Selamat Ulang Tahun ke-10, Film-Film dari 2009!

Kalau harus menyebut “tahun terbaik” untuk menilai kualitas film-film yang dirilis di tahun tertentu, sebagian besar penggemar film pasti menyebut tahun 1939 dan 1999. Di tahun yang disebut pertama, jajaran film klasik tumplek blek dirilis di tahun itu, mulai dari Gone with the Wind, The Wizard of Oz, Stagecoach, sampai Mr. Smith Goes to Washington. Sementara di tahun yang disebut kedua, film dengan visual efek yang mencengangkan macam The Matrix dirilis berbarengan dengan horor laris The Sixth Sense, lalu ada juga komedi nakal American Pie yang juga dirilis di tahun yang sama dengan komedi romantis Notting Hill atau drama serius American Beauty.

Lalu bagaimana dengan tahun-tahun lain yang juga berakhiran angka 9, seperti tahun 2009 yang baru saja lewat 10 tahun yang lalu?

Saya sendiri setuju kalau ada yang bilang bahwa tahun 2009 bukanlah one of the great years in movies. Tapi bukan berarti tidak ada film-film yang berkesan. Apalagi menonton film urusannya sangat personal, bukan?

Tahun 2009 sendiri adalah tahun di mana saya banyak mengalami titik balik, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam urusan pekerjaan. Mau tidak mau, hal-hal seperti ini mempengaruhi pilihan tontonan, dan pengalaman menontonnya.

Looking back, cukup banyak juga film yang saya tonton di tahun 2009 ini. Dan setelah mengingat-ingat lagi, apa saja film-film dari tahun 2009 yang berkesan buat saya, inilah dia:

• Film-film yang juga saya suka: The Boat that Rocked, An Education, Moon, The White Ribbon, The Secret in Their Eyes, A Single Man

[sepuluh] Bangkok Traffic (Love) Story

 

Pertama kali menonton film ini di bioskop (yang dulu bernama) blitz di Grand Indonesia, pemutaran terhenti di tengah-tengah karena … mati lampu! Terpaksa pemutaran dihentikan sama sekali, padahal film sudah berjalan hampir separuh durasi. Petugas memberikan kupon voucher gratis untuk menonton film yang sama di hari lain. Saya pun menonton lagi di hari lain tersebut, mengulang dari awal, dan tetap tersenyum dari awal sampai akhir melihat cerita dari karakter Mei Li yang mengharap perhatian dari Long, pria yang ditaksirnya, sampai-sampai merubah pekerjaan supaya bisa pas waktunya.

[sembilan] I Am Love

 

Film yang membuat saya menganga, takjub akan penampilan Tilda Swinton dengan kemampuan berbahasa Rusia yang luar biasa. Ada salah satu adegan sangat kecil yang mencuri perhatian. Saat di pesta di rumahnya, karakter yang dimainkan Tilda, yang tidak bisa berbahasa Inggris, duduk dan menunduk sambil mengaduk cangkir tehnya. Dia hanya mendengarkan orang-orang di sekelilingnya berbahasa Inggris. Saat dia dipanggil, dia mengangkat mukanya sedikit, dan matanya menyorotkan ekspresi ketidaktahuan atas apa yang mereka bicarakan, karena bahasanya terdengar asing. A very small moment, tapi sungguh brilian dieksekusi oleh Tilda Swinton, yang memberikan gambaran lengkap tentang karakter yang dia mainkan hanya dengan gerak tubuh yang minimal.

[delapan] King

 

Beberapa kali di tulisan di Linimasa ini saya pernah menyatakan kalau film-film bertema ayah dan anak adalah salah satu Kryptonite pribadi. Hampir selalu ‘lemah’ kalau disodori film-film semacam ini. Tak terkecuali film ini. Film yang bercerita tentang cita-cita seorang anak desa yang ingin menjadi pemain bulu tangkis, yang mendapat tentangan dari ayahnya. Penampilan komedian almarhum Mamiek Prakosa sebagai sang ayah masih sangat membekas di ingatan, karena gambaran karakter yang dimainkan benar-benar mencerminkan sosok seorang ayah pada umumnya: keras karena tempaan hidup, namun penuh kasih sayang yang kadang sulit dicerna. Film ini mungkin akan jadi film yang selamanya underrated.

[tujuh] Inglourious Basterds

 

Mulai dari adegan apple pie di restoran, sampai ke penembakan di bioskop yang sangat bombastis, film karya Quentin Tarantino ini bisa dibilang sebagai salah satu yang paling enjoyable di antara semua filmnya. Dan mungkin film ini juga menginspirasi banyak akun media sosial yang membuat sejarah jadi menyenangkan lewat parodi fakta dan kejadian yang sesungguhnya. Nevertheless, film ini, for the lack of better word, memang sangat menyenangkan untuk ditonton berulang kali, sampai sekarang.

[enam] Up

 

Mari kita akui bahwa yang membuat film Up ini sangat berkesan adalah montage selama 7 menit yang menggambarkan kehidupan perkawinan karakter Carl dan istrinya, sampai akhir hayat sang istri. Adegan tanpa kata tersebut sangat indah, bahkan bisa dibilang saking indahnya, hampir keseluruhan film bertumpu pada adegan tersebut. Guliran adegan petualangan yang terjadi setelahnya, meskipun digarap dengan sangat baik, meninggalkan impresi yang tak terlalu mendalam apabila dibandingkan dengan montage di awal film. Jadi apakah mungkin adegan selama 7 menit di awal film bisa uplift the whole film? In this case, yes.

[lima] Mother

 

Sebelum film Parasite dirilis, saya selalu bilang bahwa karya terbaik Bong Joon-ho adalah film ini. Siapa sangka film tentang kegigihan seorang ibu membela putranya ini bisa menjadi film yang tegas, tangguh, sekaligus lembut? Kalau tak percaya, lihat saja adegan terakhirnya, yang pernah saya bahas sebagai salah satu adegan penutup dalam film yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam seusai kita menontonnya.

[empat] A Prophet

 

Filmnya memang ‘keras’, karena bertutur tentang kehidupan seorang narapidana dan penjara yang dihuninya. Dan memang sutradara Jacques Audiard memilih untuk memperlihatkan betapa kompleksnya kehidupan di penjara yang bisa mengubah karakter seorang yang tadinya lugu menjadi keji. Kita tidak bisa berpaling sedikit pun dari setiap adegan di film ini, yang sangat menuntut perhatian sekaligus empati kita. Film yang membuat a star is born moment untuk aktor Tahar Rahim, dan sejak dari film ini, setiap film yang dibintangi Tahar Rahim selalu membuat saya menyempatkan diri untuk menontonnya.

[tiga] 3 Idiots

 

Tiba-tiba banyak teman dan kenalan saya yang tadinya tidak mau atau jarang menonton film Hindi atau film India in general, mendadak menonton film ini. Film ini sempat bertahan lama di bioskop, karena word of mouth yang disebarkan sangat positif. Tentu saja rekomendasi film ini karena isu pendidikan yang jadi fokus utama ceritanya. Sampai sekarang pun, film ini dijadikan rujukan untuk memotivasi pendidikan alternatif yang bisa diterapkan untuk menggali potensi non-akademis setiap anak di usia pendidikan dasar. Film yang membuat Aamir Khan menjadi spokesperson untuk urusan pendidikan dan kemanusiaan.

[dua] Up in the Air

 

Pertama kali saya menonton film ini di bioskop tengah malam. Namun setiap dialog di film membuat saya tidak mengantuk. Bahkan semakin tertohok. Meskipun frekuensi terbang saya jauh di bawah karakter Ryan Bingham yang diperankan George Clooney, namun siapapun pasti akan relate dengan perasaan akan perlunya someone to come home to, something to look forward to dalam hidup. Film yang sepertinya akan terasa timeless, dan terbukti paling tidak di sepuluh tahun pertama.

[satu] 500 Days of Summer

 

“Summer, kamu jahat!” Demikian reaksi saya selama bertahun-tahun. Setiap kali ada pertanyaan, “Siapa tokoh paling jahat di film?”, tanpa tedeng aling-aling saya menjawab, “Summer!” Perlu waktu bertahun-tahun, dan ratusan kali menonton ulang, sampai akhirnya saya sadar, dan disadarkan oleh pernyataan Joseph Gordon-Levitt, bahwa Summer hanya melakukan apa yang layaknya dilakukan orang kebanyakan, yaitu mengeksplorasi perasaan sebelum melabuhkan pilihan. The other party saja yang baper kebablasan. Demikian pula dengan saya, yang sialnya selalu ada di posisi Tom, dan tidak pernah di posisi Summer.

