Mengulang itu Melelahkan

Sudah pernah lihat video ini?

Ini adalah video kompilasi ucapan Lady Gaga selama rangkaian wawancara terkait promosi film terbarunya, A Star is Born. Di video ini, Lady Gaga selalu mengucapkan hal yang sama, “there can be 100 people in a room, 99 don’t believe in you, and only one who believes in you, and that’s the one that matters most.”

Kalau diulang dalam frekuensi waktu yang berjauhan dan jarang-jarang, rasanya tidak akan terdeteksi seperti ini. Namun karena promosi film menjelang rilis biasanya sangat padat, dan waktunya berdekatan, maka pengulangan seperti ini akan mudah terdeteksi. Dan perlu keahlian khusus memanuver hal seperti ini.

Saya tidak meragukan lagi, bahwa penampilan Lady Gaga di film A Star is Born sangat memukau. Demikian pula filmnya. Sejauh ini sudah dua kali saya menontonnya di layar lebar saking sukanya saya sama film ini. (Apakah filmnya masuk dalam 10 film favorit tahun ini? Tunggu saja tulisannya bulan depan!)
Namun tak urung saya tertawa juga melihat video di atas. Seketika teringat sedikit cukilan pekerjaan dulu dalam hal promosi film ini.

lady-gaga-tells-ellen-degeneres-shes-nothing-like-her-a-star-is-born-character

Lady Gaga and Ellen DeGeneres

Sebagian besar aktor, baik pria maupun perempuan, tidak terlalu suka pekerjaan mempromosikan film. Kenapa? Karena mereka harus menampilkan bagian dari diri mereka as a person, as a celebrity untuk mengenalkan karya mereka. Beda dengan proses pembuatan film, di mana mereka melebur menjadi karakter yang mereka mainkan, dan meninggalkan semua atribut sebagai diri mereka pribadi, sehingga mereka tidak perlu menjadi diri sendiri. Sementara untuk promosi film, mau tidak mau mereka harus menampilkan persona mereka sebagai diri mereka sendiri, paling tidak sebagian dari diri mereka sendiri, yang dipoles sedemikian rupa karena bertemu orang banyak dalam waktu yang padat.
In short, promoting is a tiring job.

Sebelum seluruh kegiatan promosi ini dimulai, bahkan saat film masih belum selesai, kadang-kadang tim promosi sudah mulai bekerja. Produksi yang baik akan melibatkan produser, sutradara, pemain dan tim promosi untuk menentukan arah promosi. Bisa juga kita sebut narasi promosi. Biasanya dimulai dengan “apa yang mau diangkat dari film ini? Siapa target market-nya? Apa yang harus diomongkan dari sutradara dan pemain di media, di sosial media dan di acara-acara umum? Kapan saja kita akan merilis setiap bagian informasi promosi ini? Berapa lama waktu yang kita punya?” Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain.

Ketika sudah ditentukan arah, bentuk dan cara promosi ini pun, kadang-kadang hal di luar dugaan bisa terjadi. Entah itu perubahan tanggal rilis film, aktor yang mendadak tidak bisa ikut kegiatan promosi, atau perubahan isi film. Yang terakhir ini sangat jarang terjadi, tapi pernah terjadi. Kalau sudah begitu, mau tidak mau kegiatan promosi harus jalan terus, dengan mengandalkan kekuatan yang masih ada.

oceans-8-0

Sarah Paulson, Cate Blanchett, Sandra Bullock

Di contoh Lady Gaga di atas, saya melihatnya dari berbagai sisi. Mungkin Lady Gaga sengaja menciptakan model promosi tertentu. Memang Lady Gaga dikenal suka menciptakan kontroversi tertentu, walaupun saya ragu di tahap karirnya sekarang, dia masih melakukan hal itu.
Sisi lain yang saya curigai, tim publisis Lady Gaga kurang kreatif dalam mengolah pesan yang ingin disampaikan. Satu kalimat bisa diolah dalam berbagai jenis. Kalau dari kalimat di atas, mungkin saja dalam berbagai kesempatan Lady Gaga bisa mengatakan, “Bradley Copper trusts in me, and that’s what matters the most”, atau “You may never be able to win people’s heart, but you can always win one heart that means the most”, atau berbagai padanan lain. Atau bisa juga cara-cara ini sudah dicoba, dan Lady Gaga masih tetap mau menggunakan kalimat yang sama agar dia tidak perlu repot menghapal kalimat-kalimat lain, supaya tetap true to herself. Saya cuma bisa angkat bahu.

Sebagai bayangan betapa melelahkan kerja promosi itu, biasanya di sini dalam sehari, satu tim promosi bisa datang ke satu live TV interview di pagi hari, dua sampai tiga radio interview di siang hari, wawancara media di sela-sela waktu, satu live TV appearance di malam hari. Dan ini bisa dilakukan seminggu penuh. Atau kalau mau sistem junket, yaitu menyewa ruangan (biasanya di kamar hotel), lalu media bergiliran mewawancarai aktor atau sutradara selama 15-20 menit per sesi, maka kegiatan junket ini bisa berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam. Paling tidak perlu 2-3 hari. Dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama dan berulang-berulang. Sangat melelahkan, bukan?

Memang perlu jam terbang yang cukup banyak untuk terbiasa melakukan hal ini. Berhubung ini film layar lebar pertama Lady Gaga di mana dia menjadi bintang utamanya, maka wajar kalau dia masih terlihat mengulang. Lagi pula dia tidak banyak melakukan promosi saat dia bermain di serial “American Horror Story” beberapa tahun lalu.

maxresdefault

Rami Malek

Biasanya ada trik tertentu untuk mengatasi kebosanan ini. Kalau film yang dipromosikan adalah ensemble film, maka tim film tersebut bisa melibatkan anggota pemain lain untuk bisa bounce off satu sama lain. Contohnya di film Ocean’s 8. Lihat saja video-video interview promosi mereka. Saat Sandra Bullock sudah terlihat bosan, maka dalam waktu singkat Sarah Paulson, Anne Hathaway atau Cate Blanchett akan menimpali dengan jawaban-jawaban yang kocak.

Trik lain yang perlu energi lebih adalah bertanya balik ke penanya. Ini dilakukan Rami Malek, terutama saat dia wawancara sendirian, selama promosi film Bohemian Rhapsody. Lihat saja wawancaranya dengan Ellen dan beberapa interviewer lainnya. Terlihat sangat alami, walaupun tentu saja, semuanya sudah dirancang sebelumnya.

Berpura-pura itu melelahkan, mengulang-ulang juga melelahkan. But hey, we always fake it until we make it. Or at least until the job gets done.

Advertisements

Puk Puk Bisa Dipupuk Atau Ditumbuk

“Beb.”

“Ya, beb?”

“Emang ada ya orang yang putus pacaran atau cerai baik-baik?”

“Ngngng … Ya mungkin ada ‘kali.”

“Tapi kalo menurut kamu, beb?”

“Ya menurut aku sih, nggak ada ya. Namanya juga putus hubungan. Sebelum pisah beneran, pasti ada penyebabnya. Bisa diem-dieman, atau malah ribut-ribut. Nah, pas diem-dieman atau ribut itu, emang baik-baik perasaannya?”

“Iya sih.”

“Atau mungkin yang dimaksud baik-baik itu, ini mungkin lho ya, pas udah selesai putus. Masih jadi temen ngobrol. Atau jadi co-parent buat anaknya. Atau masih jadi partner bisnis. Tapi itu kan ya gak langsung jadi baik-baik juga. Pas proses pisahnya, pasti ada rasa sedih, kecewa, mungkin marah, walaupun sedikit. So I still stand on my point ya, beb. Bahwa there is no such thing as pisah baik-baik.”

Noted, beb.”

“Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Mau putus?”

“Putus ama apa, eh siapa, beb? Putus harapan kelamaan jomblo? Wah, jangan dong, beb. Aku anaknya masih optimis, kok. Optimal dan klimis.”

“Optimis tapi nanyanya gitu.”

“Buat ngisi waktu di tengah macet aja, beb.”

1

“Kalo menurut kamu sendiri? Is there such a thing as pisah baik-baik?”

“Menurutku sih, iya. Oke, aku setuju pendapatmu soal ada rasa sedih dan kecewa pas itu terjadi. Cuma yang aku lihat dan alami sendiri, mungkin ini kebetulan juga, bisa kok dua orang itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan saling bicara yang tenang, agak lama, dan akhirnya sampai ke keputusan buat pisah. Memang itu jarang banget terjadi, dan ya tingkat kedewasaannya pastinya di atas rata-rata. Dan lagi-lagi karena kebetulan itu yang aku lihat dan alami sendiri di lingkungan terdekat, jadi ya I’d like to believe that.”

