Petuah Yang Selalu Kita Usahakan

Salah satu nasihat yang pernah diberikan ayah saya kurang lebih begini:

“Jangan kamu ingat semua kebaikan yang pernah kamu lakukan ke orang lain. Tapi selalu ingat semua kesalahan yang pernah kamu lakukan ke orang lain.”

Berat? Tentu saja. Namanya juga petuah. Kalau tidak berat, itu namanya basa-basi. Atau konten meme.

Apalagi ini pedoman hidup yang disampaikan ke orang tua pada anaknya, dengan harapan agar anak bisa mengamalkan atau menjalankan itu dalam hidup.

Tentu saja pertanyaan yang muncul setelah itu, naturally, adalah: apakah saya sudah menjalankan pesan ayah saya ini?

Dengan menghela nafas yang dalam dan panjang, saya menjawab dengan mantap dan tegas, “Belum.”

Kenapa belum? Karena ini berat sekali dilakukan.

Terlebih di saat kita lagi dilanda gejolak emosi yang berlebih, apalagi belakangan ini. Ditambah lagi, katanya sekarang bumi sedang mengalami fenomena Mercury Retrogade. (Walaupun kalau dipikir-pikir, asyik juga menyalahkan fenomena alam terhadap perasaan kita yang sedang carut marut tak karuan.)

Saat kita sedang emosi, sedang merasa kesal terhadap orang lain, sangat mudah kita untuk berkacak pinggang sambil bilang, “Dasar elo ya! Gak tahu terima kasih, gue udah kerjain semua saat elo gak ada, sekarang elo semua yang take the credit and praise!” Kalau perlu sambil melotot seperti Leily Sagita di sinetron … Ah, Google saja kalau tidak familiar dengan nama ini.

Saat kita sedang emosi, sangat mudah buat kita mengasihani diri sendiri, menempatkan diri kita sebagai korban. Kita sibuk mendramatisir berbagai kejadian di benak kita, membayangkan kita seolah-olah bak anak sebatang kara yang disia-siakan orang tuanya sehingga harus menyambung hidup di jalanan ibu kota yang bengis, seperti Faradila Sandy di film … Ah, Google saja kalau tidak tahu referensi ini.

Trust me, I know this, I can write this, because I have been experiencing this. Shamefully, sometimes I still do that.

aid319399-v4-728px-Ask-a-Friend-to-Forgive-You-Step-1

Sangat berat bagi kita untuk mendinginkan kepala saat hati masih berapi-api. Sangat berat bagi kita untuk bisa tenang, saat kesempatan untuk marah-marah lebih terbuka lebar. Biasanya kemarahan kita jadi tidak fokus, tidak terpusat pada hal yang memicu konflik, malah merembet ke hal-hal lain di masa lalu yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali dengan masalah at the present time.

Jujur, saya punya anger management problem. Terlebih saat sendiri, dan merasa sendiri menghadapi masalah dengan orang lain. Sangat susah untuk mengakui kesalahan, dan berbesar hati mau bicara terbuka dengan orang atau kelompok yang mempunyai masalah dengan saya, untuk mencari jalan keluar.
Sometimes we think our way is the best way, until we talk it out loud, and we realize it’s not.

Kalau sudah dalam posisi ini, sebelum “meledak” lebih jauh, maka saya akan retreat. Mundur sejenak, kalau perlu diam lebih lama lagi. Dan tidur. Saya percaya bahwa sleep on it kadang menyelesaikan masalah.

Dan meskipun saya tidak relijius, saya percaya bahwa waktu 3 hari atau 72 jam itu waktu yang cukup untuk marah kepada seseorang, terlebih dalam konteks marah terhadap rekan kerja, teman sekolah, atau sejawat lainnya. Setelah waktu tersebut selesai, mungkin marah kita belum reda, tapi paling tidak kita sudah punya perspektif lain terhadap masalah yang kita hadapi, karena kita kepikiran terus selama waktu itu ‘kan? At least this is what I believe.

And I still believe in the power of forgiveness. Mau kita yang meminta maaf, mau kita yang memaafkan, yang jelas forgiveness gives closure.

Dan bukankah kita hidup selalu mencari closure ini?

So, Dad, if you’re reading this, and I know you sometimes are, I am still working on your advise, all the time.

father-and-son1

Ringkasan Hidup Kita

Awal bulan Februari lalu, saya beradda di Berlin selama 2 minggu. Keberadaan saya di sana untuk urusan pekerjaan. Untungnya, kota ini terasa cukup familiar, karena ini bukan kunjungan pertama dalam waktu yang singkat. Proses adaptasi, jet lag, dan sejenisnya cukup mudah dilakukan. Apalagi begitu sampai, cuma punya waktu sebentar untuk beres-beres di kamar hotel, sebelum pergi ke tempat kerja.

Toh a sense of familiarity yang saya temui ternyata masih menyimpan elemen kejutan yang menyenangkan.

Jadi saya bertanya ke rekan kerja saya yang sudah lebih dulu sampai tentang aktivitas yang dia lakukan sebelum saya datang.

“Gue ketemuan dan makan malam sama ABC. Dia ‘kan udah kawin dan menetap di sini. Gue juga bilang ke dia kalau elo akan dateng. Jadi kita akan dinner lagi ama dia.”

“Oke. Eh bentar. Ini ABC yang mana sih?”

“ABC DEF.”

“Haaah? ABC DEF?!”

“Iya!”

“Astaga! Gue pikir ABC yang mana. Dia masih ada?”

“Hahahaha, ya masih lah!”

No, I mean … Oh My God, elo tau gak sih kalau there was a period in my life, a significant period and a significant amount of time, si ABC DEF ini tinggal ama gue, terus kita sering jalan bareng dan practically dia yang menyuruh gue to live the way I live now?”

“Makanya, dia juga kaget pas gue menyebutkan nama elo juga. “Nauval? Nauval Yazid? Ya ampun!” Gitu katanya!”

“Ah gila, gue udah lama banget gak mendengar nama ABC DEF ini. How long has it been … 14 … 15 years? Ya Tuhan, selama itu!”

Lalu kami pun sepakat untuk mengosongkan jadwal malam hari di Valentine’s Day dari semua pekerjaan. Kami akan makan malam bersama.

Begitu sampai di hari yang tentukan, dan setelah mengikuti Google Map sampai tersesat, akhirnya kami sampai di tempat makan. Saya dan ABC DEF spontan berpelukan cukup lama. Kami tidak kaget melihat perubahan fisik masing-masing. Malah sepertinya kami begitu cepat saling mengenali, karena ada sense of familiarity yang tak bisa dipungkiri.

Pasangan teman lama saya ini pun cukup tahu diri, karena dia bolak-balik taking a smoke break meskipun bukan perokok berat, untuk memberikan waktu dan teman saya saling catch up.

Dan di sinilah kejutan terjadi.

Setelah duduk dan memesan minum, kami memulai percakapan.

“Ya ampun, elo ABC! Gila, gue sampe takjub sendiri akhirnya mendengar nama elo lagi. Gue sama sekali gak mendengar nama elo lho bertahun-tahun ini.”

Dia tertawa. “I take it as a compliment, lho.”

How are you?

I’m fine. Super fine. How are you?

I’m good. Gue masih gak percaya lho ini ketemu elo lagi.”

“Hahahaha. Nah sekarang udah percaya kan? So now tell me, what happened to you, the last 14-15 years?

games-to-play-around-the-dinner-table-1260-853

Lalu saya mulai bercerita dari periode terakhir bertemu dia. Tentang semua jenis pekerjaan yang saya lakoni selama ini. Tentang beberapa tempat tinggal yang saya jadikan rumah selama ini. Tentang heartbreakers and getting the heart broken repeatedly over the years.
Dan semua ini saya ceritakan dalam 10 menit.

Di akhir cerita saya terdiam sejenak. Lalu saya berkata ke teman saya:

Wow. Did I just tell you the story of my life in the past 15 years in only 10 minutes?

Teman saya tertawa sambil mengangguk. Saya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala:

Wow. If only I knew back then that my life story in one and half decade can be summarized in only 10 minutes. I mean … Bok, segala macam drama gak penting itu, ternyata kalau dilihat lagi, gak berarti apa-apa ya? Cuma 10 menit ini gue cerita ke elo, sementara dulu pas putus nangis dan marahnya berhari-hari. Eh sekarang pas dilihat lagi, ternyata gak ada apa-apanya!”

