Relax, I’ve Got This!

 

Saking lamanya hidup sendiri, dan menyendiri kata teman-teman saya, saya sampai lupa dengan the magic of judul tulisan ini di atas.

“Relax, honey, I’ve got this!”

Rasanya menyenangkan ya, ketika ada orang lain yang membantu kita secara suka rela di saat kita overwhelm dengan berbagai macam hal. Mau itu barang belanjaan, pekerjaan dari kantor, atau hal-hal lain yang kita bawa pulang, unintentionally.

Mendadak saya sempat kangen dengan sensasi rasa dari kalimat tersebut beberapa minggu terakhir. Apalagi dalam perjalanan pulang naik ojek sambil menembus jalanan yang macet. Berhubung tidak berani mengeluarkan ponsel, mau tidak mau saya bermain-main dengan pikiran sendiri. (Ya masak pikiran abang ojeknya?)

Saya baru sadar beberapa bulan terakhir, bahwa kalau pulang ke rumah, saya tidak bisa langsung leyeh-leyeh saat membuka pintu. Inilah rutinitas saya saat pulang:

• buka pintu

• lepas sandal atau sepatu, lalu meletakkan di rak sepatu

• menyalakan lampu

• mengeluarkan isi tas, terutama kalau selesai belanja

• memilah mana yang harus masuk bagian buah dan sayur, mana yang masuk freezer

ganti baju

• meletakkan baju kotor, biasanya baju olahraga, di tempat cucian

• meletakkan tas di tempat yang mudah dijangkau saat pergi lagi keesokan hari

• menyiapkan makan malam

• mencuci peralatan masak

Dan biasanya saya baru duduk di depan televisi atau iPad untuk makan sekitar 15-20 menit setelah membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Lebih lama lagi kalau saya harus memasak makanannya dari awal. Tentu saja, semakin lama lagi mulai makan kalau masih harus memilih tontonan apa yang menemani saya.

1_tsU4FTsXqyP9XISpJp9vYg

 

Kegiatan ini saya jalankan secara rutin tanpa berpikir. Sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi bagian dari hidup seperti bernapas. Hanya saja, kok tiba-tiba beberapa minggu belakangan ini muncul lagi perasaan yang ingin sebagian rutinitas di atas dikerjakan dengan bantuan orang lain. Ingin rasanya benar-benar pulang ke rumah tinggal lepas sepatu, lalu duduk di sofa, sampai nyaris ketiduran, sebelum ditepuk pundaknya dan diingatkan untuk ganti baju sebelum makan malam.

Bahkan sampai nyaris lupa rasanya, saya sendiri yang harus mencoba mengucapkan kalimat yang saya tulis di awal tadi. “Relax, honey, I’ve got this”. “Relax, dear, I’ve got this.”

Mungkin karena sebagai lajang yang harus mengurus diri sendiri, mulai dari tempat tinggal sampai kesejahteraan diri sendiri, kita terbiasa mengerjakan segala sesuatunya secara sendiri, untuk diri sendiri. Kalau sedang diterpa rasa lelah yang luar biasa, sementara masih ada setumpuk urusan lain di depan mata yang harus dikerjakan dan diselesaikan, maka kita bisa memejamkan mata sejenak, mengambil nafas panjang, dan berkata ke diri sendiri, “Relax, I’ve got this.”

Because we can do what we need to do to. We have to.

Selamat menyambut akhir pekan!

Advertisements

Rewind

 

Akhir pekan lalu, mendadak saya harus rewind ke masa kecil saya. Literally.

Malam Minggu yang lalu, saya harus mengerjakan presentasi untuk materi mengajar di kelas pendidikan informal di hari berikutnya. Niatnya, saya mau mengerjakan presentasi itu setelah makan malam. Setelah menimbang berbagai pilihan makanan yang ada, saya memutuskan makan ikan bakar. Tidak ada yang istimewa mengenai pilihan ini. Simpel saja, karena lokasi tempat makan ikan bakar ini berseberangan dengan kedai kopi tempat saya mau bekerja.

Di tengah-tengah makan ikan bakar ini, tiba-tiba tenggorokan saya terasa tercekat. Sontak saya berpikir, “Uh oh, not that one. Please, not that one.”

Saya makan lagi. Ternyata perasaan tercekat itu masih ada. Saya berusaha menelan ludah, dan rasanya sakit. Saya lemas. Buru-buru saya selesaikan makanan saya sekadarnya, lalu saya bayar. Saya ke kedai kopi, berharap minuman hangat bisa melegakan tenggorokan saya. Sementara itu, pikiran saya masih tertuju pada presentasi yang harus saya selesaikan.

Ternyata saya tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Hanya separuh presentasi bisa saya buat. Saya memutuskan untuk pulang.

Sampai rumah, setelah berganti pakaian, saya putuskan untuk ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Setelah dirujuk ke dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT), dan menunggu lama karena banyak pasien datang sehingga saya bisa melanjutkan membuat presentasi, akhirnya kekhawatiran saya terbukti.

Ada tulang makanan yang menyangkut di tenggorokan saya.

Kejadian yang persis sama pernah terjadi hampir 30 tahun yang lalu, waktu saya kelas 3 SD. Dan kejadian ini meninggalkan trauma yang panjang, karena saya tidak bisa makan ikan lagi, sampai kelas 3 SMA akhirnya baru mencoba dan bisa makan ikan lagi. Kenapa trauma? Karena waktu itu posisi tulang benar-benar menyangkut di tenggorokan, tidak mau turun meskipun sudah dicoba dengan makan pisang, kepalan nasi, ketan, lontong, dan sejenis makanan lain. Mau tidak mau, harus diambil secara paksa dari luar mulut dengan alat yang masuk ke dalam tenggorokan. Setelah 3 hari, baru berhasil dilakukan.

Childhood-Trauma-1

Mau tidak mau, kejadian tersebut terbayang lagi di ingatan, terlebih saat dokter di hari Sabtu lalu menunjukkan posisi tulang yang memang menancap di tenggorokan lewat kamera yang diarahkan ke dalam mulut saya. Sempat lemas melihat feed kamera tersebut. Namun rasa lemas itu tidak terbawa ke lidah saya, yang terus menerus secara refleks menolak saat alat pencabut tulang itu mulai masuk ke tenggorokan. Posisi tulang memang di ujung bawah lidah, sehingga mencabutnya pun perlu “perjuangan”.

Setelah berkali-kali mencoba, dan selalu gagal, akhirnya dokter menyerah. Saya dianjurkan pulang dan beristirahat, supaya syaraf bisa rileks. Siapa tahu setelah syaraf rileks, tulang tersebut bisa luruh bersama asupan makanan lainnya. Dokter memberi obat untuk mencegah infeksi yang mungkin timbul. Meskipun tidur tidak tenang, apalagi setelah berkali-kali mencoba melawan dengan carbo loading malam-malam, mau tidak mau saya harus tidur.

Keesokan harinya, saya berusaha tidak terlalu memusingkan si tulang yang mungkin masih “nangkring” di tenggorokan. Dengan suara serak karena sakit, saya berusaha mempresentasikan last-minute slides dengan baik. Acap kali saya raba tenggorokan, sepertinya si tulang pelan-pelan mulai hancur, karena dari rabaan tangan, besaran tulang tidak sebesar semalam.

Lalu keesokan paginya, tenggorokan saya semakin sakit. Saat saya batuk dan muntah, ternyata sisa tulang keluar dengan sendirinya. Meskipun harus menanggung suara yang mendadak menjadi sangat “macho”, akhirnya tidak ada lagi tulang yang tersangkut di tenggorokan. So far.

Fear-and-Anxiety-An-Age-by-Age-Guide-to-Fears-Why-and-What-to-Do

Kejadian akhir pekan lalu mau tidak mau membuat saya berhenti sejenak menjalani aktifitas rutin yang sudah direncanakan. Dan itulah yang kita dapatkan saat kita sakit mendadak. Mau tidak mau, kita seperti dipaksa untuk istirahat. Seringnya kita harus melihat kembali, atau rewind, apa saja yang membuat kita jatuh sakit, sambil akhirnya berintrospeksi dan berjanji untuk lebih berhati-hati. Meskipun biasanya janji itu ditepati dalam waktu yang sebentar saja.