Point taken, beb. Bagus buat kamu masih percaya itu. To each their own encounter and experience.”

“Nah, kalo soal experience sendiri, kamu pernah nggak mengalami kangen luar biasa sama mantan pasangan?”

“Pernah lah, beb. Namanya juga mantan orang terdekat. Tiba-tiba terpaksa jadi jauh, ya ada aja bekas dia yang nempel.”

“Wah, kalau itu bekas tempelan noda pakaian akibat laundry kiloan, sudah aku protes, beb.”

“Ya kalo laundry kiloan sih, tinggal terima nasib aja, beb.”

“Asli. Emang kangennya kayak gimana, beb?”

“Hmmm. Kayak yang terakhir, deh. Aku gak kangen, or rather, gak terlalu kangen masa-masa pacaran ama dia. Apalagi pengen jadian lagi. Mungkin karena selama jadian, lumayan sering adu argumentasi. Justru kangennya over small things. Misalnya, pas lagi nonton film di bioskop. Tiba-tiba ada adegan film yang bikin, “Aduh, kangen ngobrol ama dia soal ini”. Soalnya belum ada lagi orang yang bisa diajak ngobrol tentang hal tertentu di film itu. Atau pas ke pameran di galeri dua minggu lalu. Pas ngeliat foto tertentu, tiba-tiba muncul perasaan serupa. “Duh, kangen ngobrolin soal hal ini ama dia.” Lagi-lagi karena belum ketemu orang pengganti yang bisa diajak ngobrol hal serupa.”

“Kalau udah gitu, kenapa gak kontak dia lagi, beb? Masih disimpen kan nomernya?”

“Masih. Tapi ya buat apa?”

“Buat diajak ngobrol hal-hal kecil tadi.”

9

Then what?”

Then you’ll get satisfied.”

Then what?”

Then…pasar Moon.”

“Ih, situ Maribeth?”

“Ih, situ kemakan jebakan umur.”

“Sialan. Enggak lah, beb. Waktu rasa kangen yang mendadak muncul tadi itu terjadi, aku cuma manggut-manggut sendiri sambil terus nonton film dan liat foto. Kayak acknowledge the feeling and the moment it happens aja. Trus ya udah. Gak usah dilanjutin lagi. Lagi pula, itu kan keinginan sesaat aja. A fleeting desire. Kalau kepengen banget kontak lagi, aku mikir-mikir lagi, “Is this really something that you want? Do you really need to do this?

“Kayak prinsip diet ya. Makan yang perlu aja. Kalau laper di atas jam 10 malem, cek lagi, itu laper beneran, apa haus doang.”

Exactly. Jadi mungkin ya when it comes to contacting our ex, ask again, do we need it, or do we just want it?”

I want to need it!”

“Plis. Jangan kemaruk, beib. Kemaruk bikin garuk-garuk.”

“Beb, jangan garing kayak orang lagi starving. Tapi itu beneran kamu bisa menahan gejolak untuk tidak merangkai komunikasi lagi?”

“Situ puitisnya gagal, deh. Ya harus bisa. Agak dipaksa sih. Dan setelah aku pikir-pikir, memang rasa kangen seperti itu bisa kumat dan kejadian terus kalau dari kitanya memang memupuk terus. Mulai dari denial, trus setiap hal itu dateng, dirasakan banget sampai akhirnya kangen lagi. Makanya aku gak mau kayak gitu, beb. Kalau kejadian tiba-tiba kangen datang lagi, ya udah. Biarin aja itu dateng, I acknowledge its presence, and that’s it. Dirasakan, tapi gak usah ditindak lanjuti. Gak ada follow up. Gak perlu dibawa baper, apalagi sampe kepikiran. Senyum sendiri aja. Soalnya kalo rame-rame, disangka lagi latian akting di sanggar teater.”

It takes time ya, beb, untuk bisa “legowo” seperti itu.”

“Aku nggak tahu soal “legowo” itu apa, tapi kalau itu berarti artinya sudah menerima dan melanjutkan hidup, yes, it does take time. Just like everything else in life.

“Jadi perasaan pengen dipuk-puk lagi pun bisa dienyahkan. Tergantung kita mau memupuk atau menumbuk.”

“Aku bingung, kamu ini copywriter wannabe atau demennya kata-kata berima kayak pejabat?”

“Ah, beb. Kamu aja bingung, apalagi aku.”

“Ya udah, daripada makin bingung, makan yuk.”

“Yuk.”

What good is a heart in words?

Dear you,

Before the answer to the title above is revealed, and before the fate of this letter ends up in its disappearance from the mailbox, I hope there are some precious seconds you are willing to spare to read this through the end.

And I wonder if the request has now become some sort of soft force I make you do. If it is, you have every right to divert your eyes from this space.

As much as I have my right to continue writing this, and liking you along the way.

In fact, it has been going on for some time now, in which you may choose to acknowledge in silence, or you keep it in heart by yourself .

Either way, it gives yours truly some sort of assurance, that what is not spoken in person eventually reaches out to you. This is something I consider as a purely personal achievement.

The other achievement lies on how you have made me a complete human being just by falling for you.

In my attempt to keep you in my thought, I’ve kept thinking of you as I close my eyes for the day, and open them to start another.

Injecting you in my mind as a flickering flame has warmed me up when my bitter, cold self turns up in many circumstances.

You are present in my mind as a detractor to keep me away from things I might have done on the first place that would only harm myself.

Dear you,

I don’t need to wonder if I were ever present in your dream, let alone in your full consciousness.
The fact is, relationship begins as a selfish act when one lonely heart desperately seeks another to avoid loneliness.
The loneliness leads one to despair, often shown in cranky, twisty traits that further makes one hardly likeable.

Thus, it is fine when one shuns unfavourable person to occupy heart, albeit the mystery that always surrounds this sentence: “we cannot choose who we fall in love with.”

Yet, this is not love.

This is only me, a human being with nothing else to offer but his heart, telling you that you have made me fall for you, without wishing anything in return.

This is only me, a man thanking you for finally making me believe that, by liking you wholeheartedly, you have given life again to once heartless self.

The heart is full of life again.

And that makes a good heart worth expressing in words, for you.

Sincerely,

Yours.

Poetry

Teman Yang Tak Selalu Ketemuan

Seberapa sering kita perlu bertemu dan berbicara dengan teman kita?

Pertanyaan di atas cukup mengusik pikiran saya sesekali dalam beberapa minggu terakhir ini. Dan ketika sedang berpikir tentang hal itu, mau tidak mau saya “terpaksa” jujur kepada diri sendiri, bahwa sudah jarang sekali saya bertemu dengan teman-teman saya.

Kalau sudah jarang bertemu, apa masih dianggap teman?

Pembahasan tentang teman dan pertemanan ini sudah cukup sering dibahas di situs Linimasa ini, oleh sebagian besar penulisnya. Silakan cari saja tulisan-tulisan dengan kata “teman”, “friends”, “sahabat”, atau “friendship” di sini.

Yang saya ingat, Leila pernah menulis soal kemampuan kita yang semakin ahli dalam membuat kompartemen pertemanan yang berbeda-beda. Artinya, kita bisa memilah jenis teman berdasarkan kemiripan minat. Ada teman yang sama-sama suka menonton film, teman-teman untuk berolahraga bareng, teman-teman untuk urusan wisata kuliner, dan lain-lain.

Saya sependapat dengan semakin mahirnya kita melakukan hal itu, seiring dengan seringnya frekuensi kita berinteraksi dengan berbagai macam jenis orang, dan tentunya, dengan semakin bertambahnya usia.

Saya juga sependapat dengan salah satu tulisan Dragono dulu, tentang semakin sedikitnya pertemanan baru yang kita buat seiring dengan usia kita yang semakin menua. Semakin selektif pula dalam menyaring orang yang bisa masuk dalam kehidupan kita.

Friendship-Girls-uhd-wallpapers

Demikian pula dengan urusan menyaring teman-teman lama yang terbentuk dari kesamaan latar belakang pendidikan atau pekerjaan. Tak semuanya tetap menjadi teman. Kalaupun masih berinteraksi, tak lebih sekedar basa-basi semata karena terpaksa masuk WhatsApp grup, terpaksa datang reuni, hadir di buka bersama, dan sejenisnya.