Kami tertawa. Demikian pula dengan teman saya yang juga memberikan ringkasan singkat kisah hidupnya selama bertahun-tahun terakhir.

Sepanjang makan malam itu saya tak habis pikir, ternyata tak semua kejadian dalam hidup kita akan terus kita bawa. Jangankan selamanya, bahkan lebih dari satu dekade pun belum tentu. Hanya momen-momen tertentu yang akan selalu terpatri dalam ingatan. Dan jenis momen yang akan lekat dalam ingatan pun, kita tidak akan pernah menduga apa yang akan kita ingat.

Saya pikir semua luapan dan tindak-tanduk emosional yang pernah saya keluarkan akan terus saya ingat. Ternyata tidak.
Saya pikir semua hal-hal baik yang saya lakukan karena saya ingin mendekati seseorang akan terus saya ingat. Ternyata tidak.

Turns out, we can never tell what sort of memories will stay with us forever.

Tapi yang kita percayai adalah bahwa memori tidak pernah tercipta karena kita berdiam diri. Memori tercipta karena kita melakukan sesuatu, berulang kali, dan beribu kali. Let our brain and mind choose the best summary of our life.

For now, we just live.

eece9185246a088c42c8bd98d4d5a25a

Oscar Yang Terlalu Ribut

Tadinya, saya mau menulis sedikit tentang beberapa hal unik yang terjadi waktu saya ke Berlin selama dua minggu terakhir. Tetapi saat membuka Twitter, tiba-tiba teringat bahwa hari Senin pagi waktu Indonesia ada perayaan Academy Awards ke-91. Lantas saya memutuskan untuk menulis tentang prediksi peraih Oscar tahun ini. Cerita tentang Berlin bisa diendapkan dulu. Mungkin memang harus disimpan beberapa saat dulu, supaya bisa menulisnya dengan lebih jernih dan obyektif. Well, we’ll see.

Kok bisa, “tiba-tiba teringat” tentang Oscar? Padahal biasanya sangat tuned in terhadap film-film dan orang-orang pekerja film yang dinominasikan?

Jujur saja, saya mulai merasa lelah mengikuti pemberitaan seputar Oscar dengan aneka politik yang cenderung negatif.

Kekhawatiran saya mulai timbul saat film Roma mencuat. Memang, saya beruntung bisa menyaksikan di layar lebar, dan memang film itu indah sekali ditonton dengan intensitas tinggi di layar lebar. Namun itu tidak mengurangi kekaguman saya, bahwa film dengan intensitas tinggi seperti ini, bisa kita tonton berulang kali, bisa kita pause di momen-momen tertentu agar kita bisa mencerna luapan emosi yang kita rasakan, atau bisa kita hentikan untuk mengamati dengan lebih detil lagi adegan-adegan yang dibuat dan dikerjakan Alfonso Cuaron dengan kecermatan luar biasa.

Saya tidak anti Netflix, atau anti OTT platform atau video streaming app apapun, yang memungkinkan pembuat film membuat karya yang tidak mungkin didanai produser konvensional manapun. Sebagai penonton, saya gembira menyambut tontonan berkualitas di ruang tamu atau tempat tidur saya, yang tidak bisa didapat di bioskop. Toh saya masih pergi ke bioskop untuk menonton dengan tujuan bersosialisasi, baik itu sekedar menonton sendiri, atau bersama pasangan (yang belum ada juga sampai tulisan ini dibuat).

Memang kehadiran video streaming platform yang demikian agresif sempat menyulitkan pekerjaan saya. Toh film tidak hanya satu. Masih ada film-film lain yang perlu ajang untuk ditayangkan.

Berbicara mengenai ajang atau wadah, Oscar memang selalu menjadi sasaran empuk untuk melancarkan aksi kampanye yang penuh muatan politis. Apa tidak bisa mengkritik Green Book dari sisi lain? Apa iya Black Panther sebagus itu? Apa tidak capek menggonggongi Bohemian Rhapsody melulu?

Yang jelas, kalau ada yang masih menganggap Academy Awards adalah penghargaan untuk film-film dan para pembuat film “terbaik”, oh boy. Seperti yang selalu saya katakan berulang-ulang, paling tidak setahun sekali, Oscar recipients are those who campaign the hardest, the loudest, and the most consistent ones. Karya boleh “biasa-biasa saja”, tapi selama kampanye berjalan efektif (dan mahal), para Oscar voters pun pasti akan menengok.

Berhubung saya bukan anggota Academy, jadi pilihan saya kali ini pun bukan alat prediksi yang mumpuni. Saya memilih berdasarkan apa yang saya mau lihat maju ke podium untuk menerima Oscar. Bahkan saya rasa pilihan kali ini akan banyak melesetnya.

Tapi kalau sampai bagian ini Anda masih membaca dan penasaran apa yang menurut saya layak mendapat Oscar tahun ini, here we go:

rbg-movie
RBG (source: Salon.com)

Best Picture: Roma

Best Director: Alfonso Cuaron – Roma

Best Lead Actor: Rami Malek – Bohemian Rhapsody

Best Lead Actress: Olivia Colman – The Favourite

Best Supporting Actor: Sam Elliott – A Star is Born

Best Supporting Actress: Regina King – If Beale Street Could Talk

Best Original Screenplay: The Favourite (Deborah Davis, Tony McNamara)

Best Adapted Screenplay: BlacKkKlansman (Charlie Wachtel, David Rabinowitz, Kevin Willmott, Spike Lee)

Best Animated Feature Film: Spider-Man: Into the Spider-Verse

Best Foreign Language Film: Roma

Best Documentary Feature: RBG

Best Documentary Short Subject: End Game

Best Live Action Short Film: Marguerite

Best Animated Short Film: Bao

Best Original Score: Black Panther (Ludwig Göransson)

Best Original Song: “Shallow” – A Star is Born

Best Sound Editing: First Man

Best Sound Mixing: Bohemian Rhapsody

Best Production Design: The Favourite

Best Cinematography: Roma

Best Makeup and Hairstyling: Border

Best Costume Design: The Favourite

Best Editing: Vice

Best Visual Effects: Ready Player One

Selamat menonton!

Apa Kabar, New Year’s Resolution?

Tulisan ini saya buat dan diunggah pada hari terakhir bulan Januari. Tepat sebulan setelah malam perayaan tahun baru, jadi rasanya pantas kalau bertanya, “Apa kabar dengan new year’s resolutions kita?”

Saya sendiri bukan termasuk orang yang rajin membuat new year’s resolutions dan semacamnya. Rencana kerja dan rencana lain, memang saya buat, tapi bukan termasuk dalam kerangka new year’s resolutions dengan janji bahwa pada tahun ini, saya akan dan harus melakukan A, B, C dan sebagainya. Entah kenapa, konsep new year’s resolutions tidak pernah mengusik rasa penasaran saya untuk membuatnya.

Di sisi lain, saya melihat ada beberapa teman yang benar-benar menaruh perhatian besar pada new year’s resolutions ini. Mereka seperti pledge themselves atau berjanji pada diri mereka sendiri untuk benar-benar melakukan apa yang mereka sudah rencanakan. Kalau sudah begitu, maka new year’s resolutions bisa menjadi penyemangat tersendiri, memberikan motivasi, karena sense of completion terhadap apa yang sudah kita rencanakan itu sungguh sangat memuaskan rasanya.

Nah, kembali ke pertanyaan saya di atas, bagaimana new year’s resolutions kita di akhir bulan pertama di tahun yang baru?

Kalau masih on track, bagus. Semoga bisa terus dilanjutkan sampai akhir tahun. Masih ada 11 bulan lagi ke depan. Semoga stamina untuk melakukan apa yang direncanakan, bisa jadi kenyataan.

Kalau sudah berubah, bagus. And that is okay. Super okay. Apapun dan bagaimanapun rencana kita yang mungkin sudah kita buat sedetil dan serapi mungkin, selalu saja ada faktor eksternal berupa kejutan dalam hidup yang tidak kita duga. Kalau sudah begitu, mau tidak mau kita harus beradaptasi. Perubahan itu wajar terjadi. Kalau tidak berubah, malah kita yang nanti ketinggalan.

Buat saya sendiri, bulan Januari ini sangat mengejutkan. Sampai sekarang masih recovering dari kejadian naas di awal tahun, yang pernah saya tulis di Linimasa beberapa minggu lalu. Satu kejadian yang sontak mengubah cara saya memandang hidup, mengamati orang lain, dan menerima apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang tidak bisa saya kontrol. Dan yang pasti, melanjutkan hidup.

