Ketika Jomlo Ingin Melupakan Mantan

Gue pernah baca artikel dan diaminkan oleh beberapa (sok) ahli mengenai tahapan patah hati dan pulihnya. Kalau nggak salah ingat ada yang 4 tahapan, 7 tahapan, bahkan sampai lebih dari 10. Nggak ngerti lagi deh itu tahapannya bisa-bisa ngalahin proses lamaran orang Batak (cari tahulah sendiri :p).

Patah hati nggak melulu soal pacar. Kali ini gue membicarakan patah hati karena kehilangan pekerjaan dan hubungan ‘romantis’ (tapi bukan affair) di dalamnya.

Sewaktu kita menandatangani perjanjian kerja, itu adalah hari pertama kita menjalin hubungan secara resmi setelah sebelumnya PDKT melalui penyaringan CV, wawancara, tes ini, tes itu, dan lain-lain. Official nih, sudah bisa pamer di medsos kalau kita sudah kerja. Apalagi kalau tempat kerjanya keren kan, yang lebih banyak sofa dan bean bag dari pada meja.

Seiring waktu bekerja, tentunya nggak selalu mulus. Kesal sama atasan, berkutat dengan deadline, makan mulai suka lupa (atau malah terlalu rajin), kopi dan bir bergantian menemani, kehilangan waktu bersosialisasi adalah beberapa contoh pertengkaran dalam berpacaran yang suka bikin mikir untuk break (baca: cuti) atau putus (baca: resign). Tapi kemudian mulai berpikir kalau kita merasa terlalu sayang dan membatalkan pikiran untuk lepas dari pacar. Eh, pekerjaan. Lalu baru baikan, besok sudah berulah lagi. Kesal-kesal sebentar, baikan lagi. Gitu aja terus, tarik ulur kayak tali tambang.

Sampai akhirnya tiba hari di mana kita sudah tidak bisa menoleransi lagi segala kejengkelan akibat pekerjaan. Pilihannya putusin atau diputusin. Apapun yang terjadi, ujung-ujungnya adalah menjadi jomlo. Pengangguran. Status yang pada saat emosi, tampak lebih baik dari pada terus berhadapan dengan bos resek, tapi pada saat sudah terjadi dan ‘waras’ adalah sebuah penyesalan.

Shock! Adalah situasi pertama yang kita rasakan. Biar bagaimanapun stabilnya finansial kita atau punya cadangan pekerjaan lain (freelance misalnya), kehilangan pekerjaan hanya memberi angin segar sesaat. Masa-masa senang hanya ada sesaat meninggalkan pekerjaan/rekan kantor/bos toxic tersebut. Lalu kita mulai linglung karena putus berarti kehilangan. Can’t believe it that I’m unemployed!

Lalu masa-masa susah move on itu datang. Setiap cerita ke orang lain, kita masih saja ngomongin mantan baik dan buruknya. Kita masih belum menghapus grup kantor dan grup rahasia kantor di Whatsapp (biasanya membernya hampir sama, hanya minus si bos), ada email-email nyangkut, beberapa mantan klien masih belum dihapus juga history chat-nya dari Whatsapp, dan mungkin juga urusan handover pekerjaan belum 100% selesai. Kita masih dihubungi sesekali untuk menanyakan masa lalu, minta tolong ini, minta tolong itu. Lha udah putus, tapi masih minta jatah mantan, piye?

Setelah berusaha menyangkal diri dengan situasi dan status baru yang ternyata nggak selamanya menyenangkan (apalagi belum dapat pengganti), mulailah galau-galau nggak jelas. Pikiran-pikiran negatif mulai berduyun-duyun datang. Ketidak-PD-an mulai menghinggapi dan memutuskan untuk menyendiri karena minder ketemu orang lain. Sendiri lebih nyaman tapi tidak menyenangkan. Dalam kesendirian, mulai deh ingat-ingat lagi kesalahan apa yang pernah dibuat sampai bos kesal, lalu menyesali seandainya tidak berbuat ini, tidak berbuat itu, seandainya bisa kembali ke masa itu untuk memperbaiki kesalahan, dan lain-lain. Sibuk sama pikiran negatif sendiri sampai lupa dengan dunia luar yang mungkin nggak semenyeramkan yang dibayangkan.

Sedih berlebih sudah? Selanjutnya rasa marah datang. Menyalahkan siapa saja hanya untuk membuat diri merasa lebih baik. Berhasil? Nggak dong. Marah sama mantan itu sia-sia, apalagi kalau dia mati rasa. Kita sibuk marah-marah, dianya peduli juga nggak tuh. Dia malah senang-senang tanpa mikirin kita. Tapi, pada masa ini juga tanduk setan itu terpasang. Bersyukur atas kesialan yang dialami mantan menjadi mood booster. Ini sih sudah mulai nggak sehat dan usahakan selesai di tahap ini lebih cepat kalau memang nggak bisa menghindari emosi yang satu ini.

