Katanya “I Travel Because I Have to, I Come Back Because I Love You”

Judul tulisan di atas adalah judul film dari Brazil produksi tahun 2009 karya Marcelo Gomes dan Karim Ainouz. Menurut saya, ini salah satu judul paling romantis yang pernah dibuat untuk sebuah produksi film.

Apakah filmnya romantis? Well, kalau Anda tidak terbiasa menonton film-film arthouse yang serius, pasti penasaran ingin menekan tombol fast forward di sebagian besar adegan.
Namun paling tidak, judul filmnya sendiri sudah mengundang rasa penasaran kita.
Terutama bagi mereka yang sering bepergian.

Anda pernah nonton film Up In the Air?
Film ini menceritakan pengalaman George Clooney sebagai seorang eksekutif profesional yang bertugas menyampaikan langsung penghentian kerja kepada karyawan yang terkena PHK tersebut. Pekerjaannya membuat tokoh ini harus bepergian lebih dari 300 hari dalam setahun. Hampir tidak pernah ada di rumah, bahkan mulai mengaburkan konsep rumah sebagai tempat tinggal.

Toh dia lebih sering menghabiskan waktu di pesawat dan di hotel. Di beberapa adegan kita melihat apartemennya nyaris kosong, hanya ada beberapa perabotan seadanya. Makanya tokoh ini tidak pernah betah saat dia lagi “off days”. Ada rasa kecanduan tertentu yang dia dapatkan saat bepergian.

tumblr_nuc4frLsPx1ubc3b0o4_500

Saya yakin Anda kenal atau punya beberapa teman atau saudara dengan aktivitas bepergian seperti ini. Atau mungkin Anda sendiri yang menjalaninya?

Kebetulan beberapa teman dekat saya menjalani kehidupan seperti ini. Demi urusan pekerjaan, bukan sekedar update akun media sosial, mereka sering bepergian, baik ke luar kota, luar pulau, atau luar negara.

Ada yang lajang, ada yang sudah berpasangan, ada yang menikah. Tentu saja perspektif mereka tentang “pulang” berbeda satu sama lain.

Teman saya yang lajang bilang, “Kayak semacam ada hollow gap yang gak bisa gue jelaskan tiap kali gue pulang bepergian. Mungkin karena gue pulang ke apartemen gue yang kosong karena tinggal sendiri. Udahlah tinggal sendiri, pulang pasti apartemen jadi pengap karena berhari-hari ketutup dan listrik dimatiin ‘kan. Jadi kayak makin males untuk pulang.”

Sementara teman-teman yang berpasangan atau menikah kurang lebih memiliki pandangan yang sama.

“Pulang, karena ada yang nungguin. Ada yang nanyain kapan pulang.”

“Ada yang ngangenin.”

“Bener. Ada yang gak bisa tidur, sampe harus naruh kaos gue di bawah bantal.”

“Persis kayak anak gue. Tiap hari harus nonton video gue ama dia supaya dia bisa tidur.”

“Ya kayak gitu yang akhirnya bikin kita harus pulang. Rutinitas kecil yang gak bisa gue tinggal.”

“Bisa sih elo tinggal, tapi apa elo mau? Itu kan masalahnya?”

“He eh. I mean, it’s nice to have a break, traveling to other places, dikelilingi suasana baru, pengalaman baru …”

” … Selingan baru, bro?”

“Heh! Hahahaha. Well, anyway …”

” … Hahaha …”

“Pada akhirnya ada semacam kekuatan yang menarik diri elo untuk gak berlama-lama pergi. Call it attachment or whatever ya, saat elo sudah memutuskan untuk commit to a life with the one or the ones you love, tanpa ada paksaan elo akan kembali. Pada akhirnya, elo kangen rutinitas hidup elo yang elo biasa jalani, yang elo tahu, yang elo hapal di luar kepala.”

Teman saya yang lain mengangguk.

IMG_20180710_104418_1

Rutinitas. Ternyata ini juga yang diamini teman saya yang lajang. Tentu saja rutinitas yang berbeda.

“Gue kan cenderung jadi light traveler minimalis borderline pemalas ya kalo bepergian. Hahahaha. Jadi ya gak gue bawa lah segala macem sepatu lari dan peralatan olahraga lainnya. Makanya gue selalu look forward to doing my usual activities lagi kalo pulang dari bepergian. Lari pagi keliling kompleks dua hari sekali. Kelas-kelas di gym every other day juga. Yoga pas weekend sebelum ketemu ponakan-ponakan gue. I always miss those routines. Ternyata kita orangnya gak bisa lepas dari rutinitas ya? I mean, no matter how far and free we go, we miss that orderly life. Oh, satu lagi ding. Makanan Indonesia, maaan! Segala macem ghoulash atau steak paling enak, gak ada yang ngalahin nasi Padang bungkusan! Beneran. I love it! I can marry nasi Padang so I can always come back to the one I love. Hahahaha!”

Saya ikut tertawa.
Sambil diam-diam berpikir, apa yang sudah kita cintai sampai membuat kita selalu ingin kembali?

IMG_20180707_103029

Advertisements

Tiga Penutup Yang Membuat Pikiran Kita Tak Tertutup

Kita punya kecenderungan untuk mengingat hal-hal yang paling terakhir kita lihat. Termasuk, tentu saja, dalam urusan menonton film.

Salah satu pertanyaan paling lumrah yang sering kita terima saat kita bercerita kalau kita selesai menonton film adalah, “terakhirnya gimana?” Atau “ending-nya gimana?” Saya pribadi cenderung menjawab pertanyaan seperti ini dengan “nonton sendiri aja”, karena ingin si penanya juga merasakan sensasi yang sama seperti yang saya rasakan. Atau cukup dengan “ya gitu deh” untuk mengindikasikan bahwa film tersebut tidak saya rekomendasikan.

Namun ada kalanya akhir sebuah film membuat saya terkesima. Tertegun sampai terdiam. Lalu ada delayed reaction yang membuat saya, sering kali, tepuk tangan saking terpesonanya.
Ending atau adegan akhir seperti ini tidak sering muncul di film. Kalaupun ada, kemunculannya belum tentu setahun sekali. Saking jarangnya, bisa dibilang ending istimewa seperti ini adalah jenis movie magic yang langka.

Setelah menonton ratusan film produksi abad ke-21 sejauh ini, ada tiga film dengan adegan terakhir yang sangat berkesan buat saya. Kebetulan tiga-tiganya film dari benua Asia. Namun kesamaan ketiga film ini hanya berakhir sampai di situ.

Apakah bisa dibilang ketiganya mempunyai akhir yang bahagia, atau happy ending? Jawabannya ya dan tidak.
Apakah ketiga film ini mempunyai akhir yang tidak bahagia, atau sad ending?
Jawabannya ya dan tidak.
Apakah ketiga film ini diakhiri dengan adegan yang membuat kita berpikir, lalu tersenyum karena pada akhirnya happy ending atau sad ending itu tergantung pada bagaimana kita menginterpretasikan adegan-adegan tersebut?
Jawabannya sudah pasti “ya”.

Ketiga endings ini sangat saya sukai, karena mereka tidak menawarkan jawaban pasti. Oke, ada satu yang mengarah kepada sebuah kepastian, meskipun tidak definite. Namun semuanya membuat kita tersenyum bahagia, karena kita baru saja meyaksikan sebuah masterpiece yang layak ditonton.

Inilah ketiga film tersebut:

Mother (2009)
Sutradara: Bong Joon-ho

Di kalangan penggemar film dengan tingkat kegemaran yang serius, atau biasa disebut cinephile, nama sutradara asal Korea ini sudah tidak asing lagi. Namun entah kenapa, film ini jarang disebut sebagai “top 3 of his works”. Semuanya pasti ramai menyebut Oldboy atau Sympathy for a Vengeance. Padahal film Mother ini tidak kalah “keras” dengan kedua film tersebut. Malah cenderung sangat bad ass, karena kita tidak menyangka bahwa cinta seorang ibu yang melindungi anaknya bisa membuat kita sebagai penonton terhenyak dan terbelalak. Selama 129 menit kita disuguhi adegan dan gambar yang membuat kita tidak percaya bahwa seorang ibu bisa melakukan hal-hal yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh ibu rumah tangga biasa.
Makanya, melihat adegan terakhir di mana sang ibu menggerakkan badannya mengikuti alunan melodi musik di saat matahari baru mulai terbenam bisa membuat penonton jatuh hati, bernafas lega, meskipun tak perlu tahu nasib apa yang menanti sang ibu di kemudian hari.

Piku (2015)
Sutradara: Shoojit Sircar

Film ini sudah beberapa kali saya bahas di Linimasa maupun blog pribadi. Ya, film yang terkesan “bawel dan cerewet” ini mempunyai kebesaran hati yang luar biasa dalam menampilkan karakter-karakter utamanya yang terkesan sangat hidup. Deepika Padukone tak perlu mengubah penampilan fisiknya demi menjadi seorang perempuan pekerja kantoran kelas menengah yang hidup hanya untuk melayani ayahnya. Demikian pula dengan Irrfan Khan dan Amitabh Bachchan yang bermain “all out”.
Agak susah menerangkan kenapa adegan paling akhir dari film ini bisa sangat memorable tanpa tidak memberikan spoiler. Anda harus menonton film ini dari awal, karena adegan paling akhir, saat Deepika Padukone dan Irrfan Khan bermain badminton di halaman rumah, lalu pembantu rumah meminta ijin untuk masuk, menjadi pembungkus keseluruhan film yang, mau tidak mau, membuat kita tersenyum lebar dan lega. Salah satu a genuinely sweet ending yang sangat langka ada di film Hindi atau film-film berbahasa lain dari India.