Karena itulah intinya kita menyikapi apapun yang kita rencanakan dan sedang kita hadapi sehari-hari, yaitu untuk tetap hidup dan membuatnya selalu lebih baik.

Semoga sisa 11 bulan di tahun 2019 ini membuat kita lebih produktif dan menikmati hidup.

1483735567

Pretend You’re Happy When You’re Blue …

… it isn’t very hard to do
And you’ll find happiness without an end
Whenever you pretend …

Judul di atas, berikut kalimat-kalimat pembuka tulisan ini, adalah cukilan lagu “Pretend” yang populer dibawakan oleh penyanyi legendaris Nat “King” Cole.
Perhatikan syairnya. Mengajak kita berpura-pura bahagia. Padahal lagi sedih, dirundung kemalangan, atau dalam keadaan lain yang membuat kita
feeling blue.

Seperti yang berulang kali saya kutip di Linimasa ini, bahwa ada celetukan terkenal yang menyatakan “dying is easy, comedy is hard”. Konteks kutipan ini dulunya dibuat untuk menjelaskan tentang akting di film dan teater. Bahwa bermain menjadi orang yang sedih itu jauh lebih gampang daripada membuat orang tertawa. Karena dari tampilan visual, sedih itu lebih universal daripada banyolan yang belum tentu disambut lucu oleh penontonnya. Belum lagi kalau penyampaian candaannya tidak pas.

Demikian pula dalam hidup.

Sudah sekitar 10 hari dari kejadian ponsel saya dirampas secara tiba-tiba. Sampai sekarang, kondisi fisik masih belum pulih 100%. Rencana untuk mulai bekerja dan menghadiri rangkaian meetings minggu ini, yang kebetulan padat, sempat terhambat, karena mendadak ada serangan rasa nyeri di bagian persendian kaki. Semakin berumur nampaknya pemulihan fisik perlu waktu yang makin lama.

Itu baru fisik. Belum urusan mental. Meskipun sudah berusaha menyibukkan diri dengan menonton film di luar urusan pekerjaan, membaca buku yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan juga, mau tak mau pikiran saya masih tertambat pada kejadian naas tersebut. Kalau sudah terpikir, tak jarang saya geram sendiri. Menggerutu pada diri sendiri. Marah kepada diri sendiri. Dan kalau sudah marah, maka beraneka ragam pemikiran muncul, mulai dari yang menyalahkan diri sendiri, sampai memikirkan hal-hal destruktif yang bisa merusak diri.

do-you-think-you-re-happy-jgdbfiey-9bb0198eeccd0a3c3c13aed064e2e2b3

Di situ saya sadar, betapa mudahnya kita terseret jatuh ke dalam rabbit hole lubang kesedihan saat kita sedang ditimpa musibah. Baik itu saat kita sedang sakit, sedang recovering dari kerampokan, baru putus, batal menikah, dan sebagainya, kita sedang dalam keadaan fisik dan mental yang rapuh, yang gampang sekali tersapu ke dalam jurang kesedihan yang menjadi-jadi. Semakin lama ditinggal sendiri melamun, semakin gampang berpikir macam-macam.

Akhirnya, saya baru tahu kenapa it takes a great deal untuk bisa sekedar tersenyum. Akhirnya, saya harus memberikan hormat dan salut kepada mereka yang tetap tersenyum, bahkan tertawa, saat sedang dirundung kemalangan. Ini tidak mudah dilakukan. Betapa susahnya menaklukkan diri sendiri, betapa sulitnya menahan diri untuk tidak terseret arus kesedihan, betapa beratnya untuk bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak demikian.

Mudah sekali untuk menunjukkan muka sedih, tapi tidak pernah mudah untuk menunjukkan muka bahagia apa adanya.

Ini proses yang memerlukan waktu yang tidak bisa disama ratakan buat setiap orang. Ada yang perlu lama, ada yang bisa sebentar. Saya pun mulai pelan-pelan, saat bertemu dengan orang lain untuk urusan kerjaan yang lantas menanyakan mengapa saya jalan memakai tongkat jalan, saya jelaskan secukupnya. Baru saat bertemu dengan teman dekat atau rekan kerja yang lebih dekat, saya bisa jelaskan dengan lebih detil dengan emosi yang menambah gregetnya cerita.

And there is no one to judge … but ourselves.

Sementara kita belum bisa menguasai keadaan diri kita sepenuhnya, well, we can always pretend to be happy when it’s blue.

At least we start trying to be happy, no matter how small the start is.

Are We Safe?

Pada hari Minggu, 6 Januari 2019, sekitar jam 13:00, iPhone saya dijambret. Saya sedang berdiri menunggu ojek, persis di depan kompleks apartemen. Saya mengeluarkan ponsel dari tas saya sejenak, untuk mengetahui posisi ojek yang saya pesan. Tiba-tiba dari arah kiri saya, dua orang di atas motor menyambar ponsel yang sedang saya pegang dalam posisi cukup dekat dengan muka. Saya kaget. Buru-buru saya lari mengejar motor tersebut. Saya sempat memegang jaket orang yang duduk di belakang motor. Dia berusaha melepaskan tangan saya dari jaketnya. Dia berhasil menepis, lalu menendang saya sampai saya terpelanting jatuh di atas aspal jalan raya yang panas. Hari itu terik matahari cukup menyengat. Motor sudah pergi jauh meninggalkan saya, sampai beberapa orang mengerubungi dan menolong saya berdiri, lalu kembali ke apartemen. Ponsel saya, yang baru di genggaman kurang dari sebulan, sudah saya anggap pergi untuk selamanya saat itu juga.

Hal ini sudah saya bagikan di Twitter, Facebook dan Instagram (story) hari itu juga, dengan urutan yang sama. Terutama karena saya tidak punya ponsel dengan nomer aktif lain, maka saya perlu melakukan blokir nomer lewat laptop, dan membagikan informasi ini ke orang-orang tertentu lewat jalur komunikasi yang bisa dilakukan lewat laptop. Berhubung saya tinggal seorang diri, maka beberapa menit setelah kejadian itu, saya tidak punya waktu banyak untuk duduk meratapi apa yang telah terjadi. Tidak hanya duduk meratapi, tapi juga sekedar merenungi apa yang terjadi. Otak saya berpacu untuk terus berpikir, apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Sampai di unit, buru-buru saya bersihkan luka dan memar di tangan dan kaki dengan obat antiseptik. Sambil mengering, saya aktifkan “lost mode” di fitur “Find my iPhone”. Saya mengirim email ke keluarga dan teman-teman dekat. Mencari tahu blokir nomer lewat Twitter dan Google. Mengerjakan proses blokir. Membagi informasi lewat media sosial. Setelah sekitar satu jam berlalu, mulai terpekur di depan laptop, bingung harus berbuat apa, terlebih rasa nyeri mulai menyerang di tubuh.

Dari situ saya sudah memprediksi bahwa beberapa hari ke depan, mobilitas saya akan berkurang drastis karena mendadak harus istirahat. Maka, mau tidak mau, harus menyelesaikan apa yang harus dikerjakan. Dengan rasa sakit luar biasa, saya paksakan diri mengurus blokir kartu dan mendapatkan sim card baru ke kantor operator terdekat. Lalu saya ke klinik untuk memeriksakan diri. Berbelanja makanan untuk 2-3 hari ke depan. Membeli obat.
Dan saat kembali ke rumah, saatnya untuk tidur di malam hari, barulah saya sadar bahwa saya jatuh terpelanting ke jalan raya. Saya baru benar-benar sadar apa yang terjadi, saat tubuh saya terasa sakit dari atas sampai bawah. Tidur pun susah.
Di sinilah saya berempati kepada perempuan yang sedang mengandung. Selama 3 hari terakhir, saya sulit tidur karena punggung dan kaki masih nyeri. Tak terbayang rasa sakit yang harus dijalani para perempuan yang sedang hamil selama berbulan-bulan.

Tadinya, saya ragu saya bisa menulis untuk Linimasa hari ini. Bukan karena rasa sakit, tapi karena rasa marah yang masih ada dalam diri saya saat ini.

Ini bukan kali pertama ponsel saya dijambret. Menjelang akhir 2013, ponsel saya pernah dijambret, saat saya sedang duduk di dalam bajaj seorang diri. Sejak saat itu, saya selalu ekstra hati-hati, dan cenderung untuk tidak menggunakan ponsel saat menggunakan transportasi umum. Padahal saya selalu menggunakan transportasi umum. Padahal saya sering terjebak macet saat menggunakan transportasi umum. Bayangkan betapa banyak waktu yang terbuang untuk tidak melakukan aktivitas dengan ponsel yang produktif, seperti menulis dan membalas email, atau membaca artikel.