Toh saya tetap membiarkan idiom “Summer jahat!” berkecamuk di pikiran saya, karena isn’t it awesome that such a cute character can be villainous unintentionally?

Dan apa film-film favorit anda dari tahun 2009?

Advertisements

Jejak Yang Kita Tinggal

Paruh kedua tahun ini dibuka dengan beberapa berita duka yang mengena buat saya. Ada beberapa orang yang pergi meninggalkan dunia dengan cepat, terasa tiba-tiba tanpa ada pertanda sebelumnya. Hampir semuanya meninggalkan impresi yang mendalam, yang juga berarti meninggalkan rasa sedih karena kehilangan.

Semakin sedih saat ada seorang teman yang mengatakan bahwa di paruh pertama tahun ini, ada beberapa teman atau kenalan in common kami yang juga telah berpulang. Setiap berita duka datang menghampiri, kadang tanpa sadar kita menghitung atau mengingat-ingat lagi, siapa saja orang-orang terdekat kita yang sudah tiada dan masih ada.

Yang juga kita sering lakukan tanpa kita sadari adalah memikirkan bagaimana orang memandang kita setelah kita tiada.

Beberapa hari lalu, tepat sehari setelah kepergian seorang rekan kami, saya bertemu untuk meeting proyek pekerjaan. Di sela-sela meeting, kami berbagi kenangan terhadap almarhum. Mulai dari kenangan mengerjakan proyek bersama, makan bersama, sampai “kongkalikong” dalam menyusun aturan.

Kami juga sama-sama membaca ucapan berita duka di media sosial, di mana cukup banyak teman-teman kami yang lain berbagi kenangan bersama almarhum yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Kami tertawa, lalu sama-sama mengucap “aaawww …”, lalu tersenyum, berusaha menutup kesedihan yang melanda.

Rekan kami memang dikenal sebagai sosok yang bisa merangkul banyak orang, dan dekat dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Tak heran kalau kenangan yang muncul pun yang baik-baik.

 

Footprints1

Namun tak urung seorang rekan bertanya di meeting kami, “Kalau misalnya ada orang jahat yang meninggal, yang semasa hidupnya banyak berbuat salah sama orang lain, I wonder apakah orang tersebut akan sama diomongin seperti kita sekarang ngomongin mas X dengan segala kebaikannya ya?”

Kami terdiam. Seorang teman lain menjawab, “Mungkin. Tapi kayaknya gak langsung diomongin di saat hari wafatnya dia. Energi buat berduka sudah cukup berat, nggak sempet mikirin yang lain-lain.”

Teman lain menimpali, “Dan bisa jadi orang itu gak berbuat baik ke orang lain, tapi he’s an angel to some others. Entah ke keluarganya, ke beberapa temannya, we’ll never know.”

Kami menggangguk dan terdiam lagi. Lalu ada yang bertanya, “Penasaran aja. Have you been wondering, what legacy will we leave behind when we depart?”

Kembali kami terdiam. Setelah lama, saya berkata, “If you ask me, jawabannya nggak tahu, dan terus terang, nggak mau tahu. Karena ya by then, gue udah mati, gue gak bisa lihat ama denger apa yang orang katakan tentang gue. Cuma yang gue tahu, pas masih hidup gini, sebisa mungkin gue gak bikin sakit hati orang. Itu aja, sih. Gak mungkin nyenengin semua orang, emang, but at least, gak bikin orang sepet sama gue. I guess that’s all?

Saya melihat teman-teman saya mengangguk. Teman saya lantas berkata, “Ya living the life lah. We honour orang-orang yang udah ninggalin kita ya dengan hidup. We work, we live, we love, we do what we are best at doing. Life goes on.

Dan dengan pernyataan itu, kami melanjutkan sisa aktivitas masing-masing, karena matahari baru saja terbenam. Sambil masing-masing mungkin berpikir, bahwa legacy kita dimulai dari saat kita menyadari bahwa kita punya kehidupan yang harus kita jalani.

Universe Bernama Jakarta

“Ngomong-ngomong, gue gak pernah papasan lho sama mantan gue yang dulu, yang putus lebih dari lima tahun lalu,” ujar saya out of the blue di suatu sore di kedai kopi saat mudik Lebaran beberapa hari lalu.

Lontaran ini saya sampaikan ke beberapa teman yang kebetulan mudik ke kota yang sama, dan kami memang sengaja bertemu, berhubung sudah “mati gaya”.

“Sumpah lo?”

“Beneran.”

“Samsek (sama sekali)?”

Well, abis putus pernah sih, papasan sesekali. Apalagi waktu itu circle pertemanan masih sama. Tapi itu kayak dua atau tiga bulan doang. Abis itu gak pernah lagi.”

“Kok bisa sih? Gak di mall mana gitu …”

“Kalau dia masih tinggal di tempat yang lama, dia lebih sering beredar di GanCit (Gandaria City) daripada gue yang lebih sering ke GI (Grand Indonesia).”

“… ya atau di halte busway …”

“Dia? Naik TransJakarta? Dulu sih enggak ya.”

“… atau di MRT sekarang …”

“Nggak pernah tuh.”

“Di airport!”

Please. It only happens in films ato novel.”

“Di gym?”

“Beda gym. Apalagi sekarang gue mainnya di studio kecil. Ya intinya, kadang gue ngerasa amazed aja, satu kota, tapi nggak pernah papasan sekali pun. What does it say actually?”

“Ya bagus, ‘kan?”

“Iya, sih. Cuma heran aja.”

Well, for a start, we’re talking about Jakarta, dude. Kota yang guede banget. Elo bisa aja kerja di Thamrin, abis itu ketemuan dan makan di Sabang, ewes bentar di Karet …”

“Woi! Kenapa harus ada ewes sih?”

“Bodo! As I was saying, ewes bentar di Karet atau Rasuna, abis itu pulang ke rumah masing-masing. Elo di Rawamangun, dia ke Kelapa Gading. Searah, tapi beda tujuan. Ketemunya ya orang-orang berbeda di tiap neighbourhood, sekalian just to make sure orang-orang rumah gak ngenalin. Ya gimana gak pernah papasan?”

Kami semua bengong sejenak, lalu spontan tertawa terbahak-bahak. Untung saja suasana kedai kopi saat itu tidak terlalu ramai.

“Kalau menurut elo?” Saya bertanya ke teman yang lain.

“Kalau menurut gue, itu berarti bukti bahwa Tuhan itu ada dan nyata.”

“Heee? Ade ape? Elo lagi persiapan hijrah?”

“Iya, sekalian, abis ketemu keluarga besar kemarin, jadi puas gue dicekokin secara langsung, teori-teori konspirasi agama yang selama ini disebarin di WhatsApp. Ya gak, gila! Maksud gue, God works in mysterious ways. Lima tahun, alias lebih dari 1.700 hari, elo gak pernah ketemu orang yang once upon a time mattered most to you. Yang elo pernah hidup bareng sehari-hari. Yang ada elo ketemu orang-orang baru, atau orang-orang lama yang ternyata emang elo perlu temui. I don’t know, tapi itu sih udah kayak miracle ya.”

Kami terdiam sejenak. Salah satu teman saya memicingkan mata.

“Hmmm. Nah, I don’t buy it.

“Ya dengan kata lain, the universe is working its mysterious ways to pull you into the direction you need. Yang tentunya beda direction ama mantan elo.”

“Nah, kalo kayak gitu, gue beli omongan elo.”

Kami kembali tertawa keras-keras. Di luar matahari masih menyengat, meskipun hembusan angin membuat suhu kota masih di bawah 20 derajat celcius.

This universe called Jakarta is nothing but amazing ya.”

Indeed!” / “Hear, hear!” / “Bener banget.” / “Setuju.”

I mean, saking banyaknya jenis orang, elo bisa ganti atau tambah circle pertemanan dengan mudahnya, provided you are willing juga ya. Elo bisa ganti tipe orang yang kencani atau pacari … “

“Hmmm …” / “Hmmm …” / “Hmmm …” / “Hmmm …”

“Hahahaha. Oke, elo punya kesempatan buat ganti, walaupun ujung-ujungnya yang elo demenin juga yang setipe. Tapi tiap elo deket ama orang, elo bisa milih buat ketemuan di tempat yang beda-beda satu sama lain.”

“Ya karena tempat yang elo dulu pernah datengin, belum tentu ada by the time you visit again dengan yang baru, yang biasanya terjadi setiap berapa bulan sekali, sodara-sodara?”

Kami tertawa lagi.

“Atau ya paling obvious kayak yang dibilang tadi, mau selingkuh gampang banget.”