Lalu saat amarah mereda atau menghilang, tiba-tiba timbul keinginan untuk ngajak balikan. Jangan bodoh dan gegabah. Apalagi sampai berbaik hati mengerjakan sesuatu yang dihargai saja tidak, boro-boro dinilai dengan uang. Oh, kalo ini pengalaman sih. Sudah putus, masih ngasih kenang-kenangan berupa ide yang membantu usahanya. Terima kasih nggak ada, apalagi bayaran. Hari gini ide itu dibayar kan? 🙂

Sudah merasakan semua di atas? Beberapa usaha untuk mendapatkan kembali ada yang berhasil nggak? Kalau berhasil, selamat ya! Tapi jangan lupa berhati-hati agar nggak mengulang kesalahan yang sama. Lantas kalau nggak berhasil? Ya, selamat datang kembali pikiran buruk karena menyadari memang sudah nggak ada harapan untuk balikan apalagi dapat penggantinya. Terparah sih kalau sampai depresi. Malas melakukan ini itu, gairah menghilang, dan putus asa. Padahal sebenarnya saat sedang sendiri ini, lo bisa mulai memperbaiki diri, menambah value diri, update CV lah minimal.

Semua ada waktunya. Setelah semua badai di atas yang periodenya bisa berbeda-beda pada setiap orang, pada akhirnya kita akan berada dalam satu titik menerima kenyataan pahit itu. Putus bukanlah akhir dari semuanya (klise ya?). Ciri-ciri saat kita sudah mulai menerima kenyataan adalah, kita akan lebih terbuka dengan orang lain. Misalnya sebelumnya kita nggak cerita tentang keadaan kita karena malu, akhirnya kita cuek dan mulai cerita keadaan sesungguhnya, mencari pekerjaan baru, dan membenahi diri lagi. Kita mulai sadar kenapa kita memang harus putus, mungkin mengingat kalau hak-hak pekerja kita selama ini nggak dipenuhi, kita akan mengingat kembali masa-masa suram itu tapi sebagai pengingat kalau kita nggak pantas diperlakukan seperti itu. Kita mulai menghargai diri kita sendiri dan siap mencari pengganti yang lebih baik dan menghargai kita.

Mungkin nggak semua orang pernah mengalami semua tahapan ini, nggak semua orang selemah ini, tapi ini sebagai pengingat masa susah kita. Selamat, kalau di antara kita adalah orang yang gampang move on. Sebarkan positive vibe kita kepada orang-orang di sekitar kita. Hal buruk yang kita alami bukanlah alasan untuk putus asa, karena selalu ada jalan keluar kalau ada kemauan.

Jadi, yang lagi jomlo sudah dapat penggantikah? Semangat berjuang!

Advertisements

Whatsapp Group

Andini created group “Kangen”

Andini added you

Andini added Talitha

Andini added Nezha

Andini added Karen

Andini added Henna

Andini added Josephine

Talitha
Grup apaan nih?
Henna
Nambah banyak deh grup gue.
Josephine
Hola! Talk to you all later.
Henna
Ah! Josephine Wardhana nih? Prom Queen angkatan kita kan?
Karen
Dini udah balik Indo ya?

Nezha left group

Andini added Nezha

Andini changed the subject to “The Mantans”

Nezha
Ngapain di-add lagi sih gue?!
Hanjis! Ngapain kita semua dikumpulin gini? Hahahaha!
Andini
Derryl mau nikah minggu depan!
Talitha
What?!
Henna
Seriously??
Karen
Udah tauuuuu
Nezha
Masa? Hahahaha
Josephine
Wait. What? *akhirnya anak gue tidur juga*
Iya tuh.