Yang saya benci dari setiap kejadian ini adalah rasa takut, untuk tidak menyebutnya paranoid, terhadap hal-hal yang seharusnya kita lakukan dengan wajar tanpa ada rasa khawatir sama sekali. Apa ini berarti saya tidak bisa sama sekali berkomunikasi dengan pengemudi ojek untuk memastikan posisi dan kedatangannya di pinggir jalan tempat saya memesan? Lalu tidak bisa membaca Google Map saat berada di atas ojek, untuk memastikan agar tidak tersesat? Lalu tidak boleh mempunyai smartphone (baik mahal ataupun murah, karena yang murah pun bisa terlihat mahal sekarang), karena dianggap mengundang perhatian pencuri?

Tulisan ini memang saya buat untuk mencurahkan kekesalan saya. Maaf kalau banyak hal yang terkesan tidak rasional dan logis, karena memang menulis dalam keadaan marah tidak akan pernah bisa membuat tulisan menjadi rasional dan logis.

Saat ini saya sedang membenci ujaran seperti “jaga barang hati-hati, jangan sampai berpindah tangan”. Atau seperti “jangan memakai barang yang mengundang perhatian pencuri”. Atau yang lebih membingungkan, saya pernah menemui spanduk bertuliskan “hati-hati berjalan di kawasan ini, karena sering terjadi pencurian. Waspadalah.”
Tulisan-tulisan seperti ini tidak hanya saya temukan di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, dan beberapa negara lain yang pernah saya kunjungi.

Yang membuat saya bingung, kenapa selalu (calon) korban yang dituntut untuk berhati-hati?
Oke, mungkin memang ada orang-orang tertentu yang ingin pamer barang yang mereka miliki tidak pada tempatnya. Tapi saya yakin, persentase orang-orang seperti ini tidak banyak, malah jauh lebih kecil, dibanding dengan orang-orang yang berpakaian selayaknya ke tempat kerja atau usaha mereka. Dan porsi besar orang-orang ini pun saya yakin akan berperilaku seadanya dan selayaknya juga di tempat umum. Menggunakan ponsel seperlunya, berbicara dengan volume seperlunya. Tidak berlebihan.

Kalau hal-hal kecil seperti kebutuhan untuk menggunakan ponsel saja dirampas untuk memberikan rasa takut terhadap orang lain, maka apakah kita sebagai rakyat kebanyakan dilarang untuk beraktivitas dengan normal? Apakah itu tujuan para perampok ini? Bukankah kalau kita diam saja, mereka juga akan kehilangan mata pencaharian?

Saya lebih setuju untuk membuat takut para pencuri ini. Mulai dengan pencoleng atau pickpocket. Perlu banyak notifikasi atau pengumuman di tempat umum, resiko yang akan mereka hadapi saat mereka ketahuan melakukan perbuatan mereka. Mulai dari denda, resiko penjara, kalau perlu contoh visual saat mereka dihadang para commuters lain, misalnya. Atau bisa juga notifikasi bahwa kendaraan umum dilengkapi dengan kamera pengintai. Ini pun akan memberikan rasa assurance dan keamanan terhadap pengguna jasa transportasi umum.

Itu baru transportasi umum. Masih banyak lagi jenis keamanan yang perlu kita perhatikan. Saya sedih dengan anggapan umum bahwa kita tidak bisa berjalan kaki di malam hari sendiri. Dan memang itulah yang terjadi, karena tidak ada jaminan keamanan. Padahal jalan kaki itu adalah hak semua orang, tanpa terkecuali.
Kita sudah terlalu lama dan terlalu sering menerima hak-hak dasar kita dirampas, dan membiarkannya sebagai hal yang yang wajar. Masak untuk sekedar mendapatkan rasa aman yang nyaman, kita harus pergi ke luar negeri? Berapa banyak orang yang bisa pergi ke luar negeri?

Dan apa kita harus mulai bawa senjata tajam untuk sekedar pergi ke tempat kerja, pergi ke mal, saat menggunakan transportasi publik, untuk sekedar berjaga-jaga? I will be lying if I said to you I never consider that now.

Tidak atau jarangnya ada rasa aman di keseharian kita membuat kita selalu curiga, waspada, dan ujung-ujungnya pasrah kalau kejadian naas menimpa kita. Sementara untuk menjadi berani dan kuat juga perlu waktu, terlebih untuk menerjang rasa takut dan traumatis yang melanda diri.

Sekali lagi, tulisan ini murni curahan kekesalan saya. Dan memang, saya sedang berusaha sebisa mungkin untuk bisa menjadi orang yang lebih berani dan kuat, sebisa mungkin tanpa rasa takut sama sekali. Ini tidak mudah, and to be honest, I don’t know if I’ll ever get there.

But I am trying as I am recovering.

1_1OxCOj6WR9otDmY-QybPcw

Sometimes, Fear is Good

Salah satu alasan kenapa saya berhenti melakukan salah satu pekerjaan saya beberapa tahun lalu adalah karena saya merasa tidak takut lagi.
Saat itu, saya sudah melakukan pekerjaan tersebut selama beberapa tahun. Setiap tahun ada beberapa projects yang harus kami handled. Kenapa pakai kata “kami”, karena memang saya bekerja dalam sebuah tim.

Selama beberapa saat terakhir sebelum saya berhenti, memang ada keresahan yang melanda dalam diri. Mungkin memang sudah saatnya mengakhiri pekerjaan tersebut. Tetapi setelah dirunut lagi, saya sempat kaget terhadap cara berpikir saya.

Kekagetan ini saya sadari saat menghadapi klien atau calon klien. Setiap mendengar pitch project yang akan di-propose, alih-alih mendengarkan dengan baik, tapi otak saya langsung berputar dan keburu berasumsi seperti, “Oh, dengan budget segini, kita bisa nih, pakai cara seperti ini.” Atau, “Oh, maunya dikerjakan 6 bulan. Paling bisa seperti ini.”

Lama-lama saya merasa pekerjaan yang saya lakukan adalah copy-and-paste template dari apa yang sudah dilakukan. Tinggal mengganti label atau nama yang dicantumkan di proyek tersebut.

Saat itu saya merasa ada kegentingan. Terlebih karena pekerjaan saya menuntut kreatifitas tinggi yang membuat satu project berbeda dengan yang lain. Saat kita merasa template yang kita lakukan sudah pernah sukses, dan yang kita ingin lakukan adalah mengulangnya, maka sebaiknya kita take a pause terlebih dulu.

Lambat laun saya mengingat-ingat lagi, apa yang sempat menjadi pendorong saya melakukan pekerjaan saya. Di masa-masa awal melakukan pekerjaan ini, sempat ada rasa ketakutan tidak dapat melakukan pekerjaan dengan baik, sehingga mati-matian belajar, mencari semua informasi, mencari bala bantuan untuk bisa menyelesaikan project dengan hampir sempurna. Selalu ada anxiety atau rasa deg-degan saat project diluncurkan. Seperti ada butterfly in my stomach melalui proses pengerjaannya.

Saya sempat merindukan sensasi seperti itu, sebelum akhirnya saya sadar bahwa rasa itulah yang saya perlukan untuk terus termotivasi bekerja. Bahwa saya belum tahu banyak, meskipun sudah melakukan banyak. Bahwa masih ada rasa takut yang bisa mendorong saya untuk menutupi ketakutan itu dengan melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin.

600_461238573

Akhirnya saya memutuskan berhenti dari pekerjaan itu. Lalu saya kembali ke profesi lama yang pernah saya tekuni, namun karena sudah saya tinggalkan beberapa tahun, landscape atau suasana pekerjaannya berubah. Infrastruktur berubah, orang-orangnya berubah, dan banyak sekali ketertinggalan yang harus saya kejar. Mau tidak mau, saya harus belajar lagi. Bersamaan dengan masa pembelajaran ini, tak dinyana anxiety itu datang lagi, bersamaan dengan excitement menghadapi suasana baru.

Dalam beberapa situasi, ketakutan yang kita hadapi karena kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, ternyata bisa mendorong kita untuk jadi belajar dan bekerja ekstra keras (dan ekstra cermat). Sometimes, fear is good to drive us forward. Karena kita hanya bisa menaklukkan ketakutan kita saat kita dengan mencari tahu lebih banyak, apa yang sebenarnya membuat kita takut.