“Pengalaman nih?”

“Jangan ngeles. Hayo, masak elo semua gak pernah tempted sih? Meleng dikit pas lagi nunggu ojek, eh ada yang cakep lagi nunggu juga.”

“Sumpah gue gak abis pikir ama contoh elo.”

“Ya maksud gue, kalo elo kerja di Selatan, ngekos di Setiabudi yang notabene perbatasan Pusat ama Selatan, kalo mau selingkuh, selingkuh aja sama yang di Central Park ato Grogol sekalian. Beres ‘kan?”

“Hahahaha, ini kenapa ngomongin selingkuhan ya?”

“Kalau mau niat selingkuh sih, mau di kota kecil juga bisa. Gak usah repot-repo pindah provinsi. Bilang aja, nanti sebelum nonton di PS (Plaza Senayan), aku makan dulu di Senci (Senayan City) ya sama temen-temen aku. Kita ketemu langsung di bioskop. Boro-boro ke Senci. Elo ngumpet aja ama gebetan elo di TWG di PS!”

“Eeeh, hahahaha, sepertinya pengalaman pribadi bener!”

“Ember!”

“Dan walaupun elo udah digituin ya, tetep aja elo gampang move on. Menurut gue, lho ya. Oke, gak gampang, tapi relatif gampang. Tinggal ganti aktivitas after office hours atau weekend elo. Tinggal ganti tempat tongkrongan. Apalagi sekarang ada MRT ama LRT. Jalan sejam aja, isi dating app baru semua.”

“Soalnya selama di sini elo liatnya itu-itu aja di app.

“Iya banget! Hahahahaha!”

“Berapa kali coba gue udah bilang mau pindah dari Jakarta. Sumpek. Apalagi sekarang polusi makin gila. Cuma ya tetep, gue gak bisa dapet kesenengan berupa ketemu orang-orang ajaib ini di kota-kota lain. Meskipun kota-kota ini lebih bersih, lebih teratur, lebih livable, tapi emang kitanya juga yang demen cari resiko cepet mati, jadinya ya terus aja hidup dengan kemacetan, bising, tapi, I hate to say this, menyenangkan.”

“Makanya kan, kita kerja mati-matian, supaya bisa pergi sebentar dari Jakarta, supaya bisa kangen ama Jakarta, dan akhirnya mau balik lagi ke Jakarta.”

Speaking of kangen, elo gak nyadar dari tadi hape elo bergetar terus, ada yang ngajak video call?”

“Astaga!”

Kami tertawa.

Happy belated birthday, Jakarta!

Menutup dan Mengakhiri

Bukan, hari ini saya belum memutuskan untuk menutup dan mengakhiri rangkaian tulisan saya di Linimasa selama hampir 5 tahun ini. (Nggak tau ya, kalau minggu depan tiba-tiba … Pokoknya, tunggu saja waktunya.)

Yang saya ingin bagi hari ini adalah beberapa cerita soal pengakhiran (aneh ya bahasanya?), atau closure (nah, ini lebih pas!) dari sebuah hubungan romantika. Berikut beberapa contoh kejadiannya, yang sekaligus menjelaskan, apa sih closure itu, kak?

Silakan:

(Subyek 1)

“Jadi dulu gimana elo bisa sampai bener-bener ada closure sama mantan?”

“Mantan yang mana?”

“Yang terakhir deh.”

“Ya abis putus, gak ketemuan lama, trus pas ketemuan lagi beberapa bulan kemudian, ngobrol deh. Kenapa dulu kita putus, trus sekarang gimana. Standar.”

“Emang sengaja ketemuan?”

“Pertama sih gak sengaja. Terus janjian ketemuan lagi. Baru di situ ngobrol.”

“Pake nangis atau gebrak meja atau banting kursi?”

“Elo kira lawak di tipi? Ya gak lah. Udah lewat beberapa bulan juga, udah kelar sedihnya, jadi ya ngobrol aja, like two adults.”

“Jadi kuncinya emang waktu, ya?”

“Ya abis, apa lagi?”

(Subyek 2)

“Gimana elo dulu bisa sampe ada closure ama mantan elo?”

“Mantan yang …”

“… yang paling drama putusnya.”

“Hahaha. Berat tuh. Lama. Makanya dia yang terakhir nongol pas gue mau kawin! Elo tau kan, cobaan orang mau kawin, tiba-tiba semua mantan pacar, mantan gebetan, mantan flirt, mantan fling, sampe mantan ONS semua pada nongol?”

“Busyet. Berapa macem sih jenis mantan?”

“Hahahaha. Ya pokoknya dari semua jenis mantan itu, semuanya udah beres, kecuali satu. Eh bener, dia nongol beberapa hari sebelum akad nikah, coba!”

“Terus?”

“Ya akhirnya ketemu. Ngobrol semaleman di coffee shop. Tumpahin semua unek-unek selama jadian dan selama bertahun-tahun setelah putus. Both sides lho ya yang curhat. Terus jalan, di mobil curhat, nangis, gitu terus. Tapi gak ada ciuman, gak ada grepe-grepean. Cuma pelukan. Sambil nangis. Hahaha. Tapi ya udah. Lewat jam 1 pagi dikit, pulang ke rumah masing-masing. Paginya gue bangun ngerasa lega. Plong. Banget.”

(Subyek 3)

“Elo ada closure sama mantan, gimana?”

“Ya ambil jatah mantan for the last time lah. Ewes.”

“Huahahahaha. Okay, next!”

(Subyek 4)

“Eh, ada cerita apa dari trip elo kemarin?”

“Hihihi. Guess what? Akhirnya ada closure ama mantan!”

“Ha? Ketemu di sana? Dia ikut rombongan?”

“Kagak. Boro-boro ikut rombongan. Kalo ada dia, ya ngapain gue ikut rombongan itu? Jadi, elo tau kan kalo ini tuh holy trip gitu. Buat ibadah. Jadi ya niat dan mindset gue dari pas pergi pun pokoknya ya udah, ibadah aja lah. Mumpung ada waktu. Di sana ya gue nothing but praying lah. Dan berdoa tuh minta ya yang standar lah, kesehatan, rejeki, kerjaan, pokoknya yang seperti itu. Kagak kepikiran sama sekali mau minta “Ya Tuhan, aku pengen move on ini kok susah banget yaaa, plis!”

“Hahaha. Terus?”

“Ya pas sore-sore gitu, gue lagi duduk-duduk, mumpung tempatnya lagi adem. Sekalian nunggu jam giliran ibadah, gue baca-baca aja kitab suci. Sekeliling gue juga. Baca aja, gak mikir apa-apa. Pas lagi konsen baca, tiba-tiba … Ah ini kedengerannya cemen, unbelievable, tapi beneran terjadi. Tiba-tiba, kayak ada suara, lirih banget, yang bilang ke gue, “It’s time. You can let your ex go now.” Gue kaget! Gue bengong. Lihat kanan kiri. Nggak ada orang yang duduk deket gue. Paling deket tuh jaraknya kayak dari meja kita ke toilet depan itu. Nggak mungkin bisa bisikin gue. Gue diem, lemes, dan inget persis kata-kata yang kedengeran barusan. Kitab suci gue tutup, tiba-tiba gue nangis aja gitu. Of all the prayers I asked ya, yang gak gue minta di situ, yang gue juga udah agak lupa juga, ternyata dikabulin dengan cara yang gak gue duga. Sama sekali.”

“Wow. Bener-bener divine intervention ya”

“Bener banget. Dan pulang dari trip itu, gue udah gak ada apa-apa lagi kalau ngeliat update atau feed dia di socmed. Asli. I feel nothing.”

That’s good!

(Kembali ke subyek 3)

“Eh tapi jadinya enak, gak?”

“Ya enak, lah! Lha wong gak pake benang. Eh tali.”

“Maksudnya?”

No string attached.”

“Huahahahahaha!”

(Subyek 5)

“Pertanyaan elo ribet amat sih, soal closure.”

“Ya kali elo punya cerita unik soal tutup buku ama mantan ini.”

“Hmmm. Paling gue pernah sih, gak sengaja walk down memory lane atau napak tilas perjalanan bersama mantan. Hahahaha.”

“Eh, maksudnya? Jalan bareng lagi setelah putus?”

“Enggak. Jadi pernah gue harus ke luar kota gitu, lalu pas cari hotel, keluar tuh di daftar pencarian hotel yang dulu pernah stayed bareng mantan di situ. Gue langsung skip lah, cari hotel yang lain. Tapi kok harga pada mahal-mahal semua. Sementara kualitasnya gue tahu gak sebagus hotel yang tadi. Dan jatuhnya hotel yang tadi itu lebih murah. Jadilah akhirnya gue booked hotel itu. Hehehe.”

