapun rencana kita yang mungkin sudah kita buat sedetil dan serapi mungkin, selalu saja ada faktor eksternal berupa kejutan dalam hidup yang tidak kita duga. Kalau sudah begitu, mau tidak mau kita harus beradaptasi. Perubahan itu wajar terjadi. Kalau tidak berubah, malah kita yang nanti ketinggalan.

Buat saya sendiri, bulan Januari ini sangat mengejutkan. Sampai sekarang masih recovering dari kejadian naas di awal tahun, yang pernah saya tulis di Linimasa beberapa minggu lalu. Satu kejadian yang sontak mengubah cara saya memandang hidup, mengamati orang lain, dan menerima apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang tidak bisa saya kontrol. Dan yang pasti, melanjutkan hidup.

Karena itulah intinya kita menyikapi apapun yang kita rencanakan dan sedang kita hadapi sehari-hari, yaitu untuk tetap hidup dan membuatnya selalu lebih baik.

Semoga sisa 11 bulan di tahun 2019 ini membuat kita lebih produktif dan menikmati hidup.

1483735567

Pretend You’re Happy When You’re Blue …

… it isn’t very hard to do
And you’ll find happiness without an end
Whenever you pretend …

Judul di atas, berikut kalimat-kalimat pembuka tulisan ini, adalah cukilan lagu “Pretend” yang populer dibawakan oleh penyanyi legendaris Nat “King” Cole.
Perhatikan syairnya. Mengajak kita berpura-pura bahagia. Padahal lagi sedih, dirundung kemalangan, atau dalam keadaan lain yang membuat kita
feeling blue.

Seperti yang berulang kali saya kutip di Linimasa ini, bahwa ada celetukan terkenal yang menyatakan “dying is easy, comedy is hard”. Konteks kutipan ini dulunya dibuat untuk menjelaskan tentang akting di film dan teater. Bahwa bermain menjadi orang yang sedih itu jauh lebih gampang daripada membuat orang tertawa. Karena dari tampilan visual, sedih itu lebih universal daripada banyolan yang belum tentu disambut lucu oleh penontonnya. Belum lagi kalau penyampaian candaannya tidak pas.

Demikian pula dalam hidup.

Sudah sekitar 10 hari dari kejadian ponsel saya dirampas secara tiba-tiba. Sampai sekarang, kondisi fisik masih belum pulih 100%. Rencana untuk mulai bekerja dan menghadiri rangkaian meetings minggu ini, yang kebetulan padat, sempat terhambat, karena mendadak ada serangan rasa nyeri di bagian persendian kaki. Semakin berumur nampaknya pemulihan fisik perlu waktu yang makin lama.

Itu baru fisik. Belum urusan mental. Meskipun sudah berusaha menyibukkan diri dengan menonton film di luar urusan pekerjaan, membaca buku yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan juga, mau tak mau pikiran saya masih tertambat pada kejadian naas tersebut. Kalau sudah terpikir, tak jarang saya geram sendiri. Menggerutu pada diri sendiri. Marah kepada diri sendiri. Dan kalau sudah marah, maka beraneka ragam pemikiran muncul, mulai dari yang menyalahkan diri sendiri, sampai memikirkan hal-hal destruktif yang bisa merusak diri.

do-you-think-you-re-happy-jgdbfiey-9bb0198eeccd0a3c3c13aed064e2e2b3

Di situ saya sadar, betapa mudahnya kita terseret jatuh ke dalam rabbit hole lubang kesedihan saat kita sedang ditimpa musibah. Baik itu saat kita sedang sakit, sedang recovering dari kerampokan, baru putus, batal menikah, dan sebagainya, kita sedang dalam keadaan fisik dan mental yang rapuh, yang gampang sekali tersapu ke dalam jurang kesedihan yang menjadi-jadi. Semakin lama ditinggal sendiri melamun, semakin gampang berpikir macam-macam.

Akhirnya, saya baru tahu kenapa it takes a great deal untuk bisa sekedar tersenyum. Akhirnya, saya harus memberikan hormat dan salut kepada mereka yang tetap tersenyum, bahkan tertawa, saat sedang dirundung kemalangan. Ini tidak mudah dilakukan. Betapa susahnya menaklukkan diri sendiri, betapa sulitnya menahan diri untuk tidak terseret arus kesedihan, betapa beratnya untuk bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak demikian.

Mudah sekali untuk menunjukkan muka sedih, tapi tidak pernah mudah untuk menunjukkan muka bahagia apa adanya.