Ada kalanya beberapa teman lama kita masih menjadi teman sampai sekarang. Bahkan ada sebuah ungkapan yang dulu pernah saya temukan, yang mengatakan kalau kita sudah berteman lebih dari 7 tahun, kemungkinan besar dia atau mereka ini akan menjadi teman seumur hidup.

Toh buat saya, seperti layaknya jenis hubungan yang lain, it’s not about how long. It is always about how deep.

famous-friendship

Batasan atau arti pertemanan sendiri tentu berbeda-beda. Biasanya teman adalah orang atau orang-orang yang kita prioritaskan saat kita ingin berbagi, baik dalam duka atau suka.

Dan karena itulah maka tak urung saya merasa sedih, karena sering kali belum bisa being there untuk orang-orang yang saya anggap teman saat mereka sedang dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Mungkin ini preferensi personal, hanya saja kadang diri ini merasa berkomunikasi lewat ponsel tidak cukup. Inginnya bertemu langsung, bertatap muka langsung, berbicara langsung. Tapi apa daya, we all have our lives to live.

Kalau sudah begitu, biasanya saya hanya akan menunggu. Menunggu sampai mereka mulai berbicara. Memberikan ruang dan waktu sendiri untuk teman kita juga bagian dari pertemanan.

Karena setelah melalui masa sendiri, akan lebih banyak cerita yang bisa dibagi saat ketemuan.

Mengakui Rasa, Bukan Ratna

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang sakit. Agak aneh menulis kalimat barusan.
Mari kita ulang lagi.

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang dalam masa istirahat karena sedang sakit. Okay, that is somewhat better.

Mendadak di awal minggu ini, rasa sakit yang menyerang persendian di kaki saya muncul lagi. Ini penyakit tahunan yang sudah saya alami sekitar hampir satu dekade terakhir ini. Jadi memang kemunculannya, meskipun tidak pernah saya tunggu-tunggu, sudah tidak mengagetkan lagi. Dan selama tiga tahun terakhir, memang serangannya selalu muncul di bulan-bulan ini. Tahun 2016, munculnya pas pemilihan Presiden Amerika Serikat di awal November. Tahun lalu, maju lebih awal, di bulan September. Dan tahun 2018 ini, di minggu pertama bulan Oktober.

Oh, by the way, penyakitnya adalah asam urat. Tubuh saya mempunyai kadar asam urat di atas normal, yang kalau sudah mengkristal akan mengendap di persendian, menghasilkan sensasi ngilu dan nyeri luar biasa yang membuat saya tidak bisa bergerak.

Kalau sudah begitu, mengingat penyakitnya datang setiap tahun dalam periode yang nyaris teratur, apakah sudah mempersiapkan diri sebelumnya?
Jawabannya “ya” dan “tidak”.

Young woman sleeping in bed beside the window

Young woman lying in bed, looking towards through the window – black and white photo.

Sebisa mungkin saya memang menghindari makanan-makanan pemicu naiknya kadar asam urat. Kacang tanah sudah saya jauhi, lalu durian, emping dan kepiting sudah tidak pernah dikonsumsi lagi. Toh makanan hanya salah satu pemicu, bukan yang utama. Buktinya kejadian ini terjadi setelah saya lari dan olahraga selama 3 hari berturut-turut.

Selain persiapan di atas, jawaban “ya” muncul ketika kita mendengar apa yang dialami tubuh kita. Entah bagaimana saya menerangkan ini kepada anda, tapi kadang kita bisa merasakan apa yang tubuh kita alami, berikut perubahan-perubahannya, saat kita mau sakit.

Hari Minggu yang lalu, saat saya mulai merasakan gejala tidak beres, intuisi saya langsung mengatakan, “Here it comes. That time of the year.
Dari situ saya langsung beli obat-obat yang diperlukan. Beli tambahan air mineral, dan bahan makanan untuk seminggu ke depan. Ambil uang tunai yang cukup. Membuat “mini station” di dekat tempat istirahat, seperti pernah disarankan Glenn dulu, karena mobilitas saat sakit jadi jauh berkurang.

Favim.com-35077

Yang saya tidak siap, dan tidak pernah siap, adalah pekerjaan. Mendadak minggu ini banyak meetings dan acara yang harus dihadiri. Untuk meetings, mau tidak mau harus didelegasikan ke orang lain, atau dilakukan lewat email. Untuk acara-acara, mau tidak mau harus absen dari kehadiran. Mengerjakan hal-hal lain yang tetap membuat otak tidak berhenti berpikir, meskipun badan sedang istirahat.

Kalau dilihat dari pengalaman-pengalaman pribadi saat terkena serangan asam urat di tahun-tahun sebelumnya, memang agak dramatis. Hampir semuanya ended up di ruang unit gawat darurat. Pernah pingsan tahun lalu. Perlu waktu cukup lama untuk bisa jalan secara normal lagi.

Makanya, tahun ini, at the very moment waktu sudah merasa mau sakit, saya bertekad habis-habisan untuk sebisa mungkin tidak mengalami hal-hal parah seperti dulu. Walaupun cuma sekedar ke toilet atau dapur yang sangat dekat, saya berjalan dengan tongkat, supaya energi tidak banyak terbuang, karena masih harus memulihkan diri dalam waktu cepat. Memilah obat-obatan mana yang harus dikonsumsi segera, dan mana yang bisa dikurangi dosis pengkonsumsiannya. Minum lebih banyak air putih. Istirahat lebih lama.

Waktu tulisan ini dibuat, saya masih belum pulih 100%. Perasaan saya saja yang mengatakan kalau kondisi saya sudah mendingan. Tapi “mendingan” saja tidak cukup. Harus benar-benar pulih sebelum bisa beraktivitas secara normal lagi.

clipart-sleeping-bedrest-8

Dan percaya atau tidak, momen favorit saya waktu sakit ini adalah saat bangun tidur di pagi hari. Waktu beranjak tidur, penderita sakit seperti ini perlu waktu lama untuk terlelap, karena rasa ngilu dan nyeri yang masih ikut “melek”. Lalu saat bangun pertama kali, untuk mematikan suara alarm, kadang saya merasa takjub, karena rasa sakit di persendian seolah-olah hilang. Hanya ada rasa hampa di kaki saya. Lalu saya setengah terlelap sebelum benar-benar membuka mata. Saat benar-benar bangun, seperti ada desiran yang mengalir di bawah kaki, mengembalikan rasa sakit seperti sedia kala. Terus terang saya tersenyum mengamati dan merasakan sendiri hal ini beberapa hari lalu. Seolah-olah rasa ngilu dan nyeri itu ikut tidur, ikut beristirahat sejenak bersama si empunya badan.

Di situlah saya merasa bahwa kita hanya perlu mengakui rasa sakit yang kita alami tanpa perlu merasa kesakitan.

Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy vol. 3

Ternyata sudah kali ketiga saya menulis tentang prediksi peraih Emmy Awards di linimasa ini. Kalau ini serial televisi, maka tulisan ini adalah tulisan musim penayangan atau season ke-3. Sementara linimasa-nya sendiri sudah masuk ke season ke-5. Tidak terasa ya, waktu cepat berlalu.

Dan yang tidak terasa juga adalah serial-serial televisi yang absen, lalu muncul kembali, atau sudah berhenti penayangannya. Tidak terasa, karena dengan banyaknya konten tayangan di berbagai kanal dan aplikasi, kita tidak sempat lagi menangisi atau merenungi kepergian tayangan serial kesukaan kita. Kenapa? Karena dengan banyaknya pilihan yang ada, kita langsung mengalihkan pilhan kita ke acara atau serial lain. Begitu mudahnya, begitu cepatnya.

Setiap tahun ada banyak serial baru yang diproduksi dan ditayangkan. Lebih banyak serial baru yang masuk daripada serial lama yang berhenti. Kalaupun tidak berhenti, paling tertunda penayangan musim terbarunya. Dan ini membuat kita hidup di era di mana kita sudah tidak sanggup lagi untuk benar-benar bisa catch up mengikuti satu per satu episode serial yang ada. Waktu kita terbatas.

gq-bill-hader

Barry (source: GQ)

Kalau sudah begitu, maka jangan abaikan personal taste atau kesukaan diri sendiri. Tontonlah apa yang kalian rasa perlu untuk ditonton, dan yang juga penting, yang memang kita sukai. Bagi saya, kalau saya sudah terpikat dengan karakter dan dunia mereka dalam serial tersebut, maka susah buat saya untuk berpaling. Meskipun itu harus menunggu lama di antara musim penayangannya.

Demikian pula dengan serial-serial baru yang mungkin dipuji banyak kritikus luar negeri, tapi tidak terasa dekat dengan saya. Terutama setelah ditonton beberapa episode, saya belum bisa menikmatinya juga.

