Kado

Semalam, saya mampir ke toko buku dalam perjalanan pulang. Tidak ada rencana sebelumnya untuk mengunjungi toko ini, meskipun sudah lama saya tidak pergi ke sana. Tidak ada niat pula untuk membeli buku baru, karena masih ada beberapa buku yang belum sempat dibaca.

Makanya saya melangkahkan kaki ke bagian perlengkapan alat tulis, alat-alat elektronik dan pernak-pernik lainnya. Melihat rangkaian barang yang dipajang, mulai dari pulpen sampai jam tangan, mulai dari buku catatan sampai tas sekolah, sontak saya tersenyum sendiri.

Tiba-tiba saja pikiran saya teringat kembali saat masih di bangku sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu. Seorang sahabat saya waktu itu selalu mengajak saya untuk mencari kado buat pacarnya. Mereka memang sudah pacaran beberapa bulan saat kami baru masuk sekolah itu. Sampai kami lulus pun, mereka masih pacaran. Jadi bisa dibayangkan, setidaknya ada tiga kali ulang tahun di mana saya harus menemani sahabat saya mencari kado yang “sempurna” untuk pacarnya. Belum lagi anniversary, atau momen-momen lain di mana secara mendadak teman saya memutuskan untuk memberikan sesuatu barang buat pacarnya.

Sampai-sampai saya sendiri yang kadang harus mengingatkan untuk mencari kado.

“Sudah bulan November, nih!” (Ini berarti ulang tahun pacarnya.)

“Sudah mau bulan Agustus ini!” (Ini berarti ulang tahun pacaran mereka.)

Berhubung saat itu saya tinggal di kota yang tidak sebesar tempat tinggal sekarang, maka pilihan pencarian kado kami cukup terbatas. Tak jarang kami menghabiskan waktu hampir seharian, mulai dari jam 10 pagi saat toko-toko baru buka, sampai jam 7 malam, saat kami kelaparan karena skip makan siang. Tak jarang pula pada akhirnya kami malah kembali ke toko yang pertama kali kami tuju, karena setelah pergi ke toko-toko lain, tidak ada barang yang sesuai. Harap diingat juga, isi kantong pelajar tidak bisa memberikan kami banyak pilihan juga.

Kadang-kadang, meskipun bercanda, saya sempat kesal juga, dan berkata ke teman saya, “Tiap tahun kita selalu kayak gini, ya? Gak capek apa? Lagian dia pasti terima apapun kado dari kamu. ‘Kan dari pacarnya. Kamu kasih sendal jepit beli di warung terus kamu ukir nama dia pakai silet, juga pasti diterima!”

crop380w_istock_000016975754xsmall

 

Teman saya tertawa, dan saya pun tertawa. Meskipun kami tidak pernah melakukan hal itu, kami sadar bahwa sebenarnya yang menyenangkan adalah proses mencari barang tersebut. Itu satu hal. Looking back, ternyata proses mencari kado ini semacam road trip murah buat dua pelajar dengan kantong pas-pasan saat itu.

Hal lain yang menyenangkan, tentu saja melihat reaksi orang yang menerima kado pemberian dari orang yang disayang.

Tentu saja saya tidak pernah tahu reaksi pacar teman saya saat menerima kado-kado tersebut. Ya masak saya ikut? Tentu saja saya juga tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah kami cari selama tiga tahun di bangku sekolah tersebut. Saya pun tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah saya berikan kepada dan terima dari mantan-mantan pacar.

Yang akhirnya saya ingat cuma rasa. Rasa senang saat berusaha mencari tahu, barang apa yang kira-kira pas untuk orang lain. Rasa kesal saat terus mencari tanpa henti. Rasa senang saat akhirnya kita tahu apa yang kita mau, dan bisa mendapatkan barang tersebut. Rasa deg-degan saat membungkus kado, dengan banyak harapan dan rasa deg-degan membayangkan reaksi apa kira-kira yang didapatkan nantinya. Rasa lega saat reaksi tersebut sesuai dengan yang kita bayangkan.

Dan itu sudah cukup menjadi kado buat diri kita sendiri.

c7d021_c428781b9407436c986c4ad9ed24debf_mv2

Advertisements

Hope for the Best, Prepare for the Worst

Kata-kata yang menjadi judul di atas saya temukan pertama kali di sebuah buku tulis yang saya beli waktu duduk di bangku sekolah. Saya terkesan sekali dengan kata-kata tersebut, sampai sering sekali saya gunakan di berbagai kesempatan.

Waktu “digojlok” menjadi siswa baru, saya selalu menulis kata-kata tersebut di tulisan yang harus kami buat setiap harinya untuk diserahkan ke kakak-kakak kelas yang “menggojlok” kami. Waktu dicurhati teman, entah berapa kali saya menggunakan kata-kata ini sebagai salah satu tanggapan saat ditanya, “What do you think I should do?”

Demikian pula di kehidupan nyata. Acap kali saya sering menemui kejadian, di mana saya sudah berharap akan mendapat sesuatu, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Waktu sedang menulis tulisan yang sedang anda baca ini, misalnya. Saya memilih kedai kopi ini dengan harapan bisa mendapat tempat duduk yang dekat colokan listrik, eh ternyata tempat itu sedang ramai dengan keluarga yang sedang berlibur. Alhasil, saya duduk di tempat lain, sambil berharap rombongan keluarga ini segera menyelesaikan kegiatan mereka di meja tersebut.

Tentu saja saat saya sedang menulis ini, pikiran saya melayang ke ibu kota Indonesia yang sedang dirundung kemalangan. Musibah banjir ini bisa dibilang yang terberat yang pernah dialami, karena hanya dalam hitungan jam, hujan deras mampu meluluh lantakkan pergerakan seluruh kota, dan mengakibatkan beberapa korban jiwa.

Saat ini saya berada di luar Jakarta. Tapi pikiran saya tidak lepas ke teman-teman, lingkungan sekitar dan rekan-rekan lain yang sedang bertahan hidup. Termasuk pula beberapa orang yang baru saja kembali dari liburan akhir tahun. Siapa yang menyangka, saat pulang dari liburan, harus menghadapi kenyataan yang mengenaskan? Siapa yang menyangka juga, liburan harus berakhir dengan genangan?

Tidak ada yang menyangka kapan musibah datang menimpa kita, meskipun kita sudah menyiapkan diri sebaik mungkin. Dan atas pemikiran inilah, saya meyakini bahwa saat kita hope for the best, sebenarnya secara otomatis kita sedang prepare for the worst. Dalam diam kita, kita berdoa dan berharap, sambil otak terus berpikir untuk mempersiapkan diri. We hope by preparing. Mempersiapkan mental, mempersiapkan perasaan, mempersiapkan fisik, mempersiapkan materi, dan segala jenis persiapan lain.

Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan duka cita buat semua korban peristiwa banjir awal tahun 2020 ini. Untuk mereka yang harus berpisah dengan orang-orang tercinta, saya ikut berdoa, semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Untuk mereka yang terpaksa merelakan harta yang telah dimiliki dengan jerih payah sekian lama, saya ikut berdoa, semoga akan ada pengganti yang lebih baik. Untuk yang masih bertahan, semoga kita semua bisa terus bertahan, membantu sama, dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan apa pun.

We never know what the future brings. We can only hope for the best, and prepare for the worst.

Melihat (Kembali)

Setelah riuh rendah Natal berlalu, biasanya kita langsung terpaku. Tak perlu lama-lama, biasanya juga persis sehari sesudah Natal, kita mulai terpaku, termenung atau melamun. Memikirkan apa-apa saja yang sudah terjadi dan berlalu sepanjang tahun. Mumpung malam perayaan tahun baru masih kurang dari seminggu.