Dalam kasus saya, mau tidak mau saya harus melihat jauh ke belakang, ke satu bagian masa kecil yang terus terang sempat membuat saya takut. Sekarang pun sebenarnya masih takut. Cuma kalau kita menuruti rasa takut kita terus menerus, we’re gonna lose a lot.

Salam!

Reset

Sejatinya memang saya berniat absen sementara dari menulis rutin di Linimasa ini. Saya pikir, sebulan cukup. Maka selama bulan September 2019 lalu, saya took a pause dari menulis rutin. Alasan lain yang saya buat untuk diri sendiri di awal bulan lalu adalah, masa awal project biasanya akan occupied dengan berbagai penyesuaian baru. Memang penyesuaian itu terjadi, namun ternyata datangnya bukan dari dalam pekerjaan yang dilakoni.

Penyesuaian kali ini datangnya justru dari luar. Berbagai riuh suara demonstrasi yang menuntut perbaikan kualitas hidup, mulai dari kebakaran hutan yang mematikan sampai rancangan berbagai undang-undang yang malah membelenggu hak asasi kita, mau tidak mau membuat kita ikut merasakan dampaknya. Meskipun kita tidak bersama mahasiswa secara fisik, meskipun kita tidak di tengah hutan yang terbakar in person. Nyatanya energi negatif yang dihembuskan pembakar hutan, anggota-anggota parlemen yang tidak kompeten, dan insensible political buzzers membuat kita lemah tidak berdaya menghadapi hari.

Saya tidak bisa mendeskripsikan apa yang saya alami. Saya merasa marah, tapi tidak tahu kenapa sampai begitu marah membaca apa yang sedang terjadi. Saya merasa takut, karena I feel fucked membaca calon aturan-aturan yang malah membuat banyak orang lebih memilih mati daripada hidup. Begitu besarnya perubahan yang seolah-olah mendadak terjadi, padahal sudah dirancang jauh-jauh hari tanpa kita ketahui, sampai-sampai kita berpikir, am I alone feeling this low?

Sampai saya melihat twit teman saya, Siska Yuanita, di bawah ini:

IMG_3608

IMG_3609

 

 

Sontak saya merasa lega sesaat. Ternyata kebingungan dalam amarah dan ketakutan yang saya rasakan, juga dirasakan orang lain. Ternyata kita tidak sendiri. Ada collective common feeling yang juga dialami beberapa orang. Paling tidak, the thought that we are never alone sudah cukup membuat kita bisa bangkit dan bergerak lagi.

Sembari kita bangkit, mungkin ini saat yang tepat buat kita menggali lagi rasa empati. Mau mendengar dan melihat perbedaan, karena dari pendengaran dan penglihatan, kita bisa mulai menerima. It’s time to reset while we fight, while we resist.

Semoga saya bisa terus menulis lagi, sambil menerima dan menjalani perubahan yang terjadi.

Love you all!

Setelah Menunggu, Terbitlah Menunggui

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang menunggu seorang tukang segala bisa (demikian saya menerjemahkan handyman seenaknya) datang ke rumah. Ada kebocoran pipa yang mengakibatkan toilet kamar mandi tidak bisa berfungsi dengan baik. Berhubung jenis kerusakannya cukup besar dan tidak bisa saya kerjakan sendiri, mau tidak mau saya harus memanggil tukang.

Ini artinya, mau tidak mau pula saya harus mengubah semua rencana pekerjaan hari ini, supaya saya bisa ada di rumah. Untung pekerjaan saya cukup fleksibel, tidak harus datang ke kantor setiap hari, dan bisa mengerjakan pekerjaan di mana saja. Yang cukup repot adalah menggeser waktu janji temu dengan beberapa orang. Ada yang harus pindah jam, ada yang harus pindah hari. Beruntung, semua pihak bisa maklum. Mungkin karena aroma akhir pekan is in the air, jadi orang-orang cenderung relaks.

Kecuali saya. Kalau sudah harus menunggu pembersih rumah, tukang gas, tukang reparasi kamar mandi, pengantar furniture dan lain-lain untuk datang ke rumah, maka saya harus memastikan rumah dalam keadaan rapi, dan barang-barang berharga juga tersimpan dengan aman. Tentu saja, saya pun harus berada di rumah, untuk memastikan mereka melakukan pekerjaan dengan baik, dan syukur-syukur datang tepat waktu.

Tentu saja ini resiko menjadi lajang yang tinggal sendiri, yang tidak bisa setiap waktu meminta orang lain, seperti pembantu yang tinggal di rumah (yang saya tidak punya) atau tetangga (yang tentunya punya kesibukan sendiri) untuk sit in di rumah saya. Belum lagi rasa was-was, kalau misalnya ada apa-apa yang dilakukan pembantu atau tetangga. Maklum saja, you can never be extra careful in this city, apalagi kalau tinggal sendiri.

Yang saya harus antisipasi juga kalau lagi menunggu orang datang ini adalah, belum tentu mereka datang tepat waktu. Apalagi yang namanya antar barang. Selalu saja ada alasan untuk datang terlambat dari waktu yang dijanjikan atau direncanakan. Sementara kita tidak berdaya selama menunggu mereka. Oke, mungkin masih bisa berdaya, dalam artian masih bisa produktif dalam proses menunggu tersebut. Bisa sambil bekerja, atau bisa sambil menulis blog yang sedang Anda baca ini. Meskipun pasti ada sedikit rasa cemas atau khawatir kalau mereka tiba-tiba tidak jadi datang. Namanya juga menunggu dalam ketidak pastian.

Kalau sudah datang, tentu saja kita harus menunggui mereka. Siap-siap tiba-tiba ada hal yang tak terduga, misalnya kerusakan di rumah kita ternyata melebar, yang berarti harus ada ekstra biaya dan tambahan waktu pengerjaan, sementara waktu kita terbatas, atau barang yang diantar tidak sesuai pesanan atau rusak di tengah jalan. It happens and it can happen. Mau tidak mau, kita harus menunggu dan menunggui, sebelum akhirnya aktivitas kita berjalan normal lagi.

Maybe we need this whole thing as a welcome disruption or a break.

Jadi sesekali memang, mau tidak mau, kita harus menunggu lalu menunggui.

Oke, baru saja tukang yang saya tunggu datang. Saya harus menunggui pekerjaannya sampai selesai, sambil siap-siap weekend budget terpangkas untuk bayar ini-itu.

Selamat berakhir pekan!

Selamat Ulang Tahun Ke-5, Linimasa Sayang!

Tulisan ini dibuat dan diunggah sehari sebelum ulang tahun ke-5 Linimasa yang jatuh pada tanggal 24 Agustus 2019. Memang, hari Jumat ini bukan giliran saya yang menulis. Namun hari Kamis kemarin saya masih diterpa kelelahan luar biasa setelah menghabiskan sepekan sebelumnya hiking di luar kota. Akhirnya baru kesampaian menulis sekarang, setelah selesai meeting proyek pekerjaan, sembari menunggu masuk bioskop.

Apa yang terjadi setelah lima tahun? Let’s see.

Roy Sayur masih setia membayar domain dan web hosting situs ini setiap tahunnya.

Gandrasta Bangko makin rajin memberikan tips seputar parfum, masker, makanan, proses dan gaya bercinta, sampai make-up di grup kami.

Kang Agun masih aktif di Twitter, tuh.

Glenn Marsalim dengan mangkok ayamnya tak pernah berhenti berkreasi, dan terus melakukan inovasi baru.

Leila Safira masih jadi yang paling fit fisiknya di antara kami semua.

Dragono Halim menjadi satu-satunya yang paling rajin menulis (hampir) setiap minggu di sini tanpa jeda.

Saya sendiri masih sendiri. Bukan promosi. Tragedi kok dipromosiin.