Sang Penari (2011)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Tanpa tedeng aling-aling, menurut saya inilah salah satu film Indonesia terbaik yang pernah diproduksi di negeri ini. Adegan demi adegan mengalir lancar. Kualitas produksi patut diacungi jempol. Penampilan hampir semua pemainnya, mulai dari para pemain utama sampai figuran, hadir dengan efektif. Lalu ditambah dengan adegan penutup yang sangat menggugah hati. Betapa tidak. Kelamnya masa-masa pasca 1965 yang membuat banyak orang tak bersalah menjadi tersiksa dan terlantar, malah dibuat menjadi hopeful saat Srintil menari di tengah sawah. Saat sempur selendang Srintil berwarna merah menghiasi layar kita, dengan senyuman khas seorang ronggeng yang tetap optimis meski termakan usia, kita pun ikut tersenyum dalam haru. You could not ask for a more perfect ending than this.

Ada ending film yang paling Anda sukai?

Masih Adakah Orang (Yang Katanya) Romantis Di Jakarta?

“Eh, sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, apakah elo …”

Saya tersedak, literally, sambil menahan ketawa.

“Maksud lo?”
“Dengerin dulu. Sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, yang selalu come up dengan quotable quotes, tulisan blog galau dan segala macem lovey dopey notes, gue mau tanya, did you ever score anyone with those? Lebih spesifik lagi. Did you ever score anyone in town with those?

Saya menyerah, dan meletakkan minuman saya sambil tertawa keras-keras. Demikian pula dengan dua teman saya. Kebetulan kami bisa bertemu di sebuah kedai kopi di kota tempat kami semua mudik. Padahal kami tinggal di satu kota, cuma kesibukan masing-masing membuat kami jarang ketemu. Sometimes it does take an out-of-town trip to meet your friends of the same town.

“Ayo ngaku! Ketawa mlulu.”
“Iya nih. Ada yang berhasil nggak?”

Saya menyeka bekas isapan kopi di bibir. Tentu saja sambil memberi diri waktu untuk berpikir.

“Ya gue nulis kan gak nyari perhatian kayak gitu juga. I write to express, not to impress.”
“Sambit pake cobek elo ya, masih aja pake kata-kata quotable gituan.”

Kami semua tertawa.

“Jadi ada yang nyangkut nggak, nih?”
“Gak. Tuh udah gue jawab. Singkat, jelas.”
“Nah, berarti bener kan dugaan dan pendapat gue selama ini.”
“Dugaan dan pendapat apaan?”
“Menurut gue, udah gak ada lagi orang romantis di Jakarta.”
“Eh, gimana?”
“Maksud lo apa nih?”

Sekarang giliran teman kami yang dengan sengaja minum kopinya pelan-pelan.

“Woi, mikrolet kelamaan ngetem, woi!”
“Sabar, bencong. Ya menurut gue, orang-orang yang so-called romantic ini, yang jago merangkai kata-kata indah, mengungkapkan lewat tulisan-tulisan yang mem-ba-ha-na dan meng-ge-lo-ra ya, pada akhirnya ya mentok aja gitu di tulisan dan kata-kata yang tadi dia bilang to express and not to impress. Sementara hidup di Jakarta kan keras. Mau nafas di KRL aja susah. Mau jalan kaki di trotoar aja pake diteriakin ojek gila. Mau ngantri busway aja sibuk megangin kantong dan tas biar gak kecopetan hp dan dompet. Boro-boro dikasih kata-kata romantis, udah gak kepikir kalo di jalan. Kalau dulu pas kita masih di sini kita suka mikir hujan itu romantis, hujan itu bikin kangen, sekarang ngeliat mendung dikit dari jendela kantor gue di Gatsu? Gue langsung mikir, anjir! Susah nih dapet ojek.”

Kami spontan tertawa kencang, tidak memedulikan lagi keberadaan pengunjung lain.

“Jadi menurut elo nih, Mr. Cynical …”
“Eits, bukan sinis. Tapi realistis.”
“Oke. Jadi menurut Bapak Realistis, orang Jakarta nggak perlu orang yang romantis, tapi perlu orang yang, seperti nama elo, realistis …”
“… dan pragmatis …”
“… drama-free alias praktis …”
“… tidak mistis …”
“… bolehlah manis …”
“Tahu petis?”
“Tahu petis. Oh itu pesenan saya ya, mbak? Makasih.”

Kami terkekeh. Lalu mencocol tahu goreng yang masih panas ke saus petis yang hitam mengkilap. Cocok menemani udara sore hari yang basah karena hujan, di saat Jakarta sedang panas terik berdasarkan keluhan cukup banyak orang di Twitter.

“Kalau memang tidak perlu ada orang romantis di Jakarta karena orang Jakarta tidak perlu buaian kata-kata, terus apa dong yang masih … No, I mean, yang bisa laku?”
“Laku, lho, pilihan katanya! Orientasinya jelas ya.”
“Kayak yang tadi kita bahas. Pragmatis dan praktis. Be practical. If you like someone, just tell. Show the affection, give attention. Kalau gak lanjut, next.
“Ngomong gampang, oncom.”
“Emang. And that’s the truth. Don’t waste time, honey. Cukuplah waktu elo habis di jalan kena aturan ganjil-genap plus konstruksi MRT, jangan dihabisin lagi buat ngarep ke orang yang belum tentu suka ama elo, dan ngeladenin orang yang gak jelas juga.”

Kali ini kami semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Mungkin sama-sama berpikir, is Jakarta that tough?
Seperti menebak isi pikiran saya, teman saya berkata:

“Jakarta emang sih keras. Tapi kerasnya Jakarta somehow bikin kita, well, at least gue, kuat. Kalaupun dibayar dengan tidak adanya keromantisan yang elo bilang tadi, ya itu juga karena gue emang gak romantis juga pada dasarnya.”
“Ya elo kan paling lempeng dari dulu.”
“Lempeng. Lemes tapi ganteng.”
“Apaan sih?”
“Ya maksud gue, akhirnya balik lagi ke orangnya kayak gimana juga. It doesn’t hurt juga kalo elo being the lovey dopey romantic. Akhirnya kan itu ngebentuk karakter elo. It defines who you are. Dan elo bisa jadi orang yang berbeda dari orang kebanyakan. Kalo semua orang harus jadi orang yang praktis dan pragmatis, where’s the fun? Jakarta jadi tempat yang ngebosenin kalo orangnya sama semua. Sementara yang bikin kita betah di Jakarta, no matter how crazy the city is, kan orang-orangnya. So just be who you are deh.”

Kami mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman kami tadi. Sambil menatap jendela di luar kedai yang masih basah dengan tetesan air hujan, kami hanya mengetukkan jari kami mengikuti irama musik yang sedang diputar di ruangan ini.

Teman saya melanjutkan teorinya.

“Kata-kata yang elo tulis paling nggak memberikan warna di tengah monotonnya rutinitas hidup.”
“Setuju.”
Thank you, guys.
“Ada kan paling nggak yang pernah bilang gitu selain gue?”

Saya mengangguk, dan menambahkan.

But words are words. You can always fabricate them anyway. You can fabricate romance. But sincerity? Gak bisa. And that’s what the city is lacking. Ya nggak?”

Kedua teman saya mengangguk.

“Tapi meskipun begitu ya, you’re doing them, people who read your words, a great service, anyway. Lagian juga, jangan didengerin bapak realistis yang sinis dan gak manis ini …”
“Eh, mulut comberan!”
” … dia juga suka sepik-sepik di DM kok.”
It’s supposed to be rahasia, bencong laknat!”

Kami tertawa.

“Jadi kalo elo suka ngegombalin orang lewat DM …”
“Yaolo …”
“… berarti elo jago ngegombal dong?”
“Gombalnya dia mah, paling juga “kamu suka pizza juga ya? Cobain deh pizza ABCDEF. Mau aku kirim pake ojek? Alamat kamu dong.” Ngaku!”
“Hahahaha. Amit-amit!”
“Katanya praktis dan realistis to the point.”
“Bodo! Kagak temenan lagi ama kalian, dah! Dari Cengkareng ntar gak usah nebeng gue!”

Kami semakin tertawa kencang.

Happy belated birthday, Jakarta.

(source: ardaruspianof.blogspot.com)

Orang Tua Kita Akan Jadi Orang Yang Tua

Seorang teman lama pernah berkata di salah satu akun media sosialnya, “You are not a grown up until you have to bathe your parents.”

Waktu membaca tulisan itu pertama kali, belum pernah terbayang di kepala saya bahwa pada satu titik dalam hidup, kita akan mengalami hal itu. Atau akan melakukan hal yang serupa. Dan di saat kita berada tepat dalam keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain selain melakukan apa yang selayaknya dilakukan. You man up. Suddenly, you grow up.

Di sela-sela kisah mudik Lebaran dari teman-teman terdekat yang diisi dengan keceriaan bercengkerama lagi dengan sanak saudara, atau saling berbagi pengalaman menghindar dari pertanyaan-pertanyaan “kepo” yang menusuk ranah pribadi tanpa tedeng aling-aling, tak urung muncul juga beberapa kisah yang sedikit menyesakkan.