Ini proses yang memerlukan waktu yang tidak bisa disama ratakan buat setiap orang. Ada yang perlu lama, ada yang bisa sebentar. Saya pun mulai pelan-pelan, saat bertemu dengan orang lain untuk urusan kerjaan yang lantas menanyakan mengapa saya jalan memakai tongkat jalan, saya jelaskan secukupnya. Baru saat bertemu dengan teman dekat atau rekan kerja yang lebih dekat, saya bisa jelaskan dengan lebih detil dengan emosi yang menambah gregetnya cerita.

And there is no one to judge … but ourselves.

Sementara kita belum bisa menguasai keadaan diri kita sepenuhnya, well, we can always pretend to be happy when it’s blue.

At least we start trying to be happy, no matter how small the start is.

Are We Safe?

Pada hari Minggu, 6 Januari 2019, sekitar jam 13:00, iPhone saya dijambret. Saya sedang berdiri menunggu ojek, persis di depan kompleks apartemen. Saya mengeluarkan ponsel dari tas saya sejenak, untuk mengetahui posisi ojek yang saya pesan. Tiba-tiba dari arah kiri saya, dua orang di atas motor menyambar ponsel yang sedang saya pegang dalam posisi cukup dekat dengan muka. Saya kaget. Buru-buru saya lari mengejar motor tersebut. Saya sempat memegang jaket orang yang duduk di belakang motor. Dia berusaha melepaskan tangan saya dari jaketnya. Dia berhasil menepis, lalu menendang saya sampai saya terpelanting jatuh di atas aspal jalan raya yang panas. Hari itu terik matahari cukup menyengat. Motor sudah pergi jauh meninggalkan saya, sampai beberapa orang mengerubungi dan menolong saya berdiri, lalu kembali ke apartemen. Ponsel saya, yang baru di genggaman kurang dari sebulan, sudah saya anggap pergi untuk selamanya saat itu juga.

Hal ini sudah saya bagikan di Twitter, Facebook dan Instagram (story) hari itu juga, dengan urutan yang sama. Terutama karena saya tidak punya ponsel dengan nomer aktif lain, maka saya perlu melakukan blokir nomer lewat laptop, dan membagikan informasi ini ke orang-orang tertentu lewat jalur komunikasi yang bisa dilakukan lewat laptop. Berhubung saya tinggal seorang diri, maka beberapa menit setelah kejadian itu, saya tidak punya waktu banyak untuk duduk meratapi apa yang telah terjadi. Tidak hanya duduk meratapi, tapi juga sekedar merenungi apa yang terjadi. Otak saya berpacu untuk terus berpikir, apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Sampai di unit, buru-buru saya bersihkan luka dan memar di tangan dan kaki dengan obat antiseptik. Sambil mengering, saya aktifkan “lost mode” di fitur “Find my iPhone”. Saya mengirim email ke keluarga dan teman-teman dekat. Mencari tahu blokir nomer lewat Twitter dan Google. Mengerjakan proses blokir. Membagi informasi lewat media sosial. Setelah sekitar satu jam berlalu, mulai terpekur di depan laptop, bingung harus berbuat apa, terlebih rasa nyeri mulai menyerang di tubuh.

Dari situ saya sudah memprediksi bahwa beberapa hari ke depan, mobilitas saya akan berkurang drastis karena mendadak harus istirahat. Maka, mau tidak mau, harus menyelesaikan apa yang harus dikerjakan. Dengan rasa sakit luar biasa, saya paksakan diri mengurus blokir kartu dan mendapatkan sim card baru ke kantor operator terdekat. Lalu saya ke klinik untuk memeriksakan diri. Berbelanja makanan untuk 2-3 hari ke depan. Membeli obat.
Dan saat kembali ke rumah, saatnya untuk tidur di malam hari, barulah saya sadar bahwa saya jatuh terpelanting ke jalan raya. Saya baru benar-benar sadar apa yang terjadi, saat tubuh saya terasa sakit dari atas sampai bawah. Tidur pun susah.
Di sinilah saya berempati kepada perempuan yang sedang mengandung. Selama 3 hari terakhir, saya sulit tidur karena punggung dan kaki masih nyeri. Tak terbayang rasa sakit yang harus dijalani para perempuan yang sedang hamil selama berbulan-bulan.

Tadinya, saya ragu saya bisa menulis untuk Linimasa hari ini. Bukan karena rasa sakit, tapi karena rasa marah yang masih ada dalam diri saya saat ini.