Maka dari itu, jujur saja, dari nominasi perhelatan 70th Primetime Emmy Awards tahun ini, saya belum bisa menikmati penuh “Atlanta” sebagai serial komedi. Demikian pula dengan “Westworld” season ke-2 yang membuat saya sibuk mengernyitkan kening di hampir semua episode, mencoba mencerna apa yang sedang saya tonton. Meskipun masih powerful, tak urung ada beberapa momen di “The Handmaid’s Tale” season ke-2 yang, mau tak mau, menimbulkan pertanyaan di benak saya.

culturewhisper-gianniamericancrime

The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story (source: Culture Whisper)

Sementara di sisi lain, saya langsung tertawa terbahak-bahak di episode pertama “Barry” dan “The Marvelous Mrs. Maisel”. Dan ternyata rasa senang itu berlanjut sampai di penghujung masing-masing serial tersebut. Meskipun tidak sebaik “The People vs OJ Simpson”, namun saya masih menikmati “American Crime Story” kali ini, yang terfokus pada cerita pembunuhan desainer Gianni Versace.

Pada akhirnya, pilihan saya di bawah ini adalah murni pilihan personal. Bukan analisa prediksi kuantitatif dan kualitatif, tapi pilihan saya yang memang menyukai apa yang saya tonton dan apa yang saya pilih.

Semoga pilihan kita berbeda, ya. Kalau sama, juga nggak masalah.

Ini dia:

• Best Comedy Series: The Marvelous Mrs. Maisel
• Best Lead Actor, Comedy Series: Bill Hader – Barry
• Best Lead Actress, Comedy Series: Tracee Ellis Ross – Black-ish
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Brian Tyree Henry – Atlanta
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Betty Gilpin – GLOW

• Best Drama Series: The Americans
• Best Lead Actor, Drama Series: Matthew Rhys – The Americans
• Best Lead Actress, Drama Series: Keri Russell – The Americans
• Best Supporting Actor, Drama Series: David Harbour – Stranger Things
• Best Supporting Actress, Drama Series: Vanessa Kirby – The Crown

• Best Limited Series: The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Darren Criss – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Laura Dern – The Tale
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Edgar Ramirez – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Judith Light – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story

Berbeda dari biasanya, Emmy Awards tahun ini akan diadakan hari Senin malam waktu Amerika Serikat, atau Selasa pagi waktu Indonesia. Belum ada informasi di mana akan ditayangkan acara ini. Toh kita masih bisa selalu memantau perkembangannya lewat Twitter.

telegraphUK_crown2

The Crown (source: The Telegraph UK)

Selamat menonton!

😉

Dari 30 Ribu Kaki Di Atas Permukaan Laut

Maybe love is like playlist.

Maybe falling in love is like making playlist.

You do not want to reuse songs you used before for your previous past.
You search for new melodies to capture your heart.
You constantly try think of tunes that best represent the moment and the mood.

You may find one perfect song. That soon is followed by another track. Then you find another. Then you are stuck. Your creativity runs out, it seems. You run out of songs to fill your intended playlist.

You choose to sleep on it. You hope to dream a good dream. You may do, you may not.

Then you wake up. You look at your created playlist.
Suddenly you think of a new song to add. This time you only find one song. Just one that complements the other, and completes the playlist.

And that is love.

You grow the feeling. You nurture the patience.
You don’t rush the completion.
You only know when the entire journey begins to feel like a good playlist: great to listen to with a perfect amount of time.

That’s love. That’s your playlist.

Karena Kita Tidak Bisa Mengalami Semuanya

Di suatu malam di pertengahan minggu saat kami pulang dari bekerja, mengarungi lalu lintas yang tidak macet, teman saya, yang mengantar saya pulang, bertanya:

“Jadi kalau kamu pulang ke rumah, trus ngapain?”

“Kalau udah malem banget kayak gini ya paling tinggal ganti baju, cuci muka gosok gigi, trus tidur. Kalo agak susah tidur ya paling gue Youtube-an sambil tiduran.”

“Kalo pulangnya agak sorean?”

“Kalo masih sore banget, gue olahraga dulu sekitar sejam-an lah. Abis itu pulang, beli makan, makan malam sambil Netflix-ing atau nonton apapun di koleksi film gue, atau baca buku sambil dengerin apapun di Spotify.”

“Wow. Tipikal lajang sekali ya kamyu.”

“Hahahaha. Sialan!”

“Nggak ada siapa gitu yang dateng buat masakin atau makan bareng?”

“Kalau ada, gue gak akan nebeng pulang bareng elo, bukan?”

“Ya siapa tau, sudah ada yang nungguin di rumah.”

“Bantal guling gue?”

“Hahahahaha. Lumayan masih ada yang bisa dipeluk.”

“Amin!”

1

“Emang elo setahun bisa nonton berapa film?”

For leisure apa for work, nih?”

Both.”

“Hmmm. Kalo for work kan ya elo tau sendiri lah ya kira-kira berapa. Ditambah kalo for leisure, mungkin adalah sekitar 400-an in total.”

“Busyet! Dan belum baca buku. Setahun kira-kira berapa?”

“Wah, buku ini yang terus terang susah. Bisa konsen baca buku cuma kalo pas traveling. Atau kalo maksain banget ngeluangin waktu. Let’s say gue cuma bisa nyelesaiin 2-3 buku per bulan. Jadi dalam setahun ya 24-36 buku. Put it 30 aja lah.”

Not bad, not bad. Elo masih punya waktu buat nonton, baca, dengerin musik, that’s good.”

“Namanya juga single. Hahahaha.”

“Ih kamu! Hahahaha. Ya kan bisa juga cari pasangan yang suka apa yang kamu suka lakuin.”

“Tapi kan pasti ada waktu yang terpotong juga. Lagian juga, buku, film, musik, any work of art itu kan bisa bikin kita feel less lonely.”

“Bener sih.”

Loneliness sih tetep, kadang-kadang creeps you in sampe bikin nyesek. Tapi ya udah, sadar dan acknowledge aja rasa itu, sedih sesaat, dengerin lagu, nonton film apapun yang bikin gue escape dari misery, trus jadi baik lagi.”

10

“Jadi itu yang membuat elo selalu mengisi waktu dengan nonton film, baca buku, dengerin musik dan lain-lain?”

That, and other thing.”

What other thing?”

“Gini. Gue menyadari bahwa ada hal-hal dalam hidup yang either by nature or by choice, itu tidak mungkin gue lakukan. Misalnya, by nature tentu saja gue tidak tahu bagaimana rasanya menstruasi pertama kali, gimana rasanya melahirkan lalu menyusui. By choice, mungkin gue akan melewatkan bagaimana rasanya deg-degan mau menikah, mengucap ikrar janji sehidup semati. Definitely by choice, misalnya, gue gak tau rasanya jadi bandar narkoba atau buronan yang hidup dalam pelarian terus. Gue juga gak akan tau rasanya jadi presiden atau pengemis atau pengungsi, karena saat ini, profesi gue bukan seperti itu. Dengan segala keterbatasan itulah, maka gue seek refuge and knowledge di buku, film, lagu, atau foto yang gue liat di pameran. Gue mencoba merasa menjadi mereka lewat buku yang gue baca, film yang gue tonton, lagu yang gue denger. Sesimpel sekarang. Gue single, udah lama banget gak pacaran. But at least, gue bisa mencoba merasakan apa yang dilalui pasangan yang lagi in love to each other banget, lewat novel yang memang gue pilih untuk gue baca, lewat film rom-com yang emang gue pilih untuk gue tonton, just to be able to feel.”

Wow. That is some whole other thing. But what about talking to real person?

“Ya kan terbatas. Emang gue bisa gitu langsung telpon Jokowi apa Barack Obama gitu yang, “Oom, cerita-cerita dooong”, kan ya enggak. Dengerin elo curhat aja ya paling gitu-gitu doang isinya.”

“Sialaaan! Hahahaha!”

“Ya kan? Makanya gue selalu berharap ada something I can get dari setiap buku, film, foto, musik yang gue nikmati.”

“Kalo nggak ada?”

At least gue tidak merasa sendiri saat menikmati setiap karya itu.”

Nice!”

“Eh udah nyampe. Thanks for the ride, thank you for listening whatever nonsense I just said, and safe ride home as well ya! See you!