Salah satu teman saya bercerita, “Libur Lebaran kali ini membuka mata gue bahwa orang tua gue, well, semakin menua. Nyokap, yang selama ini keukeuh masak berbagai macam makanan buat Lebaran, tiba-tiba kemarin gak mau masak. Setelah gue ama kakak-kakak gue cari tahu penyebabnya, kita baru tahu kalau selama ini nyokap udah gak pernah masak sendiri. Selalu dibantu sama pembantu. Nah, kebetulan kemarin pembantu pulang lebih cepet karena ada saudaranya yang meninggal. Begitu gue sampe rumah, H minus 3, masih belum ada apa-apa dong. Sama sekali. Gue panik. Gue tanya, perlu dibantu nggak. Nyokap malah jadi kayak tersinggung gitu. Ya udah, gue tanya resepnya apa. Dia nggak ngasih tahu. Untung nyokap selama ini simpan semua resep dari jaman dulu. Gue baca lagi resepnya, terus bagi tugas sama kakak dan ipar, mulai dari belanja bahan sampai di dapur. Nah, nyokap kadang ngawasin. Tapi tiap gue tanya ini masaknya udah bener apa belum, dia malah nanya balik, “Ini kita lagi masak apa ya?” Aduh, kalo nggak karena ada deadline harus jadi semua makanan sebelum Lebaran, gue udah ngembeng. Asli. Ya udah, akhirnya gue suruh nyokap duduk aja di sofa, sambil nonton TV. Gue, yang elo tahu sendiri selalu pesen GoFood tiap hari, akhirnya bisa lho masak 6 jenis makanan Lebaran khas keluarga besar gue. Sholat Ied bablas sih, abis harus ngaduk terus supaya sayurnya gak basi. Cuma ya itu, di situ gue sadar kalo nyokap udah makin tua. Dan seriously, I’m afraid to think that time is soon to be no longer on my side, man.”

Mendengar cerita teman saya, terus terang saya tercenung. Pertama, karena sebelum bertemu dengan teman ini, saya bertemu dengan teman lain, yang menceritakan bahwa dia menghabiskan malam takbiran kelliling apotik di kota kecil tempat dia mudik, untuk mencari obat buat orang tuanya yang mendadak sakit. Kedua, cerita tersebut mau tidak mau menjadi pengingat buat saya.

Kesehatan ayah saya bisa dibilang fluktuatif selama beberapa tahun terakhir. Meskipun secara umum dia masih terlihat bugar, namun ada beberapa episode di mana level kesehatannya menurun. Pertama kali terjadi serangan terhadap daya tubuhnya, kami sekeluarga panik. Termasuk saya, karena waktu itu pertama kali saya harus memegang tubuh ayah saya yang tidak berdaya di rumah sakit, termasuk mengganti pakaian dan merawatnya. Saat itu terjadi, saya tidak berpikir apa-apa lagi, hanya bersyukur karena masih bisa berada di situ untuk menangani langsung.
Setelah kejadian tersebut, ada beberapa kejadian serupa lagi dengan frekuensi waktu yang cukup jarang, sehingga saya dan anggota keluarga lain lebih siap untuk bereaksi dan bertindak.
Namun tak urung juga ada beberapa saat di mana saya bertanya, “Am I ready for what’s to come?

Saat ini saya bukan orang tua yang mempunyai anak. Namun dari semua cerita teman-teman yang menjadi orang tua, hampir semuanya berkata sama, “You are never ready to be parents until you hold your baby on your hands. That’s when the real scary s**t starts!
Demikian pula dengan mereka yang harus ditinggalkan orang tuanya. Semuanya pasti berkata. “You are never ready, until you are there, often unwillingly.

Selain anak, faktor keberadaan dan keadaan orang tua sering kali menentukan rencana hidup kita. Seorang teman terpaksa menunda rencananya untuk pindah ke luar kota dan mengembangkan usahanya, karena “nyokap sudah sering sakit-sakitan. Kalau gue pindah, siapa yang bisa ditelpon dan langsung datang saat itu juga?” Sementara teman lain juga memilih untuk pindah kembali ke rumah orang tuanya, dengan alasan yang sama.

Menerima kenyataan bahwa orang tua kita pada akhirnya menjadi orang yang tua dan perlu perhatian khusus sering kali tidak mudah. Mungkin tidak akan pernah mudah. Semua rencana yang sudah kita atur, sering kali harus berganti total saat kita akhirnya harus menjaga orang tua kita.

Saya ingat cerita “Sabtu Bersama Bapak” karya Aditya Mulya, yang juga diamini oleh orang tua saya, bahwa orang tua yang baik tidak pernah ingin merepotkan anak-anaknya. Saat orang tua mengajari anak-anaknya untuk jadi mandiri, tanpa sering disadari orang tua juga sedang mengajari diri mereka untuk jadi mandiri juga, siap untuk melepas anak-anaknya menjalani kehidupan sendiri.
But then blood runs thicker than water. Apalagi darah kekeluargaan. Tak urung kita sebagai anak yang akhirnya melakukan pilihan untuk bersama orang tua selama masih bisa.

Sebelum akhirnya orang tua menjadi memori, sebisa mungkin mereka bisa kita temani. Baik dalam pertemuan langsung, atau lewat rutinitas menelpon mereka secara berkala.

Dan kalaupun sudah menjadi memori, mereka tak pernah pergi dalam doa kita.

And that’s when we finally grow up.

#RekomendasiStreaming – Tontonan Libur Lebaran 2018 Yang Mencerahkan

Libur Lebaran tahun 2018 ini terasa sekali panjangnya ya?

Sepertinya baru kali ini ada gerakan libur bersama secara nasional yang cukup lama, dimulai hampir seminggu sebelum Lebaran, dan akan berakhir sekitar seminggu setelahnya. Bahkan beberapa instansi, baik kantor maupun sekolah, baru akan mulai beraktivitas lagi bulan depan.

Beberapa teman yang sudah berkeluarga mengaku cukup kelimpungan untuk mencari kegiatan pengisi waktu liburan bagi anak-anak mereka. Sementara saya yang memang tidak berkeluarga, paling cukup kelabakan kalau ditanya, “enaknya nonton apa ya? Film di bioskop sudah ditonton semua.”

Memang perbandingan jumlah film (baru) di bioskop dengan jumlah hari libur tidak berbanding lurus. Oleh karena itu, setelah menonton film-film Lebaran di bioskop, mungkin tidak ada salahnya kita kembali menundukkan kepala untuk melihat konten-konten yang ada di aplikasi video streaming yang kita punya. Tentu saja penundukan kepala ini terjadi kalau Anda menonton serial dan film pilihan saya ini di perjalanan mudik, atau perjalanan balik ke kota tempat beraktifitas. Kalau misalnya sedang dalam keadaan santai, ada baiknya #rekomendasistreaming saya kali ini ditonton beramai-ramai di televisi.
Hitung-hitung sambil memperkenalkan konsep video streaming ke sanak saudara yang mungkin belum familiar.

Jadi, buat yang siap menghabiskan waktu panjang untuk menghabiskan serial televisi, maka tontonlah …

Brooklyn Nine-Nine

Brooklyn Nine Nine

Mungkin ini adalah salah satu serial paling lucu saat ini. Dan yang saya maksud paling lucu adalah, it is genuinely funny. Berlokasi di markas polisi fiktif bernama distrik 99 di Brooklyn, New York, serial ini bercerita tentang keunikan masing-masing karakter penghuni distrik tersebut. Ada detektif Jake Peralta (Andy Samberg) yang selalu menggunakan insting yang salah. Lalu bosnya, komandan Ray Holt (Andre Braugher), yang selalu terjebak dalam image dirinya yang serius. Ditambah dengan rekan-rekan kerja mereka yang lebih suka bertingkah laku konyol dibanding memecahkan kasus kejahatan, serial ini tidak berpura-pura dalam menghadirkan kekocakannya. Sudah ada lima musim penayangan, masing-masing episode berdurasi sekitar 22 menit. Time flies when you’re having fun, and time files when you’re having fun watching something fun.

Mom

Mom

Saat ini sudah jarang sekali serial komedi situasi (sitcom) yang diproduksi dengan menggunakan teknik multiple camera. Apa itu teknik multiple camera? Mungkin dari segi teknis kita tidak bisa membedakan. Tapi ada satu elemen dari sitcom multiple camera ini yang jelas terlihat: ada suara orang tertawa di setiap joke yang dilontarkan. Bahasa kerennya, pakai laughing track.
Nah, dari sedikit serial dengan laughing track yang masih bertahan sampai sekarang, salah satunya adalah serial “Mom” ini. Kenapa saya rekomendasikan?
Karena fokus ceritanya yang tidak biasa. “Mom” berpusat pada hubungan ibu (Alison Janney) dan anak (Anna Faris), yang sama-sama bekas pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Mereka benci satu sama lain, namun mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Setiap episode berpusat pada mereka, lalu pertemuan Alcoholic Anonymous dan makan seusai pertemuan tersebut bersama teman-teman mereka sesama mantan pecandu. Menemukan humor di sisi kehidupan yang terlihat kelam memang tidak mudah, namun serial ini melakukannya dengan sukses. Kita dibuat selalu tertawa, sambil tidak sadar bahwa kita sedang menertawakan getirnya kehidupan yang keras dan susah yang harus dilalui para mantan pecandu ini. Ada 5 musim penayangan, dengan durasi masing-masing episode sekitar 22 menit. Dan kita akan semakin jatuh cinta dengan ibu dan anak di setiap akhir episodenya.