Ini artinya, life happens. Dan karena itulah maka kita semua melihat bahwa semakin lama, frekuensi tulisan baru yang muncul di Linimasa juga semakin jarang. Moto dan slogan kami yang bertajuk “menulis hampir setiap hari, karena internet perlu lebih banyak hati”, rasanya harus direvisi menjadi “menulis hampir setiap seminggu sekali atau dua kali, karena internet perlu lebih banyak hati”.

Paling tidak, ada bagian slogan yang masih bisa dipertahankan. Entah sampai kapan.

Dan karena pakai hati itulah, maka kadang kita tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa yang namanya hati bisa berpaling. Apalagi karena kita semua masih have a life to live yang harus dijalani setiap saat. Deadline pekerjaan, target penjualan, urusan keluarga, masalah pribadi, kesehatan fisik, problematika kehidupan secara umum atau secara khusus, kadang menghalangi kami untuk berbagi.

Atau ada distraksi lain. Dalam separuh dekade terakhir, kami tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa banyak sekali jenis media sosial yang berkembang, yang lagi lincah-lincahnya menarik perhatian. Mau tak mau, atensi kami terserap ke sana. Begitu pula banyaknya akun-akun pengguna berbagai media sosial lain yang acap kali membuat kami geleng-geleng kepala sambil bergumam, “We’re not worthy!

Tulisan ini dibuat murni dari sudut pandang saya sebagai salah satu penulis, bukan pendiri Linimasa. Tetapi lima tahun yang lalu saya mengiyakan ajakan Roy Sayur untuk bergabung, karena saya tertarik dengan konsep blogging yang direncanakan. Menulis ramai-ramai, bergiliran setiap hari, berceloteh sesuka hati. Sering kali bingung mau menulis apa, sampai akhirnya tenggat waktu lewat, dan akhirnya menulis sekedarnya. Paling tidak ini yang saya lakukan beberapa kali. Hehehe …

Yang jelas, sampai hari ini, Linimasa masih ada di sini. Kalau kami tak lagi sering berbagi, paling tidak tulisan-tulisan lampau kami masih enak dibaca setiap saat.

Buat saya, tidak ada tujuan muluk-muluk dalam menulis di Linimasa ini. Ada yang baca, sudah membuat saya senang. Masih terlalu jauh untuk menjadi hal yang menginspirasi, atau mengubah hidup. Cukup dikunjungi dan dibaca saja, that is all.

Terima kasih sudah menemani selama ini, dan nanti. Semoga kami masih bisa terus berbagi.

:*

Woles Itu Perlu

Saya kaget. Twit yang saya tulis hari Minggu malam lalu, ternyata ditwit ulang lebih dari 5 ribu kali! Pura-pura sok cool, ternyata dalam hati saya merasa norak-norak bergembira. (Untung level noraknya masih belum pakai pertanyaan “Mau mutualan?” Wait. Should I?)

Maklum, sebagai seseorang yang bukan “selebtwit” atau pesohor media sosial, yang cuatannya tidak pernah ditwit ulang sebanyak ini, saya kaget, lho. Kok bisa banyak yang sependapat, sih?

Padahal twit di atas ditulis saat saya belum selesai packing. Tipikal kebiasaan sebelum pergi, terutama pergi di luar urusan pekerjaan, mau packing mulainya setengah mati. Demikian pula nanti saat pulang liburan, pasti unpacking juga akan malas setengah hidup.

Parahnya lagi, kalau pergi seorang diri, untuk liburan pula, maka saya malas membuat itinerary atau rencana kegiatan. Mau melakukan apa atau pergi ke mana saja di hari apa.

Beda sekali kalau traveling untuk pekerjaan. Kalender penuh dengan jadwal meetings, janji makan siang atau makan malam, dan kegiatan-kegiatan lain. Kalau perlu kegiatan yang bersifat rehat di sela-sela pekerjaan harus dimasukkan juga di kalender. Supaya ada reminder kalau istirahat itu perlu.

Di tengah kegamangan itulah, twit di atas saya tulis. Sudah pasrah, kalau ada barang ketinggalan, tinggal beli. Untung perginya ke kota besar. Sudah pasrah, itinerary disesuaikan dengan mood berikut cuaca setiap harinya. Prinsip dasar bepergian: yang penting sudah ada tiket, sudah reservasi tempat penginapan, dan ada identitas diri.

Di sini saya mulai merasa, apa jangan-jangan sikap “woles” saya dalam menyiapkan segala sesuatunya ini, sebenarnya cuma rasa malas in disguise?

Mungkin karena terlalu santai, maka saya sempat diperingatkan secara halus oleh universe atau Yang Maha Kuasa.

Beberapa belas jam kemudian, saya mendarat di tempat tujuan. Saat diminta aplikasi visa, saya menyerahkan lembaran bukti aplikasi visa online. Semua data benar … kecuali tanggal lahir. Tanggal lahir saya, 11 April (11/04), tercetak di aplikasi visa 4 November (04/11). Petugas imigrasi menolak, dan meminta saya membuat aplikasi visa yang baru.

Memang pembuatan visa awal terbilang cepat. Cuma karena saya masih shocked, belum sempat memproses kejadian ini, saya cuma bisa bengong. Lalu petugas imigrasi tadi memanggil temannya, dan membawa saya ke kantor petugas imigrasi. Aplikasi visa saya tadi sedang diperiksa lagi, katanya. Saya disuruh menunggu di luar kantor tersebut.

Apa yang saya lakukan? Duduk, menunggu, dan melanjutkan main game. Ya, main game. Lalu bosan. Belum ada panggilan. Baca buku di Kindle. Cuma bisa baca 2 chapters. Pikiran mulai tidak bisa berkonsentrasi.

Berhubung masih bisa dapat akses wifi bandara, saya cuma memberikan update singkat keadaan saya ke grup WA yang anggotanya bisa dihitung sebelah tangan.

Saya bercanda, “Doakan nggak dideportasi, ya. Bingung juga kalau dideportasi, gue ngambil koper gue gimana ya.”

Meskipun setengah bercanda, diam-diam saya mulai menghitung uang yang ada. Kalau harus beli tiket pulang, berarti harus pakai kartu kredit. Mengingat-ingat lagi limit kartu kredit yang saya bawa. Oke, cukup. Ada sedikit rasa aman.

Lalu saya main game lagi. Hitung-hitung menenangkan diri.

Sampai akhirnya setelah 90 menit menunggu, saya dipanggil lagi. Bersama petugas yang lain, saya menuju ke ruangan lain. Petugas ini membuatkan saya aplikasi baru. Setelah cek ulang lagi, memastikan data saya benar semua, maka saya menyerahkan lagi paspor dan aplikasi visa yang baru. Kali ini lolos.

Saya ambil koper di tempat bagasi khusus karena sudah lewat dari putaran di conveyor belt, lalu membeli SIM card, kartu transportasi, dan di perjalanan menuju hotel, saya cuma memberikan update singkat di grup tadi, “On my way to hotel now.” Sambil main game.

Sampai di hotel, urusan check-in berjalan lancar. Sampai di kamar, merasa lapar sekali. Apalagi setelah kejadian tadi. Jadi saya putuskan mencari makanan apa saja di dekat hotel. Adanya franchise fast food yang bukan khas kota atau negara ini. Ya sudah, nggak masalah. Yang penting perut terisi. Tidak mahal pula. Lalu setelah melihat-lihat area sekeliling hotel, saya kembali ke kamar, dan tidur.

Bangun pagi, baru membuat rencana-rencana kecil untuk aktivitas beberapa hari ke depan. Tentu saja tidak semua rencana ini pasti terjadi. Kalau ada perubahan, just go along with it. Masih banyak aktivitas yang bisa dilakukan, dan tempat yang bisa dikunjungi. Kalaupun tidak banyak, paling nggak masih ada.

Saat fisik mulai lelah pun, bisa duduk dan minum sekedarnya. Sambil menulis di blog, seperti yang saya lakukan untuk anda baca kali ini.

Namanya juga hidup, kadang-kadang memang kita harus menerima apa adanya.

Ya udahlah.