Banyak orang bernafas lega bisa survive di tahun 2019. Tahun politik yang gaduh, sangat gaduh sehingga memecah belah persatuan, persaudaraan dan persahabatan banyak orang. Nyatanya, yang dibela mati-matian tetap saja melenggang. Memberikan dampak kecil bagi kehidupan kita.

Banyak juga yang mengaku menyerah, habis-habisan di tahun 2019 ini. Sudah banyak yang dikorbankan untuk urusan bisnis, keluarga, pekerjaan, pasangan hidup, maupun lain-lain yang ternyata tidak membuahkan timbal balik yang sudah dibayangkan atau direncanakan.

Saya memasuki umur baru yang cukup signifikan di tahun 2019 ini. Terus terang, sempat “jiper”. Ketakutan saya tertutupi oleh kesibukan yang kebetulan bertepatan dengan hari umur baru saya dimulai. Maklum, di usia baru, yang sering diimbuhi dengan kata-kata di awal “life begins at …”, membuat saya banyak berpikir, mulai dari “Am I really here?”, sampai “What have I done up to this age that made me proud?”

Jawaban pertanyaan kedua ternyata masih dicari. Dari sekian pemikiran, belum ada yang “ajeg”. Mungkin malah tidak ada pernah ada jawaban yang pas, karena pasti ukuran kepuasan itu selalu berubah-ubah, atau berevolusi mengikuti perkembangan waktu.

Namun perubahan lain yang cukup signifikan yang saya rasakan tahun ini adalah hidup berkecukupan. Tidak, saya tidak mendapatkan kenaikan penghasilan yang melonjak tajam. Untungnya, tidak sampai turun tajam pula. Tapi saya merasa mulai hidup berkecukupan.

Alias, living enough.

Pada akhirnya, mulai tahun ini saya bisa merasa cukup dengan apa yang saya miliki. Terutama dari segi materi. Tidak merasa kurang kalau belum memiliki barang baru, karena yang sudah dipunya masih bisa berfungsi baik. Tidak merasa kurang kalau belum menyiapkan cadangan ekstra, terutama makanan, karena toh tinggal sendiri, sehingga cukup menyediakan makan untuk seorang diri. Tidak perlu buru-buru beli buku yang lagi diskon di Kindle, karena masih banyak buku yang belum sempat dibaca. Tidak perlu buru-buru subscribe streaming platform yang lain, karena pada akhirnya waktu juga yang menghalangi kita untuk menonton banyak film dan serial.

Dan tidak keberatan hidup sendiri, serta pelan-pelan menerima dan mengatasi kesendirian seorang diri.

Sounds simple? Trust me, it is far from simple. It is hard at times, and it is still hard at times.

Saya pun masih berjalan pelan, sangat pelan malah, untuk mulai merasa cukup ini. Kadang-kadang masih muncul keinginan-keinginan untuk memiliki yang sebenarnya we just want to have, not we need the most. Biasanya saya sengaja ambil waktu lama untuk mengambil keputusan, sambil berpikir, “Is it necessary?”

Saya pernah membaca, dan saya lupa pula sumbernya di mana, tentang seorang pengulas gawai terbaru, yang ditanya, “What is the best product you can recommend to anyone right now, honestly?” Lalu dia jawab, “Honestly? The best product you need to have right now is the one you are already using it. If you use what you have on daily basis, you use it well to run your lfe, and it is still working well, then it is enough.

It is enough. This is enough. Itu sudah cukup membuat saya melihat kembali setahun belakangan ini sebagai momen untuk merasa cukup.

Selamat libur akhir tahun.

Sepuluh (dan Sembilan) Film Favorit Tahun 2019

Jujur saya akui, sekitar 20% atau hanya seperlima dari total film yang saya lihat di tabun 2019 ini saya tonton di bioskop komersial di Indonesia, di penayangan reguler. Unexpectedly, frekuensi menonton film untuk urusan pekerjaan melonjak cukup tajam tahun ini.

Oleh karena itu, sebelumnya saya mohon maaf kalau ada judul-judul yang belum familiar. Saya sangat berharap dengan menempatkan judul-judul yang saya tonton baik di festival film internasional maupun dari private screening links yang diberikan untuk kepentingan profesi, teman-teman bisa mencari atau mulai menandai film-film tersebut. Kalau ada yang kebetulan sedang diputar, usahakan untuk datang menonton. Kalau sudah tersedia di jalur tontonan legal, baik itu streaming platform atau toko semacam iTunes Store, go and find them.

Yang pasti film-film ini dekat dengan saya. Mereka memberikan perasaan yang membuncah seusai menontonnya, yang tak lekas hilang saat selesai menontonnya.

Dan inilah dia.

Sembilan film yang juga meninggalkan kesan yang mendalam, dalam urutan acak:

Rocketman

The Farewell

Gully Boy

Between Two Ferns

Uncle

Towards the Battle

Flesh Out

For Sama

Late Night

 

Dan sepuluh film favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

10. Homeward

homeward-imdb
Homeward (source: IMDB)

Cerita tentang perjalanan ayah dan anak melintasi kawasan yang berbahaya sudah banyak diangkat ke layar lebar. Namun yang terasa istimewa dari debut penyutradaraan Nariman Aliev ini adalah perjalanan emosi dua karakter ayah dan anak sepanjang film yang membuat kita enggan berpaling sedetik pun. Selayaknya film bertema road trip, perjalanan yang dilakukan ayah dan anak ini mengubah cara mereka melihat satu sama lain, dan pada akhirnya mengubah hidup mereka. But not in the way we expect it to change. Film dari Ukraina ini terasa menusuk hati sampai pelan-pelan saat end credits mulai terbaca. It is powerful.

 

9. Stars by the Pound

stars-by-the-pound_unifrance
Stars by the Pound (source: Unifrance)

Tahun ini saya melihat cukup banyak coming of age films. Namun entah mengapa film Stars by the Pound yang terus membekas di ingatan saya. Film dari Perancis ini bercerita tentang Lois, seorang anak obesitas yang bercita-cita ingin menjadi astronot. Segala cara dia tempuh untuk menampilkan karya ilmiahnya sebagai jalan pintas untuk mengikuti program menjadi astronot, termasuk berkomplot dengan gadis-gadis remaja yang dianggap sebagai outcasts untuk memuluskan jalannya. Film low profile ini nyaris lewat dari radar saya, sampai saya menontonnya dan menitikkan air mata sembari tersenyum lebar di akhir film. Sensasi ajaib yang jarang saya rasakan di antara film-film lain selama bertahun-tahun.

 

8. Dolemite is My Name

dolemite-npr
Dolemite is My Name (source: NPR)

Ada ungkapan kalau sebuah karya dibuat dari hati, maka kita yang menikmati karya tersebut juga bisa merasakan isi hati para pembuatnya. I’m not among those who believe that, actually. Tapi kalau anggapan itu benar, maka film Dolemite is My Name bisa jadi contoh nyata. I don’t know about having a good heart, tetapi melihat film ini somehow kita bisa merasakan bahwa semua pemain dan pembuat filmnya benar-benar having fun saat membuat filmnya. Eddie Murphy tidak pernah terlihat se-relaxed dan sepercaya diri ini di film. Dia tahu betul apa yang harus dia tampilkan untuk menghormati legenda karakter Dolemite ini. Dan totalitas Eddie Murphy di sini membuat kita langsung menyelami dunia hiburan “blackploitation” tahun 1970-an tanpa kita perlu merasa familiar dengan dunia tersebut. Itu karena semua pembuat film yang terlibat di sini, they look like having a blast making this film. And it shows.