“Wah. Dan dapet kamar yang sama kayak dulu?”

“Huehehehe. Kok ya kebetulan … iya.”

“Wuih! Terus gimana rasanya?”

“Ya gue senyum-senyum sendiri pas masuk kamar itu. Inget aja dulu pernah ngapain, kayak gimana. Hihihi. Dan akhirnya ended up pergi ke tempat-tempat yang dulu pernah gue ama dia datengi, di sela-sela kerjaan. Soalnya kan gue pergi yang terakhir ini karena work trip.”

“Lalu, pas elo revisited those places, what did you feel?

In general, nothing. At all. Inget sih, pasti. Pas masuk coffee shop, inget dulu gue pesen apa, dia pesen apa, duduk di mana. Pas masuk restoran, juga sama, inget makanan yang pernah kita pesen. Inget pernah foto selfie di mana aja di sudut kota itu. Cuma ya gue gak gila aja posting di socmed pake #10yearschallenge walaupun belum 10 tahun. Hahahaha.”

“Hehehe. Tapi beneran elo gak ada rasa apa-apa lihat tempat-tempat itu lagi?”

Nothing. Beneran. Mungkin karena waktu ya. Oke, mungkin kalau ada sedikit perasaan, bisa jadi gue lega. Lega karena setelah melihat kembali tempat-tempat itu, gue bisa cukup acknowledge past memory, tanpa harus drowning in sorrow inget-inget lagi yang dulu-dulu. Kayak yang, “oh pernah ke sini, pernah nyobain ini”, dan udah. Waktu sadar gue bisa melakukan itu, gue berpikir, “oh, berarti udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. That’s it.” Jadinya gue percaya bahwa waktu membiasakan kita. Time may not heal, but we are used to our scars as time passes.”

(Kembali ke subyek 3)

“Terus closure-nya kalo pake ambil jatah mantan gitu, gimana? Kan kalo enak jadi ketagihan?”

“Hus! Ya nggak boleh terus-terusan lah. Jatah mantan itu cuma sekali aja. Kalo terus-terusan, ya mending balik aja. Balik jadi pacar atau jadi apa lah. Lha kalo udah putus, ngapain balik lagi? Pokoknya udah, one last time, that’s it. Kalo diterusin biasanya malah gak enak nanti.”

“Jadi beneran diambil saat kira-kira masih enak ya?”

Exactly!

“Mantap!”

“Mantap. Mantan tetap. Hahahaha!”

14

(cerita sebelumnya bisa dibaca di sini dan juga di sini)

Why not?

Kami berdua berdiri, beranjak dari rumput di pinggir kolam hotel. Sesekali kami mencuri pandang ke arah satu sama lain, lalu tersenyum dan tertawa kecil.

Satpam petugas jaga hotel membuka pintu menuju ke arah lift sambil mengucapkan selamat malam dan tersenyum ke kami. Kami mengangguk, membalas salam dan saya buru-buru menahan pintu lift sambil menunggu teman saya merogoh tasnya, mencari kunci kamar.

Argh. Clumsy me. Adam always takes care of this stuff, never me with my messy bag!”

Satpam menghampiri kami.

“Permisi. Lantai berapa?”

Sebelum saya menjawab, teman saya buru-buru berkata, “Lantai dua puluh lima.”

Satpam mengeluarkan kartu yang dia sentuhkan ke layar di lift, lalu menekan tombol angka 25 di layar. Dia mempersilakan kami masuk, dan lagi-lagi sebelum saya sempat berkata, teman saya berterima kasih kepada satpam tersebut.

All these years, and you never told me you can actually speak Indonesian?!”

Dengan aksen yang semakin dibuat-buat, dia berkata, “Satu, dua, tiga, apa kabar, belok kiri, terima kasih … Dude, I travel in this region a lot. I have to pick up a few words to get by. You have no idea that I was this close to saying “Sawadee kap” to the security guard just now. Then I realized where we are!”

Spontan saya tertawa keras, dan mau tidak mau dia ikut terkekeh.

Ding!

 

images

 

Pintu lift terbuka. Saya mempersilakan dia keluar lebih dulu.

Turn right, and … here we are. 2511. Dua puluh lima sebelas.”

Saya bertepuk tangan kecil. “Impressive!”

“Thank you!”

Saya berdehem. “Listen, I had fun tonight. And here I am, walking you to the door.

Ah, being a true gentleman, I see. And what made you think I’d invite you to my room?”

“Wait. I thought …”

“What, you thought …”

“I mean …”

“Aren’t you tempted?”

“You cheeky bloody bastard!”

Kami pun tertawa, sebelum kami sadar sedang di lorong lantai kamarnya, dan buru-buru mengecilkan suara.

I was teasing you! Oh God, you’re still so easy to be fooled!”

“Hey, hey. Watch out.”

“But seriously, thank you. It’s good to see you again after all these years.”

“And thank you for listening. Thank you for your story, too. It gives me hope that, well, maybe, and just maybe, romantic kind of love still exists after all.”

“Maybe? Love does exist. It does. Romantic kind of love, it’s present. If you haven’t been able to find one, get one or be in one, it’s not your time yet. This kind of thing, you can’t rush it.”

Saya mengangguk kecil sambil menghela nafas panjang. Saya tersenyum.

If it helps, well I don’t know if it does, but back then, I had a crush on you.”

Saya tertawa. “Really?”

 

83-837648_two-people-talking-icon-png-png-download-people

 

“Well, you’re the only foreigner in our batch. Not just a foreign exchange student, but a full-time foreign student. It’s not my fault or your fault that you have that extra quality by default.”

Saya masih tertawa. “Ahahaha … Pity crush, I see.

Dia masih tersenyum. “At first I thought so. But then, it was not.”

Saya terdiam sejenak. “Wait. Really? Oh wow.”

Dia menggangguk sambil tersenyum lebar.

Oh wow. I don’t know what to say. Thank you, for telling that to me almost twenty years later.”

“And I believe it was not mutual?”

“Well, being a rebel you were, you definitely caught my attention. Otherwise we wouldn’t end up being in the same group again and again all through our college years, would we?”

“Ha! Yeah, you’re right. And thank God the crush didn’t last that long!”

“I guess I’m sorry? But hey, it’d be weird if we ended up together!”

Kami tertawa.

But this kind of thing, I wouldn’t know if you didn’t tell me. You would think that I work and live surrounded by people who can express themselves freely, sometimes often being in-the-nose a little too much, I’ll get the same bug. Yet, when it comes to matters of heart, I am always tongue tied.”

“What makes it hard to say what you want to say?”

“I don’t know. I guess looking back, I am being selfish by protecting myself. I’m scared of getting hurt or being rejected, thus I stay silent. I’m terrified to make moves, thus I torture myself by overthinking. It’s funny. You do that when you have a crush on someone, yet you don’t do any service to the other person, the object of your affection. You don’t do anything to them. You’re busy meeting false need of yourself.”

Dia mengangguk. Pelan-pelan dia duduk di depan pintu. Mau tak mau, saya mengikutinya. Sekarang kami berdua duduk selonjoran di depan pintu kamarnya.

Remember earlier in the restaurant, you told me that the big, or one of the main reasons you came back was that you don’t want to be looking back in regret later when you turn 70, of not doing what you wanted to do?”

Saya mengangguk.

Now, do you want to look back in regret later when you turn 70, of not saying what you wanted to say to whoever the person or the people that you set your heart to?”

Saya tersenyum.

You really have a way with twisting words, don’t you?”

“As I said earlier, life experience happened. For sure I never regret telling Adam how much I love him, and how much I hate him the next day after I said I love him, only to tell him that I still love him.”

“Do you ever regret being with him?”

“If you ask me right now, the answer is no. If you ask me when I am down in misery, because he falls sick, or because I am sick, the answer is still no.”

“How come?”

“Because I know I will regret more if I keep wondering what would happen if I didn’t say yes to his proposal then.”

Saya menatap muka teman saya yang bersemu merah. Kami sama-sama tersenyum.

You know, I just realized, regardless if you’re 40 or 14, when it comes to getting your heart broken, the pain still lingers, if not feels longer.”

“That’s true.”

“And yet, you always crave for the feeling, of falling in, then falling out …”

“That’s also true.”

“Because we just want to be wanted. Be desired, be needed by the other person. We crave for the connection. I crave for that.”

Teman saya mengangguk. “I’m sure you’re familiar with the saying “everyone has their own battle”?”