Cheers!

Pilihan Pertama

Perbincangan ini terjadi kurang lebih hampir satu dekade yang lalu. Saat itu teman saya baru menyelesaikan studi tingkat pasca sarjana di luar negeri. Lalu dia kembali untuk mencari kerja. Di sela-sela rangkaian beberapa wawancara kerja, kami menyempatkan bertemu untuk makan siang. Sambil setengah berkeluh kesah, dia berkata sambil bercanda, “Gile, saingan gue mbak-mbak yang dateng interview pake belahan dada rendah! Gue sampe bilang ke bapak gue pas pulang ke rumah, “Tau gitu instead of bantu biaya hidup pas kuliah kemarin, uangnya buat boob jobs aja!””

Kami tertawa sampai tersedak. Mind you, teman ini saya cerdasnya luar biasa. Kuliah pasca sarjananya pun relatif gratis, karena dia mendapat beasiswa. Toh dia mendapat tamparan halus saat realita hidup berbicara: bahwa yang namanya penampilan fisik acap kali mendapat perhatian lebih.

Tulisan Dragono soal kejamnya dunia terhadap orang jelek masih menjadi salah satu tulisan yang paling sering dibaca di Linimasa ini. (Padahal yang baca Linimasa konon terus menurun. Hihihi.) Tentu saja tulisan ini selalu relevan, karena begitu mudahnya kita terbuai rasa insecurity kita soal hal tampilan fisik ini. We are never good looking enough. We are never pretty enough. We are never ugly enough. We are never enough.

Banyak yang mengatakan bahwa ketika seseorang mempunyai wajah yang rupawan, maka paling tidak sepertiga atau separuh persoalan hidupnya teratasi. Mungkin saja. Tapi yang kita tidak pernah tahu adalah dua pertiga atau separuh lain dari persoalan hidupnya yang lain bisa jadi sangat besar buat dia, sehingga dia tidak bisa melihat sisi lain dari kehidupan yang dia jalani. Bisa saja ‘kan?

Tak bisa dipungkiri, wajah rupawan adalah sebuah privilege, terutama yang memang sudah diberkahi dengan kualitas ini dari lahir. Sementara yang lain berusaha mati-matian meraih ini. Kalau nggak, produk perawatan muka dan kosmetik tidak akan laku, dong?

1_1r41lfYuNwShN4fjqAeb5w

 

Meskipun begitu, ada satu hal selain tampilan yang menawan ini yang membuat kita terus diingat. Apalagi kalau bukan reputasi.

Reputasi ini bisa juga dibilang sebagai kemampuan kita yang membuat kita jadi pilihan utama saat dicari orang.

Misalnya begini. Waktu dulu di bangku SMA, saat ulangan atau tes bahasa Inggris, sontak teman-teman berebut duduk di bangku sebelah saya. Kenapa? Supaya bisa mencontek. Sementara saat ulangan atau tes pelajaran Biologi, giliran saya yang berebut supaya bisa duduk di sebelah teman saya yang memang jago pelajaran ini. Hehehe …

Ternyata kebiasaan ini pun terus bergulir sampai kita beranjak dewasa. Kalau tiba-tiba kita ditanya, “Eh punya rekomendasi atau kenalan teman yang jago desain gak?”, maka mau tidak mau pikiran dan pilihan kita akan melayang ke beberapa orang yang pernah kerja bersama kita. Kita puas akan hasil yang mereka kerjakan. Maka kita pun tak segan-segan merekomendasikan mereka ke orang-orang lain yang membutuhkan.

Demikian juga kalau saya perlu tanya, “Punya rekomendasi tukang kayu buat bikin dipan, nggak?” ke teman-teman saya, maka mereka pasti akan merekomendasikan tukang kayu yang pernah mereka pakai jasanya, dan hasilnya memuaskan.

Dan tentu saja, tidak ada satu pun dari rekomendasi-rekomendasi tersebut yang dimulai dengan pertanyaan, “Eh tampang orangnya gimana?” Kalau tampilan fisik menarik, itu hanya kebetulan semata. Namanya juga kebetulan, berarti tidak pernah jadi faktor utama dalam hal merekomendasikan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan. Malah faktor fisik ini bisa jadi bumerang, kalau hasilnya tidak bagus, maka akan tercuat pernyataan, “Cakep-cakep tapi gak bisa kerja.”

Tentu saja butuh waktu lama untuk menjadi top of the mind dalam hal yang kita kerjakan sekarang. Kuncinya ada di konsistensi. Selama kita konsisten melakukan pekerjaan kita, dan mengasah kemampuan diri, sambil terus mengembangkan jaringan, pelan-pelan rekomendasi akan mampir ke kita juga. It takes time, but we may as well take the bloody time.

Kenapa?

Beauty fades, but knowledge and skill do not.

 

 

Liburan Pun Perlu Disiplin

Saat ini, saya sedang dalam masa rehat, atau break sementara. Ada masa transisi antara periode proyek sebelumnya dan periode yang akan datang. Tahun lalu, alih-alih beristirahat, periode ini malah saya gunakan untuk traveling yang masih ada kaitannya dengan kerjaan. Alhasil, periode proyek yang baru saja berlalu kemarin terasa melelahkan saat dijalani. Rasa lelah ini bahkan masih terasa sampai proyek tersebut selesai. Oleh karena itu, maka saya memutuskan untuk take a break sebentar, sebelum project cycle berikutnya dimulai.

Apa yang dilakukan di masa rehat ini? Sebenarnya sesimpel tidak menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Surat elektronik, update informasi di grup percakapan, atau dalam konteks profesi saya, tautan video preview yang perlu dilihat dan dianalisa. Semua hal ini sejatinya tidak perlu dilihat atau dibaca dulu.

Pertanyaan berikutnya adalah, mungkinkah ini bisa dilakukan? Lagi-lagi dalam kasus saya, ternyata berat untuk melepas kebiasaan ini. Apalagi kalau kebiasaan tersebut sudah dilakukan selama berbulan-bulan sampai menjadi suatu kebiasaan. Tahu ‘kan sebuah perkataan yang bilang kalau ingin menjadikan sesuatu kegiatan sampai menjadi kebiasaan, kita perlu melakukannya secara rutin minimal selama 3 minggu? Apalagi kalau sudah berbulan-bulan, kebiasaan pun sudah menjadi gaya hidup.

WD44GF6EM5AEXLZPYBONLOW4LE
(source: washingtonpost.com)

 

Susah untuk tidak membaca, atau sekedar melihat, email yang ada kaitannya dengan pekerjaan, saat kita membuka email dari aplikasi traveling untuk mengganti kata kunci. Mau tidak mau mata kita sempat melirik chat baru dari grup kerjaan, padahal kita lagi janjian untuk ketemu teman-teman di grup lain. Godaan untuk nge-click video preview sungguh sangat besar saat mulai mati gaya, karena lagi malas menonton film dan serial di berbagai aplikasi lain.

Kalau sudah begitu, maka mau tidak mau, saya harus pasang target pribadi. Harus selesai baca 3 novel dalam sebulan ini. Novelnya pun sudah ditentukan sendiri yang mana saja, karena kalau tidak ditentukan, akan mudah tergoda atau terdistraksi dengan bacaan lain.

Saya harus menyelesaikan beberapa serial televisi, terutama yang sudah dinominasikan untuk Emmy Awards, sebelum penghargaan tersebut diberikan di bulan September.

Harus bepergian di luar kepentingan profesi atau pekerjaan, sesimpel pergi ke luar kota yang jaraknya 1-2 jam dari rumah.

Setelah menyusun semua rencana tersebut, baru kita sadar, kalau kita pun perlu punya disiplin tinggi dalam menentukan atau merancang liburan, dan juga di saat menjalani liburan tersebut.

Kenapa begitu?

Karena relaxed and chill saat liburan perlu disiapkan dan diatur sebelumnya.