Queer Eye

Queer Eye

Tanpa tedeng aling-aling, saya cuma mau bilang begini: I LOVE THIS SHOW!
Ini adalah reboot dari reality show yang cukup populer sekitar 15 tahun lalu, bertajuk “Queer Eye for the Straight Guy”. Konsep acaranya masih sama, yaitu 5 pria ahli kuliner, interior desain, etiket, busana, dan rambut secara kompak mendandani ulang, atau make over, pria-pria yang sebagian besar adalah heteroseksual. Secara langsung, saat 5 pria yang dikenal sebagai The Fab 5 ini melakukan make over, maka kehidupan pria lain yang mereka make over ini juga akan berubah drastis.
Yang saya suka dari reboot ini adalah penempatan logika yang pas di setiap episodenya. Tidak lagi berbicara soal perbedaan gay dan straight, yang juga masih penting ditempatkan di beberapa bagian cerita. Namun lebih dari itu, banyak pemikiran yang muncul saat mereka melakukan make over yang, terus terang, cukup menggugah saya.
Di salah satu episode, saat mereka mendandani seorang pria yang tidak punya waktu mengurus dirinya karena kesibukannya, salah satu anggota the Fab 5 cuma mengatakan, “It’s important for you to take care of yourself, because you’re not doing it to yourself, but also to your wife and your family. It’s important that you need to be the best version of yourself, because you cannot take them for granted. You want them to love you, so work on it.”
Mungkin kalimatnya tidak persis sama, tapi intinya adalah bahwa menjaga diri bukanlah sebuah kemewahan atau luxury, tapi sebuah keperluan, atau necessity, untuk menjaga sebuah hubungan.
Terus terang saya tidak terlalu suka menonton reality show. Tapi kalau ada reality show yang bisa membuat kita tertawa, tersenyum, dan akhirnya belajar menerima perubahan dalam hidup, I can’t recommend this enough.

Jika perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial-serial di atas, maka dua film ini bisa dipilih:

Bad Genius

Bad Genius

Ini bukan thriller biasa. Bagaimana sekelompok anak bisa mengelabui sistem ujian nasional di Thailand dan memperoleh keuntungan finansial dari situ, merupakan ide cerita gila yang mungkin jarang sekali bisa ditemukan di film-film dari negara-negara lain. Penggarapan filmnya pun sangat serius. Gaya film ini dibuat seperti film thriller papan atas, yang membuat kita semakin gregetan saat menontonnya. Meskipun tidak masuk dalam top 10 film tahun 2017, namun film ini termasuk sebagai salah satu film yang sangat menyenangkan untuk ditonton.

Hindi Medium

Hindi Medium

Masih berkutat soal pendidikan, namun dari sudut pandang lain. Film ini mengajak kita melihat bagaimana ketatnya persaingan untuk memasukkan anak ke sekolah bergengsi demi mendapatkan pendidikan terbaik. Termasuk pura-pura menjadi orang miskin, demi mendapatkan jatah penempatan murid dari kalangan underprivileged. Ide cerita yang sangat menarik, dan dikemas dengan penceritaan yang straight forward, dan menyentuh. Sebagai orang tua murid yang rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, Irrfan Khan bermain sangat cemerlang. Salah satu film Hindi terbaik tahun lalu.

Semoga lima pilihan saya untuk tontonan Lebaran tahun ini bisa membuat pemikiran kita semakin terbuka dan tercerahkan.
Ada tontonan lain yang Anda ikuti selama libur Lebaran kali ini?
Share di komentar di bawah ya!

Tiga Belas

(cerita sebelumnya bisa dibaca di sini)

Wait a minute!

Saya yang baru mulai bercerita, mendadak terdiam. Teman saya hanya tersenyum kecil sambil memincingkan matanya.

I have a feeling we’ll be in for a long night. So why don’t we move somewhere else?

Kali ini saya yang tertawa.

Well, I don’t mind, but where to? And why are you so sure that I have a long story to talk to?

As I said, I have a feeling. And most of the time, my feeling is right. I don’t know, walk the talk?

It’s almost midnight, and you don’t walk the talk at night in this town. It’s not safe.

In case you miss my shameless Instagram posts, I’ve been learning karate.

And when was the last time you practiced? Seven years ago?

Oh shut up!

Kami berdua tertawa, sebelum akhirnya sepakat untuk membayar tagihan makanan kami sendiri-sendiri. Kami pun sepakat untuk menghabiskan waktu di kolam renang di bawah kamar hotelnya, sambil menyusuri taman kecil yang ada di sana.

Sepanjang perjalanan di taksi, kami masih tertawa mengingat-ingat cerita yang baru saja kami celotehkan satu sama lain selama 3 jam terakhir. Termasuk ceritanya dengan Adam. Kami pun sempat melakukan video call dengan Adam, yang memang sudah berubah sama sekali dari terakhir kali saya melihatnya di ruangan kelas kuliah kami, belasan tahun yang lalu.

Sampai di hotel tempat teman saya menginap, kami langsung menuju taman dekat kolam renang. Beberapa petugas keamanan melihat kami dengan aneh, tertawa sambil berjalan seolah-olah kami mabuk. Padahal kami cuma minum teh dan air putih di restoran tadi. Setelah meyakinkan mereka bahwa kami hanya mau duduk di kolam renang sambil memesan minuman dari restoran hotel, petugas keamanan tersenyum lega, sambil mempersilakan kami.

Kami masih tertawa kecil sampai akhirnya teman saya memulai percakapan.

So. No love story to tell?

No love story to tell. Nothing major like your 25-year plan and already marking half the milestone.

And yet no love story to tell is also a love story to tell. So, what’s yours? How come there is none?

Saya terdiam, mengambil nafas sejenak, lalu tersenyum ke arahnya.

Don’t get me wrong, I’m not whining or being self-pity, but I guess I’m not as lucky as others in this department.

What do you mean?

This is purely my point of view, but I guess others find it easy to find the one they want to date, hook up with, or be in a relationship with, and I’m not so lucky in that. Not helping is having friends who make fun of your singlehood all the time.

Oh, trust me. Keep those friends. They’re all you’ve got!

Kami tertawa cukup keras. Untung tidak ada orang lain.

But seriously, don’t be so hard on yourself. Besides, everyone is fighting their own battle that we don’t know. So don’t compare yourself to others.

Saya mengangguk kecil sambil menyisip minuman dan bergumam, “Yeap.”

Teman saya mendekat ke saya, lalu memeluk saya.

Dude, you’re fine.”

Thank you.

It’s always good to hear that from other people, right?

Saya tertawa.

Since when have you become this … person, who knows what to say and console?

Life experiences, I guess?

Ah. That makes sense.

So when was the last time you were in relationship?

The serious kind? It’s been some time.

Years?

Years.

I bet you miss it.

Terribly.”

What do you miss about being in a relationship?

Saya menegakkan posisi duduk, dan kembali terdiam beberapa saat. Lalu setelah menghela nafas cukup panjang, saya berkata:

It’s impossible to miss everything, of course, but if I have to choose, I miss having someone to come home to. I miss being someone to come home to. I miss cooking for two. I miss planning the next getaway together. I miss going to bed at night and waking up in the morning with the same person. I miss the silence shared between the two on the couch. I miss the connection. I miss the assurance, that at the end of a long day, there will be someone for you to talk to.

Do you miss the fights, the messy laundry, the piling dishes, the “where-are-you-last-night” suspicion and all?

It comes with the package, right?

Right. Occupational hazard.

Saya tercenung.

More than anything, I miss the connection. How one makes attempts to figure out what the other party is interested in, then find the common thread, or build the bridge to gap the difference. How we learn new things, at first to impress the other party, and eventually liking what we learn. I miss that.

Teman saya tersenyum.

And when was the last time you fell for someone?

Kali ini giliran saya yang bersemu-semu.

Only recently, actually.

What? Come on!

Yeah, surprise, surprise.

I knew my hunch was right. It is indeed going to be a long night. Tell me!

It’s not like what you think.

I don’t care. Tell me!

Well, how do I start? You know the work that I do, right?

Teman saya mengangguk.

All years, decades even, of my professional life, I’ve never mixed or even made an attempt to get to know my work partners beyond the working hours. Always keep it professional, at whatever cost, and actually delivered some solid work. But after decades, fate decided to play its trick. I just could not help being attracted to someone at work, despite the person ticks off all the boxes of “the-type-of-person-you-will-never-date” list.

Hey, there’s always the first time for everything.

Exactly. So I met this person during my last project. We hit it off immediately. We spent time talking about things we like in common. Mostly we talked. And I guess I get carried away by the attention.

“What do you mean you get carried away?

Being alone is never easy. Worse if you add that with being lonely. Deadly combination. You often spend your time wishing there’s always someone out there you can connect with. And that’s what happened to me, I guess. When the opportunity presents itself, no matter how small it is, I grab it immediately. Little did I know that I might grab it too strong that it started getting loose.

How come?

Well, have you been acting or doing things that it feels like an out-of-body experience? Like you do things you don’t normally do?

Teman saya kembali mengangguk pelan.