 

27911

 

Giliran saya yang mengangguk. “And that’s how I see it sometimes. Some people find it hard to conceive a child. Some people struggle to make ends meet. Some people have disabilities of any kind. And I guess for me, the battle is to find a life partner.”

“And yet, you know what everyone has in common? They live. The live through the battle, fight until the fight becomes a habitual thing to do, every day.”

“And that means I have to keep swiping right?”

Dia tertawa. “Whatever the means, I don’t want you to give up. Cliche, but have faith. Someone is out there. You just need more time than others to find. But eventually you will.”

Saya menghela nafas.

There is something I haven’t told you yet.”

“Oh, boy. Here we go.”

 

#RekomendasiStreaming – Pilihan Tontonan Lebaran 2019

Kita sudah mahfum bahwa yang namanya Lebaran itu berarti liburan. Mau merayakan atau tidak, nyatanya hampir seluruh aktifitas kehidupan di sebagian besar wilayah Indonesia akan melambat atau berhenti sejenak selama Lebaran. Bisa seminggu, atau dua minggu. It’s great, though. Semacam ada tombol pause untuk menghentikan rutinitas sejenak.

Namanya juga sedang santai beristirahat tanpa melakukan kegiatan rutin, kadang-kadang kita tidak tahu apa yang harus dlilakukan untuk mengisi waktu luang. Tiba-tiba kita “mati gaya”. Sepertinya semua acara di televisi dan film di bioskop sudah ditonton, buku malas dibaca, IG stories sudah dibuka, dan linimasa media sosial sudah dilihat.

Saran saya? Tidur. Nothing beats sleeping. Apalagi semakin berumur, makin susah mendapatkan tidur yang berkualitas.

Dan kalau sudah cukup tidur, maka silakan melihat tontonan apa saja yang saya rekomendasikan untuk ditonton selama musim libur Lebaran tahun ini.

Kalau mau binge-watching, maka tontonlah serial …

Made in Heaven

made-in-heaven_46jz

 

Sepintas ceritanya sangat kekinian, yaitu dua orang anak muda mendirikan startup wedding organizer di Delhi, India. Cerita memang bergulir soal uniknya klien-klien mereka yang akan melangsungkan pernikahan. Tetapi yang membuat serial ini menarik untuk diikuti adalah dua karakter utamanya. Tara (Sobhita Dulipala) adalah perempuan ambisius yang berhasil menaikkan status sosialnya dari kalangan menengah ke bawah yang bekerja sebagai sekretaris, sehingga menjadi sosialita kelas atas dengan segala resiko kehidupan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Rekan bisnisnya, Karan (Arjun Mahtur), adalah pria lajang yang mati-matian mempertahankan gaya hidupnya, meskipun harus mengorbankan ego dan harga diri.

Kenapa serial ini menarik? Simply because the characters are real, and each episode is believable. Coret atau ganti kota Delhi dengan Jakarta, misalnya, dan kita akan melihat bahwa cerita dan karakter di setiap episode ini juga terjadi di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan menerimanya.

Serial yang berani, dan tidak judgmental sama sekali. Salah satu serial favorit saya tahun ini.

After Life

AAAABTg8oLTf-YcfkegxA4lWRTReWHwbgyBOSZ-Pz-ks7BPmQDzmQS8LbN1fGkFbxL4YStPV_cqdBTVn1nXEvIS00HRkrbsB1KvBuA

 

Berbeda mood dengan serial di atas yang gegap gempita, maka serial “After Life” ini mengalir dengan tenang, tidak buru-buru, dan cenderung kontemplatif. Namun suasana “kesunyian” itulah yang membuat kita tak bisa berpaling dari serial ini sedikit pun. Ceritanya memang sedih, yaitu cerita tentang Tony (Ricky Gervais) yang mengalami depresi setelah istrinya meninggal karena kanker. Usaha Tony untuk menjalani hidup, dengan segala clumsy yet very human efforts, yang menjadi benang merah serial ini sehingga menjadi serial yang akan membuat kita menitikkan air mata dalam diam. Terus terang ini adalah the biggest surprise in series tahun ini, so far, karena saya tidak menyangka komedian Ricky Gervais yang terkenal dengan acerbic wits yang cenderung mencemooh, bisa membuat tontonan semanis ini.

A Very English Scandal

A_Very_English_Scandal

 

Sedikit warning sebelumnya, kalau anda perlu mengutak-atik VPN untuk bisa menonton serial ini di Amazon Prime. Maklum, miniseri ini tidak masuk di Indonesia. Toh sedikit utak-atik ini worth doing, kok, karena serial ini akan membelalakkan mata kita. Diangkat dari buku berjudul sama, miniseri ini menghadirkan cerita yang nyaris absurd, diangkat dari kisah nyata Jeremy Thorpe, anggota dewan di Inggris dari partai Liberal, yang karirnya hancur karena skandal hubungan homoseksual dengan Norman Scott di Inggris di rentang tahun 1961 sampai 1976. Jeremy (dalam serial ini diperankan sangat baik oleh Hugh Grant) bahkan berkonspirasi untuk membunuh Norman (Ben Whishaw) yang akhirnya menyeret Jeremy ke pengadilan. Bahwa kisah ini terjadi sekitar 50 tahun lalu, namun masih terasa relevan sampai sekarang, menyiratkan sedikit alarming concern atas inhuman injustice yang sangat mungkin terulang dan terjadi lagi. Miniseri ini terdiri dari 3 episode. Sangat singkat, namun karena setiap episode dibuat laiknya film thriller, maka mau tidak mau kita juga deg-degan menontonnya.

Kalau perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial, maka film klasik ini bisa dijadikan pilihan:

84 Charing Cross Road

84_Charing_Cross_Road_poster

 

Tidak banyak film yang diproduksi sebelum tahun 2000 yang tersedia di video streaming platforms di Indonesia. Dari sedikit yang ada, salah satunya adalah film ini, yang diangkat dari buku bertajuk sama. Hampir sebagian besar film berisi voice over aktris Anne Bancroft yang membacakan surat yang dia tulis dari New York untuk penjaga toko buku di Inggris yang diperankan oleh Anthony Hopkins. Kisah mereka dimulai saat Helene Hanff (Anne Bancroft) mencari buku literatur yang tidak bisa dia dapatkan, dan hanya tersedia di toko buku milik Frank Doel (Anthony Hopkins) di London. Dari situ bergulirlah korespondensi mereka selama lebih dari 20 tahun, mengikuti perjalanan hidup masing-masing, tanpa pernah bertemu sama sekali.

Pertama kali saya menemukan film ini tidak sengaja, sekitar 15 tahun yang lalu. Jatuh cinta waktu menonton pertama kali, dan selalu menyempatkan menontonnya lagi setiap beberapa tahun sekali. Film ini sudah berusia lebih dari 30 tahun, namun tetap membuat hati kita terasa hangat saat menontonnya.

Paling tidak sudah membuat kita tersenyum.

Dan semoga libur Lebaran tahun ini meninggalkan senyum buat kita semua.

Akhirnya Pulang

(malam ke-28, Ramadan 1420 H)

“Kamu belum tidur?”

Andi mengadahkan kepalanya, lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Tanggung, sekalian kelarin unpacking ini. Kopernya ‘kan mau dipakai lagi lusa.”

Ali mengangguk kecil. Dia tersenyum. Bisa dibilang ini senyuman penuh kelegaan. Setelah dua tahun, akhirnya anak bungsunya mau merayakan Idul Fitri di hari pertama bersama-sama, bukan di beberapa hari setelahnya, seperti beberapa tahun terakhir ini.

Ali membuka pintu kamar anaknya lebih lebar.

“Ayah boleh masuk?”

Andi mengangguk.

Ali duduk di kasur anaknya, sambil merapikan baju-baju dari koper Andi.

“Tumben bawaan kamu agak banyak kali ini. Biasanya satu koper kecil juga masih ada sisa. Apa ini terusan kemarin kamu pergi kerjaan itu?”

“Iya. Sekalian aja, jadi gak perlu unpack lagi, terus packing lagi. Malah lebih capek.”

“Apa kamu gak perlu pulang ke rumahmu dulu?”

Deg. Andi terdiam sejenak. Oh God, don’t go there.

“Enggak, Yah. Nanti saja.”

Ali mengangguk kecil sambil menghela nafas, dan memaksakan tersenyum. Lalu dia melihat sekeliling kamar Andi. Lebih tepatnya, yang dulu menjadi kamar Andi. Sekarang kamar ini menjadi tempat penyimpanan barang sementara, terutama barang-barang milik almarhumah istri Ali yang masih sayang untuk dibuang.