Ini bukan kali pertama ponsel saya dijambret. Menjelang akhir 2013, ponsel saya pernah dijambret, saat saya sedang duduk di dalam bajaj seorang diri. Sejak saat itu, saya selalu ekstra hati-hati, dan cenderung untuk tidak menggunakan ponsel saat menggunakan transportasi umum. Padahal saya selalu menggunakan transportasi umum. Padahal saya sering terjebak macet saat menggunakan transportasi umum. Bayangkan betapa banyak waktu yang terbuang untuk tidak melakukan aktivitas dengan ponsel yang produktif, seperti menulis dan membalas email, atau membaca artikel.

Yang saya benci dari setiap kejadian ini adalah rasa takut, untuk tidak menyebutnya paranoid, terhadap hal-hal yang seharusnya kita lakukan dengan wajar tanpa ada rasa khawatir sama sekali. Apa ini berarti saya tidak bisa sama sekali berkomunikasi dengan pengemudi ojek untuk memastikan posisi dan kedatangannya di pinggir jalan tempat saya memesan? Lalu tidak bisa membaca Google Map saat berada di atas ojek, untuk memastikan agar tidak tersesat? Lalu tidak boleh mempunyai smartphone (baik mahal ataupun murah, karena yang murah pun bisa terlihat mahal sekarang), karena dianggap mengundang perhatian pencuri?

Tulisan ini memang saya buat untuk mencurahkan kekesalan saya. Maaf kalau banyak hal yang terkesan tidak rasional dan logis, karena memang menulis dalam keadaan marah tidak akan pernah bisa membuat tulisan menjadi rasional dan logis.

Saat ini saya sedang membenci ujaran seperti “jaga barang hati-hati, jangan sampai berpindah tangan”. Atau seperti “jangan memakai barang yang mengundang perhatian pencuri”. Atau yang lebih membingungkan, saya pernah menemui spanduk bertuliskan “hati-hati berjalan di kawasan ini, karena sering terjadi pencurian. Waspadalah.”
Tulisan-tulisan seperti ini tidak hanya saya temukan di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, dan beberapa negara lain yang pernah saya kunjungi.

Yang membuat saya bingung, kenapa selalu (calon) korban yang dituntut untuk berhati-hati?
Oke, mungkin memang ada orang-orang tertentu yang ingin pamer barang yang mereka miliki tidak pada tempatnya. Tapi saya yakin, persentase orang-orang seperti ini tidak banyak, malah jauh lebih kecil, dibanding dengan orang-orang yang berpakaian selayaknya ke tempat kerja atau usaha mereka. Dan porsi besar orang-orang ini pun saya yakin akan berperilaku seadanya dan selayaknya juga di tempat umum. Menggunakan ponsel seperlunya, berbicara dengan volume seperlunya. Tidak berlebihan.

Kalau hal-hal kecil seperti kebutuhan untuk menggunakan ponsel saja dirampas untuk memberikan rasa takut terhadap orang lain, maka apakah kita sebagai rakyat kebanyakan dilarang untuk beraktivitas dengan normal? Apakah itu tujuan para perampok ini? Bukankah kalau kita diam saja, mereka juga akan kehilangan mata pencaharian?

Saya lebih setuju untuk membuat takut para pencuri ini. Mulai dengan pencoleng atau pickpocket. Perlu banyak notifikasi atau pengumuman di tempat umum, resiko yang akan mereka hadapi saat mereka ketahuan melakukan perbuatan mereka. Mulai dari denda, resiko penjara, kalau perlu contoh visual saat mereka dihadang para commuters lain, misalnya. Atau bisa juga notifikasi bahwa kendaraan umum dilengkapi dengan kamera pengintai. Ini pun akan memberikan rasa assurance dan keamanan terhadap pengguna jasa transportasi umum.

Itu baru transportasi umum. Masih banyak lagi jenis keamanan yang perlu kita perhatikan. Saya sedih dengan anggapan umum bahwa kita tidak bisa berjalan kaki di malam hari sendiri. Dan memang itulah yang terjadi, karena tidak ada jaminan keamanan. Padahal jalan kaki itu adalah hak semua orang, tanpa terkecuali.
Kita sudah terlalu lama dan terlalu sering menerima hak-hak dasar kita dirampas, dan membiarkannya sebagai hal yang yang wajar. Masak untuk sekedar mendapatkan rasa aman yang nyaman, kita harus pergi ke luar negeri? Berapa banyak orang yang bisa pergi ke luar negeri?

Dan apa kita harus mulai bawa senjata tajam untuk sekedar pergi ke tempat kerja, pergi ke mal, saat menggunakan transportasi publik, untuk sekedar berjaga-jaga? I will be lying if I said to you I never consider that now.

