Dari Mal Ambasador ke Gandaria City

taksidanmotor

Taksi dan motor (Hasan Aspahani, 2016)

BULAN-BULAN ini saya bergerak di kota ini dengan jasa ojek aplikasi.  Ya, itulah istilahnya.  Ini untuk membedakan dengan ojek sistem lama yang kini menyebut diri opang, alias ojek pangkalan.

Lebih murah?  Pasti. Tapi bukan hanya ongkos murah yang jadi pertimbangan. Saya bisa naik apa saja. Diantar supir sendiri, naik kereta api, atau mobil aplikasi.

Saya pernah coba membuat perbandingan. Semacam percobaan kecil. Berapa ongkos dari Mal Ambasador, Kuningan, ke Mal Gandaria City, Gandaria?

Ojek pangkalan minta harga Rp60 ribu.

Ojek aplikasi? Ongkos yang muncul di ponsel saya: Rp15 ribu. Kalau bayar pakai sistem pembayaran deposit di aplikasi itu malahan hanya bayar separo. Harga promosi.

Hari itu tampaknya akan hujan (dan inilah sebenarnya alasan saya kemudian untuk membuat perbandingan ongkos), saya batalkan juga order sebelum ada isyarat: your driver is founded. Saya kemudian naik taksi.

“Bapak tahu jalannya ya?”

“Pokoknya yang ke arah Pondok Indah…”

“Oh, oke, Pak.” Dia tampak lega. “Saya terus terang saja, Pak. Saya tak tahu jalan.  Baru lima hari saya bawa taksi.”

“Sebelumnya kerja di mana?”

“Coca-cola, Pak. Sebelum Bapak naik, ada dua penumpang yang turun lagi. Nggak tahu jalan juga. Daripada nanti sudah jalan baru turun, dan saya dimarah-marahi, lebih baik dari awal saya bilang saya tidak tahu…”

Hujan lebat memang turun si daerah Karet Bivak. Sangat lebat.  Jalanan padat. Macet. Saya tertidur. Ponsel saya pun habis baterei dan sempat numpang ngecas di taksi.

Ongkos yang harus saya bayar akhirnya: Rp78,690. Saya kasih uang Rp80.000 dan bilang tak usah dikembalikan kelebihannya.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

25

cermin

Pengantar: Ini adalah uraian sederhana tentang 25 sifat positif yang membentuk sosok manusia yang utuh. Ini bukan nasihat, bukan pedoman, atau petunjuk. Ini cuma cermin yang semoga saja cukup jernih untuk kita sama-sama berkaca. Semoga bermanfaat…

I. Yang Memancar dari Dalam Hati

1. Adil
Adil adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang hakiki. Mungkin itu tak selalu tempat yang nyaman bagi yang ditempatkan, dan bagi yang menempatkan. Adil itu tidak selalu mudah, karena kita harus mencoba untuk tahu hakikat dan tempat dari segala sesuatu. Kemudian kita juga harus punya keberanian dan kekuatan untuk meletakkanhal itu pada tempat yang kita tahu memang di situlah tempatnya.

2. Peduli
Selalu ada bagian dari apa yang dimiliki oleh seseorang atau bahkan bagian dari diri seseorang yang dibutuhkan oleh orang lain, diminta atau tidak diminta. Selalu ada kesempatan bagi kita untuk memberikan bagian dari diri atau apa yang kita miliki yang diperlukan oleh orang lain. Kepedulian adalah hal yang membuat kita nyaman mengambil kesempatan untuk melakukan pemberian itu.

3. Ramah
Keramahan adalah udara yang kita bentang di sekitar kita, yang membuat orang lain – dan terutama diri kita sendiri – merasa nyaman berada di bentangan udara tersebut. Keramahan adalah jembatan lapang yang lekas menyeberangkan orang lain ke sisi kita, tanpa hal itu harus menjadi beban bagi kita dan bagi orang lain.

4. Tegas
Ada saat kita harus mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ pada detik yang tepat, dengan pilihan jawaban yang tepat. Bukan cepat atau lambatnya yang penting, tapi ketepatan saat ketika jawaban itu diperlukan. Tidak berlarut tidak juga terburu-buru. Ada saat kita harus menolak atau menerima dengan alasan sederhana saja, yakni karena kita memang harus menerima atau harus menolak. Itu saja. Ketegasan adalah pagar yang kita bangun dan kita jaga. Kita harus tahu kapan kita membuka dan kapan kita menutup pintunya.

5. Tanggap
Sifat tanggap adalah naluri. Naluri adalah kerja ketika rasa hati jauh lebih cepat memandu kita mengambil keputusan daripada rasio dari pikiran. Naluri lahir sebagai sesuatu yang dibiasakan, terus-menerus dilatih, dibentuk, dan diarahkan. Tanggap adalah reaksi kita untuk lekas ikut ambil bagian, bahkan mendahului orang lain, untuk mencari jalan keluar, dari suatu masalah yang harus lekas diselesaikan, apakah itu terkait atau tidak terkait dengan kita. Apalagi kalau itu memang bagian dari tugas dan tanggung jawab kita.

II. Yang Tertanam di Dalam Dada

1. Jujur
Kau jujur jika kau berkata, bertindak, berperilaku, dan bekerja, maka kau benar-benar hanya mengandalkan apa yang benar-benar kau punyai, kau kuasai, dan kau mampu. Kejujuran adalah kemampuan mengetahui setepat-tepatnya dan memberdayakan dengan segala daya upaya, segenap kemampuan dan juga ketidakmampuan kita. Kejujuran adalah nilai diri kita, yang sampai mati harus kita jaga harganya.

2. Sabar
Orang yang sabar adalah orang yang percaya pada proses, dan yang lebih penting lagi, ia percaya pada dirinya sendiri. Dia tahu persis akan ada banyak hal yang tak terduga yang akan ia hadapi dalam perjalanannya menuntaskan apa yang sudah ia mulaikan. Ia bisa mengeluh tapi tak tenggelam dalam keluhan. Ia tahu tak semua orang bisa disenangkan, tapi dia tak akan bertindak serampangan berdasarkan ketidaksenangan orang lain padanya.

3. Tangguh
Orang yang tangguh adalah orang yang percaya pada diri sendiri, juga percaya pada orang lain tapi tak mau menggantungkan dirinya hanya pada orang lain. Ia berani memulai dan siap menempuh segala akibat dari apa yang ia mulai sampai selesai. Orang yang tangguh tahu, sesiap apapun dia, selalu ada kemungkinan jatuh dan gagal tapi ia terus maju. Ia mungkin bisa sesekali terlemahkan, tapi ia tak terhentikan.

4. Berani
Keberanian muncul dari kesiap-siagaan. Orang berani adalah orang yang siap-siaga. Orang yang siap-siaga bukan berarti mempunyai segala bekal yang diperlukan. Mereka tahu persis apa saja yang ada pada diri mereka – sesedikit apapun itu – dan mereka tahu bagaimana mendaya-gunakan apa yang mereka punyai itu. Mereka menghitung risiko. Terus maju adalah tekad, menang adalah tujuan, tapi tanpa teralihkan, orang yang berani tahu kapan harus sedikit berbelok, sejenak berhenti, atau selangkah mundur dahulu.

5. Kuat
Orang yang kuat adalah orang yang tahu bahwa hidup adalah gelanggang pertarungan yang tak perlu dihindari. Ia masuk arena dengan sadar. Ia tak selalu ingin bertarung, tapi ia tahu kapan harus bertarung habis-habisan. Ia tahu bahwa ia tak selalu menang, tapi bahkan ketika kalah pun ia tak menjadi pecundang dan ia bukan pengalah. Orang yang kuat selalu bisa bangkit lagi dari kekalahan dan yang lebih penting ia juga tahu bahwa ia harus bangkit dari kemenangan.