“Kamu nggak papa ‘kan, kamar kamu jadi tempat Papa taruh barang-barang Mama kamu?”

Andi tersenyum. “Ya nggak papa lah, Yah. Daripada kamar ini nggak dipakai sama sekali. Lagian barang-barang almarhumah Mama ternyata banyak juga, ya.”

Almarhumah Mama. Dua kata yang buat Ali masih belum biasa buat diterima, meskipun sudah lebih dari lima tahun. Tapi jangan permasalahkan ini sekarang, ujar Ali dalam hati.

Andi melihat sekeliling kamarnya. Lalu dia melihat ke sebuah pigura foto di meja tulis. Foto hitam putih dalam pigura kecil warna coklat. Tertulis di bawah foto itu, “Ali & Nana, Auckland, 1973.” Andi berdiri dan mengambil foto itu.

“Aku kok gak pernah lihat foto ini ya, Yah.”

Andi menyerahkan foto itu ke ayahnya. Ali melihat dan tertawa kecil. “Ini waktu liburan musim panas. Ayah baru kenal Mama kamu di sana. Biasa, kalau di luar negeri, radar kita pasti tahu kalau ada orang Indonesia lain. Apalagi waktu jaman itu ‘kan.”

“Ayah, I have to say, you two really looked cool back then.”

Ali tertawa. “Ya kalau masih muda, bolehlah keliatan cool. Kalau sudah tua, mau keliatan cool malah kayak cool-kas nanti.”

“Idih, Ayah apaan sih garingnya.”

Ali masih tertawa.

Andi ikut tertawa, sebelum sengaja batuk kecil. “Yah, umm … Can I ask you something?”

Ali berhenti tertawa. “Apa, Ndi?”

How are you?”

Ali terdiam sejenak, sebelum berkata, “Ayah baik-baik saja, Ndi.”

I mean … Do you miss her?”

Ali tersenyum. “Ayah selalu kangen, rindu sama Mama kamu, Ndi.”

Andi mengangguk, tersenyum, memikirkan apa yang harus ditanyakan, sebelum akhirnya dia bertanya, “Boleh tahu, apa yang Ayah paling kangenin dari almarhumah Mama?”

Kali ini Ali diam lebih lama. Kepalanya sedikit menengadah ke atas, melihat langit-langit kamar.

tiger-hill

“Semuanya, Ndi. Ayah kangen masakan Mama kamu, ayah rindu jadi imam buat sholat bareng sama mama kamu, ayah juga kangen jalan-jalan sama mama kamu kalau lihat album-album foto lama. Tapi dari semua itu, ayah kangen pulang ke rumah. Ayah kangen ada orang di rumah saat ayah pulang dari masjid atau dari toko. Ayah juga kangen menunggu mama kamu datang dari pasar, dari pengajian, dari arisan. Itu, Ndi.”

Andi tercenung. Tanpa disadari tangannya mencengkeram kursi di meja tulis erat-erat. Ingatannya melayang ke beberapa hari sebelum dia melakukan work trip, di saat dia memilih pergi dari rumahnya daripada harus berkonfrontasi.

That’s nice. That’s nice, Yah. Tapi … apa Ayah pernah bosan di rumah dengan almarhumah Mama? Sorry Yah, but I mean … don’t you guys ever have a fight, or something?”

Ali tersenyum. “Ingat, Ndi, dulu kita beberapa kali pergi berdua, tanpa kakak-kakakmu, kita pergi ke taman bermain? Lalu setelah pulang, ayah selalu belikan buku baru buat kamu, supaya kamu bisa baca di mobil atau di masjid, sementara ayah pergi sebentar?”

Andi mengangguk.

“Saat kamu di mobil atau di masjid itu, ayah biasanya pergi sejenak. Makan sendiri di restoran. Duduk di taman. Ayah perlu waktu sendirian. Terutama kalau setelah ayah beradu argumen dengan mama kamu. Ayah tulis semua kekesalan ayah dengan mama kamu. Tapi ayah tetapkan waktu tidak mau berlama-lama. Ayah tahu kamu biasanya selesai membaca dalam waktu setengah jam, jadi ayah harus selesai menulis semua kekesalan ayah dalam waktu setengah jam juga. Tidak gampang, Ndi, di awalnya. Lama-lama jadi kebiasaan juga. Lama-lama juga, ayah dan mama kamu sudah bisa mengendalikan emosi. Perlu waktu, memang. Dan kamu tahu kenapa ayah cuma punya waktu setengah jam menulis semua kekesalan itu?”

Well, you needed to return me home ‘kan, yah?”

“Dan ayah perlu pulang juga. Sebesar-besarnya ayah dan mama kamu cekcok, ayah dan mama selalu pulang ke rumah. Kalau masih marah, sebisa mungkin ditahan dulu. Ayah dan mama dulu sepakat, kalau masih marah, bisa dilanjutkan besok. Malamnya harus tidur bersama, dan tidak membawa kemarahan ke atas kasur. Tidurnya nggak tenang. Baru setelah bangun esok pagi, ada energi baru. Kalau masih marah, boleh dilanjutkan, selama nggak lebih dari 3 hari. Kalau malas dilanjutkan, toh masih banyak yang harus dikerjakan.”

Andi hanya mengangguk.

“Ndi, kalau ada orang yang menunggu kita pulang ke rumah, artinya kita masih dibutuhkan dan diperlukan keberadaan kita. Kalau kita berada di rumah menunggu orang pulang, artinya kita masih punya sesuatu yang diharapkan atau dituju. Atau di istilah yang pernah ayah baca, something to look forward to each and every day. Kesempatan ini ternyata tidak selalu ada, Ndi. Kalau ada, jangan sampai disia-siakan. Kalau belum ada, kamu harus tetap percaya kalau kamu akan punya kesempatan ini, Ndi.”

Andi terdiam. Matanya mulai berat menahan luapan emosi.

Ali menghela nafas panjang. Lalu dia berdiri.

“Ayah tidur dulu ya, Ndi. Besok masih sahur.”

Andi mengangguk, menutup pintu. Dia duduk di atas kursi dekat meja tulis. Tangannya mengusap-usap bagian atas bibir, sambil berpikir.

Andi mengeluarkan ponsel yang telah selesai di-charge. Dia mulai mengetik.

I am sorry. Can I still come home to you?”

Andi menekan tombol Send. Andi menghela nafas panjang, lalu menutup muka dengan kedua tangannya.

Lima menit kemudian, ponsel bergetar. Andi melirik ke notifikasi di layar ponsel.

Andi tersenyum.

 

Returning-Home

Curiosity (Tidak Selalu) Kills the Cat

— seperti yang pernah saya tulis di blog pribadi ratusan tahun yang lalu —

“So.”

“So.”

“How was it?”

“How was what?”

“Was it good?”

“What do you think?”

“Was I good?”

“How do you want me to answer that?”

“Can’t you think of anything?”

“After what just happened, can you?”

“It was pretty something, right?”

“I know, right?”

We laugh.

“What about you?”

“What is about me?”

“How do you feel?”

“Why don’t you tell me?”

“Are you okay?”

“Are you okay?”

“Is it okay then to say that we are okay?”

“Is there a “we” now?”

“Do you want to file a motion against that?”

“Is it something worth doing?”

“What is worth doing to you then?”

“Why don’t you find out?”

“Is that an invitation?”

“Why don’t you just accept?”

“What is the risk?”

“What is life without taking a risk of not knowing anything ahead?”

“Is that how you describe this whole thing?”

“What whole thing?”

“What do you think has happened?”

“Why the questions are getting longer and more complicated?”

“Why do you keep answering my questions with questions?”

“Why do you still continue doing that?”

“Why do you think I keep up with you?”

“Why do you think I keep up with you?”

We smile.

“How long can we do this?”

“How about one day at a time?”

We are still here.

“So.”

“So.”

(From Twitter)

We See Before We Feel

Ini adalah tulisan lama saya, yang pernah saya unggah di sebuah aplikasi jejaring sosial yang sudah tutup. Ada gunanya juga dulu acap kali menulis status yang panjang-panjang, karena saat tidak ada ide untuk menulis di blog, bisa mendaur ulang status-status lama.

Tentu saja tidak semua status masih layak ditampilkan kembali. Perlu sedikit polesan untuk membuatnya up-to-date. Maka berikut ini status lama tersebut yang sudah saya poles sedikit:


As I walked down on escalator, I saw two people in front of me giggling to each other. They randomly pointed at things shown in window displays of some random stores on the floor. Their body languages and facial expressions seem to suggest they’re at the beginning of a romantic relationship.