Ribut-Ribut Reboot Karena Remah-Remah Remake

Semalam saya menonton film The Lion King versi terbaru tahun 2019. Kekhawatiran saya setelah melihat trailernya beberapa bulan silam, ternyata terbukti. Terus terang, saya tidak terlalu menyukai versi baru film ini. Menurut saya, tidak menawarkan sesuatu yang baru. Bahkan setelah 30 menit pertama, dan setelah menyadari bahwa versi terbaru ini hampir shot-by-shot remake dari versi animasi tahun 1994, saya langsung berpikir, “Kenapa harus di-remake sih, kalau nggak ada sesuatu yang baru? Why can’t they just leave the animated version alone?”

Saking nggak konsennya menonton film itu, saya lantas berpikir dan menghitung. Tahun 1994 itu terjadi 25 tahun lalu. Orang-orang seusia saya yang pernah menonton versi animasi film ini di bioskop pada saat itu, yang notabene berada di usia sekolah, kebanyakan sekarang sudah berkeluarga. Kebanyakan mempunyai anak atau keponakan yang sekarang sedang berada di formative years, atau usia perkembangan. Setelah menyadari hal itu, maka lantas saya berpikir, mungkinkah sebuah karya seni dibuat ulang setelah melampaui batas waktu tertentu, dalam hal ini dua dekade?

Biasanya kita asumsikan satu dekade sama dengan satu generasi. Dua dekade berarti dua generasi. Dalam kurun waktu ini, seseorang sudah bisa tumbuh dari duduk di bangku sekolah, lalu bekerja, dan berkeluarga, lantas mempunyai keturunan. Mungkin saja dia punya keinginan untuk membagi apa yang dia pernah nikmati waktu kecil, lalu meneruskan ke keturunannya, dalam hal ini anak, atau keponakan, atau murid, atau siapapun yang berada di dua generasi di bawahnya.

077524500_1542947121-simba_1
The Lion King (2019) (sumber: liputan6.com)

 

Hal ini benar-benar ditangkap Disney, yang belakangan sibuk melihat katalog film animasi dari beberapa dekade lampau untuk dibuat ulang dalam bentuk live action film. Tahun ini sendiri saja ada Aladdin selain The Lion King. Dua tahun lalu ada Beauty and the Beast. Tahun depan ada Mulan. Tahun depan juga ada The Little Mermaid.

Sah-sah saja. Apalagi memang tidak ada lagi orisinalitas di dunia ini. Sebuah cerita atau karya seni hanya bisa bertahan hidup dari generasi ke generasi apabila ia direka ulang dalam bentuk yang berbeda. Cerita Aladdin adalah bagian dari hikayat 1.001 cerita malam. Cerita The Lion King terinspirasi dari “Hamlet” karya William Shakespeare. Demikian pula dengan berbagai katalog film Disney lainnya, yang bersumber dari dongeng-dongeng dunia yang sudah dipermak dan diubah sedemikian rupa agar bisa dinikmati anak-anak. Mau tidak mau juga, reka ulang sebuah karya seni juga mengikuti perkembangan jaman. Makanya, ada lagu “Speechless” di Aladdin, atau porsi peran karakter Nala diperbesar di versi The Lion King terbaru kali ini.

Hanya saja, mungkin yang masih perlu diikutkan dalam setiap reka ulang karya seni adalah emosi dan jiwa yang menghidupkan sebuah karya. Persoalan yang tidak mudah, sangat tricky, mengingat penilaian hal ini sangat subyektif. Apalagi beda generasi, tentu saja beda jenis persepsi, karena waktu dan lingkungan yang mempengaruhi persepsi ini sudah berubah dan berkembang.

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa berharap, semoga generasi baru yang menikmati tontonan reka ulang dan reka buat ini, memang benar-benar menikmati film-film tersebut. Dan bisa menginspirasi mereka untuk membuat apresiasi, lewat vlog atau lewat karya lain, yang sama baiknya, atau malah lebih baik.

Dan kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?

Selamat Ulang Tahun ke-10, Film-Film dari 2009!

Kalau harus menyebut “tahun terbaik” untuk menilai kualitas film-film yang dirilis di tahun tertentu, sebagian besar penggemar film pasti menyebut tahun 1939 dan 1999. Di tahun yang disebut pertama, jajaran film klasik tumplek blek dirilis di tahun itu, mulai dari Gone with the Wind, The Wizard of Oz, Stagecoach, sampai Mr. Smith Goes to Washington. Sementara di tahun yang disebut kedua, film dengan visual efek yang mencengangkan macam The Matrix dirilis berbarengan dengan horor laris The Sixth Sense, lalu ada juga komedi nakal American Pie yang juga dirilis di tahun yang sama dengan komedi romantis Notting Hill atau drama serius American Beauty.

Lalu bagaimana dengan tahun-tahun lain yang juga berakhiran angka 9, seperti tahun 2009 yang baru saja lewat 10 tahun yang lalu?

Saya sendiri setuju kalau ada yang bilang bahwa tahun 2009 bukanlah one of the great years in movies. Tapi bukan berarti tidak ada film-film yang berkesan. Apalagi menonton film urusannya sangat personal, bukan?

Tahun 2009 sendiri adalah tahun di mana saya banyak mengalami titik balik, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam urusan pekerjaan. Mau tidak mau, hal-hal seperti ini mempengaruhi pilihan tontonan, dan pengalaman menontonnya.

Looking back, cukup banyak juga film yang saya tonton di tahun 2009 ini. Dan setelah mengingat-ingat lagi, apa saja film-film dari tahun 2009 yang berkesan buat saya, inilah dia:

• Film-film yang juga saya suka: The Boat that Rocked, An Education, Moon, The White Ribbon, The Secret in Their Eyes, A Single Man

[sepuluh] Bangkok Traffic (Love) Story

 

Pertama kali menonton film ini di bioskop (yang dulu bernama) blitz di Grand Indonesia, pemutaran terhenti di tengah-tengah karena … mati lampu! Terpaksa pemutaran dihentikan sama sekali, padahal film sudah berjalan hampir separuh durasi. Petugas memberikan kupon voucher gratis untuk menonton film yang sama di hari lain. Saya pun menonton lagi di hari lain tersebut, mengulang dari awal, dan tetap tersenyum dari awal sampai akhir melihat cerita dari karakter Mei Li yang mengharap perhatian dari Long, pria yang ditaksirnya, sampai-sampai merubah pekerjaan supaya bisa pas waktunya.

[sembilan] I Am Love

 

Film yang membuat saya menganga, takjub akan penampilan Tilda Swinton dengan kemampuan berbahasa Rusia yang luar biasa. Ada salah satu adegan sangat kecil yang mencuri perhatian. Saat di pesta di rumahnya, karakter yang dimainkan Tilda, yang tidak bisa berbahasa Inggris, duduk dan menunduk sambil mengaduk cangkir tehnya. Dia hanya mendengarkan orang-orang di sekelilingnya berbahasa Inggris. Saat dia dipanggil, dia mengangkat mukanya sedikit, dan matanya menyorotkan ekspresi ketidaktahuan atas apa yang mereka bicarakan, karena bahasanya terdengar asing. A very small moment, tapi sungguh brilian dieksekusi oleh Tilda Swinton, yang memberikan gambaran lengkap tentang karakter yang dia mainkan hanya dengan gerak tubuh yang minimal.

[delapan] King

 

Beberapa kali di tulisan di Linimasa ini saya pernah menyatakan kalau film-film bertema ayah dan anak adalah salah satu Kryptonite pribadi. Hampir selalu ‘lemah’ kalau disodori film-film semacam ini. Tak terkecuali film ini. Film yang bercerita tentang cita-cita seorang anak desa yang ingin menjadi pemain bulu tangkis, yang mendapat tentangan dari ayahnya. Penampilan komedian almarhum Mamiek Prakosa sebagai sang ayah masih sangat membekas di ingatan, karena gambaran karakter yang dimainkan benar-benar mencerminkan sosok seorang ayah pada umumnya: keras karena tempaan hidup, namun penuh kasih sayang yang kadang sulit dicerna. Film ini mungkin akan jadi film yang selamanya underrated.