III. Yang Mengalir dari Kedua Tangan

1. Tekun
Orang yang tekun masuk melibatkan dirinya ke dalam suatu pekerjaan dengan seluruh kemampuannya sampai pekerjaan itu tuntas. Perhatiannya sepenuh-penuhnya ia arahkan, energinya sebanyak-banyaknya ia kerahkan, kepandaiannya seluas-luasnya ia berdayakan untuk masalah yang harus diselesaikan.

2. Gigih
Orang yang gigih adalah orang yang bekerja dengan suatu keyakinan. Dalam bekerja ia punya tujuan. Karena bekerja adalah perwujudan dari apa yang ia yakini maka ia tak terhentikan oleh apapun. Bekerja dan menuntaskan pekerjaan adalah sebuah kebahagiaan, karena dengan begitu ia bisa mewujudkan tujuan yang ia yakini.

3.Rajin
Bagi orang yang rajin, bekerja bukanlah beban penderitaan, tapi sumber kegembiraan. Tak ada pekerjaan yang remeh, dan tak ada pekerjaan yang tak membawa kembali imbalan bagi siapa saja yang mau dengan rajin mengerjakannya. Setidaknya kegembiraan yang diperoleh saat bekerja atau setelah menyelesaikan pekerjaan itulah yang menjadi imbalan yang paling berharga.

4. Trampil
Dalam sejumlah kerja, untuk menghasilkan atau menyelesaikan sesuatu, manusia tak bisa lepas dari peralatan dan perkakas. Orang yang trampil adalah orang yang mengenal, menghargai, bahkan menyatu dengan setiap peralatan yang diperlukan dalam pekerjaannya, dan menghasilkan yang terbaik yang paling mungkin didapat dari kerjanya itu.

5. Tangkas
Kerja dalam hidup tidak selalu berjalan dengan datar, lurus, dan tenang. Selalu ada masalah datang sebagai kejutan, kelokan mendadak, atau tanjakan yang menghadang tiba-tiba. Orang yang tangkas dengan sigap dan gesit bisa menempuhi dan melampaui segala kejutan itu tanpa harus tersandung atau jatuh pada kesalahan. Seperti pesilat handal, orang yang tangkas menguasai jurus-jurus dasar yang lengkap.

IV. Yang Memandu dari Dalam Kepala

1.Cerdas
Kecerdasan adalah kemampuan memanfaatkan segenap pengetahuan, wawasan, dan keluasan jiwanya untuk menyelesaikan masalah dengan selekas mungkin. Orang yang cerdas tak pernah takut menghadapi masalah sepelik apapun, sebab ia percaya, dengan pengetahuan yang ia punya ia bisa mencari jalan menguraikan masalah itu. Kalau pun dia tak punya pengetahuan tentang itu, dia tahu harus menemukannya di mana dan bagaimana caranya.

2. Pintar
Orang yang pintar adalah orang yang mampu memahami dan menguasai hal-hal baru dengan lekas. Orang yang pintar pintar adalah seorang pembelajar yang selalu lapar dengan pengetahuan baru. Orang yang pintar adalah orang yang yakin bahwa pengetahuan yang ia miliki suatu saat pasti aka nada manfaatnya.

3. Cermat
Ada hal-hal yang harus dikerjakan dengan cara dan tahapan yang sudah baku. Jika kita mengerjakan hal itu, lakukan dengan cermat, artinya lakukanlah sesuai dengan cara dan tahapan itu. Kita juga harus memahami benar kenapa tahap-tahap itu harus seperti itu. Tapi yang lebih penting adalah hanya dengan kecermatan itu kita bisa memikirkan dan menemukan cara dan tahapan yang lebih baik.

4.Teliti
Kesempurnaan atau pendekatan ke arah kesempurnaan, hanya bisa lahir dari ketelitian. Bekerja dengan teliti, lalu menghasilkan sesuatu yang sempurna adalah sebuah kepuasan. Ketelitian bukan beban yang menuntut. Ketelitian adalah anak-anak tangga yang memandu, langkah demi langkah yang menyampaikan ke sebuah hasil yang baik dan terus membaik.

5. Jernih
Pikiran yang jernih, ibarat mata dengan cahaya laser. Ia bisa menembs sekeruh apapun situasi yang dihadapi. Pikiran yang jernih, mampu untuk tetap jernih, menularkan kejernihan, menjernihkan dengan lekas kekeruhan situasi yang diharapi. Orang dengan pikiran jernih, tak takut menghadapi situasi sekeruh apapun itu.

V. Yang Mewujud Menjadi Diri

1. Sederhana
Sederhana adalah apa yang tampak oleh orang lain padamu, terlihat amat pantas untukmu. Sederhana adalah apa yang di mata orang lain pantas untukmu terasakan amat nyaman oleh dirimu sendiri. Sederhana adalah kau tidak direpotkan oleh apa yang tidak kau perlukan. Sederhana adalah, kau hanya mengenakan, mengucapkan, menyikapi apa yang benar-benar kau perlukan.

2. Lentur
Kelenturan menuntun kita pada jalan keluar. Kelenturan bukan berarti kita menyerah pada keadaan. Manakah jarak terpendek ke puncak sebuah gunung? Yaitu garis lurus dari kaki bukit ke puncak itu. Tapi apakah itu jalan yang paling mudah? Bukan! Bahkan mustahil bisa mencapai puncak itu kalau kita bersikukuh hanya menempuh jalan segarus luru, jarak terpendek itu. Kelenturan adalah kita mencari jalan yang paling mungkin, bukan jalan yang paling mudah.

3. Bijak
Bijak adalah kemampuan bersikap, memutuskan, menimbang dengan sebagus-bagusnya. Bijak menuntut dua kemampuan, yaitu kemampuan untuk berempati dan bersimpati. Kita berempati pada seseorang ketika kita menilai dia setelah menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Sedangkan simpati adalah perasaan kita yang tersentuh bangkit setelah melihat keadaan – kemalangan, keberhasilan, kesulitan, kegemilangan – orang lain.

4. Benar
Kebenaran itu selalu sederhana. Seperti tangan kiri dan kanan yang tak bisa dipertukarkan penyebutannya. Kiri adalah kiri. Kanan adalah kanan. Itulah kebenaran yang tak bisa digugat, tak perlu dipertanyakan. Kebenaran harus menjadi penyemangat yang paling utama bagi kita. Karena mencuri atau mengambil hak orang lain yang bukan hak kita itu tidak benar, maka kita harus bekerja atau berusaha untuk bisa mendapatkan apa saja yang kita butuhkan.

5. Tulus
Orang yang tulus adalah orang yang telah selesai dengan masalah-masalah sempit yang terkait dengan dirinya sendiri. Ia menautkan dirinya dalam lingkaran kemanusiaan yang lebih luas. Ketika ia berbuat sesuatu untuk kebaikan, ia tak lagi melihat sekecil atau sebesar apa dampak dari perbuatannya itu. Ia berbuat bukan untuk menghindari caci-maki, tidak untuk mendapatkan tepuk tangan, juga bukan untuk mengundang puja-puji.[]

Semua Dimulai dengan, “Turun di mana, Pak?

kereta

Lelaki I: Saya turun di Cilebut. Satu stasiun sebelum Bogor.  Sudah masuk Bogor. Rumah saya di sana. Saya dulu beli tanah murah banget. Habis jual rumah saya di Kelapa Gading.

Lelaki II: Saya turun di Depok. Saya mengontrak rumah di sana. Rumah saya di Jawa saya tinggalkan. Sekarang anak saya yang menempati.

Lelaki I: Saya jual rumah setelah divorced. Istri saya kawin lagi.

Lelaki II: Saya ceraikan istri saya karena dia main serong sama tetangga di kampung. Saya malu, makanya saya ke Jakarta. Anak-anak semua ikut saya. Sekolah di Jakarta. Sekarang semua sudah nikah. Punya usaha sendiri-sendiri.

Lelaki I: Hasil jual rumah, saya bagi mantan istri saya, terus saya bagi dengan anak saya. Dia beli rumah di Australia. Saya beli tanah dan bangun rumah di Cilebut.