Selalu cari tantangan baru di pekerjaan yang kita lakukan. Lebih mudah memang di pekerjaan baru, tapi di pekerjaan lama pun, selalu cari hal baru yang membuat kita excited melakukannya. Not knowing what you’re about to do can be the most exciting thing you’ll ever do.

Selamat tahun baru.

Terima Kasih, Sandra Bullock!

Tadinya saya ingin mengakhiri rangkaian tulisan di Linimasa tahun ini dengan tulisan tentang film-film pilihan 2018 yang sudah terbit beberapa hari lalu. Terus terang, mindset saya kalau sudah bulan Desember ini, inginnya menulis seputar daftar buku/musik/film/apapun yang menarik sepanjang 365 hari terakhir. Selain itu, memang tidak ada ide lain.

Sampai Sandra Bullock menyelamatkan saya.

Memang Sandra Bullock sedang di Jakarta?

Tentu tidak. Mungkin dia sedang berada di rumahnya, bersama anak-anaknya. Kalau pun dia sedang di Jakarta, tentu dia tidak mau tinggal di rumah saya. Kenal saja tidak.

Hubungan kami tentu saja adalah one-sided relationship, yang berarti saya penggemarnya, sementara dia sadar kalau dia punya penggemar milyaran orang di dunia ini, tanpa perlu tahu satu per satu siapa mereka. Sebagai penggemar, meskipun bukan kelas berat, saya memutuskan untuk memulai pagi tadi dengan menelusuri beberapa video wawancaranya akhir-akhir ini di Youtube, terkait dengan promosi film terbarunya di Netflix yang berjudul Bird Box.

Sebagian besar wawancara membuat saya tersenyum. Sampai saya melihat video wawancaranya dengan Stephen Colbert di bawah ini:

Dari judulnya saja cukup jelas, bahwa Sandra Bullock, sebagai mantan waitress atau pramusaji, merasa bahwa anak-anak muda, atau orang-orang secara umum, perlu merasakan pengalaman menjadi pramusaji sebelum memasuki lapangan kerja yang mereka inginkan. Stephen Colbert pun menambahkan, bahwa kita perlu punya pengalaman kerja blue collar, terutama dalam bidang pelayanan jasa, untuk bisa merasakan dan berempati terhadap mereka yang bekerja di bidang tersebut. Pekerjaan penyedia jasa ini sangat, sangat berat. Long hours, small payment, and nothing but hard work all around the clock. Sebagai mantan waiter sendiri, saya mengangguk setuju.

Lalu seperti saat menonton kebanyakan video di Youtube lainnya, saya melihat beberapa komentar. Di bagian ini, saya tertohok. Beberapa komentar menyuarakan kesetujuan mereka terhadap video tersebut. Beberapa komentar itu, sepertinya, ditulis oleh waiters dan waitresses, di mana mereka kompak mengatakan, bahwa intinya jangan sekali-kali berbuat kasar terhadap pramusaji atau staf di tempat makan. If you are rude, you will get bad treatment.
Sebagai mantan waiter, saya menghela nafas.

1445357291311

Helaan nafas ini karena ada sedikit rasa bersalah.
Beberapa hari lalu, di sebuah mal yang sedang ramai, saya pesan makan di sebuah restoran. Makanan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama, tapi juga tidak terlalu cepat. Justru minuman saya yang tidak kunjung datang sampai makanan habis. Berkali-kali saya meminta perhatian, tidak digubris. Saat akhirnya ada staf yang datang, lalu saya bilang untuk membatalkan pesanan kalau minuman tidak datang juga, akhirnya barulah minuman itu datang beberapa menit kemudian.

Dalam suasana ramai, baik di restoran atau di mal, terus terang pengalaman makan tersebut jadi tidak terasa menyenangkan. Ditambah dengan pelayanan yang kurang memuaskan, saya jadi tidak terlalu apresiatif saat para staf meminta maaf atas kejadian tersebut dan berterima kasih atas kunjungan saya. Saat itu mood saya sudah terlanjur tidak karuan, jadi saya buru-buru menyelesaikan transaksi.

I was fine, until I saw the video. Now I am not.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, where did it go? Where the understanding has gone? Apa karena sudah terlalu lama tidak menjadi waiter lagi, jadinya sekarang kurang apresiatif terhadap mereka?

Saya akui, bahwa sampai beberapa tahun setelah tidak lagi menjadi waiter, saya (sempat) menjadi ekstra attentive pada servis staf tempat makan yang saya kunjungi. Tanpa terkecuali.
Lalu seiring berjalannya waktu, dan pindah tempat tinggal, perhatian yang diberikan cenderung semakin biasa-biasa saja. Kalau servis yang diberikan baik, saya akan memuji. Kalau servis yang diberikan kurang baik, saya akan menegur. Apa berarti semakin bertambah umur, kita juga semakin gampang hilang kesabaran terhadap hal-hal kecil?

6a00e54ee3905b883301a511f5263f970

Beberapa waktu lalu, di Linimasa ini, pernah ada yang menanyakan, kenapa orang-orang yang dulu pernah menempuh pendidikan tinggi, ternyata sekarang melakukan atau mendukung hal-hal yang tidak mencerminkan kualitas pendidikannya. Saya jawab singkat, bahwa life happens. Seiring dengan berjalannya waktu, prioritas hidup berubah. Perubahan prioritas hidup membawa perubahan dalam pandangan hidup. Perubahan pandangan hidup membawa perubahan pada bagaimana kita memperlakukan orang lain, mau tidak mau.

Jadi saya ingin mengakhiri tahun 2018 ini dengan sedikit berjanji ke diri sendiri, supaya bisa tap into the inner self lagi. Kalau dulu bisa menghargai orang lain dengan lebih baik, mungkin sekarang bisa dicoba lagi. Meskipun kita sedang dalam suasana yang tidak nyaman, but hey, that shouldn’t stop us from being nice.
Karena dengan tersenyum dan bilang ‘terima kasih’, kita bisa membuat hari kita dan orang lain sedikit lebih baik.

Sandra Bullock, terima kasih sudah memberikan saya resolusi tahun 2019 nanti.

Happy New Year, everyone!

gettyimages-81386861

Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)
The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP
First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB
The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest
Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB
Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP
A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP
Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP
Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert
Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance
A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist
Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire
Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety
One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm
Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert
Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety
Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas
The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Lima Adegan dan Lima Penampilan Mengesankan di 2018

Sedikit break away dari tradisi menampilkan 10 film favorit setiap tahunnya, tahun ini saya melihat banyak sekali momen-momen dan penampilan di film yang patut kita apresiasi.

Sering kali kita malah mengingat sebuah adegan tertentu dari suatu film. Belum tentu film tersebut berhasil memukau kita secara keseluruhan, namun ada beberapa momen dalam film tersebut yang membekas dalam ingatan kita. Jangan heran juga, even good small moments can be found in not so good films.

Some scenes do excellent work on their own.

Oleh karena itu, inilah lima momen dalam film yang dirilis sepanjang tahun 2018, yang sangat mengesankan buat saya:

Crazy Rich Asian – adegan mahjong

crazyrichasians-mahjong-AngryAsianMan_dot_com
Crazy Rich Asian (source: Angry Asian Man)

Kalau sekedar mau memperlihatkan teknis permainan mahjong lengkap dengan psychological undertone, maka anda bisa melihat cuplikan adegan mahjong di fim Lust, Caution karya Ang Lee. Sementara di film Crazy Rich Asian, adegan mahjong ditampilkan apa adanya. Lengkap pula dengan makna permainan yang disampaikan Rachel (Constance Wu) kepada Eleanor (Michelle Yeoh). Namun yang membuat keseluruhan adegan mahjong ini sangat membekas di ingatan justru terletak di akhir permainan, saat ibu Rachel (Tan Kheng Hua) berdiri, menjemput Rachel, dan menatap Eleanor dari kejauhan tanpa kata-kata. That scene, that particular scene between two single mothers. Dua orang tua tunggal, dua ibu, dua orang yang seharusnya menjadi rival satu sama lain, namun akhirnya sama-sama mengerti keputusan yang diambil untuk melindungi anak masing-masing, dilakukan tanpa dialog sama sekali. Acknowledging two single mothers in an Asian (themed) movie? Brilliant.