 

7. Extra Ordinary

extra-ordinary-Collider
Extra Ordinary (source: Collider)

Another film that came out of nowhere, and then … Boom! Film ini luar biasa jahilnya. Seorang guru sekolah mengemudi, Rose, mempunyai bakat bisa melihat dan berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah meninggal, dan kemampuannya ini acapkali mengganggu hidupnya. Sampai akhirnya ada dua orang yang membuat Rose mau tidak mau menggunakan seluruh kemampuannya lagi: muridnya di sekolah mengemudi, dan seorang rockstar yang mencari darah perawan untuk bisa membuat album baru. Sebuah cerita yang bisa membuat kita mengernyitkan kening. Namun saat saya menontonnya, saya benar-benar tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Dan in a very rare chance, justru Will Forte, komedian alumnus Saturday Night Live, yang ‘disalip’ comic timing-nya oleh aktor-aktor Irlandia yang semuanya bermain cemerlang. Kalau ada penghargaan film tergokil tahun ini, inilah pemenangnya. It’s bloody hilarious!

 

6. Marianne and Leonard: Words of Love

leonard-marianne-TheTimesUK
Marianne and Leonard: Words of Love (source: The Times)

Leonard Cohen memang mempunyai kharisma luar biasa. Persona yang ditampilkan lewat musik dan gaya panggungnya bisa membuat jutaan orang “klepek-klepek”. Film dokumenter ini mengesahkan imaji tersebut, dan mengeruknya lebih dalam lagi lewat kisah Leonard Cohen dengan Marianne Ihlen, yang menginspirasi banyak karya populer Leonard selama bertahun-tahun, sampai akhir hayat mereka. It’s common to portray love in feature film, but how do you capture that in documentary that also makes us feel the love? Kisah cinta yang nyata tidak mudah diterjemahkan dalam genre dokumenter yang sangat tergantung pada fakta. Namun film dokumenter ini berhasil menerobos kesulitan tersebut. Just like when we can only feel the depth of Leonard Cohen’s songs. Rasa yang ditimbulkan film ini persis seperti itu.

Dan inilah lima film favorit saya tahun ini.

5. American Factory

american-factory-Bloomberf
American Factory (source: Bloomberg)

Tidak mudah membuat cerita yang ‘netral’ dalam dokumenter. Kala ada dua sisi cerita yang berlawanan dan harus saling ditampilkan, pasti ada satu sisi yang menjadi titik berat penyampai cerita atau pembuat film. Ada satu yang lebih ditonjolkan. Namun hal ini tidak kita lihat dalam film dokumenter American Factory, yang dengan cermat menampilkan masing-masing sisi baik dan buruk dari kultur bekerja di pabrik di Amerika Serikat dan Tiongkok. Membuat cerita yang berimbang tidaklah mudah, malah nyaris mustahil. Namun saat itu terjadi, kita akan dibuat takjub sepanjang ceritanya.

 

4. Marriage Story

Marriage-Story-3-SparkChronicles
Marriage Story (source: Spark Chronicles)

Another film about a married couple going through bitter divorce process? Yes.

Two likeable actors playing the leads? Yes.

Dialogue bantering with lines that sting? Yes.

A child in between? Yes.

Emotional? Yes.

Make us chuckle at times? Yes.

Make us want to repeat watching the film? Yes.

I rest my case.

 

3. Joker

Joker-LineToday
Joker (source: Line Today)

Di saat ramai terjadi kasus kekerasan bersenjata pada saat pemutaran film, nyatanya tidak ada kasus serupa saat pemutaran film Joker ini. Bisa jadi karena film ini begitu nyata menampilkan secara visual pergulatan batin atas kekerasan fisik dan psikis yang terjadi di sekitar kita, yang tidak hanya bisa mempengaruhi tapi bisa mengubah jalan hidup kita. Terkesan bombastis? Maybe. Tapi itulah yang saya perhatikan dan rasakan dari film ini. How does one inhabit violent acts and thoughts? Because of the world one lives in. Menampilkannya dalam bahasa visual yang menggugah banyak orang, that’s the crowning achievement of the film.

 

2. God Exists, Her Name is Petrunya

Petrunya-IndependentMagazine
God Exists, Her Name is Petrunya (source: Independent Magazine)

Begitu keluar dari gedung bioskop yang memutar film ini di Berlinale bulan Februari lalu, saya buru-buru mencari tempat untuk menyendiri dan menghela nafas panjang. “What was that I just watched?” Hanya dalam 100 menit, film dari Macedonia ini berhasil membuat kita tercengang dan sepanjang film cuma bisa berpikir, “This is us! This could happen here! This is what the world is right now!” Film ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang putus asa mencari pekerjaan, namun secara tak sengaja dia malah ikut sebuah kompetisi ritual religius yang sebenarnya hanya diperuntukkan untuk kaum pria, dan menang. Lalu bergulir cerita tentang patriaki, sosial ekonomi, dan the world order yang sangat relevan untuk diikuti. And at times, this film can be funny, too. Saya sangat menyarankan apabila ada penayangan film ini, tontonlah. Prepare to be mesmerized. One of the most unforgettable films in decades.

 

1. Parasite

Parasite-PasteMagazine
Parasite (source: Paste Magazine)

Saya sengaja melewatkan penayangan Parasite di Cannes, karena berpikir, toh filmnya akan diputar di sini. Namun ada yang aneh. Setelah beberapa kali penayangan film tersebut di sana, setiap saya meeting, semua orang memuji film tersebut. Saya tidak mendengar satu pun yang berkomentar negatif tentang film ini. Ini jarang terjadi, karena hampir semua film kompetisi di Cannes pasti mengundang reaksi yang bertentangan. But impossibly, everybody loves Parasite in unison. Setelah menonton di bioskop, baru sadar kenapa film ini begitu istimewa. Kemampuan film ini membelokkan genre sambil masih menjaga logika bercerita, that’s what only an excellent master like Bong Joon-ho can do. Cerita tentang class division and social gap yang selalu relevan, ditampilkan dengan gamblang apa adanya, sambil tetap menjaga estetika produksi yang membuat kita betah menontonnya. Now here’s the thing about Parasite: it is a very mainstream movie. Tonton lagi, dan amati sudut pandang pengambilan gambarnya. Komposisi gambarnya. Penampilan tokoh-tokohnya. We’ve seen all before, and it looks familiar to us. Pendekatan populis yang diambil film ini berhasil membuat kita masuk ke universe yang diciptakan Bong Joon-ho, membuat film ini kuat dalam penceritaan, dan saya yakin, banyak teman-teman yang juga memilih film ini sebagai film favorit atau bahkan film terbaik tahun ini.

Tapi selain film Parasite dan film-film lain di atas, apa film favorit teman-teman tahun 2019 ini?

Sembilan Serial Televisi Favorit 2019

One simply cannot watch everything. Tidak mungkin kita akan pernah bisa menonton semua serial televisi dan jenis tontonan lain yang ada di saluran televisi, dan terlebih lagi, streaming platforms. Tentu saja dengan semakin menjamurnya streaming platforms yang tersedia, semakin banyak film dan serial yang sepertinya kita harus luangkan waktu untuk menontonnya.

Or do we have to?

Meluangkan waktu untuk menonton adalah pilihan. Waktu yang kita punya sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Tidak kurang, tidak lebih. Dalam sehari, saya biasanya membuat keputusan, berapa waktu yang akan saya luangkan untuk menonton di luar pekerjaan, menonton untuk urusan pekerjaan, lalu berolahraga, pergi ke tempat olahraga, dan beristirahat. 

Selain itu, tentu saja resensi atau review dari tontonan yang akan dipilih menjadi penting. Buat saya, paling tidak saya perlu membaca sekitar 7-10 tulisan resensi yang berbeda sebelum saya memutuskan apakah serial tersebut tepat untuk saya. Pilihan belum tentu selalu benar. Paling tidak saya sudah berusaha untuk mencari tahu apa yang akan saya pilih.