Lelaki II: Saya tak pernah kawin lagi. Saya trauma sama perempuan. Malu saya.

Lelaki I: Saya sudah tua. Buat apa kawin lagi. Kawan saya juga banyak.  Kawan dansa, kawan main kartu, teman-teman arsitek. Oh ya saya arsitek. Rumah saya di Bojong saya desain sendiri.

Lelaki II: Setiap tiga bulan saya pulang ke Jawa. Lihat sawah. Lihat cucu.

Lelaki I: Anak saya ngajak saya tinggal di Australia. Malas saya. Biaya hidup mahal. Sekali makan 200 ribuan. Kalau jadi warga negara sana memang ada kemudahan. Orang tua seperti saya naik bis kemana-mana bisa gratis. Tapi orang seumur saya memulai hidup di tempat baru susah banget. Enakan di sini. Teman banyak.

Lelaki II: Saya dulu pegawai dinas kesehatan di kabupaten. Waktu istri saya ketahuan serong, saya kayak orang linglung. Tiga bulan saya tidak masuk kerja. Saya kayak orang gila.  Sampai akhirnya saya dipecat.

Lelaki I:  Ibunya  ….. (dia menyebut nama pemilik merek rokok) itu teman dansa saya. Biasanya dua minggu sekali saya diajak. Saya dibayar lo. Kadang-kadang dansanya di Bali. Dia kasih tiket, saya tinggal berangkat.

Lelaki II: Saya dulu tim sukses Pak Jokowi. Tapi sekarang saya kecewa.

Lelaki I: Saya dulu melayani katering di Istana, lo. Tapi ya ampun bayarnya sampai enam bulan. Kalau gak kuat modal bangkrut kita. Siapa yang tahan.

Lelaki II: Dulu katanya tak mau bagi-bagi kursi, kabinet profesional. Tak tahunya sama saja. Mana bisa melawan partai-partai itu.

Lelaki I: Sekarang sih paling saya bantu-bantu ngatur kalau ada pejabat mau bikin pesta. Kenduri.  Saya yang urus kateringnya, pelaksanaannya. Ini saya mau ke …. (dia menyebut satu provinsi yang gubernurnya adalah anak kenalannya). Mau selamatan di rumah dinasnya.

Kedua lelaki itu tak pernah bertemu. Saya bertemu keduanya di KRL pada waktu yang berbeda. Saya naik dari stasiun Palmerah. Lelaki pertama saya temui sejak dari stasiun Tanah Abang. Pada waktu yanglain lelaki kedua saya temui di stasiun Palmerah. Kami sama-sama naik dari sana.

Semua dimulai dengan keputusan saya memasukkan ponsel saya ke saku celana dan berniat mengajak berbicara – dan kemudian menjadi pendengar – siapa saja penumpang yang ada di sebelah saya….

Semua dimulai dengan satu kalimat sederhana: “Turun di mana, Pak?”

Teman, Buku, dan Bonus Umur

SAYA harus melanggar slogannya LINIMASA. Kali ini saya ingin menulis dengan rujukan data. Tapi tetap aja sih, yang membawa saya ke sumber data-data itu adalah perasaan juga. Gimana, dong…..

Ini bermula dari kerepotan saya harus pindah tempat tinggal. (Itu juga alasan kenapa beberapa kali saya harus membolos dari jadwal menulis di  sini. Maafkan….).  Karena kantor tak lagi menanggung biaya tinggal di kota Jakarta ini, maka saya harus mencari rumah yang lebih masuk akal, secara bujet dan jenisnya.

Hampir empat tahun di apartemen sebenarnya kami bertahan dengan membetah-betahkan diri. Sejak semula kami berpikir ini hanya untuk sementara. Setelah tugas kuliah saya selesai, ya sudah, selamat tinggal Jakarta dan apartemenmu yang “nggak gue banget”.

Kenikmatan yang bagi kami hilang sejak awal di aparteman yang kami tempati adalah: kami tak bisa memelihara kucing. Padahal kami sekeluarga adalah pencinta kucing. (Anak bungsu bisa pulang dari pasar membawa kucing karena dia kasihan melihat kucing itu tersia-sia).

Usaha untuk mendapatkan rumah ternyata bukan perkara gampang. Jodoh-jodohan, kata agen properti yang akhirnya dari dia kami mendapatkan rumah yang cocok. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengadopsi seekor anak kucing kampung!

Ketika berkemas-kemas kami menyadari barang terbanyak yang harus dibawa adalah buku! Lebih dari separo dari jumlah kardus pindahan terisi  buku. Kami ingin mencari pembenaran ilmiah atas ‘perilaku’ kami ini. (Bukan! Bukan karena kami merasa bersalah atas kenyataan itu!)

  1. Saya kira cara terbaik menyukai buku adalah dengan menganggap pengarangnya sebagai teman. Dan rasanya itulah yang saya lakukan. Dengan demikian membaca menjadi seperti mendengarkan seorang teman bercerita.  Dan itu menyenangkan. Tentu saja kita harus dan boleh memilih siapa orang yang menjadi teman kita.
  2. Berapa orang yang mampu kita kenal? Menurut penelitian yang disiarkan New York Times, kita bisa tahu hingga 600 orang. Tapi sepandai-pandainya kita bergaul, rata-rata kita  hanya menjalin relasi dengan 290 orang. Dan hanya 25 orang teman yang kita percaya. Jadi, buku memungkinkan kita memperluas jaringan “pertemanan” yang kita percaya.

  3. Teman adalah anggota keluarga yang kita pilih. Klise? Mungkin terdengar begitu, tapi sebuah penelitian yang rujuk artikel di Science Focus di lagi-lagi menunjukkan bahwa pernyataan itu ilmiah. Kesamaan genetik kita dengan sepupu empat kali secara kasar tinggal satu persen. Dan ternyata dengan siapapun di dunia ini, kita punya kesamaan genetika satu persen!  Dan kita memilih teman di antara para sepupu jauh itu.

  4. Kawan dekat membuat kita berumur lebih panjang. Ada 1.500 orang diamati di Australia. Parameter pengamatan salah satunya adalah intensitas dan jumlah pertemanan. Setelah sepuluh tahun diperoleh data dan disimpulkan mereka yang punya lebih banyak jaringan kawan dekat berusia lebih panjang.

  5. Membaca buku – seperti menjalin hubungan dengan teman dekat – ternyata juga membuat kita panjang umur. Oke-oke, saya pakai data lagi. Ini hasil penelitian di lembaga Social Sciences & Medicine yang melibatkan 3.635 orang berusia di atas 50. Mereka yang membaca buku rata-rata hidup dua tahun lebih lama daripada mereka yang sama sekali tak membaca. Dua tahun? Yah, lumayan kan?

  6. Tengo, karakter pengarang dan guru matematika dalam novel, ehem, Haruki Murakami 1Q84, hanya membaca novel-novel pengarang yang sudah meninggal. Ini adalah pilihan. Saya menjalin pertemanan yang rasanya tak mungkin terjadi jika saya tidak membaca buku pengarang yang masih hidup. Jadi, selain menjadi teman, buku juga menjadi jalan untuk mendapatkan teman, yaitu pengarang buku tersebut. (Eh, tentu saja saya juga membaca karya pengarang yang sudah meninggal, tanpa pikiran apa-apa, dan sama sekali tak memperhatikan itu sebelum membaca novel Murakami).

Baiklah,  di rumah yang baru kami tempati, rasanya kami akan tetap menambah ‘kawan-kawan’ baru. Akan selalu ada buku baru di rak buku kami. Bahagia juga rasanya menemukan data penelitian yang mendukung kecintaan kami pada buku. Kapan pun nanti ajal menjemput, saya akan menyukurinya dan mengatakan bahwa seharusnya itu datang dua tahun lebih cepat, dan itu karena buku! (Lain kali saya akan coba cari data apakah memelihara kucing juga bisa membuat kita panjang umur…).