Museo – adegan perampokan museum

Museo-THR
Museo (source: The Hollywood Reporter)

Film Museo menceritakan kisah nyata perampokan museum antropologi di Mexico City oleh pelaku amatir yang menggegerkan kota tersebut di tahun 1985. Dibintangi Gael Garcia Bernal yang bermain cemerlang, film ini sebenarnya lebih fokus kepada konflik keluarga antara karakter Bernal dengan orang tuanya. Namun adegan perampokan yang dihadirkan pada babak pertama film justru mencuri perhatian dan membuat kita teringat terus sepanjang film. Selama 15 menit, adegan perampokan dihadirkan tanpa kata-kata, minim musik, dan membuat adegan serupa lain di film Ocean’s 8 yang juga dirilis tahun ini tidak ada apa-apanya.

** SPOILER ALERT BEGINS **

Andhadhun – adegan pemindahan jasad

andhadhun-ZeeNews
Andhadhun (source: Zee News)

Bisa jadi film Andhadhun adalah the sleekest thriller from Hindi cinema this year. Mungkin tidak hanya dari India saja, ya. Film ini sangat mengesankan, karena dari awal, ide cerita untuk menempatkan seorang pianis menjadi pura-pura buta dibuat untuk kesan playful. Namun seiring dengan cerita berjalan, sang pianis terpaksa harus menjadi saksi pembunuhan di depan mata, or the lack of them for the sake of pretending. Adegan pelaku pembunuhan yang harus memindahkan jasad yang mereka bunuh di depan pianis yang berpura-pura tidak mengetahui seluruh kejadian tersebut, sungguh sangat menakjubkan.

*** SPOILER ALERT ENDS ***

Roma – adegan penyelamatan di pantai

Roma-DenOfGeek
Roma (source: Den of Geek)

Sungguh susah memilih hanya satu momen yang paling berkesan di film Roma, karya terbaik Alfonso Cuaron ini. Setiap adegan dibuat dengan teliti, membuat kita seolah-olah melihat karya seni yang dibuat dengan pendalaman yang luar biasa. Kalau boleh memilih satu, maka adegan penyelamatan anak-anak di pantai yang membuat saya terkesan. Tingkat kesulitan pengambilan gambarnya sangat tinggi. Namun Cuaron tidak melupakan emosi di setiap karakter yang membuat kita mengambil nafas panjang saat melihat adegan ini, dan menghela nafas panjang penuh kelegaan di akhir adegan.

First Man – adegan pendaratan di bulan

first_man-Polygon_com
First Man (source: Polygon)

Film Alien sudah berikrar di tagline poster mereka, bahwa “in space, no one can hear you scream”. Tidak cuma menjerit, namun mungkin berkata-kata. Itulah mengapa adegan pendaratan di bulan di film First Man sangatlah bermakna. Bahwa saat pertama kali menginjakkan kaki dan melihat bagian dari alam semesta di luar bumi, tidak ada ekspresi atau kata yang bisa mewakili perasaan diri. It’s just silence, and nothing but silence. Maka keheningan di film ini menjadi suatu kemegahan tersendiri yang layak kita alami di layar lebar.

Adegan-adegan lain di film-film yang saya tonton sepanjang tahun 2018 yang juga membuat saya terkesan adalah bagian konser Live Aid di film Bohemian Rhapsody dan dialog panjang di dalam mobil di film Lemonade.

Sementara itu, inilah lima aktor dengan penampilan akting yang paling mengesankan di tahun 2018:

• Gading Marten (Love for Sale)

gading-love-for-sale-(duniakudotnet)
Gading Marten – Love for Sale (source: Duniaku.net)

Less is more. Saya selalu percaya bahwa (hampir) setiap aktor yang terbiasa melawak, bermain di film atau serial komedi, tahu pentingnya timing saat mereka berakting. Gading Marten membuktikan hal itu dalam film Love for Sale. Tanpa perlu terjebak menjadi terlalu dramatis, karakter Richard dihadirkan secara natural, yang membuat karakter ini semakin nyata dan dekat dengan kita. Penampilan terbaik Gading Marten sejauh ini.

• Eva Melander (Border)

eva-border-(bfi_dot_org_dot_uk)
Eva Melander – Border (source: BFI)

Dengan muka semi-monster yang membuat kita bergidik saat melihat karakter Tina pertama kali di film Border, kita malah diajak semakin berempati dengan karakter ini seiring cerita bergulir. Inilah kehebatan Eva Melander yang memerankan karakter ini. Dia memberikan sentuhan humanis di setiap tatapan Tina yang menyiratkan hasrat untuk diterima, dan dalam konteks film ini, dicintai orang lain. Penampilan yang tidak mungkin kita lupakan.

• Jakob Cedergren (The Guilty)

jakob-the-guilty-Vulture_dot_com
Jakob Cedergren – The Guilty (source: Vulture)

Apakah film Buried bisa berhasil tanpa penampilan Ryan Reynolds? Apakah film Locke bisa berhasil tanpa penampilan Tom Hardy? Pertanyaan yang sama patut kita sampaikan untuk film The Guilty ini. Sepanjang film, hanya ada satu aktor, yaitu Jakob Cedergren, yang memandu kita menyusuri kisah tegang di satu lokasi, dengan bermodalkan voice over lewat telepon, dan penampilan Jakob Cedergren seorang diri. Raut muka, suara dan gerak tubuhnya selalu mengindikasikan perubahan yang terjadi di cerita, dan membuat kita tidak beranjak dari kursi. Such a brilliant actor in an equally brilliant film.

• Zain Al Rafeea (Capernaum)

zain-capharnaum03-AsiaPacificScreenAwards
Zain Al Rafeea – Capernaum (source: Asia Pacific Screen Awards)

Anak kecil yang tumbuh di jalanan mempunyai ekspresi berbeda dengan anak kecil kebanyakan. Air muka yang keras di wajah yang muda adalah kombinasi yang sulit ditemukan di film. Namun sutradara Nadine Labaki lewat film Capernaum berhasil menemukannya lewat penampilan gemilang aktor cilik Zain Al Rafeea. Mulai dari adegan pertama saat dia menuntut orang tuanya di pengadilan karena melahirkan dirinya, kita dibuat ternganga oleh penampilannya yang menjadi the main anchor film ini. Rasanya susah untuk percaya bahwa inilah penampilan pertama kali Zain Al Rafeea di film. A remarkable debut.

• Rami Malek (Bohemian Rhapsody)

rami-bohemian-NME_dot_com
Rami Malek – Bohemian Rhapsody (source: NME

Tidak perlu dijelaskan lebih panjang lagi: Rami Malek is Freddie Mercury. Komitmen luar biasa Malek untuk menjadi Mercury tak perlu kita telaah dan telusuri lagi. It’s all there on the screen. Memang banyak yang menyebutkan bahwa kesuksesan fenomenal film Bohemian Rhapsody sebagian besar terletak pada katalog lagu-lagu Queen yang dihadirkan dalam porsi pas di film ini. Namun apakah mereka bisa menjadi efektif tanpa penampilan Malek? He is, indeed, the champion.

Penampilan lain yang juga berkesan buat saya adalah performa dari these leading ladies: Charlize Theron (Tully), Rani Mukerji (Hichki), dan Toni Collette (Hereditary).

Coming up next: film-film yang paling berkesan di tahun 2018!

Apa adegan dan penampilan di film yang membuat anda terkesima tahun ini?

Sepuluh Tayangan Televisi Yang Membuat Betah di Rumah di Tahun 2018 – #rekomendasistreaming

Sejak kembali beraktivitas mengkurasi dan memprogram festival film, terus terang waktu saya untuk menonton serial televisi makin terkikis tahun ini. Ada beberapa serial yang sampai sekarang masih belum sempat saya tonton karena tidak ada waktu luang (“Maniac”, “The Kominsky Method”), ada beberapa serial yang sudah saya lepaskan dari jadwal rutin menontonnya, dan ada juga beberapa serial yang sudah saya sempatkan cari waktu luangnya, namun malah berujung kekecewaan (“House of Cards” season 6).

Untungnya, sebagian besar tayangan televisi yang saya tonton tahun ini, for the lack of better word, sangat memuaskan. Lagi-lagi televisi dan internet masih lebih berani dan beragam dari film layar lebar untuk urusan cerita dan kekuatan karakter. Lihat saja, sebagian besar karakter perempuan yang kompleks dan kuat ada di televisi. Meskipun saya kecewa dengan “House of Cards” terakhir, mau tidak mau saya akui bahwa Claire Underwood adalah salah satu karakter perempuan paling tajam yang pernah ada di era televisi modern. Mungkin malah sepanjang masa.