See you!

output_6YEXiO

Inilah 17 Film Indonesia Favorit Selama 17 Tahun Terakhir (2001 – 2017) Yang Nyaris Jadi #RekomendasiStreaming

Apakah anda mengernyitkan kening membaca kata “nyaris” di judul di atas? Jangan khawatir. Anda tidak sendiri. Kata “nyaris” di atas terpaksa saya gunakan dalam judul, karena tidak ada pilihan.

Kok bisa begitu?

Awalnya saya berniat menulis film-film Indonesia pilihan saya yang ada di aplikasi video streaming. Kalau tahun lalu saya sudah menulis tentang 17 film pendek Indonesia pilihan, maka tahun ini saya ingin menulis tentang 17 film cerita fiksi panjang Indonesia yang ada di OTT platform. Hitung-hitung sebagai #rekomendasistreaming untuk teman-teman menonton di libur panjang akhir pekan 17-an ini.

Tapi setelah melihat koleksi film Indonesia yang ada di beberapa aplikasi legal, saya mengernyitkan kening.

Ternyata cukup banyak film Indonesia, film panjang yang telah dirilis di bioskop sebelumnya, yang tidak tersedia di aplikasi-aplikasi tersebut.
Mungkin ada beberapa pertimbangan dari pemilik film untuk tidak atau belum membuat film-film mereka available di sana. Mungkin juga kontrak sudah berakhir. Mungkin juga masih disimpan untuk aplikasi yang baru nantinya. Entahlah.

Akhirnya saya berganti tujuan penulisan kali ini, dan merasa untuk lebih baik jujur ke diri sendiri: menulis tentang 17 film Indonesia yang paling saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tujuh belas tahun pertama di abad ke-21. Sengaja memang tidak mengikutsertakan film-film yang dirilis tahun 2018, karena tahun 2018 belum selesai.

Dan ini murni pilihan saya pribadi, tidak mewakili teman-teman lain di Linimasa. Pilihan yang semoga terasa jujur, sejujur saya mengakui bahwa daftar ini jauh dari sempurna (hey, what is perfect, after all?).

Ini juga termasuk jujur mengatakan, bahwa sampai sekarang susah buat saya mengakui bahwa horor adalah genre film favorit saya. Saya bisa mengapresiasi film horor yang baik, tapi ketika mengapresiasi film horor, terpaksa saya redam rasa takut saya, dan sepanjang menonton film-film horor tersebut, saya malah sibuk berpikir menganalisa aspek pembuatan film dalam film-film itu. Dengan kata lain, nontonnya pakai mikir, sehingga lupa merasakan. Tapi tak urung saya mengapresiasi film horor Indonesia yang dibuat dengan baik, seperti Pocong 2 (2006), Hantu (2007), dan Pengabdi Setan (2017).

Film-film yang saya sukai, berarti sudah ditonton lebih dari sekali. Dan kata “suka” di sini memang sangat subyektif, karena melibatkan emosi, hati dan perasaan saat menonton dan seusai menonton. Film-film ini, lagi-lagi menurut saya, are timeless. They stand against the time, dan masih meninggalkan kesan yang sama, beberapa malah lebih, saat kita tonton ulang.

Kalau mereka tersedia di aplikasi video streaming, maka saya akan informasikan nama aplikasinya. Kalau belum tersedia, maka saya berharap supaya film-film ini bisa segera tersedia buat kita tonton lagi.

Masih banyak judul lain yang belum disebutkan di sini. Di catatan saya ada sekitar 71 judul film Indonesia yang saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tapi dalam suasana kemerdekaan RI, let’s stick to our independence date.

Inilah film-film tersebut (all images are from filmindonesia.or.id):

• Di urutan nomer 17 ada film The Photograph (2007) karya Nan Achnas. A very powerful and intimate film tentang kesepian dan kesendirian seorang fotografer tua yang akan membuat hati kita trenyuh. Sejauh ini, penampilan terbaik Shanty ada di film ini. (available in iflix)

poster_photograph

No pun intended, but there’s earnestness in Ernest Prakasa’s Cek Toko Sebelah (2016) yang mau tidak mau membuat kita tersenyum sepanjang film ini. A good hearted comedy is hard to find in our cinema, and this is a rarity. Inilah pilihan saya di nomer 16. (available in HOOQ)

cektokosebelah-poster

• Saya suka film-film dengan set-up cerita dan kejadian dalam satu kurun waktu dan tempat. Banyak yang bisa diungkap dari cerita yang hanya terpusat pada singular time and place. Ini juga menunjukkan kedisiplinan tinggi dalam pembuatan filmnya. Pilihan saya di nomer 15, Lovely Man (2012) menunjukkan hal ini. Ditambah dengan penampilan gemilang Donny Damara dan Raihanuun, siapa yang tidak terharu melihat perjalanan emosi mereka? (not available anywhere yet)

Poster_Lovely_Man

• Sederhana, bersahaja dan jujur. Slogan politik? Bukan. Tapi tiga kata itu yang bermain di benak saya saat menonton film panjang perdana karya Eugene Panji, Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012), di nomer 14. Ditambah pula film anak-anak ini benar-benar bercerita dari sudut pandang anak-anak, sesuatu yang masih jarang berhasil dibukukan di perfilman kita. It’s an underrated gem. (not available anywhere yet)

cita-citaku-setinggi-tanah_poster_lf-c023-12-476991_img_photo

• Sebagai generasi yang masa remajanya dihabiskan tanpa ada film Indonesia yang layak tonton di bioskop, saya senang melihat adik-adik kelas saya menyerbu bioskop saat Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dirilis. Tren sesaat? Tidak juga. Saat ditonton lebih dari satu dekade berikutnya, film AADC? masih membuat kita tersenyum. A proof that a good film lasts. Lucky number 13. (available in iTunes)

poster_AdaApaDgnCinta

• Di nomer 12 ada film badminton King (2009) yang akan terus saya ingat sebagai film yang menunjukkan bahwa almarhum Mamiek Prakoso adalah aktor hebat. Lebih dari sebagai komedian ternama, di film ini Mamiek bermain prima sebagai ayah seorang calon atlet yang perasaannya terbagi antara mendukung anaknya menjadi atlet, atau mengingatkan tentang realita hidup. Such an understated performance worth being studied. (not available anywhere yet)

poster_king

Whatever happens to us now? Kita pernah membuat film cerdas yang menggelitik seperti Arisan! (2003), pilihan nomer 11 saya, yang rasanya tidak mungkin akan dibuat di era sekarang. Let this film be a reminder then, that open minded-ness and acceptance shall prevail. (not available anywhere yet)

poster_arisan

• Betapa beruntungnya judul film di nomer 10, Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010). Mau dibuat kapan pun, judul filmnya masih applicable. Ditambah lagi dengan cerita komedi satir yang sedikit mengingatkan kita dengan cerita-cerita Charles Dickens, film ini layak saya sebut sebagai salah satu film black comedy paling sukes yang pernah dibuat dalam dua dekade terakhir. Duet sutradara dan penulis Deddy Mizwar dan Musfar Yasin yang jauh lebih baik dibanding Nagabonar Jadi 2. (not available anywhere yet)

poster_alangkah_lucu

• Tidak sekedar menghadirkan a kick-ass revenge film, namun Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) juga menghadirkan cross-genre yang relatif baru di film Indonesia, yaitu western noir. Relatif baru, karena western sebelumnya hadir lewat komedi parodi film-film Bing Slamet dan Benyamin S. di tahun 70-an. Film pilihan saya di nomer 9 ini adalah film karya Mouly Surya dengan a fearless performance oleh Marsha Timothy yang akan menjadi catatan tersendiri tidak hanya di perfilman Indonesia, tapi juga dunia. (available in HOOQ)

marlina-sipembunuhdlm4babak-poster

• Di nomer 8 ada Berbagi Suami (2006), film tentang female empowerment yang menurut saya susah dipercaya bisa berhasil. But it did, and we’re all the better of it. Film yang menempatkan semua karakter utamanya dengan empati, sehingga kita yang menontonnya pun bisa terbawa dengan jalinan emosi yang dibangun. Film yang sangat menggugah. (not available anywhere yet)

poster_berbagisuami

• Ah, Love (2008). Saya sempat terperanjat saat menyadari bahwa sudah lebih dari satu dekade, kita belum membuat lagi film antologi tentang cinta yang berhasil seperti Love. Pilihan saya di nomer 7, film Love tidak sekedar adaptasi (it is) atau reka ulang dari film-film serupa, tapi film ini seperti dibuat dengan hati, yang mau tidak mau membuat kita masih merasakan kehangatannya saat menontonnya lagi, dan lagi. (available in iflix)