That’s what happened to me. Suddenly, out of nowhere, I did things I don’t normally do. I took a crowded train to suburb on a Sunday afternoon, overlooking sunset, to give company. I paid extra attention. I kept myself awake at night just to talk. I excused myself out of meetings so that I can meet outside project office even just for a quick lunch. I wrote lengthy letters to express how I felt, mailed them at the last minute on my way to airport, almost missed out my check-in time. For the first time, during a work trip, I constantly thought of someone else back home, whereas all this time, whenever I travel, I just completely detached myself from whatever it is back home. During the trip, I kept on writing, like a diary, just to keep me sane. I wrote everyday, at the end of my work, just to express how I feel, in words, to make sure that I don’t lose the moment. I’m back to being a kid all over again.

Wow. But I heard this saying before, that every time you fall, it’s always new.

It is. No people are alike, thus no experience in falling should be the same. I agree with you. It’s just there’s this surreal thing that you suddenly have, and you have no idea where this comes from.

It’s from the heart. You have no idea what heart could drive you to do, when it is fuelled.

Saya menghela nafas.

I guess. Yeah.

And how’s the response?

Saya tersenyum.

Would I be here with you right now if it works?

Ouch. I’m sorry to hear that.

Thanks, but please, don’t be. In fact, I’m glad it happened. Do you want to know why?

I think I know why, but I’m trying to be a good listener here.

Saya tertawa cukup kencang. Teman saya pun ikut terkekeh.

The night is yours, honey.

So it is ours. I’m glad that I got to experience that all over again. Especially at our age. People, or society, expect us to already be, God knows I hate these terms, to be “stable in life”, “comfortable and content”, “secured and safe”. But do they have any idea what they prevent us from? The joy of life. So yes, I am grateful, and thankful for what just happened in my life.
Falling for someone at the most unexpected time, feeling the surreal out-of-body experience of doing silly things that I kept telling myself at times, “This is not me!” Having something to look forward to, that for once, life has somewhat a purpose to meet on daily basis, even if those plans of purposes fail. But you don’t care. You keep on trying. You keep on daydreaming. You keep on fantasizing. You keep reminding yourselves to stay on the ground, so if you really fall down, you won’t get hurt.

Are you? Hurt?

Of course. Big time. What do you call someone who cried at night after the 13 days of infatuation is over, after the crush was crashed?

I call that karma, because that reminds me of a scene from the film you loathe the most called “Eat, Pray, Love.

Spontan saya tertawa sambil mengambil percikan air di kolam ke arah teman saya.

Okay. The karma is on me, I take that. But when it’s over, I’m glad that I still get to experience all of those. You know, at our age, aren’t we lucky if we experience falling all over again?

Teman saya tersenyum.

You have no idea how jealous I am of you. Just by listening to your rambling tonight, my mind was transported back to those old days of falling in love.

Emphasize on the word ‘old’, thank you very much.

Hahaha! You know what I mean. We are not getting younger. And as you grow older, you succumb more to comfort, safety, and security. At least that’s what Adam and I have. We don’t exchange romantic notes anymore. We have gone through a lot, so the most important thing for us right now, is to be sure the other party is there when we ask the whereabouts. Sounds like we start taking each other for granted, which maybe we do if you come to think of it.

And you have no idea how much I miss to have that again in my life. The steady companionship that we often take for granted in life.

I’m sure you do. We can’t have it all, can we?

Didn’t We Almost Have It All, as Whitney Houston said.

Ah, you and your Whitney fandom!

Kami tertawa.

So, all these hours we talk about the object of your affection …

… was my object of your affection, mind you.

Who cares? Once you open up your heart to people, they never really leave. Who is this lucky one?

Saya tersenyum sambil mengedipkan mata ke teman saya.

I am. I’m the lucky one. When it comes to falling all over again, I am the lucky one.

Teman saya mengangguk, dan tersenyum.

There’s no greater feeling than being in love.

Indeed.

Shall we continue this upstairs?

Well …

Pertengahan Puasa

(malam ke-15, Ramadan 1439 H)

Ramadan yang sibuk buat Andi.
Tepatnya Andi yang menyibukkan diri di bulan Ramadan ini.

Kesibukan yang seharusnya tak perlu terlalu menyita waktu. Apalagi proyek besar Andi di quarter pertama tahun ini telah berakhir. Namun Andi memilih untuk langsung terjun mempersiapkan proyek besar berikutnya, yang sebenarnya baru akan diadakan di quarter ketiga.

Andi perlu distraksi. Terlebih setelah buyarnya semua rencana yang sudah menari-nari di benaknya selama beberapa hari terakhir ini. Rencana yang dia buat untuk seseorang yang telah mengubah pola hidup dan rutinitas Andi selama beberapa minggu terakhir ini. Rencana yang tadinya dia buat dengan kata “bersama”, namun akhirnya, semua hanya tinggal rencana. Almost doesn’t count.

Demikian Andi mengingatkan dirinya sendiri setiap larut malam, sepulang kerja seusai tarawih. Rutinitas dari kantor ke masjid terdekat lalu ke kantor lagi sebelum pulang ke rumah cukup membuat Andi tak memperdulikan lagi, bahwa hanya ada suara televisi dan denting microwave yang menemaninya. Kalau ada hal yang perlu di-unload, cukup post sekilas cuitan di akun sosial medianya. Toh tak banyak pengikut atau “teman” ini, pikir Andi.

Namun malam ini ada yang terasa aneh.

Saat Andi membuka laptop untuk mulai bekerja sebelum sahur, Andi malah membuka akun email pribadinya. Sudah lebih dari seminggu tidak membuka akun ini, pikirnya.
Semua email dengan nama yang dia hindari belakangan ini, cukup dia centang lalu klik “Mark as Read”. Bisa dibaca kapan-kapan kalau sudah siap.
Lalu dia menelusuri lagi email-email lain. Beberapa email dari nama teman-teman dekatnya yang masih berkorespondensi tiap hari.
Andi buka salah satu email tersebut. Rencana pernikahan salah satu teman dalam beberapa bulan ke depan. Riuh rendah sepuluh orang ini saling membalas email untuk bertukar ide, itinerary, sampai konfirmasi kehadiran.

Andi tersenyum, kadang tertawa kecil membaca email-email itu. Tiba-tiba tak terasa air mata mengalir menetes di pipinya. Andi terkesiap. Buru-buru dia seka.

Buru-buru pula dia ketik balasan thread email itu, “I’m coming, y’all! And yeah, party of one, as usual.”

Lalu buru-buru dia tutup laptop itu. Andi menghela nafas panjang.

This is not the first time. But why tonight, God? Why? Andi terdiam, terpekur di kursinya. Tangannya mengatup, menutup mulutnya yang terdiam.

Andi yang selalu memecut dirinya terlihat baik-baik saja saat bersama teman-teman terdekatnya, tak jarang merasa lelah juga merasa sendiri dan kesepian. Kadang dia tak habis pikir, why is it so easy for everyone to hook up? Sementara Andi selalu merasa, why is it hard for him?

And nope, I’m not gonna cry tonight. Not tonight, God. Andi masih mengatupkan tangannya sambil menutup matanya. But God, this is so hard. I’m tired of this.Ding!

Bukan bunyi microwave. Tapi bunyi ponsel. Pesan masuk dari Ali, ayah Andi.
Paling forward hadist, pikir Andi.
Buru-buru Andi buka.
Sesaat dia terhenyak melihat pesan yang cukup panjang dari ayahnya.

Lalu Andi tertawa kecil, sambil mengingat-ingat kejadian kurang dari 24 jam yang lalu. Kejadian yang membuat dia menaruh beberapa posts di akun media sosialnya.

Andi membalas, “Terima kasih, Ayah. You always know what to say at the right time.”

——————————————

(malam ke-15, Ramadan 1439 H)

Ramadan yang sibuk buat Ali.
Tepatnya Ali yang menyibukkan diri di Ramadan kali ini.

Tapi kesibukan Ali bukan sekedar kesibukan biasa.

Di saat rekan sejawatnya menghabiskan waktu di Ramadan bersama keluarga di rumah, Ali malah aktif belajar lagi. Dia habiskan waktu di perpustakaan kota terdekat, dan mendaftar kursus dasar-dasar informasi teknologi.
“Biar Ayah otaknya nggak tumpul”, demikian alasannya.

Konsekuensinya, Ali sering menghabiskan waktu dengan cucu-cucunya untuk bertanya hampir semua jenis aplikasi yang mereka gunakan. Awal-awalnya, mereka senang menghabiskan waktu bersama Ali. Namun lama-lama, mereka protes.

“Kakek kepo banget ah! Kenapa sih pengen tau Instastory segala? Facebook aja deh, Kek.”
“Ya Kakek kan pengen tau, itu bedanya apa Instastory sama Instagram biasa?”
“Ya semua yang ada story-nya itu cuma bisa kita lihat 24 jam setelah diupload pertama kali. Kalau foto-foto yang kita lihat di akun orang, itu bisa kita lihat terus, Kek.”
“Oh gitu.”
“Nggak cuma di Instagram. Facebook, WhatsApp juga ada story-nya. Fungsinya sama juga, cuma ada 24 jam aja.”
“Oh begitu. Nah, Kakek mau nanya lagi. Kalau upload itu apa?”
“Kakek, aaah!”

Ali tertawa menggoda cucu-cucunya. Meskipun hanya sesekali post di media sosial, namun Ali cukup rajin dan selektif memantau update media sosial. Termasuk akun anak-anak dan cucu-cucunya. Termasuk akun Andi.