Tidak ada cerita yang “itu-itu lagi” maupun orang yang “itu-itu lagi” di tayangan televisi. Apalagi kehadiran televisi sekarang sangat beragam, ditambah dengan video streaming applications yang menawarkan konten yang beraneka rupa. Saking banyaknya serial televisi, tidak mungkin kita bisa menghabiskan seluruh waktu kita untuk menonton semua serial yang ada. Konon katanya perlu 7 kehidupan manusia in their entire lifetimes untuk menghabiskan tontonan yang ada di Netflix sekarang.

Jangan khawatir. Tidak perlu menghabiskan seumur hidup sampai akhir hayat untuk menonton serial-serial pilihan saya tahun 2018 ini. Cukup beberapa hari sepanjang liburan akhir tahun, dan selesai! Ini dia:

[sepuluh] The Americans – Season 6

theamericans-season6
The Americans

Puas! Itu kesan pertama saya saat melihat episode terakhir di season terakhir serial tentang keluarga yang berprofesi sebagai mata-mata Rusia di Amerika Serikat di era 1980-an ini. That long confrontation scene in the garage! The wordless shock of the stare on the train! The final scene! Susah rasanya buat saya sekarang membayangkan Matthew Rhys dan Keri Russell sebagai karakter lain selain Philip dan Elizabeth Jennings yang mereka mainkan dengan gemilang selama 7 tahun. Kedua karakter inilah yang memang membuat Rhys dan Russell dikenal sebagai aktor handal. Perhatikan saja di setiap adegan yang tidak memerlukan banyak dialog di sepanjang serial ini. Their eyes speak volumes. And they really do elevate and grow with the series. Saya akan merindukan serial ini.

[sembilan] Wild Wild Country

Wild Wild Country Netflix documentary in six parts 2018
Wild Wild Country

Miniseri dokumenter ini memang dibuat untuk mengagetkan kita. Cukup dengan menyajikan cold hard fact and findings, ditambah dengan testimoni di wawancara para pelaku kejadian yang masih menyiratkan rasa tidak bersalah mereka, maka kita cuma bisa menggelengkan kepala sepanjang menonton miniseri ini. Susah dipercaya bahwa negara sebesar Amerika Serikat di tahun 1980-an pernah nyaris jatuh ke tangan segelintir orang yang memanipulasi agama, but hey, isn’t it still happening right now in c-e-r-t-a-i-n parts of the world? Sebuah tontonan yang membuka dan membelalakkan mata kita.

[delapan] Killing Eve – Season 1

killing-eve-poster

Tiga kata berawalan huruf S patut disematkan untuk serial ini: smart, sassy, sexy. Tidak pernah saya duga sebelumnya kalau Sandra Oh bisa tampil meyakinkan sebagai detektif cekatan, dan dengan matching rival di tangan Jodi Comer sebagai Eve, maka cat-and-mouse-game plot di serial ini menjadikannya sebuah tontonan yang cerdas, sekaligus adiktif.

[tujuh] BoJack Horseman – Season 5

bojack_horseman_ver4_xlg
BoJack Horseman

Pernah punya teman atau kenalan yang nyinyirnya luar biasa, namun semakin tua, malah jadi semakin dewasa? Belum tentu bijak ya, tapi jadi lebih mature? Demikianlah yang bisa saya deskripsikan dari favourite has-been celebrity saya yang bernama BoJack Horseman ini. Cerita komedi satir serial animasi tentang kultur selebritas yang kejam ini masih penuh sarkasme dan dialog yang menohok. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa karakter BoJack pelan-pelan sadar akan usianya yang semakin menua, dan dalam beberapa episode mulai terkesan wistful dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Hal yang malah membuat serial ini semakin mengesankan saat ditonton.

[enam] The Marvelous Mrs. Maisel – Season 2

marvelous-mrs-maisel-poster-season2-408x600
The Marvelous Mrs. Maisel

Season pertama serial ini hadir bagaikan pelangi setelah hujan panjang. It’s magical. Lalu bagaimana dengan season kedua yang baru saja hadir di awal bulan Desember? Ternyata masih penuh dengan kejutan dan, ini yang penting, masih sangat lucu. Terima saja episode season finale yang terasa terburu-buru dan terlalu menumpuk cliffhangers untuk keterlanjutan serial ini. Toh itu tidak bisa menutupi kecemerlangan beberapa episode awal, seperti adegan stand-up comedy dalam bahasa Perancis dan Inggris secara simultan yang brilian, dan setiap penampilan Mrs. Maisel di atas panggung yang kali ini terasa jauh lebih matang. This is a gem worth watching.

[lima] Bodyguard

bodyguard-poster
Bodyguard

Now this, this is sexy. Sempat saya kira serial ini adalah adaptasi dari film berjudul sama yang pernah dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston tahun 1992 dulu, namun kemiripan hanya terletak pada judul. Serial dari Inggris ini memang sedikit mengingatkan dengan cerita spionase di film-film 1990-an, lengkap dengan bumbu intrik, skandal, dan sejenisnya. Dibalut dengan latar cerita soal terorisme, serial ini sebenarnya mengungkap banyak hal tentang PTSD (post traumatic stress disorder). Namun kalau kita lebih tertarik mengikuti serial ini karena keseksiannya, ya sudah, nikmati saja.

[empat] The Looming Tower

theloomingtower
The Looming Tower

Now this, this is serious. Awalnya saya sempat “takut” mengikuti serial yang terlihat serius dari trailer dan posternya. Setelah menonton episode pertama, saya sadar bahwa serial ini memang serius. Namun saya tertarik untuk terus mengikuti, karena perlahan-lahan serial ini membawa kita memahami aneka peristiwa yang terjadi sebelum 9/11, yang mempengaruhi proses dan hasil investigasi terkait kejadian naas tersebut. Serial ini sengaja tidak memberikan konklusi yang sahih, karena masih terlalu banyak lapisan soal 9/11 yang belum tuntas di kehidupan nyata.

[tiga] Barry – Season 1

Barry season 1 poster HBO key art
Barry

Serial ini sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak dari episode pertama. What can I say, Bill Hader memang jenius. Ide cerita untuk menempatkan seorang pembunuh bayaran mengikuti kelas akting, menurut saya adalah ide gila yang kalau eksekusinya tidak meyakinkan akan gagal total. Namun serahkan saja pada Hader untuk membuat awkward comedy menjadi sebuah tontonan komedi kelas tinggi yang sangat, sangat menghibur. You won’t regret watching every single episode.

[dua] The Good Place – Season 2

thegoodplace

Terus terang saya telat menonton serial ini. Setelah berulang kali diyakinkan teman saya untuk menonton serial ini, akhirnya baru di pertengahan tahun mulai menonton musim penayangan pertamanya. Beberapa episode awal membuat saya merasa aneh, karena humornya tidak biasa. Lama kelamaan akhirnya saya mulai suka, karena sudah terbiasa dengan karakternya. (Kok seperti proses PDKT waktu mau pacaran ya?) Tapi di season kedualah yang membuat saya takjub dengan serial ini. Muatan teori filsafat, etika dan humaniora dengan mulus diselipkan dalam dialog dan alur cerita, tanpa mengesampingkan pentingnya sebuah serial komedi menjadi lucu. It’s one smart show, if not the smartest comedy show of the year.

[satu] QUEER EYE – Season 1 & 2

queereye

How many shows can make us laugh, cry and feel good at the same time? Rasanya tidak banyak. Dari yang tidak banyak itu, hanya satu yang paling spesial dan sangat membekas di hati saya, yaitu serial “Queer Eye”. Belasan tahun yang lalu, saya mengikuti serial asli “Queer Eye for the Straight Guy” yang menjadi basis serial reality show yang sekarang menjadi program andalan Netflix ini. Alih-alih sekedar mengulang serial aslinya, serial baru justru lebih dari sekedar make-over show. Kelima pria yang menjadi tulang punggung acara ini jelas-jelas membuat dunia lebih baik lewat misi mereka untuk mengubah hidup satu orang.
Menonton “Queer Eye” tidak hanya membuat kita kagum dengan perubahan yang dialami setiap satu orang di satu episode. Namun perubahan yang kita lihat mau tidak mau membuat kita mengakui bahwa setiap orang berhak untuk hidup lebih baik. Dan kesadaran ini, harus diakui, eventually makes us a better person.
And we become a better person, indeed, after watching the show, and accepting the show.
Pantaslah kalau serial ini menjadi pilihan saya sebagai serial favorit saya tahun ini.