***

Andini
Derryl gada kabarnya banget yah abis graduation sepuluh tahun lalu, tiba-tiba udah nyebar undangan tanpa foto dan nama calon bininya di grup facebook. Penasaran gue.
Henna
Jo, lo waktu nikah kenapa gak ngundang-ngundang sih?
Josephine
Lha, gue aja nikahnya di Melbourne. Mana ada juga yang mau dateng.
Henna
Kalo diselipin tiket PP pasti dateng dong :p
Nezha
So, are we cool now?
Karen
Come on, Zha. Udah gede kok masih berantem sih.
Karen
Thanks to Dini yang berhasil menyatukan kita setelah dia kembali ke Jakarta.
Talitha
Walau secara lokasi, kita juga gak semuanya di Jakarta kan? :)
Andini
Tapi kan dekat di grup :D
Andini
Caitlin mana sih? Kok ngilang?
Josephine
Sibuk syuting kali..news anchor paling tenar se-dunia-pemberitaan sekarang dia. :)))
Henna
Iya eh, nggak nyangka dia jadi news anchor sekarang. Padahal dulu di SMA dia paling nggak suka tampil.
Nezha
Si Pintar kesayangan semua guru.
Karen
Dan hampir semua laki-laki.
Josephine
Astaga kalian ini. Orangnya ada di grup ini, masih juga diomongin.
Talitha
Berarti dewasa. Ngomongin orang blak-blakan, bukan sembunyi-sembunyi.
Gue baca lhoooooo..
Andini
Eh maap :))
It's okay. So, what's up?
Andini
Meet up nyok! :))
Kapan?
Josephine
Jangan malam-malam yah :)
Talitha
When? Where? Bandung aja yah :p
Nezha
Gue di Papua, nyamperin kalian di Jakarta? Bayarin tiket gue.
Karen
Jakarta.
Henna
Jakarta.
Andini
Sehari sebelum nikahannya Derryl. Sampe pas nikahannya.
Ehm.. Gue ngikut aja sih.. Soalnya jadwal gue kosong tuh minggu depan. Cuti. 😉
Andini
Yang lain?
Josephine
Asal nggak malam-malam banget, gue bisa. Tapi gue bawa anak yah, jadi please pilih tempat yang kids friendly.
Andini
Siap, Mak!
Karen
Deal!
Henna
Deal! (1)
Talitha
Deal! (2)
Nezha
Gue tunggu kode booking tiket dari kalian aja yah :))

***

Nezha
Woy! Mimpi apaan gue semalem, bangun-bangun dapat kode booking ini. Ini seriusan Sorong - Jakarta - Sorong GRATIS?!
Henna
Dari siapa?
Nezha
Caitlin! Gilak..berapa sih gaji penyiar, sampe bisa beliin gue tiket bolak balik Jakarta-Papua gini? Mulai packing deh gue :D
Pokoknya kita semua harus ngumpul. Khususnya di pernikahan Derryl 🙂
Andini
*tepuk tangan* Caitlin mantep deh. Nanti gue bawa brownies talas deh dari sini.
Talitha
Wah, gue juga mau bawa brownies kukus padahal dari Bandung.
Karen
Zha, bawa koteka yah dari sana :))
Josephine
Isinya gak usah lhoooo :)))))
Henna
LOL! 😂😂😂😂😂
Andini
Jangan yang second juga yah 😂
Nezha
Parah kalian semua..hahahaha 😂😂
Karen
Buat Derryl. Biar malam pertamanya sama bininya agak-agak primitif gitu temanya :))
😂😂 astaga kalian *ngakak nggak berhenti, untung lagi iklan*

***

Talitha
Kalian semua dimana sih? Masa yang dari Bandung nyampe duluan daripada kalian yang di Jakarta.
Nezha
Gue malah udah sampe dari semalem, Tha. Kejebak macet nih.
Karen
Sabar yah. Mobil cowok gue masih di salon. Gue masih nemenin dia nih. Deket kok tempatnya dari kafe.
Talitha
Ganjen amat mobil cowo lo, pake nyalon segala. Naik taksi aja napa sih?!
Karen
Sabar sih. Pantes aja dulu lo diputusin. Nggak sabaran.
Talitha
Eh sembarangan! Daripada lo, manja. Harus nempel mulu sama cowok, gak mandiri.
Nezha
Eitzz! Mau ketemuan kok malah berantem sih? Santai woy!
Henna
Zha, gausah ikut campur. Nanti ditikam lho sama Karen.
Karen
Kalian berdua diem. Sesama selingan aja sok-sok akrab.
Andini
Astaga kalian! Gue bentar lagi nyampe, masih parkir. Baikan sekarang ah. Gue nggak mau jadi saksi pertumpahan darah pas nyampe nanti.
Josephine
Setuju. Anak gue bisa shock nanti ngeliat tante-tante girang yang perang gara-gara masa lalu. :))
Gue juga udah mau sampe yah..udah deket kafe..
Josephine
Gue lihat lo. Eciyeee, bareng cowok. Kayaknya tampak-belakang-genic deh. Kok gak dibawa aja sih ke kafe cowok lo, Lin?
Dia juga ada janji sama teman-temannya di atas.
Nezha
Sampe. Gue lagi menuju Union yah.
Andini
Sama.
Sampe.
Henna
Sampe.
Karen
Okay, gue bentar lagi capcuss.