 

 

 

 

 

Ami (85 Tahun)

ami

Ami, di antara saya dan istri saya. (Swafoto diolah dengan aplikasi Prisma)

“SAYA sudah 85 tahun. Alhamdulillah, telinga masih bagus. Mata masih bisa baca Quran nggak pakai kacamata,” kata Ami.

Kami bertemu dengannya kemarin di rumahnya di Bogor. Jika ada waktu ke Bogor bersama keluarga saya berusaha ambil waktu singgah menemuinya. Ami selalu senang dikunjungi.

Saya mengenalnya di pertengahan 1990. Keluarga Ami mengelola sejumlah kamar kos untuk mahasiwa di Tegal Manggah, yang hanya setarikan gas bemo dari kampus IPB Baranangsiang, Bogor. Saya mewarisi kamar kos kakak kelas SMA saya yang pada tahun kedua harus pindah karena ia mengambil jurusan yang kampusnya di lokasi baru di Darmaga.

Pada waktu itu IPB menerapkan sistem penjurusan yang beda. Pada tahun pertama, semua mahasiswa tak punya jurusan. Nanti di tahun kedua baru akan ada penjurusan sesuai minat dan tentu saja nilai di tingkat pertama. Sebutannya Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Kini, semua mahasiswa baru sudah punya jurusan sejak masuk, meskipun tetap menjalani TPB di tahun pertama.

Ami ibu kos yang ramah dan asal kita mau menjadi pendengar ia tak akan berhenti bercerita.  Ceritanya macam-macam.  Soal mahasiswa-mahasiswa yang pernah kos di rumahnya (yang sudah jadi orang-orang hebat, katanya), anak-anaknya (yang tak satu pun ambil kuliah di IPB), dan masa mudanya. Ia bercerita dalam bahasa Sunda dan sedikit porsi bahasa Indonesia. Itu sebabnya saya suka mendengarkan dia bercerita: saya belajar bahasa Sunda.

Saya hanya dua tahun ambil kos di rumah Ami. Tahun kedua itupun saya sudah mulai banyak main di Asrama Ekalokasari, lalu menjadi penghuni tetap hingga lulus.

“Saya sudah 85 tahun….” Dan Ami masih sangat sehat. Ketika kami – saya dan istri saya – berkunjung kemarin, ia sudah berdandan rapi. Suaranya masih lantang. Dan masih bawel bercerita.  Ia bersama anak, menantu, cucu, dan cicitnya, hendak pergi ke kerabatnya yang menggelar walimah pernikahan anaknya.

Ami mengingatkan saya tentang anak-anaknya, siapa yang sudah punya anak berapa, sekarang tinggal di mana, dan cucu-cucunya yang sudah punya anak yang berarti itu adalah cicit-cicitnya. Siapa-siapa anak kos yang pernah datang menemuinya dan siapa yang sama sekali tak pernah.

Ketika beberapa tahun lalu mengunjungi Ami, saya juga datang bersama istri saya. Ia lupa dan bertanya lagi. “Istrimu orang mana?”

“Ami lupa? Dia kan yang dulu waktu saya kos di sini beberapa kali pernah datang ke  sini. Ini teman kuliah saya, Ami.”  Ia lalu memeluk dan menciumi istri saya. Dan berhamburanlah doa-doanya: doa panjang umur untuk kami berdua, doa agar kami rukun sampai kami tua, doa sehat dan berlimpah rezeki.

“Saya dan Bapak 65 tahun sama-sama. 65 tahun saya dampingi Bapak sampai Bapak meninggal….”

Saya kenal baik dengan Pak Pendi, suami Ami. Namanya dicetak pada satu plakat besi dan dipakukan di dinding depan rumah mereka.  Lelaki tak banyak bicara tapi juga sangat ramah dan perhatian pada anak-anak kos di rumah mereka itu bekerja sebagai mantri. Di masa pensiunnya dia kadang-kadang masih suka diminta oleh kenalannya untuk berobat. Tentu saja itu ia lakukan hanya untuk sakit ringan. Ia tahu betul bahwa ia tak punya izin praktik. Tapi kadang-kadang pasien-pasien langganannya, kebanyakan orang-orang seusia dia juga, meminta – setengah memaksa – dia mengobati mereka.

Tak ada lagi plakat nama Pak Pendi di rumah itu.

“Sudah dijual,” kata Aa, anak lelaki tertua Ami.

Ketika seluruh kegiatan belajar pindah ke Darmaga, kampus IPB Baranangsiang kosong. Usaha kos-kosan redup.

Sebelum saya sampai ke rumah Ami, saya dan istri saya menapaktilasi jalan yang dulu saya lewati jika kembali ke kos dari kampus. Jalan itu baru diaspal, tapi tetap saja sempit seperti dahulu. Beberapa kali kami harus menempelkan badan ke dinding jika ada motor lewat. Persis seperti dahulu. Saya mencoba-coba mengingat dulu siapa saja yang kos di rumah itu, di kos-kosan situ, di asrama yang itu, tapi tak menemukan di mana dulu warung makan yang menjual sepiring nasi dengan kuah santan dan sepotong tempe seharga Rp300. Lalap dan air teh tawar disediakan gratis.

Rumah keluarga Ami – yang sudah dijual itu – ada di hadapan rumah kos yang mereka kelola, bertopang di atas parit.  Ada kolam kecil – yang hingga kini masih ada.  Di rumah itulah dulu saya numpang menonton televisi, terutama pada Jumat malam, ketika RCTI memutar serial McGyver.  Ini semacam perilaku sok pintar. Ami suka menegur saya, “kamu nggak belajar? Kok nonton?” Sabtu adalah hari ujian di TPB. Anak-anak kos umumnya mengurung diri di kamar untuk belajar. Saya mana bisa melewatkan aksi Angus McGyver, agen yang membongkar kasus dan menyelamatkan diri dengan kecerdikannya memanfaatkan barang-barang di sekelilingnya dengan pengetahuan dasar fisika, kimia, mekanika, elektronika, dan lain-lain. Lebih baik nonton dulu baru setelah itu buka diktat.

Di muara jalan kembali ke hotel, setelah menanjak lewat tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan, saya bertemu anak-anak, cucu dan cicit Ami yang sudah siap hendak berangkat bersama-sama.  Ami masih kuat mendaki. Saya harus menebak-nebak satu per satu siapa mereka. Ada yang langsung saya kenali, ada yang harus diingatkan lewat satu dua ihwal, selebihnya saya benar-benar tak sempat mengenal, terutama cucu-cucu dan cicitnya. Saya harus menekan geer kalau Ami menceritakan siapa saya dulu – dengan nada bangga. Yang saya lihat adalah kebahagiaannya karena diingat, dikunjungi, dan karena itu ia merasa dihargai. Tak ada yang menggantikan silaturahmi langsung, menemui langsung kerabat kita.

Kami mengajak Ami berswafoto. Saya ingin sekali – tapi tak sempat – memotret Ami dengan anak, cucu, cicitnya. Manusia empat generasi. Pemandangan langka. Mungkin saya tak sempat mencapai keadaan itu: ayah saya sudah 71 tahun, anak lelaki saya baru 13 tahun.

Agar Nasi Tak Jadi Bubur atau Gosong Berkerak

tips-menanak-nasi-agar-pulen-tidak-mudah-basi-dan-wangi

 

Orang Banjar menyebutnya “atang”. Bahasa Indonesianya “tungku’.  Bagian dari dapur untuk memasak.  Saya masih mengalami masa-masa itu. Masa ketika ibu saya memasak di atang, dengan kayu bakar. Belum ada kompor minyak, apalagi kompor gas.

Saya masih bisa menggambarkannya dengan membongkar ingatan: semacam meja kotak besar berkaki empat, diisi tanah dan abu di permukaannya. Di bawah atau di atas atang disusun kayu bakar.