Tentu saja, jumlah film yang bejibun yang harus saya tonton untuk urusan pekerjaan, acap kali harus mengorbankan waktu untuk menonton serial lain. Jadi, sambil “mengaku dosa”, saya belum menonton sama sekali The Marvelous Mrs. Maisel (Season 3), Watchmen, The Mandalorian, Money Heist, dan masih banyak lagi.

Namun dari beberapa yang saya tonton, yang meninggalkan kesan mendalam buat saya saat dan setelah menontonnya adalah:

 

  1. SEX EDUCATION (SEASON 1)

sexeducation-tpcurrent(dot)com

 

Serial ini jujur dan apa adanya. Tidak mudah menampilkan kejujuran ini ketika berbicara mengenai masa puber dan seks. Apalagi di era sekarang. Tetapi serial ini berhasil membungkus kegelisahan remaja mengenai seks lewat komedi yang cerdas, dan yang penting, benar-benar lucu. It does not make us, the audience, feeling awkward. It makes us having a good time.

 

  1. FOSSE/VERDON
fosse_verdon_ver2_xlg-impawards
Fosse/Verdon (source: IMP Awards)

 

Mengapa film atau seri biopic tentang pekerja seni terus dibuat? Karena sangat menarik untuk mengetahui proses di balik layar penciptaan karya-karya legendaris yang mereka buat. Saya hanya mengetahui Bob Fosse sebatas sebagai sutradara film-film mahakarya seperti Cabaret atau All that Jazz atau pencipta musikal “Chicago”. Saya tidak terlalu tahu Gwen Verdon, pasangan hidupnya, yang ternyata adalah aktris panggung ternama yang menjadi inspirasi hampir semua karya Fosse. Namun penampilan cemerlang Sam Rockwell sebagai Fosse, dan terutama Michelle Williams yang menakjubkan sebagai Verdon, membuat mini seri 8 episode ini menarik untuk terus ditonton.

 

  1. STRANGER THINGS – SEASON 3
Stranger-Things-3-irishfilmcritic
Stranger Things 3 (source: irishfilmcritic.com)

 

Mempertahankan excitement itu tidak mudah, terutama untuk urusan sekuel atau kelanjutan serial di musim-musim penayangan berikutnya. Let’s admit that Stranger Things season 2 is not as fun as the first. Maka bisa dibayangkan betapa lega dan senangnya kita saat Stranger Things season 3 ini kembali menjadi sangat menyenangkan, dengan aroma pop culture pertengahan era 1980-an yang kental di saat mereka beranjak remaja. Ditambah dengan momen spesial lagu “Neverending Story” yang menjadi salah satu momen serial televisi yang paling berkesan tahun ini, jadilah Stranger Things season 3 ini menjadi tontonan yang totally fun.

 

  1. POSE
pose-netflix
Pose (source: Netflix)

 

Menonton serial Pose membuat kita sering terhenyak. Kadang tertawa, sering kali terharu. Beberapa episode membuat saya tersenyum dalam sedih, karena setelah beberapa dekade, kehidupan orang-orang transgender masih belum membaik. Dalam beberapa hal dan tempat, malah memburuk. Saya suka “menuduh” serial-serial karya Ryan Murphy as too glossy, too over the top, too much. Tapi dalam konteks serial Pose, everything feels right and falls right into place.

 

  1. BARRY – SEASON 2
barry_s2-amazon
Barry – season 2 (source: Amazon)

 

Consistently funny. Itulah satu hal yang terlintas di benak saya saat menonton season 2 serial karya Bill Hader ini. Tentu saja the almost wordless episode of episode 5 menambah keseruan serial yang terbilang langka ini. Langka, karena menggabungkan action dan komedi sangat susah. This one pulls it off nicely.

 

  1. FLEABAG – SEASON 2
fleabag-amazon
Fleabag (source: Amazon Prime Video)

 

Phoebe Waller-Bridge memang layak banyak diburu para produser belakangan ini. Kemampuan menulis ceritanya di atas rata-rata. Silakan tonton Fleabag untuk menyaksikan kehebatan Phoebe menjalin cerita yang membuat kita bengong. “Lho kok jadi gini?” “Eh kok bisa sih?” Karakter pendeta yang dimainkan Andrew Scott tentu saja adalah buah hasil fantasi liar Phoebe, yang menjadi sangat believable di layar berkat penokohan yang cerdas. Yes, this is one smart comedy we cannot miss.

 

  1. CHERNOBYL
chernobyl-youtube
Chernobyl (source: Youtube)

 

Buat saya, inilah miniseri yang lebih mencekam dari semua serial horor. Pengetahuan tentang bahaya Chernobyl hanya saya peroleh dari buku pelajaran waktu masih di bangku sekolah. Itu pun hanya samar-samar. Namun saat melihat miniseri ini, mau tidak mau hati kita mencelos. It’s hard to portray the real horror of a real life situation. Tetapi yang ditawarkan miniseri Chernobyl ini berhasil membuat kita tertegun dan terpaku. It was real. The horror was real. Dan saya menulis ini sambil masih bergidik membayangkan adegan demi adegan yang terasa nyata saat ditonton.

 

  1. MADE IN HEAVEN

madeinheaven-amazonprime

 

Saat menyusun daftar ini sambil menelaah lagi list serial yang saya tonton sepanjang tahun 2019 ini, terus terang saya kaget. Kaget karena serial ini salah satu yang terus terpatri di ingatan. Serial tentang jatuh bangun kehidupan dua anak muda yang merintis usaha wedding organizer di New Delhi, India ini, memang terasa tidak dekat dengan kita. Namun hanya dari dua episode pertama, saya langsung hooked on to the series. Karakter, latar belakang cerita, dan backstory dua karakter utama, ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari di sini. We can see the characters living here, dan mereka akan mengalami masalah yang sama. Serial ini ada di Amazon Prime Video. Salah satu serial layak tonton yang perlu dipertimbangkan kalau anda ingin berlangganan streaming platform tersebut.

 

Dan serial favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

 

  1. AFTER LIFE
afterlife-netflix
After Life (source: Netflix)

 

How does one portray a life-like grief? Dan juga yang penting, how do you portray someone dealing with grief that you can immediately feel the aching? Saya benar-benar tidak menyangka Ricky Gervais bisa membuat karya yang sangat, sangat humanis. Dalam satu episode, saya bisa menitikkan air mata di satu adegan, sebelum dibawa tertawa terbahak-bahak di adegan berikutnya. Dan Ricky tidak pernah kehilangan beat dalam bercerita. Saat karakter yang dia perankan, seorang duda yang berusaha bangkit dari kesedihan setelah istrinya meninggal dunia karena kanker, harus menyewa pekerja seks komersial untuk membersihkan rumahnya, karena dia tidak tahu di mana harus menyewa asisten rumah tangga, kita pun merasa trenyuh. Kita berempati dengan karakter ini. Kita mungkin tidak pernah mengalami yang dia alami, tapi setiap keputusan karakter yang dia mainkan sungguh sangat terasa masuk akal, dan membuat kita menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

And that is simply brilliant.

 

Apa serial favorit anda tahun ini?

Lima Buku dan Lima Kutipannya

Tahun ini, rata-rata dalam sebulan saya baca 3-4 buku. Jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding waktu kuliah dan waktu masih agak muda dulu (ehem!), tapi jumlah yang sedikit meningkat dibanding tahun lalu. Faktor yang sangat berpengaruh dalam membaca rupanya adalah keputusan saya untuk lebih banyak menggunakan transportasi publik tahun ini. Susah ‘kan, baca buku waktu naik ojek?