***

Karen
Eh, semalem pas gue mau ke parkiran bareng cowo gue, kayaknya gue ngeliat Derryl deh. Makin kece. Dia sama teman-teman cowonya.

***

Josephine
Are we ready to meet Derryl?😉
Andini
Siap dong. Gue penasaran sama calon bininya.
Talitha
Duh, masih aja pengen kompetisi. Belum move on, Mbak?
Andini
Hahaha.. Namanya juga cewe kan, selalu pengen kompetisi kalo urusannya sama mantan dan wanita-wanitanya.
Karen
Bener juga sih. Mana semalem, pas gue ngeliat Derryl, makin cakep lho dia. Pasti makin selektif deh milih calon istri.
Nezha
Kalian masih terpikat Derryl ya?
Karen
Kayak lo enggak aja. Kalo bukan karena Derryl juga, mana mau lo bela-belain pulang ke Jakarta.
Henna 
Hahaha.
Nezha
Kan gue dibeliin tiket sama Caitlin.
Andini
Eh iya. Caitlin nggak kedengeran kabarnya setelah semalem kita pisah ya.
Josephine
Mungkin pacaran dulu dia, sebelum nanti malem ke kondangan.
Talitha
Ngomong-ngomong, gimana yah perasaan Caitlin nanti lihat Derryl. Kan dia pacar pertama Derryl, trus mereka balikan lagi pas Derryl putus dari Jo. Paling menang banyaklah Caitlin.
Karen
Hahaha. Nggak kayak lo yah? Cuma 2 bulan pacaran sama Derryl? Hahaha
Talitha
Daripada lo cuma 2 minggu. Itupun cuma karena tugas kelompok Fisika. Hahaha.
Josephine
Mirip kayak gue yah? Pacaran akademis. Cuma pas ujian. Bisa bertahan sampe graduation tuh bonus.
Henna
Terus lo diputusin. Dia balikan sama Caitlin.
Nezha
Dan lo jadi simpenannya derryl saat itu.
Henna
Kayak lo enggak ajah :)))
Andini
Cuma gue yang pacaran agak lama sama dia dan tanpa selingan. Lumayan satu semester.
Talitha
Rebound-nya Derryl yang cukup lama. Masih Caitlin yang menang banyak.
Kuping gue panas. Ternyata kalian lahi ngobrolin gue. Hahaha.
*agi
*lagi
Henna 
Elah typo kok hobi 😂
Josephine
The Mantans lagi kangen-kangenan sama Derryl.
Hahaha. Eh, gue lagi agak ribet nih. Sampe ketemu nanti malam aja yah sama Derryl juga di pelaminan :)))
Andini
Duh yang pacaran...play safe lho say :))
Nezha
Kenalin cowo lo nanti malam yah..

***

Andini
Gue, Nezha, Henna, Karen udah di parkiran yah. Lengkap dengan pasangan masing-masing. Kita bareng aja masuknya ke gedung. Jo, Tha, Cait? Kalian dimana?
Josephine
Gue udah di dalem. Sorry, tapi anak gue udah rewel dari tadi. Lakik gue juga ketemu temennya. Daaaann, cepetan kalian ke sini!!! OMG!
Andini
Ada apa??!!
Josephine 
Pokoknya cepetan sini!
Karen
On our way

***

Nezha
WTF! Cait?!

***

Akhirnya kalian sampe juga. Gue langsung buru-buru minta iPhone gue ke Derryl begitu lihat kalian. Thanks ya udah datang. Nanti gue sama Derryl turun nyamperin ke meja kalian. *kiss kiss*

Cuma Sama Dia

Someone asked :

“Di mana tempat makan/restoran yang lo belum pernah ajak makan siapapun ke sana kecuali ‘seseorang’?”

Dan lagi-lagi wajah kamu langsung terbayang di otak saya sebagai ‘seseorang’ yang dituju.

Dari sekian tempat makan yang pernah kita singgahi bersama, saya malah menjawab warung tenda mie ayam di depan salah satu toko buku daerah Matraman, Jakarta.

Saya ingat ketika kamu berkata merindukan suasana makan mie ayam di pinggir jalan, duduk di bangku plastik, saos tomatnya yang merah nggak wajar, dan sebotol teh dingin. Sederhana.

Tapi saya lebih tidak bisa lupa berkali-kali usaha saya untuk membuatmu mewujudkannya. Mulai dari masalah waktu yang tidak kunjung ‘tepat’, kemalasan kamu untuk beranjak jauh-jauh dari kafe ber-AC dan sofa kesayangan kamu itu, sampai perdebatan transportasi menuju tempat itu – saya maunya jalan kaki atau naik angkot atau naik Transjakarta dan kamu maunya naik taksi atau bawa mobil, padahal jaraknya sangat amat dekat.