Tempat kayu di atas berguna untuk mengeringkan kayu yang masih lembab atau basah. Pada dinding-dinding di sekeliling atang bergantungan semua alat masak: wajan, berbagai jenis panci, dan ceret. Juga alat-alat pengaduk.  Semua perabot dapur itu permukaan-luarnya hitam jelaga.  Saya masih bisa mengingat aroma asapnya.

Hidup pada masa itu memang tidak perlu buru-buru.  Hari dimulai sehabis salat subuh dengan menyalakan api untuk merebus air.  Tumpahkan sedikit minyak tanah di permukaan abu, lalu nyalakan dengan korek. Atur kayu bakar seperti kau menyusun api unggun kecil.

“Kita ini tiap hari seperti berkemah,” ujar saya pada almarhum ibu saya.  Beliau sering mengutip kalimat itu, hingga bertahun-tahun kemudian.

Dapur adalah bagian rumah yang menjadi favorit saya. Bukan karena apa-apa, di sanalah kehangatan udara subuh bisa diatasi. Di rumah kami, ibu adalah orang yang selalu bangun paling subuh, dan saya tak sampai hati untuk tak menemaninya. Beliau harus menyiapkan sedikitnya empat jenis “wadai” alias kue yang nanti kujajakan keliling kampung, sebelum dititipkan di warung.

Rasanya sekarang saya masih membuat sendiri kue-kue itu: ampran tatak yang gurih dan lemak dengan rasa masam-manis pada pisang; sarimuka yang terdiri dari dua lapisan, gurih di bawah, dan manis gula merah di atas; pais yang sedap disantap selagi hangat dan bungkus kulit pisangnya itu bisa menjadi alas ketika kita menyantapnya; untukuntuk, roti kampung goreng berisi inti;….

(Dulu saya punya lelucon yang agak filosofis yang berkaitan dengan kue untukuntuk – entah kenapa kue itu diberi nama itu. Manakah yang benar: apakah hidup untuk makan? Atau makan untuk hidup? Saya punya jawaban, tidak keduanya: karena yang benar adalah hidup makan untuk-untuk)

Tapi sesungguhnya yang paling sulit adalah menanak nasi. Yang rutin, yang terlihat sederhana, dalam hidup ini memang sering dianggap mudah dan kerap diabaikan.

Dari  sini  saya kira istilah “nasi telah jadi bubur” berasal.  Tantangannya adalah bagaimana nasi benar-benar tanak, tak menjadi bubur karena terlalu banyak air, tak mentah seruntulan karena matangnya tak merata,  dan tak menjadi kerak karena terlambat menyisihkan api saat nasih dipadarkan.  Rahasianya sederhana: rasio air dan beras di dalam panji penanak nasi harus pas benar.

“Air harus menggenang di atas beras kira-kira seruas jari telunjuk,” ini rahasianya.  Saya tak pernah membuktikannya secara ilmiah, tapi resep ini tak pernah gagal.

Tentu saja itu bukan satu-satunya rahasia. Yang juga menentukan adalah pengaturan api.

Ini juga sulit. Pada tahap-tahap awal api benar-benar sudah harus jadi, sebelum panci diletakkan di atas api.  Dan nyalanya harus dijaga konsisten sambil terus-menerus mengaduk nasi, agar tanaknya merata dan tak jadi kerak.

Tepat setelah air tak menggenang lagi di permukaan beras, singkirkan api, kecilkan nyalanya, dan sisakan sekadar beberpa potong bara agar tetap masih ada panas. Pada saat itu bentangkan sehelai daun pisang, dan tutup panci. Hoopla! Nasi akan matang dengan sempurna.  Tanpa kerak yang akan merusak aroma wangi beras dengan bau gosong.

Saya sudah buktikan kemampuan memasak ini saat berkemah dengan regu pramuka saya di SD dan SMP dulu.

PERMAKLUMAN:  tulisan ini disponsori oleh rasa kangen penulisnya pada suasana berkemah, saat-saat berdiang di depan api yang menyala, dan aroma nasi matang ketika panci pertama kali dibuka….. 

 

 

 

 

 

Tenang, Kita Pernah Hadapi Masalah yang Lebih Besar!

keep

SAYA pernah menghadapi masalah yang lebih besar dan situasi yang lebih sulit dari ini.

Itu adalah kalimat ajaib. Saya sering dan selalu menggunakannya ketika menghadapi kesulitan apa saja dan kapan saja dalam perjalanan hidup saya. Dan kalimat itu selalu berhasil menguatkan saya untuk bisa mengurai kesulitan apapun. Ya, apapun itu.

Ada dua momen tersulit dan terberat yang selalu saya ingat. Sulit dan berat sesuai dengan kapasitas saya sebagai kanak-kanak waktu itu. Pertama, sejak kecil saya menderita asma. Sulit sekali bernafas. Penyakit itu saya idap sebelum saya masuk sekolah dasar. Setiap kali menarik napas kedua bahu saya terangkat. Tesisit bahu, kata orang Banjar. Saya anak kecil yang ringkih. Ibu saya mencari obat apa saja untuk menyembuhkan penyakit itu.

Saya tak tahu yang mana akhirnya yang bikin sembuh. Apakah abu lipan? Ya, lipan dibakar pada selembar seng lalu abunya diseduh di segelas air. Saya minum airnya setelah abu itu mengendap.  Atau sadapan getah birah – keladi yang umbinya justru beracun? Atau karena saya seperti teman-teman di kampung lainnya, selalu berenang di pantai kampung kami jika air pasang petang.

Kedua, kelingking kaki kiri saya pernah membengkak, membesar nyaris sama dengan ibu jari, dan bernanah. Semacam bisul, atau mungkin infeksi. Berminggu-minggu lamanya, sampai akhirnya bisul itu pecah, setiap malam saya menangis menahan sakit. Ibu saya juga menangis bersama saya.

Semakin bertambah usia, tentunya dan seharusnya kapasitas kita menghadapi masalah juga meningkat. Dan tentu kaliber masalah yang dihadapi juga membesar. Tapi bagi saya tak pernah ada masalah yang seberat kedua “siksaan” yang saya alami ketika saya kanak-kanak itu.

Semakin dewasa kita, hidup akan semakin kompleks. Itu adalah sunatullah. Takdir alam. Hidup saya memang tidak mudah-mudah amat, tapi juga tak berat-berat amat. Dan sejauh ini, saya selalu punya alasan untuk berbahagia.

Tuhan yang Mahabaik selalu punya cara terbaik untuk bikin kejutan. Saya merasa tak pantas menyebutnya sebagai keberuntungan, apalagi keajaiban. Saya rasanya tak seistimewa itu di mata Tuhan.  Tentu saja saya selalu bersyukur untuk kejutan-Nya itu.

Kejutan itu, misalnya, datang ketika saya tak tahu lagi harus melakukan apa untuk mendapatkan tiket kapal Pelni Balikpapan – Jakarta, karena tiket sudah habis, kecuali untuk jadwal kapal dua minggu berikutnya, sementara saya harus ada di Bogor seminggu lagi.

Saya hanya punya uang – sisa gaji sebagai kartunis yang bisa saya tabung – untuk beli tiket kapal. Saya tak pernah berpikir untuk beli tiket pesawat, sampai petang itu seorang yang baik bertanya dan menolong saya dengan selembar tiket pesawat. Undangan masuk IPB tanpa tes saya tak jadi hangus.

Selama kuliah, jika menghadapi masalah – yang sudah terbayang sejak awal adalah soal uang kiriman yang selalu datang tanggal 40 – saya akan menguatkan diri sendiri dengan kalimat ajaib itu: Saya pernah menghadapi masalah yang lebih besar dan situasi yang lebih sulit dari ini. 

Kesulitan memang tak bisa kita elak. Guru saya dulu bilang: yang penting setiap memulai sesuatu berniatlah dengan benar, lalu kerjakan dengan benar. Itu saya cukup, dan pasti nanti hasilnya akan benar. Jika hasilnya mengecewakan? Jika yang datang justru kesulitan? Tuhan pasti sedang menyiapkanmu untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar. 