Tentu saja karena saya semakin menjadi penganut reading while commuting, akhirnya 95% buku yang saya baca adalah yang bisa saya baca di gawai. Sejauh ini pilihan saya masih di Kindle. Kalau tidak membawa perangkat Kindle, maka saya membaca lewat aplikasinya. Toh progress membaca masih bisa di-sync. Sementara untuk membeli buku di PlayStore, sudah cukup beberapa kali di beberapa tahun lalu. Layout buku yang dijual di PlayStore kurang ramah buat mata dan preferensi penglihatan saya.

Masih seperti ‘tradisi’, atau mungkin lebih tepat disebut kebiasaan ya, saya membaca tidak melihat tahun terbit buku itu. Malah lebih banyak buku-buku yang saya baca terbitan dari beberapa tahun yang lalu, atau beberapa dekade yang lampau. Kalau saya baca sinopsisnya dan saya tertarik untuk membacanya, maka saya pasti akan beli.

Dan inilah beberapa buku yang berkesan buat saya, tanpa perlu saya ulas, karena kutipan dari buku-buku inilah yang paling membekas:

1. “The Rainbow Comes and Goes” – Anderson Cooper

Kutipan:

– “The rainbow comes and goes. Enjoy it while it lasts. Don’t be surprised by its departure, and rejoice when it returns. There is so much to be joyful about, so many different kinds of rainbows in one’s life: making love is an incredible rainbow, as is falling in love; knowing friendship; being able to really talk with someone who has a problem and say something that will help; waking up in the morning, looking out, and seeing a tree that has suddenly blossomed, like the one I have outside my window—what joy that brings. It may seem a small thing, but rainbows come in all sizes. I think about Dorothy in The Wizard of Oz singing, about where “bluebirds fly,” and Jan Peerce singing about “a bluebird of happiness.” Well, they may never find it, they may never reach it, and that’s okay. The searching, that’s what I think life is really all about. Don’t you?

– “Death is the price you paid for being born.

2. Middlesex – Jeffrey Eugenides

Kutipan:

– “Biology gives you a brain. Life turns it into a mind.”

– “Everyone struggles against despair, but it always wins in the end. It has to. It’s the thing that lets us say goodbye.”

3. Lie With Me – Philippe Besson

Kutipan:

– “Desire does not go out like a match, it extinguishes slowly as it burns into ash.

– “In the end, love was only possible because he saw me not as who I was, but as the person I would become.”

4. Pachinko – Min Jin Lee

Kutipan:

– “Living everyday in the presence of those who refuse to acknowledge your humanity takes great courage.

– “No one is clean. Living makes you dirty.

5. The Female Persuasion – Meg Wolitzer

Kutipan:

– “Relationships were a luxury designed for people whose lives were not in crisis.”

– “Power and love didn’t often live side by side. If one came in, the other might go.

 

Apa buku bacaan favorit teman-teman tahun ini?

Brittany Berlari Untuk Berdiri

Kurang lebih sekitar dua minggu lalu, saya menonton film Brittany Runs a Marathon di Amazon Prime. Film and aplikasi ini bisa ditonton di Indonesia secara legal. Dan filmnya sendiri memang layak ditonton. Kenapa? Karena kita bisa melihat diri kita di situ.

Filmnya diangkat dari kisah nyata. Ceritanya berpusat pada Brittany, perempuan lajang di New York, yang selalu merasa insecure dengan tubuhnya. Dia berusaha menutupi rasa tidak percaya dirinya lewat pesta, konsumsi makanan dan minuman beralkohol yang berlebihan, serta ketergantungan terhadap obat. Saat dia berusaha mendapatkan ekstra obat dari dokter, Brittany malah disuruh menurunkan berat badan agar terhindar dari penyakit.

Semakin stressed out, akhirnya Brittany memutuskan untuk berolahraga. Mulai dari lari satu blok di sekeliling apartemennya. Berhasil. Lalu dia menambah waktu berlari. Berhasil. Dia berkenalan dengan beberapa orang, termasuk tetangganya. Lalu dia ikut klub lari. Pelan-pelan akhirnya Brittany mengubah gaya hidupnya, dan mengubah pula nasib hidupnya.

Namun Brittany tak pernah lepas dari rasa insecure yang membelenggu dirinya, berpuncak pada rasa sakit yang mengharuskan dia tidak ikut marathon dan harus menunggu setahun. Saat akhirnya Brittany bisa ikut marathon di tahun berikutnya, tanpa sadar kita pun ikut cheering and rooting for her.

brittany-runs-a-marathon_empire
Brittany Runs a Marathon (source: Empire)

Tentu saja formula cerita seperti ini sudah dibuat di banyak karya seni seperti novel dan film. Contohnya karakter Bridget Jones yang sudah menghasilkan tiga film dan beberapa judul buku. Toh kita, maksudnya saya, tak pernah bisa lepas terpaku dan dalam beberapa hal, bisa terpukau, dengan cerita seperti ini.

Demikian pula saat saya menonton Brittany Runs a Marathon ini, saya seperti sempat bertanya ke diri sendiri, “Kenapa ya, saya selalu tertarik dengan cerita seperti ini?”

Lalu saya sadar, “Uh oh. I see myself in these kinds of story.

Beberapa kali saya pernah tulis di Linimasa, termasuk tulisan ini, bahwa saya pernah ada di fase saat berat badan saya melambung tinggi. Ini terjadi waktu kuliah dulu. Sayangnya dan sialnya, saya berada di lingkungan pertemanan yang kurang sehat, yang malah mem-bully saya dengan berat badan saya yang waktu itu super ekstra.

Ternyata hasil bully-an tersebut diam-diam membekas. Ternyata kita tidak pernah lepas dari hal negatif yang pernah dilontarkan ke kita, meskipun kita sudah overcome our negative thought, meskipun badan kita sudah lebih fit sekarang, meskipun kita sudah berusaha tidak melakukan apa yang pernah orang lain lakukan ke kita. The pain remains, the pain stays, the pain will not go away, we just live with it. Seperti yang pernah saya tulis, deep down, I am still that overweight college guy who thinks himself as ugly duckling.

Akhirnya perasaan ini saya curahkan pada kisah-kisah seperti Brittany ini. Ternyata saya punya soft spot terhadap cerita-cerita seperti ini. Dulu saya mulai membaca dan mengikuti novel Bridget Jones waktu kuliah, dan seperti mendapatkan oase pelampiasan lewat cerita-cerita kocaknya.

Saat ini, saya merasa badan saya sedang gemuk. Lemak di perut mulai susah disamarkan. Olahraga masih jalan terus, demikian pula dengan craving untuk makan. Cuma saya lebih santai menanggapinya. Yang penting masih terus bergerak dan berolahraga, dan berusaha makan sesuai kebutuhan saja.

Mungkin memang perlu waktu untuk bisa menerima keadaan diri kita apa adanya. Brittany juga perlu waktu untuk mengubah gaya hidupnya menjadi seorang pelari. Tentu saja ada naik turun dalam penerimaan ini. Kalau kita sakit, kita perlu beristirahat, sehingga kita tidak bisa berolahraga. Kadang-kadang kita punya bad mood, sehingga kita perlu melakukan self indulgence. Selama tidak berlebihan, it does not do any harm.

Yang penting kita tahu kapan kita perlu merawat dan mencintai diri sendiri, karena saat kita berdiri, the pride we have about ourself will show and glow.

brittany-runs-a-marathon-brittany-50r_rgb_custom-_npr
Brittany Runs a Marathon (source: NPR)

Love Yourself Supaya Tidak Lose Yourself

If you love yourself, the whole world will see it.