Seperti malam ini. Saat Ali menutup bacaan kitab suci dan beranjak tidur, dia membuka lagi ponsel dan melihat beberapa update akun media sosial anak-anak dan cucu-cucunya. Foto-foto dan cuitan mereka membuatnya tersenyum.

Sampai saat Ali melihat beberapa update status di akun Andi.

Ali mengernyitkan kening. Matanya tak lepas dari sinar ponsel yang sedang dia tatap. Lalu dia menghela nafas panjang sambil dilepas kacamatanya.

I’m sorry, Ndi. Ali berujar dalam hati. But you know it’s never easy for you.

Ali mengenakan kacamatanya lagi. Dia membuka aplikasi pengiriman pesan, lalu dia mulai ketik pesan ke Andi.

“Assalamualaikum, Ndi. Apa kabarmu? Semoga puasamu berjalan lancar.”

Lalu Ali berhenti menulis. Dia berpikir sejenak. Dia teruskan.

“Selain puasa, sholat tarawih dan mengaji, jangan lupa juga terus berdoa. Insya Allah doa-doa kita di bulan Ramadan ini lebih mudah dikabulkan. Papa selalu doakan kamu. Tapi yang lebih penting, kamu jangan lupa untuk mendoakan orang-orang yang mungkin tidak sengaja sudah membuat kamu sedih. Papa percaya, mereka tidak pernah bermaksud membuat kamu sedih. Kita juga harus ingat, Ndi, bahwa saat kita memilih apapun dalam hidup, kita harus memikirkan yang terbaik untuk kita dulu. Bukan buat orang lain, bukan buat kita dan orang lain. Kalau mereka merasa kamu belum jadi yang terbaik buat mereka, ikhlaskan. Doakan bahwa mereka benar-benar bahagia dengan pilihannya. Lalu setelah itu kita berdoa dan berusaha lagi. Don’t give up. Memang tidak mudah. Tapi insya Allah, Papa yakin, saat kita bisa menerima, syukur-syukur bisa bahagia buat orang lain, jalan kita juga akan dimudahkan.”

I hope this is enough, pikir Ali. Lalu dia klik tanda kirim pesan.

Sepuluh menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Andi.

Ali tersenyum.

Biru Yang Membilu

Beberapa minggu lalu, saya menonton salah satu episode serial komedi “Black-ish”. Tidak seperti biasanya, serial komedi tentang keluarga African-American kelas menengah atas ini mengambil gaya penceritaan drama di episode tersebut.

Bertajuk “Blue Valentime”, yang merupakan permainan kata dari film Blue Valentine, episode serial ini memang dibuat dengan gaya persis seperti film tersebut. Buat yang belum pernah menonton, film Blue Valentine bercerita tentang sepasang suami istri (Ryan Gosling dan Michelle Williams) yang harus menjalani pahitnya perpisahan rumah tangga mereka, sembari mengingat-ingat kembali titik hidup yang pernah mereka jalani. Mulai dari menjadi sepasang kekasih yang dimabuk asmara, sampai menjadi suami istri yang bosan dengan satu sama lain.

Sementara serial “Black-ish” sendiri adalah gambaran ideal keluarga menengah atas kulit hitam Amerika Serikat yang mapan secara ekonomi, dan tak luput menanggapi isu-isu sosial yang ada di masyarakat. Setiap episode dibuat dengan gaya penceritaan yang ceria. Makanya, saya kaget ketika tiba-tiba Andre dan Rainbow, pasangan suami istri dalam serial ini, mendadak memutuskan untuk menelaah lagi perjalanan kehidupan mereka, dan apakah mereka masih bisa bertahan satu sama lain.

Serial “Black-ish” biasanya saya tonton sambil menyantap sarapan. Bisa dibayangkan betapa kacaunya sarapan dan perasaan saya setelah menonton episode yang berat tersebut. Dan meskipun ceritanya fiktif, tak urung jalan ceritanya membuat saya berpikir, betapa berat mempertahankan pernikahan. Buat mereka yang memilih tidak bercerai, betapa berat pengorbanan yang harus dikeluarkan.

Seorang teman yang sudah menikah cukup lama, pernah berujar seperti ini saat kami bertemu:

I still don’t get it, kenapa orang-orang kita, terutama keluarga besar, suka sekali menyuruh orang untuk menikah. Tapi nggak ada sama sekali satu pun dari mereka yang pernah bilang bahwa mempertahankan pernikahan itu beratnya luar biasa! Nggak ada sama sekali yang pernah kasih tips how to survive marriage and keep it last, bisanya cuman nyuruh doang. Kesel kan gue?! Apa jangan-jangan mereka cari temen seperjuangan yang sama-sama menderita ya? Jadi pas tau kita struggle to keep the marriage afloat, jangan-jangan mereka teriak dalam hati, “Welcome to the club!””

Kami tertawa mendengar teori itu. Namun saya mengakui, teori tersebut ada benarnya juga. Bahwa kita punya kecenderungan untuk menyuruh orang melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensi di belakangnya.

Setelah saya menonton episode serial di atas, sempat saya berpikir ulang tentang banyak hal seputar pernikahan. Saya belum menikah, dan belum ada rencana untuk menikah. Meskipun begitu, saya beruntung bisa lahir dan tumbuh di keluarga di mana ayah dan ibu saya masih bersama sampai sekarang. Tak urung sempat saya berpikir juga, bahwa betapa besar pengorbanan mereka, baik terhadap diri sendiri atau terhadap satu sama lain, untuk bisa bertahan dalam pernikahan sekian lama, berpuluh-puluh tahun lamanya.

Gairah pasti padam. Gairah bercinta, bermesraan, bercumbu satu sama lain, pasti akan hilang. Baik itu setelah tiga minggu, delapan bulan, tujuh tahun, atau mungkin satu dekade pertama. Yang datang setelah itu adalah negosiasi, tentang kebutuhan orang lain dalam hidup kita. Apakah benar kita tidak bisa hidup tanpa orang tersebut? Apakah benar kita sebenarnya bisa hidup tanpa orang tersebut?

Tulisan ini tidak memberikan jawaban, karena tidak ada jawaban yang sama untuk setiap orang. Dan memang kita akan selalu bertanya dan terus bertanya, karena pertanyaan-pertanyaan tentang cinta dan hati akan selalu membuat kita hidup.

Berdiri di Atas Waktu Yang Berjalan

Sudah jam 12 malam. Mata saya mulai terasa berat. Namun masih ada yang mengganjal di hati, sehingga membuat saya belum bisa tidur.

Apalagi penyebabnya, kalau bukan sedang kehabisan ide untuk menulis di Linimasa ini.

Biasanya memang kalau sudah mentok tidak ada bahan yang terpikirkan untuk ditulis, saya memilih tidur. Lalu ketika bangun keesokan harinya, buru-buru saya menulis di Linimasa. Ini sekaligus pengakuan jujur saya kepada Anda semua, bahwa banyak sekali tulisan saya di Linimasa yang Anda baca itu hasil dari kepepet.

Namun malam ini, saya memilih untuk berusaha menulis sebelum tidur.
Kalau sudah tidak ada ide, maka saya akan melihat ke folder draft tulisan incomplete di komputer. Ada beberapa tulisan yang pernah saya buat, yang ketika tidak bisa diselesaikan dengan baik, saya simpan dalam folder tersebut. Siapa tahu bisa saya selesaikan suatu hari nanti.

Ternyata malam ini saya masih belum bisa menyelesaikan beberapa tulisan tersebut.
Saya menelusuri lagi folders yang lain. Saya membuka salah satunya, yang berisi tulisan-tulisan lama. Kebanyakan untuk blog pribadi. Blog yang sudah berumur belasan tahun. Tentu saja isinya adalah tulisan saya pada saat berumur belasan tahun lebih muda dari sekarang.

Saya tersenyum membaca tulisan-tulisan tersebut. Sambil menghela nafas, saya berpikir, “Do I still believe in the same thing as I did back then?” Apa saya masih meyakini apa yang saya tulis dulu? Kok sepertinya sudah tidak lagi?

Saya baca lagi beberapa tulisan lama. Masih tersenyum, sambil mengangguk-angguk.

Anda pernah membaca ulang tulisan lama yang dulu Anda buat? Bisa itu puisi, surat, catatan pribadi, atau apapun bentuknya. Kadang kita suka berpikir sambil geli sendiri, “What was I thinking? Kok bisa ya, dulu nulis kayak gini, mikir kayak gini.”

Bisa saja. Kenapa tidak? We were what we were then. We are what we are now. We grow.

Baik itu grow up atau grow old, semuanya menunjukkan kalau cara kita memandang dan menyikapi hidup pasti berubah, sesuai umur yang bertambah. Makin tambah umur kita, makin banyak pengalaman hidup yang sudah dijalani. Makin bertambah umur kita, makin berubah juga cara pandang hidup kita.

Dan perubahan itu akan tercermin di karya-karya yang kita buat, atau di pekerjaan yang kita lakukan. Perubahan itu termasuk kemungkinan untuk mengulang lagi apa yang pernah kita buat atau kerjakan. And that’s normal. Karena semakin tua, semakin besar juga gairah kita untuk clinging on the glory days of the past.

Waktu terus berjalan. Sebaiknya kita pun juga terus berjalan, supaya tidak tergilas jaman.