poster_LOVE

• Sebagai pecinta film, menonton Janji Joni (2005) mau tidak mau membuat kita tersenyum. Seolah-olah film ini memberikan validasi atas kecintaan kita terhadap film dan bioskop. Meskipun jalan ceritanya bukan tentang itu, dan dengan jalan penceritaan yang belum sempurna, menonton film pilihan saya di nomer 6 ini seperti mengafirmasi bahwa “hey, it’s okay to spend your life liking films and stuff’. Saya ingat betul, menonton film ini pertama kali dan kedua kali menimbulkan efek “wow! That was cool!” Terima kasih sudah membuat film ini, Joko Anwar. Film ini masih menjadi karya Joko Anwar yang paling saya suka. (not available anywhere yet)

poster_janjijoni1

• Sampai di sini, anda pasti sudah bisa menebak kalau saya sangat menyukai film romansa. Benar: I’m a sucker for good romance. Dan film Ruang (2006), film nomer 5 di daftar ini, adalah film yang saya sebut sebagai salah satu film romansa terbaik yang pernah ada di sinema kita. It never wastes any minute to go straight to drama and romance, membuat sebagian besar adegan di film ini indah dan dapat diikuti dengan baik. Film yang menghadirkan rasa “klangenan” di hati. (not available anywhere yet)

poster_ruang

• Dan inilah film yang seusai menonton pertama kali di bioskop membuat saya terperangah, “What was that I just watched?!” Begitu menontonnya lagi, saya masih terkesima. Posesif (2017), film nomer 4, adalah film yang simply knocked it out of the park. Dan saya percaya bahwa the less you know in advance about the film, the better. What a powerful film that leaves you stunned. (available in iflix)

posesif-poster2

• Apa yang anda ingat saat pertama kali menonton The Raid (2011), film nomer 3, di bioskop? Kalau anda menontonnya di penutupan INAFFF 2011 bersama saya, tentunya anda masih ingat riuh rendah penonton bertepuk tangan dan berteriak. It’s brutal, violent and it spares no nonsense. Film yang harus kita akui telah menempatkan nama Indonesia di peta perfilman dunia, in a very awesome way. (not available anywhere yet)

TheRaid-Poster

• Tidak hanya sepanjang 17 tahun terakhir, namun film Sang Penari (2011), film nomer 2 di daftar ini, adalah salah satu film terbaik Indonesia yang pernah dibuat. Period. Tidak setiap tahun film Indonesia dengan craftsmanship tingkat tinggi seperti ini bisa hadir. Dan adegan terakhir film ini, seperti sudah pernah saya bahas sebelumnya, adalah salah satu final scene paling indah yang pernah dibuat. (available in iflix)

poster-sangpenari

• Dan inilah film Indonesia yang paling saya sukai selama ini. Eliana, Eliana (2003), karya Riri Riza. Lima belas tahun sejak film ini dirilis, dan ternyata kisah perjalanan satu malam ibu dan anak perempuannya menyusuri Jakarta masih menggetarkan hati. Setiap bagian film bertutur dengan efektif. Setiap ekspresi dari raut muka Jajang C. Noer dan Rachel Maryam menyiratkan emosi yang tidak harus diucapkan dengan kata-kata, namun kita bisa merasakan secara mendalam. Watching this film is such a rewarding experience one may struggle with words to express it. A beautiful film. (available in iflix)

poster_eliana

Apa film Indonesia favorit anda selama ini?

Ternyata Kita Tidak Perlu (Terlalu) Banyak

Saat tulisan yang sedang Anda baca ini dibuat, saya berada di salah satu sudut di pulau Bali.
Demikian pula saat gempa bumi berskala 7.0 skala Richter terjadi di pulau Lombok pada hari Minggu, tanggal 5 Agustus lalu, saya sudah berada di pulau Bali. Lebih tepatnya, saya baru saja keluar dari kamar mandi di kamar hotel setelah buang air kecil. Baru selesai cuci tangan di wastafel, tiba-tiba saya terhuyung-huyung seperti kehilangan keseimbangan. Saya merasakan getaran di lantai. Sontak saya berpikir, “Gempa!”

Tanpa berpikir panjang lagi, saya berjalan ke meja tulis di belakang sofa di kamar hotel. Saya ambil telpon genggam dan kunci kamar, mengenakan sandal, dan berjalan keluar. Sempat terbersit niat untuk melindungi diri dengan meringkuk di bawah meja. Namun dari sekelebatan mata, ruang di bawah meja terlalu kecil. Tidak ada pilihan lain, cuma ambil ponsel dan kunci, lalu keluar ke arah lobi hotel.

Sampai di lobi, saya melihat sudah banyak orang berkumpul. Tidak banyak raut muka yang menunjukkan kepanikan. Mungkin karena staf hotel sudah sangat sigap mengarahkan sekaligus menenangkan tamu-tamu. Mungkin juga karena sebagian besar tamu, seperti saya, masih belum reda merasakan ketegangan, sekaligus juga excitement merasakan gempa di Bali. Ini yang pertama kali buat saya. Atau mungkin juga tamu-tamu ini malah penasaran mencari rute ke JFC terdekat berkat kunjungan pasangan John Legend dan Chrissy Teigen di warung ayam goreng ini di malam sebelumnya.

earthquake-clipart-earthquake-clip-art

Di lobi saya bertemu beberapa teman yang memang sedang menginap di hotel yang sama untuk urusan pekerjaan kali ini. Kami saling bertukar cerita tentang apa yang sedang kami lakukan saat gempa terjadi beberapa menit sebelumnya, dan bagaimana reaksi kami.

Salah satu dari teman saya berkata, “Masih mending kamu sempat ambil kunci kamar hotel. Lha ini aku tadi buru-buru keluar, kunci kamar ketinggalan di dalam!”

Kami pun tertawa, sambil bertukar cerita soal gempa barusan, dan beberapa kejadian serupa sebelumnya selama ini. Lalu setelah dirasa aman, tidak ada tanda-tanda gempa susulan malam itu, kami pun kembali ke kamar masing-masing.

Waktu kembali ke kamar, saya sempat berpikir, kenapa insting mengatakan untuk mengambil ponsel dan kunci kamar ya? Kenapa tidak mengambil tas punggung yang sedang tergeletak di meja depan televisi, atau mengambil power bank di meja? Dompet juga kenapa tidak diambil?

Pemikiran saya simpel saja: ponsel saya perlukan untuk menghubungi orang-orang terdekat, memastikan dan mengabarkan keadaan saya. Di saku celana masih ada uang, dan saya sempat ingat juga bahwa ada aplikasi di ponsel yang memungkinkan saya mengambil uang di ATM.
Kunci kamar saya ambil karena, apapun yang terjadi dengan kamar saya pasca gempa, saya ingin memastikan bahwa saya bisa masuk mengambil barang-barang saya yang lain saat keadaan sudah memungkinkan. Semua identitas diri, seperti KTP, paspor dan kartu keluarga, sudah saya scan, disimpan dalam bentuk foto, dan upload di cloud service. Sempat terpikir bagaimana nanti kalau batere ponsel habis. Tapi saya meyakinkan diri kalau sebelum batere ponsel habis, sudah menghubungi orang-orang yang memang paling penting untuk dihubungi terlebih dahulu.

Dan di saat itulah saya berpikir bahwa sebenarnya kita tidak butuh terlalu banyak barang untuk hidup. Atau untuk terus melanjutkan hidup.

Image-vignette-Post-Taiwan-Epicenter-EN-300x300

Sering kita mendapat pertanyaan, atau bermain kuis yang mengajak kita memilih, “kalau kamu cuma bisa membawa 5 barang untuk hidup di pulau terpencil, apa yang kamu pilih?” Atau seperti “sebutkan 5 barang berharga yang kamu bawa selama traveling!”
Terus terang saya suka malas menjawab kuis-kuis seperti itu, karena biasanya tidak berhadiah apa-apa, dan perlu waktu untuk berpikir cukup lama. Ternyata, saat dihadapkan pada situasi yang menuntut kita untuk langsung bertindak serupa, kita benar-benar mengandalkan intuisi kita. Intuisi yang dibentuk dari cara kita untuk menentukan prioritas dalam hidup.