Demikian kurang lebih sepenggal dialog dari film Bala yang baru saja saya tonton di bioskop beberapa hari lalu. Film ini bercerita tentang seorang pria muda yang mengalami krisis percaya diri selama bertahun-tahun, karena mengalami pembotakan dini. Berbagai cara dia tempuh untuk menumbuhkan rambut, karena dia bersikeras tidak mau pakai rambut palsu. Ketika akhirnya dia sampai di titik harus memakai rambut palsu, sontak percaya dirinya tumbuh. Tentu saja karena ini cerita di film, berbagai kejadian yang tak diduga karena rambut palsunya terjadi, memaksa karakter utama berinstropeksi: apa iya jati dirinya harus diukur sebatas rambut?

Tulisan ini bukan bermaksud menganalisa film tersebut. (Filmnya sendiri sangat layak tonton, by the way.) Namun saya ingin berbagi cerita sedikit.

Beberapa hari setelah menonton film Bala tadi, saya bertemu seorang teman. Saya bercerita soal film ini. Dia sendiri bukan film buff kelas berat seperti saya, just a casual filmgoer, dan jarang menonton film Hindi. Mungkin malah tidak pernah. Tapi setelah saya ceritakan jalan cerita film ini, dia malah tertarik. Saya heran kenapa dia tiba-tiba mau nonton.

“Soalnya kalau dari cerita elo, filmnya kayak persis ama hidup gue.”

“Hah? Elo mulai botak?” Tentu saja pandangan saya pelan-pelan tertuju ke kepalanya. Believe me, this is awkward.

“Hahaha. Duh, mudah-mudahan enggak ya.”

“Terus?”

Dia terdiam sejenak. “Elo tau kan gue udah lama single?”

“Yeap. Cuma setau gue, elo gak masalah dengan itu.”

“Iya sih. But this is the first time I’ve been single after years. Selama ini kan ya hampir gak pernah ada gap, from one relationship to the next. Kalau ada something in between, ya itu biasanya rebound lah. Hahaha.”

“Busyet. Mantap! Terus?”

So I was seeing this person. As we got along, tiba-tiba di tengah jalan, kok gue ngerasa I don’t wanna do this yet. Not now. Kayak all of a sudden, ada perasaan gue yang bilang, I’ve gotta take a break. For myself. It’s not you. It’s me. I need to take care of myself first.”

“Bentar. Maksudnya? Elo gak menyakiti diri elo ‘kan?”

b85f6946a0ace6352bc6a8398b51300e
(Photo from agathesorletshop.com)

 

“Kalau maksud elo physical self infliction gitu, untungnya enggak. Cuma, gue baru sadar, selama ini gue gak attend to myself well. Yes, I’ve been continuously in relationships all the time, gak cuma most of the time, tapi ya itu berarti gue harus meet what other party needs. Gue harus berusaha supaya pasangan gue betah ama gue, gue berubah mengikuti apa yang pasangan gue mau supaya ada “kita” di relationship itu, dan baru-baru ini gue nyadar, kapan terakhir gue spend some time just for myself? Dan kayaknya selama ini gue selalu, or at least ngerasa, kalau gue cenderung being defined as the spouse of whoever the person I am in relationship with.”

“Hmmm. Oke. Bagusnya elo sadar sih akan hal itu.”

“Hahahaha. Sialan. Dan dari situ gue mulai mikir-mikir lagi, all these times, have I loved myself? Have we loved ourselves?

“Idih. Kenapa elo kok jadi kayak Carrie Bradshaw?”

“Errr … Whatever. Dan tau gak, gara-gara gue kebanyakan mikir, akhirnya gue bertanya-tanya lagi, jangan-jangan gue udah terlalu lama gak mencintai diri sendiri. Starting from simple things, seperti makan gorengan abis olahraga sehingga olahraga kita jadinya sia-sia, kurang tidur karena kebanyakan begadang nonton tv, gak ngerawat muka padahal umur udah tua kayak elo …”

Hey! Well, I am.”

“Hahahaha. Intinya, how can you expect others to like you when you don’t love yourself?”

“Ini maksudnya ke gue?”

“Ke mbak kasir di belakang elo. Ya ke semua. Ke gue, ke elo. I couldn’ help but wonder, have we actually ever really loved ourselves?”

“Amit-amit banci Sex and the City!”

“Hahahaha. Just to get you on your nerves.”

“Jadi sekarang elo memulai lagi to love yourself first?”

So that I don’t lose myself, yeap, bener.”

How?”

By doing this. Talking it out loud. To you, to my friend. One of the very few people I trust. Mengurangi interaksi dengan orang-orang yang bikin elo marah, alias toxic people. Baca buku. Tidur cukup. Makan sayur. Minum air putih yang banyak. Get out of the city to breathe fresh air.”

“Sibuk sekali.”

And who would’ve thought being single would still keep me occupied?”

“Hmmm. Coba tunggu sampai malam-malam di mana elo merasa kesepian, baru tau rasa!”

“Hahahaha. Itu buat curhat berikutnya, dong.”

“Tentu saja gue tunggu nanti. Cheers to yourself then!”

Cheers!”

Relax, I’ve Got This!

 

Saking lamanya hidup sendiri, dan menyendiri kata teman-teman saya, saya sampai lupa dengan the magic of judul tulisan ini di atas.

“Relax, honey, I’ve got this!”

Rasanya menyenangkan ya, ketika ada orang lain yang membantu kita secara suka rela di saat kita overwhelm dengan berbagai macam hal. Mau itu barang belanjaan, pekerjaan dari kantor, atau hal-hal lain yang kita bawa pulang, unintentionally.

Mendadak saya sempat kangen dengan sensasi rasa dari kalimat tersebut beberapa minggu terakhir. Apalagi dalam perjalanan pulang naik ojek sambil menembus jalanan yang macet. Berhubung tidak berani mengeluarkan ponsel, mau tidak mau saya bermain-main dengan pikiran sendiri. (Ya masak pikiran abang ojeknya?)

Saya baru sadar beberapa bulan terakhir, bahwa kalau pulang ke rumah, saya tidak bisa langsung leyeh-leyeh saat membuka pintu. Inilah rutinitas saya saat pulang:

• buka pintu

• lepas sandal atau sepatu, lalu meletakkan di rak sepatu

• menyalakan lampu

• mengeluarkan isi tas, terutama kalau selesai belanja

• memilah mana yang harus masuk bagian buah dan sayur, mana yang masuk freezer

ganti baju

• meletakkan baju kotor, biasanya baju olahraga, di tempat cucian

• meletakkan tas di tempat yang mudah dijangkau saat pergi lagi keesokan hari

• menyiapkan makan malam

• mencuci peralatan masak

Dan biasanya saya baru duduk di depan televisi atau iPad untuk makan sekitar 15-20 menit setelah membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Lebih lama lagi kalau saya harus memasak makanannya dari awal. Tentu saja, semakin lama lagi mulai makan kalau masih harus memilih tontonan apa yang menemani saya.

1_tsU4FTsXqyP9XISpJp9vYg

 

Kegiatan ini saya jalankan secara rutin tanpa berpikir. Sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi bagian dari hidup seperti bernapas. Hanya saja, kok tiba-tiba beberapa minggu belakangan ini muncul lagi perasaan yang ingin sebagian rutinitas di atas dikerjakan dengan bantuan orang lain. Ingin rasanya benar-benar pulang ke rumah tinggal lepas sepatu, lalu duduk di sofa, sampai nyaris ketiduran, sebelum ditepuk pundaknya dan diingatkan untuk ganti baju sebelum makan malam.

Bahkan sampai nyaris lupa rasanya, saya sendiri yang harus mencoba mengucapkan kalimat yang saya tulis di awal tadi. “Relax, honey, I’ve got this”. “Relax, dear, I’ve got this.”