Oh, maafkan saya. Apakah di tulisan ini saya sudah semakin tampak seperti omongan orang tua sok bijaksana yang menasihati cucu-cucunya? Wah, gawat! Saya harus mengakhiri tulisan ini sampai di sini! ***

 

 

Rawat Seorang Anak-Anak di dalam Dirimu dan Berbahagialah

kartun-masa-kecil

Kartun “Permainan Masa Kecil”, HAH, 2012.

 

KETIKA buku mewarnai gambar untuk orang dewasa laris-manis, saya seperti menemukan pembenaran atas alat gambar dan buku gambar yang selalu saya bawa ke mana-mana. Ada seorang anak kecil yang abadi dalam diri saya dan saya bahagianya bersamanya.

Anak kecil itu adalah dia yang dulu menggambar di hamparan pasir di halaman rumah kami, dulu. Itu rumah kontrak di dekat balai desa dan sebuah pasar yang mati. Rumah kontrak itu sepertinya dulu adalah deretan toko yang berubah fungsi. Dinding depannya sejumlah pintu geser yang diberi nomor, dan tak ada jendela.

Anak kecil itu menggambar apa saja dengan sepotong bambu: Mobil, ikan paus, ayam jago, pohon kelapa, kura-kura, apa saja… Anak kecil itu pernah begitu iri pada krayon warna-warni milik anak seorang mantri di puskesmas yang baru saja pindah dari kota.

Seperti anak-anak lain ia menyukai kartun Hanna-Barbera: Si anjing detektif kalem Huckleberry Hound, Scooby Doo anjing takut hantu yang justru rasa takutnya itulah yang kerap membuka kedok hantu gadungan, juga dongeng H.C. Andersen yang dikartunkan.

Film kartun di TVRI itu harus ia tonton dengan mencuri-curi waktu salat magrib.  Selisih waktu antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat membuat tayangan sore di Jakarta menjadi senja di Kalimantan. Untuk alasan itu ia pernah begitu benci pada Jakarta yang egois.

Suatu hari ia menemukan artikel tentang Charlie M Schulz di majalah remaja. Anak pemalu penyuka anjing yang kelak menjadi kreator  “Peanuts”, stripkomik Charlie Brown dan anjingnya Snoopy, dan kawan-kawan. Ia ingin menjadi kartunis dan kaya seperti Schulz. Ia mulai merancang karakter kartunnya sendiri.

Kartun membantunya menyambung hidup. Di SMA ia bekerja sebagai kartunis lepas di sebuah koran lokal.  Pekerjaan yang ia dapatkan setelah semalaman menyiapkan puluhan gambar untuk dibawa ke kantor redaksi koran lokal tersebut. Dan ia diterima. Ia diberi uang honorarium bulanan Rp25.000,-. Dan itu besar untuk seorang anak SMA seperti dia. Dia bisa “bergaya hidup mewah” dengan melanggani majalah HAI, Intisari, dan sesekali beli Jakarta-Jakarta atau Tempo. Juga bisa sesekali membeli buku-buku sastra, termasuk buku puisi Duka-Mu Abadi Sapardi Djoko Damono.

Saat kuliah dia membuat kartun di beberapa majalah dan surat kabar di Jakarta. Dan beberapa kawan mendirikan komunitas kartunis di kampus. Pada suatu hari ada pameran buku di kampusnya. Ia kepincut dan dengan sisa-sisa uangnya ia membeli buku Gerhard Gollwizer “Menggambar bagi Pengembangan Bakat”. Diterbitkan oleh penerbit ITB. Ia membayangkan buku inilah yang dibaca oleh anak-anak seni rupa di kampus itu.

Ia tertawa ketika seorang kawannya menegurnya dengan keras, “buat apa beli buku itu? Menggambar itu haram!” Dalam hatinya – ia menghindari pedebatan – bilang, “kartun-kartun saya sama sekali tak mengurangi iman saya. Allah yang Agung tak sebanding dengan selembar kartun.”

Sewaktu lulus kuliah dan bekerja – dan ia bayangkan ia akan berhenti menggambar kartun –  dia bilang pada kawan-kawan komunitas kartunnya, “Indonesia kehilangan seorang calon kartunis terbaiknya!” Kawan-kawannya tertawa, mereka tahu ia hanya bercanda.

Nyatanya, ia terus menggambar, untuk dirinya sendiri. Dan ia bahagia.

Kemana-mana, jika bepergian untuk beberapa hari, karena urusan pekerjaan misalnya, dia selalu membawa seperangkat alat gambar, dan buku gambar. Kadang ia sama sekali tidak menggambar apa-apa, tapi ketika melihat buku gambar dan pena di meja di samping katil di kamar hotelnya ia seperti ditemani anak kecil yang dulu menggambar di halaman rumah itu.

Dulu dia menggambar untuk mendapatkan honor. Kini dia mengambar hanya untuk sebentar bergirang hati. Sebentar menjadi kanak-kanak lagi, bermain bersama kanak-kanak dari masa kecilnya yang kini tetap sebagai kanak-kanak.

Di gambar kartunnya ia memakai tanda inisial “HAH”. Semacam interjeksi dari keheranan dan keterkejutan. Karena memang begitulah yang ia rasakan setiap kali menyadari bahwa masih ada  seorang anak kecil itu di dalam dirinya, dan dia bahagia. ***

 

 

 

 

Saya Tandatangani Surat Keterangan Kematianmu, Ibu…

9-amazing-drawing-old-woman-by-kinglord

Gambar pensil dari web ini.

ENGKAU tentu tak bisa memilih penyakit apa yang datang ke tubuhmu, Ibu.

Kanker darah dan gagal ginjal seperti datang bersamaan. Sebelum itu kami hanya tahu engkau sering mengeluh tentang maag pada lambungmu. Kau terlalu banyak mengggunakan obat pereda nyeri lambung. Kelebihan dosis. Dokter terakhir yang merawatmu sampai geleng-geleng kepala melihat takaran obat yang kau minum. Itu yang membuat ginjalmu harus bekerja keras dan akhirnya tak lagi berfungsi.

Dan kanker darah? Ini membuatmu harus cuci darah, tapi tak mungkin dilakukan dengan ginjal yang tak lagi sehat.  Di RS A Wahab Sjahranie, Samarinda, engkau terakhir dirawat, mungkin hanya untuk memberi waktu untuk saya datang di hari-hari terakhir hidupmu.

“Mama makin enggak karuan sakitnya,” kata abang sulung saya menelepon. Saya  lekas ambil cuti. Firasat kami sama, dan ternyata benar.

Beberapa hari di rumah sakit, sebelum saya datang, engkau mulai kehilangan kesadaran.

Satu-satunya saat kesadaranmu datang kembali adalah ketika saya datang.

Hanya beberapa detik. Kita bertatapan dan engkau tersenyum. Engkau menyebut namaku. Itu saja yang sempat saya dengar, dan itulah terakhir kalinya engkau menyebut namaku. Dan kita berpelukan.  Hari itu, ketika magrib, aku memimbingmu salat. Tak sampai selesai surah Alfatihah kesadaranmu hilang lagi.

Dalam sakitmu, engkau tidak tidur. Matamu terbuka tapi hanya menatap pada kekosongan. Nafasmu lalu terdengar makin susah. Lalu mulutmu berdarah….

*

Setiap kami mendengar kabar ayah atau ibu kawan saya meninggal di grup Whatsapp yang saya ikuti (ada grup alumni SMA, mantan penghuni asrama, grup jurusan, dll) saya cenderung diam. Ucapan turut berduka cita berseliweran. Juga doa “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”, menyadarkan segala berasal dari Allah dan segala kembali padanya.

Saya seringkali hanya diam. Tercekat. Bukan tak ingin berempati pada kawan yang berduka, tapi setiap kali mendengar kabar kematian seperti itu saya pasti ingat pada kematian ibu saya, yang tak pernah mau saya ingat kapan. Saya tak mau tahu sudah berapa tahun ibu saya meninggal. Rasanya itu selalu saja baru terjadi. Adik saya yang selalu mengingatkan, terutama ketika kami harus menggelar doa haul di kampung.