Saya teringat film Swedia berjudul Force Majeure (2014) karya Ruben Östlund. Konflik cerita yang sudah tersaji dari awal film bermula dari tokoh ayah yang terkesima saat melihat badai salju, lalu buru-buru menyelamatkan dirinya, sebelum menyelamatkan anak-anaknya, yang telah diselamatkan sang istri terlebih dahulu.
Perseteruan antara suami dan istri, berikut anak-anak mereka, dari kejadian itu, yang akhirnya mengungkap perbedaan cara pandang karakter suami dan istri dalam memilih prioritas hidup, membuat film ini sangat menarik untuk disimak dari awal sampai akhir. Bahwa sebuah kejadian besar yang mengharuskan kita untuk bertindak at the spur of the moment bisa mengungkapkan karakter kita yang sesungguhnya, yang mungkin tidak pernah diketahui oleh orang yang paling dekat dengan kita sekalipun.

damage-earthquake-clipart-explore1

Pada akhirnya memang kita tidak perlu banyak dalam hidup, untuk hidup, dan supaya bisa tetap hidup. Dan biarkan pengalaman hidup yang akhirnya menentukan prioritas kita, apa saya yang kita paling perlukan supaya hidup kita bisa “hidup”.

Yang Dulu Pernah Berarti Buat Kita, Apa Sekarang Masih Punya Arti?

Lagi-lagi soal migrasi.

Performa daily driver smartphone atau ponsel utama yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari saya, semakin menurun. Usianya memang cukup tua untuk ukuran ponsel jaman sekarang, yaitu sudah lebih dari 3 tahun. Sebelum panik karena ponsel wafat total, beberapa hari terakhir saya luangkan waktu untuk memindahkan berbagai jenis files ke akun penyimpanan data. Termasuk data berupa catatan-catatan seputar buku apa yang sudah selesai dibaca, film dan serial televisi apa yang saya pernah tonton, berikut nonton di mana, tanggal berapa dan sama siapa.

Buat yang sudah mengikuti tulisan-tulisan kami di Linimasa sejak 2014 (ssst, sebentar lagi situs ini ulang tahun!), pasti sudah tidak asing lagi dengan kebiasaan saya di atas. Buat yang belum, saya memang punya kebiasaan untuk merekam jejak dengan menuliskan film apa yang sudah saya tonton, tanggal berapa menontonnya, di mana, dan sama siapa, kalau memang menontonnya tidak sendirian. Maklum, saya takut pikun. Kebiasaan ini sudah saya lakukan dari masa SMA, lalu terhenti beberapa tahun, dan kembali rutin selama beberapa tahun terakhir sejak pakai smartphone.

837407d9cbf2fb7baa3f18801e5ee724-d52qo6z

Kalau untuk kepentingan kurasi, pasti ada ulasan singkat dari saya di setiap judul film di catatan tersebut. Kalau menontonnya untuk urusan personal, cukup data-data singkat yang penting. Hanya saja, kalau filmnya sangat berkesan buat saya, maka judul filmnya saya tulis dengan huruf tebal. Kalau filmnya benar-benar membuat saya terkesima, maka judul filmnya saya beri garis bawah setelah menulisnya dengan huruf tebal.

Sialnya, format penulisan ini tidak termigrasi dengan baik saat backup. Agar cepat menulis, saya menggunakan aplikasi Notes di iPhone. Saat saya pindah ke sistem Android, yang paling mudah saya transfer ke Google Keep, yang tidak mengenal format penulisan apapun, karena aplikasi ini benar-benar berfungsi seperti sticky note biasa. Kalau mau diberi format khusus, harus dipindah ke Google Docs. Karena dari Notes di iPhone tidak bisa langsung pindah ke Google Docs, jadinya dari Notes di iPhone dipindah ke Google Keep, lalu dikopi ke Google Docs. Agak manual juga ya jadinya.

Dan saat mengutak-atik file di Google Docs untuk memberi highlight film-film atau buku yang berkesan dari data-data beberapa tahun silam, bolak-balik saya mengernyitkan kening. Judul-judul film dan buku yang dulu saya sukai, yang dulu membuat saya terkesan, setelah dipikir-pikir lagi sekarang, saya jadi heran sendiri. Kok dulu bisa suka ya? Padahal saat berusaha mengingat-ingat lagi, tidak ada hal yang bisa mengingatkan saya tentang perasaan senang saat itu.

Alhasil, ada beberapa judul yang tetap saya beri huruf tebal lagi, meskipun dengan setengah hati, dan ada juga judul-judul yang saya biarkan begitu saja. Ternyata perasaan senang itu tidak pernah abadi, ya?

silhouette_woman_light_black_profile-39671

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, cukup banyak kritikus film yang mencela Superman Returns (2006) saat Man of Steel (2013) baru diluncurkan. Padahal saat Returns baru dirilis, banyak yang memuji film tersebut. Sampai tulisan ini dibuat, rating di Rotten Tomatoes pun masih “fresh” sebesar 75%.

So what made the change? Time? Us?

The answer is: both.

Because life happens.

Meskipun kita dalam keadaan statis, kehidupan terus bergerak dan berputar, yang mau tidak mau mengubah cara kita memandang hidup dan hal-hal seputar kehidupan.
Atau paling gampangnya, mau kita diam pun, waktu terus berjalan, umur kita terus bertambah. Kapasitas dan kualitas pemikiran dan otak kita berubah. Prioritas hidup berubah. Informasi yang kita serap terus bertambah secara kuantitas dan semakin bervariasi secara kualitas, mengubah cara pandang kita, cara pikir kita. Sehingga kita pun memandang masa lalu dan segala sesuatu yang kita lakukan di masa lalu dengan cara pandang yang berbeda.

Apa yang dulu penting, sekarang bisa jadi tidak terlalu penting lagi.

Pernah tak bisa tidur karena terus memikirkan seseorang sambil menunggu pesan singkat dari dia, lalu setelah enam bulan atau malah kurang dari itu, he or she no longer matters.

Pernah mengidam-idamkan smartphone dengan segala fitur yang (sempat) dibilang canggih, nyatanya dalam tiga bulan ada merek lain yang melibas segala fitur itu.

Selalu ada hal baru lain yang membuat kita memikirkan ulang apa yang sempat berarti. Dan akhirnya yang bisa bertahan adalah yang memang teruji, yang bisa bertahan di atas perjalanan waktu. Bisa jadi karena kita memupuk perasaan suka, atau memang kualitas yang kita sukai memang tak gampang tergerus masa.

ben-sweet-456320-unsplash

Kita masih suka orang yang sama, meskipun dalam intensitas yang berbeda.

Kita masih menggunakan smartphone yang sama yang pernah kita idamkan, karena akhirnya kita bisa merasa cukup dengan apa yang kita sudah punya. Bukan baru merasa cukup kalau kita sudah punya.

Kita masih menikmati film yang memang kita suka, karena once in a while, a good work of art can last a lifetime.

Kita sendiri yang akhirnya memilih dan mempertahankan apa yang berarti buat kita.

That’s life.

Karena Kita Perlu Rumah

Kalau memang kita menganggap pasangan kita sebagai rumah, a home, maka:

• kita perlu waktu untuk mencari tempat calon rumah tersebut. Tidak bisa memilih sembarang lokasi. Demikian pula dengan calon pasangan sebagai rumah kita. Kadang ada yang bisa mendapatkannya secara cepat dalam sekejap, didorong oleh intuisi, kadang ada yang perlu waktu lama. Dan yang penting: saling cocok. Sama-sama available, and willing.

• Begitu dapat lokasi, maka kita perlu waktu lagi untuk membangun fisik bangunan rumah tersebut. Ada yang berbentuk rumah sederhana, rumah mewah, apartemen tipe studio, dan beragam jenis bangunan lainnya. Demikian pula dengan hubungan inter personal kita. Saat memutuskan untuk menjalin hubungan, maka di situlah pondasi awal mulai dibangun. Kalau masih terasa kosong, mari kita isi dengan usaha mengenali satu sama lain. Kalau masih terbuai di awang-awang, ibarat sejuta rencana dan ide tentang rumah yang belum jadi, maka kita mau tak mau terjungkal ke tanah saat melihat budget dan progress pengerjaan rumah.

keyhole-tomas-castelazo

• Sambil menunggu bangunan rumah selesai, kita masih mencicil pembayaran, dan mengurus semua keperluan administrasi rumah. Proses yang sepertinya tak pernah berhenti, dan mungkin tak akan pernah terhenti. Demikian juga mengenali keluarganya, teman-teman dekatnya, yang selalu berubah dan berevolusi, baik dari tingkah laku, pemikiran, dan untuk urusan teman, mungkin juga pergantian teman, seiring dengan berjalannya waktu.

• Saat rumah selesai, maka kini perlu mengisinya. Tak perlu buru-buru, yang penting sudah direncanakan dengan matang. Tak perlu buru-buru membombardir isi hati dan pikirannya dengan hal-hal yang kita sukai dan kita benci. Pelan-pelan saja. Let the other party start picking up. Lalu menemukan hal-hal lain yang disuka dan dibenci bersama.