Mungkin karena sebagai lajang yang harus mengurus diri sendiri, mulai dari tempat tinggal sampai kesejahteraan diri sendiri, kita terbiasa mengerjakan segala sesuatunya secara sendiri, untuk diri sendiri. Kalau sedang diterpa rasa lelah yang luar biasa, sementara masih ada setumpuk urusan lain di depan mata yang harus dikerjakan dan diselesaikan, maka kita bisa memejamkan mata sejenak, mengambil nafas panjang, dan berkata ke diri sendiri, “Relax, I’ve got this.”

Because we can do what we need to do to. We have to.

Selamat menyambut akhir pekan!

Rewind

 

Akhir pekan lalu, mendadak saya harus rewind ke masa kecil saya. Literally.

Malam Minggu yang lalu, saya harus mengerjakan presentasi untuk materi mengajar di kelas pendidikan informal di hari berikutnya. Niatnya, saya mau mengerjakan presentasi itu setelah makan malam. Setelah menimbang berbagai pilihan makanan yang ada, saya memutuskan makan ikan bakar. Tidak ada yang istimewa mengenai pilihan ini. Simpel saja, karena lokasi tempat makan ikan bakar ini berseberangan dengan kedai kopi tempat saya mau bekerja.

Di tengah-tengah makan ikan bakar ini, tiba-tiba tenggorokan saya terasa tercekat. Sontak saya berpikir, “Uh oh, not that one. Please, not that one.”

Saya makan lagi. Ternyata perasaan tercekat itu masih ada. Saya berusaha menelan ludah, dan rasanya sakit. Saya lemas. Buru-buru saya selesaikan makanan saya sekadarnya, lalu saya bayar. Saya ke kedai kopi, berharap minuman hangat bisa melegakan tenggorokan saya. Sementara itu, pikiran saya masih tertuju pada presentasi yang harus saya selesaikan.

Ternyata saya tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Hanya separuh presentasi bisa saya buat. Saya memutuskan untuk pulang.

Sampai rumah, setelah berganti pakaian, saya putuskan untuk ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Setelah dirujuk ke dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT), dan menunggu lama karena banyak pasien datang sehingga saya bisa melanjutkan membuat presentasi, akhirnya kekhawatiran saya terbukti.

Ada tulang makanan yang menyangkut di tenggorokan saya.

Kejadian yang persis sama pernah terjadi hampir 30 tahun yang lalu, waktu saya kelas 3 SD. Dan kejadian ini meninggalkan trauma yang panjang, karena saya tidak bisa makan ikan lagi, sampai kelas 3 SMA akhirnya baru mencoba dan bisa makan ikan lagi. Kenapa trauma? Karena waktu itu posisi tulang benar-benar menyangkut di tenggorokan, tidak mau turun meskipun sudah dicoba dengan makan pisang, kepalan nasi, ketan, lontong, dan sejenis makanan lain. Mau tidak mau, harus diambil secara paksa dari luar mulut dengan alat yang masuk ke dalam tenggorokan. Setelah 3 hari, baru berhasil dilakukan.

Childhood-Trauma-1

Mau tidak mau, kejadian tersebut terbayang lagi di ingatan, terlebih saat dokter di hari Sabtu lalu menunjukkan posisi tulang yang memang menancap di tenggorokan lewat kamera yang diarahkan ke dalam mulut saya. Sempat lemas melihat feed kamera tersebut. Namun rasa lemas itu tidak terbawa ke lidah saya, yang terus menerus secara refleks menolak saat alat pencabut tulang itu mulai masuk ke tenggorokan. Posisi tulang memang di ujung bawah lidah, sehingga mencabutnya pun perlu “perjuangan”.

Setelah berkali-kali mencoba, dan selalu gagal, akhirnya dokter menyerah. Saya dianjurkan pulang dan beristirahat, supaya syaraf bisa rileks. Siapa tahu setelah syaraf rileks, tulang tersebut bisa luruh bersama asupan makanan lainnya. Dokter memberi obat untuk mencegah infeksi yang mungkin timbul. Meskipun tidur tidak tenang, apalagi setelah berkali-kali mencoba melawan dengan carbo loading malam-malam, mau tidak mau saya harus tidur.

Keesokan harinya, saya berusaha tidak terlalu memusingkan si tulang yang mungkin masih “nangkring” di tenggorokan. Dengan suara serak karena sakit, saya berusaha mempresentasikan last-minute slides dengan baik. Acap kali saya raba tenggorokan, sepertinya si tulang pelan-pelan mulai hancur, karena dari rabaan tangan, besaran tulang tidak sebesar semalam.

Lalu keesokan paginya, tenggorokan saya semakin sakit. Saat saya batuk dan muntah, ternyata sisa tulang keluar dengan sendirinya. Meskipun harus menanggung suara yang mendadak menjadi sangat “macho”, akhirnya tidak ada lagi tulang yang tersangkut di tenggorokan. So far.

Fear-and-Anxiety-An-Age-by-Age-Guide-to-Fears-Why-and-What-to-Do

Kejadian akhir pekan lalu mau tidak mau membuat saya berhenti sejenak menjalani aktifitas rutin yang sudah direncanakan. Dan itulah yang kita dapatkan saat kita sakit mendadak. Mau tidak mau, kita seperti dipaksa untuk istirahat. Seringnya kita harus melihat kembali, atau rewind, apa saja yang membuat kita jatuh sakit, sambil akhirnya berintrospeksi dan berjanji untuk lebih berhati-hati. Meskipun biasanya janji itu ditepati dalam waktu yang sebentar saja.

Dalam kasus saya, mau tidak mau saya harus melihat jauh ke belakang, ke satu bagian masa kecil yang terus terang sempat membuat saya takut. Sekarang pun sebenarnya masih takut. Cuma kalau kita menuruti rasa takut kita terus menerus, we’re gonna lose a lot.

Salam!

Reset

Sejatinya memang saya berniat absen sementara dari menulis rutin di Linimasa ini. Saya pikir, sebulan cukup. Maka selama bulan September 2019 lalu, saya took a pause dari menulis rutin. Alasan lain yang saya buat untuk diri sendiri di awal bulan lalu adalah, masa awal project biasanya akan occupied dengan berbagai penyesuaian baru. Memang penyesuaian itu terjadi, namun ternyata datangnya bukan dari dalam pekerjaan yang dilakoni.

Penyesuaian kali ini datangnya justru dari luar. Berbagai riuh suara demonstrasi yang menuntut perbaikan kualitas hidup, mulai dari kebakaran hutan yang mematikan sampai rancangan berbagai undang-undang yang malah membelenggu hak asasi kita, mau tidak mau membuat kita ikut merasakan dampaknya. Meskipun kita tidak bersama mahasiswa secara fisik, meskipun kita tidak di tengah hutan yang terbakar in person. Nyatanya energi negatif yang dihembuskan pembakar hutan, anggota-anggota parlemen yang tidak kompeten, dan insensible political buzzers membuat kita lemah tidak berdaya menghadapi hari.

Saya tidak bisa mendeskripsikan apa yang saya alami. Saya merasa marah, tapi tidak tahu kenapa sampai begitu marah membaca apa yang sedang terjadi. Saya merasa takut, karena I feel fucked membaca calon aturan-aturan yang malah membuat banyak orang lebih memilih mati daripada hidup. Begitu besarnya perubahan yang seolah-olah mendadak terjadi, padahal sudah dirancang jauh-jauh hari tanpa kita ketahui, sampai-sampai kita berpikir, am I alone feeling this low?

Sampai saya melihat twit teman saya, Siska Yuanita, di bawah ini:

IMG_3608

IMG_3609

 

 

Sontak saya merasa lega sesaat. Ternyata kebingungan dalam amarah dan ketakutan yang saya rasakan, juga dirasakan orang lain. Ternyata kita tidak sendiri. Ada collective common feeling yang juga dialami beberapa orang. Paling tidak, the thought that we are never alone sudah cukup membuat kita bisa bangkit dan bergerak lagi.