Funny. I did not smirk. Nor putting on my cynical stare. I could not help but smiling. Just a little smile. I don’t want them to see me smiling at them. I find their brief affectionate display to each other cute.

At that quick flash, I realize that we may be in dire need of love. Right now, at the current state of the world we live in, it could not be any easier to surrender to hatred, pessimism, or loathing.

Life is hard, and it is even harder right now. Especially for us who choose to live our lives freely, thus deemed to be slightly different.

Yet, I am surrounded by people in love. My friends already celebrate their 10th, 12th, 6th anniversary of their relationships. Those who are still single, they do not give up, and they are more than being fine. Those who have been involuntarily single after exiting long-term relationships, they do not give up, and they take their time to be back and up again.

Hey, that’s purely my observation. Eyes can be deceiving, or eyes can be telling the truth.

I often smile looking at and reading their posts that show their affection to one another. I often laugh reading their internal jokes, despite my lack of understanding.

Maybe that’s what we need to have a tiny assurance that life is still worth living. That love is all around.

Love, that we may not experience on our own.

But seeing others having and showing their love, that already gives us hope.

(Taken and nurtured by yours truly.)

(Amazing how not getting a ticket to watch a film can do to you. Who are these people filling up an entire cinema on Wednesday night?! Bloody hell! Your grandpa’s cinema. Bioskop e mbahmu.)

Mencegah Hampa

What is left after the party ends?

Beberapa tahun lalu, saat usai mengerjakan sebuah event internasional yang menguras banyak tenaga, salah satu anggota pengurus festival ini datang untuk memberikan ucapan selamat kepada saya. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan gambaran singkat tentang hasil acara, beliau berkata kepada saya, “Now you need to make sure how to fill the void afterwards.

Waktu itu saya hanya tersenyum, sambil setengah bingung dengan apa yang beliau maksud. Baru beberapa tahun kemudian, pelan-pelan saya mulai paham.

Belasan tahun saya berkecimpung di profesi yang mengharuskan saya dan tim bekerja keras selama berbulan-bulan untuk membuat acara dalam hitungan hari dan minggu, terus terang ada perasaan “kosong” saat acara berakhir. Mendadak ada gap atau kekosongan dalam diri yang menyeruak dan memaksa kita untuk deal with it immediately. Sebuah perasaan yang terus terang tidak enak dijalani, terlebih karena selama berminggu-minggu sebelumnya selalu berinteraksi dengan banyak orang secara intense. Ada yang bilang, namanya post-event blues. Sekarang mendadak harus sendirian lagi, kembali ke rutinitas lama lagi.

Perasaan ini dirasakan juga bagi mereka yang mempersiapkan pernikahan, acara kumpul keluarga besar, reuni akbar, atau jenis acara lain yang memerlukan persiapan dalam waktu lama bersama banyak orang. Setelah acara usai, semacam ada kehampaan, sekaligus rindu yang mendadak akan rutinitas dalam kebersamaan.

Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Well, ini adalah versi saya selama ini.

Tidur. That’s the first thing to do right after the big event ends. Berhubung saya tidak terlalu suka suasana pesta, kalau memang terpaksa harus datang ke post-event party, maka datang seperlunya saja, yaitu meluangkan waktu sebentar untuk “setor muka”.

Setelah itu, kembali lagi ke tujuan utama, yaitu tidur. Apabila perlu, check-in ke hotel dekat tempat acara. Jangan di tempat acara, karena pasti tidak tahan untuk mengurus hal-hal kecil terkait acara kita di sana.

Lalu batasi komunikasi dalam 24 jam ke depan. Pasti gampang sekali tergoda untuk berbagi candaan, foto-foto di grup WhatsApp atau aplikasi obrolan lainnya bersama teman-teman kerja. Sebaiknya cukup chat seperlunya saja, seperti “Thank you all!“, atau “See you pas pembubaran panitia, ya!” Berhubung kita tidak mungkin mematikan ponsel (karena kita perlu pesan makanan dan bayar lewat aplikasi, bukan?!), maka gunakan ponsel secukupnya saja.

Ini termasuk tidak membuka email kerjaan untuk sementara waktu. Silakan atur waktunya sendiri, bisa 12 jam setelah kita bangun tidur, atau mau 24 jam setelahnya juga tidak apa-apa, selama kita bisa mengatur ritme kerja kita. Work can wait, proper rest cannot.

Yang belum saya bisa lakukan adalah log out sementara dari media sosial. Seharusnya ini pun bisa dilakukan, karena godaan untuk selalu update masih ada di lain waktu.

Yang bisa saya lakukan untuk mengistirahatkan pikiran setelah tidur cukup adalah membaca buku yang tidak terkait pekerjaan saya, menonton serial yang tertunda, mendengarkan musik dan menghabiskan waktu untuk benar-benar tidak memikirkan urusan lain yang belum beres.

Dan 24 jam kemudian, baru kita mulai membereskan dan merapikan lagi apa yang tersisa, sambil pelan-pelan back to reality dan bekerja lagi.

We all need rest in order to work.

Selamat bekerja!

For 40

People say, “age is nothing but a number”. I say, that’s a bull.

Hari ini, umur saya genap mencapai 40. Jujur, perasaan yang berkecamuk di diri saya menjelang tibanya hari ini adalah I am scared.

Apalagi saya ingat betul, apa dan bagaimana ayah saya saat beliau berusia 40 tahun. Selain dia sudah punya anak lebih dari satu saat itu, lalu sudah menikah dengan ibu saya, yang mana kedua hal ini memang menjadi pilihan hidup yang tidak akan saya tempuh, tapi ada hal-hal lain yang rasanya belum bisa saya capai, sementara beliau (seperti) sudah mencapainya.

Kedewasaan, kematangan, ketenangan dan kesejahteraan saat umur sudah mencapai titik tertentu, rasanya masih jauh dari genggaman.

Of course we cannot stop comparing and looking up to our parents, can we?

Di sisi lain, saya sadar, kami hidup di dekade yang berbeda. Apa yang saya telah jalani selama ini, belum tentu beliau jalani. Dan itu mempengaruhi jenis pencapaian yang saya rasa sudah, belum, akan dan tidak akan saya capai. Yang juga terpengaruh adalah cara pikir dan cara memandang hidup.

Dan dari sudut pandang kedua hal itulah, maka saya mau berbagi 40 hal yang saya percayai, jalani, kadang-kadang saya hindari, sesekali saya curi dari sumber lain, dan beberapa yang saya tunggu, buat Anda:

 

1. It’s not about how much we make. It’s always about how much we save.

2. Write down your thoughts. They may be silly, they may be simple, but your memory and brain will thank you for doing that.

3. Physical exercise saves our life. This is coming from a guy who hates sports for 25 years of his life.

4. Listen to all kinds of music in formative years. You will reminisce each one of them later on with fond memory.

5. Try your hand at doing service jobs. Being a shop attendant, being a waiter or waitress, being a customer service, do it when you can. You will appreciate other people better.

6. Religion is a very personal and private matter. Don’t shout, yell, or show off your private conversation with your god.

7. Education, education, education. You can tell a lot about a person’s education from the way they write email and converse with you, or how they behave.

 

IMG_3606

 

8. Own a house before vehicle.

9. Start a day with water, end a day with water.

10. Spare time to read a well-written novel. Our brain always needs stimulation to fantasize.

11. Everybody loves movies. That’s why there’s always endless possibilities with, “What’s your favourite movie?”

12. Everybody has many favourite movies. Never judge them. Find out why they are appealing to them.

13. You may flaunt, but leave a lot to imagination. It will make people wonder more.

14. Forgiveness, asking for or accepting, is hard. One day at a time.

15. Lust does not last. Love does.

 

IMG_0785

 

16. When you fall in love hard, you will fall out love equally hard. You may not be prepared for the latter, but always realize this.

17. Keep a hobby that makes your mind occupied, and beams your face with smile.

18. Cashless may be convenient, but always keep spare cash at home. Piggy bank with coins always comes to rescue you at many unexpected times.

19. Eat to live, not the other way around.

20. Friends do come and go. Memories of all kinds with them will stay.

21. Renovate your house every 5 years. It will do wonder to your life.

22. Never make a life-changing decision when you are angry or happy.

 

IMG_3092 copy

 

23. Poker face is the go-to expression in any circumstances.

24. Treasure each moment when you lose your sleep over someone, when you cannot stop thinking of someone. Those moments never come back.

25. Send someone a hand written letter. You will make them smile.

26. Your friends, parents, loved ones will forget your birthdays, anniversaries, skip your big moments. Never make a big deal about it.