[tujuh] Inglourious Basterds

 

Mulai dari adegan apple pie di restoran, sampai ke penembakan di bioskop yang sangat bombastis, film karya Quentin Tarantino ini bisa dibilang sebagai salah satu yang paling enjoyable di antara semua filmnya. Dan mungkin film ini juga menginspirasi banyak akun media sosial yang membuat sejarah jadi menyenangkan lewat parodi fakta dan kejadian yang sesungguhnya. Nevertheless, film ini, for the lack of better word, memang sangat menyenangkan untuk ditonton berulang kali, sampai sekarang.

[enam] Up

 

Mari kita akui bahwa yang membuat film Up ini sangat berkesan adalah montage selama 7 menit yang menggambarkan kehidupan perkawinan karakter Carl dan istrinya, sampai akhir hayat sang istri. Adegan tanpa kata tersebut sangat indah, bahkan bisa dibilang saking indahnya, hampir keseluruhan film bertumpu pada adegan tersebut. Guliran adegan petualangan yang terjadi setelahnya, meskipun digarap dengan sangat baik, meninggalkan impresi yang tak terlalu mendalam apabila dibandingkan dengan montage di awal film. Jadi apakah mungkin adegan selama 7 menit di awal film bisa uplift the whole film? In this case, yes.

[lima] Mother

 

Sebelum film Parasite dirilis, saya selalu bilang bahwa karya terbaik Bong Joon-ho adalah film ini. Siapa sangka film tentang kegigihan seorang ibu membela putranya ini bisa menjadi film yang tegas, tangguh, sekaligus lembut? Kalau tak percaya, lihat saja adegan terakhirnya, yang pernah saya bahas sebagai salah satu adegan penutup dalam film yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam seusai kita menontonnya.

[empat] A Prophet

 

Filmnya memang ‘keras’, karena bertutur tentang kehidupan seorang narapidana dan penjara yang dihuninya. Dan memang sutradara Jacques Audiard memilih untuk memperlihatkan betapa kompleksnya kehidupan di penjara yang bisa mengubah karakter seorang yang tadinya lugu menjadi keji. Kita tidak bisa berpaling sedikit pun dari setiap adegan di film ini, yang sangat menuntut perhatian sekaligus empati kita. Film yang membuat a star is born moment untuk aktor Tahar Rahim, dan sejak dari film ini, setiap film yang dibintangi Tahar Rahim selalu membuat saya menyempatkan diri untuk menontonnya.

[tiga] 3 Idiots

 

Tiba-tiba banyak teman dan kenalan saya yang tadinya tidak mau atau jarang menonton film Hindi atau film India in general, mendadak menonton film ini. Film ini sempat bertahan lama di bioskop, karena word of mouth yang disebarkan sangat positif. Tentu saja rekomendasi film ini karena isu pendidikan yang jadi fokus utama ceritanya. Sampai sekarang pun, film ini dijadikan rujukan untuk memotivasi pendidikan alternatif yang bisa diterapkan untuk menggali potensi non-akademis setiap anak di usia pendidikan dasar. Film yang membuat Aamir Khan menjadi spokesperson untuk urusan pendidikan dan kemanusiaan.

[dua] Up in the Air

 

Pertama kali saya menonton film ini di bioskop tengah malam. Namun setiap dialog di film membuat saya tidak mengantuk. Bahkan semakin tertohok. Meskipun frekuensi terbang saya jauh di bawah karakter Ryan Bingham yang diperankan George Clooney, namun siapapun pasti akan relate dengan perasaan akan perlunya someone to come home to, something to look forward to dalam hidup. Film yang sepertinya akan terasa timeless, dan terbukti paling tidak di sepuluh tahun pertama.

[satu] 500 Days of Summer

 

“Summer, kamu jahat!” Demikian reaksi saya selama bertahun-tahun. Setiap kali ada pertanyaan, “Siapa tokoh paling jahat di film?”, tanpa tedeng aling-aling saya menjawab, “Summer!” Perlu waktu bertahun-tahun, dan ratusan kali menonton ulang, sampai akhirnya saya sadar, dan disadarkan oleh pernyataan Joseph Gordon-Levitt, bahwa Summer hanya melakukan apa yang layaknya dilakukan orang kebanyakan, yaitu mengeksplorasi perasaan sebelum melabuhkan pilihan. The other party saja yang baper kebablasan. Demikian pula dengan saya, yang sialnya selalu ada di posisi Tom, dan tidak pernah di posisi Summer.

Toh saya tetap membiarkan idiom “Summer jahat!” berkecamuk di pikiran saya, karena isn’t it awesome that such a cute character can be villainous unintentionally?

Dan apa film-film favorit anda dari tahun 2009?

Jejak Yang Kita Tinggal

Paruh kedua tahun ini dibuka dengan beberapa berita duka yang mengena buat saya. Ada beberapa orang yang pergi meninggalkan dunia dengan cepat, terasa tiba-tiba tanpa ada pertanda sebelumnya. Hampir semuanya meninggalkan impresi yang mendalam, yang juga berarti meninggalkan rasa sedih karena kehilangan.

Semakin sedih saat ada seorang teman yang mengatakan bahwa di paruh pertama tahun ini, ada beberapa teman atau kenalan in common kami yang juga telah berpulang. Setiap berita duka datang menghampiri, kadang tanpa sadar kita menghitung atau mengingat-ingat lagi, siapa saja orang-orang terdekat kita yang sudah tiada dan masih ada.

Yang juga kita sering lakukan tanpa kita sadari adalah memikirkan bagaimana orang memandang kita setelah kita tiada.

Beberapa hari lalu, tepat sehari setelah kepergian seorang rekan kami, saya bertemu untuk meeting proyek pekerjaan. Di sela-sela meeting, kami berbagi kenangan terhadap almarhum. Mulai dari kenangan mengerjakan proyek bersama, makan bersama, sampai “kongkalikong” dalam menyusun aturan.

Kami juga sama-sama membaca ucapan berita duka di media sosial, di mana cukup banyak teman-teman kami yang lain berbagi kenangan bersama almarhum yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Kami tertawa, lalu sama-sama mengucap “aaawww …”, lalu tersenyum, berusaha menutup kesedihan yang melanda.

Rekan kami memang dikenal sebagai sosok yang bisa merangkul banyak orang, dan dekat dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Tak heran kalau kenangan yang muncul pun yang baik-baik.

 

Footprints1

Namun tak urung seorang rekan bertanya di meeting kami, “Kalau misalnya ada orang jahat yang meninggal, yang semasa hidupnya banyak berbuat salah sama orang lain, I wonder apakah orang tersebut akan sama diomongin seperti kita sekarang ngomongin mas X dengan segala kebaikannya ya?”

Kami terdiam. Seorang teman lain menjawab, “Mungkin. Tapi kayaknya gak langsung diomongin di saat hari wafatnya dia. Energi buat berduka sudah cukup berat, nggak sempet mikirin yang lain-lain.”

Teman lain menimpali, “Dan bisa jadi orang itu gak berbuat baik ke orang lain, tapi he’s an angel to some others. Entah ke keluarganya, ke beberapa temannya, we’ll never know.”

Kami menggangguk dan terdiam lagi. Lalu ada yang bertanya, “Penasaran aja. Have you been wondering, what legacy will we leave behind when we depart?”

Kembali kami terdiam. Setelah lama, saya berkata, “If you ask me, jawabannya nggak tahu, dan terus terang, nggak mau tahu. Karena ya by then, gue udah mati, gue gak bisa lihat ama denger apa yang orang katakan tentang gue. Cuma yang gue tahu, pas masih hidup gini, sebisa mungkin gue gak bikin sakit hati orang. Itu aja, sih. Gak mungkin nyenengin semua orang, emang, but at least, gak bikin orang sepet sama gue. I guess that’s all?

Saya melihat teman-teman saya mengangguk. Teman saya lantas berkata, “Ya living the life lah. We honour orang-orang yang udah ninggalin kita ya dengan hidup. We work, we live, we love, we do what we are best at doing. Life goes on.