• Saat rumah sudah terisi, kita tetap harus merawatnya dengan baik. Membersihkan secara rutin, merenovasi secara berkala. Merawat diri dan pikiran kita agar kita betah sama diri kita dulu sebelum pasangan kita juga betah. Mengganti barang yang sudah usang. Mengganti hobi dan kesukaan yang sudah lama tidak dilakukan, sambil mencari hal baru yang bisa dilakukan bersama.

• Kadang kita bosan dengan rumah kita sendiri. Saatnya pergi sejenak. Kadang kita perlu waktu sendiri, agar saat kita kembali, kita bisa lebih menghargai kebersamaan yang ada. Maka kita pun pergi untuk kembali.

• Mungkin kita perlu waktu lebih lama untuk kembali. Bisa jadi sangat lama. Mungkin rumah sudah terlalu rusak untuk diperbaiki. Biayanya sudah tidak masuk akal lagi. Sometimes the cost of fixing a relationship is too great to bear.

• Ada kalanya rumah kita jauh lebih baik saat ditempati dan dirawat oleh orang lain. Maka pelan-pelan kita belajar untuk melepaskannya.

• Kita pun mencari rumah baru, yang berbeda dengan rumah yang lama. Tak perlu disamakan, dan tak perlu berharap akan menjalani kehidupan yang sama. Toh umur kita sudah tidak sama lagi. Kalau kita tidak bisa menjadi lebih dewasa, paling tidak pengalaman hidup kita sudah bertambah, sehingga bisa jadi pegangan.

Sometimes, it takes a lifetime to build a home.

10-18-2-19-0-36-25m

(Source: artpal.com)

Kalau Kita Pikir Kita Tahu Semuanya, Well …

the truth is, we hardly know anything.

Seorang penulis ternama pernah menulis di akun media sosialnya, bahwa “I believe we only show 10% of our life in social media”. Kurang lebih isinya seperti itu.

Saya mengamini pendapatnya. Bahwa tidak mungkin kita menampilkan seluruh kehidupan kita, atau seluruh aktifitas seharian kita, ke media sosial untuk dilihat dan ditelaah orang-orang asing yang tidak kita kenal. Meskipun kenyataannya sekarang, jauh lebih banyak yang berusaha mati-matian untuk melakukan hal tersebut, demi viral, eksistensi, kepopuleran dan alasan-alasan lain.

Jangankan untuk media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita patut bertanya, yakinkah kalau kita tahu persis kehidupan orang yang dekat dengan kita?

Saat kita berpisah dengan pasangan kita setiap hari untuk saling berangkat kerja, tahukah kita apa yang pasangan kita lihat, rasakan dan lakukan sepanjang menuju tempat kerja, di tempat kerja, dan waktu mau pulang ke rumah? Saat anak selesai mencium tangan orang tuanya dan pamit berangkat sekolah, yakinkah orang tua benar-benar tahu kegiatan anaknya, dan anak benar-benar tahu rutinitas orang tuanya?

cache_6699210

Climber watching sunrise

Ada banyak sisi dalam diri kita yang mungkin sebagian dari kita sudah tahu apa saja sisi tersebut, dan mungkin ada yang belum secara penuh mengenali isi dalam diri. Adalah hak kita untuk mengungkap sisi mana yang mau kita bagi. Dan juga hak kita untuk membagi sebagian diri kita dengan orang-orang tertentu, agar ada kelompok-kelompok individu lain yang melihat sisi kita yang lain pula.

Sampai di sini apakah Anda masih bingung?

Saya mau bercerita sedikit.

Beberapa tahun lalu, salah satu teman terdekat saya akan menikah. Tentu saja saya dan beberapa teman lain ikut semangat menyiapkan diri untuk menghadiri pernikahan tersebut.

Namun beberapa hari menjelang acara besar, saya dilanda keresahan yang luar biasa. Sumber kegelisahan saya datang dari setitik keraguan mengenai hidup baru yang akan ditempuh teman saya. Dari mana keraguan itu muncul? Datangnya dari ketidaktahuan saya terhadap calon pasangan hidup teman saya tersebut.

Bukan sepenuhnya tidak tahu, hanya tidak dekat. Atau lebih tepatnya, tidak sedekat pertemanan kami.
Saya ungkapkan keraguan tersebut kepada beberapa teman lain. Semuanya memberikan tanggapan yang kurang lebih senada, yaitu agar saya wish them well saja. Tentu saja tidak meredam kegelisahan saya.

Sampailah di hari perhelatan acara.

Rangkaian prosesi pernikahan, mulai dari menyerahkan seserahan, duduk di belakang calon pengantin, semua kami ikuti sesuai aturan. Kami duduk mendengarkan petuah dari para pemuka agama, dan juga sambutan dari masing-masing orang tua. Tentu saja saya mendengarkan semuanya sambil membiarkan pikiran ini menari-nari sendiri dengan berbagai macam lamunan dan pemikiran tentang keraguan saya.

Sampai pundak saya ditepuk salah satu panitia.

“Mas, bawa kan flash disk yang dititipkan minggu lalu?”

“Oh iya. Hampir lupa. Sebentar ya.”

Saya bergegas ke mobil yang mengantar kami. Saya hampir lupa, kalau seminggu sebelumnya, ada seorang video editor yang menitipkan sebuah flash disk. Katanya itu berisi video dan foto calon pengantin. Sempat saya tanya, “Pre-wedding video?” Lalu editor itu menggeleng dan tersenyum. Katanya, “Nanti lihat saja sendiri.”

Of course saya belum sempat melihatnya dari saat menerima flash disk tersebut sampai hari pernikahan tersebut. Lalu saya serahkan flash disk tersebut ke panitia, dan kembali ke tempat duduk mengikuti rangkaian resepsi.

Sampai pada akhirnya MC memimpin pembacaan doa, lalu acara inti pernikahan selesai. Teman saya telah sah menikah, baik di mata agama maupun hukum. Para tamu mulai kasak-kusuk berdiri untuk antri foto bersama pengantin baru. Kami masih duduk-duduk santai sambil mengecek ponsel masing-masing.

thinking-about-life

Lalu MC berkata, “Sambil menikmati hidangan yang ada, kami akan memutar cuplikan video dan foto pasangan baru kita hari ini.”

Mata saya lalu beranjak ke dua layar televisi berukuran cukup besar yang sudah dipasang. Live feed sudah diganti dengan montage foto-foto teman saya dan, waktu itu, pacarnya. Saya tersenyum. Lalu cuplikan foto-foto berganti dengan video yang dibuka dengan tulisan “Sehari Bersama Mereka”.

Saya tertawa kecil sendiri, melihat teman saya memakai kaos yang pernah saya berikan sebagai hadiah ulang tahun. It looks familiar. Namun perasaan familiar tersebut hanya berhenti sampai di situ.

Saya tertegun melihat video itu. Di situ saya melihat sosok teman saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Yang sangat attentive dalam mendampingi pasangannya. Yang berbicara dalam nada suara yang berbeda, dan terlihat sungguh-sungguh, seakan tidak ada kamera yang mengikutinya. Yang memandang dan berbicara kepada pasangannya dengan tatapan seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar mereka.

Yang berbeda dengan cara interaksi terhadap saya dan teman-teman kami lainnya selama lebih dari satu dekade kami berteman.

Di momen itu saya sadar bahwa seberapa lama pun kita mengenal orang lain, selalu ada bagian lain dari orang itu yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. We never fully know a person. We can only know a glimpse of a person, and sometimes, that’s all we need to know.

Terus terang saya terharu saat video itu selesai, dan kembali memutar cuplikan foto-foto. Tidak ada yang tepuk tangan. Namun ada perasaan lega dalam hati seusai melihat video tersebut. Tiba-tiba keraguan saya hilang begitu saja. Yang ada adalah keyakinan, even just a hunch, bahwa teman saya telah memilih keputusan yang tepat. Dan akhirnya saya bisa memeluk mereka berdua di pelaminan saat sebelum kami foto bersama dan mengatakan dengan penuh keyakinan tanpa ragu, “Congratulations!

how-do-i-truly-know-if-god-is-calling-me

Seperti layaknya kita tidak pernah mengetahui secara penuh jati diri orang lain, kita pun tidak bisa mengharapkan orang lain tahu keseluruhan diri kita. Tetapi kita bisa selalu memilih, apa yang kita perlu tahu dari orang lain, dan apa yang orang lain perlu tahu dari kita.

And that is enough.