#RekomendasiStreaming – Campursari Aneka Sensasi

So I guess the cat is out of the bag now.

Hari diunggahnya tulisan ini, yaitu pada tanggal 19 April 2018, bertepatan dengan konferensi pers acara yang sedang saya kerjakan, yaitu festival film Europe on Screen. Kalau pernah mendengar nama hajatan ini, terutama bagi para peminat film di ibukota dan beberapa kota besar di Indonesia, maka pasti familiar dengan konsep acaranya, yaitu memutar film-film Eropa terpilih dalam beberapa tahun terakhir secara gratis di pusat-pusat kebudayaan.
Kebetulan untuk edisi sekarang, saya dan rekan kerja saya didapuk untuk menjalankan perhelatannya.

Perjalanan kami sangat singkat, karena dalam waktu kurang dari 4 bulan harus menyiapkan keseluruhan elemen acara, mulai dari struktur, isi program, materi publisitas dan promosi sampai urusan administratif. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan kegiatan semacam ini secara normal adalah 6-9 bulan masa persiapan.

Hidup saya jungkir balik selama 14 minggu terakhir. Beberapa proyek lain terpaksa harus menunggu, karena ini ibaratnya sedang membangun rumah baru nyaris dari nol. Dan dalam waktu yang singkat pula, saya terpaksa harus melepas beberapa film yang sebelumnya sudah sempat saya incar untuk diputar di festival ini.

Tanpa harus menjelaskan dengan istilah teknis yang njelimet, mendapatkan film untuk diputar di sebuah kegiatan pemutaran film atau festival film itu susah-susah gampang dan gampang-gampang susah.
Kuncinya adalah sabar. Sabar mencari kontak pemegang hak tayang film yang kita mau, yang biasa dipegang oleh agen penjualan atau sales agent, atau distributor. Semua data itu ada di internet, asal kita sabar mencari, dan setelah ketemu kontaknya, sabar menunggu balasan. Balasan pun belum tentu positif, karena bisa saja film yang kita mau sedang tidak available untuk dipinjamkan kopi filmnya di tanggal yang kita rencanakan, atau memang pemegang hak tayang film tersebut tidak tertarik filmnya ditayangkan di acara kita. Itu baru dua dari sekian lusin alasan lain.

Intinya, dalam waktu singkat saya harus mencari ratusan film, dan mengontak ketersediaan ratusan film ini, sebelum akhirnya mengerucut menjadi 90-an program film yang tersedia sekarang. Dari sekian banyak film yang terpental dari daftar, ada 3 film yang lumayan membekas di ingatan. Film-film ini tidak akan ditayangkan di festival, namun mereka bisa ditonton di aplikasi video streaming yang ada secara legal di Indonesia.

Mereka adalah:

Layla M

Layla M (source: Variety)

Film produksi negeri Belanda karya Mijke de Jong ini mengungkap sisi lain radikalisme Islam dari kacamata seorang remaja perempuan yang tomboy. Meskipun seperempat terakhir film terkesan terburu-buru dalam penyelesaian cerita, namun film ini masih menarik untuk diikuti. Paling tidak memberi pemahaman lain tentang kenapa banyak orang bisa tertarik pada gerakan radikalisme yang buat sebagian orang lain susah untuk dimengerti.

Call Me By Your Name

Call Me By Your Name (source: Rolling Stones)

Jujur saja, ini bukan salah satu film favorit saya. Entah kenapa, baik novel asli ataupun film adaptasinya, this doesn’t speak to me. Berbeda dengan Brokeback Mountain yang menyesap ke ujung hati. Namun saya akui, there’s a sense of tenderness yang membuat film ini masih menarik untuk diikuti. Oh, dan film ini tersedia di aplikasi Hooq yang entah kenapa kok saya tidak menemukan tautannya untuk dicantumkan di sini. Hmmm.

Risk

Risk (source: Variety)

Film produksi negeri Jerman yang bisa dibilang “sekuel” dari film Citizenfour karya sutradara yang sama, Laura Poitras. Sama-sama mempunyai unprecedented access ke tokoh kontroversial, kali ini Julian Assange, otak di balik Wikileaks. Menonton film ini memang menghadirkan sensasi ketegangan mengikuti perjalanan Julian yang dikejar-kejar berbagai negara. Namun alih-alih menghadirkan empati, menonton film ini dijamin membuat rasa sebal dan kesal berlipat ganda terhadap Julian. Menurut saya, itulah bukti kesuksesan film ini.

Selamat menonton, dan kalau sempat hadir di festivalnya lalu bertemu saya, panggil saja saya ya. With my name, not your name. Kalau sudah kenalan, ya kita lihat saja nanti. 🙂

Hari Yang Mengistimewakan Hidup

Seorang teman lama pernah berkata beberapa belas tahun lalu, “Sebenarnya ada makna lain lho kita merayakan hari besar, seperti Lebaran, Thanksgiving, Valentine’s Day.”

Saya tanya balik, “Which is …?”

Which is, we celebrate the idea or the spirit of the special day.”

Meaning …?”

Meaning, we emphasize or glorify the idea. Contohlah Lebaran. Minta maaf dan memaafkan gak usah nunggu sampe Lebaran. Tapi pas Lebaran, kita kayak diingetin lagi kalo minta maaf dan memaafkan itu penting. Valentine’s, gak perlu nunggu 14 February buat ngungkapin perasaan cinta. Tapi pas hari itu, the idea of love is being celebrated. Okelah, akhirnya emang dikomersialisasikan way too much. But what isn’t?”

“Oke. Kalau ulang tahun?”

“Itu sangat personal. Kan kita lagi ngomong public holiday.”

Saya mengangguk.

Dan baru sekarang saya temukan jawabannya: bahwa hari lahir kita pun selayaknya kita akui keberadaannya.

Mau dirayakan dengan mentraktir keluarga dan kerabat, boleh. Mau pergi liburan, bisa. Mau sekedar ambil cuti setengah hari supaya bisa sarapan bersama, silakan.

Yang penting, we acknowledge our existence. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kita mengakui keberadaan kita sendiri yang masih hidup, dengan cara sekecil apapun. Sekedar bangun pagi dan sadar kalau hari ini adalah hari lahir kita, lalu mengangkat bahu tak peduli sambil langsung beraktifitas seperti biasa, itu juga sudah cukup untuk dibilang merayakan ulang tahun.

Selama kita masih ingat kapan kita mulai berada di dunia ini, dalam versi apapun, berarti kita masih hidup.

Kita boleh tak peduli hari libur keagamaan, hari libur nasional, atau hari libur lainnya.

Tetapi hari lahir kita, jangan sampai terlupakan.

Karena hal kedua setelah nama yang ditanyakan petugas berwajib saat identitas diri kita hilang, adalah tanggal lahir kita.

Celebrate your birthday, the best way you know how.

And carry on enjoying your life.

Aku Nggak Enak Sama Kamu, Jadi Enaknya Gimana?

“Beb.”

“Ya, beb.”

“Nanya dong.”

“Pake nanya lagi.”

“Belum nanya itu, beb.”

“Oh iya, ding. Kenapa, beb? Lho kok malah aku yang nanya.”

“Nggak papa, beb. Beb, kamu udah berapa kali resign dari kerjaan?”

“Wah, berapa kali ya. Harus diinget-inget dulu. Lupa.”

“Nyante aja, beb. Ini lampu merah masih lama kok.”

(radio masih saja memutar lagu Mirror dari Justin Timberlake)

“Beb? Itu ngitung apa ngelamun? Jangan ketiduran, beb.”

“Oh, eh … Ya gara-gara nginget-nginget yang dulu-dulu, jadi ngelamun. Ada lah 5-6 kali resign dari kerjaan.”

“Hmmm. Berarti cukup betah juga ya di satu kerjaan.”

“Kalo sama kerjaan sih, setia lah. Kalo sama yang ngajak setia, biasanya dikerjain.”

“Eits, jangan curcol, beb. Lagi full moon ini.”

“Oke, beb. Kenapa gitu kok tumben nanya masa lalu yang bukan masalah lu?”

“Pengen tau aja, beb. Masih inget nggak cara ngomong pas resign dari kerjaan?”

“Waduh, beb. Nggak inget lah kalo itu.”

“Tapi nggak mungkin langsung ngomong aja ‘kan?”

“Yah, beb. Ngajak jadian anak orang aja mikir lama. Apalagi keluar dari kerjaan, beb. Mikirnya lama banget. Kalo perlu sampe bikin daftar do’s and don’ts, pros and cons buat temen mikir. Galaunya bisa lebih dari galau gak dikirimin pesen “lagi ngapain?” ama cacar, beb. Calon pacar.”

“Galaunya bisa berapa lama, beb?”

“Tergantung. Kayaknya sih, semakin tua semakin lama galaunya. Maklum, semakin berumur kesempatan kerja baru juga semakin sedikit. Sama kayak dating kalo gitu ya. The pool of available and eligible ones is getting smaller, beb.”

“Kamu emang selalu doyan hubung-hubungin ya, beb.”

“Soalnya lagi gak berhubungan, beb.”

“Wah, bener juga, beb. Coba kalau lagi berhubungan, pasti nggak mungkin deh ngeladenin obrolan macam ini.”

“Emang kamu mau resign, beb?”