Sampai akhirnya hari itu tiba. Tiba-tiba kamu menjanjikan satu hari dengan pilihan kegiatan terserah saya dan hari itu khusus untuk saya. Ya walaupun ujung-ujungnya tetap setelah pulang kantor sih.

Film yang lagi ramai dibicarakan dan sempat kusebutkan ingin kutonton bersamamu harus mengalah oleh semangkuk mie ayam pesanan kamu. Buat saya, tidak masalah apapun yang kita lakukan untuk mengisi waktu luang asalkan dengan kamu. Yeah, I was that easy and cheap at the moment.

Saya berhasil membujuk kamu naik Transjakarta yang hanya berjarak satu halte itu. Berdiri pula. Bagi kebanyakan orang mungkin itu hal sepele, tapi bagi saya itu kepuasan tersendiri. Berhasil membujuk kamu meninggalkan kenyamanan kamu sesaat untuk bersama saya. Kemudian memesan makanan sederhana yang kamu idam-idamkan. Semuanya sesuai keinginan kamu.

Tau hal paling mewah yang pernah saya dapat dari kamu? Malam itu di balik kesederhanaan ‘kencan’ kita, saya melihat senyum kepuasan terpancar dari mata kamu. Ya, mata kamu. Sekilas saya yakin kalau kamu sangat terhibur dan melupakan tekanan yang sedang kamu alami di kantor. Itu sangat berharga buat saya. Karena cita-cita mulia saya saat itu adalah berhasil mengembalikan senyum di wajahmu yang sudah tertekuk beberapa lama akibat masalah pekerjaanmu.

Mungkin kita tidak jadi menonton film kartun ataupun komedi untuk menghilangkan stres kamu, sesuai permintaan kamu sebelumnya – iya, saya tau kamu bosan juga nonton program TV kabel berdua sama saya di apartemen, sementara saya tiduran aja. Tapi, rupanya pilihan saya malam itu berhasil menghiburmu.

Saya nggak tau siapa yang lebih beruntung malam itu. Saya atau kamu. Karena yang terjadi malah kamu juga mewujudkan permintaan saya yang bahkan sudah hampir saya lupakan, saking banyaknya rencana kita yang tidak terlaksana.

“Kalau sudah selesai makan, ayo kita lanjut jalan,” katanya spontan.

“Ha? Ngapain?”

“Bukannya kamu mau kita kencan di toko buku juga? Kan dari dulu kamu mau kita pergi ke toko buku sama-sama. Malam ini khusus untuk kamu.”

Saya tertegun. Tidak menyangka kamu masih mengingat permintaan saya yang waktu itu bercanda karena kita nggak tau tujuan bolos ngantor kita ke mana – yang akhirnya habis waktu di jalan karena macet kemudian memilih ke kafe langganan di apartemen.

Senyum saya tidak habis bertengger di wajah saya sepertinya malam itu. Jomplang-nya pilihan buku kita saat di meja kasir paket novel darimu untuk saya, punyamu majalah dan buku tentang keuangan.

Tapi, kesejukan di hati saya semakin sempurna saat saya mendapat pelajaran berharga di angkot malam itu. Ya, satu lagi kejutan. Kamu mau naik mikrolet dan apa yang kamu lakukan untuk supir angkot malam itu, sungguh mengajarkan saya arti memberi dan bersyukur.

Sisa malam itu masih panjang rupanya. Rutinitas kita yang seperti biasa – mampir ke kafe langganan, kembali ke apartemen, nonton program TV kabel sambil saya yang tiduran aja – berhasil membuat senyum permanen di wajah saya dalam tidur saya malam itu.

Malam sebelum kita harus berpisah untuk berkumpul bersama keluarga kita masing-masing dihari libur yang panjang itu. Dan tidak lupa, satu kencan lanjutan yang sudah kamu janjikan setelah kita sama-sama kembali ke Jakarta.

Satu pertanyaan iseng teman saya sore itu, berhasil membawa pikiran saya kembali ke kamu. Rindu itu masih ada. Saya harap kamu baik-baik saja di sana. Sehat selalu dan bahagia pastinya. Dan saat kita bertemu kembali nanti, saya tidak akan melihat duka di wajah kamu lagi ya.

“Jadi, di mana tempat makan/restoran yang lo belum pernah ajak makan siapapun ke sana kecuali ‘seseorang’?”

- Lou, Jakarta