Ibuku tak bisa membaca huruf latin. Ia hanya bisa mengaji.

Tapi apapun akan ia korbankan untuk sekolah kami, anak-anaknya. Ketika kebun kelapa kami belum penuh panennya, ibu membuat kue untuk dititip jual di warung-warung. Apa saja.

Ketika dua anaknya – aku dan abangku – sudah bekerja, tinggal dua adik saya lagi yang masih kuliah, ibu saya menelepon. Dia minta izin menjual separo kebun kelapa untuk tambahan ongkos naik haji. Itulah satu-satunya cita-cita pribadi yang pernah ia punya. Sebelum itu terwujud, saya suka mendengar dia menyenandungkan lagu kasidah naik haji. Refrainnya saya ingat: ...wukuf di Jabalarafah, bertawaf keliling kabah… Saya tak tahu itu lagu siapa. Mungkin Nasyida Ria.

“Ini kan harusnya jadi warisan kalian kalau saya meninggal,” katanya.

Saya menangis di ujung di telepon. Saya waktu itu ingin sekali bantu menambah cukup ongkos naik hajinya. Tapi waktu itu saya benar-benar tak bisa membantu. Pada saat seperti itu ibu saya justru meminta izin untuk menjual kebunnya, kebun yang bersama bapak, mereka tebang sendiri hutannya, yang ia tanami sendiri pohon-pohon kelapanya. Saya benar-benar hanya menangis bisu. Di ujung telepon lain, ibu pasti tahu bahwa saya menangis….

*

Saya mendorong kereta jenazahmu ke ruang jenazah. Saya menyaksikan dokter lain yang berbeda dengan dokter di ruang perawatan yang tadi menyatakan kematianmu. Dokter di ruang jenazah itu sekali lagi memeriksa, lalu mengisikan keterangan pemeriksaan dan pernyataan kematian pada selembar formulir. Di luar sebuah mobil jenazah menunggu.

“Anaknya ya? Tanda tangan di sini,” kata dokter itu. “Ini surat biasanya untuk urus asuransi.”

Surat itu saya tanda tangani. Lalu dimasukkan ke amplop. Tak ada asuransi.

Surat itu sampai hari ini masih saya simpan. Sesekali saya lihat lagi dengan perasaan yang sama: ini surat keterangan kematian, saya menerimanya dengan menekenkan tanda tangan di situ, kematian orang yang melahirkan saya.***

 

 

 

 

 

 

 

Guru Agama Bernama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far

JIKA harus membuat daftar nama-nama guru agama maka saya harus memasukkan namanya: Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far.  Pasti tidak di urutan pertama, tapi harus ada dalam urutan sepuluh teratas.

Dia tidak mengajar seperti guru agama di sekolah arab – madrasah ibtidaiyah –  di kampung saya dulu, di mana saya belajar tarikh, fiqih, tauhid, tajwid, hadist, dan khat alias menulis indah. Dia bukan pengkhutbah seperti paman saya yang di sela-sela waktu sibuknya suka melayani pertanyaan saya soal agama. Bukan. Di bukan guru seperti itu.

Dia jauh. Tak terjangkau. Tapi dia dekat merasuk ke dalam alam pikir saya.

Dia mula-mula memikat saya karena kemerduan suaranya. Ia seorang penyanyi. Penyanyi pop yang berbeda. Ketika penyanyi-penyanyi seperti Iis Sugianto, Nia Daniati, dan sederetan nama lain – yang lagu dan musiknya bisa saling dipertukarkan – menguasai ruang dengar masa kecil saya dulu dia menyeruak dengan jenis musik yang berbeda. Waktu itu saya tak tahu apa bedanya. Tapi saya menyukainya, membuat saya mendengarkan berulang-ulang. Lirik-liriknya tak melulu soal cinta, benci, rindu, dan atau patah hati yang dangkal, meskipun dia juga menyenandungkan lagu asmara.

Selain lagu cinta dia juga menggubah lagu-lagu religius yang dari situ saya belajar banyak soal religiositas dan kemudian dari situ saya tanpa sadar memperkaya dan membangun pondasi keberagamaan saya.

Tentu saja saya waktu itu mendengarkan lagu-lagu anak-anak yang riang dari penyanyi cilik kala itu: Chicha dan Adi. Juga Ira Maya Sopha dan Debby Rhoma Irama.  Dan menghafalkannya untuk menyanyi di depan kelas pada pelajaran kesenian.

Penyanyi itu datang lewat kaset yang dibawa kakak sepupu saya. Dia sekolah pertanian di ibukota provinsi. Tiap kali pulang liburan dia selalu membawa kaset baru salah satunya adalah penyanyi ini. Hanya ada satu satu pemutar tape di rumah kakek. Di situlah kami mendengarkan lagu-lagu penyanyi balada itu.

Ini salah satu lirik lagunya yang memukau saya sejak 1979 – tahun ketika album pertamanya keluar dan terjual dua juta keping –  itu:

Pernah kucoba untuk melupakan Kamu
Dalam setiap renunganku
Melupakan semua yang Kau goreskan
pada telapak tanganku
Dan juga kucoba untuk meyakinkan fikiranku
Bahwa sebenarnya engkau tak pernah ada
Bahwa bumi dan isinya ini tercipta kerana
memang harus tercipta

Bahwa Adam dan Hawa tiba-tiba saja turun
Tanpa karena makan buah khuldi dahulu
dan aku lahir juga bukan kerana campur tanganMu
Hanya kerana ibu memang seharusnya melahirkanku

Tetapi yang kurasakan kemudian
Hidup seperti tak berarti lagi
dan ternyata bahwa hanya kasih sayangMu
yang mampu membimbing tanganku
Oh oh yang mampu membimbing tanganku

Tuhan maafkanlah atas kelancanganku
mencoba meninggalkan Kamu
sekarang datanglah Engkau bersama angin
agar setiap waktu aku bisa menikmati kasihMu.

Jika mengenang masa-masa itu – masa ketika saya yang baru bisa membaca, dan sudah mendengarkan lagu ini sambil membaca lirik lagunya – saya seringkali takjub sendiri. Kok saya suka ya? Kok saya terpukau ya? Saya tak pernah bosan. Tak pernah sengaja menghafalkan tapi sejak saat itu saya tak pernah lupa, meskipun sampai beberapa tahun kemudian saya tetap tak mengerti.

Saya tak pernah ingin bertanya apa artiya lirik lagu itu pada guru-guru agama saya yang lain. Apakah boleh orang melupakan Tuhan? Kok berani sekali dia? Apa boleh orang mengingkari kekuasaan Tuhan atas dirinya? Apa boleh orang meniadakan Tuhan atas hidupnya? Meskipun dia kemudian menyadari bahwa dia salah dan kembali kepada Tuhan.

Lagu itu – seperti saya sebutkan di atas – membangun kesadaran pada saya bahwa beragama atau dalam hubungan kita dengan Tuhan kita boleh kritis kok. Kita boleh mempertanyakan hal-ihwal iman itu. Jika niat kita bertanya itu benar, maka kita akan sampai pada jawaban yang benar. Dan itu – dalam kesadaran saya kemudian – lebih baik daripada tunduk saja tanpa pernah mempertanyakan apa-apa.

Baiklah, saya sebutkan saja, penyanyi itu namanya Ebiet G. Ade. Nama yang saya sebutkan pada judul tulisan ini adalah nama aslinya. Bahkan cara dia mengutak-atik namanya pun sejak itu seperti menjadi tren yang banyak ditiru biduan lain.

ebiet

Saya tak pernah menyebut lagu-lagu Ebiet yang sejenis itu sebagai lagu religius. Ia dulu tak pernah secara sengaja mengeluarkan album religi menjelang bulan puasa seperti banyak dilakukan penyanyi-penyanyi sekarang. Ia dengan enak menyusun trek lagu di album-albumnya dengan lirik-lirik bertema kaya: balada cinta, religiositas, atau hubungan manusia dan alam.