Dan dengan pernyataan itu, kami melanjutkan sisa aktivitas masing-masing, karena matahari baru saja terbenam. Sambil masing-masing mungkin berpikir, bahwa legacy kita dimulai dari saat kita menyadari bahwa kita punya kehidupan yang harus kita jalani.

Universe Bernama Jakarta

“Ngomong-ngomong, gue gak pernah papasan lho sama mantan gue yang dulu, yang putus lebih dari lima tahun lalu,” ujar saya out of the blue di suatu sore di kedai kopi saat mudik Lebaran beberapa hari lalu.

Lontaran ini saya sampaikan ke beberapa teman yang kebetulan mudik ke kota yang sama, dan kami memang sengaja bertemu, berhubung sudah “mati gaya”.

“Sumpah lo?”

“Beneran.”

“Samsek (sama sekali)?”

Well, abis putus pernah sih, papasan sesekali. Apalagi waktu itu circle pertemanan masih sama. Tapi itu kayak dua atau tiga bulan doang. Abis itu gak pernah lagi.”

“Kok bisa sih? Gak di mall mana gitu …”

“Kalau dia masih tinggal di tempat yang lama, dia lebih sering beredar di GanCit (Gandaria City) daripada gue yang lebih sering ke GI (Grand Indonesia).”

“… ya atau di halte busway …”

“Dia? Naik TransJakarta? Dulu sih enggak ya.”

“… atau di MRT sekarang …”

“Nggak pernah tuh.”

“Di airport!”

Please. It only happens in films ato novel.”

“Di gym?”

“Beda gym. Apalagi sekarang gue mainnya di studio kecil. Ya intinya, kadang gue ngerasa amazed aja, satu kota, tapi nggak pernah papasan sekali pun. What does it say actually?”

“Ya bagus, ‘kan?”

“Iya, sih. Cuma heran aja.”

Well, for a start, we’re talking about Jakarta, dude. Kota yang guede banget. Elo bisa aja kerja di Thamrin, abis itu ketemuan dan makan di Sabang, ewes bentar di Karet …”

“Woi! Kenapa harus ada ewes sih?”

“Bodo! As I was saying, ewes bentar di Karet atau Rasuna, abis itu pulang ke rumah masing-masing. Elo di Rawamangun, dia ke Kelapa Gading. Searah, tapi beda tujuan. Ketemunya ya orang-orang berbeda di tiap neighbourhood, sekalian just to make sure orang-orang rumah gak ngenalin. Ya gimana gak pernah papasan?”

Kami semua bengong sejenak, lalu spontan tertawa terbahak-bahak. Untung saja suasana kedai kopi saat itu tidak terlalu ramai.

“Kalau menurut elo?” Saya bertanya ke teman yang lain.

“Kalau menurut gue, itu berarti bukti bahwa Tuhan itu ada dan nyata.”

“Heee? Ade ape? Elo lagi persiapan hijrah?”

“Iya, sekalian, abis ketemu keluarga besar kemarin, jadi puas gue dicekokin secara langsung, teori-teori konspirasi agama yang selama ini disebarin di WhatsApp. Ya gak, gila! Maksud gue, God works in mysterious ways. Lima tahun, alias lebih dari 1.700 hari, elo gak pernah ketemu orang yang once upon a time mattered most to you. Yang elo pernah hidup bareng sehari-hari. Yang ada elo ketemu orang-orang baru, atau orang-orang lama yang ternyata emang elo perlu temui. I don’t know, tapi itu sih udah kayak miracle ya.”

Kami terdiam sejenak. Salah satu teman saya memicingkan mata.

“Hmmm. Nah, I don’t buy it.

“Ya dengan kata lain, the universe is working its mysterious ways to pull you into the direction you need. Yang tentunya beda direction ama mantan elo.”

“Nah, kalo kayak gitu, gue beli omongan elo.”

Kami kembali tertawa keras-keras. Di luar matahari masih menyengat, meskipun hembusan angin membuat suhu kota masih di bawah 20 derajat celcius.

This universe called Jakarta is nothing but amazing ya.”

Indeed!” / “Hear, hear!” / “Bener banget.” / “Setuju.”

I mean, saking banyaknya jenis orang, elo bisa ganti atau tambah circle pertemanan dengan mudahnya, provided you are willing juga ya. Elo bisa ganti tipe orang yang kencani atau pacari … “

“Hmmm …” / “Hmmm …” / “Hmmm …” / “Hmmm …”

“Hahahaha. Oke, elo punya kesempatan buat ganti, walaupun ujung-ujungnya yang elo demenin juga yang setipe. Tapi tiap elo deket ama orang, elo bisa milih buat ketemuan di tempat yang beda-beda satu sama lain.”

“Ya karena tempat yang elo dulu pernah datengin, belum tentu ada by the time you visit again dengan yang baru, yang biasanya terjadi setiap berapa bulan sekali, sodara-sodara?”

Kami tertawa lagi.

“Atau ya paling obvious kayak yang dibilang tadi, mau selingkuh gampang banget.”

“Pengalaman nih?”

“Jangan ngeles. Hayo, masak elo semua gak pernah tempted sih? Meleng dikit pas lagi nunggu ojek, eh ada yang cakep lagi nunggu juga.”

“Sumpah gue gak abis pikir ama contoh elo.”

“Ya maksud gue, kalo elo kerja di Selatan, ngekos di Setiabudi yang notabene perbatasan Pusat ama Selatan, kalo mau selingkuh, selingkuh aja sama yang di Central Park ato Grogol sekalian. Beres ‘kan?”

“Hahahaha, ini kenapa ngomongin selingkuhan ya?”

“Kalau mau niat selingkuh sih, mau di kota kecil juga bisa. Gak usah repot-repo pindah provinsi. Bilang aja, nanti sebelum nonton di PS (Plaza Senayan), aku makan dulu di Senci (Senayan City) ya sama temen-temen aku. Kita ketemu langsung di bioskop. Boro-boro ke Senci. Elo ngumpet aja ama gebetan elo di TWG di PS!”

“Eeeh, hahahaha, sepertinya pengalaman pribadi bener!”

“Ember!”

“Dan walaupun elo udah digituin ya, tetep aja elo gampang move on. Menurut gue, lho ya. Oke, gak gampang, tapi relatif gampang. Tinggal ganti aktivitas after office hours atau weekend elo. Tinggal ganti tempat tongkrongan. Apalagi sekarang ada MRT ama LRT. Jalan sejam aja, isi dating app baru semua.”

“Soalnya selama di sini elo liatnya itu-itu aja di app.

“Iya banget! Hahahahaha!”

“Berapa kali coba gue udah bilang mau pindah dari Jakarta. Sumpek. Apalagi sekarang polusi makin gila. Cuma ya tetep, gue gak bisa dapet kesenengan berupa ketemu orang-orang ajaib ini di kota-kota lain. Meskipun kota-kota ini lebih bersih, lebih teratur, lebih livable, tapi emang kitanya juga yang demen cari resiko cepet mati, jadinya ya terus aja hidup dengan kemacetan, bising, tapi, I hate to say this, menyenangkan.”

“Makanya kan, kita kerja mati-matian, supaya bisa pergi sebentar dari Jakarta, supaya bisa kangen ama Jakarta, dan akhirnya mau balik lagi ke Jakarta.”

Speaking of kangen, elo gak nyadar dari tadi hape elo bergetar terus, ada yang ngajak video call?”

“Astaga!”

Kami tertawa.

Happy belated birthday, Jakarta!

Menutup dan Mengakhiri

Bukan, hari ini saya belum memutuskan untuk menutup dan mengakhiri rangkaian tulisan saya di Linimasa selama hampir 5 tahun ini. (Nggak tau ya, kalau minggu depan tiba-tiba … Pokoknya, tunggu saja waktunya.)

Yang saya ingin bagi hari ini adalah beberapa cerita soal pengakhiran (aneh ya bahasanya?), atau closure (nah, ini lebih pas!) dari sebuah hubungan romantika. Berikut beberapa contoh kejadiannya, yang sekaligus menjelaskan, apa sih closure itu, kak?