Apa tontonan favorit Anda tahun ini?

Buku(-Buku) Tahun Ini

Kalau saya hanya boleh mengutip satu buku saja dari beberapa buku yang saya baca tahun ini, maka mau tidak mau saya akan hanya bisa mengutip bagian terakhir dari buku berjudul “The Humans” karya Matt Haig. Kenapa? Karena di bagian ketiga buku ini, Matt Haig membuat daftar bertajuk “Advice for a Human” sebanyak 97 poin. Saya menyebutnya sebagai manifesto kehidupan.

Kalau beberapa poin terkesan seperti ‘menggurui’, mungkin itu memang disengaja oleh penulisnya. Lagi pula, poin-poin ini masih sesuai dengan sudut pandang karakter utama yang menjadi narator novel ini, yaitu “seorang” alien yang datang ke bumi, menyamar menjadi profesor dengan jenis kelamin laki-laki. Kedatangan alien ke muka bumi untuk, seperti tipikal cerita fiksi ilmiah kebanyakan, menghancurkan kehidupan umat manusia. Namun dalam penyamarannya, alien ini malah takjub dengan flawed characteristics of human beings, dan jatuh cinta dengan cara manusia menjalani kehidupannya.

71VpFLTP-bL

Kalau terdengar klise, memang novel ini klise. Tidak ada yang baru. Tapi bukan berarti hal itu menjadikan novel ini tidak layak baca. Justru sebaliknya. Bab demi bab dihadirkan dengan mulus dalam jalan penceritaan, membuat kita susah berpaling. Seperti layaknya buku cerita yang baik, dengan mudah kita jatuh cinta pada karakter utama, dan rela mengikuti perjalanan beratus-ratus halaman, sampai di bagian akhir.

Kalau tidak percaya, baca saja beberapa poin dari bab “Advice for a Human” di buku “The Humans” ini:

[one] Shame is a shackle. Free yourself.

[two] Don’t worry about your abilities. You have the ability of love. That is enough.

[four] Technology won’t save humankind. Humans will.

[five] Laugh. It suits you.

[nine] Sometimes, to be yourself you will have to forget yourself and become something else.

[eleven] Sex can damage love but love can’t damage sex.

[fifteen] The road to snobbery is the road to misery. And vice versa.

[twenty-two] Don’t worry about being angry. Worry when being angry becomes impossible. Because then you have been consumed.

[twenty-four] New technology, on Earth, just means something you will laugh at in five years. Value the stuff you won’t laugh at in five years. Like love. Or a good poem. Or a song. Or the sky.

[thirty] Don’t aim for perfection. Evolution, and life, only happen through mistakes.

[thirty-seven] Don’t always try to be cool.The whole universe is cool. It’s the warm bits that matter.

[forty-one] Your brain is open. Never let it be closed.

[forty-four] You have the power to stop time. You do it by kissing. Or listening to music. Music, by the way, is how you see things you can’t otherwise see.

[forty-six] A paradox: The things you don’t need to live – books, art, cinema, wine and so on – are the things you need to live.

[fifty-one] Alcohol in the evening is very enjoyable. Hangovers in the morning are very unpleasant. At some point you have to choose: evenings or mornings.

[fifty-three] Don’t ever be afraid of telling someone you love them. There are things wrong with your world, but an excess of love is not one.

[fifty-eight] It is not the length of life that matters. It’s the depth.

[sixty-one] One day, if you get into a position of power, tell people this: Just because you can, it doesn’t mean you should. There is a power and a beauty in unproved conjectures, unkissed lips, and unpicked flowers.

[sixty-five] Don’t think you know. Know you think.

[seventy-three] No one will understand you. It is not, ultimately, that important. What is important is that you understand you.

[seventy-five] Politeness is often fear. Kindness is always courage. But caring is what makes you human. Care more, become more human.

[eighty-two] If you think something is ugly, look harder. Ugliness is just a failure of seeing.

[ninety-five] Be kind to your mother. And try to make her happy.

[ninety-seven] I love you. Remember that.

Wow. There you go.

Bahkan saya sempat gemetaran sendiri saat menulis ulang poin-poin di atas. Padahal buku ini selesai saya baca di bulan Juni, namun efeknya masih terasa sampai sekarang.

Demikian juga dengan buku-buku lain yang membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya, yaitu “Less” karya Andrew Sean Greer dan “Spoiler Alert: The Hero Dies” karya Michael Ausiello. Bahkan judul kedua membuat saya diam-diam menitikkan air mata, walaupun sambil tersenyum.
Kok bisa?

Baca saja sendiri, ya. Mumpung cukup banyak waktu luang di akhir tahun.

Selamat membaca!

1_C76PXdoMXtysxqiwkS5iow

PS: Apa buku kesukaan Anda tahun ini?

Skim and Scan, karena Cepat Harus Tepat

Pekerjaan saya sekarang menuntut saya untuk menonton banyak film dalam waktu singkat. Sekilas terdengar menyenangkan, ya? Memang menyenangkan … untuk sesaat.

Setelah sadar akan jumlah film yang terus bertambah dalam waktu yang tidak bisa bertambah, maka mau tidak mau ada beberapa film, untuk tidak menyebutnya “banyak” juga, yang tidak selesai ditonton. Apakah saya akan menontonnya lagi? Sebagian besar tidak. Dari yang tidak selesai saya tonton itu, sebagian besar bisa disimpulkan bahwa film-film tersebut tidak akan saya proses lebih lanjut di lini pekerjaan saya. Atau bisa juga film-film tersebut malah akan saya proses lebih lanjut lagi, karena dari beberapa menit yang saya lihat, saya bisa menyimpulkan bahwa film tersebut sesuai dengan apa yang saya perlukan di lini pekerjaan sekarang.

Apakah ini yang dinamakan quick analysis? Entahlah. Saya lebih suka menyebutnya sebagai skim-and-scan.

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya secara singkat di tulisan ini, saat kita dihadapkan dengan tugas membaca buku yang banyak saat di sekolah atau kuliah untuk kepentingan pembuatan makalah, skripsi atau jenis tugas lain, kita tidak perlu membaca satu buku penuh di setiap daftar pustaka yang kita ambil sebagai referensi. Cukup mengaju pada bab atau halaman tertentu, mengutip apa yang kita perlu kutip, dan menelaah sesuai dengan kemampuan pemikiran kita.

Lain cerita kalau kita membaca untuk leisure activity. Sayang rasanya kalau kita tidak menyelesaikan buku yang kita baca. Demikian juga saat menonton film tanpa perlu berpikir, apakah film ini sesuai dengan pekerjaan saya atau tidak. Saat masuk ke bioskop dan menyelundupkan makanan ringan (jangan bilang siapa-siapa, ya!), atau saat tiduran di sofa sambil menonton layar televisi (dan memegang ponsel), maka saya akan switch off the analytical mind untuk berusaha menikmati apa yang sedang tersaji.

8-reason-why-reading-is-important

Tentu saja mengambil keputusan yang cepat dan tepat dengan cara skim-and-scan quickly ini perlu waktu. Perlu rutinitas yang terus menerus dilakukan. Rutin membaca dan mungkin memberikan highlight di bagian-bagian yang menarik untuk kita telusuri lagi. Rutin menonton film dan sedikit menganalisa film yang barusan kita tonton. Rutin mengobservasi sekitar kita, sehingga apa yang barusan kita baca dan tonton mungkin bisa kita kaitkan dengan keadaan kita, menambah pengalaman membaca dan menontonnya menjadi lebih memuaskan.

8iAEzXk8T

Nyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan skim-and-scan ini.
Saat ingin teh hijau manis dalam botol namun kita masih dalam program diet, buru-buru kita lihat kadar gula di label botol, dan mencari merek mana yang kadar gulanya paling rendah.
Saat kita mengantri makanan di warteg, kita mengantri sambil melihat sekilas apa saja yang masih ada di sana, dan membuat mental note mau pesan apa.
Saat kita duduk di kencan pertama berhadapan dengan orang yang baru kita kenal, setelah 5 menit pembicaraan kita tahu, apakah kita akan melanjutkan hubungan dengan orang tersebut atau tidak.

Intuisi tidak bisa hadir begitu saja. Intuisi bisa kita tumbuhkan dan kita latih, to make our life slightly better.