27. Virtual followers will come and go. Don’t hold on to them too dearly.

28. To write is to preserve our mind and memory. Keep doing it regularly.

 

IMG_0363 1

 

29. Hate is a very strong word. Use it when we already run out of other words.

30. Listen to music. It says words we cannot say.

31. You may not be wealthy. But you know how and where to earn money.

32. We don’t need much to live.

33. If you cannot find happiness, try sleeping at night for 8 hours. Do it at least for 3 days.

34. People share their stories to us not to seek any solutions. They just want to be heard. We just want to be heard. So we listen.

IMG_3097

 

35. Allergies, never-before-contacted diseases, they start knocking on our door in our 30s. Welcome them. Embrace them.

36. Once we do a good deed, immediately forget about it.

37. These following words matter the most: “Thank you”, “I’m sorry”.

38. There is a thin line between being kind and being firm. You don’t have to explain to others every time.

39. Our parents have only one chance to raise and love us the best ways they know how.

40. We do not know anything at all. We never will. We can only keep figuring out. That’s why we live.

IMG_1301

 

Selamat menjalani hari.

 

Pas Kita Dirampas, Jangan Sampai Kehilangan Napas

Berhubung sudah lewat lebih dari sebulan, maka sebaiknya saya cerita saja di sini.

Pada bulan Februari lalu, saat work trip ke Berlin, saya dicopet.

Kejadian ini berlangsung di suatu sore hari yang cerah, meskipun cuaca sedang cukup dingin. Saya memutuskan untuk mengambil waktu rehat sejenak dari serangkaian meetings dan screenings. Saya pergi ke seberang tempat pemutaran film untuk mendatangi beberapa toko. Siapa tahu ada barang yang menarik untuk dibeli.

Lalu saya memutuskan pergi ke toko buku. Di depan toko buku, dua pria dengan fitur muka khas orang Timur Tengah mendekati saya.

“China? Japan? Thailand? Vietnam? Malaysia?”

Saya menggeleng sambil tersenyum dan mengatakan, “Indonesia”.

Mereka berkata, “Ah, Indonesia.”

Lalu mereka menanyakan apakah saya turis di sini, dan beberapa pertanyaan lain yang terus terang agak malas buat saya untuk menanggapinya.
Mereka mendekati saya untuk berbicara lebih dekat. Nothing to lose, pikir saya. Toh saya tidak ada rencana lain.

Setelah ngobrol sebentar, mereka beranjak pergi. Saya masuk ke dalam toko buku. Belum ada semenit saya mendorong pintu masuk, tangan saya menepuk kedua saku celana di depan, memastikan ada kunci di kantong kiri, dan ponsel di kantong kanan. Ini kebiasaan yang saya lakukan setelah turun dari kendaraan, baru beranjak dari tempat duduk, atau masuk ke tempat baru.

Lalu saya menepuk kantong belakang, tempat dompet saya. Kantongnya kempes. Tak pikir panjang, saya keluar dari toko buku, berjalan dengan cepat. Saya lihat dua orang tadi masih berada di depan toko buku, memegang dompet saya dan membukanya.

Secara refleks tanpa memikirkan apa pun sama sekali, saya menghampiri mereka. Saya bilang dengan suara yang tinggi, tapi tidak teriak, “Hey, you’ve got my wallet there!
Saya dekati, saya ambil dompet itu, lalu saya masuk lagi ke toko buku.

Semuanya terjadi secara cepat, hanya dalam hitungan detik. Saking cepatnya, setelah masuk ke toko buku, saya berdiri, terdiam, mengambil nafas panjang sambil membatin, “What the hell just happened there? What did I just do?

Sembari menenangkan diri, saya melihat-lihat deretan buku tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya sedang saya lihat. Suasana toko buku tidak terlalu ramai, tapi ada cukup banyak orang, sehingga saya sempat berpikir, kalau dua orang pencopet tadi masuk, tinggal make a scene di toko buku ini.

Saya membuka dompet. Tidak ada kartu ATM atau identitas diri yang diambil. Sepertinya ada lembaran uang yang diambil, tapi saya tidak terlalu memerdulikan ini. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa buku, hitung-hitung sebagai buang sial.

And guess what? I just smiled and even laughed after the robbery.

talent-thieves

Mungkin lega karena dompet bisa diambil dalam keadaan (nyaris) utuh. Atau saya sedang menertawakan nasib, karena tragedi ini terjadi sekitar sebulan setelah ponsel saya dijambret di depan apartemen, yang menyebabkan saya terjatuh saat mengejar penjambret di bulan Januari. Atau saya sedang ingin tertawa saja.

Entahlah. Yang pasti saya pun kaget, karena tiba-tiba saja saya jadi berani untuk mengambil apa yang memang jadi hak milik saya, yang terampas begitu saja di depan mata.

I guess it’s true what people say, that you don’t know your real power, or bravery, until you are put in an unlikely situation.

Teman saya berkomentar, “Elo ternyata punya kecenderungan untuk mengkonfrontasi langsung ya.”

Saya tertawa, sebelum menjawab, “Nggak tahu juga ya. I only need to do what I have to do, to take what’s rightfully mine.

Intuition never fails, baby.

Sepandai-pandainya Kita Berencana, Kalau Ada Bencana, Semua Jadi Wacana

Saya mau tanya ke kalian, pernahkah berada di situasi seperti ini:

“Merasa sudah familiar dengan pekerjaan yang dihadapi, apalagi ini bukan kali pertama mengerjakannya, X sudah mempersiapkan diri dan merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Sampai ke rencana untuk mengantisipasi seandainya ada error atau kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaannya. Lalu saat mulai melaksanakan pekerjaannya, tiba-tiba ada jenis kesalahan atau kecelakaan yang belum pernah diantisipasi sebelumnya. Padahal X sudah merasa telah mengantisipasi semuanya, going through every possible worst case scenario berdasarkan pengalaman yang sudah dihadapi bertahun-tahun, bukan sekadar teori atau pengamatan saja.”

Pernah? Tidak harus persis sama sih kejadian yang dialami, tapi pernah mengalami kejadian seperti di atas?

Kalau belum pernah, bersyukurlah, karena hidup anda aman, mungkin sejahtera dan sentosa.
Kalau pernah, welcome to the club. Soalnya saya sedang berada dalam posisi itu.

Proyek yang saya lakukan sekarang bukanlah jenis proyek yang asing. Sepanjang saya bekerja, jenis work project seperti ini yang paling sering saya kerjakan.
Namun ternyata, segala macam bentuk antisipasi yang sudah saya siapkan, mendadak terasa basi saat berbagai kejadian kurang enak terjadi. Dan bukan hanya satu, namun datang bertubi-tubi, hampir setiap hari tanpa henti.

Terus terang, saya sempat merasa kewalahan dan keteteran. (Eh, ini sama saja, bukan?)

It seems that when a thing goes wrong, everything eventually goes wrong.

Ditambah lagi, saat kita sedang dilanda masalah dan tidak tahu cara penyelesaiannya, kita cenderung mudah panik, dan pikiran menjadi kalut. Kita tidak bisa berpikir jernih. Karena pikiran tidak jernih, maka emosi kita mudah naik dalam melihat hal-hal lain, yang sebenarnya tidak terkait dengan masalah yang kita hadapi.

What to do then? Ask for help.

employee-suffering-work-related-stress

Bukan perkara mudah buat saya untuk meminta bantuan, karena saya lebih terbiasa bekerja sendiri. Namun saat hati dan pikiran sudah “mentok”, maka mau tidak mau, kita meminta bantuan. Terlebih lagi kalau pekerjaan yang dilakukan adalah proyek yang melibatkan orang lain, maka kita memang sudah sepatutnya meminta bantuan orang lain di proyek tersebut. Apalagi kalau proyek tersebut punya tujuan menghasilkan sesuatu yang memang akhirnya akan dinikmati bersama.

You cannot put up a building by yourself. It takes a village, an army of people to do so. Let each one of them do their part, jangan kemaruk diborong semua.

Dulu, waktu saya kecil, saya sering menemani ayah saya pergi ke dokter. Kalau dokter cerita bahwa dia kesulitan mendiagnosa pasien, karena jenis penyakitnya tidak dia ketahui atau tidak bisa dia temukan di diktat panduan, ayah saya suka tertawa sambil berkata ke dokter tersebut, “Itung-itung biar tambah pinter lagi, dok. Kan jadi belajar hal baru. Ya naik kelas, lah.”
Dokter biasanya ikut tertawa.

Dan memang setiap kesulitan yang kita hadapi, memang sebaiknya dihadapi dengan senyum atau bahkan tawa saat kita bisa menyelesaikannya. Consider ourselves upgraded.