Pada suatu ketika di acara Mimbar Agama di TVRI – stasiun ini menggilir acara mimbar agama-agama – lagu ini dinyanyikan oleh satu vokal grup (aha, ini istilah yang bisa jadi kata kunci menebak saya dari generasi apa). Eh, di ketika lain di stasiun satu-satunya itu lagu ini dinyanyikan lagi di mimbar agama lain.  Lho, saya pikir, apakah Ebiet rela lagunya dinyanyikan oleh umat dari agama yang tak sama dengannya? Saya tak tahu apa jawaban Ebiet, tapi sepertinya ia tak pernah keberatan.

Pelajaran apa yang bertahun-tahun kemudian saya catat adalah betapa universalnya dasar-dasar keberagamaan dan keberimanan itu.  Tapi baiklah, sebelum kawan-kawan saya makin yakin memberi saya cap sekuler bin liberal, saya sebaiknya tak usah memperpanjang contoh bagaimana lagu-lagu religius Ebiet membantu saya menjadi perindu keberagamaan yang damai dan teduh. Apa yang akhir-akhirnya rasanya akan semakin keras usaha untuk mewujudkannya.

Oh, ya, lirik lagu yang saya kutip utuh di tulisan ini judulnya Hidup I (Pernah Kucoba untuk Melupakan Kamu). Dan satu lagi, Ebiet juga yang membuat saya ingin bisa main gitar tapi sampai hari ini keinginan itu tak pernah bisa saya capai. Dia memang bukan guru musik saya.

Plotpoint Kehidupan

catatan redaksi linimasa:

Juru Baca adalah akun yang digunakan oleh Hasan Aspahani. Jika tak ada aral melintang setiap dua pekan Hasan Aspahani akan mengisi linimasa Selasa bergantian dengan Agun Wiriadisasra.

TERHUBUNGKAN dengan kawan-kawan SMA dalam grup Whatsapp itu membahagiakan. Bisa berbagai kisah konyol dari masa-masa sekolah yang seakan tak pernah habis. Bisa ikut  bahagia bagi teman yang naik jabatan. Bisa kasih atau diberi ucapan selamat atas satu pencapaian. Kirim doa untuk kawan yang naik haji.  Oke, oke, kadang memang menyebalkan juga karena harus menerima meme, joke, atau postingan berantai yang sama dengan berbagai grup lain. Juga guyonan daur ulang dengan cap baru bernama Mukidi.

Kami tinggal terpisah di berbagai kota tapi sebagian besar menetap di Balikpapan, kota SMA kami.   Kawan-kawan kami yang satu kota saya kira lebih banyak memetik bahagia dengan keterhubungan itu. Mereka bisa atur waktu piknik ke Pulau Derawan, berkemah di Pantai Lamaru, bertakziah ke kawan yang kemalangan, atau membezuk ke rumah sakit.

Terakhir kali, bulan lalu, mereka tur bareng ke Banjarmasin, main ke pasar terapung, menyinggahi kawan yang bekerja di cabang sebuah bank, dan yang membuka praktek dokter di sana.   Saya dan kawan-kawan di luar Balikpapan hanya bisa mengirim jempol atau berkomentar ini-itu. Kawan-kawan yang berbahagia. Jenaka  seperti sedia kala.

Grup Whatsapp ini terbentuk tahun lalu. Tepat ketika  25 tahun – ya saya sudah seberumur itu –  kami meninggalkan SMA. Ada reuni perak yang juga tak bisa saya hadiri. Bertemu dengan guru-guru yang sudah di ambang masa pensiun.

Menengok ke masa 25 tahun lalu itu, saya kini bisa menyimpulkan itulah plotpoint pertama dalam hidup saya, dan kawan-kawan saya, dan mungkin juga siapa saja yang hidup di negeri ini. Negara ini  masuk ke wilayah pribadi warganya lewat aturan – yang kadang-kadang diurus dengan tak becus – jenjang pendidikan.  Wajib belajar namanya.

Oh ya, plotpoint adalah istilah dalam penulisan skenario berbasis 8 sekuens.  Syd Field menegaskannya ketiga menguraikan struktur tiga babak.

Penulis skenario mula-mula akan menetapkan tiga babak cerita yang masing-masing babak itu digerakkan oleh satu plotpoint. Plotpoint itu seperti pengungkit yang membuat cerita bergerak. Lulus SMA adalah plotpoint I dalam perjalanan hidup saya. Tepatnya adalah: lulus dan saya menerima undangan kuliah gratis di Jawa. Lalu cerita hidup saya kemudian bergerak ke berbagai arah dan menyampaikan saya pada tempat yang tak pernah saya bayangkan.

Jika film cerita dengan delapan sekuens berdurasi maksimal dua jam memerlukan dua plotpoint, maka dalam hidup manusia tentu saja bisa ada banyak plotpoint-plotpoint yang membawa saya ke sekuens berikutnya dari kehidupan.  Lulus kuliah, menikah, punya anak pertama, menerbitkan buku pertama, pindah kota mengikuti pekerjaan…

Kesadaran ini membantu saya memahami dan mengikuti pertumbuhan dua anak saya. Putri sulung saya kini di tahun akhir SMA, sudah memutuskan memilih akuntansi ketimbang psikologi.  Si bungsu kelas dua SMP yang baru saja berganti ekstrakurikuler dari sepakbola ke tenis meja, ikut seleksi pengurus OSIS dan terpilih menjadi anggota seksi Kerohanian. Pada hari Jumat ia kerap jadi muazin di sekolah masjidnya.

Ada kesenjangan antara saya yang lulus SMA 25 tahun lalu dengan anak-anak saya.

Generasi native digital ini tak bisa lepas dari gawai, juga ketika hadir di meja makan. Generasi yang 24 jam terhubung dengan internet. Anak-anak yang risau ketika sambungan internet bermasalah dan tak peduli ketika koran telat diantar.

Sejauh ini saya dan istri saya bisa berdamai dengan anak-anak kami generasi digital ini meskipun misalnya si sulung itu tak punya kesadaran untuk sekadar menyisihkan piring kotor bekas makan sendiri dari meja. Bicara dengan istilah-istilah singkat yang tak langsung kami fahami: putab (untuk seragam putih abu-abu), bindo (untuk pelajaran Bahasa Indonesia)…

Saya bisa berdamai dengan mengingatkan diri sendiri bahwa ini adalah sekuens kehidupan dan anak-anak saya akan menemukan plotpointnya sendiri dan saya tak ingin dan tak bisa punya peran banyak di situ.

Saya tak tahu bagaimana kelak anak saya mengenang masa-masa SMA-nya sekarang kelak 25 tahun kemudian. Bagaimana mereka mengingat pentas musikal mereka di Tejak (saya harus bertanya apa itu yang ternyata adalah Teater Jakarta di Komplek TIM, Cikini), dan bagaimana mereka  memproduksi helat musik besar yang mendatangkan Kahitna, Tulus, Gigi…. Dulu, saya dan kawan-kawan SMA saya sudah bangga banget bisa bikin pentas bersama tujuh SMA di Balikpapan dan diberitakan oleh Majalah Hai.

Ada beberapa rancangan hidup yang saya dan istri saya harapkan akan menjadi plotpoint lain bagi kami.  Kami mungkin tak lagi terlalu berani bertaruh dengan keputusan-keputusan besar. Tapi ada hal-hal terjangkau, hal-hal kecil yang bisa kami putuskan yang kami harapkan akan membawa serangkaian perubahan penting dan berterusan. Terima kasih untuk Malcolm Gladwell yang meyakinkan saya dalam hal ini lewat bukunya Tipping Point.

Kami tak ingin hidup kami mandek.

Kami butuh plotpoint lain yang terus menggerakkan kehidupan kami.

[]