Sembari kita bangkit, mungkin ini saat yang tepat buat kita menggali lagi rasa empati. Mau mendengar dan melihat perbedaan, karena dari pendengaran dan penglihatan, kita bisa mulai menerima. It’s time to reset while we fight, while we resist.

Semoga saya bisa terus menulis lagi, sambil menerima dan menjalani perubahan yang terjadi.

Love you all!

Setelah Menunggu, Terbitlah Menunggui

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang menunggu seorang tukang segala bisa (demikian saya menerjemahkan handyman seenaknya) datang ke rumah. Ada kebocoran pipa yang mengakibatkan toilet kamar mandi tidak bisa berfungsi dengan baik. Berhubung jenis kerusakannya cukup besar dan tidak bisa saya kerjakan sendiri, mau tidak mau saya harus memanggil tukang.

Ini artinya, mau tidak mau pula saya harus mengubah semua rencana pekerjaan hari ini, supaya saya bisa ada di rumah. Untung pekerjaan saya cukup fleksibel, tidak harus datang ke kantor setiap hari, dan bisa mengerjakan pekerjaan di mana saja. Yang cukup repot adalah menggeser waktu janji temu dengan beberapa orang. Ada yang harus pindah jam, ada yang harus pindah hari. Beruntung, semua pihak bisa maklum. Mungkin karena aroma akhir pekan is in the air, jadi orang-orang cenderung relaks.

Kecuali saya. Kalau sudah harus menunggu pembersih rumah, tukang gas, tukang reparasi kamar mandi, pengantar furniture dan lain-lain untuk datang ke rumah, maka saya harus memastikan rumah dalam keadaan rapi, dan barang-barang berharga juga tersimpan dengan aman. Tentu saja, saya pun harus berada di rumah, untuk memastikan mereka melakukan pekerjaan dengan baik, dan syukur-syukur datang tepat waktu.

Tentu saja ini resiko menjadi lajang yang tinggal sendiri, yang tidak bisa setiap waktu meminta orang lain, seperti pembantu yang tinggal di rumah (yang saya tidak punya) atau tetangga (yang tentunya punya kesibukan sendiri) untuk sit in di rumah saya. Belum lagi rasa was-was, kalau misalnya ada apa-apa yang dilakukan pembantu atau tetangga. Maklum saja, you can never be extra careful in this city, apalagi kalau tinggal sendiri.

Yang saya harus antisipasi juga kalau lagi menunggu orang datang ini adalah, belum tentu mereka datang tepat waktu. Apalagi yang namanya antar barang. Selalu saja ada alasan untuk datang terlambat dari waktu yang dijanjikan atau direncanakan. Sementara kita tidak berdaya selama menunggu mereka. Oke, mungkin masih bisa berdaya, dalam artian masih bisa produktif dalam proses menunggu tersebut. Bisa sambil bekerja, atau bisa sambil menulis blog yang sedang Anda baca ini. Meskipun pasti ada sedikit rasa cemas atau khawatir kalau mereka tiba-tiba tidak jadi datang. Namanya juga menunggu dalam ketidak pastian.

Kalau sudah datang, tentu saja kita harus menunggui mereka. Siap-siap tiba-tiba ada hal yang tak terduga, misalnya kerusakan di rumah kita ternyata melebar, yang berarti harus ada ekstra biaya dan tambahan waktu pengerjaan, sementara waktu kita terbatas, atau barang yang diantar tidak sesuai pesanan atau rusak di tengah jalan. It happens and it can happen. Mau tidak mau, kita harus menunggu dan menunggui, sebelum akhirnya aktivitas kita berjalan normal lagi.

Maybe we need this whole thing as a welcome disruption or a break.

Jadi sesekali memang, mau tidak mau, kita harus menunggu lalu menunggui.

Oke, baru saja tukang yang saya tunggu datang. Saya harus menunggui pekerjaannya sampai selesai, sambil siap-siap weekend budget terpangkas untuk bayar ini-itu.

Selamat berakhir pekan!

Selamat Ulang Tahun Ke-5, Linimasa Sayang!

Tulisan ini dibuat dan diunggah sehari sebelum ulang tahun ke-5 Linimasa yang jatuh pada tanggal 24 Agustus 2019. Memang, hari Jumat ini bukan giliran saya yang menulis. Namun hari Kamis kemarin saya masih diterpa kelelahan luar biasa setelah menghabiskan sepekan sebelumnya hiking di luar kota. Akhirnya baru kesampaian menulis sekarang, setelah selesai meeting proyek pekerjaan, sembari menunggu masuk bioskop.

Apa yang terjadi setelah lima tahun? Let’s see.

Roy Sayur masih setia membayar domain dan web hosting situs ini setiap tahunnya.

Gandrasta Bangko makin rajin memberikan tips seputar parfum, masker, makanan, proses dan gaya bercinta, sampai make-up di grup kami.

Kang Agun masih aktif di Twitter, tuh.

Glenn Marsalim dengan mangkok ayamnya tak pernah berhenti berkreasi, dan terus melakukan inovasi baru.

Leila Safira masih jadi yang paling fit fisiknya di antara kami semua.

Dragono Halim menjadi satu-satunya yang paling rajin menulis (hampir) setiap minggu di sini tanpa jeda.

Saya sendiri masih sendiri. Bukan promosi. Tragedi kok dipromosiin.

Ini artinya, life happens. Dan karena itulah maka kita semua melihat bahwa semakin lama, frekuensi tulisan baru yang muncul di Linimasa juga semakin jarang. Moto dan slogan kami yang bertajuk “menulis hampir setiap hari, karena internet perlu lebih banyak hati”, rasanya harus direvisi menjadi “menulis hampir setiap seminggu sekali atau dua kali, karena internet perlu lebih banyak hati”.

Paling tidak, ada bagian slogan yang masih bisa dipertahankan. Entah sampai kapan.

Dan karena pakai hati itulah, maka kadang kita tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa yang namanya hati bisa berpaling. Apalagi karena kita semua masih have a life to live yang harus dijalani setiap saat. Deadline pekerjaan, target penjualan, urusan keluarga, masalah pribadi, kesehatan fisik, problematika kehidupan secara umum atau secara khusus, kadang menghalangi kami untuk berbagi.

Atau ada distraksi lain. Dalam separuh dekade terakhir, kami tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa banyak sekali jenis media sosial yang berkembang, yang lagi lincah-lincahnya menarik perhatian. Mau tak mau, atensi kami terserap ke sana. Begitu pula banyaknya akun-akun pengguna berbagai media sosial lain yang acap kali membuat kami geleng-geleng kepala sambil bergumam, “We’re not worthy!

Tulisan ini dibuat murni dari sudut pandang saya sebagai salah satu penulis, bukan pendiri Linimasa. Tetapi lima tahun yang lalu saya mengiyakan ajakan Roy Sayur untuk bergabung, karena saya tertarik dengan konsep blogging yang direncanakan. Menulis ramai-ramai, bergiliran setiap hari, berceloteh sesuka hati. Sering kali bingung mau menulis apa, sampai akhirnya tenggat waktu lewat, dan akhirnya menulis sekedarnya. Paling tidak ini yang saya lakukan beberapa kali. Hehehe …

Yang jelas, sampai hari ini, Linimasa masih ada di sini. Kalau kami tak lagi sering berbagi, paling tidak tulisan-tulisan lampau kami masih enak dibaca setiap saat.

Buat saya, tidak ada tujuan muluk-muluk dalam menulis di Linimasa ini. Ada yang baca, sudah membuat saya senang. Masih terlalu jauh untuk menjadi hal yang menginspirasi, atau mengubah hidup. Cukup dikunjungi dan dibaca saja, that is all.

Terima kasih sudah menemani selama ini, dan nanti. Semoga kami masih bisa terus berbagi.

:*