Silakan:

(Subyek 1)

“Jadi dulu gimana elo bisa sampai bener-bener ada closure sama mantan?”

“Mantan yang mana?”

“Yang terakhir deh.”

“Ya abis putus, gak ketemuan lama, trus pas ketemuan lagi beberapa bulan kemudian, ngobrol deh. Kenapa dulu kita putus, trus sekarang gimana. Standar.”

“Emang sengaja ketemuan?”

“Pertama sih gak sengaja. Terus janjian ketemuan lagi. Baru di situ ngobrol.”

“Pake nangis atau gebrak meja atau banting kursi?”

“Elo kira lawak di tipi? Ya gak lah. Udah lewat beberapa bulan juga, udah kelar sedihnya, jadi ya ngobrol aja, like two adults.”

“Jadi kuncinya emang waktu, ya?”

“Ya abis, apa lagi?”

(Subyek 2)

“Gimana elo dulu bisa sampe ada closure ama mantan elo?”

“Mantan yang …”

“… yang paling drama putusnya.”

“Hahaha. Berat tuh. Lama. Makanya dia yang terakhir nongol pas gue mau kawin! Elo tau kan, cobaan orang mau kawin, tiba-tiba semua mantan pacar, mantan gebetan, mantan flirt, mantan fling, sampe mantan ONS semua pada nongol?”

“Busyet. Berapa macem sih jenis mantan?”

“Hahahaha. Ya pokoknya dari semua jenis mantan itu, semuanya udah beres, kecuali satu. Eh bener, dia nongol beberapa hari sebelum akad nikah, coba!”

“Terus?”

“Ya akhirnya ketemu. Ngobrol semaleman di coffee shop. Tumpahin semua unek-unek selama jadian dan selama bertahun-tahun setelah putus. Both sides lho ya yang curhat. Terus jalan, di mobil curhat, nangis, gitu terus. Tapi gak ada ciuman, gak ada grepe-grepean. Cuma pelukan. Sambil nangis. Hahaha. Tapi ya udah. Lewat jam 1 pagi dikit, pulang ke rumah masing-masing. Paginya gue bangun ngerasa lega. Plong. Banget.”

(Subyek 3)

“Elo ada closure sama mantan, gimana?”

“Ya ambil jatah mantan for the last time lah. Ewes.”

“Huahahahaha. Okay, next!”

(Subyek 4)

“Eh, ada cerita apa dari trip elo kemarin?”

“Hihihi. Guess what? Akhirnya ada closure ama mantan!”

“Ha? Ketemu di sana? Dia ikut rombongan?”

“Kagak. Boro-boro ikut rombongan. Kalo ada dia, ya ngapain gue ikut rombongan itu? Jadi, elo tau kan kalo ini tuh holy trip gitu. Buat ibadah. Jadi ya niat dan mindset gue dari pas pergi pun pokoknya ya udah, ibadah aja lah. Mumpung ada waktu. Di sana ya gue nothing but praying lah. Dan berdoa tuh minta ya yang standar lah, kesehatan, rejeki, kerjaan, pokoknya yang seperti itu. Kagak kepikiran sama sekali mau minta “Ya Tuhan, aku pengen move on ini kok susah banget yaaa, plis!”

“Hahaha. Terus?”

“Ya pas sore-sore gitu, gue lagi duduk-duduk, mumpung tempatnya lagi adem. Sekalian nunggu jam giliran ibadah, gue baca-baca aja kitab suci. Sekeliling gue juga. Baca aja, gak mikir apa-apa. Pas lagi konsen baca, tiba-tiba … Ah ini kedengerannya cemen, unbelievable, tapi beneran terjadi. Tiba-tiba, kayak ada suara, lirih banget, yang bilang ke gue, “It’s time. You can let your ex go now.” Gue kaget! Gue bengong. Lihat kanan kiri. Nggak ada orang yang duduk deket gue. Paling deket tuh jaraknya kayak dari meja kita ke toilet depan itu. Nggak mungkin bisa bisikin gue. Gue diem, lemes, dan inget persis kata-kata yang kedengeran barusan. Kitab suci gue tutup, tiba-tiba gue nangis aja gitu. Of all the prayers I asked ya, yang gak gue minta di situ, yang gue juga udah agak lupa juga, ternyata dikabulin dengan cara yang gak gue duga. Sama sekali.”

“Wow. Bener-bener divine intervention ya”

“Bener banget. Dan pulang dari trip itu, gue udah gak ada apa-apa lagi kalau ngeliat update atau feed dia di socmed. Asli. I feel nothing.”

That’s good!

(Kembali ke subyek 3)

“Eh tapi jadinya enak, gak?”

“Ya enak, lah! Lha wong gak pake benang. Eh tali.”

“Maksudnya?”

No string attached.”

“Huahahahahaha!”

(Subyek 5)

“Pertanyaan elo ribet amat sih, soal closure.”

“Ya kali elo punya cerita unik soal tutup buku ama mantan ini.”

“Hmmm. Paling gue pernah sih, gak sengaja walk down memory lane atau napak tilas perjalanan bersama mantan. Hahahaha.”

“Eh, maksudnya? Jalan bareng lagi setelah putus?”

“Enggak. Jadi pernah gue harus ke luar kota gitu, lalu pas cari hotel, keluar tuh di daftar pencarian hotel yang dulu pernah stayed bareng mantan di situ. Gue langsung skip lah, cari hotel yang lain. Tapi kok harga pada mahal-mahal semua. Sementara kualitasnya gue tahu gak sebagus hotel yang tadi. Dan jatuhnya hotel yang tadi itu lebih murah. Jadilah akhirnya gue booked hotel itu. Hehehe.”

“Wah. Dan dapet kamar yang sama kayak dulu?”

“Huehehehe. Kok ya kebetulan … iya.”

“Wuih! Terus gimana rasanya?”

“Ya gue senyum-senyum sendiri pas masuk kamar itu. Inget aja dulu pernah ngapain, kayak gimana. Hihihi. Dan akhirnya ended up pergi ke tempat-tempat yang dulu pernah gue ama dia datengi, di sela-sela kerjaan. Soalnya kan gue pergi yang terakhir ini karena work trip.”

“Lalu, pas elo revisited those places, what did you feel?

In general, nothing. At all. Inget sih, pasti. Pas masuk coffee shop, inget dulu gue pesen apa, dia pesen apa, duduk di mana. Pas masuk restoran, juga sama, inget makanan yang pernah kita pesen. Inget pernah foto selfie di mana aja di sudut kota itu. Cuma ya gue gak gila aja posting di socmed pake #10yearschallenge walaupun belum 10 tahun. Hahahaha.”

“Hehehe. Tapi beneran elo gak ada rasa apa-apa lihat tempat-tempat itu lagi?”

Nothing. Beneran. Mungkin karena waktu ya. Oke, mungkin kalau ada sedikit perasaan, bisa jadi gue lega. Lega karena setelah melihat kembali tempat-tempat itu, gue bisa cukup acknowledge past memory, tanpa harus drowning in sorrow inget-inget lagi yang dulu-dulu. Kayak yang, “oh pernah ke sini, pernah nyobain ini”, dan udah. Waktu sadar gue bisa melakukan itu, gue berpikir, “oh, berarti udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. That’s it.” Jadinya gue percaya bahwa waktu membiasakan kita. Time may not heal, but we are used to our scars as time passes.”

(Kembali ke subyek 3)

“Terus closure-nya kalo pake ambil jatah mantan gitu, gimana? Kan kalo enak jadi ketagihan?”

“Hus! Ya nggak boleh terus-terusan lah. Jatah mantan itu cuma sekali aja. Kalo terus-terusan, ya mending balik aja. Balik jadi pacar atau jadi apa lah. Lha kalo udah putus, ngapain balik lagi? Pokoknya udah, one last time, that’s it. Kalo diterusin biasanya malah gak enak nanti.”

“Jadi beneran diambil saat kira-kira masih enak ya?”

Exactly!

“Mantap!”

“Mantap. Mantan tetap. Hahahaha!”