(radio memutar lagu Strong Enough dari Sheryl Crow)

“Lagi bingung, beb. Lagi super jenuh sama kerjaan sekarang. Tapi belum ada kerjaan baru. Nggak sempet juga cari-cari peluang baru. Fully occupied sampe gak ada social life ini, beb. Tapi ada yang lebih penting sih, beb.”

“Apa itu, beb?”

“Gimana ya cara ngomong kalo mau resign?”

“Minta waktu ama bos, mungkin?”

“Minta waktunya sih harusnya nggak masalah ya, beb. Yang masalah itu adalah the actual ngomongnya. Apalagi ngomong ke bos-bos yang practically temen juga. Kantor kecil, projects alhamdulillah banyak. Jadi ya mau gak mau semuanya dikerjain bareng-bareng, rame-rame. Jadi ya deket. Dan mungkin saking deketnya, udah seperti kayak temen deket, mungkin keluarga malah, karena frekuensi waktu bersama cukup tinggi. Tapi sekarang mau keluar, susahnya setengah mati.”

“Hmmm. Udah berapa lama keinginan pengen keluar ini muncul?”

“Well, sudah cukup lama sih, benernya. Somehow I don’t see myself doing this anymore, beb. Kayak udah cukup. Pengen take a break. Bukan pengen istirahat malah. Pengen stop doing it for good, beb.”

“Jenuh, beb?”

“Jenuh banget, beb.”

What made you jenuh, beb?”

Everything, beb.”

And you said everything, because …”

“… because …”

“… because your mind is clouded by you being exhausted, maybe?”

“Bisa jadi, beb.”

“Sudah ada kerjaan lain? I mean, calon kerjaan lain?”

It’s too early to say sih, tapi ada lah peluang baru.”

Good to know. So what stops you in saying to the bosses? Karena gak enak?”

“Karena gak enak.”

(radio memutar lagu No One dari Alicia Keys)

“Mungkin karena bos yang deket dan jadi temen ya.”

But they are your bosses first before you become their friends, beb.”

True.”

“Dan kalau aku inget-inget lagi sekarang, hampir semua obrolan aku pas resign atau keluar dari kerjaan ya akhirnya yang jujur. Kerjaan pertama di sales, jujur akhirnya bilang kalo kerjaan sales gak cocok. Terus akhirnya dapet kerjaan yang pas, tapi harus keluar juga, ya jujur karena dapet better offer. Pernah juga keluar karena ada urusan keluarga yang makan waktu lama. Ya mungkin karena lebih enak ngomong yang sesungguhnya sih, beb. Kita bukan aktor pemenang Oscar ini. Boro-boro, beb. Nominasi acara 17-an di kampung aja juga nggak mungkin.”

“Jadi aku harus jujur ngomong kalo aku jenuh, gitu, beb?”

You’ll find your way in finding the reason, and eventually saying the truth. Jangan sekarang ya, beb. You’re too exhausted to think. Let alone to plan. Sama kayak jangan ngambil keputusan waktu lagi marah, jangan ngambil keputusan waktu pikiran lagi butek. Take a day off maybe, beb? And do nothing for 24 hours? No phone, no text, no internet?”

“Semacam detox ya, beb?”

“Semacam itu lah, beb.”

“Okelah kalau begitu. Oo .. oo .. okelah kalau begitu.”

“Jangan nyanyi, beb. Aku nggak bawa obat sakit kepala sekarang.”

“Beb?”

“Ya, beb?”

“Kenapa dari tadi kita manggil “bab beb bab beb” melulu ya? Pacar bukan. Gebetan bukan. Friend with benefit juga nggak ada benefit yang oke.”

“Ya daripada nggak ada, beb.”

“Bener juga, beb.”

“Hey, beb.”

“Ya, beb?”

“Jujur sama diri sendiri is the way to stay sane and survive this life.”

“Langsung aku bikin desain kaos pake quote tadi, beb.”

“Sama stiker ya, beb.”

“Oke, beb.”

Karat

Dua kata yang menakjubkan buat saya adalah “ketok magic”. Pernah dengar kata ini, ‘kan? Biasanya kita temui di pinggir jalan, dalam bentuk bengkel kecil, dengan ban mobil atau ban sepeda motor yang berserakan atau bergelantungan di langit-langit.

Mereka menawarkan jasa untuk memperbaiki kerusakan kendaraan bermotor yang biasanya cenderung parah, dan bengkel resmi kebanyakan menyerah. Apalagi kalau tidak diasuransi atau masa asuransi sudah lewat. Maka hadirlah “ketok magic” ini, yang bisa menutupi kerusakan mobil atau sepeda motor kita.

Tergantung tingkat keahliannya, bisa-bisa mereka menutupi kerusakan sampai kendaraan kita terlihat seperti baru. Tapi kalau tidak terlalu ahli, biasanya kerusakan sekedar diperbaiki sampai kendaraan bisa berfungsi lagi. Toh fungsi yang paling penting, bukan?

Kalau konsep “ketok magic” ini diaplikasikan ke dalam kehidupan manusia, maka yang langsung terbayang adalah operasi plastik. Atau jenis perawatan lain seputar muka, baik itu karena musibah, atau sekedar menunda penuaan. Cuma tulisan kali ini tidak membahas tentang perawatan muka, karena muka penulis ini pun perlu perawatan.

Kali ini saya ingin mengajak kita ngobrol sejenak tentang kemampuan kita. Kemampuan, skill, yang kita miliki karena keahlian yang kita pelajari secara resmi, atau tekuni sekian lama sampai terbiasa, atau karena tuntutan hidup, namun karena satu dan lain hal, akhirnya terhenti. Sampai kita menjalaninya lagi.

Seorang teman di grup WhatsApp pernah berkeluh kesah, “Gue pikir ya, punya anak kedua itu bisa lebih relaxed, karena udah punya pengalaman ama anak pertama ya. Ternyata salah besar, saudara-saudari! Apa jaraknya kelamaan ya? Lima tahun kan gak lama! Tapi kayak gue udah lupa gitu musti ngapain dulu.”

Sementara salah satu tante saya (budhe itu bahasa Indonesianya apa ya?), yang pernah berprofesi sebagai guru, lalu menjadi pejabat negara sekian puluh tahun lamanya, lalu pensiun dan sekarang menjadi dosen, pernah bercerita, “Waduh, aku ndredheg lho dua minggu sebelum ngajar lagi setelah gak ngajar puluhan tahun. Udah lupa bikin materi ngajar itu kayak apa. Hari-hari pertama ya gitu, masih banyak “aa ee aa ee” pas ngajar. Tapi abis itu ya sudah, wis biasa lagi. Tau gitu dulu-dulu tak sempetin ya, ngajar atau jadi dosen tamu. Cuma dulu ya gak ada waktu.”

Saya pernah mewawancarai seorang aktor teater. Dia seniman senior, kaliber besar. Namun selama belasan tahun, dia sempat menarik diri dari seni peran. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali, dan kemunculannya disambut dengan sangat meriah. Wawancara saya lakukan di negeri seberang. Saya tanya, apakah dia sempat nervous saat datang pertama kali ke tempat latihan. Dia melihat saya beberapa saat, lalu terdiam, dan dengan suara pelan namun penuh wibawa, dia menjawab, “Yes, very much. I feel like a has-been, I feel my skill, the acting skill I have learned, carved and perfected for years is now … (dia terdiam lagi) … rusty. And it hurts me to realize that I am now bringing this rusted skill to the table. But somehow, the worry stopped at the door. When I open the door, the director, other actors, crew members, they greeted me with smile. No, no standing applause or something like that. Just saying “hi”, “welcome”, with sincere smile. And when the reading started, I observed. I looked around. I paid attention to what they said. Then my turn came. They observed. They looked at me. They paid attention. We exchanged notes. Only by then I know that this rusty feeling of having an outdated skill can only be fixed by other people, and their sincerity in accepting. And they can only accept you, when you accept yourself as you are, in the present.”

Waktu dan perjalanan hidup kita sebagai manusia memang kadang tidak bisa kita atur dan rencanakan sedetil mungkin. Kejutan berupa kejadian-kejadian yang tidak kita sangka datang dalam hidup membuat kita sering kali terpaksa mengubah rencana yang sudah kita buat.

Setelah berkutat di satu konsentrasi pekerjaan selama beberapa tahun terakhir, mulai pertengahan tahun lalu saya memutuskan untuk meninggalkan konsentrasi tersebut. Lalu saya kembali mengerjakan hal lain yang pernah saya kerjakan cukup lama, dimulai lebih dari satu dekade yang lalu. Meskipun masih dalam industri yang sama, namun cakupan, konsentrasi, dan cara bekerjanya sangat berbeda.

Saya mengakui ke teman saya yang menjadi partner kerja sekarang, “Terus terang gue sempat kagok. Menangani hal-hal ini yang udah lama gak gue pegang bertahun-tahun. Macam sepeda, ini mulai dari pedal sampai stang semua sudah karatan. I really feel rusty. And I wish ada semacam ketok magic yang bisa bikin gue get back and up and running again so smoothly.

Teman saya hanya tertawa, dan saya melanjutkan, “Tapi ya gue anggep ini learning curve lagi lah. And I’ll come around to it again, I promise.

Dan mungkin tak ada salahnya kalau kita sedikit berharap ada keajaiban: bahwa dari hal yang berkarat, bisa menghasikan karya gemilang bak emas 24 karat.

Semoga.

Selamat berlibur.

PS: Tentu saja, perhatikan lirik lagu di bawah ini.