Tidak atau jarangnya ada rasa aman di keseharian kita membuat kita selalu curiga, waspada, dan ujung-ujungnya pasrah kalau kejadian naas menimpa kita. Sementara untuk menjadi berani dan kuat juga perlu waktu, terlebih untuk menerjang rasa takut dan traumatis yang melanda diri.

Sekali lagi, tulisan ini murni curahan kekesalan saya. Dan memang, saya sedang berusaha sebisa mungkin untuk bisa menjadi orang yang lebih berani dan kuat, sebisa mungkin tanpa rasa takut sama sekali. Ini tidak mudah, and to be honest, I don’t know if I’ll ever get there.

But I am trying as I am recovering.

1_1OxCOj6WR9otDmY-QybPcw

Sometimes, Fear is Good

Salah satu alasan kenapa saya berhenti melakukan salah satu pekerjaan saya beberapa tahun lalu adalah karena saya merasa tidak takut lagi.
Saat itu, saya sudah melakukan pekerjaan tersebut selama beberapa tahun. Setiap tahun ada beberapa projects yang harus kami handled. Kenapa pakai kata “kami”, karena memang saya bekerja dalam sebuah tim.

Selama beberapa saat terakhir sebelum saya berhenti, memang ada keresahan yang melanda dalam diri. Mungkin memang sudah saatnya mengakhiri pekerjaan tersebut. Tetapi setelah dirunut lagi, saya sempat kaget terhadap cara berpikir saya.

Kekagetan ini saya sadari saat menghadapi klien atau calon klien. Setiap mendengar pitch project yang akan di-propose, alih-alih mendengarkan dengan baik, tapi otak saya langsung berputar dan keburu berasumsi seperti, “Oh, dengan budget segini, kita bisa nih, pakai cara seperti ini.” Atau, “Oh, maunya dikerjakan 6 bulan. Paling bisa seperti ini.”

Lama-lama saya merasa pekerjaan yang saya lakukan adalah copy-and-paste template dari apa yang sudah dilakukan. Tinggal mengganti label atau nama yang dicantumkan di proyek tersebut.

Saat itu saya merasa ada kegentingan. Terlebih karena pekerjaan saya menuntut kreatifitas tinggi yang membuat satu project berbeda dengan yang lain. Saat kita merasa template yang kita lakukan sudah pernah sukses, dan yang kita ingin lakukan adalah mengulangnya, maka sebaiknya kita take a pause terlebih dulu.

Lambat laun saya mengingat-ingat lagi, apa yang sempat menjadi pendorong saya melakukan pekerjaan saya. Di masa-masa awal melakukan pekerjaan ini, sempat ada rasa ketakutan tidak dapat melakukan pekerjaan dengan baik, sehingga mati-matian belajar, mencari semua informasi, mencari bala bantuan untuk bisa menyelesaikan project dengan hampir sempurna. Selalu ada anxiety atau rasa deg-degan saat project diluncurkan. Seperti ada butterfly in my stomach melalui proses pengerjaannya.

Saya sempat merindukan sensasi seperti itu, sebelum akhirnya saya sadar bahwa rasa itulah yang saya perlukan untuk terus termotivasi bekerja. Bahwa saya belum tahu banyak, meskipun sudah melakukan banyak. Bahwa masih ada rasa takut yang bisa mendorong saya untuk menutupi ketakutan itu dengan melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin.

600_461238573

Akhirnya saya memutuskan berhenti dari pekerjaan itu. Lalu saya kembali ke profesi lama yang pernah saya tekuni, namun karena sudah saya tinggalkan beberapa tahun, landscape atau suasana pekerjaannya berubah. Infrastruktur berubah, orang-orangnya berubah, dan banyak sekali ketertinggalan yang harus saya kejar. Mau tidak mau, saya harus belajar lagi. Bersamaan dengan masa pembelajaran ini, tak dinyana anxiety itu datang lagi, bersamaan dengan excitement menghadapi suasana baru.

Dalam beberapa situasi, ketakutan yang kita hadapi karena kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, ternyata bisa mendorong kita untuk jadi belajar dan bekerja ekstra keras (dan ekstra cermat). Sometimes, fear is good to drive us forward. Karena kita hanya bisa menaklukkan ketakutan kita saat kita dengan mencari tahu lebih banyak, apa yang sebenarnya membuat kita takut.

Selalu cari tantangan baru di pekerjaan yang kita lakukan. Lebih mudah memang di pekerjaan baru, tapi di pekerjaan lama pun, selalu cari hal baru yang membuat kita excited melakukannya. Not knowing what you’re about to do can be the most exciting thing you’ll ever do.

Selamat tahun baru.